i
Kata pengantar
Pedoman ini disusun agar dapat membantu para mahasiswa dalam mempelajari konsep-
konsep manajemen keuangan beserta mempermudah mempelajari materi manajemen keuangan
terutama bagi kaum awam yang belum mengenal manajemen keuangan itu sendiri. Penulis pun
menyadari jika didalam penyusunan buku pedoman ini mempunyai kekurangan, namun penulis
meyakini sepenuhnya bahwa sekecil apapun buku ini tetap akan memberikan sebuah manfaat
bagi pembaca.
Akhir kata untuk penyempurnaan buku pedoman ini, Saya ucapkan terima kasih atas
apresiasinya kepada berbagai pihak yang telah turut berpartisipasi. Semoga Pedoman Pengadaan
Bahan Pustaka Elektronik ini dapat bermanfaat optimal sehingga dapat berkontribusi secara
signifikan dalam peningkatan kualitas produk yang dihasilkan pada proses pelaksanaan kegiatan
alih media digital.
Malang, 18 Oktober 2020
Penulis
ii
Daftar isi
Kata Pengantar
Daftar Pustaka
Bab I Pendahuluan ..........................................................................................................................1
1.1. Latar belakang..........................................................................................................................1
1.2. Dasar Hukum ...........................................................................................................................1
1.3. Tujuan Sasaran .........................................................................................................................2
1.4. Pemahaman Konsep Pengadaan Bahan Pustaka Elektronik ....................................................3
1.5. Pemahaman Konsep Alih Media Elektronik ............................................................................3
Bab II Ruang Lingkup Kegiatan .....................................................................................................7
2.1. Prinsip Dasar Alih media elektronik.........................................................................................7
2.2. Kebijakan seleksi bahan pustaka yang dialih media.................................................................7
2.3. Tujuan Pengadaan Bahan Pustaka Elektronik..........................................................................8
2.4. Tujuan Alih Media elektronik ..................................................................................................8
2.5. Hambatan yang dihadapi dalam kegiatan pengadaan bahan pustaka elektronik dan alih media
elektronik ............................................................. ....................................................................9
2.6. Standar alih Media Elektronik................................................................................................11
2.6.1. Standar kualitas file turunan/file akses untuk publikasi di Web........................................11
2.6.2. Standar penamaan file........................................................................................................13
2.6.3. Pertimbangan lisensi untuk Sumber Daya Elektronik ......................................................13
2.6.3.1. Peralatan Alih Media Digital............................................................................................14
Bab III Prosedur Operasional Alih media Elektronik...................................................................19
3.1. Tahapan Pra Digitalisasi.........................................................................................................19
3.2. Tahapan Digitalisasi...............................................................................................................20
3.3. Tahapan Pasca Digitalisasi....................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Adanya perkembangan Iptek sudah semestinya akses informasi dan jenis koleksi pustaka
bertambah pula. Untuk membangun koleksi perpustakaan perlu dilakukan seleksi, tidak mungkin
sebuah perpustakaan bagaimanapun besarnya akan menghimpun semua bahan pustaka yang ada.
Penyeleksian ini bertujuan agar bahan pustaka tidak terlepas dari perkembangan zaman dan
kebutuhan pengguna/user itu sendiri sehingga pemanfaatan perpustakaan mengenai sasaaran.
(Soeatminah,1992:32).
Perpustakaan merupakan suatu institusi dimana didalamnya terdapat beragam transformasi
keilmuan dalam bentuk informasi yang terekam baik itu dalam media cetak, elektronik/ digital
dan visual. Komponen yang paling penting dalam suatu perpustakaan ialah koleksi bahan
pustaka, koleksi ini tidak terlepas dari objek pengguna informasi. Koleksi bahan pustaka
memiliki makna sebagai suatu bahan pustaka yang terdapat di perpustakaan dengan ketentuan
sistematis dalam penyeleksian, pengadaan, pengolahan, penyimpanan dan penyebaran kepada
setiap pengguna perpustakaan, tujuan dari pada pengelolaan dan pengadaan bahan pustaka di
perpustakaan ialah sebagai kegiatan untuk terlaksananya program, visi dan misi, itulah tujuan
dari pada pengembangan koleksi perpustakaan lebih proaktif terhadap kedinamisan informasi
yang berkembang.
Koleksi digital sendiri merupakan suatu koleksi perpustakaan yang menjadi lirikan para
pengguna, karena kemudahan akses dan keluasan pada pemanfaatannya maka perlu kiranya
untuk mengkaji bagaimana kebijakan pengembangan koleksi digital pada suatu institusi
perpustakaan. Dalam prinsip pengembangan perpustakaan digital mengacu kepada dua hal
penting, pertama koleksi bahan pustaka meliputi materi dari berbagai sumber dan kedua
pemustaka akan disajikan suatu pandangan homogen dan ragam sumber.
1.2. Dasar Hukum
Dasar hukum dalam penyusunan Pedoman Pembuatan buku eloktronik (e-book) dan standar Alih
Media adalah :
1
1) Undang-undang No,or 7 tahun 1971 tentang ketentuan-ketentuan pokok kearsipan.
2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1992, tentang Cagar Budaya dan UndangUndang nomor
19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta sehingga keberadaan hasil karya budaya bangsa
/naskah kuno di bumi persada ini tetap aman, terjaga dan terlindungi, serta tidak mudah
untuk berpindah pengelolaanya oleh pihak-pihak lain.
3) Peraturan Pemerintah Nomor 88 Tahun 1999 tentang Tata cara pengalihan dokumen
perusahaan ke dalam microfilm atau media lainnya dan legalisasi.
4) Surat Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI No. 03 Tahun 2001 disebutkan bahwa
Bidang Transformasi Digital mempunyai tugas pokok melaksanakan pelestarian
kandungan informasi bahan pustaka melalui alih media digital ke media baru.
5) Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 105 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Arsip
statis.
6) Surat Edaran Nomor SE/06/M.PAN/3/2005 tentang Program pelindungan pengamanan
dan penyelamatan dokumen/arsip vital Negara terhadap musibah/bencana.
7) Peraturan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia No.06 Tahun 2005 tentang
Pedoman perlindungan,pengamanan dan penyelamatan dokumen/Arsip vital Negara.
8) Undang-undang No 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, yang tertuang pada pasal 3,
menyatakan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian,
pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan
bangsa. Pelestarian bahan perpustakaan mencakup perbaikan dan perawatan fisik serta
alih media ke bentuk lain yaitu mikrofilm, mikrofis, dan bentuk digital.
9) Undang-undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dalam pasal 7, butir d,
disebutkan bahwa pemerintah berkewajiban menjamin ketersediaan keragaman koleksi
perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ke
tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia).
