The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by m.rhezariz, 2021-01-16 05:44:13

BUKU AJAR PP KOTA

BUKU AJAR PP KOTA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Definisi Kota

Kota merupakan salah satu tempat kehidupan manusia yang dapat dikatakan
paling kompleks, karena perkembangannya dipengaruhi oleh aktivitas pengguna
perkotaan yang menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan tuntutan hidup.
Kota sebagai suatu proses yang dapat dilihat hasilnya dan perkembangannya lebih
menonjol dibandingkan dengan kawasan luar kota, serta berkecenderungan lebih
menekankan pada segi ekonomi, oleh karena itu kota dianggap sebagai hasil
rekayasa manusia untuk memenuhi kehidupan ekonomi penggunannya.

Kota juga mempengaruhi kehiupan di segala bidang, yang berdampak pada
timbulnya masalah-masalah yang semakin kompleks, sehingga memerlukan
berbagai pemecahannya. Kota sebagai suatu resolusi (pemecahan) problem-
problem perencanaan yang berkenaan dengan perpecahan profesional, dan kota
sebagai pengalaman yang koheren, yang berkenaan dengan perpecahan formal.

Kota merupakan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia yang paling rumit
sepanjang peradaban. Kota bisa diartikan sebagai tempat yang padat dan dihuni
oleh orang-orang yang heterogen (beraneka ragam). Pengertian kota secara umum
adalah tempat bermukim, bekerja, dan kegiatan warga kota baik itu dalam bidang
ekonomi, sosail, pemerintahan, dll. Para ahli memberikan pengertian kota sesuai
dengan sudut pandang keilmuannya masing-masing. Berikut adalah beberapa
pengertian kota menurut para ahli :
 Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat memenuhi sebagian besar

kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Ciri kota adalah adanya pasar sebagai
benteng serta mempunyai sistem hukum tersendiri dan bersifat kosmopolitan.
(Max Weber)
 Kota adalah permukiman yang relatif besar, padat, dan permanen, dihuni oleh
orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. (Louis Wirth)
 Kota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai
batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan, serta permukiman

1

yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. (Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987, pasal 1)
 Sebuah permukiman dapat dirumuskan sebagai sebuah kota bukan dari segi ciri-
ciri morfologis tertentu, atau bahkan kumpulan ciri-cirinya, melainkan dari segi
fungsi khusus, yaitu menyusun sebuah wilayah dan menciptakan ruang-ruang
efektif melalui pengorganisasian sebuah daerah pedalaman yang lebih besar
berdasarkan hiraki-hirarki tertentu. (Amos Rapoport), disamping itu Amos
Rapoport juga member klasifikasi kota sebegai berikut :Sepuluh kriteria untuk
merumuskan kota:

o Ukuran dan jumlah penduduk
o sifatnya permanen
o kepadatan maksimum
o struktur dan tata ruang nyata
o tempat tinggal dan kerja
o memiliki sejumlah fungsi
o heterogenitas dan diferensiasi bersifat hierarkis
o pusat ekonomi bagi wilayah sekitar
o pusat pelayanan (servis) bagi daerah sekitar
o difusi dan penyebaran kehidupan.

Pertumbuhan sebuah kota tidak selalu diawali dengan dari adanya desa, kota
tumbuh karena adanya kepentingan yang sama antara penduduk yang dating dari
berbagai tempat yang mempunyai kepentingan untuk menjual jasa dan barang yang
mereka miliki dan membeli jsa serta barang yang tidak dapat mereka hasilkan.

Fungsi saling membutuhkan dan saling tergantung inilah yang menjadi pemicu
pertumbuhan, perluasan dan penguatan fungsi perkotaan. Ciri kehidupan kota pada
umumnya ditandai oleh adanya dominasi sector sekunder (industry) dan tersier (jasa
perdagangan) yang berperan besar dalam kehidupan ekonomi dan ditandai dengan
jumlah penduduk yang meningkat tajam akibat dari urbanisasi, sehingga susunan
social penduduknya sangat heterogen.

2

Dari fungsinya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yakni fungsi internal dan fungsi
eksternal, dengan pengertian sebagai berikut :
Fungsi kota secara internal (sekunder) yaitu :
a. sebagai kegiatan kehidupan dalam wadah kehidupan social budaya penduduk

setempat, seperti kawsan permukiman dan sarananya.
b. sebagai wadah kegiatan ekonomi local, mendukung rumah tangga penduduk.
c. sebagai satuan fisik, infastruktur local
d. sebagai wadah politik dan administrasi pemerintahan
Fungsi kota secara eksternal (primer) adalah :
a. pusat interaksi dan wadah kegiatan social budaya bagi penduduk lebih luas.
b. pusat dan wadah kegiatan ekonomi ekspor sehingga mempengaruhi manajemen

transaksi industry antara lain produksi barang, produksi jasa, koleksi dan
distribusi untuk wilayah luas
c. sebagai simpul komunikasi yang lebih lengkap dan cepat dengan jangkauan
yang lebih luas
d. sebagai satuan fisik infastruktural terkait dengan jaringan wilayah luas
e. Pusat politik dan administrasi pemerintahan untuk kepentingan tingkat wilayah
yang lebih luas.
(Mulyandari,Hestin,2011)

Kota secara fisik terdiri atas tiga tingkatan, yaitu bangunan-bangunan dan
kegiataannya yang berada diatas atau dekat dengan muka tanah, instalasi-instalasi
dibawah tanah dan kegiatan-kegiatan didalam ruangan.
Dalam pengertian lebih umum kota adalah tempat yang mempunyai prasarana kota,
yaitu bangunan yang besar, bangunan perkantoran, jala-jalan yang lebar, pasar,
beserta pertokoan, jaringan listrik, jaringan pipa air minum dan utilitas kota lainnya.

Dari pembahasan diatas maka dapat dikatakan bahwa dalam Arsitektur Kota
dipakai 2 (dua) pendekatan dasar yakni sebagai kumpulan berbagai bangunan dan
artefak serta tempat untuk berhungan sosial. dimana para ahli menyepakati
kesamaan sudut pandang bahwa Arsitektur kota menekankan pada aspek-aspek
kota secara fisik dengan memperhatikan hubungan antara ruang dan massa
perkotaan serta bentuk dan polanya.

3

2. Pendekatan Perencanaan Kota

Definisi umum dari perencanaan adalah interpertasi atau penjabaran gagasan
atau ide ke bentuk wujud nyata (John Friedmann), menurut Catanese perencanaan
merupakan suatu aktivitas universal manusia, suatu keahlian dasar dalam
kehidupan yang berkaitan dengan pertimbangan suatu hasil sebelum diadakan
pemilihan di antara berbagai alternatif yang ada..

Perencanaan kota merupakan salah satu kegiatan perencanaan dan desain
dari ruang kota dan aktivitasnya, perencanaan kota meliputi rencana masa kini dan
masa depan sehingga dapat dikatakan bahwa perencanaan kota merupakan induk
dari semua perencanaan di perkotaan, Perbedaan antara perencanaan kota dengan
perancangan kota maupun dengan arsitektur adalah dari besarnya lingkup area
yang direncanakan. Arsitektur hanya mendesain bagian dari gedung dan sekitarnya
saja, perancangan kotabekerja pada skala yang lebih besar, yakni bagian dari kota.
Sedang perencanaan kota meliputi keseluruhan dari kota itu sendiri bahkan hingga
diluar area kota, misalnya bagaimana sistem transportasi sebuah kota berhubungan
dengan kota disekitarnya.

Perencanaan kota (urban planning) menangani lingkungan binaan (built
environment) dalam lingkup kota (makro), untuk melaksanakan hasil perencanaan
kota yang lebih baik, diperlukan program-program penanganan kawasan (mezzo),
yang dapat diartikan bahwa perancangan kota (urban design) sebagai penanganan
lingkungan binaan berskala mezzo yang merupakan salah satu langkah
implementasi (pelaksanaan) rencana kota (Djunaedi,2000 dalam Hestin Mulyandari,
2011)

4

Gambar 1.1. Hubungan antara perencanaan kota, Desain dan Perancangan Kota

Manfaat perencanaan adalah menjamin perubahan/perbaikan / penyelesaian
persoalan , merumuskan dan mencapai satu tujuan tertentu , menjamin kepentingan
public/kolektof, mengkoreksi kegagalan/ketidak sempurnaan pasar,mengoptimalkan
pemanfaatan sumber daya dan dapat mengurangi ketidak adilan. Sedangkan
elemenutama perencanaan adalah untuk merumuskan masalah, merumuskan
tujuan, menjabarkan dan memilih alternative-alternatif tindakan serta menentukan
time frame pencapaian tujuan.

Proses perencanaan suatu kota tidak terlepas dari peran serta perencana dan
masyarakar, karena keduanya diibaratkan sebagai simbiosis mutualistisme seperti
pada gambar dibawah ini

Gambar 1.2. Hubungan antara perencanaan dan masyarakat

5

Adapun arti perencanaan itu sendiri adalah suatu proses yang mengubah proses lain
atau mengubah suatu keadaan untuk mencapai maksud yang dituju oleh perencana
atau oleh orang/bahan yang diwakili oleh perencana.
Perencanaan tersebut meliputi :
a. Analisis yaitu megelola data, menutup atau mengganti kelemahan dengan

mengangkat keunggulan dan potensi, mengatasi ancaman atau gangguan serta
memprediksi perkiraan untuk masa depan yang bertitik tolak dari keadaan masa
kini
b. Kebijaksanaan (policy) yakni pemilihan rencana yang bail untuk pelaksanaan
yang meliputi pengetahuan mengenai maksud dan criteria untuk menelaah
alternative rencana, serta membuat rekomendasi atau arahan-arahan.
c. Rancangan atau desain yaitu rumusan dan sajian rencana.
Pada lingkup perencanaan kota mendapat masukan dari berbagai bidang ilmu dan
memberikan bantuan kepada berbagai ilmu, seperti gambar dibawah ini :

Gambar 1.3. Perencaaan kota dianggap pusat dan mendapat bantuan dari bidang lain

3. Dasar Dasar Perancangan Perkotaan
Kota merupakan suatu kawasan yang terdiri dari berbagai fasilitas, prasarana

dan sarana dengan karakter kekotaan (urban) yang dihuni oleh
masyarakatheterogen dengan berbagai karakter sosial, budaya, ekonomi dan politik

6

yangdimiliki. Mengacu pada Catanese (1996), pola kota dibangun oleh empat
dasar,yaitu:
a. Secara demografis

Kota merupakan suatu tempat dimana terdapat pemusatan atau konsentrasi
pendudujnya yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya.
b. Secara social budaya kota merupakan suatu lingkungan dan social budaya yang
sangat beragam dengan berbagai pergeseran dan perubahan.
c. Secara social ekonomis, kota merupakan suatu lingkungan dengan kegiatan
perekonomian dan kegiatan usaha yang beragam dan didominasi oleh kegiatan
usaha bukan pertanian yaitu jasa, perdagangan angkutan dan industri.
d. Secara fisik, kota merupakan suatu lingkungan dimana terdapat suatu tatanan
lingkungan fisik yang didominasi oleh struktur binaan;
e. Secara geografis, kota merupakan suatu lingkungan yang menempati suatu
lokasi yang strategis secara sosial, ekonomis, dan fisik pada suatu wilayah;
f. Secara politis administratif, kota merupakan suatu wilayah dengan batas
kewenangan pemerintahan yang dibatasi oleh suatu batas wilayah administratif
kota.

