The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by azharsaragih, 2023-06-07 11:50:51

Penyimpangan Sosial

Penyimpangan Sosial

PENYIMPANGAN SOSIAL Oleh Khairul Azhar Saragih A. Pengertian Penyimpangan Sosial Penyimpangan sosial merupakan bentuk perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Menurut Bruce J. Cohen, ukuran yang menjadi dasar adanya penyimpangan bukan baik atau buruk, benar atau salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran norma dan nilai sosial suatu masyarakat. Perilaku menyimpang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kehidupan sosial dalam masyarakat. Penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang, sadar atau tidak sadar pernah kita alami atau kita lakukan. Penyimpangan sosial dapat terjadi dimanapun dan dilakukan oleh siapapun. Sejauh mana penyimpangan itu terjadi, besar atau kecil, dalam skala luas atau sempit tentu akan berakibat terganggunya keseimbangan kehidupan dalam masyarakat. Suatu perilaku dianggap menyimpang apabila tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat atau dengan kata lain penyimpangan (deviation) adalah segala macam pola perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri (conformity) terhadap kehendak masyarakat. 1. Robert M.Z Lawang Menurut Robert, penyimpangan sosial adalah segala tindakan dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma yang sudah berlaku di dalam sistem masyarakat tertentu. 2. James W. Van Zanden Menurut James, yang dinamakan penyimpangan sosial adalah suatu tindakan atau perilaku yang menurut sebagian besar orang dianggap sebagai tindakan yang tercela. 3. Lewis Coser Lewis Coser berpendapat bahwa yang dimaksud penyimpangan sosial adalah kegagalan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap kebudayaan dengan perubahan sosial. 4. Gillin Menurut Gillin perilaku menyimpang adalah sejumlah tingkah laku yang timbul dari nilai-nilai dan norma sosial sehingga dapat menjadi sebab pemudaran atau runtuhnya ikatan sosial solidaritas kelompok. 5. Becker Menurut Becker suatu perilaku yang menyimpang secara sosial adalah konsekuensi dari adanya aturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap seseorang yang mengerjakan tindakan itu sendiri. 6. Van Der Zanden Menurut Zanden, penyimpangan sosial adalah suatu perilaku yang dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai tindakan yang tercela dan berada di luar batas toleransi. 7. Paul B. Horton Menurut Paul, penyimpangan sosial adalah perilaku atau tindakan yang dilakukan seseorang sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma yang ada dalam masyarakat.


8. Edward H. Sutherland Menurut Edward penyimpangan ini bersumber dari pergaulan yang berbeda sebab seseorang yang belajar untuk menyimpang dari norma masyarakat melalui kelompokkelompok berbeda di mana ia bergaul. Di dalam teori ini juga dipaparkan bahwa teori sumber penyimpangan terdiri dari 2 faktor yaitu: Faktor pertama, perilaku menyimpang bisa terjadi karena sebuah proses sosialisasi yang tidak merata, sehingga pesan-pesan yang dibawa oleh agen-agen sosialisasi tidak searah. Kedua, perilaku menyimpang juga bisa terjadi akibat seseorang belajar mengenai perilaku yang menyimpang. 9. Edwin M. Lemert Menurut Edwin penyimpangan ini berasal dari adanya proses lebelling (pemberian julukan, merk, cap, atau stempel) negatif yang diberikan masyarakat untuknya. 10. Robert K. Merton Menurut Robert, penyimpangan berasal dari adanya ketegangan antara tujuan budaya dan sarana untuk menggapainya. Masyarakat menginginkan setiap orang berhasil, namun tidak semua orang bisa mencapainya melalui sarana yang sah, seperti menjadi pengusaha dll. Kemudian orang-orang ini akan mengambil jalur yang menyimpang. B. Ciri-ciri Penyimpangan Sosial Menurut Paul B. Horton penyimpangan sosial mmepunyai ciri-ciri nya yaitu sebagai berikut: 1. Penyimpangan harus dapat didefinisikan Perilaku dikatakan menyimpang atau tidak harus dapat dinilai berdasarkan kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya. 2. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak Perilaku menyimpang tidak selamanya negatif, adakalanya penyimpangan dapat diterima masyarakat, misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan perampokan adalah penyimpangan sosial yang ditolak masyarakat. 3. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak Semua orang pernah melakukan suatu penyimpangan sosial, tetapi pada batasbatas tertentu yang sifatnya relatif untuk semua orang. Penyimpangan relatif adalah hanya kadang kadang melakukan penyimpangan, sedangkan penyimpangan mutlak berarti penyimpang tersebut memang sudah terlalu sering menyimpang. Dikatakan relatif atau mutlak karena perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangan. Jadi secara umum, penyimpangan yang dilakukan setiap orang cenderung relatif. Bahkan orang yang sudah melakukan penyimpangan mutlak lambat laun harus berkompromi dengan lingkungannya. 4. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal Budaya ideal merupakan segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat. Akan tetapi pada suatu kenyataannya tidak ada seorang pun yang patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut karena antara budaya nyata dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang sudah menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan kehidupan sehari-hari cenderung banyak dilanggar. Trotoar idealnya adalah untuk pejalan kaki, tetapi nyatanya di berbagai kota besar


