Sabda Rasulullah s.a.w: تَابُهُ ف قْ َ ِر فَتَْندَِل ُق أ قَى فِي النَّا ْ َمِة فَيُل ِقيَا ْ ال َ ِال َّر ُج ِل يَ ْوم ُء ب َيدُو ُرًِيُ َجا ِر فَ ي الَّنا ِر ْه ُل النَّا َ ِ َر َحاهُ فَيَ ْجتَ ِم ُع أ ِح َما ُر ب ْ َما يَدُو ُر ال آ ي َ َ ُو َن أ ْي ِه فَيَقُول فُ ََل ُن َما ًْ َعلَ ُمْن َكِر َقا َل آ ْ َع ْن ال َهانَا َم ْعُرو ِف َوتَْن ْ ِال ُمُرنَا ب ْ ْن َت تَأ ُ َس آ ْي لَ َ َك أ نُ ْ ْن ُتًُ َشأ ُمْن َكِر َوآتِي ِه ْ ْم َع ْن ال ُ َهاآ ْن َ َوأ َم ْعُرو ِف َوََّل آتِي ِه ْ ِال ْم ب ُ ُمُرآ آ „Dibawa datang seorang lelaki pada hari kiamat lalu dicampak ke dalam neraka, lalu terburai ususnya dalam neraka lantas berputar sebagai berputarnya keldai dengan kisarannya lalu penghuni neraka berhimpun mengelilinginya seraya berkata: Wahai fulan, apakah halnya kamu? Bukanlah kamu yang menyuruh kami melakukan kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran? Jawabnya: Akulah yang menyuruh kamu dengan yang baik tetap
aku tidak melaksanakannya dan melarang kamu dari yang mungkar sedang aku sendiri mengerjakannya.‰ (Riwayat al-Bukhari) (c) Bersungguh-sungguh Dalam Ilmu Sabda Rasulullah s.a.w: َ ن ُي نَت ََّل م دُ م َع أ ُ ِم َح آ لَ َ ِ َعذَا أ َر َب الَعَ َت ى يُ ِح ُّب إ َّن هللاَ َت َو َكا ِق إ هُ ِ „Sesungguhnya Allah Tabarak wa Taala menyukai apabila seorang kamu melakukan sesuatu kerja dilakukan penuh ketekunan.‰ Ketekunan memerlukan kepada kegigihan dan dibuat dengan bersungguhsungguh, bukannya separuh jalan, apalagi bagai melepaskan batuk di tangga. Pengajian Hadith memerlukan para penuntutnya merantau ke segenap pelusuk dan ceruk rantau sehingga kadang-kadang terpaksa meninggalkan
tanah air dan kampung halaman untuk satu tempoh yang agak lama. (d) Menghormati Guru-guru Ulama adalah pewaris Nabi yang layak mendapat sepenuh penghargaan. Itu semua adalah untuk mengharapkan ganjaran dari Allah dan memantapkan ilmu. Sesiapa yang tidak menghormati gurunya bererti tidak memanfaatkan darinya ilmu. (e) Menyampaikan Ilmu Kepada Orang Lain Menyampaikan ilmu adalah memenuhi tuntutan syariat. Abdullah bin `Amr bin al-`As berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: َي لَو ة َ َعنِِّى َو آ غُوا ِّ بَِل „Sampaikan dariku walaupun sepatah kata‰ (Riwayat Bukhari)
Dengan menyampaikan ilmu kepada orang lain, ia dapat membantu memantapkan maklumat dan ilmu itu dalam ingatannya, malah boleh mengembangkan lagi. Benar kata bijak pandai: Menginfak harta boleh mengurangkannya tapi menginfakkan ilmu boleh menambahkannya. Dalam proses pembelajaran, murid membutuhkan orang alim atau yang umum disebut dengan guru, ustadz, atau kiai. Murid dan orang alim perlu berinteraksi. Oleh karena itu ada adab-adab tertentu yang harus diperhatikan seorang murid terhadap gurunya sebagaimana dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjdudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah AtTaufiqiyyah, t.th., halaman 431) sebagai berikut: العالم مع المتعلم آداب :ويقل ، لمَبالس يبدؤه قال فَلن خَلف ما قلت ، وَّل يسأل جليسه في مجلسه ، وَّل : بين يديه الكَلم ، ويقوم له إذا قام ، وَّل يقول له يبتسم عند مخاطبته ، وَّل يشير عليه بخَلف رأيه ، وَّل يأخذ بثوبه إذا قام ، وَّل يستفهمه عن مسألة في طريقه :yakni, guru terhadap murid Adab, “Artinya. حتى يبلغ إلى منزله، وَّل يكثر عليه عند ملله mendahului beruluk salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda”, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya ketika guru di dalam majelis, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga guru sampai di rumah, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah.” Dari kutipan di atas dapat diuraikan kesepuluh adab murid terhadap guru sebagai berikut: Pertama, mendahului beruluk salam. Seorang murid hendaknya mendahului beruluk salam kepada guru. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim
bahwa yang kecil memberi salam kepada yang besar. Kedua, tidak banyak berbicara di depan guru. Banyak berbicara bisa berarti merasa lebih tahu dari pada orang-orang di sekitarnya. Apa bila hal ini dilakukan di depan guru, maka bisa menimbulkan kesan seolah-seolah murid lebih tahu dari pada gurunya. Hal ini tidak baik dilakukan kecuali atas perintah guru. Ketiga, berdiri ketika guru berdiri. Bila guru berdiri, murid sebaiknya lekas berdiri juga. Hal ini tidak hanya penting kalau-kalau guru memerlukan bantuan sewaktu-waktu, misalnya uluran tangan agar segera bisa tegak berdiri, tetapi juga merupakan sopan santun yang terpuji. Demikian pula jika guru duduk sebaiknya murid juga duduk. Keempat, tidak mengatakan kepada guru, “Pendapat fulan berbeda dengan pendapat Anda.” Ketika guru memberikan suatu penjelasan yang berbeda dengan apa yang pernah dijelaskan oleh orang lain, sebaiknya murid tidak langsung menyangkal penjelasan guru. Sebaiknya murid meminta izin terlebih dahulu untuk menyampaikan pendapat orang lain yang berbeda. Jika guru berkenan, murid tentu boleh menyampaikan hal itu. Kelima, tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya sewaktu guru di dalam majelis. Dalam majlis ta’lim atau kegiatan belajar mengajar di kelas, murid hendaknya bertanya kepada guru ketika ada hal yang belum jelas. Hal ini tentu lebih baik daripada bertanya kepada teman di sebelahnya. Lebih memilih bertanya kepada teman dan bukannya langsung kepada guru bisa membuat perasaan guru kurang nyaman. Keenam, tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru. Guru tidak sama dengan teman, dan oleh karenanya tidak bisa disetarakan dengan teman. Seorang murid harus memosisikan guru lebih tinggi dari teman sendiri sehingga ketika berbicara dengan guru tidak boleh sambil tertawa atau bersenyum yang berlebihan. Ketujuh, tidak menunjukkan secara terang-terangan karena perbedaan pendapat dengan guru. Bisa saja seorang murid memiliki pendapat yang berbeda dengan guru. Jika ini memang terjadi, murid tidak perlu mengungkapkannya secara terbuka sehingga diketahui orang banyak. Lebih baik murid meminta komentar sang guru tentang pendapatnya yang berbeda. Cara ini lebih sopan dari pada menunjukkan sikap kontra dengan guru di depan teman-teman. Kedelapan, tidak menarik pakaian guru ketika berdiri. Ketika guru hendak berdiri dari posisi duduk mungkin ia membutuhkan bantuan karena kondisinya yang sudah agak lemah. Dalam keadaan seperti ini, murid jangan sekalikali menarik baju guru dalam rangka memberikan bantuan tenaga. Ia bisa berjongkok untuk menawarkan pundaknya sebagai tumpuan untuk berdiri; atau sesuai arahan guru. Kesembilan, tidak menanyakan suatu masalah di tengah perjalanan hingga
guru sampai di rumah. Jika ada suatu hal yang ingin ditanyakan kepada guru, terlebih jika itu menyangkut pribadi guru, tanyakan masalah itu ketika telah sampai di rumah. Tentu saja ini berlaku terutama kalau perjalanan dengan menaiki kendaraan umum. Kesepuluh, tidak banyak mengajukan pertanyaan kepada guru ketika guru sedang lelah. Dalam keadaan guru sedang lelah, seorang murid hendaknya tidak mengajukan banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban pelik, misalnya. Dalam hal ini dikhawatirkan guru kurang berkenan menjawabnya sebab memang sedang lelah sehingga membutuhkan istirahat untuk memulihkan stamina. Demikian kesepuluh adab murid terhadap guru sebagaimana dinasihatkan oleh Imam al-Ghazali. Jika diringkas, maka pada intinya adalah seorang murid hendaknya berlaku hormat kepada guru baik dengan sikap-sikap tertentu maupun dengan pandai-pandai menjaga lisan. Ia hendaknya tahu kapan dan bagaimana sebaiknya ia berbicara kepada guru termasuk ketika hendak mengajukan pertanyaan. Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/sepuluh-adab-murid-terhadap-gurumenurut-imam-al-ghazali-HDTaY ADAB GURU KEPADA MURIDNYA ETIKA GURU TERHADAP ANAK DIDIK ETIKA GURU TERHADAP ANAK DIDIK A. Pendahuluan Etika berasal dari kata etik yang berarti aturan, tata susila, sikap atau akhlak. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, etik merupakan kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan kewajiban moral (akhlak). Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka seorang guru harus memiliki etika terhadap anak didik, karena seorang guru memiliki tangung jawab yang besar, tanggung jawab pendidik terjadi karena adanya sifat tergantung dari anak, akan membutuhkan bantuan atau pertolongan dari pendidik. Maka etika terhadap anak didik sangat perlu agar antara pendidik dengan anak didik tidak terjadi kesetimbangan. B. Etika Guru Terhadap Anak Didik Pendidikan sekolah merupakan lanjutan dari pendidikan yang berlangsung di dalam rumah tangga, dan
berperan dalam sekolah ialah guru. Guru adalah sebagai pendidik dan orang dewasa, maka dan tingkah laku dan perbuatannya akan berkesan di hati anak, dan akan diusahakanya untuk mencontoh dan meniru guru tersebut. Anak menganggap bahwa segala perbuatan dan tingkah laku guru adalah baik, maka ia suka untuk mencontoh perbuatan atau tingkah laku tersebut. Kepribadian dapat dianggap sebagai keseluruhan karakteristik (tingkah laku) dan ciri-ciri dari kepribadian seseorang. Kepribadian meliputi tingkah laku, kecerdasan, sikap, minat kecakapan, pengetahuan, tabiat, dan sebagainya yang merupakan perwujudan tingkah laku. Fungsi guru sebagai seorang pemimpin dan contoh teladan bagi anak, maka ia harus memiliki tingkah laku yang utama (kepribadian utama), seorang guru tidak hanya menunjukkan kata-kata “itulah” beginilah norma-norma” dan sebagainya. Akan tetapi, guru harus mempraktekkannya (guru itu menjadikan sifat-sifat terpuji sebagai keseluruhan dari kepribadiannya). Hubungan guru dengan siswa / anak didik di dalam proses belajar-mengajar merupakan faktor yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanapun sempurnanya metode yang dipergunakan, namun jika hubungan guru dengan siswa merupakan hubungan yang tidak harmonis, maka dapay menciptakan suatu yang tidak diinginkan. Tanggung jawab seorang pendidik sangatlah penting bagi anak didik, karena anak membutuhkan bantuan atau pertolongan dari pendidik. Sifat tergantung ini dijumpai dalam hubungan kodrat antara orang tua dengan anak atau dengan yang bertanggungjawab atas 2. perkembangannya. Oleh karena itu, pendidik harus mengetahui perkembangan kejiwaan anak tersebut agar lebih mudah dilaksanakan pendidikan. Di samping itu perlu dikembangka sikap demokratis dan terbuka dari para guru, perlu ada keaktifan dari pihak siswa, guru harus bersikap ramah sebaliknya siswa juga harus bersifat sopan, saling hormat menghormati, guru lebih bersifat manusiawi, masing-masing pihak bilamana perlu mengetahui latar belakang baik guru maupun siswa. Apabila hal-hal tersebut dapat dipenuhi maka akan tercipta suatu komunikasi yang selaras antara guru dan siswa, memang untuk itu ada beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan : 1. perlu dedikasi yang penuh dikalangan guru yang disertai dengan kesadaran akan fungsinya sebagai pemompong bagi anak didiknya. 2. Menciptakan hubungan yang baik antara sesama sikap pengajar dan pimpinan, sehingga mencerminkan pula hubungan baik antara guru dan siswa. 3. Sistem pendidik dan kurikulum yang mantap. 4. Adanya fasilitas ruangan yang memadai bagi para guru
