c) R adalah singkatan Redite yang merupakan pokok dasar perhitungan untuk
mencari wewaran yang lainnya. Jika Wuku dalam perhitungan jatuh pada R
1, maka Reditenya adalah Pasah. Bila Reditenya sudah diketahui, maka hari
yang lainnya dapat pula diketahui.
Caturwara dan astawara
Wewaran R
Wuku R2 R
13
R R
8
4
RR R
75 6 R
DD D 5
D
Keterangan :
a. Perhitungan jalannya wuku dimulai dari Sinta pada angka 1, sedangkan wuku yang lainnya
dihitung berurutan ke angka 8,7,6,5,4,3,2, dan kembali ke angka 1
b. Perhitungan jalannya wewaran caturwara dan astawara mengikuti urutan angka sebagai
berikut:
1 = Sri , Sri
2 = Laba , Indra
3 = Jaya , Guru
4 = Menala , Yama
5 = Sri , Ludra
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 34
6= Laba , Brahma
7= Jaya , Kala
8 = Menala , Uma
c. R adalah singkatan dari Radite, yang merupakan pokok dasar perhitungan untuk mencari
wewaran yang lainnya. jika perhitungan wuku jatuh pada R1 berarti Reditenya adalah Sri, Sri.
Bila Reditenya sudah diketahui, maka untuk hari yang lainnya bisa diketahui.
d. D Adalah singkatan wuku Dungulan yang merupakan wuku perkecualian yang harus di hitung
berturut – turut 3 kali, karena diduduki oleh Jaya Tiga dan Kala Tiga, dimulai
Redite , Jaya , Kala
Coma , Jaya , Kala
Anggara , Jaya , Kala
Buda , Menala , Uma
Whraspati , Sri , Sri
Sukra, Laba , Indra
Saniscara , Jaya, Guru
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 35
Mencari Pancawara R
Wuku 1
Keterangan:
a. Perhitungan jalannya wuku dimulai dari Sinta pada angka 2, sedangkan Wuku
yang lainnya di hitung berurutan ke angka 4,1,3,5, kembali ke angka 2
b. Perhitungan jalnnya wewaran mengikuti urutan angka sebagai berikut :
1 = Umanis
2= Pahing
3= Pon
4 = Wage
5 = Kliwon
c. R adalah singkatan dari Redite yang merupakan pokok dasar perhitungan untuk
mencari wewaran yang lainnya. bila wuku jatuh pada R 2 berarti Reditenya adalah
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 36
pahing , jika R4 maka Reditenya adalah Wage dan selanjutnya. Bila Redite sudah
diketahui, maka hari lainnya juga dapat dicari.
Mencari Sangawara
wuku R
RR
2
74
R R
R9 6
5
RR
3 R
18
Keterangan :
a. Perhitungan Wuku dimulai dari Sinta pada angka 7, sedangkan wuku yang lainnya dihitung
berturut – turut ke angka 5,3,1,8, 9 dan kembali ke angka 7 dan seterusnya
b. Perhitungan jalannya wewaran mengikuti urutan angka- angka berikut ;
1= Dangu
2= Jangur
3= Gigis
4 = Nohan
5 = Ogan
6= Erangan
7 = Urungan
8 = Tulus
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 37
9 = Dadi
c. R adalah singkatan dari Redite yang merupakan pokok dasar perhitungan untuk mencari
wewaran yang lainnya, Jika wuku jatuh pada R 9, berarti Reditenya adalah Dadi, dengan
diketahuoinya Redite, maka hari yang lainnya bisa dicari
d.Wuku Sinta merupakan pengecualian karena diduduki oleh Dangu Pat, berturut-turut mulai dari
Redite – Buda = Dangu. Barulah Whraspati dan selanjutnya di lanjutkan dengan Jangu dan
seterusnya.
D. LATIHAN DAN TUGAS
Tentukan hari dengan jumlah 5 kemudian carilah wewaran dari Eka Wara- Dasa Wara pada
masing – masing hari tersebut.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 38
PAKET 5
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas mengenai Tika atau kalender tradisional Bali.
Materi Tika ini ini adalah materi lanjutan dari perkuliahan sebelumnya, pada materi inilah, aplikasi
dari teori wewaran tersebut dilaksanakan, dengan mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa
nantinya dapat membuat kalender tradisional yang dapat mereka gunakan secara mandiri dalam
menentukan hari baik untuk melakukan upacara yajna nantinya.
Pembelajaran untuk materi tika ini akan didampingi secara penuh oleh tenaga pendidik
dengan ditambah dengan media power point untuk menambah tingkat pemahaman mahasiswa
karena dengan adanya slide power point, mahasiswa mamiliki contoh yang memudahkan untuk
menyusun Tika tersebut.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 39
2. Materi Pokok
a. Materi pengertian Tika
b. Materi Cara membuat Tika
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui Pengertian Tika
b. Mahasiswa mampu membuat Tika
4. Pengalaman Belajar
a. Mahasiswa dapat mengaplikasikan materi wewaran dengan membuat Tika
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan 40ocus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Melakukan praktek pembuatan Tika
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
C. URAIAN MATERI
TIKA
Pada jaman yang silam, jika seseorang memasuki rumah-rumah tertentu di kalangan umat Hindu,
maka tampaklah tika itu menghiasi dinding tertempel terus-menerus, ada yang terbuat dari раpan,kertas,
ada pula terbuat dari kain. Fungsinya terutama adalah mempermudah untuk memperhitungkan hari tertentu
atau rerahinan (hari raya) yang berdasarkan dan perhitungan padewasan yaitu baik buruknya hari untuk
mengawali suatu pekerjaan maupun yadnya.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 40
Oleh karena itu tika merupakan kalender tradisional umat Hindu yang sifatnya permanen dengan
mempergunakan tanda-tanda (kode- kode) tertentu.Tika ini dalam perhitungan berlangsung dalam kurun
waktu 210 hari, kemudian terulang kembaliseperti semula yang keberadaannya persis sama adanya.
Maksudnya setelah perhitungan 210 hari, maka hari-hari itu akan kembali seperti semula dengan tidak ada
perubahan. Itulah sebabnya pada mulanyaumat Hindu tidak perlu membuat kalender baru setiap tahun.
Sebenarnya kalender tradisional itu sangat baik tetapi sayangnya tidak semua orang dapat
membacanya sebab dalam tika termuat hanya inti sari 41ocus414141-kode hari-hari tertentu yang sifatnya
masih rahasia. Kode-kode itu mewakili salah salu wewaran dari setiap jenis wewaran, sehingga dari petikan
petikan itulah munculnya sebutan tika Sehubungan dengan uraian di atas dapatlah dikemukakan heberapa
pendapat tentang tika itu Bapak I Wayan Simpen A.B. mengemukakan bahwa kata tika adalah perubahan
dari kata kutika artinya waktu. Kata kutika lalu dihubungkan dengan kata ketika (dalam bahasa Indonesia)
yang artinya waktu Sedangkan Bapak I Ketut Guweng memberikan penjelasan bahwa kata tika asal
mulanya adalah dari kata petikan. Kata petikan inilah lama-lama dipendekan menjadi tika yang dianggap
Wariga
Menurut Bapak I Ketut Bambang Gede Rawi memberikan satu hampir sama dengan di atas. Tika
itu adalah tidak lain dari pada kode untuk mempermudah memperhitungkan hari-hari untuk mencari
padewasan. Kata tika itu pada mulanya dati kata petikan yang lama-lama dipendekkan sehingga menjadi
tika yang dianggap wariga.
Dalam Kamus Bali- Indonesia hal 589 menguraikan kata tika artinya peta yang merupakan kalender
yang disusun berdasarkan Wuku, Saptawara, Pancawara dan sebagainya yang dilukiskan dalam bentuk
simbul-simbul di atas selembar papan, kertas dan kain. Dari semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
tika itu adalah petikan-petikan ajaran wariga yang merupakan kalender tradisional umat Hindu sifatnya
permanen dengan mempergunakan tanda-tanda (kode-kode) tertentu, sehagai wakil salah satu wewaran
maupun ingkel. Mengenai isi dari tika adalah mengemukukan tentang wuku, wewaran dan ingkel yang
berlangsung dalam kurun waktu 210 hari, kemudian terulang kembali seperti semula yang keadaannya
persis sama.Tentang ekawara, dwiwara dan dasawara biasanya tidak dimuat dalam tika karena wewaran
tersebut dapat dicari berdasarkan jumlah urip saptawara dengan pancawara. Untuk jelasnya perhatikan
gambar tika yang terlampir di bawah
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 41
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 42
PAKET 6
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas mengenai Wuku. Adapun materi materi yang
akan dijabarkan secara spesifik nantinya adalah mengenai mitologi dari wuku, urip dari wuku
tempat dari wuku serta Dewanya Wuku. Pemberian materi Wuku ini adalah lanjutan materi dari
aksioma wariga yang sudah sempat dibahas pada pertemuan terdahulu, setelah tuntas dengan
aksioma pertama yaitu wewaran, maka dilanjutkan dengan aksioma kedua yaitu wuku sebagai
bentuk koherensi materi perkuliahan.
Pemaparan tentang materi wuku ini mempergunakan metode ceramah guna membantu
mahasiswa memhamai konsep dari wuku, penggunaan metode seperti story telling juga dapat
digunakan mengingat materi dari mitologi wuku disajikan dalam format kisah cerita sehingga
penjelasan dengan metode story telling akan membantu mahasiswa untuk memahami secara lebih
maksimal.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 43
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
2. Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang berkembang di
Indonesia,yang terkandung di dalam kitab suci Hindu;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
2. Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Wariga dalam melaksanakan
upacara yadnya maupun memulain pekerjaan yang penting.
3.Mahasiswa mampu mempraktikkan ajaran Wariga dalam kehidupan sehari hari
terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan yadnya.
2. Materi Pokok
a. Mitologi Wuku
b. Urip Wuku
c. Tempat wuku
d. Dewanya Wuku
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui Mitologi dari Wuku
b. Mahasiswa mengetahui Urip, tempat serta dewa yang menaungi wuku
4. Pengalaman Belajar
b. Mahasiswa belajar dengan kritis mengenai mitologi dan meningkatkan kemampuan
menghapal
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
e. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan 44ocus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
f. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Melakukan praktek pembuatan Tika
g. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 44
h. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
C. URAIAN MATERI
MITOLOGI WUKU
Berdasarkan lontar medang kemulan deceritakan kelahiran wuku seperti dibawah ini.
Tersebutlah ada raja yang banyaknya 27 orang yaitu Raja Giriswara memeritah digunun Emalaya,
Raja Kuladewa dipasutranu, Raja Talu memerintah di winekatalu. Raja Mrebuana di Marga
Wisaya, Raja Waksa di Bragu, juga ada Raja Wariwisaya di Waragadiaswara. Raja Mrikjulung
memerintah di Sekar Kencana. Raja sungsangtaya di sagraya. Ada lagi yang lainnyayaitu
rajaDungulan bertahta di Tanpasabda. Raja Puspita di Jena. Raja Langkir di Langkaraya. Raja
Medangsu di Medangpat. Raja Pujitwa di pujiwisaya. Raja paha di pangkurian. Raja kruru di
ruruksa. Raja mrangsinga memerintah di mrasuminggah. Raja Tambur memerintah di kawi,
adalagi raja medangkusa memerintah di kusinagara. Raja Matal memerintah di mantala. Raja uye
di padengenan. Raja ijala di wirajaita. Raja tyuda di prangwija. Raja baliraja memerintah
diladikara. Raja wiugah di gandawiran. Raja ringgita di apsari. Raja kulawudra bertahta di
kalasumihang. Raja sasawi di tresawit.
