The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by idaalfiah25, 2021-05-01 03:46:47

IDA ALFIAH-BHN AJAR'20-A

IDA ALFIAH-BHN AJAR'20-A

i|Page

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang selalum melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat serta
salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Rasullulah
Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan
modul.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu dalam penyusunan modul mata kuliah
Mikrobiologi ini, terutama kepada Prof. Mimien Henie Irawati, M.S.
selaku dosen pengampu mata kuliah pengembangan media dan
bahan ajar Biologi. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada
teman-teman kelas A pendidikan Biologi 2019 yang telah membantu
dalam menyelesaikan modul ini.

Modul ini akan dimanfaatkan sebagai bahan ajar berbasis
penelitian untuk mata kuliah Mikrobiologi. Modul ini berisi materi
dan kegiatan yang diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam
memahami dan mempelajari teknik analisis uji antibakteri
menggunakan bahan alam. Modul ini disusun berdasarkan hasil
penelitian Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol
Daun Pepaya Gunung (Carica pubescens Lenne & K. Koch) terhadap
Bakteri Salmonella typhi.

ii | P a g e

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................iii
TINJAUAN MATA KULIAH...................................................................................... iv
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL......................................................................v
KEGIATAN BELAJAR .................................................................................................. 1
Orientasi masalah........................................................................................................ 2
DEMAM TIFOID ............................................................................................................ 4

Morfologi Salmonella typhi................................................................................. 4
Pathogenesis Demam Tifoid ............................................................................... 5
Carica pubescens Lenne & K. Koch ...................................................................... 7
Morfologi...................................................................................................................... 7
Kandungan Kimia..................................................................................................... 8
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI .............................................................................. 9
AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA DAUN ........................................................12
Carica pubescnes Lenne & K. Koch ....................................................................12
MARI BERLATIH ........................................................................................................14
SOAL EVALUASI .........................................................................................................19
PENGUASAAN MATERI...........................................................................................20
KUNCI JAWABAN.......................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................22

iii | P a g e

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Mikrobiologi merupakan mata kuliah wajid di
Universitas Negeri Malang pada jurusan Biologi. Matakuliah ini
ditempuh pada semester genap dengan 3 sks/ 5 js.

SCPL Menguasai konsep teoritis biologi dasar secara
terintegrasi dengan menggunakan pemikiran logis,
kritis, sistematis dan inovatif untuk menganalisis
berbagai permasalahan dibidang biologi sehingga
dapat mengagumi dan berusaha menjaga
ciptaanNya.

CPMK 1. Memahami konsep-konsep dalam

Mikrobiologi

2. Memahami sifat-sifat dan peranan mikroba

dalam kehidupan sehari- hari.

3. Memahami penerapan konsep-konsep

Mikrobiologi dalam kehidupan sehari-hari

4. Menguasai teknik dan prosedur dasar

laboratorium untuk mempelajari mikroba.

SUB- Menjelaskan tentang daya antibakteri beberapa
CPMK antiseptik

iv | P a g e

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Modul ini disusun berbasis model pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) berdasarkan hasil penelitian terhadap Uji
Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Daun Pepaya
Gunung (Carica pubescens Lenne & K. Koch) terhadap Bakteri
Salmonella typhi. Sebelum belajar dengan menggunakan modul ini
diharapkan membaca petunjuk penggunaan modul sebagai berikut:

1. Bacalah dan pahami tujuan pembelajaran terlebih dahulu
2. Bacalah dan pahami masalah yang telah disajikan pada modul

ini
3. Analisislah masalah yang telah ditemukan dan sarankan

beberapa solusi untuk menyelesaikan masalah yang telah anda
temukan
4. Bacalah uraian materi dan teknik analisis berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan
5. Buatlah kesimpulan dari yang telah anda pelajari
6. Kerjakan soal evaluasi pada bagian akhir modul

v|Page

KEGIATAN BELAJAR

TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Memahami penyebab dan patogenesisi deman
tifoid

2. Mempelajari morfologi bakteri Salmonella typhi
3. Mempelajari morfologi dan kandungan tanaman

Carica pubescens Lenne & K. Koch
4. Mempelajari metode pengujian aktivitas

antibakteri pada bahan alam

1|Page

Orientasi Masalah

Demam tifoid menjadi salah satu masalah kesehatan yang
banyak terjadi di Negara tropis dan berkembang seperti di
Indonesia. Jumlah kasus demam tifoid di seluruh dunia diperkirakan
terdapat 21 juta kasus dengan 128.000 sampai 161.000 kematian
setiap tahun, kasus terbanyak terdapat di Asia Selatan dan Asia
Tenggara (WHO, 2018).