dipergunakan para pedagang kaki lima dan bahkan kendaraan naik trotoar ketika lalu lintas padat. 5. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan Norma penghindaran ialah pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang suatu nilai-nilai tata kelakukan secara terbuka. Jadi norma-norma penghindaran adalah bentuk penyimpangan perilaku yang sifatnya setengah melembaga. 6. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan) Penyimpangan sosial bersifat adaptif, artinya perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang bisa dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial. Sekarang ini telah biasa pekerjaan karakteristik laki laki dikerjakan kaum perempuan. C. Teori penyimpangan sosial 1. Teori Differential Association. Menurut pandangan Edwin H. Sutherland, penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda (sekelompok orang yang telah menyimpang) yang terjadi melalui proses alih budaya. Melalui proses ini seseorang mempelajari suatu subkebudayaan menyimpang (deviant subculture). Contohnya perilaku siswa yang suka bolos sekolah. Perilaku tersebut dipelajarinya dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang yang sering bolos sekolah. Melalui pergaulan itu ia mencoba untuk melakukan penyimpangan tersebut, sehingga menjadi pelaku perilaku menyimpang. 2. Teori Labeling. Menurut Edwin M. Lemert seseorang menjadi menyimpang karena proses Labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial. 3. Teori Tipologi Adaptasi Robert K Merton mengatakan bahwa penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial. Dalam struktur sosial dijumpai tujuan atau kepentingan, di mana tujuan tersebut adalah hal-hal yang pantas dan baik. Selain itu, diatur juga cara untuk meraih tujuan tersebut. Apabila tidak ada kaitan antara tujuan (cita-cita) yang ditetapkan dengan cara untuk mencapainya, maka akan terjadi penyimpangan. Menurut Merton terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adabtasi terhadap situasi tertentu. 4. Teori Fungsi Menurut Durkheim, kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Teori ini melihat bahwa kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal. 5. Teori konflik. Karl Mark mengemukakan bahwa kejahatan erat terkait dengan perkembangan kapitalisme. Menurtu teori ini apa yang merupakan perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka.