Di ceritakan lagi bernama Dang Hyang kulagiri, mempunyai istri dua orang , istri yang
pertama namanya Dewi Sibtakasih, putra dari bhagawan Gadiswara, istri yang kedua namanya
Dewi Sanjiwartia, putra Dang Hyang pasupati, kedua putri ini menjadi Raja di Kundadwipa
Setelah lama bersuami istri, lalu Dang Hyang Kulagiri berkata kepada istri keduanya,
menyampaikan bahwa beliau segera akan pergi ke Gunung Semeru bertapa, juga mengingatkan
supaya permaisurinya baik baik saja tinggal di kraton selama beliu pergi. Istri beliu berdua
menyetujui.
Tak diceritakan keadaan sang raja bertapa, sudah cukup lama sekarang diceritakan Dewi
Sintakasih sudah hamil tua. Dewi Sintakasih bercakap-cakap dengan Dewi Sanjiwartia,
memperbincangkan tentang Sang Raja belum datang. Akhirnya dalam percakapan itu diputuskan
akan mencari suaminya ke Gunung Semeru ( tempat Sang Raja beratapa)
Tersebutlah kedua istri raja berangkat dari kraton menuju tempat suaminya bertapa,
sampailah perjalanan beliau pada lereng Gunung Semeru. Dewi Sintakasih sakit perutnya makin
lama makin sakit sebagai tanda akan melahirkan. Duduklah Dewi Sintakasih diatas batu yang datar
dan lebar, melepaskan lelahnya sambil menahan sakit perutnya tertahan saat itu juga Dewi
Sintakasih Melahirkan bayi laki-laki. Pecahlah batu tersebut karena tertimpa badan si bayi.
Setelah hal tersebut terjadi gelisah dan berdukacitalah Dewi Sintakasih bersama Dewi
sanjiwartia. Saat itu pula turunlah Ida Hyang Padmayoni , bertanya kepada putra putri itu, apa
sebabnya mereka bersedih. Sang Dewi menghormat sambil berkata; “ya, yang hamba terhomat
batara, hambamu ditinggal oleh suami bertapa di lereng Gunung Sumeru, sejak hamba baru mulai
hamil hingga sekarang, sampai kelahgiran putra hamba ini belum juga beliau datang (kembali),
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 45
itulah sebabnya hambamu bersedih hati” demikian kata kedua putri itu menghormat kehadapan
dewa Brahma.
Dewa brahma setelah mendengar cerita kedua putri tersebut beliau sangat bahagia dan
mendoakan supaya bayi itu panjang umur terkenal didunia serta diberikan anugrah yang hebat
tidak terbunuh oleh para dewa, danawa, detya, manusia tak terbunuh pada malam hari maupun
pada siang hari. Tiodak mati dibawah maupun diatas, tidak terbunuh oleh senjata kecuali yang
dapat membunuhnya adalah Dewa Wisnu “karena bayimu lahir diatas batu, aku anugrahi namanya
I Watugunung”, Demikianlah sabda Dewa Brahma kembali ke kahyangan yang disebut
Brahmaloka.
Ketika lenyapnya Dewa Brahma, sang dewi keduanya jkembali ke kraton dengan
memangku seorang putra. Tersebutlah bayi iyu mengalami poertumbuhan yang sangat cepat.
Sampai-sampai ibunya merasa kewalahan meladeni bayinya untuk memberi makan karena
bayinya makan dengan sangat kuat. Heranlah kedua permaisuri itu melihat putranya yang
demikian hebatnya makan, kadang-kadang satu kali masak atau satu periuk dihabiskan dalam
sekali makan tanpa ada sisanya. Makin hari makin bertambahlah kesibukan ibunya untuk meladeni
putranya yang luar biasa itu. Sampai-sampai merasa kewalahan untuk memberi makan dan selalu
menuntut untuk makan.
Tersebutlah pada suatu hari ibunya sedang memasak di dapur, datanglah sang Watugunung
mendekati ibunya seraya minta nasi untuk dimakan. Ibunya: anakku sabarlah menunggu sementari
ini nasi belom masak.
Demikian kata ibunya tetapi sang Watugunung tidak menghiraukan dan malahan mendesak
supaya cepat cepat memberikan nasi karna perutnya sudah lapar. Karna tidak tahan ketika itu pula
sang Watugunung mengambil dengan sendirinya tanpa bantua ibunya, dan langsung nasi yang
sedang dimasak itu disantapnya sampai habis tidak menghiraukan sudah matang atau belom,
pendeknya dengan keadaan masih panas sudah dihabiskan
Melihat perilaku putranya demikian itu sanagat tidak sopan, ibunya menjadi naik pitam
dan mengambil sodo (siyut) langsung memukul putranya tepat di kepalanya sampai belumuran
darahk, sang Watugunung menangis terisak isak menahan luka yang dideritanya. Ketika sakit dan
lukanya agak reda Watugunung meninggalkan 46ocus4646 Karena saking marahnya menuju
gunung emalaya. Dalam perjalanan sang Watugunung berbuat seenaknya saja terutama dalam hal
makanan, merampok makanan rakyat dan langsung dimakanya.
Penduduk disekitar lereng gunung emalaya merasa sangat heran melihat perilaku anak
kecil itu yang serba berani, memaksa makanan dari penduduk, hal ini sangat mengganggu
kesejahteraan dan keamanan penduduk. Karena penduduk merasa kewalahan untuk menghadapi
tingkah pola anak itu, akhirnya masalahnya dilaporkan kepada raja Giriswara. Mendengar laporan
itu sang raja merasa terkejut,dan naik darah seketika itu juga memerintahkan rakyatnya untuk
membunuh sang Watu gunung.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 46
Setelah mendengar keputusan raja seluruh lapisan kekuatan daerah itu menyerang sang
Watugunung dengan merebutnya dan memukul dengan bermacam macam senjata,serangan datang
dari segala sudut yang semuanya tertuju ke badan sang Watu gunung. Tetapi sayang seluruh
serangan senjata senjata penyerang tidak ada yang mempan. Sang Watugunung sedikit pun tidak
ada yang cedera sama sekali sang Watugunung terus mengadakan aksinya dengan mengobrak
abrik yang menyerangnya, menghantam kelompok yang hebat itu.
Sehingga pasukan penduduk emalaya lari terbirit-birit untuk menyelamatkan jiwanya dari
kepungan sang Watugunung. Sang raja sangat marah mengetahui keadaan rakyatnya dihancurkan
Watugunung. Raja Giriswara dengan hati yang membara turun ke medan perang dengan
persenjataan yang lengkap untuk menghadapi sang Watugunung. Maka terjadilah perang tanding
antara raja Giriswara dengan sang Watugunung, yang sama-sama hebat an juga sakti dalam
peperangan itu. Perang tanding itu berlangsung 7 (tujuh) hari. Dan pada akhirnya Raja Giriswara
dapat dikaloahkan oleh sang Watugunng, sehingga raja Giriswara menjadi tunduk dan
menghormat kepada sang Watugunung mengenai kekalahan kerajaan emalaya sampai disini.
Tersebutlah sang Watugunung melanjutkan serangan mengarah ke kerajaan Pasutranu
yang rajanya bernama Prabu Kaladewa. Karena serangan yang dilakukan oleh sang Watugunung
rakyat kaladewa tidak tinggal diam, maka terjadilah pertempuran yang tidak kurang dasyatnya
dengan pertempuran di kerajaan Giriswara. Rakyat kaladewa kewalahan menghadapi serangan
Watugunung yang hebat itu. Akhirnya mereka lari tunggang langgang menyelamatkan jiwanya
masing-msing. Namun akhirnya sampai raja Kuladewa dapat dikalahkan dan tunduk kepada
Watugunung.
Sang Watugunung melanjutkan serangannya kepada raja Talu, raja Mrahuana, raja
Wariksaya, raja Pariwisaya, raja Julung, raja Sungsang dan yang lain-lainnya dengan mudah dapat
ditundukannya. Keseluruhan dari kerajaan yang dikalahkan berjumlah 27 kerajaan dan sampai
semua rajanya tunduk kepada sang Watugunung. Tidak ketinggalan juga rakyat beserta daerahnya
menjadi jajahan sang Watugunung.
Kesaktian ini diperolehnya pada saat lahirnya di kaki Gunung Sumeru dari Sang Hyang
Padmayoni selama 150 tahun sang watugunung memerintah daerah jajahannya.,
Dalam pemerintahannya itu beliau selalu menanyakan kepada raja-raja taklukannya.
Katanya; “hai para raja apakah ada raja yang hebat lagi yang belum aku tundukan?”. Para rajapun
menjawab; “daulas tuanku maha raja Girisila Emalaya, masih ada dua orang raja lagi yang belum
tuanku tundukan yaitu keduanya perempuan yang amat rupawan bertahta di Negara kundadwipa
yang sangat dianggungkan oleh rakyatnya dan dihormatinya. Jika tuanku dapat mengalahkannya
kedua raja itu sangat patut untuk dijadikan permaisuri tuanku maharaja. Demikianlah jawaban dari
raja-raja yang didengar keterangannya. Dan raja Girisila membenarkan.
Setelah mendengar keterangan dari para raja itu, maharaja girisila memerintahkan kepada
rakyatnya supaya mempersiapkan diri lengkap dengan persenjataan guna menyerang kerajaan
kundadwipa. Rencana ini didengar oleh kerajaan kundadwipa maka dari itu rakyat kundadwipa
bersiap-siap untuk menyambut tamu yang tidak diundang itu,tidak ketinggalan juga dengan
persenjataan yang memadai. Dan pada saatnya terjadi pertempuran yang sangat sengit, dasyat,
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 47
seram sampai aliran darah dari para korban menganak sungai. Sama-sama perwira sama-sama
gagah berani tidak ada yang mau menyerah pantang mundur. Korban dari kedua belah pihak makin
hari makin banyak, korban jiwa korban harta dan yang lain-lainnya. Setelah pertempuran
berlangsung yang menderita kekalahan adalah dipihak kundadwipa. Maka kedua raja perempuan
itu dikawini, karena lupa padahal itu adalah ibunya sendiri.
Pada suatu saat setelah lama bersuami istri, sang Watugunung menyuruh kedua
permaisurinya untuk mencari kutu dikepala beliau. Kedua istrinya menyanggupi dan langsung
memburu kutu yang ada dikepala suaminya. Sedang asyiknya pekerjaan memburu kutu itu
dilakukan terjadilah gempa bumi, hujan dengan lebatnya disertai 48ocus48 dan disambung oleh
petir yang menggutur dilangit. Melihat tanda-tanda itu para dewa sangat hawatir kejadian apakah
yang bakal terjadi selanjutnya. Maka sekalian Dewa menghadap Dewa Siwa “haturnya yang mulia
batara siwa apakah sebabnya terjadi gerakan-gerakan alam yang hebat seperti sekarang ini?