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang penularannya
terjadi melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi
oleh bakteri S. typhi. Di dalam tubuh S. typhi akan melepaskan
endotoksin ke dalam darah. Kehadiran endotoksin dapat
merangsang produksi sitokin. Produksi sitokin inilah yang dapat
menyebabkan gejala-gejala sistemik seperti demam, muntah, sakit
kepala, diare, dan konstipasi.

Pengobatan yang umum dilakukan adalah dengan
menggunakan obat antibiotic, namun penggunaan antibiotic dapat
memicu resistensi bakteri. Oleh karena itu diperlukan antibiotic
alami yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. typhi.

Carica pubescens Lenne & K. Koch merupakan tanaman dalam
family caricaceae yang tumbuh di daerah dataran tinggi di Indonesia
seperti di dataran Dieng Jawa tengah dan kawasan hutan R. Soeryo

2|Page

Cangar Jawa Timur. Daun Karika dilaporkan dapat digunakan
sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan malaria, beri-beri,
sariawan, sembelit, dan disentri amuba (Hidayat, 2000). Novalina
(2013) melaporkan bahwa fraksi etil asetat ekstrak daun karika
mampu menghambat pertumbuhan bakteri Shigella flexneri dan
Bacillus cereus.

Daun Karika ini memiliki kandungan alkaloid (carpain,
pseudocarpaine, dehydrocarpaine I dan II), flavonoid (kaemferol,
myricetin), dan fenol (ferulic acid, caffeic acid, chlorogenic acid).
Berdasarkan penelitian Anggrahini (2012) ekstrak daun Carica
mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli.

3|Page

DEMAM TIFOID

Morfologi Salmonella typhi

Salmonella merupakan bakteri gram negative, tidak berspora,
tidak mempunyai simpai, tanpa fimbria, dan mempunyai flagel,
kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum. Ukiran 1-
3,5 µm x 0,5-0,8 µm. salmonella tumbuh pada suasana aerob atau
anaerob fakultatif pada suhu 15-410 C dengan pH media 6-8.
Salmonella mempunyai gerak positif, dapat tumbuh dengan cepat
pada perbenihan biasa, tidak meragi laktosa, sukrosa, membentuk
asam, dan biasanya membentuk gas dari glukosa, maltose, manitol,
dan dekstrin. Dalam media Salmonella shigella, agar endo, dan agar
MacConkey koloni Salmonella berbentuk bulat, kecil, dan tidak
berwarna.

Salmonella typhi mempunyai antigen permukaan yang cukup
kompleks dan mempunyai peran penting dalam proses
pathogenesis, selain itu juga berperan penting dalam proses
terjadinya respon imun pada individu yang terinfeksi. Antigen
permukaan tersebut terdiri dari antigen flagel (antigen H) antigen
ini terdiri dari suatu protein yang dikode oleh gen flg yang berada
pada lokus fliC. Antigen somatic (antigem O tersusun dari LPS
(lipopolisakarida) yang berfungsi pula sebagai endotoksin.

4|Page

Pathogenesis Demam Tifoid

Salmonella typhi masuk kedalam tubuh melalui makanan atau
air yang terkontaminasi bakteri S. typhi. pH lambung yang rendah
merupakan mekanisme pertahanan untuk menghalangi bakteri
memasuki usus halus. Bakteri yang berhasil melewati asam lambung
memasuki usus halus dan melintasi sel epitel usus (CEI) memasuki
sel M dan menembus Peyer patch.