untuk mencukupi kebutuhan tempat bertamu antara guru dan siswa. 5. Rasio guru dan siswa yang rasional, sehingga guru dapat melakukan didikan dan hubungan secara baik. 6. Perlu adanya kesejahteraan guru yang memandai sehingga guru tidak terpaksa harus mencari hasil sampingan. Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dipengaruhi komponen- komponen belajar-mengajar. Tetapi di samping komponen-komponen yang ada dalam kegiatan belajar mengajar, ada faktor lain yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu soal hubungan antara guru dan siswa. Yang perlu diperhatikan antara hubungan guru dengan siswa adalah : 1. Guru selaku pendidik hendaknya selalu menjadikan dirinya suri teladan bagi anak didiknya. 2. Di dalam melaksanakan tugas harus dijiwai dengan kasih sayang. 3. Guru wajib menjungjung tinggi harga diri setiap murid. 4. Guru sebaiknya mencegah usaha-usaha atau perbuatan yang menurunkan martabatnya. 5. Guru sebaiknya tidak memberi pelajaran tambahan kepada muridnya sendiri dengan memungut bayaran. 6. Setiap guru dalam pergaulan dengan murid-muridnya tidak dibenarkan mengaitkan persoalan politik yang dianutnya baik secara langsung maupun tidak langsung. 3. Sehubungan dengan itu maka guru sebagai tenaga profesional memerlukan pedoman atau kode etik guru agar terhindar dari segala penyimpangan. Adapun kode etik guru terhadap anak didik adalah : 1. Niat ikhlas Hendaklah guru mengajarkan ilmu yang dimilikinya dengan penuh keikhlasan hati karena mengharapkan keridhaan pekerjaan Hanyalah : “Artinya) رواهالبخارى) نوا ما امري لكل نما وا ت النيا با عمل الا انما .Allah itu (tergantung) kepada niat, dan sesungguhnya setiap manusia memperoleh menurut apa yang diniatkannya”. 2. Kasih sayang Hendaklah seorang guru merasa diri sebagai orang tua yang memandang murid-muridnya seolah-olah sebagai anaknya sendiri. من kasih rasa mempunyai tidak yang Siapa :”Artinya) عليه متفق) االله لايرحمه س النا يرحم لا sayang kepada manusia niscaya tidak pula dikasihi oleh Allah”. 3. Hikmah kebijaksanaan ; yang berarti guru harus berlaku bijaksana dalam mengajar hendaknya memilih suatu sistem dan media didaktik yang tepat. 4. Memilih waktu yang tepat ; untuk menjaga kebosanan murid haruslah guru mengadakan jadwal pelajaran. 5. Memberi teladan ; guru tidak hanya mengajar dalam bentuk lisan, namun yang terlebih penting ialah guru harus memberikan contoh perbuatan (teladan) yang baik yang mudah ditiru oleh murid-muridnya. Kode etik yang mempedomani setiap tingkah laku guru senantiasa sangat diperlukan, karena dengan itu penampilan guru akan terarah dengan baik, bahkan akan terus bertambah baik C. Kesimpulan Fungsi
guru sebagai seorang pemimpin dan contoh teladan bagi anak, maka ia harus memiliki tingkah laku yang utama (kepribadian utama), seorang guru tidak hanya menunjukkan kata-kata “itulah” beginilah norma-norma”. Sehubungan dengan itu maka guru sebagai tenaga profesional memerlukan pedoman atau kode etik guru agar terhindar dari segala penyimpangan. Adapun kode etik guru terhadap anak didik adalah : 4. 