ii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Buku Pedoman
Transplantasi Terumbu Karang ini. Kami mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak Desa Bandar Rahmat yang telah mengizinkan dan
mempercayakan untukmelakukan kegiatan Transplantasi Terumbu Karang ini
kepada Tim PKM-PM Unimed.
Kami Berharap masyarakat dapat memahami maksud, tujuan, serta petunjuk
kegiatan transplantasi terumbu karang ini. Sehingga program kegiatan
transplantasi terumbu karang dapat dilanjutkan dan dilestarikan oleh masyarakat.
Semoga segala bantuan yang telah diberikan kepada tim mendapatkan balasan
setimpal dari Allah SWT.
Hormat Kami,
Tim PKM-PM
Unimed 2021
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Tujuan....................................................................................................... 2
1.3. Manfaat Bagi Mitra .................................................................................. 2
BAB II HASIL IMPLEMENTASI PROGRAM ............................................... 3
2.1. Kondisi Existing Mitra ............................................................................. 3
2.2. Detail Program ......................................................................................... 4
2.3. Petunjuk Operasional ............................................................................... 4
2.4. Hasil Penerapan ........................................................................................ 5
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 5
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 11
LAMPIRAN......................................................................................................... 12
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari daratan dan perairan
(Marsetio, 2014). Selain itu, Indonesia juga merupakan negara maritim karena
75% dari wilayah Indonesia (5,8 Juta km) merupakan laut. Indonesia memiliki
keragaman jenis hayati terbesar di dunia, salah satunya adalah terumbu karang.
(Suharsono, 2008) menyatakan bahwa penyebaran jenis terumbu karang yang
terdapat di Indonesia lebih dari 60.000 km2 yang tersebar dari kawasan sebelah
barat hingga timur Indonesia. Sebagai penghuni ekosistem laut, terumbu karang
Indonesia menempati peringkat teratas dunia untuk luas dan kekayaan jenisnya.
Lebih dari 75.000 km2 atau sebesar 14% dari luas total terumbu karang dunia
(Dahuri, 2003).
Terumbu karang merupakan struktur dasar lautan yang terdiri dari deposit
kalsium karbonat (CaCO3) yang dapat dihasilkan oleh hewan karang bekerjasama
dengan alga penghasil kapur. Aktivitas biota akan membentuk suatu kerangka
atau bangunan dari kalsium karbonat (CaCO3) sehingga mampu menahan
gelombang laut yang kuat (Nybakken, 1992). Terumbu karang mempunyai peran
utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground),
tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground) dan tempat pemijahan
(spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup disekitar dan atau berasosiasi
dengan terumbu karang (Bengen, 2004). Di dalam dan sekitar terumbu karang,
hidup beraneka ragam biota yang umumnya merupakan hewan avertebrata.
Hewan-hewan tersebut adalah seperti crustacea, siput dan kerang-kerangan, ikan-
ikan kecil dan juga alga.
Organisme air dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai nilai pH
netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah dan basa lemah. Nilai pH yang
ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat 7,0-8,5 sedangkan
untuk kepentingan terumbu karang pH berkisar antara 6-9 dan kondisi DO dengan
kadar diatas 3.5 mg/L. Perairan yang terlalu asam atau basa dapat mengganggu
metabolisme dan respirasi biota. Selain itu, perairan dengan pH yang terlalu
rendah dapat menyebabkan tingginya mobilitas logam berat, sedangkan pH yang
tinggi dapat mengakibatkan meningkatnya konsentrasi amoniak (Effendi, 2003).
Pertumbuhan karang dan penyebaran tergantung pada kondisi lingkungannya,
yang pada kenyataannya tidak selalu tetap karena adanya gangguan yang berasal
dari alam atau aktivitas manusia. Menurut (Dahuri, Rais, Ginting, & Siteu, 1996)
bahwa terumbu karang terdapat pada lingkungan perairan yang agak dangkal.
