The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Farhan Atthariq, 2023-08-13 23:21:22

sa

ada

Keywords: da

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang. Alam yang indah ditambah lagi fauna yang terdapat di Taman Alam Gunung Leuser antara lain adalah gajah Sumatera, orangutan Sumatera, harimau Sumatera, macan dahan, badak Sumatera, dan berbagai jenis burung endemik dan langka. Sementara itu, flora yang juga beragam, termasuk berbagai jenis pohon besar, epifit, anggrek, dan tumbuhan lainnya yang hanya bisa ditemui di hutan hujan tropis.dan dianggap sebagai salah satu kawasan konservasi penting bagi gajah Sumatera dan upaya untuk melindungi habitat alami serta untuk meminimalkan konflik dengan manusia. Pengelolaan konservasi yang baik diharapkan dapat membantu mengurangi ancaman terhadap keberlanjutan populasi gajah dan ekosistem di sekitarnya. Selain sebagai kawasan konservasi, Tangkahan juga telah dikembangkan menjadi tujuan ekowisata yang populer. Wisatawan dapat mengunjungi kawasan ini untuk mengamati gajah Sumatera di alam liar, menjelajahi hutan hujan, dan menikmati keindahan alam sekitar. Gambar 1.1. Foto peneliti Bersama gajah di Kawasan konservasi Dari Pendapatan pariwisata tersebut diharapkan dapat memberikan insentif ekonomi bagi PAD Kabupaten Langkat dan UMKM Wisata masyarakat setempat.


Desa-desa wilayah sekitar konservasi telah telah mendapat predikat sebagai desa wisata, akan tetapi faktanya ada masalah yakni kurang terekposnya wisata yang ada. Dari kenyataan yang ada maka perlu adanya literasi digital media sosial dan komunikasi terhadap kelompok UMKM diwilayah tersebut yang nantinya akan mendorong pengembangan kemampuan sumber daya manusia yang pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan Masyarakat setempat. Dari permasalahan yang telah diuraikan diatas maka disusunlah sebuah rencana penelitian ke Direktorat Riset Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul “ Penguatan Literasi Digital Sosial Media sosial Dan Komunikasi Kelompok UMKM Wisata Tangkahan Kabupaten Langkat dan telah mendapatkan pendanaan tahun 2023 Gambar 1.2 Peneliti saat menerima bantuan DRPTM melalui LPM Universitas Medan Area 1.2 Tujuan Peneltian Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan model dan strategi penguatan Literasi media sosial di tiga desa (Desa Sei Serdang, Desa Namo Sialang dan Desa Sei Musam), dengan luaran Artikel jurnal dan Buku elektronik hasil penelitian.


1.3. Team Peneliti Team penelitian ini adalah Dosen-dosen dari Universitas Medan Area dan dibantu dengan Team Suport dari Mahasiswa Universitas Medan Area. Peneliti : 1. Dr. Nina S Salmanina Siregar (Ketua Peneliti) dengan tugas mengkoordinir kegiatan penelitian, penyelengaraan FGD, dan menyusun laporan akhir 2. Dr. Ahmad Prayudi, SE, MM (Anggota Peneliti), melakukan pengumpulan data, menyelengarakan FGD, dan publikasi jurnal internasional terindeks scopus 3. Warsani Purnama Sari, SE, Ak, MM (Anggota Peneliti), bertanggung jawab melaksanakan pengumpulan data, merumuskan model, dan penyusunan buku hasil penelitian Gambar 1.3 Foto Bersama Team Peneliti dan Suport Dan Team Suport dari Mahasiswa Universitas Medan Area terdiri dari : 1. Farhan Atthariq Dalimunthe 2. Rut Nopiyanti Br Sitorus 3. Naufal Helmi Wiratama


4. Naufal detra Utoyo tarigan BAB II Literasi Sosial Media 2.1 Literasi Digital Kemampuan individu untuk membaca, memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi tertulis untuk berpartisipasi dalam kehidupan seharihari. Ini mencakup kemampuan dalam membaca, menulis, dan mengolah informasi dengan cara yang efektif ini sering disebut dengan literasi. Literasi tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga melibatkan pemahaman yang baik tentang konten yang dibaca dan kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis, dan mengartikan informasi yang diterima. Gambar 2.1 Keindahan alam di Lokasi penelitian Literasi juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai media, termasuk media sosial dan media digital lainnya. Dalam era informasi seperti sekarang, literasi media menjadi semakin penting untuk dapat memilah dan memahami informasi yang berasal dari berbagai sumber.