1.3. Tujuan Sasaran
Tujuan pembuatan pedoman pembuatan buku elektronik(e-book) adalah sebagai berikut :
1) Menyediakan sarana kerja bagi semua pihak dalam melaksanakan kegiatan alih media digital
(pembuatan e-book) dilingkungan Perpustakaan Sekolah, sehingga pada pelaksanaanya dapat
terarah, sistematik, benar dan efektif.
2
2) Adanya standarisasi Alih media, yang dapat diadaptasi oleh semua pihak dalam pelaksanaan
kegiatan alih media digital.
3) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai tatacara pelaksanaan kegiatan alih
media digital.
4) Memberikan gambaran mengenai tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan alih media digital
5) Panduan dalam melaksanakan kegiatan alih media digital, baik itu mengenai metode ataupun
teknologi yang digunakan.
6) Sebagai kualitas control pada proses pembuatan ebook.
7) Untuk meningkatkan efisiensi pada proses operasional.
1.4. Pemahaman Konsep Pengadaan Bahan Pustaka Elektronik
Untuk pengadaaan pada bahan pustaka non-cetak, pada prinsipnya sama seperti pengadaan
pada buku. Hanya saja yang membedakan adalah pada pengevaluasiannya. Dalam mengevaluasi
bahan non-cetak harus menggunakan alat. Sedangkan pada bahan pustaka tercetak bisa ditinjau
langsung dengan melihat atau membaca isinya saja. Ada empatkategori dalam pengadaan bahan
non-cetak ini, yaitu dilihat dari isinya, akses, penunjang, serta harga/biaya.
1.5. Pemahaman Konsep Alih Media Elektronik
Digitasi berasal dari kata digit (angka), karena data atau informasi yang terkandung dalam
benda berformat digital (biner) yang mengubah sinyal menjadi kombinasi urutan bilang 0 dan 1,
untuk proses informasi yang mudah cepat dan akurat sinyal tersebut disebut sebuah bit. Sinyal
digital ini memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang tidak dapat ditemukan pada teknologi
analog, yaitu:
Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang dapat membuat
informasi dapat dikirim dengan kecepatan tinggi.
Penggunaan yang berulang-ulang terhadap informasi tidak mempengaruhi kualitas
dan kuantitas informasi itu sendiri,
Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi ke dalam berbagai bentuk,
3
Dapat memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar dan mengirimnya secara
interaktif.
Agar data-data tersebut dapat terbaca kembali maka diperlukan alat bantu, yatu personal
computer (PC) dan ataupun computer portable (notebook, netbook, laptop). Jadi kegiatan alih
media digital merupakan proses pemindahan / konversi media dari format tercetak ataupun
format analog ke dalam format digital. Sedangkan pengertian secara harfiah berdasarkan Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI), digitalisasi /di·gi·ta·li·sa·si/ (n) proses pemberian atau
pemakaian sistem digital, atau dalam bahasa inggris digitizing merupakan sebuah terminologi
untuk menjelaskan proses alih media dari format tercetak, audio, maupun video kedalam format
digital. Kegiatan digitalisasi di Perpustakaan Sekolah sebagai upaya pelestarian kandungan isi
informasi dari sebuah bahan perpustakaan, baik itu yang berupa format cetakan (buku, majalah,
surat kabar), bahan grafis (Peta, gambar, lukisan serta foto bersejarah), bahan 3 (tiga ) dimensi,
serta format audio, dan Audio visual yang dialih bentukan kedalam format digital.
File Objek digital tidak akan berguna jika tidak tahan lama dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan yang akan datang.
1. Tahapan penciptaan data (Data creation), pada tahap ini merupakan proses penciptaan
atau pengadaan data atau informasi, proses pengadaan data bisa dilakukan dengan cara
berlangganan, penerimaan, pembelian serta melakukan kegiatan pembuatan
data/informasi digital dan hasil alih media bentuk tercetak dan analog kedalam format
digital. Kegiatan utama pada tahapan ini meliputi pengumpulan serta proses digitalisasi
data.
- Prosedur awal, yang termasuk pada proses awal meliputi : Pemilihan atau seleksi
bahan pustaka, inventarisasi bahan pustaka yang akan didgitalkan, penetapan
standar digitalisasi, pemilihan metode digitalisasi, perencanaan sumber daya
manusia, pemilihan teknologi yang akan digunakan, serta mempersiapkan
lingkungan digitalisasi.
- Penciptaan file digital, hal in terkait proses kegiatan digitalisasi bahan pustaka yang
berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan, sehingga proses ini tidak tidak
membahayakan atau mengganggu objek fisiknya.
4
- Pengecekkan kualitas (Quality control), proses ini dilakukan untuk memastikan
hasil dari file digital sesuai dengan standard yang ditetapkan, misalnya :
pemeriksaan ketepatan warna, kualitas resolusi, serta proporsional dari objek yang
didigitalkan. Pengecekkan kualitas memerlukan berbagai perangkat lunak
(software aplikasi) dan instrument sebagai pemeriksaaan berkas digital, kalibrasi
warna.
- Prosedur akhir (post-processing), setelah melalui tahapan pengecekkan kualitas,
akan dlakukan tahapan akhir penyelesaian, kegiatannya meliputi : retouching,
penamaan file, konversi file, pengamanan file digital, serta pemerikasaan output
yang dihasilkan.
2. Tahapan pengelolaan data (Data management), setalah data ataupun informasi tercipta,
maka tahapan selanjutnya adalah proses pengelolaan data atau informasi, yang
meliputi pengindentifikasian data, pengelompokkan, membuat deskripsi dari data yang
sudah ada dengan menambahkan metadata, melakukan pengindeksan, pencatatan serta
pengaturan akses terhadap data itu sendiri yang terkait dengan adanya pembatasan
copyright.
3. Tahapan pemeliharaan data (Data preservation), pemeliharaan data digital merupakan
proses pemeliharaan dokumen atau data digital sehingga dapat dimanfaatkan dalam
waktu yang lama secara internal oleh publik sesuai dengan kaidah, norma dan kode
etik yang berlaku. Preservasi adalah semua kegiatan yang bertujuan memperpanjang
umur bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya. Selain itu definisi lain juga
menyebutkan preservasi digital adalah upaya memastikan agar materi digital tidak
bergantung pada kerusakan dan perubahan teknologi. Secara umum preservasi digital
mencakup berbagai bentuk kegiatan, mulai dari kegiatan sederhana menciptakan tiruan
(replika atau copy) dari sebuah materi digital untuk disimpan, sampai kegiatan
transformasi digital yang cenderung rumit.
4. Tahapan penyajian data (Data provision), pada tahapan ini bagaimana data digital
dapat dengan mudah bisa ditelusur, diakses, dilayankan, serta dapat diunduh oleh
masyarakat, sehingga perlunya adanya infrastruktur yang bagus, sistem manajemen
objek digital yang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mengakses informasi
tersebut.