Untuk mencapai pertumbuhan yang maksimum, terumbu karang memerlukan
perairan yang jernih, dengan suhu perairan yang hangat, gerakan gelombang besar
dan sirkulasi air yang lancar serta terhindar proses sedimentasi. Menurut (Bengen,
2004), setiap 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat menghasilkan ikan sekitar
20 ton/tahun.
2
Pencemaran di ekosistem perairan seperti yang terjadi di laut sering
disebabkan oleh tertimbunnya zat polutan yang berasal dari kegiatan
pertambakan, aktivitas pelabuhan, tumpahan minyak dari kapal, limbah rumah
tangga dan kegiatan industri. Limbah-limbah yang tidak terdegradasi selanjutnya
akan terakumulasi di perairan laut sehingga berdampak pada pencemaran akan
merubah kondisi parameter kualitas lingkungan perairan seperti kandungan
oksigen, pH, suhu, nutrient terlarut, suspensi terlarut, tetapi juga karena masuknya
bahan pencemar berbahaya bagi kehidupan organisme (Guntur, Kurniawan,
Yanuar, & Sari, 2017). Aktivitas manusia terus meningkat dapat merubah kondisi
lingkungan secara drastis sehingga mempercepat kerusakan terumbu karang di
berbagai tempat. Kerusakan bisa disebabkan oleh terinjaknya karang oleh
manusia, pembuangan jangkar kapal dan gelombang air laut.
Masyarakat pesisir desa masih bergantung terhadap pemanfaatan potensi
sumberdaya yang terdapat di laut seperti ikan, udang, kerang, terumbu karang dan
kekayaan laut lainnya. Dalam kondisi demikian masyarakat kesulitan dalam biaya
pendidikan dan banyak yang terlilit hutang sehingga mereka tetap dalam
kemiskinan. Selain itu, tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mendorong
masyarakat pesisir sering melakukan tindakan eksploitasi sumber daya pesisir
secara tidak bijaksana, yang menyebabkan degradasi sumber daya hayati seperti
kerusakan terumbu karang serta penggunaan alat tangkap yang tidak ramah
lingkungan. Berdasarkan hasil line intercept transect, dapat diketahui bahwa pada
bagian barat Pulau Salah Nama, tutupan karang hidup didominansi oleh karang
batu sebanyak 25%. Oleh sebab itu, mahasiswa dari Universitas Negeri Medan
bertujuan melakukan Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) untuk mengembangkan
wawasan masyarakat pesisir tentang perlindungan dan rehabilitasi sumber daya
terumbu karang yang perlu dilakukan, agar sumber daya ikan pulih kembali
sebagai mata pencaharian masyarakat nelayan.
1.2. Tujuan
Program transplantasi terumbu karang ini mempunyai tujuan berupa :
1. Menumbuhkan kesadaran dan rasa kecintaan terhadap biota laut di Pulau
Salah Nama dengan kegiatan transplantasi terumbu karang.
2. Mengenalkan kegiatan transplantasi terumbu karang sebagai media
pendidikan pentingnya melindungi biota laut dengan melakukan
penyuluhan ke masyarakat.
1.3. Manfaat Bagi Mitra
Program ini mempunyai manfaat yaitu agar masyarakat memiliki kesadaran
untuk melestarikan lingkungan dan mampu mengimplementasikan kegiatan
tranplantasi terumbu karang sehingga dapat membuat taman karang di desa
sendiri yang akan meningkatkan produksi biota lautnya.
3
BAB II
HASIL IMPLEMENTASI PROGRAM
2.1. Kondisi Existing Mitra
Kecamatan Tanjung Tiram terdiri dari 2 Kelurahan dan 20 Desa. Salah satu
desanya yakni Desa Bandar Rahmat yang merupakan pemekaran dari Desa
Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera
Utara. Desa Bandar Rahmat memiliki kekayaan potensi alam laut yang cukup
besar dan juga memiliki potensi alam lokal lain seperti hutan mangrove yang luas
yang dapat diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi.