Menurut Gilster, 1997 Dalam buku Digital Literacy, literasi digital didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format yang berasal dari berbagai sumber yang disajikan melalui computer Hague ,2010, menyatakan bahwa literasi digital adalah kemampuan mengkaryakan dan kesanggupan berbagi ( sharing ) dalam modus yang berbeda, semisal dalam membuat, mengolaborasi, mengkomunikasikan secara efektif serta memiliki pemahaman perihal kapan dan bagaimana menggunakan perangkat teknologi informasi guna mendukung tujuan tersebut Gambar 2.2. Keindahan alam di Lokasi penelitian Dari kedua pandangan tersebut,dapat diambil kesimpulan bahwa literasi digital adalah : 1. Kemampuan Menggunakan Informasi Teknologi: Kedua pandangan menyoroti kemampuan individu untuk memahami dan menggunakan informasi yang disajikan melalui teknologi, khususnya komputer dan perangkat teknologi informasi. 2. Beragam Format dan Sumber Informasi: Baik Gilster (1997) maupun Hague (2010) mengakui bahwa literasi digital mencakup berbagai format informasi yang berasal dari berbagai sumber. Ini menunjukkan pentingnya dapat berinteraksi dengan berbagai jenis konten digital.


3. Kemampuan Berbagi dan Kolaborasi: Hague (2010) menekankan kemampuan untuk berbagi dan berkolaborasi melalui berbagai mode digital. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam definisi Gilster, aspek berbagi dan kolaborasi ini masih dapat dihubungkan dengan kemampuan untuk menggunakan informasi secara efektif. 4. Penggunaan Teknologi untuk Tujuan Tertentu: Kedua pandangan menyoroti bahwa literasi digital melibatkan penggunaan teknologi informasi untuk mencapai tujuan tertentu, seperti mengkomunikasikan, mengolah informasi, atau menciptakan konten. 5. Efektivitas dalam Penggunaan Teknologi: Kedua pandangan menekankan pentingnya penggunaan teknologi secara efektif, baik dalam hal komunikasi, kolaborasi, maupun dalam mencapai tujuan lainnya. 6. Pemahaman Konteks Penggunaan: Hague (2010) menekankan pemahaman tentang kapan dan bagaimana menggunakan perangkat teknologi informasi untuk mendukung tujuan tertentu. Meskipun tidak ditekankan secara khusus oleh Gilster, pemahaman tentang konteks penggunaan teknologi juga dapat dianggap sebagai bagian dari literasi digital Gambar 2.3 Keindahan alam di Lokasi penelitian


Seiring dengan perkembangan komunikasi dan teknologi informasi, juga pesatnya teknologi digital, kesadaran dan kemampuan bermedia. literasi media dan literasi digital merupakan pendekatan yang memiliki fokus analisis kritis terhadap konten dari pesan media. Paparan berbagai macam informasi dari media membuat kebanyakan orang kebingungan mana informasi yang bermanfaat dan mana yang tidak. Maka dengan adanya fenomena tersebut, pengetahuan literasi media sangat dibutuhkan sebagai modal bagi khalayak untuk memiliki kemampuan dalam memilah dan mengevaluasi isi media dengan tajam dan teliti sehingga mampu memanfaatkan isi media sesuai dengan kebutuhannya. Setiap orang harus memiliki tanggung jawab atas penggunaan teknologi untuk berinteraksi atau berkomunikasi dalam kehidupannya sehari-hari. Menangani beraneka informasi, kemampuan dalam menafsirkan pesan dan berkomunikasi secara efektif dengan orang lain merupakan berbagai kemampuan dalam literasi digital. Adanya proses menciptakan, mengolaborasi, mengkomunikasikan berdasarkan etika, memahami kapan dan bagaimana menggunakan teknologi secara efektif merupakan kompetensi digital yang dibutuhkan saat ini. Hal yang paling mendasar dalam menghadapi perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi adalah dengan memiliki kemampuan atau keterampilan dalam berliterasi digital. Dengan memiliki keterampilan digital yang mumpuni maka akan menciptakan masyarakat yang cermat dalam penggunaan teknologi digital. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) telah melaksanakan survei status read literasi digital skala nasional di mana pensurveian tersebut mengacu kepada kerangka literasi digital UNESCO dan hasil surveinya menyebutkan bahwa Indonesia berada pada angka 3,407 dari skala 1 sampai dengan 4. Hal ini memiliki makna bahwasanya tingkat literasi digital masyarakat Indonesia belum mencapai tingkat baik karena posisinya berada sedikit di atas sedang (Kemdikbud, 2021). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh kemkominfo maka hal yang perlu ditingkatkan adalah sumber daya manusia disertai dengan inovasi-inovasi yang dapat membawa perubahan lebih ke arah yang positif.


