koneksi antar materi octarina calon guru penggerak angkatan 9 kabupaten belitung timur
pengambilan keputusan berdasarkan nilai nilaikebajikan
PERTANYAAN PEMANTIK: “ M E N G A J A R K A N A N A K M E N G H I T U N G I T U B A I K , N A M U N M E N G A J A R K A N M E R E K A A P A Y A N G B E R H A R G A / U T A M A A D A L A H Y A N G T E R B A I K ” ( T E A C H I N G K I D S T O C O U N T I S F I N E B U T T E A C H I N G T H E M W H A T C O U N T S I S B E S T ) . : BOB TALBERT.
filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidik adalah seorang penuntun yang dapat menuntun tumbuh kembangnya anak didiknya sesuai dengan kodrat dan iradat yang dimiliki sang anak agar mereka memperoleh keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang anak manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Semboyan yang pernah dicetuskan oleh KHD adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah) , Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) harus smampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
setiap pengambilan keputusan harus di lihat akhir akhirnya, dan juga harus bersumber pada nilai kebajikan yang juga mengacu pada nilai yang sesuai . keputusan yang berpihak pada murid akan memberikan dampak positif pada murid. prinsip yang dianut dalam pengambilan keputusan bukan haya berbasis untuk tujuan akhir tapi juga peraturan dan rasa peduli.ketiganya disesuaikan dengan kondidi yang terjadi disekolah kita. Dengan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam diri seorang guru ini maka akan berpengaruh dalam pengambilan suatu keputusan dari permasalahan yang timbul dalam kegiatan pendidikan. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘ coaching ’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘ coaching ’ yang telah dibahas pada sebelumnya. Dengan keterampilan coaching membantu seorang guru mengajukan pertanya-pertanyaan yang berbobot untuk memprediksi hasil keputusan dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik dan siap dengan konsekuensi yang ditimbulkan keputusan tersebut.
4. BAGAIMANA KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA DAN MENYADARI ASPEK SOSIAL EMOSIONALNYA AKAN BERPENGARUH TERHADAP PENGAMBILAN SUATU KEPUTUSAN KHUSUSNYA MASALAH DILEMA ETIKA? dalam megambil suatu keputusan, seorang guru perlu memiliki kompetensi kesadaran diri (self awareness), Pengelolaan diri ( self managemen), kesadaran soial (social awareness), dan keterampilan berhubungan sosial (realtionship skilis). Dengan kompetensi tersebut maka diharapkan guru akan mampu mengambil suatu keputusan dengan tepat.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran. Dan jika masalah tersebut dilema etika atau benar VS benar maka, guru perlu melakukan pertimbangan terhadap 4 paradigma pengambilan keputusan dan 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat akan memiliki konsekuensi positif terhadap institusi atau lembaga diaman kita berada. karena secara langsung atau tidak langsung keputusan kita akan berpengaruh terhadap institusi yaitu dalam hal ini sekolah atau lingkungan tempat kita berada, dan terutama komunitas dimana kita berada atau siswa yang mungkin juga berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Jika kita salah mengambil keputusan, tentu saja konsekuensinya juga tidak akan baik dan berdampak buruk pada lingkungan dan orang-orang yang beroperasi secara langsung maupun tidak langsung dengan keputusan kita.
7. APAKAH TANTANGAN-TANTANGAN DI LINGKUNGAN ANDA UNTUK DAPAT MENJALANKAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERHADAP KASUS-KASUS DILEMA ETIKA INI? ADAKAH KAITANNYA DENGAN PERUBAHAN PARADIGMA DI LINGKUNGAN ANDA? TIDAK DIPUNGKIRI, DALAM SUATU INSTANSI TENTU SAJA TERDAPAT KELOMPOK YANG PRO DAN KONTRA TERHADAP SEBUAH SISTEM YANG SEDANG DIJALANKAN OLEH PEMANGKU KEBIJAKAN SEKOLAH. BAGAIMANA CARA KITA MEMANDANGNYA DAN MENYIKAPINYA.OLEH KARENA ITU, SEBELUM MENENTUKAN KEPUTUSAN HARUS BERPEDOMAN PADA 3 PRINSIP YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN. SEHARUSNYA KETIKA KEBIJAKAN SUDAH DITENTUKAN, SEMUA EKOSISTEM DALAM SEKOLAH BISA SALING BERKOLABORASI UNTUK MEWUJUDKAN TUJUAN BERSAMA
8. APAKAH PENGARUH PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG KITA AMBIL INI DENGAN PENGAJARAN YANG MEMERDEKAKAN MURIDMURID KITA? BAGAIMANA KITA MEMUTUSKAN PEMBELAJARAN YANG TEPAT UNTUK POTENSI MURID KITA YANG BERBEDA-BEDA? Setiap keputusan yang kita ambil akan ada pengaruhnya , misalnya keputusan bagaimana kita menyusun strategi pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa. Membuat keputusan yang tepat untuk potensi murid dapat kita awali dengan mengetahui kesiapan, minat, serta profil belajar murid. kita dapat memutuskan strategi pembelajaran yang sesuai untuk mengakomodasi kebutuhan belajar setiap siswa, dan melalui strategi pembelajaran berdiferensiasi konten, proses, atau produk.kita menyusun strategi pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar siswa
9.BAGAIMANA SEORANG PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN DAPAT MEMPENGARUHI KEHIDUPAN ATAU MASA DEPAN MURID-MURIDNYA? Guru adalah pemimpin pembelajaran, oleh karena itu seorang pemimpin pembelajaran harus bisa mengambil keputusan dengan bijaksana.Keputusan-keputusan yang diambil tersebut, haruslah berpihak pada murid agar kehidupan masa depan murid dapat meraih keselamatan dan kebahagiaan. Kehidupan masa depan murid dapat terpenuhi dengan baik.
