CERITA PENDEK
Menggapai
Cita-cita
Nuri adalah seorang remaja berusia 11 tahun yang mempunyai
cita-cita yang sangat tinggi
EFFENDI , S.TH.I, S.PD.I
Sekapur Sirih
Pujisyukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt.. Atas rahmat
dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan buku bacaan ini.
Buku fiksi yang berjudul "Menggapai Cita-cita" ini ditujukan
kepada siswa SD, khususnya kelas 4, 5, dan 6. Tokoh utamanya
adalah “Nuri”, seorang siswa kelas 6 SD. Latar cerita ini di
Surabaya, Jawa Timur.
Buku ini terdiri atas beberapa bagian cerita yang saling terkait.
Cerita di dalam buku ini menggambarkan pengalaman hidup
sehari-hari sang tokoh utama yang menggambarkan kegigihan,
kemandirian, kerja keras, cinta lingkungan, saling menghargai,
toleransi, dan kerja sama.
Bacaan ini mengajarkan pendidikan karakter, membudayakan
gerakan literasi, dan pembiasaan kecakapan abad 21 yang wajib
dimiliki oleh siswa untuk menjadi generasi emas Indonesia.
Harapan penulis, semoga buku ini memberikan manfaat bagi
pembaca, khususnya siswa SD di seluruh Indonesia. Selamat
Membaca.
Surabaya, Oktober 2021
Effendi, S.Th.I. S.Pd
Menjadi anak yang berbakti
kepada orang tua adalah
penting.
Menjadi anak yang mandiri juga
sangatlah penting.
Itu akan mengantarkan kalian
menjadi anak yang sukses.
Cerita di Pagi Hari
Dipagi hari yang cerah Nuri membuka pintu jendela
rumahnya, ia melihat beberapa burung yang sedang
berkicau ,
ia pun termenung dan berpikir bagaimana nasibnya masa depan
nanti “apakah aku nantinya bisa menjadi orang yang sukses”
tanyanya dalam hati , dan aku ingin membahagiakan kedua
orang tuaku dengan kerja kerasku sendiri.
Tiba-tiba ibunya memanggil, Nuri...? iya Bu...! kenapa kamu
termenung Nak , ada apa...,tidak ada apa-apa Bu, kalau begitu
kamu bisa bantu Ibu.
Setelah membantu Ibunya Nuri termenung kembali untuk
kedua kalinya “Pokoknya aku harus menjadi orang yang sukses”
katanya dalam hati. Matahari mulai terbit, jam sudah
menunjukkan pukul 07:00 wib. Nuri mulai menyandangkan tas
dan memakai sepatu dengan terburu-buru untuk pergi
kesekolah dan ia pamit kepada kedua orang tuanya sambil
mencium tangan Ibu dan Bapaknya.
ia Dalam perjalanan ia bertemu dengan temannya, lalu ia
bertanya kepada temannya yang bernama Edo,
Nuri : “Do apakah kamu memiliki cita-cita ?”
Edo : Ya saya memiliki cita-cita yaitu ingin menjadi pengusaha
yang hebat, ”kalau cita-citamu ingin menjadi apa”,
kalau aku ingin menjadi.....!!!
Nuri pun terdiam dan tersenyum’ , Kok...! kamu diam saja Nur...!!
Ooo gak apa-apa Do” jadi, cita-citamu ingin menjadi apa “kalau
aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, begitu ya...?.
Nuri terus berjalan dengan kebinggungan. Sampai disekolah Nuri
merasa ada yang kurang karena tiada sahabatnya yang datang
Bel masuk pun telah dibunyikan, semua siswa berbaris
dilapangan untuk mendengarkan informasi yang disampaikan
oleh guru pada setiap paginya. Setelah berbaris , Nuri masuk
kekelasnya. Didalam kelas tiba-tiba temanya memanggil
“Nur...Nur...!!! siap pr matematika..? Ooo... Pr matematika, kalau
aku sudah siap “Kalau kamu “ kalo aku....sih belum siap. ”Nur
bolehkah aku pinjam buku matematikamu” Tanya Edo.Boleh sih,
tapi....? ada syaratnya “apaan tu!! ”.Syaratnya mudah kok kamu
harus menjawab pertanyaanku, yang pertanyaan nya “apakah
kamu memiliki cita-cita”, ya aku memiliki cita-cita ingin menjadi
Dokter (kata No).
