dalam jalan panggilan di antara daan pendapat, cara pandang, dan
teman-teman sekomunitas men- lain sebagainya. Namun, melalui
jadi kekuatan yang meneguh- aneka macam proses pembi-
kan perjalanan panggilan saya. naan yang ada, saya semakin me-
Satu dengan yang lainnya saling rasakan cinta Tuhan dalam hid-
melengkapi, baik dengan sega- up saya. Tuhan membentuk pri-
la kelebihan dan kekurangannya. badi dan hidup beriman saya se-
Selama masa pendidikan makin bertumbuh secara utuh.
di Seminari Tinggi St. Yohanes Inilah yang membentuk jati diri
Paulus II-KAJ, saya belajar hid- saya sebagai manusia beriman,
up berkomunitas bersama den- yaitu saya adalah pribadi yang di-
gan anggota komunitas yang lain. kasihi Tuhan, Imam Diosesan KAJ,
Dalam hidup berkomunitas, ter- dan Imam yang baik dan murah hati.
kadang kita mengalami perbe-
Imamat: Gembala Baik dan
Murah Hati
Sepanjang perjalanan for-
49
matio yang saya jalani, aneka ma- mangat murah hati seturut de-
cam nilai dan keutamaan hidup ngan sabda Yesus: “Hendaklah
yang saya hidupi dan perjuangkan. kamu murah hati seperti Bapa
Dasar dari nilai dan keutamaan murah hati” (Luk. 6:36) dan se-
imamat yang saya hidupi adalah tiap kali Yesus melihat pende-
relasi yang semakin dekat den- ritaan, dikatakan “tergeraklah
gan Tuhan yang memanggil saya. hati-Nya oleh belas kasihan”.
Hal ini semakin menegaskan jati Selain semangat gem-
diri saya sebagai pribadi yang di- bala baik dan murah hati, nilai
kasihi Tuhan. Karenanya, saya se- dan keutamaan hidup imamat
makin menyadari akan kehadiran yang saya juga hidupi adalah hi-
dan cinta Tuhan dalam hidup saya. dup yang semakin Ekaristis, arti-
Salah satu nilai dan keutamaan nya hidup yang diambil, diberkati,
hidup imamat yang saya hidupi dipecah-pecahkan, dan dibagikan.
adalah gembala baik dan murah Pertama-tama saya menyadari
hati. Spiritualitas gembala baik bahwa saya adalah pribadi yang
dan murah hati yang membingkai dikehendaki oleh Allah, istime-
seluruh pelayanan yang saya hi- wa di mata Allah, dan ada di da-
dupi. Sebagaimana yang diteladan- lam hati Allah. Kemudian hidup
kan Yesus Sang Gembala Baikyang yang diberkati mengandaikan
“mengenal dan dikenal oleh dom- hidup yang saling meneguhkan
ba-domba-Nya, serta memberikan bahwa Allah mengasihi setiap
hidup bagi domba-domba-Nya” makhluk ciptaan-Nya. Salah satu
(Yoh. 10:14-15), sehingga mere- cara yang saya lakukan adalah
ka menjadi satu. Sedangkan se- mengembangkan hidup doa dan
terus menerus menyadari akan
adanya berkat yang senantiasa
datang hari demi hari. Selanjut-
nya, hidup yang dipecah-pecah-
kan menjadi kesempatan bagi
saya untuk menjadi pribadi yang
semakin utuh dan dewasa. Dalam
bingkai yang positif, hidup yang
dipecah-pecahkan menjadi ke-
sempatan saya untuk memurnikan
diri dan menjadi undangan untuk
mengasihi Allah yang mencintai
saya tanpa syarat. Akhirnya, hi-
dup yang dibagikan menjadi se-
mangat dan sumber pemberian
50
diri. Wujud pemberian diri yang baik dan murah hati di tengah tu-
dimaksud adalah kegembiraan, gas perutusan dan dinamika hidup
damai, keheningan, dan suka- umat beriman. Dengan demikian,
cita. Hidup yang semakin ekaristis saya dan umat yang dipercayakan
inilah yang menjadi pegangan dan kepada saya senantiasa terarah
bekal yang saya hidupi untuk me- dan menuju kepada kekudusan
layani dan hidup di tengah umat dan kesempurnaan cinta kasih.