Bakteri akan mencapai antigen-presenting cells (APCs) yang
sebagian di fagosit dan di netralkan. Fagosit yang terinfeksi akan
membentuk lesi patologis yang melibatkan molekul adhesi seperti
ICAM1 (Inter-Cellular Adhesi molekul 1), VCAM-1 (Vascular Cell
adhesi molekul 1) dan Tmor Necrosis Factor (TNF) α, interleukin
(IL)-12, IL-18, IL-14, IL-15 dan interferon (IFN)γ. Kegagalan dalam
membentuk lesi patologis mengakibatkan pertumbuhan abnormal
dan penyebaran bakteri pada jaringan yang terinfeksi. Beberapa
bakteri mencapai dan berkembang folikel limfoid (Peyer patch) (Jain
& Kaur, 2012).

Di dalam usus halus, Salmonella typhi memasuki payer’s patch
pada bagian mukosa usus dengan cara menginvasi sel M (mikrofold)
yang diikuti terjadinya inflamasi dan fagositosis bakteri oleh
neutrofil dan makrofag serta memicu aktivitas sel T dan sel B. IFN γ
yang disekresikan sel T berperan dalam ketahanan terhadap
salmonella dengan mengendalikan replikasi Salmonella intraseluler
sedangkan interleukin-12/IL-12 berperan dalam meningkatkan
produksi IFN γ dan fakor sitokin proinflamasi yakni Tumor Necrosis
Factor α (TNFα) yang juga berperan dalam ketahan terhadap
salmonella. Pada salmonellosis sistemik, memiili sel inang spesifi
seperti sel dendritik dan makrofag untuk dapat menyebar ke sistem
limfatik dan sirkulasi darah menuju kelenjar getah bening atau
mesenteric lymph nodes (MLNs) kemudian menuju ke organ RES
seperti Limpa, sumsum tulang, hati dan kantung empedu (Jain &
Kur, 2012).

5|Page

Limfosit T dan B keluar dari nodul limfatik dan mencapai hati serta
limpa melalui sistem retikuloendotelial. Di dalam organ ini, bakteri
difagosit oleh makrofag namun salmonella dapat bertahan dan
berkembang biak dalam sel fagosit mononuklear. Bakteri kemudian
di lepaskan ke sistem peredaran darah dan terjadi fase bakteremia
yang ditandai dengan penyebaran bakteri (Jain & Kaur, 2012).
Faktor virulensi pada S. typhi adalah kapsul polisakarida yang
dikenal dengan antigen Vi (virulensi). Kapsul Vi diduga
berkontribusi dalam patogenesis penyakit ini dalam mengurangi
aktivasi kekebalan tubuh, membantu menghindari fagositosis, dan
menghambat aktivitas dari antibakteri (Raffatellu M, Chessa D,
Wilson RP, dkk., 2005;Hart PJ, O’Shaughnessy CM, Siggins MK, dkk.,
2016).

Masa inkubasi demam tifoid sekitar 10-14 hari. Penderita akan
mengalami demam (400 C), rasa tidak enak badan, sakit kepala,
konstipasi, bradycardia, dan myalgia. Demam meningkat ke masa
stabil, limpa dan giljal membesar. Ros spots biasanya ada di atas
kulit perut atau dada, kelihatan jelas dalam bebrapa kasus. Jumlah
sel darah putih normal atau rendah. Pada masa preantibiotik,
komplikasi utama dari demam enteric adalah pendarahan dan
perforasi. Pengobaatan dengan antibiotic telah menurunkan angka
kematian rata-rata hingga kurang dari 1%.

6|Page

Carica pubescens Lenne & K. Koch

Morfologi

Carica pubescens Lenne & K. Koch sering disebut sebagai
tanaman Karika. Karika memiliki genus yang sama dengan papaya
(Carica papaya) dan nampak memiliki kemiripan yang tinggi secara
morfologi. Berbeda dengan papaya tanaman ini tumbuh di tempat
dengan ketinggian 1400-2400 mdpl. Temperature rendah, dan
curah hujan tinggi.

