The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bab 9_Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Umayyah

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by citracindy18, 2022-12-01 06:47:41

Bab 9_Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Umayyah

Bab 9_Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Umayyah

BAB 9
Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani

Umayyah

 Tafaqquh
Setelah masa Khulafa’ ar-Rasyidin, berdiri sebuah dinasti islam yang berasal

dari Bani Umayyah yang diambil dari nama Umayyah, yaitu kakek Abu Sufyan bin
Harb, atau nenek moyang Muawiyah bin Abi Sufyan, yang hidup pada masa sebelum
Rasulullah SAW lahir dan menyebarkan ajaran islam.

Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang berkuasa
dalam dua periode, di Damaskus (sekarang ibu kota Suriah) selama hampir 90 tahun
(40-132H / 661-750M), dan di Cordova (sekarang Spanyol) selama 275 tahun (756-
1031M). Dibawah kekhalifahan Muawiyah, sistem pemerintahan islam yang
sebelumnya bersifat demokratis, lalu berubah menjadi monarkis (sistem kerajaan).

Selama memegang kekuasaan di dunia islam, Dinasti Bani Umayyah tidak
hanya berperan besar dalam memperluas wilayah kekuasaannya sehingga islam
menjadi sebuah kekhalifahan yang besar, namun juga diantara khalifah-khalifah yang
memimpin dinasti ini seperti; Yazid bin Mua’wiyah dan Umar bin Abdul Aziz yang
sangat tertatik dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Karena ketertarikkannya
itu menyebabkan semakin maraknya kegiatan di bidang keilmuan. Sehingga
muncullah banyak ilmuwan yang menghasilkan karya sesuai dengan ilmu yang
ditekuninya, tentunya yang sangat bermanfaat bagi peradaban umat manusia, itulah
kenapa pada masa itu merupakan masa kebangkitan kejayaan islam.

 Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan pada Masa Bani Umayyah
1. Pengembangan Bahasa Arab
Para penguasa Bani Umayyah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi
negara dan pemerintah, sehingga pembukuan dan surat menyurat harus
digunakan menggunakan bahasa Arab. Sebelumnya bahasa yang digunakan adalah
bahasa Romawi dan Persia. Hal ini bisa dimaklumi karena kawasan Suriah dan
sekitarnya pada awalnya adalah daerah jajahan Romawi dan Persia.

Seiring dengan kemajuan bahasa Arab tersebut, banyak karya-karya sastra
bermunculan, seperti Al-’iqd al- Farid karya Ibn Abidin Rabbih, al-Dzakhirah fi
Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Basam, kitab al-Qalaid buah karya Al-Fath Ibn
Khanqan dan masih banyak lagi.

2. Marbad: Pusat Kegiatan Ilmiah
Bani Umayyah pernah mendirikan sebuah kota kecil sebagai pusat

egiatanilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kota itu dinamakan Marbad, sebuah
kota satelit dari Damaskus. Di Marbad inilah berkumpulnya para pujangga, filsuf,
ulama’, penyair, dan cendekiawan, sehingga kota ini diberi gelar Ukaz-nya islam.

3. Perkembangan Al-Ulum al-Islamiyah
Ilmu-ilmu pengetahuan yang berkemabang pada masa Bani Umayyah dapat
dimasukkan dalam kelompok al-Ulum al-Islamiyah yakni ilmu Qiraat, Ilmu Tafsir,
Ilmu Hadits, at-Tarikh serta al-Ulum Lisaniyah (Ilmu Nahwu dan Sharaf) dan
Jugrufiyah.
a. Ilmu Qiraat

Ilmu Qiraat adalah ilmu seni membaca al-Qur’an. Ilmu ini merupakan ilmu
keislaman yang tertua, yang telah dibina sejak zaman Khulafa’ ar-Rasyidin. Pada
masa Bani Umayyah, ilmu ini dikembangkan sehingga menjadi cabang ilmu
keislman yang sangat penting. Beberapa ahli qiraat ternama lahir dari era ini
seperti; Abudllah bin Qusair dan Asim bin Abi Nujud.
b. Ilmu Tafsir

Ilmu Tafsir adalah ilmu yang mempelajari ayat-ayat al-Qur’an, mulai dari
penjelasan arti kosa kata (mufradat), kalimat, sebab turunnya ayat (asbab an-
nuzul), kedudukan ayat, hingga makna yang terkandung di dalamanya. Ilmu Tafsir
merupakan salah satu cabang dari ulumul Qur’an (ilmu-ilmu al-Qur’an), meskipun
istilah ulum Qur’an sebagai suatu ilmu yang baru muncul belakangan. Ilmu tafsir
telah dikenal sejak permulaan abad ke-2 H, ketika para ulama’ mencurahkan lebih
banyak perhatian terhadap tafsir. Sementara ulumul Qur’an baru dikenalkan pada

sekitar abad ke-5 atau ke-7 H. ulama’ yang merintis pembukaan ilmu tafsir disebut
Mujahid.
c. Ilmu Hadits

