The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by deaanggi202, 2022-12-20 07:16:04

E-MODUL. sistem reproduksi

E-MODUL. sistem reproduksi

A. Sitem Reproduksi pada Pria
1. Organ Reproduksi Pria

Sistem reproduksi pada pria terdiri dari organ reproduksi bagian luar dan organ
reproduksi bagian dalam. Organ reproduksi bagian luar terdiri dari penis dan skrotum, sedangkan
organ reproduksi bagian dalam terdiri dari testis, epididimis, vas deferens, kelenjar prostat,
vesikula seminalis dan uretra. Organ-organ reproduksi pria akan mulai berkembang pada saat
usia 9-15 tahun dan akan berhenti perkembangannya pada usia 20 tahun.

Gambar 1. Sistem Reproduksi Pria

a. Penis
Penis tersusun dari jaringan otot, jaringan spons, pembuluh darah, dan jaringan saraf. Penis

dibagi menjadi dua bagian, yaitu batang dan kepala penis. Pada bagian kepala terdapat kulit yang
menutupinya, disebut preputium. Kulit ini diambil secara operatif saat melakukan sunat. Penis
tidak mengandung tulang dan tidak terbentuk dari otot. Ukuran dan bentuk penis bervariasi,
tetapi jika penis ereksi ukurannya hampir sama. Kemampuan ereksi sangat berperan dalam


fungsi reproduksi. Pada bagian dalam penis terdapat saluran yang berfungsi mengeluarkan urine,
saluran ini untuk mengalirkan sperma keluar. Jadi, fungsi penis sebagai saluran pengeluaran
sperma dan urine.

a. Skrotum
Skrotum adalah kantong kulit yang melindungi testis dan berfungsi sebagai tempat

bergantungnya testis. Skrotum berwarna gelap dan berlipat-lipat. Skrotum mengandung otot
polos yang mengatur jarak testis ke dinding perut. Dalam menjalankan fungsinya, skrotum dapat
mengubah ukurannya. Jika suhu udara dingin, maka skrotum akan mengerut dan menyebabkan
testis lebih dekat dengan tubuh dan dengan demikian lebih hangat. Sebaliknya, pada cuaca panas
skrotum akan membesar dan kendur, akibatnya luas permukaan skrotum meningkat dan panas
dapat dikeluarkan.

b. Testis
Testis merupakan tempat pembentukan sperma dan beberapa jenis hormon kelamin jantan

(androgen). Peristiwa pembentukan sperma di dalam testis disebut spermatogenesis. Testis
terletak di dalam skrotum atau kantung pelir yang berfungsi untuk mengatur suhu tests agar
sesuai dalam pembentukan sperma.

c. Epididimis
Epididimis adalah saluran-saluran yang lebih kecil dari vas deferens. Alat ini mempunyai

bentuk berkelok-kelok dan membentuk bangunan seperti topi. Epididimis berfungsi sebagai
tempat penyimpanan dan pematangan sperma.

d. Vas Deferens
Vas deferens adalah sebuah tabung yang dibentuk dari otot. Vas deferens membentang

dari epididimis ke uretra. Vas deferens berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma sebelum


dikeluarkan melalui penis. Saluran ini bermuara dari epididimis. Saluran vas deferens
menghubungkan testis dengan kantong sperma. Kantong sperma ini berfungsi untuk menampung
sperma yang dihasilkan oleh testis.

e. Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat sebagai penghasil cairan basa untuk melindungi sperma dari gangguan

luar.
f. Vesikula Seminalis
Veskula seminalis berfungsi sebagai penampung spermatozoa dari testis
g. Uretra
Uretra merupakan saluran kantung kemih yang berhubungan dengan vasa deferensia.

Sperma keluar dari penis melalui uretra.

2. Sperma
Pada usia remaja (sekitar usia 12–13 tahun), umumnya organ kelamin laki-laki telah

mampu menghasilkan sel sperma. Biasanya ditandai dengan mimpi dan keluarnya sel sperma
(mimpi basah). Sel sperma manusia memiliki panjang ±60 μm. Dalam satu tetes semen (air
mani).

