Akhirnya 6 th di dinkes baru sy dikabulkan mundur dari jabatan struktural utk jadi tenaga fungsional di
puskesmas lagi tapi bukan sbg kepala, sampai saat sekarang ini.....dan mngkn spi pensiun in syaa Allah 2 th
an lagi.... Aahh.....alhamdulillah...santai...
Suka dukanya sbg dokter di lapangan ya beragam...Dukanya
kalo pasien/ masyarakat itu sulit utk diajak berperilaku hidup
bersih dan sehat....buang air besar masih ada yg di kali,
diberi jamban malah disimpen/ dipotong.....pilih plung
lap.... Juga spt saat ini, di musim covid ini, masyarakat
utk diajak pakai masker aja minta ampun sulitnya.., apalagi
utk rapid test, tdk mau,... lebih2 utk swab,... gratis aja pada
nolak loh....yg alasan takutlah, yg alasan hasilnya nnti
positiflah... ...Memang tdk bisa dipungkiri, krn
masyarakat kita masih stigmanya negatif thd penderita
covid...Bbrp hari yg lalu kebetulan ada salah satu kepala desa
di daerah wilayah pusk sy yg positif covid.....trus dia malah
dijauhi warganya, jadi pak kades tadi merasa tersinggung
banget...pernah juga ada kejadian pasien dikarantina di
suatu gedung, eh..malam2 dia melarikan diri naik ojek
pulang ke rumah....belum lagi jenazah yg hrsnya
pemulasarannya sesuai covid, masy disitu nolak lalu
disucikan dan dikubur dg alami spt biasanya.. ....
Dukanya lagi ya tentunya kalo pasien yg kita tangani/ obati itu tidak/ blm sembuh...belum lagi pasien yg
hrsnya segera dibawa ke rs, hrs musyawarah dulu dg keluarganya, dg tetangganya, shg telat utk ditangani
dan akhirnya meninggal...
Kalo sukanya sbg tenaga dokter sih ya kami sering dapat rejeki hantaran atau oleh2 dari pasien....dapat
buah2an spt duren, salak, apel, anggur, dapet roti,kue, dapet sayur, ayam goreng, lauk pauk, sampai cindera
mata dll... dan tentunya yang paling seneng kalo pasien tsb manut dan sembuh setelah
diobati...merupakan kepuasan tersendiri...
Oh iya satu lagi sukanya jadi dokter...last but not least....bisa pegang2 pantat
orang....huahahaha ..dibayar lagi... (mluayuu buannteer ndak
didukani priyayi panji...)... coba Capt Ade berani pegang2 kayak saya...woouw..... bakalan didamprat abis
ama suaminya nanti.....huahahahahaha.. ... (sorry Capt just joke)......
Oh iya, alhamdulillah anak pertama sy juga mengikuti jejak ortunya, dan saat ini bekerja di salah satu rs di
tmg, sambil nabung utk rencana sekolah lagi....aamiin... Sedang anak kedua saat ini alhamdulillah hampir
selesai, juga ngikuti jejak ortunya, hanya di gigi....tapi gara2 mbak Copit ini jadinya ya agak tertunda
selesainya....
Tapi diatas itu semuanya, kami senantiasa selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur alhamdulillah atas apa
yg kami terima selama ini....
Kalo sy boleh menyitir salah satu ayat...."Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmatKu, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih".......
Demikianlah sekelumit story saya yg gak begitu menarik/ menantang spt temen2 panji lain yg oke
buangett.... ...tapi terima kasih dan apresiasi yang tinggi buat temen2 yg sampai tamat membaca story
saya ini..... Akhirnya mohon maaf bila ada kata2 yg kurang berkenan di hati temen2 panji yg ruaaarr
biyasaaahh ini...Matur nuwun
Edi Rakhmatto
I-Panji Story 146 Alumni Smaga-81 SOLO
48. Arifah bintarti
Awal akan menulis story ini bingung karena rasanya kisah sayabiasa2 saja , ….tetapi setelah membaca tulisan
teman teman I Panaji saya jadi lebih mengenal dan menjadi banyak tahutentang perjalanan hidup sahabat
semua dengan berbagaiperjuangan, tantangan, keuletan, ketekunan juga keihlasan dnkepasarahan kepada
ALLAH SWT , banyak nilai-nilaikehidupan yang bisa kita ambil hikmahnya untuk saya sendiri, anak, cucu serta
keluarga kita untuk itu saya menulis story inisemoga ada manfaat dan hikmahnya….
Saya adalah anak ke 3 Dari 6 bersaudara, Bapak saya sebagaiseorang PNS di Rado Siaran RRI Surakarata
bagian pimpinanRadio Orkes nya, Bapak saya sangat piawai berbagaai alat music seperti Clarinet,
Sexsophon, Flute, dan alat music tiup lainnya, Bapak saya juga selalu menjadi juri jika ada lomba2
tentangmusic bintang radio dll baik di tingkat kab kota se Surakarta, dan tingkat pripinsi di Semarang, dan
terkadang diundangsebagai juri di Jakarta. Entah kenapa Bapak saya yang sangatmahir alat musik tersebut
tidak menurunkan atau mengajarkanke anak perempuannya keterampilan tersebut, kalau anak lakilaki
diajari keterampilan bermusic tersebut (colek Om Bernadiyg pernah satu panggung dengan kakak saya
sewaktu di UNS) belakangan saya baru tahu maksud Bapak saya kenapa anakperempuannya tidak diajari
music he.. he ..he….
Ibu saya adalah seorang guru Agama Islam, pada SekolahSwasta Islam, tetapi semenjak menikah dengan
ayah saya, Ibu saya resign dari guru karena sangat sulit membagi waktu antarakeluarga dan sebagai guru di
luar daerah., selanjutnya ibu sayaadalah ibu rumah tangga yang mendidik dan membesarkan kami berenam
dengan penuh kasih sayang dan sangat berpikiranmaju, karena semua anak ankanya harus kuliah semua.
Perjalanan kuliah yang seru
Saya dari di kelas 3B4 satu kelas dengan sohih
yang seru dan sangat menyenangkan yaitu
“grup lotisan” ada Farida, Endang, Anisah, Pak
ketuo Liter Zet, Arda, pakde Marno, Kang
Musri, Kang Sigit, Mb Yayuk mb Rosiyani
almarhuam. dan masihbanyak lagi. Selepas
lulus SMA III tahun 1981 perjalanan sayatidak
selancar teman2 karena saya tidak diterima di
Sipemnaru,Kami enam (6) bersaudara dan
sekolah semua , jadi waktumendaftar saya
hanya boleh mendaftar 1 pilihhan yaitu hanya
di UNS.
Mungkin karena pilihan program studi yang saya pilihterlalu tinggi tidak sesuai dengan kompetensi syarat
untukprogram studi tersebut, sehingga saya tidak diterima. Dengantidak diterima di PT negeri jadilah saya
nganggur dulu …..biasalah sesudah pengumuman sipemmaru dan saya tidakditerima …. ….waktu itu bisanya
yaa …nangis bombay……..menyesali kalau kurang tekun, kurang disiplin dan kurangserius belajar, sempat
mutung….tapi setelah merenung dan evaluasi diri saya harus bangkit dan harus semangat untukmencoba
lagi karena kedua kakak saya sudah kuliah di FE UNS, dan FT Sipil UNS jadi berrati saya harus mampu dan
harusbisa…. ….singkat cerita saya mencoba lagi Sipenmaru dantujuan tetap hanya UNS,..o iya karena ayah
saya seorang PNS dan semua anaknya sekolah jadi Bapak saya bilang akanmembiayai sekolah sampai
perguruan tinggi syaratnya negeri dan tidak keluar kota ……maklum ….biar irit ga kos dan transpot murah,
tidak ada biaya hidup lain kota…..o iyaterimakasih pada sohib sebangku aquu Farida Widayati yang sering
tak nunuti bonceng vespanya waktu pindah ke Kerkoff, saya juga dipinjami dan dikasih buku buku bimbel
I-Panji Story 147 Alumni Smaga-81 SOLO
nya….. ituyang saya pelajari sampai hapal menjawab soal sipenmaru saking seringnya belajar mandiri di
rumah dan diulang ulang gatahu sudah berapa puluh kali saya bolak balik mempelajarisegerombol buku
bimbel tersebut …..….dengan semangattinggi saya mengulang untuk tes sipenmaru di tahun 1983, berkat
kegigihan dan ketekunan serta keuletan saya, alhamdulillah saya diterima di dua program studi yaitu IPA di
Pendidikan Biologi dan IPS Ilmu Publisistik yang sekarangmenjadi Ilmu Komunikasi di UNS Surakarta, Setelah
menimbang nimbang akhirnya saya memilih mengambilprogram studi S-1 Publisistik yang waktu itu
menurut sayanamanya aneh.
Karena kegagalan saya beberapa tahun lalu menempa dan menjadikan saya pribadi yang mandiri dan
mempunyai motivasiyang sangat tinggi dalam kuliah, saya tanamkan pada diri sayauntuk harus menjadi yang
terbaik dan tercepat dalam studi untukmengejar ketertinggalan saya , serta biar tidak menjadi bebanorang
tua…….. Setiap kuliah saya selalu datang awal dan duduk paling depan, mencatat materi kuliah yang
disampaikan dosenwaktu itu, sesampai dirumah saya salin catatan itu dengan rapidengan anggapan saya
sekaligus mengulang materi yang sayaterima hari itu. Ternyata usaha usaha keras saya membuahkanhasil
setiap semester saya mendapatkan IPK tinggi. Seiringberjalannya waku pada tahun ke dua kuliah saya,
Bapak sayapensiun, beban keluraga kami bertambah karena Bapak kami harus membiayai 6 orang putra
putrinya yang semua sekolah 4 kuliah di UNS dan 1 SMA serta 1 SMP.
Karena kondisi tersebutsaya mulai mencari
informasi syarat dan bagaimanamendapatkan
beasiswa supaya saya bisa
membantumeringankan perekonomin
keluaraga….. setelah bertanyakesana kemari
pada bagian kemahasiswaan TU fakultas dan
bagian kemahasiswaan universitas serta
melengkapi segepokpersyaratan permohonan
beasiswa saya diterima dan sayamendapat
beasiswa Prestasi Peningkatan Akademik (PPA)
per bulan waktu itu Rp 30,000 suatu angka yang
lumayan besaruntuk membeli buku serta
transpot melanggan bis kota kampuswaktu itu
untuk pelajar bisa langgangan setiap bulan
dengantranspot yang murah (Rp 100,- x 16 hari
kerja = antara Rp 1.500 sd Rp 1.600 setaip
bulannya muraaah bangeet ).Dari tahun ke 2
nyambung ke tahun berikutnya alhamdulillah
beasiswanya bisa sambung menyambung sampai
saya luluskuliah Juni tahun 1988. Lega rasanya
saya akhirnya bisamenyelesaikan studi saya lebih
awal dengan IPK yang lumayan tinggi (terima
kasih ….kepada pemberi beaiswa PPA juga
Supersemar yang menjadikan sarana belajar
terpenuhi sehinggasaya bisa lulus kuliah lebih
awal )
Hikmah yang bisa saya ambil dari sini adalah
kegagalan itumerupakan awal kesuksesan asal
kita mengevaluasi diri dan memperbaiki usaha
dengan lebih keras dan mau mencoba lagi.
I-Panji Story 148 Alumni Smaga-81 SOLO
Pengalamam kerja yang menantang
Selesai wisuda tahun 1988 saya seperti teman2 juga mulaimenyebar ijazah di berbagai kantor baik negeri
maupun swastadi Surakarta tapi sudah 3 bulan berlalu belum ada satupanggilanpun untuk tes. Karena
belum ada hasil saya beranikanke Jakarta ke kakak saya yang no 1 yang sudah bekerja duluandi Jakarta.
Sambil menjaga keponakan saya, saya melamar di berbagai instansi baik negeri dan sawsata …. Ternyata
bagi sayadi Jakarta mendapat peluang dan kesempatan untuk bekerjalebih cepat. 1 bulan di Jakarta saya
mendapat panggilan tes di perusahaan swasta di Jakarta Namanya Asea Brown Boveri(ABB) perusahaan di
bidang kelistrikan yang berlokasi di Jalan Cilandak KKO waku itu. Karena lumayan jauh dengan tempattinggal
kakak saya,.. berangkat pukul 05.30 dan pulang kerjasamapi rumah pukul 18.30 terkadang jika macet pukul
19.00 baru sampai rumah. Di perusahaan itu saya bagian administrasicampur campur jadi terkadang bagian
operator telpon, kadangbagaian adminidtrasi beresiin bagian surat juga mengarsipkannya . Setelah 4 bulan
bekerja disitu sayamendapatkan panggilan tes PNS. Dari beberapa surat lamarankerja yang pernah saya
kirim. Saya mendapat pangilan tesberbarengan dari UNS, dari Departemen Pendidikan dnKebudayaan Pusat
di Jakarta dan dari Depatemen Penerangandi Jakarta dimana waktu tesnya bersamaan,.. karena posisi sayadi
Jakarta dan surat panggilan tes yang dari UNS sampai ke sayaH-1 dari taggal tes, akhirnya saya putuskan
untk mengikuti tesyang di departemen Pendidkan dan Kebudayaan di Jakarta. Singkat cerita setelah berkali
kali tes akhirnya Alhamdulillahtahun 1989 saya diterima di Depatemen Pendidkan dan Kebudayaan dan
ditempatkan di Pusat Pembinaan Perpustakaanyang beralamat di jalan Merdeka Selatan 11 selang 3 atau 4
gedung dari DKI Jakarta. Jarak antara rumah dengan kantorcukup jauh dari Pamulang ke Jl Merdeka Selatan,
agar tidakterlambat saya berangkat pagi dari Pamulang ke Lebak Bulusdan dari situ ada bis PPD yang
langung ke Pasar Baru dimana saya bisa turun di depan Bank Indonesia jalan MH Thamrintinggal jalan kaki
menuju kantor di Jln Merdeka Selatan 11 (biaririt karena naik metromini bayar lagi he.. he… he…) .
Barubekerja 1,5 tahun ada keputusan Presiden kalau kantor saya akandi merger dengan Pusat Perpustakaan
dn menjadi PerpustakaanNasional RI (PERPUSNAS RI) yang beralamat di Jalan Salemba Raya. Dan pada
waktu itu para pegawainya diberikankebebasan boleh memilih tetap di Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan atau mengikuti Perpustakan Nasioanl masuk ranahSekretariat Negara. Jika tetap di lingkup
kementrian pendidkkandan kebudayaan pegawai mencari sendiri kantor yang akanmenerima dan semua
surat perlengkapan perpindahan akandiberikan rekomendasi dari kantor lama. Sambil mencariinformasi
mencari kantor yang lebih dekat dengan rumah, sayamendapatkan info bahwa Universiats Terbuka (UT)
Pusat yang beralamat di Jalan Raya Pondok Cabe, Pamulangg Tangerang Selatan, membutuhan tenaga
dosen untuk Prodi IlmuKomunikasi… Singkat cerita sesudah wawancara langusng oleh Dekan Fakultas ISIP
dan melihta cv serta transkrip sayaalhamdulillah saya bisa diterima dan diminta secepatnya pindahdi UT.
Bekerja di UT sangat berbeda dengan kantor saya sebelumnyakarena disini kami bersama sama sekitar 15-
18 dosen mudayang seangkatan masuk berbarengan ke se FISIP UT, adabeberapa alumni UNS juga diterima
berbarengan menjadikankami cepat akrab satu dengan yang lain. di UT lah sayamendapat banyak pelatihan
tentang proses belajar jarak jauhbagaimana membuat naskah radio televisi, bagaimana menulissoal dengan
konstruksi yang benar, bagaimana mendesaintutorial dengan benar dan bagaimana melakukan penelitin
sertapengabdian pada masyarakat intinya saya mendapat berbagaiketerampilan sebagai dosen dengan tri
darmanya (Pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat). Karena seringnyapelatihan dan kalau
pelatihan menginap 3 sd 4 hari antara Bogor, Puncak, Cisarua, Bandung jadi di UT lah saya bertemu
suamisaya yang juga alumni UNS sesama dosen tetapi bedaProdi….Tahun 1992 sebagai dosen muda saya
mulai menjaditim kecil persiapan dibukanya program studi D-3 Komunikasipenyuluhan kerjasama UT
dengan kantor BKKBN. Kami seringsekali diundang rapat2 saya dan tim mewakili UT dan dariPusdiklat BKKBN
yang berkantor d Halim Perdana Kusumah, kami banyak telibat tim tim kecil penyiapan bahan tutorial,
penyiapan panduan-panduan untuk praktik bagi mahasiswa dariBKKBN yang berasal dari PKB (Penyuluh
Keluarga Berencana) yang ada di seluruh Indonesia. Disinilah awal karir saya. Sebagai dosen saya juga
bertugas, selain melaksanakn tri darmaperti, saya juga mendapat tugas memantau ke daerah daerahseluruh
Indonesia memastikan apakah proses belajar sertapelaksanaan ujian berlangsung sesuai prosedur standar
I-Panji Story 149 Alumni Smaga-81 SOLO
yang telah ditentukan oleh UT Pusat. Penugasan pertama saya kedaerah sangat seru karena saya mendapat
tugas ke Samarindawaktu itu tahun 1993 dimana untuk ke Samarinda harus naik 2 kali pesawat yang
pertama ke Balikpapan itu biasa karenapesawat besar dan banyak pilihan nah dari Balikpapan de Samarinda
belum ada jalan bagus dan jarak lebih dekat sepertisekarang, jadi pilihannya naik taksi atau pesawat kecil
sepertiDeraya, Gatari dn sejenisnya, jika naik taksi dari Balikpapan pagi sampai samarinda malam atau dari
Balikpapan malamsampai Samarinda pagi, tapi jika naik pesawat kecil hanya 45 menit….. Duuuuh pilihan
yang sulit setelah bertanya berbagaikawan yang sudah bertugas kesana akhirnya saya memutuskannaik
pesawat kecil yang lumayan menakutkan maklum pertamakali naik pesawat sendiri lagi, pesawat kecil muat
15 orang dan terbang rendah (menurut saya) , (he he he ..sereem pengalamanyang tak terlupakan)
…Alhamdulillah dengan berbagai doayang saya panjatkan perjalanan PP Samarinda Balikpapanterlaksana
dengan selamat alhamdulillah ya Allah bisa sampaiBaikpapan. Itulan pengalman terbang perdana saya
saatditugaskan petama kali ke luar kota dan langsung jauh keSamarinda tahun 1993. Tahun tahun
berikutnya kami seringditugaskan ke daerah tetapi Sudah tidak se deg degan tugasperdana.
Kesempatan sekolah
Di tahun 2000,…Setelah saya berkeluarga dan mempunyai anak, saya mendapt kesempatan untuk
melanjutkan studi dan mendapat beasiswa dari Dikti untuk mengmabil S-2. Denganpertimbangan keluarga
dan mencari jarak yang dekat denganrumah, jadi perlu pisah keluarga saya memutuskan mengambilS2 di IPB
pada program studi Komjunikasi Pembangunan. Dan alhamdulillah awal 2003 saya lulus. Untuk selanjutnya
Kembali mengabdikan diri ke kampus.
Sekembalinya dari sekolahkembali saya sering
ditugaskan ke daearah (ke kantor UT yang tersebar di
seluruh Indonesia untuk memberikan pelatihantentang
standar layanan akademik UT di daerah,
tentangTutorial Online, tentang keterampilan belajar
mandiri kepadadosen dan mahasiswa UT yang ada di
daerah, juga pengambilandata penelitian). Saya dan
tim juga ditugaskan memonitorpelaksanan tutorial
untuk memastikan apakah proses belajarsudah
dilaksanakan sesuai prosedur, juga setiap
pelaksanaanujian akhir setiap semester ……..banyak
pengalaman yang serudimana saya memantau ujian
akhir semester ke daerah daerahdaerah……. jangan
dibayangkan memantau ke daerah itu di kota besar,
kami memantau selalu ke kabupaten/kota yang ada di
pelosok.
Banyak pengalaman seru yang saya dapat di daerahpelosok, di salah satu kabupaten di Kal Selatan
sayamenyaksikan mahasiswa yang akan ikut ujian sedang hamil tuasudah akan melahirkan, jadi suaminya
diminta menungu sd ujianselesai , panitia setempat juga menghubungi Puskesmas terdekatjika sewaktu
waktu si Ibu akan melahirkan, pernah juga…. sayamenyaksikan bagaimana seorang ibu yang akan ujian
habismelahirkan debay nya masih sangat amat kecil ditemanisuaminya,..si Ibu ujian selesai ujian jam
pertama si Ibu istirahatsambil memberikan ASI, memasuki jam ke 3 si Ibu ujian lagidebay diasuh oleh
ayahnya, ada lagi di kab Muara EnimSumatra Selatan ada mahasiswa kami yang habis
mengalamikecelakaan sebelum jadwal Ujian Akhir Semester (UAS)sehingga disiapkanlah ruang khususuntuk
ujian karena kakinyapatah di gib sambil selonjoran mengerjakan UAS, ..… Ujiansemesteran di UT
dilaksanakan serentak seluruh Indonesia seperti tes sipenmaru jadi jika tidak hadir harus
I-Panji Story 150 Alumni Smaga-81 SOLO
mengulangsemester depan….ada banyak hikmah yang bisa saya petik dariperjalanan tugas saya ke daerah2
terutama yang di luar P Jawa, …..di pelosok Indonesia …di kabupaten /kota masih banyakmasyarakat
Indonesia yang tetap ingin maju pendidikannyasehingga jarak ke tempat ujian yang sangat amat jauh dan
dengan berbagai kendala tidak menyurutkan cita cita mereka.Sampai sekarang setiap awal, tengan dn akhir
semester kami selalu ditugaskan ke daerah karena UT mempunyai 39 cabangdaerah perwakilan per propinsi
di seluruh Indonesia dan mahasiswanya sangat banyak dan tersebar di seluruh Indonesia.Karena kuliah di
UT tidak ada pembatasan tahun ijazah dariSLTA, jadi hampir 75% mahasiswanya sudah bekerja. Masa
pandemic sekarang kantor kami sangat hati hati dan sangatmembatasi penugasan ke daerah, untuk
mencegah covid 19, semua monitoring tentang kepastian apakah proses belajardilakukan sesuai standar
yang sudah ditentukan dilakukanmelalui online.