Dalam hal fisik,wujud kota menurut Hillier terbentuk dari berbagai elemen fisik
mulai dari kelompok unit-unit bangunan,kemudian membentuk beberapa kawasan
atau bagian wilayah kota dan akhirnya membentuk kota (dirangkum dari Hillier,
1996). Hillier juga mengemukakan bahwa fisik kota sangat sulit untuk dimodelkan,
disebabkan oleh dua hal: Pertama, fisik dan struktur ruang pada setiap bagian kota
merupakan sesuatu yang susah dibuat secara seragam, sebagai hasil dari
perubahan secara bertahap berdasarkan sejarah panjang dari waktu ke waktu mulai
dari skala kecil yang secara akumulatif menghasilkan suatu pola geometris dengan
fungsi tertentu. Sampai saat ini, pola perkembangan kota seperti itu belum
memperlihatkan metode analisis yang jelas. Kedua, proses perkembangan kota
yang di pengaruhi oleh proses ekonomi dan sosial membuat pola dan struktur ruang
kota cenderung melahirkan sesuatu yang kompleks, dan interaksi antara skala yang
berbeda. Proses pembentukan dan perubahan kota menunjukkan bahwa wujud kota

7

secara makro merupakan serangkaian hasil dari perubahan pada skala mikro, dan
sebaliknya, perubahan kota secara makro akan menghasilkan tatanan yang tak
terduga pada skala mikro.

Pemahaman terhadap perencanaan dan perancangan kota menjadi sangat
penting karena terkait dengan implikasinya dalam pembentukan kota. Perancangan
kota dalam hal ini dipandang sebagai intervensi terhadap wujud struktural dan pola
pemanfaatan ruang yang berkembang secara alamiah berdasarkan kecenderungan
perkembangan kota. Searah dengan perkembangan waktu, orang dapat
membangun lingkungan fisiknya yang bervariasi sesuai hasil dari pemahaman
mereka tentang alam dan budaya yang dipahami. Dengan landasan pemahaman
inilah produk perancangan kota sesuai yang dinginkan, dapat dirumuskan.

Hal tersebut sesuai dengan pandangan yang menyatakan bahwa:
“perencanaan fisik saja tidak akan dapat meningkatkan kondisi kehidupan di kota-
kota, kecuali jika diterapkan secara terpadu dengan perencanaan sosial dan
ekonomi yang berkaitan dengan lingkungan” (Patrick Geddes dan Catanese, 1996).
Dari pernyataan di atas dapat diungkapkan bahwa dalam perencanaan dan
perancangan kota perlu berlandaskan pada aspek sosial dan budaya. Hal ini telah
dibuktikan oleh beberapa fakta perwujudan lingkungan binaan termasuk perkotaan
seperti terlihat pada beberapa konsep wujud kota-kota kuno di luar maupun dalam
negeri.

Proses perancangan dimulai pada saat ide dan gagasan terhadap masalah
tertentu sudah hamper terwujud, sehingga tugas perancangan hanya berfokus pada
penerapan ide dan gagasan tersebut kedalam desain, Jika demikian halnya, para
ahli perancangan hanya berfungsi sebagai kelompok tukang atau sebgai pesuruh
yang memiliki ketrampilan menggambar yang perhatiannya hanya terkonsentrasikan
pada masala-masalah lahiriah seperti gaya atau keindahan tanpa
pertanggungjawaban terhadap kebenaran secara arsitektural.

8

ARSITEKTUR PERENCANAAN
KOTA
Bangunan dipersil
tunggal Kebijaksanaan publik

PERANCANGAN
KOTA

Ruang umum dan
Bangunan-bangunan public

Gambar 1.4. Perancangan kota berada di antara
Arsitektur dan perencanaan kota

4. Hubungan Arsitektur dan Perkotaan

Arsitektur Kota merupakan perluasan cakupan dari konteks mikro ke
konteks messo (kawasan). Ilmu Arsitektur dan perkotaan, keduanya tidak dapat
terlepas dari setting ekonominya, seperti kaitan lokasi atau tempat, kegiatan dan
infrastruktur. Ketiga aspek tersebut saling terkait satu dengan lainnya.

Aldo Rossi dalam bukunya, The Architecture of the City (1966) melihat
kota sebagai Artefak, dan arsitektur berkembang dari masa lalu dan tradisi kota
serta kebudayaan manusia. Keberlanjutan sebuah kota dapat dicapai melalui
arsitektur kota yang merupakan bagian-bagian dari sebuah kota, dan melewati
fase-fase yang kemudian menentukan pertumbuhan dan perkembangan kota,
karena pada dasarnya sebuah kota tidak terbentuk dengan sendirinya akan tetapi
senantiasa berkembang dan menunjukkan ekspresi keruangan kota berdasarkan
kebudayaan masyarakatnya. Berdasarkan pemaparan singkat di atas, dapat
dikatakan bahwa arsitektur kota adalah bentuk karya manusia yang terbentuk
berdasarkan kebutuhan masyarakat dan terdiri dari kelompok bangunan dengan
berbagai fungsi serta memiliki pola tertentu terhadap bentuk ruangnya dan terletak
pada satu area yang jelas.

9

Gambar 1.5. Perancangan kota berada di antara
Ilmu Teknik, Estetika dan manusia

Gambar 1.6. Siklus Perencanaan, Perancangan, Implementasi dan
Kesinambungan pemeliharaan kota

Gambar 1.7. Partisipasi Masyarakat Arsitektur dan Perkotaa

10

BAB II
PERENCANAAN KOTA (URBAN PLANNING)

2.1. Perencanaan kota (Urban Planning)

Perencanaan kota (urban planning) menangani lingkungan binaan (built
environment ) dalam lingkup kota (makro), untuk melaksanakan perencanaan kota
yang baik diperlukan program-program penanganan kawasan (mezzo), sehingga
dapat diartikan bahwa perancangan (urban design) sebagai penangan perancangan
bianaan yang berskala mikro yang merupakan salah satu langkah implementasi
rencana kota. Perkembangan kota pada skala makro terbukti rumit karena
dipengaruhi oleh beberapa faktor, berdasarkan sejarah dapat diamati bagaimana
dinamika kota dipengaruhi oleh perkembangannya dan demikian pula sebaliknya
sehingga perkembangan masyarakat.

Urban adalah suatu perkembangan kota yang melibatkan seluruh elemen-
elemen di dalamnya yang menyangkut kota itu sendiri. Sedangkan planning adalah
bagaimana cara kita untuk merencanakan kota tersebut agar dapat menjadi kota
yang baik dan kota yang ideal dengan membuat peraturan-peraturan dan cara-cara
bagaimana agar mewujudkan seluruh rencana yang telah dibuat.

Perkotaan, kota, dan perencanaan kota mengintegrasikan land use planning
dan transportation planning untuk memperbaiki lingkungan yang dibangun, ekonomi
dan sosial masyarakat. Regional Planning berhubungan dengan lingkungan yang
lebih besar, pada tingkat kurang rinci. Perencanaan kota dapat mencakup
pembaruan perkotaan, dengan mengadaptasi metode perencanaan kota ke kota
yang ada menderita kerusakan dan kurangnya investasi Perencanaan kota./urban
planning adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari perkembangan dan fungsi
suatu kota, termasuk lingkungan, zoning, dan infrastruktur

Hippodamus yang lahir di kota Miletus pada tahun 480 SM, adalah merupaka
salah seorang arsitek bangsa Yunani yang pertama melakukan perencanaan kota,
memperkenalkan prinsip empat sudut, jala-jalan yang lebar dan arsitek pertama
yang berusaha mengelompokan rumah-rumah di daerah permukiman juga

11

menggabungkan berbagai bahian kota yang terpusat di sekitar pasar kedalam suatu
rangkaian yang harmonis (Artur B Gallion, Simon Eisner, 1986).

Arsitek memandang kota dengan cara yang hampir sama dengan para pakar
bangunan, aspek-aspek arsitektural sangat diperhatikan yang melipiti bangunan
tunggal ataupun kelompok banguna, ruang-ruang terbuka di dalam dan sekitarnya
dan berbagai peraturan yang berkaitan dengan perancangan fan pelaksanaan
pembangunan. Disamping itu mereka juga memperhatikan perancangan perkotaan
atas jalan-jalan dan ruang perkotaa yang lain, serta estetika kota pada umumnya.

Kegiatan perencanaan kota sangat beragam sehingga berbagai profesi yang
banyak jumlahnya dapat bergabung didalam perencanaan kota pada saat yang
sama atau pada saat yang berlainan. Para ahli bidang manapun dapat menemukan
suatu aspek perencanaan kota yang berhungan dengan keahliannya, hal ini
dimaksudkan untuk menunjukan dan menggambarkan kompleksitas permasahan
suatu kota yang harus dipecahan oleh berbagai macam bidang ilmu terkait.
Disamping berbagai profesi tersebut maka masyarakat dianggap merupakan unsure
yang sangat penting dalam partisipasinya mencurahkan perhatiannya kepada
perkembangan kota dan masalah perencanaan dan perancangan kota.

Gambar 1.8. Keterkaitan berbagai disiplin ilmu dengan
Perencanaan Kota

12

Perencanaan kota atau urban planning adalah wahana untuk melakukan
evaluasi kondisi kota, untuk membuat proyeksi beberapa perkembangan penting
didalam lingkup kota dan lingkungan eksternalnya, untuk membuat kesimpulan
tentang hal-hal yang dapat dan harus dilakukan dan untuk menentukan cara-cara
untuk melaksanakannya.
Cara menganalisis suatu kota dapat dilakukan dengan :
1. Pengamatan (observasi)

Beberapa metode analisis yang paling dasar dan universal, baik yang dilakukan
secara langsung oleh seseorang, maupun secara tidak langsung dengan
menggunakan data sekunder. Dari segi biaya yang diperlukan, observasi
merupakan cara yang paling murah yang dapat dilakukan dengan mengambil
gambar baik dengan memotret atau dengan video.
2. Pendapat.
Pendapat melekat dalam berbagai bentuk di dalam semua jenis analisis,
pendapat dapat diperolaeh dengan merekam data yaitu perekam suara pada
saat wawancara dengan beberapa pengguna kota (dari semua kalangan)
terutama kaitannya dengan kenyamana kota sehingga akan menghasilkan
pendapat kolektif.
3. Logika.
Diperlukan untuk mendasari cara perpikir induktif dan deduktif dengan cara
saling mengkaitkan berbagai elemen informasi dan gagasan dalam pola
hubungan yang logis. Logika dapat dilakukan secara intuitif, dengan cara
manipulasi secara sadar atau dengan metode matematis.
4. Zonasi ruang.
Merupakan suatu bentuk analisis yang dilakukan pada hamper seluruh kegiatan
manusia, sebagai contoh : tata letak jaringan jalan dari blok-blok kota,
penempatan prasarana dan ruang-ruang terbuka pada bagian kota sebagai
suatu unit perencanaan dan penempatan minimum kebutuhan ruang terbuka
hijau di sekitar bangunan (minimal 30%) dengan untuk menyediakan akses atau
pertimbangan kesehatan, keamanan, kenyamanan dan penampilan bangunan.

