KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga e-book ini dapat
tersusun hingga selesai . Dan harapan saya semoga e-book ini dapat menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi e-book agar menjadi lebih baik lagi.Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman saya, Saya yakin masih banyak kekurangan dalam e-book ini, Oleh karena itu saya
sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
e-book ini.,
Samarinda,13 Agustus 2020
DAFTAR ISI
Halaman
Judul.......................................................................................... i
Kata Pengantar........................................................................... ii
Daftar Isi...................................................................................... iii
BAB I : Pendahuluan
A.Latar Belakang............................................................................ 1
B.Rumusan Masalah........................................................................ 1
C.Tujuan Penulisan.......................................................................... 1
BAB II: Pembahasan
A.Pangeran Diponegoro..................................................................
B.Apa itu perang Diponegoro............................................................
C.Sebab - Sebab.............................................................................
D.Strategi yg Dilakukan............................................................
E. Proses Terjadinya Perang.......................................................
F. Mulainya Perang ....................................................................
G. Jalan Peperangan................................................................
H. Akhir Perang .....................................................................
I. Sinofobia............................................................................
J. Dampak Perang...................................................................
K. Tokoh-tokoh.........................................................................
BAB III: Penutup
A.Kesimpulan.................................................................................. 6
B.Saran............................................................................................ 6
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perang diponegoro disebut juga perang Jawa.
Sebab-sebab yang menimbulkan perangDiponegoro itu adalah
peristiwa-peristiwa yang terjadi di kalangan keraton Yogyakarta
maupun didaerah wilayahnya sebagai akibat ikut campurnya
kekuasaan asing dalam tata pemerintahan kerajaan.Sedang
pemimpin peperangan tersebut adalah putera Sultan
Hamengku Buwono III raja Yogyakartabernama Pangeran
Diponegoro. Adapun daerah-daerah yang bergejolak dapat
dikatakan hampermeliputi semua daerah kerajaan. Mataram
yaitu kerajaan besar di Jawa pada abad XVII-XVIII. Karenaitu
tidak mengherankan apabila perang Diponegoro ini juga
disebut perang Jawa. Dan salah satu sebabpecahnya perang
Diponegoro sejak tahun 1825 hingga tahun 1830 itupun tidak
lain karena Kompeniatau kekuasaan Belanda pada waktu itu
ikut campur dalam pemerintahan kerajaan Yogyakarta. Hal
itudirasa oleh Pangeran Diponegoro sangat bertentangan
dengan adat pemerintahan keraton.
B.Rumusan Masalah
1. Siapakah Pangeran Diponegoro?
2. Apa saja yang menyebabkan meletusnya perang
Diponegoro?
3. Bagaimana jalannya perang Diponegoro?
4. Bagaimana akhir perang Diponegoro?
C. Tujuan penulisan makalah
1.Mengetahui siapa pangeran Diponegoro.
2. Mengetahui sebab-sebab meletusnya perang Diponegoro.
3. Mengetahui jalannya perang Diponegoro.
4. Mengetahui akhir perang Diponegoro
BAB II
PEMBAHASAN
PERANG DIPONEGORO
Perang Diponegoro – Perang adalah sebuah aksi dari fisik dan juga non fisik maupun
kondisi permusuhan dengan adanya kekerasan yang biasanya terjadi antara dua ataupun lebih
kelompok manusia. Peperangan dilakukan untuk melakukan dominasi di wilayah yang
dipertentangkan.
Perang adalah turunan dari sifat dasar manusia yang tetap ada sampai sekarang memelihara
dominasi dan juga persaingan untuk sarana memperkuat diri dengan cara menundukan pihak
musuh.
A.Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro adalah salah satu pangeran yang juga
dikenal sebagai salah pahlawan nasional Republik Indonesia
yang sangat berani untuk melawan para penjajah Belanda.
beliau adalah tokoh pejuang yang berasal asli dari Indonesia
yaitu daerah Yogjakarta. Perang Diponegoro adalah perang
terbesar yang terjadi Di pulau Jawa.