1. Niat ikhlas 2. Kasih sayang 3. Hikmah kebijaksanaan 4. Memiliki waktu yang tepat 5. Memberi teladan. Hadist etika guru terhadap siswa 1. Oleh 1. Nur Said 11110102 2. Muhammad Mangsur 11110077 3. Daryanto 11110087 4. M. Baqi Mustagfiri 11110094 2. Dalam sejarah kehidupan manusia, telah muncul konsepsi tentang kepemimpinan. Bagaimana Nabi Adam memimpin Hawa dan keturunannya di dunia setelah diusir dari surga. Begitu juga sejak awal kemunculan Islam, Nabi Muhammad selain sebagai seorang utusan Rasul yang menyampaikan ajaran- ajaran agama tetapi juga seorang kepala Negara dan kepala rumah tangga. 3. Islam menetapkan tujuan dan tugas utama pemimpin adalah untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ibnu Taimyah mengungkapkan bahwa kewajiban seorang pemimpin yang telah ditunjuk dipandang dari segi agama dan dari segi ibadah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. 4. Artinya : Dari Ibn Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah Saw. Berkata :”Kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban. Penguasa adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami adalah pemimpin keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. 5. Istri adalah pemimpin dirumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pelayan adalah pemimpin dalam mengelolaharta tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang
kepemimpinannya. Oleh karena itu kalian sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.“ 6. Artinya : Daripada Abu Ruqaiyyah Tamim ibn Aus al-Daarie r.a. bahawa Nabi SAW telah bersabda: Agama itu adalah nasihat. Kami berkata: Untuk siapa? Baginda bersabda: Untuk Allah, untuk kitabNya, untuk RasulNya, untuk para lmam kaum muslimin dan untuk umat lslam seluruhnya. Hadis riwayat al-lmam Muslim. 7. 1. Seorang guru harus memperlakukan murid dengan cara belas kasih dan menganggapnya seperti anak sendiri. Rosulullah pernah bersabda: “sesungguhnya aku bagi kalian adalah bagaikan bapak terhadap anaknya.” Dengan tujuan menyelamatkan mereka dari api neraka. 8. 2. Meneladani rosulullah SAW dengan tidak meminta upah mengajar, tidak bertujuan mencari imbalan ataupun ucapan terima kasih, tetapi mengajar semata-mata karena allah dan taqarrub kepada-Nya. 3. Tidak meninggalkan nasehat kepada murid sama sekali, seperti melarangnya dari usaha untuk beralih kepada suatu tingkatan sebelum berhak menerimanya, dan mendalami ilmu tersembunyi sebelum menguasai ilmu dengan jelas. 9. 5. Dalam setiap mengajar hendaknya seorang guru hendaknya mencegak muridnya dalam hal akhlak tercela, karena akan menjadikan seorang murid berakhlak kurang baik. 6. Guru yang menekuni sebagian ilmu hendaknya tidak mencela ilmuilmu yang tidak di tekuni seorang murid atau dengan sesame guru yang lain. 7. Seorang guru hendaknya membatasi kemampuan murid-muridnya, tidak menympaikan kepadanya apa yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan muridnya. 10. 8. Murid yang terbatas kemampuanya sebaiknya di sampaikan kepada hal-hal yang jelas dan cocok denganya. 9. Guru hendaknya melaksanakan ilmunya, yakni perbuatanya tidak mendustakan perkataanya. Karena ilmu di ketahui dengan mata hati dan amal di ketahui dengan mata, sedangkan orang yang memiliki mata jauh lebih banyak. ADAB PENGIKUT KEPADA PEMIMPIN
10 Adab Kepada Pemimpin yang Anda Perlu Tahu SADIQ SALIHODDINLEAVE A COMMENTON 10 ADAB KEPADA PEMIMPIN YANG ANDA PERLU TAHU Apakah adab-adab yang perlu ada pada kita kepada pemimpin. Artikel ini membincangkan 10 adab kepada pemimpin. Selaku rakyat, apakah yang kita perlukan lakukan terhadap pemimpin kita? Artikel aku bakal membincangkan perkara-perkara seperti itu. Pengenalan Pertama sekali, apakah konsep kepimpinan dalam Islam?