13

5. Penjajaran atau juxtaposition.
Merupakan metode yang universal dan otomatis untuk pembandingan. Sistem
tersebut digunakan secara ekstensif di dalam melakukan evaluasi terhadap
berbagai alternative sasaran, usulan proyek, sistem transportasi, kebijakan,
anggaran, strategi public, dan pembandingan analistis lain yang dilakukan
secara regular.

6. Superposisi.
Melakukan perbandingan visual beberapa elemen analistis secara lebih tepat,
dibandingkan dengan meletakan secara berjajar. Sebagain besar lapisan-lapisan
bening berupa gmbar atau dalam bentuk grafis, sehingga secara spesifik dapat
mengungkapkan hubungan-hubungan secara dwimatra (dua dimensi) atau
trimatra (tiga dimensi).

Dalam perencanaan kota terdapat dua pendekatan yakni :
1. Pendekatan menurut unit (the unitary approach), yaitu membuat sesuatu
gambaran dari pola lingkungan fisik yang diperuntukan bagi suatu masyarakat
dan memajukan pembangunan serta mengadakan pengaturan sedemikian rupa,
untuk memastikan bahwa masyarakat tersebut akan dapat berkembang menuju
pola lingkungan fisik yang dibuat untuk waktu yang akan dating.
2. Pendekatan melaras (adaptive approach), bagi tinjauan tentang rencana kota,
yaitu sebagai suatu jalinan yang kompleks dari bermacam-macam bagian yang
saling bergantungan secara fungsional. Perencanaan kota dalam pendekatan ini
hanya mengusahakan untuk mempengaruhi berbagai tenaga pembangunan
yang sedang berlaku, dan tidak bertujuan untuk membuat bentuk kota tertentu
yang disediakan untuk waktu yang akan datang.

Perkembangan perkotaan pada skala makro memang rumit karena perasaan
akan identitas terhadap suatu kawasan perkotaan dipengaruhi beberapa faktor.
Meskipun dapat dikatakan bahwa rasa memiliki bersama tidak hanya dipengaruhi oleh
faktor-faktor suatu status kepemilikan tanah adan rumah di kawasan perkotaan tersebut
melainkan oleh faktor-faktor seperti pandangan terhadap suatu tempat atau rasa
kebersamaan dalam mengembangkan lingkungan. Akan tetapi justru didalam hal itu

14

elemen elemen arsitektur yang bersifat perkotaan perlu diperhatikan dan diterapkan
didalam skala makro sesuai dengan cirri khas perkembangan kawasan kota yang baik
dan benar.

Gambar 1.9. Perencanaan perkotaan (urban planning)
di kawasan pusat kota

2.2. Klasifikasi Kota.
Kota sebagai pusat kegiatan politik, ekonomi, social dan cultural

mempunyai warna tertentu atas kegiatan tersebut, hanya saja penojolan kegiatan
atau warna tertentu sering kali terlihat dengan jelas, yang dimaksud dengan
klasifikasi dalam uraian ini adalah usaha untuk menggolong-golongkan kota-kota
tertentu atas dasar karakteristiknya.

Klasifikasi kota yang akan diuraikan ditekankan pada macam
karakteristiknya yaitu klasifikasi kota yang ditinjau dari segi fungsinya, klasifikasi
kota yang ditinjau dari segi fisikalnya, klasifikasi kota yang ditinjau dari segi tingkat
pertumbuhannya dan klasifikasi kota yang ditinjau dari segi hirarkinya.

A. Klasifikasi kota atas dasar karakteristik Fungsinya.
Kriteria klasifikasi kota yang dikemukakan disini adalah mengenai fungsi

sesuatu kota yang dianggap dominan dan dapat dikatakan menonjol pada kota
yang bersangkutan. Seperti yang diketahui bahwa adanya latarbelakang
geografis dari suatu kota akan memberikan corak yang khas mengenai
kedidupan kotanya. Suatu hal yang tidak dapat disangkal yaitu adanya
kenyataan bahwa masing-masing kota mempunyai potensi dan penonjolan

15

fungsi-fungsi yang berbeda-beda. Hal ini lebih banyak bersangkutan dengan
larat belakang historical, cultural, fisikal, kemasyarakat, ekonomi dan lain-lain
yang saling berkaitan dan secara bersama-sama member warna tertentu
terhadap suatu kota tertentu.
Klasifikasi menurut Gist, N.P & Halbert, LA
a) Kota pusat produksi (Production Center), yaitu kot yan memiliki fungsi

sebagai pusat podksi atau pemask, baik yang berupa bahan mentah, barang
setegah jadi, maupun barang jadi. cntoh kota produsen bahan mentah, yaitu
kota-kota pertambangan, seperti, Soroako (Niel), Bukitasam dan Ombilin
(Batubara), Arun da Bontang (LNG), anlain-lain. Contoh kota produsen
barang jadi dan setengah jadi, yaitu kota-kota industri seperti, Cilegon,
Gresik, Surabaa, Jakarta, Bandung
b) Kota pusat perdagangan (Centre of Trade and Commerce), yaitu kota yang
memliki fungsi sebagai pusat perdagangan, baik untuk domestik maupun
internasional, misalnya, Jakata, Singapura, Rotterdam, Bremen, dan
Hongkong.
c) Kota pusat pemerinahan (Plitical Capital), yaiu kota yang memilii fungsi
sebagai pusat pemerintahan atau sebagai ibu kota negara, misalnya, London,
Moskow, dan Berlin
d) Kota pusat kebudayaan (Cultural Centre), yaitu kota yang memiliki sebagai
pusat kebudayaan, misalnya, Yogyakarta dan Surakarta. ada pula kta ang
memiliki fungsi sebagai pusat agama, misalnya, Mekah, Vatikan dan
Yerusalem.
e) Kota pusat kesehatan dan rekreasi (Health and Recreation Centre), yaitu kot
yang memiliki fungsi sebagai pusat kesehatan dan rekreasi, umumnya
terletak di daaran tinggi yang sejuk atau di tepi pantai, misalnya, Cipanas,
Kaliurang, Monaco, alm Beach, dan Florida.
f) Kota yang tidak mempunyai fungsi tertentu yang menonjol, yaitu kota
merupakan kota-kota yang masih sangat muda pertumbuhannya atau kota-
kota kecil.

16

B. Klasifikasi kota yang ditinjau dari segi fisikalnya menurut Nelson, R.L..
Pandangan yang kedua menekankan pada eksistensi kota dalam

kaitannya dengan latar belakang fisikalnya. Unsur fisikal yang ditonjolkan pada
umumnya adalah keadaan topografinya.

a. Kota berbentuk bujur sangkar (the square cities).
Kota ini biasanya merupakan kota yang terbentuk karena adanya kegiatan
yang relative seragam dan biasanya sangat dipengaruhi oleh kegiatan
pertanian, pasar induk, biasanya betul betul terletak dibagian tengah dari
kota yang bersangkutan. Lama kelamaan daerah permukimanyang ada
akan berkembang di sisi sisinya ke segala jurusan dan oleh karena itu
disekitarnya relative tidak ada halangan fisikal yang berarti, maka bentuk
atau morfologi kotanya akan merbentuk bujur sangkar atau sedikit
membulat.

Gambar 2.1. Bentuk kota bujur sankar

b. Kota yang berbentuk empat persegi panjang (the rectangular cities)
Kota-kota yang berbentuk segi empat panjang ini, pada garis besarnya
hamper sama dengan kota yang berbentuk bujur sangkar hanya saja
pada kedua sisinya yang lain terdapat hmbatn alami yang sangat
mengganggu kesempatan zona zona kota yang ada untuk berkembang ke
samping.Hambatan-hambatan ini dapat berupa topografi yang sangat
kasar, gurun pasir, hutan, rawa-rawa, laut dan sebagainya. Dengan
demikian kesempatan berkembang dari zona-zona yang ada terbatas
pada dua sisinya saja.

17

Gambar 2.2. Bentuk kota persegi panjang

c. Kota berbentuk seperti kipas (the fan shaped cities)
Pada kota-kota seperti ini biasanya pusat kota terletak pada daerah
pinggiran, oleh karena sebab sebabtertentu, perluasan fisikal kotanya
hanya berjalan pada sisi tertentu saja. Pada umumnya kota-kota yang
mempunyai bentuk kipas adalah merupakan kota kota pelabuhan yang
mempunyai latr belakang topografi yang relative datar dan tidak
mempunyai hambatan fisikal yang lain.

Gambar 2.2. Bentuk kota kipas

C. Klasifikasi kota yang ditinjau dari segi fisikalnya menurut Taylor.
Taylor mengklasifikasikan kota berdasarkan karakteristik dinamika fungsional
nya, karakteristik tersebut adalah sebagai berikut,
a. Tahap awal/infantil (the infantil stage)
Pada tahapan ini belum terlihat adanya pembagian yang jelas mengenai
daerah – daerah permukiman dengan daerah – daerah perdagangan. Selain
itu juga belum terlihat adanya perbedaan kawasan pemukiman kelas bawah
dan kelas atas. Bangunan – bangunan yang ada masih tidak teratur.

18

b. Tahap muda/juvenil (the juvenil stage)
Pada tahapan ini mulai terlihat adanya proses pengelompokan pertokoan
pada bagian – bagian kota tertentu. Kawasan permukiman kelas menengah
ke atas sudah mulai bermunculan di pinggiran kota dan munculnya kawasan
pabrik.

c.. Tahap ketuaan (the senile stage)
Pada tahap ini ditandai adanya pertumbuhan yang terhenti (cessation of
growth), kemunduran dari beberapa distrik dan kesejahteraan ekonomi
penduduknya menunjukkan gejala – gejala penurunan. Kondisi – kondisi
seperti ini terlihat didaerah – daerah industri.