Kesempatan Seminar
Selain melakukan darma pendidikan dan penelitian , sebagaidosen saya juga harus melakukan sharing
pengetahuan di forum forum seminar baik nasioanl maupun internasional, beberapakali saya mendapat
kesempatan untuk menjadi presenter tentanghasil penelitian kami pada seminar internasioanl distance
learning yang diadakan oleh konsorsium di tingkat internasional, saya pernah mendapatkan kesempatan
seminar ke Singapur, Malaysia, ke Manila, dan ke Hanoi, Vietnam, yang menjadikansaya dan beberapa
teman dari UT mengetahui bagaimana praktikpembelajaran jarak jauh di negara lain seperti di India, di Cina,
di negara negara ASIA dan Eropa yang masing masing negara mempunyai ciri dan karakteristik yang
berbeda, yang menjadikan saya tambah wawasan.
Sekarang saya dan suami bekerja sebagai pengajar padaFakultas Hukum Ilmu Sosial dn Ilmu Politik , Jurusan
IlmuKomunikasi dan Informasi, UT Pusat yang berlokasi di PondokCabe, Pamulang, Tangerang Selatan (
bersebelahan denganlapangan terbang PELITA).
Alhamdulillah atas nikmat dan rahmat Allah SWT kepada sayadan keluarga saya hingga saat ini, adalah
karena ridho dan doakedua orang tua saya.
Saya dikaruniai satu orang anak cowoq yang alumni IPB dan sekarang sedang studi S2 Ilmu Pangan di IPB
juga.
Demikian sekelumit kisah perjalanan hidup saya,…Salam Sehat& bahagia selalu untuk semua … Semoga
Allah SWT selalumerahmati kita semua Keluarga I Panji..
Salam,
Arifah Bintarti (3B4)
I-Panji Story 151 Alumni Smaga-81 SOLO
49. YETTY RIZAL
Prolog
Waktu SMA aku adalah penghuni kelas I3 hingga penjurusan tetap di B3 dan sudah terbiasa di kandang
macan. Karena itulah teman2 banyak yang kurang mengenalku, kebetulan aku SMP dari luar kota satu
sekolahan dengan mas Ade dan Ridwan. Rupanya keberadaanku di kandang macan inilah yang menempaku
tahan bantingan dimanapun berada.
Sejak kecil cita citaku menjadi apoteker. Selepas SMA ikut seleksi Perintis 3 UNS keterima di FK dan FE.
Berhubung pingin jadi apoteker aku ikuti seleksi Perintis 1 di Unair namun keterimanya malah Fakultas
Kedokteran Hewan (FKH). Dengan berbagai pertimbangan aku ambillah FKH dengan harapan tahun depan
coba lagi Fak. Farmasi.
Ternyata hampir 3 semester fakultas profesi (FK,FKG, Farmasi,FKH) beberapa mata kuliah ilmu dasar jadi
satu dengan dosen2 killer dimana pre test tidak lulus tidak akan bisa masuk laboratorium. Hal inilah yg
membuat ku jenuh dan tidak tertarik lagi nguber farmasi. Banyaknya mata kuliah bersyarat yaitu tidak lulus
yg ke 1 maka tidak dapat ambil yg ke 2 membuatku makin serius dan akhirnya ijazah S1 (Sarjana Kedokteran
Hewan) bisa aku raih dalam waktu 4 tahun kemudian lanjut ko ass untuk meraih gelar profesi. Nah... pada
saat ko ass inilah aku sempat 2 kali cuti melahirkan sehingga lulusnya agak molor.
Membangun Karir
Aku ingin bekerja yg tidak terlalu menyita
waktuku sebagai ibu rumah tangga. Pilihanku
PNS karena jam kerjanya pukul 07.00 s/d 14.00
namun setiap pendaftaran selalu uyel2an.
Setelah ada korban meninggal terinjak-injak
maka sistem pendaftaran via Pos. Saat itulah aku
coba mengirimkan lamaran dan terpanggil untuk
seleksi. Alhamdulillah akhirnya lulus sebagai
CPNS namun ditempatkan di Pemda Kab.
Nganjuk. Setelah 2 tahun akhirnya pindah ke
Surabaya dan ditempatkan di Dinas Peternakan
sesuai bidangku.
Bagai Air Mengalir
Selama 7 tahun menjadi staf baik di Nganjuk maupun Surabaya, menurutku para pejabat struktural dalam
zona nyaman. Sedangkan aku sebagai staf ya konseptor..juru ketik dan tak jarang juga distribusi surat2
penting. Namun prinsipku sebuah jabatan biar bagaikan air mengalir. Bila bermuara padaku tentunya
merupakan amanah dan sebaliknya bila kuraih paksa kelak akan menjadi musibah bagiku.
I-Panji Story 152 Alumni Smaga-81 SOLO
Gemblengan Tiada Henti
Tahun 1999 amanah aku terima sebagai pejabat eselon V... hm..mulai zona nyamankah?... ternyata aku
orang lapangan yg sudah terbiasa terinjak sapi perah saat ambil darahnya, baju kena najis anjing saat
vaksinasi massal rabies... yg tidak bisa kutinggalkan karena terbatasnya SDM. Hm... rupanya zona nyaman
memang belum berpihak padaku. Rupanya prinsip amanah betul2 menguji kesabaranku.
Tahun 2001 merger 5 dinas. Tugas pokok dan fungsi peternakan yg dulu dipikul 19 pejabat tinggal 5 pejabat
saja dan itupun eks kepala dinasku menarik diri karena kecewa.
Tahun 2002 terjadinya ledakan bom Bali membuatku pontang panting ngurusi kepulangan anjing keluarga
Konjen AS karena lalu lintas hewan antar negara adalah kewenangan pusat.
Tahun 2005 terjadilah perampingan dinas. Tadinya posisi 1 eselon III dg 4 eselon IV yang tersisa hanya 1
eselon III dg 2 eselon IV dan aku masih dapat amanah lagi.
Tahun 2006...inilah puncak ujian bagiku dengan masuknya wabah virus flu burung di Surabaya.
Lagi lagi aku berhadapan dg Konjen AS langsung. Beliau
ke kantorku minta penjelasan tentunya terkait dg
jaminan keamanan mereka dari wabah flu burung.
Dengan disaksikan kepala dinasku yg baru aku jelaskan
tidak akan terjadi pandemi di kota Surabaya dan kami
pasti akan melakukan penanggulangan wabah agar tidak
meluas (hm..bonek tenan iki ...). Dengan rasa puas
akhirnya rombongan Konjen AS meninggalkan kantorku.
Demikian pula media cetak maupun elektronik juga
sangat membantu sekali. Langkah apapun kulakukan
termasuk menjaga pintu masuk unggas ke dalam kota 24
jam selama 1 bulan penuh tentunya bekerja sama
dengan jasa marga dan kepolisian.
Aku bersyukur karena Kadis sangat membantu sekali
baik secara moril maupun materiil sehingga langkah
pencegahan dan penanggulangan penyakit bisa berjalan
sesuai SOP.
Disisi lain terorpun sering aku terima dg ancaman bila
keluarganya ada yg meninggal karena flu burung maka
nyawa dibalas nyawa dan hanya bisa aku jawab bahwa
tidak ada dasar hukum melarang seseorang memelihara
unggas. Masa bodoh karena yg aku hadapi virus ganas
pula, angka penularan dan angka kematian pada unggas
lebih dari 90%. Virus Avian Influenza/Flu Burung ini
bersifat zoonosis artinya bisa menular ke manusia.
Satu tahun kemudian mulailah dapat bantuan dari FAO antara lain rapid test, APD, sepatu boot, GPS, HP, dll
sehingga memudahkan respon cepat terhadap unggas mati.
Dukungan FAO terus berlanjut hingga virus flu burung mulai melemah dan selesai pd tahun 2011. Namun pd
tahun 2013 kembali lagi FAO mendukung surveilans virus AI di seluruh pasar tradisional kota Surabaya
I-Panji Story 153 Alumni Smaga-81 SOLO
hingga tahun 2018. Akhirnya clossing FAO dilaksanakan menjelang aku pensiun tepatnya Juni 2019 di Kota
Bandung.
Itulah sekilas kisahku dalam menghadapi virus baru. Tentunya mirip dg Covid19 saat ini.
Beban tugas lainnya juga tidak kalah pentingnya antara lain pengawasan produk asal hewan (daging, susu,
telur) baik di pasar, supermarket, peternak, rumah potong hewan, hari raya qurban, masuknya bahan2 yg
mengandung sapi gila, dll.
Disamping itu aku juga membimbing ko ass adik2 FKH dari UGM, UNAIR, dan UB serta dosen tamu mata
kuliah Legislasi Veteriner di FKH Unair.
Ternyata zona nyaman hanyalah mimpi karena era telah berubah dan aku terjebak dalam dinas yg miskin
struktur tapi kaya fungsi. Namun aku puas karena di akhir bhaktiku banyak tugas2 sudah terselesaikan
seperti draft Raperda Peternakan dan Kesehatan Hewan, terbitnya Izin Konservasi Kebun Binatang Surabaya
(KBS) dari Dirjen KSDAE KLHK dimana selama ini sangat menyita waktuku.
Akhirnya per tanggal 1 September 2019 aku purna tugas dengan Cumlaude karena tidak pernah tersangkut
masalah hukum. Alhamdulillah ternyata Alloh tidak pernah sare terhadap hambaNya.
Maturnuwun dan mohon maaf terlalu panjang ceritanya
Yetti Rizal (B3)
I-Panji Story 154 Alumni Smaga-81 SOLO
50. BARNABAS DWIPANTO
IMPIAN YANG MENJADI KENYATAAN
Saya dilahirkan menjadi anak ke 8 dari 10 bersaudara (5 laki2 dan 5 perempuan) pandai juga orang tuaku
menggenapi 10 orang anaknya dengan seimbang. Saya diberi nama Barnabas Dwipantokustono. Barnabas
adalah nama baptis sering disingkat dgn B saja. Semasa sekolah ada yg panggil saya dengan Dwi.. Panto...
Orang bilang saya orangnya pendiam.. ya memang saya tidak bisa banyak ngomong tetapi bukan berarti
saya tidak bisa diajak ngomong. Di SMAN3 B1 dulu saya punya group yg cukup kompak untuk belajar
bersama : Djoko honk, Daniel mendik, gunung dan alm.Sri Sumari. Semenjak SMA saya sdh punya
keinginan/cita2 kalau nanti sdh lulus kepingin meneruskan kuliah yg cepat selesai dan cepat bekerja. Saya
tidak ingin asal kuliah selesai tetapi masih susah mencari kerja. Keinginan ini juga karena dipicu oleh pesan
dari orang tua bahwa kalau mau kuliah carilah yg cepat selesai dan cepat bekerja karena anak 10 perlu biaya
banyak untuk sekolah semua. Alm bapak pensiunan guru PNS tetapi bapak seorang yg ulet dan tekun ada
pekerjaan sampingan setelah menjalani pensiunnya sehingga kebutuhan sekolah anak2nya dapat tercukupi.
Untuk itu dua tempat akademi yaitu ATMI St. Mikael dan AFIS (Akademi Fisioterapi Surakarta) akan saya
masuki nanti setelah lulus SMA. Selain dari itu saya juga punya keinginan kalau bekerja nanti bisa di luar
Jawa yg punya gaji cukup (mimpi ini kali yaa..) dan setelah punya gaji tetap aku ingin segera married dan
punya anak sepasang saja agar nanti sebelum pensiun anak2 sudah bisa jadi orang/mentas semua (mimpi
juga ini yaa..). Tetapi Itulah yg ada dipikiran saya pada waktu itu. Jadi sepertinya saya sudah punya planing
kedepan. Benar saja setelah lulus dari SMAN3 saya mendaftar di 2 akademi tsb.dan setelah mengikuti tes
masuk keduanya saya diterima. Puji Tuhan! Terima kasih. Timbul kebingungan untuk menentukan pilihan yg
mana yg harus diambil. Berdoa adalah satu2nya jalan agar Tuhan tunjukkan kemana langkah kaki ini menuju.
Orang tua saya alm.bapak mengajarkan kami anak2nya agar selalu bertekun dalam doa, bersyukur dalam
keadaan apapun, juga prihatin dengan menjalani mati raga, nomor satukan Tuhan baru yg lain pasti Tuhan
akan memberkati.
Saatnya daftar ulang ternyata saya lebih kuat menuju ke AFIS
(Akademi Fisioterapi Surakarta) dulu kampusnya ada di
RC.Prof.dr.Soeharso Jebres, belakang rumah Bu Endang... Apa
itu Fisioterapi saya sendiri belum begitu paham yg saya tahu
kalau Fisioterapi itu nanti akan berhubungan dengan orang2
cacat karena kampusnya juga berada di RC (Rehabilitasi Centrum
Jebres). Ternyata setelah masuk bukan seperti itu. Fisioterapi
adalah suatu pengobatan/therapy yg menggunakan bahan2
alami diantaranya dengan air/ Hydrotherapy, gelombang
listrik/Ekectrotherapy, gelombang sinar/ Actinotherapy,
gelombang suara/Ultrasound therapy, gerakan/latihan/Exercise
therapy, dsb. Fisioterapi merupakan bagian dari ilmu kedokteran
yg bertanggung jawab atas kapasitas fisik seseorang. Ilmu ini
masih tergolong baru ada di Indonesia dan pada waktu itu hanya
ada Satu saja pendidikannya yaitu AFIS (Akademi Fisiotetapi
Surakarta) lulusanya hanya tingkat Sarjana muda (ahli madya).
Tetapi meski hanya sarjana muda rata2 baru bisa lulus 4 th
untuk menjadi Fisioterapis.
Kebanyakan dosen mengatakan ke mahasiswa : kamu rugi waktu untuk kuliah disini 4 th baru bisa lulus
Sarjana muda harusnya Sarjana penuh. Tetapi itulah yg dibuat oleh pemerintah saat itu Kemendikbud dan
I-Panji Story 155 Alumni Smaga-81 SOLO
Kemenkes hanya memberikan izin pendidikan setingkat Akademi/Sarjana muda apa mau dikata. Saat ini
Fisioterapi sudah Sarjana penuh dan profesi. Singkat cerita dgn ketekunan dn semangat aku bisa lulus
dengan baik di akhir tahun 1984 hanya tiga setengah tahun saja. Puji Tuhan! Lebih cepat 1 semester dari yg
lain. Dan ternyata setelah masuk anggota profesi Fisioterapi saya ter-registrasi no.245. Ini berarti saya
Fisioterapis Indonesia ke 245 ditahun 1985. Kalau dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia di tahun
1985-an kalau tidak salah 125jt orang ratio-nya 1 Fisioterapis melayani 500rb orang lebih. Jadi masih banyak
sekali diperlukan Fisioterapis2 baru untuk melayani masyarakat Indonesia.Dengan begitu kesempatan kerja
masih banyak terbuka lebar. Benar saja begitu lulus langsung buat lamaran kerja di rumah-sakit2 di Jakarta,
Surabaya dn Bandung. Tidak lama menunggu 3 rumah sakit memanggilku 1 di Jakarta 2 di Bandung untuk
interview dan ketiganya menerima saya untuk bekerja. Saya memilih di Bandung disalah satu RS Swasta
karena saya tidak tertarik untuk hidup di Jakarta meski Jakarta ibu kota negara, semrawut kesan saya, macet
di sana sini bikin stress...dan juga banyak fisioterapis terfocus di Jakarta.
Awal th 1985 saya bekerja di Bandung di daerah Kopo dan tinggal dengan mbakyu di perum Sukajadi. Jarak
dari rumah ke RS 5-6Km karena baru pertama bekerja berangkat bersama suaminya yg bekerja di kantor pos
berboncengan dengan sepeda motor. Satu dua kali diantar tdk mengapa tapi rasa tidak enak mengganjal
dihati. Teringat lagi kata2 bapak coba yg prihatin dulu jgn ngrepoti orang lain. Kemudian saya bertekad
untuk jalan kaki sj berangkat kerja dn naik angkot pulangnya. Sambil jalan saya sertai dengan berdoa
Rosario/tasbih untuk selalu bersyukur, mensyukuri apa yg sudah saya dapat sampai hari itu dan mohon
masa depan yg lebih baik lagi. 1 jam berjalan dari rumah ke RS tiap pagi saya jalani hingga 1th tidak terasa
sudah. Gaji kecil yg saya dapat tiap bulan dari RS membuat saya harus berpikir untuk menambah
pendapatan harus mau nyambi yg lain, kerja di klinik sore atau juga menerima permintaan kunjungan ke
rumah/home visite. Cukup capai juga pagi2 jam 6 sdh berangkat utk ke RS, pulang dari RS jam 2 siang
langsung ke klinik praktek sore dari jam 3 sampai jam 5, lanjut kalau ada pasien yg home visite. Pulang
sampai rumah antara jam 9-10 malam. Tetapi karena masih muda semangat masih berkobar dan yg penting
saya jalani semua itu dengan senang hati dan tulus walau kadang saya tidak menerima imbalan dari pasien
yg saya kunjungi karena keadaan ekonominya yg pas2an tidak mengapa.
Panggilan tes penerimaan pegawai baru datang dari sebuah
perusahaan minyak asing diluar Jawa yaitu CALTEX
(CHEVRON sekarang ini) yg berada di Riau. Singkat cerita
saya diterima setelah melalui tahapan tes di Jakarta dan
interview datang langsung ke lokasi beroperasinya
perusahaan di Riau. Syukur, Puji Tuhan, saya diterima
bekerja di Rumah Sakit perusahaan minyak asing terbesar di
Indonesia ini. Inilah pertama kalinya saya naik pesawat
terbang dari Jakarta Halim Perdanakusuma ke Pekanbaru-
Riau dengan pesawat PELITA AIR carteran perusahaan
CALTEX. Mungkin kawan2 belum pada tahu CALTEX ya..
tahunya CALTEX dulu itu sebuah merek
dagang Oli. Ternyata CALTEX adalah perusahaan minyak
asing milik Amerika California Texaco yg mengexplorasi
minyak dan gas bumi di Indonesia dibawah kontrak sharing
Pertamina penyumbang terbesar devisa negara (2/3 APBN
Indonesia).
Awal tahun 1986 tepatnya bulan Februari saya mulai bekerja di RS CALTEX Rumbai Pekanbaru Riau.
Keinginan/impian saya untuk bekerja di luar Jawa menjadi kenyataan, Tuhan telah berikan untuk saya sesuai
dengan cita2. Berbeda jauh ketika bekerja di RS swasta Bandung. Saya tidak perlu lagi harus bersusah payah
menghabiskan waktu sehari2nya hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup. CALTEX telah menjamin
semuanya baik dari penghasilan maupun berbagai fasilitas kesejahteraan hidup keluarga dari rumah,
I-Panji Story 156 Alumni Smaga-81 SOLO
kesehatan, hiburan dan sebagainya. Waktu bekerja dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore dengan waktu istirahat
makan siang dari jam 12 - jam 1, 5 hari kerja dalam seminggu, tidak boleh bekerja ditempat lain atau praktek
sendiri kepada yg bisa praktek, seperti dokter dan Fisioterapis. Rumah Sakit hanya melayani pasien pegawai
dan keluarganya baik itu pegawai expat maupun pegawai Indonesia. Rumah sakit ada 2 satu di Rumbai
Pekanbaru dan satu lagi di Duri yg jaraknya 125km dari Rumbai masuk ke tengah hutan Sumatra 3 jam
perjalanan darat.Jangan bayangkan ditengah hutan dengan keterbatasan dan keterbelakangan..tetapi di
sana meski ditengah hutan Sumatra Riau ada kota satelit/metropolitan, sebuah komplek perkantoran dan
perumahan yg mempunyai fasilitas komplit layaknya sebuah kota modern yaitu CALTEX/CHEVRON Duri. Di
sinilah saya ditempatkan dan mulai berkarir, penyesuaian yg pasti pertama harus dilakukan dari yg semula
bekerja di RS umum swasta ke RS khusus perusahaan asing yg bertaraf internasional klas dunia. Budaya kerja
yg sangat berbeda dan kebiasaan2 lain yg mesti bisa dilakukan. Sabtu-minggu libur kita gunakan untuk
kegiatan sosial dan menggereja. Saya juga berkesempatan untuk kuliah lagi, kali ini saya mengambil jurusan
Bussiness adminstration untuk menambah ilmu juga sebagai persiapan hari tua nanti siapa tahu masih bisa
digunakan. Karena IPK lebih dari 3 maka perusahaan memberikan bantuan biaya kuliah semacam bea siswa
untuk pegawai. Syukur dan Terima kasih Tuhan.