Rasulullah bersabda, “Adalah bagi Bani Israel, mereka diuruskan urusannya oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada ramai para khilafah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Hadis ini memberitahu kepada kita secara jelas tentang keperluan mempunyai kepimpinan. Mesti ada suara besar untuk dijadikan sebagai autoriti dalam menguruskan hal ehwal manusia. Ini merupakan satu fitrah dalam kita berpolitik. Kita mahukan seseorang yang “tepat” memimpin kita dan menguruskan hal kita. Sesungguhnya, setiap manusia itu berpolitik. Allah berfirman dalam Surah al-Qasas ayat 26, “Sesungguhnya sebaik-baik orang yang ayah ambil bekerja ialah orang yang kuat, lagi amanah.” Ayat ini menceritakan tentang seorang wanita yang mencadangkan kepada ayahnya untuk mengambil Nabi Musa bekerja dengan mereka. Dua kriteria untuk diambil bekerja iaitu: Kuat Amanah Kuat di sini bukan sekadar kuat fizikal, tetapi orang yang mempunyai kemampuan dalam konteks pekerjaannya. Contohnya, sekiranya dia seorang pemimpin, “kuat “ bagi dia bermaksud dia mampu untuk menjadi pemimpin itu sendiri dengan pengetahuan politiknya yang cukup, kemahiran bertutur yang baik dan sebagainya. Kedua, amanah ialah orang yang berintegriti. Dia tidak membohong dan menipu dengan pekerjaannya. Sesungguhnya, kedua-dua kriteria ini perlu ada pada seseorang, dalam bekerja di apa jenis sektor sekali pun. Dalam politik, ekonomi, undang-undang dan lain-lain. Bayangkan sekiranya salah satunya tidak ada. Contohnya, seseorang itu ada kemampuan berpolitik. Tetapi dia tidak berintegriti. Dia tidak amanah. Maka, dia akan mengambil kesempatan dengan pengetahuan dan kemahiran dia untuk menipu dan membohong. Sekiranya seorang itu amanah tetapi tidak mempunyai kemampuan, dia pula akan menjadi mangsa kepada penipu dan pembohong tadi!
Sebab itulah dua kriteria ini wajib ada pada seseorang. Dalam konteks ini, ialah politik atau kepimpinan. Rasulullah bersabda, “Tidak harus bagi tiga orang yang berada di tengah-tengah bumi yang lapang (bermusafir), melainkan mereka mesti melantik salah seorang mereka sebagai pemimpin.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud) Logik mudahnya, sekiranya dalam konteks tiga orang bermusafir pun digalakkan untuk memilih seorang ketua atau pemimpin, dalam konteks organisasi, persatuan, syarikat dan politik apatah lagi! Adab Kepada Pemimpin Di sini dilampirkan 10 adab bersama pemimpin. Kita selaku rakyat atau orang bawahan ini perlu buat apa? 1. Taat pemimpin Jangan cepat menarik kesimpulan. Sudah pastilah ketaatan terhadap pemimpin itu ada batasnya. Ketaatan kita terhadap pemimpin perlulah dalam perkara yang baik dan makruf. Bukannya dalam kezaliman dan maksiat. Sekiranya pemimpin kita mengarahkan untuk berbuat maksiat dan kezaliman, wajib kita lawan dan tidak menunaikan taat kepadanya. Saidina Ali pernah berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW telah mengutuskan sekumpulan tentera dan memerintahkan seorang lelaki untuk mengetuai mereka, lelaki tersebut menyalakan api lalu memerintahkan tenteranya untuk masuk ke dalam api tersebut. Sebahagian daripada mereka berhasrat untuk masuk ke dalamnya (kerana mentaati perintah ketua) sementara sebahagian yang lain lari melepaskan diri dan mereka menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah berkata kepada mereka yang berhasrat ingin masuk ke dalam api tersebut sekiranya mereka masuk, maka mereka akan kekal berada di dalamnya sehingga hari kiamat (mereka pasti akan mati), sementara dia mengatakan kepada sebahagian yang lain, “Janganlah kamu mentaati perkara-perkara maksiat. Ketaatan hanyalah dalam perkara yang makruf.” (Riwayat Bukhari)