D. Klasifikasi kota yang ditinjau dari segi pertumbuhannya menurut Houston
sebagai berikut :
a. Stadium pembentukan inti kota (nuclear phase)
Stadium ini merupakan tahap pembentukan CBD (Central Business District).
Pada masa ini baru dirintis pembangunan gedung – gedung utama sebagai
penggerak kegiatan perekonomian.
b. Stadium formatif (formative phase)
Tahapan ini mulai menunjukkan ciri – ciri yang berbeda dengan tahapan
pertama pada abad ke-19. Hal ini timbul sebagai akibat adanya revolusi
industri yang meledak di kawasan Eropa Barat. Perkembangan industri pada
saat itu mulai meluas dan perkembangan teknologi juga masuk ke sektor –
sektor lain seperti sektor transportasi, komunikasi, serta perdagangan.
c. Stadium modern (modern phase)
Stadium ini mulai terlihat pada abad ke-20 sejalan dengan makin majunya
teknik elektonika. Makin majunya teknologi transportasi dan komunikasi
mengakibatkan seseorang tidak lagi berpandangan bahwa bertempat tinggal
di dekat tempat kerja merupakan hal yang paling menguntungkan.

E. Klasifikasi kota yang ditinjau dari kualitas perkembangannya menurut Lewis
Mumford

19

.
Lewis Mumford meninju pertumbuhan suatu kota melalui enam fase yaitu
sebagai berikut,
a. Tahap eopolis (eopolis stage)
Dalam tahap ini dicerminkan oleh adanya kehidupan masyarakat yang
semakin maju, walaupun dalam kondisi kehidupannya masih didasarkan
pada kegiatan pertanian, pertambangan, dan perikanan.
b. Tahap polis (polis stage)
Tahap ini ditandai oleh adanya pasar yang cukup besar, sementara itu
beberapa kegiatan industri yang cukup besar mulai bermunculan di
beberapa bagian kota.
c. Tahap metropolis (metripolis stage)
Dalam tahap ini kota sudah mulai bertambah besar. Fungsi – fungsi
perkotaannya terlihat mendominasi kota – kota kecil lainnya yang berada di
sekitar kota dan daerah – daerah belakangnya (hinterland)
d. Tahap megapolis (megapolis stage)
Tahap ini ditandai oleh adanya tingkah laku manusia yang hanya
berorientasi pada materi. Standarisasi produksi lebih diutamakan daripada
usaha – usaha kerajinan tangan.
e. Tahap tiranipolis (tryanopolis stage)
Pada tahap ini ukuran atau tolak ukur budaya adalah apa yang tampak
secara fisik (display). Masalah uang atau materi dan ketidakacuhan
mengenai segala aspek kehidupan mewarnai tingkah laku penduduknya.
Tahap nekropolis (nekropolis stage)
f. Tahap ini disebut sebagai tahap kemunduran dari suatu kota. Hal ini
ditandai dengan kemunduran pelayanan kota beserta fungsi – fungsinya
dan menunjukkan gejala – gejala kehancuran yang disebabkan karena
adanya peperangan, kelaparan, dan wabah penyakit yang melanda

20

F. Klasifikasi kota yang ditinjau numerik
Penggolongan kota yang didasarkan pada unsur – unsur penduduk seperti
jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan luas wilayah.
a. Kota kecil, jumlah penduduk antara 20.000 s.d. 50.000 jiwa.
b. Kota sedang, jumlah penduduk antara 50.000 s.d. 100.000 jiwa.
c. Kota besar, jumlah penduduk antara 100.000 s.d. 1.000.000 jiwa.
d. Kota metropolitan, jumlah penduduk antara 1.000.000 s.d. 5.000.000 jiwa.
e. Kota megapolitan, jumlah penduduk lebih dari 5.000.000 jiwa.

2.3. Susunan kota , Sruktur Kota dan Bentuk Kota .
2.3.1. Susunan kota

Arsitektur kota bersifat tiga dimensi yang terbentuk oleh susunan yang
sifatnya spasial, karena dimensi ketiga (ruang) sering dianggap sebagai akibat
proses perancangan arsitektur dua deminsi saja. Oleh karena itu saat ini
arsitektur perkotaan sering dilihat sebagai suatu susunanyang diciptakan di
dalam ruang dan waktu (space and time), atau dengan kata lain arsitektur dan
khususnya arsitektur perkotaan dapat bersifat statis maupun dinamis,
bergantung pada pengembangannya. Masalah tersebut muncul dikatenakan
alas an sebagai berikut :
1. Susunan kawasan kota bersifat tidak jelas dengan kecenderungan chaos

(kacau)
2. Susunan kawasan kota yang bersifat heterogen dimana dua atau lebih pola

saling berbenturan
3. Susunan kawasan bersifat homogeny tetapi tidak dimengerti sebagai satu

kesatuan.

2.3.2. Struktur Kota
Struktur kota dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu struktur ekonomi kota dan
struktur intern kota. Struktur ekonomi kota berkaitan dengan kegiatan ekonomi
penduduk kota, sedang struktur intern kota berkaitan dengan struktur bangunan
dan demografis.

21

a. Struktur Ekonomi Kota
Wilayah kota menjadi tempat kegiatan ekonomi penduduknya di bidang
jasa, perdagangan, industri, dan administrasi. Selain itu, wilayah kota
menjadi tempat tinggal dan pusat pemerintahan. Kegiatan ekonomi kota
dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut.
1. Kegiatan Ekonomi Dasar
Kegiatan ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk
keperluan luar kota atau dikirim ke daerah sekitar kota. Produk yang
dikirim dan disalurkan berasal dari industri, perdagangan, hiburan, dan
lainnya.
2. Kegiatan Ekonomi Bukan Dasar
Kegiatan ini meliputi pembuatan dan penyaluran barang dan jasa untuk
keperluan sendiri. Kegiatan ini disebut juga dengan kegiatan residensial
dan kegiatan pelayanan. Kegiatan ekonomi kota dapat berupa industri
dan kegiatan jasa atau fasilitas yang tidak memerlukan lahan yang luas.
Kegiatan ini menyebabkan kota berpenduduk padat, jarak bangunan
rapat, dan bentuk kota kompak.

Struktur kota dipengaruhi oleh jenis mata pencaharian penduduknya.
Mata pencaharian penduduk kota bergerak di bidang nonagraris, seperti
perdagangan, perkantoran, industri, dan bidang jasa lain. Dengan demikian,
struktur kota akan mengikuti fungsi kota. Sebagai contoh, suatu wilayah
direncanakan sebagai kota industri, maka struktur penduduk kota akan
mengarah atau cenderung ke jenis kegiatan industri. Pada kenyataan, jarang
sekali suatu kota mempunyai fungsi tunggal. Kebanyakan kota juga merangkap
fungsi lain, seperti kota perdagangan, kota pemerintahan, atau kota
kebudayaan. Contoh: Yogyakarta selain disebut kota budaya tetapi juga disebut
sebagai kota pendidikan dan kota wisata.

Di daerah kota terdapat banyak kompleks, seperti apartemen,
perumahan pegawai bank, perumahan tentara, pertokoan, pusat perbelanjaan
(shopping center), pecinan, dan kompleks suku tertentu. Kompleks tersebut

22

merupakan kelompok-kelompok (clusters) yang timbul akibat pemisahan lokasi
(segregasi). Segregasi dapat terbentuk karena perbedaan pekerjaan, strata
sosial, tingkat pendidikan, suku, harga sewa tanah, dan lainnya. Segregasi tidak
akan menimbulkan masalah apabila ada pengertian dan toleransi antara pihak-
pihak yang bersangkutan. Munculnya segregasi di kota dapat direncanakan
ataupun tidak direncanakan. Kompleks perumahan dan kompleks pertokoan
adalah contoh segregasi yang direncanakan pemerintah kota.

Bentuk segregasi yang lain adalah perkampungan kumuh/slum yang
sering tumbuh di kota-kota besar seperti Jakarta. Rendahnya pendapatan
menyebabkan tidak adanya kemampuan mendirikan rumah tinggal sehingga
terpaksa tinggal di sembarang tempat. Kompleks seperti ini biasanya ditempati
oleh kaum miskin perkotaan. Permasalahan seperti ini memerlukan
penanganan yang bijaksana dari pemerintah.

b. Struktur Intern Kota
Pertumbuhan kota-kota di dunia termasuk di Indonesia cukup pesat.

Pertumbuhan suatu kota dapat disebabkan oleh pertambahan penduduk kota,
urbanisasi, dan kemajuan teknologi yang membantu kehidupan penduduk di
kota. Wilayah kota atau urban bersifat heterogen ditinjau dari aspek struktur
bangunan dan demografis. Susunan, bentuk, ketinggian, fungsi, dan usia
bangunan berbeda-beda.

Mata pencaharian, status sosial, suku bangsa, budaya, dan
kepadatan penduduk juga bermacam-macam. Selain aspek bangunan dan
demografis, karakteristik kota dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti topografi,
sejarah, ekonomi, budaya, dan kesempatan usaha. Karakteristik kota selalu
dinamis dalam rentang ruang dan waktu.

23

G.

Apabila dilihat sekilas wajah suatu kota, maka akan banyak susunan yang
tidak beraturan. Akan tetapi, apabila diamati dengan cermat maka akan
dijumpai bentuk dan susunan khas yang mirip dengan kota-kota lain. Misalnya,
kota A berbentuk persegi empat, kota B berbentuk persegi panjang, dan kota C
berbentuk bulat. Begitu juga dalam susunan bangunan kota terjadi
pengelompokan berdasarkan tata guna lahan kota. Jadi, suatu kota memiliki
bentuk dan susunan yang khas. Apabila diamati kota berdasarkan peta
penggunaan lahan, maka akan mendapatkan berbagai jenis zona, seperti zona
perkantoran, perumahan, pusat pemerintahan, pertokoan, industri, dan
perdagangan. Zona-zona tersebut menempati daerah kota, baik di bagian
pusat, tengah, dan pinggirannya. Zona perkantoran, pusat pemerintahan, dan

24

pertokoan menempati kota bagian pusat atau tengah. Zona perumahan elite
cenderung memiliki lokasi di pinggiran kota. Sedang zona perumahan karyawan
dan buruh umumnya berdekatan dengan jalan penghubung ke pabrik atau
perusahaan tempat mereka bekerja.
Beberapa teori tentang struktur kota dapat adalah sebagai berikut.
1) Teori Konsentris (Concentric Theory)

Teori konsentris dari Ernest W. Burgess, seorang sosiolog beraliran human
ecology, merupakan hasil penelitian Kota Chicago pada tahun 1923.
Menurut pengamatan Burgess, Kota Chicago ternyata telah berkembang
sedemikian rupa dan menunjukkan pola penggunaan lahan yang konsentris
yang mencerminkan penggunaan lahan yang berbeda-beda.
Burgess berpendapat bahwa kota-kota mengalami perkembangan atau
pemekaran dimulai dari pusatnya, kemudian seiring pertambahan penduduk
kota meluas ke daerah pinggiran atau menjauhi pusat. Zona-zona baru
yang timbul berbentuk konsentris dengan struktur bergelang atau melingkar.
Berdasarkan teori konsentris, wilayah kota dibagi menjadi lima zona
sebagai berikut.

