PENGEMBANGAN RENCANA PEMBELAJARAN
SEMESTER
A. Pengembangan Rencana Pembelajaran
1. RPS dalam Standar Proses Pembelajaran
Kurikulum yang sudah dikembangkan berbasis KKNI
dan SN Dikti merupakan instrumen yang digunakan dalam
menjamin standar kompetensi lulusan dan standar isi
pembelajaran dalam bentuk rumusan capaian pembelajaran.
Impelementasi kurikulum program studi hendaknya
didasarkan pada standar proses pembelajaran. Standar proses
pembelajaran yang dimaksud meliputi
a. karakteristik proses pembelajaran, terdiri atas sifat
interaktif, holistik, integratif, saintifik, kontekstual,
tematik, efektif, kolaboratif, dan berpusat pada
mahasiswa (student centered learning/SCL);
b. perencanaan proses pembelajaran disusun untuk
setiap mata kuliah dan disajikan dalam RPS;
c. pelaksanaan proses pembelajaran, merupakan bentuk
interaksi antara dosen, mahasiswa, dan sumber
1
belajar dalam lingkungan belajar tertentu. Proses
pembelajaran setiap mata kuliah dilaksanakan sesuai
dengan RPS; dan
d. beban belajar mahasiswa, dinyatakan dalam besaran
satuan kredit semester (sks). Semester merupakan
satuan waktu proses pembelajaran efektif selama
paling sedikit 16 minggu, termasuk proses penilaian
hasil belajar mahasiswa.
Gambar 10. Ilustrasi Standar Kompetensi Lulusan dalam SN Dikti
2
2. Bentuk Pembelajaran
Proses pembelajaran melalui kegiatan kurikuler wajib
dilakukan secara sistematis dan terstruktur melalui berbagai
mata kuliah dengan beban belajar yang terukur. Metode dalam
proses pembelajaran wajib dipilih yang efektif sesuai dengan
karakteristik mata kuliah untuk mencapai kemampuan tertentu
yang ditetapkan dalam rangkaian pemenuhan capaian
pembelajaran.
Metode pembelajaran yang dapat dipilih dalam proses
pembelajaran meliputi: diskusi kelompok, simulasi, studi
kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran kooperatif,
pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah,
dan/atau bentuk metode pembelajaran lainnya. Setiap mata
kuliah dapat menggunakan satu atau gabungan dari beberapa
metode pembelajaran yang diwadahi dalam satu bentuk
pembelajaran.
Bentuk pembelajaran dapat berupa: kuliah, responsi dan
tutorial, seminar, praktikum/ praktik studio/praktik
bengkel/praktik lapangan/praktik kerja,
penelitian/perancangan dan pengembangan, pelatihan militer,
3
pertukaran pelajar, magang, wirausaha dan/atau bentuk lain
pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan di dalam dan
di luar program studi. Contoh bentuk kegiatan pembelajaran
ditunjukkan dalam Gambar 11.
Gambar 11 Bentuk Kegiatan Pembelajaran di Luar Program Studi
(Diadaptasi dari Buku Pandauan Merdeka Belajar-Kampus
Merdeka, Dirjen Dikti 2020)
4
Bentuk dan metode pembelajaran dapat dilaksanaan
secara luring, daring, dan/atau kombinasi keduanya (bauran).
Pengembangan pembelajaran bauran didasarkan pada
pertimbangan efesiensi dan efiktivitas pemenuhan CPL sesuai
karakteristik mata kuliah. Secara skematis, pengembangan
pembelajaran bauran disajikan dalam bentuk diagram alir pada
Gambar 12.
Gambar 12. Pengembangan Kegiatan Pembelajaran Bauran
5
3. Pembelajaran Bauran
Era Revolusi Industri 4.0 dan Soceity 5.0 mendorong
tumbuhnya kamampuan literasi baru: literasi data, literasi
teknologi, dan literasi sumber daya manusia/humanisme.
Kemampuan kerja abad ke-21 menuntut terjadinya kolaborasi
antara manusia dengan sistem cerdas yang berbasis pada
internet (internet of thinks/IoT) dan atau sistem fisik cyber
dengan kemampuan memanfaatkan mesin-mesin cerdas lebih
efisien dengan lingungan yang lebih bersinergi.
Pembelajaran bauran (blended learning) merupakan
salah satu metode pembelajaran yang memadukan secara
harmonis keunggulan pembelajaran luar jaringan (luring) dan
pembelajaran dalam jaringan (daring). Dikatakan sebagai
pembelajaran bauran jika materi pembelajaran 30-70% dapat
diperoleh dan dipelajari mahasiswa secara daring. Klasifikasi
pembelajaran bauran dilihat dari akses mahasiswa terhadap
materi pembelajaran ditunjukkan dalam Tabel 2.
6
Tabel 8. Klasifikasi Pembelajaran bauran
Persentase Metode Penjelasan
Akses Pembelajaran
Daring Luring Penuh Materi pembelajaran
0%
1%-29% Web diberikan di kelas dan
30%-79% Bauran pengajaran secara lisan.
7 Pembelajaran terjadi
secara tatap muka dalam
kelas, tapi dosen
memfasilitasi akses RPS,
tugas dan meteri
pembelajaran di web atau
sistem menejemen
pembelajaran (leraning
management
system/LMS).
Kombinasi pembelajaran
luring dan daring. Metode
daring dilaksanakan
dalam waktu bersamaan
(sinkron) dan/atau
berbeda (asinkron).
