The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

CATATAN PERJALANAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH DARURAT

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ikhsanm72, 2022-10-19 05:00:47

CATATAN PERJALANAN KEPEMIMPINAN DI SEKOLAH DARURAT

CATATAN PERJALANAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH DARURAT

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di SDN 21 Palu
(Catatan Perjalanan Mengelola Sekolah Darurat)

Oleh : Sunarti, S.Pd., MM
(Kepala SDN 21 Palu)

Bukit Terjal di Langkah Awal
Ruang kelas beratap terpal dengan dinding terbuat dari anyaman bambu membuat guru-

guru memulangkan peserta didik lebih awal. Jika hujan, kegiatan belajar mengajar di sekolah ini
terpaksa dihentikan. Hujan dan panas membuat proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak
dapat berjalan maksimal.

“KBM belum bisa berjalan dengan baik, karena kalau sudah pukul 9, anak-anak sudah
gelisah. Kita tidak bisa salahkan anak-anak, kalau tidak ada perhatiannya saat belajar. Bahkan
sampai tanya Bu kapan istirahatnya, sebenarnya istirahat 09.15, tapi, sekarang sudah tidak lagi,
karena panas, dan kami harus maklumi kalau yang seperti itu,” kata seorang pendidik di SDN 21
Palu ketika kami menginjakkan kaki pertama kali di sekolah itu pada April 2019 silam.

Guru SDN 21 Palu juga melaporkan jika kondisi dinding bambu yang sudah lapuk telah
membahayakan kondisi kesehatan siswa. Sudah ada tiga siswa yang harus dirawat di rumah
sakit, diantaranya ada yang disebabkan dari debu yang ada dibambu.

“Ada tujuh hari masuk rumah sakit, ada 3 orang yakni kelas satu, dua dan lima. Adapun
penyebabnya menurut orang tua karena partikel dari bambu, dan kalau yang kelas 5 katanya kena
rematik atau apa itu, saya tidak mengerti, mungkin juga karena debu, sebab dia sesak nafas,”
terangnya kala itu.

Gedung sekolah SDN 21 Palu terdampak cukup parah akibat gempa bumi, tsunami dan
liquifaksi yang melanda wilayah Pasigala (Palu – Sigi – Donggala) Sulawesi Tengah pada 28
September 2018.

Gambar 1 Kelas darurat dibangun pasca bencana Pasigala 28 September 2018 Gambar 2 Mendikbud
kunjungi kelas darurat

Akibat bencana tersebut sekolah tak lagi memiliki ruang kelas yang layak untuk kegiatan
belajar mengajar. Tujuh bangunan sekolah yang terletak di Kelurahan Boyaoge Kecamatan
Tatanga Kota Palu ini rusak parah. Memang gedungnya belum sampai ambruk, namun melihat
kerusakannya, pihak terkait khawatir gedung itu bakal ambruk. Sehingga dibangunlah tenda
darurat bantuan dari UNICEF tidak jauh dari lokasi sekolah. Setelah ada bantuan Kemendikbud,
pemerintah kemudian mendirikan sekolah darurat.

Sebanyak 206 siswa kelas I sampai VI terpaksa belajar di sekolah darurat ini dengan
kondisi ruang kelas beratap terpal dan dinding dari anyaman bambu layaknya kandang ternak.
Saat turun hujan, praktis kegiatan belajar mengajar di sekolah itu terpaksa dihentikan. Sekolah
darurat yang dibangun 6 bulan sebelum kami melaksanakan tugas di sekolah ini, kondisinya
lebih mirip gubuk daripada gedung sekolah.

Menerima amanat sebagai pelaksana tugas (PLT) Kepala SDN 21 Palu, kami segera
berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, komite sekolah dan orang
tua siswa.

Hanya dalam waktu dua hari dinding bambu diganti dengan papan dan atap yang terbuat dari
sagu (atap rumbia), sesuai kemampuan pemerintah dan stakeholder terkait. Kondisi ruang kelas
seperti ini dianggap sudah cukup lumayan dari keadaan sebelumnya.