”Kenapa kamu ingin menjadi dokter!!”Tanya Nuri, yak arena
aku ingin menolong orang-orang yang sakit dikampungku
“Emang nya dikampungmu diserang wabah penyakit apa...??”
.Wabah penyakit Corona (Covid 19), saat ini banyak orang-orang
yang sakit belum terobati “ kalo begitu harus cepat-cepat
dicegah wabah penyakitnya”. Iya sih tapi...? belum ada solusinya
,saya pun ikut perihatin atas musibah yang menimpa
kampungmu. Terlalu asyiknya berbicara, guru pun masuk
kedalam kelas, masing-masing siswa kembali kebangkunya.
Belajar mengajar pun dimulai, asyik-asyiknya belajar, bel pun
berbunyi kini saatnya jam istirahat.
Pada saat istirahat Nuri membawa teman-temannya untuk
pergi ke kantin dengan bersama-sama. Sampainya dikantin Nuri
merasa kehilangan uang, lalu ia berkata kepada temannya “Rere
uangku hilang” lalu bagaimana kata Rere. “Begini saja sebaiknya
kamu Nur pakai saja uang ku untuk jajan” kata Rere
“terimakasih Re kamu telah menolongku , nanti kalau aku ada
uang akan ku ganti uang mu” kata Nuri. Nggak usah Nur aku
ikhlas kok menolongmu. “Terimakasih ya...! Re ”kata Nuri.
Bel masuk telah berbunyi, Nuri dan teman-temannya masuk
ke kelas untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.
Waktu pun telah berlalu, saat nya waktu pulang sekolah.
Nuri tidak lupa akan tugas piketnya, pada saat membersihkan
kelas ia melihat seekor burung kecil yang berusaha untuk bisa
terbang walau pun ia masih kecil , seperti itulah hidupku yang
ingin meraih cita-citaku agar aku menjadi orang yang sukses
tanyanya dalam hati. Waktu pulang sekolah ia teringat sesuatu
dipikiranya yaitu, setelah pulang nanti ia harus menolong Ibunya
dalam pekerjaan rumah ,karena membantu Ibu itu adalah tugas
nya sehari-hari. Tiba dirumah Ia meletakkan sepatu dan tasnya
pada tempatnya.
“Assalammualaikum” ‘Bu...??, sambil mencium tangan
Ibunya, “waalaikumsalam” jawab Ibu. “Bu bolehkah aku
bertanya kepada Ibu” Tanya Nuri, boleh mau tanya tentang apa.
Begini Bu apakah Ibu memiliki cita-cita..? ya ibu memiliki cita-
cita ingin menjadi guru , tetapi sekarang Ibu sudah tua , udah
nggak punya kekuatan dan Ibu sekarang hanya bisa berharap
kepada anak-anak Ibu agar bisa terwujud cita-citanya. Maka dari
itu kamu harus rajin rajin belajar ,sholat dan berdo’a kepada
Allah swt dan janganlah kamu mundur dalam menuntut ilmu.
Insyak Allah, Bu akan Nuri pegang kata-kata Ibu tadi.
Demi ingin terwujudnyaa cita-citanya dan kebahagiaan
kedua orang tuanya. Kini saat nya Ia menunjukkan
kemampuannya dalam belajar. Dengan kata-kata yang
dilontarkan Ibunya tadi Nuri menjadi semangat untuk
melakukan apa yang dikatakan Ibunya. Cita-cita Nuri ingin
menjadi seorang guru yang bijaksana dan ramah kepada
muridnya ,demi cita-citanya ia pun menggalami banyak
perubahan dan menjadi aktif dalam belajar. Dengan demikian ia
selalu giat belajar, berdo’a,dan berusaha karena tanpa do’a dan
berusaha tidak akan terwujudnya suatu cita-cita seseorang.