Kata pubescens berarti rambut yang menunjukkan ciri khas
tanaman ini dibandingkan dengan C. papaya. Berdasarkan observasi
yang dilakukan oleh Laily (2012) pada tanaman karika yang tumbuh
di daerah Dieng Jawa tengah, ditemukan adanya bulu pada beberapa
organ diantaranya apada permukaan bawah daun, tangkai daun, dan
permukaan luar bunga jantan dan betina. Bulu ini lebih banyak
daripada yang terdapat pada C. papaya.

GAMBAR 1. Morfologi tanaman Carica pubescens Lenne & K. Koch

7|Page

Kandungan Kimia

Daun karika memiliki khasiat sebagai antibakteri yang dapat
digunakan untuk terapi penyakit diare. Senyawa fitokimia yang
terkandung didalam daunnya adalah flavonoid, alkaloid, tannin, dan
fenol (Novalina, 2013). Buah Karika mengandung vitamin C dan
memiliki aktivitas antioksidan karena mengandung flavonoid. Selain
itu buahnya juga mengandung karbohidrat total sebesar 5,58%,
serat kasar 0,3%, dan gula reduksi 0,74%. Kandungan karbohidrat,
serat kasar dan gula reduksi ini dapat berbeda dikarenakan tingkat
kematangan buah dan juga ketinggian tempat tumbuh.

8|Page

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI

Untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada bahan alam dapat
dilakukan dengan menggunakan metode difusi. Metode ini
dilakukan dengan cara menggunakan paper diks yang telah
direndam dengan ekstrak bahan alam atau dengan cara melubangi
media agar dan mengisinya dengan ekstrak bahan alam. Kedua cara
tersebut memungkinkan terjadinya difusi ekstrak pada media yang
akan ditumbuhi oleh mikroorganisme. Sehingga daerah tersebut
tidak akan ditumbuhi oleh mikroorganisme dan media akan tetap
jernih.

Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menguji
aktivitas antibakteri pada daun Carica pubescnes Lenne & K. Koch:

1. Menyiapkan ekstrak daun Carica pubescnes Lenne & K. Koch
Ekstrak daun Karika dibuat dengan cara merendam simplisia
daun dengan etanol p.a 96%. Perendaman dapat dilakukan
hingga 3 kali sampai seluruh kandungan kimia dalam ekstrak
dapat tertarik oleh pelarut. Selanjutnya pelarut diuapkan
menggunakan alat rotary evaporator untuk menghasilkan
ekstrak kental. Ekstrak ini merupakan ekstrak kasar yang
mengandung senyawa secara keseluruhan. Selanjutnya dapat
dilakukan pemisahan untuk mendapatkan ekstrak yang lebih

9|Page

murni yakni dengan cara fraksinasi menggunakan metode
ekstraksi cair-cair dengan menggunakan pelarut yang
dikendaki (pelarut polar, semi polar, atau non polar).

2. Pembuatan media pertumbuhan bakteri
Media yang digunakan untuk pengujian aktivitas bakteri
adalah media MHA (Mueller Hinton Agar). Media ini
merupakan media padat yang digunakan untuk proses
peremajaan bakteri juga untuk pengujian ekstrak daun Karika.

3. Pembuatan inoculum bakteri
Bakteri S. typhi yang akan digunakan untuk uji ditumbuhkan
terlebih dahulu pada media cari yaitu media NB. Satu ose
bakteri diambil dari biakan, selanjutnya ditumbuhkan pada
media NB dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370 C.

4. Pengujian aktivitas antibakteri
Pengujian aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan
menggunakan metode sumuran. Ekstrak atau fraksi yang telah
dipekatkan dimasukkan pada media MHA yang telah diberi
lubang. Ekstrak dapat divariasi konsentrasinya untuk
mnegetahui keefektifan ekstrak sebagai antibakteri.
Sebelumnya inoculum bakteri sebanyak 15 ml dimasukkan
pada media. Selanjutnya diinkubasi selama 24 jam jam pada
suhu 370 C. apabila terdapat aktivitas antibakteri maka akan
terbentuk zona hambat yang berwarna bening. Hal tersebut
menunjukkan bahwa daerah tersebut tidak ditumbuhi oleh
bakteri karena terdapat senyawa antibakteri yang berasal dari
ekstrak.