5
Format File Objek Digital
Pemilihan format file objek digital harus ditentukan tidak hanya berdasarkan kebutuhan saat
ini maupun kebutuhan keadaan yang terlihat saat ini tetapi juga harus mempertimbangakan
kebutuhan jangka panjang. File Objek digital tidak akan berguna jika tidak tahan lama dan tidak
dapat memenuhi kebutuhan yang akan datang. Kriteria yang harus diperhatikan dalam pemilihan
format file, meliputi :
1. Open Standard (dapat dibaca perangkat lunak apapun)
2. Ubiquity (dapat digunakan secara bersama)
3. Stability (tidak berubah sewaktu-waktu)
4. Support metadata (sanggup menyimpan metadata dengan baik)
5. Feature set (dapat digunakan untuk masa depan)
6. Interoperability (dapat digunakan oleh siapapun)
7. Viability (dapat mengenal dan memperbaiki kesalahan formatnya sendiri)
8. Authenticity (merupakan dokumen yang sama persis dengan aslinya)
6
BAB II
RUANG LINGKUP KEGIATAN
2.1. Prinsip Alih Media Elektronik
Alih media digital ini merupakan salah satu upaya penyelamatan isi atau informasi yang
dikandung bahan perpustakaan tersebut tanpa menghilangkan atau merubah bentuk aslinya.
Adapun prinsip-prinsip yang ditetapkan pada kegiatan alih media digital di lingkungan
Perpustakaan Sekolah yaitu :
a) Sasaran utama kegiatan alih media kedalam format elektronik koleksi
perpustakaan sekolah untuk menunjang dan meningkatkan akses bagi
pemustaka/pengguna, sedngkan sasaran keduanya untuk melestarikan koleksi
langka dan rapuh dengan menyediakan digital surrogate (wakil, pengganti)
b) Koleksi yang dialihmediakan dipilih melalui penerapan kriteria yang disetujui
c) Alih media dilaksanakan sesuai dengan undang-undang hak cipta
d) Perpustakaan tidak bermaksud melaksanakan alih media seluruh koleksinya
e) Koleksi yang dialihmediakan hanya dilakukan sekali saja, masternya disimpan,
sedangkan yang akan diakses hanya turunannya
f) Kegiatan digitalisasi tidak akan mengurangi komitmen untuk melestarikan bentuk
fisik Bahan Perpustakaan
2.2. Kebijakan seleksi bahan pustaka yang dialih media
Pertimbangan dalam pemilihan koleksi yang akan dialihmediakan, meliputi :
a) Sejarah dan / atau kebudayaan (Indonesia Heritage) serta muatan local (local content);
b) Koleksi yang bersifat unik dan / atau koleksi langka;
c) Koleksi yang sering dicari oleh pengguna
d) Koleksi yang sudah tidak memiliki hak cipta, dan/ atau udah mendapatkan izin untuk
mendigitalkannya
e) Pembatasan akses ke koleksi aslinya, dengan pertimbangan koleksi tersebut, memiliki,
nilai historis tinggi, kerentanan atau lokasi, dan kondisi fisik yang sudah rapuh;
f) Memudahkan masyarakat untuk dapat mengkases secara online
7
Sedangkan yang dijadikan kriteria dalam penyeleksian materi yang akan didigitalkan, meliputi :
a) Prioritas: koleksi naskah nusantara, buku langka, peta kuno, gambar, foto bersejarah,
majalah, surat kabar
b) Koleksi dengan permintaan yang tinggi atau sedang.
c) Koleksi yang relatif tidak dikenal, karena diakses lewat digital diharapkan meningkatkan
permintaan
d) Kriteria: Tema: yang menjadi prioritas adalah sejarah terbentuknya zaman kolonial,
kemerdekaan dan lain-lain. Dan tingkat keterpakaian.
2.3. Tujuan Pengadaan Bahan Pustaka Elektronik
Sumber daya elektronik merupakan bahan pustaka yang pemakainnya memerlukan akses
komputer, baik melalui komputer pribadi, mainframe, atau perangkat genggam mobile. Sumber
daya elektronik tersebut juga dapat diakses dari jarak jauh melalui internet atau secara lokal.
2.4. Tujuan Alih Media Elektronik
Ketersediaan akses informasi serta penyebaran informasi yang lebih cepat kepada
masyarakat, dijadikan sebagai salah satu alasan dalam kegiatan alih media digital, hal ini
disebabkan, dengan menjadikan format digital, informasi akan dengan cepat disajikan dan
diakses, tanpa harus mendatangi dimana informasi itu berada, sehingga kegiatan ini
memungkinkan untuk diversifikasi bentuk layanan bahan perpustakaan karena kemampuanya
dalam menampilkan secara lebih menarik, halaman tak terbatas, portable, interaktif dan
kontinyu. Secara rincinya tujuan alih media digital meliputi :
a) Kemudahan akses, memungkinkan orang ataupun pemustaka untuk dapat mengakses
informasi, tanpa harus datang ke perpustakaan, bisa diakses secara online
b) Layanan jarak jauh (long distance service), artinya pengguna bisa menikmati layanan
sepuasnya, kapanpun dan dimanapun, tanpa dihalangi ruang dan waktu.
c) Melestarikan serta mempertahankan koleksi-koleksi yang bersifat langka, usang dan
perlu penanganan, karena bentuk asli koleksi yang perlu pelestarian, bisa digantikan
dengan format digitalnya
8
d) Melestarikan khasanah budaya bangsa, dengan mendokumentasikan naskah-naskah yang
ada di Nusantara ke dalam format digital, sebagai kepentingan, penelitian, pendidikan
pengguna, penerbitan, serta programprogram pameran
e) Membangun komunitas sosial baru, yang tersimpan dalam media portal Perpustakan
Digital Nasional Indonesia, yang dapat digunakan oleh masyarakat yang berbeda,
termasuk mereka yang menggunakan jaringan sosial dan teknologi baru lainnya.
f) Tujuan pembangunan perpustakaan digital untuk mempromosikan pemahaman dan
kesadaran antar budaya dalam lingkup nasional, menyediakan sumber belajar,
mendorong ketersediaan bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya
setempat (local content), serta mendukung penelitian ilmiah.
g) Serta memungkinkan kerjamsama antar lembaga/instansi yang terkait dalam pemanfaatan
sumber informasi bersama (e-resources).
2.5. Hambatan Yang Dihadapi Dalam Kegiatan Pengadaan Bahan Pustaka Elektronik
Kegiatan alih media digital merupakan salah satu upaya pelestarian sumber informasi
yang tersimpan didalam bentuk asli sebelumnya, kegiatan ini tidak luput menghadapi hambatan-
hambatan dalam pelaksanaannya, diantaranya :
a. Anggaran (budget), pada kegiatan digitalisasi membutuhkan anggaran yang cukup besar,
untuk membangun koleksi dalam bentuk digital, tentunya membutuhkan dana awal yang
tidak sedikit, terutama untuk menyiapkan infrastrukturnya seperti : pembelian komputer
dan perangkat terkait lainnya, scanner, jaringan listrik, pelatihan staf dan sebagainya.
