The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Memberikan kisi - kisi serta jawaban yang tepat untung UAS mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hilmanur521, 2021-07-12 22:13:48

Kisi - Kisi UAS Difusi Inovasi Pendidikan

Memberikan kisi - kisi serta jawaban yang tepat untung UAS mata kuliah Difusi Inovasi Pendidikan

Keywords: UAS DIP

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat
1. Berbagai macam model inovasi pendidikan yang dapat diterapkan dalam pendidikan:

a. Model apa yang paling tepat dimasa pandemi covid-19 jika saudara ingin

melaksanakannya di sekolah?

b. Mengapa model tersebut dikatakan tepat atau baik, berikan alasan?

c. Buat petunjuk yang saudara anggap baik untuk menerapkannya dimasa pandemi

covid-19? difusi inovasi pendidikan dalam suatu

2. Mengapa penerapan

sekolah sering mengalami kegagalan? Berikan alasannya dan berikan suatu kasus

serta bagaimana cara mengatasinya.

3. Berikan suatu contoh, difusi inovasi pendidikan merupakan bagian dari sistem sosial,

jelaskan bahwa pelaksanaannya terdapat critical mass sehingga kondisi suatu inovasi

tidak stabil dan cenderung tidak membuat suatu kemandirian atau sebaliknya suatu

keberhasilan, faktor pendukung dan penghambat apa saja yang ada dalam system

sosial tersebut

4. Konsekwensi difusi inovasi pendidikan merupakan perubahan yang terjadi dalam

sistem sosial sebagai hasil dari perubahan atau

penolakan suatu inovasi. Jelaskan dan berikan contoh yang jelas serta sebutkan

konsekwensnya baik langsung ataupun tidak langsung

5. Terdapat empat agen pembaharu, coba jelaskan cirri-cirinya dan berikan contoh

masing-masing.

6. Buatkan paper mini dengan topik "difusi inovasi pendidikan" (Susunan nya adalah:

Judul, Nama Penulis, Affiliasi, Abstrak, Pendahuluan, Kajian Teori terbaru dari jurnal

nasional dan internasional, Metdoe penelitian, Hasil dan pembahasan, Kesimpulan,

Daftar Pustaka).

“Jawaban”.
1. Model inovasi pendidikan dan petunjuk penerapan saat masa pandemi covid – 19.

a. Ada banyak sekali model inovasi pendidikan yang ditemukan oleh para ahli.
Namun, saya akan memilih model – model inovasi pendidikan yang
ditemukan dan dilaksanakan di Amerika, sebagai suatu tindakan
penyempurnaan pendidikan disana. Setidaknya ada 3 model inovasi
pendidikan, yakni Model Penelitian, model inovasi ini berdasarkan pemikiran
bahwa setiap orang pasti perlu akan perubahan, dan unsur pokok perubahan
ialah penelitian, pengembangan, difusi. Kemudian ada Model Pengembangan
Organisasi, model ini berpusat pada sekolah. Model pengembangan organisasi
ini berbeda dengan model pengembangan dan difusi. Lalu yang terakhir ada
Model Konfigurasi, model dengan pendekatan secara komprehensif untuk
mengembangkan strategi inovasi (perubahan pendidikan) pada situasi yang
berbeda.
Maka dari itu, jika menilik pada kondisi saat ini. Menurut saya pribadi
bahwa model inovasi pendidikan yang baik atau tepat untuk dilaksanakan saat
masa pandemi covid – 19 ialah model inovasi pendidikan konfigurasi.
Namun, jika melihat pada bagaimana model pembelajaran yang baik
diterapkan saat pandemi ialah model pembelajaran Daring Method, untuk

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

menyiasati ketidak kondusifan di situasi seperti ini, metode daring bisa

dijadikan salah satu hal yang cukup efektif untuk mengatasi hal ini.

b. Mengapa saya memilih model konfigurasi sebagai model inovasi pendidikan

yang baik dan tepat diterapkan saat masa pandemi, Ini adalah model umum

atau model komprehensif karena memungkinkan adanya klasifikasi atau

penggolongan dari situasi perubahan. Model ini menekankan pada batasan

tentang serangkaian situasi perubahan pada waktu tertentu. Selain itu, dalam

model konfigurasi ini setidaknya mempertimbangkan 4 faktor terjadinya difusi

inovasi, hal inilah yang menjadi penyebab saya memilih model ini karena

penyesuaiannya terhadap berbagai unsur pendidikan, sifatnya umum dan bisa

diterapkan walau kondisi ditengah pandemi seperti sekarang ini. Berikut

beberapa faktornya :

• Konfigurasi artinya menunjukan bentuk hubungan inovator dengan

penerima dalam konteks sosial atau hubungan dalam situasi sosial dan

politik. Ada 4 konfigurasi yaitu individu, kelompok, lembaga dan

kebudayaan. Setiap bagian dai ke empat konfigurasi tersebut, dapat

berperan sebagai inovator dan juga dapat berperan sebagai penerima

inovasi (adopter).

• Hubungan (linkage) yaitu hubungan antara para pelaku dalam proses,

penyebaran inovasi. Inovator dan adopter harus berada dalam

hubungan yang memungkinkan didengarkannya dan diperhatikannya

inovasi yang didifusikan.

• Lingkungan, bagaimana keadaan lingkungan sekitar tempat

penyebaran inovasi. Lingkungan dalam pengertian ini semua hal baik

fisik, sosial, dan intelektual yang secara umum dapat bersifat netral,

mempengaruhi atau mungkin menghambat terhadap tingkah laku

tertentu.

• Sumber (resources), sumber apakah yang tersedia baik bagi inovator

maupun penerima dalam proses transisi penerimaan inovasi. Sumber

yang tersedia sangat penting baik bagi inovator maupun adopter,

karena keduanya memerlukan sumber inovasi untuk melaksanakan

transaksi.

Lalu, apa alasan saya memilih metode Daring, sebagai model
pembelajaran yang baik dan tepat, karena metode ini selain bisa mengatasi
permasalahan yang terjadi akibat pandemi, ternyata metode ini bisa
membuat para siswa untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di rumah
dengan baik. Seperti halnya membuat konten dengan memanfaatkan
barang-barang di sekitar rumah maupun mengerjakan seluruh kegiatan
belajar melalui sistem online. Itulah sebabnya mengapa metode daring ini
sangatlah cocok diterapkan bagi pelajar yang berada pada kawasan zona
merah. Dengan menggunakan metode full daring seperti ini, sistem
pembelajaran yang disampaikan akan tetap berlangsung dan seluruh
pelajar tetap berada di rumah masing-masing dalam keadaan aman.

c. Petunjuk penerapan model inovasi Daring ialah sebagai berikut :

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

1) Pendekatan Daring adalah model pembelajaran yang menggunakan

sistem jejaring komputer, internet dan lainya untuk seluruh proses

pembelajaran mulai dari penyampaian bahan belajar serta penugasan,

interaksi pembelajaran, pengumpulan tugas dan evaluasi pembelajaran.

2) Menyediakan media Learning yang dapat digunakan dalam

pembelajaran Daring (Portal dan Aplikasi), seperti :

• Rumah belajar dengan mengakses

https://belajar.kemdikbud.go.id

• Google G Suite for Education dengan mengakses:

https://blog.google/outreachinitiatives/education/offline-access-

covid19/

• Kelas Pintar dengan mengakses: https://kelaspintar.id

• Microsoft Office 365 dengan mengakses:

https://microsoft.com/idid/education/products/office

• Quipper School dengan mengakses:

https://www.quipper.com/id/school/teachers/

• Sekolah Online Ruangguru Gratis dengan mengakses:

https://sekolahonline.ruangguru.com

• Gratis belajar online Sekolahmu dengan mengakses:

https://www.sekolah.mu/tanpabatas

• Zenius dengan mengakses: https://zenius.net/belajar-mandiri i.

