The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berisikan tentang kebijakan Jepang di bidang ekonomi dan Sosial-budaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bonaamarsev, 2022-03-27 22:32:17

Kebijakan Jepang di Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya

Berisikan tentang kebijakan Jepang di bidang ekonomi dan Sosial-budaya

Keywords: Sejarah Indonesia

Kebijakan Ekonomi
Sistem Ekonomi Perang

Keterlibatan Jepang dalam kegiatan ekspor-impor dengan
Hindia Belanda pada masa penjajahan Belanda sudah berlangsung
lama, setidaknya sejak awal abad XX yang mana dapat digambarkan
bagaimana jaringan bisnis Jepang berkembang sejalan dengan
semangat "ekspansi ke selatan" yang melibatkan konsulat Jepang di
Batavia dalam setiap negosiasi ekspor-impor dengan Hindia Belanda.
Hal ini pada gilirannya menimbulkan friksi politik yang berlanjut
dengan kecurigaan Belanda terhadap unsur Jepang di Hindia
Belanda. Sikap anti Jepang dalam kebijakan ekonomi Belanda di
Hindia Belanda sudah menjadi gejala pada awal abad XX dan ini
semakin meningkat menjelang meletusnya Perang Dunia II. Pihak
Jepang lama-kelamaan menuntut konsesi yang lebih luas terhadap
impor bahan mentah dari Hindia Belanda, namun mereka tidak dapat
berbuat banyak karena kendali kekuasaan ekonomi Hindia Belanda
berada di tangan Belanda. Ketika pusaran angin kekuasaan berubah
seratus delapan puluh derajat, Jepang bisa menuntut apa saja kala
kekuasaan Belanda di Hindia Belanda sudah runtuh. Hanya beberapa
bulan setelah pendudukannya, Jepang pun mulai menggariskan
kebijakan ekonominya di daerah pendudukan (Hindia Belanda).

1 Gambar 1

Kebijakan ekonomi yang akan diterapkan di "Indonesia"
dirumuskan secara tergesa-gesa pada 12 Desember 1941, lima hari
setelah perang dimulai. Kebijakan tersebut diantaranya bahwa
Indonesia harus berswasembada dalam memenuhi kebutuhannya
(sistem autarki). Semua milik musuh (Belanda), harus diambil-alih,
sedangkan barang-barang impor dari Jepang hanya boleh
dimanfaatkan oleh mereka yang bekerja untuk kepentingan Jepang.
Dan mengenai peningkatan produksi bahan mentah dan bahan baku,
prioritas diberikan kepada produksi minyak bumi, sedangkan
industri yang lebih diutamakan ialah industri yang menghasilkan
bahan yang bermanfaat bagi Jepang.

Penguasaan dan Pengawasan

Penguasaan atas Indonesia dianggap penting dilihat dari 2
tujuan. Pertama, untuk menguasai dan memperoleh sumber-sumber
bahan mentah, terutama minyak bumi yang sangat diperlukan untuk
menghadapi perang. Kedua, untuk memotong garis suplai musuh
yang bersumber dari wilayah ini (Indonesia). Jepang memperkirakan
bahwa perang akan berlangsung lama, sehingga penguasaan atas
daerah Indonesia yang kaya akan bahan mentah ini akan
meringankan beban yang harus mereka pikul.

Gambar 2 2

Pada waktu Jepang tiba di "Indonesia" mereka menghadapi
kenyataan bahwa banyak objek vital, terutama instalasi minyak
bumi, sudah dibumihanguskan Belanda. Prasarana ekonomi, seperti
jembatan, alat-alat transportasi, dan telekomunikasi dalam keadaan
rusak. Oleh karena itu, langkah pertama adalah merehabilitasi
prasarana ekonomi. Dalam mengadakan pengawasan terhadap
kegiatan ekonomi, dikeluarkan berbagai peraturan, antara lain
mengawasi penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan
berbagai jenis barang. Penyitaan aset milik Belanda dilaksanakan
dengan ketat. Harga-harga dikendalikan untuk mencegah terjadinya
manipulasi. Sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh
pemerintah pusat di Tokyo pada Desember 1941, maka semua aset
milik Belanda disita dan dijadikan milik pemerintah Pendudukan
Jepang. Aset tersebut antara lain perkebunan, bank, pabrik, dan
perusahaan vital (pertambangan, listrik, telekomunikasi, dan
transportasi).

Gambar 3

3

Contohnya untuk diperkebunan dibentuk badan pengawas
perkebunan yang dinamakan Kigyo Saibaien (Penguasa Perkebunan)
yang ditunjuk oleh Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer). Untuk di
pabrik seperti pabrik kina di Bandung yang sebelumnya dibawah

Bandoengsche Kinine Fabriek (BKF) diambil alih oleh maskapai
swasta Jepang Takaco; untuk pabrik gula dibentuk badan pengawas
yang bernama Togyo Rengokai (Persatuan Perusahaan Gula); untuk
perusahaan gulanya sendiri diambil alih oleh maskapai swasta
Jepang seperti Meiji Seito Kaisha, Okinawa Seito Kaisha, Taiwan Seito
Kaisha, dan Dai Nippon Seito Kaisha. Untuk distribusi dan penjualan
diambil alih oleh Jawa Hanbai Rengo Kumiai. Untuk perusahan

tambang, khususnya minyak bumi diambil alih oleh Mitsui Kabushiki
Kaisha. Dan untuk perbankan sendiri yang sebelumnya berada di
bawah bank-bank Belanda seperti De Javasche Bank, Nederlandsche
Handels Maatschappij, Nederlands Indische Escomto Bank, dan
Batavia Bank digantikan oleh bank-bank Jepang seperti Yokohama
Ginko, Mitsui Ginko, Taiwan Ginko, dan Kana Ginko yang mana
kesemuannya di bawah supervisi Nanpo Keihatsu Kenso

(Perbendaharaan untuk Wilayah Selatan)

Gambar 4 4

Sistem Autarki

Autarki adalah sistem perekonomian swasembada dan
perdagangan terbatas yang dilakukan dalam suatu negara/wilayah.

Sistem ini diterapkan dengan tujuan agar setiap daerah bisa
memenuhi kebutuhannya sendiri. Ketika menjajah Indonesia, Jepang
membuat memberlakukan sistem Autarki ini, di mana setiap daerah
diharapkan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri.