Proses pembelajaram
dapat dilakukan
menggunakan LMS-
Moodle, Edmudo,
Aplikasi Google,
Microsoft Edukasi,
MOOC, dll.
≥ 80% Daring Penuh Pembelajaran sepenuhnya
terjadi secara daring.
Pembelajaran luring
dalam jumlah sangat
terbatas. Semua interaksi
dosen-mahasiswa-
lingkungan belajar
dilakukan secara daring
tanpa batas ruang.
Pembelajaran bauran hendaknya dirancang dengan
tujuan untuk meningkatkan pemenuhan CPL. Persentase akses
daring metode pembelajaran luring-daring dapat
dikembangkan secara bertahap. Metode pembelajaran daring
penuh, selanjutnya dapat dikembangkan menjadi materi
terbuka, kuliah terbuka dan fasilitasi program transfer kredit.
Terdapat banyak taksonomi model pembelajaran bauran, baik
dalam presfektif dosen maupun mahasiswa. Salah satu
taksonomi model pembelajaran bauran diilustrasikan pada
Gambar 13.
8
Gambar 13. Taksonomi Pembelajaran Bauran
(Diadaptasi dari Panduan KPT 4.0 Dikti 2018)
Salah satu taksonomi pembelajaran bauran yang banyak
digunakan adalah model Rotasi-Flipped Classroom. Model
rotasi memungkinkan mahasiswa melakukan aktivitas belajar
dari satu pusat/sumber belajar ke pusat/sumber belajar lainnya
sesuai dengan jadwal dan/atau RPS. Aktivitas belajar
mahasiswa dalam bentuk siklus, seperti: mengikuti kegiatan
pembelajaran luring, diskusi kelompok kecil, akses materi
daring, mengerjakan tugas kolaborasi daring, dan kembali lagi
mengikuti kegiatan pembelajaran luring.
9
Model Flipped Classroom merupakan salah satu model
rotasi pembelajaran bauran. Aktivitas belajar berupa interaksi
luring, mahasiswa malakukan klarifikasi dengan kelompok
kecil dari aktivitas pembelajaran daring sebelumnya, dalam hal
ini dosen berperan membimbing diskusi kelompok kecil.
Tujuan Model Flipped Classroom adalah mendorong
mahasiswa menguasai konsep dan/atau teori/materi baru
secara daring dengan memanfaatkan waktu 2 x 60 menit
penugasan terstruktur dan kegiatan belajar mandiri untuk
setiap sks mata kuliah. Sistem pembelajaran daring (SPADA)
merupakan fasilitasi pembelajaran daring dengan
mememanfaatkan learning management system/LMS yang
dapat dipilih sesuai karakteristik program studi. Aktivitas
daring dapat dilakukan dalam bentuk akses video
pembelajaran, buku elektronik, webinar, dan sumber belajar
digital lainnya.
10
Gambar 14. Ilustrasi Model Flipped Classroom
(diadaptasi dari Panduan KPT 4.0 Dikti 2018)
Setiap siklus Flipped Classroom diakhiri dengan
aktivitas luring dalam bentuk klarifikasi, refleksi dan
pendalaman hasil belajar daring dengan memanfaatkan 50
11
menit per sks mata kuliah. Model Flipped Classroom dapat
diimplementasikan untuk tiap tahapan belajar. Waktu
pelaksanan dirancang dengan mempertimbangkan tingkat
kedalaman dan keluasan materi dalam setiap tahap
kemampuan akhir (Sub-CPMK). Ilustrasi implmentasi model
Flipped Classroom disajikan dalam Gambar 14.
B. Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester
1. Komponen RPS
RPS merupakan rencana yang menggambarkan prosedur
dan pengelolaan pembelajaran untuk menuju hasil belajar
dalam bentuk capaian pembelajaran satu mata kuliah. RPS
ditetapkan dan dikembangkan oleh dosen secara mandiri atau
bersama dalam kelompok keahlian suatu bidang ilmu
pengetahuan dan/atau teknologi dalam program studi. RPS
paling sedikit memuat sembilan komponen berikut ini.
a. Identitas matakuliah yang terdiri atas: nama program
studi, nama dan kode matakuliah, semester, sks,
dosen pengampu.
12
b. Capaian pembelajaran lulusan yang dibebankan pada
mata kuliah.
c. Kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap tahap
pembelajaran untuk memenuhi capaian pembelajaran
lulusan.
d. Bahan kajian (subject mater) yang berkait dengan
kemampuan yang akan dicapai.
e. Metode pembelajaran yang sesuai karakeristik mata
kuliah, antara lain: diskusi kelompok, simulasi, studi
kasus, pembelajaran kolaboratif, pembelajaran
kooperatif, pembelajaran berbasis proyek,
pembelajaran berbasis masalah dan metode
pembelajaran lain yang dapat secara efektif
memfasilitasi pemenuhan capaian pembelajaran
lulusan.
f. Waktu yang disediakan untuk mencapai kemampuan
pada tiap tahap pembelajaran.
g. Pengalaman belajar mahasiswa yang diwujudkan
dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan
mahasiswa selama satu semester.
13
h. Kriteria, indikator, dan bobot penilaian.
i. Daftar referensi yang digunakan.
