DIKTAT
MATA KULIAH WARIGA
Oleh
Hari Harsananda,S.Ag., M.Ag
NIP. 199212292019031003
FAKULTAS BRAHMA WIDYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
DENPASAR
2019
Hanya kebijaksanaan yang
menjadikanmu manusia..
Ketika Ia hilang maka
kemanusiaanmu dipertanyakan..
~Hari Harsananda
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena berkat rahmat
Beliau penulis dapat menyelesaikan Diktat untuk Mata Kuliah Wariga Hindu ini.
Tujuan penulisan diktat mata kuliah ini adalah untuk memberikan panduan dan pemahaman
tentang materi perkuliahan Wariga . Materi disampaikan secara ringkas, jelas dan disesuaikan
dengan lingkungan serta kehidupan sehari-hari para pembaca, khususnya mahasiswa Fakultas
Brahma Widya. Diktat ini diharapkan menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan
inovatif dalam menyikapi problematika terkait Wariga dalam kehidupan sehari-hari. Setelah
membaca, mempelajari, dan membuat beberapa latihan serta tugas, diharapkan mahasiswa mampu
menggali lebih dalam, mengembangkan dan menguasai pengetahuan serta praktik Wariga
khususnya tentang Wewaran, Wuku Sasih, Tanggal-Pangelong.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan penulisan diktat ini. Akhirnya sumbang saran sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan diktat ini. Semoga diktat ini bermanfaat bagi seluruh pembaca, khususnya
mahasiswa dan dosen pengampu mata kulaih Wariga.
Denpasar, November 2019
Penulis
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA i
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
SILABUS iii
RENCANA PERKULIAHAN SEMESTER vi
KONTRAK PERKULIAHAN xi
PAKET 1 1
PAKET 2 4
PAKET 3 14
PAKET 4 22
PAKET 5 39
PAKET 6 43
PAKET 7 60
PAKET 8 66
PAKET 9 72
DAFTAR PUSTAKA
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA ii
SILABUS MATA KULIAH
I. IDENTITAS MATA KULIAH
Program Studi : Teologi Hindu
Mata Kuliah : Dasar Dasar Wariga
Kode :
Semester : III (Tiga)
SKS :2
Prasyarat :
Dosen Pengampu : Hari Harsananda, S.Ag.,M.Ag
II. CP. MATA KULIAH
A. CP Sikap
(1) Berkon tribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
(2) Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
(3) Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhanhatidalambekerja;
(4) Bekerjasama dan memilikikepekaansosialsertakepedulianterhadapmasyarakat dan
lingkungan;
(5) Disiplin dalam penggunaan waktu;
(6) Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(7) Menunjukkan sikap bertanggung jawab atas pekerjaan;
(8) Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
(1) Mahasiswa menguasai konsep teoretik Tentang Dasar Dasar Wariga seperti konsep
Wewaran Wuku, Tanggal Pangelong, Sasih, Dawuh
(2) Mampu menguasi dan memahamin tentang wewaran, wuku, tanggal pangelong, sasih,
dawuh yang bersumber dari berbagai jens lontar.
(3) Mampu menguasai,menghafalkan tentang hal tersebut di atas ,dan mengharmoniskan
konsep Dasar dasar wariga dalam kehidupan bermasyarakat secara sistematis dan terarah.
C. CP Keterampilan Umum
(1) Mahasiswa menguasai dan menghafal inti sari ajaranb Dasar Dasar Warigal;
(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga sebagai
praktik dalam menentukan hari baik dalam melaksanakan upacara yadnya maupun
mengambil pekerjaan yang penting.
(3) Mahasiswa mampu mempraktikkan dan mengharmoniskan konsep Wariga yang
terkandung dalam berbagai jenis lontar, dan manusia, dalam menghadapi permasalahan,
terutama menentukan baik buruknya hari dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
D. CP. Keterampilan Khusus
(1) Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis ajaran Dasar dasar wariga dalam berbagai
jenis lontar maupun yang terdapat dalam kitab suci Hindu;
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA iii
(2) Mahasiswa mampu menggali danmelakukan analisis ajaran dharma, persaudaraan, cinta
kasih, etika, keberagaman/pluralisme, yang terkandung dalam kitab suci Hindu;
(3) Mahasiswa mampu menerapkan ajaran ketuhanan (spiritual) dalam menghadapi
permasalahan agama, kemanusiaan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara di masyarakat;
(4) Mampu menghasilkan karya tulis dengan menggunakan landasan konsep dan teoretik
ajaran Dasar dasar wariga
III. Garis Besar Rencana Pembelajaran/Silabus
No Capaian Indikator Pencapaian Bahan Kajian/Materi Pokok
Pembelajaran (kemampuan akhir yg 4
1. Pengertian dan sumber ajaran
diharapkan)
wariga.
12 3 1.1 Pengertian wariga yg
1 A1,2,3,4,5,6,7,8 1. Mampu memahami bersumber dari lontar,
penulis kalender dan
B1 pengertian, sumber penulius buku buku
wariga.
ajaran wariga, terutama 1.2 Sumber ajaran wariga
1.3 Lima aksioma belajar
tentang wewaran, wariga
pawukon, tanggal
pangelong, sasih, dan
dawuh
A1,2,3,5,6,7,8 2 .Mampu cara mencari 2. Wewaran dalam wariga
B1, C1, D1 wewaran dari eka wara 2.1 Mancari Panca wara
sampai dasa wara dengan menggunakan
rumus lima jari
2.2 Mencari Tri dan Sad Wara
2 dengan menggunakan
rumus tiga jari kiri
2.3 Mencari Catur dan Asta
wara dengan menggunkan
satu rumus tiga jari kiri
2.4 Mencari Eka wara dengan
rumus menjumlahkan urip
2.5 Mencariu Dwi wara dgn
rumus menjumlahkan urip
2.6 Mencari Dasa Wara dgn
menjumlahkan urip
3 A1,2,3,4,5,6,7,8 3 .Mampu membuat TIKA 3. Sistem Kalender tradisional
B1, C1 Bali
3.1 Membuat kolom untuk
membuat Tika
3.2 Memasukkan Wuku dan
Sapta Wara
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA iv
3.3 Praktek membuat Tika
4 A1,2,3,4,5,6,7,8 4.Mampu memahami
B1,C1 padewasan yang muncul 4. Jenis jenis Padewasan karena
karena wewaran Wewaran
4.1 Sapta wara dipilih
menjadi padewasan secara
umum
4.2 Sad wara dipilih sebagai
padewasan membuat
perabotan rumah tangga
4.3 Hari baik untuk
pernikahan
5 A1,2,3,4,5,6,7,8 5. Mampu memahami 4.4 Menghafal beberapa jenis
B1,2, C1,2,3 mitologi dari pada Wuku padewasan karena
wewaran
5. Mitologi, urip, tempoat dan
dewanya wuku
5.1 Mitolo9gi wuku menurut
rontal Medang Kemulan
5.2 Menentukan urip wuku
5.3 Mengetahui tempat
6 A1,2,3,4,5,6,7,8 6. Mampu memahami daripada wuku
5.4 Mengetahui Dewanya dari
B1,2,3, C1,2,3 padewasan yg muncul
pada Wuku
dari wuku dan
paqdewasan berdasarkan 6. Beberapa jenis padewasan
pertemuan wewaran yang muncul karena wuku den
dengan wuku pertuman antara wewaran dan
wuku
6.1 Wuku rangda tiga
6.2 Wuku tanpa guru
6.3 Dina was penganten
6.4 Ingkel wong, sato, mina,
manuk, taru, buku
6.5 Dan beberapa jenis
poadewasan yang lainnya
7 A1,2,3,4,5,6,7,8 7. Mampu memahami dan 7. Pemahaman terhadap tanggal
B3, C3, D3 cara mencari Tanggal pangelong
Pangelong dalam sistem 7.1 Memahami pengertian
padewasan tanggal pangelong
7.2 Memahami kenapa dalam
sistem wariga ada tanggal
pangelong
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA v
8. Memahami beberapa jenis
padewasan karena tanggal
8 A1,2,3,4,5,6,7,8 8. pangelong
B1,2, C1,2, Padewasan yang timbul 8.1 Baik buruknya tanggal
D1,2,4 karena tanggal pangelong pangelong
8.2 Padewasan yang timbul
karena pertemuan tanggal
pangelong dgn sapta
wara,panca wara dengan
wuku.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA vi
B. CP Pengetahuan:
(1) Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran wariga;
(2) Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang berkembang di
Indonesia,yang terkandung di dalam kitab suci Hindu;
(3) Mampu menguasai, mempraktikkan ajaran w2ariga dalam kehudupan beragama,
berbangsa dan bernegara
C. CP Keterampilan Umum
(1) Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Wariga dalam melaksanakan
upacara yadnyabmaupun memulain pekerjaan yang penting.
(3) Mahasiswa mampu mempraktikkan ajaran Wariga dalamn k3hidupan sehari hari terutama
yang berkaitan dengan pelaksanaan yadnya.
D. CP. Keterampilan khusus
(1) Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga bai8k yang
terdapat dalam berbagai jenis lontar maupun dalam kitab suci Hindu;
(2) Mahasiswa mampu menggali dan melakukan analisis ajaran tentang baik buruknya hari
untuk melaksanakan upacara yadnya.
(3) Mahasiswa mampu menerapkan ajaran Wariga dalam menghadapi permasalahan agama,
kemanusiaan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara di masyarakat;
(4) Mampu menghasilkan karya tulis dengan menggunakan landasan konsep dan teoretik
ajaran Dasar Dasar Wariga.
I. DESKRIPSI MATA KULIAH :
Mata kuliah Dasar Dasar Wariga ini membahas tentang Pengertian, sumber ajaran Wariga,
Wewaran, Wuku, dan Tanggal Pangelong.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA vii
II. RINCIAN KEGIATAN PERKULIAHAN
Tatap Capaian Bahan Kemampuan Metode Pengalaman Alokas Referensi
muka Pembela Kajian/Materi akhir yang Belajar i
Ming jaran Pokok/ Rincian diharapkan Waktu
gu ke Materi
12 3 45 6 7 8
Mengenal 2x50
I A1,2,3,4 1. Kontrak Memahami Ekspositorik aturan menit 1. Weda Smrti 2.
perkuliahan 2. Rontal
,5,6,7,8 Perkuliahan aturan &diskusi 2x50
Mengkaji menit Medang
perkuliahan ruang kemulan
lingkup, 2 x50 3. Rontal Wariga
II A1,2,3,5 2. Pengertian Mampu Ekspositorik, asal usul menit Krimping
dan sumber 4. Rontal
,6,7,8 Wariga, memahami diskusi Ajaran 2x2x Begawan
Wariga 50 Garga
B1, C1, Sumber ruang lingkup, kelompok menit 5. Rontal wariga
Mengkaji bhagawan
D1 ajaran asal usul, dan sejarah garga
Wariga dan 6. Buku wariga
Wariga sumber ajaran Aksioma Dewasa
Wariga 7. Kalender
Dasar Dasar tradisioanal
Mengkaji bali
Wariga aspek 8. Beberapa
wariga viiiocusviiiviii
III A1,2,3,5 3. Sejarah Mampu Ekspositorik dalamn viiiviiiviii
kehidupan wariga
,6,7,8 Ajaran Memahami beragama.