Gambar 5 Pada masa itu setiap shu
(provinsi) harus melakukan
autarki, disesuaikan dengan
situasi perang. Wilayah
pemerintahan Tentara ke-16
dibagi menjadi 17 lingkungan
autarki, wilayah Tentara ke-25
di bagi atas 3 lingkungan

autarki, dan wilayah minseifu (Kantor Pemerintahan Sipil dibawah
Kaigun) dibagi atas 3 lingkungan autarki. Dalam rangka
desentralisasi ekonomi, wilayah "Indonesia" oleh Jepang diberi
instruksi mengemban 2 tugas. Pertama, memenuhi kebutuhan sendiri
agar dapat bertahan. Kedua, mengusahakan produksi barang-barang
untuk kepentingan perang (dalam hal ini Perang Asia Timur Raya).
Untuk melaksanakan kedua tugas tersebut, penduduk dan kekayaan
"Indonesia" harus dikorbankan dan kepentingan perang mendapat
prioritas paling tinggi.

5

Keuangan, Perdagangan dan Industri

Pada bidang moneter, pemerintah Jepang berusaha
mempertahankan nilai gulden atau rupiah hindia belanda. Tujuannya
agar harga barang dapat
dipertahankan seperti sebelum

perang dan untuk mengawasi
lalu lintas permodalan & arus
kredit.

Gambar 6

Gambar 7 Bank bekas musuh dilikuidasi
berdasarkan Undang-undang No
13/1942 antara lain De Javasche
Bank, Nederlandshe Handels
Maatschapppij, Nederlands-
Indische Escompto Bank dan
Batavia Bank.

Sedangkan bank milik Inggris Gambar 8
masih diberi kesempatan untuk
membayar hutang sampai batas
waktu 20 November 1942 antara
lain The Chartered Bank of India,
The Hong Kong and Shanghai
Corporation Ltd dan Oversea
Chinese Banking Corporation Ltd.

6

Pada bidang perpajakan, diadakan pemungutan dari berbagai
sumber termasuk pajak penghasilan terutama yang berpenghasilan

f30.000 setahun. Antara orang Eropa dan Cina terdapat perbedaan
yaitu berbanding 70 dan 35 kali dari jumlah yang dibayarkan pada
masa penjajahan Hindia Belanda.

Pada bidang

perdagangan umumnya

lumpuh karena
menipisnya persediaan.

Barang yang dibutuhkan
rakyat didistribusikan
melalui penyalur yang
ditunjuk. Pengendalian
harga dilakukan untuk
Gambar 9

mengurangi manipulasi. Osamu Seirei No.38/1943 menetapkan bahwa
semua barang harus dijual dengan harga yang ditentukan.

Barang tersebut dibagi
menjadi dua golongan yaitu
barang yang dapat digunakan
langsung untuk kepentingan
perang dan barang yang
menyangkut kehidupan dan
kebutuhan rakyat.

Gambar 10

7

Dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi, Pulau Jawa sebagai
salah satu “Lingkungan
Kemakmuran Bersama Asia Timur

Raya” mempunyai dua tugas yaitu
memenuhi kebutuhan sendiri untuk
tetap bertahan dan mengusahakan
produksi barang untuk kepentingan
perang.

Sebenarnya sejak tahun 1942
keadaan beras dalam kondisi

mengkhawatirkan. Sehingga untuk Gambar 11
produksi bahan makanan

direncanakan dengan menambah areal tanah, hal ini dilakukan
dengan jalan membuka tanah baru terutama bekas perkebunan dan
memanfaatkan tanah lainnya yang belum ditanami.

Bimbingan secara

intensif juga dilakukan melalui
para penyuluh pertanian
terkait cara bertani modern,
namun para penyuluh ini juga
bukanlah orang yang benar-
benar mengerti. Hal ini
membuat produksi bahan

Gambar 12

makanan terus merosot. Jumlah pemotongan hewan yang

meningkat dan menurunnya angka kelahiran hewan yang berguna
untuk pertanian juga turut mempengaruhi menipisnya
bahan pangan.
8

Untuk memecahkan masalah beras ini pada Sidang Cho Sangi
In tanggal 08 Januari 1945 dibahas mengenai meningkatkan
partisipasi rakyat dalam hal pengumpulan padi. Namun rencana
tersebut gagal akibat perlawanan dari rakyat desa.

Gambar 13

Disamping beban menyetor padi, rakyat juga masih dibebankan
untuk menanam dan memelihara jarak. Masalah sandang
diusahakan dengan percobaan menanam kapas dan usaha lainnya.
Karena sebagian rakyat sudah memakai pakaian dari karung bahkan
ada yang mengganti pakaian dari lembaran karet mentah.

Jepang juga memerintahkan gerakan mengumpulan barang
perhiasan yang wajib dilakukan oleh rakyat Indonesia sebagai usaha
merampas kekayaan rakyat. Pengumpulan ini diberi batas waktu
dari 20 Desember 1944 – 20 Januari 1945

9

Di bidang keuangan, pemerintah hanya memperoleh
pemasukan dari sumber yang terbatas yaitu pemungutan pajak dan
penjualan hasil perkebunan. Untuk menutup defisit maka satu-
satunya jalan adalah mengeluarkan uang baru.

Gambar 14

Karena sirkulasi uang sangat besar, maka Jepang
mengadakan kampanye menabung untuk menyedot sebagian uang
yang beredar. Pengawasan kenaikan harga tidak berhasil hal ini
menimbulkan harga-harga baru di pasar gelap sekalipun diancam
hukuman berat.

Sesuai dengan asas ekonomi perang, maka bidang
perdagangan di monopoli maskapai swasta Jepang seperti Mitsui
Kabushiki Kaisha, Osaka Reina Kabushiki Kaisha. Monopoli juga
dilakukan dalam pembelian, penjualan, pemagian barang yang
berasal dari Kumiai. Sebaliknya pedagang pribumi diawasi secara
keras, barang yang dijual harus didaftar dan dilaporkan hasil

penjualannya.