Dengan berpedoman pada RPS, diharapkan dosen dapat
mengajar dengan sistematis, sehingga capaian pembelajaran
lulusan dapat berkontribusi langsung pada tercapainya
standar kompetensi lulusan. Berdasarkan informasi di atas,
dapat ditarik beberapa simpulan, bahwa:
a. RPS merupakan perangkat pembelajaran yang harus
dibuat sebagai dokumen program studi yang menjadi
satu kesatuan dengan kurikulum program studi;
b. RPS merupakan instrumen yang digunakan untuk
menjamin proses pembelajaran sesuai standar proses
pembelajaran;
c. RPS menjadi panduan untuk menjamin hasil belajar
mahasiswa dalam bentuk capaian pembelajaran yang
diuraikan dalam kemampuan akhir yang dicapai
melalui pencapaian kemampuan tiap tahap
pembelajaran sesuai dengan indikator penilaian yang
direncanakan;
14
d. RPS harus dapat mengintegrasikan aspek capaian
pembelajaran lulusan yang terdiri atas sikap (afektif),
pengetahuan (kognitif), dan keterampilan
(psikomotorik). Dalam proses pembelajaran ketiga
aspek tersebut harus dijalankan secara bersamaan
meskipun persentasenya berbeda-beda. Ketiga aspek
yang ada harus dapat diukur dengan jelas. Penilaian
aspek kognitif dan psikomotorik sudah banyak
dilakukan, namun untuk melaksanakan penilaian
afektif perlu dibuat instrumen dan teknik penilaian
beserta rubrik yang dikembangkan secara khusus.
RPS hendaknya disusun dan dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip berikut:
a. RPS dokumen program pembelajaran yang
dirancang untuk menghasilkan lulusan yang
memiliki kemampuan sesuai CPL yang telah
ditetapkan, sehingga harus dapat dijalankan oleh
mahasiswa pada setiap tahapan belajar pada mata
kuliah terkait;
15
b. RPS dititikberatkan pada proses memandu
mahasiswa untuk belajar agar memiliki
kemampuan sesuai dengan CPL lulusan yang
dibebankan pada mata kuliah, bukan pada
kepentingan kegiatan dosen mengajar;
c. Pembelajaran yang dirancang dalam RPS adalah
pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa
(student centered learning disingkat SCL); dan
d. RPS wajib ditinjau dan disesuaikan secara berkala
sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
2. Tahapan pengembangan RPS
RPS merupakan bagian tidak terpisahkan dari kurikulum
program studi. Pengembangan RPS untuk setiap mata kuliah
wajib memperhatikan capaian pembelajaran, bahan kajian dan
bobot bahan kajian. Pengembangan RPS hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Standar Kompetensi Lulusan
Standar kompetensi lulusan harus dicapai oleh
16
mahasiswa selama menempuh pendidikan di suatu
program studi. Standar kompetensi lulusan
merupakan akumulasi capaian pembelajaran lulusan
yang diperoleh dari tiap mata kuliah yang
dikembangkan secara integratif menjadi satu kesatuan
utuh.
b. Karakteristik Mahasiswa
Setiap tahun, mahasiswa selalu berganti dan
karakteristiknya berbeda-beda. Penyusunan RPS
harus memperhatikan karakteristik mahasiswa yang
ada, baik kemampuan intelektual yang dimiliki,
motivasi belajar, kemampuan bersosialisasi, gaya
belajar dan lingkungan sosial mahasiswa. Proses
pembelajaran diharapkan dapat menciptakan suasana
sesuai konteks secara faktual.
c. Mendorong Keaktifan Mahasiswa
Active learning menjadi kegiatan yang harus
dilakukan dalam setiap proses pembelajaran.
Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa ini
bertujuan untuk menumbuhkan kemandirian melalui
17
kegiatan memotivasi, kreativitas, inisiatif, inspirasi
dan belajar mandiri. RPS yang dibuat harus dapat
mencerminkan pembelajaran berpusat pada
mahasiswa.
d. Mendorong Peningkatan Penguasaan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
Pada era sekarang ini, mahasiswa dituntut menguasai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
karena dunia kerja menuntut kemampuan tersebut.
Untuk itulah dalam menyusun RPS juga dibekali
dengan kegiatan yang dapat memotivasi mahasiswa
untuk menguasai ilmu dan teknologi.
e. Kesatuan dan Keterkaitan
Penyusunan RPS harus memperhatikan kesatuan dan
keterkaitan antara capaian pembelajaran, kemampuan
akhir yang diharapkan, tahap pencapaian kemampuan
akhir, indikator, pengalaman belajar, metode, media,
sumber belajar dan referensi, serta alokasi waktu, dan
penilaian.
18
Waktu merupakan takaran beban belajar mahasiswa
yang diperlukan sesuai dengan CPL yang hendak dicapai.
Waktu selanjutnya dikonversi dalam satuan sks, setiap 1 sks
setara dengan 170 menit per minggu per semester sedangkan
1 semester terdiri atas 16 minggu termasuk ujian tengan
semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS).
Penetapan lama waktu di setiap tahap pembelajaran
didasarkan pada perkiraan bahwa dalam jangka waktu yang
disediakan rata-rata mahasiswa dapat mencapai kemampuan
yang telah ditetapkan melalui pengalaman belajar yang
dirancang pada tahap pembelajaran tersebut. Definisi satu sks
dalam bentuk pembelajaran secara klasikal ditunjukan pada
Gambar 15.
19
Gambar 15. Definisi sks dalam Bentuk Pembelajaran.