Pangeran Diponegoro bernama Bendoro Raden mas Ontowiryo
yang merupakan anak sulung dari Sultan Hamengkubuwana III
yang merupakan raja Mataram. Pangeran Diponegoro lahir
pada tanggal 11 November 1785. Ibunya adalah seorang selir
yang bernama R.A Mangkarawati yang berasal dari Pacitan.
Beliau menolak keinginan dari sang ayah yang ingin
mengangkatnya menjadi seorang raja karena ia menyadari
bahwa ia adalah anak dari seorang selir dan bukan permaisuri.
merupakan anak yang berasal dari golongan ningrat yang
biasanya hidupnya penuh dengan kenyamanan dan juga
istimewa, namun pangeran Diponegoro lebih tertarik untuk
kehidupan yang merakyat dan memiliki kesetaraan dengan
rakyat. Ia juga memilih untuk tinggal di luar keraton yaitu
memilih untuk tinggal di desa Tegalrejo.
Dan ini adalah beberapa kebiasaan pangeran Diponegoro:
Gemar minum anggur bersama dengan para orang-orang Eropa
namun tak menjadikannya sebagai kelebihan yang
berlebihan.
Kebiasaan pangeran Diponegoro yang suka mengunyah sirih .
Mengoleksi emas dan juga berlian dan benda berharga miliknya
adalah batu akik hitam yang disimpan dalam pembungkus
emas.
Kesenangannya ialah memelihara burung dan juga berkebun,
membangun kebun dengan menanam bunga, sayuran, dan juga
ada buah-buahan dan pepohonan yang hijau.
Pangeran mempunyai 12 putra dan 10 putri yang keturunannya
kini ada tersebar di seluruh Dunia, seperti Jawa, Madura,
Sulawesi, Dan Maluku, bahkan ada yang di luar negeri Di
Australia, Serbia, Jerman, Beland a, dan Arab Saudi.
B.Apa itu Perang Diponegoro
Di Indonesia juga pernah mengalami masa peperangan yang
terjadi hampir di semua daerah, nah untuk ulasan kali ini kita
akan membahas mengenai peperangan yang terjadi
Diponegoro. Perang diponegoro adalah perang besar yang
terjadi selama 5 tahun yaitu pada tahun 1825 sampai 1830 di
pulau Jawa, Hindia Belanda. Perang diponegoro juga dikenal
dengan perang jawa.
Perang ini salah satu pertempuran terbesar yang terjadi di
Indonesia yaitu antara Belanda dan penduduk Nusantara. Pada
saat itu pasukan dari Belanda dipimpin oleh Hendrick Merkus
De kock dan penduduk Jawa dibawah pimpinan Pangeran
Diponegoro.
Pada saat masa peperangan terjadi banyak penduduk jawa
yang tewas yang mencapai 200.000 jiwa dan dari pihak Belanda
8.000 dan serdadu Pribumi sebanyak 7.000.
C. Sebab Terjadinya Perang Diponegoro
Dibawah pimpinan pangeran Diponegoro terjadinya
perlawanan rakyat pada 1825 hingga 1830 yaitu satu
perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda. penyebab
terjadinya perang Diponegoro dapat disimpulkan ada dua
alasan yaitu sebab umum dan juga sebab khusus.
Berikut ini sebab-sebab umum yang membuat terjadinya
perlawanan Diponegoro:
1.Timbulnya rasa kekecewaan di kalangan para ulama, karena
masuknya budaya barat yang tidak sesuai dengan ajaran agama
Islam
2 .Wilayah kesultanan Mataram yang semakin sempit dan para
raja sebagai pengusaha Pribumi yang mulai kehilangan
kedaulatan.
3. Belanda ikut campur tangan dalam masalah kesultanan
4. Sebagian dari bangsawan merasa kecewa karena Belanda
tidak mau mengikuti adat istiadat dari keraton.
5. Para bangsawan juga merasa kecewa karena Belanda telah
menghapus sistem penyewaan tanah oleh para bangsawan
kepada petani yang mulai terjadi pada tahun 1824.