Teori Burgess sesuai dengan keadaan negara-negara Barat (Eropa) yang
telah maju penduduknya. Teori ini mensyaratkan kondisi topografi lokal
yang memudahkan rute transportasi dan komunikasi.

25

2) Teori Sektoral (Sector Theory)
Teori sektoral dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Teori ini muncul
berdasarkan penelitiannya pada tahun 1930-an. Hoyt berkesimpulan bahwa
proses pertumbuhan kota lebih berdasarkan sector sektor daripada sistem
gelang atau melingkar sebagaimana yang dikemukakan dalam teori
Burgess. Hoyt juga meneliti Kota Chicago untuk mendalami Daerah Pusat
Kegiatan (Central Business District) yang terletak di pusat kota.
Ia berpendapat bahwa pengelompokan penggunaan lahan kota menjulur
seperti irisan kue tart. Mengapa struktur kota menurut teori sektoral dapat
terbentuk? Para geograf menghubungkannya dengan kondisi geografis kota
dan rute transportasinya. Pada daerah datar memungkinkan pembuatan
jalan, rel kereta api, dan kanal yang murah, sehingga penggunaan lahan
tertentu, misalnya perindustrian meluas secara memanjang. Kota yang
berlereng menyebabkan pembangunan perumahan cenderung meluas
sesuai bujuran lereng.

3) Teori Inti Ganda (Multiple Nucleus Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Harris dan Ullman pada tahun 1945. Kedua
geograf ini berpendapat, meskipun pola konsentris dan sektoral terdapat
dalam wilayah kota, kenyataannya lebih kompleks dari apa yang
dikemukakan dalam teori Burgess dan Hoyt.

26

Pertumbuhan kota yang berawal dari suatu pusat menjadi bentuk yang
kompleks. Bentuk yang kompleks ini disebabkan oleh munculnya nukleus-
nukleus baru yang berfungsi sebagai kutub pertumbuhan. Nukleus-nukleus
baru akan berkembang sesuai dengan penggunaan lahannya yang
fungsional dan membentuk struktur kota yang memiliki sel-sel pertumbuhan.
Nukleus kota dapat berupa kampus perguruan tinggi, Bandar udara,
kompleks industri, pelabuhan laut, dan terminal bus. Keuntungan ekonomi
menjadi dasar pertimbangan dalam penggunaan lahan secara mengelompok
sehingga berbentuk nukleus. Misalnya, kompleks industri mencari lokasi yang
berdekatan dengan sarana transportasi. Perumahan baru mencari lokasi
yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan tempat pendidikan.
Harris dan Ullman berpendapat bahwa karakteristik persebaran penggunaan
lahan ditentukan oleh faktor-faktor yang unik seperti situs kota dan
sejarahnya yang khas, sehingga tidak ada urut-urutan yang teratur dari zona-
zona kota seperti pada teori konsentris dan sektoral. Teori dari Burgess dan
Hoyt dianggap hanya menunjukkan contoh-contoh dari kenampakan nyata
suatu kota.

4) Teori Konsektoral (Tipe Eropa)
Teori konsektoral tipe Eropa dikemukakan oleh Peter Mann pada tahun 1965
dengan mengambil lokasi penelitian di Inggris. Teori ini mencoba

27

menggabungkan teori konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris
lebih ditonjolkan.

5) Teori Konsektoral (Tipe Amerika Latin)
Teori konsektoral tipe Amerika Latin dikemukakan oleh Ernest Griffin dan Larry
Ford pada tahun 1980 berdasarkan penelitian di Amerika Latin. Teori ini dapat
digambarkan sebagai berikut.

6) Teori Poros
Teori poros dikemukakan oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan
transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. Teori poros
ditunjukkan pada gambar sebagai berikut.

28

7) Teori Historis
Dalam teori historis, Alonso mendasarkan analisisnya pada kenyataan historis
yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori
historis dari Alonso dapat digambarkan sebagai berikut.

Dari model gambar di atas menunjukkan bahwa dengan meningkatnya standar
hidup masyarakat yang semula tinggal di dekat CBD disertai penurunan kualitas
lingkungan, mendorong penduduk untuk pindah ke daerah pinggiran (a).
Perbaikan daerah CBD menjadi menarik karena dekat dengan pusat segala
fasilitas kota (b). Program perbaikan yang semula hanya difokuskan di zona 1
dan 2, melebar ke zona 3 yang menarik para pendatang baru khususnya dari
zona 2 (c).

29

2.3.3. Bentuk Kota
Pertumbuhan kota juga ditandai dari peningkatan jumlah penduduk yang

mengakibatkan aktivitas sosial ekonomi meningkat. Peningkatan aktivitas ini
mendorong pembangunan infrastruktur penunjang aktivitas. Kebutuhan akan
ruang pun semakin bertambah sehingga lahan terbangun menjadi semakin luas.
Kota tumbuh dan berkembang hingga mencapai daerah hinterlandnya. Kota
yang berkembang biasanya dilihat dari luasan lahan terbangun. Hal ini
dikarenakan pertumbuhan kota secara horizontal merupakan keadaan yang
sempurna. Akan tetapi, jika hal ini terus menerus dilanjutkan, maka
dikhawatirkan jumlah lahan terbangun melebihi kapasitas yang seharusnya dan
lahan non terbangun menjadi kecil luasannya. Sehingga perencanaan kota
sekarang ini lebih ke arah vertikal (highrise building).

Bentuk kota dan struktur kota tidak begitu saja diartikan sama, Bentuk
kota lebih pada karakter fisik seperti bentang alam dan non-fisik yang muncul
akibat aktivitas penduduknya. Sedangkan struktur kota lebih tercermin dari pola
perkembangan kota yang dapat diprediksi dalam jangka panjang. Prediksi
jangka panjang inilah yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan
untuk merencanakan kota yang lebih efisien. Disinilah peran stakeholder
khususnya pemegang birokrasi dan regulasi agar membuat kebijakan yang
sesuai demi terlaksananya pembangunan kota yang berkelanjutan.

Dalam kebutuhan akan ruang kota dan wilayah , akan muncul demand
akan ruang dan supply yang tersedia berupa lahan. Kemudian dari kebutuhan
tersebut, aktivitas yang ada pasti membutuhkan ruang sehingga mendorong
sektor lain ikut berkembang mencari ruang yang mampu menampung aktivitas
masyarakat. Pertumbuhan sektor baru mengakibatkan munculnya pusat baru
(multiple nuclei) dan kawasan lain sebagai kawasan pendukung. Pertumbuhan
inilah yang menjadikan kota tumbuh dan menciptakan struktur ruang kota yang
baru. Dalam hal inilah perencanaan kota berbicara agar pertumbuhan kota tidak
berkesan semena-mena terhadap lingkungan yang ada dan tidak
mengakibatkan terjadinya urban sprawl atau pertumbuhan kota yang tidak
terkendali seperti di negara-negara yang masih berkembang seperti Indonesia.

30

Menurut Kevin Lynch, unsure pembentuk struktur tata ruang kota adalah
path, edge, district, node, dan landmark. Dalam buku Struktur Tata Ruang Kota
oleh Hadi Sabari Yunus, 2005 dituliskan struktur ruang kota antara lain bentuk
Konsentris (Burgess, 1925), bentuk Sektoral (Hoyt, 1939), Multiple Nuclei
(Harris dan Ullman, 1945). Menurut Doxiadis perkotaan atau permukiman
sebagai gabungan kelima unsur yaitu alam, aindividual manusia, masyarakat,
ruang kehidupan dan jaringan. Tanpa kelima hal tersebut, suatu kawasan tidak
dapat disebut sebagai kota. Sedangkan menurut Kus Hadinoto (1970-an) kota
sebagai wisma, karya, marga, suka, dan penyempurna sebagai kelima unsur
yang dapat dijadikan sebagai referensi pengertian kota. Sedangkan menurut
Geddes, kawasan dapat disebut sebagai permukiman jika dapat dihuni, sebagai
tempat kerja dan tempat untuk bermasyarakat. Dalam buku Struktur Tata Ruang
Kota, pendekatan yang dapat dilakukan untuk melihat struktur kota adalah
pendekatan ekologi, pendekatan ekonomi, pendekatan morfologi.

Sistem perencanaan kota yang bersifat organis perlu diutamakan, karena
sistem perencanaan secara organis memang memiliki banyak potensi yang
sering kurang diperhatikan, terutama dari segi aspek ekologinya. Namun hal
yang penting diungkapkan oleh Spiro Kostof (1992) sebagai tokoh sejarah kota
yang menyimpulkan bahwa misalnya pemakaian sistem grid yang bersifat
sangat teknis boleh dianggap netral, sehingga hanya isinya sendiri akan
membuktikan kesuksesan dan kesalahan.

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan kota adalah
bentuk dan pola kota. Pola suatu kota tersebut dapat menggambarkan arah
perkembangan dan bentuk fisik kota. Ekspresi keruangan morfologi kota secara
umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu bentuk kompak dan bentuk tidak kompak
(Yunus, 2000: 14).
Bentuk kompak mempunyai 8 macam bentuk, yaitu :

a. Bujur sangkar (the square cities)
Bujur sangkar menunjukkan sesuatu yang murni dan rasionil, merupakan
bentuk yang statis, netral dan tidak mempunyai arah tertentu. Bentuk
bujur sangkar merupakan bentuk kota yang bercirikan dengan

31

pertumbuhan di sisi-sisi jalur transportasi dan mempunyai kesempatan
perluasan ke segala arah yang relatif seimbang dan kendala fisikal relatif
yang tidak begitu berarti. Hanya saja adanya jalur transportasi pada sisi-
sisi memungkinkan terjadinya percepatan pertumbuhan area kota pada
arah jalur yang bersangkutan.

b. Kipas (fan shaped cities)
Bentuk semacam ini sebenarnya merupakan bentuk sebagian lingkaran.
Dalam hal ini, ke arah luar lingkaran kota yang bersangkutan mempunyai
kesempatan berkembang yang relatif seimbang. Oleh sebab-sebab
tertentu pada bagian-bagian lainnya terdapat beberapa hambatan
perkembangan areal kekotaannya yang diklasifikasikan menjadi 2, yaitu :
 Hambatan-hambatan alami (natural constraints), misalnya perairan,
pegunungan.
 Hambatan-hambatan artificial (artificial constraints) : saluran
buatan, zoning, ring roads.
Batas terluar dari pada kotanya di tandai dengan “green belt zoning” atau
“growth limitation” dengan “ring roads”. Dengan demikian terciptalah
bentuk bulat arcificial.

