4. Karakteristik Resiko 5. Manajemen re
Penentuan kategori aman untuk 1.Petani saat
nilai RQ seharusnya 1 pestisida
petunjuk pada
Dalam penelitian ini semua terdapat pada k
responden (petani melon di Desa
Curut) mempunyai nilai RQ > 1 2.Saat melakukan
perlu mempe
pestisida yang
bahan aktifnya,
yang boleh d
ketepatan dosis.
3.Menggunakan a
selama menggu
4.Pemerintah pe
petani dalam
pestisida
kesimpulan:
Karena RQ untuk pajanan Pestisida
> 1 , sehingga dikategorikan tidak
aman dan menjadi resiko
kesehatan pada petani di desa
curut.
esiko 6. Komunikasi resiko
menggunakan Pengadaan penyuluhan atau
memperhatikan sosialisasi tentang bahaya
a label yang pestisida dapat dilakukan oleh
kemasan. pemerintah atau dinas terkait,
n pencampuran, seperti dinas pertanian.
erhatikan jenis
dicampur yaitu Penyuluhan ini bertujuan untuk
jumlah pestisida
dicampur, serta meningkatkan pengetahuan
.
alat pelindung diri petani dalam menggunakan
unakan pestisida
erlu mengontrol pestisida dan mengantisipasi
menggunakan atau mencegah resiko bahaya
dari pestisida tersebut.
ANALISIS RISIKO KESEHATAN 02. An
LINGKUNGAN (ARKL) Pem
PARAMETER AIR MINUM UNTUK Pajanan agen
PEKERJA DI KABUPATEN parameter air m
PASURUAN TAHUN 2017 pekerja di
Pasuruan yan
01. dalam tubuh
ingesti karen
Identifikasi Bahaya sistem pencern
Besi (fe) : dalam dosis besar maka
dapat merusak dinding usus dan
sampai terjadi kematian.
Mangan (Mn): Mangan dalam
jumlah tertentu dapat masuk
kedalam darah dan dapat
menembus otak.
Seng (Zn): Didalam air akan
menimbulkan rasa kesat dan
dapat meninmbulkan gejala
muntaber.
Nitrat (NO3) dan Nitrit (NO2):
nutrisi utama bagi pertumbuhan
tanaman dan alga.
03 analisis dosis
respons
nalisis
majanan
kimia dalam
minum untuk
Kabupaten
ng masuk ke
melalui jalur
na melewati
naan
04. Karakteristik
resiko
05. man
re
Manajemen ri
minum Kabu
yang perlu di
upaya me
kesimpulan : nilai RQ minimal mempertahank
dan RQ maksimal tiap agenrisiko
adalah <1 yang artinya bahwa minum yang d
pada orang dewasa seperti pekerja
di kelompok berisiko dengan para pekerja
estimasi berat badan 55 kg, laju
asupan pada orang dewasa 1 L/hari Pasuruan ser
selama 250 hari/tahun untuk
jangka waktu 25 tahun kedepan pemeriksaan se
dikatakan aman
melakukan pen
parameter zat
melebihi baku m
najemen
06. Komunikasi
esiko
resiko
isiko terkait air Komunikasi risiko terkait air
minum Kabupaten Pasuruan
upaten Pasuruan dengan melibatkan pihak,
DLH, Dinas Kesehatan dan
dilakukan adalah
Pemerintah daerah
enjaga dan Kabupaten Pasuruan dalam
bertanggung jawab terhadap
kan kualitas air kualitas air mulai dari sumber
dikonsumsi oleh air minum sampai
dikonsumsi oleh konsumen.
di Kabupaten
rta melakukan
ecara berkala dan
engendalian pada
pencemar yang
mutu.
ARKL AKIBAT PAJANAN LOGAM P
PADA MASYARAKAT DI PERUMAHA
D ULU GADUT KOTA PADAN
Latar Belakang
Hasil pengukuran PM2,5 di Perumahan Blok D
masih berada dibawah baku mutu udara
dalam ruang rumah. Namun, melihat
terdapatnya kandungan logam Cr, Mn, Ni
dalam PM2,5 tersebut, maka perlu untuk
memperkirakan risiko paparan logam yang
akan diterima penghuni rumah di Perumahan
Blok D
1. Identifikasi Bahaya
a) Sumber Bahaya
Senyawa kromium(Cr), Mangan(Mn), dan
Nikel(Ni)
b) Media Penyebar
Media penyebar konsentrasi logam Cr, Mn,
dan Ni yang akan diteliti adalah PM 2,5.