3. Penjabaran CPL dalam Mata Kuliah
Salah satu komponen utama RPS adalah CPL yang
dibebankan pada mata kuliah, selanjutnya disebut capaian
pembelajaran mata kuliah (CPMK). CPL masih bersifat
umum sementara CPMK bersifat lebih spesifik pada mata
kuliah. Rumusan CPMK hendaknya mengandung unsur-
unsur kemampuan dan bahan kajian (subject matter) yang
dipilih serta ditetapkan tingkat kedalaman dan keluasannya
sesuai dngan CPL yang dibebankan pada mata kuliah tersebut.
Kemampuan akhir yang direncanakan tiap tahap
pembelajaran (Sub-CPMK) merupakan penjabaran CPMK
untuk memenuhi CPL yang dibebankan pada mata kuliah.
20
CPMK dan Sub-CPMK harus bersifat selaras, dapat diamati,
diukur, dan dinilai. Unjuk kerja mahasiswa pada tiap tahap
pembelajaran secara kumulatif harus bisa menggambarkan
capaian CPL yang menjadi beban mata kuliah. Sub-CPMK
yang baik memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini.
a. Specific–rumusan harus jelas, menggunakan istilah
yang spesifik menggambarkan kemampuan: sikap,
pengetahuan, dan ketrampilan yang diinginkan,
menggunakan kata kerja tindakan nyata (concrete
verbs);
b. Measurable–rumusan harus mempunyai target hasil
belajar mahasiswa yang terukur, sehingga dapat
ditentukan kapan hal tersebut dapat dicapai
mahasiswa;
c. Achievable–rumusan menyatakan kemampuan yang
dapat dicapai oleh mahasiswa;
d. Realistic–rumusan menyatakan kemampuan yang
realistis untuk dapat dicapai oleh mahasiswa;
e. Time-bound–rumusan menyatakan kemampuan yang
dapat dicapai oleh mahasiswa dalam waktu cukup dan
21
wajar sesuai bobot sksnya.
Sangat perlu diperhatikan dalam menyusun CPMK dan
Sub-CPMK adalah penggunaan kata kerja operasional (action
verb), karena berkait langsung dengan tuntutan level
kualifikasi dan pemenuhan CPL. Kata kerja opersaional
sesuai level kualifikasi dapat ditetapkan berdasar tingkat
taksonomi pengetahuan, sikap, dan keterampilan seperti
ditunjukkan pada Gambar 6. Level kualifikasi ditunjukkan
dari kode taksonomi dari angka kecil (level lebih rendah) ke
besar (level lebih tinggi). Kode taksonomi C1 sampai C6
adalah level pengetahuan (cognitif), kode taksonomi A1
sampai A5 adalah level afektif (affective), dan kode
taksonomi P1 sampai P4 adalah level psikomotorik
(psychomotoric).
CPMK atau sering disebut courses learning outcomes
(CLO) dapat berjumlah satu saja, dengan catatan dapat
menggambarkan CPL yang dibebankan pada mata kuliah
secara utuh. Selanjutnya, CPMK diturunkan menjadi
rumusan kemampuan akhir tiap tahap (Sub-CPM) dan secara
akumulatif harus dapat menggambarkan pencapaian CPL
22
yang dibebankan pada mata kuliah. Jumlah CPMK sangat
dipengaruhi oleh besarnya sks serta kedalaman dan keluasan
bahan kajian mata kuliah. Ilustrasi penjabaran CPL, CPMK,
dan Sub-CPMK untuk mata kuliah Metode Penelitian
disajikan dalam Gambar 16 berikut.
Gambar 16. Ilustrasi penjabaran CPL yang menjadi CPMK dan
Sub-CPMK
Mata Kuliah Metodologi Penelitian Program Studi Hukum
Jenjang S1
(CPL Diadaptasi dari http://cp.ristekdikti.go.id/v2)
(CPMK dan Sub-CPMK diadaptasi dari Panduan KPT 4.0 Dikti
2018)
23
4. Analisis Tahapan Pembelajaran
Analisis pembelajaran sangat perlu untuk dilakukan
dengan dasar pemikiran bahwa pembelajaran dalam sebuah
mata kuliah terjadi dengan tahapan-tahapan belajar untuk
pencapaian kemampuan mahasiwa yang terukur, sistematis,
dan terencana. Analisis pembelajaran dilakukan untuk
mengidentifikasi kemampuan akhir pada tiap tahapan belajar
(Sub-CPMK) sebagai penjabaran dari CPMK.
Secara umum terdapat empat macam struktur
penyusunan Sub-CPMK yang menyatakan tahapan
pembelajaran pada mata kuliah, yakni: struktur herarkis,
struktur prosedural, struktur pengelompokan, dan struktur
kombinasi. Struktur dan deskripsi struktur analisis
pembelajaran disajikan seperti ilustrasi di Gambar 17.
24
Gambar 17. Struktur dan Definisi Struktur Analisis
Pembelajaran
Penilaian hasil belajar dilakukan secara simultan untuk
tiap tahap kemampuan. Pembelajaran remedial dilakukan
dalam prinsip belajar tuntas seiring dalam proses dan
penilaian pembelajaran setiap tahap kemampuan yang
direncanakan. Ilustrasi analisis tahap pembelajaran untuk
mata kuliah metode Penelitian disajikan dalam Gambar 18.
25
Gambar 18. Analisis Tahap Pembelajaran
C. Evaluasi Pembelajaran Program Studi
Proses pembelajaran dievaluasi sebagai bentuk kontrol
untuk memperbaiki kualitas dan melakukan penilaian atas
pencapaian standar pada sistem pembelajaran. Evaluasi
pembelajarana diharapkan menjadi proses menentukan
tingkat pencapaian tujuan dalam sistem pembelajaran yang
26
telah ditentukan sebelumnya melalui cara yang sistematis.
