HASIL OBSERVASI KEBUDAYAAN DAN KESENIAN DI KUNINGAN
JAWA BARAT
Disusunnya Laporan Observasi Ini Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pengenalan Budaya
Dosen Pengampu: Agus Mahardika, M.Hum.
Disusun Oleh
Kelompok 4
1. Muhammad Ilham Ramadhan (2108110001)
2. Zahra Sri Rahmah (2108110005)
3. Nurul Fadilah (2108110011)
4. Anis Rosmayanti (2108110014)
5. Lujeng Vihanura (2108110015)
6. Jaenudin Muhamad Soleh (2108110016)
7. Cicih Nurjanah (2108110028)
8. Wulan Ekasari (2108110032)
KELAS A SEMESTER 2
JURUSAN TADRIS BAHASA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa karena atas limpahan rahmat,
hidayah dan inayah-Nya maka kami dapat menyelesaikan laporan hasil observasi Mata
Kuliah Pengenalan Budaya. Dengan judul “Laporan Hasil Observasi Kebudayaan dan
Kesenian di Kuningan, Jawa Barat” dapat terselesaikan dengan baik dan semampu penulis.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih terdapat banyak
kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang sangat kami harapkan dari berbagai pihak sebagai bahan perbaikan dalam proses
penyusunan materi yang selanjutnya.
Tak lupa ucapan terima kasih kami haturkan kepada Dosen Mata Kuliah Pengenalan
Budaya karena atas jasa dan pengaruhnya kami dapat mengetahui materi tersebut. Tak lupa
pula kami ucapkan terimakasih kepada keluarga tercinta serta kepada rekan-rekan
seperjuangan karena atas dorongan dan semangat kerja samanya yang baik sehinga kami
dapat aktif dalam mengikuti proses belajar pada saat ini.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii
A. SEJARAH KUNINGAN.......................................................................................................1
B. KESENIAN DAN KEBUDAYAAN. ...................................................................................2
DAERAH KUNINGAN, JAWA BARAT.................................................................................2
1. Kesenian daerah kuningan ..............................................................................................2
2. Kebudayaan daerah Kuningan ........................................................................................3
C. TEMPAT-TEMPAT BERSEJARAH. ..................................................................................4
DAERAH KUNINGAN, JAWA BARAT.................................................................................4
1. Gedung Perundingan Linggarjati....................................................................................4
2. Taman Purbakala Cipari ...............................................................................................19
3. Situs patalisan prabu siliwangi......................................................................................19
D. TEMPAT WISATA ............................................................................................................20
DAERAH KUNINGAN, JAWA BARAT...............................................................................20
1. Natural Park (Linggarjati).............................................................................................20
2. Waduk Darma ...............................................................................................................20
4. Telaga Biru Cicerem .....................................................................................................21
5. Curug Putri Landung.....................................................................................................21
E. MAKANAN KHAS KUNINGAN, JAWA BARAT ..........................................................21
1. Hucap (Tahu Kecap) .....................................................................................................21
2. Rujak kangkong ............................................................................................................22
3. Peuyeum ketan ..............................................................................................................22
4. Kwecang .......................................................................................................................23
5. Nasi kasreng..................................................................................................................23
6. Ketempling....................................................................................................................24
7. Kue Satu........................................................................................................................24
8. Keripik Gadung.............................................................................................................24
9. Tahu Lamping...............................................................................................................24
LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................................................26
iii
A.
SEJARAH KUNINGAN
Dilansir dari Pemkab Kuningan, Kira-kira 3500 tahun sebelum masehi, tanda-tanda
yang memberitahukan bahwa di Kuningan sudah ada pemukiman masyarakat yang sudah
mencapai tingkat kebudayaan yang relatif sudah maju. hal ini berdasarkan atas hasil
peninggalannya yang ditemukan di wilayah Kuningan. Pada tanggal 22 Juli 1175 Masehi
Kuningan dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda dibawah Rakean Darmasiksa putra
ke-12 Rahiang Banga. Setelah bertahta selama 12 tahun di Saunggalah, kemudian keraton
dipindahkan oleh Rakean Darmasiksa ke Pakuan Pajajaran. Selanjutnya Kuningan merupakan
bagian dari Kerajaan Pajajaran dan namanya berganti menjadi Kajene yang ada dibawah
kekuasaan Aria Kamuning. Kajene artinya “kuning” atau “emas”.
Kuningan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibu kotanya
adalah Kuningan. Berjarak 250 km dari Kota Bandung dan 43 km dari Kota Cirebon,
kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara,Kabupaten Brebes (Jawa
Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Cilacap (Jawa Tengah) di Selatan, dan
Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten ini dikenal karena merupakan merupakan tempat
dilaksanakannya Perundingan Linggajati Kuningan juga merupakan salah satu pintu gerbang
masuk Jawa Barat dari sebelah timur, bersama dengan Kabupaten Ciamis, Cirebon, Kota
Banjar dan Pangandaran. Berjuluk Kota Kuda, kuda merupakan ikon dari kabupaten ini, dan
dianggap merupakan perwujudan dari Si Windu, kuda gesit mlik keluarga Arya Kamuning,
seorang pemimpin wilayah ini pada zaman Kesultanan Cirebon dan Pajang.
Kuningan menjadi tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati pada bulan
November 1946. Karena tidak memungkinkan perundingan dilakukan di Jakarta maupun di
Yogyakarta (ibu kota sementara RI), maka diambil jalan tengah jika perjanjian diadakan di
Linggarjati, Kuningan. Hari Minggu pada tanggal 10 November 1946 Lord Killearn tiba di
Cirebon. Ia berangkat dari Jakarta menumpang kapal fregat Inggris H.M.S. Veryan Bay. Ia
tidak berkeberatan menginap di Hotel Linggarjati yang sekaligus menjadi tempat
perundingan.
Delegasi Belanda berangkat dari Jakarta dengan menumpang kapal terbang “Catalina” yang
mendarat dan berlabuh di luar Cirebon. Dari “Catalina” mereka pindah ke kapal perang
“Banckert” yang kemudian menjadi hotel terapung selama perjanjian berlangsung.
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir menginap di desa Linggasama, sebuah
desa dekat Linggarjati. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta sendiri
1
menginap di kediaman Bupati Kuningan. Kedua delegasi mengadakan perundingan pada
tanggal 11-12 November 1946 yang ditengahi oleh Lord Kilearn, penengah berkebangsaan
Inggris.
Terdapat beberapa hipotesis mengenai asal usul nama Kuningan. Pertama, menurut
sejarawan Edi Suhardi Ekajati, nama "Kuningan" berasal dari nama logam paduan dengan
nama yang sama. Kuningan merupakan logam campuran antara tembaga, timah, dan perak,
yang kemudian disepuh sehingga mengkilat seperti emas. Kedua, nama Kuningan berasal
dari daerah bernama Kajéné yang berarti "sesuatu yang berwarna kuning". Ketiga, Kuningan
berasal dari istilah dangiang kuning (sebuah ilmu gaib) yang didapatkan oleh Demunawan,
penguasa awal Kuningan pada masa Galuh. Keempat, "Kuningan" berasal dari wuku dan hari
raya dengan nama yang sama.