TV edukasi Kemendikbud dapat diakses melalui

http://tve.kemdikbud.go.id/live

3) Sarana prasarana yang harus disiapkan sekolah untuk penerapan model
Daring sebagai berikut.

• Minimal memiliki 1 (satu) laboratorium komputer yang memiliki
komputer dalam kondisi baik yang dapat dipergunakan guru untuk
pembelajaran full daring.

• Memiliki sambungan internet dengan kapasitas minimal 30 MB
untuk maksimal 15 guru.

• Memiliki jaringan listrik minimal 15.000 W, untuk maksimal 20
komputer.

• Sekolah mempersiapkan kurikulum pembelajaran daring.

4) Kapasitas dan Kapabilitas yang harus dimiliki Guru

• Guru di sekolah memiliki gadget/gawai android atau laptop untuk
proses pembelajaran daring.

• Guru di sekolah harus mampu mengoperasikan gawai atau laptop
untuk mengakses dan mengelola LMS pembelajaran.

• Guru di sekolah mampu membuat video pembelajaran sebagai
media pembelajaran daring.

• Guru memiliki Silabus dan RPP pembelajaran daring penuh yang
akan digunakan untuk pembelajaran.

• Guru membuat modul pembelajaran daring penuh.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

5) Akses sarana PJJ yang harus dimiliki Peserta Didik

• Peserta didik harus memiliki gawai/gadget atau laptop untuk
mengakses LMS yang digunakan sekolah, untuk penggunaan
setiap hari.

• Peserta didik harus memiliki wifi atau kuota yang cukup untuk
mengakses pembelajaran daring .

• Peserta didik memiliki sambungan listrik yang cukup untuk
pembelajaran.

6) Pendampingan yang harus dilakukan orang tua

• Orang tua peserta didik memfasilitasi gawai/gadget atau laptop
untuk proses pembelajaran daring penuh.

• Orang tua peserta didik memfasilitasi wifi atau kuota untuk proses
pembelajaran daring penuh.

• Orangtua peserta didik mengetahui jadwal pembelajaran daring dan
memantau penggunaan gawai/ HP atau laptop yang tidak semestinya
oleh anak.

• Orangtua peserta didik memantau dan mengarahkan peserta didik
dalam belajar sesuai panduan pendampingan yang disampaikan
sekolah.

7) Model komunikasi guru dengan orang tua

• Guru dan orang tua peserta didik dapat berkomunikasi dengan
menggunakan media whatsapp, zoom atau aplikasi lain yang
ditentukan sekolah.

• Guru dan orang tua dapat berkomunikasi secara ViCon maupun
chat , melalui grup maupun personal .

• Komunikasi orangtua dapat dapat dilakukan kepada guru mata
pelajaran, wali kelas atau BK tentang berbagai permasalahan siswa

8) Materi dan Penjadwalan Pembelajaran Jarak jauh dalam proses
pembelajaran daring penuh ini, sekolah mengatur pembelajaran sebagai
berikut :

• Guru melaksanakan pemetaan materi pelajaran yang sangat
penting sesuai tingkat kesulitan yang harus dilakukan
pembelajaran tatap muka virtual dan yang cukup dengan
penugasan online.

• Sekolah maksimal on line dalam sehari selama 8 jam pelajaran,
kecuali hari jumat hanya 4 jam pelajaran, dengan diselingi istirahat
10 menit setiap jam.

• Penjadwalan tugas Guru dalam satu minggu kurang lebih untuk
tatap muka virtual atau melalui video 10 jampel, pemantauan tugas
online selama 10 jampel dan penilaian tugas online 4 jampel.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

• Peserta didik mengikuti pembelajaran online maksimal 4 jam

pelajaran setiap hari, kecuali hari jumat 3 jam pelajaran dengan

diselingi istirahat 10 menit setiap jam. Penyelesaian tugas online

maksimal 2 jampel setiap hari, diselingi istirahat setiap 1 jam

minimal 10 menit

• Sekolah dapat melaksanakan pembelajaran online serentak untuk

mapel yang sama untuk satu jenjang kelas dan bergantian untuk

untuk mapel berbeda atau kelas berbeda.

9) Supervisi oleh Kepala Sekolah. Kepala sekolah melakukan
pemantauan setiap saat dan melakukan supervisi pelaksanaan
pembelajaran model Daring Full minimal satu kali dalam satu semester,
untuk semua mapel. Supervisi dilakukan dengan masuk langsung dalam
aplikasi yang digunakan guru dalam proses pembelajaran atau melihat
disamping guru diluar jaringan. Kegiatan supervisi ini bisa dibantu oleh
guru yang diberi tugas, dengan instrumen yang sudah disiapkan sekolah.

2. Faktor penyebab kegagalan suatu inovasi pendidikan biasanya :

1) Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan, dan
bahkan pelaksanaan inovasi tersebut. Sehingga ide baru atau inovasi tersebut
dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya dan merupakan kepunyaan
orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan
atau kondisi sekolah yang berkaitan.

2) Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat ini,
karena sistem atau metode tersebut sudan mereka laksanakan bertahun-tahun
dan tidak ingin diubah. Di samping itu, sistem yang mereka miliki dianggap
memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran
mereka.

3) Inovasi baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat belum sepenuhnya
melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa.

4) Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat
merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan
oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai
atau kalau finansial sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, pihak sekolah atau
guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para
inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.

5) Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan
sekolah atau guru untuk melaksanakan keinginan pusat yang belum tentu sesuai
dengan kebutuhan dan situasi sekolah.

Contoh kegagalan inovasi di sekolah dan cara mengatasinya. Kurikulum 2013
dilaksanakan berdasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi namun
dalam proses pelaksanaannya banyak guru yang belum mampu memanfaatkan
teknologi yang dapat mempermudah pekerjaannya. Sebagai contoh di suatu sekolah
mendapatkan fasilitas pendidikan yang baru berupa komputer yang juga dilengkapi
oleh jaringan internet. Para guru diberikan kesempatan untuk memanfaatkan fasilitas

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

tersebut dalam proses pembelajaran. Namun, karena tidak memiliki kemampuan dasar

mengenai program komputer mengakibatkan fasilitas yang telah ada sebagai inovasi

pendidikan tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada kasus ini terjadi kegagalan

inovasi. Adapun cara mengatasinya adalah dapat dilakukan dengan memberikan

pelatihan kepada guru-guru atau mengikuti kegiatan workshop atau seminar yang dapat

meningkatkan keterampilan para guru tersebut. Pada upaya tersebut sangat dibutuhkan

peran opinion leader dan agent of change (agen perubahan). Dengan demikian

kegagalan inovasi pendidikan disekolah dapat diatasi.

3. a. Contoh-contoh inovasi sebagai bagian atau komponen dari sistem sosial :

Miles dalam Ibrahim (1988:52-53) menjelaskan contoh-contoh inovasi pendidikan
dalam setiap komponen pendidikan atau komponen sistem sosial sebagai berikut:

• Pembinaan personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial tentu
menentukan personal (orang) sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai
dengan komponen personel misalnya: peningkatan mutu guru, sistem kenaikan
pangkat, aturan tata tertib siswa, dan sebagainya.

• Banyaknya personal dan wilayah kerja. Sistem sosial tentu menjelaskan tentang
berapa jumlah personalia yang terikat dalam sistem serta dimana wilayah kerjanya.

• Fasilitas fisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan mendayagunakan
berbagai sarana dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan. Inovasi pendidikan
yang sesuai dengan komponen ini misalnya: perubahan bentuk tempat duduk (satu
anak satu kursi dan satu meja), perubahan pengaturan dinding ruangan (dinding
batas antar ruang dibuat yang mudah dibuka, sehingga pada diperlukan dua
ruangan dapat disatukan), perlengkapan perabot laboratorium bahasa, penggunaan
CCTV (TVCT- Televisi Stasiun Terbatas), dan sebagainya.

• Penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan tentu memiliki perencanaan
penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya:
pengaturan waktu belajar (semester, catur wulan, pembuatan jadwal pelajaran yang
dapat memberi kesempatan mahasiswa untuk memilih waktu sesuai dengan
keperluannya, dan sebagainya.

• Perumusan tujuan. Sistem pendidikan tentu memiliki rumusan tujuan yang jelas.
Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya: perubahan tujuan tiap jenis
sekolah (rumusan tujuan TK, SD disesuaikan dengan kebutuhan dan
perkembangan tantangan kehidupan), perubahan rumusan tujuan pendidikan
nasional dan sebagainya.

• Prosedur. Sistem pendidikan tentu mempunyai prosedur untuk mencapai tujuan.
Inovasi pendidikan yang relevan dengan komponen ini misalnya: penggunaan
kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran individual,
pengajaran kelompok, dan sebagainya.

• Peran yang diperlukan. Dalam sistem sosial termasuk sistem pendidikan
diperlukan kejelasan peran yang diperlukan untuk melancarkan jalannya
pencapaian tujuan inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya: peran
guru sebagai pemakai media (maka diperlukan keterampilan menggunakan
berbagai macam media), peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru
sebagai anggota team teaching, dan sebagainya.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

• Wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya berkembang suatu

wawasan dan perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran pelaksanaan

tugas. Kesamaan wawasan dan perasaan dalam melaksanakan tugas untuk

mencapai tujuan pendidikan yang sudah ditentukan akan mempercepat

tercapainnya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: wawasan

pendidikan seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan proses, perasaan

cinta pada pekerjaan guru, kesediaan berkorban, kesabaran sangat diperlukan untuk

menunjang pelaksanaan kurikulum SD yang disempurnakan, dan sebagainya.

• Bentuk hubungan antar bagian (mekanisme kerja). Dalam sistem pendidikan perlu

ada kejelasan hubungan antara bagian atau mekanisme kerja antara bagian dalam

pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dengan

komponen ini misalnya: diadakan perubahan pembagian tugas antara seksi di

kantor departemen pendidikan dan mekanisme kerja antar seksi, di perguruan

tinggi diadakan perubahan hubungan kerja antara jurusan, fakultas, dan biro

registrasi tentang pengadministrasian nilai mahasiswa, dan sebagainya.

• Hubungan dengan sistem yang lain. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan dalam

beberapa hal harus berhubungan atau bekerja sama dengan sistem yang lain.

Inovasi yang relevan dengan bidang ini misalnya: dalam pelaksanaan usaha

kesehatan sekolah bekerjasama atau berhubungan dengan Departemen Kesehatan,

data pelaksanaan KKN harus kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, dan

sebagainya.

• Strategi. Yang dimaksud dengan strategi dalam hal ini ialah tahap-tahap kegiatan

yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan.

b. Pelaksanaan critical mass berpengaruh terhadap kondisi suatu inovasi

Critical mass pada dinamika sosial merupakan jumlah khalayak atau adaptor yang
mengadopsi suatu inovasi pada sistem sosial hingga tingkat adopsi tersebut bisa
menjadi mandiri dan menciptakan pertumbuhan yang selanjutnya. Satu tahapan pada
proses difusi di mana media interaktif harus dicapai supaya adopsi tersebut dapat
terjadi. Teori critical mass tidak terbentuk dengan begitu saja, namun di dalam teori
ini ada faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi critical mass, yaitu ukuran,
keterhubungan dan tingkat komunikasi dalam masyarakat itu sendiri. Critical
mass sangat erat hubungannya dengan massa, dan berhubungan dengan konsensus
mayoritas yang terdapat di kalangan politik. Adanya critical mass, dapat menunjang
keberhasilan inovasi. Sebab apabila inovasi didifusikan dan berada pada tahap critical
mass apabila disepakati sebagai inovasi yang tepat guna dan dapat dimanfaatkan
dengan baik masyarakat dapat mengadobsi (adopter). Namun sebaliknya apabila
inovasi tesebut dinilai mempunyai banyak kekurangan maka pada tahap critical
mass hasil inovasi tidak dapat diterima dan menuntut suatu pembaharuan sebagai
inovasi yang lebih baru daripada sebelumnya.

c. Faktor pendukung dan penghambat inovasi.

a) Faktor-faktor pendukung inovasi yaitu:
• Intensitas hubungan/kontak dengan individu yang lain dalm suatu sistem.
Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang

telah dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari

kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan

budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu

kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.

• Tingkat Pendidikan yang maju. Pendidikan memberikan nilai-nilai

tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan

berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan

kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya

dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.

• Sikap terbuka dari masyarakat atau individu. Sistem terbuka

memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih

luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi

mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan

sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk

dapat mengembangkan kemampuan dirinya.

• Sikap ingin berkembang dan maju dari masyarakat dan menghargai Hasil

Karya Orang Lain. Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan

mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat

akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain. Dengan sikap

ingin berkembang dan maju maka inovasi akan dapat diaktualisasikan dan

didifusikan pada masyarakat.

b) Faktor penghambat inovasi menurut Ibrahim (1988:120-122) yaitu:

• Hambatan geografi. Hambatan geografi mencakup jarak jauh, transport

yang lambat, daerah yang terisolasi, keadaan iklim yang tidak

menguntungkan. Keadaan ini menghambat difusi dan inovasi dalam

sistem sosial.

• Hambatan sejarah. Hambatan sejarah mencakup masalah-masalah seperti

peraturan kolonial, tradisi yang bertentangan dengan inovasi, dan

perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan.

• Hambatan ekonomi. Hambatan ekonomi mencakup tidak tersedianya

bantuan dana dari pemerintah dan pengaruh inflasi sehingga difusi dan

inovasi terhambat

• Hambatan prosedur. Hambatan prosedur mencakup berbagai faktor yang

berkaitan dengan teknis administrasi pelaksanaan inovasi. Termasuk

hambatan prosedur ialah kurang cakapnya tenaga yang melaksanakan

program inovasi, kurang kerjasama atau koordinasi antara bagian yang

penting dalam pelaksanaan difusi inovasi. Tidak cukupnya persediaan

material yang diperlukan serta kurang adanya kesepakatan mengenai

tujuan proyek inovasi yang merupakan hambatan prosedur yang perlu

diperhatikan.

• Hambatan personal. Hambatan personal mencakup kurang adanya

pemberian (penguatan) hadiah bagi penerima dan pemakai inovasi, orang-

orang yang memegang peranan yang penting di masyarakat tidak terbuka

untuk menerima dan melaksanakan inovasi, sikap kaku dan pengetahuan

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

yang sempit dari para personalia yang sebenarnya memiliki peranan

penting dalam proyek, serta terjadinya pertentangan pribadi.

• Hambatan sosial-budaya. Hambatan sosial-budaya yang menghambat

inovasi ialah kurangnya suasana adanya saling tukar fikiran secara

terbuka, perbedaan nilai budaya (cultural value), serta kurang

harmonisnya hubungan antara anggota team proyek inovasi.

• Hambatan politik. Hambatan politik mencakup kurangnya hubungan yang

baik dengan pimpinan politik, adanya pergantian pemerintah akan

menyulitkan pembinaan secara kontinu pelaksanaan program yang sudah

direncanakan, pendidikan yang menangani proyek inovasi tidak

mengetahui realitas politik, adanya keberatan terhadap proyek inovasi

dengan berdasarkan kepentingan golongan, kurang adanya pengertian dan

kurang adanya perhatian dari pimpinan politik.

4. Konsekuensi atau Akibat dari suatu perubahan yang terjadi pada individu atau sistem
sosial merupakan hasil dari suatu adopsi atau penolakan terhadap inovasi. Sebuah inovasi
memiliki sedikit dampak sampai inovasi itu didistribusikan ke dalam berbagai anggota
sistem dan digunakan oleh para anggota sistem itu. Kemudian, invensi dan difusi
merupakan tujuan yang dicapai.

