Kesetaraan Suami dan Istri dalam Perkawinan Katolik: Agustinus Gereda Konflik, pertengkaran, dan perkelahian dalam rumah tangga (suami-istri) dapat menyebabkan terjadinya kekerasan, baik verbal maupun fisik. Salah satu pemicunya, karena pasangan menganggap dirinya lebih tinggi, dan yang lain lebih rendah. Dari sini muncullah masalah ketidaksetaraan. Banyak kebudayaan memosisikan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Tugas rumah tangga, seperti mencuci, memasak bukanlah tanggung jawab suami melainkan istri. Untuk mengembalikan masalah ini, kita perlu memiliki konsep yang jelas tentang kesetaraan, termasuk kesetaraan dalam kehidupan perkawinan. Tradisi Katolik memandang kesetaraan suami dan istri sebagai aspek penting dalam kehidupan perkawinan, yang berpusat pada kasih, penghormatan, dan pengorbanan. Meskipun ada perbedaan peran yang diakui, keduanya dipanggil untuk saling melengkapi dan membantu satu sama lain dalam perjalanan menuju keselamatan. Melalui penghargaan terhadap kesetaraan, keluarga Katolik diharapkan dapat menjadi tempat kasih Kristus tercermin secara nyata dalam hubungan suami istri. Berikut, pandangan tentang kesetaraan suami dan istri dalam tradisi Katolik, sebagaimana hal ini tercermin dalam Kitab Suci, ajaran Yesus, dan tradisi Gereja Katolik. KESETARAAN SUAMI DAN ISTRI DALAM TRADISI KATOLIK Dasar Teologis Dalam tradisi Katolik, kesetaraan suami dan istri berasal dari keyakinan bahwa keduanya diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang sama dalam martabat dan kehormatan (Kej 1:27). Keduanya dipanggil untuk saling melengkapi dan membantu satu sama lain dalam mencapai keselamatan. Ajaran Yesus Yesus Kristus menegaskan kesetaraan antara suami dan istri dalam hubungan perkawinan. Dalam Injil (Mat 19:4-6, Yesus merujuk kepada ayat-ayat Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa suami dan istri menjadi satu daging dan bahwa perkawinan tidak boleh dipisahkan. Pandangan Rasul Paulus Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Ef 5:21-33) menekankan hubungan antara suami dan istri yang seharusnya mencerminkan hubungan Kristus dengan gereja. Meskipun Paulus menegaskan otoritas suami dalam keluarga, ia juga menyerukan kasih yang tak terbatas dan pengorbanan yang saling menyelaraskan. Pandangan Gereja Katolik Gereja Katolik mengajarkan bahwa kesetaraan antara suami dan istri bukanlah kesetaraan dalam segala hal, tetapi merupakan kesetaraan dalam martabat, tanggung jawab, dan hak. Gereja menekankan pentingnya menghormati dan menghargai peran unik masing-masing dalam keluarga, sambil mengutamakan kasih dan pengorbanan.
PRINSIP KESETARAAN DALAM KELUARGA KATOLIK Kesetaraan Martabat Suami dan istri memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah. Mereka dihargai sebagai individu yang unik dan berharga di hadapan Tuhan. Kesetaraan martabat antara suami dan istri dalam tradisi Katolik mengacu pada keyakinan bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang berharga dan memiliki martabat yang sama di hadapan-Nya. Ini berarti bahwa baik suami maupun istri memiliki nilai yang sama di mata Tuhan, tanpa memandang perbedaan jenis kelamin atau peran yang dimainkan dalam keluarga. Kesetaraan martabat antara suami dan istri dalam keluarga Katolik menuntut agar keduanya diperlakukan dengan hormat, dihargai, dan diakui nilai serta kontribusinya dalam kehidupan perkawinan dan keluarga. Ini berarti bahwa tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi dalam hierarki keluarga. Keduanya dianggap setara dalam martabat sebagai anak-anak Allah. Kesetaraan martabat ini dinyatakan dalam beberapa kutipan Kitab Suci, sebagai berikut. Kej 1:27 "Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Manusia, baik laki-laki maupun perempuan, diciptakan menurut gambar Allah. Hal ini menegaskan bahwa martabat manusia tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu, tetapi bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Gal 3:28 "Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani; tidak ada lagi orang yang berhamba atau yang merdeka; tidak ada lagi laki-laki atau perempuan. Karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus." Dalam Kristus, tidak ada lagi perbedaan status atau jenis kelamin yang dapat mengurangi martabat seseorang di hadapan Tuhan. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki nilai yang sama dalam Kristus. Kesetaraan Tanggung Jawab Meskipun ada perbedaan peran yang diakui dalam keluarga, tanggung jawab untuk saling mendukung, menghormati, dan memperlakukan dengan kasih adalah tanggung jawab yang sama bagi suami dan istri. Kesetaraan tanggung jawab antara suami dan istri dalam tradisi Katolik mengacu pada prinsip bahwa keduanya memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun dan memelihara kehidupan perkawinan dan keluarga. Ini berarti bahwa baik suami maupun istri memiliki peran aktif dalam mendukung, menghormati, dan memperlakukan satu sama lain dengan kasih dalam berbagai aspek kehidupan perkawinan.