10

Kontrol Pertanian dan Perkebunan

Tanpa petunjuk dari Gunseikan semua pihak dilarang untuk
melakukan rehabilitasi perusahaan perkebunan. Larangan ini
dikaitkan dengan kepentingan perang dimana tidak semua
perkebunan dinilai sebagai perusahaan penunjang perang. Hanya
beberapa jenis perkebunan yang mendapat perhatian Jepang yaitu
Karet dan Kina. Kina dianggap penting karena bahan obat-obatan
yang vital bagi perang sehingga kelangsungan hidup perkebunannya
diperhatikan dengan benar. Demikian juga karet dianggap penting. Di
Jawa Timur diharapkan semua perkebunan karet terus bekerja. Di
Sumatra perkebunan karet direhabilitasi seluas 672.000 hectare
dengan total 216 perkebunan. Kopi, teh dan tembakau
diklasifikasikan sebagai barang kenikmatan yang kurang berguna
bagi usaha perang maka ketiganya diganti dengan tanaman
penghasil bahan makanan dan tanaman jarak untuk pelumas.

Gambar 15

Di Jawa hal ini dilakukan dengan menebang pohon kopi
sedangkan di Sumatra diusahakan menanam padi pada bekas
perkebunan tembakau.

11

Gambar 16 Hasil perkebunan lain
yaitu gula. Industri gula
Alasannya untuk diusahakan kembali dengan
mengurangi jumlah gula modal swasta Jepang. Namun
yang beredar dan juga karena persediaan gula
untuk menekan jumlah dianggap telah cukup,
produksi. Cara lain Gunseikan mengeluarkan
adalah dengan mengubah Osamu Seirei No.31/1944 yang
prabrik gula menjadi menyatakan bahwa rakyat
pabrik senjata atau dilarang menanam tebu dan
memindahkan ke tempat membuat gula.
lain untuk kepentingan
perang. Gambar 17

12

Kebijakan Sosial & Budaya

Romusha

Romusha adalah sistem kerja
paksa yang diterapkan Jepang
kepada penduduk Indonesia saat
masa penjajahan. Jepang
mendirikan Persemakmuran Asia
Timur Raya dengan menyerang
pangkalan militer Amerika Serikat
di Pearl Harbour, Kepulauan
Hawaii.

Gambar 19 Gambar 18

13 Tenaga kerja romusha berasal dari
desa-desa di Pulau Jawa yang
dipekerjakan secara sukarela. Pekerjaan
ini disebut Romusha atau sistem kerja
paksa. Romusha berlangsung selama tiga
tahun dari 1942 sampai 1945. Awalnya,
romusha dilakukan secara sukarela dan
dipekerjakan tidak jauh dari tempat
tinggal. Namun, sistem tenaga kerja
mulai dipaksakan sampai kepala
keluarga wajib menyerahkan anak
lelakinya untuk bekerja, karena Jepang
terdesak dalam perang Pasifik.

Tujuan Romusha

Jepang membutuhkan bantuan untuk proses pembangunan,
seperti kubu pertahanan, jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan
lapangan udara di Indonesia. Pengerahan tenaga kerja ini disebut
romusha yang awalnya didukung rakyat Indonesia.

Tujuan romusha adalah memperkerjakan masyarakat secara
sukarela untuk proses pembangunan dan propaganda Jepang.
Propaganda yang dilakukan Jepang untuk membentuk barisan
romusha yang bertugas membela negara dan membangun
kemakmuran.

Tenaga kerja romusha kebanyakan diambil dari desa-desa.
Mereka yang bekerja sukarela dan sifatnya sementara. Tenaga kerja
juga dikirim ke luar negeri seperti Burma, Malaysia, Thailand dan
Indocina.

Gambar 20 Dampak Romusha

Romusha berdampak pada
tenaga kerja yang mengalami
siksaan dan kelaparan. Mereka
dipaksa terus melakukan
pekerjaan berat seperti
meratakan bukit, menggempur
batu-batu di pegunungan, hingga
menebang kayu di hutan.

14

Dampak romusha bagi bangsa Indonesia membuat banyak
kematian, kesakitan, kekurangan makan, sampai terjadi banyak
kecelakaan ketika bekerja.Romusha membuat perubahan struktur di
Indonesia berubah. Pemuda yang bekerja sebagai tani menghilang
dari desa karena takut dikirim untuk bekerja romusha. Jepang juga
mengeksploitasi sumber daya alam seperti perkebunan dan fasilitas

transportasi. Mereka membatasi dan menerapkan peraturan
masyarakat Indonesia untuk produksi perang.

Tahun 1944, Jepang mulai
terdesak karena Perang Asia

Timur Raya. Pada 1 Maret 1945,
Letnan Jendral Kumakhici
Harada, pimpinan pemerintah
pendudukan Jepang di Jawa
membentuk Badan Penyelidik
Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia

Gambar 21 (BPUPKI). Tujuannya, untuk
pembentukan negara merdeka.

Di Indonesia, Jepang memulai membangun kawasan industri bekas
jajahan negara Eropa. Di mana, terdapat beberapa tujuan
pendudukan Jepang di Indonesia, seperti:
• Membuat Indonesia sebagai daerah penghasil suplai minyak

mentah dan bahan bakar untuk kepentingan industri Jepang.
• Indonesia sebagai tempat untuk pemasaran hasil industri Jepang.
• Mendapatkan tenaga buruh dengan upah murah sebagai tenaga

kerja.

15

Jepang juga membuat propaganda

untuk menarik simpati masyarakat
Indonesia, antara lain:

1. Jepang adalah saudara tua

bagi bangsa Asia dan berjanji

membebaskan Asia dari

penindasan bangsa barat.
2. Jepang memperkenalkan

semboyan 3A yaitu Jepang
Pemimpin Asia, Jepang

pelindung Asia, dan Jepang
cahaya Asia.
3. Jepang memberikan janji pada
bangsa Indonesia untuk ibadah
haji, menjual barang dengan Gambar 22

harga murah. Selain itu Jepang

memperbolehkan Indonesia
mengibarkan bendera merah putih
bersama bendera Jepang. Jepang juga
membuat kebijakan untuk membentuk

organisasi sosial dan keagamaan.
Organisasi militer itu dipakai untuk
mengerahkan pemuda, pemakaian
sumber daya, dan kepentingan Jepang.
Pada pemerintahan Jepang juga
dibentuk badan militer seperti Pusat
Tenaga Rakyat (PUTERA), Jawa Hokokai,
MIAI dan Masyumi (Organisasi Islam),

Gambar 23 Heiho, PETA, dan Seinendan.