Nama Kuningan itu berasal dari nama sejenis logam, yaitu kuningan. Dalam bahasa
Sunda, kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak
dan perunggu. Jika disepuh (dibersihkan dan diberi warna indah) logam kuningan itu akan
berwarna kuning mengkilap seperti emas sehingga benda dibuat dari bahan ini akan tampak
bagus dan indah. Memang logam kuningan bisa dijadikan bahan untuk membuat aneka
barang keperluan hidup manusia seperti patung, bokor, kerangka lampu maupun hiasan
dinding.
B.
KESENIAN DAN KEBUDAYAAN
DAERAH KUNINGAN JAWA BARAT
1. Kesenian daerah kuningan
a. Pencak Silat
Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini
sudah menjadi kesenian nasional. Pada awalnya Pencak Silat ini merupakan tarian
yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela
diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan
memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang
diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda
menyebutnya Iket. Pada umumnya kesenian pencaksilat ini ditampilkan dengan
diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat
musiknya menggunakan gendang dan terompet.
b. Sapton dan Panahan
2
Saptonan merupakan tradisi yang masih hidup di Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
Tradisi yang merupakan lomba ketangkasan dalam menunggangi kuda dan
memasukkan tombak kedalam lubang yang ada di bawah ember yang digantung di
atas tempat yang telah disediakan oleh panitia saptonan. Panahnya dibuat dari bambu
dan busurnya yang ujungnya dipasang besi panah.
c. Burokan Seni
Burokan merupakan seni boneka-boneka besar berupa kuda terbang Buroq. Konon di
ilhami dari hikayat yang hidup di kalangan umat islam tentang perjalanan Isra Mi’raj
nabi Muhammad SAW dari Masjidil Harram ke Masjidil Aqsa dengan menunggangi
sebuah kuda bersayap yang disebut Buroq
d. Kuda Lumping
Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan
dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti
kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu
menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang
dan terompet.
2. Kebudayaan daerah Kuningan
a. Tari Buyung
Tarian ini memiliki kaitan erat dengan upacara Seren Taun, sebab tarian Buyung
merupakan tarian utama dalam upacara Seren Taun yang menceritakan tentang gadis-
gadis yang sedang mengambil air ke sungai.
b. Upacara Seren Taun
Seren mempunyai arti dalam bahasa Sunda sebagai seserahan dan taun berarti taun.
Sesuai dengan artinya, upacara ini biasanya diselenggarakan untuk memperingati
pergantian tahun. Sebagai tanda berterimakasih kepada Sang Pencipta atas hasil
pertanian, dan sekaligus mendoakan acara ditahun berikutnya lebih baik lagi.
c. Upacara Cingcowong
Upacara ini dulunya diadakan untuk melakukan ritual memanggil hujan yang
biasanya dilakukan pada saat musim kemarau. Namun sekarang sudah bekembang
menjadi pertunjukan seni dengan mengikuti perkembangan jaman.
3
C.
TEMPAT-TEMPAT BERSEJARAH
DAERAH KUNINGAN JAWA BARAT
1. Gedung Perundingan Linggarjati
Gedung yang berlokasi di Kampung Cipaku, Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus,
Kabupaten Kuningan, ini merupakan tempat digelarnya perundingan bersejarah antara
pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah kerajaan Belanda pada 15 November
1946. Dikutip dari laman disporapar.kuningankab.go.id, perundingan tersebut merupakan
upaya perjuangan Indonesia melalui jalur diplomasi untuk mendapatkan kedaulatan
bangsa. Ada beberapa arti nama Linggarjati menurut para Sunan adalah sebagai berikut:
Menurut Sunan Kalijaga
Disebut Linggarjati karena Lingga yang berarti Linggih = Duduk, sedangkan Jati
diambil dari nama depan Sunan Gunungjati. Jadi secara menyeluruh arti dari
Linggarjati adalah tempat duduk Sunan Gunungjati.
Menurut Sunan Bonang
Tempat ini diberi nama Linggarjati yang berarti Linggar-= Meninggalkan, dan Jati
diambil dari kata berjalan sejati. Jadi, secara menyeluruh berarti: meninggalkan
tempat ini dengan tidak mengendarai apa-apa.
Menurut Syeh Maulana Magribi
Desa ini diberi nama Linggarjati diambil dari kata Linggar yang berarti Syiar,
Runding. Sedangkan jati: ilmu sejati secara menyeluruh. Jadi Linggarjati: Tempat
merundingkan ilmu sejati.
Menurut Sunan Kudus
Tempat ini diberi nama Linggarjati diambil dari bahasa Sunda dari kata Lingga yang
berarti nalingakeun yang artinya: mengawasi, memperhatikan dan mendengarkan.
Jati: ilmu sejati. Secara menyeluruh Linggarjati: memperhatikan ilmu sejati.
Terbenuknya Perjanjian Linggarjati tidak dapat dilepaskan dari latar belakang
Internasional. Dalam bulan bulan terakhir peperangan di Pasifik. Oleh sekutu diputuskan
bahwa yang diutamakan adalah penyerbuan Jepang. Penyerbuan itu ditugaskan kepada
Jendral Mac Arthur dengan melepas tanggung jawabnya atas sebagian besar 4 dari
wilayahnya, antara lain seluruh wilayah Hindia - Belanda, dan Mauntbatten diserahkan
tanggung jawab atas Sumatera, ia setelah Jepang menyerah berniat menjalankan tugasnya.
Alkan tetapi Mac Arthur berkeberatan dan minta supaya Mountbatten menunggu sampai
4
Jepang menanda tangani dokumen dokumen penyerahan di Tokyo. Karena Mac Arthur
khawatir satuan satuan Jepang akan mengadakan perlawanan sebelum Jepang resmi
menyerah. Para Kepala Staf Inggris di London setuju dengan Mac Arthur. Jepang
menandatangani dokumen - dokumen penyerahan pada tanggal 2 September 1945.
Tetapi pengiriman tentara Inggris ke Indonesia merupakan prioritas sangat rendah
dalam daftar kegiatan Mounbatten. Tentara Inggris baru mendarat di Jakarta pada tanggal
2 September 1945. Tenggang waktu antara Proklamasi Kemerdekaan dan kedatangan
tentara Inggris satu setengah bulan hal ini membawa tiga keuntungan bagi Republik
Indonsia.
Pertama: api revolusi membara di seluruh Indonesia, Kedua: memberi kesempatan
kepada Republik untuk mengorganisasi pemerintahnya dan menyusun kekuatan fisiknya,
Ketiga: selama dimarkas besarnya di Kandy, Srilangka, Mounbatten mulai menyadari
bahawa informasi yang diterimanya dari sumber-sumber Belanda mengenai keadaan di
Indonesia sama sekali tidak cocok dengan kenyataan Van Mook, Letnan Gubernur
Jendral Hindia Belanda antara lain melaporkan bahwa Kemerdekaan Indonesia di
Proklamasikan oleh Panglima Tinggi Jepang di Jawa bersama Ir.Soekarno pada tanggal
19 Agustus 1945.
Syukurlah Mounbatten menerima laporan dari dua Perwira Inggris Letkol Maisy dan
Wing - Commander Davis. Maisy adalah seorang dokter di beberapa rumah sakit untuk
tawanan perang di dekat Jakarta, dan Davis adalahlomandan beberapa kem tahanan
perang sekitar Pekanbaru. Untuk menjalankan tugasnya mengadakan inspeksi, mereka
diijinkan oleh komandan Jepang untuk berkeliling, Davis mengunjungi rumah rumah
sakit dan Maisy mengunjungi tempat tempat tahanan perang. Mereka melaporkan betapa
mendalam dan luasnya api nasionalisme membara sejak Belanda menyerah kepada
Jepang.