Ditahun 1986 itu juga setelah masa percobaan 3 bulan bekerja saya married dengan putri Solo dan puji
Tuhan tepat di tgl 17 Agustus (hari kemerdekaan Indonesia)1987 anak pertama saya lahir laki2 " Patric Christ
Ardhika Kustono" Kini ia telah menjadi dokter Spesialis bedah di RS swasta Solo dan baru saja married
Oktober kemarin dengan sejawat Spesialis bedah juga. Tanggal 20 Mei (hari Kebangkitan Nasional) 1989
lahir anak ke 2 perempuan "Bernadine Mita Mariska" kini telah menjadi dokter gigi di RS swasta Batam kota
yg bersuamikan seorang engineer perkapalan dan telah memberikan seorang cucu laki2 Matthew. Mereka
anak2 yg membanggakan, bagaimana tidak mereka berdua sekolah dapat membiayai dirinya sendiri, mereka
mendapatkan beasiswa dari Chevron Indonesia dan Chevron International semenjak SMA hingga selesai
kuliahnya karena kepandaiannya. Komplit sudah apa yg menjadi impian saya menjadi kenyataan. Sekolah,
pekerjaan, keluarga, pelayanan dalam menggereja dsb. Terima kasih Tuhan Yesus, Puji dan syukur kami.
Seiring berjalannya waktu karir saya terus meningkat berbagai training dalam dan luar negri serta
penghargaan telah diberikan kepada saya juga trip Around the world. Dari kerja fungsional sebagai
Fisioterapis hingga 5 tahun terakhir sebelum pensiun perusahaan memberi tanggung jawab yg lebih besar
kepada saya untuk masuk di jajaran management Rumah Sakit menjadi Medical Administrator & Supported.
Bahkan waktu masa persiapan pensiun selama 3bl saya diminta untuk terus bekerja mempersiapkan infra
structure contigency plan Covid 19 bagi kesehatan pegawai Chevron dn keluarganya hingga memasuki
pensiun per 1 Juli 2020 yg lalu.
Be your self dan Ora et Labora adalah moto hidup saya dan keluarga. Terima kasih istriku "Maria Argarini"
yg telah mendampingiku dan telah mendidik anak2 hingga bisa menjadi orang seperti sekarang ini. 34 th
sudah saya merantau hidup di Riau Sumatra mengemban tugas negara, kini dimasa pensiun kami kembali ke
Solo untuk menikmati masa purna bakti kami dengan tenang dn bahagia. Terima kasih Tuhan Yesus yg selalu
melimpahkan BerkatNya, puji dan syukur kami. Terima kasih Bunda Maria yg selalu mendampingi dan
merestui kami. Amin!
Salam sehat dan bahagia untuk semua sobatku Beji dan Panji.
Berkah Dalem Gusti.
Barnabas Dwipanto
I-Panji Story 157 Alumni Smaga-81 SOLO
51. usmandoyo
Saya anak kedua dari dua bersaudara. Lahir di suatu desa terpencil berjarak tidak kurang dari 25 Km dari
kota Kabupaten, tepatnya di Karangdowo, Kab Klaten.
Sejak saya baru berumur beberpa bulan (2 atau 3 bulan ?), telah ditinggal Bapak meninggal dunia karena
sakit. Ibu saya merasa terpukul karenanya. Selanjutnya, Ibu pun meninggalkan kami (kedua anaknya yang
masih kecil2) untuk merantau ke Sumatra. (Kelak baru kami bertemu setelah saya klas 3 SD, itupun hanya
beberpa waktu dan ditinggal lagi). Akhirnya kami diasuh oleh nenek sampai dewasa.
Saya lulus SD tahun 1974 dengan nilai terbaik dan lulus SMP tahun 1977 dengan nilai yang cukup bagus
walaupun tidak masuk rangking.
Waktu itu, berkarir menjadi guru banyak didambakan oleh rata-rata kawan-kawan selulusan SMP. Makanya
banyak yang melanjutkan pendidikannya ke SPG. Terapi entah mengapa, saya terinspirasi oleh anak
terangga menjadi Insinyur Pertanian yang sangat disegani. Maka saya ingin sekolah ke SMA bukan SPG.
Jadilah saya mendaftar dan diterima di SMA 3 Solo yang sekolahnya dekat dengan rumah sanak keluarga
yang kelak menjadi tempat kost gratis saya, tepatnya di Suryohamijayan, Baluwarti.
Di SMA, mulai banyak kesan2 yang saya alami sejak penjurusan. Rasa kekeluargaan klas B1 betul2 terjalin
dan semua teman ramah2. Saya tidak merasa dibedakan sebagai orang dari desa dengan teman lainnya.
Di klas ini juga saya mulai ikut kelompok2 kegiatan, seperti club sepak bola, hiking, camping dll. Pada event
bertanding sepak bola di Sragen, saya betul2 merasa habis nafas, sampai dada terasa sakit. Dipihak lain saya
sangat salut dengan kecepatan larinya mas Joko Sihong. Di event camping di nDeles (kaki gunung Merapi ?),
saya pernah ditegur ketua regu (lupa namanya) karena saya tertidur ditepi jurang setelah kecapekan hiking.
Di event mendaki gunung Merbabu, pada saat istirahat pipis di perjalanan, tepat saat saya memegang leher
burung, ada suara di atas kepala saya. Setelah saya melihat ke atas, ....cepret !, suara kamera dengan nyala
blightnya si Edfinnnn.... kurang asem tenan ok kowe...ii.
Beberapa hari setelah masuk sekolah, saya
menengok ke bangku duduknya Edfin yang
ketawa-ketawa dengan beberapa kawan
lainnya Setelah saya mendekat, ya ampun....
Edfin memang jahat oq.... Foto saya... waktu
mencekik leher burung..... Haah.... saya sangat
marah waktu itu !! Tapi... tenang saja mas
Edfin, saya sudah maafin oq.
Saya juga suka seni, sehingga saya ikut eskul
karawitan bersama-sama dengan mas Joko
SBW, mas Rony Ibnu Sabil dan mas Benny
Christiono. Mas Joko dan mas Rony memang
menguasai hampir semua alat musik gamelan.
Kalau saya spesialis kenong dan mas Benny
centhe (saron kecil yg ditabuh 2x pada setiap
ketukan). Saking pinternya mas Joko SBW
memainkan gendang, makanya beliau diparapi
JOKO GENDANG.
I-Panji Story 158 Alumni Smaga-81 SOLO
Pada event siaran langsung RRI ada moment yang tidak pernah terlupakan. Posisi duduk saya pas.dibelakang
tempat.duduknya mas Benny dengan alat centhenya. Siaran langsung...., gendhing dimulai dengan ditandai
lampu merah padam dan lampu hijau menyala. Gending rampak, yang biasa untuk mengiringi kesatriya
perang.... Saking semangatnya dengan aba-aba gendangnya mas Joko yang menghentak, dan diikuti suara
semua gamelan yang bertalu-talu. Oleh karena alatnya mas Benny harus ditabuh 2x setiap
ketukan.....krooompyaaang !!!! alat tabuh centhenya mas Benny lepaasss, terbaaaang....
Setiap berangkat sekolah saya biasanya berjalan kaki dari rumah Baluwarti sampai ke Warungmiri, tetapi
juga sering bersepeda terutama saat praktikum di Lab Kerkop. Saya pakai sepeda tinggi (sepeda kebo). Saat
pulang teman2 yang pulangnya sejalur pada mbonceng saya. Ada mas Eddy Mulyadi, mas Edfin Hardzan,
mas Rony (saat eskul karawitan), dan ada mb Wahyu Ernawati.
Saat diboncengi mas Edfin dan mas Ronny, sering saya ngos2an. Habis tidak bisa gantian yang didepan, lha
wong mereka tidak bisa naik sepeda...., tapi hebatnya bisa nyetir mobil. Saat dibocengi mas Eddy Mulyadi,
imbanglah bisa gantian sehingga tidak capek. Waktu diboncengi mb Erna..., ngos2an sih tapi harus ditahan
supaya tidak kentara. Cuma ada teman yang nggak suka. Nggak tahu kena apa.... mungkin kalah duluan
ordernya. Lha saya kan melayani mana yang order duluan. Atau boleh jadi ada rasa cemberut terpendam ya
.... (?) He...he.... hanya dia dan Tuhan yang tahu....
Ada kesan lainnya, tatkala saya berlibur dengan mas Prapto (Keprabon) ke wisata padusan di Cokro Tulung
(?), terjadilah perkenalan dengan dua gadis cantik ( ha...ha, anak SMP), namanya Apriliana kah Apriyiatun,
yang satunya lupa. Dengan percaya diri kami berdua berlaku perlente bergaya anak kota yang berhadapan
dengan gadis desa. Kita main 'monyet-monyetan'.... Gayung bersambut, bahkan kami diajak mampir ke
rumahnya dan disambut hangat oleh orang tuanya. Oooe Prap....! Masih kau lanjutin kah ? ha...ha...
Bagaimana prestasi (akademis) saya di SMA 3 ?
Jebloook ...! Betul-betul jeblok. Terutama nalai-nilai di semester ganjil merah membara. Kalaupun nilai pas-
pasan saya dapatkan pada demester genap, barangkali itu katrolan utk persyaratan naik kelas. Beruntung
saat klas 3 ada kebijakan pemerintah mengganti tahun ajaran menjadi Juni/Juli, sehingga waktu belajar
diundur satu semester. Kalau tidak, mungkin saya tidak lulus waktu itu.u
Bagaimana setelah SMA ?
Puji Tuhan, akhirnya saya bisa lulus SMA sesuai waktunya. Mulailah babak baru, mau lanjut kemana ?
Saya masih konsisten dengan keinginan saat lulus SMP dulu untuk menjadi Insinyur Pertanian. Dengan
pertimbangan biaya kuliah yang paling ringan, saya masuk kuliah di Fak. Pertanian UTP (Univ. Tunas
Pembangunan Surakarta), setelah gagal masuk UNS. Kampusnya di samping Taman Balaikambang. Disana
juga ada teman2 lain sealumni SMA 3, termasuk diantaranya mas Edfin Hardzan, walaupun dia keluar pada
kuliah tahun kedua karena keterima di Biologi UNS.
Tahun 1984 saya lulus untuk tingkat Sarjana Muda. Waktu itu timbul masalah lama di keluarga saya, yakni
ekonomi. Biaya kuliah semakin mahal sehingga keluarga sangat terbebani. Akhirnya saya putuskan untuk
tidak melanjutkan ke tingkat Sarjana. Untuk rencana ini saya menghadap ke pimpinan Fakultas. Mendengar
alasan tidak melanjutkan kuliah saya, Dekan Fakultas memberi solusi, yakni melamar kerja ke Yayasan
almamater (UTP) dengan ijazah Sarjana Muda., dengan harapan bisa bekerja sambil kuliah.
Saran Dekan Fakultas saya laksanakan, dan puji Tuhan saya diterima bekerja di Fakultas sebagai laboran.
Kuliah saya lanjutkan dan lulus Sarjana pada 1987.
I-Panji Story 159 Alumni Smaga-81 SOLO
Tahun 1988 saya ingin mencari suasana baru sehingga saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari
pekerjaan, dan mencari kerja ditempat lain. Menyadari persaingan mencari kerja di P Jawa pada saat itu
sangat ketat, maka saya putuskan untuk ke luar Jawa, pilihannya adalah Papua (dulu Irian Jaya).
Keputusan saya didukung keluarga, terutama kakak saya. Ia dengan sukarela menjual sepeda motor honda
SuperCup 70 milik satu2nya dengan harga 350 K. Cukup untuk membeli satu ticket pesawat Garuda dari
Surabaya ke Jayapura. Jadilah pengalaman pertama saya naik pesawat waktu itu (1988).
Selang beberapa waktu di Jayapura, akhirnya dapat pekerjaan. Pilihannya di PT. Inhutani II, salah satu
perusahaan BUMN Kehutanan yang diberi tugas negara untuk mengelola hutan2 di luar P Jawa.
Misi utama Inhutani II di Papua waktu itu adalah melaksanakan tugas menertibkan perdagangan kulit buaya
dan (kelak) diwajibkan untuk mendirikan penangkaran buaya. Terkait dengan tugas tersebut, maka masuk
dan keluar hutan hal yang harus dilakukan. Dan inilah yang akan menyalurkan jiwa petualang saya.
Petualangan dimulai
Moda transportasi utama pada umumnya untuk menjangkau daerah pedalaman adalah pesawat. Maka di
sebagian besar tempat sasaran telah dibangun landasan pacu oleh Misionaris. Landasannya cukup tanah
lapang yng dikeraskan dan berumput, maka pesawatnyapun juga yang kecil-kecil deperti Chesna, Twinother
atau Helly.
Inhutani II dalam operasoinalnya lebih sering menggunakan pesawat chesna. Satu kali terbang dengan
sistem charter biayanya sekitar 700-800 K. Sewaktu masuk pedalaman, bagasi pesawat kita isi bama untuk
bekal dan saat keluar diisi anakan dan atau kulit buaya hasil penertiban.
Suatu kali saya naik pesawat chesna, saat berada diketinggian terjadi hujan deras hingga kehilangan kontak
saat akan mendarat. Oleh karena landasan tidak kunjung nampak, pesawat kembali ke ketinggian dan
berputar-putar hingga cukup lama. Setelah hujan reda dan tembus pandang, ternyata kami berputar-putar
di atas pantai. Akhirnya pesawat diarahkan ke landasan.
Di lain peristiwa waktu saya naik chesna, pesawat diarahkan
mendongak ke atas. Lalu tiba-tiba mesin mati, mampus
aku....rasanya pesawat jatuh.....! Tetapi tiba-tiba mesin
hidup kembali dan pesawat kearah depan (yang tadinya
kearah bawah/jatuh). Saya melihat reaksi pilot santai saja,
bahkan cenderung senyum-senyum. Eh...., ternyata kita
diajak latihan..., busyeeet..
Mafia perdagangan kulit buaya di Papua memang telah
melibatkan banyak pihak. Maka kehadiran Inhutani II
dianggap mengganggu para pihak tersebut. Terjadilah
disuatu saat, saya turun pesawat dengan membawa kulit
buaya hasil penertiban. Tiba-tiba saya dijemput beberapa
polisi dibawa ke ruang KP-3 (Pos Polisi Bandara).
Disana telah banyak kerumunan orang dan para wartawan. Saya diiterogasi terkait bawaan saya kulit buaya.
Saya jelaskan bahwa saya dari Inhutani II dan saya keluarkan semua dikumen dan surat tugas. Barangkali
cara menjelaskan saya bernada tinggi, sehingga praaaak....! pak Polisi menggebrak meja didepan saya sambil
berteriak .... "Saya ini Letnan lho...., mari ikut saya....!!" Saya diam dan mengikuti nereka naik mobil Polisi.
Tetapi sebelumnya saya sempat menulis memo ke sopir yang akan menjemput saya
I-Panji Story 160 Alumni Smaga-81 SOLO
Saya dibawa ke Kantor Polda, kemudian saya.disuruh menunggu diruang Krimsus dan dikunci dari luar.
Beberapa saat Boss saya datang, barangkali memo saya sudah.dibaca. Setelah ada pembicaraan dengan
Komandan Polisinya saya bisa pulang.
Peradaban boleh tertinggal, tetapi jiwa-jiwa dan akhlanya sangat mulia.
Kalimat diatas terkait dengan kesan saya dibawah ini ...
Terdapat titik operasional nama kampungnya Bareri. Saya masuk kesana pada bulan Oktober dan rencana
keluar nanti pada bulan Desember. Berarti saya harus membawa bekal cukup untuk tiga bulan. Kampung
kecil ditengah hutan yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat chesna. Dihuni tidak lebih dari delapan KK.
Kesan pertama, sangat tertinggal peradabannya. Masyarakatnya belum terbiasa berpakaian sewajarnya.
Hanya sekedar menutup depan bagian bawah udel. Tidak ada stock bahan makan di rumahnya. Bila merasa
lapar cukup masuk hutan dan pulang dalam keadaan kenyang, dengan perut yang cenderung buncit. Ini akan
bertahan 2 - 3 hari, hingga lapar berikutnya dan masuk hutan lagi. Jadi bahan makan betul-betul disediakan
oleh alam.
Luas rumah rata2 hanya sekitar 4x4, atau 4x6 yang dimiliki Kepala Suku. Satu KK rata2 terdiri dari Bapak, Ibu
dan 2 hingga 4 anak, kecuali Kepala Suku karena istrinya lebih dari dua. Semua aktivitas bioligis seperti
makan, minum dll dilakukan di luar rumah. Jadi rumah hanya untuk keperluan istirahat saja.
Suatu hari dibulan Desember diinformasikan bahwa tidak ada penerbangan pesawat ke Bareri sampai
dengan Januari, karena semua pesawat untuk pelayanan Natal. Saya sangat cemas karena persediaan bahan
makan hanya cukup untuk beberapa hari kedepan.
Bahan makan sudah sangat menipis, besok tidak ada lagi yang harus saya makan. Disaat merenung....,
terlihat beberapa ibu2 dan anak2nya pulang dari hutan. Mereka masing2 dengan bawaannya singgah ke
pondok saya dan menaruh bawaan tsb didepan pintu sambil tersenyum ramah, namun tidak berbicara apa2
karena memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Saya datang ke rumah Kepala Suku untuk menanyakan hal
tsb. Ternyata itu sebagai respon atas kecemasan saya, bahan makan untuk saya. Apa itu ? Ada umbi2an,
pisang, biji2an (semacam nangka sayur/keluwih), tebu, tepung sagu dll.
Setiap hari Minggu saya ikut ibadah, walaupun tidak paham bahasanya. Sangat sederhana, duduk lesehan
berhadapan dengan mimbar Penginjil seadanya. Sesuai tata-caranya ada kolekte/ persembahan. Karena
tidak ada peredaran uang disini, maka kolekte dalam ujud bahan makan (umbi, pisang dll). Selesai ibadah
hasil kolekte tersebut diantar ke pondok saya. Halleluya, puji Tuhan...., ini jawabanMu atas kekhawatiranku.
Waktu berjalan, prospek Unit Kerja perusahaan mulai nampak untuk menunjang karier. Tahun 1990 saya
mengajukan ijin cuti nikah, terlaksanalah pernikahan kami pada 1 Desember 1990. Pilihannya MM. Dwi
Dunartanti, wanita yang sudah lama saya kenal di Solo, setelah sebelumnya dia bersedia saya ajak ke Papua.
Beberapa hari setelah pernikahan, istri saya boyong ke Papua, naik kapal laut, lima hari lima malam dari
Surabaya ke Jayapura. Kami nikmati saja....
Agustus 1991 anak pertama saya lahir, perempuan, diberi nama Cahyaning Intan Puspitasari Usmandoyo.
Saat baby berumur beberapa hari, fisik ibunya terjadi perkembangan aneh, perutnya kelihatan membesar
dan kaki membengkak. Setelah diperiksa dokter, dimungkinkan masih ada janinnya lagi. Haaah...., yang
benar saja...
Untuk memastikan dugaan, dirujuklah ke Rumah Sakit. Hasil USG ternyata terdapat air pipis yang terhambat
keluar. Akhirnya disedot cairan tersebut dan sekitar.tiga liter air pipis bisa dikeluarka.
Perkembangan Unit Usaha semakin baik, bahkan telah terbangun beberapa kolam penangkaran dengan
ribuan anakan buaya. Namun secara tiba-tiba di pertengahan tahun 1992 harga ekspor kulit buaya anjlok
tak terkendali. Gegara perang Teluk (Irak vs Iran) membuat harga kulit buaya yang tadinya US$ 27 per inchi
(lebar dada) menjadi US$ 1 - 5 saja. Dan ini berjalan cukup lama, hingga usaha tak layak dilanjutkan.
Akhirnya Desember 1992 Unit Usaha diputuskan ditutup. Tetapi kita sempat memanen 500 ekor untuk
dilakukan pemotongan.
Dampak dari ditutupnya Unit Usaha di Papua, semua karyawan ditarik dan disebar dibeberapa Unit Kerja di
Kalimantan. Kebetulan waktu itu Pemerintah sedang melakukan program rehabilitasi hutan secara besar2an,
I-Panji Story 161 Alumni Smaga-81 SOLO
dan Inhutani II salah satunya.yang ditunjuk sebagai pelaksananya. Selanjutnya program Pemerintah
tersebut terimplementasi dalam bentuk pembangunan Hutan Tanaman Idustri (HTI).
Berkharirlah saya di PT. Inhutani II Uni Usaha Kalimantan Selatan. Unit Usaha ini memiliki beberapa Unit
Kerja al : Pengusahaan HTI, HA (Hutan Alam/Logging), Industri Penggergajian Kayu dan penugasan
Pemerintah lainnya.
Selama karir saya sempat mutasi dibeberpa
Uni Kerja se Kalsel, sampai anak kedua saya
lahir pada Januari 1996 perempuan dan
diberi nama Campaka Sandipuspa
Usmandoyo. Kemudian anak ketiga, laku-
laki Radito Aji Usmandoyo lahir Maret 2003
di tempat yang sama yakni Kotabaru,
Kalimantan Selatan.