D. Penyebab Terjadinya Penyimpangan Sosial Penyebab terjadinya penyimpangan sosial bisa dilihat dari situasi dan kondisi pada masyarakat itu sendiri. Pada dasarnya setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda, hal itulah yang kemudian menimbulkan tindakan-tindakan yang berlawanan dan tidak semua individu mampu mengidentifikasi nilai dan norma yang sudah berlaku di masyarakat. Hal seperti ini menunjukkan bahwasannya proses sosialisasi mengalami kegagalan, individu-individu yang demikian itu sangat cenderung menerapkan tindakan yang menyimpang. Beberapa faktor yang menyebabkan orang melakukan sesuatu menyimpang antara lain: 1. Menurut James W. Van Der Zanden Faktor-faktor penyimpangan sosial adalah sebagai berikut: a) Longgar/tidaknya nilai dan norma. Ukuran perilaku menyimpang bukan pada ukuran baik buruk atau benar salah menurut pengertian umum, melainkan berdasarkan ukuran longgar tidaknya norma dan nilai sosial suatu masyarakat. Norma dan nilai sosial masyarakat yang satu berbeda dengan norma dan nilai sosial masyarakat yang lain. Misalnya: kumpul kebo di Indonesia dianggap penyimpangan, di masyarakat barat merupakan hal yang biasa dan wajar. b) Sosialisasi yang tidak sempurna. Proses sosialisasi dapat dianggap tidak berhasil apabila individu tidak mampu mendalami norma-norma dalam masyrakat yang berlaku. Individu yang demikian tidak akan memiliki perasaan bersalah atau menyesal setelah melakukan pelanggaran hokum. Sosialisasi yang tidak sempurna juga timbul karena nilai-nilai atau normanorma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam proses sosialisasi sehingga seseorang bertindak tanpa memperhitungkan risiko yang akan terjadi. Perilaku menyimpang dapat merupakan produk sosialisasi baik disengaja maupun tidak disengaja. Proses sosialisasi tidak sempurna dapat juga timbul karena cacat bawaan, kekurangan gizi, ataupun ganggua jiwa. Di masyarakat sering terjadi proses sosialisasi yang tidak sempurna, sehingga menimbulkan perilaku menyimpang. Contoh: di masyarakat seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan atau pedoman, menjadi teladan namun kadangkala terjadi pemimpin justru memberi contoh yang salah, seperti melakukan KKN. Karena masyarakat mentolerir tindakan tersebut maka terjadilah tindak perilaku menyimpang. c) Sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang. Perilaku menyimpang terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan/ pada umumnya. Contoh: Masyarakat yang tinggal di lingkungan kumuh, masalah etika dan estetika kurang diperhatikan, karena umumnya mereka sibuk dengan usaha memenuhi kebutuhan hidup yang pokok (makan), sering cekcok, mengeluarkan kata-kata kotor, buang


sampah sembarangan dsb. Hal itu oleh masyarakat umum dianggap perilaku menyimpang. 2. Menurut Casare Lombroso Perilaku menyimpang disebabkan oleh faktor-faktor: a) Biologis Misalnya orang yang lahir sebagai pencopet atau pembangkang. Ia membuat penjelasan mengenai “si penjahat yang sejak lahir”. Berdasarkan ciri-ciri tertentu orang bisa diidentifikasi menjadi penjahat atau tidak. Ciri- ciri fisik tersebut antara lain: bentuk muka, kedua alis yang menyambung menjadi satu dan sebagainya. b) Psikologis Menjelaskan sebab terjadinya penyimpangan ada kaitannya dengan kepribadian retak atau kepribadian yang memiliki kecenderungan untuk melakukan penyimpangan. Dapat juga karena pengalaman traumatis yang dialami seseorang. c) Sosiologis Menjelaskan sebab terjadinya perilaku menyimpang ada kaitannya dengan sosialisasi yang kurang tepat. Individu tidak dapat menyerap norma-norma kultural budayanya atau individu yang menyimpang harus belajar bagaimana melakukan penyimpangan. Selain faktor di atas terdapat beberapa faktor lainnya yaitu: 1. Perbedaan Status Terdapat benteng pemisah antara si miskin dan si kaya yang amat mencolok, sehingga dengan hal itu akan mengakibatkan timbulnya rasa iri, dengki, syirik, dan berujung pada perilaku menyimpang seperti manipulasi, korupsi, kolusi, dan sebagainya. 2. Kebutuhan Ekonomi Tumbuh rasa atau keinginan untuk hidup serba kecukupan tanpa harus susah payah bekerja, hal ini juga mengakibatkan seseorang mengambil jalan pintas dengan cara penyimpangan seperti merampok, begal, mencuri, dan lain sebagainya. 3. Keluarga yang Berantakan (Broken Home) Keluarga yang berantakan akan menyebabkan tumbuhnya penyimpangan sosial. Hal ini disebabkan oleh perselingkuhan atau perceraian, sehingga menyebabkan anggota keluarganya tidak betah hidup di rumah akibat dari situasi dan kondisi rumah yang selalu berantem atau saling diam. Akibat dari itu, ia melampiaskan kekosongan hatinya dengan berjudi, miras, narkoba, terjun ke dalam komplek prostitusi, dan masih banyak lainnya. Banyak Pemuda yang Putus Sekolah dan Pengangguran Hidupnya Liar di Jalanan Pada dasarnya seorang pemuda bisa saja bekerja di kantor, untuk bekerja disebuah kantor sangat dibutuhkan keahlian. Namun mereka tidak memiliki keahlian tersebut. Padahal mereka juga membutuhkan sandang, pangan, dan tempat tinggal, yang ujung-ujungnya mereka ambil jalan pintas dengan cara menjadi pengamen bus atau pengemis berjalan. 4. Pengaruh Media Masa Media masa sangatlah besar pengaruhnya, banyaknya tayangan-tayangan berita kekerasan dan kriminalitas. Pola seperti ini akan memengaruhi emosi dan kejiwaan seseorang, yang berakibat kepada pembunuhan, pemerkosaan, perkelahian, perampokan,