Struktur sperma terdiri dari kepala, bagian tengah (badan), dan ekor (flagela). Pada
bagian kepala terdapat inti sel dan akrosom yang dibentuk dari kompleks golgi. Akrosom
menghasilkan enzim yang berfungsi membantu sperma menembus sel telur. Pada bagian tengah
terdapat mitokondria sebagai tempat berlangsungnya oksidasi sel untuk membentuk energi yang
digunakan oleh sperma dapat bergerak aktif. Bagian ekor berupa flagela yang merupakan alat
bergerak sperma.


Gambar 2. Struktur Sperma

3. Proses Pembentukan Sperma
Proses pembentukan sperma disebut spermatogenesis. Spermatogenesis tejadi di dalam

testis. Di dalam tetis terdapat sel kelamin pemula yang disebut sel spermatogonium.
Spermatogonium bersifat diploid (2n) atau jumlah kromosom rangkap dua. Setelah individu
mencapai masa untuk berkembang biak, sel spermatogonium akan membelah berulang-ulang
secara mitosis, sehingga dihasilkan banayk sel spermatogonium. Sebagian dari sel-sel
spermatogonium tersebut terus membelah secara mitosis, sedangkan sebagian yang lain
membesar menjadi spermatosit primer yang bersifat diploid (2n). Kemudian spermatosit primer
membelah secara meiosis I menghasilkan spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n).
Spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis II menghasilkan 4 sel spermatid. Masing-
masing spermatid memiliki ukuran yang sama dan bersifat haploid (n). Sel-sel spermatid akan
mengalami diferensiasi menjadi sel spermatozoa atau sperma, peristiwa ini disebut
spermiogenesis.


Gambar 3. Spermatogenesis
B. Sitem Reproduksi pada Wanita
1. Organ Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi wanita juga terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ
reproduksi luar. Organ reproduksi bagian luar terdiri dari lubang vagina, labia mayora, labia
minora, mons pubis dan klitoris. Sedangkan pada alat kelamin bagian dalam terdapat ovarium,
tuba falopii (oviduk), dan uterus (rahim).

Gambar 4. Sistem Reproduksi Wanita


a. Vulva
Vulva merupakan daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas mons pubis,

labia, klitoris, daerah ujung luar vagina, dan saluran kemih. Mons pubis adalah gundukan
jaringan lemak yang terdapat di bagian bawah perut. Daerah ini dapat dikenali dengan mudah
karena tertutup oleh rambut pubis. Rambut ini akan tumbuh saat seorang gadis beranjak dewasa.
Labia adalah lipatan berbentuk seperti bibir yang terletak di dasar mons pubis. Labia terdiri dari
dua bibir, yaitu bibir luar dan bibir dalam. Bibir luar disebut labium mayora, merupakan bibir
yang tebal dan besar. Sedangkan bibir dalam disebut labium minora, merupakan bibir tipis yang
menjaga jalan masuk ke vagina. Klitoris terletak pada pertemuan antara ke dua labia minora dan
dasar mons pubis. Ukurannya sangat kecil sebesar kacang polong, penuh dengan sel saraf
sensorik dan pembuluh darah. Alat ini sangat sensitif dan berperan besar dalam fungsi seksual.

b. Vagina
Vagina adalah saluran yang elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir pada rahim.

Vagina dilalui darah pada saat menstruasi dan merupakan jalan lahir. Karena terbentuk dari otot,
vagina bisa melebar dan menyempit. Kemampuan ini sangat hebat, terbukti pada saat melahirkan
vagina bisa melebar seukuran bayi yang melewatinya. Pada bagian ujung yang terbuka, vagina
ditutupi oleh sebuah selaput tipis yang dikenal dengan istilah selaput dara. Bentuknya bisa
berbeda-beda setiap wanita. Selaput ini akan robek
pada saat bersanggama, kecelakaan, masturbasi/onani yang terlalu dalam, olah raga dan
sebagainya.