Tuntutan bangsa Indonesia tidak boleh dikurangi dari seratus persen Merdeka.
Mounbatten menentukan garis kebijakan, yakni tentara Inggris tidak akan campur tangan
dalam perselisihan politik RI dengan Belanda (seperti dituntut oleh Belanda). Tugas
tentara Inggris terbatas pada pembebasan tahanan tahanan tentara sekutu, sipil dan
militer, serta memerintahkan penyerahan tentara Jepang, melucuti dan mengembalikan
mereka ke Jepang. Tentara Inggris tidak bertugas menegakan kembali pemerintah Hindia
5
Belanda akan tetapi bersedia membantu supaya pihak Belanda dan pihak Indonesia
mencapai persetuuan Politik.
Segera setelah satuan -satuan tentara Inggris mendarat, Komandan berhubungan
dengan pejabat pejabat RI untuk menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tentara
Inggris dan minta bantuan dalam menjalankan tugasnya. Pendaratan tentara Inggris pada
awalnya jarang menimbulkan bentrokan dengan pemuda pemuda kita meskipun mereka
sudah panas karena menyangka Inggris datang untuk menegakkan kembali Pemerintah
Belanda. Pertempuran terjadi di Surabaya pada saat tentara Inggris mendarat. Ini
disebabkan karena tindakan komandannya yang tidak bijaksana, dengan menyebarkan
selembaran-selembaran yang berisi perintah untuk menyerahkan semua senjata yang
berada ditangan orang sipil kepada tentara Inggris Pertempuran besar mulai meletus
tanggal 10 November 1945.
PERJANJIAN LINGGARJATI
Setelah intermeso yang disebabkan terjadinya kup di Jogya, yang menyebabkan
kekuasaannya Presiden Soekarno, maka pada bulan Agustus, Presiden menugaskan
Sjahrir lagi membentuk Kabinet. Pada tanggal 2 Oktober 1946. Sjahrir berhasil
membentuk Kabinetnya. Kabinet Sjahrir Il yang diberi mandat untuk " berunding atas
dasar merdeka 100 %. Kabinet membentuk delegasi untuk berunding dengan pihak
Belanda yang terdiri dari atas Sjahrir, Amir Sjarifuddin, Moh.Roem, A.K.Gani,
J.Leimena, Soesanto Tirtoprodjo, Soedarsono dan saya sebagai Sekretaris.
Sementara itu Negeri Belanda pada bulan Juli terjadi pergantian Kabinet. Perdana
Menteri Schermerhorn (Partai Buruh, Prty Van den Arbeid) diganti oleh L.J.M. Bell
(Partai Rakyat Katolik). Untuk menyelesaikan persoalan Indonesia diangkat suatu komisi
undang undang yang dinamakan Komisi Jendral (Commisie Generaal) yang terdiri atas
Schermerhorn(mantan Menteri ) Van Poll, De Boer, dan P.Sanders sebagai akil khusus
tetinggi dan diberi tugas mempersiapkan pembentukan orde "Politik baru di Hindia
Belanda."
Pemerintah Inggris mengangkat Lord Killearn, wakil (Commisioner) khusus Inggris
untuk Asia Tenggara. mengganikan Lord Inverchapel. Terlihat adanya keinginan untuk
mencapai penyelesaian politik baik dari pihak Belanda maupun Inggris. Pada tanggal 18
September, Killearn mengadakan makan siang dengan Sjahrir, Schermerhorn dan Wright
(Wakil Killearn). Setelah makan siang Schermerhom dan Sjahrir berbicara sendiri.
6
Dalam pembicaraan informal itu, Schermerhorn menguraikan secara garis besar
tujuan Komisi Jendral dan dibicarakan pula beberapa hal yang berkenaan dengan cara
perundingan. Syahrir mengemukakan pendapatnya bahwa sebaiknya delegasi Indonesia
dipimpin oleh Dwi Tunggal Soekarno Hatta. Ternyata saran ini pada prinsipnya disetujui
oleh Schermerhorn. Hal ini merupakan perubahan besar dalam pandangan politik
pemerintah Belanda.
Dalam perundingan Hoge Veluwe. pemerintah Belanda menolak bentuk perjanjian
internasional dalam Preambule dinyatakan pemerintah Indonesia yang diwakili oleh
Presidennya, Ir. Soekarno. Berdasarkan alasan bahwa Presiden Soekarno seperti, ternyata
pemerintah Belanda melepaskan pangan yang salah itu, dengan disetujuinya Soekarno-
Hatta itu ikut serta dalam perundingan, yang masih dipersoalkan oleh Schermerhorn
hanya tempat perundingan. Delegasi Belanda tidak dapat menerima Yogya sedangkan
Soekarno-Hatta tidak dapat menerima Jakarta sebagai tempat perundingan. Bagi pihak
Indonesia keikutsertaan Soekarno-Hatta dalam perundingan meupakan suatu
keberhasilan. Dunia luar dengan demikian akan memandang Republik Indonesia sebagai
negara (Meskipun belum diakui de jure ), karena telah memenuhi syarat. yakni wilayah
tertentu, wilayah yang nyata yang dipimpin oleh seorang Kepala negara ( Presiden ).
Kabinet dengan Perdana Menterinya, dan adanya perwakilan rakyat (KNIP). dan karena
persetujuan gencatan senjata (yang akan diuraikan dibawah ini ) dan adanya tentara
regular. Tidak lagi seperti yang digambarkan oleh Belanda sebagai suatu pemberontakan
beberapa ekstrimis" yang dipimpin oleh "Kolaborator Jepang".
Soekarno-Hatta dan Sjahrir saat kedatangan Belanda sudah sependapat, bahwa disatu
pihak harus dicapai persetujuan melalui perundingan dengan Belanda, dengan mencapai
hasil sebesar mungkin, pihak lain harus memperkuat wilayah-wilayah Indonesia yang kita
kuasi secara fisik dan administratatif dan menegakan kita di dunia International.
Dalam rangka ini perlu di manfaatkan kehadiran tentara Inggris yang berdasarkan
kebijkan Pemerintah Inggris tidak bermaksud menagakkan kembali Pemerintah Belanda.
Oleh karenanya Soekarno-Hatta sejak semua bersedia ikut dalam perundinagan dan
bertanggung jawab atas hasil hasilnya. Sementara itu pada akhirnya bulan Desember 1945
keadaan Jakarta telah menjadi sangat berbahaya untuk Soekarno Hatta karena serdau
serdadu KNIL yang tiudak disiplin dan ketidakaturan mendarat di Tanjung Priok,
sehingga demi keamananan Presiden dan wakil Presiden diputuskan untyuk Hijrah ke
7
Yogyakarta. Tempat tersebut adalah tempat terbaik untuk megonsolidasikan kekuatan
Republik Indonesia. sementara Sjahrir ditugaskan untuk mengadakan hubungan dengan
dunia luar dan berunding dengan Belanda. Maka dari itu ketika Presiden menerimaa
kabar dari Sjahrir yang dibawa oleh Soedarpo sebagai kurir mengenai persetujuan pihak
Belaanda atas keikutsertaan Presiden dan Wakil Peresiden dalam perundingan Presiden
dan juga Wakil Presiden segera menyatakan kesediaannya dengan syarat perundingan
tidak diadakan di Jakarta.