Maka dari itu raihlah cita-citamu setinggi langit dengan berdo’a
dan kerja keras.
“Gantungkanlah Cita-citamu
setinggi langit, Bermimpilah
setinggi langit. Jika engkau jatuh,
engkau akan jatuh diantara
bintang-bintang.”
Sekolahku di rumah
D Di rumah ku sekolah' mungkin hal itu yang terpikirkan
saat ini, saat dimana sekolah dilakukan dari jarak jauh
tanpa bertatap muka, bertemu guru dan teman hanya
melalui layar ponsel atau laptop.
Hari itu aku merasa benar benar sedih dan bertanya Tanya,
mengapa hal ini terjadi, mengapa aku tidak bisa belajar di
sekolah, bahkan aku mengira bahwa ini hanya sementara tetapi
aku menyadari bahwa hal tersebut terjadi hampir setahun. Aku
seorang murid kelas 6 SD, yang memiliki keinginan bersekolah
offline (luring), teman teman yang lain pasti begitu, tetapi
dengan situasi dan kondisi yang ada, kita tidak ditakdirkan
untuk bertemu sementara waktu. Aku jelas merasa sedih
bahkan saat mengikuti pelajaran melalui daring aku pun merasa
tidak sebahagia saat mengikuti pelajaran di sekolah, pasti kau
juga kan? Ya, aku yakin begitu.
Aku seorang anak dari keluarga sederhana yang hidup apa
adanya, saat sekolah dilakukan melalui daring aku merasa
sudah menyusahkan orang tuaku, karena orang tuaku harus
menyisihkan uangnya untuk membeli paket internet.
Ya, ayahku beliau yang bekerja banting tulang untuk
keluarga, dia seorang buruh yang hanya masuk kerja satu bulan
13 hari dengan begitu gaji yang didapat pun tidak seberapa,
bahkan bisa dibilang kurang untuk kehidupan selama satu
bulan, ibuku hanya ibu rumah tangga, dan aku memiliki 1 adik
yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Sehingga ayahku
memiliki tanggungan untuk menyekolahkan kedua anaknya.
"Yah, paketanku habis. Besok aku ada kelas dan adik juga ada
kelas, bagaimana yah? Apa ayah ada uang?" Ucapku pelan,
bahkan aku tidak berani untuk mengatakannya tetapi, aku
sangat butuh hari itu. "Besok ya? Ayah masih belum ada uang
hari ini, tetapi ayah usahakan besok ada uang untuk beli
paketan" ucapnya. Ada perasaan sedih di matanya. Ayah selalu
mengatakan bahwa ia belum bisa menjadih ayah yang baik bagi
kedua anaknya, tetapi bagi kami ayahku adalah ayah yang
terbaik, jika ayah mengatakan hal itu aku selalu menggodanya
"Kalau ada penghargaan ayah terbaik, pasti ayah menang tanpa
melakukan apapun, kampanye kalau istilah politiknya." Jika aku
mengatakan itu, ayah selalu tersenyum tetapi matanya tetap
mengeluarkan air mata.
Hingga saat menteri pendidikan mengeluarkan pengumuman
bahwa 'Pembelajaran dari rumah diperpanjang hingga akhir
2021.' Kami sekeluarga jelas dibuat bingung dengan keputusan
yang dikeluarkan, kami juga bingung bagaimana untuk
mengatur keuangan di saat pengeluaran lebih banyak dari
pendapatan, saat aku melihat ayah dan ibuku aku melihat
segunung kebingungan di mata mereka. Meskipun begitu, ayah
selalu mengatakan bahwa ia mampu untuk membiayai sekolah
dari rumah untukku dan adikku. Oleh karena itu, aku juga
semangat untuk bersekolah meskipun sekolah dari rumah, saat
sekolah daring tidak banyak pelajaran yang dapat ku pahami
dengan cepat dan baik, kadang aku merasa bingung dengan
tugas yang diberikan, bahkan ibuku juga kesusahan saat
membantu tugas adikku. Tugas setiap hari, semakin banyak
mata pelajaran yang tidak dapat ku pahami dengan baik, sampai
sampai aku sering menyalahkan keadaan, aku tahu bahwa
semua ini sudah ada yang mengatur dan diatur dengan baik.