Kominfo (2022) menyatakan bahwa pada tahun 2022 indeks literasi digital nasional mengalami kenaikan sebesar 0,005 poin menjadi 3,54, berikut ini diagram kenaikan indeks literasi digital skala nasional: Sumber: Kominfo (2022) Gambar 2.4 Indeks Literasi Digital 2021-2022 Berdasarkan gambar di atas maka dapat diketahui hanya 3 pilar saja yang mengalami kenaikan yakni pilar 1: digital skill, naik sebesar 0,08 poin, pilar 2: digital ethics, naik sebesar 0,15 poin, dan pilar 3: digital safety, naik 0,02 poin. Sedangkan pilar ke-4 mengalami penurunan sebesar 0,06 poin. Kehadiran revolusi Industri 4.0 sangat mempengaruhi kondisi pelaku Usaha Kecil dan Menengah saat ini dikarenakan semakin banyaknya tuntutan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pelaku usaha. Menurut Harto (2018) kompetensi merupakan perpaduan dalam penguasaan sikap dengan nilai-nilai yang direfleksikan menjadi satu kebiasaan dalam berfikir serta bertindak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Kompetensi juga dapat dimaknai dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan tugas serta fungsinya yang disesuaikan dengan standar mutu kinerja. Sebagai pelaku usaha dan anggota masyarakat saat ini juga dituntut untuk mampu memahami dan mengevaluasi kualitas informasi yang diterima dan yang akan disebarluaskan melalui berbagai media sosial . Kemampuan menerima,


memahami , menelusuri dan mengidentifikasi informasi dalam bentuk digital inilah yang disebut dengan literasi digital. Gambar 2.5 Keindahan alam di Lokasi penelitian Literasi digital secara garis besar sebenarnya dapat diartikan sebagai upaya memahami, menggunakan, melibatkan, mentransformasi teks dan menganalisis. Dimana kelima hal tersebut sebenarnya berfokus pada kompetensi atau mengembangkan kemampuan dalam membaca dan menulis. Untuk memahami lebih jelas mengenai pengertian atau definisi literasi digital, ada 7 pengertian literasi digital yang dipaparkan menurut para ahli berikut ini. 1. Literassi Digital Menurut UNESCO ( The United Nations The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization ) Pengertian literasi menurut UNESCO mengartikan bahwa literasi sebagai perangkat keterampilan. Baik itu keterampilan kognitif, menulis ataupun keterampilan membaca. Semua keterampilan tersebut dapat dikembangkan dan di bentuk lewat berbagai jalur. Misalnya lewat penelitian akademi, pengalaman, pendidikan ataupun nilai-nilai budaya. Menurut UNESCO, konsep literasi digital itu sendiri sebagai upaya untuk memahami perangkat teknologi komunikasi dan informasi. Dalam hal ini berupa literasi TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang mengarah fokus pada kamampuan teknis yang sifatnya untuk mengembangkan pelayanan


