ketakutan akan kematian mendapat tempat dalam hidup Kristen.
Mengapa? Sebab kematian memang kenyataan yang semestinya
tidak terjadi, jika saja manusia tidak berdosa. Kematian adalah
kenyataan yang berlawanan dengan kehendak Allah (Kebijaksanaan
1:13-14; 2:23-24).
Kematian harus diterima oleh pengikut Yesus dengan sikap sesal,
sebab upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Dengan demikian,
maut adalah pintu untuk bersekutu dengan Kristus. Penderitaan
dan penyakit dapat diterima dengan cara baru pula.
Keduanya dapat diterima sebagai partisipasi kita pada sengsara
Kristus, sehingga kita dapat melengkapi apa yang kurang dalam
penderitaan Kristus demi tubuh-Nya, yaitu Gereja (Kolose 1:24).
Dengan menjalani hidup yang kudus, seseorang dapat memutus
mata rantai maut dan dosa, karena sekarang maut menjadi pintu
menuju hidup abadi. Inilah yang disebut mati dalam Tuhan.
Sheol, Surga, dan Api Penyucian
Apa yang terjadi dengan saudara-saudari kita yang sudah meninggal,
sementara parousia (kedatangan Kristus yang kedua) belum
terjadi? Inilah yang menjadi permasalahan umat Tesalonika. Dalam
suratnya, St. Paulus mencoba membantu memecahkan masalah itu
dengan mengatakan bahwa mereka yang wafat dalam Tuhan akan
dibangkitkan (1Tesalonika 4:16).
5W1A RISWAANR ISA5N1
Tradisi Yahudi mengenal istilah sheol. Awalnya, sheol dipahami
sebagai tempat jiwa-jiwa yang sudah wafat, letaknya di bawah bumi
(mirip Hades dalam mitologi Yunani). Oleh karena itu, kita mengenal
istilah turun ke dunia orang mati (Kejadian 37:35). Mereka yang
tinggal di sheol disebut refaim. Sekarang sheol dipandang memiliki
dua tingkat: satu untuk jiwa-jiwa yang terkutuk dan satunya untuk
jiwa-jiwa yang diberkati (Lukas 16:19-31). Dengan demikian, keadaan
di sheol adalah keadaan transisi antara sesudah kematian dan
datangnya parousia.
Surga adalah keadaan di mana jiwa-jiwa para kudus bersekutu dengan
Tuhan sebelum mereka menerima tubuh yang sudah ditransformasi
pada saat kedatangan Tuhan dalam kemuliaan-Nya nanti. Inilah
kehidupan sempurna bersama Allah Tritunggal, Perawan Maria, para
kudus dan malaikat. Inilah pemenuhan kerinduan manusia yang
paling dalam. Hidup dalam situasi surgawi adalah hidup bersama
52 WARISAN
Kristus (Katekismus Gereja Katolik 1024-1025). Para murid Kristus
berhimpun sebagai saudara dengan Kristus sebagai pengikatnya.
Persekutuan ini akan mencapai puncaknya pada akhir zaman (akhir
waktu), ketika semua orang akan memperoleh kepenuhan, jiwa dan
raga kembali bersatu. Raga yang sekarang dihidupi tak lagi oleh
kehendak manusiawi tetapi sepenuhnya oleh Roh.
Tetapi, ada juga mereka yang perlu melewati pemurnian lebih dulu
sebelum mengalami ‘visio beatifica.’ Masa pemurnian inilah yang
disebut masa purgatorium atau Api Penyucian. Api Penyucian bukan
tempat, melainkan proses dan situasi penantian.
Gereja meyakini bahwa mereka yang belum dimurnikan melalui
penitensi di dunia ini, masih memiliki kesempatan untuk menjalani
tahap pemurnian sesudah kematian; mengingat sesudah kematian
jiwa-jiwa tidak langsung berhadapan dengan pengadilan akhir, tetapi
WARISAN 53
dengan masa transisi sebelum parousia. Tahap pemurnian ini dibantu
oleh mereka yang masih hidup di dunia melalui doa-doa mereka,
mengikuti apa yang terdapat dalam kitab Makabe (Makabe 12:46).
