WARISAN 1
2 WARISAN
Dari Redaksi
Selamat Natal! Apakah Anda ingin mendapat hadiah di hari 3
yang istimewa ini? Anda sudah memperolehnya. Tulisan yang
sedang Anda baca ini adalah bagian dari hadiah Natal untuk
Anda: majalah WARISAN terbit kembali! Bukankah ini hadiah
yang istimewa bagi seluruh umat Paroki Duren Sawit?
Sejak April 2020, seiring terjadinya pandemi Covid-19,
Komsos Paroki Duren Sawit mempersembahkan majalah
WARISAN yang dipublikasikan secara online. Diharapkan
melalui publikasi daring bukan cetak, semakin banyak umat
yang dapat mengakses dan menikmati majalah WARISAN.
Dalam edisi ini, kita dapat mengikuti perbincangan dengan
Romo Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ, yang menjejakkan
kaki di Paroki kita enam bulan lalu. Selain itu, Anda dapat
menyimak renungan bertajuk Natal Inspirasi Kebangkitan,
liputan khusus kegiatan Santa Anna’s Got Talent (SAGT)
yang pertama kali digelar di Paroki kita dan akan berlanjut di
tahun depan, juga beberapa tulisan lain yang dapat menjadi
‘teman’ Anda mengisi hari-hari akhir di bulan Desember.
Setelah 9 bulan melewati banyak waktu di rumah saja karena
hantaman pandemi Covid-19, tentu kita semua ingin menutup
tahun 2020 disertai harapan tahun 2021 akan terjadi perubahan
yang menjadikan dunia lebih baik. Bersama Santo Yosef yang
ditetapkan Paus Fransiskus menjadi tema Gereja universal
di tahun 2021, mari kita sambut Tahun Baru dengan penuh
semangat dan sukacita.
Salam hangat,
Redaksi WARISAN
WARISAN
WARISAN adalah media komunikasi Gereja Santa Anna, yang ditujukan bagi
umat di Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur. Majalah WARISAN terbit triwulan,
bertujuan memberi tambahan wawasan kepada umat tentang pokok-pokok
iman Katolik dan tradisi Gereja, serta menyajikan berbagai informasi terkait
kegiatan-kegiatan di Paroki Duren Sawit.
Redaksi menerima kiriman artikel dari Lingkungan, Wilayah, Komunitas
Kategorial, Komunitas Religius, dan para pembaca. Jika artikel bukan tulisan
sendiri, harap mencantumkan sumber/asal tulisan. Artikel dikirim melalui e-mail
ke: [email protected]
Redaksi berhak menentukan kelayakan artikel dan menyunting semua tulisan
yang akan dimuat.
Dukungan finansial untuk pengelolaan majalah WARISAN dapat diberikan
melalui:
Bank : BCA
Cabang : KCP Pondok Bambu
No. rekening : 274-012-2790
Atas nama : Ardyan Valentino Cahyadi atau Amadea Pranastiti
Perhatian dan dukungan umat Paroki Duren Sawit sangat kami butuhkan,
agar majalah WARISAN dapat senantiasa hadir di tengah kita. Terima kasih
4 WARISAN
Daftar Isi
06 Renungan
Natal Inspirasi Kebangkitan
13 Teladan Kekudusan
Belajar Bijak dari Beato Carlo Acutis
18 Bincang-Bincang
Romo Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ
30 Sorotan
Geliat Gereja di Masa Pandemi
38 Liputan
Misa Offline di Gereja Santa Anna
40 Liputan Khusus
Santa Anna’s Got Talent
48 Artikel Lepas
Api Penyucian – Surga yang Tertunda
56 Kawula Muda
Anak BIA yang Jadi Pembina BIA
62 Mengenal Lebih Dekat
Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM)
68 Artikel Lepas
2021 - Tahun Santo Yosef
Diterbitkan oleh Komsos Paroki Duren Sawit Moderator Rm. A. Sadhyoko Rahardjo, SJ
Penanggung Jawab Amadea Pranastiti Pemimpin Umum Adrian Yudhie Utama
Pemimpin Redaksi Sasongko Andriyanto Tim Redaksi Aloysia Indrastuti, Nina MANS,
Theresia Sri Herwidiyati, Agatha Nurmariati Fotografer Adi Kumara, Andrie Irawan,
Natanael Ari Editor Cendrawati Suhartono, Rodney Standy Artistik Della TD, Rachel
WARISAN 5
Renungan
Natal Inspirasi Kebangkitan
Immanuel – Tuhan Beserta Kita
oleh Santoso Salim
Sembilan bulan pandemi yang belum berujung dan tak diketahui
kapan berakhir, telah meninggalkan kepiluan hidup. Disrupsi
digital yang merasuk ke berbagai aspek kehidupan menjadi
realitas yang harus diterima. Perekonomian terpuruk dan
segala sendi kehidupan sosial budaya terseok mencari bentuk
barunya. Bersalaman menjadi berisiko, berbagi kebahagiaan
dalam peristiwa kelahiran dan pernikahan menjadi berbahaya,
bahkan penghormatan jenazah saat pemakaman tak bisa
dilakukan. Prinsip-prinsip manusia sebagai makhluk sosial
seakan dipertanyakan.