publik berbasis digital. Literasi Digital itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu literasi teknologi yang lebih menekankan pada pemahaman teknologi digital dalam pengguna dan kemampuan teknis serta literasi informasi yang menekankan pada aspek pengetahuan. Masih menurut UNESCO, aspek dari literasi digital terbagi menjadi dua. Pertama dari segi aspek pendekatan konseptual dan aspek operasional. Dimana pada pendekatan konseptual memfokuskan pada perkembangan kognitif hingga sosial emosional. Sedangkan secara operasional menekankan pada kemampuan teknis penggunaan media yang tidak boleh diabaikan. 2. Literasi Menurut Merriam Webster Menurut Merriam Webster, pengertian literasi sebagai kemampuan melek aksara. Maksud dari melek aksara itu sendiri sebenarnya inti maknanya tidak jauh beda dengan yang diungkapkan oleh UNESCO, yaitu meliputi kemampuan menulis, membaca dan memahami ide. 3. Literasi Menurut National Institute for Literacy Pendapat dari National Institute for literacy juga berbeda . Pengertian literasi itu sebagai bentuk kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah pada tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Jadi tidak hanya sebatas sebagai kemampuan berbicara, menulis dan membaca saja. Tetapi juga di tingkat pekerjaan, masyarakat dan keluarga pun juga termasuk di dalamnya. Seperti yang diketahui bahwa literasi digital itu sendiri sebenarnya sehari-hari sudah bisa dan sering dilakukan. Dibandingkan membuat bacaan, memang lebih banyak yang membaca dan menikmati literasi bacaan tersebut. Padahal dalam literasi digital, tidak selalu diartikan bahwa individu sebagai penikmat, tetapi juga bisa sebagai pencipta atau penulisnya. 4. Literasi Menurut Paul Gilster Menurut seorang penulis dari buku yang berjudul Digital Literacy yang diterbitkan pada tahun 1997 mengartikan bahwa, pengertian literasi digital adalah kemampuan seseorang dalam memafaatkan informasi dalam berbagai bentuk. Baik itu dari sumber dari perangkat komputer ataupun dari ponsel.


Literasi digital itu tidak hanya di komputer, tetapi juga dapat disimpan di ponsel pintar masing-masing. Inilah kecanggihan dan kepraktisan yang di tawarkan oleh teknologi dan kemutakhiran data. Dan kini literasi digital pun sudah bukan sesuatu yang asing di era informasi saat ini. 5. Literasi Digital Menurut Bawden Sedangkan Bawden menekankan bahwa literasi digital sebenarnya lebih menekankan pada literasi komputer dan literasi informasi. Dimana literasi komputer ini sendiri sudah ada sejak tahun 1980an yang lalu dan baru menyebar luas di tahun 1990an. Dari sinilah perkembangan literasi digital semakin mudah diakses dan semakin tersebar luas. Jadi, dapat disimpulkan bahwa arti literasi digital menurut Bawden sebagai keterampilan teknis dalam mengakses, memahami, merangkai dan menyebarluaskan informasi. Dimana di era millenial seperti sekarang, hal semacam ini sangat akrab sekali. tidak hanya akrab, tetapi sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. 6. Literasi Digital Menurut Douglas A.J. Belshaw Dalam sebuah tesis yang berjudul what is digital literacy? yang ditulis oleh Douglas A.J. Belshaw yang menyatakan bahwa literasi ditigal sebenarnya memiliki beberapa elemen penting untuk meningkatkan dan mengembangkan literasi digital. Elemen tersebut meliputi beberapa poin sebagai seperti kultur atau budaya, dimana elemen ini diperlukan pemahaman ragam kotneks penggunaan dunia digital.Ada juga elemen akan kemampuan kognitif, dimana perlunya daya pikir dalam memnilai kontens. Elemen lain pun juga ada lemen konstruktif, komunikatif, kepercayaan, kreatif, kritis dan bertanggung jawab secara sosial. Jika semua elemen tersebut bekerja dengan baik, maka dapat memaksimalkan membantu aspek kognitif dalam menilai konten Belshaw itu sendiri menyimpulkan bahwa literasi digital sebagai pengetahuan dan kecakapan seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan media digital. Mulai dari menggunakan jaringan alat komunikasi hingga bagaimana menemukan evaluasi. 7. Literasi Digital Menurut Mayes dan Fowler


Menurut Mayes dan Fowler ada prinsip dalam mengembangkan literasi digital secara berjenjang. Pertama kompetensi digital yang menekankan pada keterampilan, pendekatan, perilaku dan konsep. Selain itu juga ada penggunaan digital itu sendiri yang memfokuskan pada pengaplikasian kompetensi digital. Terakhir, adannya transformasi digital yang tentu saja membutuhkan yang namannya inovasi dan kreativitas, sebagai unsur penting dalam digitalisasi. Gambar 2.6 Keindahan alam di Lokasi penelitian 2.2 Media Sosial Menurut Nasrullah, 2015, Media sosial adalah media di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain membentuk ikatan sosial secara virtua Hermawan Kartajaya, menyarankan konsep 5A ini merupakan suatu pendekatan dalam memahami dan melayani konsumen dengan baik dimedia sosial : 1. Awareness: Tahap ini adalah ketika pelanggan sadar akan kehadiran produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini bisa dicapai melalui berbagai cara, seperti iklan, promosi, testimoni, atau rekomendasi.


