Nulis Saksenengku oleh : IDA HARWATI (anggota DWP SMAN 1 Wates)
Perkenalkan, namaku Ida Harwati, seorang guru yang mengajar bahasa Jerman sejak 1998. Aku lahir di Malang, 17 September 1972. Aku pertama mengajar di SMAN 3 Palangkaraya Kalimantan Tengah. Karena mengikuti tugas suami, akhirnya aku mutasi ke SMAN 1 Wates; sebuah SMA yang sangat luar biasa bagiku: suasana di dalam sekolah, hubungan kekerabatan dengan sesama warga sekolah, siswa siswinya dan banyak hal yang membuatku betah dan senang mengajar di sini. Hobi dan kesenanganku adalah bernyanyi dan menulis. Tentang Penulis :
Berikutini adalah tulisan-tulisan sak senengku
YA ALLOH.. AKU TIDAK MAU JADI GURU YANG TIDAK TAHU MALU Tulisan ini berawal dari beberapa peristiwa yang seringkali berkecamuk di pikiran dan perasaanku. Sendiri kusimpan, kupikirkan, dan kujadikan jalan instropeksi diri. Peristiwa saat bertugas sebagai pengawas ulangan akhir semester. Hari itu hari keempat ulangan. Sejak awal membagikan soal hingga keliling untuk memberikan daftar hadir dan menulis berita acara, kulihat anak-anak penuh dengan kecemasan dan gelisah dalam mengerjakan soal. Mereka mengerjakan soal dengan tidak tenang. Raut muka mereka terasa “nglumpuk” , seakan-akan ada rasa benci, marah, malas bahkan geregetan. Keadaan ini sepertinya pernah beberapa kali aku alami, sama..saat mengawas ulangan akhir semester.Selesai mengumpulkan LJK, anak-anak tidak juga segera beranjak sampai aku selesai mengurutkan kertas-kertas itu. Sebelum aku beranjak dari kursiku, kutanya mereka: “Kenapa?” “Kalian nampak sedih.. Soal ulangannya sulit? Atau..tidak belajarkah kalian semalam?”
Nampak dua siswi matanya berkaca-kaca, beberapa siswa menggeleng, beberapa lainnya menarik nafas panjang. “Kami tidak bisa mengerjakan sama sekali, Buu.. Bisa mengerjakan hanya lima soal, itupun entah benar entah salah” , kata seorang siswa yang duduk di baris tengah. “Lha wong Bapak gurunya tidak pernah menjelaskan seperti soal-soal tadi, Buu..” ,seorang siswa yang lain menimpali. “Selama satu semester Beliau hanya masuk 3x, itupun hanya mencatat. Kalo kami menjemput ke ruang guru, Beliau selalu sibuk, Bu”. Saat itu aku hanya menenangkan mereka dan berkata “ Ya sudah, Kalian tahu kan bahwa sumber belajar tidak dari Bapak atau Ibu guru saja. Ada internet untuk browsing, ada buku di perpustakaan, buku penunjang yang bisa kalian peroleh dari toko-toko buku.. Dari itu semua kalian kan bisa belajar.” Seorang siswa tinggi besar berdiri dan berkata, ”Ya tidak bisa begitu dong, Bu! Tanggung jawab guru kepada kami bagaimana?”
Mereka benar juga. Mereka sudah dewasa, anak SMA. Mereka sudah pintar dalam menilai segalanya. “Owh..kalo begitu, Kalian matur saja ke BK atau wali kelas. Insya Allah akan ada solusi” , jawabku. Aku yakin, jawabanku belum memuaskan hati anak-anak ini, aku bisa merasakannya. Kasihan mereka... Selama perjalanan dari kelas ke ruang guru yang dijadikan sebagai tempat sekretariat ulangan akhir semester, pikiranku masih terpatut pada keluhan anak-anak tadi. Belum selesai aku meletakkan mapku di meja panitia, dua orang siswa masuk ruang dan menyapa beberapa panitia dan guru yang ada di ruangan, ”Assalamu’alaikum...!” “Permisi Pak, Bu.. Apakah Bapak Sutejo ada?” “Tidak ada, Nduk” , jawab salah satu panitia.
“Wuaduh!!” , kata mereka hampir bersamaan. “Kok wuaduh, ada apa?? Beliau hari ini memang tidak hadir karena tidak ada jadwal mengawas ulangan.” “Besok kan jadwal ulangannya PPKn, tapi buku tugas dan catatan kami yang dikumpulkan ke Pak Sutejo belum dikembalikan. Kan nanti untuk belajar.” “Hhmm..coba saja Kalian cari di meja Beliau. Itu mejanya” , kata seorang guru. Kedua anak itu bergegas mencari buku-buku mereka. Beberapa saat kemudian mereka menghadapku dan berkata, ”Bu, kami bingung. Buku-buku di meja tersebut banyak sekali dan bercampur dengan buku-buku kelas lain”. Batinku mendesah, “Hhuuff...astaghfirullahal’adzim” dan kemudian berkata, “ Sudah..cari saja, nanti kalo sudah selesai dirapikan, ya!” “Naah...ini punya Dea dan Andre!” kata salah satu dari mereka. “Dea dapat nilai berapa?” tanya satunya lagi. “Woalaaah...belum dikoreksi!” Wajah mereka nampak kecewa dan terus mencari buku-buku yang mereka maksud.