B1, C1, Wariga dan Aksioma
D1 Lima dalam Wariga
aksioma
pelajaran
wariga
IV+V A1,2,3,4 4. Cara Mampu Ekspositorik,
,5,6,7,8 mencari mencari diskusi
B1, C1 wewaran wewaran kelompok
dengan
a. Mencari menggunakan
panca, tri rumus jari dan
dan sad jumlah urip
wara
b. Cara
mencari
catur, asta
dan sanga
wara
c. Cara
mencari eka,
dwi dan
dasa wara
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA viii
VI, A1,2,3,4 5. TIKA Mampu Ekspositorik Mengkaji 2x2x5
VII ,5,6,7,8 a. Kalender padewasan 0
B1,C1 membuat Tika dan tugas panca menit
VIII tradisional yadnya
bali mandiri
b. Pengertian
Tika 2x50
c. Praktik menit
membuat
Tika
UTS
IX, X Mampu 2x2x5
0
XI, A1,2,3,4 6. Wuku memahami Ekspositorik, menit
XII ,5,6,7,8 diskusi
B1,2, a. Mitologi ttg wuku kelompok
C1,2,3 Mandiri
Wuku
A1,2,3,4
,5,6,7,8 b. Urip Wuku
B1,2,
C1,2,3 c. Tempat Mengkaji
padewasan
wuku
d. Dewanya
Wuku
Mampu 2x2x5
0
7. Padewasan memahami menit
yang padewasan
muncul karena wuku
berdasarkan maupun Ekspositorik,
diskusi
wuku dan wewaran kelompok Mengkajian
pesan moral
pertemuan spiritual
dalam
antara ajaran
agama
wewaran Hindu
dengan
wuku
a. wuku
rangda tiga
b. wuku tanpa Ekspositorik,
diskusi
guru kelompok
c. dina was
penganten
d. ingkel
e. beberapa
dewasa yang
lain
XIII+ A1,2,3,4 8 . Tanggal Mampu Kerja mandiri 2x2x5
XIV ,5,6,7,8 Pangelong menggali, 0
B1,2 memahami menit
tenhtanhg
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA ix
CD1,2,3 8.1 memahami tanggal
pengertian pangelong Mengkaji
dan
tanggal dalam mempraktik
an tanggal
pangelong padewasan pangelong
dalam
8.2 munculnya padewasan
tanggal
XV pengelong Mampu 2x50
menit
A1,2,3,4 mencari
,5,6,7,8 9. Padewasan padewasan
B1,2,3, karena berdasarkan
C1,2,3 tanggal tanggal
pangelong pangelong Mengkaji
dan
XVI mempraktek 2x50
UAS kan menit
padewasan
tanggal
pangelong
V.PENILAIAN (kriteria, Fokus dan bobot)
A. Penilaian Proses (bobot 60 %)
1. Sikap (mengacu pada penjabaran deskripsi umum)
2. Partisipasi dan aktivitas dalam proses pembelajaran (perkuliahan, praktek Laboratorium,
Praktek, workshop)
3. Penyelesaian Tugas-tugas
B. Penilaian Produk (bobot 40 %) Denpasar,
1.Ujian Tengah Semester Dosen Pengampu Mata Kuliah,
2.Ujian Akhir Semester
Mengetahui :
Ketua Program Studi
(I Made Adi Brahman, S.Ag., M.Fil.H) ( Hari Harsananda, S.Ag .,M.Ag)
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA x
KONTRAK PERKULIAHAN
I. IDENTITAS MATA KULIAH:
Program Studi : Teologi Hindu
Mata Kuliah : Dasar Dasar Wariga
Kode :
Semester : III
Sks :2
Prasyarat :
Dosen Penampu : Hari Harsananda,S.Ag.,M.Ag
II. CP MATA KULIAH:
A. CP Sikap
(1) berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
(2) menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
(3)mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
(4) bekerjasama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
(5) disiplin dalam penggunaan waktu;
(6) menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
(7) menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan;
(8) menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
(1) Mahasiswa menguasai konsep teoretik Tentang Dasar Dasar wariga terutama lima aksioma
pelajaran wariga ;
(2) Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang terkandung di dalam
berbagai jenis lontar dan kitab suci Hindu;
(3) Mampu menguasai, mempraktikkan Dasar Dasar Wariga dalam pelaksanaan upacara
yadnya dan pekerjaan yg dianggap penting.
C. CP Keterampilan Umum
(1) Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar dasar wariga;
(2) Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang
vterkandung dalam berbagai jenis lontar dan kitab suci Hindu.
(3) Mahasiswa mampu mempraktikkan Dasar Dasar Wariga dalam pelaksanaan upacara
yadnya maupun pekerjaan yang dianggap penting.
D. CP. Keterampilan khusus
(1) Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis tentang wewaran dalam berbagai jenis
lontar dan kitab suci Hindu;
(2) Mahasiswa mampu menggali dan melakukan analisis tentang Wuku dalam berbagai jenis
lontar maupun kitab suci Hindu.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA xi
(3) Mahasiswa mampu menerapkan ajaran tentang Tanggal Pangelong dalam dalam pemilihan
hari baik buruk dalam padewasan.
(4) Mampu menghasilkan karya tulis dengan menggunakan landasan konsep dan teoretik
ajaran Dasar-Dasar Wariga.
III. DESKRIPSI MATA KULIAH :
Mata kuliah Dasar-Dasar Wariga ini membahas tentang pengertian, sumber ajaran, Wewaran,
Pawukon, Tanggal Pangelong dalam penentuan baik buruknya hari dalam pelaksanaan upacara
yadnya maupun dalam pelaksanaan pekerjaan yang penting.
IV. METODE PEMBELAJARAN:
Metode pembelajaran dalam mata kuliah ini menggunakan ekspositorik, diskusi
kelompok,penugasan (individu/kelompok), dan praktek.
V.BAHAN BACAAN/REFERENSI
1. Modul Wariga
2. Buku Wariga Dewasa
3. Buku Kunci Wariga
4. Bukiu Sarining Wariga
5. Buku Pelajaran praktis Wariga
6. Buku Matrik Wariga
7. Rontaln Pengalihan Purnama Tilem
8. Rontal Wariga Krimping
9. Rontal Bhagawan Garga
10. Kalender Bali
11. Dan berbagai jenis buku dan lontar yang lainnya
VI. TUGAS DAN KEWAJIBAN
1. Anda diwajibkan untuk mengikuti test hasil belajar (UTS dan UAS) sesuai dengan jadwal.
2. Anda diwajibkan untukmembuat makalah secara individual dan kelompok dengan materi/tema
yang akan ditentukan oleh dosen.
3. Anda diwajibkan mentaati ketentuan selama perkuliahan sebagai berikut :
a. Mengikuti perkuliahan dengan baik dan tertib (terlambat maks.15 menit)
b. Berpakaian dengan sopan dan tidakdiperkenankan memakai kaos oblong dan sandal
c. Dilarang berkomunikasi dengan HP di dalam kelas saat perkuliahan berlangsung dan HP
dimatikan atau di-set nada getar
d. Setiap pelanggaran akan ketentuan tersebut akan diberikan sanksi berupa (1) teguran, (2)
peringatan dan (3) tidak diperkenankan mengikuti kuliah pada saat terjadi pelanggaran.
e. Jika ada hal yang mendesak (telepon) mahasiswa wajib minta ijin keluar
f. Jika Dosen terlambat 20 menit tanpa pemberitahuan kepada mahasiswa, mahasiswa boleh
meninggalkan kelas.
g. Mahasiswa wajib hadir 75% dari jumlah jam tatap muka
h. Mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 75 % btidak diperkenankan mengikuti UAS.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA xii
VII. PENILAIAN (KRITERIA, INDIKATOR, DAN BOBOT)
A. Penilaian Proses (bobot 60 %)
1. Sikap (mengacu pada penjabaran deskripsi umum)
2. Partisipasi dan aktivitas dalam proses pembelajaran (perkuliahan, praktek laboratorium,
praktek, workshop)
3. Penyelesaian tugas-tugas
B. Penilaian Produk (bobot 40 %)
1.Ujian Tengah Semester
2.Ujian Akhir Senester
C. AcuanPenilaian
1. Kisaran Skala Lima
SkorPersentil Nilai Skala Nilai Huruf
85– 100 4 A
70– 84 3 B
55 – 69 2 C
45– 54 1 D
0 – 44 0 E
VIII. MATERI DAN JADWAL PERKULIAHAN
Minggu/ Tatap Muka Capaian Pembelajaran Bahan Kajian/Materi Pokok/
Ke Rincian Materi
1 2 3
I A1,2,3,4,5,6,7,8
1. Kontrak Perkuliahan
II A1,2,3,5,6,7,8 2. Ruang lingkup, pengertian, Sejarah
B1, C1, D1 dan sumber ajaran wariga
2.1 Pengertian Wariga
2.2 Sumber ajaran Wariga
III A1,2,3,5,6,7,8 3. Penjelasan tentangsejarah Ajaran
B1, C1, D1 Wariga dan lima aksioma pelajaran
Wariga
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA xiii
IV+V A1,2,3,4,5,6,7,8 4. Cara mencari Wewaran
B1,C1 4.1 Cara mencari Panca wara
VI+VII 4.2 Cara mencari tri dan Sad wara
VIII A1,2,3,4,5,6,7,8 4.3 Cara mencari Catur dan asta Wara
IX+X B1,2, C1,2,3 4.4 Cara mencari Sanga Wara
4.5 Cara mencari Eka, Dwi dan Dasa
XI+XII A1,2,3,4,5,6,7,8 Wara
B1,2,3, C1,2,3
XIII+XIV 3. TIKA
XV A1,2,3,4,5,6,7,8 3.1 Pengertian Tika
B3, C3, D3 3.2 Praktek membuat Tika
XVI
A1,2,3,4,5,6,7,8 UTS
B1,2, C1,2, D1,2,4
4. Wuku
A1,2,3,4,5,6,7,8 4.1 Mitologi Wuku
B1,2,3, C1,2,3 4.2 Urip Wuku
4.3 Tempat Wuku
4.4 Dewanya Wuku
5. Padewasan yang muncul karena
Wuku dan pertemuan antara
wewaran dengan wuku
5.1 Wuku Rangda Tiga
5.2 Wuku Tanpa Guru
5.3 Dina Was Penganten
5.4 Ingkel
5.5 Dan beberapa padewasann lainnya
6. Tanggal Pangelong
6.1 Memahami pengertian Tanggal
Pangelong
6.2 munculnya Tanggal pangelong
7. Padewasan karena Tanggal
Pangelong
UAS
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA xiv
Dosen Pengampu Denpasar,
Kordinator Tingkat,
(Hari Harsananda,S.Ag.,M.Ag.) (…………………………………)
Catatan:
Pengertian Satu SKS menurut bentuk kegiatannya:
a) Kuliah, adalah kegiatan belajar perminggu per semester yang terdiri dari
Tatap muka 50 menit
Tugas terstruktur 60 menit
Belajar mandiri 60 menit
b) Responsi/tutorial/seminar, adalah kegiatan per minggu per semester yang terdiri
dari:
Tatap muka 100 menit
Belajar mandiri 100 menit.
c) Praktikum adalah kegiatan belajar di laboratorium/bengkel/studio, selama 4 jam
(240 menit) perminggu, per semester.
d) Praktek lapangan/kerjapraktek, adalah kegiatan praktek di lapangan selama 160
jam per semester atau 10 jam (600 menit) per minggu.
e) Skripsi/tugasakhir/karyaseni/ bentuk lain yang setara, adalah kegiatan
penelitian/pembuatan model/ pembuatan dan atau pergelaran karyaseni/ perencanaan/
perancangan, setara dengan 4-6 jam (240-360 menit) per minggu, per semester.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA xv
PAKET 1
A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada kontrak kuliah dan pengenalan materi
mata kuliah Wariga. Sebagai awal pertemuan, kontrak kuliah penting untuk disepakati sebagai
rambu-rambu pelaksanaan perkuliahan. Kontrak kuliah menjadi acuan dalam penilaian dosen
terhadap mahasiswa terutama terkait nilai sikap.