16

Jugun Ianfu

Sebenarnya ada fakta-fakta menarik yang positif ditinggalkan
Jepang untuk bangsa Indonesia. Mengenai fakta sejarah tentang
wanita masa pendudukan Jepang akan diungkapkan tentang masalah
Jugun Ianfu. Fakta sejarah yang sempat ditutup rapat oleh
pemerintah Indonesia karena dianggap aib bangsa, kembali
terungkap setelah ditemukannya dokumen yang menjadi fakta baru.

Jugun Ianfu atau
wanita penghibur
adalah sebuah konsep
yang belakangan ini
berkembang. Konsep ini
merujuk kepada

Gambar 24 mereka yang
dinyatakan sebagai

korban nafsu tentara Jepang selama masa pendudukan di daerah-
daerah jajahanya. Kebanyakan wanita yang di rektrut menjadi Jugun
Ianfu adalah gadis desa yang kurang berpendidikan, meskipun ada

satu dua anak dari lurah desa. Penemuan dokumen tahun 1991 yang
membuktikan bahwa tentara Jepang telah merekrut sedikitnya
200.000 perempuan di negara jajahan Jepang yang dijadikan Jugun
Ianfu selama Perang Dunia II. Kebanyakan Jugun Ianfu yang direkrut
Jepang dilakukan dengan terpaksa dan penipuan dengan iming-
iming pekerjaan atau beasiswa sekolah.

17

Para Jugun Ianfu

ini dikumpulkan di
rumah khusus dengan

penjagaan militer yang

super ketat. Rumah ini

dikenal sebagai pusat

hiburan. Setiap hari,
para Jugun Ianfu

harus menunggu tamu
dan harus
Gambar 25

memberikan pelayanan yang tidak mereka kehendaki. Jika ada
Jugun Ianfu yang hamil. Ia akan dipaksa menggugurkan
kandunganya. Dalam melayani tamu, Jugun Ianfu juga sering
mendapat perlakuan kasar dan tidak manusiawi.

Penderitaan
jugun ianfu ini
semakin
bertambah,
karena setiap

perempuan
setidaknya harus
melayani sekitar
Gambar 26

10-15 orang tentara Jepang dalam satu harinya. Hal ini berlangsung
setiap hari, kecuali perempuan tersebut mengalami masa Haid
ataupun sakit. Praktik Jugun Ianfu adalah kegiatan yang secara
intensif dan sistematik yang menjadi bagian dari setrategi
penjajahan militer Jepang yang merupakan pelanggaran besar
terhadap hak asasi manusia dan undang-undang peperangan.

18

“Menjepangkan”

Masuknya Jepang di Indonesia pada tahun 1942 memberikan
banyak kebijakan kepada rakyat Indonesia saat itu. Tak lain juga
dalam memberikan kebijakan yang berdampak pada sosial-budaya
masyarakat Indonesia. Kebijakan pendidikan awal yang dilakukan
oleh Jepang yaitu berusaha menanamkan budaya Jepang kepada
masyarakat Indonesia. Pembentukan sebuah lembaga budaya
bernama Keimin Bunkha Shidosho atau Pusat Kebudayaan.

Gambar 27

Sebagai upaya Jepang dalam penyebaran budaya di Indonesia,
tindakan nyata yang dilakukan Jepang yaitu dengan cara
mewajibkan untuk menyanyikan lagu Kimigayo yang merupakan lagu
kebangsaan Jepang dan melakukan pengibaran bendera Jepang.

19

Selain itu, ada

juga kebijakan lain
yakni Seikerei , yakni
suatu cara memberi

hormat dengan

membungkukan

badan 90 derajat

kepada kaisar

Jepang, Tenno Naika Gambar 28

yang dipercayai oleh
masyarakat Jepang
sebagai keturunan
Dewa Matahari.

Kebijakan lainnya,

yakni diwajibkan setiap
masyarakat Indonesia harus
lancer dan menguasai
Bahasa Jepang. Hal ini
dilakukan agar masyarakat
sadar bahwa Jepanglah

yang nantinya akan
membantu Rakyat Indonesia
lepas dari kesengsaraan.
Disisi lain Pemerintahan
Jepang tetap
memperbolehkan
penggunaan Bahasa Melayu
(Bahasa Indonesia).

Gambar 29

20

Keimin Bunka Shidosho

Kedatangan Jepang seperti memberi harapan bagi masyarakat,
pasalnya Jepang selalu memberi hati kepada masyarakat. Tujuan
Jepang ini bukan lain untuk mengambil hati rakyat dan memberikan
indoktrinasi terhadap rakyat. Indoktrinasi yang dilakukan Jepang
ternyahata tidak hanya melalui jalur politik saja, namun mereka juga
melakukannya dalam bidang kebudayaan. Dengan begitu keiginian
Jepang yang ingin memberi indoktrinasi rakyat Indonesia melalui
bidang kebudayaan, dibentuklah suatu Lembaga pusat kebudayaan
yang diberi nama Keimin Bunka Shidosho. Keimin Bunka Shidosho
sendiri didirikan oleh Jepang pada 1 April 1943, Lembaga ini berada
di bawah Sedenbu (Departemen Propaganda). Akhirnya banyak para
seniman yang bergabung dengan Lembaga ini karena beranggapan
lebaga ini dapat menjadi kendaraan dalam menumpahkan ekspresi.

Badan Pusat
Kebudayaan sebenarnya
telah terencana pada
tahun 1942 dalam rapat
yang diadakan di rumah
Bung Karno pada tanggal 6

Oktober 1942. Alhasil
Badan Pusat Kebudayaan
Gambar 30 ini baru terbentuk pada

tanggal 1 April 1942. Badan ini dibentuk sebagai suatu alat untuk
membangunkan dan memimpin kebudayaan di tanah Jawa.

21

Keimin Bunka Shidosho ini memang mulai bekerja pada

1 April 1943, namun pembukaan resmi Lembaga ini dilaksanakan

pada 18 April 1943 yang dibuka oleh Hitoshi Shimizu yang merupakan
Sedenbu Sedenkaco (kepala urusan rumah tangga Sedenbu).