dan sebagainya. Saat ini media di Indonesia sudah terkontaminasi dengan acara-acara yang berdampak pada tindakan negatif. Oleh karena itu sebagai orang tua harus senantiasa memperhatikan buah hatinya agar terhindar dari pencemaran media masa. 5. Sikap mental yang tidak sehat Perilaku yang menyimpang dapat pula disebabkan karena sikap mental yang tidak sehat. Sikap itu ditunjukkan dengan tidak merasa bersalah/menyesal atas perbuatannya, bahkan merasa senang. Contoh: Profesi pelacur. 6. Pelampiasan rasa kecewa Seseorang yang mengalami kekecewaan apabila tidak dapat mengalihkannya ke hal yang positif, maka ia akan berusaha mencari pelarian untuk memuaskan rasa kecewanya. Contoh : Bunuh diri 7. Keinginan untuk dipuji Seseorang dapat bertindak menyimpang karena keinginan untuk mendapat pujian, seperti banyak uang, selalu berpakaian mahal dan perhiasan yang mewah, atau gaya hidup yang mewah. Agar keinginan itu terwujud, ia rela melakukan perbuatan menyimpang. Contoh: Korupsi, menjual diri, merampok. E. Bentuk Penyimpangan Sosial Masyarakat melakukan penyimpangan sosiat dapat dikiasifikasikan atau digolongkan dalam beberapa bentuk, sebagai berikut; 1. Penyimpangan Sosial Berdasarkan Sifatnya Berikut perilaku menyimpang berdasarkan sifatnya; a. Penyimpangan Positif Penyimpangan positif ialah bentuk penyimpangan yang berdampak positif bagi pelaku penyimpangan atau orang lain di sekitarnya. Meskipun demikian, perilaku ini tetap dianggap bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. b. Penyimpangan Negatif Penyimpangan negatif ialah seluruh perilaku bertentangan dengan nilal dan norma dominan dalam masyarakat. Masyarakat biasanya tidak menoleransi tindak penyimpangan negatif. 2. Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jumlah Pelakunya Berikut klarifikasi perilaku menyimpang berdasarkan jumlah pelakunya; a. Penyimpangan Individual Penyimpangan individual ialah penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang yang melanggar tatanan nilai dan norma di Iingkungan masyarakat. Penyimpangan yang bersifat individual sesuai dengan kadar penyimpangannya dapat dibagi menjadi beberapa hal, antara lain: 1) Tidak patuh nasihat orang tua agar mengubah pendirian yang kurang baik, penyimpangannya disebut pembandel. 2) Tidak taat kepada peringatan orang-orang yang berwenang di lingkungannya, penyimpangannya disebut pembangkang. 3) Melanggar norma-norma umum yang berlaku, penyimpangannya disebut pelanggar.