Untuk memberikan kenyamanan kami meminta siswa dan guru untuk menjaga kebersihan
lingkungan sekolah terutama dalam kelas. Suasana kelas yang bersih akan membawa rasa
kenyamanan bagi siswa ketika menerima proses pembelajaran di ruangan sampai selesai. Kelas
yang bersih akan terhindar dari penyakit.

Upaya selanjutnya yakni pengolalaan kelas dengan penataan ruang menjadi indah dan
menyenangkan, karena ruangan yang indah dan menyenangkan dapat mempengaruhi minat dan
semangat siswa dalam menerima pelajaran, serta dapat berpengaruh pada kenyamanan siswa

terhadap proses belajar mengajar. Keindahan kelas juga dapat meningkatkan semangat siswa
untuk datang ke sekolah, hal ini disebabkan oleh faktor kenyamanan siswa terhadap kondisi
ruang kelas yang indah.

Si Jago Merah Menghadang
Usai sholat Shubuh Sabtu, 24 Agustus 2019 telepon genggam saya tiba-tiba berdering. Tidak

biasa saya mendapat telepon di saat-saat seperti itu. Saya buka dan jawab. Apa ada yang darurat
penting?

“Ibuuu, sekolah kita terbakar!!!,” teriak Eka, operator sekolah dari seberang. Saya diam sesaat.
Tak sempat tutup telepon, saya langsung bergegas menuju sekolah yang berjarak sekira 10 menit
dari rumah.

Cara kita “bersekolah” saat ini kurang memadai, baik dalam hal pengetahuan kita saat ini
mengenai proses belajar-mengajar maupun metode untuk mengatasi kebutuhan belajar populasi
peserta didik yang kian beragam. Lebih tepatnya, ruang kelas yang dianggap efektif di masa lalu
sudah tidak cocok lagi bagi para peserta didik dan kebutuhan mereka saat ini.

Peserta didik tidak hanya membentuk kelompok yang semakin beragam tetapi juga ada
peserta didik yang menyukai sesuatu yang dipersonalisasi. Mereka terbiasa menonton acara TV

hanya saat mereka ingin saja daripada saat jadwal penyiaran acara tersebut. Mereka tidak lagi
harus membeli album untuk mendengarkan lagu tertentu karena sekarang mereka bisa
mendengarkannya cukup dengan mengunduh lagu-lagu yang mereka inginkan saja. Mereka
memilih komputer yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka
memperoleh berita dan informasi sesuai preferensi mereka saat mereka membutuhkannya.

Di sekolah, kita membimbing peserta didik tanpa mempertimbangkan kesiapan belajar,
minat individu, dan pendekatan tertentu setiap peserta didik. Kondisi proses belajar mengajar
yang lebih berfokus pada capaian skor pembelajaran dianggap sangat tidak sesuai dengan
maksud dan tujuan pendidikan bangsa Indonesia.

Perbedaan karakteristik peserta didik menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran,
perlakuan pada peserta didik tidak dapat dipukul rata dengan cara yang sama. Tekanan kepada
peserta didik untuk berprestasi tinggi dapat menyebabkan munculnya stres akademik. Kondisi
tersebut sangat bertentangan dengan konsep well-being yang diharapkan pemerintah melalui
kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang digulirkan pada
Tahun 2019.

Perbedaan karakteristik peserta didik dalam penerimaan proses pembelajaran membutuhkan
konsep pembelajaran yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan peserta didik secara
independen. Pembelajaran yang sesuai dengan konsep tersebut adalah pembelajaran
berdiferensiasi. Implementasinya adalah dengan melakukan asesmen karakteristik peserta didik
yang kemudian dilanjutkan dengan penyesuaian terhadap konten, proses dan produk dalam
pembelajaran.