Pembukaan ini dihadiri oleh banyak orang mulai dari anggota sampai

kalangan petinggi dari pemerintahan Balatentara Jepang pun turut
hadir. Acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh petinggi dalam negeri

diantaranya dari empat serangkai, K.H Mas Mansoer dan Ki Hajar

Dewantara, kemudian juga turut hadir Prof. Husein Djajadiningrat, Mr.

Soedjono, dan beberapa pemuka dari Bandung.

Pada awal
berdirinya Keimin
Bunka Shidosho,
banyak pertemuan-
pertemuan diadakan
dari berbagai divisi

untuk membicarakan
mengenai pokok
kebudayaan timur
Gambar 31 yang akan dibangun.

Hal ini dilakukan Jepang untuk mengubah alam pemikiran seniman
Indonesia kea lam kebudayaan Nippon dan menjatuhkan kebudayaan
barat. Strategi Nippon ini dimaksudkan agar segenap masyarakat
dapat membantu Nippon dengan sukarela. Pertunjukan yang
dilakukan Keimin Bunka Shidosho ini tidak hanya dilakukan di

Jakarta sebgai kantor pusat, namun juga dilakukan di daerah-
daerah di pulau Jawa, sehingga masyarakat pedalaman pun dapat
terkena efek dari pertunjukan tersebut. Selain digunakan untuk

mengindoktinasi masyarakat, pertunjukan ini juga
dilakukan untuk menghibur para tantara Nippon.
22

Gambar 32 Pada saat awal
mengemban tugas para
seniman ini menuruti perintah
dari Jepang. Meskipun pada
saat itu mereka diberi wadah
untuk berkreasi, tetapi
berkereasi sebebas-bebasnya

hanyalah menjadi mimpi bagi
seniman pribumi. Pasalnya
hanya karya-karya yang
menguntungkan Jepang sajalah
yang dipublikasikan, sedangkan
karya-karya yang melawan
Jepang dan mendukung Barat

dapat membahayakan nyawa
seniman karena pada saat itu
siapapun yang menghina
Jepang akan berhadapan
dengan Kenpetai.

Keimin Bunka Shidosho ini sendiri memiliki bagian-bagian
divisinya. Mereka membaginya menajdi lima bagian divisi yaitu:
a) Bagian Kesusastraan
b) Bagian Seni Lukis
c) Bagian Seni Musik
d) Bagian Sandiwara dan Tari
e) Bagian Film

23

a) Bagian Kesusastraan

Bagian Kesusastraan ini diketuai oleh Armin Pane yang
merupakan sastrawan handal Indonesia. Armin Pane ini menjadi
ketua perwakilan dari Indoneia, sedangkan ketua perwakilan dari
Jepang dijabat oleh Rintaro Takeda.

Gambar 33 Gambar 34

Dalam pidatonya, Rintaro Takeda mengatakan bahwasanya
Jepang menuntut kesadaran sastrawan muda dalam membuat suatu
karya yang tidak ada hubungannya dengan zaman Hindia Belanda
terdahulu, dengan kata lain Jepang ingin membuat zaman baru
dalam kesusastraan Indonesia dengan menggunakan sastrawan
muda. Sastrawan muda dipilih oleh Jepang karena jiwa muda masih

dapat dibentuk dengan mudah.

Berjalannya waktu, para seniman-seniman pribumi ini
melakukan perubahaan dalam karya-karyanya. Hal ini karena dipicu
dari Jepang sendiri yang menyiksa masyarakat Indonesia. Hal ini
karena sikap Jepang yang melakukan paksaan terhadap masyarakat
Indonesia, ditambah lagi dengan adanya Romusha pada 1943.

24

b) Bagian Seni Lukis

Bagian Seni Lukis mempercayakan pelukis Agoes

Djajasoeminta sebagai ketua di baian seni lukis. Ketua bagian seni
lukis ini sendiri mempunyai rencana kerja sebagai berikut: (1)

menyediakan ruangan untuk latihan, (2) meyendiakan ruang

pameran, (3) Memberikan biaya pameran keliling di kota-kota besar,

(4) menyelenggarakan kursus menggambar secara teknis yang

diasuk Basoeki Abdullah.

Keimin Bunka Shidosho

juga merupakan tempat
latihan yang terbuka untuk
segala kegiatan para seniman
Indonesia. Bantuan materiil
Jepang lewat Keimin Bunka
Shidosho membawa
keberuntungan bagi pelukis-

pelukis nasioanl yang awalnya
nasional yang awalanya tidak
Gambar 35
dikenal, akhirnya mendapat kesempatan untuk mengadakan
pameran dengan cara ini mereka dapat dikenal oelh msyarakat.

Seni Rupa pada masa Jepang dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
1) Seni Rupa Sejati:, yakni meliputi seni lukis, seni arca, seni
bangunan.
2) Seni Rupa Propaganda, yakni meliputi pelakat, karikatur,
reklame, poster.

3) Seni Rupa Kerajinan, yakni meliputi batik, barang-baeang
gerabah seperti piring dan cangkir, barang-barang ukiran emas
4) Seni Rupa Penghidupan, yakni seni yang harus memberi
sifat keindahan & kesederhanaan.
25

c) Bagian Seni Musik

Bagian seni musik ini diketuai oleh Tuan Nobu Lida. Sebagai
ketua, Tuan Nobu Lida menyampaikan dalam pidatonya bahwa para

pencipta lagu harus memperhatkan beberapa hal dalam menciptakan
lagu, yakni (1) Melenyapkan pengaruh Inggris dan Amerika, (2)
Menghilangkan kecenderungan kepada lagu-lagu tersebut, (3)
Mengusahakan sungguh-sungguh yang bersifat timur.