2. Appeal: Tahap ini adalah ketika pelanggan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan informasi yang menarik, relevan, dan bermanfaat bagi pelanggan, seperti fitur, manfaat, harga, atau kualitas. 3. Ask: Tahap ini adalah ketika pelanggan mulai bertanya atau mencari informasi lebih detail tentang produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan layanan pelanggan yang responsif, ramah, dan profesional, serta menyediakan saluran komunikasi yang mudah dan nyaman bagi pelanggan. 4. Act: Tahap ini adalah ketika pelanggan memutuskan untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan. Hal ini bisa dicapai dengan memberikan kemudahan dan keamanan dalam proses. 5. Advocate: Tahap ini adalah ketika pelanggan merasa puas dan loyal terhadap produk atau jasa yang ditawarkan, serta merekomendasikannya kepada orang lain. 2.3 Komunikasi Kelompok Menurut Nurudin 2005, Komunikasi Sebagai proses sosial menunjukan perannya ketika membangun hubungan dan saling mempengaruhi antara manusia di tengah Masyarakat Membangun komunikasi yang baik di media sosial akan membantu Anda menjaga hubungan yang positif, mempromosikan interaksi. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda ambil: 1. Pertimbangkan Isi dan Konteks: Sebelum Anda berbagi atau mengomentari sesuatu, pastikan Anda memahami konteksnya secara keseluruhan. 2. Berbagi Informasi Bermakna: Berbagi konten yang bermanfaat, informatif, atau menghibur. 3. Pantau dan Kelola Komentar: Jika Anda memiliki akun yang memiliki banyak pengikut atau interaksi, pastikan untuk memantau komentar


dengan seksama. Hapus atau tanggapi dengan bijak komentar yang tidak sesuai atau merugikan. 4. Minta Masukan dan Dengarkan Umpan Balik: Jangan ragu untuk meminta masukan dari pengikut atau teman, agar konten saudara menjadi semakin berkembang. Gambar 2.7 Keindahan alam di Lokasi penelitian Anwar Arifin (1984) berpendapat bahwa komunikasi kelompok merupakan salah satu jenis komunikasi yang terjadi dari beberapa individu dalam suatu kelompok seperti kegiatan rapat, pertemuan, konferensi, dan kegiatan lainnya Membangun komunikasi yang baik dalam kelompok akan berdampak sebagai berikut : 1. Produktivitas: Komunikasi yang baik memastikan bahwa anggota kelompok memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan, tanggung jawab, dan progres proyek. 2. Hubungan Antaranggota yang Positif: Komunikasi yang terbuka, jujur, dan penuh pengertian membangun hubungan yang baik antara anggota kelompok. 3. Kesuksesan Proyek atau Tujuan Bersama: Dengan komunikasi yang baik, anggota kelompok dapat berkolaborasi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.


BAB III Kondisi Eksisting KeTiga Desa 3.1 Desa Namo Sialang Desa Namo Sialang merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Batang Serangan,Kabupaten Langkat, provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Desa ini berbatasan langsung dengan NAD Taman Nasional Gunung Leuser, Ekowisata Tangkahan adalah merupakan objek wisata desa ini. Desa ini dibelah oleh Sungai Batang Serangan, hulunya sungai ini adalah di Provinsi NAD dan hilir bermuara langsung ke Selat Malaka di Tanjung Pura. Kepala Desa : Rasliadi Sekretaris Desa : Duga Pinem Perangkat Desa : 1. Nama : Anjar Aris Munandar Jabatan : Kaur Keuangan 2. Nama : Majelis Ginting Jabatan : Kaur Pemerintahan 3. Nama : Iqbal Jani Sembiring Jabatan : Perencanaan 4. Nama : Asniyar Jabatan : Operator 5. Nama : Mina Junianta Sembiring Jabatan : Kaur Tata Usaha Jumlah Penduduk : - Laki - Laki : 3.121 Jiwa - Perempuan : 3.316 Jiwa Jumlah Kepala Keluarga : 1.184 KK


Dan Desa Namo Sialang terdiri atas 18 Dusun. Gambar 3.1 Kantor Kepala Desa Namo Sialang Desa ini memiliki beberapa UMKM seperti : • Kuliner (gula merah dari pohon aren) • Anyaman tikar • Pembuatan cincin dan gelang dari akar pohon • Obat Tradisioanal Karo • Makanan khas daerah setempat