6 WARISAN
Bahkan cara-cara menggereja pun harus berubah. Misa,
perwartaan, retret, pertemuan lingkungan – semua secara
virtual, bahkan sekarang ada PPK Offline dan Online. Di
tengah situasi inilah Perayaan Natal sebagai perayaan syukur
umat kristiani akan kelahiran Sang Juruselamat harus kita
selenggarakan dengan cara berbeda yang menuntut kreativitas
dan inovasi untuk melampaui segala hambatan, agar esensi
kita sebagai manusia beriman dapat tetap diekspresikan.
Seperti seorang raja yang akan datang dan membawa tanda-
tanda, demikian juga Sang Juruselamat akan datang dengan
berbagai peristiwa yang harus kita refleksikan. Perayaan
7W ARISWAANR ISAN7
8 WARISAN
Natal dengan segala proses kepanitiaannya menjadi
jalan pencarian untuk memaknai ini semua, agar
umat dapat merefleksikan pesan Natal tersembunyi
yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita di tengah
situasi pandemi.
Tidak berlebihan bila Panitia Natal ingin mengajak
seluruh umat Paroki Duren Sawit menjadikan “NATAL
2020 inpirasi KEBANGKITAN – IMMANUEL –
ALLAH menyertai KITA” sebagai tema sekaligus
perjalanan reflektif kita. Persis seperti dicanangkan
KWI-PGI sebagai tema Natal 2020 dan ajakan KWI
untuk menjadikan tahun 2021 sebagai TAHUN
REFLEKSI.
Pemaknaan PERUBAHAN harus menjadi bagian
dari kepanitiaan, baik formasi, proses, dan karyanya.
Kepanitiaan ini 90% terdiri dari orang muda
dengan cara kerja berbeda. Pewartaan pesan juga
disampaikan dengan cara berbeda yang berujung
pada Perayaan Ekaristi yang harus kita rayakan
secara berbeda pula.
Misa Offline dan Online dalam kemasan sarat teknologi
digital akan menjadi sarana yang mempersatukan
umat dalam perayaan, dengan kehadiran Sakramen
Maha Kudus di rumah-rumah. Dalam kondisi ini
seakan Tuhan memaksa kita memperluas Gereja
Universal menjadi Gereja Domestik dalam keluarga.
WARISAN 9
Tahun 2021 sungguh menjadi TAHUN REFLEKSI untuk mencari
jawab atas semua ini. Seperti sebuah permainan games kita tengah
memasuki pertempuran, seakan berada di tengah Corona Covid dan
Corona Adven. Akankah kita menang dari Covid-19?
Dalam teori seleksi alam, Charles Darwin mengatakan: “Bukan
spesies paling kuat atau paling cerdas yang mampu bertahan,
melainkan yang paling mampu beradaptasi pada perubahan.” Sebagai
manusia beriman, kita diberi rahmat dengan kearifan spiritual yang
membedakan kita dengan makhluk kuat dan cerdas sekalipun.
Dengan kemampuan refleksi spiritual, bersama Tuhan kita akan
mampu menemukan cara-cara beradaptasi dan berkolaborasi,
karena kita sadari semua ini tidak bisa kita hadapi sendirian. Seperti
dikatakan WHO: “We’re not safe until everyone safe,” Paus Fransiskus
dalam homili juga menyatakan bahwa kita sedang berada di dalam
perahu yang sama di tengah badai dan bersama Yesus kita mampu
meredakannya.
Hasil refleksi menemukan cara-cara baru beradaptasi dan selalu
berkolaborasi adalah kunci dari kemenangan pertempuran ini, juga
dalam hidup menggereja. Meskipun mungkin kita gagap terpontal-
pontal karena perubahan, tetapi usaha untuk selalu menemukan
inovasi atas dasar kolaborasi menjadi bagian keseharian dalam
pelayanan saat ini.
Sebuah fakta adalah kita semua tidak berjalan sama cepat. Banyak
umat mungkin mengalami kesulitan untuk mendaftar mengikuti Misa
Offline di website belarasa.id. Belum lagi ada yang belum tentu
memiliki gawai yang memadai. Sekali lagi ini menjadi tantangan:
bagaimana kita dapat merangkul mereka yang tertinggal. Diperlukan
kerja keras dari para Ketua Lingkungan untuk mengajak umat, hingga
Dewan Paroki yang memberikan arah.
10 WARISAN
Kita sedang dalam perahu yang sama dan menghadapi badai yang
sama. Tetapi kita percaya Tuhan Yesus senantiasa bersama kita,
Immanuel. Mengeluh, berteriak, meratap, dan bersukacita bersama
Tuhan akan menjadi kekuatan dalam kerapuhan ini.
Mengawali karya keselamatan-Nya, Yesus berkata mengutip Kitab
Yesaya : “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab itu Ia telah mengurapi
Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan
Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada
orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk
membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun
rahmat Tuhan telah datang.”
Bersama Dia, kita sambut Natal sebagai inspirasi Kebangkitan.
Tuhan memberkati.
WARISAN 11
Teladan
Kekudusan
12 WARISAN
Belajar Bijak dari
Beato
Carlo Acutis
oleh Nicholas Juan K. P.