Mendoakan Jiwa-jiwa
Mendoakan jiwa-jiwa dan upacara pemakaman adalah bukti keyakinan
akan keberadaan fase pemurnian di alam baka. Sangat indahlah
sebuah doa dari liturgi Timur ini: “Biarpun aku terluka ya Tuhan, aku
tetap gambaran dan citra-Mu.”
Praktik berdoa menjadi penting, sebab apa yang didoakan
menampakkan apa yang diyakini. Maka, keyakinan akan kehidupan
sesudah kematian tampak jelas dalam praktik doa dan liturgi Gereja.
Dalam liturgi untuk orang yang sudah meninggal, pusatnya adalah
wafat dan kebangkitan Kristus yang mewahyukan adanya kebangkitan
badan di akhir zaman dan nasib semua orang yang percaya kepada-
Nya. Karena kebangkitan badan baru terjadi di akhir zaman, maka
doa-doa bagi jiwa-jiwa yang sudah meninggal tetap diperlukan dan
dipraktikkan Gereja. Beberapa praktik perlakuan terhadap jenazah
pun mendapat perhatian. Misalnya, dulu Gereja melarang kremasi.
Alasannya: di balik praktik kremasi, terkandung antropologi yang
tidak sesuai dengan ajaran Gereja, yaitu memandang tubuh sebagai
penjara bagi jiwa. Sekarang, praktik kremasi diizinkan sejauh tidak
mengungkapkan dualisme keyakinan itu.
Kesimpulan
Keyakinan akan kehidupan sesudah mati, juga akan Api Penyucian,
datang bukan pertama-tama dari dokumen Gereja melainkan dari
praktik umat beriman, khususnya dalam liturgi dan doa-doa bagi
jiwa-jiwa. Praktik ini sudah muncul sejak lahirnya Gereja, seperti
masih kita temukan jejaknya dalam doa pada Perayaan Ekaristi
(lihat Doa Syukur Agung II). Gereja meyakini kebenaran ini sebagai
perwahyuan dan bukan hasil spekulasi teologis manusia belaka. (Iin)
54 WARISAN
WARISAN 55
Kawula Muda
Anak BIA yang
Jadi Pembina BIA
Anastasia Yulia Heryani
56 WARISAN
Sosoknya kecil mungil, panggilannya Tasia. Tetapi,
bukan lantaran tubuh kecilnya, ia aktif terlibat sebagai
pembina Bina Iman Anak (BIA) di Stasi Santo Yoakhim.
Gadis kelahiran Jakarta 25 tahun silam ini mengaku,
“Bawaannya senang terus, kalau dekat dengan anak-
anak.”
Ketika masih kecil, Tasia aktif sebagai anak BIA. Tahun
2006, ia mengawali pelayanan sebagai pembina BIA.
Kecintaan pada anak-anak membuat putri sulung
pasangan Benedictus Dwi Haryanto dan Ida Yuniyati ini
memutuskan berkarier sebagai guru Taman Kanak-Kanak.
Setiap hari Minggu, Tasia bersama beberapa pembina
BIA lain mengasuh sekitar 50 anak dengan rentang usia
4-12 tahun. Dengan adanya komunitas BIA, kebutuhan
pembinaan iman anak-anak bisa terpenuhi. Anak-
anak dapat memiliki pengetahuan akan iman Katolik
sedini mungkin, di samping mereka bisa berbaur dan
menumbuhkan rasa toleransi.
“Kami tidak hanya berusaha melibatkan anak-anak
dalam pelayanan di gereja, tetapi juga pelayanan kepada
masyarakat sekitar. Beberapa kali BIA Santo Yoakhim
melakukan kunjungan ke panti asuhan, panti werdha.