Mata kuliah Wariga merupakan lanjutan dari mata kuliah dasar – dasar agama Hindu yang
mengedepankan konsep Tattwa, Susila dan Acara. Wariga sendiri sesungguhnya adalah cabang
dari konsep acara yang sebagian besar berbicara mengenai kegiatan upacara dalam Hindu sehingg
konsep wariga yang mngajarkan baik-buruknya hari merupakan bagian di dalamnya. Pada
pertemuan awal ini juga dilakukan pemaparan materi mata kuliah Wariga secara umum dengan
menjabarkan isi silabus dan RPS, sehingga mahasiswa memiliki bayangan tentang materi yang
akan mereka pelajari nantinya.
A. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
1. Materi Pokok
a. Review materi mata kuliah Dasar – dasar agama Hindu
b. Pengenalan materi mata kuliah Wariga
c. Kontrak kuliah
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 1
2. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Memahami materi perkuliahan secara umum
3. Pengalaman Belajar
a. Berpikir kritis dan bermusyawarah mufakat
4. Waktu
2 x 50 menit
5. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan fokus mah2ocusa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi sekaligus perkenalan dosen dan mahasiswa
3) Menyampaikan tujuan pertemuan 1
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan review mata kuliah Dasar- dasar agama Hindu
2) Menyampaikan silabus Wariga
3) Mendiskusikan kontrak kuliah
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan hasil kesepakatan kontrak kuliah
2) Memberikan motifasi kepada mahasiswa untuk mempersiapkan referensi terkait
materi pokok perkuliahan.
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Memperiapkan pertemuan berikutnya
A. LEMBAR KEGIATAN
1. Tujuan
Mahasiswa dapat bermusyawarah dan bermufakat dalam menentukan aturan perkuliahan.
2. Bahan dan Alat
Alat tulis
3. Langkah Kegiatan
a. Dosen menyampaikan gambaran umum materi perkuliahan
b. Dosen dan mahasiswa berdiskusi mengenai tata tertib perkuliahan, teknis perkuliahan,
dan penilaian
c. Dosen dan mahasiswa membuat kesimpulan sebagai kesepakatan bersama
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 2
B. URAIAN MATERI
Silabus dan RPS
C. LATIHAN DAN TUGAS
Mencari referensi terkait mata kuliah Wariga
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 3
PAKET 2
A. PENDAHULUAN
Perkuliahan pada pertemuan ini difokuskan pada pengenalan dan pembahasan terhadap
materi – materi yang akan dijabarkan dalam perkuliahan Wariga ini. Adapun pada fokus uta4ocus
adalah pembahasan mengenai pengertian Wariga, Sumber ajaran Wariga serta sejarah ajaran
Wariga. Materi ini akan memudahkan mahasiswa untuk mengidentifikasi dan memahami cikal
bakal dari ajaran wariga di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Penyampaian materi ini dibantu dengan presentasi power poin yang dibawakan oleh dosen
dengan harapan, mahasiswa dapat mengerti dengan lebih baik kronologis perkembangan ajaran
Wariga tersebut.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 4
D. CP. Keterampilan khusus
1.Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga baik yang
terdapat dalam berbagai jenis lontar maupun dalam kitab suci Hindu;
2. Materi Pokok
a. Materi Pengertian Wariga
b. Materi Sumber Ajaran Wariga
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa memahami pengertian wariga
b. Mahasiswa mampu mengetahui sumber ajaran wariga
4. Pengalaman Belajar
a. Mengetahui Konsep Ajaran wariga secara mendalam
5. Waktu
2 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan fokus mah5ocusa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Menyampaikan tujuan pertemuan 2
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Menyampaikan isu – isu terkait mengenai pokok perkuliahan
3) Memandu diskusi seputaran isu – isu terkait ajaran wariga
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
2) Memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk memperbanyak sumber bacaan
yang terkait denga mata kuliah wariga
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 5
C. URAIAN MATERI
Pengertian dan Sumber Ajaran Wariga
Pada umumnya bagi umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali istilah Wariga tidak asing
lagi kedengarannya.
Rontal-rontal atau kitab-kitab yang menguraikan tentang baik buruknya hari sering disebut
dengan Wariga. Dalam ajaran Wariga lah termuat pemilihan waktu/hari yang baik sebagai
pedoman untuk memulai suatu pekerjaan maupun melakukan yadnya. Jadi, Wariga adalah ilmu
tentang perhitungan baik buruknya hari.terdapat beragam persepsi mengenai arti dari kata
“Wariga” itu sendiri, Tusan (1998:1) merumuskan bahwa dalam Lontar Sundari Bungkah
dijelaskan bahwa berangkat dari kalimat “ Warah ring raga” yang berarti “ Petunjuk bagi kita”.
Pendapat yang hampir sama juga di kemukakan oleh I Ketut Guweng yang merumuskan kata
wariga bersal dai tiga suku kata yaitu “wara” yang artinya mulia, “I” yang artinya menuju dan “ga”
yang berarti jalan, sehingga kata wariga berarti jalan menuju mulia atau sempurna Hari-hari itu
merupakan simbolis dari benda-benda alam seperti matahari, bulan-bulan, benda-benda angkasa
lainnya. Benda-benda alam mempunyai pengaruh dalam kehidupan ini.
Melalui ajaran Wariga para umat dituntun mempergunakan waktu sebaik-baiknya, sebab
hal ini memegang peranan penting dalam kehidupan manusia maupun yang lainnya. Kecuali Sang
Hyang Widhi, hampir semuanya terpengaruh waktu. Waktu mempunyai pengaruh-pengaruh besar
terhadap alam maupun isinya. Diadakannya pembagian waktu adalah untuk membina atau
menuntun masyarakat supaya hidup seimbang dan harmonis serta rukun demi dapat mencapai
kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin. Pembagian waktu secara terperinci diuraikan secara
panjang lebar dalam padewasan.
Bila ajaran wariga diteliti lebih jauh sesungguhnya adalah sistem pembagian waktu untuk
melakukan pekerjaan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana sehingga
menimbulkan keharmonisan dengan hasil yang memuaskan. Untuk itu padewasan dapat
dikelompokkan menjadi padewasan hari artinya cukup mempertimbangkan dengan baik buruknya
hari dengan pawukon saja. Sedangkan padewasan berkala untuk kepentingan jangka lama
hendaknya diperhitungkan tentang hari, waktu, tanggal pangelong dan sasih. Jika memungkinkan
dilengkapi dengan perhitungan dauh.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 6
Mencari padewasan berkala utamanya tentang penyelesaian yadnya sebaiknya terlebih
dahulu diadakan pertimbangan kepada para sulinggih dan pihak lain yang terkait. Sesuatu akan
terlaksana dengan baik apabila ada kerja sama (mufakat) dari Sang Manggalaning Yadnya antara
lain :
Sang Yajamana : orang yang memiliki kerja atau Yadnya
Sang Widya : orang yang menyelenggarakan (tukang)
Sang Sadaka : Sulinggih yang akan menyelesaikan (muput)
Apabila mengadakan penilaian terhadap padewasan akan terdapatlah baik, sedang dan
buruknya dewasa.
Dalam pelaksanaan padewasan diperhitungkan dari tingkat sedang dan baik dapat
dipergunakan dalam hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Mencari dewasa yang dapat disebut
sempurna, sangat sulit sekali atau suatu hal yang tidak mungkin terjadi karena dalam suatu hari
pasti ada nilai kurangnya. Bisa berlangsungnya suatu pekerjaan atau Yadnya itu apabila padewasan
sudah mempunyai nilai 50% ke atas, berarti padewasan sudah dapat dilaksanakan sebagaimana
mestinya.
Ajaran Wariga yang berkembang di Indonesia khususnya di Bali, berpangkat banyak pada
ajaran “Jyotisa” yang ada di India. Jyotisa adalah merupakan pelengkap Weda yang isinya memuat
pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan untuk pedoman dalam melakukan Yadnya. Isinya
yang penting membahas peredaran tata surya, bulan benda-benda angkasa lainnya yang dianggap
mempunyai pengaruh dalam kehidupan ini dan dalam pelaksanaan Yadnya.
Jyotisa (astronomi) tergolong kelompok Wedangga yang merupakan batang tubuh dari
Weda. Untuk jelasnya Weda adalah kitab suci agama Hindu yang pada dasarnya bersumber dari
wahyu Tuhan diterima oleh para Maha Rsi kita. Maha Rsi penerima wahyu pertama menurut kitab
Reg Weda ada 7 (tujuh) Rsi yang disebut dengan Sapta Rsi anatara lain Maha Rsi Grtsamada,
Maha Rsi Wiswamitra, Maha Rsi Wamadewa, Maha Rsi Atri, Maha Rsi Bharadwaja, Maha Rsi
Wasista, dan Maha Rsi Kanwa.
Wahyu-wahyu itu diterima sekitar 6000 Tahun SM di lembah sungai Sindhu oleh para
Maha Rsi melalui pendengaran sucinya sehingga disebut dengan Sruti (Sruti artinya pendengaran).
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 7
Kemudian setelah mengenal huruf, wahyu atau Sruti itu ditulis/dihimpun oleh Bhagawan Wyasa
(Byasa) menjadilah Weda sebagai kitab suci agama Hindu. Berhubung kitab suci Weda itu sangat
luas dan memiliki banyak bagian maka Bhagawan Wyasa membagi kitab suci Weda itu ke dalam
4 (empat) bagian. Keempat bagian tersebut dikerjakan oleh murid-muridnya. Bhagawan Pulaha
menyusun Reg Weda. Bhagawan Waisampayana menyusun Sama Weda. Bhagawan Jaimini
menyusun Yajur Weda. Bhagawan Sumantu menyusun Atharwa Weda.
Menurut Maha Rsi Manu isi dari Weda dibagi menjadi 2 (dua) kelompok besar yang
disebut :
1. Weda Sruti: inilah Weda yang sebenarnya atau yang asli (original). Berdasarkan sifat isinya
Weda ini dibagi atas tiga bagian yaitu :
a. Bagian Mantra terdiri atas empat himpunan (samhita) yang disebut Catur Weda Samhita
yaitu :
1). Reg Weda Samhita : merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran-ajaran umum
dalam bentuk pujaan.