Mahasiswa Sains Data - STMM, Universitas Airlangga
Lahir di Inggris pada 3 Mei 1991, Carlo Acutis salah satu orang
muda yang dibeatifikasi oleh Paus. Beatifikasi merupakan
pengakuan Gereja Katolik kepada seorang yang telah meninggal,
tetapi semasa hidup ia sangat religius dan menunjukkan banyak
kebaikan. Carlo Acutis dibeatifikasi pada 10 Oktober 2020, 14
tahun setelah kematiannya karena leukimia pada 12 Oktober
2006. Carlo memerlukan mukjizat kedua sebelum ia dapat
dinyatakan sebagai orang kudus.
Apa yang membuat Carlo begitu istimewa di mata Gereja
Katolik? Salah satu alasan yang paling menonjol adalah ia kerap
membantu orang-orang di sekitarnya yang sedang mengalami
kesusahan. Tidak hanya membantu, Carlo mendedikasikan
hidupnya untuk orang-orang yang membutuhkan. Tidak banyak
orang yang bersedia hidup sepenuhnya untuk orang lain,
apalagi bagi seorang anak muda yang biasanya masih senang
bermain dan menikmati masa mudanya.
WARISAN 13
Masih ada keistimewaan lain dari Carlo, yaitu sikap hidupnya
yang sederhana dan tidak manja, meskipun sebagai anak
tunggal ia bergelimang harta. Ayahnya, Andrea Acutis, seorang
pengusaha sukses di Italia. Carlo sering menolak pemberian
ibunya yang suka membelikannya baju baru. Bagi Carlo, masih
banyak orang lain yang lebih membutuhkan daripada dirinya.
Menaati Himbauan Paus Fransiskus terkait Teknologi
Paus Fransiskus pernah menghimbau agar anak muda berhati-
hati dalam menggunakan sarana komunikasi yang ada pada
zaman ini. Banyak remaja memiliki ketergantungan sangat tinggi
terhadap media sosial. Mereka membandingkan diri mereka
dengan orang-orang terkenal di media sosial atau yang biasa
disebut “influencer.”
Beato Carlo Acutis tidak ingin hidupnya diperbudak teknologi.
Ia ingin menjadi seorang yang memiliki kuasa atas teknologi,
bukan malah diatur oleh teknologi. Karena itu, ia membatasi
14 WARISAN
penggunaan media sosial. Selain itu, ia juga membatasi
waktu bermain game hanya satu jam per minggu. Baginya,
hal terpenting yang perlu diajarkan kepada anak muda zaman
ini adalah kemampuan untuk membatasi diri dengan berani
berkata “cukup” dalam menggunakan teknologi.
Carlo juga berpendapat bahwa hidup kita harus seimbang.
Jika kita terlalu mementingkan kehidupan di sosial media dan
mengikuti “influencer,” mungkin kita akan lebih berfokus pada
gaya hidup kita seperti apa yang kita pakai, sehingga akhirnya
melupakan kehadiran Tuhan.
WARISAN 15
16 WARISAN
Mengubah Pandangan Gereja akan Teknologi Internet
Membatasi diri bukan berarti menjauhkan diri dari hal tersebut.
Beato Carlo Acutis tidak serta merta mengabaikan teknologi,
tetapi ia mempelajarinya. Alhasil, Carlo mampu membuat situs
web yang berisi katalog tentang kesaksian orang-orang yang
mengalami mukjizat, kegiatan Ekaristi, doa-doa, dan pelayanan
terhadap orang-orang miskin. Tentu situs tersebut sangat
berguna bagi umat Katolik. Melalui karya pewartaannya di
media sosial itulah, Beato Carlo Acutis mulai dikenal sebagai
jenius komputer yang secara perlahan mendorong Gereja
untuk bergerak ke masa depan.
Referensi:
• “Servant of God Carlo Acutis”. Santi e Beati. Retrieved 31 October
2017.
• “Italy moved by teen who offers life for the Church and the Pope”.
Catholic News Agency. 24 October 2007. Retrieved 6 May 2017.
• “Carlo Acutis ‘Always Lived in the Presence of God’”. NCR.
• “Carlo Acutis: Millennial generation has a Blessed - Vatican News”.
www.vaticannews.va. 10 October 2020. Retrieved 11 October 2020.
•https://www.catholicnewsagency.com/news/mom-of-carlo-acutis-
teen-computer-whiz-wasan-influencer-for-god-70771
WARISAN 17
Romo Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ, atau yang
biasa disapa Romo Rudy, mulai aktif menggembala
di Paroki Duren Sawit, Jakarta Timur, sejak Agustus
2020. Ternyata setelah 8 tahun menjadi Imam Jesuit,
Paroki Duren Sawit adalah paroki pertama tempat beliau
berkarya sebagai imam paroki. Lalu, sebelumnya tugas di
mana, Romo? Mari kita simak profil beliau yang diangkat
dari perbincangan dengan Romo Rudy di kanal YouTube
Komsos Paroki Duren Sawit pada 25 Oktober 2020.