10 | P a g e

5. Pengamatan
Setelah 24 jam apabila terdapat aktivitas antibakteri maka
akan terbentuk zona hambat. Zona hambat ini diukur untuk
mengetahui seberapa besar efektivitas ekstrak bahan alam
dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Cara
pengukurannya adalah, diukur terlebih dahulu secara
keseluruhan diameter zona hambat. Kemudian diukur lubang
sumuran, selanjutnya diameter total zona hambat dikurangi
diameter lubang sumuran. Nilai tersebut merupakan luas zona
hambat yang terbentuk. Semakin luas, maka semakin efektif
ekstrak bahan alam dalam menghambat pertumbuhan bakteri.

GAMBAR 2. Pembuatan ekstrak daun Karika

11 | P a g e

AKTIVITAS ANTIBAKTERI PADA DAUN Carica
pubescnes Lenne & K. Koch

Daun Karika terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap
bakteri S. typhi. Ekstrak etanol daun Karika dan fraksi etil asestatnya
mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. typhi. Hasil penelitian
yang telah dilakukan dengan menggunakan fraksi etil asetat pada
konsentrasi 10%, 25%, 50%, 75%, dan 100% didapatkan zona
hambat sebesar 10,6 cm, 13,5 cm, 18,05 cm, 48,2 cm, dan 74,9 cm.
hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak
maka potensinya dalam menghambat pertubuhan S. typhi juga
semakin besar.

Ekstrak daun Karika memiliki potensi sebagai antibakteri
karena adanya kandungan senyawa fitokimia. Diantaranya adalah
kandungan alkaloid karpain yang merupakan senyawa khas yang
terdapat pada tanaman Caricaceae. Mekanisme alkaloid sebagai
antibakteri dengan cara mengganggu komponen penyususn dinding
sel bakteri yaitu peptidoglikan dan dapat menghambat kerja enzim
topoisomerase. Selain alkaloid juga ada tannin dan saponin. Tannin
dapat mengikat dinding sel bakteri dan memiliki aktivitas protease.
Saponin memiliki molekul yang dapat menarik lemak dan molekul
yang dapat menarik air sehingga dapat menurunkan tegangan
permukaan sel.

12 | P a g e

Terdapat juga flavonoid yang bekerja dengan cara
mengganggu sintesis asam nukleat, mengganggu fungsi membrane
sitoplasma, dan metabolism energy. Selain itu flavonoid juga
berperan dalam menghambat kerja DNA gyrase pada bakteri. Cincin
B pada flavonoid dapat membentuk ikatan hydrogen dengan asam
nukleat pada DNA gyrase sehingga dapat menghambat sintesis DNA
dan RNA.

(a) (b)
GAMBAR 3. Hasil uji aktivitas antibekteri (a) menggunakan ekstrak
konsentrasi 10%, 25%, 50%, 75%. (b) menggunakan ekstrak
konsentrasi 100%

13 | P a g e

MARI BERLATIH

Indikator keterampilan berpikir kritis
1. Mampu mendemonstrasikan berbagai
keahlian dalam mengevaluasi,
menganalisis, serta mensintesis
2. Menganalisisis informasi
3. Mengembangkan data untuk
mengembangkan wawasan kritis
4. Mensisntesis beberapa sudut pandang

14 | P a g e

Perhatikan fenomena berikut!

Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan
oleh infeksi bakteri patogen Salmonella enterica
khususnya Salmonella typhi. Penyakit ini bersifat
endemik di negara tropis termasuk Indonesi.
Penderitanya mencakup berbagai kalangan usia mulai
dari anak-anak hingga dewasa. WHO memperkirakan
70% kematian terjadi di Asia dan sekitar 17 juta orang
menderita pen ykit ini tiap tahunnya. Di indonesia,
penderita penyakit ini mencapai 800 penderita per
100.000 penduduk tiap tahunnya (Andayani & Fibriana,
2018).

