Proses erosi pada siklus batuan akan berlangsung setelah
batuan telah mengalami pengangkatan untuk batuan intrusif
lalu pelapukan untuk batuan ekstrusif. Proses erosi dibantu
oleh air yang akan menyingkirkan material hasil pelapukan ke
wilayah lain.
Pengendapan
Semua material yang terangkut oleh air ke wilayah lain
nantinya akan berkumpul pada sebuah tempat secara terus
menerus. Lalu semua material itu akan mengendap dan
jumlahnya terus bertambah seiring berjalannya waktu dan
menimbulkan sebuah tumpukan material. Material yang telah
banyak bertumpuk dan mengendap kelamaan akan berubah
menjadi keras atau mengeras.
Pembentukan sedimen
Hasil dari tumpukan material yang mengendap lalu
mengeras akan membentuk batuan jenis baru yang dinamakan
batuan sedimen. Saat batuan sedimen muda terbentuk, ia akan
mengubur batuan sedimen lama atau dengan umur yang lebih
tua. Kemudian ketika ada air atau molekul lain yang masuk, butir
batuan sedimen akan semakin terikat lebih erat satu dengan
yang lain.
Batuan metamorf
Batuan sedimen sebenarnya mempunyai letak yang sama
dengan batuan instrusif yaitu di bawah permukaan bumi,
38
tidak di permukaan bumi. Batuan ini akan mengalami proses
pengangkatan lalu batuan akan terkubur semakin dalam
sehingga pengaruh tekanan dan energi panas bumi meningkat.
Batuan sedimen kemudian akan berubah menjadi batuan jenis
lain yaitu metamorf.
Magma
Setelah batuan mengalami enam proses di atas, pada
akhirnya batuan metamorf akan kembali berubah menjadi
magma. Magma yang membeku lalu mengalami pelapukan
diikuti dengan erosi dan pengendapan hingga terbentuknya
sedimen dan metamorf. Keenam proses di atas ialah proses
siklus batuan yang mana pada akhirnya magma akan kembali
berubah menjadi magma.
Apa itu kekerasan batuan?
Kekerasan (hardness) adalah salah satu sifat mekanik
(mechanical properties) dari suatu material. Kekerasan suatu
material penting diketahui khususnya untuk material yang dalam
penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force),
Kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material
untuk menahan beban indentasi atau penetrasi (penekanan).
Kekerasan memiliki arti berbeda-beda sesuai bidangnya, Pada
pengujian logam kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan
suatu logam terhadap indentasi (penekanan), sedangkan di dalam
mineralogi kekerasan merupakan ketahan suatu mineral terhadap
goresan, yang dapat diukur menggunakan skala kekerasan mohs.
39
Skala kekerasan mineral Mohs mengklasifikasikan resistensi
goresan terhadap berbagai mineral melalui kemampuan suatu bahan
keras menggores bahan yang lebih lunak. Skala ini diciptakan tahun
1812 oleh geolog dan mineralog Jerman Friedrich Mohs. Sampel
materi yang digunakan Mohs adalah semua mineral. Mineral adalah
zat murni yang ditemukan di alam sekitar. Batuan terbuat dari satu
atau beberapa mineral. Sebagai zat alami terkeras yang pernah
ada ketika skala ini dibuat, intan ditempatkan di puncak skala.
Kekerasan bahan diukur terhadap skala ini dengan menemukan
bahan terkeras yang dapat menggores suatu bahan lunak atau
sebaliknya. Misalnya, jika beberapa bahan mampu digores oleh
apatit, namun tidak dengan fluorit, maka kekerasannya pada skala
Mohs dapat menempati nilai 4 dan 5.
Skala Mohs adalah skala ordinal murni. Misalnya, korundum
(9) dua kali lebih keras daripada topaz (8), namun intan (10)
hampir empat kali lebih keras daripada korundum. Tabel di bawah
memperlihatkan perbandingan dengan kekerasan absolut yang
diukur menggunakan sklerometer dengan contoh gambar sebagai
berikut.