c. Serviks
Serviks disebut juga dengan mulut rahim. Serviks ada pada bagian terdepan dari rahim

dan menonjol ke dalam vagina, sehingga berhubungan dengan bagian vagina. Serviks


memproduksi cairan berlendir. Pada sekitar waktu ovulasi, mukus ini menjadi banyak, elastis,
dan licin. Hal ini membantu spermatozoa untuk mencapai uterus. Saluran yang berdinding tebal
ini akan menipis dan membuka saat proses persalinan dimulai.

d. Rahim
Rahim disebut juga uterus. Alat ini memiliki peranan yang besar dalam reproduksi

wanita. Rahim berperan besar saat menstruasi hingga melahirkan. Bentuk rahim seperti buah pir,
berongga, dan berotot. Sebelum hamil beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan
lebar 6 cm kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil mampu membesar dan
beratnya mencapai 1000 gram. Rahim berfungsi sebagai tempat untuk perkembangan embrio
menjadi janin. Dinding rahim memiliki banyak pembuluh darah sehingga dindingnya menebal
ketika terjadi pertumbuhan janin. Rahim terdiri atas 3 lapisan, yaitu lapisan parametrium,
miometrium, dan endometrium. Lapisan parametrium, merupakan lapisan paling luar dan yang
berhubungan dengan rongga perut. Lapisan miometrium merupakan lapisan yang berfungsi
mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi). Sedangkan, lapisan endometrium
merupakan lapisan dalam rahim tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini
terdiri atas lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.

e. Ovarium
Ovarium disebut juga dengan indung telur. Ovarium menghasilkan sel telur (ovum) yang

letaknya di sebelah kiri dan kanan rongga perut bagian bawah. Ovarium berhasil memproduksi
sel telur jika wanita telah dewasa dan mengalami siklus menstruasi. Setelah sel telur masak, akan
terjadi ovulasi yaitu pelepasan sel telur dari ovarium. Ovulasi terjadi setiap 28 hari.


f. Tuba fallopi
Tuba fallopi disebut juga dengan saluran telur. Saluran telur adalah sepasang saluran yang

berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10 cm. Saluran ini menghubungkan rahim dengan
ovarium melalui fimbria. Ujung yang satu dari tuba fallopii akan bermuara di rahim sedangkan
ujung yang lain merupakan ujung bebas dan terhubung ke dalam rongga abdomen. Ujung yang
bebas berbentuk seperti umbai dan bergerak bebas. Ujung ini disebut fimbria dan berguna untuk
menangkap sel telur yang dilepaskan oleh ovarium. Dari fimbria, telur digerakkan oleh rambut-
rambut halus yang terdapat di dalam saluran telur menuju ke dalam rahim.
2. Pembentukan Ovum

Proses pembentukan sel telur (ovum) disebut oogenesis, oogenesis terjadi di dalam
ovarium. Di dalam ovarium terdapat banyak sel oogonium. Oogonium merupakan sel pemula
dari sel telur (ovum) yang bersifat diploid (2n).

Gambar 5. Oogenesis
Oogonium akan membelah diri secara mitosis sehingga terbentuk lebih banyak oogonium.
Oogonium akan membelah secra meiosis I menjadi oosit primer. Selanjutnya, oosit primer


membelah secara meiosis II menghasilkan oosit sekunder dan badan kutub I. Oosit sekunder
bentuknya lebih besar, mengandung kuning telur, dan sitoplasma. Badan kutub I merupakan sel
kecil yang hanya terdiri dari inti. Badan kutub I akan membelah menjadi dua sel.oosit sekunder
terus membelah menghasilkan satu sel yang besar disebut ootid dan satu sel badan kutub. Sel
ootid akan berkembang menjadi sel telur yang siap diovulasikan.

3. Proses dan Siklus Menstruasi
Secara berkala, sel telur yang sudah matang akan dikeluarkan dari indung telur. Sel

telur ini akan bergerak melalui saluran telur menuju rahim. Sementara itu, dinding rahim akan
menebal sehingga rahim menerima zigot hasil fertilisasi. Jika fertilisasi tidak terjadi, maka sel
telur dan jaringan yang terbentuk pada dinding rahim akan luruh dan dikeluarkan dari rahim
sebagai menstruasi (haid).