32

c. Empat persegi panjang (the rectangular cities)
Merupakan bentuk kota yang pertumbuhannya memanjang sedikit lebih
besar daripada melebar, hal ini dimungkinkan karena adanya hambatan-
hambatan fisikal terhadap perkembangan area kota pada salah satu
sisinya.

d. Pita (ribbon shaped cities)
Merupakan bentuk kota dengan peran jalur transportasi yang dominan,
terbentuk pola kota yang memanjang
bentuk ini juga mirip “regtangular city” namun karena dimensi
memanjangnya jauh lebih besar dari pada dimensi melebar maka bentuk
ini menempati klasifikasi tersendiri dan menggambarkan bentuk pita.
Dalam hal ini jelas terlihat adanya peranan jalur memanjang (jalur
transportasi) yang sangat dominan dalam mempengaruhi perkembangan
areal kekotaannya, serta terhambatnya peluasan areal ke samping

e. Circuit Lineair or Ring Plan (Bentuk Cincin) :
Dalam bentuk ini, sebenarnya terdiri dari beberapa pusat kota yang
berkembang disepanjang jalan utama yang melingkar. Di bagian tengah
wilayah tetap dipertahankan sebagai daerah hijau/terbuka (open spaces).
Masing-masing pusat mungkin dapat berkembang menjadi kota-kota
besar. Contoh nyata dari pada “ring cities” adalah “Randstad Holland” di

33

Negeri Belanda, yang menghubungkan pusat-pusat kota Utrecht,
Rotterdam, Denhaag, Harlem, Amsterdam dan beberapa kota-kota kecil
lainnya.

f. Gurita/bintang (octopus shaped cities)
Merupakan bentuk kota yang jalur transportasinya mirip seperti ribbon
shaped city, hanya saja pada bentuk gurita jalur transportasi tidak hanya
satu arah saja, tetapi keberbagai arah keluar kota.
Dasar dari bentuk spider web dengan linear radial biasanya
mendefinisikan beberapa tipe dari ruangan terbuka. Contoh : Washington
D.C. Peranan jalur transportasi pada bentuk ini juga sangat dominan
sebagaimana dalam “ribbon-shaped city”. Hanya saja, pada bentuk gurita
jalur transportasi tidak hanya satu arah saja, tetapi beberapa arah ke luar
kota. Hal ini hanya dimungkinkan apabila daerah “hinter land” dan
pinggirannya tidak memberikan halangan-halangan fisik yang berarti
terhadap perkembangan areal kekotaannya.

g. Satelite and Neighbourhood Plans (Bentuk Satelit dan Pusat-Pusat Baru)
Pengembangan kota-kota satelit ini dapat berfungsi sebagai penyerap
mengalirnya arus urbanisasi yang sangat besar ke kota utama dengan
jalan meningkatkan fungsi-fungsi yang ada di kota-kota satelit sehingga
memperluas lapangan kerja. Contoh :, Jabotabek, Gerbang Kertasusila,
Bandungraya. Dalam hal ini terlihat bahwa “concentric development”

34

mendominasi perkembangan areal kekotaannya pada “main urban
center” maupun pada kota-kota satelitnya.

h. Stellar Cities (Bentuk Stellar)
Kondisi morfologi kota seperti ini biasanya terdapat pada kota-kota besar
yang dikelilingi oleh kota-kota satelit. Dalam hal ini terjadi gejala
penggabungan antara kota besar utama dengan kota-kota satelit di
sekitarnya, sehingga kenampakan morfologi kotanya mirip “telapak katak
pohon”, dimana pada ujung-ujung jarinya terdapat bulatan-bulatan.
Majunya sarana transportasi dan telekomunikasi, mempunyai peranan
yang besar dalam pembentukan kenampakan ini. Proses konurbasi yang
terus-menerus akan menciptakan bentuk megapolitan.

i. Spider Web :
Merupakan salah satu bentuk kota yang sangat umum, kota ini
mempunyai kepadatan yang tinggi. Pusat dari segala kegiatan yang
sangat vital dengan perkembangan disekitarnya.

35

j. Linier
Perkembangan yang diatur sepanjang ‘Coridor’, yaitu sebuah jari yang
merupakan variasi dari bentuk ‘star’. Contoh : Madrid

k. Bentuk bulat
Bentuk kota yang ideal karena kesempatan perkembangan areal kearah
luar dapat dikatakan seimbang.

2.4. Proses Perencanaan Kota
Kota sebagai tempat terpusatnya kegiatan masyarakat, senantiasa

berkembang baik kuantitas maupun kualitasnya, sesuai perkembangan kuantitas
dan kualitas masyarakat. Perkembangan kota perlu dikelola secara baik agar tidak
terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat. Sebagaimana diketahui fenomena
yang terjadi akibat perkembangan kota yang tidak dikelola secara baik contohnya
adalah banjir lokal karena tersumbatnya saluran drainase oleh sampah, galian-
galian pipa dan kabel yang tidak kunjung selesai, perubahan lahan hijau menjadi

36

lahan komersial, dan lainnya, yang semua itu diakibatkan pembangunan yang
dilaksanakan tidak secara terpadu antara satu sektor dengan sektor lainnya

Perencanaan Kota, yang akan didahului dengan tinjauan terhadap
proses perencanaan secara umum, karakteristik serta tahapan atau langkah-
langkah kegiatannya secara rinci. Dengan dasar pemahaman terhadap proses
perencanaan secara umum tersebut selanjutnya dibahas proses perencanaan tata
ruang kawasan perkotaan secara spesifik sesuai dengan ketentuan prosedur
perencanaan yang berlaku., berkaitan dengan pertumbuhan perkotaan yang pesat,
beberapa isu atau tantangan yang dihadapi pemerintah daerah/kota seperti
globalisasi, urbanisasi, kemiskinan dan lingkungan kota dibahas tentang kebijakan
pembangunan perkotaan yang tanggap terhadap berbagai isu dan tantangan
tersebut, baik secara eksternal maupun internal.

2.4.1. Perencanaan Kota Modern.
Perencaan kota di Amerika dan Negara-negara lain pada akhir decade

1960 an, orientasi perkembangan secara fisik sudah dikurangi , karena juga
mengikuti perkembangan social, ekonomi dan politik. Kota sebagai bentuk
organisasi manusia yang paling kompleks, terdiri atas ragam ketetanggaan,
selain itu perencanaan yang paling penting membutuhkan :
a. Tempat pendidikan
b. Pusat perkantoran
c. Permukiman
d. Pusat-pusat perdagangan
e. Sentra-sentra industri

Perencanaan kota membutuhkan keahlian untuk mengembangkan dan
mengimplemasikan rencana fisik. Beberapa kemampuan dan aktivitas yang
dibutuhkan antara lain :
a. Mengumpulkan data dan menganalisis data tentang kota bederta

populasinya.
b. Meneliti kebutuhan tentang ketersediaan fasilitas social.

37

c. Mengembangkan, mengevaluasi, mengkoordinasi, mendata program dan
jadwal pelayanan fasilitas umum.

d. Program pengembangan ekonomi dan perumahan serta pengembangan
ulang.Pelaksanaan aktivitas yang berupa partisipasi masyarakat dalam
memberikan kontribusi pada program pengembangan perkotaan.

2.4.1.1. Perencanaan Komprehensif
Istilah ‘komprehensif’ yang arti katanya adalah ‘menyeluruh’ dalam

hal ini diartikan bahwa penelitian perencanaan semua aspek perkotan
dianalisis. Aspek-aspek tersebut menurut Per Mendagri No.2 Tahun 1987
Pasal 22 meliputi antara lain :
a. Aspek fisik dasar
b. Aspek lingkunga hidup
c. Aspek kependudukan dan kebudayaan
d. Aspek penggunn lahan
e. Aspek status penguasaan tanah
f. Aspek perekonomian
g. Aspek fasilitas dan utilitas
h. Aspek sistem transportasi
i. Aspek keruangan dan pembiayaan pembangunan kota
j. Aspek kelembagaan Pemerintah dan pengelola kota.

Berbagai aspek tersebut diatas juga dapat menjadi kajian dalam
perancangan kota, selain itu beberapa masalah yang biasa dihadapi
perancangan kota seperti misalnya citra kota (image of the city), juga menjadi
bahan masukan bagi proses perencanaan kota.

Perencanaan ini berupa pengaturan zona-zona kota, pembaharuan
peraturan daerah, pengaturan bangunan dan perumahan, menetepkan
standar penggunaan lahan serta standar kualitaskonstruksi. Pada
perencanaan ini harus ada analisis terhadap aspek social, ekonomi dan fisik
kota (seperti distribusi penduduk, kawasan industry, sentra bisnis, ruang
terbuka, dan fasilitas bangunan umum).

38

1. Kontrol Pengembangan
Kontrol pengembangan berupa pengaturan distrik atau zona meliputi,
ukuran, tipe dan struktur kota. Lokasi khusus dapat dimanfaatkan untuk
pengembangan tipe-tipe perumahan yang berbeda, begitu juga dengan
pengaturan zona industry dan bisnis. Selain itu kontrol pengembangan
juga termasuk penetapan standar pengembangan lahan terhadap sistem
pergerakan lalu lintas dan sistem drainase.

2. Kebijaksanaan pada aspek social, ekonomi dan lingkungan.
Aspek-aspek yang harus disediakan Pemerintah Kota dalam hal
pendukung terhadap zona permukiman dan sentra bisnis meliputi :
fasilitas pendidikan, penyediaan air, kantor polisi, dinas pemadam
kebakaran dan tempat rekreasi. Fasilitas-fasilitas tersebut difungsikan
sebagai implementasi dari aspek soaial, ekonomi dan lingkungan.
Perencanaan kota yang komprehensif (comprehensive urban plan)

diartikan sebagai kebijaksanaan jangka panjang (20-30 tahun) mengenai
distribusi keruangan (spasial) obyek, fungsi dan kegiatan serta tujuan
(Catanese dan Snyder, 1979). Rencana kota tersebut mengkoordinasikan
kegiatn pemerintah dan kegiatan swasta atau masyarakat dalam membangun
fisik dan keruangan kotanya.