2). Sama Weda Samhita : merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran umum
mengenai lagu-lagu pujaan.
3). Yajur Weda Samhita : merupakan kumpulan mantra yang memuat ajaran umum
mengenai pokok-pokok Yadnya.
4). Atharwa Weda Samhita : merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran
bersifat magis.
b. Brahmana (Karna Kanda)
Brahmana berarti doa. Jadi, kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa
dipergunakan untuk keperluan Yadnya. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan
arti kata ucapan mantra. Tiap-tiap mantra (Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda, Atharwa
Weda) memiliki Brahmana. Kitab Reg Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu
Airtacya Brahmana dan Kausitaki Brahmana. Kitab Sama Weda memiliki buku Tandya
Brahma yang juga sering dikenal dengan nama Panca Wimsa. Yajur Weda memiliki
beberapa kitab Brahmana pula, diantaranya Taittiriya Brahmana dan Satapatha Brahmana.
Sedangkan Atharwa Weda memiliki kitab Gopatha Brahmana.
c. Upanisad (Jnana Kanda)
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 8
Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai
ke Tuhanan.
Himpunan ini merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti. Kelompok kitab-kitab
disebut Rahasia Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia perincian dari
pada kitab-kitab Upanisad itu adalah :
1). Upanisad yang tergolong jenis Reg Weda terdiri atas 21 sakha
2). Upanisad yang tergolong jenis Sama Weda terdiri atas 1000 sakha
3). Upanisad yang tergolong jenis Yajur Weda terdiri atas 109 sakha
4). Upanisad yang tergolong Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha
Dari jumlah sakha di atas banyak 1180 sakha jumlah upanisad sayogiyanya ada 1180 buah
buku, tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, jumlah upanisad yang disebut secara
tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Dengan memperhatikan deretan nama-nama buku
kelompok Mantra, Brahmana, dan Upanisad di atas, jelaslah bahwa kitab Sruti meliputi
jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami Dharma, semua buku-buku itu adalah
merupakan sumber utama kedudukannya perlu dihayati.
2. Weda Smrti: adalah kelompok Weda lahir dari ingatan sebagai penjelasan terhadap Sruti. Jadi,
isinya tidak bertentangan dengan Sruti. Weda ini lahir dari ingatan (Smrti artinya mengingat).
Weda Smrti ini dapat digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu :
a. Kelompok Wedangga (Batang tubuh Weda) terdiri dari enam bidang Weda antara lain:
1). Siksa (Phonetika) : isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara yang tepat dalam
mengucapkan mantra serta tinggi rendah tekanan suara. Buku-buku siksa disebut
Pratisakhya yang dihubungkan dengan berbagai resensi Weda Sruti.
2). Wyakarana (Tata bahasa) : adalah sebagai suplemen batang tubuh Weda dianggap
sangat penting dan menentukan karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak
mungkin tanpa bantuan pengertian tata bahasa yang benar.
3). Chanda (Lagu) : adalah cabang weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang
disebut lagu. Peranan Chanda di dalam sejarah penulisan Weda sangat penting, karena
dengan Chanda semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun-temurun seperti nyanyian yang
mudah diingat.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 9
4). Nirukta (Sinonim) : isinya terutama memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-
kata yang terdapat dalam Weda.
5). Jyotisa (Astronomi) : isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan
untuk pedoman dalam melakukan yadnya. Isinya yang penting membahas peredaran tata
surya, bulan dan badan angkasa lainnya dianggap mempunyai pengaruh di dalam
pelaksanaan Yadnya.
6). Kalpa (Ritual) : Isinya banyak bersumber pada kitab Brahmana dan sedikit pada kitab
Mantra, memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan Yadnya, penebusan dosa
dan lain-lain yang berhubungan dengan upacara keagamaan, baik upacara besar, upacara
kecil dan upacara harian.
b. Kelompok Upaweda
Upaweda adalah kelompok kedua yang sama pentingnya dengan wedangga. Ada empat
bidang Upaweda yang perlu dikenal dengan baik, yaitu :
1. Ayurweda : adalah kitab-kitab yang menurut materi isinya menyangkut bidang ilmu
kedokteran. Ajaran umum yang menjadi hakekat isi seluruh kitab ini adalah menyangkut
kesehatan jasmani dan rohani dengan berbagai sistem sifatnya. Kitab ini juga membahas
pengetahuan mengenai biologi, anatomi dan berbagai macam pengetahuan mengenai jenis-
jenis tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan obat, cara pembuatan serbuk dan tablet. Jadi,
Ayurweda adalah filsafat kehidupan, baik etis maupun medis.
2. Dhanurweda : adalah sebagai ilmu militer atau ilmu penahan. Sebagai ilmu, Dhanurweda
dipelajari dan diajarkan terutama kepada para calon pemimpin. Dhanurweda memuat
keterangan tentang training, mengenai acara penerimaan senjata, acara latihan pemakaian
dan penggunaan senjata.
3. Gandharwaweda : adalah kitab yang membahas berbagai aspek cabang ilmu seni
mengajarkan tentang seni tari, seni suara atau musik. Sebagaimana kita ketahui musik, tari-
tarian dan seni suara tidak dapat kita pisahkan dari agama. Bahkan siswa terkenal sebagai
Nataraja yaitu Dewa atas ilmu seni tari.
4. Arthasastra : adalah ilmu tentang politik atau tentang pemerintahan negara. Isinya
merupakan pokok-pokok pemikiran ilmu politik. Hal ini diterima sebagai sistem untuk
mencapai tujuan hidup manusia (Purusartha).
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 10
Dari uraian diatas, Weda berarti pengetahuan suci itu ternyata mencakup hampir semua
bidang ilmu, termasuk di dalamnya Jyotisa. Jyotisa adalah tergolong Weda Smrti kelompok
Wedangga yang berarti ilmu Astronomi/Astrologi di Indonesia khususnya di Bali dikenal dengan
Wariga. Istilah Wariga kurang populer di India yang biasa dipergunakan untuk menyebutkan ilmu
Astronomi/Astrologi adalah “Jyotisa”. Sama halnya dengan kata Agama dan Dharma. Kata
“Agama” adalah istilah kerohanian yang sangat populer dipergunakan oleh bangsa Indonesia.
Sedangkan istilah kerohanian yang dipergunakan oleh umat Hindu di India adalah kata “Dharma”.
Demikianlah istilah Jyotisa yang artinya ilmu Astronomi/Astrologi dipergunakan di India dan
istilah Wariga yang memiliki arti yang sama dipergunakan di Indonesia khususnya di Bali.
Karena Jyotisa (Wariga) adalah satu ajaran suci agama Hindu yang tergolong kelompok
Wedangga, maka meluasnya ajaran ini mengikuti juga penyebaran agama Hindu hampir keseluruh
dunia termasuk Indonesia dan pada akhirnya samapai ke Bali.
Sebelum agama Hindu memberikan pengaruhnya di Indonesia, bangsa Indonesia
sesungguhnya sudah memiliki kepercayaan memuja Roh leluhur yang berarti pula sudah
mempunyai kebudayaan. Sifat dari kebudayaan Indonesia adalah fleksibel danelastis, karena dapat
menerima unsur-unsur kebudayaan luar yang tidak bertentangan dengan kepribadian, guna
memperkaya kebudayaan Indonesia dan pengembangan secara dinamis. Kebudayaan luar yang
masuk ke Indonesia adalah secara selektif disesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia.
Selanjutnya unsur-unsur kebudayaan luar yang diserap oleh kebudayaan Indonesia, kelak menjadi
bentuk kebudayaan dan berkembang mengikuti alam kehidupan Indonesia. Penerimaan pengaruh
luar oleh kebudayaan Indonesia adalah dilakukan dengan penuh kesadaran akan manfaatnya.
Hampir di mana-mana pengaruh kebudayaan Hindu bersifat penambahan kebudayaan pada
kebudayaan-kebudayaan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pengaruh Hindu datang di
Indonesia diperkirakan pada pemulaan terich Masehi dengan proses kedatangannya berlangsung
secara damai dan bertahap. Dengan demikian terjadilah akulturasi kebudayaan Hindu dengan
kebudayaan asli Indonesia. Meresapkan unsur-unsur kebudayaan Hindu kepada kebudayaan asli
Indonsia di dasarkan atas anggapan bahwa kebudayaan Indonesia sudah mencapai suatu tingkat
yang tinggi. Sehingga siap untuk menerima unsur-unsur kebudayaan Hindu. Berarti pula tentang
Astronomi (perhitungan benda-benda angkasa) itu sudah dikenang sebelum kedatangan pengaruh
Hindu, lebih-lebih hubungannya dengan bangsa Indonesia sebagai pelaut dan negara agraris.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 11
Perhitungan hari-hari di Indonesia pada mulanya sudah ada kemudian dilengkapi lagi dari
pengaruh Hindu. Terjadinya perpaduan kebudayaan seperti telah terungkap di atas termasuk juga
di dalamnya akulturasi ilmu Astronomi Indonesia asli dengan ilmu Astronomi (Jyotisa) Hindu.
Hal ini nantinya di Indonesia (di Bali) dikenal dengan Wariga.
RANGKUMAN
Wariga adalah ilmu tentang perhitungan baik buruknya hari. Hari-hari itu merupakan
simbolis dari benda-benda alam seperti matahari, bulan-bulan, benda-benda angkasa lainnya.
Benda-benda alam mempunyai pengaruh dalam kehidupan ini.
b. Ajaran Wariga sendiri merupakan bagian dari kitab Veda Smrti utamanya Jyotisayang
terdapat dalam kelompok Wedangga (Batang tubuh Weda) terdiri dari enam bidang Weda
antara lain:
1). Siksa (Phonetika) : isinya memuat petunjuk-petunjuk tentang cara yang tepat dalam
mengucapkan mantra serta tinggi rendah tekanan suara. Buku-buku siksa disebut
Pratisakhya yang dihubungkan dengan berbagai resensi Weda Sruti.
2). Wyakarana (Tata bahasa) : adalah sebagai suplemen batang tubuh Weda dianggap
sangat penting dan menentukan karena untuk mengerti dan menghayati Weda Sruti, tidak
mungkin tanpa bantuan pengertian tata bahasa yang benar.
3). Chanda (Lagu) : adalah cabang weda yang khusus membahas aspek ikatan bahasa yang
disebut lagu. Peranan Chanda di dalam sejarah penulisan Weda sangat penting, karena
dengan Chanda semua ayat-ayat itu dapat dipelihara turun-temurun seperti nyanyian yang
mudah diingat.
4). Nirukta (Sinonim) : isinya terutama memuat berbagai penafsiran otentik mengenai kata-
kata yang terdapat dalam Weda.
5). Jyotisa (Astronomi) : isinya memuat pokok-pokok ajaran astronomi yang diperlukan
untuk pedoman dalam melakukan yadnya. Isinya yang penting membahas peredaran tata
surya, bulan dan badan angkasa lainnya dianggap mempunyai pengaruh di dalam
pelaksanaan Yadnya.