Siklus menstruasi berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan
endometrium (dinding rahim). Menstruasi terjadi secara periodik, jarak waktu antara menstruasi
yang satu dengan menstruasi berikutnya dikenal dengan satu siklus menstruasi. Siklus menstruasi
wanita berbeda-beda, namun rata-rata berkisar 28 hari. Hari pertama menstruasi dinyatakan
sebagai hari pertama siklus menstruasi. Siklus ini terdiri atas 4 fase, yaitu:

a. Fase menstruasi
Fase menstruasi ini terjadi jika ovum tidak dibuahi sperma, sehingga korpus luteum

menghentikan produksi hormon esterogen dan progesteron. Turunnya kadar esterogen dan
progesteron menyebabkan lepasnya ovum dari endometrium yang disertai robek dan luruhnya
endometrium, sehingga terjadi pendarahan. Fase menstruasi ini berlangsung kurang lebih 5 hari.
Darah yang keluar selama menstruasi berkisar antara 50-150 mili liter.


b. Fase pra-ovulasi
Fase pra-ovulasi disebut juga dengan fase poliferasi. Pada fase ini hormon pembebas

gonadotropin yang dikeluarkan hipotalamus akan memacu hipofise untuk mengeluarkan FSH.
FSH singkatan dari folikel stimulating hormon. FSH memacu pematangan folikel dan
merangsang folikel untuk mengeluarkan hormon esterogen. Adanya esterogen menyebabkan
pembentukan kembali (poliferasi) dinding endometrium. Peningkatan kadar esterogen juga
menyebabkan serviks untuk mengeluarkan lendir yang bersifat basa. Lendir ini berfungsi untuk
menetralkan suasana asam pada vagina sehingga mendukung kehidupan sperma.

c. Fase ovulasi
Jika siklus menstruasi seorang perempuan 28 hari, maka ovulasi terjadi pada hari ke 14.

Peningkatan kadar esterogen menghambat pengeluaran FSH, kemudian hipofise mengeluarkan
LH. LH singkatan dari luternizing hormon. Peningkatan kadar LH merangsang pelepasan oosit
sekunder dari folikel, peristiwa ini disebut ovulasi.

d. Fase pasca ovulasi
Fase ini berlangsung selama 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Walaupun panjang

siklus menstruasi berbeda-beda, fase pasca-ovulasi ini selalu sama yaitu 14 hari sebelum
menstruasi berikutnya. Folikel de Graaf (folikel matang) yang telah melepaskan oosit sekunder
akan berkerut dan menjadi korpus luteum. Korpus luteum mengeluarkan hormon progesteron
dan masih mengeluarkan hormon esterogen namun tidak sebanyak ketika
berbentuk folikel. Progesteron mendukung kerja esterogen untuk mempertebal dan
menumbuhkan pembuluhpembuluh darah pada endometrium serta mempersiapkan endometrium
untuk menerima pelekatan embrio jika terjadi pembuahan atau kehamilan. Jika tidak terjadi
pembuahan, korpus luteum akan berubah menjadi korpus albikan yang hanya sedikit


mengeluarkan hormon, sehingga kadar progesteron dan esterogen menjadi rendah. Keadaan ini
menye babkan terjadinya menstruasi demikian seterusnya.

C. Perkembangan Embrio
Pembuahan terjadi di saluran telur (tuba fallopi atau oviduk). Zigot yang terbentuk

menuju ke rahim (uterus), kemudian membelah diri menjadi 2, 4, 8, 16, dan seterusnya.
Sementara itu, lapisan dalam dinding rahim menebal untuk memberi makanan bagi embrio.
Embrio memperoleh makanan dari tubuh induknya melalui plasenta (ari0ari). Selanjutnya,
makanan masuk ke embrio melalui tali pusar. Melalui tali pusar tersebut, zat sisa metabolisme
dan zat yang tidak berguna dialikan kembali ke plasenta dan akhirnya ketubuh ibunya.