Beberapa kutipan Kitab Suci juga mendukung konsep kesetaraan tanggung jawab ini: Ef 5:21 "Hendaklah kamu saling menyerahkan dirimu kepada seorang yang lain dalam takut akan Kristus." Ayat ini menekankan pentingnya saling menghormati dan saling mendukung antara suami dan istri dalam hubungan perkawinan. Keduanya dipanggil untuk bekerja sama dalam kasih dan kerendahan hati, sebagai respons terhadap kasih yang Kristus tunjukkan kepada umat-Nya. Ef 5:25 "Hai suami, kasihilah isterimu, sama seperti Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya untuk jemaat itu." Dalam ayat ini, suami dipanggil untuk mengasihi istrinya dengan cara yang sama seperti Kristus mengasihi jemaatNya, yakni dengan pengorbanan dan dedikasi yang tak terbatas. 1Kor 7:3-4 "Suami hendaklah memberikan haknya kepada isterinya dan isteri juga hendaklah berbuat demikian terhadap suaminya." Kutipan ini menekankan bahwa dalam perkawinan, kedua belah pihak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan perhatian satu sama lain. Kesetaraan tanggung jawab antara suami dan istri dalam keluarga Katolik mengimplikasikan bahwa keduanya harus bekerja sama untuk mengatasi tantangan, mengambil keputusan bersama, dan bertanggung jawab atas keberhasilan dan kegagalan dalam kehidupan perkawinan dan keluarga. Ini juga berarti bahwa tidak ada yang lebih berhak atau lebih bertanggung jawab daripada yang lain, tetapi keduanya memiliki bagian yang sama dalam membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan. Kesetaraan Hak Kesetaraan hak antara suami dan istri dalam tradisi Katolik mengacu pada prinsip bahwa keduanya memiliki hak yang sama untuk dihormati, didengar, dan diperlakukan dengan adil dalam kehidupan perkawinan dan keluarga. Ini berarti, suami dan istri memiliki hak yang sama dalam mengungkapkan pendapat, mengambil keputusan, serta mendapatkan perlakuan yang adil, dan menghormati pasangannya. Beberapa kutipan Kitab Suci yang mendukung konsep kesetaraan hak ini adalah sebagai berikut: 1Kor 7:3-4 "Suami hendaklah memberikan haknya kepada isterinya dan isteri juga hendaklah berbuat demikian terhadap suaminya." Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk menerima kasih sayang, perhatian, dan penghargaan dari pasangannya. Hal ini berarti bahwa dalam perkawinan, hak-hak kedua belah pihak harus diakui dan dihormati secara setara.