6). Kalpa (Ritual) : Isinya banyak bersumber pada kitab Brahmana dan sedikit pada kitab
Mantra, memuat berbagai ajaran mengenai tata cara melakukan Yadnya, penebusan dosa
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 12
dan lain-lain yang berhubungan dengan upacara keagamaan, baik upacara besar, upacara
kecil dan upacara harian.
D. LATIHAN DAN TUGAS
Mencari referensi terkait mata kuliah Wariga
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 13
PAKET 3
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah pembahasan materi tentang sejarah perkembangan Wariga
dan Aksioma yang melatarbelakangi ajaran wariga. Materi ini adalah materi lanjutan dari materi
sebelumnyayang membahas mengenai pengertian dan sumber ajaran wariga . materi sejarah ajaran
wariga ini penting diberikan untuk mempermudah mahasiswa memahami evolusi ajaran wariga
dari pertama kali diajarkan hingga hari ini, selain sejarah, terdapat materi tentang aksioma wariga
yang akan menjadi petunjuk dasar bagi mahasiswa dalam menentukan hari – baik dan buruk ke
depannya.
Pada pertemuan ini, media yang digunakan nadalah media bahan tayang berupa presentasi
power point untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami materi disebebkan dalam presentasi
power point ini, akan disajikan ilustrasi tentang skema aksioma wariga yang akan lebih
memudahkan mahasiswa dalam memahami dan mengerti materi pembelajaran.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 14
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
D. CP. Keterampilan khusus
1.Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga baik yang
terdapat dalam berbagai jenis lontar maupun dalam kitab suci Hindu;
2. Materi Pokok
a. Materi Sejarah ajaran Wariga
b. Materi Aksioma Wariga
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui sejarah ajaran wariga
b. Mahasiswa mampu memahami aksioma wariga
4. Pengalaman Belajar
a. Mengetahui Konsep Ajaran wariga secara mendalam
5. Waktu
2 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan fokus mah15ocusa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Menyampaikan isu – isu terkait mengenai pokok perkuliahan
3) Memandu diskusi seputaran isu – isu terkait ajaran wariga
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 15
C. URAIAN MATERI
Pertumbuhan/Perkembangan Wariga
Dalam perkembangan peradaban dan kebudayaan di Barat maupun di Timur peranan
astronomi/astrologi tidak bisa dikesampingkan samapai di jaman modern ini. Apalagi di jaman
dahulu ketika manusia hampir bulat-bulat menggabungkan dirinya kepada Alam, kepada
peredaran matahari dan bintang-bintang yanga ada di cakrawala. Astrologi dan astronomi (wariga,
mempunyai pertumbuhan/perkembangan tersendiri baik di dunia Barat maupun Timur.
1. Astronomi di Barat
Astronomi di dunia Barat dengan mempergunakan pengamatan bintang-bintang dan
matahari dipergunakan untuk meramal kejadian yang akan terjadi di bumi.
Pertumbuhan/perkembangan Astrologi dapat dibagi dalam tiga periode:
a. Periode Kuno
Pada mulanya planet-planet itu diketahui oleh orang Babilonia dan Assyiria yang
bertempat tinggal diantara dua sungai Tigris dan Euphrat yang sekarang menjadi wilayah Irak.
Pada abad ke 3 SM. Orang-orang Mesopotania telah menganalisa beberapa planet-planet dan
sudah memperbaiki nama antara lain singa (leo).
Pada masa itu pendeta Babilonia harus mengamati peredaran planet-planet di angkasa
untuk dapat meramalkan kejadian-kejadian yang tidak diingini yang mungkin terjadi terhadap diri
raja maupun kerajaan.
Pada masa itu perhitungan peredaran planet serta hasilnya masing-masing tergantung pada
perkiraan yang tidak rasional.
Adapun perhitungan yang lebih rasional dibanding ini dimulai oleh para ahli filsafat seperti
Phitagoras, Hipparch, Aristoteles dan Ptomely. Mereka inilah yang dianggap mewakili
perkembangan Astronomi dan Astrologi pada zaman Kuno. Ketika kebudayaan romawi mendapat
pengaruh dari kebudayaan Yunani, mereka menolak astrologi Yunani, karena mereka sudah
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 16
mempunyai metode astrologi sendiri. Sampai pada akhir Republik Roma pun bukan saja pujangga
Sucratius yang menolaknya tetapi lawannya yaitu Cicero menolaknya juga.
b. Periode Pertengahan
Setelah runtuhnya romawi, seorang budayawan besar N.Figulus, bukan saja menerima
Zodiak Yunani, malah menambah dengan menerima Astrologi Mesir.
Dengan diterimanya Astrologi dalam kehidupan manusia maka bagi pemeluk agama
Kristen menurut sementara orang pada waktu itu adalah merupakan suatu bab yang lucu dalam
sejarah, karena agama Kristen hanya mengakui kekuasaan Tuhan tetapi disamping itu menerima
juga kekuasaan kekuatan bintang-bintang yang mempengaruhi kehidupan manusia.
Walaupun beberapa gereja menentangnya namun masyarakat tetap menerima dan
mengakui kekuatan astrologi. Diputuskan oleh mereka bahwa satu minggu itu adalah tujuh hari
dengan memberikan nama pada setiap hari sesuai dengan nama matahari, bulan dan planet-planet
lain.
Penentuan hari raya Natal untuk petama kalinya melalui perhitungan Astrologi adalah
contoh yang cukup meyakinkan akan pengaruh astrologi. Pada zaman Charlemagne dan setelah
menyebarnya agama Islam, Astrologi mendapat kedudukan yang penting dalam semua bagian
ilmu pengetahuan. Pada abad ke VII di Eropa adalah periode pertengahan yang cemerlang bagi
Astrologi pada saat mana Dante (1205-1321) dan St. Thomas Aquino (1225-1274) memasukkan
kedalam ajaran filsafat Kristen nya konsepsi sebab akibat yang memasukkan perhitungan
astrologi. Pada abad ke XIV banyak Universitas antara lain Paris, Padena, Bologna, dan Florence
mengadakan satu jurusan yaitu jurusan Astrologi dalam kurikulum fakultasnya sampai zaman
Reformasi pun kedudukan ini tetap bertahan.
c. Periode Modern
Runtuhnya kekuasaan Astrologi di Barat adalah karena kemajuan ilmu pengetahuan eksata
dan kecenderungan serta kemampuan berpikir secara ilmiah dalam masyarakat. Astrologi lahir
dalam dunia yang dipengaruhi pemikiran yang geosentris maka penetuan tentang pemutaran bumi
oleh Nicolus Corpernicus (1473-1543) seorang Prusia merupakan revolusi yang menghancurkan
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 17
kekuasaan Astrologi di Dunia Barat. Ramalan-ramalan Astrologi tidak mampu lagi menandingi
ujian-ujian dari metode-metode yang dicoba oleh ilmu pengetahuan.
Kemudian Tyche Erahe (1546-1601) seorang Swedia melanjutkan percobaan-percoban
ilmiah dengan penemuan teles-cope yang sederhana.
Hal ini dilanjutkan oleh Johannes Kepler (1571-1630) seorang Denmark yang mewarisi
dan mengembangkan Tyche Erche itu. Demikianlah secara singkat pertumbuhan/perkembangan
Astronomi/Astrologi dari periode Kuno sampai periode Modern di Dunia Barat.
2. Astronomi di Timur (India)
Astronomi (ilmu perbintangan) di India sejak zaman purba kala merupakan dasar dari ilmu
Astrologi dan ilmu matematika. Jika ilmu Matematika merupakan cabang dari yang paling ilmiah
dari astronomi maka Astrologi dimulai sebagai ilmu yang kurang ilmiah karena menyangkut soal-
soal nasib dan sifat-sifat manusia yang pada umumnya tidak dapat diperhitungkan secara ekskta,
secara pasti kebenarannya. Hasil dari ilmu Astrologi adalah ramalan-ramalan dan perkiraan yang
hanya merupakan pegangan bagi manusia dalam mengetahui atau mengenal dirinya sendiri secara
umum sehingga ia dapat menepatkan dirinya pada posisi yang lebih baik dalam hidupnya,
hubungan dengan manusia lain dimasyarakat.
Perkembangan/pertumbuhan Astronomi dan Astrologi di India dapat dibagi jadi tiga
periode:
a. Periode Kuno
Periode ini terjadi pada zaman Weda yaitu masa turunnya wahyu-wahyu ini masih susah
dimengerti karena diturunkannya dalam bentuk-bentuk syair yang bersifat metodelogis. Para Rsi
di zaman Weda itu hanya mengarahkan pandangan pada hukum alam yang memunculkan dan
menenggelamkan matahari dan bulan. Sedangkan peredaran planet-planet secara luas hanya
kadang-kadang saja diungkapkan hal mana tidak memberikan gambaran yang jelas dibidang ilmu
perbintangan. Peredaran matahari dan bulan serta pengertian musim, khususnya mengenai
peredaran 27 tanda zodiak yang disebut Naksatra merupakan penelitian mereka yang dilakukan
secara seksama.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 18
Persoalan Astronomi/Astrologi pada zaman Weda ini tercantum tersebar dalam buku-buku
suci Rg Weda dan Yajur Weda. Ajaran-ajaran suci Rg Weda menurut Prof. Tilak sudah dimulai
6000 tahun SM.
Sedangkan Prof. Jacobi memberi umur 4000 tahun SM dan Prof. Dr. Winternitz memberi
penilaian dimulainya sekitar 2500 tahun SM. Periode Kuno ini ditandai dengan disebut-sebut
persoalan Astronomi/Astrologi dalam pustaka-pustaka suci Weda.
b. Periode Pertengahan
Isi buku-buku suci Weda yang diwahyukan dalam kurun waktu yang amat panjang dan
akhirnya disusun secara sistematis oleh para Rsi (terakhir oleh Maha Rsi Wyasa) menjadi empat
buku yaitu Reg Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda. Tentang Astronomi/Astrologi
tedapat dua buku Reg dan Yajur Weda. Oleh karena belum begitu jelas penguraiannya dalam
kedua buku suci itu diperlukan uraian yang lebih jelas sebagai suplemen atau tambahan pembantu
yang disebut “Angga” yang artinya “Anggota Badan “. Tetapi buku dibidang Astronomi/Astrologi
saja, namun ada enam topik yang memerlukan “Angga”, sehingga ada enam Wedangga yaitu :
Siksa, Wyakarana, Chanda, Nirukta, Jyotisa, dan Kalpa.
Dalam buku Wedangga yang dinamai Jyotisa inilah yang disusun kira-kira 1200 tahun SM,
persoalan Astronomi/Astrologi diuraikan. Hanya sangat disayangkan karena ungkapannya masih
berbentuk Sloka yang pendek-pendek. Kiranya pada saat itu sudah dapat dimengerti oleh para Rsi
atau para Astrologi kuno. Tetapi untuk Astrologi-astrologi jaman berikutnya masih memerlukan
uraian-uraian yang lebih terperinci.