Penyebaran konsentrasi logam Cr, Mn, dan
Ni yang terkandung dalam PM 2,5 yaitu
melalui udara ambien yang masuk melalui
ventilasi rumah, pintu, dan jendela rumah
c) Gejala Kesehatan Yang Potensial
Senyawa kromium (Cr) tidak dapat larut dan
disimpan dalam paru-paru dalam waktu yang
lama. Senyawa kromium (Cr) berperan dalam
produksi kanker paru. Senyawa kromium
heksavalen yang larut dalam air sangat mengiritasi,
korosif dan beracun bagi jaringan tubuh manusia,
logam tersebut menembus jaringan permukaan
sebelum bereaksi. Sebaliknya, senyawa kromium
yang tidak dapat larut, disimpan dalam paru-paru
m dalam waktu yang lebih lama dan berperan
dalam produksi kanker paru (Waldbott, 1978)
Keracunan akut senyawa Mangan (Mn) melibatkan
sistem pernapasan. Keracunan mangan kronis
mempengaruhi sistem saraf pusat, terutama otak
tengah antara cerebellum dan cerebral cortex, dan
benjolan pada korteks otak. Penyakit ini
menyebabkan gangguan mental, disorientasi,
gangguan memori dan pengambilan keputusan,
kecemasan akut, bahkan halusinasi dan delusi
PM 2,5 KELOMPOK 17
AN BLOK
NG 1. Ade Rahma Danita
2. Mala Rahmawati
3. Zoharo Fajriah
Langkah-langkah ARKL
1. Identifikasi Bahaya
2. Analisis Dosis Respon
3. Analisis Pajanan
4. Karakterisasi Risiko
5. Manajemen Risiko
6. Komunikasi Risiko
Nikel (Ni), elemen logam putih keabu-abuan
yang dapat menyebabkan kanker paru dan
hidung pada manusia. Eksposur akut nikel
menyebabkan pusing, sesak napas, sakit
kepala bagian depan, mual, dan muntah yang
biasanya muncul ketika individu terpapar
udara segar. Setelah 12-36 jam mengalami
peningkatan suhu dan sel darah putih. Nyeri
dada, batuk kering, napas pendek, dan
kelelahan ekstrim terjadi. Kematian telah
terjadi 4- 11 hari setelah paparan. Senyawa
nikel yang dipancarkan pabrik dapat
menyebabkan dermatitis bagi individu yang
alergi dengan logam. (Waldbott 1978)
d) Karakteristik Responden
Survei kuesioner dilakukan terhadap 139 orang
penghuni rumah di Perumahan Blok D yang
terdiri dari 90 orang responden dewasa dan 49
orang responden anak-anak dengan hasil sbb:
Berat badan responden dewasa berkisar antara
35-85 kg. Berat badan rata-rata responden
dewasa yaitu 58,1 kg. Berat badan anak-anak
berkisar antara 5-48 kg. Berat badan rata- rata
responden anak-anak yaitu 16,6 kg.
Waktu pajanan rata-rata di dalam rumah
responden dewasa yaitu 18,8 jam. Waktu pajanan
rata-rata responden anak-anak yaitu 22,5 jam.
Nilai durasi pajanan untuk perumahan yang
ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dalam
pedoman ARKL yaitu 350 hari/tahun.
Hasil kuesioner menunjukkan bahwa durasi
pajanan rata-rata responden dewasa adalah 13,2
tahun. durasi pajanan rata-rata responden Anak-
anak adalah 4,6 tahun.
2. Analisis Dosis Respon
4. Karakteristik Risiko
Interpretasi tingkat risiko dari logam non-
karsinogen adalah jika nilai RQ1 maka,
tingkat risiko tidak aman atau berisiko
(Direktorat Jendral PP dan PL Kemenkes,
2012)
Interpretasi tingkat risiko logam karsinogen
dinyatakan dalam bilangan eksponen tanpa
satuan. Tingkat riisko dikatakan aman jika nilai
ECR Interpretasi tingkat risiko logam karsinogen
dinyatakan dalam bilangan eksponen tanpa
satuan. Tingkat riisko dikatakan aman jika nilai
ECR ≤ E-4(10-4). Tingkat risiko dikatakan tidak
aman jika nilai ECR > E-4 (10-4) (Direktorat
Jendral PP dan PL Kemenkes, 2012) E-4(10-4).
3. Analisis Pajanan
5. Manajemen Risiko
Pengelolaan risiko pada sumber dapat dilakukan
dengan menurunkan nilai konsentrasi di udara
ambien hingga mencapai batas konsentrasi aman
dalam pajanan lifetime (Novirsa, 2012)
6. Komunikasi Risiko
Komunikasi risiko merupakan tindak lanjut dari
pelaksanaan ARKL dan merupakan tanggung
jawab dari pemrakarsa atau pihak yang
menyebabkan terjadinya risiko, dalam hal ini
adalah PT Semen Padang.
Bahasa yang digunakan haruslah bahasa umum
dan mudah dipahami, serta memuat seluruh
informasi yang dibutuhkan tanpa ada Petunjuk
Teknis Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Halaman 36 yang ‗ditutup - tutupi‘. Komunikasi
risiko dapat dilakukan dengan teknik atau
metode ceramah ataupun diskusi interaktif,
dengan menggunakan media komunikasi yang
ada seperti media massa, televisi, radio, ataupun
penyajian dalam format pemetaan menggunakan
geographical information system (GIS).
KELOMPOK 18 Identi
Bah
Nur Fazila 10031282025019
Rizka Tri Ulandari 10031282025034 Media Penyebar
Lutfia Zahra Chairani 10031382025068
Padatnya kendaraa
bisa meningkatkan
kadar NO2. Jumlah
Langkah-langkah meningkat sang
ARKL terhadap pengelu
buang kendaraan ke
1.Identifikasi Bahaya
2.Identifikasi Sumber Gejala Kesehatan
3.Analisis Pamajanan
4.Analisis Dosis Respon Gas NO2 dapat
5.Karakteristik Risiko manusia dan lingku
6.Manajemen Risiko bertemu dengan ua
7.Komunikasi Risiko didalam tubuh
terbentuk segera H
merusak tubuh, ka
akan terasa pedih
mata, hidung, salur
jantung. Konsentras
dapat mempenga
bahkan menyebabk
Identi
Sum
Sumber bahaya
adalah senyawa n
(NO2) karena pad
bisa meningkatkan
ifikasi
haya
an di Gerbang Tol ANALISIS RISIKO
n polusi, termasuk KESEHATAN LINGKUNGAN
h kendaraan yang
gat brpengaruh KADAR NO2 SERTA
uaran emisi gas KELUHAN KESEHATAN
e udara. PETUGAS PEMUNGUT
merusak tubuh KARCIS TOL
ungannya. Jika NO2
ap air di udara atau
manusia akan
HNO3 yang amat
arena itulah NO2
h jika mengenai
ran pernapasan, &
si NO2 yang tinggi
aruhi pernapasan
kan kematian.