Konsekuensi langsung adalah suatu inovasi mempunyai pengaruh yang segera
terhadap individu atau suatu sistem sosial, sedangkan konsekuensi tidak langsung adalah
inovasi yang memberikan pengaruh yang tidak segera. Konsekuensi langsung suatu
inovasi menghasilkan perubahan-perubahan sistem sosial yang terjadi sebagai respon
segera penyebaran suatu inovasi.

Konsekuensi tidak langsung adalah perubahan-perubahan dalam sistem sosial yang
terjadi sebagai hasil konsekuensi langsung suatu inovasi yang masih memerlukan upaya
tambahan dan prosesnya masih memerlukan waktu yang lebih lama.

Konsekuensi langsung sebuah inovasi merupakan perubahan pada individu atau
sistem sosial yang terjadi secara langsung dari sebuah inovasi. Sedangan konsekuensi atau
akibat tidak langsung merupakan perubahan pada individu atau sistem sosial yang terjadi
sebagai hasil dari konsekuensi langsung suatu inovasi.

Ibrahim (1988:73) menjelaskan sistem sosial berpengaruh terhadap konsekuensi
inovasi, karena perubahan itu terjadi dalam sistem sosial. Konsekuensi inovasi ialah
perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai hasil dari penerimaan atau penolakan
dari suatu inovasi. Ditinjau dari hasil inovasi yang diperoleh atau yang tampak dalam
sistem sosial, konsekuensi inovasi dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu:

• Konsekuensi yang bermanfaat dengan yang tidak bermanfaat, hal ini tergantung
dari hasil inovasi di dalam sistem sosial itu fungsional atau tidak fungsional.

• Konsekuensi langsung dengan tidak langsung, tergantung dari perubahan yang
terjadi pada individu atau sistem sosial berupa respon yang segera atau pertama
terjadi terhadap inovasi atau respon yang kedua yang terjadi setelah adanya
konsekuensi langsung.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

• Konsekuensi yang diharapkan dengan yang tidak diharapkan tergantung dari

bagaimana perubahan itu, diketahui dan direncanakan oleh anggota sistem sosial

atau tidak

Ketiga klasifikasi konsekuensi inovasi tersebut baik konsekuensi bermanfaat,
langsung, dan diharapkan, biasanya berlangsung secara bersamaan. Untuk menentukan
suatu konsekuensi inovasi bermanfaat atau tidak bermanfaat juga sukar, karena biasanya
dapat terjadi suatu inovasi bermanfaat bagi sistem sosial, tetapi tidak bermanfaat bagi
anggota sistem sosial tertentu, atau sebaliknya.

Contoh konsekuensi inovasi baik langsung maupun tidak langsung ialah penggunaan
VCD Pembelajaran di Sekolah

• Konsekuensi langsung: Pembelajaran Fisika berjalan lebih efektif dan efisien
• Konsekuensi tidak langsung : Siswa dan guru secara tidak langsung dapat

mengembangkan softskill mereka dalam menggunakan computer dan VCD
Pembelajaran
• Konsekuensi yang diinginkan dan konsekuensi antisipasi: Siswa menjadi lebih
mudah menguasai pelajaran Fisika dan memudahkan guru dalam menjelaskan
materi Fisika kepada siswa.
• Konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak dapat diantisipasi: Kurangnya
pengawasan guru terhadap siswa yang memutar VCD Pembelajaran ini,
sehingga guru tidak dapat mengetahui kegiatan apa saja yang siswa lakukan
selain memutar VCD Pembelajaran ini. Bias saja siswa lebih banyak bermain
games, dsb.

5. a. Agen Pembaharu ;

Willis H. Griffin dan Uday Pareek dalam Moleong (1997:33) telah mendefinisikan
agen perubahan. Mereka menyatakan bahwa: agen perubahan tersebut telah muncul
sebagai seorang professional yang tugas-tugasnya adalah membantu komunitas-komunitas
dan kelompok-kelompok untuk merencanakan pembangunan atau merumuskan kembali
tujuan-tujuan, memusatkan perhatian pada situasi-situasi bermasalah, mencari pemecahan-
pemecahan yang mungkin, mengatur bantuan, merencanakan tindakan yang bermaksud
untuk memperbaiki situasi-situasi tersebut, untuk mengatasi kesukaran-kesukaran menurut
tindakan yang produktif, dan mengevaluasi hasil-hasil dari usaha yang
direncanakan. Adapun jenis-jenis agen pembaharu menurut Ibrahim (1988:100) terdiri
dari: guru, konsultan, penyuluh kesehatan, penyuluh keluarga berencana, penyuluh
pertanian dan sebagainya.

Lembaga pendidikan membutuhkan agen-agen perubahan yang dapat mendorong
perubahan (drive to change), bukannya dipimpin oleh perubahan (lead by change), atau
menolak perubahan (resist to change). Agen pembaharu dalam inovasi pendidikan adalah
sebagai berikut :

1) Guru.
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak

yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan
kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada

tujuan yang hendak dicapai.

Peranan guru sebagai agen perubahan dapat diidentifikasi sebagai berikut: (a)

menumbuhkan kebutuhan dalam diri klien, (b) membangun hubungan pertukaran

informasi, (c) mendiagnosa masalah klien, (d) menumbuhkan niat berubah pada

klien, (e) menerjemahkan niat klien ke dalam tindakan, (f) menstabilkan adopsi

dan mencegah diskontinu adopsi dan (g) mencapai hubungan terminal dengan

klien (yaitu ketika klien berubah menjadi agen perubahan).

2) Kepala Sekolah.

Kepala sekolah hendaknya dapat menjadi change maker di lembaga yang

dipimpinnya. Kepala sekolah mempunyai tanggungjawab besar sesuai dengan

tugas pokok dan fungsinya dalam pengembangan sekolahnya agar semakin

berkualitas dan dapat mempunyai daya saing tinggi dengan kemajuan sain dan

teknologi yang terus menerus berkembang dengan semakin pesat. Selain itu,

kepala sekolah menjadi penghubung antara administrator pendidikan dengan guru

dan masyarakat di sekitarnya.

Kepala sekolah harus: (a) berperan sebagai perancang (designer) kebijakan

strategis terhadap aplikasi keenam konsep tersebut; (b) berfikir integral dalam

mencermati tantangan pendidikan ke depan (visioner).; (c) mampu membangkitkan

learning organization; (d) mendorong setiap guru untuk mengembangkan potensi

profesinya secara maksimal; dan (e) terbuka pada kritik dan saran yang konstruktif;

transparan dan tanggungjawab dalam pengelolaan sumber daya sekolah.

3) Dinas Pendidikan.

Tugas Dinas Pendidikan setempat adalah untuk mengarahkan pengembangan

dan pelaksanaan suatu rencana, menunjukkan dan memasukan seluruh perubahan

pada tingkat wilayah, sekolah, dan kelas. Dinas Pendidikan setempat merupakan

unsur penting untuk melakukan perubahan dalam wilayahnya. Mereka berperan

pada tiga tahap utama dari perubahan, yaitu keputusan inisiasi atau mobilisasi,

implementasi, dan institusionalisasi.

Hal-hal yang perlu dilakukan para administrator level kabupaten untuk

mendorong proses inovasi adalah: 1) sesuai dengan kebutuhan dan dapat diuji, 2)

menentukan inovasi tertentu sesuai kebutuhan, 3) mengklarifikasi dan mendukung

peran kepala sekolah serta administrator lainnya dalam implementasi program

pembaharuan, 4) menjamin dukungan implementasi pembaharuan, 5)

memungkinkan adanya redefinisi dan adaptasi inovasi tertentu, dan 6)

mengkomunikasikan dan memelihara dukungan orang tua dan dewan pendidikan

(Zakso, 2010:17).