Kemungkinan besar ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan prikemanusiaan, tidak sesuai
dengan tata susila, membenarkan yang tidak benar, berprilaku seperti binatang”. Mendengar
keterangan para dewa demikian itu, dewa siwa segera memanggil pendeta para dewa yaitu
Bhagawan Nanda (rsi priarana) supaya menyelidiki perbuatan manusia didunia yang
menyebabkan gerak alam yang dasyat ini. Dang khayangan Narada segera turun untuk
menyelidiki perbuatan manusia didunia. Diketahuilah sang Watugunung sedang asyiknya berkutu
dengan kedua istrinya. Deng segera Dang Hyang Narada kembali ke siwaloka. Melaporkan
kejadian itu kepada Dewa Siwa kata beliau; “yang mulia Dewa Siwa kami datang dari dunia
melaporkan hasil dari penyelidikan yang kami lakukan dengan sangat teliti ternyata memang ada
manusia yang berbuat yang tidak memenuhi tata susila kemanusiaan yaitu sang Watugunung
mengambil kedua ibunya di pakai istri (permaisuri). Hal yang demikianlah sangat tidak tepat
dilakukan oleh manusia”.
Mendengar laporan yang sangat meyakinkan itu Sang Hyang Saharsa mejadi naik pitam
dan menjatuhkan kutukan yang ditunjukan kepada sang Watugunung sabda beliau; “hai kau sang
Watugunung semoga engkau mati dibunuh oleh Sang Hyang Narayana (Dewa Wisnu) karena
perbuatan yang sangat dursila itu yaitu mengambil ibu kandung dipakai sebagai permaisuri
(memperistri ibu kandung), mengambil “babu sodaran, mengambil tumin temen, kewaluan, babu
dimisan, keponakan ring nyama, rerama ringmisan, suta sodara dan cucu”. Semua yang tersebut
diatas tidak boleh dijadikan istri. Jika ada manusia yang melakukan hal itu, patut dibuang kelaut,
dan jiwanya supaya disiksa oleh rakyat batara yama pada alam neraka. Apabila kelak menjelma
agar dalam kehidupannya itu selamanya menderita kesengsaraan”. Demikian kutuk Sang Hyang
Purusa.
Tersebutlah pada suatu hari sang Watugunung melakukan pemburuan kutu yang dilakukan
oleh kedua istrinya pada atau diatas kepala sang Watugunung yang besar itu. Saat asyiknya
mencari kutu sambal menggaruk-garuk kepala maharaja, ketika melipat-lipat rambut yang kurang
teratur itu kedua permaisuri tercengang seketika, karena melihat bekas luka pada kepala yang
sedang dielus-elusnya itu. Maka teringatlah beliau dengan perbuatannya yang terdahulu yaitu
memukul kepala putranya dengan sodo (siut) sehingga menimbulkan luka dikepala putranya.
Demikian pertimbangan didalam hati, beliau tidah dapat berbuat apa-apa hanya diam tercengang,
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 48
bahwa yang dipakai suaminya adalah putranya sendiri. Karena kedua pasang tangan istrinya
menjadi agak lemas dan percakapan kecil dan seketika percakapan menjadi hening. Dalam
keheningan itu sang Watugung bertanya kepada kedua permaisurinya: “hai adinda kenapa diam
seketika apa yang menyebabkan coba jelaskan supaya kakanda mengetahui hal itu”. Pertanyaan
itu lama tidak terjawab karena dadanya merasa sesak, akhirnya menjawab: “ ampun kakandaku
raja, adapun yang menyebabkan kami berdiam karena kami ngerempini (ngidam)”.
Sang Watugunung balik bertanya: “bagaimana adinda mengidam?”. Apa adinda idamkan
katakanlah! “Kakanda yang terhormat, kami mengingini seorang pembantu yang tidak boleh lain
daripada permaisuri Sang Hyang Wisnu”, demikianlah permaisuri beliau menjawab. “sangat
sayang aku tidak mengetahui tempat Sang Hyang Wisnu, apakah andinda kedua mengetahuinya”?
oh tempat Sang Hyang Wisnuada di bawah tanah”. “ya kalau demikian kakanda bersedia untuk
mencarinya”.
Sang Watugunung memulai memusatkan pikirannya (agrana sika) dengan mantap,
sehingga dengan kekuatan batinnya tanah (bumi) ini pecah sampai pada lapisan yngketujuh. Sang
Watugunung turun ke lapisan tanah yang ketujuh sampai disana disambut oleh Aribuana: ah-ah
ih-ih apa maksud kedatanganmu”? mohon dijelaskan. Sang Watugunung menjawab:”Aum batara,
adapun kedatanganku kemari, sebab berita yang kudengar didunia, dewa batara adalah yang amat
pengasih, apa saja yang diminta oleh manusia Batara izinkan”. “apa yang engkau sebutkan itu
memang benar jawab Sang Hyang Wisnu”.
Kalau memang benar hal tersebut sekarang permintaan ku adalah, jika engkau memang
mencinntai diriku, saya memohon permaisuri yang wisnu, bagaimana engkau izinkan bukan,
katakanlah segera, “Sang Hyang Wisnu Segera menjawab “oh kalau begitu permintaanmu bukan
prilaku manusia, permintaanmu tidak benar, tidak boleh meminta istriku cobalah minta yang
lainnya, tentu aku akan penuhi, kehebatan, senjata,dan lain-lainnya”.
“jika demikian halnya dewa Wisnu berbohong tidak menepati (tidak setia) kepada ucapan
namanya, oh janganlah mengaku diri sadu dharma (beriman dan soleh), kamu berikan atau tidak,
kalau km berikan istrimu engkau selamat, kalau tidak engkau izinkan berbahayalah engkau”. Sang
Watugunung sangat marah.
“Aum, seperti apa yang kamu katakan, kalau aku tidak izinkan, bagaimana kehendakmu
cobalah bilang”.
“kalau batara tidak izinkan maka kita segera berperang. Apakah kamu berani? Katakan”
bertambah-tambah marahnya sang Watugunung, kata-katanya kasar (brangas). Demikian pula
Sang Hyang Wisnu (sangat marah) segera menjawab; kalau benar seperti apa yang kamu katakan,
aku betul-betul tidak memenuhi permintaan, karena apa yang kamu katakan hal itu tidak benar
(tidak wajar)”.
Ketika itu sang Watugunung sangat marah demikian pula Sang Hyang Ari, maka terjadilah
petempuran yang amat dasyat, saling kejar mengejar, tusuk menusuk, pukul memukul, dengan
garangnya. Tujuh puluh yuga lamanya Sang Hyang Wisnu berperang melawan Sang Watugunung,
seribu kepalanya, duaribu tangannya, duaribu kakinya matanya seperti bintang amat menakutkan,
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 49
rupanya seperti api berkobar-kobar menyala, Sang Hyang Wisnu juga memurti (membesar
wujudnya) beliau berupa kurma, berlidah cakra, bertaring tajam (suligi), atau berbelai bajra yang
amat utama, amat dasyat wujud kura-kura itu, besar badannya. Karena sang Watugunung tidak
dapat dikalahkan oleh Dewa, tidak terkalahkan oleh manusia, tak dikalahkan oleh bhuta, pisaca,
tidak mati dibawah dan diatas, tidak mati oleh raksasa dan detya yaksa sura.
` setelah Sang Hyang Wisnu Berwujud Badwang (kurma) yang amat menakutkan, barulah
beliau berperang. Bagaikan gelombang laut yang murka, bergetarlah duni ini, sehingga
menyebabkan para dewa sibuk bertanya. Sang Hyang Siwapun berkata kepada para dewa: “hai
anakku semua, apakah kiranya yang terjadi sehingga terjadi getaran-getaran yang hebat”. Coba
katakan!.
Bhagawan Narada menjawab. “Seperti apa yang Batara katakan, hal itu terjadi karena ada
manusia yang congkak berbuat tidak wajar, tidak lain manusia itu adalah si Watugunung, minta
permaisuri dari Sang Hyang Wisnu, itulah yang menyebabkan terjadinya pertempuran, karena
perbuatan si watugunung amat dosa.
Mendengar laporan dari Hyang Narada demikian, lalu sang Watugunung dikutuk oleh
Batara Sangkara. “jah tah smat, , semoga si Watugunung mati, karena perilakunya yang amat
berdosa mau memperistri dari salah seorang Dewa, terus-menerus sampai pada penjelmaan kelak
kemudian hari terbunuh oleh kebesaran Hyang Ari “demekian kutuk Sang Hyang Sangkara.
Tersebutlah lagi pertempuran Sang Hyang Ari berhadapan dengan si Watugunung, lalu
keluarlah api yang amat hebat dan kurma perwujudan Hyang Wisnu, disemburlah si Watugunung,
dibelit oleh bajra ditikam dengan cakra. Akhirnya kalahlah sang Watugunung, tembus dadanya.
Berkatalah Sang Watugunung “ih Hyang Wisnu sekarang matilah aku dengan marahnya
lalu mengatakan, aku tidak akan henti-hentinya bermusuhan dengan dirimu, sampai kepada
penjelmaanku yang ketujuh aku tidak akan melupakan hal ini. Hyang Wisnu berkata; “ benar
katamu itu, tetapi dimanakah engkau akan menjelma? Katakanlah!
Sang Watugunung menjawab aku akan menjelma dilengka dengan nama Dasasia dan
sebaliknya menanyakan kepada Hyang Wisnu dimana akan menjelma nanti?.
Hyang Aribuana menjawab (bersabda): “ih Watugunung, kalau demikian katamu aku akan
menjelma di yodyapura; pada maharaja Dasaratha dan setiap kali aku lahir, selalu dapat
membunuh dirimu!”akhirnya meninggallah sayang Watugunung.demikian diceritakan tentang
sang Watugung yang termuat dalam lontar Medang Kamulan lembar 1a-9b.
Tentang cerita lahirnya wuku yang pernah termuat dalam majalah bhawana negara disebut
pula dipetik dari lontar Medan Kamulan dengan jalan cerita yang agak berbeda seperti dibawah
ini.
Disebutlah setelah istri sang watugunung keduanya minta permaisuri Sang Hyang Wisnu
sebagai pembantunya (babu), dengan segera sang Watugunung mengutus sang Warigadian ke
Surga, membawa surat kehadapan Hyang Ari. Setelah surat itu dibawa, Hyang Wisnu amat marah
dan segera menantang sang Watugunung untuk bertempur.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 50
Hal itu disampaikan oleh sang Warigadaian yang mengakibatkan sang Watugunung
menjadi marah,segera memerintahkan memukul kentongan, rakyatnya semua berkumpul lengkap
dengan senjata, segera menyerbu kesurga. Terjadilah pertempuran yang sangat dasyat bunuh-
membunuh anatara kedua pihak, sampai Sang Hyang Wisnu merasa tertekan karena serangan dari
pasukan Watugunung.