Dalam usaha menafsirkan al-Qur’an tersebut, umat muslim juga sangat
membutuhkan ucapan-ucapan dan perbuatan nabi sebagai manifestasi (sebagai
perwujudan) dari maksud kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Untuk menjawab
persoalan inilah para ulama’ berusaha mengumpulkan hadits-hadits nabi,
menyelidiki asal-usulnya, sehingga dengan gerakan pengumpulan hadits-hadits
nabi tersebut, berdirilah ilmu hadits sebagai cabang ilmu tersendiri.
d. Ilmu Fiqih

Fiqh secara harfiah berarti pemahaman yang mendalam terhadap suatu hal.
Secara terminologis, Fiqh adalah salah satu llmu keislaman yang secara khusus
membahas persoalan hukum yan mengatur berbagai aspek kehidupan manusia,
baik secara pribadi, bermasyarakat, maupun hubungan manusia dengan Tuhannya.

Fiqh membahas tata cara beribadah, rukun-rukun islam, dan hubungan antar
manusia sesuai dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits. Seseorang yang
menguasai ilmu fiqh disebut faqih.
e. Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu sangat diperlukan karena orang-orang non-Arab sudah semakin
banyak seiring perluasan wilayah kekuasaan islam. Ilmu Nahwu kemudian
dibukukan dan berkembang menjadi suatu cabang ilmu tersendiri. Ilmu Nahwu
merupakan salah satu cabang dari ilmu tata bahasa Arab. Cabangnya yang lain
adalah ilmu Sharaf. Ilmu Nahwu sangat dibutuhkan untuk bisa memahami al-
Qur’an, Hadits Nabi SAW., dan kitab-kita yang berbahasa Arab.
f. Ilmu Geografi dan Sejarah

Ilmu Geografi (jughrafiyah) dan sejarah (tarikh) pada masa Bani Umayyah
telah berkembang menjadi cabang ilmu tersendiri. Perkembangan dakwah islam ke
daerah-daerah baru yang luas nan jauh menimbulkan suatu gairah bagi
perkembangan ilmu geografi dansejarah. Diantara intelektual yang lahir di bidang
ini antara lain; Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-

negeri muslim di Mediterania Sicilia, dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M)
mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn Al-Khatib (1317-1374 M) menyusun
riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat
sejarah.

4. Usaha Penerjemahan
Demi kepentingan pembinaan dakwah islamiyah, pada masa Bani Umayyah

dimulai kegiatan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa-bahasa
lain ke dalam bahasa Arab. Khalid bin Yazid adalah orang yang mula-mula
melakukan penerjemahan. Ia seorang pangeran yang sangat cerdas dan ambisius.
Didatangkanlah ke Damaskus para ilmuwan yang mampu melakukan
penerjemahan dari berbagai bahasa. Kemudian diterjemahkan buku-buku tentang
ilmu kimia, astronomi (falak), fisika, kedokteran, dan lain sebagainya. Khalid sendiri
adalah pakar astronomi.

 Ilmuan Muslim pada Masa Bani Umayyah
Ilmuwan muslim pada masa Bani Umayyah memeiliki peran yang besar dalam

perkembangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan tersebut dapat dikelompokkan
sesuai bidang keilmuannya yakni ilmu agama dan ilmu umum.

1. Bidang Ilmu Agama
a. Bidang Ilmu Tafsir
 Ibnu Abbas (w. 68H)
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim,
lahir di Mekkah tiga tahun sebelum hijriyah. Ayahnya adalah Abbas, paman
Rasulullah, sedangkan ibunya bernama Labubah binti Haris yang dijuluki Ummu
Fadhl yaitu saudara dari Maimunah, istri Rasulullah SAW. Beliau dikenal dengan
nama Ibnu Abbas. Selain itu, beliau juga disebut dengan panggilan Abdul Abbas.
Dari beliau inilah berasal silsilah khalifah dinasti Abbasiyah.

Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas,
manfsirkan al-Qur’an dengan sistem riwayat dan sanad, dan banyak hadits
shahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan
seluruh khalifah. Sebagaimana lazimnya kata itu , pejabat pemerintahan adalah
orang-orang alim.
 Ibnu Mas’ud (w. 32H)

Abdullah bin Mas’ud (Ibnu Mas’ud) adalah diantara orang yang awal
memeluk islam. Beliau terlibat dalam dua hijrah, yakni hijrah ke Habasyah dan
hijrah ke Madina. Beliau mengambil secara langsung 70 surat al-Qur’an seperti
yang direkam oleh Imam Muslim di dalam kitab sahihnya.