ifikasi
mber
dalam kasus ini
nitrogen dioksida
datnya kendaraan
n polusi di lokasi tol
ARKL Manaj
Ris
Analisis
Pemajanan Perhitungan analisis
kadar NO2 pada
Durasi pajanan sangat berpengaruh bernilai RQ lebih dar
terhadap hasil intake atau asupan. adanya pengelolaa
Semakin lama petugas bekerja maka mengurangi besarn
hasil intake akan semakin tinggi dan memperpanjang du
risiko terkena efek kesehatan yang akan berdampak
merugikan akan semakin tinggi pula. Berikut manajem
disarankan, antara la
Analisis Dosis
Respon Melakuk
.Analisis dosis respons, tahapan 1 preventif m
untuk menetapkan kuantitas diri untuk
toksisitas risk agent untuk setiap Memaksimalkan u
pencegahan yang s
spesi kimia. Toksisitas dinyatakan diterapkan seperti pe
masker dan penga
sebagai dosis referensi, yaitu ventilasi berupa AC
menggunakan RfC (Reference tanaman
Concentration) untuk pajanan Perlu
melalui inhalasi. Besar RfC dari kadar 3 inform
NO2 di tetapkan dalam tabel EPA pengaw
udar
sebesar 0,02
Pihak yang berwena
penetapan baku mu
hendaknya meninjau
nilai baku mutu NO
sudah ditetapk
jemen Karakteristik
siko Risiko
s risiko didapatkan Semua petugas pemungut karcis tol
pengukuran score bertugas selama 8 jam/hari. Lama pajanan
ri satu, artinya perlu pada petugas pemungut karcis tol ini
an risiko untuk berkaitan langsung dengan banyaknya
nya dampak serta NO2 yang memapar mereka selama
urasi pajanan yang bertugas di gerbang tol. Walaupun jumlah
pada responden . intake kadar NO2 yang dihirup setiap hari
men risiko yang masih kecil dan berada di bawah baku
ain: mutu udara ambien, namun apabila kadar
NO2 ini dihirup setiap hari dalam waktu
kan berbagai upaya yang lama maka akan mempengaruhi
mandiri atau proteksi jumlah asupan dari NO2 itu
k menjaga daya tahan
Komunikasi
tubuh. Risiko
upaya 2 Tindak lanjut dari pelaksanaan ARKL
sudah dan proses komunikasi ini untuk
emakaian meningkatkan pengetahuan serta
adaan pemahaman individu dan masyarakat
C dan tentang risiko ancaman bahaya agar
mereka dapat mengantisipasi dan
u menyampaikan mengatasi risiko-risiko yang mungkin
masi mengenai hasil terjadi. Dalam kasus ini, komunikasi
wasan & pemantauan risiko tanggung jawab dari pemrakarsa
TOL & Badan Lingkungan Hidup
ra secara berkala.
bertanggung jawab dalam
ang dalam 4 menyampaikan informasi mengenai
utu NO2 hasil pengawasan dan pemantauan
u kembali udara secara berkala
O2 yang
kan
ANALISIS RISIKO SUL
PADA UDARA KOT
1.21A3K.0.z1FeiH0i0zl1to3aar00m1ihn3a021i3pSfR81a1oaa28t3fkcu0a28h2n1r02mi592n0H00da2a30wa5s67h0aa.7nti4ah dan
meni
Analisis Dos
Buku primer standar NAAQS (EPA,1990) yang tersedia u
μg/Nm3 (arithmetic mean) tahunan. Konsentrasi aman
dengan nilai default US-EPA 20 m3/hari diubah menjad
waktu pajanan (tE) = 24 jam/hari, frekuensi pajanan (fE
berat badan (Wb) = 70 kg dan periode waktu rata-rata
maka dapat dihitung Nilai Rfc (Reference Concentration
perhitungan risiko kesehatan non karsinogenik akibat p
0,00945 mg/kg/hari dengan berat badan 55 kg dan laj
/hari (US-EPA).
Analisis Pem
Pada penelit
melalu
car
LFUR DIOKSIDA (SO2)
TA YOGYAKARTA
Identifikasi Bahaya
SO2 mempunyai karakteristik
bau yang tajam, tidak berwarna
tidak terbakar di udara, Gas SO2 dapat
menyebabkan iritasi bronchus,
bronchiole dan alveoli sehingga
produksi selaput dan lendir
(mucosa) meningkat. Hal ini
akan menyebabkan resistensi
saluran udara pernapasan
ingkat dan akan menyebabkan konstriksi
bronchus.
sisi-Respon
untuk SO2 adalah95
intake untuk RfC
di R= 0,83 m3/jam,
E) = 350 hari/tahun,
a (tavg) = 365/tahun,
on) ini digunakan dalam
pajanan SO2 adalah
ju inhalasi 20 m3
majanan
Analisis pajanan
tian di jelaskan bahwa Gas SO2 masuk ke
dalam tubuh manusia dapat
ui hidung (inhalasi) dan mulut dengan
ra bernapas dalam. Semakin lama
bekerja di lingkungan yang
mengandung gas So2
semakin besar pula asupan
gas yang terhirup dan masuk
ke dalam tubuh pekerja.