Diceritakan sang Watugunung sedang berada ditempat tidur disertai oleh kedua orang
permaisurinya. Istri sang Watugunung menanyakan kejadian peperangan yang telah terjadi dan
juga menanyakan hal tersebut sang Watugunung berkata: “janganlah adikku berdua
memberitahukan kepada orang lain (awywa wera), kesaktianku ini tidak akan dapat dikalahkan
oleh para dewa, buta, danawa, kala, raksasa, manusia.
Namun ada yangdapat mengalahkan. Jika ada orang sakti (nara wisesa) berwujud kurma
(empas/nadawang), berkuku yang kuat itulah yang dapat membunuh diriku”. Tentang percakapan
tersebut didengar oleh Bhagawan Lumanglah yang sedang dalam keadaan berupa laba-laba.
Bhagawan lumanglang segera kembali kesurga, menghadap dewa wisnu seraya memberitahu
keadaan Watugunung.
Besok paginya sekitar pukul 9 (dauh tiga), Dewa Wisnu sudah berwujud kurma berkepala
seribu, kuku tangannya sangat panjang dan sangat kuat, segera berangkat untuk bertempur
melawan sang Watugunung. Saat itu adalah hari redite kliwon, peperangan berlangsung dengan
sengitnya. Sang Watugunung dapat ditundukkan dan tergeletak di tanah (marcapada). Itulah
sebabnya disebut “Watugunung mati terbunuh oleh batara Wisnu, hari kematiannya ini dinamai
“Candung Watang”.
Besoknya adalah anggara pahingnya mayatnya ditarik-tarik oleh sang lumanglan, sehingga
hari itu disebut hari “paid-paidan”. Hari buda pon datanglah bhagawan buda, sang watugunung
dihidupkan kembali, tetapi hanya satu dauh, kemudian dibunuh kembali oleh batara Wisnu, hari
itu disebut buda urip.
Hari Wraspati wage datanglah Bhagawan Wraspati dengan rasa kasihan benar kepada sang
Watugunung, sehingga dihidupkan kembali tetapi sebentar, kemudian dibunuh kembali oleh
Hyang Wisnu, hari disebut panetan. Pada hari jumat kliwon, Hyang Siwa mengetahui bahwa sang
Watugunung mati dan turunlah beliau untuk menghidupkan kembali sang Watugunung, harinya
disebut dengan pangredanan.
Saat itu datanglah bhatara Wisnu hendak membunhnya kembali namun dapat dicegah oleh
batara siwa. Sabdanya: “hai anakku, janganlah hendaknya sang Watugunung dibunuh, biarkanlah
untuk hari-hari selanjutnya supaya ada diingat orang sebagai bahan pertimbangan atau
perbandingan. “maka menjawablah sang Batara Wisnu, sabdanya: “Yang Watugunung amat besar
dosanya, mengapa ini orang yang sudah bersuami dan memperistri ibu kandung sendiri”.
“Dikemudian hari tidak bolehorang memperistri orang yang sudah bersuami dan memperistri
ibunya sendiiri”. Batara Wisnu pun mengutuk sang watugunung sabdanya: “Tiap-tiap enam bulan
engkau runtuh (jatuh). Jawaban yang Watugunng:”Baiklah hamba akan menuruti sabda tuanku,
hamba mohon apabila hamba jatuh di arat hendaknya turun hujan dan apabila hamba jatuh dilaut
supaya hari panas terik, agar hamba tidak kedinginan. Permohonan sang Watugunung semua
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 51
dikabulkan serta rakyat sang Watugung serta pada Dewa yang menjadi korban dalam pertempuran
itu dihidupkan kembali.
Kiranya cerita yang serupa dengan ini juga ada didaerah lain atau Negara lain. Di sunda
(jawa barat) juga ada mitologi seperti mitologi Watugunung di atas, yang dinamai sangkuriang.
Demikian pula di yunani juga ada yang disebut mitologi oedifus. Pokok isi dari mitolofgi
itu adalah karena tidak tau sang Watugunung, sangkuriang, Oedifus memperistri ibunya sendiri,
tetapi disana-sini ada perbedaan yang menunjukan kepribadian bangsa dan sesuai dengan
tempatnya mitologi itu berkembang.
URIP, TEMPAT, DAN DEWANYA WUKU
Sebelum dikemukakan urip, dewa, dan tempat wuku terlebih dahulu aka diketengahkan
secara berurutan nama raja-raja yang menjadi nama wuku-wuku dan perbandingan nama wuku di
Bali dengan di Jawa. Di dalam mitologi Watugunung yang telah terurai di atas tersebutlah 27 (dua
puluh tujuh) raja putr dan dua ratu atau raja putri di bawah taklukan Watugunung. Urutan nama-
nama raja itu adalah:
1. Dewi Sintakasih 16. Raja Paha
2. Dewi Sanjirwartya 17. Raja Kruru
3. Raja Giriswara 18. Raja Mrangsinga
4. Raja Kuladewa 19. Raja Tambur
5. Raja Talu 20. Raja Medangkusa
6. Raja Mrebisama 21. Raja Matal
7. Raja Waksaya 22. Raja Uye
8. Raja Wariwisaya 23. Raja Ijala
9. Raja Mrikjulung 24. Raja Yuda
10. Raja Sungsangtaya 25. Raja Baliraja
11. Raja Dungulan 26. Raja Wiugah
12. Raja Puspita 27. Raja Ringgita
13. Raja Langkir 28. Raja Kulawudra
14. Raja Medangsu 29. Raja Sesawi
15. Raja Pujitpwa 30. Raja Watugunung
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 52
Dari tiga puluh raja-raja di atas dijadikan nama-nama wuku tetapi mengalami perubahan-
perubahan. Nama-nama wuku yang lumrah dipergunakan di Bali dibandingkan dengan nama-
nama wuku yang dipergunakan di Jawa juga ada perbedaan. Wuku yang berbeda namanya patut
diingat adalah wuku nomor 11 namanya Dungulan sedangkan di Jawa disebut Galungan, demikian
seterusnya. Pada Buda Kliwon Dungulan di Bali juga disebut dengan hari raya Galungan yaitu
peringatan terciptanya alam semesta dan kemenangan dharma melawan adharma yang dirayakan
6 bulan (210 hari) sekali.
Selain itu juga ternyata banyak perbedan nama-nama wuku degan nama-nama raja, tetapi
banyak merupakan lain kata yang artinya sama.
Misalnya wuku Ukir dengan Giriswara.
Kata “ukir” dan kata “giri” artinya sama yaitu gunung; Wayang dengan Ringgita, kata
“wayang”dan kata “ringit” artinya sama yaitu wayang (bayangan). Demikian pula yang lain-
lainnya, seperti terurai di bawah ini:
1. Sintakasih - Sinta
2. Sanjiwartya - Landep
3. Giriswara - Ukir
4. Kuladewa - Kulantir
5. Talu - Tolu
6. Mrebwana - Gumbreg
7. Waksaya - Wariga
8. Wariwisaya - Warigadean
9. Mrikjulung - Julungwangi
10. Sungsangtaya - Sungsang
11. Dungulan - Dungulan
12. Puspita - Kuningan
13. Langkir - Langkir
14. Medangsu - Medangsia
15. Pujitpwa - Pujut
16. Paha - Pahang
17. Kruru - Krulut
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 53
18. Mrangsinga - Merakih
19. Tambur - Tambir
20. Medangkusa - Medangkungan
21. Matal - Matal
22. Uye - Uye
23. Ijala - Manahil
24. Yuda - Prangbakat
25. Baliraja - Bala
26. Wiugah - Ugu
27. Ringgita - Wayang
28. Kulawudra - Kulawu
29. Sesawi - Dukut
30. Watugunung - Watugunung
Sebagai perbandingan perlu juga diketahui nama wuku-wuku yang dipergunakan di
Bali dan di Jawa sebagai tertera di bawah ini:
Nama wuku di Bali Nama wuku di Jawa
1. Sinta 1. Sinta
2. Landep 2. Landep
3. Ukir 3. Wukir
4. Kulantir 4. Kurantil
5. Tolu 5. Tolu
6. Gumbreg 6. Gumbreg
7. Wariga 7. Warigalit
8. Warigadean 8. Warigagang
9. Julungwangi 9. Julungwangi
10. Sungsang 10. Sungsang
11. Dungulan 11. Galungan
12. Kuningan 12. Kuningan
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 54
13. Langkir 13. Langkir
14. Medangsia 14. Mandhasia
15. Pujut 15. Julungpujut
16. Pahang 16. Pahang
17. Krulut 17. Kuruwelut
18. Mrakih 18. Marakeh
19. Tambir 19. Tambir
20. Medangkungan 20. Medhangkungan
21. Matal 21. Maktal
22. Uye 22. Wuye
Nama wuku di Bali Nama wuku di Jawa
23. Manahil 23. Manahil
24. Prangbakat 24. Prangbakat
25. Bala 25. Bala
26. Ugu 26. Wugu
27. Wayang 27. Wayang
28. Kulawu 28. Kulau
29. Dukut 29. Dhukut
30. Watugunung 30. Watugunung
Mengenai urip (neftu) dari wuku dalam rontal-rontal wariga satu dengan yang lainnya
mempunyai banyak perbedaan, tetapi mengenai tempat/rumah wuku pada pengider-ider semuanya
sama. Tentang urip wuku yang berbeda-beda itu perlu diketengahkan untuk bahan perbandingan
sebagai berikut:
Nama Wuku Urip wuku menurut beberapa rontal/buku E
A B CD 7
1. Sinta 7 9 75 1
2. Landep 1 8 84
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 55
3. Ukir 4 7 78 4
4. Kulantir 6 6 78 6
5. Tolu 5 5 48 5
6. Gumbreg 8 8 63 8
7. Wariga 9 7 76 9
8. Warigadean 3 8 88 3
9. Julungwangi 7 3 33 7
10. Sungsang 1 7 77 1
11. Dungulan 4 9 91 4
12. Kuningan 6 4 45 6
13. Langkir 5 4 54 5
14. Medangsia 8 6 67 8
15. Pujut 9 7 77 9
16. Pahang 3 7 77 3
17. Krulut 7 7 66 7
18. Mrakih 1 6 77 1
19. Tambir 4 3 33 4
20. Medangkungan 6 7 91 6
21. Matal 5 3 45 5
22. Uye 8 8 11 8
23. Menail 9 5 66 9
24. Prangbakat 3 8 8- 3
Nama Wuku Urip wuku menurut beberapa rontal/buku E
A B CD 7
25. Bala 7 2 78 1
26. Ugu 1 - 85 4
27. Wayang 4 1 71 6
28. Kulawu 6 7 73 6
29. Dukut 5 5 97 8
30. Watugunung 8 6 79
Keterangan :
A. Transkripsi Rontal: Purwaning Uriga hal. 23/lembar 23b.
B. Rontal: Warigi Krimping lembar 1b – 59 B.
C. Transkripsi Rontal : Bhagawan Gargha hal 1 – 72/lembar 1b-59a
D. Transkripsi Rontal: Keputusan Sunari Gading hal 7 lembar 7b
E. Buku: Warigi Dewasa, halaman 4
Diantara urip (neftu) wuku yang terurai di atas, yang biasa dan umum dipergunakan adalah
urip/neftu yang tercantum dalam rontal Purwaning Uriga, karena hal ini dikuatkan lagi oleh
pengider-ider sebagai tempat atau rumah dari masing-masing wuku disebutkan sebagai berikut:
urip wetan 5, kidul 9 kulon 7, lor 4, gneyan 8, nairiti 3, wayabya 1, airsanya 6 (Transkripsi Rontal:
Bungkahing Sundari Terus, hal 2, lembar 36).