Pengobatan demam tifoid biasanya menggunakan
antibiotik seperti kloramfenikol, ampisili, ciprolaxacin dll.
Pengobatan demam tifoid menggunakan antibiotik
tersebut saat ini telah dilaporkan mengalami resistensi
atau Multi-Drug Resistance (MDR) dan menyebabkan
terjadinya 150 ribu kematian di dunia (WHO, 2015).
Penggunaan antibiotik yang berlebihan juga beresiko
meningkatkan terjadinya efek samping sehingga perlu
dikembangkan antibiotik berbahan alam. Kunyit dan
temulawak merupakan tanaman obat khas Indonesia
yang biasa digunakan sebagai obat tradisional demam
tifoid di kalangan masyarakat. Tanaman tersebut dapat
digunakan sebagai obat tradisional demam tifoid karena
memiliki potensi sebagai antibakteri.

15 | P a g e

Merumuskan Masalah

Berdasarkan fenomena tersebut, analisislah permasalahan yang
terjadi dan buatlah rumusan masalah dari masalah tersebut!

1
……………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………...
2
……………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………....
3
……………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………..

Gunakan data, jurnal-jurnal penelitian, dan buku
referensi untuk membuat hipotesis serta menjawab

rumusan masalah yang telah anda kemukakan.
Diskusikan bersama teman agar mendapat
pengetahuan yang lebih luas

16 | P a g e

Buatlah rancangan percobaan untuk membuktikan hipotesis

Diskusikan bersama
teman ataupun
dosen untuk

memverifikasi hasil
penyelidikan anda

17 | P a g e

Kesimpulan

Buatlah kesimpulan dari apa yang telah anda pelajari, dan
buatlah gagasan untuk menyelesaikan permasalahan yang
telah anda temukan berdasarkan fenomena diatas!

1. ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

2. ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

3. ……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………

Selamat belajar

18 | P a g e

SOAL EVALUASI

1. Bagaimana mekanisme pathogenesis demam tifoid?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

2. Bagaimana mekanisme senyawa alkaloid dalam
menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

3. Jelaskan bagaimana cara mendapatkan ekstrak kasar
dari daun jambu biji!
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

19 | P a g e

PENGUASAAN MATERI

Bandingkan jawaban Anda dengan kunci jawaban yang tersedia
dibagian akhir modul, kemudian hitung presentase penguasaan
materi Anda menggunakan tabel dan rumus berikut.

 Bandingkan jawaban Anda dengan kunci jawaban
 Berikan skor pada jawaban Anda berdasarkan jawaban yang

ada pada kunci jawaban

 Perhatikan pedoman penilaian di bawah ini!

nomor soal skor maksimal

1 5
2 5
3 5
Skor total maksimal 15

 Penentuan nilai menggunakan perhitungan sebagai berikut,

Nilai persentase penguasaan materi =

Keterangan:
84%-100% = sangat menguasai
68%-83% = menguasai
52%- 67% = cukup menguasai
36%-51% = mulai menguasai
20%-35% = perlu dimaksimalkan
 Anda mendapatkan nilai >80% maka Anda telah menguasai
materi
 Apabila nilai Anda <80% maka Anda harus mempelajari materi
yang belum dipahami dan mengerjakan soal evaluasi kembali
hingga nilai Anda >80%

20 | P a g e

KUNCI JAWABAN

1. Mekanisme pathogenesis demam tifoid dimulai ketika bakteri
S. typhi masuk melalui makanan atau minuman yang telah
terkontaminasi S. typhi. Ketika mencapai usus halus, S. typhi
akan memasuki payer’s patch yang diikuti terjadinya inflamasi
dan fagositosis bakteri oleh neutrofil dan makrofag serta
memicu aktivitas sel T dan sel B. Pada salmonellosis sistemik,
memiili sel inang spesifi seperti sel dendritik dan makrofag
untuk dapat menyebar ke sistem limfatik dan sirkulasi darah
menuju kelenjar getah bening atau mesenteric lymph nodes
(MLNs) kemudian menuju ke organ RES seperti Limpa,
sumsum tulang, hati dan kantung empedu. Masa inkubasi
demam tifoid sekitar 10-14 hari. Penderita akan mengalami
demam (400 C), rasa tidak enak badan, sakit kepala, konstipasi,
bradycardia, dan myalgia.