Tabel 1. Perbandingan Kekerasan Mohs dengan Kekerasan Absolut
Kekerasan Mineral Formula kimia Kekerasan Gambar
Mohs absolut
1 Talc Mg3Si4O10(OH)2 1
40
Kekerasan Mineral Formula kimia Kekerasan Gambar
Mohs absolut
2 Gipsum CaSO4·2H2O 3
3 Kalsit CaCO3 9
21
4 Fluorit CaF2
5 Apatit Ca5(PO4)3(OH–,Cl–,F–) 48
6 Feldspar KAlSi3O8 72
Ortoklas 100
7 Kuarsa SiO2
8 Topaz Al2SiO4(OH–,F–)2 200
41
Kekerasan Mineral Formula kimia Kekerasan Gambar
Mohs absolut
9 Korundum Al2O3 400
10 Intan C 1600
Bagaiaman membuat perbandingan kekerasan?
“Kekerasan” adalah resistansi material untuk tidak tergores.
Tes ini dilakukan dengan menempatkan bagian yang tajam dari
satu spesimen pada permukaan spesimen lain dan berusaha untuk
menghasilkan goresan. Berikut adalah empat situasi yang bisa
diamati ketika membandingkan kekerasan dua spesimen:
1. Jika Spesimen A bisa menggores Spesimen B, maka
Spesimen A lebih keras daripada Spesimen B.
2. Jika Spesimen A tidak menggores Spesimen B, maka
Spesimen B lebih keras daripada Spesimen A.
3. Jika dua spesimen relatif sama kekerasannya maka kedua
spesimen tersebut akan relatif tidak menghasilkan goresan
(mungkin terjadi goresan kecil, atau mungkin kita akan sulit
menentukan ada atau tidaknya goresan yang terjadi).
4. Jika Spesimen A dapat tergores oleh Spesimen B, tapi
tidak bisa tergores oleh Spesimen C, maka nilai kekerasan
42
Spesimen A berada diantara kekerasan Spesimen B dan
Spesimen C.
43
Daftar Pustaka
Arizona State University. (2018). ‘Slow earthquakes’ on San Andreas
Fault increase risk of large quakes. Online: https://phys.org/
news/2018-06-earthquakes-san-andreas-fault-large.html
Clara, R. (2018). Divergen, Konvergen, Transform. Online: http://www.
academia.edu/11476403/Divergen_Konvergen_Transform
Enjiner. (2018). Struktur Lapisan Bumi Lengkap Dengan Gambar dan
Penjelasannya. Diakses online: https://enjiner.com/struktur-
lapisan-bumi/
Encyclopaedia Britannica. (2009). Encyclopædia Britannica Online. 22
Feb. 2009 “Mohs hardness.”Theophrastus on Stones
^ Pliny the Elder.Naturalis Historia.Book 37.Chap. 15. ADamas: six
varieties of it. Two remedies.
^ Pliny the Elder.Naturalis Historia.Book 37.Chap. 76. The methods of
testing precious stones.
^ Learn science, Intermediate p. 42
^ American Federation of Mineralogical Societies. “Mohs Scale of
Mineral Hardness”
^ Amethyst Galleries’ Mineral Gallery What is important about hardness?
^ Inland Lapidary Mineral Hardness and Hardness Scales
Geost, Flysh. (2016). Skala Kekerasan Mohs dan Cara Menggunakannya.
Online: https://www.geologinesia.com/2016/02/skala-kekerasan-
mohs-dan-cara.html.
Guru Geografi. (2018). Batas Lempeng Konvergen, Divergen dan
Transform. Online: https://www.gurugeografi.id/2017/01/batas-
lempeng-konvergen-divergen-dan.html.
Handy. (2018). Structure of the Earth. Diakses online: https://
handygeography.wordpress.com/gcse/the-restless-earth-revision-
materials/structure-of-the-earth/
Kent C. Condie. (1989). Plate Tectonics and Crustal Evolution, Third Ed:,
Pergamon Press.