Pendapat Sokarno-Hatta atas perlunya mereka dalam perundingan diperkuat oleh
kunjungin Lord Killearn ke Yogya tanggal 29 Agustus 1946 untuk menemui Hatta,
Sjahrir dan para Menteri..Inilah untuk pertama kali pejabat petinggi Inggris berkunjung
ke Yogya Presiden tidak ditemui karena sakit, Lord Killearn dalam kunjungannya ini,
menerangkan kedudukannya sebagai penengah dalam perundingan antara Indonesia dan
Pihak Belanda dan bahwa tentara Inggris akan meninggalkan Indonesia pada tanggal 30
November 1946.
Yang perlu diputuskan hanya tempat perundingan atas saran Ibu Maria Ulfah, Mentri
Sosial yang berasal dari Kuningan dan mengetahui keadaan sekitarnya, kepada Sjahrir
dipilih Linggarjati, suatu tempat peristirahatan dekat Kuningan yang iklimnya nyaman
serta tidak jauh dari Jakarta di daerah RI Presiden dan Wakil Presiden sebaiknya tinggal
di Kuningan.
Dengan pertimbangan kedudukan Soekarno Hatta, setelah dirundingkan mereka
sebaiknya tidak memimpin delegasi, mengingat kedudukan mereka dekat dengan tempat
perundingan, mereka mengikuti jalannya perundingan dan mengambil keputusan akhir.
Saya telah menguraikan cukup panjang lebar mengenal keikutsertaan Presiden dan Wakil
Presiden dalam perundingan, karena menurut pandangan saya aspek ini dalam tulisan-
tulisan yang ada kurang diperhatikan. Seperti yang akan saya jelaskan nanti keputusan
Presiden Soekarno menjelang berakhirnya perundingan ikut menentukan isi Perjanjian
Linggarjati dan kamanya siap empertahankan dengan gigih KNIP Malang sampai
akhirnya dapat diterima. Berikut ini saya akan membentangkan apa tujuan Pimpinan
Republik dan delegasi dngan menjalankan perundangan dan apakah tujuannya tercapai.
Menurut pandangan saya sebagai pelaku, sejak awal (Hoge Veluwe) terdapat dua tujuan
utama, yakni :
8
(1). berusaha agar Republik Indonesia diakui oleh sebanyak mungkin negara di dunia,
sehingga perjuangan bangsa kita tidak lagi dianggap sebagai gerakan nasional dalam
suatu negara jajahan, akan tetapi sbagai negara yang berdaulat penuh.
(2). mempertahankan kekuatan fisik yang telah dibangun. Pemimpin-pemimpin sadar
sepenuhnya bahwa tujuan pertamaitu tidak dapat di capai sekaligus. Tetapi Republik
Indonesia betapapun tebatas wilayahnya, dapat menjadi batu lompatan untuk mencapai
tujuan terakhir, yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah Hindia
Belanda.
Sehubungan dengan itu, perlu saya kemukakan bahwa suatu perundingan harus
dilakukan atas dasar kekuatan-kekuatan Pemerintah Republik dan delegasinya dalam
perundingan ialah rakyat kita yang dengan tegas menolak untuk dijajah kembali, tentara
yang merupakan ujung tombak perjuangan rakyat kita. Pendapat yang dianut oleh banyak
peneliti politik asing bahwa Pemerintah, delegasi, dan tentara merupakan dua kekuatan
yang berdiri sendiri pada dasarnya adalah salah satu delegasi telah membuktikan bahwa
dalam perundingan mereka dapat mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut
bidang militer ( misalnya kepuusan gencatan senjata 14 Oktober 1946) dan hijrah satuan-
satuan TNI yang diputuskan dalam rangka ( Perjanjian Renvile). Akan tetapi ketentuan
yang melemahkan atau mengakibatkan penghapusan tentara kita ditolak karena ketentuan
demikian melemahkan pemerintah sendiri.
Mari kita kembali ke perundingannya. Sebelum peundingan politik dimulai, pelu
dilihat terlebih dahulu terlebih dahulu. Dengan adanya Front Militer yang jauhnya beratus
- ratus kilometer maka kontak senjat dan tidak ada permusuhan lainnya antara Belanda
dan TNI/Lakar Rakyat tidak dapat dielakan, kecuali jika ada perintah dari pimpinan
pihakua. Berdasarkan suatu Kolonel Soegiono di Perundingan sensuai argensi pandangan
senjata pada tanggal 7 Okt 1946. Itu ditanda tangani pada tanggal 14 Okt 1946.
Perundingan politik dimulai di Jakarta tempatnya di istana risjwijk (istana merdeka
sekarang) tempat penginapan anggota Komisi Jenderal dengan tempat kediaman resmi
Sjahrir, jalan Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) 56. Perundingan di tempat
kediaman Sjahrir dipimpin oleh Schermehorn, sedangkan perundingan di Isana Risjkwijk
dipimpin oleh Sjahrir. Sebagai dasar perundingan dipakai rancangan persetujuan yang
merupakan kombinasi rancangan delegasi Indonesia dan delegasi Belanda. Perundingan
di Jakarta diadakan empat kali dengan yang terakhir tanggal 5 November 1946. Delegasi
9
Republik Indonesia kemudian menuju ke Yogya untuk memberikan laporan kpada
Presiden-Wakil Presiden dan kabinet dan setelah itu berangkat ke Linggarjati.
Lord Killearn datang pada tanggal 10 November 1946 dengan menumpang kapal
perang Inggris HMS"Verayan Bay" beliau diangkut dengan peahu motor ke Cirebon,
diantar dengan mobil ke Linggarjati dan ditempatkan di rumah yang terletak dekat denan
rumah penginapan Sjahrir. Angkatan Laut Belanda telah mempersiapkan kapal perang
HM"Banckert" untuk digunakan sebagai tempat penginapan delegasi Belanda. Mnjelang
kedatangan delegasi Belanda HM"Banckert" telah buang jangkar diluar pelabuhan
Cirebon. Pada tanggal 11 November delegasi Belanda datang dngan kapal terbang
"Catalina dengan ibawa ke "Banckert" seperti apa yang dilakukan suatu hari sebelumnya
perahu motor ALRI datang untuk menjemput delegasi Belanda.Komandan" Banckert"
menolak dan minta delegasi diangkut dengan dengan peahu patroli"Branckert" tetapi
dikawal oleh perahu motor ALRI. Insiden diatas menggambarkan kesulitan kesulitan
yang dihadapi oleh pejabat Indonesia. Keterbatasan hampir disemua bidang seperi
kendaraan, alat komunikasi, peumahan hampir mustahil bagi Gubernur Jawa Barat.
