i MUSEUM WAYANG DKI JAKARTA LAPORAN PENENLITIAN SOSIOLOGI Makalah ini dibuat guna memenuhi nilai tugas Sosiologi Nama Andreas Eka Setyawan SMA SANTO LEO III CIKARANG TAHUN PELAJARAN 2022/2023
ii KATA PENGANTAR Pertama-tama kita panjatkan puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmat dan hidayah. Kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah tepat waktu. Ada pun judul dari laporan ini adalah “Museum Wayang DKI Jakarta”. Laporan ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas Sosiologi dari ibu Indah dan diharapkan dapat menambah wawasan penulis serta pembaca . Penulis sadar walau sudah diupayakan semaksimal mungkin untuk mengakomodasi semua harapan pembaca makalah ini, semuanya itu masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, semua kritik. saran, dan tanggapan semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Demikian yang kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu dalam dunia pendidikan. Cikarang, 27 Maret 2023
iii DAFTAR ISI SAMPUL MAKALAH ..................................................................................... i KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii DAFTAR ISI ..................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 A. Latar Belakang ..................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2 C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3 1. Lokasi Museum ...................................................................................... 3 2. Sejarah Museum ..................................................................................... 4 3. Koleksi Benda ..................................................................................... 5 BAB III PENUTUP ..................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... `14
1 BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Museum Wayang Jakarta adalah salah satu museum penting di Indonesia yang menyimpan dan memamerkan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia. Museum ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan saksi bisu dari perkembangan seni wayang di Indonesia. Namun, Museum Wayang Jakarta mengalami beberapa masalah, antara lain kondisi bangunan yang tidak terawat, kurangnya perhatian dari pemerintah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, makalah tentang Museum Wayang Jakarta bisa menjadi sarana untuk mengenalkan museum ini kepada masyarakat luas dan menyoroti masalahmasalah yang dialaminya. Makalah tersebut dapat membahas tentang sejarah museum ini, koleksi-koleksi yang dimilikinya, peran museum dalam melestarikan seni wayang, serta berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi oleh Museum Wayang Jakarta, termasuk langkah-langkah yang bisa diambil untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu, makalah tentang Museum Wayang Jakarta juga bisa membahas tentang pentingnya melestarikan seni wayang sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia yang harus dijaga keberlangsungannya. Dalam makalah ini, penulis dapat membahas berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengembangkan seni wayang, seperti mengadakan festival wayang, menyelenggarakan workshop wayang, dan memperkenalkan seni wayang kepada generasi muda melalui pendidikan. Dengan membahas Museum Wayang Jakarta dalam sebuah makalah, diharapkan masyarakat dapat lebih mengenal museum ini dan mengapresiasi seni wayang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Selain itu, makalah ini juga dapat memotivasi pemerintah dan berbagai pihak terkait untuk memberikan perhatian lebih kepada Museum Wayang Jakarta agar dapat terus memainkan perannya dalam melestarikan seni wayang dan kebudayaan Indonesia.
2 B. Rumusan Masalah 1. Dimana letak atau lokasi Museum Wayang? 2. Bagaimana sejarah terbentuknya Museum Wayang? 3. Apa saja benda yang terdapat di dalam museum tersebut? 4. Bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kebudayaan lokal yang terdapat di Indonesia? C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui lokasi Museum Wayang 2. Mengetahui sejarah terbentuknya Museum Wayang 3. Mengetahaui benda-benda yang terdapat di Museum Wayang 4. Dapat mengetahui cara meningkatkan kesadraan masyarakat akan kebudayaan lokal \
3 BAB II PEMBAHASAN 1. Lokasi Museum Wayang Lokasi Museum Wayang Jakarta sangat strategis karena berada di pusat kota Jakarta, yaitu di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Barat, Indonesia. Berikut adalah pembahasan mengenai lokasi Museum Wayang Jakarta. Untuk masuk ke Museum Wayang Jakarta, pengunjung akan dikenakan biaya tiket masuk. Harga tiket masuk ke Museum Wayang Jakarta adalah sebagai berikut: Dewasa: Rp. 10.000/orang Anak-anak (usia 3-12 tahun): Rp. 5.000/orang Pelajar (Menunjukkan KJP/Kartu Pelajar): Rp. 2.000/orang Museum Wayang Jakarta dapat dijangkau dengan mudah menggunakan berbagai jenis transportasi, baik kendaraan pribadi maupun umum. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung dapat memilih untuk parkir di area parkir yang tersedia di depan museum atau di sekitar kawasan tersebut. Selain itu, Museum Wayang Jakarta juga dapat dijangkau menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta api, atau taksi. Hal ini membuat Museum Wayang Jakarta sangat mudah diakses oleh pengunjung dari berbagai penjuru Jakarta. Sebagai museum yang penting bagi Indonesia, Museum Wayang Jakarta dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum yang lengkap, seperti area parkir, toilet, dan tempat istirahat. Museum Wayang Jakarta juga dapat diakses oleh orang dengan kebutuhan khusus, karena telah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.