Karakterist
Diketahui hasil nila
pedagang yang be
sebesar 0,571 mg/k
mg/kg/hari. Dar
menunjukkan ba
berisiko menimb
pedagang di Kaw
Manajem
Pada penelitian ada berapa manajen risiko yang da
dapat mengurangi pajanan So2, antara lain :
1. Mengurangi konsentrasi dari pajanan SO2
2. Melakukan pengurangan waktu kontak pekerja d
3. Mengontrol bahaya yang dapat dilakukan denga
durasi pajanan pada pedagang.
Komunikasi risiko
Risiko yang d
risiko bagi ke
pengelolaan
penduduk, jum
membuat pap
dilakukan upa
pegawai aga
terbawa oleh
Dilakukannya
dengan oran
tik Risiko
ai RQ pada pajanan SO2 lifetime pada responden
erada di 9 titik pemantauan di Kota Yogyakarta
kg/hari dan pada pajanan realtime sebesar 0,761
ari hasil yang didapatkan nilai RQ < 1 sehingga
ahwa pada pajanan lifetime dan realtime tidak
bulkan efek kesehatan non karsinogenik pada
wasan 9 titik pemantauan di Kota Yogyakarta.
men Risiko
apat di upayakan
dengan SO2.
an mengurangi
disebabkan oleh Sulfur Dioksida (SO2) memiliki
esehatan, agar direncanakan pengendalian dan
seiring bertambah dan meningkatnya jumlah
mlah kendaraan, jumlah industri yang berpontensi
paran SO2 semakin tinggi. sebaiknya segera
paya agar pengendalian terhadap pedagang
ar tidak terpapar SO2 secara langsung yang
h angin yang berakibat buruk pada kesehatannya.
a pengurangan jam berjualan atau bergantian
ng lain dalam menjaga toko setiap 6,9 jam.
"Analisis Risiko Pajanan Gas So
Terhadap Gangguan Saluran Pern
Diterminal Terpadu Amplas Kecam
Analisis Pemajanan
Jalur Pejanan : Inhalasi (pernafasan)
Waktu Pajanan : Untuk yang
terpajan >7 tahun yang terkena
gangguan pernafasan adalah 17
orang, sedangkan untuk yang
terpajan <7 tahun terdapat 22
orang yangmengalami gangguan
pernafasan
Frekuensi Pajanan: < 10 Jam/perhari
Kelompok
20
Matahari
Erni Iqlima 10031282025025
Nada Aurora 10031182025001
Risma Febri Sari 10031382025075
Mata Kuliah Analisis Kesehatan
Lingkungan
Dosen Pengampuh: Dr. Elvi
Sunarsih,S.KM.,M.Kes
Analisis Dosis Respon: RFC
o2 dan No2 Sumber Transfortasi
napasan Pada Pedagang Kaki Lima
matan Medan Amplas Kota Medan"
Identifikasi Sumber
Ada hubungan kosentrasi gas SO2
sumber transportasi, berat badan
dan lama panajan dengan
ganggungan sistem pernapasan
IDENTIFIKASI BAHAYA
Bahaya = SO2
Media= transportasi
Besaran Konsentrasi : Variabel yang paling
dominan berpengaruh terhadap keluhan
saluran pernafasan adalah variabel
konsentrasi SO2 sumber transportasi
dengan nilai Exp (B) tertinggi yaitu 297,34.
C 0,0125 mg/kg/hr
Manajemen Risiko
merupakan proses pengelolaan
risiko yang berfungsi meminimilkan
risiko kesehatan yang dialami
populasi berisiko
Pengelolaan risiko pada dasarnya
adalah membuat skenario agar
tingkat risiko (RQ) < 1
untuk membuat RFC = 1 dapat
dilakukan dengan skenario :
pengendalian risk agent dan
pengendalian waktu pajanan
WW
Komunikasi Risiko
Komunikasi risiko dilakukan untuk
menyampaikan infromasi risiko
pada masyarakat (populasi yang
berisiko), pemerintah dan pihak
berkepentingan lainnya.
Karakteristik
Risiko
Karakteristik risiko dilakukan untuk
membandingkanhasil analisi paparan
(Inhalasi) dengan nilai dosis respon
acuan (RFC) .
Untuk mencari tingkat risiko (RQ)
dengan hasil perhitungan Inhalasi
dibagi dengan nilai RFC sehingga
didapatkan nilai RQ: 0,0125.
Nilai RQ yang melebihi 1 menunjukan
bahwa responden tersebut mempunyai
risiko mengalami gangguan saluran
pernafasan, dengan pemaparan terus
menerus, suatu saat responden
tersebut akan mengalami risiko
gangguan saluran pernafasan. Berat
badan orang dewasa 50 Tahun.
Paparan No 2 dan SOS Terhada
Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Komunikasi R
Komunikasi risiko adalah kegiatan menyampaikan i
tingkat resiko kesehatan atau lingkungan, pemakna
terakhir adalah kegiatan atau kebijakan yang ditujuk
atau lingkungan.