yang dipercayakan kepada saya. Nilai dan keutamaan hi-
Selangkah demi selang- dup imamat yang saya hidu-
kah saya meyakini akan penyer- pi dibalut dalam moto tahbisan
taan Tuhan dalam hidup saya. imam, “Sungguh, Aku datang un-
Tidak selalu mudah, aneka ke- tuk melakukan kehendak-Mu” (Ibr.
sulitan dan tantangan pun saya 10:9). Sebagaimana Yesus Kristus
alami, tetapi yakin dan percaya yang datang melakukan kehen-
cinta dan penyelenggaraan Tu- dak Allah dengan mempersem-
han dalam hidup saya lebih besar bahkan kurban sempurna, yak-
dari segalanya. Kendati saya tak ni diri-Nya sendiri dan menjadi
luput dari kerapuhan dan kele- jembatan antara relasi Allah dan
mahan, tetapi saya yakin Tuhan manusia. Dengan demikian, saya
yang melengkapi dan menyem- mengimani bahwa Tuhan mencin-
purnakan-Nya. Dalam rasa syukur tai dan memanggil saya melalui
dan sukacita sebagai Imam Keus- jalan imamat ini untuk datang
kupan Agung Jakarta, saya ber- melakukan kehendak-Nya, khu-
harap dapat menjadi Imam yang susnya melalui imamat yang saya
hidupi sebagai pengantara antara
Allah dan manusia dengan sema-
ngat gembala baik dan murah hati.
51
Nama Lengkap : Benardus Teguh Raharjo
Nama Panggilan : Teguh
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 26 April 1983
Nama Ayah : Stefanus Muklis Supari
Nama Ibu : Anna Rochatin
Anak Ke/Dari : Keempat (4) dari lima (5) Bersaudara
Asal Paroki : Gereja St. Rasul Barnabas, Pamulang
Tahbisan Diakonat : Biara Hati Kudus, Pineleng, 15 Juli 2020
Moto Tahbisan Pribadi : Aku menyertai kamu senantiasa sampai ke
pada akhir zaman (Mat. 28: 20)
1988 – 1989 : TK Pangudi Luhur, Cilandak, Jakarta
1989 – 1995 : SD Pangudi Luhur, Cilandak, Jakarta
1995 – 1998 : SMP Pangudi Luhur, Cilandak, Jakarta
1998 – 2001 : SMA Pangudi Luhur Jl. Brawijaya IV, Jakarta
2001 – 2009 : ABFI Perbanas, Kuningan Setiabudi, Jakarta
2012 – 2016 : S1 Teologi di STF Seminari Pineleng, Sulawesi Utara
2016 - 2018 : Store manager di CV Sembilan Gaya Utama
2018 – 2020 : S2 Teologi di STF Seminari Pineleng, Sulawesi Utara
2014 - 2016
Tahun Katekese di SMP Pax Christi, Manado
2015 - 2016
Tahun Week-End Pastoral: Stasi St. Paulus, Tinoor, Tomohon
2017 – 2018
Tahun Orientasi Pastoral di Gereja Kristus Raja, Tugumulyo Ogan Ko-
mering Ilir, Sumatera Selatan
2018 - 2019
Week-End Tahun Mayor: Paroki Ratu Rosario Suci, Tuminting, Manado
2020 – 2021
Masa Diakonat di Paroki St. Agustinus dan St. Matias, Darit Kalimantan
Barat
Refleksi tentang Menangga- Hingga suatu waktu, ketika mengi-
pi Panggilan Tuhan kuti misa, saya melihat imam me-
rentangkan tangan dengan kasu-
“Enak banget ya jadi pas- la yang terbentang. Entah men-
tor, hidup tenang di pastoran.., gapa, saya merasa begitu takjub.
mau pelayanan ada yang jemput,” Bayangan itu begitu membekas
ujar saya dalam hati kala men- dalam diri. Hati saya kembali ter-
jemput pastor untuk memimpin gugah untuk menjadi seorang
misa di SMA PL. Menjelang lulus imam.