18 WARISAN
Bincang-Bincang
Dari Romo Petualang
Jadi Romo Paroki
Romo A. Rudy Chandra, SJ
WARISAN 19
Anak Nakal dan Iseng
Semasa duduk di tingkat Sekolah Dasar, Romo Rudy
mengaku dirinya kerap nakal dan iseng. “Saya sering
mengganggu teman-teman. Saya suka keliling di kelas
sambil ngeplaki kepala teman-teman,” ujar Imam kelahiran
Solo pada 22 Agustus 1978 ini. Tentu saja, guru wali
kelasnya menjadi jengkel dan menghukum Rudy kecil
dengan mengikat kakinya di kursi, supaya tidak bisa
keliling kelas dan mengganggu teman-temannya. Namun,
tanpa sepengetahuan sang guru, ikatan kaki bisa dilepas
Rudy kecil. Ia bisa bebas keluyuran di kelas sebelum
pelajaran dimulai dan buru-buru mengikat kakinya di
kursi, saat bel pelajaran berbunyi.
Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini pernah bercita-cita menjadi
polisi atau tentara, bahkan menjadi petualang. Buku
riwayat orang kudus yang diberikan Ibunya membuka
wawasan baru bagi Rudy kecil. Ia mengakui, mungkin
itulah yang kemudian menjadi landasan pilihan hidupnya
kelak.
Ingin Jadi Imam karena “Kecelakaan”
Ketika menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
kelas 1, ada kejadian tragis dalam keluarga Rudy remaja,
yang membuatnya ingin menjadi pastor. Ayahanda tercinta
meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kejadian ini
sangat mengggores hatinya. “Apa yang salah dengan
kami? Mengapa orang yang kami kasihi diambil Tuhan?”
Rudy remaja membatin.
20 WARISAN
Terbersit keinginan Rudy remaja untuk mengabdikan diri
kepada Tuhan dengan menjadi imam, agar tak ada lagi
hal buruk yang menimpa keluarganya. Ia tak mau lagi
kehilangan orang-orang yang dikasihi.
Tanpa pikir panjang, Rudy remaja mengutarakan keinginan
itu kepada Ibunya. Sang Ibu tidak melarang, hanya
meminta putranya menyelesaikan pendidikan setinggi
mungkin, sebelum menjadi imam.
WARISAN 21
22 WARISAN
Saat menempuh pendidikan menengah di SMA Regina
Pacis di Solo, Rudy remaja berkecimpung di Christian Life
Community (CLC), komunitas awam yang menghayati
semangat Ignatian sebagai cara hidup. Rupanya Ibunda
sudah memberitahu pihak sekolah tentang keinginan
putranya menjadi imam, sehingga setiap kali ada siswi
yang kelihatan dekat dengan Rudy, segera di-‘interogasi’
pihak sekolah.
Mengikuti semangat hidup Ignatian membangkitkan
keingintahuan Rudy remaja untuk mencari tahu siapa
penggagas spiritualitas itu. Dari perpustakaan komunitas
CLC, ia membaca semua buku tentang Santo Ignatius
dari Loyola dan tarekat yang didirikannya. Arah panggilan
semakin jelas.
Setelah menyelesaikan SMA, dengan mantap Rudy remaja
mengikuti Kelas Persiapan Atas (KPA) di Mertoyudan
selama setahun, sebagai persiapan sebelum masuk ke
jenjang seminari tinggi. Ketika mendaftar ke Novisiat
Serikat Jesus di Yogyakarta, ia mengalami kejadian unik.
Dirinya tidak dinyatakan diterima di Novisiat SJ, tetapi
juga tidak ditolak. Lha bagaimana ini?
Ternyata, hal itu disebabkan statusnya sebagai anak laki-
laki tertua dalam keluarga, meskipun ia anak kedua tetapi
kakaknya perempuan. Biasanya, anak laki-laki tertua
menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Maka, Rudy
remaja diminta mencerna lebih jauh tentang panggilannya
dengan menjalani masa pranovisiat selama setahun.
WARISAN 23
Pada masa pranovisiat ini, pemuda Rudy bekerja di
Percetakan Kanisius. Ia tinggal di bangunan semi
permanen milik Yayasan Sosial Soegijapranata yang
terletak di tepi Kali Winongo, Yogyakarta. Di luar waktu
bekerja di percetakan, ia menemani para tunawisma
yang tinggal bersamanya.
Masa pranovisiat berhasil dilalui. Frater Rudy melangkah
ke Novisiat St. Stanislaus di Girisonta, Ungaran. Dua tahun
kemudian, Frater Rudy melanjutkan studi filsafat selama
4 tahun di Jakarta. Di tahun terakhir studi filsafat, Frater
Rudy ditanya oleh rektornya tentang rencana tempat
menjalani Tahun Orientasi Kerasulan. Dengan mantap,
Frater Rudy mengatakan ingin melayani di Kamboja.
Permintaannya dikabulkan. Frater Rudy bergabung
dengan para imam Jesuit lain dalam wadah Jesuit Service
Cambodia di Kamboja selama dua tahun.
Melayani di Negeri Orang
“Saya mengalami sebuah titik balik – memahami panggilan
hidup ini sebagai sebuah sarana untuk memuji dan
memuliakan Tuhan, justru karena pengalaman saya
sebagai frater di Kamboja. Hal itu membuat saya mulai
menjalani panggilan dengan lebih bebas dan lebih serius,”
tutur Romo Rudy.