4) Mengabaikan norma-norma umum, menimbulkan rasa tidak aman/tertib, kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya, penyimpangannya disebut perusuh atau penjahat. Kategori Penyimpangan Individual Yang termasuk dalam tindak penyimpangan individual antara lain: 1) Penyalahgunaan narkoba Merupakan bentuk penyelewengan terhadap nilai, norma sosial dan agama. Contoh pemakaian obat terlarang/narkoba antara lain: Narkotika (candu, ganja, putau), Psikotropika (ectassy, magadon, amphetamin) 2) Proses sosialisasi yang tidak sempurna. Apabila seseorang dalam kehidupannya mengalami sosialisasi yang tidak sempurna, maka akan muncul penyimpangan pada perilakunya. Contohnya: seseorang menjadi pencuri karena terbentuk oleh lingkungannya yang banyak melakukan tidak ketidakjujuran, pelanggaran, pencurian dan sebagainya. 3) Pelacuran Pelacuran dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan menyerahkan diri kepada umum untuk dapat melakukan perbuatan sexual dengan mendapatkan upah. Pelacuran lebih disebabkan oleh tidak masaknya jiwa seseorang atau pola kepribadiannya yang tidak seimbang. Contoh: seseorang menjadi pelacur karena mengalami masalah (ekonomi, keluarga dsb.) 4) Penvimpangan seksual Adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan seseorang. Beberapa jenis penyimpangan seksual: a. Lesbianisme dan Homosexual b. Sodomi c. Transvestitisme d. Sadisme e. Pedophilia f. Perzinahan g. Kumpul kebo h. Tindak kejahatan/kriminal 5) Tindakan yang bertentangan dengan norma hukum, sosial dan agama. Yang termasuk ke dalam tindak kriminal antara lain: pencurian, penipuan, penganiayaan, pembunuhan, perampokan dan pemerkosaan. 6) Gaya hidup Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup yang lain dari perilaku umum atau biasanya. Penyimpangan ini antara lain: 7) Sikap arogansi Kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kepandaian, kekuasaan, kekayaan dsb. 8) Sikap eksentrik Perbuatan yang menyimpang dari biasanya, sehingga dianggap aneh, misalnya laki-laki beranting di telinga, rambut gondrong dsb. b. Penyimpangan Kolektif Penyimpangan kolektif ialah bentuk penyimpangan terhadap nilai dan norma oleh sekelompok orang secara terkoordinasi.


Penyimpangan yang dilakukan secara kelompok/kolektif antara lain: 1) Kenakalan remaja Karena keinginan membuktikan keberanian dalam melakukan hal-hal yang dianggap bergengsi, sekelompok orang melakukan tindakan-tindakan menyerempet bahaya, misalnya kebut-kebutan, membentuk geng-geng yang membuat onar dsb. 2) Tawuran/perkelahian pelajar Perkelahian antar pelajar termasuk jenis kenakalan remaja yang pada umumnya terjadi di kota-kota besar sebagai akibat kompleknya kehidupan di kota besar. Demikian juga tawuran yang terjadi antar kelompok/etnis/warga yang akhir-akhir ini sering muncul. Tujuan perkelahian bukan untuk mencapai nilai yang positif, melainkan sekedar untuk balas dendam atau pamer kekuatan/unjuk kemampuan. 3) Penyimpangan kebudayaan Karena ketidakmampuan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadian masing-masing individu dalam kelompok maka dapat terjadi pelanggaran terhadap norma-norma budayanya. Contoh: tradisi yang mewajibkan mas kawin yang tinggi dalam masyarakat tradisional banyak ditentang karena tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman. 3. Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jenisnya Berikut klarifikasi perilaku menyimpang berdasarkan jenisnya; a. Penyimpangan Primer Penyimpangan primer ialah penyimpangan sosial yang bersifat temporer. Penyimpangan ini baru dilakukan pertama kali, bersifat sementara, dan masih dapat ditoleransi oleh masyarakat. Ciri-Ciri Penyimpangan Primer 1) Penyimpangan Primer biasanya hanya dilakukan sesekali 2) Penyimpangan ini tidak mengarah pada tindakan Kriminalitas 3) Masyarakat masih bisa bertoleransi/menerima pelaku penyimpangan primer 4) Jika Penyimpangan Primer dilakukan secara terus menerus masyarakat tidak dapat menerima perilaku terhadap penyimpangan tersebut b. Penyimpangan Sekunder Penyimpangan sekunder ialah penyimpangan sosial yang dilakukan secara berulang-ulang, tidak ditoleransi oleh masyarakat, dan sudah mengarah pada pelanggaran hukum. Ciri-ciri penyimpangan sekunder : 1) Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang. 2) Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang tersebut. 3) Perilaku Penyimpangan Sekunder akan terjadi secara terus menerus dan tidak dapat dirubah. 4) Biasanya orang yang melakukan penyimpangan Sekunder akan dikenai hukum dan sanksi yang berat. 5) Masyarakat tidak dapat menerima pelaku Penyimpangan Sekunder 6) Mengarah terhadap tindakan kriminal.