Upaya mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi yang mampu mencapai students’ well-
being menjadi persoalan yang sangat penting sehingga menempatkan pengelolaan kegiatan
pembelajaran sebagai hal yang urgent dan krusial. Kepala Sekolah sebagai pemimpin memiliki
peran sangat penting dalam mewujudkan pengelolaan pembelajaran yang efektif. Sehingga
sangat dibutuhkan seorang kepala sekolah yang mampu memandang pembelajaran sebagai fokus
utama dalam setiap pengambilan keputusan. Kepemimpinan yang demikian disebut sebagai
kepemimpinan pembelajaran.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 21 Palu merupakan salah satu sekolah di Kota Palu yang
terdampak bencana gempa bumi, tsunami dan liquifaksi pada 28 September 2018 silam. Sejak

2018 hingga hari ini, sekolah ini melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah darurat karena
gedung sekolah yang sudah ambruk belum selesai dibangun.

Cukup banyak hal yang perlu kami lakukan sejak ditugaskan di unit satuan pendidikan ini
pada April 2019. Selain keterbatasan fasilitas penunjang proses pembelajaran, hal urgent yang
harus ditingkatkan adalah cara mengajar guru.

Guru tidak punya acuan dan tahapan dalam kurikulum (scope and sequences). Dengan kata
lain guru cenderung mengajar sesuai yang ada di buku teks saja. Kami juga menemukan
tantangan yakni guru menggunakan pendekatan satu untuk semua. Artinya guru tidak
menggunakan alternatif pada sumber mengajar, cara mengajar, penugasan dan cara menilai
peserta didiknya.

Guru di SDN 21 Palu masih menerapkan pembelajarannya monoton. Peserta didik tidak
dibuat tertarik. Guru sibuk membuat peserta didik antusias namun terlewat untuk menghadirkan
pembelajaran yang bermakna.

Temuan lain adalah guru masih sibuk mengelola kelasnya. Tingkah peserta didik masih
menjadi masalah buat dirinya. Jika ingin menerapkan strategi/pendekatan pembelajaran yang
baru hal yang ada di pikirannya masih mengenai apakah peserta didiknya bisa diatur perilakunya
atau tidak.

SDN 21 Palu telah menerapkan kurikulum merdeka belajar dengan ditetapkannya sekolah
kami sebagai pelaksana program sekolah penggerak angkatan I pada tahun 2021. Karena masih
menempati sekolah darurat, pertama menerima amanah ini terasa berat dan membingungkan,
namun seiring berjalannya waktu ternyata program ini amat menyenangkan.

Kami merasa tertantang dan bersemangat untuk menggerakkan guru-guru melakukan
pembelajaran berdiferensiasi di SDN 21 Palu.

Kali ini kami akan membagikan praktik baik kepemimpinan pembelajaran dalam
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran berdiferensiasi pada SDN 21 Palu.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah strategi pembelajaran dalam mengimplementasikan
kurikulum merdeka. Pembelajaran ini sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang
dapat digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan peserta didik di kelas. Maka jelas
pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memerdekaan peserta didik, dikarenakan
pembelajaran berdiferesiasi dibangun atas dasar memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.

Pemenuhan belajar peserta didik adalah salah satu hal mendasar dari proses pembelajar yang
menekankan pada kodrat peserta didik. Selain itu, pembelajaran diferensiasi dapat menumbuh
kembangkan profil pelajar pancasila yang menekankan pada keberimanan, kemandirian, gotong-
royong, berkebinekaan global, bernalar kritis dan kreatif.

Peserta didik akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan
sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya. Tugas-tugas yang
diberikan memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri peserta didik, dan jika tugas itu
memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai.

Agar guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus dibekali dengan
kesiapan, serta perubahan mindset dari paradigma lama ke paradigma baru. Untuk itu diperlukan
kepemimpinan pembelajaran yang mendukung pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi untuk
mewujudkan students’ well-being.