“Kejadian lain kualami ketika aku masih belum masuk kelas alias jam kosong. Kugunakan waktuku untuk mengoreksi tugas siswa, menyiapkan materi untuk nanti di dalam kelas yang sudah kurancang sejak semalam sambil sesekali melihat pesan di HP yang setiap saat berbunyi “cuit cuit”. Dua siswi masuk ruang guru dan memberi salam padaku serta bertanya,”Permisi, Bu Tika.. Pak Salim ada?” “Iya, ada. Hhmm..kemana ya Beliau?” aku menjawab dan bertanya sambil melihat sekeliling ruang guru. “Pak Salim tadi ada kok. Kalian waktunya belajar dengan Beliau?” tanyaku. Secara bersamaan mereka mengangguk. “Begini saja, Kalian tunggu dikelas saja ya, tolong jangan ramai!! Nanti sebentar lagi insya Allah Pak Salim ngajar ke kelas.” 20 menit sudah berlalu. Dari arah belakang terdegar suara menyapaku,”Bu Tika kosong?”
“Naah..ini suara Pak Salim, pikirku sambil menengok ke belakang. “Inggih, Pak..kosong tiga jam. Eh, Pak..tadi Panjenengan dicari siswa kelas XI. Mipa 3”. “Ini baru selesai sholah Dhuha, Bu.. setelah ini saya ke kelas mereka”, jawab Pak salim sambil memakai kaos kaki. Aku terdiam, berpikir..”kok begitu, ya?” Perasaan dan pikiranku saling bertanya jawab. Pak Salim orang yang baik, alim, rajin puasa, selalu menjalankan perintah Alloh, baik yang sunah apalagi yang wajib. Tapi kok begitu? Bukankah mengajar suatu kewajiban sedangkan sholat Dhuha adalah sunah? Mana yang harus diprioritaskan? Tapi..bukankah bekerja juga merupakan ibadah? Hhmm..tapi mengajar yang katanya ibadah kan hanya mengahadapi siswa, sedangkan sholat Dhuha kan ibadah yang meskipun sunah tapi menghadap Alloh Sang Penguasa tunggal di alam ini? Tapi tetep saja mengajar adalah ibadah! “Ach..mbuhlah!! Kenapa aku harus mikir?” kata hatiku yang terus saja bertanya jawab meski tanya jawab itu tetep tidak bisa menemukan kepastian jawaban.
““Cuit, cuit,” HP ku berbunyi. Ada pesan di grup WA sekolah. Kepala sekolah menulis: Mengingatkan, akreditasi sudah diambang pintu. Mohon Bapak dan Ibu yang kemarin sudah ditunjuk segera melaksanakan tugasnya. Jangan lupa pula, perangkat mengajar Bapak Ibu semua harus juga diselesaikan.Terima kasih. Keesokan harinya hampir semua guru membahas WA tentang kiriman pesan kepala sekolah. Teman sebelahku bertanya, “Perangkat mengajar Panjenengan sudah selesai, Bu Tika? Saya mau pinjam”. “Alhamdulillah, sudah..tapi mapel kita kan tidak sama?” jawabku asal saja. “Pinjam promes dan protanya tok!”, katanya lagi. Kuberikan Flashdiskku dan berkata “Cari saja di file Perangkat Mengajar!”
“Oke, thanks”, jawabnya ringan saja. Kulihat beberapa yang lain masih utak utik di depan laptop. Beberapa lainnya ada yang masih ngobrol, merokok bahkan sarapan pagi. “Bapak, Ibu..beberapa kelas kosong, ramai lho... Monggo, yang ada jam mohon kelasnya segera dimasuki!”. Berkali-kali Ibu piket berteriak seperti itu. Aku merasa tidak enak, tapi mau apa lagi..lha wong aku kosong jam. “Heleeh..mbok ben! Biar saja, cerewet!! Lha wong kata bapak kepala sekolah perangkatnya harus segera diselesaikan”, kata salah satu teman sambil memandangku. Aku memandangnya sambil tersenyum kecut dan mbatin,” Ya Alloh..ibu piket itu kan sudah benar, mengingatkan kita untuk masuk kelas . “Astaghfirullahal’adzim...”, desahku. Batinku berkecamuk. Bekerja adalah ibadah, bekerja adalah amanah. Ampuni aku ya Robb..jika diriku kurang baik dalam menjalankan amanahMu.
