MATERI TTS PROSES SOSIAL, GOTONG ROYONG DAN BELAJAR
PENGEMBANGAN DAN PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
1. PROSES SOSIAL
1.1 Proses Sosial
Proses Sosial adalah setiap interaksi sosial yang berlangsung dalam suatu jangka
waktu, sedemikian rupa hingga menunjukkan pola-pola pengulangan hubungan
perilaku dalam kehidupan masyarakat. Secara garis besar, proses sosial bisa dibedakan
ke dalam dua jenis, yaitu proses sosial yang asosiatif, dan proses sosial yang disosiatif.
2.1 Proses Sosial Asosiatif
Proses Sosial Asosiatif. Proses sosial bisa disebut asosiatif apabila proses itu
mengindikasikan adanya “gerak pendekatan atau penyatuan”. Berikut ini adalah
empat bentuk khusus proses sosial yang asosiatif, yakni:
a. Kooperasi, berasal dari dua kata latin, co yang berarti bersama-sama, dan
operani yang berarti bekerja. Kooperasi, dengan demikian, berarti kerja sama.
Kooperasi merupakan perwujudan minat dan perhatian orang untuk bekerja
bersama-sama dalam suatu kesepahaman, sekalipun motifnya sering dan bisa
tertuju pada kepentingan diri sendiri.
b. Akomodasi, adalah suatu proses ke arah tercapainya kesepakatan sementara
yang dapat diterima kedua belah pihak yang tengah bersengketa. Akomodasi
ini terjadi pada orangorang atau kelompok-kelompok yang mau tak mau harus
bekerja sama, sekalipun dalam kenyataannya mereka masingmasing selalu
memiliki paham yang berbeda dan bertentangan. Tanpa akomodasi dan
kesediaan berakomodasi, dua pihak yang berselisih paham tak akan mungkin
bekerja sama untuk selama-lamanya. Akomodasi sering terjadi di dalam
masyarakat, sehingga betapa pun seriusnya perbedaan pendapat sepasang
suami-istri, misalnya, masih tetap saja mereka bisa bertahan hidup dan tinggal
bersama dalam satu rumah (atau bahkan satu ranjang) sampai akhir hayatnya.
c. Asimilasi, merupakan proses yang lebih berlanjut apabila dibandingkan dengan
proses akomodasi. Pada proses asimilasi terjadi proses peleburan kebudayaan,
sehingga pihak-pihak atau warga-warga dari dua-tiga kelompok yang tengah
berasimilasi akan merasakan adanya kebudayaan tunggal yang dirasakan
sebagai milik bersama.
d. Amalgamasi, merupakan proses sosial yang melebur dua kelompok budaya
menjadi satu, yang pada akhirnya melahirkan sesuatu yang baru. Tak usah
dikatakan lagi, amalgamasi itu jelas akan melenyapkan
pertentanganpertentangan yang ada di dalam kelompok. Sebuah contoh dari
khazanah sejarah dapat ditunjukkan. Pertentanganpertentangan antara suku-
suku bangsa Anglo-Saxon dan Normandia telah berakhir ketika terjadi
perkawinan campuran antara kedua suku bangsa tersebut. Perkawinan
campuran antara kedua kelompok besar ini telah melahirkan proses
amalgamasi yang berhasil.
2.2 Proses Sosial Disasosiatif
Proses sosial disasosiatif dapat ditemukan pada setiap masyarakat. Bentuk dan
coraknya tentu saja akan bervariasi, tergantung dari keadaan budaya masyarakat
yang bersangkutan. Proses sosial disasosiatif dapat diuraikan menjadi tiga bentuk,
yakni:
a. Kompetisi. Proses ini adalah proses sosial yang mengandung perjuangan untuk
memperebutkan tujuan-tujuan tertentu yang sifatnya terbatas, yang semata-
mata bermanfaat untuk mempertahankan suatu kelestarian hidup. Pada
pokoknya, apa yang disebut kompetisi ini dapat dibedakan ke dalam dua tipe
umum. Pertama, kompetisi personal, yaitu kompetisi yang bersifat pribadi
antara dua orang. Kedua, kompetisi impersonal, yaitu kompetisi tak pribadi
yang berlangsung (bukan antara orang-orang yang mendukung
kepentingankepentingan pribadi) antara dua kelompok; sebagai contoh dapat
disebutkan persaingan antara dua perusahaan, yang tentu saja juga
menyangkut orang-orang, tetapi tidak menyangkut perkara-perkara
pribadinya, melainkan menyangkut kedudukan-kedudukan mereka selaku
pejabat atau pemegang peranan di dalam perusahaan itu.