Desa Bandar Rahmat merupakan sebuah desa yang berada di wilayah pesisir
dan berbatasan langsung dengan selat malaka, sebagian besar penduduknya
memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Berbagai kajian kehidupan nelayan
umumnya menekankan pada kemiskinan dan ketidakpastian perekonomian,
dikarenakan di berbagai daerah kebanyakan nelayan masih menggunakan
peralatan tangkap yang penggunaannya masih tergolong tradisional. Dengan
keterbatasan perahu maupun alat tangkapnya, maka jangkauan wilayah
penangkapannya menjadi terbatas biasanya hanya berjarak 6 mil laut dari garis
pantai.
Gambar 2.1. Salah Satu Sudut Desa
Keadaan masyarakat di Desa Bandar Rahmatsangat mengkhawatirkan di
sebabkan oleh keterbatasan ekonomi masyarakatnya dan perkembangan sumber
daya manusia masih kurang terampil.
Gambar 2.2. Kondisi Desa
4
Gambar diatas merupakan salah satu sudut di Desa Bandar Rahmatyang
dimana masyarakatnya masih hidup dalam kemiskinan yang cukup
memprihatinkan, sangat miris jika melihat di salah satu sudut kota terdapat
pemukiman dengan tingkat ekonomi yang sangat rendah,untuk itu tugas kita
bersama untuk mengentaskan kemiskinan di sekitar kita sebagai wujud
kesetiakawanan sosial sesama warga negara Indonesia.
2.2. Detail Program
2.2.1. Lokasi dan Waktu Kegiatan
Lokasi kegiatan penyuluhan dan penempatan media transplantasi terumbu
karang di wilayah pulau salah nama, berada di Desa Bandar Rahmat yang
merupakan pemekaran dari Desa Bogak Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten
Batubara. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2021.
2.2.2 Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan penyuluhan diikuti oleh Pemerintah Kabupaten Batubara dalam hal
ini Dinas Perikanan dan Kelautan, masyarakat sekitar, karang taruna dan
mahasiswa. Kegiatan penyuluhan ini disampaikan oleh Tim PKM-PM dan
Narasumber. Penyampaian materi dilakukan dengan cara andragogi dan
diskusi.Materi yang diberikan dalam kegiatan penyuluhan meliputi:
1. Pengenalan terhadap ekosistem terumbu karang, biota asosiasi dan pola
interaksi antar spesies pada ekosistem terumbu karang.
2. Teknik penangkapan ikan dengan wawasan lingkungan.
3. Teknik transplantasi karang secara sederhana sebagai salah satu metode yang
dapat digunakan dalam merehabilitasi ekosistem terumbu karang yang sudah
rusak.
2.3. Petunjuk Operasional
2.3.1. Pembuatan Meja Substrat
Alat dan Bahan :
a. Tang
b. Gergaji
c. Meteran
d. Palu
e. Pasir
f. Besi pipa PVC
g. Tali tie
h. Semen
i. Sendok semen
j. Cetakan semen
k. Jaring PE
5
2.3.2. Pelatihan
1. Penentuan awal fragmen
Pada kegiatan ini menggunakan ukuran awal fragmen 3 cm dan 5 cm.
Fragmen yang kecil (sekitar 1-3 cm) dapat secara sukses dibudidayakan ditengah
laut atau di dasar laut hingga cukup besar.
2. Pembuatan substrat dan rak tanam
Substrat yang digunakan dalam proposal ini adalah substrat dari bahan mortar
(campuran semen dan pasir). Bahan kemudian dicetak berbentuk bulat
menggunakan pipa PVC berdiameter ± 6 cm dengan tinggi ± 2 cm. bagian tengah
substrat dibuat patok tiang menggunakan paku setinggi ± 5 cm dan sebelah kanan
kiri paku diberi lubang kecil sebagai tempat pengikat substrat pada media
penanaman. Jumlah substrat yang dibuat sebanyak 24 buah.Pembuatan rak yang
terbuat dari besi berukuran panjang 110 cm, lebar 100 cm, dan tinggi 30 cm.