Semua ini memerlukan anggaran yang besar. Untuk mensiasati kendala dana ini,
perpustakaan harus membuat skala prioritas tentang kegiatan-kegiatan yang akan
dilaksanakannya. Disamping itu perlunya tahapan-tahapan sedikit demi sedikit untuk
mengalihkan dokumennya ke dalam berntuk digital, maksudnya tidak sekaligus tetapi
dengan jalan bertahap, sesuai dengan jenis koleksi mana yang diprioritaskan.
b. Permasalahan yang lain timbul dari kesiapan SDM (sumber daya manusia) baik itu dari
tingkat pengambil kebijakan, hingga staff sebagai pelaksana yang harus siap dengan
perkembangan teknologi digital. Tidak semua staf perpustakaan merespon positif
terhadap perubahan. Apalagi perubahan ini menyangkut kemampuan staf untuk
beradaptasi dengan teknologi baru yang masih asing bagi mereka. Terutama staf yang
9
sudah tua dan mereka yang malas untuk selalu maju dan berubah. Mereka menganggap
dengan perubahan tersebut keadaan mereka akan terganggu, mereka sudah terbiasa dan
enjoy dengan keadaan pekerjaan mereka yang lama, dengan perubahan ini mereka meresa
dipojokkan dan disingkirkan. Hal demikian merupakan sesuatu yang lumrah terjadi bila
ada perubahan. Di sinilah dituntut kepiawaian pemimpin untuk bisa memberikan
pengertian dan pemahaman akan makna dan manfaat perubahan tersebut, dan mencarikan
jalan keluar bagi kemelut yang terjadi bila ada staf yang membutuhkan waktu yang lama
untuk sampai pada tahap komitmen. Bila sudah pada tahap komitmen, tentu perubahan
dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan karena mereka sudah komitmen untuk
berubah, bersedia bekerja untuk mencapai kemajuan.
c. Ketersediaan infrastruktur TI dalam mewujudkan kegiatan digitalisasi, karena kegiatan
digitalisasi ini merupakan kegiatan yang kompleks, yang pasti akan berhubungan dengan
pengembangan sarana dan prasarana TI lainnya.
d. Kebijakan, pada kegiatan digitalisasi perlu adanya standar operasional yang dijadikan
acuan bersama.
e. Kepemimpinan
Kurangnya perhatian dari pemimpin seperti menunda-nunda, mengabaikan, menghindari,
bisa menjadi kendala yang sangat berpengaruh dalam upaya pelaksanaan alih media. Hal
ini akan berimplikasi pada kebijakan selanjutnya dan akan mempengaruhi bawahan atau
staf. Oleh karena itu komitmen dan dukungan dari pemimpim sangatlah diperlukan untuk
kelancaran dan kesuksesan kegiatan alih media ini.
f. Konsistensi
Kendala ini muncul apabila terdapat banyak staf bahkan pemimpin yang tidak konsisten
dan komitmen untuk perubahan ke arah sesuatu yang baru dan maju. Maka dari itu
sebelum melangkah harus direncanakan dengan matang, agar tidak terjadi sesuatu yang
membuat 'kendur' dikemudian hari.
g. Waktu
Setiap perubahan termasuk manfaat yang menyertainya akan membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk mewujudkannya sesuai dengan harapan yang diinginkan.
10
h. Komunikasi
Perubahan akan diterima atau ditolak berdasarkan keefektifan komunikasi. Komunikasi
harus sering dilakukan, dua arah, seimbang (positif dan negatif) dan dimulai sebelum
proses perubahan dimulai.
2.6. Standar alih Media Elektronik
2.6.1. Standar kualitas file turunan/file akses untuk publikasi di Web
Proses pembuatan file turunan dihasilkan dari file master yang disesuaikan dengan
masing-masing fungsinya. Tujuan dibuatnya file turunan sebagai penyedian file akses yang akan
di publish secara online, serta untuk kepentingan proses kemasan dalam media CD/DVD.
Penetapan standar kualitas file turunan harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan serta jenis
format file yang dihasilkan. Pada tabel 2.2. dibahas tentang standard yang digunakan untuk
pembuatan file turunan. Standar tersebut merupakan adaptasi darei standar yang telah ditetapkan
pada National Library of Australia (NLA).
File turunan yang dihasilkan disetiap projek digital akan menghasilkan beberapa file turunan,
yang kemudian akan disimpan, setiap file turunan memiliki fungsinya tersendiri, diantaranya :
a) Format RAW (file mentah) : Resolusi tertinggi yang dipilih pada saat pengambilan objek
digital, format ini tetap dapat mempertahankan bit kedalaman warna asli dan kualitas
gambar, serta menghemat ruang penyimpanan dibandingkan TIFF. Format File RAW
dijadikan sebagai master file digital.
b) Format TIFF (Tagged Image Format File) : merupakan hasil penurunan dari file RAW,
format file ini mampu menyimpan gambar dengan kualitas hingga 32 bit, format file ini
juga dapat digunakan untuk keperluan pertukaran antar platform (PC, Machintosh, dan
Silicon Graphic). File digital pada format TIFF sudah melalui proses koreksi.
c) Format JPEG (Joint Photographic Expert Group) : Format file JPEG mampu
mengkompres objek dengan tingkat kualitas sesuai dengan pilihan yang disediakan,
sehingga format file ini sering dimanfaatkan dalam penyimpanan gambar yang akan
digunakan untuk keperluan halaman web, multimedia, dan publikasi elektronik lainnya.
Resolusi file JPEG yang diturunkan adalah 72 – 200 dpi.
11
d) Format PDF (Portable Document File) : merupakan hasil kompilasi dari beberapa file
JPEG, yang merupakan satu kesatuan buku elektronik. Pada format ini juga terdapat
proses konversi dari file image ke format character (Doc, RTF, TXT, dll), sehingga file
yang dihasilkan memiliki kemampuan searchable.
e) Format EXE (Execute) : Format ini disediakan sebagai bentuk kemasan offline buku
elektronik (ebook) yang tersimpan pada media CD/DVD.
f) Format HTML (Hyper Text Mark up Language) : format ini merupakan bentuk kemasan
buku elektrnik (ebook) yang akan dipublish di web, sehingga dapat diakses oleh para
pemustaka.
g) Format compress ZIP/RAR : Merupakan kompressi dari file html,
h) Projest KEMASAN CD : kompilasi file digital dengan resolusi menengah, yaitu, resolusi
100 – 200 dpi
2.6.2. Standard Penamaan file
Ketentuan pemberian nama folder pada berkas digital, berdasarkan dari judul koleksi
ataupun dari kode unik buku yang didigitalkan. Contoh :
Sedangkan pemberian nama file pada berkas digital, berdasarkan banyaknya lembaran
halaman dari objek fisik aslinya, yang diantaranya :
12
a) Koleksi yang memiliki jumlah halaman satuan sampai puluhan, dengan
menggunakan angka 2 (dua) digit penormoran, contoh : 01 – 90
b) Koleksi yang memiliki jumlah halaman sampai ratusan, dengan menggunakan
angka 3 (tiga) digit penomoran, contoh : 001 – 900
c) Koleksi yang memiliki jumlah halaman sampai ribuan, dengan menggunakan
angka 4 (empat) digit penomoran, contoh : 0001 – 9000
Contoh tampilan penamaan file digital berdasarkan penomoran :
Selain penamaan file dengan menggunakan format penomoran urut (numbering), bisa
juga ditambhkan awalan kata (prefix) dan akhiran kata (suffix) pada penomorannya,
contoh : IND_001 – IND_099 atau 001_SMA – 099_SMA.