b. Konflik. Konflik sebagai suatu proses ternyata dipraktikkan juga secara luas di
dalam masyarakat. Berbeda hal dengan kompetisi yang selalu berlangsung di
dalam suasana “damai”, konflik adalah suatu proses sosial yang berlangsung
dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling
menentang dengan ancaman kekerasan. Dalam bentuknya yang ekstrem,
konflik itu dilangsungkan tidak hanya sekedar untuk mempertahankan hidup
dan eksistensi (jadi bersifat defensif), akan tetapi juga bertujuan sampai ke
taraf pembinasaan eksistensi orang atau kelompok lain yang dipandang
sebagai lawan atau saingannya. Dari catatan sejarah kita dapat melihat
bagaimana orang-orang Roma berkonflik dan memusnahkan penduduk
Carthago; dan bagaimana migran-migran Eropa membinasakan eksistensi
suku-suku Indian.
c. Kontravensi, berasal dari kata latin, conta dan venire, yang berarti menghalangi
atau menantang. Dalam kontravensi dikandung usaha untuk merintangi pihak
lain mencapai tujuan. Yang diutamakan dalam kontravensi adalah
menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain. Hal ini didasari oleh rasa tidak
senang karena keberhasilan pihak lain yang dirasa merugikan, walaupun
demikian tidak terdapat maksud untuk menghancurkan pihak lain.
2. GOTONG ROYONG
2.1 Pengertian Gotong Royong
Gotong royong adalah ungkapan yang menyatakan saling membantu dan sudah
menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
2.2 Makna Gotong Royong
Gotong Royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk
mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari kata bahasa Jawa
gotong yang berarti "mengangkat" dan royong yang berarti "bersama". Bersama
dengan musyawarah, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, serta kekeluargaan, gotong
royong menjadi dasar filsafat Indonesia. Kata royong dapat dipadankan dengan kata
bersama-sama. Dalam bahasa Jawa kata saiyeg saeko proyo atau satu gerak, satu
kesatuan usaha memiliki makna amat dekat untuk melukiskan kata royong ini. Ibarat
burung kuntul berwarna putih terbang tinggi bersama-sama, dengan kepak sayapnya
yang seirama, menuju satu arah dengan bersama-sama, dan masyarakat kemudian
menyebutnya holopis kuntul baris (Baiquni, 2011, hlm.7).
Gotong royong mempunyai arti setiap individu dalam kondisi seperti apapun ada
kemauan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam memberi nilai tambah atau positif
kepada setiap obyek, permasalahan atau kebutuhan orang banyak disekeliling
hidupnya. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, tenaga
fisik, mental spiritual, keterampilan, sumbangan pikiran serta nasihat yang konstruktif,
sampai hanya berdoa kepada Tuhan (Baiquni, 2011, hlm. 8).
2.3 Macam-macam Gotong Royong
Menurut Koentjaraningrat (1985, hlm 168) Sistem tolong-menolong dalam kehidupan
masyarakat desa merupakan sistem gotong royong, menunjukkan perbedaan-
perbedaan mengenai sifat rela dalam hubungannya dengan beberapa macam
lapangan aktivitas lapangan sosial. Berhubungan dengan hal tersebut dapat dibedakan
adanya beberapa macam tolong-menolong, ialah misalnya:
a. Tolong menolong dalam aktivitas pertanian.
b. Tolong menolong dalam aktivitas sekitar rumah tangga.
c. Tolong menolong dalam aktivitas persiapan pesta dan upacara.