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 56
Artinya: urip arah timur adalah 5, selatan 9, barat 7, utara 4, tenggara 8, barat daya 3, barat laut
1, timur laut 6.
Jadi urip wuku dalam beberapa rontal berbeda-beda, tetapi mengenai tempatnya wuku dalam
pengider-ider semuanya sama sebagai berikut:
Wayabya Utara atau lor Airsanya
Urip:1 Urip: 4 Urip; 6
Landep Ukir Kulantir (tp)
Sungsang Dungulan (wp) Kuningan (tp)
Mrakih Tambir Medangkungan (tp)
Ugu Wayang Kulawu (tp)
Pascima Purwa atau
Urip; 7 wetan
Sinta Urip: 5
Julungwangi Tolu (wp)
Krulut (wp) Langkir
Bala Matal
Dukut (wp)
Nairiti
Urip; 3 Daksina Gneyan
Warigadean Urip : 9 Urip; 8
(rt) Pujut (rt) Gumbreg (tp)
Pahang Menahil (rt, Medangsia
Prangbakat (rt) wp) Uye
Watugunung
Keterangan:
1. Wuku yang berisi tanda (rt), disebut Rangda Tiga, tidak baik untuk melangsungkan
wiwahan atau pernikahan.
2. Wuku yang berisi tanda (tp) , disebut wuku tanpa guru, tidak baik melakukan pekerjaan-
pekerjaan yang penting (utama), khususnya hubungn dengan belajar atau berguru.
3. Wuku berisi tanda (wp), disebut wuku was panganten, tidak baik untuk melangsungkan
wiwaha (pernikahan).
4. Setiap wuku mempunyai umur 7 hari, perhitungannya dimulai dari hari redite (minggu)
sampai pada hari saniscara (sabtu).
5. Perhitungan wuku dalam pengider-ider dimulai dari sinta pada kiblat pascima (barat)
bergerak ke kanan wuku landep di wayabya (barat laut) dan seterusnya satu persatu wuku
yang lainnya dihtung berturut-turut sesuai dengan tempatnya masing-masing mengikuti
putaran arah jarum jam.
Selain adanya mitologi wuku, urip (neftu), serta tempat wuku dalam pengider-ider,
disebutkan pula bahwa wuku-wuku itu ada dewanya sebagai berikut:
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 57
1. Sinta : Dewanya Batara Yamadipati
2. Landep : Dewanya Batara Mahadewa
3. Ukir : Dewanya Batara Maha Mahayekti
4. Kulantir : Dewanya Batara Langsur
5. Tolu : Dewanya Batara Bayu
6. Gumbreg : Dewanya Batara Cakra
7. Wariga : Dewanya Batara Asmara
8. Warigadean : Dewanya Batara Maharesi
9. Julungwangi : Dewanya Batara Sambhu
10. Sungsang : Dewanya Batara Gana
11. Dungulan : Dewanya Batara Kamajaya
12. Kuningan : Dewanya Batara Indra
13. Langkir : Dewanya Batara Kala
14. Medangsia : Dewanya Batara Brahma
15. Pujut : Dewanya Batara Guritna
16. Pahang : Dewanya Batara Tantra
17. Krulut : Dewanya Batara Wisnu
18. Mrakih : Dewanya Batara Surenggana
19. Tambir : Dewanya Batara Siwa
20. Medangkungan : Dewanya Batara Basuki
21. Matal : Dewanya Batara Sakri
22. Uye : Dewanya Batara Kuwera
23. Menail : Dewanya Batara Ciragotra
24. Prangbakat : Dewanya Batara Bisma
25. Bala : Dewanya Batara Durgha
26. Ugu : Dewanya Batara Singa Jalma
27. Wayang : Dewanya Batara Sri
28. Klawu : Dewanya Batara Sadana
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 58
29. Dukut : Dewanya Batara Baruna
30. Watugunung : Dewanya Batara Antaboga
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 59
PAKET 7
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas lanjutan materi mengenai Wuku. Adapun
materi materi yang akan dijabarkan secara spesifik nantinya adalah mengenai padewasan atau
baik-buruknya hari yang ditimbulkan oleh pawukon. Materi ini nantinya diperlukan oleh
mahasiswa untuk memberi pemahahan ttg sisi aplikastif dari wuku dalam kehidupan sehari – hari.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
2. Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang berkembang di
Indonesia,yang terkandung di dalam kitab suci Hindu;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
2. Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Wariga dalam melaksanakan
upacara yadnya maupun memulain pekerjaan yang penting.
3.Mahasiswa mampu mempraktikkan ajaran Wariga dalam kehidupan sehari hari
terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan yadnya.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 60
2. Materi Pokok
a. Padewasan yang muncul dari Wuku
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui hari baik yang di timbulkan oleh wuku
4. Pengalaman Belajar
a. Mahasiswa dapat kemampuan menghapal hari baik yang ditimbulkan oleh wuku
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
i. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan 61ocus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
j. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
2) Melakukan praktek pembuatan Tika
k. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
l. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
C. URAIAN MATERI
PADEWASAN BERDASARKAN WEWARAN DAN WUKU
1. Wuku Dungulan, Kuningan, Langkir, Pujut
Tidak baik : untuk atiwa-tiwa, mengubur mayat.
2 Wuku : Sinta, Gumbreg, Wariga, Sungsang, Kuningan, Prangbakat, Bala, Wayang, Klawu dan
Watugunung adalah berisi Carik Walangati. Tidak baik : untuk semua jenis kerja.
3. Wuku Rangda Tiga adalah terletak pada arah Daksina (Selatan) yaitu Wariga, Pujut, Menahil
dan arah Nairiti (Barat daya) yaitu Warigadean, Pahang, Prangbakat. Tidak baik untuk perkawinan
atau wiwaha.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 61
4. Wuku: Tanpa Guru : artinya dalam satu wuku tidak ada Guru (Astawara) yaitu Gumbreg,
Kuningan, Medangkungan, Klawu. Tidak baik: untuk memulai belajar atau berguru.
5. Was Panganten : artinya dalam satu wuku terdapat dua Was (Sadwara) yaitu pada hari Radite
dan Saniscara Tolu, Dungulan, Krulut, Menail, Dukut. Pada hari (dina) Was Panganten adalah
Baik: untuk membuat benda-benda tajam, tembok dan pagar. Tidak baik : untuk pernikahan
(wiwaha), mengubur/membakar mayat.
6. Amertayoga : Soma Landep, Soma Krulut, Soma Ugu, Soma Dukut. Baik : untuk membangun,
mencari pengupa jiwa (nafkah) dan mulai suatu usaha/perusahaan.
7. Banyuurung : Radite Sinta Soma Sinta, Landep,Wariga, Sungsang, Krulut, Merakih,
Medangkungan, Uye. Anggara Sinta, Tolu, Medangsia, Pahang, Krulut, Merakih, Matal,
Menahil.Buda Tolu, Sungsang, Tambir, Matal, Kulawu. Wraspati Tolu, Gumbreg, Pujut, Tambir,
Medangkungan, Uye, Prangbakat. Sukra Gumbreg. Dungulan, Pujut, Krulut, Kulawu, Dukut.
Saniscara Kulantir, Wariga, Tambir. Baik : untuk membuat bendungan, kolam. Tidak baik : untuk
membuat sumur.
8. Banyumilir: Radite Kulantir, Soma Wayang, Buda Sinta, Sukra Langkir. Baik : untuk membuat
sumur, kolam, membuka jalan air, ngirisin (menyadap nira).
9. Cintamanik : Buda Sinta, Ukir, Tolu, Wariga, Julungwangi, Dungulan, Langkir, Pujut, Krulut,
Tambir, Matal, Menahil, Bala, Wayang, Dukut. Baik : untuk melakukan upacara potong rambut.
10. Corokkodong : Wrespati Kliwon Langkir Baik untuk membuat 62ocus6262.
11. Guntur umah : Wraspati Medangsia, Mrakih, Saniscara Medangkungan, Ugu. Baik : untuk
membangun atau memindahkan rumah.
12. Jiwa manganti: Soma Tambir; Wraspati Landep, Medangkungan; Sukra Wariga, Bala;
Saniscara Watugunung. Baik : untuk bercocok tanam, memulai suatu usaha.
13. Kajengkipkipan : Buda Gumbreg, Watugunung Baik : untuk membuat dungki (keranjang kecil
tempat ikan).
14. Karnasula: Soma Sinta, Kulantir, Wariga, Julungwangi; Anggara Langkir; Buda Dungulan;
Wraspati Warigadean; Dungulan; Sukra Ukir, Saniscara Tolu, Sungsang. Baik : untuk membuat
kentongan, bajra, kendang, 62ocus- congan (genta sapi dari kayu) dan sejenisnya. Tidak baik :
untuk membangun rumah tempat tidur, mengadakan rapat atau pertemuan.
15. Kala Atat: Radite Uye. Anggara Watugunung, Buda Tambir. Baik : untuk membuat tali, tali
pancing, melakukan pekerjaan anyam-anyaman, tampus dan jerat.
16. Kala Awus : Buda Kulawu Baik : untuk membuat garu (lampit). Tidak baik : untuk membuat
bendungan/empangan, membangun rumah.
17. Kala Alap : Soma Uye. Baik : untuk menanam kelapa
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 62
18. Kala Angin Radite Krulut, Bala, Kulawu. Baik untuk memulai mengajar/melatih sapi, kerbau,
kuda dan ternak lainnya.
19. Kala Bregala : Soma Landep. Tidak baik : untuk dipakai dewasa ayu.
20. Kala Bancaran : Radite Dungulan; Soma Sinta; Anggara Tolu, Dungulan, Tambir; Wraspati
Matal; Sukra Kuningan, Saniscara Wariga. Baik untuk membuat senjata, taji, pengiris (pisau besar
untuk mengiris atau untuk menyadap nira).
21. Kala Brahma : Radite Menahil, Anggara Medangsia, Buda Sinta, Sukra Kulantir, Bala,
Watugunung; Saniscara Langkir. Mengandung arti kepanasan atau kesakitan.
22. Kala Cakra : Saniscara Menahil Baik : untuk memulai segala jenis pekerjaan, mengandung
arti kebulatan tekad.
23. Kala Caplokan : Soma Julungwangi, Merakih; Anggara Tambir; Buda Prangbakat, Sukra
Kuningan, Saniscara Sinta, Julungwangi, Pujut. Baik: untuk membuat alat-alat penangkap ikan
seperti: pancing (kail), jala, 63ocus6363, bubu, bahan untuk umpan.
24. Kala Dangu:
Radite Tolu, Langkir, Uye, Wayang, Soma Merakih. Anggara Ukir, Gumbreg, Dungulan, Krulut
Buda Sinta, Julungwangi, Tambir, Kulawu Wraspati Wariga, Pujut, Prangbakat. Sukra Dungulan,
Matal, Menahil, Ugu. Saniscara Warigadean, Sungsang, Dungulan, Medangsia, Pahang,
Medangkungan, Bala, Dukut, Watugunung. Tidak baik : untuk memulai suatu pekerjaan, pindah
tempat,bepergian.