Karena sifatnya demikian rupa, maka menurut Dr. Faibout, buku Wedangga Jyotisa ini
berdiri diperbatasan antara periode Kuno dengan periode pertengahan tetapi lebih cenderung pada
periode pertengahan. Dalam periode pertengahan dari pada Astronomi India disamping buku
Wedangga Jyotisa ini pembicaraan soal Astronomi/Astrologi serta Cosmogoni terdapat juga dalam
buku-buku Purana, Dharmasastra dan buku Wiracarita Mahabrata.
c. Periode Modern
Periode Modern adalah setelah tarich Masehi saat persoalan Astronomi telah tersusun
dengan sistematis dan ilmiah dalam lima buku yang disebut dengan Panca Siddhanta, Paulisa
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 19
Siddhanta dan Romaka Siddhanta. Semua Siddhanta ini disusun pada tahun 427 Saka atau 505
Masehi.
Dalam periode Modern, timbul beberapa pendapat sarjana Barat tentang ada atau tidak
adanya pengaruh mempengaruhi antara ahli-ahli Astronomi Yunani dan India. Prof. Bently
mengira bahwa beberapa siddhanta yaitu Paulisa dan Yunani pada jaman Alexander yang Agung
menjajah India.
Prof. Withey mendukung pendapat di atas dengan memuat kesimpulan baik Astronomi India, Cina
maupun Arab mempunyai banyak persamaan dan mereka bukanlah penemu yang pertama dari
sistem perhitungan yang ada. Semua mereka itu pasti meminjamnya dari ahli-ahli Asia Barat. Kini
ahli-ahli Babilonia.
Pendapat-pendapat di atas ditolak oleh Prof. Sir W. Jones, Prof. Colebroks, Prof. Max
Muller dan Dr. Rw. Burgen yang menterjemahkan Surya Siddhanta ketika beliau menjadi Pendeta
Missionaris di India.
Malahan Prof. Plunkett dalam bukunya “Anceint Calenders and Constallation” (1903)
menulis bahwa Rsi Garya memberikan pelajaran kepada orang-orang Yunani tentang Astrologi di
abad I sebelum Masehi. Penulis riwayat hidupnya Appolonius dari Tyama itu mempelajari banyak
hal dari para Rsi India utamanya dalam soal-soal astronomi.
Antara lain Astronomi Yunani dan India maupun Astronominya Ptolemy pada dasarnya
berasal dari Whithenny dan Prof. Yacehi, menyatakan bahwa Astronomi India yang meminjam
Astronomi Barat sedangkan Prof. Tilak, Prof. Sir, W.Jones, Prof. Max Muller, Prof. Colebrooke,
Dr. Rw. Burgen dan Prof. Plunkett, menyatakan bahwa Astronomi Yunanilah yang meminjam
Astronomi India. Hal ini dapat ditarik semuanya karena apapun yang terpikirkan oleh sarjana-
sarjana atau filososf barat, ada atau tidaknya kontak kebudayaan. Karena ilmu itu universal
jangkauannya.
Demikianlah pertumbuhan/perkembangan Astronomi/Astrologi dari Periode Kuno sampai
Periode Modern baik di Dunia Barat maupun Dunia Timur (India). Akhirnya semua ini tumbuh
dan berkembang ke Indonesia khususnya Astrologi Dunia Timur (India) mengikuti penyebaran
agama Hindu.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 20
AKSIOMA WARIGA
Aksioma Wariga adalah sebuah pernyataan yang yang berlaku dalam ajaran wariga.
Pernyataan ini menekankan pada komponen – komponen wariga serta hierarkisitasnya. Aksioma
ini menurut Ardhana (2006: 3) memiliki nama lain yaitu Alahing sasih. Adapun bunyi pernyataan
tersebut adalah sebagai berikut :
Wewaran alah dening wuku. Wuku alah dening tanggal/pangelong. Tanggal /pangelong
alah dening sasih. Sasih alah dening dawuh. Dawuh alah dening Sang Hyang Trayodasa saksi.
Iki Sang Hyang Trayodasa saksi. 1. Aditya;2. Candra;3.Anila;4.Agni;5. Apas;6.Akasa;7.
Prthiwi;8.Atma;9. Yama;10.Ahas;11.Ratri;12.Sandhya;13.Dwaya
Sang Hyang Trayodasa sasksi adalah merupakan kekuatan – kekuatan alam semesta yang berada
di bawah pengaruh dan kekuasaan Hyang Widhi, sebab sesungguhnya Hyang Widhi adalah
pengendali alam semseta ini. Sang Hyang Widhi yangmenggerakkan dan mengendaikan semua
ciptaannya. Hyang Widhi yang menentukan segala –galanya termasuk yang mennetukan baik-
buruknya hari ( Hala-Hayuning Dewasa). Karena itu Hyang Widhi satu – satunya sumber sebagai
tumpuan harapan agar segala sesuatu yang akan diperbuat dapat berlangsung baik nantinya.
Merujuk dari penjelasan di atas, maka rumus Aksioma wariga kiranya dapat di tambahkan
sebagai berikut :
Wewaran alah dening wuku. Wuku alah dening tanggal/pangelong.tanggal /pangelong alah
dening sasih. Sasih alah dening dawuh. Dawuh alah dening Sang Hyang Trayodasa saksi. Sang
Hyang Trayodasa saksi alah dening heninging manah sthiti bhakti ring Sang Hyang Widhi.
Demikianlah di dalam pelaksanaan yajna, melaksanakan upacara sangat diperlukan dewasa atau
hari baik dan terutama yang sangat penting bagi sang yajamana atau sang makarya ayu ialah
heningnya/ sucinya hati dan kepercayaan yang tulus serta bhakti ke hadapan Hyang Widhi.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 21
PAKET 4
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas mengenai wewaran yang merupakan bagian
awal dalam aksioma wariga yang telah di pelajari pada pertemuan sebelumnya. Pembahasan ini
materi wewaran ini tentunya diawali oleh pembahasan akan pengertian wewaran, mitologi
wewaran serta cara untuk mencari wewaran pada tiap – tiap harinya. Metode untuk mencari
wewaran sendiri dalam diktat ini terbagi menjadi dua yaitu metode menggunakan rumus urip serta
metode menggunakan jari tangan.
Untuk pembahasan materi wewaran ini, disedikan waktu pertemuan yang lumayan panjang
disebabkan luasnya materi serta dibutuhkan praktek secara langsung guna meningkatkan
kemampuan siswa, sehingga teori dan praktek dapat berjalan seiring sejalan. Untuk memudahkan
singkronisasi antara teori dan praktek. Untuk pembahasan materi wewaran ini digunakan power
point slide show untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami materi.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
2. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 22
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
2. Materi Pokok
a. Materi pengertian wewaran
b. Materi mitologi wewaran
c. Cara mencari wewaran ( Eka Wara – Dasa Wara )
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui sejarah ajaran wariga
b. Mahasiswa mampu memahami aksioma wariga
4. Pengalaman Belajar
a. Mengetahui Konsep Ajaran wariga secara mendalam
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan fokus mah23ocusa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Melakukan praktek pencarian wewaran
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
C. URAIAN MATERI
Pengertian Dan Mitologi Wewaran
Wewaran adalah bahasa Sansekerta dari urat kata wara di publikasikan (Dwipurwa) dan
mendapat akhiran an (we + wara + an). Kata wara banyak memiliki arti seperti : terpilih; terbaik;
unggul. Wara juga berarti hari; mulia, utama.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 23
Dari uraian di atas wewaran dapat diartikan perhitungan hari-hari. Tentang hari-hari dalam
wariga ada sepuluh jenis yang dipergunakan dalam padewasan yaitu pemilihan hari baik untuk
memulai suatu pekerjaan atau yadnya.
Mengenai mitologi (ceritera) lahirnya wewaran dikemukakan dalam rontal
Medangkemulan dan rontal Bhagawan Garga. Dalam rontal tersebut di atas diuraikan kelahiran
wuku dan juga menceritakan para Dewa dan Rsi adalah berwujud menjadi wewaran sebagai
berikut :
“Kunang kang rumuhun, sang hyang ekataya, maka linggan taliwang ke, nga, sang
hyang timira maka pepet, nga, sang hyang kalima maka linggan, manga, nga, dwiwara. Sang
hyang cika, dadi dora. Sang hyang wacika, dadi waya. Sang hyang manacika, dadi byantara,
punika sang hyang tri kursika maka lingga triwara.
Sang hyang catur lokapala, dadi caturwara, sri bhagawan bregu; laba bhagawan
kanwa; jaya bhagawan janaka; manala bhagawan narada. Sang hyang garga, ka, sang korsika,
u, sang hyang metri, pa. Sang kurusya, pwa.
Sang hyang pratanjala, wa, dadi pancawara.
Mwang sadrsi, indra dadi tungleh, baruna dadi aryang. Yama dadi paniron: hyang bajra
dadi wa. Sang hyang airawana dadi maulu. Mwah saptarsi, slokanya: “Radityanca candrayatam
kujayenca rabudyattam wraspati tamnca saniscara gunatryam, kunang sang hyang bhaskara
dadi, ra, sang hyang candra dadi, ca, sang hyang anggara dadi anggara, sang hyang udaka
dadi, bu; sang hyang sura guru dadi wra; sang hyang bregu dadi, su, sang hyang wasurama
dadi, sa (Rontal Medangkemulan; lembar 10a – 10b).
Artinya :
Tersebutlah saat dahulu Sang Hyang Ekataya sebagai perwujudan Taliwangke. Sang
Hyang Timira menjadi Pepet, Sang Hyang kalima menjadi Menge, keduanya menjadi Dwiwara.
Sang Hyang Cika menjadi Dora; Sang Hyang Wacika menjadi Waya, Sang Hyang Manacika
menjadi Bhyantara, itulah Sang Hyang Tri Kursika berwujud menjadi Triwara.
Sang Hyang Catur Lokapala menjadi Caturwara, Sri adalah Bhagawan Bregu, Laba adalah
Bhagawan Kanwa, jaya adalah Bhagawan Janaka, Mandala adalah Bhagawan Narada. Sang Hyang
Garga menjadi Kliwon, Sang Hyang Korsika menjadi Umanis, Sang Hyang Metri menjadi Pahing,
Sang Hyang Kurusya menjadi Pon, Sang Hyang Pratanjala menjadi Wage.
Jadi, Pancawara adalah perwujudan dari Sang Hyang Panca Korsika.
Dan lagi Sad Rsi berwujud menjadi Sadwara yaitu Indra menjadi Tungleh, Bharuna
menjadi Aryang, Kuwera menjadi Urukung, Bayu menjadi Paniron, Sang Hyang Bajra menjadi
Was, Sang Hyang Airawana menjadi Maulu.