4) Pengawas Pendidikan.

Pengawas transformasional adalah pengawas yang membuat guru menyadari

betapa pentingnya pekerjaan dan kinerja mereka terhadap sekolah dan menyadari

akan kebutuhan untuk perbaikan diri sendiri dan pengawas yang bisa memotivasi

guru untuk bekerja lebih baik demi sekolah. Peran pengawas dalam proses ini

adalah: (a) mampu menstimulasi guru secara intelektual, (b) selalu

mempertimbangkan perkembangan dan inovasi, (c) menyadarkan guru akan arti

penting mereka di sekolah, (d) menyadarkan guru untuk selalu berkembang, (e)

membuat guru bekerja keras demi kemajuan sekolah.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

b. Ciri-ciri agen pembaharu (agent of change) yaitu:

• Mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang
diinginkan oleh pengusaha pembaharuan (agency of change)

• Melancarkan jalannya arus inovasi dari pengusaha pembaharuan ke klien.
• Menjalin hubungan dua sistem sosial yang mungkin keduanya heterophily, yaitu

berhubungan dengan pengusha pembaharuan dan sistem klien.
• Di mata klien seorang agen pembaharu harus tampak benar-benar

mampu (competent) serta secara resmi mendapat tugas untuk membantu klien
dalam usaha meningkatkan kehidupannya atau memecahkan masalah yang
dihadapinya.

Apabila dilihat dari aspek tugasnya maka Rogers menjelaskan agen pembaharu
memiliki ciri-ciri bertugas untuk:

• Membangkitkan kebutuhan untuk berubah pada klien.
• Untuk memantapkan hubungan pertukaran informasi.
• Untuk menganalisis masalah klien.
• Untuk menumbuhkan niat berubah pada klien.
• Mewujudkan niat klien ke dalam tindakan.
• Untuk menstabilkan adopsi dan mencegah diskontinyu.
• Mengakhiri hubungan ketergantungan.

c. Contoh inovasi dari berbagai jenis agen pembaharu :
➢ Guru.

Teknik Mind Mapping, digunakan untuk membuat perencanaan penyampaian
konsep/materi dengan cara meringkas dalam bentuk peta konsep. Aplikasi Vidiocsribe
merupakan video animasi tangan yang membuat sebuah gambar dan tulisan. Program
membuat video pembelajaran, program guest teacher/guru tamu, program zoom
meeting, dan program ekstrakurikuler virtual, program pembutan video tentang nilai-
nilai karakter siswa.

➢ Kepala Sekolah.

Memberikan bimbingan teknis kepada guru. Salah satu tugas kepala sekolah
adalah melakukan supervisi kepada guru. Hasil supervisi menjadi dasar untuk
mengembangkan profesi guru secara berkelanjutan. Pada masa pandemi Covid-19,
kepala sekolah sudah harus memetakan kemampuan guru dalam hal penguasaan
berbagai platform digital yang akan digunakan dalam PJJ.

➢ Dinas Pendidikan

Disdik merilis Puber alias Pusat Belajar. Kendala rotasi guru dapat
dimudahkan dengan teknologi seperti kurangnya guru hebat di suatu
tempat. Sehingga berbagai bahan pembelajaran dapat terfasilitasi termasuk
program guru- guru hebat dalam pembelajaran tertentu akan menjadi bahan
pembelajaran sehingga bisa dikloning di setiap sekolah berbasis TIK.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

➢ Pengawas Pendidikan.

Media pembelajaran untuk pelatihan/ pembimbingan guru/kepala sekolah (berupa
poster bergambar, alat permainan pendidikan, model benda/ alat tertentu,
video/animasi computer.

6. Jurnal Difusi Inovasi Pendidikan

Implementasi Teori Difusi Inovasi dalam Sistem Pendidikan di Indonesia

Hilma Nuraeni / 201102020834

Prodi Pendidikan Masyarakat

Fakultas Perguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Ibn Khaldun Bogor

Abstrak

Difusi inovasi sering dikaitkan dengan perubahan yang akan berkembang sesuai
dengan kebutuhan perkembangan zaman. Difusi inovasi sendiri ialah teori tentang bagaimana
sebuah ide dan teknologi baru tersebar dalam sebuah kebudayaan. Diantaranya pendidikan
akan dirasa lebih baik jika sebuah inovasi bisa sepaham dan berkembang seiring dengan
perkembangan manusia. Pendidikan merupakan sektor yang amat penting bagi kemajuan
suatu bangsa. Saat ini, sistem pendidikan di Indonesia menerapkan sistem pendidikan
nasional. Tentunya hal ini merupakan salah satu dari penerapan teori difusi inovasi pada
sistem pendidikan di Indonesia mengingat seiring berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) banyak sekali inovasi bermunculan. Seperti halnya dalam sistem
pendidikan adanya kemajuan dalam sistem pembelajaran bahkan sarana prasarana yang
inovasinya mengikuti perkembangan zaman.

A. Pendahuluan

Ahli dari berbagai bidang ilmu membuat beragam definisi inovasi sesuai dengan
bidang keilmuan masing-masing, misalnya dari bidang rekayasa, bisnis, pendidikan, dan
sebagainya. Purdy (1968), misalnya, menjelaskan inovasi dalam pendidikan sebagai
pemilihan, pengelolaan dan penggunaan sumber daya dengan cara baru yang unik yang
menghasilkan pencapaian kinerja yang lebih baik berdasarkan standar tujuan dan sasaran
yang ditetapkan . Definisi lain tentang inovasi dalam pendidikan menjelaskannya sebagai
perubahan yang terencana pada aspek tujuan pendidikan, program, kebijakan atau metode,
untuk meningkatkan kinerja pendidikan (Agabi, 2002). Dari beragam definisi tentang inovasi
terdapat ciri yang hampir sama, yaitu bahwa Inovasi sebagai penerapan gagasan, proses atau
alat untuk mencapai hasil atau kinerja yang lebih baik. Dalam hal ini inovasi membawa
perubahan yang spesifik dan terencana untuk mencapai tujuan tertentu. Inovasi dalam
pendidikan merambah ke dalam berbagai sektor pendidikan, seperti inovasi dalam psikologi
pendidikan, inovasi dalam teknologi pendidikan, inovasi dalam manajemen pendidikan, dan
seterusnya.

Pada sisi lain inovasi dipahami bukan saja pada penciptaan sesuatu yang baru, tetapi
juga proses penyebarluasan pengetahuan yang sudah ada (Rogers, 1998). Dapat dikatakan

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

bahwa penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan merupakan hal biasa untuk sekolah

di wilayah perkotaan, tetapi menjadi inovasi bagi sekolah-sekolah di wilayah yang

sebelumnya tidak terjangkau internet. Sejatinya inovasi perlu diartikan tidak hanya berkaitan

dengan teknologi informasi, tetapi juga tentang model dan modus pembelajaran, pengelolaan

kelas, penilaian hasil belajar, dan sebagainya. Dalam hal ini teknologi informasi dapat

menjadi pendukung untuk mencapai efektivitas pendekatan pembelajaran Banyak inovasi

yang sudah dilakukan dalam bidang pendidikan di Indonesia, sebagai contoh: Cara Belajar

Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum berbasis kompetensi, dan yang terakhir Kurikulum 2013

dengan pembelajaran tematiknya. Dalam implementasinya, suatu inovasi tidak selalu berjalan

mulus, beberapa bahkan terhenti di tengah jalan sebelum sepenuhnya diimplementasikan.

Untuk itu kita perlu mempelajari dan memahami bagaimana suatu inovasi diterima

masyarakat dan dilaksanakan dengan baik sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas.

B. Kajian Teori

a. Teori Difusi Inovasi

Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi

disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada

sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari
Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain
channels over time among the members of a social system.” Lebih jauh dijelaskan bahwa

difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan

pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut
“which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate
users or adopters.”

Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903,
ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S
(S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu
inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini
ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang
lainnya menggambarkan dimensi waktu.

Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan
kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s
S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus

kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.

Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Bryce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil

penelitian difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil

penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah
satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the

agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a cumulative
basis over time.”

Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi
atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti
dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori
Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation
(1961); F. Floyd Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A
Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation
Diffusion: A New Perpective (1981).

Rusdiana menjelaskan difusi adalah jenis komunikasi khusus yang berkaitan dengan
penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Dengan kata lain difusi adalah bentuk komunikasi
yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan yang berupa gagasan baru.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapatlah dipahami bahwa difusi inovasi adalah suatu
proses pengkomunikasian ide, praktek atau objek yang dipandang baru oleh individu atau
organisasi yang mengadopsi. Dalam hal ini apabila ide-ide baru ditemukan, disebarkan, dan
diadopsikan atau ditolak, dan membawa dapat tertentu maka terjadinya perubahan sosial.

Suatu perubahan dapat digolongkan pada inovasi apabila perubahan tersebut

dilakukan dengan sengajab untuk memperbaiki keadaan sebelumnya agar menguntungkan
bagi peningkatan kualitas hidup. Pembaharuan dalam sektor pendidikan dilakukan sebagai
upaya sengaja untuk memperbaiki hal – hal tentang pendidikan, baik itu berbentuk hal, ide,
praktek – praktek pendidikan yang baru untuk meningkatkan kemampuan mencapai tujuan

pendidikan secara efektif dan efisien. Santoso . Hamijoyo (1974:8) menyatakan pengertian

inovasi pendidikan sebagai suatu perubahan yang baru dalam kualitatif berbeda dari hal (yang
ada) sebelumnya dan sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai

tujuan tertentu dalam bidang pendidikan.

b. Unsur – Unsur Difusi Inovasi

Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen
pokok, yaitu:

1. Inovasi ; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam
hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang
menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi
untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.
Inovasi terkait dengan gagasan/ide, produk/objek, teknik/prosedur dan teknologi yang
dianggap baru oleh seseorang dan kebaruannya itu bersifat relatif. Jika suatu ide,
produk, teknik/prosedur, teknologi dianggap baru oleh seseorang maka hal tersebut
adalah inovasi bagi individu tersebut.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

Dalam inovasi mempunyai komponen ide, tetapi banyak inovasi yang tidak

mempunyai wujud fisik, misalnya ideologi. Adapun inovasi yang mempunyai

komponen ide dan komponen objek (fisik), misalnya handphone dan sebagainya.

Inovasi yang memiliki komponen ide tidak dapat diadopsi secara fisik, sebab

pengadopsiannya hanya berupa keputusan simbolis. Sebaliknya inovasi yang

memiliki komponen ide dan komponen objek, pengadopsiannya diikuti dengan

keputusan tindakan (tingkah laku nyata).

2. Saluran komunikasi : Inti dari proses difusi adalah interaksi manusia untuk

mengkomunikasikan ide baru kepada orang lain. Untuk itu diperlukan saluran

komunikasi, dalam hal ini saluran komunikasi dapat berupa media interpersonal dan

media massa. Saluran interpersonal adalah saluran yang melibatkan pertemuan tatap

muka (sumber dan penerima) antara dua orang atau lebih. Misalnya rapat atau

pertemuan kelompok, percakapan langsung, pembicaraan dari mulut ke mulut.

Sedangkan saluran media massa adalah alat-alat penyampai pesan yang

memungkinkan sumber mencapai suatu audiens dalam jumlah besar, yang dapat

menembus batasan waktu dan ruang. Misalnya radio, televisi, film, surat kabar, buku.

3. Jangka waktu ; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai

memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan

itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam

(a) proses pengambilan keputusan inovasi, (b) keinovatifan seseorang: relatif lebih

awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan (c) kecepatan pengadopsian

inovasi dalam sistem sosial.

4. Sistem sosial : Inovasi terkait dengan sistem sosial berupa adat istiadat budaya, norma

dan nilai-nilai. Dalam hal ini sistem sosial dapat menghambat atau memudahkan cepat

atau tidaknya penyebaran ide baru dan pengadopsian inovasi melalui apa yang disebut
“efek sistem” atau “pengaruh sistem”. Dalam difusi inovasi sangat penting untuk

diingat bahwa proses difusi terjadi dalam sistem sosial. Sistem sosial adalah satu set

unit yang saling berhubungan yang tergabung dalam upaya pemecahan masalah

bersama untuk mencapai tujuan. Anggota suatu sistem sosial dapat berupa individu,

kelompok informal, organisasi dan/atau subsistem. Proses difusi dalam kaitannya

dengan sistem sosialini dipengaruhi oleh struktur sosial, norma sosial, peran

pemimpin, dan agen perubahan, tipe perubahan inovasi dan konsekuensi inovasi.

c. Diseminasi Inovasi

Diseminasi (bahasa inggris: dissemination) adalah suatu yang ditujukan kepada
kelompok target atau individu agar mereka memperoleh, timbul kesadaran, menerima, dan
akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi
yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Ini berbeda dengan difusi yang merupakan alur
komunikasi spontan. Dalam pengertian ini dapat juga direncanakan terjadinya difusi.

Misalnya dalam penyebaran inovasi penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam
proses belajar mengajar. Setelah diadakan percobaan dan siswa aktif belajar mengajar dapat
berlangsung secara efektif dan siswa aktif belajar. Maka hasil percobaan itu perlu
didesiminasikan. Untuk menyebarluaskan cara baru tersebut, dengan cara menatar beberapa
guru dengan harapan akan terjadi juga difusi inovasi antar guru di sekolah masing-masing.
Terjadi saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesamaan pendapat antara guru tentang

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

inovasi tersebut.10 Tindakan diseminasi merupakan tindak inovasi yang disusun menurut

perencanaan yang matang, melalui diskusi atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan,

sehingga terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi.

Misalnya dalam penyebaran inovasi penerapan Kurikulum 2013, setelah diadakan uji
publik, ternyata penerapan kurikulum dapat dilakukan secara efektif dengan melakukan
berbagai kegiatan pelatihan berjenjang. Selanjutnya hasil uji publik tersebut maka perlu
dilakukan dideseminasikan secara meluas. Untuk menyebarluaskannya Kurikulum 2013
tersebut dilakukan dengan cara menatar instruktur tingkat nasional, tingkat propinsi dan
tingkat kabupaten/kota. Diharapkan dengan pelatihan berjenjang ini maka difusi inovasi
pendidikan yaitu pemberlakukan Kurikulum 2013 dapat berjalan dengan baik. Ukuran sukses
sebuah program diseminasi tidak hanya cukup dengan pesan bisa berhasil disampaikan. Hal
lain yang penting dilakukan adalah evaluasi, sejauh mana karakter audiens agar mampu
memahami dengan baik pesan kunci. Selain itu, program diseminasi perlu adanya analisa
apakah semua strategi dalam penyampain informasi sesuai dengan persoalan yang dihadapi.

d. Strategi Difusi Inovasi

Suparman menyatakan terdapat dua strategi yang dilakukan dalam difusi inovasi
yaitu: (1) strategi jalur terbuka, dan (2) strategi jalur organisasi.

1. Strategi jalur terbuka.
Strategi jalur terbuka ditempuh dengan menjual ide baru atau inovasi agar

individu yang diharapkan dapat secara sukarela menerima dan menggunakan inovasi
baru tersebut. Proses difusi yang dilakukan pada jalur terbuka adalah:

Pertama, agen pembaharuan dalam hal ini pendesain inovasi ataupun pihak
lain melakukan identifikasi individu atau kelompok individu yang dipandang sebagai
calon pengguna utama yaitu individu atau kelompok yang dipandang membutuhkan
produk inovasi baru dalam pekerjaannya.