Residen Cirebon, Bupati Kuningan, Bupati Cirebon dan Komandan Militer Daerah
menjalankan tugasnya keamanan para pejabat tinggi Indonesia dan asing. Kenytaan
bahwa selama peundingan tidak terjadi insiden patut dikagumi dan dipuji, tentu saja
disiplin rakyat dan pengertiannya pentingnya Perundingan sangat membantu pelaksanaan
tugasnya.
Perudingan Pertama. Karena Insiden Banckert" seperti diuraikan diatas- delegasi
Belanda bari sampai di Linggarjati pukul. 11.00 karena harus kembali ke Banckert jam
setngah sore, maka peundingan hari itu sangat singkat saja, yakni tiga setengah jam saja.
Shermerhorn memutuskan tinggal di Linggarjati karena berpendapat akan menimbulkan
kesan kurang baik pada kalangan Indonesia jika kembali ke "Banckert", kecuali is harus
memenuhi undangan Presiden untuk makan malam. Ia dapat bertukar pikiran dengan
Presiden dan menikmati pertunjukan kesenian angklung.
Perudingan Kedua Sementara itu delegasi Indonesia pagi pagi berkumpul
dikediaman Sjahrir untuk mempersiapkan perundingan hari itu Pasal-pasal rancangan
pesetujuan dan direncanakan ualasan alasan yang akan diusulkan. Perundingan hari itu
sangat alot dan berlangsung hampir 9 jam. Dua hal yang tidak dapat dicapai kesepakatan,
yakni Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dan soal Kedaulatan Nrgara
10
Indonesia Serikat. Dalam soal pertama Sjahrir mendesak supaya Belanda menerima usul
bahwa Republik Indonesia mempounyai wakil wakilnya sendiri di luar negeri. Ia
berusaha meyakinkan pihak Belanda baha perwakilan ini terkait pada diakuinya Republik
de facto, yang sudah disetujui oleh pihak Belanda.
Seperti aya terangkan diatas salah satu tujuan utama pimpinan Republik dalam
perundingan ialah pengakuan oleh negara negara luar negeri. Tanpa pengakuan maka
mustahil nagi Republik mempunyai perwakilan-perwakilan dinegara itu dan hal itu akan
ditafsirkan bahwa Indonesia tetap tergantung pada negara penjajah. Pihak Belanda sangat
keras menolah tuntutan dengan alasan bahwa dengan demiakian Republik dan Belanda
dalam hubungan internasional akan sama derajatnya mengenai soal kedua juga tiak ada
kesepakatan. Delegasi Indonesia menuntut agar Indonesia Serikat menjadi negara
berdaulat. Bukan negara merdeka, seperti dinyatakan dalam rancangan perjanjian yang
dipakai dasar perundingan. Malam itu atas undangan Presiden. Delegasi Belanda
berkunjung pada presiden di Kuningan. Dalam kesempatan itu hadir Wakil
PresidenA>K>Gani dan Amir Sjarifuddin. Sjahrir tidak hadir karena sangat lelah dan
mengira kunjungan Belanda hanya merupakan kunjungan kehormatan.
Atas pernyataan Presiden jalannya perundingan Van Mook menjalankan bahwa
tercapainya kesepakan mengenai satu soal sajngubah kata"Merdeka" dibelakangkata
"Daulat" artinya yang diusulkan delegasi Indonesia adalah agah NIS akan menjadi negara
berdaulat, Ibih lanjut ia menerangkan bahwa selama prundingan dlegasi Belanda
berkeberatan atas perubahan itu. Tetapi setelah dibicarakan antara merekaakhirnya dapt
menyetujui usulan pihak Indonesia.
Van Mook tidak mengutarakan bahwa masih ada soal lain yang belum dipecahkan,
yakni perwakilan Republik Indonesia diluar negeri. Tetapi ia kemudian segera
menanyakan kepada Presiden apakah dengan diterimanya oleh pihak Belanda perubahan
"Merdeka" menjadi "Berdaulat" Presiden dapat menyetujui Rancangan Perjanjian
seluruhnya. Atas pernyataan itu Presiden menjawab dengan nada antyusias bahwa ia
dapat menyetujui prtemuan trsebut kemudian berakhir.
A.K.Gani dan Amir Sjarifuddin segera melaporkan kpada Sjahrir sangat menyesalkan
bahwa Presiden sudah menyetujui rancangan Perjanjian Linggarjati padahal soal
perwakilan Republik di luar negeri belum diputuskan tetapi Sjahrir tunduk pada
keputusan Presiden. Maka waktu Schermerhorn datang dan mengusulkan untuk diadakan
11
rapat pleno dan diketuai Killearn. Sjahrir punb menyetujuinya Rapat pleno diadakan
pukul 10.30 malam dengan Killearn sebagai ketua rapat yang menyatakan
kegembiraannya atas tercapainya kesepakatan dua delegasi. Hari berikutnya tanggal 13
November 1946 diadakan rapat antara kedua delegasi sebelumnya Sjahrir telah bertemu
dengan Presiden Soekarno yang tampak santai iya hanya mengusulkan agar dimasukan
dalam rancangan perjanjian satu pasal yakni pasal mengena arbitrase yang diterima oleh
Schermerhorn. Dengan dimaksud pasal arbitrase terbukti pada dunia luar bahwa bahwa
Republik Indonesia dan Negara Belanda sederajat, Komisi Jenderal kemudian berangkat
ke Jakarta.
Pada tanggal 15 November diadakan rapat antara kedua delegasi di Istana Risjwijk.
Dalam rapat itu dimasukan pasal 17 mengenai arbitrase, sorenya naskah dalam bahasa
Belanda di paraf di rumah Sutan Sjahrir dan pada tanggal 18 diparaf naskah bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris.
PERSETOEJOEAN LINGGARJATI
25 Maret 1947
Pemerintah Belanda dalam hal ini perwakilan komisi Djenderal dan Pemerintah
Repoeblik Indonesia dalam hal ini berwakilkan Delegasi Indonesia dan karena
mengandoeng keinginan jang ihlas hendak menetapkan perhoeboengan jang baik antara
kedoea Belanda dan Indonesia, dengan mengadakan tjara dan bentoek bangoen yang
baroe, bagi kerdja-bersama dengan soekarela, jang meroepkan djaminan sebik-baiknja
jang bentoek bangoen jang baroe serta dengan koekoeh tegoehnja dari pada kedoea negeri
itoe, didalam masa datang dan jang memboekakan djalan kepada kedoe bangsa itoe
untoek mendasarka perhoeboengan antara kedoea belah pihak atas dasar-dasar ketentoean
akan mengandjoerkan persetoedjoean ini selekas-lekasnja oentoek memperoleh
kebenaran dari pada madjelis-madjelis perwakilan ra'jatnja masing mansing.
Fatsal 1
Pemerintah Belanda mengakoe kenjataan kekoeasaan de facto Pemerintah Repoeblik
Indonesia atas Djawa, Madura dan Soematera.
Adapoen daerah daerah jang didoedoeki oleh Tentara Serikat itoe Tentara Belanda
dengan berangsoer-angsoer dan dengan kerdja-bersama antara kedoe belak pihak akan
dimasoekan pola kedalam daerah Repoeblik. Oentoek menyelenggarakan jang demikian
12
itoe, maka engan segera akan dimoelai melakoekan tindakan yang perloe-perloe, soepaya
selambat-lambatnya pada waktoe jang disebutkan dalam fatsal 12 termasoeknja daerah-
daerah yang terseboet itoe telah selesai.