Frater Rudy melayani di sebuah kota kecil, Sereisophoan,
yang terletak di sisi barat laut Kamboja, dekat perbatasan
dengan Thailand. Ia bertugas mengunjungi, mendata,
24 WARISAN
dan memberi bantuan kepada warga yang menjadi
korban ranjau sisa perang saudara sekitar tahun 1970-
an. Diperkirakan masih ada sekitar 6 juta ranjau aktif
sampai sekarang. Selain menyalurkan bantuan, Frater
Rudy blusukan dari desa ke desa di kota kecil itu, memberi
semangat dan harapan kepada para korban ranjau dalam
kehidupan mereka sehari-hari.
Dari pergaulan dengan para korban ranjau, Frater
Rudy merasa doa-doa yang didaraskannya menjadi
lebih hidup dan nyata. Suatu kali, seorang pria bertubuh
besar dan berwajah sangar terkena ranjau. Frater Rudy
mengunjunginya. Dalam keadaan putus asa karena
ia harus kehilangan kakinya, pria itu hanya menangis
WARISAN 25
dan tidak mau menjawab sapaan Frater Rudy. Namun
hal itu tidak mengurangi semangat Frater Rudy untuk
rutin mengunjungi pria tersebut setiap minggu dan
mendoakannya.
26 WARISAN
Selang beberapa bulan, kondisi pria itu membaik. Ia
datang ke tempat tinggal Frater Rudy dan tersenyum.
Semangat hidupnya telah pulih. “Bagi saya, itulah senyum
yang paling indah yang pernah saya lihat di dunia,” kenang
Romo Rudy.
Akibat perang saudara di Kamboja terjadi kerusakan
infrastruktur, tingkat pendidikan rendah, dan tingkat
pengangguran tinggi. Salah satu karya Jesuit Service
Cambodia adalah mendirikan sekolah kejuruan yang
dinamai Banteay Prieb untuk membantu pemulihan
kehidupan masyarakat Kamboja pasca-perang.
Di sekolah Banteay Prieb, para korban perang ditampung
dan dibekali berbagai keahlian dan keterampilan, agar
bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka. Tak
hanya itu, sekolah Banteay Prieb juga mengumpulkan
para tentara yang cacat untuk tinggal bersama, sebagai
upaya membangun perdamaian di antara masyarakat.
Karena dikelola oleh para imam Jesuit, di setiap ruangan
di sekolah itu dipasang Salib Kristus. Suatu ketika, ada
seorang murid bertanya kepada seorang Imam Jesuit di
sana: siapa Orang yang disalib itu? Apa kesalahan-Nya?
Lalu Imam Jesuit itu menjelaskan ke murid itu bahwa
bukan karena kesalahan-Nya, Yesus disalibkan. Tuhan
ingin menjadi seperti manusia dan mengalami penderitaan
yang sama dengan manusia, supaya nanti manusia juga
bisa ikut bangkit bersama Dia.
WARISAN 27
Rupanya penjelasan Imam Jesuit tersebut berkesan bagi
murid itu. Selang beberapa waktu, murid itu membuat
pahatan Yesus di salib (corpus) dengan sebelah kaki
tidak ada karena diamputasi. “Saya percaya, kalau Tuhan
hidup di zaman ini di Kamboja, tentu Ia akan menjadi
sama seperti kami para korban ranjau,” ungkap Romo
Rudy mengulang kembali kata-kata sang murid.
Sejak itu, salib dengan corpus Yesus berkaki satu
digunakan oleh para imam Jesuit. Salah satu Imam yang
memakainya ialah Mgr. Kike Figaredo, SJ, yang saat ini
menjadi Perfektur Apostolik di Battambang, Kamboja.
Uskup Figaredo juga memberikan liontin salib itu ke Romo
Rudy yang memakainya sampai sekarang.
28 WARISAN
Romo Petualang ke Paroki
Setelah menyelesaikan Tahun
Orientasi Kerasulan di Kamboja
selama dua tahun, Frater Rudy kembali
ke Indonesia untuk melanjutkan
kuliah teologi di Yogyakarta. Pada
bulan Juli 2011, Diakon Agustinus
Rudy Chandra Wijaya, SJ, menerima
tahbisan Imamat bersama 6 Diakon
Jesuit lainnya.
Perutusan setelah tahbisan
menghantar Romo Rudy kembali ke
Kamboja. Beliau melayani di bidang
karya kerasulan sosial selama 8 tahun.
Seiring dengan penutupan sekolah
kejuruan Banteay Prieb tahun 2019,
Romo Rudy memutuskan kembali ke
Indonesia setelah berdiskusi dengan
Provinsial SJ Indonesia. Beliau lalu
memilih Paroki Duren Sawit sebagai
tempat pelayanan selanjutnya.