6. Kehidupan rakyat yang semakin menderita dan juga disuruh
kerja paksa dan harus membayar berbagai macam pajak.
. Pajak tanah
. Pajak jumlah pintu
. Pajak ternak
. Pajak pindah rumah
. Pajak pindah nama
. Pajak menyewa tanah atau menerima jabatan
Dan pemasangan Patok oleh Belanda untuk pembangunan
jalan yang melintasi tanah dan juga makam para leluhur
pangeran Diponegoro di Tegalrejo, pemasangan ini terjadi
tanpa izin dari kerajaan sehingga ditentang oleh Pangeran
Diponegoro.
Sebab khusus ialah provokasi yang dilakukan oleh pihak
Belanda untuk merencanakan pembuatan jalan menerobos
tanah pangeran Diponegoro dan juga membongkar makam
keramat. Diponegoro tersingkir dari kekuasaan karena telah
menolak untuk berkompromi dengan Belanda dan lebih
memilih untuk ke Tegalrejo dan memusatkan perhatian pada
perkembangan keagamaan. Hal ini membuat pangeran marah
dan membangun pertahanan di Selarong dan dukungan kepada
Diponegoro datang dari mana-mana yang membuat pasukan
Diponegoro menjadi lebih kuat.
D. Strategi Yang Dilakukan Dalam War
in Ponegoro
Didalam upaya untuk menghadapi pasukan Belanda,
Pangeran Diponegoro memakai sebuah taktik, yang diberi
nama Taktik Gerilya yaitu sebuah strategi yang dilakukan
dengan cara melakukan pengelabuan, serangan kilat dan juga
pengepungan tak terlihat.
Sedangkan dari pihak Belanda, untuk menghadapi pasukan
Diponegoro, pasukan Belanda yang kala itu di pimpin dengan
De Kock menggunakan sebuah taktik yang diberi nama dengan
Benteng Stelsel.
Benteng Stelsel yaitu sebuah startegi yang dilakukan dengan
cara mendirikan benteng-benteng di setiap daerah yang
dikuasainya, benteng tersebut dihubungkan dengan jalan agar
komunikasi dan juga pergerakan dari pasukan tersebut berjalan
lancar.
Adapun tujuan dari diterapkannya sistem Benteng Stelsel
adalah sebagai berikut :
. Unntuk mempersempit atau membatasi ruang gerak dari
pasukan Diponegoro.
. Bertujuan untuk memecah belah pasukan Diponegoro.
. Untuk mencegah masuknya berbagai bantuan untuk Pangeran
Diponegoro.
. Melemahkan segala upaya yang dilakukan oleh pasukan
Diponegoro.
. Bagi Belanda sendiri dapat memperlancar hubungan antara
Belanda jika mendapat serangan dari pasukan Pangeran
Diponegoro
E. Proses Terjadinya Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro memimpin atas pasukannya dengan
perang gerilya. Gubernur Jenderal Van der Capellen
menjalankan strategi yaitu mendirikan benteng di setiap
tempat yang ia kuasai. Dan juga untuk mempersempit gerakan
dari pasukan Diponegoro.
Karena melemahnya kedudukan Diponegoro sehingga
menyebabkan ia menerima tawaran untuk perundingan dengan
Belanda Di Magelang. Perundingan inipun gagal dalam
mencapai kata sepakat.
Karena inilah pangeran Diponegoro ditangkap dan dipindahkan
ke Manado kemudian dipindahkan lagi ke Makassar. Perang
ini berlangsung selama 5 tahun dan membawa dampak yang
membuat kekuasaan wilayah yogyakarta dan Surakarta
berkurang, dan banyak menguras kas Belanda.
F. Mulainya perang
Pada pertengahan bulan Mei 1825, Smissaert memutuskan
untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta.