2.6.3. Pertimbangan Lisensi untuk Sumber Daya Elektronik
Tidak seperti bahan pustaka cetak, sumber daya elektronik yang tidak dibeli langsung
biasanya memerlukan perjanjian lisensi untuk bisa dilanggan oleh perpustakaan. Lisensi harus
ditinjau untuk mengetahui dan mendukung proses evaluasi, dan untuk memastikan bahwa itu
memperlihatkan keinginan pihak perpustakaan sebelum membeli atau melanggan database sesuai
dengan informasi yang dikumpulkan dan yang telah evaluasi. Ini berguna untuk membuat
perjanjian lisensi standar yang menjelaskan hak-hak dan kewajiban perpustakaan.
13
2.6.3.1. Peralatan Alih Media Digital
Peralatan yang digunakan pada proses alih media digital tentulah membutuhkan teknologi
yang canggih serta memiliki spesifikasi yang tinggi. Identifikasi peralatan harus disesuaikan
berdasarkan fungsinya, seperti peralatan yang mendukung pada saat proses pengambilan objek,
proses pengeditan file digital, serta proses pengemasan file digital. Dari keseluruhan proses
digitalisasi masing-masing proses kerjanya selalu dioperasikan melalui computer (personal
computer) ataupun laptop. Oleh karena itu supaya memaksimalkan proses operasionalnya
diperlukan spek computer yang dikhususkan untuk pengelolaan file grafis. Berikut daftar spek
komputer yang direkomendasikan :
Pemilihan peralatan untuk pengambilan objek digital, baik itu dengan menggunakan
scanner ataupun kamera digital, harus dipertimbangkan tidak hanya dikaitkan dengan
karakteristik objek yang akan didigitalkan, tetapi juga maksud penggunaan objek digital tersebut.
14
jika objek digital yang diinginkan hanya sebatas file digital akses maka tidak perlu menggunakan
pemidai (scanner) atau kamera digital dengan resolusi tinggi, sebaliknya jika yang diinginkan
adalah file digital master, maka pemidai (scanner) atau kamera digital yang dipilih harus yang
beresolusi tinggi. Berikut merupakan pemilihan alat yang digunakan berdasarkan jenis dan
ukuran dokumen.
Tabel 2.2. Pemataan Alat Pengambilan Objek Digital
a. Kamera Digital
Kamera refleks lensa tunggal atau dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah
Single-lens reflex (SLR) camera adalah kamera yang menggunakan sistem jajaran
15
lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu
Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk dapat
melihat objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya. Hal ini
berbeda dengan kamera non-SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder
bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film, karena kamera jenis ini
menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke
Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal
Plane.
b. Pemindai (scanner)
Pemilihan alat pemindai digunakan pada saat dokumen yang akan
dialihmediakan masih memiliki kondisi fisik koleksinya bagus, sehingga apabila
pada saat dilakukan proses pemindaian, meskipun posisi buku dalam keadaan
terbalik (telungkup), tapi tidak memberikan dampak yang pada saat itu juga akan
memperparah kerusakkan pada koleksi tersebut. Ada beberapa jenis pemidai
(scanner), yaitu :
1. Flat-bed, merupakan pemidai (scanner) yang umum dipakai untuk bidang
pindai selembar kertas
2. Single-sheet, merupakan pemidai (scanner) dengan menggunakan
mekanisme menarik kertas per lembar
3. Sheet-fed, merupakan pemidai (scanner) dengan menggunakan
mekanisme menarik kertas dari tumpukan kertas lembar demi lembar
4. Hand-held, merupakan pemidai (scanner) dengan cara penggunaan manual
melalui gerakan tangan.
16
17
BAB III
PROSEDUR OPERASIONAL ALIH MEDIA DIGITAL
Pada pelaksanaan kegiatan Alih media digital, bidang Transformasi Digital menetapkan
suatu prosedur pada setiap tahap pelaksanaannya. Hal ini bertujuan supaya :
a. Kegiatan alih media digital bekerja secara sistematik dan terkontrol,
b. Adanya sarana kerja bagi semua pihak dalam melaksanakan kegiatan alih
media digital (pembuatan e-book) dilingkungan Perpustakaan Nasional RI,
sehingga pada pelaksanaanya dapat terarah, sistematik, benar dan efektif,
c. Adanya standarisasi Alih media, yang dapat diadaptasi oleh semua pihak
dalam pelaksanaan kegiatan alih media digital,
d. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai tatacara pelaksanaan
kegiatan alih media digital,
e. Memberikan gambaran mengenai tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan alih
media digital,
f. Panduan dalam melaksanakan kegiatan alih media digital, baik itu mengenai
metode ataupun teknologi yang digunakan,
g. Sebagai kualitas control pada proses pembuatan ebook, serta
h. Untuk meningkatkan efisiensi pada proses operasionalnya
Proses kegiatan alih media digital terbagi kedalam 3 (tiga) tahapan utama, yakni :
1) Tahapan pra digitalisasi (prosedur awal) merupakan tahap persiapan sebelum
dilaksanakannya proses pengambilan objek digital.
2) Tahapan digitalisasi merupakan tindakan pengalihan format suatu media ke
format digital, yang dimulai dengan proses pengambilan objek digital.
3) Tahapan pasca (setelah) digitalisasi, tahapan ini lebih menitik beratkan pada
bagaimana objek digital ini disajikan serta dapat diakses oleh para pemustaka.
Aktivitas yang biasa dilakukan pada saat kegiatan alih media digital, meliputi :
1) Kegiatan pertama yang dipersiapkan adalah lebih bersifat persiapan administrasi,
diantaranya : inventarisasi dan seleksi bahan pustaka, survey kondisi fisik bahan
18
pustaka, evaluai dan analisis metadata, serta penentuan format file digital dan
pemilihan metode pengambilan objek digital (capture).