Selain itu, kami mengajak anak-anak berbagi kasih kepada
5W7A RISWAANR ISA5N7
orang-orang di dekat mereka yang membutuhkan seperti
petugas kebersihan, satpam, tukang parkir,” ujar Tasia
yang tengah merampungkan studi S1 Pendidikan Guru
PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
Sejak terjadi pandemi Covid-19, kegiatan BIA Santo
Yoakhim yang biasa diselenggarakan seusai Perayaan
Ekaristi pagi di Stasi Santo Yoakhim, sempat terhenti
beberapa waktu. “Lalu kami mencoba mengadakan
pertemuan BIA dengan menggunakan sarana zoom
berdurasi 40 menit, termasuk merayakan Paskah lewat
zoom. Setelah itu kembali tidak ada pertemuan BIA,”
kenang Tasia.
Memasuki bulan September yang merupakan Bulan
Kitab Suci Nasional (BKSN), semangat para pembina
BIA kembali berkobar. “Awalnya kami hanya coba-coba
mengadakan pertemuan BKSN. Pesertanya masih sedikit.
Tetapi mulai minggu ke-2 sampai sekarang, puji Tuhan...
banyak anak yang ikut bergabung dan bukan hanya
dari BIA Santo Yoakhim,” cerita Tasia penuh semangat.
Apalagi berkat dukungan fasilitas Zoom Premium dari
salah satu umat di Lingkungan Petrus Wilayah Malaka
Sari I, pertemuan BIA virtual dapat berlangsung 1 jam
tanpa terputus koneksinya.
58 WARISAN
Setiap minggu, bukan hanya para pembina yang menghiasi
layar BIA virtual. Ada Romo, Suster ADM, Suster CB,
Frater,Putra Altar Santo Yoakhim, organis yang bergantian
memeriahkan pertemuan BIA Santo Yoakhim. Menyadari
yang dibina di BIA adalah anak-anak milenial, komunitas
BIA Santo Yoakhim kini memiliki kanal YouTube Bina
Iman Anak St. Yoakhim dan IG @biastyoakhim.
W59A RISWAANR ISA5N9
“Melalui berbagai kegiatan di BIA, kami berusaha
memperkenalkan kepada anak-anak tentang kasih
Yesus, budi pekerti yang baik, kecintaan pada Kitab Suci,
termasuk mengamalkan nilai-nilai yang baik sejak dini.
Anak-anak perlu mengucap syukur kepada Tuhan atas
segala hal yang telah diberikan Tuhan seperti orang tua
dan keluarga yang baik, anggota tubuh yang lengkap,
prestasi yang baik di sekolah, banyak teman serta hadiah-
hadiah yang mereka terima.
60 WARISAN
Di samping itu, kami juga mengajarkan anak-anak bahwa
kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara yang
berbeda keyakinan, tetapi kita tetap harus bisa saling
menghormati dan membantu sesama,” tutur Tasia.
Ditanya tentang Firman Tuhan yang menjadi kekuatannya
dalam melayani sebagai pembina BIA, Tasia merujuk pada
perkataan Tuhan Yesus di Injil Matius 19:14. “Biarkanlah
anak-anak itu, jangan menghalang-halangi mereka datang
kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang
empunya Kerajaan Sorga.”
Semangat terus, Tasia... Orang Muda Katolik yang
terpanggil memajukan komunitas BIA. (Nina)
WARISAN 61
Mengenal Lebih Dekat
Komunitas Tritunggal
Mahakudus
“ Hidup Kristiani Seturut
Misteri Tritunggal ”
Komunitas Tritunggal Maha Kudus (KTM) kini hadir
di Paroki Duren Sawit sebagai salah satu Komunitas
Kategorial. Di lingkup Keuskupan Agung Jakarta, KTM
tergabung dalam Pertemuan Mitra Kategorial (Pemikat).
KTM merupakan komunitas awam yang berusaha
menghayati hidup Kristen sejati berdasarkan misteri
agung cinta Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus; serta
bersama-sama ingin mencapai tujuan hidup Kristiani dan
berkembang secara maksimal.
62 WARISAN
KTM didirikan pada 11 Januari 1987 di Ngadireso, Malang,
Jawa Timur oleh Romo Yohanes Indrakusuma, CSE.
Beliau juga mendirikan kongregasi Serikat Putri Karmel
dan kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE).
Spiritualitas KTM bersumber pada pembaruan hidup dalam
Roh, di mana dalam hidup dan karyanya KTM secara
nyata mengandalkan kuasa dan bimbingan Roh Kudus.