25. Kala Demit: Saniscara Ukir. Baik: untuk memasang tanda-tanda atau alat-alat yang
mengandung arti larangan, membuat pagar, memasang pelindung kelapa (ngangasin), hal-hal
meng halau atau mengusir. Tidak baik : untuk mengajukan permohonan.
26. Kala Dangastra:Radite Kulantir, Menahil.Soma Sungsang, Dukut Anggara Medangsia,
Pahang, Merakih. Buda Sinta, Medangkungan. Wraspati Dungulan Sukra Kulantir, Dungulan,
Bala, WatugunungSaniscara Langkir, Pujut, Krulut. Baik : untuk membangun tembok pekarangan,
membuat alat-alat penangkap ikan. Tidak baik : untuk memulai pekerjaan penting, tidak baik
melakukan upacara (gawe ayu).
27. Kala Gacokan : Anggara Tambir. Baik: untuk membuat alat-alat yang runcing seperti taji,
tombak dan sebagainya.
28. Kala Garuda : Anggara Landep. Tidak baik : untuk dipakai dewasa ayu.
29. Kala Guru : Buda Landep.Baik: untuk membuat peraturan-peraturan, awig-awig.
30. Kala Graha : Soma Landep, Saniscara Tolu. Baik: untuk membangun perumahan.
31. Kala Isinan : Soma Dungulan, Krulut; Buda Watugunung. Baik: untuk mulai belajar, membuat
almari, membuat gudang atau teinpat barang-barang.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 63
32. Kala Panyeneng : Radite Wariga, Sukra Watugunung.Baik: untuk membuat peraturan
peraturan, awig-awig membuat alat tempat menyimpan harta-benda.
33. Kala Kilang-kilung : Soma Krulut, Wraspati Tambir. Baik: untuk membuat barong, membuat
sok (bakul) dan segala anyam-anyaman.
34. Kala Kingkingan : Wraspati Krulut. Tidak baik : untuk meminang.
35. Kala Klingkung : Anggara Sinta. Baik: untuk mencuri demi kepentingan umum yang ber-
tujuan baik.
36. Kala Katemu :Radite Sinta, Julungwangi, Pujut. Soma Ukir, Tolu, Krulut.Anggara Dungulan,
Pahang, Tambir, Watugunung. Buda Tolu, Wariga, Langkir, Dukut. Wraspati Sinta, Julungwangi,
Pujut. Sukra Ukir, Krulut. Saniscara Tolu, Dungulan, Pahang, Tambir, Wayang. Baik: untuk
menangkap ikan, berburu, mapikat, memasang jerat, kungkungan, mengadakan pertemuan.
37. Kala Keciran : Buda Gumbreg. Baik: untuk membuat pisau penyadap (pangiris), mulai
memotong danggul nira, membuat atau membuka saluran air.
38. Kala Luang:Radite Dungulan, Kuningan, Langkir.Soma Wayang. Anggara Sinta, Warigadian,
Sungsang, Tambir, Menahil, WatugunungBuda Landep, Tolu, Gumbreg, Pahang, Merakih
Wraspati Kulawu, Dukut Baik: untuk membuat terowongan, menanam ketela atau umbi-umbian.
Tidak baik : untuk membuat bendungan/empangan.
39. Kala Lutung magelut : Radite Ukir, Buda Sungsang. Baik: untuk membuat/meramu obat-
obatan, mencampur sadek (makanan jengkrik), mulai membikin sawuh,melakukan tapa brata.
Tidak baik untuk berburu.
40. Kala Mretyu : Radite Sinta, Merakih; Soma Menahil. Anggara Medangsia, Wayang; Buda
Sinta, Wraspati Tolu, Sukra Julungwangi, Saniscara Medangsia. Baik untuk membuat senjata,
mulai berperang membela kebenaran, memberi nasehat kepada orang lain, Tidak baik : untuk
bersenggama, segala yadnya.
41. Kala Macan : Wraspati Tambir. Baik: untuk membuat segala yang menakutkan, membuat
tombak, keris, lelakut (penakut), pada hari ini hin- dari berbicara yang tidak perlu.
42. Kala Mina : Sukra Warigadean, Medangsia. Baik: untuk membuat peralatan penangkap ikan,
tombak dan hari ini baik untuk menangkap ikan.
43. Kala Muas : Radite Kulantir, Soma Wayang, Saniscara Pahang. Tidak baik: untuk menanam
sesuatu (bercocok tanam).
44. Kala Muncar : Buda Dungulan. Baik: untuk membuat taji, mengasah senjata.
45. Kala Miled : Soma Pahang. Baik: untuk meramu obat-obatan, sadek dan yang lainnya.
46. Kala Matampak : Buda, Sukra Ukir; Wraspati Kulawu, Saniscara Wariga, Prangbakat. Baik:
untuk menanam segala sesuatu (bercocok tanam).
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 64
47. Kala Ngadeg: Radite Pujut, Krulut; Soma Tambir, Kulawu; Sukra Kuningan, Watugunung.
Baik: untuk membuat pintu gerbang, tembok pekarangan, pagar, sangkar ayam (guwungan), kisa
pengaduan, mulai memelihara ayam kurungan, membuat empangan/bendungan.
48. Kala Ngruda : Radite Dukut, Soma Sungsang, Menahil; Saniscara Sungsang. Baik: untuk taji,
keris, ranjau (sungga), 65ocus65 runcing (gelanggang) dan sejenisnya, membuat bencana baik
Tidak baik : untuk segala pekerjaan, akan mendapat godaan/ halangan sakit keras, melakukan
yadnya yang besar.
49. Kala Ngunya : Radite Ukir. Untuk berkunjung, membuat/memasang kungkungan Baik
dan bubu.
50. Kala Ngamut: Soma Merakih. Baik: untuk membuat pancing (kail) dan alat-alat penang- kap
ikan lainnya.
51. Kala Olih : Buda Prangbakat. Baik: untuk memulai suatu usaha. Tidak baik : untuk membuat
terowongan, sumur, mulai mem- bajak.
52. Kala Pacekan : Anggara Tolu. Baik: untuk membuat tombak, taji, keris dan sejenisnya. Tidak
baik: untuk mengadakan perundingan/rapat.
53. Kala Pegat : Buda Kuningan, Saniscara Ukir, Merakih. Baik: untuk mulai menyadap (ngirisin),
memisah bayi menetek (melas rare). Tidak baik : untuk melakukan karya ayu.
54. Kala Prawani Radite Sinta, Anggara Prangbakat, Buda Landep, Wraspati Tambir. Tidak baik
untuk semua kegiatan, hari ini mengandung pengaruh yang kurang baik.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 65
PAKET 8
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas lanjutan materi mengenai Tanggal dan
Pangelong.Tanggal dan Pangelong merupakan aksioma ketiga dalam sistem aksioma wariga.
Materi ini diberikan untuk tetap menjaga koherensi materi agak tetap berkesinambungan dengan
materi sebelumnya. Tanggal Pangelong secara umum adalah hari yang dihitung setelah hari
Purnama maupun Tilem. Materi tanggal/pangelong ini akan disampaikan melalui metode ceramah
dengan sambil berdiskusi tentang keterkaitan tanggal / pangelong dengan fenomena penentuan
hari suci dalam masyarakat.
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
2. Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang berkembang di
Indonesia,yang terkandung di dalam kitab suci Hindu;
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
2. Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Wariga dalam melaksanakan
upacara yadnya maupun memulain pekerjaan yang penting.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 66
3.Mahasiswa mampu mempraktikkan ajaran Wariga dalam kehidupan sehari hari
terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan yadnya.
D. CP. Keterampilan khusus
1.Mahasiswa mampu menggali dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga baik yang
terdapat dalam berbagai jenis lontar maupun dalam kitab suci Hindu;
2.Mahasiswa mampu menggali dan melakukan analisis ajaran tentang baik buruknya hari
untuk melaksanhakan upacara yadnya.
3.Mahasiswa mampu menerapkan ajaran Wariga dalam menghadapi permasalahan
agama, kemanusiaan, sosial, politik, berbangsa dan bernegara di masyarakat;
2. Materi Pokok
a. Pengertian Tanggal/Pangelong
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui pengertian tanggal/pangelong
4. Pengalaman Belajar
a. Mahasiswa dapat kemampuan menghapal hari baik yang ditimbulkan oleh wuku
5. Waktu
4 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
a. Kegiatan Awal (15 menit)
1) Menyiapkan 67ocus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
2) Melakukan absensi
3) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
b. Kegiatan Inti (70 menit)
1) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
c. Kegiatan penutup (10 menit)
1) Menyimpulkan materi perkuliahan
d. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
1) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 67
C. URAIAN MATERI
Pengertian tanggal pangelong
Tanggal atau panggal disebut juga sukla paksa yang berarti bulan terang (setelah bulan
mati )
(kamus Bali –Indonesia, 1978 : 546), adalah hari-hari setelah tilem atau bulan mati. Hari pertama
setelah tilem disebu tanggal apisan (tanggal : 1), hari kedua setelah tilem disebut tanggal pindo (
tanggal : 2) hari ketiga setelah tilem disebut ping tiga ( tanggal : 3) dan seterusnya disebut tanggal
pingpat (4), tanggal pinglima (5), tanggal ping enem (6), tanggal ping pitu (7), tanggal ping kutus
(8), tanggal pang sia (9), tanggal ping dasa (10), tanggal ping solas (11), tanggal ping roras (12),
tanggal ping tlulas/digolas (13), tanggal ping pat belas (14) disebut juga purwani, dan tanggal ping
molas (15) disebut purnama yang berarti sempurna atau bulan kelihatan bulan penuh dari bumi
jadisukla paksa adalah hari-hari sesudah bulan mati (tilem) yang lamaya 15 hari.
Pangelong disebut juga kresna paksa: bulan setelah purnama, waktu bulan gelap (kamus
Bali-Indonesia, 1978 :313). Pangelong berasal dari bahasa Bali dari kata “long” dapat bunyi “ng”
dan mendapat awalan “pa” (paeng + long).
Long artinya kurang atau tidak penuh (kamus Bali- Indonesia, 1978: 358), jadi yang
dimaksud dengan pangelong adalah bualn itu tidaak penuh (kurang ) kelihatan dari bumi atau hari-
hari sesudah purnama menuju tilem lamanya 15 hari, dari perhitungan (1) sampai (15) hari, hari
itulah disebut dengan pangelong. Hari pertama setelah purnama disebut pangelong apisan (pang
:1), hari kedua setelah purnama disebut pangelong ping pindo (pang : 2), hari ketiga setelah
purnama disebut pangeling ping telu (pang : 3), demikian selanjutnya di sebut dengan pangelong
ping pat (pang :4), pangelong ping lima ( pang : 5), pangelong ping enem (pang : 6), pangelong
ping pitu ( pang : 7), pangelong ping kutus ( pang : 8), pangelong ping sia : 9) pangelong ping dasa
( pang : 10), pangelong ping solas (pang : 11), pangelong ping roras ( pang : 12), pagelong ping
tlulas / tigolas (pang : 13), pangelong ping pat belas ( pang : 14) disebut pigapurwani, dan
pangelong ping limolas (pang : 15) disebut juga tilem yaitu bulan mati, sama sekali tidak nampak
dari bumi.