Ef 5:21 "Hendaklah kamu saling menyerahkan dirimu kepada seorang yang lain dalam takut akan Kristus." Ayat ini menekankan pentingnya saling menghormati dan saling mendukung antara suami dan istri dalam hubungan perkawinan. Hal ini berarti, kedua belah pihak memiliki hak yang sama untuk saling mendukung, menghormati, dan mengasihi dalam hubungan perkawinan. Kol 3:19-20 "Hai suami, kasihilah isterimu dan janganlah kamu kasar kepadanya. Hai isteri, taatilah suamimu." Ayat ini menekankan pentingnya menghormati dan mengasihi satu sama lain dalam hubungan suami istri. Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk menerima perlakuan yang baik dan mengasihi pasangannya. Kesetaraan hak antara suami dan istri dalam keluarga Katolik menuntut agar hakhak dan kebutuhan kedua belah pihak diakui dan dipenuhi dengan adil dan setara. Hal ini berarti, tidak ada yang lebih berhak daripada yang lain dalam hubungan perkawinan. Suami dan istri memiliki hak yang sama untuk dihormati, didengar, dan dihargai oleh pasangannya. Kesetaraan dalam Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan antara suami dan istri dalam tradisi Katolik mengacu pada prinsip bahwa kedua belah pihak memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengambil keputusan yang penting dan memengaruhi kehidupan perkawinan dan keluarga. Ini berarti, keputusan-keputusan besar yang memengaruhi kedua belah pihak harus dibuat secara bersama-sama, dengan mengutamakan konsultasi, kesepakatan, dan doa bersama. Berikut adalah beberapa kutipan Kitab Suci yang mendukung konsep kesetaraan dalam pengambilan keputusan. Yak 1:5 "Jika ada di antara kamu yang kurang bijaksana, hendaklah ia meminta Allah yang memberi kepada semua orang dengan murah hati dan tanpa menghina, maka akan diberikan kepadanya." Ayat ini menekankan pentingnya mencari hikmat dan petunjuk dari Tuhan dalam mengambil keputusan. Dalam konteks perkawinan, suami dan istri didorong untuk mencari bimbingan dari Tuhan secara bersama-sama dalam mengambil keputusan yang penting. Ef 5:21 "Hendaklah kamu saling menyerahkan dirimu kepada seorang yang lain dalam takut akan Kristus." Ayat ini menekankan pentingnya saling menghormati dan saling mendukung antara suami dan istri dalam hubungan perkawinan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengambil keputusan yang memengaruhi hubungan mereka. Rom 12:16 "Hiduplah berdamai satu dengan lainnya; janganlah hidup dengan angkuh tetapi turunlah kepada orang-orang yang rendah hati." Ayat ini menekankan pentingnya hidup dalam damai dan kesepakatan dalam hubungan antarmanusia. Dalam konteks
perkawinan, suami dan istri diharapkan untuk hidup dalam kesepakatan dan saling pengertian dalam mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka bersama. Kesetaraan dalam pengambilan keputusan antara suami dan istri dalam keluarga Katolik menuntut agar kedua belah pihak terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan, dengan mengutamakan konsultasi, dialog, dan kesepakatan bersama. Ini berarti bahwa tidak ada keputusan besar yang diambil oleh salah satu pihak tanpa pertimbangan dan persetujuan dari pasangan mereka. Penutup Dalam perkawinan Katolik, kesetaraan itu meliputi martabat, tanggung jawab, hak, dan pengambilan keputusan. Dengan pemahaman mendalam tentang konsep kesetaraan, keluarga Katolik dapat menciptakan lingkungan dalam hal-hal berikut. 1) Setiap anggota keluarga dihargai dan diakui, sehingga kasih Kristus dapat tercermin dalam hubungan antarsesama. 2) Kolaborasi, komunikasi, dan saling pengertian menjadi kunci untuk membangun hubungan yang kokoh dan harmonis. 3) Kedua belah pihak merasa dihormati dan diakui dalam hubungan mereka, sehingga kasih Kristus dapat tercermin dengan jelas dalam interaksi dan perlakuan antara suami dan istri. 4) Kedua belah pihak merasa didengar, dihargai, dan terlibat dalam pembuatan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka bersama. Jika semuanya itu tercipta, kasih Kristus dapat tercermin dalam hubungan suami istri, di mana saling menghormati dan saling mendukung menjadi kunci dalam membangun keluarga yang kokoh dan harmonis. Hal ini berarti kesetaraan suami dan istri dalam perkawinan Katolik terwujud melalui menghormati, mendukung, dan membangun bersama dalam kasih Kristus.