Di dalam uterus, embrio dikelilingi oleh suatu cairan yang disebut cairan amnion atau
ketuban. Cairan ini berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan. Pada usia 5 minggu,
embrio telah mempunyai keala, mata, tubuh, ekor yang pendek dan calon tangan serta calon kaki.
Panjang embrio hampir mencapai 7 mm.

Embrio pada usia 9 minggu telah berubah menjadi bayi kecil yang sudah terbentuk. Ia
sudah memiliki wajah, mata, telinga, hidung, dan lidah. Jari-jari tangan dan kaki pun sudah
terlihat. Kepalanya jauh lebih besar daripada badannya. Embrio pada usia ini sudah dapat
menggerakkan tangan dan kakinya dengan panjang tubuh kira-kira 5,5 cm.

Saat usia 14 minggu, organ-organ tubuh semakin berkembang dan panjang tubuhnya
sekitar 6 cm. Pada usia 20 mingggu, bayi memiliki panjang sekitar 19 cm dan beratnya sekitar
setengah kilogram. Organ-organ tubuhnya sudah lebih berkembang. Tangan dan kakinya sudah
dilengkapi dengan kuku, seudah memiliki alis mata dan bulu mata. Pada saat ini, jantung bayi


dapat terdeteksi dan bayi sangat aktif. Ketika usia bayi mencapai 24 minggu, pertumbuhan
badannya sangat pesat. Pada usia 40 minggu, janin sudah siap untuk dilahirkan.

D. Hormon Reproduksi
Sistem-sistem reproduksi manusia dipengaruhi oleh hormon-hormon tertentu. hormon

yang mempengaruhi sistem reproduksi pria adalah gonadotrofin, FSH, LH, dan testoteron.
Sedangkan, hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi wanita adalah gonadotrofin, FSH,
LH, estrogen dan progesteron.

1. Hormon gonadotrofi, dihasilkan oleh hipotalamus di bagian dasar otak yang merangsang
kelenjar hipofisis bagian anterior agar mengeluarkan hormon FSH dan LH.

2. FSH (follicle stimulating hormone), berfungsi mempengaruhi dan merangsang
perkembanagn tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasilkan ABP (androgen
binding protein) yag berfungsi memacu pembentukan sperma, pada wanita,, FSH
merangsang folikel primer dalam ovarium untuk membelah.

3. LH (luteinizing hormone), berfungsi merangsang sel leydig agar mensekresikan hormon
testoteron. Pada wanita, LH merangsang aktivitas korpus luteum di ovarium. Korpus
luteum menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Estrogen berfungsi dalam
perkembangan ciri seks sekunder wanita serta berperan penting dalam siklus menstruasi.
Sedangkan progestero berperan dalam siklus menstruasi, kehamilan, serta dalam
embriogenesis.

4. Hormon testoteron, dihasilkan oleh testis, berfungsi merangsang perkembangan organ
seks primer pada saat embrio belum lahir, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi
dan ciri kelamin sekunder, dan mempengaruhi proses spermatogenesis.


E. Penyakit Menular Seksual (PMS)
Penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual disebut penyaki

menular seksual (PMS). PMS menyebabkan infeksi pada organ reproduksi. Jika diobati secara
tepat, maka infeksi akan menjalar dan menyebabkan enderita sakit berkepanjangan, kemandulan,
dan bahkan kematian.

Banyak sekali macam penyakit yang dapat digolongkan sebagai PMS. Penyakit-
penyakit pada sistem reproduksi manusia adalah

1. Gonorea
Penyakit gonorea disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseiria gonorrhoeae. Masa

inkubasinya dalah 2-10 hari setelah kuman masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seksual.
Gonorea menyerang selaput lendir uretra, leher rahim, dan organ lain. Pada laki-laki, gejalanya
adalah terasa sakit saat buang air dan keluar nanah dari uretra. Pada penderita wanita, muncul
gejala keluar lendir berwarna hijau dari alat kelamin. Namun banyak perempuan yang tidak
menunjukkan adanya gejala, sehingga penyakit akan berlanjut sampai terjadi komplikasi.