Gambar 3.2 UMKM desa Namo Sialang Dan untuk Pendapatan UMKM per harinya yang ada di desa Namo Sialang adalah : Rp. 70.000 - 100.000. dan ini merupakan angka yang lumayan tetapi seharus nya bisa lebih tinggi jika promosi daerah ini bisa lebih genjar dan terjadi penguatan pada literasi Digital Media Sosial dan komunikasi kelompok UMKM Wisata Desa Namo Sialang juga memiliki destinasi ekowisata yakni : • Pemandian Tangkahan • Kawasan Konservasi Gajah • Kawasan Konservasi Flora dan Fauna lainnya • Camping Ground Untuk mendukung kegiatan Wisata Masyarakat setempat sudah membentuk : • UMKM Wisata • Team Ranger • Koperasi Wisata • Lembaga Pelatihan Bahasa Inggris


Gambar 3.3 FGD di Desa Namo Sialang 3.2 Desa Sei Musam Desan Sei Musam merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Di desa ini terdapat dua potensi wisata yang sedang di kembangkan, yaitu air panas di dusun sei glugur dan batu rongring di dusun penampean. Kepala Desa : Bahagia Ginting Sekretaris Desa : Roni Pianata Sembiring Perangkat Desa : 1. Nama : Eimaninianta Br bangun Jabatan : Kaur Keuangan


Gambar 3.4 Kantor Kepala Desa Sei Musam UMKM di sekitar Desa Sei Musam : • Makanan (Ayam Penyet, Bakso) • Counter Hp Pendapatan UMKM per Hari : Rp. 100.000 - 200.000 Kearifan Lokal : 1. Pahatan/ Ukiran Kayu 2. Gantungan Kunci Pariwisata : • Sungai Gelugur • Air Terjun • Pemandian air panas • Goa Kalong


Gambar 3.5 FGD di Desa Sei Musam Pemasaran Ekowisata dan kearifan lokal melalui media sosial : Layanan Pariwisata Desa masih belum ada support untuk infrastruktur jadi masih terkendala dalam pariwisata. Tetapi dalam destinasi wisata pengelola tempat tersebut memberikan tour guide yang berpengalaman Pengembangan kondisi lapangan adalah wisatawan datang sebanyak - banyaknya agar tingkat ekonomi desa bisa juga meningkat melalui UMKM Di dearah. Tetapi dalam ekowisata masih kurangnya branding di instagram dan Facebook, dan wisata juga berkurang semenjak konflik dengan satwa liar seperti harimau.


Gambar 3.6 Wisata Pemandian Air Panas Ini merupakan salah satu Pemandian Air Panas yang ada di desa Sei Musam, bahkan semakin panasnya ular sampai mati melepuh kerena panasnya air tersebut. Tetapi untuk mencapai tempat tersebut butuh perjuangan jalan kedalam menyisirin hutan dan sungai yang ada di Desa Sei Musam.


3.1 Desa Sei Serdang Desa Sei Serdang merupakan salah satu desa ada di kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Probinsi Sumatra Utara, Indonesia. Di desa sei serdang lebih menganut ke budaya adat jawa. Gambar 3.7 Kantor Kepala Desa Sei Serdang Kepala Desa : Perganinta Sekretaris Desa : Edwiniyah Hasibuan Perangkat Desa : Nama : Dewi Ratna Sari Jabatan : Kasi Pemerintahan Jumlah Penduduk : 4.972 Jiwa Jumlah Kepala Keluarga : 1.600 KK Dusun : 12 UMKM di sekitar Desa Sei Serdang : • Toko Kelontong • Pembuatan Gula Merah • Kuliner / Rumah Makan Pendapatan UMKM per Hari : Rp. 500.000


Pariwisata : • Pengamatan Gajah Liar • Seni Budaya Pertunjukan Kuda Kepang Gambar 3.8 FGD di Desa Sei Serdang


DAFTAR PUSTAKA Gilster, Paul. 1997, Digital Literacy. New York: John Wiley and Sons. Inc Nasrullah, Rulli. 2015. Media Sosial ;Prespektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung : Simbiosa Rekatama Media Nurudin ,2005, Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Hague, & Payton. 2010. Digital literacy across the curriculum a Futurelab handbook. Arifin, Anwar., 1984. Strategi Komunikasi Sebuah Pengantar Ringkas. Bandung: Armico. Hermawan Kartajaya,2005,Marketing in Venus, MarkPlus, Inc.


Click to View FlipBook Version