Analisis Pajanan Ta
Me
Isi Jalur pajanan: menghirup ua
Ba
udara Me
ua
Waktu pajanan : 8 jam/hari. Be
tig
Laju inhalasi : 0,61 m3 /jam pe
lok
Frekuensi Pajanan: 336 stu
Pe
hari/tahun. de
m
Ko
se
m
t
Identifikasi Sumber
Penggunaan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi
memperlancar dan membantu kegiatan masyarakat semakin men
Begitupun penggunaan bahan bakar yang semakin banyak. Hal penin
jumlah kendaraan, dimana tingginya aktivitas kendaraan mengaki
jumlah emisi yang dikeluarkan semakin banyak pula. Hal inilah yang m
semakin buruknya kualitas udara akibat pencemaran udara ambien dar
emisi kendaraan bermotor yang tidak sempurna. Indeks kualitas udara di
berdasarkan dua pencemar yaitu nitrogen dioksida (NO2) untuk
kendaraan bermotor dengan bahan bakar bensin dan sulfur dioksida
untuk emisi kendaraan diesel dengan bahan bakar solar.
Semakin tinggi pengguna kendaraan bermotor maka intensitas pengisian
bakar juga meningkat. Petugas SPBU berisiko tinggi terpapar dengan p
berbahaya baik dari emisi kendaraan maupun uap bahan bakar. Meskipu
dan SO2 memiliki efek non karsinogenik, zat tersebut tetap bersifat irita
menyebabkan gangguan saluran pernafasan secara kronis.
ap Resiko kEesehatan Petugas
r Umum SPBU di Kota Kediri
Resiko
informasi diantara pihak-pihak yang terlibat tentang:
aan kesehatan, lingkungan dan keputusan dan yang
kan untuk mengelola dan mengontrol resiko kesehatan
Indentifikasi Masalah
ambahkan sedikiBahaya kimia: NO2 DAN SO2
edia : Emisi kendaraan yang menyebabkan udara terrcemar dan
ap bahan bakar
ahaya kimia: NO2 DAN SO2
edia : Emisi kendaraan yang menyebabkan udara tercemar dan
ap bahan bakar
esaran Konsentrasi: Kadar N02 dan So2 di udara di ukur sebanyak
ga kali pengukuran yakni pagi, siang, dan sore hari. Setiap
engukuran dilakukan selama 1 jam. Pengukuran dilakukan pada
kasi yang konsentrasi pencemarnya tinggi dan mewakili wilayah
udi yaitu area antara pompa tangki bahan bakar dan kantor.
engukuran dilakukan oleh petugas dari PT. Global Quality Analitical
engan alat impinger. Sampel udara NO2 dan SO2 dianalis dengan
metode Saltzman dan Pararosanilin. Data diperoleh yaitu
onsentrasi NO2 di SPBU 74.931.10 masih di bawah nilai NAB NO2
ebesar 400 µg/Nm3 (1 jam) dan konsentrasi SO2 di SPBU 74.931.10
masih jauh di bawah nilai NAB SO2 sebesar 900 µg/Nm3 (1 jam).
untuk
Analisis Dosis-Respons
ningkat.
ngkatan (RfC) untuk NO2 sebesar
ibatkan 0,02 mg/kg/hari
memicu (RfC) untuk SO2 sebesar
0,21 mg/kg/hari
ri hasil
ihitung
emisi
a (SO2) KELOMPOK 21
Deva Puspita
n bahan M.Raihan fadli
polutan Neanatasia Br Tarigan
un NO2
an yang
Manaje
Dalam Analisis Risiko Keseh
prinsip pengelolaan risiko d
risiko (RQ) > 1.Dari hasil perhit
risiko untuk prtugas SPBU DI K
petugas SPBU masih dalam
memenuhi Baku Mutu Udara
waktu singkat, tetapi sebalik
terhadap kesehatan jika opera
yang lama dan terus meneru
pemantauan, pengawasan, d
udara. Serta kebijakan pengg
untuk meminimalisir pajanan p
Kelompok 21
Deva Puspita (10031382025061)
Neanatasia Br Tarigan (10031282025044)
M.Raihan Al-Fadli (10031382025067)
emen Risiko
hatan Lingkungan (ARKL)
dilakukan apabila tingkat
tungan didapatkan tingkat
KOTA KENDARI . Ini berarti
kondisi aman dan masih
a Ambien Nasional dalam
knya akan berisiko tinggi
ator terpapar dalam waktu
us. Perlu dilakukan upaya
dan pengendalian polusi
gunaan Alat Pelindung Diri
polutan ambien.
Karakteristik Risiko
Operator SPBU 74.931.10 memiliki nilai RQ NO2 tertinggi
pada siang hari sebesar0,31775 (RQ<1). Dan nilai RQ SO2
tertinggi pada pagi hari sebesar 0,00275 (RQ<1).
Hasilperhitungan besar risiko belum ada operator yang
memiliki RQ>1. Besarnya rata-rata nilai RQ (real time)
yang diperoleh adalah RQ<1. Hal ini dipengaruhi oleh
intake yang diterima operator SPBU 74.931.10 masih
rendah. Artinya, besar risiko pajanan NO2 dan SO2 di
udara ambien pada operator SPBU 74.931.10 dengan
nilai konsentrasi NO2 tertinggi pada siang hari sebesar
153.7 μg/Nm3 dan nilai konsentrasi SO2 tertinggi pada
pagi hari sebesar 14.01 μg/Nm3 masih dalam kondisi
aman bagi operator.