Sejak anak2 mulai membutuhkan
pendidikan yang lebih serius, maka pada
2004 istri dan anak2 saya boyong pulang ke
Solo, sehingga saya menjadi bujang lokal di
Kalimantan.
Tahun 1993 - 2009 saya mutar-mutar dimutasi di Unit Kerja se Kalsel. Tahun 2010 dimutasi ke Unit Usaha
Kalimantan Timur dan Utara, kemudian tahun 2012 kembali ke Kalsel. Tahun 2014 ditarik ke Kantor Dureksi
Jakarta, hanya sekitar sebelas bulan, Mei 2015 kembali ke Kalsel sampai purna tugas Desember 2018.
Puji Tuhan, perjalanan panjang hidup berkeluarga dapat kami lalui.dengan baik. Anak pertama kami lulus S1
Akutansi UAJY dan telah bekerja di Bank Danamon Semarang sejak 2014 sampai dekarang, sambil
menyelesaikan Magisternya di UNDIP. Anak kedua lulus S1 Biotek UAJY dan telah bekerja di Bank BRI
Batulicin sejak Januari 2020. Dan anak yang terakhir masih di klas XII SMA N 4 Solo.
Sekarang kami masih membagi tugas. Saya menemani anak kedua tinggal di Batulicin, tepatnya di Jln.
Hidayah, Ds. Bersujud RT. 13 No. 15 Kec. Simpang Empat Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Sedangkan
istri mendampingi anak bontos, tinggal di Jetis Permai Gg 5 No 1, Gentan, Baki Sukoharjo.
Demikian beberapa kisah perjalanan hidup saya yang masih teringat, semoga berkenan.
Batulucin, 21 November 2020
Usmandoyo
I-Panji Story 162 Alumni Smaga-81 SOLO
52. Benny christiono
1. Dari 3 ke 3.
Lulus SMPN 3, saya ndaftar ke SMAN 3. Ngepit, bersama beberapa kawan. Jamak saat itu ngurus dan nyari
sekolah sendiri. Ortu cukup dilapori. Bapak, pensiunan tentara dan glidhig makelaran, ngomongnya: "Urusen
dhewe kono!'. Ibu, tamatan SGB Padang tapi belum sempat ngajar karena keburu "ditembak" Bapak,
biasanya setuju saja. Sing penting sekolah. Negeri. Murah dan terjangkau. Bapak, Jawa-Solo Ponorogo,
memang simple. Buktinya: disuruh perang dari Srondol Semarang lawan PRRI di Sumbar, pulangnya
mboyong putri Minang. Lahirlah kami. 6 lelaki, 1 perempuan.
Tanpa sepengetahuan Bapak, saya juga ndaftar ke SMA St Yosef. Gegara lihat di tipi, saat itu Yosef juara
Cepat Tepat SMA Tingkat Nasional. Pernah diikutkan lokalan saat SD dan kalah, siapa tahu bisa melok pinter
saat SMA. Diterima baik di SMAN 3 dan St Yosef, berbunga-bunga berbintang-bintang saya lapor ke Bapak
untuk minta persetujuannya sekolah di Yosef. Dan inilah jawabannya: "Awake dhewe ki mlarat! Ra onok
dhuwit nggo sekolah luar negeri!"
Begitulah. Jadilah warga Warung Miri.
2. Pengakuan Dosa Warung Miri
Karena bersepeda dari Turisari Mangkubumen ke Warung Miri, siang hari sering terik pula, jam awal
pelajaran saya sering izin untuk buang air kecil. Jauh ke belakang. Ruang kelas 1, saat itu di pengkolan pojok
Ruang Perpus. Samping Perpus adalah ruang kelas 2 Sosial. Hari itu saya ada debat dengan Bu Guru
Civic/Pendidikan Kewarganegaraan dan merasa sedikit terindoktrinasi. Saya izin. Bukan ke belakang, saya
nyelinap ke depan, masuk ke lokal 2 Sosial. Di situlah saya "nyirami lantainya". Ini jadi kebiasaan. Lain hari,
seorang kawan mergoki! Terkekeh, dia ikutan pula "nyirami lantai". Kelak saya dengar, lokal itu paginya
nggak dipakai. Katanya ada bocor!. Tapi kok pesing?!
Siang hari, tak berapa lama setelah guru ngajar, Pak Bon
ngantar teh manis hangat utk Pak dan Bu Guru. Lha, saya
kan juga haus?
Satu kesempatan izin permisi, saya eksplorasi sekaligus
ekspedisi ke belakang. Sasaran jelas! Gudang pembuatan
teh. Mumpung Pak Bon lagi keliling antar teh. Berhasil
ncapai lokasi, misipun saya tuntaskan! Beberapa gelas teh
manis hangat saya minum sebagian dan langsung saya
gantikan dengan stock dari ceret.
Terbukti, iblis sering menang lawan anak yg baru saja akil
baliq.
Karena sering bosan pada beberapa mata pelajaran, saya
sering mbolos dan kelayapan di belakang saja. Lain hari saya
berhasil ngajak Parmaji mbolos dan main catur di salah satu
ruang kosong. 12 set kami main catur. Draw. Menang kalah
sama. 6 vs 6. Ruang hidup lampu. Keasyikan main hingga 12
set, saat selesai ke luar ruang kami sama terkejut.
I-Panji Story 163 Alumni Smaga-81 SOLO
Hari sudah petang. Gelap. Cemas nyata di raut muka Parmaji. Setengah nangis, dia minta saya ngantar
ngawani pulang ke Palur. Mana saya mau? Saya arah ke barat, dia balik arah timur! Saya bilang ke Parmaji:
"Lha aku ini bukan Pakdemu bukan pula Paklikmu?!".
3. Tetap Wongso, Wong Solo, Walau Pengin Ninggalkan Solo.
Numpang lahir di asrama tentara di Srondol Semarang, tumbuh dan berkembang dari SD hingga lulus kuliah
tetap di Solo di "lingkungan setengah gelap" kampung Mangkubumen Kulon, kami harus tetap menjaga
kewarasan. Tetap srawung dengan tetangga tapi nggak ikutan botohan dan mendem.
Satu sore, bertiga dengan Haryono dan Hadi Putranto, kami pulang jalan kaki dari Warung Miri kegrimisan
kehujanan. Ikutan Haryono, pengin ndaftar ke Gama. Ra nyandak. Ketrima di Undip dan UNS. Lagi-lagi
keinginan untuk ke Semarang pupus oleh pernyataan Bapak: "Ra onok dhuwit nggo kuliah njobo Solo!".
Jadilah. Tetap Wongso.
Dua hari wawancara, dipanggil dan diterima. Langsung training di Kebon Padang Halaban Rantau Prapat,
Sumut. Mulailah kenal fase semi feodal di lingkungan kebon sawit. Bisa dimaklumi. Kerja dengan total
ratusan orang di keluasan puluhan hektar, dengan jenjang komando disiplin nyaris semi militer tentu mutlak
jadi pilihan. Pada prinsipnya, dalam bekerja dengan dominan otot, manusia akan melengos jika tidak ketat
diawasi.
April 1987, lulus training diangkat jadi Assistant, penempatan di Sam-sam, Kandis, Riau. Proyek buka lahan
sawit. Lancar saja. Pemda dan perbankan mendukung penuh. Mei 1990 kenal calon isteri di kegiatan ibadah
lapangan gerakan pemuda gereja di Duri. Desember 1990, saya ngontak ortu, mohon datanglah ke
Pekanbaru untuk proses lamaran. Setiba di Pekanbaru, mungkin Bapak-Ibu kaget. Bukan lagi lamaran, tapi
langsung pemberkatan nikah dan resepsi. Sesekali ngerjain Bapak-Ibu. Semua urusan dibantu keluarga di
Pekanbaru juga Manager Kebun (etnis Karo) yg saya anggap sebagai orang tua angkat. Pak Manager ini yg
ngajari kami. Pada jaman mudanya, siap gajian kebon, setelah alokasi ini-itu, kelebihan gaji belilah emas.
Carilah bambu yg kecil dan kuat. Tabunglah cincin, gelang, kalung emas itu dalam bambu. Itu yg bakalan jadi
modal untuk nikah.
Itu kami lakukan. Tapi kami nabungnya di bank, nitip orang kantor yg ada tugas ke Pekanbaru.
Januari 1991, dapat promosi jadi Assistant Kepala, mutasi ke Libo, Kandis. Cukup nyebrang jalan saja. Th '92
s/d '94 mutasi ke Langga Payung, Gunung Tua Tapanuli Selatan. Daerah rawan racun. Tapi kami ini, bersama
beberapa kawan yg berasal dari Jawa, 'kan percaya Tuhan dan Suwono Blong? Nggak bercincin dan atau
berkalung batu akik. Nggak ada ini-itu yg oleh beberapa kolega asal Sumatera jadi satu kepercayaan: jangan
makan jajan sembarangan, karena selalu ada orang atau kuasa gelap yg ngetest ilmunya.
Saat nikah, isteri lagi nyusun skripsi dan ada satu ungkapannya. Rupanya jadi doa. "Jangan hamil dulu ya
Mas, sampai nanti lulus dan wisuda?!". Puji Tuhan! Tuhan kasih bonus lagi. Th 1998 baru kami dianugerahi
satu putra. Satu saja.
Th 1994, saya tergoda untuk coba lokasi baru. Melamar lewat iklan di Kompas. Diterima jadi Wakil Kepala
Proyek di Meulaboh, Acheh Barat. Lahan 100 % gambut. Bertahan 3 tahun. Th 1998, berbekal pengalaman di
gambut, saya melamar balik ke Salim Group. Diterima. Jadi Manager di Sungai Guntung, Riau. 2 bulan di
gambut, mutasi ke Blang Simpo, Acheh Timur. Lagi perang antara Republik dan GAM. Kebon terdampak.
Kerja dan produksi terganggu. Jika melihat balik saat itu dengan kacamata sekarang, kadang saya nggumam:
"Edan tenan!". Desing peluru. Penculikan. Unjuk kekuatan GAM dan Kopassus silih berganti di seputaran.
Perusahaan bermain bukan saja dua kaki. Siapa yg datang dan minta sesuatu, sepanjang kita ada, bantulah.
Maka bergiliranlah yg datang. Polisi. Tentara. GAM. Atau pihak yg pura-pura jadi GAM. Di Nigeria,
I-Panji Story 164 Alumni Smaga-81 SOLO
perusahaan juga hadapi hal yg sama. Pertempuran antara pemerintah dan pemberontak. Manajemen
pernah datang ke Medan dan kami ditawari: jika dirasa perlu, keluarga dan seluruh staff boleh saja pindah
ke Medan. Toh hanya 3,5 jam perjalanan. Tapi kami nolak. Ribet pasti. Toh kita "berkawan" dengan
semuanya. Keadaan makin kacau. Tapi bau duit itu terasa nian! Perangnya seperti mainan, tapi korbannya
beneran tewas. Pada rentang 20 km di jalan raya, ada 3 pos jaga. Pos satu punya tentara, pos dua punya
polisi, pos tiga punya GAM. Setiap saat datang pasukan ke kebon, saya dijumpai komandan regunya. "Lihat
ini Pak! Kami teken bon solar 60 liter, padahal cuma diisi 20 liter!".
Lain hari ada pergantian komandan, bersama beberapa perusahaan perkebunan lain, kami bagi jatah. Siapa
beli sofa, siapa beli kulkas, siapa beli tipi. Pergantian komandan adalah identik boyongan apapun yg bisa
diangkut. Ada pemeo di antara prajurit, tugas perang di Acheh itu 2 pilihannya: pulang bawa jasad atau
pulang bawa harta benda. Belum lagi aroma gelek yg memang menghanyutkan. Th 1999, saya mutasi ke
Tamiang, Langsa, masih Acheh Timur. Masih suasana perang juga. Kerja dan produksi tentu saja terdampak.
Penculikan makin jadi berita yg heboh. Culik dan minta tebusan. Siapa saja bisa jadi korban. Ke lapangan
mesti ada pengawalan.
Th 2001, mutasi ke Sampit, Kalteng. Bekas perang juga. Dayak versus Madura. Kebon tentu saja
terbengkalai. Tenaga kerja minimal. Dipimpin ketat oleh General Manager, kami harus cari cara efektif rawat
pokok sawit, akses produksi dan panennya.
Th 2005 mutasi lagi masuk ke Departemen Riset di Teluk Siak, Riau.
Th 2008, mutasi lagi ke lapangan di Sumatera Selatan.
Kebon eks manajemen Malaysia. Nyata
amburadul tenan! Padahal lokasi berkelas: 90 %
dari 23.000 ha lahan adalah flat/datar. Jalan dan
akses produksi dibangun ngiris tempe jajaran
genjang, bukan segi empat. Akibatnya dobel
handling panen. Boros. Aroma busuk conflict of
interest kuat nian. Kami seperti jadi team bersih-
bersih. HGU yg tercatat 25.000 ha, setelah diukur
balik nyata hanya 23.000 ha. Yg 2000 ha jadi
sajen ikatan mbaurekso Manajemen setempat,
oknum Pemda dan preman dalam kebun. Ada 5
lokasi wilayah kebun yg jadi tanggungjawab kami
sebagai Estate Manager dan 1 Mill Manager
untuk penertiban seluruh aspek kebun: tehnis
pemeliharaan dan non tehnis (kinerja karyawan).
Ke dua aspek ini harus serentak bersamaan
dilaksanakan. Nggak mudah. Saya kebagian
memecat 73 karyawan fiktif. Ada nama, ada
orangnya, tapi posisi di Sekayu atau Palembang.
Gajian datang. Siap itu ngilang.
Terlindungi dan memang dilindungi oleh berbagai kepentingan berbagai kelompok individu. Pontang-
panting nian. Saat proses, SMS, telepon dan ancaman bertubi-tubi. Kami lanjut terus. Ada Polri, ada tentara.
Di tengah upaya penertiban tenaga kerja, Team Auditorpun gencar juga turun ke lapangan.
Tak terhindarkan, ada beberapa hal tehnis yg jadi temuan. Pupuk yg tidak ditaburkan, karena traktor
terpuruk justru sekian zak pupuk jadi bantalan ban dan rusak oleh lumpur. Buah yg tidak terpanen dan jadi
I-Panji Story 165 Alumni Smaga-81 SOLO
losses karena lahan jadi sengketa dan lain-lain hal yg semestinya bisa ditoleransi oleh penertiban tenaga
kerja yg baru jadi prioritas.
General Manager bahkan juga nggak bisa mengcover. Upaya penyelamatan aset lahan yg selama ini tidak
terpanen, upaya penghematan gaji atas karyawan fiktif yg telah terjadi sekian tahun seperti tidak jadi
pertimbangan. Akhirnya saya sendiri yg mesti berhadapan dengan Manajemen diwakili oleh Departemen
Legal dan HRD. Proses pun berlanjut di PHI Palembang. Saya sampai membuat pembelaan. Lebih tebal dari
saat nyusun skripsi. Sekian bulan berproses, isteri justru yg berpendapat lain. "Sudahlah Mas, damai
sajalah."
4. Berkah dan Kutukan Wongso.
Saat masih kuliah, Oom atau Bapanggi di Medan nawari. Rampung kuliah, langsung ke Medan. Ada relasi di
PTP IX. Bapanggi (Simalungun) nikah dengan adik kandung Ibu (Minang), pensiun dini dari kapal dagang dan
buka CV dapat borongan di perkebunan tebu dan tembakau. Lulus kuliah Maret 1986, Juni 1986 naik kapal
Kambuna dari Priok ke Belawan. Sesuai janji Bapanggi, kami menghadap Manager PTP IX Kuala Bingei dan
bawa berkas lamaran pada Juli 1986. Beliau tidak berjanji tapi upayakan karena masih butuh 2 staff, pada
penyusunan RAB bulan Oktober 1986 akan disisipkanlah. Begitulah. Terbayang jadi staff PTP. Tinggal di
bangunan eks Belanda, naik sepeda motor dst dsb. Sambil nunggu jadi staff PTP, saya bantu Oom ngurus
CVnya. Serabutan. Namanya usaha keluarga. Ke lapangan, ke bank, jumpa ini itu begini begitu. Puji Tuhan,
bulan Agustus 1986, Bapak Manager saat rapat di Medan kena serangan jantung. Meninggal. Lamaranpun
terdampak. Mulailah buat lamaran ke sana-sini. Nopember 1986 wawancara dengan satu perusahaan sawit.
Selesai psikotest, pewawancara nanya: "Pernah lihat pohon sawit? Tahu?". Saya mesti jujur. "Pernah Pak. Di
Kebun Raya Bogor!". Beliau senyum. "Nggak pa-pa, nanti banyak belajar lagi ya!.
5. Syukuri Saja, Apapun Keadaannya.
Proses damai akhirnya kami tempuh. Umumnya, conflict antara Manajemen dan Staff, biasanya berdasar
kenakalan staff. Bahasa kasarnya adalah korupsi. Biasanya setelah "selesai", staff tersebut akan pergi jauh,
menghilangkan diri. Tentu karena punya rasa malu. Saya berkonflik. Tapi bukan karena korupsi. Itulah sebab
dan alasan kenapa tetap tinggal dan berpenghidupan di Sekayu, Sumatera Selatan. Saat ini ada usaha
mengelola bengkel mobil dan sudah dihandle penuh oleh anak tunggal kami. Setamat SMK Otomotif, dia
milih langsung kerja. Nanti ada waktu, pasti ambil kuliah. Saat selesai dari Perusahaan pada th 2010
kemaren dulu, dengan isteri, kami ada diskusi: mau pilih tinggal di mana? Medan, ada keluarga dari pihak
adik Ibu saya. Pekanbaru, ada keluarga dan orangtuanya. Solo, ada keluarga dan orang tua saya. Atau
Mataram Lombok, ada adik bungsu saya. Tidak satupun terpilih. Memang rancangan manusia tidak bakalan
terjadi jika tidak memahami dan meyakini otoritas Tuhan. Biar kehendak Tuhan saja yg terjadi.
Alhasil, oleh kondisi Ibunya yg sudah mulai renta, saat ini isteri milih ngurus dan tinggal di Pekanbaru.
Sesekali kami ke Pekanbaru, lain waktu gantian isteri ke Sekayu. Apa boleh buat, itulah kesepakatan kami.
Selama 23 tahun kerja di kebon sawit, total kami pindahan 12 kali. Selalu Pekanbaru jadi homebasenya.
Banyak waktu kebersamaan dengan keluarga yg terlewatkan. Saat tiba masa liburan nasional lebaran, kami
justru kebagian piket di kebun. Tak kuasa ku menolak. Saat mulai tersambung dengan kawan, baik SD, SMP,
SMA dan Fakultas Pertanian, setiap terima info ada acara reunian, saya hanya bisa meratapi dari kejauhan.
Kami mesti berbagi mudik. Pekanbaru dan Solo. Tiba di Solo, reunian sudah selesai. Inilah buah dari
keinginan ninggalkan Solo. Sekalinya berhasil, diputar kayak gasingan: Sumut, Riau, balik Sumut, mbablas
Acheh Barat, mudik lagi ke Sungai Guntung, balik ke Blang Simpo Acheh Timur, nggeser ke Tamiang Acheh
Timur, melompat ke Sampit Kalteng, balik ke Teluk Siak Riau dan akhirnya mangkal di Sekayu Sumsel.
I-Panji Story 166 Alumni Smaga-81 SOLO
Saya juga bersyukur reunian SMAGA kemaren dulu bisa ikutan di Kotta Barat dan Kerkoff. Lebih berkesan di
Kerkoff karena bisa cium tangan beberapa Bapak dan Ibu Guru sambil mohon ampun, di antara mereka
dahulu teh manis hangatnya sudah saya dului minum dan sisai.
Demikian sepenggal kisah ini dituliskan. Mohon maaf jika ada salah tulis dan salah sebut.
Salam SMAGA, kompak selalu.
Benny Christiono
I-Panji Story 167 Alumni Smaga-81 SOLO
53. HERMAWAN BAYU
Sebelumnya mohon maaf karena mungkin kisah perjalananku biasa saja dan mirip dengan kisahnya mas
Sudarwanto. Saya tidak terlibat organisasi dan kegiatan lain waktu di SMA dan bahkan saya pun tidak tahu
waktu itu ketua osisnya siapa, belakangan baru tahu kalau kang Ade , dulur2 pasti juga tidak tahu saya,
kecuali kelas B2.
Saya anak nomor 4 dari 6 bersaudara dari keluarga batik (jangan dibayangkan sebagai saudagar nggih, krn
cuma home industri) dan ketika kelas 5 SD ibu meninggal, shg mempengaruhi perekonomian kelg, krn ibu
sebagai marketingnya. Saya ingat selalu ikut ibu ke pasar klewer jaga kios dan pulangnya bawa oleh2 jajan
pasar buat yang dirumah, bahagia sekali rasanya wkt itu dan sejak itu saya sering membantu bapak
mengantar lilin/malam dan batik 1/2 jadi sebecak utk diproses selanjutnya di laweyan rumahnya Mbah.
Suatu saat pernah terguling dari becak dan luka dipangkal paha krn tercantol pegangan kemudi becak dan
berbekas sampai sekarang. Bapak jg single parent sampai akhir hayat yuswo 80 th dan merangkap sbg ibu,
luar biasa menurut kita anak2nya, pernah saat ujian sma ketiduran saat belajar malah diselimuti, bukannya
dibangunkan..