Selain itu, KTM bernaung di bawah perlindungan Bunda
Maria yang merupakan teladan iman dan kerendahan
hati; serta Nabi Elia sebagai insan Allah yang senantiasa
hidup di hadirat Tuhan dan segala kegiatannya didorong
oleh kehendak Allah.
W63A RISWAANR ISA6N3
64 WARISAN
Adapun visi dan misi KTM dapat dirumuskan
sebagai berikut: “dalam kuasa Roh Kudus
mengalami dan menghayati sendiri kehadiran
Allah yang penuh kasih dan menyelamatkan
sampai pada persatuan cinta kasih, serta
membawa orang lain kepada pengalaman
yang sama.”
KTM merupakan komunitas sel – suatu
kelompok kecil yang mempunyai jalinan
persahabatan erat di antara anggotanya,
selalu berkembang dalam evangelisasi,
pelayanan, pemuridan, dan pembinaan
anggota-anggotanya. Tekanan utama dalam
sel adalah hubungan antar pribadi, baik
dengan Allah maupun dengan sesama.
Komunitas sel ini mengadakan pertemuan
sel minimal dua minggu sekali, idealnya
seminggu sekali. Pertemuan ini menjadi
tempat bagi para anggota untuk saling
menguatkan melalui puji-pujian, doa,
pengajaran, dan sharing.
Selain mengadakan pembinaan untuk
para anggotanya, KTM juga melakukan
pelayanan aktif antara lain pelayanan rohani
yang meliputi Adorasi, doa, dan pendalaman
Alkitab; evangelisasi yang mencakup
kerasulan keluarga, pembinaan generasi
muda; pelayanan sosial dan karitatif.
WARISAN 65
Di samping itu, ada pelayanan kontemplatif untuk
mendoakan saudara-saudara KTM yang melakukan
pelayanan aktif. Setiap anggota KTM melakukan
pelayanan sesuai panggilan dan karunia masing-masing.
KTM di Paroki Duren Sawit termasuk dalam Distrik 5
Jakarta yang meliputi Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan
Jakarta Utara. Selama masa pandemi Covid-19, kegiatan
rutin KTM mencakup Pertemuan Sel Online setiap 2
minggu sekali dan Belajar Kitab Suci Bersama setiap
hari (pagi jam 11.00-13.00 dan malam jam 20.00-22.00).
Bagi umat Paroki Duren Sawit yang ingin bergabung dalam
Komunitas Tritunggal Mahakudus, dapat menghubungi
Ibu Lily, Koordinator KTM Paroki Duren Sawit, di
nomor hp/wa 0818-787-514.
66 WARISAN
Komunitas Tritunggal Mahakudus
harus menjadi tanda bagi
nilai-nilai yang mengatasi dunia,
tanda pengharapan bagi yang putus asa,
tanda penghiburan bagi
yang berduka dan menderita,
serta penuntun pada perjumpaan
dengan Allah yang hidup.
vivit dominus in cuius conspectu sto
(Allah hidup dan aku berdiri di hadirat-Nya)
WARISAN 67
Artikel Lepas
2021
Tahun Santo Yosef
Dengan Surat Apostolik “Patris corde” (“Dengan Hati Seorang Bapa”),
Paus Fransiskus memperingati 150 tahun deklarasi Santo Yosef
sebagai Pelindung Gereja Semesta oleh Beato Paus Pius IX. Untuk
memperingati peristiwa tersebut, Bapa Suci telah mencanangkan
“Tahun Santo Yosef” mulai 8 Desember 2020 hingga 8 Desember
2021.
Dalam surat apostoliknya tersebut, Paus Fransiskus menggambarkan
Santo Yosef sebagai bapa yang terkasih, bapa yang lembut dan
penuh kasih, bapa yang patuh, bapa yang menerima; bapa yang
secara kreatif pemberani, bapa yang sedang bekerja, bapa dalam
bayang-bayang.