Perencanaan Kepemimpinan Pembelajaran Berdiferensiasi
Langkah pertama yang kami lakukan adalah melakukan koordinasi kurikulum dengan

mengundang guru-guru dalam suatu forum yang secara bersama dilakukan penyamaan persepsi
tentang pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan ini menjadi strategi kepala sekolah agar seluruh
guru dapat memahami maksud dan tujuan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.

Dalam forum ini kami melakukan kegiatan refleksi untuk melihat kekuatan yang ada di
sekolah, termasuk pemberdayaan dari kekuatan tersebut serta upaya mengatasi kendala yang
dihadapi oleh pendidik.

Diawali dengan kegiatan merefleksi itu, kami dapat masukan dari Bapak/Ibu guru
bagaimana untuk lebih bisa memahami paradigma pembelajaran yang baru dan juga asesmennya.
Dari hasil refleksi tersebut kami menginisiasi pelatihan yang diselenggarakan di sekolah (in-
house training) bagi seluruh guru di sekolah, rapat secara online dan offline, serta dialog terbuka.

Kami lebih berorientasi pada penyampaian informasi kepada subjek yaitu guru, orangtua,
peserta didik serta komite sekolah atau kolega yang lain sebagai jalan mendukung pelaksanaan
pembelajaran berdiferensiasi. Hal ini bertujuan untuk lebih menekankan prinsip-prinsip
pembelajaran dan asesmen. Kesempatan itu juga menjadi ajang bertukar pikiran dengan para
guru tentang kriteria prinsip-prinsip pembelajaran berdiferensiasi.

Selanjutnya adalah dengan menyiapkan guru yang berkompoten sebagai fasilitator
pembelajaran yaitu dengan menganjurkan guru untuk melakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)
pada modul-modul pembelajaran berdiferensiasi yang disusun pemerintah, mengefektifkan
bahan ajar berbasis TIK, mengaktifkan dan mengefektifkan perpustakaan sebagai sumber bahan
pembelajaran, menyediakan bahan ajar berdiferensiasi, membimbing dan memantau kemampuan
guru dalam menyusun RPP berdiferensiasi, dan menyediakan sarana prasarana penunjang
pembelajaran. Langkah tersebut dibarengi dengan memberikan bantuan langsung kepada guru
dan mengembangkan kurikulum.

Meskipun dalam kondisi sekolah darurat pada sarana prasarana yang amat sangat terbatas,
kami berkomitmen untuk memberikan fasilitas ruang belajar yang nyaman sehingga peserta
didik bersemangat untuk mengikuti pembelajaran.

Pelaksanaan Kepemimpinan Pembelajaran Berdiferensiasi
Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi merupakan tahapan yang dilakukan kepala

sekolah sebagai bagian dari proses dalam sistem persekolahan.
Dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yang kami lakukan adalah

dengan memberikan arahan, bimbingan, dan contoh kepada guru untuk (1) bersikap ramah dan
selalu menghargai setiap kemampuan peserta didik sehingga dapat membangun kepercayaan
pada diri peserta didik, (2) selalu memberikan contoh keteladanan agar dapat mewujudkan
peserta didik yang memiliki kepekaan dan inisiatif yang tinggi, (3) mampu mengelola kelas
dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik sehingga membangun kenyamanan dan sikap
optimis peserta didik, (4) memberikan arahan dan motivasi untuk selalu berani dalam kondisi
apapun agar dapat menjadikan peserta didik mampu beradaptasi dalam lingkungan manapun,
(5) memberikan fasilitas seperti sarana literasi dan berupaya mengelola pembelajaran yang dapat
membangun lingkungan kerja yang positif dan membentuk peserta didik yang percaya diri,
memiliki kepekaan dan inisiatif yang tinggi, merasa nyaman dan selalu optimis, mampu
beradaptasi serta cerdas secara sosial dan emosional.