Tetapi... Bagaimana ya? Aku juga seorang manusia jadi, sedikit
wajar manusia ini berpikir begitu hehehe... "Ah, lelah sekali.
Lebih enak sekolah offline sajalah." ucapku setiap mendapatkan
tugas sekolah yang sulit dipahami. Namun, ibu selalu
mengatakan "Tidak apa apa, lelah adalah hal biasa.
Tapi bagaimana caranya untuk maju dan tidak menyesal
karena kau lelah." Ketika ibu sudah mengatakan hal itu, aku
terdiam dan berpikir, apakah aku bisa melanjutkannya? apa aku
harus menyerah? Namun, di sisi lain ada semangat yang tumbuh
saat ibu mengatakan hal itu, "Aku harus melanjutkannya, ada
keluarga yang harus ku bahagiakan, kau mendapatkan apa jika
kau menyerah?" sebuah kata yang selalu ku tanyakan kepada
diriku saat aku merasa lelah dan hampir menyerah. Hujan deras
turun, membuat sendu malam hariku, ayahku yang pulang larut
malam dengan raut wajah sedih, sesampainya di rumah ibu
langsung bertanya, "Mas, ada apa? Mengapa terlihat sedih
sekali?" "Iya yah, ada apa? tidak biasanya ayah seperti ini."
sahutku yang juga mengkhawatirkan keadaan ayah. "Tidak apa-
apa ayah hanya mendapat kabar sedih." jawab ayah dengan lirih.
Sontak aku beserta ibuku kaget dan bertanya-tanya ada apa, ada
kabar sedih apa, semuanya bingung. Hingga ayah melanjutkan
ceritanya "Ayah, dirumahkan." Tidak butuh waktu lama, aku dan
ibuku kaget dan saling menatap seolah tak percaya hal ini
terjadi, namun saat kami melihat ayah kamu melihat segudang
kesedihan di matanya, raut wajahnya sangat menggambarkan
betapa sedihnya dia dengan dirinya.
"Maafkan Ayah..." ucapnya dengan mata yang berkaca kaca.
Ibu sudah meneteskan air matanya dan tidak kuat untuk
berbicara lagi, "Ayah, tidak apa. Masih ada rezeki yang lain,
besok kita cari lagi." ucapku. Sepatah kata dariku membuat
semua orang pecah dengan tangisnya, aku pun begitu. Tangis
kami pecah beradu dengan kecewa, bingung, marah semua
bercampur dengan hujan deras yang turun malam ini. Pagi hari,
seperti biasa aku dan adikku sudah mandi dan memulai untuk
pembelajaran daring, hari ini aku melihat ayah untuk pertama
kali di rumah satu hari lamanya, biasanya saat aku memulai
pembelajaran ayah pun berangkat kerja. Namun, semuanya
berubah mulai kemarin malam, oke semuanya bersiap untuk
hari yang baru, ayah pun bergegas untuk mencari kerja yang lain
walaupun ia tahu bahwa sulit sekali mencari kerja di tengah
keadaan seperti ini, tetapi ayahku ayah yang luar biasa, ia
pantang menyerah dan aku pun harus menjadi seperti itu. Saat
pembelajaran, aku menemukan banyak sekali kesulitan, sinyal
dari Internet di ponselku tidak terbaca. Oleh karena itu, aku
beserta ibu dan adikku pergi ke rumah tetangga untuk
menumpang internet (Wi-Fi), untung saja tetanggaku baik hati
sehingga ia memperbolehkan aku dan adikku untuk bersekolah
dari rumahnya.
Namun, hal itu terjadi sangat sering, aku merasa tidak
enak namun, ayah pun masih belum mendapat pekerjaan,
sesusah itu mencari pekerjaan dan sesusah itu pembelajaran
daring dari rumah. Malam datang kembali, sedih datang kembali.