Penelitian Perencanaan
Pengumpulan dan pengolahan data

Perumusan dan tujuan perencanaan

 Perumusan rencana
 Pembuatan alternative-alternatif rencana
 Evaluasi dan seleksi alternative
 Penyusunan dokumen rencana

Implementasi rencana

Pengkajian ulang dan perubahan rencana

Gambar : Model proses perencanaan kota komprehensif
Sumber :Levy (1997) dalam Hestin Mulyandari (2011)

39

Menurut Soejarto (1992) dalam Hestin Mulyandari (2011), untuk kota-kota di
Indonesiia yang telah menyusun rencana kotanya berdasarkan Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 4 Tahun 1980, pada umumnya secara otomatis
menyetarakan jenis-jenis rencana dengan ketentuan-ketentuan yang ada
pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No.2 Tahun 1987 atau SK Menteri PU
No. 640/KPTS/1886, yaitu RIK disetarakan dengan RUTRK ; RBWK
diseterakan dengan RDTRK dan RTK disetarakan dengan RTRK (lampiran
12 dan UU RI No. 241/1992. SKB Menteri Dalam Negeri/Menteri PU 650-
1595 ; 503/KPTS/1985 adalah sebagai berikut :

RUTRP - Rencana Umum Tata Ruang Perkotaan yaitu wilayah kota
dan pengaruhnya. Tinjauan ini tidak berdasarkan batas
RUTRK wilayah administrative kota melainkan berdasarkan peran
RDTRK kota tersebut secara fungsional
RTRK
- Rencana Umum Tata Ruang Kota yaitu perencanaan kota
yang terkait oleh batas wilayah administrative kota

- Rencana Detail Tata Ruang Kota yang mencakup sebagian
atau seluruh bagaian kot yang berupa satu atau beberapa
kawasan fungsional kota

- Rencana Teknik Ruang Kota yaitu rencana yang mencakup
bagian atau seluruh kawasan fungsional sebagaiman yang
telah digariskan didalam tahapan RDTRK diatas

40

)BAB III
PERANCANGAN KOTA (URBAN DESIGN)

3.1. Perancangan Kota (Urban Design)

Menurut Beckley yang melihat pengertian perancangan kota dari segi
profesi menjelaskan bahwa urban design merupakan suatu jembatan antara
profesi perencana kota dengan arsitektur dengan perhatian utama pada bentuk
fisik kota (Catanese,1986:45). Sedangkan menurut disiplin keilmuan, urban
design merupakan bagian dari proses perencanaan yang berhubungan dengan
kualitas lingkungan fisik kota (Shirvani,1985:6). Dalam pengertian lain,
perancangan Kota (Urban Design) merupakan suatu perpaduan kegiatan antara
profesi perencana kota, arsitektur, lansekap, rekayasa sipil, dan transportasi
dalam wujud fisik.

Perancangan kota lazimnya lebih memperhatikan bentuk fisik perkotaan.
Bentuk-bentuk perancangan kota dapat direfleksikan sebagai facade bangunan,
bentuk jaringan jalan, dan elemen lain yang mempengaruhi bentuk wilayah
perkotaan. Produk perancangan kota dapat dikategorikan dalam dua bentuk
umum (Eko Budiharjo; Kota Berkelanjutan,1999,59), yaitu

1. Ruang Kota (Urban Space)

Pada dasarnya ruang kota harus dibedakan oleh suatu karakteristik yang
menonjol, seperti kualitas pengolahan detail dan aktivitas yang berlangsung
di dalamnya. Sebuah ruang kota dapat diolah dengan lansekap yang indah
sebagai taman kota yang tenang. Dalam hal ini sebuah tempat tertentu daalm
kota berfungsi sebagai lokasi suatu aktivitas penting, tetapi tidak mempunyai
pelingkup fisik dan lantai yang semestinya. (Eko Budiharjo; Kota
Berkelanjutan,1999,63)

2. Ruang Terbuka (Open Space)

Ruang terbuka dapat dikatakan sebagai unsur ruang alam yang dibawa ke
dalam kota atau lapangan terbuka yang dibiarkan tetap seperti keadaan

41

aslinya. Penampilannya dicirikan oleh pemandangan tumbuh-tumbuhan alam
segar daripada bangunan sekitar. Ruang terbuka di dalam kota mempunyai
beberapa maksud sebagai pelengkap dan pengontras bentuk kota,
menyediakan tanah untuk penggunaan di masa depan. Pada saat melakukan
survei perancangan kota, harus mempelajari ruang kota sebagai struktur
keseluruhan.(Eko Budiharjo; Kota Berkelanjutan,1999,65)

Menurut Shirvani, Perancangan kota merupakan bagian dari proses
perencanaan yang kemudian diuraikan dengan kualitas fisik dari suatu
lingkungan. Perancangan kota merupakan kelanjutan dari urban planning
(perencanaan kota) sebab bagaimanapun hasil perencanaan kota belum “selesai”
atau belum dapat dilaksanakan tanpa ada rancang desain dari rencana yang
telah disusun. Dari pengertian di atas maka urban design memiliki tekanan bahwa
urban design lebih terprioritas pada penataan lingkungan fisik kota. Dalam
perancangan kota tentunya memiliki panduan rancang kota yang merupakan
seperangkat panduan dan peraturan yang digunakan untuk mengatur dan
membatasi penggunaan dan pengembangan ruang kota dan arsitektur kota
(Yusuf,2001:50). Urban design dalam prosesnya dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu “sadar diri” dan “tidak sadar diri”. Urban design yang “sadar diri”
adalah yang diciptakan oleh orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai
desainer dan menggunakan keahlian desain mereka untuk menciptakan suatu
lingkungan yang nyaman. Sedangkan urban design yang “tidak sadar diri” adalah
yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak menganggap dirinya sebagai
seorang desainer, tetapi mereka mempunyai peranan dalam mempengaruhi
bentuk lingkungan perkotaan (Catanese,1986:42).

Untuk mewujudkan suatu kota yang membentuk kesatuan sistem
organisasi, maka dibutuhkan suatu proses perencanaan maupun perancangan
yang terpadu. Sebuah kota tidak cukup hanya direncanakan tanpa dirancang.
Karena walau bagaimana juga perancangan kota merupakan jembatan antara
perencanaan kota yang bersifat 2 dimensi dengan perancanagan arsitektural.

42

Perancangan kota merupakan suatu proses dan produk hasil rancangan
yang berfungsi sebagai alat untuk mewujudkan suatu lingkungan binaan yang
berkualitas. Adapun perancangan digunakan juga untuk mengelola
perkembangan dan pertumbuhan suatu kota serta perubahan sikap, trend,
maupun gaya hidup masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.
Perancangan kota biasanya dilakukan untuk meminimalkan ataupun mencegah
permasalahan yang biasanya timbul di suatu kota.

Hubungan antara arsitektur, perencanaan kota dengan perancangan kota
terlihat pada diagram berikut :

Arsitektur Perencanan Kota

PERANCANGAN KOTA

Gambar : Hubungan arsitektur, perencanaan kota dan perancangan kota

3.2. Macam Proses Perancangan Kota.
Macam proses dalam perancangan kota dipengaruhi oleh macam prosesnya, baik
dalam perancangan arsitektur maupun dalam perencanaan kota, seperti halnya
juga dalam perencang arsitektur dalam perancangan kota juga dikenal proses
perancangan yang didominasi oleh intuisi (disebut sebagai metode terinternalisasi)
dan jga sebaliknya yang didominasi oleh analisis rasional (metode synopsis)
seperti yang diuraikan oleh a. Djunaedi (2000) :
1. Metode Terinternalisasi (The Internalized Method of Design)
Medode Terinternalisasi bersifat intuitif. Subyektif, personal, kreatif dan
seringkali hamper irasional, meskipun demikian oleh para arsitek yang
cemerlang (berdasrkan pengalaman dan pengeyahuannya), pendekatan
intuitif ini dapat menghasilkan karya yang baik, kadang pendekatan ini
disebut juga sebagai metodw ‘black box” karena tidak jelas alasannya dan

43

prosesnya tetapi tiba-tiba muncul suatu karya. Meskipun tidak jelas bukan
berari presentasinya tidak mungkin dibuat sistematis,
2. Metode Sinopsis (The Synoptic Method ) atau Komprehensif Rasional
Metode synopsis berakar daripada pendekatan sistem yang rasional sehingga
pendekatan ini juga dinamakan komprehensifrasional ( komprehensif berarti menyeluruh).
Proses dalam metode ini mirip dengan proses perencanaan kota komprehensif yang
telah dibahas pada bab sebelumnya. Pada metode Sinopsis ini mengikuti 7 langhak
seperti terlihat dibawah ini :

1. Pengumpulan data, survey kondisi yang ada (kondisi alam,
terbangun dan social-ekonomi)

2. Analisi data, identitas semua peluang dan kendala

3. Perumusan tujuan dan sasaran

4. Pengembangan konsep-konsep alternatif

5. Penjabaran tiap konsep ke solusi yang dapat dilaksanakan

6. Evaluasi solusi-solusi alternatif

7. Penerjemahan solusi-solusi ke proses berupa Kebijakan
(policies), Rencana (plan), Pedoman (guideline) dan Program

Gambar : Langkah-langkah dalam metode synopsis untuk perancangan kota
(sumber : Shirvani,1985 diambil dari A Djunaidi, 2000)

3. Metode Inkremental
Metode incremental dapat dapat dilihat sebagai perincian dan pentahapan
dari metode synopsis. Dalam metode inkren\mental, kerangka rencana garis
besar dibuat, kemudian untuk tiap tahap atau tiap masa disusun suatu

44

rencana tahapan dengan rinci. Proses perancangannya bersifat siklis
(putaran, dalam arti setelah satu tahap atau masa selesai, dilakukan suatu
evaluasi dan berdasr hasil evaluasi tersebut disusun rencana tahap
berikutnya dengan mengacu kerangka garis besar. Penggunaan metode ini
memungkinkan penyesuaian tiap rencana tahapan dengan situasi dan kondisi
yang dihadapi pada saat ini.
4. Metode Pluralistik
Plural artinya jamak atau banyak, pluralistic adalah sifat yang menyadari
adanya perbedaan atau keragaman. Perancangan yang berdasar pada
paradigm pluralistic dijalankan dengan mewadahi keragaman atau perbedaan
yang ada dalam masyarakat. Perancang atau perencana menyadari bahwa
pemikirannya belum tentu sama dengan pendapat masyarakat atau
pengguna rancangannya. Proses perancangan pluralistic mewadfahi
sepenuhnya partisipasi masyarakat berdasar azas demokrasi, meskipun
demikian kelemahan demokrasi terletak pada pengambilan keputusan yang
berdasarkan kemauan mayorita, sehingga ada ‘kaum pinggiran, minoritas,
miskin, tersingkir’ yang tertinggal atau tidak terwadahi pendapat dan
kebutuhannya.
5. Metode Advokasi.
Advokasi berarti pembelaan dan penerapannya pada perancangan kota
berarti gerakan yang membela kaum yang tertindas, terpinggir, minoritas
yang pendapat dan kebutuhannya tidak dapat terwadahi dalam metode
pluralistic maupun metode komprehensif rasional dan lainnya. Dalam ha ini
perancang atau perencana hanya menjadi motivator dan fasilitator saja,
sedangkan perancang atau perencana yang sesungguhnya adalah
masyarakat sendiri.