Setelah lulus SD saya sekolah di SMPN 4 dan SMAN 3 seingat saya tidak pernah antri karena kakak sudah di
SMAN 3 wkt itu, mbuh piye carane kok ngga ngantri
Masa SMA seneng terus, soale konco sakkelas nyenengke kabeh dan yg paling berkesan saat perpisahan
munggah gunung lawu sak kelas..
Selepas SMAN 3, saya tidak punya cita2 dan hanya
ikut2 saja apa yang sedang trend saat itu (bapak jg
tdk pernah memaksakan, cuma berpesan klo bisa di
univ negeri, makanya kami ber 6 tdk ada yg sama
jurusannya dan alhamdulillah semuanya di univ
negeri yaitu UI (kedokteran & mesin), UGM
(kedokteran gigi), Undip (sipil), Unbraw (elektro) dan
UNS (ekonomi) maka akhirnya saya memilih TI ITB,
Sipil Undip dan Kimia UGM serta Kedokteran UNS
utk perintis III nya dan alhamdulillah diterima di Sipil
Undip dan Kedokteran UNS, (tidak saya ambil),
bersama dulur sekelas saya, Heru dan Catur (Arsitek)
serta Joko (Kedokteran), kamipun 1 kontrakan
bersama selama setahun, shg tdk terasa perubahan
dari SMA ke Mhsw krn msh bercandaan.
Seperti pada umumnya teknik saat itu, kuliah saya tempuh selama 7 tahun itupun masih 30% yang lulus dari
seangkatan saat lulus itu.
Ketika kuliah sempat ada kesulitan keuangan, karena saat itu kami 4 bersaudara masih kuliah dan 2 adik
SMA dan SMP shg uang bulanan harus didapat dari berdagang batik dengan cara menitipkan ke toko2,
beberapa kali juga barang sdh ngga ada tetapi belum dibayar tapi alhamdulillah bisa melewatinya.
I-Panji Story 168 Alumni Smaga-81 SOLO
Selepas dari lulus kuliah sempat diajak dosen untuk ikut proyek jalan tol Smg-Solo survey asal tujuan sambil
menunggu wisuda dan setelah itu ditawari dosen juga untuk bekerja sebagai pengawas proyek terminal peti
kemas di Jebres selama 8 bulan, setelah kontrak selesai ditawari lagi dosen yang lain sebagai staf konsultan
dengan gaji yang hanya cukup utk beli dasi istilahnya krn hrs kost, alhamdulillah banget ngga sempat
nganggur. Selama 6 bulan lebih bekerja sbg staf konsultan sambil melamar di BUMN yang ada Karya2nya,
saya kebetulan membaca koran Suara Merdeka ada lowongan kerja di Pertamina dan melamarnya (konon
angkt seblmnya rekruitmen tertutup), tidak berapa lama kemudian dipanggil untuk test tertulis, psikotest,
bhs inggris, wawancara dan kesehatan... kebetulan waktu itu dari kantor konsultan say bekerja sedang
ditugaskan untuk menangani perencanaan 27 proyek Pelabuhan Perikanan se Indonesia konsorsium dengan
perusahaan konsultan dari ITB, shg ngekost di Bandung dan agak leluasa mengikuti test di jkt (colut )
Alhamdulillah akhirnya diterima walaupun saat itu terlambat mengetahuinya krn surat penerimaan saya
yang beralamat di jkt tdk diterima kakak saya, tahunya malah dari sepupu bhw temannya sdh diterima di
Pertamina, dan saya dibantu kakak untuk melihatkan pengumuman langsung di kantor Pertamina, besoknya
baru lapor dan sdh terlambat untuk test kesehatan, waktu itu ada 1 teman lain juga terlambat, dengan
harap2 cemas alhamdulillah diberi kesempatan, dan lolos untuk ikut pendidikan di Sungai Gerong
Palembang selama 7 bulan (saat itu tdk pake pendidikan militer, baru setelahnya atau angkt mas Sudar ada,
mungkin krn angkt kami tdk disiplin ).
Saat itu kami ber 30 dari Sipil memang
dipersiapkan utk proyek EXOR (export oriented) yg
hanya terealisasi di Balongan vs 5 proyek yg
direncanakan). Selama pendidikan profesi, saya
sempat bimbang karena ada panggilan dari BUMN
yang Karya2 itu, al. Wijaya Karya, Hutama Karya,
Nindya Karya dan Brantas Abipraya bahkan PU
(Pekerjaan Umum) yang sesuai dengan bidang
saya, dimana 2 diantaranya teman sependidikan
keluar pindah ke PU, namun akhirnya saya
putuskan tetap di Pertamina.
Saya merasa bekal pendidikan ini sangatlah
penting mengingat kami dari Teknik Sipil sangat
awam terhadap peralatan dan proses kilang
minyak.
Saya sempat familiarisasi di Dumai (UP II) dan orientasi di Plaju/S.Gerong Palembang (UP III) serta
penempatan di Cilacap (Unit Pengolahan IV) selama hampir 18 tahun, muter ke beberapa bagian
maintenanance, debottlenecking project (dimana berkesempatan untuk review engineering di Irvine
California selama 2 bulan dan karena kerjanya cuma 4 hari seminggu, alhamdulillah tiap weekend jumat
sabtu minggu bisa main ke San Fransisco, LA, Las Vegas dan Newyork), kemudian stlh proyek selesai
ditempatkan bagian perencanaan, inspeksi dan HSE (Health Safety Environment), selama di unit setiap tahun
afda plant stop utk overhaul oabrik yg menghrskan kami bekerja 24 jam selama +- sebulan, karena bekerja
di tempat yang berisiko tinggi, diharuskan mengikuti prosedur dan aturan HSE yang sangat ketat (refinery
mempunyai tingkat risiko setingkat dibawah penerbangan dalam hal presisi dan keselamatan). Setelah itu
pindah ke ktr Pusat Jakarta 4 tahun, kemudian pindah ke Balikpapan (UP V) 3 tahun, sebagai manager OPI
(Operational Performance Improvement) tugasnya perbaikan kinerja operasional dari sisi non teknis dan
alhamdulillah bisa meraih best manager no.3 se ind (jago kandang ), selanjutnya kembali ke Pusat Jakarta
2 tahun sebagai civil advisor (back to basic) yg tugasnya muter ke 6 Unit Pengolahan (Dumai-Riau, Plaju-
I-Panji Story 169 Alumni Smaga-81 SOLO
Palembang, Cilacap, Balikpapan, Balongan-Cirebon dan Kasim Sorong), setelah itu pensiun, sebenarnya
ditawari untuk kontrak perpanjang karena ada proyek ekspansi kilang, tapi karena penempatan di
Balikpapan atau di Cilacap jadi urung karena harus pisah kelg lagi (setiap di Jakarta kelg tinggal di Semarang)
Sejak Maret 2019 saya pensiun dan sekarang tinggal di Semarang.
Alhamdulillah istri saya 1 dan anak saya 3 orang, yang pertama cewek dokter dari Undip baru saja menikah
dan diterima di RSCM, suaminya kerja di Hutama Karya, kedua cowok lulusan IUP Ekonomi Bisnis UGM,
mohon doanya sedang nyari kerja dan terakhir cowok kelas 1 SMAN 1 Semarang.
Demikian perjalanan hidup saya yang sangat biasa saja, saya yakin dulur2 bisa melebihi saya jika ada dan
diberi kesempatan yang sama, saya sangat betsyukur selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam hal
apapun, cobaan maupun ujian pasti ada dan punya pada setiap manusia dengan kadar yang ber-beda2,
dengan amat sangat mengucapkan puji syukur Alhamdulillah bisa berjuang dengan dulur2 semasa SMA yang
luar biasa hebat, dan mohon dengan sangat cerita saya dimaknai dengan sesuatu yang bisa diambil
manfaatnya jika ada, dan semua se-mata2 karena Allah yang maha besar dan maha pengasih serta
penyayang.
Matur nuwun, mhn mf dan salam sehat.
Nb. Maaf, sebagian nirun mas Sudarwanto (swn mas Sudar yg sekantor sependidikan tp br ktm stlh 30
thn ), soale dipekso nulis karo kang Ade padahal wis kondo raiso..
nyuwun ngapunten tdk terima perkenalan nggih, wis dadi sedulur kabeh..
Hermawan Bayu (B2)
I-Panji Story 170 Alumni Smaga-81 SOLO
54. Makhfud irfan
“hijrah ping sepuluh”
semasa sma.
selama sekolah sma, hal yang paling aku inget adalah pengalaman2 munggah gunungnya. mulai dari gunung
lawu (yang rasanya hampir saben bulan kesana), merapi, merbabu, sundoro, sumbing dan sebagainya.
pernah waktu itu rencana mau naik gunung arjuno dan welirang di jatim (barengan sama tatang-b2, pipit-b5,
kiman-b4, tatong-b4, dan sapa lagi ya). eh lha kok ternyata gunung yang didaki salah. yaudah, ndak papa.
kita turun lagi. mosok nginep di punthuk penanggungan situ?
kuliah di yogja.
abis lulus sma tahun 1981, ikut test di perintis 1. ipanya ngambil teknik sipil itb (dan gak keterima), ipsnya
ngambil fe ugm. hamdulillah keterima. selama kuliah, ya gitu2 aja. nyari kos yang deket kampus, biar gak
usah naik motor (wong yo ora nduwe). kosnyapun nyari yang murah, barengan sama siwi (b4), kombang
(b2), bahkan aku berbagi kamar sama sigid pongoh (b3?). sebulan sewane cuma rp.12.500, separo eding
sama pongoh.
jadi penyiar.
di tahun ke 3, pernah dimintain tolong sama sorang temen cewek mbikinin surat lamaran buat jadi penyiar
radio geronimo (yang waktu itu paling ngehits di yogja), trus diminta nemenin test pisan. eh, begitu nyampe
sana kok tiba2 aku juga pengin ikut test. yaudah. yang lucu adalah ketika dites suruh nyoba siaran, kita
disuruh mbawain salah satu acaranya geronimo.
lha aku ini kan bukan fansnya geronimo, bahkan ndak
pernah dengerin (wong gak duwe) radio. jadi aku gak
ngerti acarane adanya opo wae, dan gimana gayanya
penyiar2 geronimo. alhasil, ketika semua pelamar
mbawain siaran (dengan gaya khas geronimo), aku
siaran dengan gaya sak karepku dewe. eh lha kok
para (penyiar) penguji itu pada ngekek2 dari
studio/ruang kaca seberang, sembari nyemangati:
“terus mas, terus mas, terus…..” kayaknya gaya
siaranku tuh antik banget be'e. mbuhlah, karepmu.
tapi somehow aku justru yang malah diterima,
sementara temenku cewek yang ngebet banget
pengin jadi penyiar itu malah gak ketompo. gustiAllah
emang maha becanda.
jadi sejak saat itu jadilah aku penyiar sambi kuliah.
gaji pertama 38ribu, tak beliin sepatu lotto. soalnya
mau beli puma masih gak tega mahalnya
I-Panji Story 171 Alumni Smaga-81 SOLO
lulus dan mulai kerja.
tahun 86 alhamdulillah lulus jadi dokterandes. banggane minta ampun, padahal di dunia kerja blas gak ono
regane. aku termasuk kloter pertama angkatan 81 yang lulus, barengan sama yitno (b5) dan mukhlis (b2).
suatu hari pas tilik kampus ngurus ijazah, ada kakak kelas yang ngasih tahu kalau ada tes di bank niaga
surabaya. yaudah, brangkat dengan duit minim banget. pas di sepur, ndilalah ketemu sama kakak kelas
sma3 yang gitaris vocal group (seniore bernadi. koyone sak angkatan sama mbak heni nogogini. jenenge aku
lali). dia karyawan bri yang ke surabaya dalam rangka training. berhubung kita nyampe di surabaya sekitar
jam 2-3 pagi, dan aku ndak tahu musti kemana, njuk aku ditolong sama mas gitaris itu “diselundupkan” ke
mess bri yang ada di jemur andayani sana. nunut tidur nunggu pagi, ikut mandi, dan berangkat tes bank
niaga. alhamdulillah keterima. sebulan kemudian mulai training di bank niaga surabaya. bersyukur kepada
gustiAllah yang maha mengatur.
rumah pertama (1987)
sehabis menikah sama wati (dia temen sak angkatan di fe ugm), kami ngontrak sebuah rumah di
kendangsari. di rumah inilah lahir anak pertama kami, namanya evan (lulus fe-ui, sekarang internal auditor
di pertamina, jakarta).
pindahan ke rumah #2 (1990)
kontrak habis, pindah ke tenggilis mejoyo. di rumah sini lahirlah anak ke dua, namanya kosa (lulus arsitek ui,
sekarang punya biro arsitek sama temen2nya).
pindahan ke rumah #3 (1992)
gara2 naik pangkat jadi manager, dapatlah fasilitas pinjaman yang lumayan besar, sehingga kita bisa beli dan
mbangun rumah sendiri di rungkut kidul. disinilah lahir anak ke tiga, cewek, namanya uti (lulusan antrop ui,
sekarang di marketing pre school, jakarta). pokoknya saben pindah rumah, manak.
pindahan ke rumah #4 (1996)
tahun 1995, ada tawaran dari direksi untuk mbangun sebuah cabang bank niaga di daerah kerjanya freeport,
di timika & tembagapura. dari 4 kandidat yang qualified, yang 3 mundur karena gak berani berangkat
(karena kondisi di papua saat itu lagi sangat genting). gerakan papua merdeka pimpinan kelly kwalik
merajalela. ketika aku nanya wati, lha kok dia bilang “kemana kamu pergi, aku ikut,” yaudah. tak ambillah
proyek itu. setahun nggarap proyek secara remote. pergi pulang sby-jkt-timika-tembagapura. begitu proyek
jadi, aku ditunjuk sebagai kepala cabang pertama disitu (ya, sudah bisa diduga, karena akulah yang nglairin
cabang tsb). sebelum berangkat, aku nega-nego-nega-nego sama direksi untuk dikasih kenaikan pangkat
dulu, jadi senior manager. maka tak boyonglah wati dan 3 anak2 ke sebuah kota baru yang keciiiil banget.
namanya kuala kencana, dibangun oleh freeport dengan gaya amerika banget. sangat modern dan
indaaaaah banget. dan alhamdulillah, sebagai kepala cabang kami dapat rumah dinas yang tonggoan sama
bule2 freeport itu.
pindahan ke rumah #5 (1997)
sekitar pertengahan tahun 97, dapat tawaran dari bank papan sejahtera di jakarta untuk bergabung sama
mereka. ceritanya di-hijack nih, soalnya jaman waktu itu di perbankan masih ungsum saling hijack
manager2nya. nega-nego-nega-nego, alhamdulillah dikasih jabatan vice president, ngurusin cabang2 di
indonesia timur. maka kembalilah kami ke surabaya. untung rumah rungkut masih belum dijual.
I-Panji Story 172 Alumni Smaga-81 SOLO
pindahan ke rumah #6 (1998)
tahun 98, terjadi krisis moneter. aku ditarik ke kantor pusat di jakarta untuk mengkoordinasi seluruh cabang
sak indonesia. alhamdulillah dapat fasilitas sebuah apartemen yang keren di permata hijau. pada saat itu,
berhubung kerusuhan di jakarta masih sangat medeni, sehingga keluarga tetap tak tinggal di surabaya.
pindahan ke rumah #7 (1999)
ketika kerusuhan sudah mereda, aku boyong seluruh keluarga ke jakarta. njuk nega-nego-nega-nego lagi
sama kantor minta untuk dipindahkan ke rumah di cipete bersama keluarga. disinilah dira, anak ke 4 kami,
lahir. (tuh kan? manak lagi?).
baru 3 bulan disitu, eh bank papan dibekukan oleh pemerintah bersamaan dengan 38 bank yang lain saat
krismon 99 itu). kami dipaksa keluar dari rumah dinas tersebut oleh bppn. mobil juga ditarik. jambuwok!
pindahan ke rumah #8 (1999)
terpaksalah kami pindah lagi, kali ini dapet rumah kontrakan di cilandak, jaksel.
di tengah situasi yang gak jelas kek gitu, Tuhan mengirimkan sepasang suami isteri (kakak kelas di fe ugm)
yang ngajakin untuk mbangun bisnis barengan. ya, mari kita Kemon, ya toh?
gak berapa lama kemudian, datang juga tawaran dari bank mega untuk bergabung sama mereka. aku
diminta untuk membangun sebuah divisi baru yaitu consumer finance disana. alhamdulillah, dari hasil nega-
nego-nega-negonya, dapatlah aku jabatan sebagai senior vice president. sungguh gustiAllah itu maha
pemurah.
pindahan ke rumah #9 (2001)
tahun 2001, mantan bossku di bank papan, ngajak untuk join beliau di bank danamon. ya mosok ditolak?
kan dapet kesempatan untuk nega-nego lagi kan. dan alhamdulillah, kerjanya pindah ke danamon,
rumahnya pindah ke griya sekar melati di andara (tapi kali ini udah gak diikuti dengan manak lagi).
pensiun dini (2006)
tahun 2003 bank danamon diambil alih oleh
temasek, singapore. seperti biasa, new investor
melakukan banyak perombakan2 organisasi yang
bikin suasana kerja jadi kurang nyaman. akhirnya,
setelah berkola-kali nega-nego minta pensiun dini
ditolak terus, akhir tahun 2006 akhirnya dikasih
juga. sesuai peraturannya, kalo ambil pendi
sebelum usia 45 tahun itu gak dapet
pesangon/uang jasa. tapi yaaaa, modal nega-
nego bin sedikit ngotot, akhirnya keluar jugalah
pesangonnya. mayanlah.
banyak temen2 yang nanya, kenapa kok udah di
posisi kek gitu malah ngajuin pensiun dini? ya
soalnya emang dari dulu tuh cita2ku pengin di
rumah aja, gak mau kerja buat orang lain, supaya
aku punya banyak waktu 24x7 buat istri dan
anak2, dan cucu2 kelak.
pindahan ke rumah #10 (2007)
berhubung ada gosip bahwa rumah griya sekar melati sini mau keplindes pembangunan jalan tol desari,
maka pindahlah kami ke rumah di andara ujung yang kami tinggali hingga sekarang ini. rumahnya mojok di
I-Panji Story 173 Alumni Smaga-81 SOLO
sebuah kampung deket aliran kali krukut. jalan depan rumahnya masih jalan tanah sampai saiki. di sekitar
rumah kami masih banyak tanah kosong yang sama beberapa tetangga ditanemi sayur2an.
buat ngisi waktu, aku bikin perusahaan training consultant yang memberikan pelatihan2 soft skills ke
perusahaan2 nasional/multinasional, dari aceh sampai papua. soooo, alhamdulillah banget, selain dapat
teman baru, dapet cwan lumayan, dapet jalan2 keliling indonesia, dan (insyaallah) ilmu yang diajarkan bisa
jadi manfaat buat generasi muda bangsa ini dan jadi amalan jariah.
penutup
persis seminggu sebelum inggris dilockdown, dira (si anak cewek bungsu), berhasil balik ke indonesia setelah
menyelesaikan kuliahnya di university of hertfordshire di hatfield, inggris. jadi saat ini, kami semua kumpul
di andara ujung ini barengan sama semua anak, kecuali evan yang udah pindah ke rumahnya sendiri
bersama istri dan satu anaknya, gak jauh dari sini.
kalau covid ini sudah berakhir, monggo mampir. ntar kita bisa ngobrol2 dan cangkruk di gazebo bawah
pohon duren dan rambutan situ, sambil makan blanggreng (dicocolin ke sambel trasi) dan nyruput kopi
bikinannya uti yang uwenaknya nagih.
semoga gustiAllah yang maha pengasih selalu memberkati kita semua. amin.
wassalamu alaikum.
kalau ada yang berkenan berteman di instagram atau facebook, meniko akun kulo @irfan_makhfud
Makhfud Irfan (B5)
I-Panji Story 174 Alumni Smaga-81 SOLO
55. HADI PUTRANTO
Bismillah.. mudah²an tdk ada satupun dari teman² panji menganggap cerita saya ini sbg "pamer", krn mmg
tdk ada yg bisa dipamerkan dlm cerita (sebagian) perjalanan hidup saya ini.. dan semoga Allah SWT meridhoi
apa yg saya tulis ini, dan bukan dicatat sbg perbuatan riya'.. aamiin yRa
Saya ditakdirkan lahir 58 tahun yg lalu di suatu desa yg berada di tengah² hutan yg dikenal dgn nama
Gundih.. bener² desa ditengah hutan, krn klo mau ke kota Solo (arah selatan, 50 km) maupun ke Purwodadi
(arah utara, 16 km) jalannya hrs melewati hutan dulu. Sedangkan arah ke barat & timur adalah kawasan
hutan yg sangat luas.. alas gung liwang-liwung. Jadi bisa dibilang saya bukan hanya sbg cah ndeso tapi malah
sbg cah tengah alas.. adoh ratu, cedak watu (lan kayu)..
Bapak pegawai negeri rendahan di kantor kecamatan,
ibu jualan pakaian (setiap 3 atau 4 hari sekali kulakan di
pasar Klewer Solo) dan jualannya di pasar desa tiap hari
pasaran Wage, Kliwon & Pahing.. yg hanya sampai jam
11 siang pasarnya sdh bubar.
Anak no 4 dari 9 bersaudara, 7 perempuan 2 laki²,
terlahir dgn nama RSH Hadi Putranto.