Namun, pembangunan jalan yang awalnya dari Yogyakarta ke
Magelang melewati Muntilan dibelokkan melewati pagar
sebelah timur Tegalrejo. Pada salah satu sektor, patok-patok
jalan yang dipasang orang-orang kepatihan melintasi makam
leluhur Pangeran Diponegoro. Patih Danurejo tidak
memberitahu keputusan Smissaert sehingga Diponegoro baru
mengetahui setelah patok-patok dipasang. Perseteruan terjadi
antara para petani penggarap lahan dengan anak buah Patih
Danurejo sehingga memuncak di bulan Juli. Patok-patok yang
telah dicabut kembali dipasang sehingga Pangeran Diponegoro
menyuruh mengganti patok-patok dengan tombak sebagai
pernyataan perang.
Pada hari Rabu, 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati
keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk
menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di
Tegalrejo sebelum perang pecah. Meskipun kediaman
Diponegoro jatuh dan dibakar, pangeran dan sebagian besar
pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di
Tegalrejo. Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan
pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten
Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga keesokan
harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah
barat dari Kota Bantul. Pangeran Diponegoro kemudian
menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun
Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya.
Pangeran menempati goa sebelah barat yang disebut Goa
Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaannya, sedangkan
Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani
Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya
menempati Goa Putri di sebelah Timur.
Penyerangan di Tegalrejo memulai perang Diponegoro yang
berlangsung selama lima tahun. Diponegoro memimpin
masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi
yang menyumbangkan uang dan barang-barang berharga
lainnya sebagai dana perang, dengan semangat "Sadumuk
bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; "sejari kepala sejengkal
tanah dibela sampai mati". Sebanyak 15 dari 19 pangeran
bergabung dengan Diponegoro. Bahkan Diponegoro juga
berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya
ditakuti oleh penduduk pedesaan, meskipun hal ini menjadi
kontroversi tersendiri.[8] Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai
Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.
Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi
dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung
Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.
G. Jalan peperangan
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan
infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon
menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua
belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran
terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran
berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah
dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam
harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan
pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun
dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan
perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan
dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung
terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik
sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan
informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang.
Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu,
kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama, karena
taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui
penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan
pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali
untuk bekerja sama dengan alam sebagai "senjata" tak
terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan
melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding,
karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan
mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya
merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan
kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika
gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan
pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka
bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan
bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan
pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando
Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak
gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pencarian Diponegoro di Magelang.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap
Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga
Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Mojo,
pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul
kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya
Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda.
Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock
berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana,
Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri
dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Oleh karena
itu, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado,
kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di
Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Pertempuran di Pluntaran.
Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan
bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban
dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu
berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa.
Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta
menyusut separuhnya.
Karena bagi sebagian orang Keraton Yogyakarta Diponegoro
dianggap pemberontak, konon keturunan Diponegoro tidak
diperbolehkan lagi masuk ke keraton hingga Sri Sultan
Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan
Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan
yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro
dapat bebas masuk keraton, terutama untuk mengurus silsilah
bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
H. Akhir Perang
Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang
Padri di Sumatra Barat. Penyebab Perang Paderi adalah
perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat
(orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam,
ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan
paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba
mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus
melawan baik kaum adat dan kaum paderi yang belakangan
bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I
antara 1821-1825, dan babak II.
Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa
menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatra Barat untuk
menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan
gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825,
dan sebagian besar pasukan dari Sumatra Barat dialihkan ke
Jawa. Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830),
kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah
Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin Perang
Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya ditangkap. Berakhirlah
Perang Padri.
Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1832 seluruh raja dan
bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati
Ponorogo Warok Brotodiningrat III, justru hendak menyerang
seluruh kantor belanda yang berada di kota-kota karesidenan
Madiun dan di jawa tengah seperti Wonogori, karanganyar
yang banyak di huni oleh Warok.
Dalam catatan Belanda, para Warok yang memiliki skill
berperang dan ilmu kebal sangat tangguh bagi pasukan Belanda.
Maka dari itu untuk menghindari yang merugikan pihak
Belanda, terjadinya sebuah kesepakatan untuk di buatkanlah
kantor Bupati di pusat Kota Ponorogo, serta fasilatas penunjang
seperti jalan beraspal, rel kereta api, kendaran langsung dari
Eropa seperti Mobil, motor hingga sepeda angin berbagai
merek, maka tidak heran hingga saat ini kota dengan jumlah
sepeda tua terbanyak berada di ponorogo yang kala itu di
gunakan oleh para Warok juga.
