Kerajaan Islam di Islam di Sulawesi Sulawesi
KELOMPOK B X-8 01 02 Excel Kenzio H. 03 Dini Syahfitri D. 05 Dutha Cahya P. 06 Elsa Penisa 07 Felisa Febrianti Rafli Adevio 04 Syifa Khalisa Y.
Kerajaan Gowa-Tallo Kerajaan Gowa-Tallo adalah sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia, dengan ibu kota di kota Makassar. Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan menjadi salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di Sulawesi pada masa lampau. Kerajaan Gowa-Tallo berawal dari dua kerajaan terpisah, yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa didirikan sekitar abad ke-13 oleh seorang penguasa bernama I Mappasessu. Sementara itu, Kerajaan Tallo didirikan oleh seorang penguasa bernama Tomanurung Baine pada abad ke-14. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu melalui pernikahan antara putri Gowa dengan pangeran Tallo.
Sultan Hassanudin Pada abad ke-16, kerajaan Gowa-Tallo mengalami masa keemasan di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Ia berhasil mengembangkan kerajaan ini menjadi kekuatan maritim yang kuat dan menguasai wilayahwilayah di sekitarnya, termasuk pulau-pulau di sekitar Sulawesi Selatan. Namun, pada abad ke-17, kerajaan Gowa-Tallo terlibat dalam perang melawan pemerintahan Belanda yang ingin menguasai wilayah tersebut. Perang yang terkenal adalah Perang Makassar yang berlangsung dari tahun 1666 hingga 1669. Meskipun kerajaan Gowa-Tallo mampu memberikan perlawanan sengit, akhirnya Belanda berhasil mengalahkan mereka dan menjajah wilayah tersebut.
Penjajahan Belanda berdampak besar bagi kerajaan GowaTallo. Pemerintah kolonial Belanda mengurangi kekuasaan kerajaan dan mengontrol wilayah tersebut melalui administrasi kolonial. Kerajaan Gowa-Tallo secara resmi dihapuskan pada tahun 1905, dan wilayahnya dijadikan bagian dari Hindia Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah yang pernah dikuasai oleh kerajaan Gowa-Tallo kini menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun kerajaan itu tidak lagi ada secara formal, warisan sejarah dan budaya Gowa-Tallo tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di wilayah tersebut.
Kerajaan Bone Kerajaan Bone adalah sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia. Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan salah satu kerajaan yang kuat dan berpengaruh di wilayah tersebut. Kerajaan Bone didirikan pada abad ke-14 oleh seorang raja yang bernama La Tenri Tatta ' risi Kallonna. Pada awalnya, kerajaan ini hanya memiliki wilayah kecil di sekitar Sungai Bone. Namun, seiring berjalannya waktu, kerajaan ini berkembang pesat dan berhasil menguasai wilayah-wilayah di sekitarnya
La Tenritatta Arung Palaka Daeng Serang Puncak kejayaan Kerajaan Bone terjadi pada abad ke-16 hingga abad ke18. Pada masa pemerintahan raja-raja seperti I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumpang Sombi, La Tenri Tatta ' risi Karaeng Lakiung Tumpang Ri Sombi, dan La Tenri Tatta ' risi Karaeng Segeri, La Tenritatta Arung Palaka Daeng Serang. Bone menjadi kekuatan maritim yang dominan di wilayah Sulawesi Selatan. Kerajaan Bone menjalin hubungan dagang yang luas dengan negaranegara tetangga seperti Makassar, Gowa-Tallo, dan Sidenreng Rappang. Kerajaan ini juga memiliki angkatan laut yang kuat dan mampu melancarkan ekspedisi militer ke wilayah-wilayah sekitarnya.
Pada abad ke-19, Kerajaan Bone terlibat dalam konflik dengan pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1905, pasukan Belanda berhasil menaklukkan kerajaan ini dan menjadikannya sebagai bagian dari wilayah Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Bone menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai entitas politik terpisah, warisan sejarah dan budaya Kerajaan Bone tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di wilayah tersebut. Peninggalan bersejarah seperti Istana Kesultanan Bone, benteng-benteng, dan situs-situs arkeologi menjadi saksi bisu dari kejayaan kerajaan ini.
Kerajaan Wajo Kerajaan Wajo, juga dikenal sebagai Kerajaan Sidenreng Rappang-Wajo, adalah sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia. Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan salah satu kerajaan yang penting di Sulawesi Selatan. Kerajaan Wajo bermula pada abad ke-14, ketika seorang pangeran dari Kerajaan Luwu bernama Batara Guru datang dan mendirikan kerajaan kecil di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Wajo. Pada awalnya, kerajaan ini hanya memiliki wilayah kecil di sekitar Wajo, tetapi seiring berjalannya waktu, kerajaan ini berkembang dan memperluas kekuasaannya.
Puncak kejayaan Kerajaan Wajo terjadi pada abad ke-16 hingga abad ke-18. Pada masa pemerintahan raja-raja seperti I Mappaselleng, I Mallombasi, dan I Manrabbia, kerajaan ini menguasai wilayah yang luas, termasuk daerah Sidenreng, Rappang, dan beberapa wilayah di sekitarnya. Pada abad ke-19, Kerajaan Wajo terlibat dalam konflik dengan pemerintahan kolonial Belanda. Meskipun mengalami tekanan dan serangan dari Belanda, kerajaan ini berhasil mempertahankan kemerdekaannya untuk sementara waktu. Namun, pada awal abad ke-20, Kerajaan Wajo akhirnya tunduk di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pada tahun 1905, Belanda mengambil alih pemerintahan langsung atas kerajaan ini dan menjadikannya sebagai bagian dari wilayah Hindia Belanda.