Pikiranku ikut menyahut, “Kalo begini terus, mau dibawa ke mana negeri ini? Bisa-bisa negara ini hancur. Kejayaan dan masa depan negeri ini bergantung pada generasi sekarang. Bagaimana jika generasi yang seharusnya bisa baik atau bisa sangat baik diajar oleh guru-guru yang seperti ini? Memang tidak semua temanku guru begitu sih..tapi banyak juga yang hanya sekedarnya mengajar. Ya Alloh, termasuk dirikukah atau...Astaghfirullahal’adzim... Benar—benar tidak tahu malu!! Benar-benar tidak tahu terima kasih!! “Fabbiayi alaa irobbikuma tukadziban - Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?” tanya QS. Ar Rahman yang tiba-tiba terlintas di pikiranku, yang ternyata kalimat itu oleh Alloh ditanyakan berulang-ulang sebanyak 31x... Astaghfirullahal’adzim..., akupun tidak akan rela jika anak-anakku diajar oleh guru-guru seperti ini. Ya Alloh, aku tidak mau menjadi guru yang tidak tahu malu!!
Setelah kupikir-pikir, kuingat-ingat banyaknya kejadian, beberapa deret tindakan yang memalukan bagi guru dan sering dilakukan oleh guru adalah: 1.Tidak membuat Program Semester dan Program Tahunan Tidak membuat persiapan mengajar (apapun istilahnya untuk “Persiapan Mengajar” itu) 2. 3.Tidak memberikan Pekerjaan Rumah (PR) 4.Tidak mengoreksi dan membahas PR meskipun memberikan PR Tidak membuat sedian soal untuk ulangan harian beserta kunci jawabannya 5. 6.Tidak menyelenggarakan ulangan secara teratur Tidak menggunakan pedoman yang dapat dipertanggungjawabkan dalam mengoreksi dan menentukan nilai ulangan 7. 8.Tidak menganalisis hasil ulangan 9.Tidak mengadakan perbaikan dan pengayaan
10. Tidak mempunyai daftar kumpulan nilai harian sehingga nilai untuk raport ditentukan secara awuran 11. Tidak mau tahu terhadap kurikulum 12.Tidak mau berkonsultasi dengan teman sejawat ketika mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu bahan ajar sehingga konsep-konsep ilmu yang diajarkan dengan pengawuran 13. Tidak berupaya menguasai bahan ajar 14. Tidak membaca (tidak belajar) untuk menimba pengetahuan yang lebih tinggi di atas bahan ajar 15. Tidak peduli meskipun bahan ajar tidak tuntas tersajikan 16.Tidak serius memperhatikan siswa pada waktu pembelajaran berlangsung karena banyak waktu yang digunakan untuk mengurus rokok atau HP yang dinikmatinya
17. Tidak melakukan kunjungan terhadap orang tua siswa meskipun ada persoalan siswa yang pemecahannya memerlukan kerja sama dengan orang tua siswa 18. Tidak peduli (acuh tak acuh) meskipun kehadirannya di sekolah kedahuluan kepala sekolah dan bahkan pengawas sekolah 19. Tidak bosan-bosan untuk berkali-kali berkata, ”Saya ya seperti ini. Akan dimutasi, silakan. Tunjangan profesi akan dicabut, silakan. Akan dipensiun dini, silakan.” Dan kerjanya terus menerus seenaknya. 20. Hampir selalu terlambat datang ke sekolah 21 Sering tidak masuk hanya karena hal-hal yang tak layak dijadikan alasan, seperti: ikut rombongan pengantar pengantin 22. Tetap mengobrol di kantor guru, merokok, makan meskipun sudah waktunya masuk ke dalam ruang kelas (mengajar)
23. Membuat surat keterangan palsu untuk melengkapi portofolio dalam mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan 24. Membeli karya tulis untuk kepentingan sertifikasi guru dalam jabatan ataupun untuk mengurus kenaikan pangkat. Ternyata begitu banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan guru agar tidak disebut “guru yang tidak tahu malu”. Betapa besar gaji dan penghasilan yang guru sudah terima sekarang ini: gaji pokok, tunjangan anak istri, uang mamin dan sertifikasi yang seharusnya agar penghasilan tersebut barokah maka guru harus melaksanakan kewajibannya dengan baik, dengan penuh tanggung jawab, dengan amanah. Seorang guru yang pada umumnya disebut sebagai orang yang bisa “digugu dan ditiru” sudah seharusnya menjadi tauladan bagi orang disekelilingnya, terutama anak didik. Dalam hati aku bertekad: harus terus belajar, harus terus amanah harus terus memperbaiki diri. Ya Alloh..bekerja adalah ibadah. Engkau melihatku, Engkau mengawasiku, Engkau mendengarkanku dan hanya Engkaulah yang bisa menolongku..
s e l e s a i