Langkah lain yaitu membangun hubungan baik dengan orangtua peserta didik. Komunikasi
orang tua dengan pihak sekolah dibangun semata-mata demi kepentingan kemajuan belajar anak.
Selain itu akan terjalin hubungan harmonis orangtua-sekolah dalam rangka bersama-sama
memajukan pendidikan.

Evaluasi Kepemimpinan Pembelajaran Berdiferensiasi
Evaluasi merupakan tahapan akhir dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yang

kami implementasikan, yaitu dengan menerapkan beberapa tindakan seperti supervisi secara
berkala tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi, melakukan peninjauan terhadap
kemampuan peserta didik, peninjauan terhadap perangkat mengajar, sarana prasarana penunjang,
dan peningkatan prestasi belajar.

Kepala sekolah juga melakukan kajian dan penilaian rencana kerja sekolah, monitoring
pembelajaran berdiferensiasi, dan memberikan motivasi kepada guru.

Evaluasi pembelajaran berdiferensiasi dengan melakukan supervisi dan kegiatan sharing
session untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi guru.
Refleksi

Upaya kepala sekolah dalam mendukung penyelenggaraan pembelajaran berdiferensiasi
memberikan dampak pada tercapainya kesejahteraan guru dan peserta didik. Menerapkan
supervisi demokratis, mengadakan dan mengikutkan pelatihan, memberi motivasi dan dorongan
serta memberi apresiasi yang tinggi kepada guru-guru dengan tujuan mendukung
penyelenggaraan pembelajaran berdiferensiasi yang efektif.

Perilaku-perilaku tersebut memberikan dampak panda peningkatan kesejahteraan guru
sehingga secara langsung juga berdampak pada kesejahteraan peserta didik. Pembelajaran
berdiferensiasi membentuk budaya positip di sekolah. Budaya positip di SDN 21 Palu terlihat
dengan adanya nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang
berpihak kepada peserta didik yang membuat peserta didik dapat berkembang menjadi pribadi
yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Peserta didik lebih bersemangat, merasa aman dan nyaman dalam belajar, lebih antusias
serta mulai muncul karakter baik. Sementara, dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi
tersebut, orang tua peserta didik merasa dilibatkan langsung sehingga hubungan orang tua-guru
menjadi lebih harmonis dan dukungan orang tua terhadap guru maupun sekolah juga semakin
meningkat.

Tantangan dan berbagai kendala dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi
pasti ada, terlebih saat memulainya. Dan, meskipun pembelajaran berdiferensiasi telah memberi

dampak positif pada peserta didik SDN 21 Palu, namun kami menyadari tantangan ke depan
adalah lebih memaksimalkan diagnosis atau pemetaan kebutuhan belajar peserta didik.

Kepala sekolah dan tenaga pendidik SDN 21 Palu menyadari bahwa pemetaan kebutuhan
belajar peserta didik menjadi kunci untuk melanjutkan langkah selanjutnya. Apabila hasil
pemetaan tidak akurat, maka tindakan yang dilakukanpun menjadi kurang tepat. Untuk
memetakan kebutuhan peserta, guru perlu mempertimbangkan lagi data yang akurat baik dari
peserta didik, orang tua, maupun lingkungan. Dalam memetakan kebutuhan peserta didik,
hendaknya peserta didik dan orang tua memberikan data yang valid sehingga tindakan yang akan
dilakukan akan tepat sasaran.

Namun kami yakin bahwa sesuatu yang bertujuan baik dan dilaksanakan dengan penuh
komitmen, tenggungjawab dan semangat maka semua itu akan dapat tercapai dengan memegang
teguh prinsip kepala sekolah penggerak: Segala sesuatu itu mungkin (everything is possible),
kemampuan membuat sesuatu yang tidak mungkin itu menjadi suatu kenyataan (making the
impossibility to become reality).

Palu, Oktober 2022
Kepala SDN 21 Palu

Sunarti, S.Pd., MM


Click to View FlipBook Version