Pada tahun 1943
banyak lagu tercipta, namun
kebanyakan lagu ini digubah
oleh staf Keimin Bunka
Shidosho. Bagian music oleh
staf seni music dan syairnya

oleh staff seni kesusastraan.
Syair lagu berisi tema-tema
propaganda yang garis
besarnya dapat
diklasifikasikan ke dalam
empat kategori yang bertujuan:
Gambar 36

1) Meningkatkan semangat kerja
2) Meningkatkan semangat pertempuran
3) Meningkatkan kecintaan kepada Tanah Air sebgai anggota Asia
Timur Raya

4) Tema-tema lain

Pada dasarnya music yang digubah oleh Keimin Bunka
Shidosho ini memiliki tujuan untuk menggugah semangat rakyat
Indonesia dan juga memberi semangat dan memuji anggota
semi-militer dan militer.
26

d) Bagian Sandiwara dan Tari

Bagian sandiwara dan tari dipimpin oleh K. Jasoeda dan
didampingi Winarno. Bagian sandiwara dan tari kedudukannya
sebagai markas besar, atas perumusan kebijakan dasar pemanfaatan
seni sandiwara demi propaganda politik, dan bertanggung jawab atas
pendorongan, pelatihan tuntutan serta control segala jenis kegiatan
sandiwara. Bagian sandiwara dan tari ini memutuskan jenis cerita
apa yang dapat dipertunjujjan dan tema apa yang harus ditekankan.

Gambar 37

Pada tahun 1943 tema-tema yang mucul yakni mengenai
gagasan lingkungan Bersama di Asia Timur Raya, pengerahan
Rommusha, dan hiburan untuk prajurit Jepang. Tetapi pada tahun
1944-1945 tema-tema sandiwara lebih ditekankan pada masalah
pembelaan tanah air, peningkatan produksi pertanian, pengerahan
romusha, semanat perang dan janji kemerdekaan. Tema tersebut

berubah sesuai dengan kebutuhan perang Jepang.

27

e) Bagian Film

Pada bagian film diserahkan kepada Jawa Eiga Kosha
(Perusahaan Film Jawa) yang berganti nama pada tahun 1943
menjadi Nippon Eiga Sha (Perusahaan Film Jepang) yang
digabungkan dengan Persatuan Ahli Film Indonesia (PERSAFI). Bidang
ini awalnya dipimpin oleh S. Oya, B. Kurata, T. Ishimoto dan dibantu
oelh S. Soetarto sebagai wakilnya. Dalam sambutaannya dalam
peresmian Keimin Bunka Shidosho, S. Oya menyampaikan bahwa
film-film barat dilarang beredar lagi di Indonesia, bioskop semakin di
penuhi oleh penonton-penonton Indonesia sedangkan para
penontondari Belanda, Tionghoa, dan Indo-Belanda menjadi
berkurang. Hal ini menjadi tolak ukur S. Oya bahwa antusias
masyarakat Indonesia sangatlah besar.

Kurata menyampaikan
bahwa yang terpenting dalam
pembuatan film adalah (1)

kebagusan cerita, (2)
kejelasan sifat fil dan (3)
kecakapan para pemainnya.
Menurut pendapatnya dalam
dunia film Indonesia
Gambar 38

kekurangannya terdapat pada scenario, skenario perfilman Inonesia
pada masa itu sama halnya dengan sebuah drama yang difilmkan.
Kurata menerangkan bahwa pentingnya Montage (guntungan dan
rangkaian) dalam dunia perfilman oleh sebab itu mengguntung dan
merangkai scene harus diperhatikan. Ia juga memuji bahwa para
pemain film Indonesia sudah memiliki dasar kecakapan yang cukup

28

Komunikasi Sosial

Jepang adalah pemegang kendali sepenuhnya dalam segala
media massa Indonesia seperti surat kabar, majalah, radio, dll. Media
massa ini dimanfaatkan Jepang untuk menyebar luaskan berbagai
propaganda-propagandanya.

A. Pers

Media massa ini dimanfaatkan Jepang untuk menyebar
luaskan berbagai propaganda-propagandanya. Semua media massa
yang beroperasi di Indonesia selalu memperoleh pengawasan ketat
oleh Jepang, dan semua yang akan diterbitkan atau disiarkan kepada
masyarakat harus mendapat ijin atau persetujuan terlebih dahulu
dari pihak Jepang seperti Jawa Shinbunkai. Surat kabar yang terbit
pun biasanya hanyalah surat kabar terbitan Jepang sendiri, karena
pemerintah militer Jepang memaksa menutup kantor-kantor surat
kabar berbahasa Belanda, Cina, dan Indonesia.

Hal ini jelas menimbulkan
pertentangan dari beberapa pihak
penerbit seperti yang dilakukan oleh
surat kabar Tjahaja Timoer dan
Pemandangan. Namun pertentangan itu
tidak membuahkan hasil yang berarti
karena tidak lama kemudian 2 surat
kabar itu juga ditutup oleh pihak
Jepang dan digantikan oleh Asia Raja
pada April 1942 yang dipimpin oleh
Sukardjo Wirjopranoto.

Gambar 39

29

Selain surat kabar Tjahaja Timoer dan Pemandangan,
ada beberapa kantor surat kabar di berbagai kota juga dipaksa
berhenti dan diganti oleh surat kabar bentukan Jepang, diantaranya
adalah:
1. Di Bandung surat kabar Sipatahunan dan Nicork Exspress

dihentikan dan diganti surat kabar Tjahaja yang dipimpin oleh
Oto Iskandar Dinata.

2. Di Yogyakarta surat kabar Mataram milik Belanda diganti
dengan surat kabar Sinar Matahari dengan pemimpinnya yaitu
R. Sudjito, sedangkan surat kabar Sedyo Budi milik Indonesia
dilarang untuk terbit.

3. Di Semarang surat kabar De Locomotief, Matahari, Soeara
Semarang, dan Daja Oepaja diganti dengan surat kabar Sinar
Baroe yang dipimpin oleh Parada Harahap.

4. Surabaya Jepang menerbitkan surat kabar Soeara Asia yang
dipimpin oleh R. Tukul Surohadinoto.

Selain surat

kabar pemerintah
Jepang juga
menerbitkan beberapa
majalah seperti djawa
baroe, soeara kita,
pandji poestaka, dan
warta syu. Setiap
Gambar 40

majalah yang terbit dalam tiap-tiap daerah syu menggunakan
bahasa dari daerah itu sendiri dan bahasa Indonesia. Kebijakan
Jepang dalam Pers ini membawa pengaruh dimana tingkat minat
baca masyarakat Indonesia pada masa itu mengalami peningkatan.