F. Dampak Penyimpangan Sosial 1) Dampak Penyimpangan Sosial Terhadap Diri Sendiri/ Individu Seseorang yang melakukan tindak penyimpangan oleh masyarakat akan dicap sebagai penyimpang (devian). Sebagai tolok ukur menyim- pang atau tidaknya suatu perilaku ditentukan oleh norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Setiap tindakan yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat akan dianggap sebagai penyimpangan dan harus ditolak. Akibat tidak diterimanya/ditolak perilaku individu yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat, maka berdampaklah bagi si individu tersebut hal-hal sebagai berikut: a) Terkucil Umumnya dialami oleh pelaku penyimpangan individual, antara lain pelaku penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual, tindak kejahatan/kriminal. Pengucilan kepada pelaku penyimpangan dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan supaya pelaku penyimpangan menyadari kesalahannya dan tindak penyimpangannya tidak menulari anggota masyarakat yang lain. Pengucilan dalam berbagai bidang, antara lain: hukum, adat/budaya dan agama. Pengucilan secara hukum, melalui penjara, kurungan, dsb. Pengucilan melalui agama, pada agama tertentu (contohnya: Katolik) ada hak-hak tertentu yang tidak boleh diterima oleh si pelaku penyimpangan, misalnya tidak boleh menerima sakramen tertentu bilamana seseorang melakukan tindakan penyimpangan (berdosa). b) Terganggunva perkembangan jiwa Secara umum pelaku penyimpangan sosial akan tertekan secara psikologis karena ditolak oleh masyarakat. Baik penyimpangan ringan maupun penyimpangan berat akan berdampak pada terganggunya perkembangan mental atau jiwanya, terlebih-lebih pada penyimpangan yang memang diakibatkan dan yang mempunyai sasaran pada jaringan otaknya, misalnya pada pelaku penyalahgunaan narkoba dan kelainan seksual. c) Rasa bersalah Sebagai manusia yang merupakan mahluk yang berakal budi, mustahil seorang pelaku tindak penyimpangan tidak pernah merasa malu, merasa bersalah bahkan merasa menyesal telah melanggar nilai-nilai dan norma masyarakatnya. Sekecil apapun rasa bersalah itu pasti akan muncul karena tindak penyimpangan tersebut telah merugikan orang lain, hilangnya harta benda bahkan nyawa. 2) Dampak Penyimpangan Sosial Terhadap Masyarakat/kelompok Seorang pelaku penyimpangan senantiasa berusaha mencari kawan yang sama untuk bergaul bersama, dengan tujuan supaya mendapatkan ‘teman’. Lama- kelamaan berkumpullah berbagai individu pelaku penyimpangan menjadi penyimpangan kelompok, akhirnya bermuara kepada penentangan terhadap norma masyarakat. Dampak yang ditimbulkan selain terhadap individu juga terhadap kelompok/masyarakat. Dampak apa saja yang muncul akibat adanya tindak penyimpangan terhadap kelompok masyarakat? Marilah kita bahas:


a) Kriminalitas Tindak kejahatan, tindak kekerasan seorang kadangkala hasil penularan seorang individu lain, sehingga tindak kejahatan akan muncul berkelompok dalam masyarakat. Contoh: seorang residivis dalam penjara akan mendapatkan kawan sesama penjahat, sehingga sekeluarnya dari penjara akan membentuk ‘kelompok penjahat’, sehingga dalam masyarakat muncullah kriminalitas-kriminalitas baru. b) Terganggunya keseimbangan sosial Robert K. Merton mengemukakan teori yang menjelaskan bahwa perilaku menyimpang itu merupakan penyimpangan melalui struktur sosial. Karena masyarakat merupakan struktur sosial, maka tindak penyimpangan pasti akan berdampak terhadap masyarakat yang akan mengganggu keseimbangan sosialnya. Contoh: pemberontakan, pecandu obat bius, gelandangan, pemabuk dsb. c) Pudarnya nilai dan norma Karena pelaku penyimpangan tidak mendapatkan sangsi yang tegas dan jelas, maka muncullah sikap apatis pada pelaksanaan nilai-nilai dan norma dalam masyarakat. Sehingga nilai dan norma menjadi pudar kewibawaannya untuk mengatur tata tertib dalam masyarakat. Juga karena pengaruh globalisasi di bidang informasi dan hiburan memudahkan masuknya pengaruh asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia mampu memudarkan nilai dan norma, karena tindak penyimpangan sebagai eksesnya. Contoh: karena pengaruh film-film luar yang mempertontonkan tindak penyimpangan yang dianggap hal yang wajar disana, akan mampu menimbulkan orang yang tidak percaya lagi pada nilai dan norma di Indonesia. G. Sikap atau Solusi Cara Mengatasi Penyimpangan Sosial Antisipasi adalah usaha sadar yang berupa sikap, perilaku atau tindakan yang dilakukan seseorang melaui langkah-langkah tertentu untuk menghadapi peristiwa yang kemungkinan terjadi. Jadi sebelum tindak penyimpangan terjadi atau akan terjadi seseorang telah siap dengan berbagai ‘perisai’ untuk menghadapinya. a) Upaya mengantisipasi tersebut melalui: 1) Penanaman nilai dan norma yang kuat Penanaman nilai dan norma pada seseorang individu melalui proses sosialisasi. Adapun tujuan proses sosialisasi antara lain sebagai berikut: a) pembentukan konsep diri b) pengembangan keterampilan c) pengendalian diri d) pelatihan komunikasi e) pembiasaan aturan. Dengan melihat tujuan sosialisasi tersebut jelas ada penanaman nilai dan norma. Apabila tujuan sosialisasi tersebut terpenuhi pada seseorang individu dengan ideal, niscaya tindak penyimpangan tidak akan dilakukan oleh si individu tersebut. 2) Pelaksanaan Peraturan Yang Konsisten


Segala bentuk peraturan yang dikeluarkan pada hakekatnya adalah usaha mencegah adanya tindak penyimpangan, sekaligus juga sebagai sarana/alat penindak laku penyimpangan. 3) Berkepribadian Kuat dan Teguh Apa yang dimaksud dengan Kepribadian? Menurut Theodore M. Newcomb kepribadian adalah: Kebiasaan, sikap-sikap dan lain-lain, sifat yang khas yang dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Seseorang disebut berkepribadian, apabila seseorang tersebut siap memberi jawaban dan tanggapan (positif) atas suatu keadaan. Apabila seseorang berkepribadian teguh ia akan mempunyai sikap yang melatarbelakangi semua tindakannya. Dengan demikian ia akan mempunyai pola pikir, pola perilaku, pola interaksi yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakatnya. 4) Keluarga Merupakan awal proses sosialisasi dan pembentukan kepribadian seorang anak. Kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila ia lahir dan tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarga yang baik begitu sebaliknya. 5) Lingkungan Lingkungan tempat tinggal dan teman sepermain. Lingkungan tempat tinggal juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang untuk melakukan penyimpangan sosial. Seseorang yang tinggal dalam lingkungan tempat tinggal yang baik, warganya taat dalm melakukan ibadah agama dan melakukan perbuatan2 yang baik maka keadaan ini akan mempengaruhi kepribadian seseorang menjadi baik sehingga terhindar dari penyimpangan sosial begitu sebaliknya. 6) Media Media Massa baik cetak maupun elektronik merupakan suatu wadah sosialisasi yang dapat mempengaruhi seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pencegahan agar tidak terpengaruh akibat media massa adalah apabila kamu ingin menonton acara di televisi pilih acara yang bernilai positif dan menghindari tayangan yang dapat membawa pengaruh tidak baik. Sebelum kita menemui penyimpangan sosial terjadi dalam masyarakat, secara pribadi individu hendaklah sudah berupaya mengantisipasinya. Namun, apabila penyimpangan sosial terjadi juga, kita masing-masing berusaha untuk mengatasinya. b) Langkah-langkah apa yang dapat kita lakukan? 1) Sanksi yang tegas Apa itu sanksi? Sanksi yaitu persetujuan atau penolakan terhadap perilaku tertentu. Persetujuan adalah sanksi positif, sedangkan penolakan adalah sanksi negatif yang mencakup pemulihan keadaan, pemenuhan keadaan dan hukuman. Sanksi diperlukan untuk menjamin tercapainya tujuan dan dipatuhinya norma-norma. Pada pelaku penyimpangan sudah selayaknya mendapatkan sanksi yang tegas, yang berupa hukuman yang tegas sesuai dengan undang-undang yang berlaku demi pemulihan keadaan masyarakat untuk tertib dan teratur kembali. 2) Penyuluhan-penyuluhan