Selamat berkarya di Paroki kami,
Romo Rudy. (Rodney)
“Apa pun kegiatanmu, apa pun yang
kamu persiapkan, dan apa pun yang
akan kamu lakukan, jangan lupa...
bahagia.” – Romo Agustinus Rudy
Chandra Wijaya, SJ
WARISAN 29
Sorotan
Geliat Gereja
di Masa Pandemi
Sejak Maret 2020, Indonesia ini dikejutkan oleh wabah
yang menggetarkan hati manusia, yaitu wabah virus
yang dinamakan Covid-19 (Coronavirus Disease 2019).
Kondisi terasa mencekam karena persebaran virus yang
terkadang tanpa gejala dan belum ada vaksinnya.
Banyak pekerja dirumahkan, roda perekonomian seakan
berhenti berputar. Banyak pengusaha mengalami
kebangkrutan. Semua sektor terkena imbas pandemi
ini. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk
menekan penyebaran virus ini.
Hampir semua kegiatan harus dilakukan secara daring -
terhubung melalui komputer dan internet. Tak terkecuali
kegiatan belajar-mengajar dan bekerja. Ini merupakan hal
baru yang tidak pernah dilakukan pada masa sebelum
wabah Covid-19 merebak.
30 WARISAN
Sementara pandemi Covid-19 masih merajalela, bagaimana Gereja
Katolik menghadapi perubahan situasi ini? Ternyata, momen isolasi
sosial telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan menggereja.
Umat Kristiani mulai mengkaji ulang hakikat beribadah, hidup
menggereja, dan pelayanan. Ibadah tidak lagi dibatasi oleh ruang
dan penampilan. Ibadah ternyata dapat dilakukan di rumah dengan
pakaian sopan tanpa perlu merias diri dan dalam suasana lebih
informal.
Gereja bukan lagi melulu dikaitkan dengan bangunan, melainkan umat
beriman. Persekutuan bukan sekadar berkumpul bersama di tempat
yang sama dan melakukan ritual yang sama, melainkan persekutuan
lebih bertumpu pada hati. Pelayanan juga tidak lagi identik dengan
segala sesuatu yang gerejawi. Orang mulai berbondong-bondong
memikirkan pelayanan di luar tembok gereja. Kepedulian sosial
semakin kental.
WARISAN 31
Pasca-pandemi, aktivitas hidup menggereja tidak akan
sama lagi seperti sebelum terjadi pandemi. Untuk itu,
para pimpinan Gereja perlu mengantisipasi keadaan dan
mengarahkan umat. Jangan reaktif, tetapi profetik. Para
pemimpin Gereja hendaknya memahami apa yang harus
dilakukan, agar umat beriman Kristiani tetap dilayani
kebutuhan rohani dan sakramentalnya, dengan menaati
peraturan pemerintah dan protokol kesehatan yang
berlaku.
Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menilai positif himbauan
pemerintah untuk menerapkan social distancing, guna
memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Vikaris
32 WARISAN
Jenderal KAJ Romo Samuel Pangestu mengatakan, mulai 20 Maret
2020 semua kegiatan gereja yang mengumpulkan banyak orang akan
ditiadakan tanpa batas waktu, sampai ada pengumuman selanjutnya.
Gereja Katolik Paroki Duren Sawit lalu bergerak untuk mempersiapkan
pelaksanaan Perayaan Ekaristi secara daring, sesuai arahan KAJ.
Misa secara daring dilakukan dalam bentuk live streaming melalui
kanal YouTube Komsos Paroki Duren Sawit. Perayaan Ekaristi hari
Minggu secara daring mulai dilakukan pada 19 April 2020. Jadwal
Misa Minggu pukul 08.30 pagi dan Misa Jumat Pertama pukul 18.00.
Dalam masa yang sulit ini, seluruh umat beriman Kristiani didorong
untuk memperhatikan orang-orang di sekitar yang membutuhkan
bantuan. Pelaksanaan Tahun Keadilan Sosial yang merupakan
penerapan dari Sila ke-5 Pancasila, diwujudnyatakan dengan berbela
rasa kepada keluarga-keluarga prasejahtera yang terkena dampak
akibat pandemi Covid-19.
Seiring waktu berjalan, di bulan November 2020, Gereja Santa Anna
diperkenankan KAJ melaksanakan Misa secara offline, setelah
beberapa bulan mempersiapkan segala sesuatu dengan mengikuti
protokol kesehatan dari KAJ.
Umat yang dapat mengikuti Misa secara offline adalah mereka yang
berusia 18-59 tahun, dalam kondisi sehat, serta selama keberadaan
di gereja selalu mematuhi protokol kesehatan 3 M: Memakai masker,
Menjaga jarak, dan Mencuci tangan menggunakan hand sanitizer.
Umat tidak diperkenankan berkerumun di halaman gereja, sebelum
maupun setelah Misa.
3W3A RISWAANR ISA3N3
34 WARISAN
Jumlah umat yang dapat mengikuti Misa dalam gedung gereja
hanya berjumlah 200 orang. Mengingat Paroki Duren Sawit memiliki
lebih dari 11 ribu umat, maka setiap Minggu umat yang dapat
mengikuti Misa di gereja bergiliran dari beberapa Wilayah. Setelah
KAJ mengaktifkan website belarasa.id, maka setiap Paroki di KAJ
mencantumkan jadwal Misa dan membuka pendaftaran secara
online untuk keikutsertaan dalam Misa secara offline.