30

B. Radio

Dalam siaran Radio, Jepang mendirikan sebuah badan
penyiaran radio hampir diberbagai daerah seperti tempat-tempat
ramai bahkan pelosok-pelosok desa dengan tujuan agar semua
masyarakat Indonesia dapat mendengarkan propaganda mereka. Di
Jawa ada tingkatan siaran Radio yaitu:
1. Jawa (pusat) bernama HosoKanrikyoku dengan pimpinan

Tomabeci.
2. Hosokyoku dengan pimpinan seorang dari Jepang (cabang),

terdapat 8 Cabang di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Surakarta, Malang, Surabaya, dan Purwokerto. Hosokyoku
biasanya akan dipimpin oleh seorang dari Jepang sendiri seperti
cabang Jakarta yang dipimpin oleh Shimamura. Jakarta dipimpin
oleh Shimamura.
3. Shodanso (Kabupaten), memiliki tugas dalam servis reparasi
siaran radio didaerah terntetu. Dan juga memiliki peran dalam
mengatur penyiaran radio untuk umum, propaganda, penyegelan
terhadap siaran radio serta memilih gelombang siaran yang
boleh diperdengarkan kepada masyarakat.

31 Gambar 41

C. Berita

Jepang juga

menerbitkan sebuah
berita Gunseikanbu
yang berisi undang-

undang dan beberapa
maklumat. Berita itu

dikirim dan disebar
luaskan hingga
kepelosok-pelosok
Jawa.

Gambar 42

Ketatnya pengawasan dan
mutlaknya kekuasaan pemerintah
Jepang dalam media massa yang
merupakan alat komunikasi ini
membawa dampak terhadap
sulitnya akses komunikasi sosial
bagi rakyat Indonesia pasa masa
itu.

Gambar 43

32

Penghapusan Diskriminasi Sosial

Menurut Istifaroh (2014) pada masa pemerintahan Jepang salah
satu kebijakannya secara tidak langsung juga berkaitan dengan
penghapusan diskriminasi sosial. Kebijakan ini juga berkaitan dengan
pendidikan bangsa Indonesia. Dimana pemerintah Jepang menetapkan
bahwa pendidikan sekolah dasar (Kokumin Gakko) diperuntukkan bagi
seluruh warga masyarakat Indonesia tanpa membedakan status
sosial. Penggolongan bangsa berdasarkan golongan atau status sosial
dalam masyarakat pada masa pemerintahan Jepang ini dihapuskan.

Gambar 44

Hal ini jelas berbeda seperti saat pemerintahan Belanda yang
masih membedakan hak antara golongan bangsawan dengan rakyat
biasa. Pemerintah Jepang menetapkan bahwa sekolah rakyat
(Kokumin Gakko) ini terbuka untuk semua kalangan, semua warga
memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan dasar tanpa
terkecuali. Bahkan sekolah rakyat ini juga banyak dibuka dengan

biaya yang murah. Dengan begitu maka tidak ada diskriminasi

33 sosial dalam bidang pendidikan lagi.



Daftar Pustaka

Abdullah, Taufik; dkk. (2012). Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 6.
Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

De Jong, L. (1991). Pendudukan Jepang di Indonesia: Sebuah Ungkapan
Berdasarkan Dokumentasi Pemerintah Belanda. Terj. Bey
Arifin. Jakarta: Kesaint Blanc.

Hartono, Budi; Juliantoro, Dadang. (1997). Derita Paksa Perempuan
Kisah Jugun Ianfu pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Hutari, Fandy. (2009). Sandiwara dan Perang: Politisasi Terhadap
Aktivitas Sandiwara Modern Masa Jepang di Jakarta.
Yogyakarta: Ombak.

Istiaroh, Alifin. (2014). Kebijakan Pendudukan Pemerintahan Jepang
Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Surabaya Tahun 1942-
1945. Jember: Unversitas Jember.

Poeponegoro, M. D; Notosusanto, Nugroho. (2011). Sejarah Nasional
Indonesia Jilid VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik. Jakarta:
Balai Pustaka.

Saminto, S. S. (2020). Peran Pendidikan di Masa Kependudukan
Jepang (1942-1945) Terhadap Perubahan Budaya di Jawa
Barat. Jurnal Artefak, 7(2). 13-17.

Syamsudin, Agus. (1993). Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho)
di Jawa Pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945. Jakarta:
Universitas Indonesia.

Daftar Rujukan Gambar

Cover
https://www.dictio.id/uploads/db3342/original/3X/1/9/190ca4450a17b3990a2938dca2a383e
bcaa5a6b4.jpeg
Gambar 1 https://asset.kompas.com/crops/dG5rXZVMRR-
QEhhKV2vpO39G664=/0x0:700x467/780x390/data/photo/2020/04/16/5e9836cb5284c.jpg
Gambar 2 https://1.bp.blogspot.com/-
KHSdSwPHPNE/YIUG8WrmVDI/AAAAAAAACmU/rhePWf9PJWYGsUP31cubLUP-
QlcOPtJlACPcBGAYYCw/s461/pertanian_masa_pendudukan_jepang.jpg
Gambar 3 https://2.bp.blogspot.com/-
mAyzdMMnzpE/WInchsaOLwI/AAAAAAAABXs/ATpPfynDyxUv7pC3vOJWuSDDb-
hKZagWQCLcB/s400/Untitled.jpg
Gambar 4 https://i.pinimg.com/originals/67/5b/4c/675b4cd65ff405cfc15edbded36911d2.jpg
Gambar 5
https://storage.googleapis.com/finansialku_media/wordpress_media/2020/07/228eea5a-
pernah-dengar-ekonomi-perang-ini-arti-mudahnya-01-finansialku.jpg
Gambar 6
http://3.bp.blogspot.com/_Au_XQNdBDd4/R3R52dXnMVI/AAAAAAAAAB0/Z7iulem0arE/w1200
-h630-p-k-no-nu/DSC03598+Nica+or+Merah.JPG
Gambar 7
https://asset.kompas.com/crops/JggJn6idZsbWq52Ys7fir3plXQk=/1x0:379x252/750x500/dat
a/photo/2020/03/10/5e6735ebdec7a.jpeg
Gambar 8 https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRi0wDR9o5zi7QFu_MUVorZtACAVjGdyFbuKscoqvE44
WLDbB2uDve_x_fF0tkSVWF-8no&usqp=CAU
Gambar 9
https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/_/media/static/files/Article/EdisiKhusus/5/rsz_akt
ivitas_di_pasar_1_ktlv.jpg?fm=pjpg&w=1200&s=de3ac11361a609785cc7e4edc495c1c4
Gambar 10 http://4.bp.blogspot.com/-
TOsdSCkKnsQ/UndPr_BxxVI/AAAAAAAAA98/1UI6SM3FAXU/s1600/5.jpg
Gambar 11 http://3.bp.blogspot.com/_pSfV5uidkYI/S-r0HBZWSaI/AAAAAAAAAMc/jXJj-
KBC8Sk/s1600/copros.jpg
Gambar 12 https://1.bp.blogspot.com/-
pNW_FR5hx6k/W9LcXhFx0VI/AAAAAAAABPI/pHZnNvUwPMcVHMIyfc6nsG5Hs3uhwn6HgCLcBG
As/s1600/pertanian%2Bmasa%2Bpenjajahan%2Bbelanda.jpg
Gambar 13 https://www.poskata.com/wp-content/uploads/2021/08/00094-02_chuo-sangi-
in_ilustrasi-sidang_800x450_ccpdm-min.jpg