Infeksi yang menyebar hingga ke testis (pada laki-laki) dan oviduk (pada wanita)
dapat menyebabkan kemandulan. Infeksi yang menyebar ke persendian menyebabkan radang
sendi. Bayi yang lahir dari penderita gonore dapat mengalami kebutaan jika tidak segera
mendapat pertolongan.

2. Sifilis (Raja Singa)
Bakteri penyebab penyakit sifilis adalah Treponema pallidium. Masa inkubasinya

selama 3-4 minggu, kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian timbul benjolan di sekitar
kelamin. Terkadang penyakit ini disertai dengan pusing dan flu yang akan hilang sendiri. Setelah


6-12 minggu, timbul bercak kemerahan pada tubuh. Gejala ini akan hilang dengan sendirinya
dan sering kali penderita tidak memperlihatkan hal ini.

Selama 2-3 tahun pertama, penyakit ini tidak menunjukkan gejala atau isbut masa
laten. Setelah 5-10 tahun, penyakit sifilis akan menyerang susunn saraf otak, pembuluh darah
dan jantung. Pada wanita hamil, bayi yang lahir dapat lahir dengan kerusakan hati, kulit, limpa
dan keterbelakangan mental.

3. Herpes Genital
Penyakit ini disebabkan oleh virus Herpes simplex dengan masa inkubasi selama 4-7

hari setelah vrus masuk ke dalam tubuh. Pada wanita, penyakit ini sering berkembang menjadi
kanker mulut rahim setelah beberapa taun kemudian. Gejalanya yaitu:

- Bintil-bintil air berkelompok seperti anggur yang sangat nyeri disekitar alat kelamin.
- Bintil pecah dan akan meninggalkan luka yang kering mengerak, lalu akan hilang dengan

sendirinya.
- Gejala akan kambuh lagi, namun tidak senyeri awal.

4. Klamidia
Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Masa inkubasinya selama 7-21

hari. Gejalanya adalah timbul peradangan pada alat reproduksi pria dan wanita.
Pada wanita, penyakit ini dapat menyebabkan cacatnya saluran telur dan kemandulan, radang
saluran kencing, robeknya saluran ketuban hingga terjadi kelahiran bayi sebelum waktunya.
Sedangkan, pada pria mengakibatkan rusaknya saluran mani, kemandulan, serta radang saluran
kencing.


5. Trikomoniasis
Trikomoniasis disebabkan oleh paasit Trichomonas vaginalis gejalanya adalah

- Cairan vagina encer, berwarna kuning kehijauan, berbusa, dan berbau busuk.
- Vulva bengkak, kemerahan, dan gatal.
- Nyeri saat kencing.
6. Kanididiasis Vagina

Kanididiasis vagina merupakan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida
albicans. Pada keadaan normal, jamur ini terdapat di kulit maupun di dalam vagina. Akan tetapi
pada keadaan tertentu jamur ini menimbulkan keputihan.

Gejalanya berupa keputihan seperti susu, bergumpul, disertai rasa gatal, panas, an
kemerahan pada alat kelamin dan bagian di sekitarnya.

7. HIV/AIDS
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala akibat

menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena teinfeksi HIV (Human Immunodeficienc
Virus). Orang yang terinfeksi oleh virus ini tidak dapat mengatasi serangan infeksi penyakit lain
karena sistem kekebalan tubuhnya menurun secara derastis. Penyakit ini sampai sekarang belum
ada obatnya, yang ada hanyalah menolong penderita untuk mempertahankan tingkat kesehatan
tubuh penderita.

HIV terdapat pada seluruh cairan tubuh penderita AIDS, tetapi yang dapat ditularkan
hanya terdapat pada darah, sperma, dan cairan vagina. Penularan HIV dapat terjadi karena,
memakai jarum suntik bekas orang yang terinfeksi HIV, menerima transfusi darah yang
terinfeksi HIV, ibu yang terinfeksi HIV akan menularkan ke bayi dalam kandunganya, dan
berganti-ganti pasangan seksual atau berhubungan seksual dengan penderita.


Click to View FlipBook Version