2) Setelah dipastikan tahap persiapan selesai, tahap selanjutnya adalah melakukan
tindakan alih media ke dalam format digital, yakni meliputi : Pedoman Pembuatan
E-book dan Standar Alih Media Page 31 melakukan kalibrasi perlatan yang akan
digunakan, terutama untuk pengetesan ketajaman warna yang dihasilkan,
pengambilan objek digital, baik itu menggunakan kamera digital, scanner, atau
alat konversi lainnya, melakukan koreksi pada objek digital (editing) setelah
proses pengambilan objek, proses perubahan format file (konversi) yang awalnya
merupakan format master file, kemudian diturunkan menjadi format turunannya,
proses kompilasi file yaitu menyatukan kembali file-file image menjadi satu
kesatuan format buku elektronik, proses pengubahan format gambar (image)
menjadi format karakter tulisan (text), sehingga informasi yang ada dialam
koleksi tersebut dapat ditelusur secara kata perkata (searchable), proses
memasukan deskripsi bibliografi bahan perpustakaan beserta berkas file
digitalnya (upload content digital), aktivitas yang terakhir dilakukan membuat
kemasan multimedia dalam bentuk offline yang disajikan pada media CD atau
DVD.
3) Tahapan terakhir (pasca digitalisasi), pada tahapan ini lebih kepada proses
pengecekkan serta pengontrolan kualitas berkas digital, baik itu secara ketepataan
warna yang dihasilkan, kelengkapan serta urutan dari berkas digital, dan memberi
kelengkapan terhadap penyajian kemasan multimedia dalam bentuk offline
3.1. Tahapan Pra Digitalisasi
Pada tahap pra digitalisasi (produser awal) ini merupakan tahapan persiapan sebelum
dilakukan proses digitalisasi, pada tahapan ini lebih bersifat tindakan administratif serta
pengaturan rencana kerja.
Pada dasarnya yang berwenang dalam melakukan pemilihan atau seleksi bahan
perpustakaan yang akan dialihmediakan ke dalam format digital adalah unit kerja yang memiliki
koleksi, karena pihak koleksilah yang tahu kondisi koleksi yang perlu penanganan segera, serta
mengetahui pula koleksi yang tingkat pemanfaatanya tinggi. Namun berdasarkan kebijakan yang
19
telah disepakati, kriterikriteria yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan koleksi yang
akan dialihmediakan terdiri dari :
a. Sejarah dan / atau kebudayaan (Indonesia Heritage) serta muatan local (local
content);
b. Koleksi yang bersifat unik dan / atau koleksi langka;
c. Koleksi yang sering dicari oleh pengguna;
d. Koleksi yang sudah tidak memiliki hak cipta, dan/ atau udah mendapatkan izin untuk
mendigitalkannya;
e. Pembatasan akses ke koleksi aslinya, dengan pertimbangan koleksi tersebut,
memiliki, nilai historis tinggi, kerentanan atau lokasi, dan kondisi fisik yang sudah
rapuh;
f. Memudahkan User untuk dapat mengkases secara online.
Sedangkan yang dijadikan kriteria dalam penyeleksian materi yang akan didigitalkan,
meliputi :
a. Prioritas: Koleksi Naskah Nusantara, buku langka, peta kuno, gambar, foto
bersejarah, majalah, surat kabar
b. Koleksi dengan permintaan yang tinggi atau sedang.
c. Koleksi yang relatif tidak dikenal, karena diakses lewat digital diharapkan
meningkatkan permintaan
d. Kriteria: Tema: yang menjadi prioritas adalah sejarah terbentuknya zaman kolonial,
kemerdekaan dll. Dan tingkat keterpakaian
3.2. Tahapan Digitalisasi
Tahapan digitalisasi merupakan proses serta tindakan yang dilakukan pada kegiatan alih
media bahan perpustakaan, baik itu asalnya dari format tercetak ataupun elektronik dialihkan ke
dalam format digital. Tahapan digitalisasi ini meliputi beberapa proses/tindakan yang dilakukan,
yaitu : pengambilan objek digital, proses koreksi atau pengeditan objek digital, konversi file
digital (pembutan file turunan dan file master), pengecekkan kualitas (quality control) file digital.
Pembahasan pada kesempatan ini akan difokuskan pada proses pengambilan objek
dengan menggunakan kamera digita, yaitu untuk koleksi-koleksi lama serta kondisi koleksinya
20
sudah dalam keadaan yang memprihatinkan, khususnya koleksi buku langka, naskah kuno serta
majalah terjilid (lama). Adapun alasan dari penggunaan kamera digital pada proses pengambilan
objek ini adalah :
1. Kondisi dokumen yang dialihmediakan dalam keadaan rusak, kertas rapuh.
2. Kualitas gambar yang dihasilkan lebih mendekati sama dengan objek aslinya, serta
memiliki kualitas resolusi yang tinggi, karena ada beberapa produsen kamera yang
menyediakan format RAW.
3. Proses pengerjaannya lebih cepat dibandingkan menggunakan alat pemindai
(scanner).
Berikut beberapa prosedur pada proses pengambilan Objek digital dengan menggunakan
kamera digital :
1) Tahap Persiapan : Pemasangan alat-alat kamera studio
2) Pengaturan posisi dokumen
3) Pengaturan konfigurasi / setting pada kamera digital
4) Foto Survei kondisi fisik dokumen
5) Foto dokumen
6) Pengecekkan hasil pengambilan objek
7) Konversi file digital
Membuat eBook dalam file PDF lain
Yang harus dipersiapkan
1. Microsoft Word (PC), Google Docs (Web), atau software pembuat dokumen lainnya.
Wajib, karena kita akan menulis di sini.
2. PowerPoint atau Adobe InDesign. Tidak wajib kalau anda lebih suka di Word.
3. Evernote atau OneNote. Tidak wajib, bisa digunakan untuk membuat kerangka isi
ebook dan mencatat hal-hal yang anda rasa penting. Keduanya gratis.
4. Adobe Acrobat. Tidak wajib, digunakan untuk mengecilkan ukuran PDF.
21
Membuat kerangka isi ebook
Ebook itu isinya lebih tebal daripada sekedar artikel. Biasanya ribuan kata, bahkan bisa sampai
sepuluh ribu kalau topiknya dalam.
Mengatur layout dan tipografi di Microsoft Word
Sewaktu di sekolah sampai kuliah, kita biasanya hanya menggunakan desain standar dari Word.
Sekarang tidak bisa seperti itu, kita ingin supaya ebook yang kita buat berbeda dan lebih indah
daripada yang lain. Karena itu, ada beberapa yang perlu kita atur di awal.
Beberapa prinsip dasar mengenai tipografi:
1. Gunakan ukuran font yang lebih besar daripada standarnya, supaya lebih mudah dibaca
(18-22pt untuk paragraf biasa)
2. Jangan gunakan font yang terlalu umum seperti Times New Roman, Verdana, Tahoma,
atau Arial
3. Gunakan maksimal 3 jenis font, untuk judul/subjudul, paragraf, dan keperluan khusus
lainnya
4. Gunakan maksimal 3 warna, untuk judul/subjudul, paragraf (biasanya putih dan/atau
hitam), dan hyperlink
5. Aturan nomor 3 & 4 bisa dilanggar kalau memang diperlukan
6. Biasakan menggunakan formatting style yang ada di Word, Pages, atau Google Docs
Membuat Lead Magnet Berjenis eBook (dan File PDF Lain) yang Desainnya Indah dan
Isinya Berkualitas
Ebook dalam format PDF.