4 2. Sejarah terbentuknya Museum Wayang Museum Wayang Jakarta didirikan pada tahun 1975 oleh pemerintah Jakarta, dengan tujuan untuk melestarikan dan mempromosikan seni wayang di Indonesia. Pada awalnya, museum ini hanya memiliki beberapa koleksi wayang kulit yang diperoleh dari museum-museum di luar negeri. Seiring berjalannya waktu, Museum Wayang Jakarta terus mengembangkan koleksinya dengan cara membeli atau menerima sumbangan koleksi wayang dari para kolektor dan seniman wayang di Indonesia. Kini, Museum Wayang Jakarta memiliki koleksi wayang kulit, wayang golek, wayang beber, dan wayang kertas yang sangat lengkap dan berharga bagi budaya Indonesia. Pada tahun 2004, Museum Wayang Jakarta mengalami perbaikan dan renovasi pada gedungnya. Renovasi ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas museum agar dapat menampung koleksi wayang yang semakin bertambah. Setelah perbaikan gedung, Museum Wayang Jakarta kembali dibuka dan siap menerima pengunjung. Museum Wayang Jakarta memegang peran penting dalam melestarikan seni wayang di Indonesia. Selain memamerkan koleksi wayang yang berharga, museum ini juga sering mengadakan berbagai kegiatan seperti pameran, seminar, dan pertunjukan wayang yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan seni wayang.
5 3. Koleksi benda yang terdapat di Museum Wayang. 3.1 Batu Nisan Yang pertama kita bisa melihat prasasti batu nisan dari Gereja Oude Hollandsche Kerk dan Nieuwe Hollandcshe Kerk yang menjadi Museum Wayang saat ini. Salah satu nisan tersebut adalah tempat awal di mana Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dikuburkan. Meskipun demikian, pengelola museum mencoba menampilkan citra yang berbeda dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai taman. Banyak pengunjung yang tidak menyadari nilai sejarah di balik batu-batu tersebut, sehingga perlu adanya terjemahan dari inskripsi pada batu nisan agar pengunjung bisa memahami informasi mengenai Museum Wayang dan prasasti tersebut. Beberapa nisan menunjukkan nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda lainnya yang dimakamkan di Museum Wayang. 3.2 Wayang Golek Bandung Wayang golek adalah seni tradisional yang khas dari wilayah Sunda. Biasanya, wayang golek masih dibuat secara tradisional oleh penduduk desa tertentu di Jawa Barat. Saat ini, wayang golek lebih sering dipertunjukkan sebagai seni pertunjukan rakyat. Fungsinya dapat dihubungkan dengan kebutuhan spiritual dan material masyarakat sekitar. Salah satu contohnya adalah saat ada perayaan seperti pesta kenduri dalam rangka khitanan atau pernikahan, kadang-kadang diramaikan dengan pertunjukan wayang golek. Wayang golek terbuatbuat dari kayu albasia dan dijual dengan harga sekitar Rp 15.000 per unit, lengkap dengan pakaian dan aksesoris. Namun, jika dibuat dari kayu mahoni atau bahan yang lebih baik, wayang golek dengan kualitas yang lebih tinggi dapat dijual dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000 per unit.