Selanjutnya dalam sloka Sapta Rsi dinyatakan Sang Hyang Bhaskara menjadi Redite, Sang
Hyang Candra menjadi Coma, Sang Hyang Anggara menjadi Anggara, Sang Hyang Udaka
menjadi Buda, Sang Hyang Sura Guru menjadi Wraspati, Sang Hyang Bregu menjadi Sukra, Sang
Hyang Wasurama menjadi Saniscara.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 24
Mitologi di atas tidak ada menyebutkan adanya Ekawara, Astawara, Sangawara dan
Dasawara. Oleh karena itu agak berbeda dengan mitologi lahirnya wewaran berdasarkan rontal
Bagawan Garga sebagai berikut:
“Hana ta dewa anglayang, guru tunggal, ingaranan sang hyang licin, suksma nirmala, endah
snenya maring sunya, pantaranya rumawak tuduh, ya ta sang hyang licin, rumaga rama tan
sahayebu. Mahayoga sang hyang licin, hana bhagawan bregu, mayoga bhagawan bregu, hana
rwa mimitan, nga, rahayu mimitan, kala mimitan, rupanya kadi tunggal, nga, dewakala, rahu
mawak, ketu luwirnya: sang hyang rahu hangadakna, kala kabeh, sang hyang ketu ika hamijil kna
dewa kabeh, mwang wewara, (Transkripsi Rontal Bhagawan Garga, 3-4).
Artinya:
“Ada tersebut sinar suci melayang-layang, beliau itu guru sejati yang disebut Sang Hyang
Licin, wujudnya sangat gaib dan sangat suci, bermacam-macam wujudnya di alam yang kosong
ini, itulah sebabnya berwujud Sang Hyang Tuduh, Ia itulah juga Sang Hyang Licin, beliau yang
ada pertama kali, tanpa ayah dan ibu.
Beryogalah Sang Hyang Licin, lahirlah dua hal yaitu positif dan negatif, wujudnya seperti
tunggal (satu) adalah Dewa Kala; yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang
Rahu menciptakan semua Kala, Sang Ketu itu menciptakan para Dewa dan Wewaran.”
Selanjutnya, diuraikan bahwa Sang Hyang Licin sebenarnya menjadi Ekawara yaitu
Luang. Kemudian lahir wuku Sinta dan Sungsang maka ada Dwiwara yaitu menge, Pepet; inilah
yang menyebabkan adanya baik dan buruk (ala ayu). Sang Hyang Menge menjadi siang adalah
Sang Hyang Rahu, Hyang Pepet menjadi malam adalah Sang Hyang Ketu.
Ada wuku Tambir lahirnya Triwara yaitu Dora, Waya, Byantara. Sesungguhnya Dora
adalah Kala, Waya adalah Manusa dan Byantara adalah Dewa, ada Kulawu lahirlah caturwara
yaitu Sri, Laba, Jaya, Mandala; sesungguhnya adalah batari Gangga, Sang Hyang Bayu, Sang
Hyang Sangkara, Sang Hyang Kancanawidhi.
Adanya wuku Wariga lahirlah Pancawara, yaitu:
Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon. Sebenarnya adalah Sang Hyang Iswara, Sang Hyang
Brahma, Sang Hyang Maha Dewa, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Siwa.
Ada wuku Pahing lahirnya Sad Wara yaitu : Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was,
Maulu.
Sesungguhnya Tungleh adalah Antabuta, Aryang adalah Padabuta, Urukung adalah
Anggabuta, Paniron adalah Malecabuta, Was adalah Astabuta, Maulu adalah Mastakabuta.
Ada wuku Bala, lahirlah Saptawara yaitu : Redite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra,
Saniscara sebenarnya adalah Hyang Banu, Hyang Candra, Sang Manggala, Hyang Buda, Hyang
Wraspati, Bhagawan Sukra, Dewi Sori.
Ada wuku Kulantir, lahirlah Astawara yaitu : Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala,
Uma. Sebenarnya adalah Batari Giri Putri, Hyang Indra, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Yama,
Hyang Ludra, Hyang Brahma, Hyang Kalantaka, Sang Hyang Amerta.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 25
Ada wuku Langkir lahirlah Sangawara yaitu : Dangu, Jangur, Gigis, Nohan, Ogan,
Erangan, Urungan,Tulus, Dadi. Sebenarnya Buta Urung; Jangur adalah Buta Pataha, Gigis adalah
Buta Jingkrak, Erangan adalah Buta Jabung, Urungan adalah Buta Kenying, Tulus adalah Sang
Hyang Saraswati, Dadi adalah Sang Hyang Dharma.
Ada Wuku Uye, lahirlah Dasawara yaitu : Pandita, Pati, Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa,
Raja, Dewa, Raksasa. Sebenarnya Sang Hyang Aruna adalah Pandita, Kala adalah Pati, Smara
adalah Suka, Durga adalah Duka, Sang Hyang Basundari adalah Sri, Kalalupa adalah Manuh, Sang
Hyang Suksmajati adalah Manusa, Kalatangis adalah Raja, Sang Hyang Sambhu adalah Dewa,
Sang Kalakopa adalah Raksasa (Ranskripsi Rontal Bagawan Garga, 4-5).
Berdasarkan uraian kelahiran tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa semua Wewaran
itu adalah ciptaan Sang Hyang Widhi melalui yoganya. Pada mulanya beliau disebut Sang Hyang
Licin yang beryoga lahirlah Bhagawan Bregu. Bhagawan Bregu beryoga lahirlah Sang Hyang
Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang Rahu beryoga lahirlah para Kala dan Sang Hyang Ketu
beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran. Maksudnya adalah Sang Hyang Widhi itu Tunggal
tidak ada duanya yang diwujudkan Ekawara adalah Luang. Luang artinya Kosong.
Pada mulanya belum ada apa-apa atau alam ini kosong, yang ada hanya
kekosongan(luang), itu adalah sebenarnya perwujudang Sang Hyang Widhi yang tunggal disebut
Paramasiwa dalam Saptaloka beliau berkedudukan di Satya Loka.
Pada tingkat ini beliau suci nirmala belum terpengaruh apapun juga sehingga disebut juga
dengan Nirguna Brahman.
Dari Yoganya Sang Hyang Widhi ada Bhagawan Bregu, beliau ada pada tingkat Mahaloka,
saat ini Sang Hyang Widhi sudah terpengaruh oleh hal-hal maya. Bhagawan Bregu beryoga
lahirlah Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Pada tingkatab Mahaloka Sang Hyang Widhi
diberi gelar Sadasiwa yang disebut dengan Saguna Brahma karena sudah terpengaruh oleh maya.
Itulah sebabnya muncul dua kekuatan Cetana dan Acetana, Purusa Pradana atau Sang Hyang Ketu
dan Sang Hyang Rahu.
Berpaduannya kedua kekuatan ini pada jenjang Siwatama yang disebut dengan Gunakarya
barulah muncul ciptaan yaitu Sang Hyang Rahu beryoga lahir para Kala/Buta dan Sang Hyanh
Ketu Beryoga lahirlah para Dewa dan Wewaran, denukuan seterusnya.
Selain lahirnya ceritera Wewaran di atas dalam Rontal Bhagawan Garga juga menyebut
tentang Urip/neptu dari tiap-tiap wewaran yang adal sebagai berikut:
“Kunang ikang wewaran kabeh sakeng yoganira sang hyang ketu, ika wak dewa kabeh ri
mangke sang hyang ketu. Mwang sang hyang rahu kinon denira sang hyang licin magawe ana
ebeking trimandalanya, iwasira, awargadesa ring wayabya pranahnya, tan ana madani ikang
awarga wayabya teja kadi surya koti. Kinon to ya kabeh mwang dewa kabeh tekeng wewaran
angrebat desa ri wayabya, neher sira sang hyang sangkara jumujung ring wayabya. Ika ingadu
kala lawan dewa, sang hyang rahu, sang hyang ketu, angadu prangira kabeh arebat awarga eng
wayabya. Rame kang prang silih suduk, nyakra, enak adumeng kasaknya. Pejah tang kala
kabeh,ingurip mwah denira sang hyang adikala, sidi yoganya (Transkripsi Rontal Bhagawan
Garga, 7)
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 26
Artinya :
Demikian tentang wewaran semuanya lahir dari yoganya Sang Hyang Ketu, begitu juga
para Dewa ada karena atas Sang Hyang Ketu. Sedangkan Sang Hyang Rahu disuruh oleh beliau
Sang Hyang Licin untuk mengadakan ciptaan yang memenuhi Tri Mandala, lalu beliau menjadi
warga desa yang bertempat di arah wayabya (Barat Laut), tidak akan menyaingi keluarhga desa di
Wayabya, bersinar sebagai matahari sebanyak sepuluh ribu.
Diperintahkannya semua para Dewa dan Wewaran untuk menyerang desa yang ada di
Wayabya, lalu beliau Sang Hyang Sangkara berdiri (ada) di Wayabya. Itu diadu para Kala
melawan para Dewa, Sang Hyang Rahu, Sang Hyang Ketu sebagai pemimpin perang menyerbu
seluruh warga yang ada di Wayabya. Sangat serulah pertempuran itu saling tusuk-menusuk, panah-
memanah semuanya mengeluarkan kesaktiannya. Matilah Kala semuanya, dihidupkan kembali
oleh Sang Hyang Adikala yang berhasil yoganya.
Selanjutnya setelah para Kala hidup semuanya, lagi terjadi peperangan yang sangat
dahsyat, sehingga bayak diantaranya para Dewa, Wewaran terbunuh menjadi korban perang tapi
akhirnya juga kembali dihidupkan.
Oleh karena kala dihidupkan hanya sekali saja, itulah sebabnya Sang Hyang Kala
mempunyai Urip 1 (satu). Hyang Sangkara dibunu oleh Kala Mretiu sekali, itulah sebabnya
sehingga mempunyai urip 1 (satu).
Batara Siwa dibunuh oleh Kala Ekadasabumi delapan kali, itu sebabnya Kliwon mempunyai urip
8 (delapan), Hyang Iswara dibunuh oleh kala sanjaya lima kali, oleh karenanya Umanis
mempunyai Urip 5 (lima). Hyang Brahma terbunuh oleh Kalawisesa sembilan kali, itulah
sebabnya Pahing mempunyai Urip 9 (sembilan), Hyang Mahadewa oleh Kala Agung tujuh kali,
karenanya Pon mempunyai Urip 9 (Sembilan).
Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka empat kali, oleh karena itu Wage mempunyai urip 4
(empat).
Demikian pula Saptawara, Hyang Aditya dibunuh oleh Kala Limut lima kali, karenanya
Redite mempunyai urip 5. Hyang Candra terbunuh oleh Kala Angruda empat kali karenanya Coma
mempunyai urip 4. Sang Manggala dibunuh oleh Kala Enjer tiga kali, oleh sebab itu anggara
mempunyai urip 3. Sang Buda terbunuh oleh Kala Salongsongpati tujuh kali, karenanya Buda
mempunyai urip 7. Sang Hyang Wrspati terbunuh Kala Amengkurat delapan kali, itulah sebabnya
Wrspati mempunyai urip 8. Sang Hyang Kawia dibunuh oleh Kala Greha enam kali, karenanya
Sukra mempunyai urip 6. Dewi Sori terbunuh oleh Kala telu Sembilan kali, itulah sebabnya
Saniscara mempunyai urip 9.