dari SMA, saya mulai bermenung. Banyaknya waktu luang,
“Kalau kerja kantoran, pergi dan membuat orang tua tidak hanya
pulang kerja kena macet, mau aktif di lingkungan namun juga
naik jabatan harus saling me- aktif mengikuti berbagai kelompok
nyikut”. Penat dan pusing diri rohani di luar lingkungan seperti:
saya membayangkan itu. Kalau Komunitas Tritunggal Mahakudus,
jadi pastor itu enak. Hidupnya Kelompok Pelayanan Doa St. Ste-
tenang. Akhirnya sebelum lulus fanus, Kursus Evangelisasi Priba-
SMA, saya buat keputusan. “Pa.., di. Di sela-sela penyelesaian tugas
Teguh mau jadi pastor”, ujar saya. akhir dan kerja sambilan, saya se-
Bapa dan mama pada waktu itu ring kali turut serta mengikuti ke-
tidak setuju. “Kamu aneh-aneh giatan rohani itu. Beberapa kali,
saja.” Mereka ingin saya laksanakan terjadi pengalaman rohani disapa
3 K (Kuliah-Kerja-Kawin). Hal itu Tuhan secara pribadi. Saya mulai
tentu wajar, sebagai anak laki- rasakan terjadi perubahan. Saya
laki, saya ini diharapkan orang tua semakin merasa yakin akan pang-
menjadi tulang punggung kelu- gilan hidup sebagai imam. Orang
arga. Tanpa izin dan restu dari tua saya pun semakin terbuka
orang tua, akhirnya saya mengalah. hati dan budinya akan panggilan
Karena asyik dengan dunia kuliah, hidup ini. Suatu waktu saya bera-
“benih panggilan” itu sempat mati.
55
nikan diri berkata kepada orang Puji Tuhan, akhirnya saya lulus
tua “Pa, ma, Teguh mau dipang- kuliah, sempat kerja dan dapat jal-
gil Tuhan,” ujarku. “Ya ampun Guh, ani 3K (Kuliah-Kerja-Kaul).
kalau kamu memang mau dipang-
gil Tuhan ya sudah ndak apa-apa,” Refleksi tentang Menjalani
ujar ayah dan ibu. Mereka pun dan Menghidupi Panggilan
akhirnya mengikhlaskan saya.
Pada masa itu, saya sering Bulan Agustus tahun 2009,
bimbingan dengan RP. Aloysius saya menjalani pembinaan di
Tamnge MSC sebagai pastor ma- Seminari Agustinianum Tomohon.
hasiswa PMKAJ Unit Tengah. Hidup bersama di satu asrama
“Romo, saya tidak masalah ha- dengan 31 kawan yang sebagian
rus berhenti kuliah. Saya siap se- besar baru lulus SMA. Saya terpilih
karang langsung masuk menjadi sebagai Dekan––ketua kelas. Da-
pastor.” “Teguh, kamu tuntaskan lam benak saya, ini akan berjalan
dulu kewajiban, tanggung jawab mudah. Kami semua ingin menjadi
kamu ke orang tua. Selesaikan imam, sehingga bisa hidup sesuai
kuliah, baru kamu masuk, agar aturan. Nyatanya tidak. Tiga bulan
tidak jadi hambatan,” kata romo. awal saya bergumul hebat. Muncul
keinginan untuk pulang ke Jakar-
56
ta. Pada suatu kesempatan, saya selama 30 hari. saya harus men-
bermenung di pinggir kolam ikan. jalani silentium total (tidak ber-
“Ikan hidupmu enak sekali, kamu bicara dengan orang lain). Da-
berenang bebas, gak perlu pu- lam keheningan, kesempatan
sing dengan tingkah laku teman- yang ada dipakai berkomunikasi
teman”. Saya terdiam sejenak. dengan Tuhan. Sementara
“Masa gitu aja, kamu sudah ka- teman-teman lain sudah mu-
lah-menyerah. Kamu sudah ting-
galkan keluarga-pekerjaan-pacar.”
Lalu saya lihat patung Bunda Ma-
ria yang ada di bagian atas kolam
ikan. “Oh.., Bunda bantulah aku”.
Masa Postulat di Pineleng.
Pembinaan lebih berpusat pada di-
mensi kemanusiaan. Sebagai prib-
adi, saya merasa diri baik-baik saja.
Saya tidak memiliki luka dalam diri.
Ternyatanya tidak! Ternyata saya
pribadi yang memiliki luka batin.
“Mengapa kamu begitu tegang,
merasa takut salah, kurang per-
caya diri? Kamu hidup seper-
ti otot kawat tulang besi. Rileks,
tenang”, ujar seorang pembina.