I. Sinofobia
Masyarakat Tionghoa yang dipandang sebagai sekutu oleh
Raden Ronggo dalam pemberontakannya berubah menjadi
musuh dalam peperangan Diponegoro. Hal tersebut disebabkan
mencuatnya sikap anti-tionghoa oleh masyarakat Jawa yang
disebabkan oleh beberapa hal berikut:
1. Kebijakan ekonomi yang memberatkan rakyat oleh Keraton
Yogyakarta akibat intervensi pemerintah Belanda dijalankan
melalui perantaraan etnis Tionghoa
2. Monopoli perdagangan kayu jati yang dipaksakan oleh Daendels
(1809) menyebabkan bupati-bupati lokal kehilangan
pemasukannya yang jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha
Tionghoa.
3. Bantuan yang diberikan Kapitan Tionghoa di Yogyakarta, Tan
Jin Sing, saat penyerbuan tentara Inggris, sepoy, dan pasukan
Notokusumo ke Keraton Yogyakarta (Juni 1812).
4. Kebijakan pajak Raffles (1812-1813) agar petani membayar
pajak tanah dalam bentuk uang tunai dan menghilangkan kerja
rodi tidak tepat sasaran karena para petani Jawa pada saat itu
terbiasa dengan barter. Akibatnya, mereka terjerumus hutang
kepada para renternir Tionghoa setempat yang diberi wewenang
dalam mengurus pajak.
5. Kebijakan monopoli gerbang cukai (bandar) oleh Belanda (1816)
menyebabkan biaya fiskal yang harus dikeluarkan pengusaha
Tionghoa meningkat tajam dan berdampak pada para petani
Jawa yang mereka pekerjakan.
6. Larangan Pangeran Diponegoro untuk menjalin relasi politik
dengan etnis Tionghoa sesuai peringatan leluhurnya yaitu Sultan
Mangkubumi.
7. Anggapan Pangeran Diponegoro yang ditulis dalam Babadnya
bahwa dirinya tergoda oleh tukang pijat beretnis Tionghoa pada
malam sebelum perang Gawok (Oktober 1986) sehingga
menyebabkan dirinya kehilangan kekebalan tubuhnya
(mendapat luka saat perang) dan mengalami kekalahan.
8. Kekalahan Tumenggung Sosrodilogo, bupati Bojonegoro
sekaligus saudara ipar pangeran, di bulan Januari 1828 dianggap
Diponegoro disebabkan Sosrodilogo telah menjamahi seorang
peranakan Tionghoa di Lasem.
Penyerangan terhadap etnis Tionghoa di Jawa Tengah dan Jawa
Timur terjadi semenjak awal peperangan. Catatan Payen,
seorang arsitek di Yogyakarta, menyebutkan bahwa komunitas
Tionghoa di Yogyakarta dibantai tanpa mempedulikan wanita
maupun anak-anak. Komunitas Tionghoa di Bagelen sempat
bertahan hingga tahun 1827 sebelum akhirnya diungsikan ke
Wonosobo. Meskipun demikian, masyarakat Tionghoa di pesisir
pantai utara (sekitar Tuban dan Lasem) ikut memasok pasukan
Diponegoro dengan senjata, uang, dan opium (pada masa
tersebut penduduk Jawa banyak yang kecanduan opium,
termasuk pasukan Diponegoro). Setelah perang berakhir,
kerukunan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lain di
Jawa tidak dapat kembali seperti semula karena timbulnya rasa
saling curiga akibat trauma selama perang, misalnya peristiwa
di Bagelen saat penduduk Jawa lokal meminta komunitas
Tionghoa yang mengungsi agar kembali.
J. Dampak Perang Diponegoro
Dampak perang diponegoro yang berlangsung selama
lima tahun adalah sebagai berikut.