Begitupula Astawara, hyang Giriputri dibunuh oleh Kala Luang enam kali, karenanya
mempunyai urip 6, Hyang Guru dibunuh oleh Kala Durgastana, oleh karena itu Guru mempunyai
urip 8, Hyang Yama dibunuh oleh Kalantaka Sembilan kali, karenanya Yama mempunyai urip 9,
Hyang Rudra dibunuh oleh Kala Pundutan tiga kali, sehingga Ludra mempunyai urip 3. Hyang
Brahma dibunuh oleh Kala Agni tujuh kali, sehingga Brahma mempunyai urip 7. Hyang Kala
terbunuh oleh Hyang Guru sekali, sehingga Kala mempunyai urip 1. Hyang Mreta dibunuh oleh
Kala Padumarana empat kali, sehingga Uma mempunyai urip 4.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 27
Lain lagi halnya Sangawara, Dangu terbunuh 5 kali, Jangur terbunuh 6 kali, Gigis terbunuh
8 kali, Nohan terbunuh satu kali, Ogan terbunuh 8 kali, Erangan terbunuh 3 kali, Urungan 7 kali,
Tulus terbunuh 9 kali, Dadi terbunuh 4 kali. Itulah semuanya menjadi uripnya masing-masing.
Mengenai Sadwara, Tungleh terbunuh 7 kali, Aryang dibunuh 6 kali, Urukung terbunuh 5
kali, Paniron terbunuh 8 kali, Was dibunuh 9 kali, Maulu dibunuh 3 kali.
Begitu pula halnya Caturwara, Hyang Angga terbunuh 4 kali, sehingga Sri mempunyai
urip 4. Hyang Bayu terbunuh 5 kali, sehingga Laba mempunyai urip 5. Hyang Purusa dibunuh 9
kali, sehingga Jaya mempunyai urip 9. Hyang Kencanawili terbunuh 7 kali, sehingga Mandala
mempunyai urip 7. (Transkripsi Rontal Bhagawan Garga :8).
Demikian cerita kehidupan wewaran berperang melawan Kala semuanya yang akhirnya
dihidupkan kembali oleh Hyang Taya, itulah sebabnya semua wewaran mempunyai urip atau neftu
seperti telah tersebut di atas.
Dari sinilah kiranya Padma Anglayang yang juga disebut sebagai pengider-ider, setiap
arahnya mempunyai urip tertentu. Sehubungan dengan terciptanya alam semesta yang keadaannya
sudah stabil, sempurna dan sejahtera artinya masing-masing dari benda alam (Brahmanda) telah
berdiri sendiri-sendiri disebut dengan Swastika sebagai lambing suci agama Hindu.
Lambat laun dari swastika itulah berkembang menjadi tulisan Padma Anglayang, artinya
tunjung terbang melayang-layang di awang-awang mengedari matahari (Suryasewana). Daunnya
yang delapan menjadi 8 arah dari bumi, yaitu:
1. Purwa (timur)
2. Gneya (tenggara)
3. Daksina (selatan)
4. Nairiti (barat daya)
5. Pascima (barat)
6. Wayabya (barat laut)
7. Uttara (utara)
8. Airsanya (timur laut)
Dalam sapta loka yaitu tingkat keempat dari atas atau dari bawah Sang Hyang Widhi itu
disebut Loka Pala artinya pemimpin alam. Dalam kepemimpinan ini Sang Hyang Widhi digelari
bermacam-macam menurut tempat dan tugasnya, misalnya Panca Brahma, Panca Dewata, Nawa
Dewata atau Dewata Sanga.
Di antara gelar-gelar Sang Hyang Widhi itu disini akan diuraikan tentang Nawa Dewata
atau Dewata Sanga yang berhubungan langsung dengan Padma Anglayang atau Pangider-ider
sebagai berikut:
1. Sang Hyang Iswara bertempat di timur
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 28
2. Sang Hyang Maheswara bertempat di tenggara
3. Sang Hyang Brahma bertempat di Selatan
4. Sang Hyang Rudra bertempat di barat daya
5. Sang Hyang Mahadewa bertempat di barat
6. Sang Hyang Sangkara bertempat di barat laut
7. Sang Hyang Wisnu bertempat di utara
8. Sang Hyang Sambhu bertempat di timur laut
9. Sang Hyang Siwa bertempat di tengah ( Pelajaran Agama Hindu Bali III 1961, 14-
16 )
Terutama para Dewata Sanga inilah diperintahkan oleh Sang Hyang Widhi untuk menjaga
semua penjuru mata angin dunia supaya stabil dengan memiliki urip masing-masing seperti yang
telah diuraikan dalam Rontal Bhagawan Garga seperti di bawah ini.:
1. Sang Hyang Iswara berperang melawan para Kala, beliau terbunuh oleh Kala Sanjaya
5 kali, tetapi dihidupkan 5 kali oleh Sang Hyang Taya. Sang Iswara diperintahkan oleh
Sang Hyang Widhi mengatur memimpin alam bagian Timur. Itulah sebabnya dalam
pengider-ider arah timur mempunyai urip 5.
2. Sang Hyang Maheswara atau Sang Hyang Wrspati terbunuh oleh Kala Amengkurat 8
kali, dihidupkan oleh Sang Hyang Taya 8 kali, sehingga Sang Hyang Maheswara yang
memimpin arah Tenggara mempunyai urip 8.
3. Sng Hyang Brahma terbunuh 9 kali oleh Kala Wisesa, kemudian dihidupkan 9 kali oleh
Sang Hyang Taya, sehingga Hyang Brahma yang diperintahkan untuk memimpin arah
Selatan mempunyai urip 9.
4. Sang Hyang Rudra dibunuh 3 kali oleh Kala Pundutan dan dihidupkan juga 3 kali oleh
Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Rudra yang memperoleh tugas di bagian Barat
Daya mempunyai urip 3.
5. Sang Hyang Mahadewa dibunuh 7 kali oleh Kala Agung, tetapi dihidupkan kembali
oleh Sang Hyang Taya 7 kali, sehingga Sang Hyang Mahadewa yang ditugaskan
memimpin arah Barat mempunyai urip 7.
6. Sang Hyang Sangkara terbunuh oleh Kala Mretiu sekali, kemudian dihidupkan juga
sekali oleh Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Sangkara yang ditugaskan untuk
memimpin arah Barat Laut mempunyai urip 1.
7. Sang Hyang Wisnu dibunuh oleh Kala Dasamuka 4 kali, juga dihidupkan 4 kali oleh
Sang Hyang Taya, sehingga Sang Hyang Wisnu yang ditugaskan untuk memimpin arah
Utara mempunyai urip 4.
8. Sang Hyang Sambhu atau Sang Hyang Kawia dibunuh oleh Kala Greha 6 kali
kemudian dihidupkan kembali oleh Sang Hyang Taya 6 kali, sehingga Sang Hyang
Sambhu yang ditugaskan untuk memimpin arah Timur Laut mempunyai urip 6.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 29
9. Sang Hyang Siwa terbunuh 8 kali oleh Kala Eka Dasabumi, dihidupkan kembali oleh
Sang Hyang Taya 8 kali juga, sehingga Sang Hyang Siwa yang ditugaskan di bagian
Tengah sebagai proses mempunyai urip 8.
CARA MENCARI WEWARAN
Pencarian wewaran sesungguhnya dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan melihat
kalender Bali, namun dalam situasi tertentu, terkadang keberadaaan kalender sulit untuk ditemui,
sehingga mencari wewaran dengan menggunakan cara yang tepat dapat dilakukan agar tidak
menghambat proses dalm usaha mencari dewasa ayu berikut adalah beberapa cara dalam upaya
mencari wewaran.
1. Menggunakan Rumus : Radite ( Minggu ) :0
Untuk mencari Triwara, Soma ( Senin ) :1
Anggara ( Selasa ) :2
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 3 Budha ( Rabu ) :3
Bila sisanya : Whrehaspati ( Kamis ) :4
1 = Dora ( Pasah ) Sukra ( Jumat ) :5
2 = Waya ( Beteng)
3 = Byantara ( Kajeng) Saniscara ( Sabtu ) :6
Untuk mencari catur wara
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 4
Bila sisanya :
1 = Sri
2= Laba
3= Jaya
4(0) = Mandala
*pengecualian : Wuku Dungulan adalah merupakan pengecualian karena adanya
jaya tiga berturut – turut tiga kali, mulai hari Redite Jaya, Coma jaya, Anggara
Jaya. Oleh karena itu, bila mencari catur wara sebelum wuku Dungulan, maka
harus ditambah 2 sebelum dibagi. Rumus = ( nomor wuku+7+2+nomor
saptawara):4
Untuk Pancawara
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 5
Bila Sisanya :
1=Umanis
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 30
2= Paing
3=Pon
4= Wage
5( 0) =Kliwon
Untuk Sadwara
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 6
Bila sisanya :
1= Tungleh
2=Aryang
3= Urukung
4=paniron
5= Was
6= Maulu
Untuk Asta Wara
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 8
Bila Sisanya :
1= Sri
2=Indra
3=Guru
4=Yama
5=Ludra
6=Brahma
7=Kala
8=Uma
*pengecualian: Wuku Dungulan adalah wuku pengfecualian karena adanya kala tiga, tiga
kali berturut – turut mulai dari redite kala, coma kala dan anggara kala. Oleh karena itu
astawara yang jatuhnya sebelum wuku dungulan maka harus ditambah dengan 2 sebelum
dibagi. Rumusnya = ( nomor wuku x 7 +2+ nomor saptawara yang dicari) : 8
Mencari Sangawara :
(NOMOR WUKU x 7 + No Saptawara) : 9
Bila sisanya :
1= Dangu
2= Jangur
3=Gigis
4=Nohan
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 31
5=Ogan
6=Erangan
7=Urungan
8=Tulus
9=Dadi
Untuk mencari Dasa Wara
Untuk mencari Dasawara, terlebih dulu harus diketahui urip Saptawara dan Pancawara
pada setiap hari yang akan dicari. Rumusnya : (urip saptawara+urip pancawara+1) : 10
Bila sisanya :
1=pandita
2=pati
3=suka
4=duka
5=sri
6=manuh
7=manusa
8=raja
9= dewa
10=raksasa
Mencari Eka Wara
Rumusnya = ( urip Pancawara + Saptawara )
Bila hasilnya :
Ganjil = Luang
Genap = Tidak ada
Mencari Dwiwara
Rumusnya = ( urip Pancawara + Saptawara )
Bila hasilnya :
Ganjil ; Menga
Genap: Pepet
MENCARI WEWARAN MENGGUNAKAN JARI
Selain menggunakan rumus, media berupa jari tangan juga dapat digunakan, namun pada
penggunakan media ini, wewaran yang dapat dicari adalah :
Triwara,Caturwara,Pancawara,Sadwara,Astawara dan Sanga Wara.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 32
Triwara dan Sadwara
12 3
654
Keterangan:
a) Perhitungan wuku dimulai dari Sinta pada angka 1, sedangkan wuku yang
lainnya dihitung berurutan ke angka 2,3,4,5,6, kembali ke angka 1 dan
seterusnya
b) Perhitungan wewaran mengikuti urutan angka sebagai berikut :
1 = Pasah , Tungleh
2 = Beteng , Aryang
3 = Kajeng , Urukung
4 = Pasah , Paniron
5 = Beteng , Was
6 = Kajeng , Maulu
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 33