Purwani sebelum tilem disebut dengan purwanining tilem, dan purwani sebelum purnama
disebutpurwaning purnama. Jadi kresna paksa adalah hari-hari setelah purnama yang lamanya 15
hari. Perhitungan dari purnama menuju tilem disebut satu sasih candra. Dari tilem sampai
datangnya tilem berikutnya lamanya rata-rata 29 1/2hari itu di bagi atas 30 bagian yang sama di
berinama “tithi” (hari menurut perjalanan bulan). Dengan adanya pembagian itu menyebabkan
umur sasih candra kadang-kadang 29 hari, kadang-kadang 30 hari jadi tepatnya 291/2 hari, 44
menit 9 detik.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 68
Pangalantaka
Pangalantaka juga di sebut dengan pengalihan purnama tilem atau mencari purnama tilem.
Dalam perhitungan Agama Hindu waktu yang lamanya 29 1/2 hari (dalam sasih candra) itu dibagi
atas 30 bagian yang sama yang di beri nama tithi (hari menurut perjalanan bulan). Jadi dalam satu
tahun hindu atau 12 bulan umurnya 12x30 tithi =360 tithi.di dalam sati tahun Hindu umurnya 354
hari atau 355 hari (diwasa). Jadi kadang-kadang di dalam satu (1) diwasa terdapat 2 tithi. Apabila
ada 2 tithi yang mulainya jatuh didalam satu (1) diwasa, yaitu thiti yang pertama dilenyapkan
(dihilangkan). Lenyapnya tithi yang pertama (dari dua tithi yang terdapat di dalam satu dewasa)
bernama tena ratri kemudian menjadi nguna latria tau ksaya-tithi yang (tanggal pengalihan).
Mnguna lari itu harus di lakuan sekali tiap-tiap Sembilan (90minggu (wuku) yaitu 9x7hari=63hari.
Tiap-tiap tahun harus di lakukan guna latri enam (6) kali.
Pengunalatrian yang di pakai untuk hindu adalah eka sungsag dan seterusnya. Adanya
tanggal pengelong karena adanya perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi dan bersama
bumi ikut mengelilingi matahari sehingga terjadilah purnama dan tilem. Purnama apabila bulan
purnama (penuh) kelihatan dari bumi dan tilem apabila bulan mati atau sama sekali tidak tampak
dari bumi perhitungan untuk menentukan purnama tilem disebut dengan pengalntaka ( pengalihan
purnama tilem ).
Pengalian purnama tilem di landasi oleh eka sungsang dengan 5 jenis ketentuannya sebagai berikut
:
1. Eka sungsang ke umanis: berarti nguna latri pada hari soma umanis : weraspati umanis
dunggulan tilem.
2. Eka sungsang ke pahing: berarti ngunalatri anggara pahing : radite pahing dunggulan
purnama.
3. Eka sungsang ke pon: berarti nguna latri pada hari budha pon : soma pon dunggulan tilem.
4. Eka sungsang ke wage: berarti nguna latri pada hari weraspati wage kuningan purnama.
5. Eka sungsang kliwon: berarti nguna latri sukra kliwon ;sukrakliwon sungsang tilem.
Dari purnama menuju tilem lamanya 15 hari, di perhitungan satu (1) sampai limaa belas (15) hari
di sebut pangelong ( kresna paksa). Dari tilem menuju purnama lamanya 15 hari, dari perhitungan
satu (1) sampai lima belas (15) hari disebut pananggal (sukla paksa ). Sedangkan dari purnama
menuju purnama atau tilem menuju tilem disebut satu (1) bulan candra yang lamanya 29 16/31
hari tepatnya umur masing-masing bulan candra adalah 29 hari 12jam 44 menit ( ketut bangbang
gede rawi , 1972:11.). hal ini lalu di bulatkan menjadi 30 hari yaitu sebulan candra dengan
dikurangi setiap 9 wuku ( 63 hari ) 1 hari. Pengurangan setiap 9 wuku inilah yang dinamai ‘’nguna
latra’’
Hal yang perlu di diperhatikan dalam pengunalatraan adalah :
a. Wuku pengguna latra yaitu :
1. Sinta
2. Sungsang
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 69
3. Tambir
4. Klawu
5. Wariga
6. Pahang
7. Bala
8. Kulantir
9. Langkir
10. Uye
Jika dimulai dari eka sungsang ; kelanjutannya adalah :
Dwi tambir
Tri klawu
Catur wariga
Panca Pahang
Sapta kulantir
Nawe uye
Dasa sinta
b. Sloka nguna latri adalah :
untuk menentukan salah benarnya pangalihan purnama / tilem termuat dalam lontar pengalihan tri
lingga, lembar ia. Sebagai berikut :
panca daci catur tinca, astha mi dwa daci tatha, daci padentu pancamyam,nawami triyodaci,
dwitya sasti daca cewah, catur daca tritiyanca, sapta peka eka dancancan , nguna latri
punah-punah.
Artinya
1. Panca daci : tanggal /pangelong 14 menjadi 15 (14/15)
2. Catur tinca : tanggal/ pangelong 3 menjadi 4 (3/4)
3. Asthami : tanggal/pangelong 7 menjadi 8(7/8)
4. Dwi daci tatha : tanggal/pangelong 11 menjadi 12 (11/12)
5. Prati padentu : tanggal/pangelong 15 menjadi 1 (15/1)
6. Pancamyam : tanggal/pangelong 4 menjadi 5(4/5)
7. Nawami : tanggal/pangelong 8 menjadi 9 (8/9)
8. Triyo daci : tanggal/pangelong 12 menjadi 13(12/ 13)
9. Dwitya : tanggal/pangelong 1 menjadi 2 (1/2)
10. Sasti : tanggal/pangelong 5 menjadi 6 (5/6)
11. Daca : tanggal/pangelong 9 menjadi 10 (9/10)
12. Catur daca : tanggal/pangelong 13 menjadi14 (13/14)
13. Triti yanca : tanggal/pangelong 2 menjadi 3 (2/3)
14. Sapta peka : tanggal/pangelong 6 menjadi7 (6/7)
15. Eka dacaca : tanggal/pangelong 10 menjadi 11 (10/11)
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 70
Nguna latra penuh-penuh =kembali nguna latria tau ngalantaka .
Di dalam rontal pengalihan tri langga ada pula disebutkan pangalantaka /pengalih purnama –
tilem dan pengunalatrian , berdasaran pengalihan tri lingga yaitu :
1. Eka sungsang ke umanis, ngunalatri pada hari coma umanis .
2. Eka sungsang ke pon, nguna latri pada hari Buddha pon.
3. Eka sungsang ke kliwon, nguna latri pada hari sukra kliwon.
Pangalantaka yang di pakai sekarang untuk membuat kalender adalah’’kea sungsang ke pon ‘’
yang disyahkan oleh parisaha hindu dharma indonesa dalam Pesamuan Agung Tgl. 22-23
Februari 1970. Dan sebelumnya pernah berlaku pengalihan “ eka sungsang ke kliwon“ jadi
nguna latra pada hari sukra kliwon berdasaarkan Pesamuan Agung Parisadha Hindu Dharma
Indonesia Tgl. 26-27 Mei 1953 . demikian pula selanjutnya pada waktu-waktu yang akan
datang apabila terjadi perubahana akan ditetapkan dalam Pesamuan Agung Parisadha Hindu
Dharma Indonesia. Untuk sekali pengalihan itu memugelang ( kembali ke semula )
memerlukan waktu 1890 hari atau 64 sasih . pengalihan itu seluruhnya dibagi atas tiga (3)
bagian dan tiap bagian dibagi lagi menjadi 10 bagian yang lebih kecil yang disebut sengker
(batas/ golongan ) nama sengker itu seperti tersebut di atas yakni : eka sungsang , dwi tambir,
tri klawu dan seterusnya.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 71
PAKET 9
A.PENDAHULUAN
Fokus dari pertemuan ini adalah membahas lanjutan materi mengenai Tanggal dan
Pangelong.Tanggal dan Pangelong merupakan aksioma ketiga dalam sistem aksioma wariga.
Materi ini diberikan untuk tetap menjaga koherensi materi agak tetap berkesinambungan dengan
materi sebelumnya. Tanggal Pangelong secara umum adalah hari yang dihitung setelah hari
Purnama maupun Tilem. Materi tanggal/pangelong ini akan disampaikan melalui metode ceramah
dengan sambil berdiskusi tentang keterkaitan tanggal / pangelong dengan fenomena penentuan
hari suci dalam masyarakat.
Adapun perbedaan dengan materi sebelumnya adalah, pada materi ini, pembahasan
mengenai tanggal/pangelong merujuk pada padewasan yang ditimbulkan oleh tanggal pangelong
tersebut. Baik padewasan yang muncul oleh tanggal/p[angelong secara independen maupun yang
muncul akibat kolaborasi dari tanggal/pangelong dengan wuku maupun wewaran
B. RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN
1. Capaian Pembelajaran
A. CP Sikap
1. .Berkontribusi dalam peningkatan mutu dan kualitas diri dengan cara saling mengisi
melalui interaksi dalam kelompok;
2. Menghargai pendapat atau temuan orisinal orang lain;
3. Mempunyai ketulusan, komitmen dan kesungguhan hati dalam bekerja;
4. Bekerjasama dan memiliki kepekaan social serta kepedulian terhadap masyarakat dan
lingkungan;
5. Disiplin dalam penggunaan waktu;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggung jawabatas pekerjaan;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 72
B. CP Pengetahuan:
1. Mahasiswa menguasai konsep Dasar Dasar Wariga seperti lima aksioma pelajaran
wariga;
2. Mampu menguasi dan menganalisis ajaran Dasar Dasar Wariga yang berkembang di
Indonesia,yang terkandung di dalam kitab suci Hindu;
3. Mampu menguasai, mempraktikkan ajaran wariga dalam kehidupan beragama,
berbangsa dan bernegara
C. CP Keterampilan Umum
1 .Mahasiswa menguasai dan menganalisis inti sari ajaran Dasar Dasar Wariga;
2. Mahasiswa mampu menguasai dan menganalisis ajaran Wariga dalam melaksanakan
upacara yadnya maupun memulain pekerjaan yang penting.
3.Mahasiswa mampu mempraktikkan ajaran Wariga dalam kehidupan sehari hari
terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan yadnya.
.