Fatsal 2
Pemerintah Belanda dan Pemerintah Indonesia bersama sama menjelenggarakan segera
berdirinja sebuah Negara
berdaoelat dan berdemokrasi, jang berdasarkan perserikatan, dan dinamai Negara
Indonesia Serikat.
Fatsal 3
Negara Indonesia Serikat itoe akan melipoeti daerah Hindia Belandaseloeroehnja, dengan
ketentoean bahwa, djika kaoem pendoedoek dari pada sesuatoe daerah, setelah
dimoesjawaratkan dengan lain-lain bagian daerah, peon doeloe, menjatakan menoeroet
atoeran demokratis, tidak itoe masih beloem soeka masoek kedalam perserikatan Negara
Indonesia Serikat itoe, maka untuk bagian daerah itoe bolehlah diwoejoedkan sematjam
kedoedeokan istimewa terhadap Negara Indonesia Serikat itoe, dan terhadap Keradjaan
Belanda.
Fatsal 4
(1) Adapun negara-negara yang kelak meroepakan Negara Indonesia Serikat itoe, ialah
Repoeblik Indonesia, Borneo dan Timor Besar jaitu dengan tidak mengoerangi hak
kaoem pendoedoek dari pada suatoe bagian daerah oentoek menjatakankehendaknja
menoeroet aturan demokratis soepaya kedoedoekannja dalam Negara Indonesia Serikat
itoe dengan tjara lain.
(2) Dengan tidak menjalahi ketentoean didalam fatal 3 tadi dan didalam ajat (1) fatal ini,
Negara Indonesia Serikat boleh mengadakan atoeran istimewa tentang daerah itoe
negerinja.
Fatsal 5
(1) Oendang-oendang Dasar dari pada Negara Indonesia Serikat itoe ditetapkan nanti oleh
seboeah persidangan pembentoek Negara, jang akan didirikan dari pada wakil-waki
Repoeblik Indonesia dan wakil sekoetoe lain-lain jang akan termasuk kelak dalam Negara
13
Indonesia Serikat itoe, jang wakil-wakil ini ditoenjoekkan dengan djalan demokratis, serta
dengan mengingat ketentoean ajat jang dalam fatsal itoe.
(2) Kedoea belah pihak akan bermoesjawarat tntang tjara toeroet tjampoernya dalam
persidangan pembentoek Negara itoe oleh Repoeblik Indonesia, oleh daerah-daerah jng
tidak termasoek dalam daerah kekoeasaan Repoeblik itu dan oleh golongan-golongan
pendoedoek jang tidak tjoekoep perwakilan, segala itu dengan mengingat tanggoeng-
djawab dari pada Pemerintah Belanda dan Pemerintah Repoeblik Indonesia masing-
masing.
Fatsal 6
(1) Pemerintah Belanda dan Pemerintah Repoeblik Indonesia oentoek membela
peliharakan kepentingan-kepentingan bersama dari pada Negeri Belanda dan Indonesia
akan bekerdja bersama oentoek membentoek persekoetoean Belanda-Indonesia, jang
dengan terbentoeknya itoe keradjaan Belanda jang melipeoti Negeri Belanda, Suriname,
dan Curacao ditoekar sifatnja, mendjadi persetoedjoean itoe, jang melipoeti Negeri
Belanda, Suriname, dan Curacao dan pihak lainnja dari pada Negara Indonesia Serikat.
(2) Jang terseboet diatas ini tidaklah mengoerangi kemoengkinan oentoek mengadakan
poela atoeran yang kemoedian, berkenan kedoedoekan antara Negeri Belanda, Suriname,
dan Curacao satoe dengan jang lainnja.
Fatsal 7
(1) Oentuk membela-peliharakan kepentingan-kepentingan jang terebut di atas itoe,
persekoetoean Belanda Indonesia itoe akan mempoenjai alat-alat sendiri
(2) Alat-alat kelengkapan itoe akan dibentoek kelak oleh Pemerintah Negara Indonesia
Serikat, moengkin djoega oleh madjelis-madjelis perwakilan ra'jat Negara-negara itoe.
(3) Adpun jang akan dianggap kepentingan-kepentingan bersama itoeialah kerdja
bersama dalam hal perhoeboengan loear negeri, pertahanan dan seberapa perloe
keoeangan serta djuga hal-hal ekonomi dan keboedajaan.
Fatsal 8
Dipeocoek perskoetoean Belanda-Indonesia itoe doedoeklah Radja Belanda Kepoetoesa-
kepoetoesan bagi mengoesahakan kepentingan-kepentingan bersama itoe ditetapkan oleh
alat-alat kelengkapan persekoetoean itoe atas nama Baginda Radja.
14
Fatsal 9
Oentoek membela pelihara kepentingan-kepentingan Negara Indonesia Serikat di Negeri
Belanda dan kepentingan kepentingan Keradjaan Belanda di Inonesia, maka pemerintah
masing-maing kelak mengangkat Komisaris Loehoer.
Fatsal 10
Anggar-anggar persekoetoean Belanda-Indonesia itoe antara lain-lain akan mengandoeng
djoega ketentoean-ketentoean tentang:
a). Pertanggoengan hak-hak kedoea belah pihak yang satoe terhadap jang lain dan
djaminan-djaminan kepastian kedoe belah pihak menepati kewadjiban satoe kepada jang
lain.
b). Hal kewarga-negaraan oentoek warga-warga Belanda dan warga negara Indonesia
masing-masing di daerah lainnja.
c). Atoeran tjara mana mendjelaskan, appabila dalam alat-alat kelengkapan persekoetoean
itoe tidak dapat ditjapai semoefakat.
d). Atoeran tjara bagaimana dan dengan sjarat-sjarat apa alat
alat kelengkapan Keradjaan Belanda memebri bantoean kepada negara Indonesia Serikat,
oentoek selama masa negara Indonesia Serikat itoe sendiri. e). Pertanggoengan dalam
kedoea persekoetoean itoe, akan ketentoean hak-hak dasar kemanoesiaan dan kebebasan
kebebasan, jang dimasoekan djoega oleh Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Fatsal 11
(1). Anggar-anggar itoe direntjanakan kelak oleh soeatoe permoesjawaratan antara wakil-
wakil Keradjaan Belanda dan Negara Indonesia Serikat jang hendak dibentoek itoe. (2).
Anggar-anggar itoe teroes berlakoe setelah dibenarkan oleh madjelis-madjelis perwakilan
ra'jat kedoea belah pihakj masing-masingnja.
Fatsal 12
Pemerintah Belanda dan Pemerintah Repoenlik Indonesia akan mengoesahakan, soepaj
berwoedjoednja Negara Indonesia Serikat dan Perskoetoean Belanda-Indonesia itoe telah
selesai sebeloem tanggal 1 Djanuari 1949.
Fatsal 13
15
Pemerintah Belanda dengan segera akan melakoekan tindakan-tindakan agar soepaja,
setelah terbentoeknja persekoetoean Belanda-Indonesia itoe dapatlah Negara Indonesia
Serikat diterima menjadi anggota didalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Fatsal 14
Pemerintah Repoeblik Indonesia mengakoei hak-hak orang boekan bangsa Indonesia
akan menoentoet dipulihkan hak
hak yang dilakoekan dan dikembalikan barang-barang milik mereka, jang lagi berada
didalam daerah kekoeasaan de facto seboeah panitija ataoe pengembalian itoe.