Tdk banyak orang yg tahu RSH itu singkatan apa. Sering
tak jawab, " RHS kan singkatan dari rahasia, jadi klo RSH
ya singkatan dari rasahia"..
Dan kadang² utk menyamarkan (biar gak di kepoin)
sering kali tak tulis Eresha, atau kadang R'EsHa.. rodo
keren ya.. hehehe. ☺️☺️
Dirumah akrab dipanggil "Endut" (krn waktu balita saya
"endut" & menggemaskan), tapi sejak klas 2 SMA,
teman² menjuluki saya "Gundul".. lho kok iso?..
Masa kecil - SD
Masa kecil terutama waktu SD, tempat bermain favorit saya di sungai. Bersama teman² SD setelah pulang
dari sekolah, mencari batang pohon pisang (gedebog/debog gedang), baju & celana diikat di ujung kayu trus
ujung satunya ditancepke di batang pohon pisang tsb spt bendera. Lalu dgn telanjang blejet sambil memeluk
debog "ngintir" mengikuti aliran sungai sampai kira² 2-3 kilometer. Begitu pulang sampai rumah sdh sore.
Apa gak dimarahi main di sungai? Jawabnya: Main di sungainya klo pas ibu kulakan di Solo.. hihihi
Pernah suatu hari, waktu pulang dari main di sungai, ternyata ibu gak jadi kulakan.. alhasil paha gosong²
akibat diciweli ibu. Gak cukup sampai disitu, hukuman berikutnya dikunci dikamar, tapi malah tak tinggal
tidur.. hihihi nakal yaa !!
Belakangan waktu sdh kuliah baru tahu, ternyata ibu sangat kuatir terjadi apa² thd anak laki² yg pada waktu
itu satu²nya (adik laki² saya no 8 lahir ketika saya klas 1 SMP).
I-Panji Story 175 Alumni Smaga-81 SOLO
Karena tempat tinggal saya dekat stasiun Gundih maka tempat bermain favorit saya yg lain adalah di
stasiun.. ikut langsir sepur, kemudian mlindesne paku utk dijadikan pisau kecil.. bahkan waktu habis sunat
paling suka "numpangke" bagian yg mlembung bekas disunat diatas rel.. anget² piye gitu.. yg jelas
alhamdulillah cepet kempes dan sembuh.. hihihi
Di bangku SD meskipun gak pernah belajar tetapi saya selalu juara, krn muridnya cuma sedikit.. (klo gak
salah) 24 orang saja..
Masa SMP
Krn melihat pendidikan di desa tdk maju, maka orang tua (terutama ibu yg lbh berwawasan luas drpd bapak)
menghendaki saya sekolah di Solo. Tadinya mau didaftarkan di SMP Bintang Laut, yg konon katanya
sekolahnya "bagus", tetapi krn terlambat mendaftar akhirnya oleh kakak perempuan saya (yg waktu itu baru
lulus SMEA Negeri 3 di daerah Mesen - Jebres), saya didaftarkan di SMP Negeri 3, alhamdulillah diterima.
Masuk SMP berarti masih umur 12 tahun, harus nge-kost sendiri. Waktu nge-kost paling senang masak nasi
tim, krn klo ngliwet sering kali gosong (maklum jaman dulu blm ada magic jar), lauknya saja yg beli.
Paling sedih klo pas sakit.. jauh dari orang tua & saudara, dlm kondisi pusing & demam hrs ke warung sendiri
utk beli obat.. paling banter hanya bisa minta tolong utk dikeroki sama ibu kost..
Waktu SMP saya cenderung minder krn disamping merasa sebagai cah tengah alas juga merasa mempunyai
postur tubuh kecil, sehingga saya lebih suka menjadi anak yang pendiam. Oleh krnnya tidak banyak teman
yg kenal saya, hanya beberapa teman yg pernah sekelas saja yg mengenal saya..
Adalah suatu kenyataan, ternyata sekolah di kota itu persaingannya berat, tadinya waktu di SD bersaing dgn
23 orang teman.. lha sekarang saingannya buanyak buanget.. seangkatan saja ada klas 1A s/d 1H (waktu
SMP saya di klas 1F, 2G & 3A). Jadi ya gitu deh.. tapi meskipun begitu prestasi saya gak jelek² amat alias
selalu pas.. termasuk pas setiap kenaikan kelas pas bisa katut naik kelas terus.. hehehe
Kegiatan yg sering saya lakukan klo pas libur di hari Minggu, ketika tidak pulang ke desa adalah bersepeda
main ke mBeton (sobo kali menèh ).. yaitu tempat tambangan (penyeberangan) sungai Bengawan
Solo, yg "dimiliki" oleh bapaknya teman saya SMP. Ikut bolak-balik di perahunya menyeberangkan orang &
kendaraan.. dan yg paling menyenangkan adalah ketika ditraktir bapaknya utk makan siang.. senenge poll,
entuk gratisan.. maklum anak kost..
Masa SMA
Sama seperti ketika di SMP, di SMA Negeri 3 pun tdk banyak teman yg kenal saya. Hanya teman yg pernah
se kelas di klas 1-1 dan B2 saja yg kenal saya.. juga beberapa teman kelas lain yg se-hobby.. naik gunung..!
Istilah maduranya back to basic, dasare wong alas, senengane ya sobo alas (lan gunung)..
Hampir 2 minggu sekali saya mendaki gn Lawu. Saking seringnya mendaki gn Lawu, ketika mendaki seringkali
cuma berbekal velples isi air minum saja.. gak tahu ya, rasanya kok selalu tertantang pingin naik gunung
terus, padahal sampai di puncak ya turun lagi, tapi rasanya puas banget..!!
Saking senenge munggah gunung, sampai pernah suatu hari, ketika masih di kaki gunung Lawu sehabis
mendaki.. saya dijemput teman (jaman semono durung ono hp), dikasih tahu dicari oleh pak guru
I-Panji Story 176 Alumni Smaga-81 SOLO
photographi (lali jenenge) disuruh segera ke sekolah hari itu juga utk mengikuti ujian akhir tulis/praktek
photographi..
alhamdulillah, sore hari setibanya di sekolah masih ditunggu dan bisa mengikuti ujian photographi..
Pengalaman lain adalah ketika menyusul naik gn Lawu utk memberi pertolongan teman² B2 (yg tdk pernah
naik gunung) yg kelelahan dan kehabisan bekal & air minum di atas gn Lawu. Berdua dengan teman B2 yg
sdh biasa naik gunung bareng, kami mendaki sambil setengah berlari. Kami susul mereka sambil masing²
membawa 2 jerrican tanggung isi air minum. Selepas maghrib saya temukan mereka sedang berjalan muter²
(seperti orang bingung) di Cokrosuryo (dibawah puncak gn Lawu). Kondisi teman² waktu itu terlihat sangat
kecapaian.. alhamdulillah semuanya selamat, sampai dibawah sekitar jam 10-11 malam..
Eh iya.. ketika kelas 2, saya mengalami kecelakaan lalulintas (tunggal). Saat berkendara ketika hujan deras,
tiba² jas hujan lowo yg saya kenakan tersingkap, sambil tetap berkendara saya membetulkan letaknya.. gak
tahunya tepat didepan saya ada tong ditengah perempatan (yg tdk terlihat saking derasnya hujan) yg tdk
dapat saya hindari lagi.. mak bruuzzz saya terkapar ditengah perempatan, tdk ada orang yg menolong krn
hujan deras. Ketika siuman krn terkena air hujan, saya bangun sendiri.. motor tak stater, terus menuju klinik
utk berobat. Krn waktu itu blm usum helm, maka akibat kecelakaan itu gigi depan saya patah, bibir atas
robek, lidah berlubang & kepala bocor. Kemudian utk memudahkan pengobatan bagian kepala yg luka,
maka saya harus digunduli. Nah.. ketika sdh sembuh, saya masuk sekolah lagi masih dlm keadaan gundul.
Maka mulai saat itu teman² memanggil saya Gundul..
Bagaimana prestasi saya di sekolah? Tidak ada. Nilai sekolah juga pas²an, tdk ada satupun nilai raport yg
bagus.. wis pokoke elek lah..
Malah pernah ketika pulang ke desa sempat di "sidang" oleh bapak-ibu & kakak².. klo sampai gak bisa masuk
perguruan tinggi negeri, tdk akan dibiayai lagi.. ☹️☹️
Dengan susah payah akhirnya saya berusaha mengejar ketinggalan.. dan alhamdulillah ketika mendaftar di
perguruan tinggi diterima di Perintis 1 (Teknik Mesin UGM) dan Perintis 3 (Pertanian UNS), yang akhirnya
saya memilih di UGM.. pinter? koyoke ora, tapi ketoke mung lagi bejo.. alhamdulillah..
Masa Kuliah
Pada waktu test Perintis 1 di Jogja saya menginap di Bausasran, di rumah saudaranya teman sekelas B2.
Sempat down ketika ditanya "daftar dimana dik", yg saya jawab "teknik mesin mas". Ya wis siap² jadi
mahasiswa abadi wae, soale angel luluse krn dosene killer².. mak deg!!.. waduhh blaen iki..!!
Wis embuhlah, wong kadung daftar lha piye meneh, lakoni wae. Nah.. buat ng-ayem²ke ati, dlm hati sy
berteriak "ayo Hadi semangat.. kamu bisa.. kamu pasti bisa lulus cepat.."
Setelah diterima dan mulai kuliah ternyata dari 38 orang mhs baru Teknik Mesin, selain saya ada 1 teman
SMP dan 2 teman SMA (yg 1 teman dari B3 yg 1 lagi teman sekelas B2) yg diterima di Teknik Mesin.
Dan ternyata memang benar kata saudaranya teman, susah (luluse) kuliah di Teknik Mesin UGM. Ada 1
dosen killer yg mengajar mata kuliah wajib "Motor Listrik Dalam Industri". Nilainya susah banget.. saya hrs 4
kali mengulang baru lulus (untungnya tiap semester ada), itupun dengan nilai "d" (kecil) bukan "D" (besar).
Gak perduli dapat nilai "d" yg penting mata kuliah "momok" itu lulus langsung ngejar skripsi.. alhamdulillah
dalam waktu 6½ tahun atau tepatnya di akhir tahun 1987 lulus ujian pendadaran sarjana S1 dan diwisuda di
awal tahun 1988 dengan gelar "Insinyur"..
I-Panji Story 177 Alumni Smaga-81 SOLO
Masa Bekerja s/d sekarang
Perjalanan karir saya biasa² saja. Pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta yg tdk terlalu besar.
Pertama kali bekerja di perusahaan karoserie di Magelang, setahun kemudian pindah ke pabrik pegas mobil
di Gresik Jawa Timur, setahun kemudian di proyek pembangunan pabrik semen, lalu selama 4 th kerja di
Jakarta ikut teman (yg saat ini menjadi salah satu menko),
Pengalaman paling berkesan yg tdk akan
pernah terlupakan di masa kerja saya adalah
ketika bekerja ikut teman tsb, yaitu ketika
pertama kali saya mendapat kesempatan naik
pesawat terbang.. ngedab-edapi bianget,
pokoke sensasional poll lah, ing atase bocah
soko tengah alas kok ya iso mabur numpak
montor mabur.. hihihi
Ketika itu oleh teman saya, saya diberi tugas
utk mendampingi customer dari Phillipine,
melakukan kunjungan & survey di Semen
Padang. Bahkan tidak tanggung², krn
mendampingi customer naiknya di business
class pesawat Garuda.. hehehe, goro² ngeterke
pelanggan dadi melu mulyo..
Terakhir pada th 1996, setelah merasa cukup bekerja ikut teman (dan istri minta balik ke daerah krn tdk
tahan dgn kehidupan di Jkt), saya memutuskan utk pindah kerja di salah satu anak perusahaan BUMN semen
yg bergerak di bidang transportasi & distribusi di Gresik.
Di awal th 2011 s/d akhir 2015 (selama 5 th) pernah ditugasi sbg "dir-jen" (direktur ijen) "cucu" perusahaan
semen yg bergerak di bidang Logistik & Forwarding, dan di akhir menjelang pensiun, yaitu awal th 2016
sampai pensiun per 1 Okt 2018, ditugasi utk mengelola koperasi perusahaan yg cukup besar dgn anggota
sekitar 2.000 orang.
Setelah pensiun, alhamdulillah ternyata teman yg dulu bekerjasama dlm bisnis (pada waktu saya bertugas
sbg "dir-jen" di cucu perusahaan) minta dibantu mengelola perusahaannya, dengan masa kerja sak bosene
saya..
Perusahaan ini bergerak di bidang yg sama dgn perusahaan yg dulu saya kelola, yaitu bidang Logistik &
Forwarding, dgn spesialisasi di Heavy Lift (over weight & over dimension) & Dangerous Cargo. Perusahaan
ini pernah mendapat order pengiriman bom-nya pesawat sukhoi dari Bulgaria (Eropa Timur) untuk dibawa
menuju pangkalan TNI AU Iswahyudi - Madiun, melalui laut & darat.
Atas tawaran kerja utk membantu mengelola perusahaan teman saya tsb, tanpa berpikir panjang langsung
saya terima.. mbangane pensiun ora lahpo², iyo to.. lumayan iso nggo bayar rekening² bulanan lan liyo-
liyane.. hehehe
Dan utk kegiatan lainnya selain ngantor (sakpenake) & menyalurkan hobby mengayunkan stick golf,
alhamdulillah saat ini saya juga msh aktif di organisasi (non profit) sbg:
I-Panji Story 178 Alumni Smaga-81 SOLO
- Sekretaris GDM SDM (Grup Diskusi Manajemen Sumber Daya Manusia) Jawa Timur, yg sering berinteraksi
dgn Kemnaker,
- Sekretaris GNIK (Gerakan Nasional Indonesia Kompeten) Jatim,
- Sekretaris ILFA (Indonesian Logistics and Forwarder Association) atau ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarding
Indonesia) kab. Gresik, dan
- Bendahara RW.008 desa Randuagung, kec. Kebomas, kab. Gresik.
Saya menikah bulan Oktober 1991 (agak telat banget, njur gelo ketika tahu enaknya.. ngertiyo aku nikah
biyen² ), dikaruniai 2 anak laki² (alhamdulillah keduanya sdh lulus S1) dan 1 anak perempuan
(semester 7 di UPN Surabaya), serta dikaruniai 1 menantu perempuan.
Saat ini saya sedang menunggu kehadiran cucu pertama yg insyaaAllah 7 bulan lagi akan lahir.. hehehe, isih
suweee..
Demikian sekilas sebagian perjalanan hidup saya, semoga bermanfaat.
Gresik, 27 Nopember 2020.
Eresha Hadi (Gundul) Putranto (B2)
I-Panji Story 179 Alumni Smaga-81 SOLO
56. RINI SAROJA
Assalamuallaikum wrwb.
Selamat pagiii sahabat2 Panji semua...salam sehat slalu..
perkenalkan sy Rini Sarodjo,
mempunyai 3 putra/putri, Alhamdullilah yg 2 sudah nikah,sudah bekerja, cucu 2 org. tinggal si bungsu kuliah
di Universitas Telkom Bandung.
SABAR, BERSYUKUR & MEMBERI MANFAAT UNT ORG LAIN, BIKIN HATI BAHAGIA.
Sy mau bercerita sekelumit perjalanan sy setelah lulus SMA.
Setelah lulus dari SMA, Sy ke Jogja ikut bimbingan belajar (bimbel) bersama teman SMA antara lain, alm Edi
sukes, mang Ajat & Veronika esti. sy & Esti numpang di rumah sodara Esti di Baciro.
Singkat cerita, pagi itu kita berangkat masing2 menuju tempat tes UGM, krn kita dpt tempat tes berbeda
beda.., sy berangkat
bersama dik Ning (sodara Esti naik motor), ditengah perjalanan
di depan gedung Purna budaya sy & dik Ning mengalami kecelakaan
karambol.., saking banyaknya sepeda motor yg mau berangkat tes, sampai dik Ning tdk melihat ada pathok
besi ditengah jln (pemisah jln).tidak keliatan langsung ditabrak.jatuhlah sy&dik Ning, sepeda motor
dibelakang belakangnya gak bisa menghindar..akhirnya pd nabrak,jatuh bertumpuk ada bbrp sepeda motor.
posisi sy & dik Ning bawah sendiri.. , akhirnya kami semua dibawa ke RS Panti Rapih.
mendapatkan pengobatan, sorenya boleh pulang( obat jln) sy pulangnya langsung ke tempat sodara yg di
Mbarek/jln kaliurang.
Gagallah sy unt ikut tes Psikologi UGM, pupuslah harapan sy.. akhirnya sy daftar ISI & AMP( akademi
management perusahaan). Alhamdullilah diterima semua, yg sy ambil ISI.(dr kecil memang sy suka dlm
bidang seni). trus ibu ngendiko gak ada salahnya AMP juga diambil.akhirnya sy ambil juga.
jadi tahun pertama sy jalani itu kuliah di2 tempat,( semester
1masih banyak mata kuliah yg diambil dlm wkt bersamaan
dikampus yg berbeda).hrs pandai2 ngatur wkt. sy kluar kos jam
7 pagi kadang kurang..,pulang sampai kos lagi jam 8 - 9mlm.
waktu berjalan terus semester1..2 sy lalui.(salah satu dosen di
AMP wkt itu pak Perry warjio/Gubernur BI skrg). krn jadwal
kuliah di AMP dan ISI benturan terus, banyak jam kuliah yg
sama.pasti ada yg dikorbankan salah satu. AMP keteteran, nilai
banyak yg mengulang. akhirnya AMP sy lepas.sy hanya
bertahan 2 semester/1th di AMP. akhirnya sy fokus ke ISI.
Waktu kuliah di ISI..sy diminta salah satu dosen ISI (Bu Hermin)
unt gabung di Sasono budoyo (pariwisata budaya), jadi kuliah
sambil bekerja. dlm 1 minggu sy dpt jadwal 2 - 3hr, mulai jam 7
mlm sampai jam 9mlm unt bekso/nari mengisi di hotel
berbintang, hotel Ambarukmo,Garuda, Sahid,Tom silver,
Kraton Pakualaman dll.
di Jogja itu semua hotel berbintang & kraton pasti ada suguhan
tarian unt menjamu turis asing.(budaya indonesia).
Setelah lulus ISI sy kerja di P3G bidang pariwisata di Jogja.
I-Panji Story 180 Alumni Smaga-81 SOLO
Tp tdk lama hanya 2 th .krn hrs fokus mengurus anak yg masih bayi.krn suami hrs berangkat ke luar jawa dpt
proyek di NTT ( suami bekerja sebagai konsultan proyek ). krn suami di NTT sy diminta ibu unt kembali ke
Kartasura.sy bbrp th ikut di rmh ibu,
dng berjalannya wkt anak masuk sekolah TK.sy masukkanlah anak sy di TK yg bagus di Kartasura saat itu, TK
Widya Wacana. kebetulan wkt itu TK Wacana membutuhkan guru ektrakulikuler
akhirnya sy melamar & diterima sebagai guru ektrakulikuler. suatu hari wkt Widya wacana mau mengadakan
acara wisuda di Sriwedari, ibu kepsek meminta sy unt bikin acara ngisi wisuda,menampilkan karya tari yg sdh
sy ajarkan ke anak2. krn memang melatih anak2 TK itu hrs extra sabar..telaten, sy ajarnya gerakan anak2 yg
simpel, mudah dimengerti/dihafal tdk berdasarkan pakem. jadi dikreasi sendiri.Alhamdullilah mendapat
sambutan yg hangat dr guru & ortu siswa sy dpt penghargaan dr Widya wacana , disuruh naik panggung,
diberi tanda mata,sampai meneteskan air mata bahagya.
Setelah anak sy lulus TK 2 th (TK A&B), Sy mengundurkan diri mengajar di Widyawacana.
Anak sy lanjut sekolah di SD 16 Mangkubumen Solo.
singkat cerita oktober th 2000 sy & kelg pindah ke Bandung.di Bdng sy fokus unt kelg sebagai IRT.
Di th 2002 sy masuk di PAUD Melati, mengabdikan
diri sy unt mengajar anak2 kurang beruntung/kurang
mampu unt bisa bersekolah dng gratis.(yg kita terima
itu bener2 org diluar komplek, anak tukang becak,
anak kuli bangunan dll.anak org dlm komplek tdk
diterima, diprioritaskan org luar komplek yg kurang
mampu. itu aja yg daftar banyak).
anak2 nya sekolah pd nyeker, bajunya
kuleuheu/kucel,ada yg umbelen, Yach..namanya
anak2 kecil yg tinggal dikampung.
awalnya sy agak kesulitan komunikasi dng anak didik,
krn mereka komunikasinya pake bhs Sunda kampung,
sedangkan sy dr Solo. lama kelamaan sy
ngerti/faham.Dan lama kelamaan akhirnya anak2
faham juga bhs indonesia yg baik.krn para tutor
mengajarnya pake bhs indonesia..
ada salah satu pengalaman..yg gak bisa sy lupakan yaitu..ada salah satu anak didik yg autis, anak tsb (Lutfi
namanya) tdk mau diajar sama guru lain. selalu nempel ke sy, dudukpun hanya mau duduk didepan sy. dng
telaten & sabar sy mengajari Lutfi secara pelan2, disesuaikan dng mood Lutfi, guru hrs mengerti apa yg
dimaksud..dimaui Lutfi. hrs bisa mengambil hatinya. Lutfi di PAUD Melati 2 th, alhamdullilah
perkembangannya bagus. kata mamanya skrg di SD jadi anak yg berprestasi.(anak autis itu pd dasarnya
cerdas).