3. Persiapan fragmen karang
4. Pemasangan fragmen dan penanaman rak transplantasi.
Pengadaan bibit karang untuk transplantasi harus dilakukan dengan hati-hati.
Persiapan yang dilakukan dengan memotong cabang bagian ujung dari jarak
induk koloni karang dari karang yang telah dipilih. Bibit dipotong dengan
menggunakan gunting baja dengan kisaran ukuran bibit 9-12 cm. Bibit tersebut
kemudian ditampung dalam ember yang bagian bawahnya berlubang. Waktu
optimum bibit berada dalam ember berkisar 20-30 menit. Selanjutnya bibit yang
telah siap, diikat didalam pada substrat yang telah berada diatas perairan pada
masing-masing lokasi penanaman. Pengikatan dilakukan dengan erat dengan
menggunakan tali tie sehingga tidak mudah lepas serta diupayakan pada bagian
bawah bibit dengan posisi tegak.
2.4. Hasil Penerapan
2.4.1. Peningkatan Pengetahuan Masyarakat
Masyarakat yang terdiri dari anggota kelompok karang taruna desa Bandar
Rahmat berjumlah 15 orang dengan tetap mematuhi protokol kesehatan pada masa
pandemi Covid-19 saat ini. Peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat
dilakukan dengan metode penyuluhan dan diskusi.
Gambar 2.3. Proses Penyuluhan dan Penyampaian Materi Tentang Transplantasi
Terumbu Karang
6
Setelah dilakukan penyuluhan, tingkat pengetahuan masyarakat akan
perlindungan biota laut semakin meningkat. Hasil yang didapatkan dari
pengamatan secara langsung dengan cara tanya jawab pada saat selesai
penyuluhan kepada masyarakat.
2.4.2. Pelatihan Budidaya Terumbu Karang
Tahap selanjutnya kegiatan pengabdian masyarakat dalam mengaplikasikan
teknologi transplantasi terumbu karang pada masyarakat di Desa Bandar Rahmat,
Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara adalah melakukan kegiatan
pelatihan. Dalam kegiatan ini diberikan pengetahuan tentang teknik pelestarian
ekosistem terumbu karang melalui transplantasi. Pada pelatihan ini materi
disampaikan dalam bentuk tatap muka, praktik, dan diskusi oleh narasumber.
2.4.3. Pembuatan Sarana dan Prasarana Budidaya
Tahap selanjutnya adalah pembuatan sarana dan prasarana budidaya yang
dilakukan oleh narasumber berserta masyarakat. Sarana teknik jaring laba-laba
terumbu karang berupa rak besi dan substrat yang terbuat dari semen (Gambar
2.4) rak atau meja transplant berfungsi juga sebagai nursery ground yaitu tempat
pembudidayaan bibit dan atau pembesaran bibit yang disesuaikan dengan tujuan
transplantasi. Penggunaan rak besi merupakan metode yang sesuai untuk daerah
berombak terutama pada musim barat. Metode rak besi digunakan mengingat
pada lokasi kegiatan dasar perairan banyak terdapat rubble karang mati akibat alat
tangkap tidak ramah lingkungan.
Gambar 2.4. Rak besi dan Substrat yang Digunakan sebagai Tempat Meletakkan
Substrat.
2.4.4. Pengikatan Substrat pada Rak Meja
Substrat yang sudah dicetak dan telah kering diikat secara kuat pada rak
besi menggunakan cable ties (Gambar 2.5). Diisi sebanyak 24 substrat yang
disusun secara acak. Pengikatan substrat diatur jaraknya sedemikian rupa dengan
tujuan menciptakan ruang, guna menarik ikan untuk berkumpul disekitar lokasi.
Pada tahap awal ini rak dan transplan akan berfungsi sebagai rumpon. Proses
7
pengikatan dilakukan didarat dengan tujuan agar lebih mudah dan lebih cepat
dilakukan. Setelah substrat terikat rak kemudian dibawa ke tepi pantai pada posisi
rak terendam untuk kemudian dilakukan pengikatan fragmen karang.