Bapa Suci menulis “Patris corde” dengan latar belakang pandemi
Covid-19, yang, dikatakannya, telah membantu kita melihat lebih
jelas pentingnya orang-orang “biasa” yang, meski jauh dari pusat
perhatian, tetap sabar dan menawarkan harapan setiap hari. Dalam
hal ini, mereka menyerupai Santo Yosef – orang yang kehadirannya
sehari-hari tidak diperhatikan, tetapi bijaksana dan tersembunyi,
serta memainkan peran tak tertandingi dalam sejarah keselamatan.
68 WARISAN
Santo Yosef, pada kenyataannya, “secara nyata mengungkapkan
kebapaannya” dengan mempersembahkan dirinya dalam kasih,
“kasih yang ditempatkan untuk melayani Mesias yang tumbuh hingga
dewasa di rumahnya,” tulis Paus Fransiskus, mengutip pendahulunya,
Santo Paulus VI.
Santo Yosef juga seorang bapa dalam ketaatan kepada Allah :
dengan ‘ya’-nya ia melindungi Maria dan Yesus serta mengajarkan
Putra-Nya untuk melakukan kehendak Bapa. Dipanggil oleh Tuhan
untuk melayani perutusan Yesus, Santo Yosef bekerja sama… dalam
misteri agung Penebusan, seperti yang dikatakan Santo Yohanes
Paulus II.
W69A RISWAANR ISA6N9
70 WARISAN
Pada saat yang sama, Santo Yosef adalah bapa yang menerima.
Ia menerima Maria tanpa syarat – sebuah isyarat penting bahkan
hingga hari ini, kata Paus Fransiskus, “di dunia kita di mana kekerasan
psikologis, verbal dan fisik terhadap perempuan begitu nyata.”
Tetapi sang mempelai Maria tersebut juga adalah orang yang, dengan
percaya kepada Tuhan, menerima dalam hidupnya peristiwa-peristiwa
yang tidak ia pahami, mengesampingkan gagasan-gagasannya, dan
mendamaikan dirinya.
Jalan spiritual Santo Yosef bukan jalan yang menjelaskan, tetapi
jalan menerima – tidak berarti bahwa ia “pasrah.” Sebaliknya, ia
berani, tegas, dan proaktif, karena dengan karunia ketabahan Roh
Kudus dan penuh harapan, ia mampu menerima hidup apa adanya,
dengan segenap pertentangan, frustrasi, dan kekecewaan.
Dalam praktiknya, melalui Santo Yosef, seolah-olah Allah mengulangi
kepada kita: “Jangan takut!” karena iman memberi makna pada
setiap peristiwa, entah gembira maupun sedih, dan membuat kita
sadar bahwa Allah dapat membuat bunga bermunculan dari tanah
berbatu. Santo Yosef tidak mencari jalan pintas, tetapi menghadapi
kenyataan dengan mata terbuka dan secara pribadi bertanggung
jawab terhadap kenyataan tersebut. Karena alasan ini, ia mendorong
kita untuk menerima dan menyambut orang lain apa adanya, tanpa
kecuali, dan menunjukkan perhatian khusus kepada orang-orang
yang lemah.
WARISAN 71
Patris corde menyoroti “keberanian kreatif” Santo Yosef, yang muncul
terutama dalam cara kita menghadapi kesulitan. “Sang tukang kayu
dari Nazareth,” jelas Paus Fransiskus, “mampu mengubah masalah
menjadi kemungkinan dengan percaya akan pemeliharaan ilahi.”
Ia harus menghadapi masalah nyata yang dihadapi keluarganya,
masalah yang dihadapi oleh keluarga lain di dunia, dan terutama
para migran.
Sebagai seorang tukang kayu yang mencari nafkah dengan jujur
untuk menafkahi keluarganya, Santo Yosef juga mengajari kita
nilai, martabat, dan kegembiraan dari apa artinya makan roti yang
merupakan buah dari kerja kerasnya sendiri.
72 WARISAN
Bapa Suci mengatakan, “Bekerja adalah sarana untuk
ambil bagian dalam karya keselamatan, kesempatan untuk
mempercepat kedatangan Kerajaan Allah, mengembangkan
talenta dan kemampuan kita, serta menempatkannya dalam
pelayanan masyarakat dan persekutuan persaudaraan.”