Umat yang akan mengikuti Misa secara offline di Parokinya, harus
mendaftarkan diri di website belarasa.id dengan menggunakan nomor
Kartu Keluarga BIDUK (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan). Baru
terasa betapa sangat penting setiap umat Katolik di KAJ terdaftar
dalam BIDUK sesuai tempat tinggalnya, sehingga dapat mengikuti
Perayaan Ekaristi di Parokinya.
Menjawab kerinduan besar umat untuk menyambut Sakramen Maha
Kudus (SMK), atas kemurahan Tuhan melalui kebijakan Bapa Uskup
Ignatius Kardinal Suharyo, sejak akhir November 2020 di beberapa
Paroki mulai diterapkan Pelayan Pembawa Komuni (PPK) – umat
dalam kondisi sehat, berusia 18-59 tahun – yang mengikuti Perayaan
Ekaristi secara offline atau online, setelahnya dapat meneruskan
Sakramen Maha Kudus dari tangan Imam atau Prodiakon kepada
anggota keluarga lain yang mengikuti Misa secara online dari rumah,
tidak dapat hadir di gereja karena tidak memenuhi syarat usia atau
lainnya.
WARISAN 35
36 WARISAN
Pandemi Covid-19 sungguh
telah mengubah tata cara hidup
menggereja. Adanya PPK yang
meneruskan SMK kepada anggota
keluarga di rumah merupakan
terobosan besar yang diberlakukan
KAJ.
Ini salah satu bukti, Gereja tak
menyerah ditimpa rintangan dan
hambatan. Dengan terang Roh
Kudus dan pemikiran kreatif, di Hari
Raya Natal ini banyak umat beriman
Kristiani – meskipun belum semua –
dapat bersatu secara Sakramental
dengan Yesus Kristus.
Tahun depan, diharapkan semakin
banyak umat beriman Kristiani
yang bisa bersatu kembali secara
Sakramental dengan Kristus dalam
Sakramen Maha Kudus. Semoga.
(Iin)
WARISAN 37
Liputan
Gereja Santa Anna
38 WARISAN
Setelah 8 bulan mengadakan Perayaan Ekaristi
secara online akibat pandemi Covid-19, Gereja
Santa Anna kembali menggelar Misa offline mulai 8
November 2020.
Misa offline perdana ini hanya diikuti oleh para
pengurus Dewan Paroki periode 2020-2023, yang
baru dibentuk sekitar sebulan sebelumnya. Perayaan
Ekaristi di gereja Santa Anna yang dimulai pukul
8.30 ini juga disiarkan secara online melalui saluran
YouTube Komsos Paroki Duren Sawit.
Pada hari-hari Minggu selanjutnya, umat Paroki Duren
Sawit dapat hadir di gereja untuk mengikuti Misa
offline, sesuai protokol kesehatan yang berlaku dan
bergiliran beberapa Wilayah.
Jumlah umat dan petugas pada setiap
Perayaan Ekaristi offline maksimal 200
orang. Untuk dapat menyelenggarakan
Misa offline, Paroki Duren Sawit
mengikuti seluruh prosedur protokol
kesehatan yang ditetapkan
Pemerintah Daerah DKI Jakarta
dan Keuskupan Agung Jakarta.
(Sasongko)
WARISAN 39
Liputan Khusus
Ajang Unjuk Talenta
ORANG MUDA Kita
40 WARISAN
Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang diperingati pada
10 November 2020, untuk pertama kali Santa Anna’s
Got Talent (SAGT) diadakan di Paroki Duren Sawit.
Acara ini bertujuan agar talenta berkreasi anak muda
di Paroki Duren Sawit benar-benar dapat tergali dan
tersalurkan.
WARISAN 41
Berkenaan dengan kondisi
pandemi saat ini, SAGT
diadakan secara daring. Acara
ini diselenggarakan oleh Seksi
Panggilan yang berkolaborasi
dengan seksi lain di Bidang
Persekutuan Paroki Duren Sawit.
Terseleksilah 20 video dari peserta
dengan rentang usia antara 12 tahun
sampai dengan 30 tahun, yang kemudian
ditayangkan secara bergantian dalam proses
penjurian.
Dalam tahap pertama, ditayangkan lima video
kreasi Benedicta Kania, Nathalia Farrenna, Fransisca
Anggraini, Ignasia Renata, dan Aguang. Sebagai juri
SAGT adalah Frater Bondika Widya Putra dan Frater Tino
Dwi Prasetyo – keduanya Frater Diosesan KAJ, serta
Suster Paskalia, ADM. Selain itu, Rocky Pascadena dan
Madeline tampil sebagai pembawa acara, menjadikan
acara berlangsung menarik dan meriah.
Dalam sambutannya Bapak Nikodemus Gandhi
selaku Ketua Bidang Persekutuan Paroki Duren
Sawit mengajak umat Paroki Duren Sawit yang
berkehendak positif dan ingin maju, dapat bergabung
dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan di Paroki.