Masa Novisiat di Karang-
anyar, Kebumen, dimensi kero-
hanian. Saat proses Retret Agung
57
lai “menyelami” dunia batin, saya layanan nanti, saya dapat me-
masih “mengambang”. “Teguh.., layani umat dengan baik.
kalau kamu tidak bisa masuk, kamu Tuhan tetap menyertai saya
harus mundur.” Saya kaget. melalui pendampingan para Pem-
“Tuhan.., bila Engkau memang me- bina, dukungan teman-teman,
manggilku, tuntun dan dampingi keluarga dan kenalan.
aku”.
Masa skolastikat, pembi- Refleksi tentang Nilai-nilai
naan intelektual. Tidak mudah bagi untuk Pelayanan
saya harus kembali duduk, mem-
baca berbagai buku, membuat “Frater.., maaf tempat ti-
karya tulis ilmiah. Ada saat ketika durnya seperti ini saja.” “Frat-
rasa lelah, tak bersemangat. “Ya, er.., silahkan makan ya. Maaf lauk
Tuhan ternyata saya harus menjal- dan sayurnya hanya itu saja.”
ani masa ini. Ndak bisa langsung “Frater.., jalannya jahat (ru-
melayani umat saja ya?” Ini semua sak) ke stasi kami. Hati-hati ya.”
harus saya lalui agar dalam pe- “Frater.., di rumah ini tidak ada si-
58
nyal. Harus pergi ke bukit dulu.” saya bersemangat? Tidak. Tentu
Itulah ungkapan umat di daerah. ada rasa malas, lelah, penat. Keti-
Seringkali mereka merasa malu, dakhadiran saya tentu akan mem-
tidak nyaman, bilamana pelayan buat umat kecewa. Harapan me-
pastoral harus mengalami situasi reka untuk mendapat siraman dan
demikian. Saya datang untuk me-
layani bukan untuk mencari ke-
mewahan atau kenyamanan. Saya
ingat nasihat dari Pembina,
“Jangan banyak mengeluh, kamu
datang, tinggal, rasakan dan nik-
mati apa yang ada.” Dalam keluarga
pun, orang tua kerap kali menasi-
hati untuk hidup prihatin. “Orang
tua kamu bukan orang kaya Guh,
kamu belajar untuk hidup prihatin
ya.” Yesus sewaktu hidup di dunia
inipun hadir dalam kesederhanaan.
“Frater.., saya kira tidak akan
datang, karena hujan”, ujar umat
di salah satu stasi. “Biar hujan, saya
pasti datang, kan sudah dijadwal-
kan.” jawab saya. Dalam kondisi
hujan, bukankah lebih enak reba-
han di kamar? Apakah setiap kali
59
santapan rohani tidak terwujud. marah, tulus atau hanya berpu-
Secara jasmani, jamuan yang me- ra-pura? Tak perlu heran bila ada
reka siapkan khusus untuk pelayan umat yang bilang “Pastor yang ini
pastoral, terpaksa akan mereka baik, ramah, sabar; Pastor yang itu
santap sendiri. Yesus tidak pernah kasar, jahat, cuek.” Betapa baha-
mengikuti perasaan lelah, malas gianya bila umat merasakan ke-
dalam pelayanan-Nya. Selama baikan hati sang gembala. “Pastor,
kondisi tubuh masih sehat, tetap- nanti datang lagi ya.” Saya telah
lah setia hadir melayani umat. merasakan kasih kebaikan Hati Ku-
“Bila kamu pelayanan, dus Yesus, untuk itu saya pun perlu
layanilah umat dengan hati ”, ujar mewartakan kasih, kebaikan Hati
Pembina. Umat dapat merasakan Kudus Yesus kepada setiap orang
pelayanan yang dibuat gembala- yang saya temui. Sebagai Mision-
nya. Apakah ia penuh perhatian, aris Hati Kudus Yesus, saya sadari
tidak peduli, sungguh senang, bahwa pancaran kebaikan hati
60
pribadi bersumber dari Hati Ku- masih ada luka ini perlu untuk diu-
dus Yesus. Kerap kali saya berdoa, bah, dijadikan serupa dengan Hati
“Yesus yang lemah lembut dan Yesus.
rendah hati, jadikanlah hatiku se-
perti Hati-Mu”. Hati saya yang
61
halaman 62