3.3. Macam Produk Perancangan Kota
Dari sisi perencanaan kota, perancangan kota merupaka upaya ‘ merancang
kota tanpa merancang bangunan’, sehingga menurut Shirvani (1985) produk
perancangan kota terbatas pada empat macam bentuk yaitu : (a) kebijakan

45

(policies), (b) rencana (plan), (c) pedoman (guidelines) dan (d) program. Di sisi
lain dari pandangan arsitektur, perancangan kota dapat saja mencakup suatu
lahan luas milik satu tangan (satu pengambil keputusan)
Terdapat lima macam kemungkinan produk perancangan kota, seperti yang
dijelaskan dibawa ini ::
1. Kebijakan (policies)

Kebijakan merupakan produk yang tidak langsung berkaitan dengan kualitas
desain, tapi lebih berkaitan dengan peraturan tentang perancangan kawasan
tertentu. Misalnya : peraturan tentang pembatasan guna lahan, meskipun
demikian kebijakan tidak selalu berbentuk pembatasan, tapi sering juga
berupa insentif bagi penanam investasi (dalam rangka pemasaran kawasan).
Secara keseluruhan, kebijakan pengembangan kawasan merupakan
kerangka tindakan dalam rangka penataan atau pengembangan kawasan.
2. Rencana (plan)
Rencana merupakan produk utama perancanagn kota dan tidak tergantung
pada macam proses yang dipakai, selalu ada rencana yang harus dihasilkan.
Perbedaannya hanyalah pada sifat rencana. Bila dipakai master planning
maka yang dihasilkan adalah end-state plan (seperti cetak biru arsitektural
yaitu rencana masa depan yang pasti dan rinci). Bila dipakai perencanaan
komprehensif, maka produk rencana mencakup tidak hanya fisik keruangan
tetapi juga hal-hal lain yang terkait (menyeluruh atau komprehensif). Bila
dipakai perencanaan strategis, maka yang dihasilkan hanya terbatas pada
solusi terhadap isu-isu strategis saja (tidak komprehensif, karena mengingat
keterbatasan sumberdaya yang ada).
3. Pedoman (Guidelines)
Kebijakan dan rencana saja tidak cukup untuk menjalankan rancangan kota,
terutama karena menyangkut banyak persil yang mengkait banyak pembuat
keputusan. Dalam hal ini diperlukan pedoman (guidelines) yang harus
dipatuhi oleh siapa pun yang membangun di tiap persil dalam kawasan yang
terkena rancangan kota atau kawasan tersebut. Biasanya pedoman tersebut
meskipun diungkapkan dalam bahasa rancangan fisik tapi masih member

46

kelonggaran tertentu bagi arsitek untuk mengembangkan kreasi pada
bangunan yang dirancang untuk suatu persil dalam kawasan yang dirancang
tersebut.
Selain pedoman yang perlu dipatuhi semua pihak yang akan membangun
dalam kawasan tersebut, yang diperlukan program kegiatan yang biasanya
merupakan tugas atau kewajiban lembaga atau pemerintah, missal program
penataan kaki lima, program penghijauan kawasan. Pelaksanaan program ini
terkait dengan siapa saja pelaku pembangunan kawasan yang dimaksud.
4. Rancangan
Rancangan kawasan dibuat bilamana kawasan tersebut di bawah satu
kepemilikan atau wewenang, sehingga terdapat kemudahan dalam
pengambilan keputusan dalam perancangan bangunan dan unsure fisik
lainnya. Misal : perancangan taman wisata, perancangan kampus perguruan
tinggi.

47

BAB IV
PENGGUNAAN LAHAN PERKOTAAN

4.1. Penggunaan Lahan

Tata guna lahan (land-use) adalah suatu upaya dalam merencanakan
penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk
pengkhususan fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi pemukiman,
perdagangan,industri, dll. Rencana tata guna lahan merupakan kerangka kerja yang
menetapkan keputusan-keputusan terkait tentang lokasi, kapasitas dan jadwal
pembuatan jalan,saluran air bersih dan air limbah, gedung sekolah, pusat
kesehatan, taman dan pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya. Tata
guna lahan merupakan salah satu faktor penentu utama dalam pengelolaan
lingkungan. Keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan konservasi
merupakan kunci dari pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkunga

Tata Guna Lahan (land use) adalah suatu upaya dalam merencanakan
penggunaan lahan dalamsuatu kawasan yang meliputi pembagian wilayah untuk
pengkhususan fungsi-fungsi tertentu,misalnya fungsi pemukiman, perdagangan,
industri, dll. Rencana tata guna lahan merupakankerangka kerja yang menetapkan
keputusan-keputusan terkait tentang lokasi, kapasitas dan jadwalpembuatan jalan,
saluran air bersih dan air limbah, gedung sekolah, pusat kesehatan, taman
danpusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum lainnya

Selaras dengan perkembangan kota dan aktivitas penduduknya maka
lahan di kota terpetak-petak sesuai dengan peruntukannya. (Jayadinata, 1999:54)
mengemukakan bahwa tata guna tanah perkotaan menunjukan pembagian dalam
ruang dan peran kota. Misalnya kawasan perumahan, kawasan tempat bekerja,
kawasan pertokoan dan kawasan rekreasi. Sedangkan menurut (Gallion, Athur,B
and Simon Eisner, 1986:27) mengemukakan bahwa penggunaan lahan perkotaan
terbagi menjadi 5 kategori, yaitu; lahan pertanian, perdagangan, indsutri,
perumahan,dan ruang terbuka. Sugandhy menggolongkan penggunaan atas suatu
lahan menjadi dua golongan (Sugandhy dalam Pangarso 2001:16), yaitu pengunaan
lahan kaitannya dengan potensi alamiah, misalnya kesuburannya atau kandungan
mineral dibawahnya; dan penggunaan lahan kaitannya dengan penggunaannya

48

sebagai ruang pembangunan, yang secara langsung tidak memanfaatkan potensi
alami lahan, tetapi lebih ditentukan oleh adanya hubungan tata ruang denagn
penggunaan-penggunaan lain yang telah ada.

Keterkaitan antara lahan dengan penggunaan-penggunaan lain diatasnya,
menunjukan bahwa terdapat keterkaitan antara lahan dengan manusia. Sedangkan
menurut (Webster, 1990:23), penggunaan lahan perkotaan diklasifikasikan sebagai
berikut : lahan permukiman, meliputi perumahan termasuk pekarangan dan
lapangan olah raga; lahan jasa, meliputi perkantoran pemerintah dan swasta,
sekolahan, puskesmas dan tempat ibadah; lahan perusahaan, meliputi pasar,
toko,kios dan tempat hiburan; dan (d) lahan industri, meliputi pabrik dan percetakan.
Menurut (Winarso, 1995:11), penggunaan lahan diklasifikasikan menjadi; lahan
permukiman; lahan perdagangan; lahan pertanian; lahan indsutri; lahan jasa;
lahan rekreasi; lahan ibadah dan lahan lainnya. Biro Pusat Statistik (BPS) membuat
klasifikasi penggunaan lahan dengan tujuan untuk mengetahui produktivitas lahan
(pertanian) sebagai berikut; lahan pertanian yang terdiri dari irigasi teknis, irigasi
setengah teknis, irigasi sederhana PU, irigasi non-PU, tadah hujan, tegal/kebun,
kolam/empang, lahan tanaman kayu, hutan; dan lahan non pertanian, terdiri dari
bangunan dan pekarangan, tanah kering, lain-lain.

Menurut (Chapin 1995:69), penggunaan lahan untuk fasilitas transportasi
cenderung mendekati jalur transportasi barang dan orang sehingga dekat dengan
jaringan transportasi serta dapat dijangkau dari kawasan permukiman dan tempat
berkerja serta fasilitas pendidikan. Sementara fasilitas rekreasi, terutama untuk
skala kota atau regional, cenderung menyesuaikan dengan potensi alam seperti
pantai, danau, daerah dengan topografi tertentu, atau flora dan fauna tertentu.

Dalam kehidupan ekonomi, daya guna lahan dan biaya adalah faktor yang
sangat penting. Untuk itu dilakukan pengaturan tempat sekolah, tempat hunian dan
tempat rekreasi yang ekonomis berhubungan dengan pendapatan perkapita, dan
sebagainya. Sementara itu kepentingan umum yang menjadi penentu dalam tata
guna lahan meliputi kesehatan, keamanan, moral, dan kesejahteraan umum
(termasuk kemudahan, keindahan, kenyamanan) dan sebagainya. Didalam kota

49

harus terdapat pengaturan tentang penyediaan perlengkapan bagi kehidupan sosial
keluarga masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, keindahan lingkungan.

4.2. Implementasi Penggunaan Lahan

Di berbagai kota di dunia hanya terdapat 3 jenis rencana kota yang sifatnya
hirarkis yaitu rencana makro, rencana meso dan rencana mikro . Rencana makro,
adalah rencana yang bersifat umum, stretegik dan konsepsional, lebih banyak berisi
uraian yang sifatnya deskriptip dan retorik, memuat tentang visi, misi, tujuan ,
sasaran , kebijakan pembangunan kota , arahan pembangunan kota yang bersifat
diagramatis dan pengembangan zona-zona utama. Rencana meso , adalah rencana
yang bersifat sudah lebih teknis, tidak terlalu banyak lagi uraian yang bersifat
deskriptip dan tidak lagi bersifat diagramatis seperti dalam rencana makro, tetapi
sudah betul-betul mengikuti kondisi geografis yang nyata, memberikan gambaran
yang lebih jelas tentang pengembangan infrastruktur dan pengembangan zona-zona
yang lebih spesifik. Inilah sesungguhnya rencana yang umumnya dikenal dengan
istilah zoning plan dan merupakan jembatan dalam penyusunan rencana mikro.
Rencana mikro, adalah rencana rinci yang sudah menggambarkan tentang paket-
paket penggunaan, dimensi-dimensi teknis perpetakan, right of way, sempadan
bangunan, koeffisien dasar bangunan, koeffisien lantai bangunan, koeffisien dasar
hijau dlsbnya. Rencana ini dikenal juga yang dengan istilah land use plan dan
menjadi dasar dalam penerbitan berbagai macam izin yang menyangkut
pembangunan kota.

Adapun terminologi yang digunakan untuk ketiga jenis rencana tersebut di
atas pada beberapa negara ataupun kota berbeda-beda. Di negeri Inggris misalnya,
rencana makro disebut structure plan, rencana mesonya disebut Local Plan. Local
Plan dapat berupa subject plan atau topic plan, district plan bila menyangkut wilayah
administrasi (setingkat kecamatan) atau action area plan yang sudah dilengkapi
dengan tahapan dan skema pembiayaan. Sedangkan rencana mikronya disebut
subdivision plan ( rencana perpetakan ). Di Perancis, rencana makronya disebut
Schema Directuer d ‘ Amenagement Urbain / Arahan Skematis Pembangunan Kota

50


Click to View FlipBook Version