ANALISIS RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN
PAJANAN DEBU KAYU PADA PEKERJA DI
INDUSTRI MEBEL CV. CITRA JEPARA
KABUPATEN SEMARANG
KELOMPOK 22
Nama Kelompok:
1.Sulthan Rajan Taqiy Menako 10031382025056
2. Jusmini 10031182025016
3. Aulia Gusti Prameswari 10031282025039
Mata Kuliah: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Dosen Pengampu: DR. Elvi Sunarsih, S.KM., M.Kes
Identifikasi Sumber
CV. Citra Jepara melakukan pengujian untuk pertama kalinya
terhadap konsentrasi debu total di setiap unit produksinya.
Hasil pengujian didapatkan bahwa kadar debu total tertinggi
terdapat pada bagian sanding (pengamplasan) yaitu sebesar
3,953 mg/m3. Meskipun masih berada di bawah nilai ambang
batas, namun, sebagian besar pekerja mengeluh rasa
ketidaknyamanan terhadap adanya debu kayu, mengeluh
gangguan pernapasan.
Identifikasi Bahaya
Debu yang masuk ke saluran nafas menyebabkan timbulnya
reaksi mekanisme pertahanan non spesifik berupa batuk, bersin,
gangguan transport mukosilier dan fagositosisoleh makrofag.
Iritasi kulit juga akan berpengaruh akibat efek akut dari debu.
Efek kronis dapat muncul setelah terjadinya kontak atau pajanan
selama beberapa hari, minggu, bulan, bahkan dalam tahun.
Analisi Dosis Respon
Konsentrasi rata-rata TSP yaitu sebesar 21,5 mg/m3
sehingga melebihi baku mutu (Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
Nomor 13 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika dan FaktorKimia di Tempat Kerja).
Karakteristik Risiko
Pada risiko non karsinogenik dan karsinogenik pajanan
realtime, seluruh responden dinyatakan masih aman.
Namun, pajanan lifetime non karsinogenik terdapat 17
orang (56,67%) responden berisiko sedangkan untuk
karsinogenik terdapat 3 orang (10%) dinyatakan berisiko.
Analisis Pemajanan
pekerja yang bekerja di CV. Citra Jepara pada unit sanding mayoritas
perempuan, rata-rata responden memiliki usia ≥40 tahun, rata-rata
berat badan sebesar 57,6 kg. Lama pajanan pekerja yaitu lebih dari 8
jam/hari, durasi pajanan lebih dari 5 tahun, dan frekuensi pajanan
adalah 298 hari/tahun.
Rata-rata konsentrasi debu total di unit sanding yaitu 21,5 mg/m3 .
Konsentrasi tersebut berada di atas baku mutu yang telah
ditetapkan. Nilai asupan pekerja unit sanding selain dipengaruhi
odleiphelnagmaaruphaAijaonnleahanl,bifesrseiaksruneDynasoikposnaijssaennRatnrae, sdsiapTnSodPnudriausinpitaSjaannadninjugg.a
Lama pajanan dan frekuensi pajanan sudah melebihi batas yang
ditentukan Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sedangkan
durasi pajanan rata-rata pekerja bekerja yang sudah cukup lama
maka sebanding apabila asupan yang masuk ke pekerja tergolong
cukup tinggi.
Manajemen Risiko
Cara pengelolaan risiko dapat dilakukan melalui 2 pendekatan yaitu
pendekatan teknis dan pendekatan administratif.
Pendekatan secara teknis dapat dilakukan dengan memantau
kondisi lingkungan kerja melalui pengukuran kadar debu udara
untuk jangka waktu tertentu dan dilakukan secara berkala,
khususnya di tempat yang potensial menghasilkan debu.
Pengaturan ulang posisi exhaust fan yang benar dan sesuai.
Pengelolaan secara administratif yaitu melalui upaya
pengurangan lama waktu dan frekuensi pajanan hingga batas
aman bisa dilakukan dengan penyusunan ulang jadwal kerja.
Komunikasi Risiko
Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia, perlu mendapat perhatian
khusus baik kemampuan, keselamatan, maupun kesehatan kerjanya.
Upaya perlindungan tenaga kerja perlu diterapkan karena berhubungan
dengan kesehatan tenaga kerja. Pengelolaan lingkungan kerja dapat
mendukung terselenggaranya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
tenaga kerja (Budiono, 2007:1).
Debu merupakan bahaya yang dapat menyebabkan pengurangan
kenyamanan kerja, gangguan penglihatan, gangguan fungsi faal paru,
bahkan dapat menimbulkan keracunan umum dalam kondisi tertentu.
Salah satu industri yang berkembang di masyarakat dan menghasilkan
bahan buangan partikulat berupa debu adalah industri mebel yang
umumnya informal karena tumbuh dan berkembang sebagai bentuk
usaha home industry. Kebiasaan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
berupa masker, dapat menurunkan resiko gangguan fungsi paru pada
karyawan yang terpapar debu.