6 3.3 Wayang Si Manis Jembatan Ancol Wayang Golek Betawi telah mengadaptasi kisah legenda Si Manis Jembatan Ancol. Seperti sebuah karya film, Wayang membutuhkan skenario cerita yang sesuai dengan budaya masyarakatnya. Dalam Wayang Betawi, tokoh Mariyam Si Manis Jembatan Ancol memiliki penampilan yang berbeda dari cerita sinetron. Dia digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengenakan kerudung berwarna merah muda, baju batik coklat, dan sarung batik. Kisah Mariyam sendiri diambil dari buku Simanis Jembatan Ancol, Cerita Rakyat Betawi oleh Muhammad Jaruki dan diterbitkan oleh Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta pada tahun 2010. Dia adalah seorang gadis yatim piatu yang diangkat oleh keluarga kaya dan tumbuh menjadi wanita cantik dan menawan. Namun, suatu kali setelah pulang dari pengajian, dia diserang oleh sekelompok pemuda di sekitar jembatan Ancol, yang dahulu merupakan jembatan goyang di Jakarta Utara. Mariyam menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh para pemuda tersebut, dan akhirnya meninggal dunia di lokasi tersebut. Setelah kematiannya, arwah Si Manis Jembatan Ancol melakukan balas dendam terhadap semua pemuda tersebut dan mereka semua meninggal dalam keadaan tragis. 3.4 Si Pitung Si Pitung merupakan sosok yang dihormati dan dianggap panutan oleh masyarakat Betawi karena keberaniannya dalam membela kaum lemah dan tertindas. Dia dikenal sebagai tokoh yang saleh dan terampil dalam bela diri, serta menjadi simbol dari representasi masyarakat Betawi. Si Pitung yang memiliki nama asli Salihoen, dulunya
7 dijuluki sebagai One Bitoeng atau Pitang sebelum akhirnya dikenal sebagai Si Pitung. Dia lahir di daerah Pengumben, Rawabelong pada tahun 1892, dan merupakan anak dari Bung Piung dan Mbak Pinah. Si Pitung mendapatkan pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin, seorang pedagang kambing. Nama panggilan Pitung sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu Pituan Pitulung, yang artinya tuan penolong. Meskipun dikenal sebagai perampok di masa lalu, Si Pitung terkenal karena hasil rampokannya selalu digunakan untuk membantu orang yang membutuhkan, khususnya kaum lemah dan tertindas. Kisah keberaniannya dalam melawan kompeni Belanda menjadi inspirasi bagi masyarakat Betawi hingga saat ini, dan seringkali diangkat dalam cerita wayang golek Betawi. 3.5 Wayang Wahyu Wayang wahyu adalah pertunjukan wayang kulit yang mengambil cerita atau lakon dari Alkitab atau kitab suci umat kristiani. Selain menjadi pentas kesenian, wayang wahyu juga berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Sebagai hasil akulturasi ajaran kristiani dengan budaya Jawa, wayang wahyu digagas oleh Bruder Timotheus L Wignjosoebroto FIC, seorang biarawan Katolik, pada tahun 1960 dan pertunjukan perdana diadakan di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 2 Februari 1960. Hingga sekarang, wayang wahyu masih sering dipentaskan di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Indra, pendiri Museum Wayang Beber Sekartaji, mulai memainkan wayang wahyu sejak tahun 2013 setelah melihat koleksi wayang wahyu di Museum Sonobudoyo. Wayang wahyu biasanya dibuat dari kulit kerbau, kulit sapi, kulit kambing, dan bahkan kertas juga bisa digunakan sebagai bahan pembuatannya. Saat ini, Indra memiliki koleksi sekitar 80 wayang wahyu yang dipertunjukkan di museum yang didirikannya sendiri.
8 3.6 Topeng Cirebon 3.7 Topeng Cirebon adalah topeng yang berkembang di daerah Cirebon dan dibuat dari kayu yang mudah dibentuk namun membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan waktu yang cukup lama dalam proses pembuatannya. Seorang pengrajin ahli pun membutuhkan waktu hingga satu hari untuk membuat satu topeng. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga, dan kayu Lame. Topeng Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok atau penutup wajah, tetapi juga dipandang sebagai hiasan yang dipasang pada bagian depan serban. Awalnya, kesenian topeng Cirebon berkaitan dengan Islam dan digunakan sebagai sarana dakwah. Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga memfungsikan Tari Topeng klono sewandono sebagai bagian dari upaya penyebaran agama Islam dan sebagai tontonan di lingkungan keraton. Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian topeng klono sewandono di Cirebon dalam garapan cirebonan. Kesenian topeng Cirebon kemudian menyebar ke wilayah Indramayu, Majalengka, Subang, dan wilayah lainnya yang berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya Tari Topeng Cirebon. 3.7 Boneka Rusia Boneka Rusia ini terbuat dari bahan seperti kayu, gypsum, atau kain, dan merupakan koleksi Museum Wayang sejak tahun 2009. Selain Matryoshka, boneka telur yang terbuat dari kayu dan beranak pinak ketika dibuka, ada satu lagi boneka rakyat Rusia yang menggambarkan masyarakat Rusia. Boneka ini memiliki bentuk manusia dan pakaian khas Rusia, seperti Sarafan, sebuah gaun panjang tradisional wanita tanpa lengan yang populer di wilayah selatan dan tengah Eropa Timur, yang awalnya digunakan oleh
9 pria. Sarafan banyak digunakan oleh wanita kalangan petani, kalangan pedagang, dan wanita yang bermukim di wilayah Rusia Utara dan Rusia Tengah. Hingga kemudian, sarafan umum digunakan oleh masyarakat kota termasuk noblewomen. Sarafan yang dikenakan oleh boneka ini berwarna merah, yang identik dengan budaya dan sejarah Rusia, karena merah dalam bahasa Rusia adalah krasni, yang juga berarti cantik. Merah juga diasosiasikan sebagai simbol gadis yang sudah siap menjadi seorang ibu, maka dari itu kostum pernikahan gadis desa Rusia berwarna merah. Warna merah juga menyimbolkan darah dan api, yang mencerminkan aliran energi antara alam dan manusia serta pertahanan 3.8 Boneka Perancis Boneka Perancis memiliki sejarah yang panjang dan kaya dengan tradisi. Perancis dikenal sebagai salah satu produsen boneka tertua di dunia dan telah membuat berbagai jenis boneka selama berabad-abad. Boneka Perancis terkenal dengan desain dan kualitasnya yang tinggi dan sering dianggap sebagai karya seni yang indah. Salah satu jenis boneka Perancis yang terkenal adalah boneka Jumeau. Perusahaan Jumeau di Paris memproduksi boneka Jumeau dari tahun 1842 hingga awal abad ke-20. Boneka ini terkenal dengan wajahnya yang indah dan terbuat dari porselen yang berkualitas tinggi. Boneka Jumeau dianggap sebagai salah satu boneka porselen terbaik yang pernah dibuat pada masanya dan dianggap sebagai karya seni. Selain boneka Jumeau, ada juga jenis boneka Perancis lainnya yang terkenal dengan desain yang unik dan inovatif. Contohnya adalah boneka Les Poupees, yang dibuat pada awal abad ke-20. Boneka Les Poupees terbuat dari kain dan memiliki baju yang dapat dilepas. Desainnya yang inovatif dan memiliki baju yang dapat diganti menjadikan boneka ini sangat populer di kalangan anak-anak Perancis pada masanya. Boneka Perancis juga dikenal dengan ragam kostum tradisionalnya, seperti kostum Breton, yang merupakan kostum tradisional dari wilayah Brittany di Perancis. Boneka dengan kostum Breton seringkali memiliki topi bundar dan baju dengan motif kotak-
10 kotak hitam dan putih, serta rok berwarna-warni. Perancis juga terkenal dengan boneka karangan tangan yang disebut "Santons". Santons adalah boneka-boneka kecil yang terbuat dari tanah liat dan digunakan untuk membuat pemandangan Natal tradisional di Perancis. Boneka-boneka Santons mewakili berbagai karakter dari kisah kelahiran Yesus, seperti Maria, Yusuf, bayi Yesus, dan hewan ternak. 3.9 Gamelan Jawa Gamelan Jawa adalah jenis ansambel musik yang menonjolkan penggunaan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang dihasilkan dari Gamelan Jawa terdiri dari kombinasi suara gong, kenong, dan berbagai alat musik tradisional Jawa lainnya. Irama musik Gamelan Jawa cenderung lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sesuai dengan prinsip hidup yang dipercayai oleh masyarakat Jawa. Sejarah Gamelan Jawa bermula dari satu buah gong besar yang ditambah dengan gong-gong lain dengan ukuran yang lebih besar dan beragam bentuk. Menurut kepercayaan orang Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru, dewa yang menguasai daratan Jawa dan tinggal di Gunung Mahendra (Gunung Lawu saat ini). Awalnya, gamelan digunakan untuk berkomunikasi dan memanggil dewa-dewa, namun kemudian berkembang menjadi alat musik ansambel yang dimainkan bersama-sama untuk menciptakan alunan musik yang merdu. Nama "gamelan" sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang berarti aktivitas menabuh atau memukul, dan menjadi nama bagi alat musik ansambel tersebut.