Proses evaluasi pembelajaran program studi mengacu pada
dimensi, (1) capaian belajar mahasiswa, (2) materi
pembelajaran, (3) metode pembelajaran, (4) media
pembelajaran, (5) ketersediaan sarana-prasarana, dan (6)
bentuk penilaian.
Setiap aspek dalam pembelajaran tersebut di atas guna
mencapai sistem pembalajaran program studi yang ideal dan
sesuai standar. Setiap aspek dalam pelaksanaan pembelajaran
harus dievaluasi sesuai dengan standar operasional
pembelajaran dan mengacu pada standar pendidikan.
Pelaksanaan evaluasi pembelajaran program studi
dilaksanakan secara hirarkis mulai dari dosen pengampu
mata kuliah yang mengevaluasi pembelajaran di tiap-tiap
mata kuliah yang diampu. Evaluasi yang dilakukan program
studi setidak-tidaknya dilakukan dua kali, yakni di tengah
semester dan di akhir semester. Fakultas juga melakukan
evaluasi atas pembelajaran di program studi yang didasarkan
pada standar nasional pendidikan tinggi guna menjadi
27
evaluator eksternal program studi untuk merealisasikan
prinsip penilaian.
Model penilaian yang bisa digunakan antara lain, (1)
Context, Input, Process, Product (CIPP) yang bisa
diturunkan menjadi CIPPO dengan Output sebagai salah satu
prosedur analisisnya, (2) Goal Oriented Evaluation/Model
Tyler, (3) Goal Free Evaluation Model oleh Michael
Schriven, dan (4) Model Empat Level Donald L. Kirkpatrick.
Guna mendapatkan hasil evaluasi yang bisa
dipertanggungjawabkan keabsahannya maka program studi
dan fakultas bisa menggunakan kombinasi atas model
evaluasi yang berbeda. Setiap model evaluasi memiliki
kelebihan dan kelemahan yang saling melengkapi agar bisa
menunjukkan data yang akurat dan reliabel.
1. Prinsip Penilaian Pembelajaran
Prinsip-prinsip penilaian dalam pembelajaran
merupakan landasan dasar dan syarat penilaian secara
komprehensif. Pembelajaran yang dinilai dengan prinsip
yang edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan transparan
akan menghasilkan deskripsi capaian pembelajaran lulusan
28
yang sahih. Prinsip edukatif menuntut penilaian yang
membelajarkan mahasiswa dan menempatkan mahasiswa
pada subjek belajar sehingga melalui proses penilaian yang
sahih. Kewajiban dosen untuk memberikan feedback dan
memperbaiki stimulus dalam proses penilaian yang
terstruktur. Diharapkan melalui penilaian yang
mengedepankan prinsip edukatif mahasiswa dapat
memahami materi lebih komplet dan tersistem pada kerangka
pembelajaran yang diformulakan melalui CPL.
Tujuan dari penilaian yang mengedepankan edukatif
adalah proses memperbaiki perencanaan dan cara belajar
mahasiswa. Prinsip penilaian otentik adalah penilaian yang
berorientasi pada proses belajar berkesinambungann dan hasil
belajar mencerminkan kemampuan mahsiswa pada saat
proses pembelajaran berlangsung. Tugas utama dalam prinsip
penilaian ini adalah kemampuan mengobservasi kemampuan
peserta didik baik melalui jurnal pengamatan maupun melalui
daftar indikator kemampuan. Setiap perubahan kemampuan
mahasiswa akan menjadi laporan terstruktur yang nantinya
dianalisis terkait pencapaian CPL mahsiswa. Penilaian
29
otentik akan mendeskripsikan kemampuan dosen dalam
merancang materi ajar dan menyampaikan materi tersebut.
Prinsip penilaian objektif merupakan penilaian belajar
dengan mendasarkan standar yang telah disepakati antara
dosen dan mahasiswa. Prinsip penilaian ini mengutakan kerja
kolaborasi antara dosen dan mahasiswa tanpa keberpihakan
secara personal maupun kelompok. Objektivitas pada hasil
penilaian menujukkan akurasi pengukuran CPL yang
dilakukan oleh dosen. Langkah penilaian yang perlu
diperhatikan dalam menerapkan prinsip penilaian objektif
adalah menunjukkan kemampuan yang dibuktikan dengan
data pendukung kompetensi tersebut sehingga dosen selalu
memiliki alasan yang kuat dalam memberikan judgment atas
angka yang terukur dalam CPL.
Prinsip penilaian akuntabel merupakan penilaian yang
dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan kriteria yang jelas,
disepakati di awal, dan dipahami oleh mahasiswa dan dosen.
Prinsip akuntabitilas menunjukkan bahwa prosedur dalam
pembelajaran menjadi langkah awal sebelum penilaian
dilakukan. Penggunaan blue print sebagai tes indukan sangat
30
membantu untuk setiap mata kuliah secara berjenjang dari
tahun ke tahun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Selain pembuatan blue print pada masing-masing CPL yang
diturunkan pada indikator mata kuliah, maka pemakaian
mother test akan mempermudah akuntabilitas tes dan
mendeskripsikan kemampuan mahasiswa secara
berkelanjutan. Penilaian yang akuntabel akan menunjukkan
perilaku tertib azaz baik pada dosen maupun mahasiswa.