. Banyaknya korban jiwa di kedua belah pihak. Bahkan menurut
beberapa literur, perang Diponegoro hanya menyisakan
setengah dari jumlah penduduk Yogyakarta secara keseluruhan.
. Hilangnya harta benda
. Sikap rela berkorban ditunjukkan Pangeran Diponegoro dan
para pengikutnya
. Sikap membela tanah air dan agama juga ditunjukkan oleh
para pengikut Pangeran Diponegoro
. Sikap menghargai jasa para pahlawan ditunjukkan oleh Sri
Sultan Hamekubuwana IX yang memberikan amnesti bagi
keturunan Pangeran Diponegoro karena oleh sebagian orang di
Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro adalah
pemberontak.Perang Diponegoro
K. Tokoh yang Terlibat dalam Perang
Diponegoro
. Raden Mas Ontowiryo atau Pangeran Diponegoro
. Pangeran Mangkubumi – paman sekaligus pendamping
Pangeran Diponegoro
. Sentot Ali Basah Parwirodirdjo – Panglima Perang Pangeran
Diponegoro yang kelak dikirim Belanda untuk berperang
melawan Tuanku Imam Bonjol
. Kyai Mojo – pemimpin spiritual pemberontakan
. K. I.S.K.S Pakubuwono VI
. Raden Tumenggung Prawirodigdoyo – Bupati Gagatan
. Nyi Ageng Serang atau R.A Kustiah Retno Edi
. R.M Papak – cucu Nyi Ageng Serang
. Pangeran Adinegoro – adik Pangeran Diponegoro yang
diangkat sebagai patih dengan gelar Suryenglogo
. Pangeran Suryokusumo dan Tumenggung Reksoprojo –
memimpin perlawanan di daerah Bagelen
. Kiai Muhammad Anfal, Mulyosentiko, dan Kiai Hasan Besari –
memimpin perlawanan di daerah Kedu
. Pangeran Abubakar didampingi Pangeran Muhammad –
memimpin perlawanan di Lowanu
. Pangeran Adisuryo dan Pangeran Somonegoro memimpin
perlawanan di Kulon Progo
. Pangeran Joyokusumo – memimpin perlawanan di
Yogyakarta bagian utara
. Suryonegoro, Somodiningrat, dan Suronegoro – memimpin
perlawanan di Yogyakarta bagian timur
. Kertopengasalan – memimpin perlawanan di daerah Plered
. Wrasokusumo dan Mertoloyo – memimpin perlawanan di
daerah Pajang
. Tumenggung Kertodirjo dan Mangunnegoro – memimpin
perlawanan di daerah Sukowati
. Tumenggung Gajah Pernolo – memimpin perlawanan di
daerah Gowong
. Pangeran Serang – memimpin perlawanan di Serang
. Pangeran Notobroto Projo – memimpin perlawanan di
daerah Langon
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Perang diponegoro adalah perang yang berlangsung antara
tahun 1825-1830 di dareah jawatengah dan sebagian jawa
timur. Dalam perang terjadi antara Belanda penduduk pribumi
yang dipimpinoleh Pangeran Diponegoro. Perang ini disebabkan
pihak Belanda membangun jalan dari Yogyakartake Magelang
yang melewati makam lelehur pangeran Diponegoro. Dalam
peperangan yangberlangsung selama lima tahun ini
dimenangkan oleh pihak belanda. Setelah kekalahan
tersebutpangeran Diponegoro di tangkap dan di asingkan ke
Manado dan dipindahkan ke Makassar sampaibeliau wafat
tanggal 8 januari 1855. Perang ini juga mengakibatkan banyak
korban tewas dari pihakBelanda maupun pribumi.
B.Saran
Semoga dibuat nya e-book ini, kita bisa mengetahui betapa
susahnya pejuang Indonesia zaman dahulu merebut NKRI, dari
bertaruh harta maupun nyawa janganlah melupakan jasa
pahlawan yang telah gugur dalam membela Indonesia dan
semoga kita bisa mengambil nilai- nilai luhur dari mereka
PERMAINAN
Bantu pangeran diponegoro menuju peperangan