10. APAKAH KESIMPULAN AKHIR YANG DAPAT ANDA TARIK DARI PEMBELAJARAN MODUL MATERI INI DAN KETERKAITANNYA DENGAN MODUL-MODUL SEBELUMNYA? Sebagai seorang pemimpin saat mengambil keputusan haruslah berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan peran guru penggerak, berpedoman pada pembelajaran berdiferensiasi, serta sosial serta sosial dan emosional, serta memiliki keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan. Berdasarkan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnya, terutama pembelajaran pada modul 3.1 ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengambilan keputusan harus berdasarkan pada tiga unsur, yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggungjawab terhadap segala konsekuensi, serta berpihak pada murid.
11. SEJAUH MANA PEMAHAMAN ANDA TENTANG KONSEP-KONSEP YANG TELAH ANDA PELAJARI DI MODUL INI, YAITU: DILEMA ETIKA DAN BUJUKAN MORAL, 4 PARADIGMA PENGAMBILAN KEPUTUSAN, 3 PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN, DAN 9 LANGKAH PENGAMBILAN DAN PENGUJIAN KEPUTUSAN. ADAKAH HAL-HAL YANG MENURUT ANDA DI LUAR DUGAAN? PEMAHAMPEMAHAMAN SAYA TERHADAP MATERI TENTANG KONSEP-KONSEP YANG TELAH DIPELAJARI DI MODUL INI, YAITU : PENERAPAN 4 PARADIGMA PENGAMBILAN KEPUTUSAN, 3 PRINSIP PENGAMBILAN KEPUTUSAN, DAN 9 LANGKAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI LANGKAH AWAL DALAM PENENTUAN MASALAH DILEMA ETIKA ATAU BUJUKAN MORAL. SEBUAH KASUS DIKATAKAN DILEMA ETIKA APABILA (BENAR LAWAN BENAR), SEDANGKAN DIKATAKAN BUJUKAN MORAL APABILA (SALAH LAWAN BENAR)
12. SEBELUM MEMPELAJARI MODUL INI, PERNAHKAH ANDA MENERAPKAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN DALAM SITUASI MORAL DILEMA? BILAMANA PERNAH, APA BEDANYA DENGAN APA YANG ANDA PELAJARI DI MODUL INI? ternyata sebuah kasus dilema etika perlu diselesaikan dengan langkah-langkah pengambilan dan pengujian keputusan , agar apa yang diputuskan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. dulu saya jujur hanya mengandalkan keputusan hasil akhir yang tidak merugikan kedua belah pihak. kalau sudah selesai ya sudah. ternyata saya salah.
1 3 . B A G A I M A N A D A M P A K M E M P E L A J A R I K O N S E P I N I B U A T A N D A , P E R U B A H A N A P A Y A N G T E R J A D I P A D A C A R A A N D A D A L A M M E N G A M B I L K E P U T U S A N S E B E L U M D A N S E S U D A H M E N G I K U T I P E M B E L A J A R A N M O D U L I N I ? kita sebagai seorang pemimpin harus belajar dalam mengambil keputusan tidak boleh hanya berpandangan bahwa kita memiliki otoritas dan dapat mengontrol siswa secara penuh. Tetapi keputusan yang kita ambil harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan, tanggungjawab, dan berpihak pada murid. dan juga harus memikirkan banyak kepentingan dari apa yang kita putuskan.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, maka mempelajari modul ini sangatlah penting. Dengan mempelajari modul ini, diharapkan setiap keputusan yang diambil adalah langkah bijaksana dan paling terbaik untuk jangka panjang bukan hanya jangka menengah.atau jangka pendek saja.
T E R I M A H K A S I H S E M O G A B E R M A M F A A T