Prinsip transparan menunjukkan kesesuaian prosedur
dan hasil yang bisa diakses oleh mahasiswa, dosen, tenaga
kependidikan, orang tua, maupun para pemangku
kepenitngan. Prinsip transparansi tidak sekadar
mengumumkan hasil akhir yang diperoleh namun juga proses
pengukuran, penilaian, dan deskripsi kemampuan pada
masing-masing indikator.
2. Dimensi Penilaian Pembelajaran
Dimensi penilaian pembelajaran dibagi menjadi 3 yakni
sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Pada dimensi
keterampilan dibagi menjadi 2 subdimensi yakni penilaian
31
keterampilan khusus dan umum. Penilaian sikap adalah suatu
kegiatan yang dilaksanakan untuk mengetahui perilaku siswa
baik spritual maupun sosial dalam kehidupan sehari-hari baik
didalam kelas maupun di luar kelas sebagai hasil pendidikan
dalam rangka mengontrol perkembangan sikap siswa dan
memfasilitasi tumbuhnya perilaku siswa. Penilaian
keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk
mengetahui kemampuan siswa dalam menerapkan
pengetahuan untuk melakukan tugas tertentu di dalam
berbagai macam konteks sesuai dengan capaian indikator
lulusan.
Penilaian pengetahuan merupakan penilaian untuk
mengukur kemampuan peserta didik berupa pengetahuan
faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif, serta
kecakapan berpikir tingkat rendah sampai tinggi. Penilaian
pengetahuan juga digunakan untuk mengidentifikasi
kelemahan dan kekuatan penguasaan pengetahuan peserta
didik dalam proses pembelajaran (diagnostic). Oleh karena
itu, pemberian umpan balik (feedback) kepada peserta didik
oleh pendidik merupakan hal yang sangat penting, sehingga
32
hasil penilaian dapat segera digunakan untuk perbaikan mutu
pembelajaran.
3. Bentuk dan Teknik Penilaian Proses dan Hasil
Pembelajaran
Banyak bentuk penilaian proses dan hasil belajar
mahasiswa yang bisa digunakan untuk mengukur
kemampuan yang diformulasikan dalam CPL. Guna
meningkatkan akurasi dan kesahihan dalam penilaian, dosen
disarankan menggunakan dua atau teknik penilaian untuk
mengangulasikan hasil pengukuran CPL tersebut.
Penilaian ranah sikap dilakukan melalui observasi,
penilaian diri, penilaian antarmahasiswa (mahasiswa menilai
kinerja rekannya dalam satu bidang atau kelompok), dan
penilaian aspek pribadi yang menekankan pada aspek
beriman, ber-akhlak mulia, percaya diri, disiplin dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial, alam sekitar, serta dunia dan peradabannya.
33
Tabel 9 Ilustrasi Instrumen dan teknik penialain CPL
Penilaian Teknik Instrumen
Sikap Observasi 1. Rubrik untuk
Keterampilan Observasi, penilaian
umum partisipasi, proses dan/atau
Keterampilan unjuk kerja, 2. Portofolio atau
khusus tes tertulis, tes karya desain
lisan, dan untuk penilaian
Pengetahuan angket hasil
Hasil akhir penilaian merupakan integrasi antara
berbagai teknik
dan instrument penilaian yang digunakan.
Penilaian ranah pengetahuan melalui berbagai bentuk tes
tulis dan tes lisan yang secara teknis dapat dilaksanakan
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung
maksudnya adalah dosen dan mahasiswa bertemu secara
tatap muka saat penilaian, misalnya saat seminar, ujian
skripsi, tesis dan disertasi sedangkan secara tidak langsung,
misalnya menggunakan lembar-lembar soal ujian tulis.
Penilaian ranah ketrampilan melalui penilaian kinerja
yang dapat diselenggarakan melalui praktikum, praktek,
simulasi, praktik lapangan, dll. yang memungkinkan
34
mahasiswa untuk dapat meningkatkan kemampuan
ketrampilannya.
4. Rubrik dan Portofolio
Untuk menjaga konsistensi objektivitas penilaian diperlukan
rubrik kriteria penilaian (Lampiran 3). Ada tiga macam
rubrik yang biasa digunakan yaitu
1. Rubrik holistik adalah pedoman penilaian untuk
menilai berdasarkan kesan keseluruhan atau kombinasi
semua kriteria.
2. Rubrik analitik adalah pedoman penilaian yang
memiliki tingkatan kriteria penilaian yang
dideskripsikan dan diberikan skala penilaian atau skor
penilaian.
3. Rubrik skala persepsi adalah pedoman penilaian yang
memiliki tingkatan kreteria penilian yang tidak
dideskripsikan, namun tetap diberikan skala penilaian
atau skor penilaian.
Pengalaman belajar mahasiswa dalam bentuk tugas yang
dapat mengukur perkembangan capaian pembelajaran
mahasiswa dapat menggunakan penilaian portofolio.
35
Kumpulan informasi dapat berupa karya mahasiswa yang
dihasilkan selama proses pembelajaran. Macam penilaian
protofolio di antaranya,
1. Portofolio perkembangan, berisi koleksi hasil-hasil
karya mahasiswa yang menunjukkan kemajuan
pencapaian kemampuannya sesuai dengan tahapan
belajar yang telah dijalani.
2. Portofolio pameran (showcase) berisi hasil-hasil karya
mahasiswa yang menunjukkan hasil kinerja belajar
terbaiknya.
3. Portofolio koprehensif, berisi hasil-hasil karya
mahasiswa secara keseluruhan selama proses
pembelajaran.