Kedua, memperkenalkan inovasi baru melalui berbagai media massa, surat
selebaaran, leaflet dan lain- lain. Perkenalan tersebut menyangkut karakteristik dari
produk inovasi baru tersebut serta manfaatnya bagi mereka.

Ketiga, melakukaan kontak individual dan tatap muka dengan mereka untuk
membujuk agar menerima produk inovasi baru tersebut, dalam hal ini manfaat produk
inovasi baru dijelaskan dan ditekankan. Bujukan tersebut harus dilakukan dengan
baik, misalnya melalui kunjungan atau pertemuan khusus sehingga pada akhirnya
mereka mau menerimanya.

Keempat, setiap ada individu atau kelompok yang menyatakan menerima
produk inovadi baru atauyang biasa disebut pengadopsi memerlukan pendampingan
oleh agen pembaharuan. Tujuannya adalah meyakinkan pengadopsi bahwa produk
inovasi baru tersebut telah dilaksanakan dengan baik sampai pengadopsi benar-benar
merasa sukses dan mendapat manfaatnya.

Kelima, proses pendampingan itu dapat dihentikan apabila para pengadopsi
dipandang tidak membutuhkan lagi. Namun demikian mereka masih perlu diamati
terus menerus untuk mengantisipasi adanya gejalan menghentikan penggunaan
produk inovasi baru. Dalam kasus seperti yang disebutkan terakhir, para pendamping
dapat melakukan upaya penguatan kembali. Dalam situasi di mana para pengadopsi
tidak lagi memelrukan pendamping, produk inovasi baru itu dapat dikatakan sudah

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

menjadi bagian dari kehidupan pengadopsinya. Statusnya sebagai inovasi sudah

berubah yaitu bukan inovasi lagi sebab ia bukan lagi sesuatu yang baru. Eenam,

Membujuk para pengdopsi yang sudah mantap untuk menjadi agen pembaruan,

dengan mengajak individu lain menggunakan produk inovasi baru

2. Strategi jalur organisasi

• Mengidentifikasi daftar pengambil keputusan puncak sampai lini pertama,

misalnya pejabat pada Kementerian Pendidikan Nasional, kepala dinas

pendidikan propinsi, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, atau organisasi

yayasan pendidikan.

• Memperkenalkan produk inovasi baru kepada pengambil keputusan tersebut.

• Membujuk untuk meyakinkan kehebatan penggunaan inovasi baru dan

pengaruhnya bila digunakan secara institusional oleh lembaga pendidikan yang

berada di bawahnya. Kehebatan tersebut terkait dengan kualitas, relevansi dengan

kebutuhan dan daya jangkaunya. Bujukan tersebut dimaksudkan untuk

mendapatkan komitmen dari pengambil keputusan agar menggunakan produk

inovasi baru.

• Membantu penggunaan produk inovasi baru pada organisasi tersebut sampai

seluruh jajaran pimpinan lini pertama terlibat dan memiliki komitmen yang sama

• Memberi pendampingan bagi jajaran pimpinan tersebut sampai produk inovasi

baru benar-benar digunakan oleh seluruh individu pada lembaga atau organisasi

yang bersangkutan.

e. Hambatan – Hambatan dalam Difusi Inovasi

Rogers menjelaskan faktor-faktor hambatan yang mempengaruhi secara alami
alami/aturan dari proses difusi inovasi, yaitu:

a) Knowledge of innovation and reinvention yaitu seberapa jauh kesadaran organisasi
terhadap inovasi dan persepsinya tentang karakteristik mereka yang menonjol. Faktor
pengetahuan ini dipengaruhi oleh sebagian oleh karakteristik personil-personil dalam
organisasi.

b) External accountability adalah tingkatan di mana suatu organisasi tergantung atau
bertanggungjawab kepada lingkungannya.

c) Lack resources adalah sumberdaya yang tidak siap digunakan pada maksud/tujuan
yang lain.

d) Organizational structure adalah susunan dari komponen – komponen dan subsistem –
subsistem di dalam suatu sistem.

Dalam konteks difusi inovasi dalam organisasi terdapat beberapa hambatan yaitu:

a) Hambatan psikologis
Hambatan ini ditemukan apabila kondisi psikologis individu dalam organisasi

menjadi faktor penolakan. Hambatan psikologis telah dan masih merupakan kerangka
kunci untuk memahami apa yang terjadi apabila individu dan sistem melakukan
penolakan terhadap suatu upaya perubahan. Jenis hambatan ini dengan memilih satu
faktor sebagai suatu contoh yaitu dimensi kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan
versus ketidakpercayaan, ketidakamanan, dan ketidaknyamanan. Faktor-faktor ini
sebagai unsur inovasi yang sangat penting. Faktor-faktor psikologis lainnya yang

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

dapat mengakibatkan penolakan terhadap inovasi baru adalah rasa enggan karena

merasa sudah cukup dengan keadaan yang ada, tidak mau repot, atau ketidaktahuan

tentang masalah yang terdapat dalam organisasi.

b) Hambatan praktis

Hambatan praktis adalah faktor-faktor penolakan yang lebih bersifat fisik.

Faktor-faktor tersebut adalah waktu, sumber daya dan sistem. Faktor-faktor ini adalah

faktor-faktor yang sering ditunjukkan untuk mencegah atau memperlambat perubahan

dalam organisasi dan sistem sosial. Program pusat pelatihan sangat menekankan

aspek- aspek bidang ini. Ini mungkin mengindikasikan adanya perhatian khusus pada

keahlian praktis dan metode-metode yang mempunyai kegunaan praktis yang

langsung. Oleh karena itu, inovasi dalam bidang ini dapat menimbulkan penolakan

yang terkait dengan hal-hal yang bersifat praktis.Artinya, semakin praktis sifat suatu

bidang, akan semakin mudah individu dalam organisasi meminta penjelasan tentang

penolakan praktis.

Di pihak lain, dapat diasumsikan bahwa hambatan praktis yang sesungguhnya

itu telah dialami oleh banyak individu dalam kegiatan sehari-hari, yang menghambat

perkembangan dan pembaruan praktek. Tidak cukupnya sumber daya ekonomi, teknis

dan material sering disebutkan. Dalam hal mengimplementasikan perubahan, faktor

waktu sering kurang diperhitungkan. Segala sesuatu memerlukan waktu. Oleh karena

itu, sangat penting untuk mengalokasikan banyak waktu apabila membuat

perencanaan inovasi. Pengalaman menunjukkan bahwa masalah yang tidak

diharapkan, yang mungkin tidak dapat diperkirakan pada tahap perencanaan,

kemungkinan akan terjadi. Masalah pada bidang keahlian dan sumber daya ekonomi

sebagai contoh tentang hambatan praktis.

c) Hambatan Nilai

Hambatan nilai melibatkan kenyataan bahwa suatu inovasi mungkin selaras

dengan nilai-nilai, norma-norma dan tradisi-tradisi yang dianut organisasi tertentu,

tetapi mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut sejumlah organisasi lain.

Jika inovasi berlawanan dengan nilai-nilai sebagian individu dalam organisasi, maka

bentrokan nilai akan terjadi dan penolakan terhadap inovasi-pun akan muncul.

f. Implementasi Teori Difusi Inovasi dalam Sistem Pendidikan di Indonesia

Salah satu contoh yang menerapkan teori difusi inovasi yaitu berkembangnya sistem
pendidikan seiring kemajuan dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Zaman sekarang, sistem pendidikan di dunia berkembang pesat dengan menggunakan
jejaring sosial atau internet.

Contohnya adalah pada masa pandemi Covid-19 yang masih mewabah sampai saat ini
berimbas pula pada dunia pendidikan, terutama keberlangsungan sekolah. Pada masa
pandemi, sekolah dituntut untuk tetap melaksanakan pembelajaran kepada siswa secara
maksimal. Sesuai dengan prinsip kebijakan Pendidikan sebagaimana keputusan Mendikbud
Nomor: 719/P/2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan
dalam Kondisi Khusus, yakni: (1) kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga
kependidikan, keluarga, masyarakat memperbarui prioritas utama dalam menetapkan
kebijakan pembelajaran; (2) tumbuh kembang peserta didik dan kondisi psikososial juga
menjadi pertimbangan dalam pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi Covid-19.