Identifikasi Ana
Bahaya Paja
Bahaya kimia : Masyarakat wilayah TP
Hidrogen Sulfida (H2S) H2S dan NH3 karen
merupakan gas yang berasal dari pembusukan sekitaran TPA
sampah organik dan memiliki bau seperti telur Jalur Pajanan :
busuk. memiliki ciri tidak berwarna, sangat
beracun dan mudah terbakar. Inhalasi (pernafasan)
Amonia (NH3) Masyarakat yang hidup
berasal dari produk manusia dan alami, gas ini menggunakan masker s
merupakan gas tidak berwarna yang memiliki
bau tajam. Injesti (pencernaan)
Media Paparan : Makanan dan minuman
udara
Dermal (kulit)
Besaran Konsentrasi :
Konsentrasi H2S tertinggi yaitu 0.002 mg/m3 Tidak menggunakan A
dan terendah 0,001 mg/m3 masyarakat yang tingga
Konsentrasi NH3 tertinggi yaitu 0,031 mg/m3
dan terendah 0,013 mg/m3
Gejala Gangguan Kesehatan :
Sesak nafas
Nyeri dada
Sembab paru
Batuk darah
alisis Analisis
anan Dosis
Respon
PA sukawinatan terpajan
na tinggal di wilayah
)
p di daerah yang terpajan tidak
sehari-hari.
n yang terpapar
APD saat bekerja di TPA dan
al disekitar TPS
Karakteristik Manaje
Risiko Resi
Definisi : Manajemen risiko
keterpaparan ma
Berdasarkan tabel 5, Risk Quotient terus menerus an
(RQ) untuk NH3 semuanya berada meningkatkan
dibawah 1 yakni berkisar 0,062-0,147. langsung secara
pemerintah dan m
Kesimpulan : pengelolaan sa
excavator atau
H2S masih di bawah baku mutu, namun memaksimalkan
tingkat risiko tidak aman masih sampah. Melakuk
ditemukan pada beberapa responden. kualitas udara
Sedangkan paparan NH3 untuk saat ini terkait H2S dan m
masih tergolong aman. pengelolaan m
landfill.
emen Komunikasi
iko Resiko
untuk mengatasi Dapat dengan melibatkan
asyarakat secara pemerintah, terutama Dinas
ntara lain dengan lingkungan hidup dalam
mengawasi langsung secara
pengawasan berkala dan memberitahu
a berkala oleh masyarakat untuk melakukan
menyediakan alat aktivitas di luar kawasan TPA
ampah seperti Sukawinatan agar waktu dan
frekuensi paparan H2S dapat
buldozer untuk berkurang.
pengelolaan
kan pemantauan
secara berkala
mengubah sistem
menjadi sanitary
ARKL PARAMETER
PEKERJA DI KABUP
TAHUN
Mata Kuliah : Analisi Risiko Kesehatan Lingkungan
Dosen Pengampu : Dr. Elvi Sunarsih, S.KM., M.Kes.
Kelompok 24 :
1. Shinta Azizah (10031282025024)
2. Fadila Suci Amalia (10031282025043)
3. Era Wahyu Nursandi (10031382025065)
Analisis Dosis Respon
Besi (Fe) dengan RfD
0.3mg/kg/hari bisa
menimbulkan efek yang
dapat menyebabkan
gangguan penyerapan
oksigen dalam darah,
ditandai gejala pusing,
mual. Jika dikonsumsi
dalam jumlah tinggi dapat
merusak saraf.
Mangan (Mn) dengan RfD
1,4 E-1 mg/kg/Hari bisa
menyebabkan
Hipokolesterolemia,epileps
i, kekurangan pankreas
ekskrin, siklerosis
berganda, katarak,
osteoporosis,
fenilketonuria & penyakit
kencing maple syrup
(inborn) pada ingesti
kronik pada manusia.
AIR MINUM UNTUK
PATEN PASURUAN
N 2017
Identifikasi Bahaya
sumber air yang akan digunakan untuk
air minum, yang pada dasarnya sumber
air di Kabupaten Pasuruan adalah air
tanah, sehingga perlu adanya filtrasi pada
air tanah Kabupaten Pasuruan.
Peningkatan kadar Fe sendiri terjadi
karena air tanah sendiri memiliki
kandungan
permukaan. Fe yang tinggi daripada air
Analisis Dosis Respon
Seng (Zn) dengan RfD 0.3
mg/kg/hari bisa
menyebabkan Penurunan
erythrocyte Cu, aktifitas
Zn-superoxide dismutase
(ESOD).
Nitrit (NO2) dengan RfD 1E-
1 mg/kg/Hari bisa
menyebakan
Methemoglobinemia pada
bayi yang terpajan kronik
air minum.
Nitrat (NO3) dengan RfD
1,6E+0 mg/kg/hari bisa
menyebabkan Gejala klinis
dini dari
methemoglobinemia.
Analisis P
Hasil perhitungan
air minum di kab
Pajanan agen kimia dalam parameter
Pasuruan yang masuk ke dalam tubuh m
pencernaan. Bahan Po
Karakter
MaPada hasil ARKL kasus ini menunjukkan b
agen risiko adalah <1 yang artinya bahw
kelompok berisiko dengan estimasi berat bad
L/hari selama 250 hari/tahun untuk jangka
apabila mengkonsumsi air minum di Kabupate
kimia air tidak leb
Manajemen Risiko
Upaya menjaga dan mempertahankan
kualitas air minum yang dikonsumsi oleh
para pekerja di Kabupaten Pasuruan serta
melakukan pemeriksaan secara berkala dan
melakukan pengendalian pada parameter
zat pencemar yang melebihi baku mutu.
Pajanan
intake parameter
bupaten Pasuruan
r air minum untuk pekerja di Kabupaten
melalui jalur ingesti karena melewati sistem
olutan non karsinogenik.
risti Resiko
bahwa nilai RQ minimal dan RQ maksimal tiap
wa pada orang dewasa seperti pekerja di
dan 55 kg, laju asupan pada orang dewasa 1
a waktu 25 tahun kedepan dikatakan aman
en Pasuruan dengan nilai konsentrasi risk agent
bih dari yang ada.