Paus Fransiskus mendorong setiap orang untuk menemukan
kembali nilai, pentingnya, dan perlunya pekerjaan untuk
mewujudkan ‘kenormalan’ baru di mana tak seorang
pun dikecualikan. Terutama mengingat meningkatnya
pengangguran karena pandemi Covid-19, Paus Fransiskus
meminta semua orang untuk “meninjau prioritas kita” dan
mengungkapkan keyakinan teguh kita bahwa tidak ada orang
muda, tidak ada orang, tidak ada keluarga tanpa pekerjaan!”
Mengacu pada The Shadow of the Father – sebuah buku
karya penulis Polandia Jan Dobraczyński – Paus Fransiskus
menggambarkan kebapaan Santo Yosef terhadap Yesus
WARISAN 73
sebagai “bayang-bayang duniawi dari Bapa surgawi”. Menurut Paus
Fransiskus, “Seorang laki-laki tidak menjadi seorang bapa hanya
dengan membawa seorang anak ke dunia, tetapi dengan bertanggung
jawab untuk merawat anak itu.”
Sayangnya, dalam masyarakat saat ini, anak-anak sering kali tampak
seperti yatim piatu, tidak memiliki bapa yang mampu memperkenalkan
mereka pada kehidupan dan kenyataan. Anak-anak, kata Paus
Fransiskus, membutuhkan bapa yang tidak akan mencoba menguasai
mereka, tetapi membesarkan mereka agar mampu memutuskan
sendiri, menikmati kebebasan, dan menjelajahi kemungkinan baru.
Inilah pengertian di mana Santo Yosef digambarkan sebagai bapa
yang paling tulus, berlawanan dengan sifat posesif yang menguasai.
“Santo Yosef tahu bagaimana mengasihi dengan kebebasan yang
luar biasa. Ia tidak pernah menjadikan dirinya pusat dari segala hal.
Ia tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi berfokus pada kehidupan
Maria dan Yesus,” tulis Paus Fransiskus.
Di dalam diri Santo Yosef, kita tidak pernah melihat frustrasi, tetapi
kepercayaan semata. Keheningannya yang sabar adalah awal dari
ungkapan kepercayaan yang nyata. Oleh karena itu, Santo Yosef
menonjol sebagai sosok teladan untuk zaman kita, di dunia yang
membutuhkan “bapa,” bukan “penguasa lalim.”
74 WARISAN
WARISAN 75
Bapa sejati menghormati kebebasan anak-anaknya. Dalam pengertian
ini, seorang bapa menyadari bahwa ia sungguh bapa dan pendidik,
pada saat ia menjadi ‘tidak berguna’ – ketika ia melihat anaknya
telah mandiri dan dapat menjalani kehidupan tanpa pendamping.
Dalam suratnya, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa setiap
hari, selama lebih dari empat puluh tahun, setelah doa pagi, beliau
mendaraskan doa kepada Santo Yosef yang diambil dari buku doa
Prancis abad ke-19 dari Kongregasi Suster-suster Yesus dan Maria.
Kata penutup dari doa itu berbunyi: “bapaku yang terkasih, segenap
kepercayaanku ada padamu. Jangan biarkan aku memanggil engkau
dengan sia-sia, karena engkau dapat melakukan segalanya bersama
Yesus dan Maria, tunjukkan kepadaku bahwa kebaikanmu sebesar
kekuatanmu.”
Dikutip dari: https://www.dokpenkwi.org/2020/12/09/paus-fransiskus-
mencanangkan-tahun-santo-yosef/
76 WARISAN
Doa kepada Santo Yosef
Salam, Penjaga Sang Penebus,
Mempelai Santa Perawan Maria.
Kepadamu Allah mempercayakan Putra-Nya
yang tunggal;
di dalam dirimu Maria menaruh
kepercayaannya;
bersamamu Kristus menjadi manusia.
Santo Yosef, kepada kami juga,
perlihatkan dirimu seorang bapa
dan bimbing kami di jalan kehidupan.
Perolehkan bagi kami rahmat, belas kasih,
dan keberanian,
serta lindungi kami dari setiap kejahatan.
Amin.
Paus Fransiskus