Melalui jalur penyuluhan, penataran ataupun diskusi-diskusi dapat disampaikan kepada masyarakat penyadaran kembali pelaksanaan nilai, norma dan peraturan yang berlaku. Kepada pelaku penyimpangan sosial kesadaran kembali untuk berlaku sesuai dengan nilai, norma dan peraturan yang berlaku yang telah dilanggarnya, harus melalui penyuluhan secara terus menerus dan berkesinambungan. Terlebih-lebih pada pelaku tindak kejahatan/ kriminal. Peran lembaga-lembaga agama, kepolisian, pengadilan, Lembaga Permasyarakatan (LP) sangat diharapkan untuk mengadakan penyuluhan- penyuluhan tersebut. 3) Rehabilitasi sosial Untuk mengembalikan peranan dan status pelaku penyimpangan ke dalam masyarakat kembali seperti keadaan sebelum penyimpangan terjadi, itulah yang dimaksud dengan Rehabilitasi. Panti-panti rehabilitasi sosial sangat dibutuhkan untuk pelaku penyimpangan tertentu, misalnya Panti Rehabilitasi Anak Nakal, Pecandu Narkoba, Wanita Tuna Susila dsb. c) Sikap Yang Cocok Dalam Menghadapi Penyimpangan Sosial Dalam menghadapi baik sebelum maupun sesudah terjadinya penyimpangan sosial kita perlu bersikap. Sikap-sikap apa saja yang dapat kita perbuat? 1) Tidak mudah terpengaruh Masih ingat dengan kepribadian? Asal kita punya kepribadian yang kuat dan teguh niscaya kita tidak mudah atau gampang terpengaruh pada hal-hal yang tidak baik atau menyimpang. Seandainya setiap insan/individu masing-masing mempunyai kepribadian yang matang, maka pengaruh buruk tidak akan bisa membuatnya berperilaku menyimpang, dunia ini akan damai, tenang dan tentram. Semoga! 2) Berpikir positif (Positive Thinking) Segala sesuatu yang kita pikirkan hendaknya mengenai hal-hal yang baik- baik saja (positif). Dengan berpikir positif maka kita akan berperilaku dan berbuat hal yang positif pula. Penyimpangan sosial tidak akan muncul dari individu-individu yang berpikir positif (positive thinking). Kepada pelaku tindak penyimpangan kita juga harus mampu menunjukkan sikap positive thinking, sehingga pelaku penyimpangan tersebut akan mampu dan mau meneladani kita, yang pada akhirnya dia akan tidak lagi berperilaku menyimpang. 3) Menahan diri dari Arogansi dan Sikap Eksentrik Tanpa adanya kesombongan dan menonjolkan sifat unik/eksentrik kita, maka tindakan/pelaku penyimpangan tidak akan muncul. Kenapa? Karena apabila kita memiliki dua sikap tersebut akan menimbulkan tindakan penyimpangan serta pelaku penyimpang yang lain akan merasa dirinya tersaingi sehingga ia akan berbuat lagi penyimpangan demi penyimpangan. Pemahaman usaha mengantisipasi dan mengatasi penyimpangan sosial telah berakhir. Kami harap Anda sudah mengerti dan paham betul. Guna lebih memperdalam pemahaman Anda, marilah kita cari contoh-contoh konkritnya, dari masing-masing upaya mengantisipasi dan mengatasi penyimpangan sosial dari dalam tabel berikut ini sebelum Anda mengerjakan tugas-tugas.


Click to View FlipBook Version