3.
4.
5.
Gambar 2.5. Proses Pengikatan Substrat pada Rak
2.4.5. Pengambilan Bibit Transplan
Pada tahap ini dilakukan pengambilan bibit transplan yang dilakukan oleh TNI-
AL TBA dibimbing oleh narasumber. Cara pengambilan bibit transplan yang
benar, melalui teknik pemotongan dicontoh narasumber untuk mengetahui
bagaimana agar fragmen karnag yang ditransplan dapat hidup dan indukan koloni
tidak rusak. Salah satu saran narasumber adalah untuk tidak menginjak karangn
selama pemilihan indukan dan pemotongan fragmen, oleh karena itu kemampuan
penyelam diharapkan memiliki teknik buoyancy yang stabil.
Fragmen karang yang terpotong dimasukkan dalam keranjang kemudian
dibawa kepermukaan dan dikumpulkan dalam plastik yang diisi dengan air laut
untuk menjaga agar fragmen tidak mengalami stress (Gambar 2.6). Teknik
pemilihan bibit fragmen karang yang akan ditransplan adalah metode petik pilih.
Fragmen bakal anakan karang dapat diambil dari koloni karang dengan metode
petik pilih. Tujuan metode petik pilih adalah untuk memperoleh anakan karang
yang memiliki kualitas yang baik seperti indukannya, tidak mudah stress, rusak
ataupun mengalami kematian.
Pada kegiatan ini hanya dipilih fragmen dari indukan karang jenis Acropora
brancing. Jenis ini dipilih karena mudah tumbuh dengan pertumbuhan yang
signifikan dalam waktu yang singkat. Ukuran fragmen yang akan ditransplan
menjadi faktor penting dalam perkembangan transplan, karena ukuran fragmen
yang berbeda akan memiliki pertumbuhan yang berbeda (Suharsono, 2008).
8
Gambar 2.6. Proses pengambilan fragmen/bibit karang.
2.4.6. Pengikatan Fragmen dan Penempatan Rak ke Lokasi Transplantasi
Pengikatan fragmen transplan karang dilakukan di pinggir pulau dengan
kondisi rak terendam air laut. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi stres pada
fragmen karang akibat terpapar udara, walaupun menurut (Suharsono, 2008)
beberapa karang dapar bertahan dalam kurun waktu < 30 menit terpapar udara
tergantung dari jenis karangnya. Pengikatan dilakukan dengan kuat untuk
mencegah karang goyah akibat arus dan gelombang. Setelah fragmen tranplan
diikat pada substrat rak dipindahkan menuju lokasi transplantasi. Lokasi yang
dipilih adalah lokasi yang tenang dan tidak terganggu oleh gelombang terutama
pada musim angin barat. Kedalaman lokasi antara 3m-7m dibawah kondisi surut
terendah. Dasar perairan didominasi rubble dan pasir.
Pemilihan lokasi ini menurut (Suharsono, 2008) yang menyatakan bahwa
lokasi harus memiliki kedalaman minimal 1m ketika surut terendah, dasar
perairan didominasi rubble. Penempatan pada dasar perairan di lokasi
transplantasi dilakukan dengan bantuan peralatan SCUBA oleh penyelam
(Gambar 2.7). Faktor sedimentasi menjadi faktor penting lainnya dalam pemilihan
lokasi karena akan menghambat pertumbuhan bahkan kematian pada transplan.
Gambar 2.7. Proses Penempatan Rak Transplantasi pada Lokasi yang Sudah
Ditentukan.
2.4.7. Monitoring Transplantasi
Hasil transplantasi menunjukkan bahwa kegiatan ini bermanfaat terhadap
perbaikan ekosistem terumbu karang. Hal ini ditandai dengan hasil pengamatan
pada minggu keenam, lokasi transplantasi mulai terdapat sekelompok ikan.