Instrumen penilaian portofolio dapat dikembangkan dari
rubrik penilaian. Perlu diperhatikan, rubrik digunakan
menilai satu tugas dari suatu tahap kemampuan sementara
portofolio digunakan untuk mengukur ketercapaian proses
yang bisa terdiri dara beberpa tahap kemapuan.
36
5. Pengukuran Capaian Pembelajaran Lulusan
Capaian pembelajaran (learning outcomes) adalah suatu
ungkapan tujuan pendidikan, yang merupakan suatu
pernyataan yang diharapkan untuk diketahui, dipahami, dan
dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan
suatu periode belajar. Capaian pembelajaran adalah
kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan,
sikap, keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman
kerja. Capaian pembelajaran menunjukkan kemajuan belajar
yang digambarkan secara vertikal dari satu tingkat ke tingkat
yang lain serta didokumentasikan dalam suatu kerangka
kualifikasi. Capaian pembelajaran harus disertai dengan
kriteria penilaian yang tepat yang dapat digunakan untuk
menilai bahwa hasil pembelajaran yang diharapkan telah
dicapai.
Capaian pembelajaran lulusan terinternalisasi dalam
mata kuliah yang disebut CPMK diukur melalui instrumen
tes yang telah disediakan oleh masing-masing dosen. Setiap
hasil penilaian pembelajaran yang dilakukan melalui tes,
unjuk kerja, penugasan, dan praktik kerja lainnya. Penilaian
37
yang dilakukan oleh dosen merujuk pada CPMK yang perlu
diskala menjadi skor capaian pembelajaran lulusan dan
menggeneralisasikannya sebagai dimensi kemampuan
mahasiswa sesuai KKNI pada masing-masing program studi.
Data hasil belajar diolah menjadi sub-CPMK yang
merupakan proses pengukuran pada dimensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Pengukuran sub-CPMK pada
3 dimensi tersebut dilakukan melalui 2 kegiatan, yakni ujian
tengah semester dan ujian akhir semester. Pada tiga dimensi
tersebut, dosen harus melakukan skala pengukuran yakni
menentukan skor komposit dengan pembobotan tertentu pada
dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Berdasarkan
pada pengukuran Sub-CPMK, maka diperoleh nilai UTS dan
UAS yang mengukur CPL pada rancangan KKNI program
studi. Sub-CPMK adalah kemampuan yang dijabarkan secara
spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan
merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap
tahap pembelajaran, dan bersifat spesifik terhadap materi
pembelajaran mata kuliah tersebut.
38
6. Pelaporan Penilaian
Pelaporan penilaian di perguruan tinggi disampaikan
secara general dengan bentuk skor tunggal pada dua kali
pengetesan yakni melalui UTS dan UAS. Masing-masing
skor pengukuran sikap, pengetahuan, dan keterampilan
diakumulasikan menggunakan skor komposit yang diatur
oleh masing-masing dosen.
Tabel 10. Rentang skor dan Rentang Nilai (Skala 4)
Skala 100 Angka Huruf
S ≥ 85 4.00 A
60≤S<85 3.70 A-
75≤S<80 3.30 B+
70≤S<75 3.00 B
65≤S<70 2.70 C+
60≤S<65 2.00 C
55≤S<60 1.00 D
S < 55 0.00 E
39
Tugas mahasiswa
a. Mengikuti penilaian tengah semester dan akhir semester.
b. Melaksanakan penugasan, unjuk kerja, praktik, simulasi,
dan bentuk nontes lain yang disampaikan oleh dosen
sebagai pengukuran 3 dimensi penilaian.
c. Mengikuti remidiasi dan pengayaan sesuai ketentuan
yang diatur oleh dosen pengampu mata kuliah.
d. Menerima hasil deskripsi mengenai capaian
pembelajaran lulusan sesuai dengan KKNI program
studi.
Tugas Dosen
a. Melakukan pengukuran dimensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan melalui indikator pembelajaran yang
merupakan turunan dari CPMK
b. Menganalisis hasil belajar dan menggeneralisasikan
melalui kerangka CPL pada mata kuliah
c. Mengadakan remidiasi dan pengayaan agar mahasiswa
dapat mencapai batas minimum penilaian hasil belajar.
40
Lampiran 2 Rencana P
A. Form RPS – Pembelajaran Bauran
4
Pembelajaran Semster
41
*Kriteria Penilaian terlampir
4
42
B. Penjelasan Komponen RPS
a) Nama program : Sesuai dengan yang tercantum dalam
studi ijin pembukaan/
pendirian/operasional program studi
yang dikeluarkan oleh Kementerian
Nama dan kode, : Harus sesuai dengan rancangan
semester, sks kurikulum yang ditetapkan.
mata
kuliah/modul
Nama dosen : Dapat diisi lebih dari satu orang bila
pengampu pembelajaran dilakukan oleh suatu
tim pengampu (team teaching), atau
kelas parallel.
b) Capaian : CPL yang tertulis dalam RPS
pembelajaran merupakan sejumlah capaian
lulusan yang pembelajaran lulusan yang
dibebankan pada dibebankan pada mata kuliah terkait,
mata kuliah terdiri dari sikap, ketrampilan umum,
(CPMK) ketrampilan khusus, dan
pengetahuan. Rumusan capaian
pembelajaran lulusan yang telah
dirumuskan dalam dokumen
kurikulum dapat dibebankan kepada
beberapa mata kuliah, sehingga CPL
yang dibebankan kepada suatu mata
kuliah merupakan bagian dari usaha
untuk memberi kemampuan yang
mengarah pada pemenuhan CPL
55
c) Kemampuan program studi. Beberapa butir CPL
akhir yang yanga dibebankan pada MK dapat
direncanakan di direformulasi kembali dengan makna
setiap tahapan yang sama dan lebih spesifik
pembelajaran terhadap MK dapat dinyatakan
(Sub-CPMK) sebagai capaian pembelajaran Mata
Kuliah (CPMK).