Di kegiatan RW..RT..komplek, sy bikin perpustakaan gratis.Pingin menumbuhkan anak2 di komplek unt
gemar membaca..dr pd main yg kurang manfaat.(konsepnya dr kita unt kita, siapapun boleh setor buku &
baca bebas unt siapapun, tp tetep tercatat ).
ibu Lurah, RW..RT..komplek, sy ajari merajut ,bikin tas rajutan.wkt itu ada acara kunjungan di Adipura..yg
dihadiri bpk Gubernur Jabar.
tas2 hasil rajutan sy & ibu2 komplek..sy pamerkan di Stan,
bpk gubernur melihat di stan sy..trus berbincang sedikit dng sy mengenai tas rajutan..
Alhamdullilah tas rajutan yg sy ajarkan ke ibu2 komplek skrg bisa unt tambahan penghasilan ibu2.
I-Panji Story 181 Alumni Smaga-81 SOLO
Tp sdh 1th lebih sy berhenti mengajar di paud melati, kegiatan di rw..rt berhenti semua.
Skrg sy fokus ke sibungsu yg masih kuliah di Telkom semester 3 teknik Fisika.mohon doanya dr teman2
Panji.. semoga sy bisa menghantarkan anak sy menyelesaikan kuliah unt masa depannya. Aamiin.
Sy kira itu yg bisa sy ceritakan.tiada kata lain selain bersyukur kpd Allah..
Teman2 sy di Panji hebat2 semua, karirnya bagus2, kalo cerita perjalanan sy setelah lulus SMA hanya seperti
itu.tdk ada yg istimewa..
mohon maaf..jika ada salah yg gak sy sengaja/ketahui.
Salam unt kelg Panji
Rini Sarodja A3
I-Panji Story 182 Alumni Smaga-81 SOLO
57. Hanny susilo wardani
Mungkin banyak yang tidak mengenal saya, dulu bahkan mungkin sekarang, hanya teman-teman sekelas
ataupun teman SMP 3 saja yang mengenal saya, ke dua orang tua saya adalah guru di SMP 3. Dan saya anak
bungsu dari 2 bersaudara. Almarhum kakak laki-laki saya sekolah di SMA 5.
Kisah perjalanan hidup sewaktu SMA (saya kelas B2)
adalah kisah yang sangat luar biasa, tak terlupakan
dan sangat beruntung mempunyai teman-teman yang
sangat baik, mempunyai visi dan misi yang sama
untuk menggapai cita – cita, walaupun banyak
keseruan terjadi, tidak hanya iseng dan jahil, tetapi
juga ngerjain pr, belajar dijalani bareng-bareng,
berangkat sekolah selalu nyamperin ke kepunton,
kost nya Nieng, nunggu Dewi datang dari Widuran,
baru jalan ke Warungmiri/Kerkof. Itu rute yang tiap
hari dijalani. Pada waktu kelas 3 membuat kelompok
belajar bersama, dengan tujuan yang sangat jelas,
masih terbayang jelas, bersama Dewi, Nieng, Bari,
Bayu, juga teman-teman yang lain, berkelompok
belajar bareng, les bareng, bahkan sempatnumpang
di Iromejan Yogya hampir 1 bulan, di keluarganya
Bari, untuk Bimbingan Test. Puji Tuhan perjuangan
tidak sia-sia, saya di terima di FK UGM. Dan teman-
teman yang lain juga diterima di PTN. Persahabatan
itu terjalin sampai saat ini. Hal – hal yang positif akan
selalu mendatangkan pengaruh positif juga.
Perjalanan hidup saya yang sesungguhnya terjadi setelah saya lulus menjadi dokter. Saya touring dari klinik
ke klinik selama 1 tahun sambil menunggu penempatan dari Kemenkes. Kemudian saya memutuskan
melamar di RSAL dr. Mintohardjo di daerah Jakarta Pusat sebagai tenaga sukareladan pada Januari 1992
saya diangkat sebagai PNS.
Saya menemukan jodoh di RS tersebut, bukan seorang dokter,dia tukang insinyur ponakan dari seorang
teman, kerjanya di Surabaya, jadi kami berkenalan melalui surat menyurat, masih teringat surat pertama
yang saya terima adalah bertepatan dengan hari valentine, yaitu pada tanggal 14 Februari 1992. Dan saya
akhirnya menikah dengan suami saya setelah bertemu bertatap muka hanya selama 2 minggu saja. Menikah
karna permintaan Bapak saya untuk membahagiakan ibu di saat-saat terakhirnya. Menikah hanya dengan
modal saya tidak punya rasa benci, rasa tidak suka dan niat untuk membahagiakan ibu, selebihnya nanti
Tuhan yang atur agar saya bisa mengasihi Dia. Memang saya merasa sudah mengenal calon suami saya
sudah lama (de javu?), jauh sebelum bertemu langsung. Saya menikah pada awal April 1992 di Kamar
Jenasah RSCM, di depan jenasah ibu saya. Rasanya seperti mimpi, ditengah kedukaan saya mendapatkan
anugerah seorang suami yang belum saya kenal dengan baik. Puji Tuhan bahtera rumah tangga sudah kami
jalani selama 28 tahun, dan kami dikarunia 2 anak lelaki yang sudah lulus kuliah.
I-Panji Story 183 Alumni Smaga-81 SOLO
Perjalanan karir saya biasa-biasa saja, saya hanya sorang dokter umum fungsional, sebelum pandemi Covid
19 tugas saya sehari-hari berhubungan dengan pelayanan medis, menjadi dokter ruangan. Pernah mencoba
ikut test PPDS di FKUI tapi kurang beruntung, karna kuotanya sangat sedikit dibandingkan dengan
peminatnya. Tapi itu tidak mematahkan semangat saya.
Dalam kehidupan saya sangat percaya dengan hukum
tabur tuai, apa yang kita tabur itulah yang kita tuai , selalu
berusaha berbuat baik setiap saat, membantu apa yang
bisa dibantu dan saya selalu berprinsip apa yang bisa
dipermudah, kenapa harus dipersulit, asalkan itu masih
dalam koridornya (legal), prinsip ini saya terapkan pada
tugas-tugas yang diberikan kepada saya diluar pelayanan
medis dan itu ternyata sangat mempengaruhi perjalanan
kehidupan saya,
banyak peristiwa yang tidak terduga yang terjadi dalam
perjalanan karir saya. Salah satunya adalah sesuatu yang
adalah berkah kepangkatan saya, saya mengurusnya
mengalir saja, tidak minta tolong siapa-siapa, saya
berpikir naik pangkat syukur, nggak juga gapapa, karena
memang sudah mentok, secara manusia sepertinya
imposible, ternyata ada tangan Tuhan yang bergerak di
belakang layar, sehingga saya mendapatkan keberkahan,
saya menjadi satu-satunya PNS di AL (yang saya dengar
juga di Kemhan) yang bisa masuk ke jenjang utama pada
waktu itu (tahun 2018) Sehingga saya pensiun nanti di
usia 65 tahun. Dan ternyata itu membuka jalan bagi
teman – teman yang lain, yang saat ini masih berproses.
Semoga mereka juga berhasil. Semoga juga selalu dalam
Pada tahun 2014, saya dipercaya sebagai
penanggungjawab KP Benhil, hal ini membuat saya ingin
meng up grade diri dengan bekal ilmu manajemen,
supaya bisa menjalankan tugas dengan amanah, di usia
54 tahun dengan penuh semangat saya mencoba meraih
peruntungan untuk mendaftar kuliah S2 di FKM UI prodi
Kajian Administrasi Rumah Sakit (KARS) dan diterima
melalui ujian SIMAK UI. Kuliah setiap Jumat dan Sabtu,
sementara hari Senin – Kamis saya tetap bekerja. keadaan
sehat dan dapat menjalankan tugas dengan baik.
Ngampus bersama anak – anak muda ternyata punya
tantangan tersendiri, tidak membuat saya minder dengan
kecanggihan yang mereka punya, tetapi malah memacu
saya untuk bersaing secara positip dalam menyelesaikan
kuliah.Puji Tuhan saya bisa menyelesaikan kuliah dalam
waktu 3 semester dan dapat bonus cum laude. Selama 1,5
tahun merasakan menjadi anak kereta, bekasi –
manggarai – depok. Merasakan berdesak-desakan juga.
I-Panji Story 184 Alumni Smaga-81 SOLO
Perjuangan yang tidak mudah. Apa yang saya lakukan sebenarnya juga untuk memotivasi anak-anak saya,
bahwa belajar itu tidak memandang usia, dan juga harus prihatin dan semangat dalam menggapai impian.
Setelah lulus sempat melaksanakan double job, sore hari membantu manajemen di RS swasta, tetapi hanya
bertahan beberapa bulan saja, karna beberapa pertimbangan saya mengundurkan diri. Mengapa ? Setiap
pagi saya bangun jam 3 pagi, jam 04.30 berangkat kerja, pulang kerja jam 7 malam, di usia sekarang ini jadi
lelah lahir batin. Harta mudah dicari, tetapi kesehatan dan quaity time bersama keluarga tidak saya
dapatkan. Sakmadyo saja, rejeki ga akan tertukar katanya, yang penting sehat.
Awal pandemi di bulan Maret, RS saya menjadi salah satu RS rujukan Covid 19. Banyak perubahan
diberlakukan, RS hanya menerima pasien Covid saja, sebagai manusia biasa , sayajuga merasa takut, merasa
kawatir, apalagi usia sudah lebih dari setengah abad, punya komorbid hipertensi, tapi karna tugas dan
tanggungjawab, harus bersedia mengemban amanah berjaga di posko Covid 19, dimana pada saat itu
masyarakat juga masih panik, kami menjalankan peran di garda depan mengedukasi masyarakat yang
datang, berbekal tekad, selalu melaksanakan 3 M dan doa. Beberapa teman, yang gugur sebagai pejuang
covid sangat mempengaruhi mental kami nakes, bekerja harus se profesional mungkin, dengan tetap
menjaga supaya tidak terpapar, ditambah rasa kawatir, sangat susah dijalankan. Bersyukur saat ini fasilitas
sudah semakin membaik, secara periodik kami bisa memeriksakan rapid test ataupun swab. Semoga
pandemi ini segera berlalu. Dan saat ini , dengan semakin membaiknya manajemen penatalaksanaan Covid
di RS, saya sudah tidak dilibatkan di posko lagi dan RS sudah menerima pasien non covid juga. Saat ini saya
bertugas sebagai case manager, suatu pekerjaan yang membutuhkan energi, membutuhkan kesabaran,
karena menghadapi berbagai karakter manusia. Sesekali saya masih praktek di Klinik Pratama.
Itulah sepenggal perjalanan hidup saya, usia boleh tambah tua, tetapi semangat harus selalu muda. Saya
tidak menjalankan praktek sore, waktu luang saya pergunakan untuk kegiatan sosial keagamaan, melayani
sesama manusia. Kadang juga terlibat dalam kegiatan di lingkungan RW, membantu posbindu, lansia, dll.
Tetapi di era pandemi ini hampir seluruh kegiatan berhenti. Semoga sisa hidup yang saya punya, bisa saya
pakai untuk mengamalkan kebaikan – kebaikan. Obsesi saya untuk melanjutkan sekolah lagi ke jenjang S3,
kandas karna tidak direstui suami, memang bijak juga suami, selain karena faktor umur, supaya saya lebih
fokus kepada pelayanan terhadap Tuhan dan terhadap sesama, selain tentunya fokus kepada keluarga.
Bekasi, Desember 2020
Hanny Susilo Wardani
I-Panji Story 185 Alumni Smaga-81 SOLO
58. TITIK SUTARTINI
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh...sederek ipanji ku yg tercinta ...
Menyimak dan membaca perjalanan hidup teman2 di ipanji sungguh luar biasa... bagus dan sukses
semua,,aamiin. Untuk memenuhi dawuhnya. pak ketum, juga ketua kelas wktu di B-1 dulu ...saya akan
mencoba menulis sebisa sy .
Sy anak no.2 dari 5 bersodara,,,, cewek semua,,, tapi adikku yg no 4 sdh disuwun dulu sama yg Kagungan.
Bapak seorg PNS dan ibu dulu guru TK. Masa kecilku di ambarawa ,, sampai SMP,, kota kecil yg dingin dan
sejuk pada waktu itu ya,, karena bapak bekerja di PJKA yg skrg menjadi PT.KAI. sebagai kepala setasiun.
Kemudian th 1974 dipindah ke solo..
Singkat cerita,, pindah ke solo sy diterima di SMP Kanisius 1 yg dekat SDMarsudirini. Cita2 ku, pingin masuk
ke SMA 3.
Pas mendaftar ke warung miri,, sy berangkat
subuh sana bapak ternyata sdh penuh org dan
pengantar tdk boleh ikut antri,, berkat doa
ortu,, tiba2 sy sdh berdiri didepan tempat
pendaftaran ,,,, bgmana masuknya sy
juga tdk tahu. Mungkin wktu itu sy kecil badan
nya,,ke dorong dr kiri kanan muka belakang,,,
sy merasa ada yg ngangkat,, Alhamdulillah
langsung didepan tempat pendaftaran ,,
dan Alhamdulillah sy diterima di SMA 3.
Setelah lulus SMA sy daftar ke UNS krn keluar
kota tdk dpt ijin dari ortu,, sy manut ,, tapi
mungkin belum rejeki utk ku,, sy tdk diterima
dan sy melanjutkan ke UTP tapi ambil
ekonomi.. di cengklik..kalau Usmandoyo ke
pertanian.. kampus nya di bale kambang ,, jdi
engga pernah ketemu.
Setelah lulus D3..engga lama temanku ada yg nawarin bekerja di Djajanti Group di jkt yg waktu itu kantor
nya di tanah abang bukit.. di bagian accounting... dan kebetulan yg dicari lulusan D3.
Wah kebetulan dlm hatiku,, pas dgn jurusanku yg di ekonomi..dan ternyata diterima ,, Alhamdulillah.
Tapi setelah wawancara,, sy akan ditempatkan di ambon - maluku. Sy matur bapak ibu,, semua nya atas ijin
Alloh ,, Alhamdulillah lagi bapak juga mengijinkan,, kalau ibu ngikut aja apa ngendikane bapak. Waktu itu
bapak ngendiko,, dimana kamu berpijak,, bumi Kuwi sing kagungan Alloh SWT,, dadi bapak ming nitip
pesen,, tanggung jawablah karo awakmu dewe,, Dgn berbekal restu ortu sy berangkat ke ambon thn 1986.
Ceritane wong ndeso numpak montor muluk utk yg pertama kali . Sekedar mengingatkan aja,, khususnya
utk teman2 B1...masih ingat dgn almh Istinganah ya? Sy bareng kakaknya Isti wktu berangkat ke ambon. Sy
lewat surabaya,, dr surabaya- ambon penerbangan ditempuh +- 3 jam, transit sebentar di ujung pandang, yg
skrg berubah jadi Makasar. Sy minta penerbangan yg pagi, biar bisa melihat pemandangan kepulauan
I-Panji Story 186 Alumni Smaga-81 SOLO
maluku. Sebelum sampai ke ambon..kita mengelilingi lautan dulu,, dan pesawat itu terasa miring,, wktu itu
melihat kebawah,, hanya lautan dan lautan,, sy ya miris juga,, dlm hati piye nek montore mabur trs
nyemplung laut,,, mungkin kakaknya Isti lihat sy ketakutan,, dia ketawa ngakak,, sy nya manyun Krn malu
dan sy jujur ngaku aja,, memang sy takut..maklum baru pertama naik pesawat dan medan nya begitu.
Singkat cerita,, sy lgs diterima kerja di bagian logging nya,, bukan di kantor pusatnya. Singkat cerita lagi
Alhamdulillah di logging nyaman,, banyak kenal dgn insinyur2 dari IPB UGM yg nengurusi HTI, kebetulan
lokasinya ada dipulau Seram tepatnya dikota waisarisa. Menuju kesana kita naik ferri, tongkang ( kapal
kayu)) atau speetboat,, tdk bisa naik kendaraan darat, krn nyebrang lautan. Kalau org yg di kantor dinas luar
pakai pesawat atau mobil,, kalau sy dinas luar nya semua kendaraan yg diatas air . Pengalaman yg tdk
pernah terlupakan selama di ambon waktu terhempas ombak yg setinggi rumah dan terhempas angin dan
badai diatas pesawat kecil ,, waktu itu sy naik Sempati/ merpati yg isinya cuma 21 org, 1 pilot, 1 co pilot, 1
teknisi nya..18 org penumpang termasuk sy. Ini perjalanan dari Tual ke ambon..kira2 memakan wktu 2
jam,,menjelang mau sampai ke ambon dan lautan itu sdh kelihatan,, tiba2 baling2 sebelah kanan mati pet,,
wis ora mutar maneh kang Ade ..dan ternyata ada 8 org penumpang anggota DPR .. marah2 ..
ngomel..campur aduk.. dan pesawat sdh engga beraturan..mbalik kiri kanan .. ternyata menghadapi badai yg
tiba2 datang.. tehnisi nya trs bilang.. kencangkan sabuk pengaman. Sy oasrahkan semuanya sana Alloh SWT..
mohon yg terbaik.. sebelah ku se org dokter,, cowok dr jkt yg baru selesai tugas di Tual,, mau pulang ke jkt,,
eee di pingsan..wadooh.. sy tdk bisa memejamkan mata.. sy trs melihat kedepan dan trs mendengarkan
baling2 sebelah kanan tetap mati, akhirnya semua org diam dan semua berdoa menurut keyakinan
masing2,, lhaa sebelahku itu engga eling2 trs merem dan tak pegang tangan nya adem njejeb..sy takut juga.
Akhirnya mas pilot itu luar biasa,, nenyelamatkan 21 org,, bgtu sdh diatas lautan,, semua org bilang
Alhamdulillah dan puji Tuhan,, kita bisa mendarat dan seperti dibanting dari atas,, tahu2 sdh ada di bandara
patimura ambon.. org2 yg pada pingsan termasuk bbrp anggota DPR kayak dibangunkan.. semua lemes,,
engga bisa jalan ,, krn kebawa pesawat yg oleng tdi.. dan Alhamdulillah selamat semua,, semua penumpang
salaman semua sama mas pilot atas kegigihan nya mekawan badai,, dan mas pilot menangis,, terharu juga
kang Ade waktu itu.
Beda pesawat beda dgn di hantam gelombang di laut.
Waktu itu sdh jam 1siang,,dan hrs berangkat ke pulau
seram,, krn ada pemberangkatan kapal yg mau export,,
rombongan kami pakai speetboat,, klau sdh siang biasa
nya ombak besar,, brner juga,, sdh setengah perjalanan ,,
ombak besar datang,, astaghfirullahaladzim,, betul2
mengerikan...semua sdh saling pegang tangan ,, trs
berdoa mohon keselamatan sama Alloh SWT,, nahkoda
sdh tegang,, krn bgtu besarnya ombak, rasanya speetboat
nya sdh kegulung ombak, krn yg sy lihat cuma air dan air.
Sekali lagi Alloh Maha Besar,, kita terhempas dan rasanya
terlempar oleh ombak,,, ternyata sdh tdk jauh dari
tempat yg akan kami tuju yaitu pulau seram...semua
penumpang lemes dan ada yg pingsan.. Alhamdulillah lagi
,, sy tetep kuat, tanpa mual,, berkah doa ortu ..setiap sy
mau keluar pulau sy selalu pamit lewat tlp,, doa ortu trs
dan trs tdk ada putusnya... Alhamdulillah Alloh selalu
melindungiku..aamiin ya Robb .
I-Panji Story 187 Alumni Smaga-81 SOLO
Singkat cerita,, sy di ambon smp thn 1993.. akhirnya sy dimutasi ke surabaya utk pegang accounting di
kantor baru yg letaknya di dukuh kupang..tapi sy cuma jalani 1 thn,, krn kalau sdh menjelang maghrib
tempat nya sepi dan angkutan umum sdh susah.. akhirnya sy resign. Thn 1994 sy minta ijin ke bandung,
kebetulan ada kakak dan adik yg bekerja disana. Sy ke jkt ...mencoba utk minta mutasi lagi, tapi tdk ada kursi
utk sy,, akhirnya sy mencoba ngelamar ke Gramedia,, kebetulan lagi utk lowongan accounting,, akhirnya sy
ikuti test nya smp tahap wawancara sy tdk diterima, krn mrk mencari yg S1. Kembali lagi blm milik. Ada yg
nawari ke travel Panen Tour n Travel,, Alhamdulillah sy diterima ,, sy mulai kerja dr thn 1994 - 1997,,
mungkin feeling ortu kali ya,, sy disuruh pulang ke solo dan sy langsung resign.. ternyata engga boleh keluar
krn blm ada yg menggantikan sy,, singkat cerita sy bisa meninggalkan jkt,, dan engga lama sy di solo, thn
1998 terjadilah huru hara yg menakutkan itu. Sy sempat engga mau kerja lagi, sy engga tega mau ninggalin
ortu. Tapi bgtu suasana aman,, sy ke bandung lgi dan bekerja di telkom Bandung sebagai tenaga lepas,,
lumayan juga sampai 2 thn. Setelah kontrak engga diperpanjang, sy pulang ke solo,, sebulan di solo, engga
lama sy diajak teman.. mencoba bekerja di asuransi.. dan ini tempat yg baru buat sy. Sy mencoba dan
ternyata bisa menjalankan,, tapi baru setahun sy bekerja disitu,,, sy hrs resign lagi,,krn bapak.minta sy
pulang dan ternyata atasan sy tahu. Sy hrs keluar dan segera pulang,, bgtu perintah atasanku.. katanya jgn
smp kamu menyesal seumur hidup. Sy bingung tapi tetap aku jalani, katanya...setelah urusan mu selesai
kamu boleh temui sy lagi. Akhirnya sy pulang,, dan bahagia bapak melihat sy pulang,, ternyata itu utk yg
terakhir kali aku melihat bapak sebahagia itu,, 3 bulan kemudian bapak tindak utk selamanya di th 2000,
sehari sebelum ultah ibu. Singkat cerita lagi setelah bpk engga ada,, ibu sy bawa ke bandung,, sy kerja lagi di
jkt,, smp thn 2005,, akhirnya sy menetap di Bandung bersama ibu dan kerja di bdng smp ibu tindak utk
selamanya kemarin thn 2019. Inilah ceritaku setelah lepas SMA ,,, owh ya,, ternyata setelah sy tahu, bahwa
dari SMP kanusius 1 yg keterima di SMA 3 hanya sy seorg,, lainnya bablas angine,,alias tdk diterima,, sy
bangga banget lho
Begitulah perjalanan ku ....Garing ya kang Ade ,, semoga sedulur panji ku kerso maos ... Alhamdulillah..