Fatsal 15
Oentoek mengoebah sifat Pemerintah Hindia, sehingga soesoenanja dan tjara bekerdjanja
sesoeatoe dengan pengakoean Repoeblik Indonesia dan dengan bentoek soesoenan
menoeroet hoekoem Negara. Jang direlakan itoe, maka Pemerintah Belanda akan
mengoesahakan soepaja dengan segera dilakoekan atoeran-atoeran oendang-oendang
akan supaja, sementara menantikan berwoejoednja Negara Indonesia Serikat dan
Persekeotoean Belanda-Indonesia itoe, kedoedoekan Negara dan hoekoem Bangsa-
Bangsa disesoeaikan dengan keadaan itoe.
Fatsal 16
Dengan segera setelah persetoejoean ini mendjadi, maka kedoea belah pihak melakukan
pengoerangan kekoeatan angkatan balatentara masing-masing.
Kedoea belah pihak akan bermusjawarat tentang sampai seberapa jauh dan lambat
tjepatnya melakukan pengoeangan itoe, demikian djuga bersama dalam ketentaraan.
Fatsal 17
(1). Oentoek kerja sama jang dimaksoedkan dalam Persetoedjoean ini antara Pemerintah
Belanda dan Pemerintah Indonesia, hendak diwoedjoedkan seboeah badan, jang berdiri
dari pada delegasi-delegasi jang ditoendjoekan oleh tiap-tiap Pemerintah itoe masing-
masingnya, dengan seboeah sekretariat bersama.
(2). Pemerintah Belanda dan Pemerintah Repoeblik Indonesia, bilamana ada toemboeh
perjanjian berhoeboeng dengan Persetoedjoean ini, jang tidak dapat diselesaikan dengan
kesepakatan antara delegasi yang terseboet itoe, makarerahkan kep. Dalam hal itoe
16
delegasi-delegasi itu ditambah dengan diangkat dengan semoefakat itoe, diangkat oleh
ketoea Dewan Pengadilan Internasional.
Fatsal Penoetoep
Persetoedjoean ini dikarangkan dalam bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia, kedoea-
doea naskah itoe sama kekoeatannja.
Pada hari ini tanggal 25 Maret 1947 persetoedjoean ini dengan mengindahkan oleh
kedoea belah pihak soerat-menyoerat dan nota-nota antara delegasi-delegasi jang
berhoeboengan dengan persetoedjoean ini, terakhir soerat-soerat tanggal 14 dan 24 Maret
1947, dan jang dilampirkan pada persetoedjoean ini, ditandatangani atas nama
Pemerintah-Pemerintah Keradjaan Belanda dan Repoeblik Indonesia oleh delegasi
delegasi jang di koeasakan oentoek ini. Empat lembar ari persetoedjoean ini
ditandatangani dalam bahasa Belanda dan empat lembar dalam bahasa Indonesia.
ISI POKOK PERUNDINGAN LINGGARJATI
1. Pemerintah Belanda mengakui kenyataan kekuasaan de facto Pemerintah Republik
Indonesia atas Jawa, Madura dan Sumatera.
2. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerjasama membentuk Negara Indonesia
Serikat (NIS) dan Republik Indonesia menjadi salah satu bagiannya.
3. RIS dan Belanda akan bekerja sama membentuk uni Indonesia-Belanda denga Ratu
Belanda selaku ketuanya.
Delegasi Indonesia;
1. Sutan Sjahrir. (Ketua)
2. Mr. Soesanto Tirtoprodjo (Anggota)
3. Dr. Adnan Kapau Gani (Anggota)
4. Tn. Kamar Mohammad (Anggota)
Penengah dari Inggris :
Lord Killearn
Delegasi Belanda:
17
1. Prof. dr. Schermerhorn (Ketua)
2. Tn. van poll (Anggota)
3. dr. F. De Boer ( Anggota )
4. dr. Van Mook (Anggota)
Notulen:
1. Dr. J. Leimena
2. Dr. Soedarsono
3. Mr. Amir Sjarifoeddin
4. Tn. Ali Boediardj
RIWAYAT GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI
1. Tahun 1918
Ditempat ini berdiri Gubuk milik Ibu Jatisem
2. Tahun 1921
Oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana (Mergen) dirombak menjadi semi
permanen
3. Tahun 1930
Dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal Jacobus (Koos) Van Os
(Bangsa Belanda)
4. Tahun 1935
Dikontrak oleh Heiker (Bangsa Belanda) dan dijadikan Hotel bernama RUSTOORD
5. Tahun 1942
Jepang menjajah Indonesia dan Hotel ini diganti Namanya menjadi hotel HOKAY
RYOKAN
6. Tahun 1945
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI maka hotel iini diberi nama Hotel Merdeka
7. Tahun 1946
18
Digedung berlangsung peristiwa sejarah yaitu perundingan antara Pemrintah Inonesia
dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Persetujuan Linggarjati,
sehingga Gedung ini sering disebut GEDUNG NASKAH LINGGARJATI
8. Tahun 1948-1950
Sejak aksi militer ke II gedung ini dijadikan Markas Belanda
9. Tahun 1950-1975
Ditempati oleh Sekolah Dasar Negeri Linggarjati
10. Tahun 1975
Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa kabar bahwa gedung ini
akan dipugar oleh Pertamina. Tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan
Sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggarjati
11. Tahun 1976
Gedung ini oleh Pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan untuk dipugar dan dijadikan musium MEMORIAL.
2. Taman Purbakala Cipari
Taman Purbakala Cipari berada di Desa Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten
Kuningan. Situs Cipari memiliki udara yang sejuk dan nyaman dengan pemandangan
yang indah didukung oleh lahan situs yang cukup luas. Dilansir
dari disparbud.jabarprov.go.id, Situs Cipari dikenal dengan nama Taman Purbakala,
karena merupakan bentuk pengembangan dan pemanfaatan situs purbakala yang
berfungsi sebagai obyek wisata budaya sekaligus media pembinaan dan pengolahan
jatidiri bangsa.
3. Situs patalisan prabu siliwangi.
Situs ini berlokasi di Kampung Puhun, Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana,
Kabupaten Kuningan. Lokasinya persis di sebelah barat kolam pemandian obyek wisata
Cibulan. Situs tersebut lebih dikenal dengan nama Situs Sumur 7. Konon, pada zaman
dahulu para prajurit Prabu Siliwangi merasa kelelahan saat sedang dalam perjalanan.
Prabu Siliwangi kemudian memukul tongkatnya sebanyak 7 kali di atas tanah. Tak
lama, air langsung keluar dari tempat tongkat itu dipukulkan. Dan masih banyak lagi
tempat bersejarah yang ada di Kuningan, Jawa Barat.
19
D.
TEMPAT WISATA
DAERAH KUNINGAN JAWA BARAT
1. Natural Park (Linggarjati)
Natural Park Linggarjati, berlokasi di Linggasana, Cilimus, Linggasana, Cilimus,
Kuningan, Jawa Barat. Sebagai tempat wisata alam, hiburan yang ditawarkan tak hanya
soal pemandangan alamnya saja yang cantik, tapi ada juga beberapa fasilitas hiburan
menarik untuk pengunjungnya.