Karena ebook nilainya lebih tinggi dibandingkan konten biasa, proses pembuatannya juga
termasuk yang paling mudah.
Selain itu, dari 16 lead magnet tadi 4 di antaranya dalam format PDF.
22
Maka, kalau anda sudah bisa membuat ebook, anda juga akan langsung bisa membuat 3 jenis
lead magnet lainnya.
Alat dan bahan yang anda butuhkan
Satu alasan lagi kenapa saya memilih ebook yaitu karena semua alat dan bahannya yang sifatnya
wajib sudah tersedia gratis.
Inilah semua yang harus anda persiapkan:
1. Microsoft Word (PC), Pages (Mac), Google Docs (Web), atau software pembuat
dokumen lainnya. Wajib, karena kita akan menulis di sini.
2. PowerPoint atau Adobe InDesign. Tidak wajib kalau anda lebih suka di Word. Tapi
mendesain ebook yang indah sebetulnya lebih mudah di PowerPoint atau InDesign.
3. Evernote atau OneNote. Tidak wajib, bisa digunakan untuk membuat kerangka isi ebook
dan mencatat hal-hal yang anda rasa penting. Keduanya gratis.
4. Adobe Acrobat. Tidak wajib, digunakan untuk mengecilkan ukuran PDF.
Untuk panduan ini, saya akan menggunakan Microsoft Word.
Tahap 1: Membuat kerangka isi ebook
Ebook itu isinya lebih tebal daripada sekedar artikel. Biasanya ribuan kata, bahkan bisa sampai
sepuluh ribu kalau topiknya didalamnya.
Sebagai contoh, ini kerangka yang saya buat:
23
Gambar di atas adalah kerangka isi dari seri panduan yang sedang anda baca sekarang ini.
Tahap 2: Mengatur layout dan tipografi di Microsoft Word
Supaya ebook yang kita buat berbeda dan lebih indah. Karena itu, ada beberapa yang perlu diatur
di awal.
Beberapa prinsip dasar mengenai tipografi:
1. Gunakan ukuran font yang lebih besar daripada standarnya, supaya lebih mudah dibaca
(18-22pt untuk paragraf biasa)
2. Jangan gunakan font yang terlalu umum seperti Times New Roman, Verdana, Tahoma,
atau Arial
24
3. Gunakan maksimal 3 jenis font, untuk judul/subjudul, paragraf, dan keperluan khusus
lainnya
4. Gunakan maksimal 3 warna, untuk judul/subjudul, paragraf (biasanya putih dan/atau
hitam), dan hyperlink
5. Aturan nomor 3 & 4 bisa dilanggar kalau memang diperlukan
6. Biasakan menggunakan formatting style yang ada di Word, Pages, atau Google Docs
Ini beberapa website yang bermanfaat seputar font:
FontSquirrel: mencari font gratis
TypeGenius: mencari ide kombinasi font yang bagus
ColorHunt: mencari kombinasi warna yang bagus
HEX to RGB: supaya kombinasi warna dari ColorHunt bisa digunakan di Microsoft
Word
(Caranya klik kanan di tiap style lalu pilih Modify)
Dengan membuat formatting style seperti ini, anda tidak perlu lagi mengedit satu per satu untuk
setiap judul/sub-judul dan paragraf. Tinggal klik di menu.
25
Menulis isi ebook
Berikut tahapan utamanya :
Menulis isi ebook biasanya memakan waktu paling lama dibanding tahapan lain, kecuali kalau
PDF anda cuma 1-2 lembar.
Kalau ebook anda isinya panjang, permasalahan terbesarnya adalah bagaimana supaya pembaca
tidak bosan di tengah jalan.
Ini beberapa tip:
1) Gunakan subjudul (header 2 & 3) supaya paragraf tidak bertumpuk-tumpuk
2) Gunakan list untuk menjelaskan lebih dari satu poin, seperti yang sedang anda baca
sekarang ini
3) Hindari paragraf yang terlalu panjang
4) Gunakan gambar yang bisa membantu penjelasan. Ini wajib. Tulisan panjang tanpa
gambar pasti membosankan.
Persiapan Membuat E-book
1. Materi (teks, gambar, tabel)
a. Teks
Teks yang menjadi bahan e-book diketik dalam Ms. Word. Perlu diperhatikan ukuran
huruf, jenis huruf, warna, spasi, pengaturan rata text dan berikan penomoran pada
sub-bab nya sehingga tulisan tampak rapi dan menarik. Pastikan tulisan yang telah
diketik sesuai dengan layout web, caranya dengan klik VIEW lalu pilih WEB
LAYOUT. Jika belum rapi, editlah kembali.
b. Gambar
Gambar sangat diperlukan di dalam e-book, selain memperjelas materi juga untuk
menambah kemenarikan e-book itu sendiri. Jenis gambar yang dapat terbaca pada ebook
adalah jenis picture, bukan smart object.
c. Tabel
26
Tabel tidak wajib ada di dalam e-book, tapi jika memang diperlukan bisa mengaturnya
seperti ini; klik kanan pada tabel --> TABLE PROPERTIES --> centang preffered width
dengan prosentase 100%.
Hal ini diperlukan supaya tabel dapat terbaca dalam perangkat dengan bermacam-macam
ukuran layar.
2. Video
File video dapat dimasukkan dalam e-book dengan menggunakan aplikasi SIGIL.
Syaratnya adalah video tersebut harus berekstensi MP4. Jika video yang akan anda
Panduan Membuat E-book Menggunakan SIGIL 6 masukkan bukan berformat mp4,
maka Anda harus mengubahnya terlebih dahulu. Anda dapat menggunakan software
Format Factory.
3. Software SIGIL
Sigil merupakan salah satu software editor epub yang bersifat open source.
Penggunaannya bisa dibilang cukup mudah.
27
4. Google Chrome & Readium Readium merupakan plug in yang ada pada Google Chrome.
Maka, Anda perlu menginstall Google Chrome lalu memasang Readium. Readium ini
dibutuhkan untuk membuka dan membaca e-book dengan perangkat komputer. Sebagai
tambahan, jika Anda ingin membukanya di android maka Anda perlu menginstall Ideal
Reader di play store. Untuk memasang Readium, cukup klik INSTALL FROM
CHROME --> ADD.
5. Software Format Factory
28
Format Factory akan cukup berguna dalam pembuatan e-book, yakni untuk
mengubah file video ke dalam format mp4 yang support dengan SIGIL.
