The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerpen Rumah Nainan karya Jemema Dequeisha Prasetio

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Mohammad Annas Purba Jati, 2023-10-24 06:38:37

Cerpen Rumah Nainan

Cerpen Rumah Nainan karya Jemema Dequeisha Prasetio

Keywords: Cerpen

Rumah Mainan JEMEMA DEQUEISHA PRASETIO 9D/14


ari dulu aku menginginkan tempat hangat seperti rumah mainan. Sebuah mainan cantik yang bisa menarik perhatian para gadis kecil. Berisi boneka yang bisa digerakkan, rumah yang nyaman, dan tidak lupa akhir dari cerita yang bisa ditentukan oleh para “lebay banget jadi orang” Semua orang berkata seperti itu jika aku mencoba mengungkapkan perasaanku. Rasa ya? Sebuah kata yang akhir akhir ini tidak bisa kupahami. Eh, tidak juga, ada perasaan sedih yang menyesakkan di setiap malam. Menghampiriku, menemani malamku, atau bahkan membuatku tidak bisa tertidur sepanjang malam. “kayaknya kamu emang butuh psikolog deh” Atau kalimat seperti “kamu ngidap bipolar ya?” Sudah seperti makanan sehari-hariku, entah itu bercanda atau emang kenyataan. Pemain yang memainkan rumah mainan kali ini adalah orang tuaku. Seperti biasa, aku tidak bermaksud merendahkan para orang tua yang sudah bekerja keras atau pun ngapain lah. Aku merasa sesak walaupun di rumahku. Ralat, maksudku rumah mereka. Yang kudengar, selama ini rumah itu nyaman, hangat, dan aman buat anggotanya. Aku tidak merasakan hal itu. Aku merasa aku bukan bagian dari rumah itu. Karena itu aku mencari secuil afeksi dari media sosial. Aku tau, itu semua hanya kebohongan belaka. Sebuah kebohongan yang sangat rapi dan cantik itu memikat diriku seperti lebah dan bunga. Di sana terlihat lebih nyaman daripada rumah. D pemain. Permainan lama yang dulu sangat kusukai itu entah kenapa malah menggambarkan situasiku sekarang ini, menyedihkan.


Di rumah itu, orang tuaku tidak bisa dibilang akur, Papah yang jarang pulang akibat kerjaan dan Mami yang menuntut agar diriku tampak sempurna di depan keluarga besar. Hubunganku dengan Papahku itu bahkan terasa seperti orang asing, menyedihkan. Keluarga ini terlihat sangat rapuh. Aku sudah berusaha semampuku, mereka tau itu. “Loh, harapan, aturan, hukuman, atau pun hal lain yang kamu dapat bukannya buat masa depan kamu sendiri?” “Mereka kayak gitu karena peduli sama masa depan kamu, hargain dong” Oh? Hanya masa depanku? Bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaanku? Walaupun sudah sering merasa tertekan, aku masih tidak biasa dengan rasa yang aneh itu. Bahkan fase denial sudah seperti teman baikku, karena jika aku merasa depresi dengan kehidupan ini aku akan menyanggah bahkan menolak perasaanku sendiri, karena aku tidak boleh membuat diagnosis sendiri. Aku sudah terbiasa menangis seharian di kamar sampai tertidur dan paginya berlagak seperti tidak terjadi apa apa. Dipikir-pikir, aku sering menangis tanpa alasan, yang membuatku disebut cry baby. Aku selalu bertanya-tanya, apakah perasaan ini berlebihan? Apa sebenarnya aku hanya merasa paling tersakiti? Apa aku beneran yang salah disini? Lalu kenapa?? Kenapa? KENAPA? Aku tau, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku tau, aku yang paling tau, mereka sudah membuatku bisa merasakan kehidupan. Tapi, apakah itu cukup? Apa peran orang tua hanya segitu? Mereka tidak memperhatikan mentalku, tidak peduli bagaimana aku diperlakukan di lingkungan keluarga besar. BAHKAN MEREKA MEMBANDING-BANDINGKAN AKU DENGAN PARA KAKAKKU?? Huh, walaupun begitu mereka tetap menyalahkanku karena tidak sesuai dengan keinginan mereka. Aku paham itu, ini semua salahku.


Mungkin hanya ini saja yang berada di buku kali ini. Entah sejak kapan aku sudah berada di hutan yang cantik di tengah malam yang cerah. Wah, bulannya terlihat sangat cantik ya? Untung di perjalanan tadi, aku sudah membeli kursi lipat untuk kemah dan untuk talinya aku sudah belajar mengikat simpul yang kuat untuk hari ini. Di sini aku akan berakhir, tetapi aku akan muncul lagi di sana Dengan berakhir disini tidak akan ada yang bisa menyakitiku lagi. Dengan begini aku tidak akan membuat kesalahan lagi, iya kan? Berakhir di tempat dingin seperti ini, tidak buruk juga ternyata. TO BE CONTINUED?


Click to View FlipBook Version