d) Bahan Kajian : Merupakan kemampuan tiap tahap
(subject matter) pembelajaran (Sub-CPMK atau istilah
atau Materi lainnya yang setara) dijabarkan dari
Pembelajaran capaian pembelajaran mata kuliah
(CPMK atau istilah lainnya yang
setara). Rumusan CPMK merupakan
jabaran CPL yang dibebankan pada
mata kuliah terkait.
: Materi pembelajaran merupakan
rincian dari sebuah bahan kajian atau
beberapa bahan kajian yang dimiliki
oleh mata kuliah terkait. Bahan kajian
dapat berasal dari berbagai cabang/
ranting/bagian dari bidang keilmuan
atau bidang keahlian yang
dikembangkan oleh program studi.
Materi pembelajaran dapat disajikan
dalam bentuk buku ajar, modul ajar,
diktat, petunjuk praktikum, modul
tutorial, buku referensi, monograf,
dan bentuk-bentuk sumber belajar
56
lain yang setara.
Materi pembelajaran yang disusun
berdasarkan satu bahan kajian dari
satu bidang keilmuan/keahlian maka
materi pembelajaran lebih fokus pada
pendalaman bidang keilmuan
tersebut. Sedangkan materi
pembelajaran yang disusun dari
beberapa bahan kajian dari beberapa
bidang keilmuan/keahlian dengan
tujuan mahasiswa dapat mempelajari
secara terintergrasi keterkaitan
beberapa bidang keilmuan atau
bidang keahlian tersebut.
Materi pembelajaran dirancang dan
disusun dengan mem-perhatikan
keluasan dan kedalaman yang diatur
oleh standar isi pada SN-Dikti
(disajikan pada Tabel-1). Materi
pembelajaran sedianya oleh dosen
atau tim dosen selalu diperbaharui
sesuai dengan perkembangan IPTEK.
57
e) Metode : Pemilihan bentuk dan metode
Pembelajaran
pembelajaran didasarkan pada
keniscayaan bahwa kemampuan yang
diharapkan telah ditetapkan dalam
suatu tahap pembelajaran sesuai
dengan CPL. Bentuk pembelajaran
berupa: kuliah, responsi, tutorial,
seminar atau yang setara, praktikum,
praktik studio, praktik bengkel,
praktik lapangan, penelitian,
pengabdian kepada masyarakat
dan/atau bentuk pembelajaran lain
yang setara. Sedangkan metode
pembelajaran berupa: diskusi
kelompok, simulasi, studi kasus,
pembelajaran kolaboratif,
pembelajaran kooperatif,
pembelajaran berbasis proyek,
pembelajaran berbasis masalah, atau
metode pembelajaran lain, yang
dapat secara efektif memfasilitasi
pemenuhan capaian pembelajaran
lulusan.
Pada bentuk pembelajaran terikat
ketentuan estimasi waktu belajar
mahasiswa yang kemudian
dinyatakan dengan bobot
: Waktu merupakan takaran beban
58
f) Waktu belajar mahasiswa yang diperlukan
sesuai dengan CPL yang hendak
g) Pengalaman dicapai. Waktu selanjutnya dikonversi
belajar dalam satuan sks, dimana 1 sks setara
mahasiswa dengan 170 menit per minggu per
dalam bentuk semester. Sedangkan 1 semester
tugas terdiri dari 16 minggu termasuk ujian
tengan semester (UTS) dan ujian
akhir semester (UAS).
Penetapan lama waktu di setiap
tahap pembelajaran didasarkan pada
perkiraan bahwa dalam jangka waktu
yang disediakan rata-rata mahasiswa
dapat mencapai kemampuan yang
telah ditetapkan melalui pengalaman
belajar yang dirancang pada tahap
pembelajaran tersebut.
: Pengalaman belajar mahasiswa yang
diwujudkan dalam des-kripsi tugas
yang harus dikerjakan oleh
mahasiswa selama satu semester,
adalah bentuk kegiatan belajar
mahasiswa yang dinyatakan dalam
tugas-tugas agar mahasiswa mampu
men-capai kemampuan yang
diharapkan di setiap tahapan pem-
belajaran. Proses ini termasuk di
dalamnya kegiatan penilaian proses
59
h) Kriteria, dan penilaian hasil belajar
indikator, dan mahasiswa.
bobot penilaian : Penilaian mencakup prinsip edukatif,
otentik, objektif, akuntabel, dan
i) Daftar referensi transparan yang dilakukan secara
terintegrasi. Kriteria menunjuk pada
standar keberhasilan mahasiswa
dalam sebuah tahapan pembelajaran,
sedangkan indikator merupakan
unsur-unsur yang menunjukkan
kualitas kinerja mahasiswa. Bobot
penilaian merupakan ukuran dalam
persen (%) yang menunjukkan
persentase penilaian keberhasilan
satu tahap belajar terhadap nilai
keberhasilan keseluruhan dalam
mata kuliah.
: Berisi buku atau bentuk lainnya yang
dapat digunakan sebagai sumber
belajar dalam pembelajaran mata
kuliah.
60