Komunikasi Resiko
Komunikasi risiko terkait air minum Kabupaten
Pasuruan dengan melibatkan pihak, DLH, Dinas
Kesehatan dan Pemerintah daerah Kabupaten
n Pasuruan dalam bertanggung jawab terhadap
kualitas air mulai dari sumber air minum
sampai dikonsumsi oleh konsumen.
PAJANAN GAS HIDROGEN
SULFIDA (H₂S) PADA
PEMULUNG AKIBAT TIMBULAN
SAMPAH DI TPA JATIBARANG
KOTA SEMARANG
Identifikasi Masalah
→Bahaya Kimia Gas Hidrogen
Sulfida (H₂S)
→Media Lingkungan Udara
→Besaran Konsentrasi Kadar gas
hidrogen sulfida pada zona I dan II
sebesar 0,005 ppm dan di tempat
peristirahatan pemulung kadar gas
hidrogen sulfida sebesar 0,006
ppm. Dengan rata-rata konsentrasi
sebesar 0,0053 ppm atau 0,0074
mg/m³. Hasil tersebut masih
dibawah baku mutu udara ambien,
yaitu 0,02 ppm atau 0,028 mg/m³
berdasarkan
KEP50/MENLH/11/1996.
→Gejala Gangguan Kesehatan
Iritasi mata, iritasi paru, kerusakan
indra penciuman, kerusakan
saluran pernafasan, pusing, efek
kardiovaskuler, efek neurologis,
efek pada metabolik tubuh dan
hilang kesadaran.
Analisis Pajanan
Jalur pajanan : Inhalasi
Konsentrasi risk agent (C): 0,0074 mg/m³
Laju Asupan (R): 0,83 m³/jam
Waktu Pajanan (te): 8 jam/hari
Frekuensi pajanan (fe): 336 hari/tahun
Durasi pajanan (Dt): 7 tahun
Berat Badan Responden (Wb): 55 Kg
Kelompok 25 ARKL
Prodi Kesehatan Lingkungan
Identifikasi Sumber
Sumber pajanan gas
hidrogen sulfida di TPA
jatibarang berasal dari zona
pembuangan sampah dan
kotoran dari ternak sapi di
TPA Jatibarang. Gas Sulfida
(H₂S) pada TPA tersebut
berasal dari proses
pembusukan sampah yang
menimbulkan pencemaran
udara salah satunya gas
hidrogen sulfida. Jumlah
sampah yang masuk ke TPA
Jatibarang 4.273 m³/hari.
Analisis Dosis Respon
RfC = 2,86 x 10‾⁴ (mg/kg)/hari
→RQ (Realtime): 0,56 Pajanan gas H₂S
tidak menunjukkan risiko kesehatan
non karsinogenik saat ini.
Manajemen Resiko
Menentukan batas aman
/risiko terendah yang terjadi
dengan cara mengurangi
kontak dengan pajanan
berupa meminamlisir pola
aktifitas yang ada di TPA
Jatibarang.
Karakteristik Resiko
Hasil perhitungan intake dan
tingkat risiko non karsinogenik
(RQ) pajanan gas hidrogen
sulfida pada populasi pemulung
di TPA Jatibarang.
Pajanan real time atau
waktu saat ini belum terjadi
risiko kesehatan non-kanker
atau RQ (0,671).
Pada durasi pajanan +10
tahun akan terjadi risiko
kesehatan nonkanker RQ
(1,60>1).
Pada tahun ke-30 atau
durasi pajanan life time
akan terjadi risiko
kesehatan non-kanker pada
pemulung di TPA
Jatibarang, didapatkan RQ
(2,875 >1).
Komunikasi Resiko
Pemerintah Kota Semarang
agar mempertimbangkan
pengelolaan Tempat
Pembuangan Akhir (TPA)
Jatibarang dengan sistem
Sanitary Landfill.
Kesadaran dari para pemulung
yang bekerja di TPA Jatibarang
dalam upaya mengurangi
dampak pajanan gas hidrogen
sulfida dengan lebih
memperhatikan aspek
kesehatan dan keselamatan
pemulung yaitu pengunaan
APD terutama masker saat
bekerja.
Memperhatikan pola pajanan
seperti waktu, durasi dan
frekuensi pajanan yang sesuai
dengan batas aman yang tidak
menimbulkan risiko nonkanker
akibat gas hidrogen sulfida di
TPA Jatibarang.
Referensi
Pamungkas, R. E., Sulistyani, S., & Rahardjo, M. 2017. Analisis
Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Akibat Paparan Karbon
Monoksida (CO) Melalui Inhalasi Pada Pedagang Di Sepanjang
Jalan Depan Pasar Projo Ambarawa Kabupaten Semarang. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (Undip), vol. 5, no. 5, hal. 824-831.
Wulandari, A., Darundiati, Y. H., & Raharjo, M. 2016. Analisis
Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan Particulate Matter (Pm10)
Pada Pedagang Kaki Lima Akibat Aktivitas Transportasi (Studi
Kasus: Jalan Kaligawe Kota Semarang). Jurnal Kesehatan
Masyarakat (Undip), vol. 4, no. 3, hal. 677-691.
Rifai, B., Joko, T., & Darundiati, Y. H. 2016. Analisis risiko
kesehatan lingkungan pajanan gas hidrogen sulfida (H2S) pada
pemulung akibat timbulan sampah di TPA Jatibarang Kota
Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip), vol. 4, no. 3, hal.
692-701.
By: Group 25
Citra Ayu Ar Rahma
Chintia Haryati
Hilwa Sabrina