WARISAN 43
Sementara Bapak Michael Da Lopez selaku Ketua Seksi
Panggilan yang berada di bawah Bidang Persekutuan,
mengemukakan rencana menggelar SAGT setiap dua
bulan sekali. Di samping itu, juga akan diadakan pertemuan
dua bulan sekali untuk para keluarga terpanggil, yaitu
keluarga yang putra/putrinya menjadi imam, bruder, suster,
atau sedang menempuh pendidikan menjadi imam, bruder,
suster.
Selanjutnya, ditayangkan lima video terpilih untuk tahap
kedua dari Marselita, Kathleen, Gracia, Bernardus Bintang,
dan Ernesto Milan. Setelah sesi video, tampil Romo
Romanus Heri Santoso, Pr, Direktur Tahun Orientasi
Rohani di Wisma Puruhita. Romo Romanus mengisahkan
perjalanan panggilan beliau sebagai Imam Diosesan KAJ.
Romo Romanus mengaku, semula beliau tidak bercita-
cita menjadi imam, kemudian dalam proses saat menjadi
frater mulai tumbuh keyakinan untuk menjadi imam. Romo
Romanus dengan suara merdu melantunkan dua lagu
berjudul “Damai Bersamamu” dan “Tuhan Pasti Sanggup”
untuk para pemirsa SAGT.
Pada kesempatan itu juga, Romo Romanus mengadakan
kuis. Bagi tiga orang yang berhasil menjawab dengan
benar akan mendapatkan hadiah buku karya Romo
Romanus sendiri. “Seandainya ada sekecil apa pun
tanda dari Tuhan, jangan abaikan... karena mungkin itu
merupakan panggilan dari Tuhan untuk menjadi imam,”
pesan Romo Romanus.
44 WARISAN
Lima video yang ditayangkan
pada tahap ketiga merupakan
kreasi dari Natania Stefan, Isabella
Candy, Benedicta Eurasia, Rachel
Marcelin. Menurut Frater Tino, teman-
teman muda para peserta SAGT telah
menampilkan kualitas yang terbaik,
menunjukkan segenap talenta mereka.
Pada tahap keempat, ditayangkan video
dari peserta SAGT Madeline Manurung,
Bernadetha Diyah, Maria Jeanne, Ignatia Lintang,
dan Longinus Maurizio.
Masih ada yang menarik, Orang Muda Katolik (OMK)
para pemirsa acara SAGT diberi kesempatan mengirimkan
video atau foto sebagai bukti telah menyaksikan acara
SAGT. Video atau foto paling unik dengan tema kepahlawanan
yang diterima panitia akan diberi hadiah.
Di akhir acara, diumumkan para pemenang SAGT, yaitu:
Juara1: Ignasia Renata
Juara2: Nathalia Farrenina
Juara3: Isabella Candy
Pemirsa yang fotonya paling unik: Glenn Tarantini yang
tampil sebagai Tuanku Imam Bonjol
Selamat ya…, luar biasa kalian semua. (Theresia S. Hwd)
46 WARISAN
WARISAN 47
Artikel Lepas
Api Penyucian –
Surga yang Tertunda
Bidang Pewartaan Paroki Duren Sawit yang meliputi Seksi
Kerasulan Kitab Suci, Seksi Katekese, Seksi Mistagogi,
dan Seksi Komsos menyelenggarakan webinar bertajuk Api
Penyucian dengan nara sumber Romo Carolus Putranto, Pr,
pada awal November lalu. Berikut pemaparan yang disarikan
dari makalah Romo Carolus pada webinar tersebut, diharapkan
membuat kita memiliki pemahaman yang benar tentang Api
Penyucian.
Di dalam tema “Api Penyucian – Surga yang Tertunda” dapat
ditemukan dua suasana, yaitu api penyucian dan surga, serta
satu keterangan waktu, yaitu tertunda. Unsur-unsur tema ini
ingin mengungkapkan beberapa hal. Api Penyucian tak dapat
dibicarakan tersendiri, melainkan perlu dikaitkan dengan salah
satu dari dua kemungkinan yang langsung dialami manusia
ketika peziarahan hidupnya di dunia selesai: mengalami ‘visio
beatifica,’ yaitu bertatapan langsung dengan Allah (surga);
atau mengalami perpecahan abadi dengan dirinya, sesama,
semesta, dan Allah Pencipta (neraka).
48 WARISAN
Api Penyucian adalah situasi pra-
surgawi yang bertolak belakang
dengan situasi ‘hukuman api
abadi’ atau neraka. Surga dan
neraka pertama-tama bukanlah
masalah tempat. Keduanya
lebih menyangkut situasi final
dan definitif setiap manusia
setelah mengalami kematian.
Yang menarik adalah situasi
surga dan neraka ternyata
masih terikat pada konsep
waktu.
Kematian menurut Pandangan
Kristen
Berbicara tentangApi Penyucian
berarti berbicara tentang nasib
manusia sesudah kematian.
Diyakini bahwa hidup tidak
selesai dengan kematian, tetapi
ada bagian dari manusia yang
terus ‘eksis’ setelah kematian.
Kematian itu antara ada dan
tiada. Kematian dapat dipahami
sebagai satu kenyataan dengan
dua sisi. Sisi pertama adalah
sisi suram. Kesedihan dan
WARISAN 49
50 WARISAN