Maturnuwun kang Ade yg sdh kerso nenunggu tulisanku,, ipanji,,tetep sedulur sak lawase ,,, ..
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Titik Sutartini (B1)
I-Panji Story 188 Alumni Smaga-81 SOLO
59. Bambang wiraWAN
Ass wr wb..salam sejahtera;Om Suasti astu,Namo Budaya dan salam kebajikan....nyuwun sewu rencang2
warga I-panji...nggempil kamardikan panjenengan sedoyo....nyambung caritaning mas dr.Edi
Rahmatto...habis tamat SDN"Kandang Macan"SDN No.27 Kauman Solo tahun 1974....langsung mlebu SMPN
Obat Nyamuk..alias SMP Negeri 6 Widuran Solo..soale ongko 6 nya..muter2 koyok obat nyamuk...tahun
1977 lulus...terus bleng masuk SMAN Warung Miri alias SMAGA Solo...jurusan IPA...bersamaan dgn mas
Winarso(yg ahli fisika),mbak Endang(yg gandes luwes),mas Bambang Wahyu Nugroho(almarhum) putro
Sastrawan Jawi Bpk Ani Asmoro?.....dllnya..B2...lulus 1981...muter2 daftar UNS..bleng mlebu UNS
Universitas Negeri Sebelas Maret Solo....bareng2 mas Edi Rahmatto...masuk Fakultas Pertanian ...soale
cita2ne pengen dadi petani yg mau ikut transmigran dapat lahan 2 Ha gratis..eee...adu nasib ikut test
Sipenmaru...mlebu IPB...saat itu ..Simbah di tunggu2 konco yg wis daftar dhisik...koyoto..mas Winarso..mas
Bambang WN...Simbah soale nggak punya biaya utk kuliah di IPB...trus coba daftar ke STAN
Jkt...eeeee...ketompo...saiki dadi Akuntan...bukan petani...tugase malah ngitungi duwite wong
liyo...njlimet...lulus STAN..langsung dadi Oemar Bakri..alias PNS dimulai dari gol.II.a di DJPKN(Direktorat
Jenderal Pengawasan Keuangan Negara)..Depkeu RI...tahun 1983...DJPKN berubah menjadi BPKP Jkt..tahun
1984..
Simbah mulai dadi..Turis Lokal...tugas di Denpasar
Bali nganti 1998...ngiras ngiras golek jodo..ee..nggak
jauh..entuk konco dewe alumni STAN 81...mbak
Wati..putri Sompok Semarang(nganti saiki sih runtang
runtung)...wis 32 tahun dilakoni urip bareng.....awet
tenannnnn.....ki..ki..14 tahun dadi Auditor di BPKP
Bali...krasan..buuanyak pemandangan
indah..terutama di pantai Kuta...he..he...Muter2 di
Pulau Dewata...wis kemput..terus disuruh pindah ke
Kalbar...tepate nyang Pontianak dadi
Kasub.Bag.Kepegawaian BPKP Kalbar....3 tahun di
bumi Amoy..dadi saksi mata terjadinya seteru antar
etnis antara Blok M dan Blok D..tatuuut.......ajuin
pindah..ke BPKP Jateng ing Semarang...kurang luwih 9
tahun..nyambi kuliah ing Undip S2(MM spesialisasi
keuangan...malang melintang di 36 Kab/Kota se
Jateng..eee...di usia 50 tahun..masih diputer puter
maneh...dimutasi ke Jayapura..BPKP Papua...tahun
2011 berangkat...diiringi isak tangis anak2 dan
istri...kulepas dikau berjoeang...njrantal..budal...
rawe2 rantas malang2 putung....risiko dadi Oemar Bakri..Pegawai Negeri...disumpah..wajib dan mau di
tempatkan di seluruh wilayah NKRI...nasib2...sunyi..sepi..sendiri...sejak ku budal pergi...tiada kabar
berita...hidupku merana...di Papua....
tahun kedua di Jayapura diminta bos Pusat..dan diminta suruh membantu Walikota Jayapura...diangkat jadi
Inspektur Vije di Kota Jayapura sbg DPIL(Di Pekerjakan Instansi Lain)status tetap sbg PNS BPKP....telung
tahun jadi Inspektur(tanpa senjata...gawanane mung pentungan....he..he..karo panah
beracun....ki..ki..ki..)...terus diangkat dadi Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah(BPKAD)Kota
I-Panji Story 189 Alumni Smaga-81 SOLO
Jayapura...alias ngecakke ilmu akuntan lan keuangane)...4 tahun 2 bulan wus jelajahi tanah Papua...keliling2
sampai Merauke dan PNG.. pedalaman....di Papua serba..muaaahal...bensin seliter 25 ribu..semen sak zak
1,5 juta..sekali maem n minum entek 100 ribu....ngajak bangkrut...terus ditarik maning ke kantor BPKP
Pusat....
Setahun di Kanpus...eeee...Bupati Banyuasin
Sumsel minta tenaga sbg Inspektur
Kabupaten...waah ketiban sampur..pindah mutasi
dari Jakarta ke Pangkalan Balai Banyuasin...satu
jam dari Palembang...nampaknya cerita di
Jayapura nular di Banyuasin...sehabis dadi
Inspektur Kabupaten Banyuasin dipindah dadi
Kepala BPKAD Kab.Banyuasin....tapi tinggale di
Palembang..pp...ben dino...5 L.. (Lesu.. lelah..
lemes..lunglai...letoy..)...nah tiba2 ada open
bidding di Pemprov.Sumsel...nglamar melu... ikut...
Seleksi Terbuka... eee.. ketompo dadi.. Inspektur
Daerah Prov.Sumatera Selatan di Palembang
...nganti saiki...menjelang usia pensiun... rasane..
wis sayah.. mloya mlayu..muter muter ...dadi PNS
tulen....
Nyuwun sewu....menawi wonten lepatipun...saking solah tingkah bowo muno muni ingkang kirang
prayogi..nyuwun agunging samodro pangaksami...mugi kito sedoyo tansah pikantuk Sih Ridho Barokah
Palilahipun Gusti Ingkang Murbeng Dumadi...trotuk tuk tuk...Bumi Gonjang Ganjing Langit Kelap2...kocap
kacarito..sampun paripurnaning atur...nuwun nuwun matur nuwun.Wassalam wr wb..Salam Sejahtera dan
Salam Kompersa SMAGA I-Panji...Burung Irian Burung Cenderawasih ..cukup sekian terima kasih.
Bambang Wirawan
I-Panji Story 190 Alumni Smaga-81 SOLO
60. niNIEK HARSINI
BANYAK TEMAN, BANYAK KEMUDAHAN MENJADI SALURAN BERKAT BAGI ORANG LAIN
Aku anak ragil dari 6 bersaudara dimana jarak umur dng mbak ku persis 6 tahun. Dengan mas mbareb 18
tahun. Jadi bisa dibayangkan bagaimana masa kecilku. Penuh kebahagiaan. Penuh perhatian dan proteksi
dari mas2 dan mbak2. Kami memanggil bapak dan ibu dengan sebutan SIMAS dan IYU.
Simas pns di kantor Agraria Surakarta. Dulu kantornya di jln Slamet Riyadi sebelah penjara. Sedang Iyu dari
keluarga pembatik. Resto Nyah Jambon di Palugunan dulunya rumah eyang ku. Eyang putri nya Satrio adalah
mbakyu nya Iyu. Kalau eyang putrinya Iwan dan Atik adalah mbakyu sepupu nya Iyu.
SD ku SD Santa Maria dan lanjut SMPN IV. Di SMA III aku sering jalan kaki ke sekolah. Dari kampung sewu
bareng Andi Brengos yang juga keponakan ku dari pihak Simas, Rahmat Jayadi, Arief suami Kustantini dan
alm. Thomas Latuasan.
Sebelum penjurusan aku di klas 1-7 dengan JokoKrib sebagai ketua klas nya.
Di klas penjurusan aku di klas fenomenal B3. Penuh kenangan.
Sejak dulu aku senang berteman dengan siapa
saja, sering main ke rumah teman kalau libur,
kuajak teman teman2 ke rumah saudaraku di
Plumbon dng naik perahu tambang beton (
nyebrang bengawan solo). Pernah colut se klas
ceweq ke njurug.
Lulus SMA tahun 1981, cita citaku jadi dokter
gigi. Di terima di fkg Mustopo Jakarta, fkg UGM
tidak diterima. Barulah di tahun 1982 saya
menjadi mahasiswi FKG UGM dan lulus tahun
1988.
Januari 1989 aku menikah dengan pacar cinta
monyet ku ketika smp (cah B6). Langsung diajak
tinggal di Kota Cilegon sampai sekarang. Suami
kerja di BUMN Krakatau Steel dan aku pns di
dinas kesehatan.
Kami dikaruniai 2 anak laki laki, yang nomer satu
Dr. Rafael Nanda Raudranisala, MKK
Dokter umum lulusan Chongqing Medical University dan S2 magister kedokteran kerja UI. Sudah menikah
dan memberi kami 1 cucu laki laki.
Sedang anak kedua Michael Deya Nanda, SKG saat ini sedang menyelesaikan coas nya di FKG UGM yang
tertunda gara2 jeng corona.
I-Panji Story 191 Alumni Smaga-81 SOLO
Sekilas Cilegon Banten.
Kondisi saat ini jauh sekali dengan saat pertama aku pindah ke Cilegon. Padahal dari SD kita diajari bahwa
cilegon kota baja, ternyata hanya di komplek perumahan krakatau steel lah kehidupan seperti di Solo.
Masyarakat aslinya masih jauh tertinggal. Saat itu th 1989 masih kujumpai anak sekolah nyeker. Padahal
gedung sekolahnya di pinggir jalan anyer panarukan. Bahan2 makanan masih seadanya, klo pingin yg
mendekati seperti pasargede Solo harus ke komplek KS yg mendatangkan mobil bahan makanan dari
Bandung. Apalagi yg jual makanan mateng, hampir tidak ada dan beda selera dng lidah kita. Ini yg membuat
aku harus bisa masak dan mengadakan bahan nya sendiri sampai sekarang. Mau masak tumpang? Mbusukin
dulu tempenya, minta kiriman dari solo dulu krecek dan karak mentah nya. Ada cerita lucu, ketika aku ikut
posyandu di kampung2 kulihat ada jlegor. Langsung kebayang bikin brambang asem. Ketika mau metik jlegor
tsb salah satu anak buah bilang klo disini untuk makanan kambing. Wuiiihh ga jadi metik. Akirnya nanam
sendiri di rumah. Sekarang cilegon sudah maju, banyak perusahaan padat modal.
Pekerjaan:
Aku sempat kerja sbg drg tkk di polwil banten dari th 1989
sd 1991. Disini aku sering diajak polisi2 ke daerah wilayah
kerja yaitu Pandeglang, Lebak, Serang dan Cilegon. Banyak
teman teman polisi yg kukenal sampai sekarang. Dan ini
memudahkan dalam bekerja serta menolong orang.
Tahun 1992 sd 2003 aku bekerja sbg dokter gigi fungsional
di puskesmas. 6 puskesmas sudah kusinggahin. Tantangan
besar bagiku untuk menyadarkan masyarakat pentingnya
kesehatan gigi. Setiap tk dan sd bahkan pertemuan
kantor2 kudatangi. Kuberi penyuluhan tentang kesehatan
gigi. Ku jalankan UKGS sampai sd terjauh. Hubungan ku
dng guru2 sangat baik hingga kini.
Tahun 2003 sd 2008 aku di sumpah jabatan jadi Kepala
Puskesmas Pulomerak. Daerah penyeberangan ke
sumatra. Selama 5 tahun aku benar2 gawangin arus mudik.
Macam2 kejadian, ada yg dibius dng diberi minuman
sampai 2 hari tidur terus. Di Puskesmas inilah walau aku
dokter gigi inovasi ku di program kesehatan diakui tingkat
nasional. Aku penggagas memberdayakan mantan
penderita tbc (Paguyuban TB Pulomerak tahun 2004)
sampai ditunjuk sebagai seknas JAPETI ( LSM tingkat
nasional jaringan peduli tuberculosis indonesia). Ini yg
membuatku sering sbg narsum di bbrp daerah spt jambi,
lampung, padang, pontianak, makasar, ntb, ntt, papua
barat dan kota2 di pulau Jawa.
Di masa ini aku sempat menjadi dokter teladan tingkat
Provinsi Banten tahun 2005 dan Puskesmas berprestasi
tingkat Provinsi Banten tahun 2006.
Oh ya tahun 2002 - 2004 aku mendapat beasiswa tugas
belajar S2 Kesehatan Masyarakat di UI oleh Provinsi
Banten
I-Panji Story 192 Alumni Smaga-81 SOLO
Tahun 2009 sd pensiun ( 1 februari 2020 ) aku ditugaskan menjadi kepala bidang kesehatan masyarakat (
ngurusin kesehatan ibu dan anak, gizi dan kesehatan kerja), menjadi kepala bidang Yankes dan 3 tahun
terakir jelang pensiun sebagai kepala bidang pencegahan pengendalian penyakit. Beberapa inovasi ku
adalah membentuk wadah hiwaci ( himpunan waria kota cilegon) untuk program hiv. Program pos gizi.
Gebyar ibu hamil ( mengumpulkan 1000 ibu hamil tanpa anggaran pemerintah). Yg sangat diingat oleh
pejabat Pemda dan masyarakat Cilegon adalah dokter gigi tapi pinter ngurusi ibu hamil sampai hiv. Bahkan
Kepala Dinas ku selalu bilang ke semua anak buah nya bahwa sampai saat ini belum menemukan dokter gigi
yang mengusai semua program kesehatan selain dokniek. Belajarlah dari dokniek bgmn membuat jejaring.
itu pesan Kepala Dinas Kesehatan kepada setiap penggantiku
Ohya... aku tidak pandai memasak tetapi merancang masakan itu menjadi enak bergizi dan indah sering
kulakukan. Tumpeng versiku juara I OPD se kota Cilegon
Praktek profesi tetap kukerjakan tiap sore hari di rumah sampai sekarang. Aku senang membuat orang lain
senyum setelah keluar dari ruang praktek ku. Bahkan pandemi pun tidak pernah tutup. Puji Tuhan masih
dibutuhkan masyarakat.
Diwaktu senggang aku senang kontak dng teman teman. Kucari info dimana keberadaan teman teman.
Kucari mereka satu persatu bahkan setiap aku dinas keluar kota, selalu kucari dan berusaha bertemu dengan
teman yg berada di kota tsb. Contoh nya temu Edwi di makasar , temu Sari, Yetty ketika dinas ke
surabaya,dll. Ketika pulang ke Solo bawa mobil sendiri, sengaja mampir ke rumah teman baik teman sd,
smp, sma maupun teman kuliah yg kota nya kulewati. Banyak manfaat dari caraku ini, ternyata ada teman
yg sedang kesulitan tetapi sungkan cerita di group Juga kutemui dan membujuk teman yg enggan kumpul2
baik tatap muka ataupun di group
Aku juga senang kalau melihat pasangan2 yg ku comblangi hidup bahagia dan harmonis. Sementara ini aku
berhasil nyomblangi 3 pasangan.
Yg fenomenal putri nya Ida Sudi A3, ku comblangi dng teman Kagama yg kerja di Krakatau Steel.
Sekarang bbrp teman yg putra putrinya kerja di Cilegon sering kontak. Main bahkan menginap di rumah ku.
Pernah kejadian jam 7 malam sedang praktek di kontak teman smp yg tinggal di Jogya dan jarang aktif di
group, minta tolong krn anak nya kecelakaan. Dari ugd pindah ke ruang perawatan tidak ada ortunya.
Kamilah yg ngurus termasuk ketika teman tsb ke Cilegon. Untung petugas kesehatan rumah sakitnya banyak
yang kenal.
Kegiatan ku setelah pensiun selain praktek di sore hari, aku membantu asisten rumah tangga ku (asli orang
sire) yg sudah ikut aku hampir 25 tahun. Bersihin rumah, bersihin kos2an dan membantu masyarakat
terutama yg ada masalah di bidang kesehatan. Karena banyak teman itulah aku dapat menjadi saluran
berkat bagi orang lain.
Sekarang Cilegon sudah maju, banyak kaum muda yg bekerja di perusahaan. Kangen sate kambing,
tengkleng, tahu acar dll sudah tersedia. Monggo pinarak main ke Cilegon.
Niniek Harsini
I-Panji Story 193 Alumni Smaga-81 SOLO
i-panji
ikatan alumni
sma.n iii Surakarta
angkatan 81
Tujuan:
Sebagai wadah dan sarana untuk mempererat rasa persaudaraan, setia kawan serta meningkatkan
perkawanan dan silaturahmi seluruh anggota, keluarga, almamater dan masyarakat pada umumnya.
Sifat :
Memberikan perhatian serta dukungan untuk anggota, keluarga anggota dan almamater maupun
masyarakat.
Anggota :
Seluruh alumni SMAN III Surakarta lulusan tahun 1981.
Visi :
Silaturahmi dengan semangat Widya Karma Jaya, Unggul dalam Prestasi dan luhur dalam budi pekerti
Lingkup Kegiatan:
Saling Memberikan perhatian dan dukungan baik moril maupun materiil Kepada (a) Anggota (b) keluarga
anggota (c) guru-guru serta Almamater (d) masyarakat umum yang membutuhkan.
Lingkup kegiatan I-Panji adalah di bidang akademik, prestasi, kesehatan, ekonomi, sosial, dan dukungan
moril dan bidang lain yang menurut seluruh anggota diperlukan. Semua kegiatan harus bebas dari politik
dan tidak menyinggung masalah Suku, Agama dan Ras (SARA).
Sumber Dana:
Donasi anggota secara suka rela yang tidak mengikat.
Sumbangan pihak-pihak lain yang tidak mengikat.
Penggunaan Dana:
Dilakukan melalui mekanisme yang transparan, terpercaya serta dapat dipertanggung jawabkan kepada
seluruh anggota. Mekanisme tersebut akan dilaksanakan oleh Board yang terdiri dari Penasehat dan Ketua
atau Wakil ketua.
Diresmikan di Jakarta, tanggal 29/04/2018, bertempat di kediaman Bambang Satrio Lelono di komplek
Ligamas Perdatam pada pukul 15:00 WIB.
Panitya kecil pembentukan I-Panji (Ikatan Alumni SMAN3 Surakarta angkatan 1981) telah membahas dan
menghasilkan keputusan sbb:
I-Panji Story 194 Alumni Smaga-81 SOLO
A. Kepengurusan i-panji : 195 Alumni Smaga-81 SOLO
I. Penasihat :
1. Satrio (B3)
2. Arif Zainudin (A2)
3. Daru Tri Sadono (A2)
4. Ery Wijaya (B4)
II. Ketua :
Ade Hendriady (B1)
Wakil ketua :
Myllenne Pradjanti (B3)
III. Sekretaris :
1. Neni Suryani (A2)
2. Winarso (B2)
IV. Bendahara :
1. Atik Irawati (B1)
2. Kustantini (A1)
3. Kurnia HY (B3)
V. Koordinator Bidang :
1. Bidang Sosial
1. Musriadi (B4)
2. Nurhidayati (B2)
3. Hascaryanto
2. Bidang pendidikan :
1. Gayatri (A2)
2. Literzet (B4)
3. Budi Iriani (B3)
3. Bidang Humas :
1. Syamsu Hidayat
2. Haryo S (B3)i
3. Roosiana Chandra Yuli
4. Hartanto (B1)
5. Anik Roestiani (B1)
6. Bernadi (B3)
4. Bidang Hukum :
1. Tatang
2. Agus W (B3)
3. Retno HI (B3)
5. Bidang Kesehatan :
1. Edi Rahmatto (B1)
2. Dewi P (B2)
6. Bidang Usaha/logistik :
1. Iskandar .
2. Mustofa.
3. Abdjad.
4. Hermintasih.
5. Ratih Pratiwi.
6. Bari (B2).
7. Tri Wahyuni
I-Panji Story