9
Transplan juga menunjukkan adanya pertumbuhan dan tidak mengalami
kematian. Lokasi transplantasi juga berfungsi sebagai rumpon untuk perlindungan
ikan. Pada awal perkembangan transplan tingkat stress lebih kecil yang ditandai
dengan sedikitnya mukus atau lendir pada patahan/luka transplan (Ketjulan,
2011).
Perkembangan transplan yang menunjukkan adanya perkembangan dan
pertumbuhan juga didukung dengan kondisi fisik lokasi transplan. Kedalaman
lokasi masih memungkinkan intensitas cahaya matahari dapat masuk ke kolom
air. Tingkat sedimentasi yang rendah menunjang perkembangan transpalan dan
menyebabkan tidak adanya penghalang bagi cahaya matahari (Sammarco, Lirette,
Tung, Boland, Genazzio, & Sinclair, 2014). Pengamatan visual menunjukkan
adanya perbedaan perkembangan transplan hal ini diduga karena ukuran transplan
yang berbeda-beda. Menurut (Ajeng, Munasik, & Diah, 2012) terdapat perbedaan
pertumbuhan pada karang yang ditansplan dengan ukuran fragmen yang berbeda.
Gambar 4.8. Minggu ke-1
Gambar 4.9. Minggu ke-6
10
BAB III
PENUTUP
Demikian Pedoman Urgensi Perlindungan Biota Laut di wilayah Pulau Salah
Nama dengan kegiatan Transplantasi Terumbu Karang ini dibuat, tidak ada yang
sempurna hasil ciptaan manusia termasuk pedoman ini, karena kesempuraan
hanya milik hanya milik Allah Subhana Allah Subhanahu wa ta’ala semata, untuk
itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi perbaikan pedoman ini di masa
datang.
Mudah-mudahan dengan adanya pedoman ini memudahkan semua masyarakat
untuk melakukan kegiatan transplantasi terumbu karang. Semoga Allah
Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada
hamba-hambanya yang selalu berlomba dalam kebaikan dan terus-menerus
memperbaiki amaliyahnya, Aamiin. Akhirnya kami ucapkan Alhamdulillahirrobil
alamin atas karunia dan nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
11
DAFTAR PUSTAKA
Ajeng, T., Munasik, & Diah, P. W. (2012). Pengaruh Perbedaan Ukuran Fragmen
dan Metode Transplantasi Terhadap Pertumbuhan Karang Pocillopora
damicornis di Teluk Awur, Jepara, Semarang: Journal of Marine Research.
Journal UNDIP, 1(1 E).
Bengen, D. G. (2004). Ekosistem dan Sumber Daya Alam Pesisir dan Laut serta
Prinsip Pengelolaannya. Bogor: Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan
Lautan Institut Pertanian Bogor.
Dahuri. (2003). Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan untuk Kesejahteraan
Masyarakat. Jakarta: LISPI.
Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S., & Siteu, M. (1996). Pengelolaan Sumber Daya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya
Paramita.
Effendi, H. (2003). Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.
Guntur, G., Kurniawan, Yanuar, A., & Sari, S. H. (2017). Analisis Kualitas
Perairan Berdasarkan Metode Indeks Pencemaran di Pesisir Timur Kota
Surabaya. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan.
Ketjulan, R. (2011). Daya Dukung Perairan Pulau Hari sebagai Obyek Ekowisata
Bahari. Jurnal Aqua Hayati, 7 (3), 183-188.
Marsetio. (2014). Managemen Strategis Negara Maritim dalam Perspektif
Ekonomi dan Pertahanan. Jakarta: Angkatan Laut.
Nybakken, J. W. (1992). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT
Gramedia.
Sammarco, P. W., Lirette, A., Tung, Y. F., Boland, G. S., Genazzio, M., &
Sinclair, J. (2014). Coral Communities on Artifical Reefs in the Gulf of
Mexico: Standing vs Toppled Oil Platforms. ICES Journal of Marine
Science, 71(2), 417-426.
Suharsono. (2008). Jenis-jenis Karang di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian
Oseanografi-LIPI.
12
LAMPIRAN
13
14
15