d. Tolong menolong dalam peristiwa bencana, kecelakaan serta kematian.
e. Tolong menolong dalam aktivitas pertanian, masyarakat bisa mengalami musim-
musim yang sangat sibuk ketika masa bercocok tanam.Dalam musim-musim sibuk
ini, tenaga keluarga batih tidak cukup lagi untuk menyelesaikan sendiri segala
pekerjaan di ladang ataupun di sawah, maka orang bisa menyewa tenaga
tambahan ataupun bisa meminta bantuan tenaga dari sesama warga
komunitasnya. Sistem ini bersifat universal semua masyarakat di dunia yang
berbentuk komunitas kecil, tenaga bantuan disumbangkan bukan upah melainkan
kompensasi (Koentjaraningrat, 1985, hlm. 168).
2.4 Fungsi Gotong Royong
Fungsi gotong royong pada prinsipnya yaitu memberikan penuh manfaat kepada
masyarakat. Didalam gotong royong, sebuah pekerjaan ataupun permasalahan di
masyarakat bisa terselesaikan bila bekerjasama. Menyelesaikan masalah bersama-
sama menunjukkan melakukan aksi gotong royong memberikan penuh makna
didalamnya dengan bersatunya masyarakat. Menurut Bintarto (1980, hlm. 11)
menyampaikan pandangan perihal makna didalam gotong royong, yaitu:
a. Memudahkan ativitas masyarakat baik di kampung atau di Kota;
b. Meneguhkan serta merukunkan hubungan antar masyarakat;
c. Mempersatukan warga Indonesia.
Berlandaskan penjabaran diatas bermakna aktivitas gotong royong suatu kegiatan
ataupun persoalan yang dari semula terasa beban sebab dikerjakan seorang diri,
hingga bakal terasa mudah bilamana tergarap bersamasama.
3. BELAJAR
3.1 Pengertian Belajar
Apa yang dimaksud dengan belajar? Pengertian belajar adalah suatu proses atau
upaya yang dilakukan setiap individu untuk mendapatkan perubahan tingkah laku,
baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai positif sebagai
suatu pengalaman dari berbagai materi yang telah dipelajari.
Definisi belajar dapat juga diartikan sebagai segala aktivitas psikis yang dilakukan
oleh setiap individu sehingga tingkah lakunya berbeda antara sebelum dan
sesudah belajar. Perubahan tingkah laku atau tanggapan, karena adanya
pengalaman baru, memiliki kepandaian/ ilmu setelah belajar, dan aktivitas
berlatih.
Arti belajar adalah suatu proses perubahan kepribadian seseorang dimana
perubahaan tersebut dalam bentuk peningkatan kualitas perilaku, seperti
peningkatan pengetahuan, keterampilan, daya pikir, pemahaman, sikap, dan
berbagai kemampuan lainnya.
Pembelajar maknanya merujuk pada seseorang yang membelajarkan atau selama
ini biasa disebut dengan guru.
3.2 Tiga tujuan belajar
a. Untuk Memperoleh Pengetahuan
Hasil dari kegiatan belajar dapat ditandai dengan meningkatnya kemampuan
berpikir seseorang. Jadi, selain memiliki pengetahuan baru, proses belajar
juga akan membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi lebih baik.
Dalam hal ini, pengetahuan akan meningkatkan kemampuan berpikir
seseorang, dan begitu juga sebaliknya kemampuan berpikir akan berkembang
melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari. Dengan kata lain, pengetahuan dan
kemampuan berpikir merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
b. Menanamkan Konsep dan Keterampilan
Keterampilan yang dimiliki setiap individu adalah melalui proses belajar.
Penanaman konsep membutuhkan keterampilan, baik itu keterampilan
jasmani maupun rohani.