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

Pembelajaran secara daring menjadi alternatif yang dipilih sebagai upaya terlaksananya

pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik.

Berpijak pada ketentuan tersebut maka sekolah perlu menciptakan inovasi-inovasi dalam
pembelajaran. Sebab pembelajaran yang sebelumnya tatap muka di sekolah diganti dengan
PJJ. Peran sekolah sangatlah penting sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan PJJ.
Oleh karena itu, sekolah diharuskan membuat terobosan-terobosan baru dalam melaksanakan
pembelajaran. Di antaranya bisa mengubah ruang kelas menjadi studio pembelajaran dan
membentuk tim. Tugas Tim adalah mengonsep pembelajaran daring yang efektif, kreatif dan
inovatif oleh guru dan peserta didik. Sedangkan studio pembelajaran adalah sarana dan
tempat untuk proses dan produksi inovasi pembelajaran digital.

Beberapa contoh inovasi dalam pembuatan program pembelajaran di masa pandemi
Covid-19 melalui studio pembelajaran dan tim pembelajaran jarak jauh yang bisa di
aplikasikan yaitu misalnya: program membuat video pembelajaran, program guest
teacher/guru tamu, program zoom meeting, dan program ekstrakurikuler virtual, program
pembutan video tentang nilai-nilai karakter siswa.

Dalam upaya memberikan pelayanan dan pemenuhan pembelajaran masa pandemi.
Sekolah-sekolah dapat mengaplikasikan pembuatan studio pembelajaran daring. Selain itu
juga mengonsep dan mengemas pembelajaran daring secara efektif, kreatif, inovatif, serta
menyenangkan sehingga dapat tercipta pembelajaran jarak jauh yang bermakna.

Selain itu, pemerintah pun menerapkan sistem ujian nasional yang baru dengan berbasis
komputer, sehingga pemerintah pun harus turut menambahkan fasilitas disetiap sekolah yaitu
sarana dan prasarana yang bisa mendukung kegiatan ujian nasional berbasis komputer. Ini
merupakan salah satu contoh difusi inovasi yang dimana inovasinya merupakan suatu
program yang telah disediakan oleh pemerintah yang kemudian diterapkan ke dalam sistem
pendidikan di negara ini.

C. Metode Penelitian

Pendekatan metodologis yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan
kualitatif. Sugiyono (2005:21) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode yang
dipakai untuk menggambarkan atau menganalisis hasil penelitian namun tidak digunakan
untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Data yang diperoleh penulis dijabarkan
menggunakan kata – kata atau kalimat sehingga dapat menjadi sebuah wacana yang
merupakan kesimpulan dari analisis data tersebut.

Oleh karena itu, pendekatan kualitatif dalam penelitian ini berguna karena berkaitan
dengan data yang tidak berbentuk angka, namun berupa penjabaran deskripsi dari
implementasi dari teori digusi inovasi dalam sistem pendidikan di Indonesia.

D. Hasil dan Pembahasan

Difusi inovasi adalah suatu proses pengkomunikasian ide, praktek atau objek yang
dipandang baru oleh individu atau organisasi yang mengadopsi. Dalam hal ini apabila ide-ide
baru ditemukan, disebarkan, dan diadopsikan atau ditolak, dan membawa dapat tertentu maka
terjadinya perubahan sosial. Istilah inovasi tidak hanya sekedar terjadinya perubahan dari
suatu keadaan pada keadaan lainnya. Dalam perubahan yang tergolong inovasi, selain terjadi

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

suatu yang baru harus ada unsur kesengajaan, kualitas yang lebih baik dari sebelumnya dan

mengarah pada peningkatan berbagai kemampuan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan.

Terdapat setidaknya 4 unsur pokok dalam proses difusi inovasi menurut Rogers (1)
Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini,
kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. (2)
Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada
penerima. (3) Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui
sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan
itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. (4) Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda
secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka
mencapai tujuan bersama.

Tindakan diseminasi merupakan tindak inovasi yang disusun menurut perencanaan
yang matang, melalui diskusi atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan, sehingga
terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi. Dalam implementasi difusi inovasi dalam
organisasi terkadang sering mendapati beberapa hambatan yang berkaitan dengan difusi
inovasi. Pengalaman menunjukkan bahwa hampir setiap individu atau organisasi memiliki
semacam mekanisme penerimaan dan penolakan terhadap perubahan. Jika terdapat pihak
yang berupaya mengadakan sebuah perubahan, penolakan atau hambatan akan sering
ditemui. Orang-orang tertentu dari dalam ataupun dari luar sistem organisasi akan tidak
menyukai, melakukan sesuatu yang berlawanan, melakukan sabotase atau mencoba
mencegah upaya untuk mengubah praktek yang berlaku.

E. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telaj dilakukan oleh penulis dengan menggunakan
pendekatan metodologis kualitatif, dapat disimpulkan bahwa penerapan teori difusi inovasi
dalam sistem pendidikan di Indonesia merupaka suatu wujud pemecahan masalah – masalah
pendidikan yang sangat kompleks atau tidak efektif lagi dilakukan pendekatan yang
konvensional. Dengan demikian inovasi atau pembaharuan dilakukan untuk menjawab
permasalahan pendidikan perkembangan yang lebih cepat.

Dengan inovasi, kreatifitas dan usaha yang terus menerus, sehingga dapat menemukan
cara-cara baru dan dapat menjadikan sesuatu yang lebih baik. “Problem Solving”
Pembaharuan Pendidikan adalah upaya yang lebih diminati dan berkembang. Dengan
terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran yang dapat mengimplementasikan hasil difusi
inovasi seperti dari teknologi informasi daya mempertimbangkan dan kontrak melalui
perilaku biologi komunikasi yang dialami oleh para peserta didik baik kondisi sosial yang
berkembang diharapkan mampu menghasilkan budaya pembelajaran yang baik. Selanjutnya
dengan strategi pembelajaran tertentu peserta didik dapat terhubung dengan baik. Pemberian
tugas atau latihan yang tepat, hakekatnya upaya seorang guru memberikan “peluang” bagi
siswa untuk terjadi proses belajar dengan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Suciati.(2019).Inovasi Pembelajaran di Indonesia.Jurnal Difusi Inovasi

Pendidikan.Modul.1.Hal.10-11

Nama: Hilma Nuraeni Mata Kuliah : Difusi Inovasi Pendidikan

NIM : 201102020834

Prodi : Pendidikan Masyarakat

Ni’mawati,Yulianti Qiqi.(2020).Proses Inovasi Kurikulum: Difusi dan diseminasi inovasim

proses keputusan inovasi.Jurnal Mlsykat.Vol.05.No.02

Layla Maya.(2020).Pola dan Kinerja Diseminasi Inovasi Teknologi.Jurnal

Envisoil.Vol.02.No.01

Darajat.(2019).Inovasi dan Difusi Sistem Pendidikan Nasional.Jurnal Pendidikan Agama

Islam.Vol.02.No.01

Purbathin Agus,Indiyarti Diyah.(2019).Proses Difusi Inovasi dan Keputusan

Inovasi.Indonesian Journal of Socio Economics.Vol.01.No.01

Kartikawati Dwi.(2018).Implementasi Difusi Inovasi pada Kemampuan Media Baru

dikalangan Remaja.Jurnal Ekspresi dan Persepsi.Vol.01.No.01

Sidik Herinto.(2020).Membangun Kreatifitas Guru dengan Inovasi Pembelajaran di Masa
Pandemi Covid – 19.Jurnal Pendidikan Keguruan.Vol.01.No.04


Click to View FlipBook Version