45
Kious. J.W, dan Tilling. R.I., (1996). This Dinamic Earth: The Story of
Plate Tectonics, USGS, US.
Lovett, Richard A. (September 5, 2008). “Supercontinent Pangaea
Pushed, Not Sucked, Into Place”. National Geographic News.
Murck. B., (2001). Geology (A Self-Teaching Guide), Jhon Wiley &
Sons, Inc. Canada.
Nurlita, Shafira. (2018). Macam Macam Siklus Batuan Lengkap dengan
Pengertian dan Prosesnya. Online: https://thegorbalsla.com/
siklus-batuan/#Proses_Siklus_Batuan
“Pangaea”. Online Etymology Dictionary.
Thompson, G.R., dan Turk, J., (1997). Introduction to Physical Geology,
Brooks Cole.
Willem A. J. M. van Waterschoot van der Gracht (and 13 other authors):
Theory of Continental Drift: a Symposium of the Origin and
Movements of Land-masses of both Inter-Continental and
Intra-Continental, as proposed by Alfred Wegener. X + 240 S.,
Tulsa, Oklahoma, USA, The American Association of Petroleum
Geologists & London, Thomas Murby & Co, 1928.
46
Profil Penulis
Ahmad Syawaludin, M.Pd. Lahir di Kebumen,
25 Maret 1995. Menempuh pendidikan strata
1 di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah
Dasar Universitas Sebelas Maret (2013-2017),
pendidikan strata 2 di Program Studi Magister
Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret (2017-2019). Minat
penulis dalam bidang kajian pendidikan dasar. Saat
ini, penulis aktif dalam penelitian dan penulisan karya ilmiah dalam
bentuk artikel ilmiah yang diterbitkan di Jurnal Nasional dan Jurnal
Internasional. Buku ini merupakan buku pertama yang ditulis oleh
penulis sebagai buku sumber belajar abad 21 yang dilengkapi dengan
aplikasi android berteknologi augmented reality. Buku ini dapat
digunakan oleh mahasiswa dan calon guru di sekolah dasar.
Prof. Drs. Gunarhadi, M.A., Ph.D. Lahir di
Kebumen, 10 Februari 1955 adalah seorang dosen
dan guru besar di FKIP, Universitas Sebelas Maret.
Menyelesaikan pendidikan strata 1 di FKSS IKIP
Yogyakarta (1981), strata 2 di Special Education
Norwegian Institute of Special Education, Norway
(1988), dan strata 3 di College of Science and Arts
(CAS) Universiti Utara Malaysia (2010). Saat ini
sebagai Kepala Program Studi S3 Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas
Maret. Beberapa buku yang pernah dihasilkan antara lain Strategi
Pembelajaran Model Kluster di Sekolah Inklusif (2013), Learning
47
English through Special Education (2014), Strategi Pembelajaran Model
Kluster di Sekolah Inklusif (2014), Pembelajaran Terdiferensiasi bagi
Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusif (2015).
Dr. Peduk Rintayati, M.Pd., Lahir di Surabaya,
24 Februari 1954 merupakan dosen Program
Studi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret.
Penulis menyelesaikan pendidikan strata 1 di
Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret
(1988), pendidikan strata 2 di PKLH Pascasarjana
Universitas Negeri Jakarta (1999), dan pendidikan
strata 3 di PKLH Pascasarjana Universitas
Negeri Jakarta (2010). Buku-buku yang pernah dihasilkan antara
lain Pencemaran Lingkungan dan Permasalahannya (2009), Zat-zat
Makanan Kimia dalam Makanan, Penyakit Akibat Makanan (2011),
Bumi dan Batuan (2012), Melestarikan Lingkungan dengan Ecotech
Garden (2017), Alam Semesta dan Tata Surya (2017), dan Eksperimen
IPA (2017). Saat ini penulis aktif mengajar dan melakukan penelitian
dan pengabdian kepada masyarakat pendidikan, khususnya dalam
bidang pendidikan IPA di sekolah dasar.
48