Dalam hal ini, keterampilan jasmani adalah kemampuan individu dalam
penampilan dan gerakan yang dapat diamati. Keterampilan ini berhubungan
dengan hal teknis atau pengulangan. Sedangkan keterampilan rohani
cenderung lebih kompleks, karena bersifat abstrak. Keterampilan ini
berhubungan dengan penghayatan, cara berpikir, dan kreativitas dalam
menyelesaikan masalah atau membuat suatu konsep.
c. Membentuk Sikap
Kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang. Dalam hal ini,
pembentukan sikap mental peserta didik akan sangat berhubungan dengan
penanaman nilai-nilai sehingga menumbuhkan kesadaran di dalam dirinya.
Dalam proses menumbuhkan sikap mental, perilaku, dan pribadi anak didik,
seorang guru harus melakukan pendekatan yang bijak dan hati-hati.
Guru harus bisa menjadi contoh bagi anak didik dan memiliki kecakapan dalam
memberikan motivasi dan mengarahkan berpikir. Bertolak dari berbagai
definisi yang telah diuraikan para pakar tersebut, secara umum belajar dapat
dipahami sebagai suatu tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang
relatif menetap (permanent) sebagai hasil pengalaman.
3.3 Mengacu pada definisi belajar di atas, berikut ini adalah beberapa hal yang
menggambarkan ciri-ciri belajar:
a. Terjadi perubahan tingkah laku (kognitif, afektif, psikomotor, dan campuran)
baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung.
b. Perubahan tingkah laku hasil belajar pada umumnya akan menetap atau
permanen.
c. Proses belajar umumnya membutuhkan waktu tidak sebentar dimana hasilnya
adalah tingkah laku individu.
d. Beberapa perubahan tingkah laku yang tidak termasuk dalam belajar adalah
karena adanya hipnosa, proses pertumbuhan, kematangan, hal gaib, mukjizat,
penyakit, kerusakan fisik.
e. Proses belajar dapat terjadi dalam interaksi sosial di suatu lingkungan
masyarakat dimana tingkah laku seseorang dapat berubah karena
lingkungannya.
3.4 Menurut Slameto, ciri-ciri perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar
sebagai berikut :
a. Perubahan terjadi secara sadar
b. Bersifat menetap atau kontinu, dan fungsional
c. Bersifat positif dan aktif
d. Memiliki tujuan dan terarah
e. Meliputi segala aspek tingkah laku individu
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri belajar adalah adanya perubahan yang terjadi
secara sadar, dimana tingkah laku seseorang menjadi lebih baik, dan sifatnya menetap
sebagai hasil dari latihan dan pengalaman.
Setidaknya ada delapan jenis belajar yang dilakukan oleh manusia. Adapun beberapa
jenis belajar adalah sebagai berikut:
a. Belajar rasional, yaitu proses belajar menggunakan kemampuan berpikir sesuai
dengan akal sehat (logis dan rasional) untuk memecahkan masalah.
b. Belajar abstrak, yaitu proses belajar menggunakan berbagai cara berpikir abstrak
untuk memecahkan masalah yang tidak nyata.
c. Belajar keterampilan, yaitu proses belajar menggunakan kemampuan gerak
motorik dengan otot dan urat syaraf untuk menguasai keterampilan jasmaniah
tertentu.
d. Belajar sosial, yaitu proses belajar memahami berbagai masalah dan cara
penyelesaian masalah tersebut. Misalnya masalah keluarga, persahabatan,
organisasi, dan lainnya yang berhubungan dengan masyarakat.
e. Belajar kebiasaan, yaitu proses pembentukan atau perbaikan kebiasaan ke arah
yang lebih baik agar individu memiliki sikap dan kebiasaan yang lebih positif sesuai
dengan kebutuhan (kontekstual).
f. Belajar pemecahan masalah, yaitu belajar berpikir sistematis, teratur, dan teliti
atau menggunakan berbagai metode ilmiah dalam menyelesaikan suatu masalah.
g. Belajar apresiasi, yaitu belajar kemampuan dalam mempertimbangkan arti atau
nilai suatu objek sehingga individu dapat menghargai berbagai objek tertentu.
h. Belajar pengetahuan, yaitu proses belajar berbagai pengetahuan baru secara
terencana untuk menguasai materi pelajaran melalui kegiatan eksperimen dan
investigasi.