Abdullah bin Mas’ud menguasai al-Qur’an dan tafsirnya lantaran beliau
sering mendampingi nabi. Seperti yang diceritakan oleh Abu Musa al-Asy’ari;
“Aku dan saudara lelakiku datang dari Yaman, dan ketika kami datang, kami
menyangka Abdullah bin Mas’ud dan ibunya adalah termasuk ahli keluarga
ibunya (ahli bait) Rasulullah karena mereka berdua sering masuk dan berada di
rumah Rasululah”. (Shahih Muslim).
 Mujahid bin Jabir

Beliau termasuk tokoh tafsir pada masa tabi’in sehingga beliau dikatakan
tokoh paling ‘alim dalam bidang tafsir pada masa tabi’in, dan pernah belajar
tafsir kepada Ibnu Abbas sebanyak 30 kali.

Nama nasab dan kelahiran beliau adalah Mujahid bin Jabir al-Makky Abul
Hajjad al-Makhzumy al-Muqry, Maula as-Saib bin Abi as-Saib. Beliau dilahirkan
pada tahun 21 H, pada masa kekhalifahan Umar RA.

b. Bidang Ilmu Hadits
 Imam Abu Hurairah

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi
SAW. Ia meriwayatkan hadits sebanyak 5.374 hadits. Abu Hurairah memeluk
islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khaibar. Rasulullah sendirilah
yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihat membawa
seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah SAW itu semata karena kecintaan
beliau kepadanya.

Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Ustman, Ubai bin
Ka’ab, Ustman bin Zaid, Aisyah, dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang
yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri atas para sahabta dan
tab’in. Diantara sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin Umar, Jabir bin
Abdullah, dan Anas bin Malik. Beliau wafat pada tahun 57 H di Aqiq.
 Anas bin Malik

Anas bin Malik merupakan urutan ketiga dari sahabat yang banyak
meriwayatkan hadits. Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits. Anas adalah
(Khadam) pelayan Rasulullah yang terpercaya, ketika berusia 10 tahun, ibunya
Ummu Sulaiman membawanya kepada Rasulullah SAW untuk berkhidmat.
Ayahnya bernama Malik bin an-Nadr. Rasulullah sering bergurau dengan Anas
bin Malik, dan Rasulullah sendiri tidaklah bersikap seperti seorang majikan
kepada hambanya. Beliau wafat pada tahun 93 H, dalam usia melampaui seratus
tahun.
 Umar bin Abdul Aziz

Nama aslinya adalah Abu Hafzah bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin
Abli Ash bin Umayyah al-Quraisy, seorang tabi’in besar dan salah seorang
khalifah yang rasyidin. Ia sebagai kepala negara yang adil dan seorang ulama
yang kamil. Ia dilahirkan di Mesir di negeri Halwan pada waktu ayahnya menjadi
Amir di situ pada tahun 61 H.
 Muhammad bin Syihab az-Zuhri

Namanya adalah Muhammad bin Muslim bin Abdullah, beliau ‘alim dan ahli
fiqh. Az-Zuhri selalu berusaha keras untuk meriwayatkan hadits, ada yang
berkata bahwa az-Zuhri menghimpun hadits yang jumlahnya mencapai 1.200
hadits, tetapi yang musnad hanya separuhnya.

Az-Zuhri meriwayatkan hadits bersumber dari Abdullah bin Umar, Abdullah
bin Ja’far, Sah; bin Sa’ad, Urwah bin az-Zubair, Atha’ bin Abi Rabah. Ia juga
mempunyai riwayat-riwayat yang mursal dari Ubadah bin as-Samit, Abu Hurairah,
Rafi’ bin Khudaij, dan beberapa lainnya. Beliau wafat di Sya’bad pada tahun 123
H.

c. Bidang Ilmu Fiqih

 Imam Hanafi
Nama aslinya adalah Abu Nu’man bin Sabut al-Khufi, dikenal dengan Imam

Abu Hanifah, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriyah (699 M), pada masa
kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari Abu Hanifah
(Suci dan Lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya,
berakhlak mulia, serta menjauhi perbuatan dosa dan keji.
 Imam Malik

Nama lengkapnya Abu Abdullah Malik bin Annas bin Malik bin Abi Amir bin
Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al-Asbahi, lahir di Madinah
pada tahun 712-796 M. Berasal dari keluarga Arab yang terhormat dan berstatus
sosial yang tinggi, baik sebelumnya datang dari islam maupun sesudahnya.
Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya
menganut islam mereka pindah ke Madinah. Kakeknya Abu Amir adalah anggota
keluarga pertama yang memeluk agama islam pada tahun kedua Hijriyah.


Click to View FlipBook Version