2. Materi Pokok
a. Pengertian Tanggal/Pangelong
3. Kemampuan Akhir yang Diharapkan
a. Mahasiswa mengetahui padewasan yang ditimbulkan oleh tanggal/pangelong
4. Pengalaman Belajar
b. Mahasiswa dapat kemampuan menghapal hari baik yang ditimbulkan oleh Tanggal/
Pangelong
5. Waktu
2 x 50 menit
6. Kegiatan Perkuliahan
e. Kegiatan Awal (15 menit)
4) Menyiapkan 73ocus mahasiswa terhadap kegiatan perkuliahan melalui salam
pembuka, dilanjutkan dengan doa bersama
5) Melakukan absensi
6) Melakukan apersepsi mengenai pertemuan sebelumnya
f. Kegiatan Inti (70 menit)
2) Menyampaikan materi pokok perkuliahan
g. Kegiatan penutup (10 menit)
2) Menyimpulkan materi perkuliahan
h. Kegiatan Lanjutan (5 menit)
2) Mempersiapkan pertemuan berikutnya
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 73
C. URAIAN MATERI
A. Padewasan yang muncul dari Pananggal Panglong menurut Catur Laba.
Pananggal/Panglong:
1. Semua pekerjaan dapat dilakukan serta berhasil, tergolong baik.
2. Tidak ada hambatan semua kerja dapat dilakukan, tergolong baik.
3. Tidak berhasil, termasuk buruk.
4. Tidak bertemu, tidak berhasil, tergolong buruk.
5. Mendapat makanan, tergolong baik.
6. Tidak mendapat uluran tangan (dhana punia), tergolong buruk.
7. Rahayu (selamat), tergolong baik.
8. Rusak (kaon), tergolong buruk.
9. Madurgama (amat berbahaya), tergolong amat buruk.
10. Rahayu (selamat), tergolong baik.
11. Jika bepergian mendapat kesenangan, tergolong baik.
12. Menyebabkan kematian, tergolong amat buruk.
13. Selamat serta senang, tergolong baik sekali.
14. Sangsara (menderita), tergolong buruk.
15. Disenangi orang, tergolong baik.
B. Padewasan yang muncul berdasarkan Pananggal untuk pernikahan (Pawiwahan).
Pananggal (Tanggal):
1. Baik; senang dan selamat.
2. Baik; kerabat, teman menaruh rasa kasih sayang.
3. Sedang (Madya); banyak mempunyai keturunan.
4. Buruk; akibatnya janda atau duda.
5. Baik; senang dan selamat.
6. Buruk; menderita selalu duka.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 74
7. Baik; amat berbahagia.
8. Buruk; tidak baik, ada halangan.
9. Buruk sekali; penderitaan tak putus-putusnya.
10. Baik sekali; kaya raya tak kurang apapun.
11. Buruk; tidak berhasil.
12. Buruk; menderita (kalaran).
13. Baik; berhasil.
14. Buruk; bertengkar menyebabkan penceraian.
15. Buruk sekali; selamanya menderita.
Panglong:
1. Baik; senang dan selamat.
2. Baik; kerabat kasih sayang.
3. Sedang; banyak anak.
4. Buruk; menyebabkan janda atau duda.
5. Baik; semuanya senang dan selamat.
6. Buruk; banyak penderitaan.
7. Baik; utama bahagia.
8. Buruk; tidak baik.
9. Buruk; menderita terus.
10. Baik; menemui kekayaan.
11. Buruk; tidak berhasil.
12. Buruk; menderita.
13. Baik; keselamatan diperoleh.
14. Buruk; cekcok dan cerai.
15. Buruk; tak putus-putusnya menderita.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 75
C. PADEWASAN BERDASARKAN WEWARAN DAN TANGGAL
PANGLONG
1. . Amerta buwana : Radite, Soma, Anggara-pananggal 15 (Purnama) Baik : untuk upacara
Dewa Yadnya.
2. Amerta dadi : Soma pananggal 15 (Purnama).Baik: untuk upacara Dewa Yadnya.
3. Amerta akasa : Anggara pananggal 15 (Purnama). Baik: untuk memuja leluhur.
4. Amerta sari Buda pananggal 15 (Purnama). Baik: untuk upacara Dewa Yadnya, di
Sanggar/Pamerajan, menanam bunga-bungaan.
5. Amerta masa : Sukra pananggal 15 (Purnama) Baik: untuk Dewa Yadnya, membangun,
bercocok tanam.
6. Amerta pageh : Saniscara pananggal 15 (Purnama) Baik: untuk upacara Dewa Yadnya.
7. Ayunulus : Radite pananggal 6, Soma pananggal 3, Anggara pananggal 7, Buda pananggal
12, 13; Wraspati pananggal 5, Sukra pananggall, Saniscara pananggal 5. Baik : untuk
segala usaha.
8. Amerta wija : Wraspati pananggal 15 (Purnama). Baik: untuk upacara Dewa Yadnya,
menanam biji-bijian.
9. Amerta danta : Radite pananggal 6; Soma pananggal 5, Anggara pananggal 4, Buda
pananggal 3, Wraspati pananggal 2, Sukra pananggal 1, Saniscara pananggal 7. Baik: untuk
melakukan tapa, brata, yoga, semadi, penyucian diri, segala pekerjaan.
10. Amerta dewata : Sukra pananggal 12. Baik: untuk semua upacara.
11. Amerta dewa jaya : Soma pananggal 3, 8. Baik untuk hal-hal yang mengandung unsur
keunggulan.
12. Ayubadra: Radite pananggal 3. Soma pananggal 7, 10. Anggara pananggal 3, Buda
pananggal 12. Wraspati pananggal 10, Saniscara pananggal 11. Baik untuk memulai suatu
usaha, bercocok tanam, membangun.
13. Amerta gati: Radite pananggal 3, 6, Soma pananggal 7. Anggara pananggal 3, Buda
pananggal 2, 3. Wraspati pananggal 5, Sukra pananggal 1, 12. Saniscara pananggal 4, 7
Baik : untuk memulai suatu usaha, bercocok tanam.
14. Amerta dewa: Radite tanggal/panglong 6, Soma tanggal/panglong 7. Anggara
tanggal/panglong 3, Buda tanggal/panglong 2 Wraspati tanggal/panglong 5, Sukra
tanggal/panglong 1. Saniscara tanggal/panglong 4. Baik: untuk melakukan Panca Yadnya
khususnya Dewa Yadnya, membangun tempat-tempat suci/ibadah, membuat lumbung
maupun dapur.
15. Amerta murti : Buda Kliwon tanggal 12. Baik: untuk melakukan upacara Manusa Yadnya,
upacara potong gigi.
16. Amerta bumi : Soma Wage tanggal 1, Buda Pon tanggal 10 Baik : untuk perkawinan
(nikah).
17. Amerta yoga : Wraspati tanggal 4, Saniscara tanggal 5. Baik: untuk membangun rumah,
mencari nafkah (pangupa jiwa), memulai suatu usaha/perusahaan.
18. Buda gajah : Buda Wage tanggal 15 (Purnama). Baik: untuk melakukan tapa brata, yoga,
semadi, upacara penyucian (pembersihan) lahir batin, dan upacara Dewa Yadnya.
19. Buda ireng : Buda Wage panglong 15 (Tilem). Baik: untuk segala pekerjaan.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 76
20. Buda suka : Buda Kliwon panglong 15 (Tilem). Baik: untuk segala pekerjaan.
21. Dewa stata: Radite tanggal 10, Soma tanggal 9, Anggara tanggal 6. Buda tanggal 8,
Wraspati tanggal 7. Sukra tanggal 9, Saniscara tanggal 10. Baik: untuk melakukan Panca
Yadnya, khususnya Dewa Yadnya.
22. Derman bagia : Soma tanggal 2, 3, 5, 12. Baik: untuk nikah, membagun, mulai
belajar/berlatih, belajar menari
23. Dina carik:Radite tanggal 12, Soma tanggal 11.Anggara tanggal 10, Buda tanggal
9.Wraspati tanggal 8, Sukra tanggal 7.Saniscara tanggal 6.Tidak baik : dipakai dewasa.
24. Dina Jaya:Radite tanggal 6, Soma tanggal 5, Buda tanggal 3.Wraspati tanggal 2, Sukra
tanggal 1, Saniscara tanggal 7.Baik: untuk belajar menari atau pengetahuan yang lain
danmengandung unsur keunggulan.
25. Dina mandi:Anggara tanggal 15 (Purnama), Wraspati tanggal 2Sukra tanggal 14, Saniscara
tanggal 3.Baik untuk upacara penyucian diri, memberikan petuah-petuah, membuat jimat.
26. Dewa ngelayang:Radite tanggal 6, Soma tanggal 3, Anggaran tanggal 3, 7.Buda tanggal 3,
13, 15, Wrespati tanggal 5.Sukra tanggal 1, Saniscara tanggal 4.Baik: untuk membuat
bangunan suci, Dewa Yadnya danPitra Yadnya.
27. Dewasa ngelayang:Radite tanggal 1, 8, Anggaran tanggal 7.Buda tanggal 2, 3, Wraspati
tanggal 4.Sukra tanggal6, Saniscara tanggal 5.Baik: untuk membangun, membuat jukung
dan sejenisnya..
28. Dewasa tanian : Radite tanggal 10, Soma tanggal 9, Anggara tanggal 6.Buda tanggal 8;
Wraspati tanggal 7, Sukra tanggal 10.Saniscara tanggal 10.Baik: untuk memulai menanam,
memulai suatu usaha pertanian.Baik: untuk melakukan upacara penyucian (pembersihan
memberi petuah-petuah (nasehat), memberi petunjuk jalan yang berguna, serta baik untuk
membangun.
29. Dewasa mentas : Wraspati tanggal 5, 15.
30. Dagdigkrana:Radite tanggal/panglong 2, Soma tanggal/panglong 1 Anggara
tanggal/panglong 10, Buda tanggal/panglong 7.Wraspati tanggal/panglong 3, Saniscara
tanggal/panglong 6.Baik: untuk menanam tebu, mentimun.Tidak baik : untuk segala
upacara atau Yadnya, mengadakanpertemuan (rapat), bersanggama.
31. Dasa guna : Buda panglong 15 (tilem) atau tanggal 15 (Purnama).Baik: untuk membuat
bangunan suci, pelantikan pengurus/pejabat.
32. Dauh ayu:Radite tanggal/panglong 4, 5, 6, Soma tanggal/panglong 23, 5 Anggara
tanggal/panglong 5, 7, 8, Buda tanggal/panglong 4.Wraspati tanggal/panglong 1, 4, Sukra
tanggal/panglong 1,5, 6.Saniscara tanggal/panglong 5.Baik untuk membuat awig-awig,
peraturan-peraturan atauundang-undang, baik untuk membangun.
33. Dasa amerta : Sukra Paing tanggal 10.Baik: untuk melakukan upacara pembersihan diri,
upacara potong gigi, pernikahan tanpa memperhitungkan sasih.
34. Dewa werdi: Sukra Wage tanggal 10.Baik: untuk upacara Dewa Yadnya, upacara potong
gigi.
35. Dirgayusa: Buda Pon tanggal 10.Baik: untuk upacara Manusa Yadnya seperti potong gigi
dan lain-lain.
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 77
DAFTAR PUSTAKA
Guweng, I Ketut. 1988. Sarining wariga.
Ardhana, I.B Suparta. 2005. Pokok-Pokok. Wariga.Surabaya:Paramita
Simpen.Wayan. 1988. Pelajaran Dewasa. Denpasar : Muria Cempaka
Tusan. I Wayan. 1987. Tuntunan Wariga. Karangasem.
Aryana. IB Putra. 2007. Tenung Wariga. Denpasar: Bali Aga
DIKTAT MATA KULIAH WARIGA 78