Langkah mengembangkan Ebook
1. Mengubah dokumen ms.word ke html Bahan materi yang akan dimasukkan ke dalam
software SIGIL harus berformat html, sehingga dokumen word yang sudah selesai diedit
perlu dikonvert menjadi html. Caranya adalah sebagai berikut; buka dokumen ms.word,
lalu klik FILE --> SAVE AS --> OTHER FORMAT--> WEB PAGE FILTERED - ->
SAVE. Lihat gambar berikut.
2. Memasukkan file html ke SIGIL Dokumen word yang telah diubah ke format html,
selanjutnya dimasukkan ke dalam software SIGIL. Langkahnya buka SIGIL
29
>FILE>OPENpilih file html yang baru saja dibuat. Jika sudah, maka akan tampil seperti
ini.
3. Mengisi Metadata Metadata berisikan form identitas buku, seperti judul, nama
pengarang, tahun terbit, bahasa, ISBN, penerbit, kategori, deskripsi, dll. Langkahnya
adalah; klik TOOLS>METADATA EDITOR atau bisa juga langsung tekan F8 pada
keyboard. Klik ADD BASIC untuk menambahkan form yang lainnya. Isilah form
tersebut (identitas yang dibutuhkan). Gambar tampilan jendela metadata seperti berikut.
30
4. Membuat Identasi/ Daftar Isi Identasi maksudnya adalah membuat daftar isi dengan
sistem hyperlink, seperti pada web. Langkah awalnya adalah menentukan topik, sub-
topik, dan sub sub-topik. Selanjutnya Anda bisa meletakkan kursor/ menyorot kalimat
topic atau sub topic lalu klik header. h1 (untuk topik), h2 (sub topik), h3(sub subtopik).
Lihat caranya seperti pada gambar berikut.
Jika identasi selesai dilakukan (h1, h2 dan h3), maka langkah selanjutnya adalah
mengecek kembali apakah idendasi tersebut sudah sesuai yang diharapkan. Caranya
dengan klik TOOLS >TABLE OF CONTENT >GENERATE TABLE OF
CONTENT. Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut.
31
5. Menambahkan video Video sangat penting di dalam e-book. Inilah yang akan
membedakan e-book Anda dengan buku-buku lainnya yang berformat pdf. Selain
menambahkan video yang berkaitan dengan materi, Anda juga bisa memberikan video
pengantar dari penulis sehingga memberikan kesan tersendiri. Ingat bahwa video yang
dapat terbaca hanyalah video dengan format mp4. Langkah untuk menyisipkan video ke
dalam e-book adalah; letakkan kursor diantara teks atau dibagian mana yang ingin anda
selipkan video, lalu klik INSERT>FILE >VIDEO> OTHER Panduan Membuat E-book
Menggunakan SIGIL 14 FILES (pilih video mp4 yang telah Anda siapkan). Caranya
hampir sama seperti menambahkan cover.
6. Menambahkan Cover Buku Ketika kita mencari buku bacaan, yang pertama kali kita lihat
adalah sampulnya. Sama seperti e-book, cover sangat diperlukan untuk menarik minat
pembaca. Untuk itu Anda perlu membuat desain cover terlebih dahulu dengan format
JPG. Anda bisa membuatnya dengan Coreldraw, photoshop, ataupun program desain
grafis lainnya.
Jika Anda sudah membuatnya, langkah berikutnya adalah; klik TOOLS> ADD
COVER> OTHER FILES> pilih cover yang baru saja dibuat. Jika sudah maka akan
tampil seperti ini.
32
7. Publish ke epub Apabila editing E-book telah selesai, maka langkah selanjutnya adalah
menyimpan file sehingga menjadi file dengan ekstensi epub. Caranya klik FILE> SAVE
AS>pilih tipe file “epub”.
3.3. Tahapan Pasca Digitalisasi
Tahapan pasca digitalisasi merupakan proses tindak lanjut setelah proses transformasi
digital. Pada tahapan ini sudah dipastikan bahwa file digital yang dihasilkan sudah melalui
proses pengecekkan, sehingga sudah dijamin kualitas ataupun kelengkapan dari dokumen file
digitalnya. Adapun proses yang dilakukan pada tahapan ini meliputi :
1) proses kompilasi file atau penyatuan kembali file-file digital menjadi satu kesatuan
buku elektronik,
2) konversi file image manjadi format karakter, sehingga informasi yang ada didalamnya
dapat ditelusur,
3) proses pembuatan flipping book document,
4) proses upload file digital,
5)Pembuatan kemasan ebook dalam format offline, dan proses yang terakhir adalah
6) Pembuatan back up file digital.
Membuka dan Membaca E-book
E-book yang telah dibuat dengan ekstensi epub dapat dibuka / dibaca
menggunakan Readium (google chrome) atau menggunakan Ideal Reader (jika
33
menggunakan HP Android). Selain menggunakan aplikasi ini, biasanya file video tidak
dapat terbuka.
Mempublikasikan E-book
Rendahnya minat belajar siswa disebabkan karena banyaknya materi yang harus
dipahami siswa sementara jam tatap muka di kelas sangat terbatas, kejenuhan siswa
dalam penggunaan sumber belajar buku cetak dan materi pembelajaran hanya terpusat
pada guru di sekolah. Dengan memanfaatkan e-book inilah siswa lebih tertarik belajar
karena siswa sudah mampu melakukan belajar secara mandiri menggunakan e-book
yangn telah dimilikinya.
Pengaruh positif yang miliki siswa disebabkan karena penggunaan e-book sebagai
sumber belajar mandiri memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam proses belajarnya
tanpa bergantung dari penjelasan guru. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh
Elain (2002) bahwa pembelajaran mandiri merupakan proses belajar dimana siswa
berinteraksi dengan sumber belajar lain selain guru. Dalam hal ini siswa memiliki
kebebasan dalam menggunakan gaya belajarnya sendiri, berkembang menurut kecepatan
siswa sendiri, menemukan potensi dan bakat dalam siswa sendiri. Sanjaya (2008)
menambahkan bahwa optimalisasi hasil belajar dapat terjadi jika terjadi proses interaksi
antara siswa dengan berbagai macam sumber belajar selain guru yang mampu
merangsang siswa untuk belajar, serta mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang
ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Sumber belajar ini terutama dapat digunakan untuk mengatasi kendala keterbatasan
waktu yang tersedia untuk pertemuan tatap muka. Dengan memanfaatkan sumber belajar
mandiri berupa e-book menjadikan siswa dapat belajar di mana saja, kapan saja sesuai
dengan kemampuan dan keperluannya.
34
DAFTAR PUSTAKA
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.2014. Pedoman Pembuatan E-Book dan Standar Alih
Media. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI
Bafadal Ibrahim. 2005. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Grasindo.
Sidabariba, Juita. 2017. Manajemen Pengadaan Bahan Pustaka pada Perpustakaan Universitas
Medan Area. Medan: USU Press
35