11 3.10 Lukisan Wayang Di gambar diatas kita sudah bisa melihat berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia seperti wayang Golek, wayang Kulit, wayang Beber, wayang klitik dan berbagai jenis wayang lainnya bersatu di dalam lukisan tersebut dan hal itu menandakan bahwa negara Indonesia memiliki banyak sekali jenis wayang dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Walaupun berbeda-beda jenis wayang di setiap daerahnya, namun hal tersebut di membuat rasa solidaritas dan persatuan antar budaya di Indonesia melemah justru karna adanya perbedaan, rasa peerdsatuan dan kesatuan di Indonesia semakin meningkat. 4. Cara meningkatkan kesadaran kesadaraan masayarakat mengenai pelestarian budaya yang ada di Indonesia Pelestarian budaya sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, upaya pelestarian ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan juga perlu dukungan dari masyarakat. Oleh karena itu, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian budaya merupakan langkah awal yang penting untuk menjaga keberlangsungan budaya di Indonesia. Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian budaya: 1. Pendidikan budaya di sekolah Sekolah dapat menjadi media penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pelestarian budaya. Pendidikan budaya dapat diajarkan sejak usia dini hingga tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Dengan demikian, masyarakat akan memahami dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia. 2. Menjaga keaslian budaya Masyarakat juga dapat meningkatkan kesadaran tentang pelestarian budaya dengan menjaga keaslian budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan tidak mengubah atau merusak warisan budaya yang ada. Misalnya, tidak merusak atau mencuri benda-benda bersejarah, tidak merusak situs budaya, dan
12 tidak mengubah tarian atau musik tradisional menjadi modern yang sudah kehilangan ciri khas budayanya. 3. Menjaga lingkungan sekitar Masyarakat dapat membantu menjaga lingkungan sekitar, seperti menjaga kebersihan dan keindahan tempat-tempat bersejarah, situs budaya, museum dan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Hal ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian budaya. 4. Menjaga tradisi budaya Masyarakat juga dapat meningkatkan kesadaran tentang pelestarian budaya dengan menjaga tradisi budaya. Hal ini dapat dilakukan dengan melestarikan dan memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, seperti dengan mengajarkan tarian tradisional, musik, dan adat istiadat. 5. Mengadakan acara budaya Masyarakat juga dapat meningkatkan kesadaran tentang pelestarian budaya dengan mengadakan acara budaya. Misalnya, festival budaya, pameran seni, pertunjukan tari dan musik
13 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan laporan penelitian yang berjudul Museum Wayang DKI Jakarta, dapat disimpulkan beberapa hal berikut: 1. Museum Wayang DKI Jakarta merupakan salah satu museum yang memamerkan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia, dan menjadi tempat yang penting untuk melestarikan budaya wayang. 2. Museum Wayang DKI Jakarta memiliki sejarah yang panjang, mulai dari didirikan pada tahun 1975 hingga mengalami renovasi pada tahun 2014 dan kemudian dibuka kembali pada tahun 2017. 3. Museum Wayang DKI Jakarta memainkan peran penting dalam pelestarian budaya wayang di Indonesia dengan memamerkan koleksi wayang yang sangat beragam, mulai dari wayang kulit, wayang golek, hingga wayang klitik. 4. Museum Wayang DKI Jakarta juga menyelenggarakan berbagai kegiatan dan acara yang berhubungan dengan budaya wayang, seperti pertunjukan wayang, workshop, dan seminar. 5. Meskipun Museum Wayang DKI Jakarta memiliki koleksi yang sangat berharga, namun terdapat beberapa masalah, seperti minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, serta kurangnya upaya dalam mengembangkan dan mempromosikan museum. 6. Untuk memperbaiki masalah tersebut, Museum Wayang DKI Jakarta perlu meningkatkan promosi dan pemasaran, mengadakan kegiatan yang lebih beragam dan menarik, serta meningkatkan kerja sama dengan pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat, dan lembaga budaya lainnya. Dengan demikian, Museum Wayang DKI Jakarta sangat penting untuk melestarikan dan mempromosikan budaya wayang di Indonesia, dan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih besar dari pemerintah dan masyarakat untuk tetap lestari dan berkembang. B. Saran-Saran Semoga untuk penelitian kedepan nya lagi dapat mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum Ujian Sekolah, karna untuk menenliti sebuah benda atau karya membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak dan semoga hasil penelitian yang penulis buat dapat berguna bagi Ilmu Pendidikan pembaca. Sekian dan Terimakasih banyak.
14 DAFTAR PUSTAKA Detik.Com, T. (2018). CERITA MUSEUM WAYANG DARI JAMAN KE JAMAN. GIDEON, K. (2020). LATAR BELAKANG WAYANG WAHYU DAN APA HUBUNGANNYA DENGAN ALKITAB? GUTAMA, A. U. (2015). AWAL MULA CERITA SI MANIS JEMBATAN ANCOL. HENGKY, A. (2019). CERITA SERAM DI BALIK BONEKA RUSIA. KHIRY, D. (t.thn.). AWAL MULA TERCIPTANYA MUSIK GAMELAN DI DAERAH JAWA TENGAH. MANDA, A. (2017). SEJARAH MENGENAI MUSEUM WAYANG DKI JAKARTA. 35. SUMIATI, S. (t.thn.). DIBALIK INDAHNYA PEMENTASAN WAYANG GOLEK BANDUNG.