2. Mekanisme alkaloid sebagai antibakteri dengan cara
mengganggu komponen penyususn dinding sel bakteri yaitu
peptidoglikan, sehingga dnding sel bakteri akan terganggu dan
senyawa alkaloid dapat masuk kedalam sel, selain itu alkaloid
dapat menghambat kerja enzim topoisomerase yang berperan
dalam proses replikasi.

3. Untuk mendapatkan ekstrak kasar dari daun jambu biji,
pertama harus disiapkan simplisia dari daun jambu biji.
Kemudian dilakukan maserasi dengan menggunakan alcohol
(etanol) untuk menarik senyawa aktif selanjutnya hasil
maserat dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator
untuk memisahkan pelarut dengan ekstrak. Hasilnya
didapatkan ekstrak kasar daun jambu biji.

21 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Alam, Anggraini. 2011. Pola Resistensi Salmonella Enterica Serotipe
typhi. Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSHS, Tahun 2006-
2010. Sari Pediatri, 12 (5): 296-301.

Cita,Yatnita Parama. 2011. Bakteri Salmonella typhi dan Demam
Tifoid. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 6 (1): 42-47

Darsana dkk. 2012. Potensi daun binahong (Anredera cordfolia
(Tenore) Steenis) dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Escherichia coli secara in vitro. Indonesia Medicus Veterinus,
1(3): 337-351.

Darmawati, S. 2009. Keanekaragaman Genetik Salmonella typhi.
Jurnal Kesehatan, 2(1): 27-33.

Davis, W.W. dan T.R. Stout. 1971. Disc Plate Methode of
Microbiological Antibiotic Assay. Microbiol. 22: 659-665.

Hendra, Rudi. 2011. Flavonoid analyses and antimicrobial activity of
various part of Phaleria macrocarpa Boerl fruit.
International Journal of Molecular science, 945, 1-24

Hidayat, S. 2000. Prospek papaya gunung (carica pubescens) dari
sikunang, pegunungan Dieng, Wonosobo. Bogor: UPT Balai
Pengembangan Kebun raya-LIPI.

Laily, ainun nikmati, Suranto, dan sugiyarto. 2012. Characterization
of Carica pubescens in dieng plateu central java based on
Morgphological character antioxidant capacity and protein
banding pattern. Bioscience, 4 (1): 16-21.

22 | P a g e

Minarno, Eko Budi. 2015. Skrining fitokimia dan kandungan total
flavonoid pada Buah Carica pubescens Lenne & K. Koch di
kawasan Bromo, cangar, dan dataran Tinggi dieng. El hayah
vol. 5 (2): 73-83.

Novalina, Dhiah, Sugiyarto, dan Ani Susilowati. 2013. Aktivitas
antibakteri ekstrak daun Carica pubescens dari dataran
tinggi dieng terhadap bekteri penyebab diare. El-Vivo, 1 (1):
1-12

Tiwari, Prashant dkk. 2011. Phytochemical screening and
Extraction: A review. Internatonal Pharmaceutica sciencia,
1 (1): 98-106.

Ugboko, Harriet dan Nandita De. 2014. Mechanisms of Antibiotic
Resistance in Salmonella typhi. International Journal of
Current Microbiology and Aplied sciences, 3 (12): 461-476.

Waluyo, Lud. 2010. Teknik metode dasar mikrobiologi. Malang:
Universitas Muhammmadiyah

Widodo. 2015. Analisis penghambatan aktivitas mortalin dengan
senyawa herbal Indonesia untuk skrening anti kanker
melalui in silico. Seminar nasional konservasi dan
pemanfaatan sumber daya Alam. Jutusan Biologi fakultas
MIPA Universitas Brawijaya

23 | P a g e


Click to View FlipBook Version