Kerajaan Wajo dikenal sebagai kerajaan yang mengutamakan sistem pemerintahan yang adil dan kuat. Mereka juga menjalin hubungan dagang yang luas dengan negara-negara tetangga seperti Gowa-Tallo, Makassar, dan Kerajaan Bone. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Wajo menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai entitas politik terpisah, warisan sejarah dan budaya Kerajaan Wajo tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di wilayah tersebut. Peninggalan bersejarah seperti istana, benteng, dan situs-situs arkeologi menjadi bukti dari kejayaan dan kekayaan sejarah kerajaan ini.
Kerajaan Soppeng Kerajaan Soppeng adalah sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan, Indonesia. Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan salah satu kerajaan yang berpengaruh di wilayah Sulawesi Selatan. Kerajaan Soppeng didirikan pada abad ke-16 oleh seorang penguasa yang bernama La Tenri Tatta ' risi Kallonna. Pada awalnya, kerajaan ini memiliki wilayah kecil di sekitar Sungai Walenna ' e. Namun, seiring berjalannya waktu, kerajaan ini berkembang dan berhasil memperluas kekuasaannya. Pada abad ke-17, Kerajaan Soppeng mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan La Tenri Tatta ' risi Karaeng Bontolangkasa, yang dikenal sebagai Raja Gowa. Raja Gowa menjalin persekutuan dengan Kerajaan Tallo dan Kerajaan Bone untuk melawan dominasi Belanda. Namun, pada akhirnya, Kerajaan Soppeng tunduk di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Perekonomian Kerajaan Soppeng pada masa lalu didasarkan pada berbagai sektor yang mendukung kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Pertanian menjadi sektor ekonomi utama di Kerajaan Soppeng. Masyarakat Soppeng umumnya berprofesi sebagai petani. Mereka menghasilkan berbagai macam produk pertanian, seperti padi, jagung, ubi kayu, dan tanaman lainnya. Pertanian juga meliputi peternakan, seperti ternak sapi dan kerbau, serta perikanan sebagai sumber pendapatan tambahan. Kerajaan Soppeng terletak di jalur perdagangan penting di Sulawesi Selatan. Mereka memiliki akses ke pelabuhan-pelabuhan di pantai dan menghubungkan wilayah pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan tersebut. Perdagangan dilakukan dengan berbagai wilayah di sekitarnya, termasuk kerajaan-kerajaan tetangga seperti Gowa-Tallo dan Bone. Produk yang diperdagangkan antara lain hasil pertanian, rempah-rempah, kayu, dan barang-barang kerajinan. Kerajaan Soppeng juga dikenal dengan kerajinan tangan yang berkualitas tinggi. Masyarakat Soppeng memiliki keahlian dalam membuat berbagai macam kerajinan seperti anyaman, tenunan, keramik, dan senjata tradisional. Produk-produk kerajinan tersebut diperdagangkan secara lokal maupun di luar kerajaan.
Pada masa penjajahan Belanda, Kerajaan Soppeng kehilangan sebagian besar kekuasaannya. Namun, mereka masih mempertahankan status sebagai kerajaan yang otonom di bawah pengawasan Belanda. Raja Soppeng tetap memainkan peran penting dalam pemerintahan lokal dan memelihara tradisi serta adat istiadat kerajaan. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah yang pernah dikuasai oleh Kerajaan Soppeng menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai entitas politik terpisah, warisan sejarah dan budaya Kerajaan Soppeng tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di wilayah tersebut. Peninggalan bersejarah seperti istana, makam raja, dan tradisi adat masih dihormati dan dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Kesultanan Buton Kesultanan Buton, juga dikenal sebagai Kesultanan Butuni atau Kesultanan Butung, adalah sebuah kesultanan yang berdiri di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kesultanan ini memiliki sejarah yang panjang dan merupakan salah satu kesultanan yang berpengaruh di wilayah tersebut. Kesultanan Buton didirikan pada abad ke-14 oleh seorang raja yang bernama La Ode Katoaka. Pada awalnya, kesultanan ini hanya memiliki wilayah kecil di sekitar kota Baubau. Namun, seiring berjalannya waktu, kesultanan ini berkembang dan berhasil memperluas kekuasaannya.
Puncak kejayaan Kesultanan Buton terjadi pada abad ke-16 hingga abad ke-17. Pada masa pemerintahan raja-raja seperti Sultan Salahuddin, Sultan La Tenri Tatta ' risi, dan Sultan Buton Malingkaung, kesultanan ini menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan yang penting di wilayah tersebut. Kesultanan Buton menjalin hubungan dagang yang luas dengan negara-negara tetangga dan mengontrol jalur perdagangan rempah-rempah yang melintasi wilayahnya. Kesultanan Buton juga memiliki angkatan laut yang kuat dan berperan dalam melindungi wilayahnya serta melancarkan ekspedisi militer ke wilayah-wilayah sekitarnya. Kesultanan ini juga dikenal dengan keahlian mereka dalam pembuatan kapal tradisional yang kuat dan tangguh, yang menjadi aset penting dalam aktivitas perdagangan dan penjelajahan maritim. Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi
Pada abad ke-19, Kesultanan Buton terlibat dalam konflik dengan pemerintahan kolonial Belanda. Pada tahun 1906, kesultanan ini akhirnya tunduk di bawah kekuasaan Belanda dan berada di bawah pengawasan kolonial. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah yang pernah dikuasai oleh Kesultanan Buton menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun tidak lagi berfungsi sebagai entitas politik terpisah, warisan sejarah dan budaya Kesultanan Buton tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat di Pulau Buton. Peninggalan bersejarah seperti istana, benteng, dan situs-situs arkeologi menjadi bukti dari kejayaan dan kekayaan sejarah kesultanan ini.
Thank You
Any Question?