Asasnya, kita perlu adil dengan perintah pemimpin kita. Sekiranya kita tidak “suka” akan dia, tetapi dia memerintahkan sesuatu yang benar, maka wajib kita taati dia. Jika yang sebaliknya berlaku, wajarlah kita lawan dan tidak mentaatinya. 2. Bertanggungjawab Rasulullah bersabda, “Ketahuilah bahawa setiap daripada kalian adalah pemimpin dan setiap daripada kalian akan dimintai pertanggungjawabkan atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggungjawab dengan kepemimpinannya ke atas mereka. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggungjawab ke atas mereka, seorang wanita adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anaknya, dan ia bertanggungjawab ke atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya, dan ia bertanggungjawab ke atasnya. Maka setiap dari kalian adalah pemimpin yang bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (Riwayat Abu Daud) Meskipun kita mempunyai ketua yang berada di atas kita, kita tidak boleh menafikan bahawa kita juga mempunyai tanggungjawab terhadap urusan manusia di bawah kita. Itu merupakan fitrah. Hadis ini menunjukkan bahawa setiap orang pemimpin dan perlu bertanggungjawab atas apa yang dipimpin. Seorang suami memimpin suami dan anak-anaknya. Seorang ibu memimpin anak-anaknya. Seorang penghulu memimpin masyarakat di kampungnya. Begitulah dengan yang lain-lain. Adab kita dengan pemimpin yang lebih tinggi adalah dengan menjalankan tanggungjawab kita dengan sebaik mungkin. Kita perlu mempunyai nilai bertanggungjawab agar kita lebih amanah dan berintegriti dengan tanggungjawab berkenaan. 3. Mengkritik dengan elok Manusia itu pelbagai, maka perspektif juga akan pelbagai. Kita mempunyai hak untuk memberi idea, mengkritik polisi dan sebagainya. Manusia tidak sempurna, layak untuk diperbetulkan. Allah berfirman dalam Surah an-Nahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” Berbincanglah dengan baik. Mendahulukan emosi berbanding hujah dan idea akan menghasilkan satu suasana yang tidak harmoni. Akhirnya, tidak akan tercapai matlamat kemaslahatan, hanya lepas marah semata-mata. 4. Menyumbang Seperti dalil di awal artikel, kita yang melakukan pekerjaan dengan dua sifat iaitu kemampuan dan amanah. Kita perlu mempunyai kepakaran dalam bidang kita masing-masing lalu menyumbang kepada negara. Setiap rakyat memainkan peranan yang penting dalam membangunkan negara. Memang betul pemimpin merupakan entiti utama untuk menjayakan semua ini. Namun, kita juga memainkan peranan kita masing-masing. Ada polisi yang tidak sihat, kita perlu lawan untuk kemaslahatan umum negara. Ada polisi yang baik, kita perlu guna segala daya yang ada untuk promosikan dan jayakan. 5. Memilih pemimpin Setiap rakyat atau orang bawah perlu memilih pemimpin mereka. Makna kata, setiap manusia mesti berpolitik kerana pilihan rakyat akan menentukan masa depan negara atau organisasi. Pemimpin yang tepat mampu memudahkan pembangunan negara. Janganlah kita meminta-minta untuk jadi pemimpin oleh kerana hak-hak istimewa, kemewahan dan sebagainya. Daripada Abu Hurairah RA, daripada Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu akan bersungguh mengejar kepimpinan (jawatan), sedangkan ia akan menjadi satu penyesalan buat kamu di hari akhirat. Maka yang sebaik-baiknya adalah yang memberi susuan (pemimpin yang memberi kebaikan), dan yang seburukburuknya adalah pemutus susu (iaitu kiasan buat pemimpin yang memutuskan nikmat kepada rakyat).” (Riwayat Bukhari) Sebagai pengikut, kita perlu memilih pemimpin yang benar-benar mampu memajukan kita dan seluruh negara. Hal ini wajar untuk kita lupakan dahulu tentang hak istimewa menjadi pemimpin dan lain-lain. Itu bukanlah keutamaan dalam konteks ini.