Wisata Natural Park (Linggarjati) buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIB.
Harga tiket untuk memasuki destinasi wisata ini diantaranya:
Tiket Masuk Anak Rp. 9.000
Tiket Masuk Dewasa Rp. 10.000
2. Waduk Darma
Waduk Darma merupakan tempat yang cocok dijadikan pilihan wisata alam bersama
keluarga karena tempatnya yang ramah anak maupun orang dewasa. Waduk Darma
terletak di sebelah barat daya dari kota Kuningan, tepatnya di Desa Jagara, Kecamatan
Darma. Ada berbagai fasilitas seperti toilet, tempat ibadah, taman bermain anak, mini
train, flying fox, area perkemahan dan warung makan hingga toko oleh-oleh.
Wisata Waduk Darma bisa kita kunjungi kapanpun, karena destinasi wisata ini buka
selama 24 jam. Harga tiket masuk untuk memasuki destinasi wisata ini diantaranya:
Tiket Masuk Anak Rp. 10.000
Tiket Masuk Dewasa Rp. 10.000
Tiket masuk kendaraan roda dua Rp. 3.000
Tiket masuk kendaraan roda empat Rp. 5.000
3. Wisata Cibulan
Wisata Cibulan berlokasi di Desa Maniskidul Kec. Jalaksana Kab. Kuningan.
Destinasi wisata Cibulan menawarkan dua kolam besar yang ditempati banyak sekali
ikan, yang dipercaya sebagai ikan dewa. Wisata Cibulan buka setiap hari mulai pukul
07.00-17.00 WIB. Harga tiket untuk memasuki destinasi wisata ini diantaranya:
Tiket Masuk Anak (Weekday) Rp. 18.000
Tiket Masuk Anak (Weekend) Rp. 20.000
Tiket Masuk Dewasa (Weekday) Rp. 20.000
Tiket Masuk Dewasa (Weekend)Rp. 22.000
20
4. Telaga Biru Cicerem
Telaga biru Cicereum berlokasi di Desa Kaduela Kec. Pasawahan Kab. Kuningan.
Tempat wisata ini menawarkan keindahan telaga yang jernih, sehingga pengunjung bisa
melihat banyak ikan hanya dari pinggir Telaga Biru Cicerem. Wisata Telaga Biru
Cicerem buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Harga tiket untuk memasuki
destinasi wisata ini yaitu Rp. 10.000
5. Curug Putri Landung
Sebuah air terjun yang cukup populer di kawasan Kuningan bernama Curug Landung,
cukup ramai dikunjungi pengunjung setiap harinya. Curug Putri Landung berlokasi di
Desa Cisantana Ke. Cigugur Kab. Kuningan. Curug Landung berada di kaki Gunung
Ciremai, sehingga udaranya masih sejuk dan segar, pas untuk mencari tempat untuk
bersantai setelah lelah beraktivitas di kota.
Wisata Curug Putri Landung buka setiap hari, Weekday mulai pukul 08.00-16.00
sedangkan Weekend mulai pukul 08.00-18.00 WIB. Harga tiket untuk memasuki
destinasi wisata ini diantaranya:
Tiket Masuk Anak (Weekday) Rp. 5.000
Tiket Masuk Anak (Weekend) Rp. 8.000
Tiket Masuk Dewasa (Weekday) Rp. 15.000
Tiket Masuk Dewasa (Weekend)Rp. 17.000
E.
MAKANAN KHAS KUNINGAN, JAWA BARAT
1. Hucap (Tahu Kecap)
Hucap atau Tahu Kecap, adalah makanan tradisional khas Kuningan semacam
Ketoprak atau Kupat Tahu namun sedikit berbeda dalam hal rasa dan penyajiannya.
Makanan ini terbuat dari bahan dasar seperti tahu goreng, bumbu kecap, kuah kacang
dan kupat.
21
2. Rujak kangkong
Kabupaten Kuningan punya rujak kangkung yang siap memanjakan lidah kamu
dengan kelezatannya. Rujak kangkung yang memiliki cita rasa pedas ini disiram
dengan bumbu rujak dengan tambahan asam jawa yang membuat rasanya lebih segar.
Kita bisa mencobanya di tempat Kuliner Rujak Kangkung dan Tutut yang berlokasi di
Jl. RE Martadinata No. 111, Ciporang, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan.
3. Peuyeum ketan
Peuyeum ketan, adalah peuyeum yang terbuat dari beras ketan (beras pulut), baik dari
ketan putih maupun ketan hitam. Peuyeum ketan ini sering dibuat sendiri di rumah-
rumah di daerah jawa, terutama sebagai persediaan makanan di saat Lebaran. Selain
itu, di daerah kuningan, peuyeum ketan ini sering dijual oleh pedagang; pedagang
kaki lima maupun pedagang di pasar lokal dan pusat oleh-oleh di Kuningan. Peuyeum
ketan yang biasa di jual di Kuningan sendiri terdiri dari dua macam, peuyeum ketan
hitam yang biasa dikombinasikan dengan uli menjadi tape uli, dan peuyeum ketan
putih yang terbungkus daun (biasanya daun jambu air atau daun waru).
22
4. Kwecang
Salah satu makanan khas Kuningan yang paling terkenal ialah kwecang. Makanan ini
sangat mirip dengan bacang. Jika bacang memiliki cita rasa gurih dengan isi potongan
daging atau sayuran, kwecang Kuningan ini memiliki rasa yang manis. Kwecang
dibuat dengan bahan dasar beras ketan yang dicampur dengan air kapur dan kemudian
dibungkus menggunakan daun bambu. Kwecang biasanya disajikan dengan gula pasir
sebagai tambahan untuk dicocol.
5. Nasi kasreng
Nasi kasreng juga termasuk salah satu makanan khas Kuningan yang populer. Satu
porsi nasi kasreng terdiri dari nasi, sayur toge, taburan udang rebon, dan gorengan
sebagai lauknya. Selain itu juga ada tambahan sambal terasi di dalamnya agar rasanya
semakin nikmat.
23
6. Ketempling
Ketempling merupakan makanan ringan khas Kuningan berbahan dasar singkong
yang menjadi camilan favorit para warga Kuningan.
7. Kue Satu
Kue satu juga termasuk makanan khas Kuningan yang sangat direkomendasikan
untuk kamu cicipi. Kue yang namanya mirip angka ini dibuat dari olahan kacang hijau
yang disangrai, ditumbuk, lalu dicampur dengan gula halus. Setelah itu, adonan kue
satu dicetak menggunakan cetakan kayu.
8. Keripik Gadung
Keripik ini terbuat dari umbi tanaman gadung yang sebenarnya beracun bila
pengolahannya tidak tepat. Biasanya, keripik ini memiliki rasa asin gurih.
9. Tahu Lamping
Kudapan tahu ini mirip dengan tahu Sumedang yang sudah terkenal di Nusantara.
Namun, tekstur tahu lamping cukup berbeda dibandingkan tahu sumedang. Tahu
24
Sumedang memiliki kulit yang bertekstur renyah, sementara tahu lamping tidak.
Meskipun begitu, baik daging maupun kulit tahu sama lembutnya.
25
LAMPIRAN-LAMPIRAN
26