Gambar 14 https://assets.kompasiana.com/items/album/2016/12/23/jepang-02-
585c9f67109773b113fa867f.jpg?t=o&v=770
Gambar 15 https://3.bp.blogspot.com/-
yPVj4E4SVig/WNZeRMv04zI/AAAAAAAAa8M/crkw9F0mSD0Y9cRRf7D0WTV20w8oNX0pwCLc
B/s1600/deli-serdang.jpg
Gambar 16
https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2021/01/14/1263388/670x335/terbesar-
se-asia-ini-5-fakta-unik-pabrik-gula-colomadu.png
Gambar 17 https://cdn-
radar.jawapos.com/uploads/radarmojokerto/news/2020/04/29/pabrik-tutup-warga-tak-
kerja-lagi_m_191597.jpg
Gambar 18
https://i.pinimg.com/originals/6a/de/ba/6adeba769ac7c9d3c2c36eaa0271548a.jpg
Gambar 19 https://arianesemdel.files.wordpress.com/2014/12/romusha-mager25.jpg
Gambar 20 http://idsejarah.net/wp-content/uploads/2017/01/56159291.jpg
Gambar 21 https://milenialis.id/wp-
content/uploads/2020/09/received_1734224113303139.jpeg
Gambar 22
https://static.wixstatic.com/media/0ce46e_73166a4a41b34e0ca736882854377a69~mv2.jp
g/v1/fill/w_290,h_389,al_c,q_90/0ce46e_73166a4a41b34e0ca736882854377a69~mv2.jpg
Gambar 23 https://i.pinimg.com/736x/10/11/49/1011490a9947c3849e271e5942446167.jpg
Gambar 24 https://dutadamaiyogyakarta.id/wp-content/uploads/2021/04/jugun-ianfu-
gambar.jpg
Gambar 25 https://mmc.tirto.id/image/otf/880x495/2017/01/14/IlustrasiJugunianfu_ratio-
16x9.jpg
Gambar 26 https://cdn-image.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/11/hipwee-comfort-
women-5.jpg
Gambar 27
https://asset.kompas.com/crops/n3kvgKZYD3mMbvXvM27N1h7psDY=/0x0:640x427/750x50
0/data/photo/2021/08/20/611f343c395c1.jpg
Gambar 28 https://1.bp.blogspot.com/-
rR6xP5PHl0o/XSqGNvzTI8I/AAAAAAAAAaA/NcC2YT7c1tgVHoo-
muoGMw0cD3N721DWgCLcBGAs/s1600/Sambutan.jpg
Gambar 29 https://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700x0/photo/2020/07/20/33392034.jpeg
Gambar 30
https://asset.kompas.com/crops/WrFc9rzI4u7F7Kcm9yaXktDgOOA=/0x7:1000x673/750x50
0/data/photo/2021/12/27/61c91dbbed755.png

Gambar 31
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/ba/Poesat_Keboedajaan_%28Keimin_
Bunka_Shid%C5%8Dsho%29_staff%2C_Peran_Pemuda_dalam_Kebangkitan_Film_Indonesi
a%2C_p19.jpg
Gambar 32
https://64.media.tumblr.com/d6fa3085842771f71631a1b3945d3847/tumblr_inline_pcjdz8lw
Gy1qg2a3v_540.jpg
Gambar 33
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/53/Armijn_Pane%2C_around_1953.jpg
Gambar 34
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0c/Rintar%C5%8D_Takeda_194
0-1941.jpg/1200px-Rintar%C5%8D_Takeda_1940-1941.jpg
Gambar 35 https://3.bp.blogspot.com/-
gJvcg9UzAEs/WT5BEYJdLlI/AAAAAAAAFvk/kih_GiWD2QIKDLqh5nOW5ZPa0kOEvSOXgCLcB/s1
600/agus-djaja.jpg
Gambar 36 https://i.ytimg.com/vi/f8N2Rr4muK0/maxresdefault.jpg
Gambar 37 https://proyekmesinwaktu.files.wordpress.com/2018/06/sandiwara-toeroet-
sama-amat-foto-djawa-baroe-nomor-14-15-juli-2605.jpg?crop
Gambar 38 https://images.bisnis-cdn.com/posts/2020/03/30/1219990/nippon-eiga-
sha1.jpg
Gambar 39 https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/db/TJAHAJA-
TIMOER_front_page_Dec_3_1917.png/1200px-TJAHAJA-TIMOER_front_page_Dec_3_1917.png
Gambar 40 https://www.qureta.com/uploads/post/IMG_7057.jpg
Gambar 41 http://photos1.blogger.com/blogger/8056/2373/1600/nirom.5.jpg
Gambar 42 https://1.bp.blogspot.com/-
cu_C9HVskJI/WdyOilc3uLI/AAAAAAAACIA/Vgs3DpdEki4bsWFblKIXEZrTJacgGryHQCLcBGAs/s1
600/Cover-Kanpo.JPG
Gambar 43
https://i.pinimg.com/originals/b8/02/b2/b802b2e4d7a9ca2b8f068155fbbfe667.jpg
Gambar 44 https://rifasarifatul.files.wordpress.com/2015/05/sa.jpg


Click to View FlipBook Version