6. Sentiasa mengangkat kebenaran Rakyat wajib sentiasa mengangkat kebenaran walau apa jua keadaan sekali pun. Daripada Thauban RA dia berkata, bahawa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perkara yang paling aku bimbang terhadap umatku adalah munculnya pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” Dan kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Akan sentiasa ada satu kumpulan dari umat ini yang akan memperjuangkan kebenaran. Tidak ada suatu pun yang boleh memudaratkan mereka sekiranya dicela oleh golongan yang mencela mereka sehinggalah Allah menentukan urusan mereka.” (Riwayat Tirmidzi) Rakyat perlu menjadi orang berilmu dan terdidik lalu melawan untuk menegakkan kebenaran sekiranya ada pemimpin sesat seperti yang disebutkan dalam hadis ini. 7. Bersatu padu dan membentuk kesatuan Rakyat perlu membentuk kesatuan dan silaturahim agar pemimpin lebih mudah menjayakan polisi-polisi yang bermanfaat untuk semua. Daripada Abu Hurairah RA dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT reda ke atas kamu tiga perkara dan membenci tiga perkara. Allah reda buat kamu iaitu: (1) kamu menyembah-Nya, (2) tidak menyekutukan-Nya dan (3) kamu semua berpegang kepada tali Allah dan tidak berpecah belah. Manakala Allah membenci tiga perkara iaitu: (1) berkata itu dan ini (terlalu banyak berkata-kata), (2) terlalu banyak persoalan dan (3) mensia-siakan harta.” Tidak ada masalah sekiranya kita mahu membantu kaum kita sendiri, tetapi dalam konteks satu organisasi atau negara, kita perlu meminggir hal itu seketika lalu memajukan setiap orang tanpa melihat kaum. Kalau nak membantu kaum sendiri sekali pun, janganlah membantu atas kezaliman. 8. Berpaksi kepada al-Quran dan Sunnah
Sebagai rakyat, kita berbalik kepada al-Quran dan Sunnah dalam menilai perlakuan pemimpin supaya negara dirahmati oleh Allah oleh kerana kita cuba mengikuti kitabNya. Daripada Aisyah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Apakah yang difikirkan oleh sekumpulan lelaki yang meletakkan syarat yang tidak terdapat di dalam Kitabullah. Barangsiapa yang meletakkan syarat selain dari apa yang termaktub dalam Kitabullah, maka ia adalah batil. Syarat yang diletakkan oleh Allah adalah lebih benar dan lebih dipercayai.” (Riwayat Bukhari) 9. Proaktif Rakyat perlu proaktif dalam membantu pemimpin menjayakan apa yang baik, dan segera mengkritik apa yang tidak baik. Rakyat wajar cepat bertindak kerana apa sahaja yang dilakukan oleh pemimpin akan memberi kesan total kepada seluruh negara. Keputusan politik yang baik untuk semua orang adalah amat diperlukan. Untuk mendapatkan faedah maksimum, rakyat perlu proaktif dan tidak hanya membiarkan pemimpin memonopoli hal tersebut. 10. Mendoakan pemimpin Daripada Abu Hurairah RA, dia menceritakan bahawa al-Tufayl bin Amru telah datang berjumpa Nabi SAW dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Daud telah binasa, mereka mengingkarimu dan enggan (mengikutimu), maka doakanlah kebinasaan buat mereka. Lalu Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, berikanlah hidayah buat kaum Daus dan datangkanlah kepada mereka hidayah.” Fudhail Bin Iyyad berkomentar terhadap hadis ini dengan berkata, “Andainya aku mempunyai doa yang mustajab, maka aku akan khususkan doa ini buat pemerintah.” Hendaklah kita mendoakan pemimpin kita. Sekiranya dia baik, doakanlah rahmat baginya. Sekiranya tidak, doakanlah hidayah buatnya. Kesimpulan
Kita perlu melibatkan diri ke dalam politik kerana kita merupakan makhluk politik. Tanpa politik yang baik, maka kita tidak akan capai kemaslahatan umum manusia. Jadilah manusia yang sentiasa ingin menyumbang kepada kebaikan. ADAB PEMIMPIN KEPADA PENGIKUT ADAB PEKERJA KEPADA MAJIKANNYA ADAB MAJIKAN KEPADA PEKERJANYA