Pertanyaan waktu itu datang menghantui, "Apa aku harus
menyerah?" Itu dia pertanyaan yang akhir akhir ini sering saja
muncul di pikiran, apalagi saat ayah dirumahkan oleh
perusahaannya. Aku merasa aku menambah beban ayah, aku
berpikir bahwa lebih baik aku berhenti sekolah agar ayah hanya
membiayai adik sekolah, aku akan mencari pekerjaan untuk
menambah biaya hidup keluarga dan aku bisa mengambil kejar
paket untuk lulusan SD ku. Namun, kembali lagi jawaban muncul
dari diriku "Ada keluarga yang harus ku bahagiakan." Hal itu
kembali memberikan semangat, dengan itu aku mulai bangkit
sedikit demi sedikit, aku yakin bahwa hari esok sudah disiapkan
dengan baik. Jika aku menyerah hari ini, apakah hari esok lebih
baik? Bagaimana jika hari ini, penentu hari esok? Kalau begitu
aku akan menjalani hari ini dengan baik dengan begitu hari
esokku mungkin bisa lebih baik.
Esok pun datang, seperti biasa aku dan adikku memulai
hari dengan pembelajaran daring, tugas sudah diberikan, tugas
yang diberikan sangatlah membingungkan guruku tidak
menerangkan dan langsung memberikan pertanyaan, secara
tidak langsung aku berpikir "Apa ini? Tugas macam apa? Aku
tidak bisa." Kembali aku menjadi orang yang paling tersiksa,
itulah sisi jelek yang kumiliki, aku tidak bisa seoptimis ayahku
dan aku tahu itu. Hingga akhirnya aku bisa menjawab semua
soal yang diberikan guruku, aku tersadar bahwa aku sebenarnya
mampu, aku hanya tidak ingin mencoba dan keluar dari zona
nyaman. Aku hanya suka di tempat yang sudah jelas dan tidak
ingin mencari hal yang baru sehingga aku seringkali berpikir
untuk menyerah menyerah dan menyerah. Ayah pun pulang dan
ayah terlihat bahagia sekali, lalu ayah bercerita di ruang tamu
dengan suasana sore yang indah ditemani secangkir teh dan
pisang goreng menambah erat saja hubungan kami sebagai
keluarga.
"Ayah sudah mendapatkan pekerjaan, tetapi pekerjaannya
hanya supir truk, gajinya pun cukup untuk kehidupan kita."
"Syukurlah, ayah sudah dapat pekerjaan saja ibu sudah senang."
"Iya ayah, selamat ya. Aku tahu kalau ayah bisa
mendapatkannya, ayah kan hebat." Ucapku dengan nada
menggoda "Iya, ayahnya siapa dulu..." "Ayahnya, Lala dong."
Sahut Lala dari kamarnya. "Ayahnya, Nuri juga." Sahutku yang
tidak mau kalah dengan Lala. Sontak satu rumah tertawa
terbahak-bahak melihat aku dan adikku yang ramai
memperebutkan ayah. Hari itu adalah salah satu hari terbaik
dalam hidupku, ketika semuanya jatuh ada saatnya akan
bangun dan berlari. Hari demi hari dilalui oleh belajar belajar dan
belajar online, hingga di titik ini aku tidak pernah lagi berpikir
untuk menyerah, karena aku sudah melihat betapa tangguhnya
ayahku, aku ingin mencoba sepertinya. Aku melewati hari hari
sulit saat masa pandemi dengan belajar online di rumah, tapi hal
itu tidak membuatku jatuh hingga tak bangun lagi.
Aku sadar hal ini adalah sebuah tantangan untuk tetap
semangat meraih cita cita dalam keadaan apapun, ini masih
awal dan belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan yang
lain. Aku harap pandemi ini segera usai dan kita bisa bertemu
kembali di sekolah dengan keadaan sehat dan bahagia. Sama
sama kita meraih cita cita meskipun keadaanmu dengan
keadaanku berbeda. Cita cita bisa tercapai karena banyaknya
usaha dan doa yang dilakukan, aku yakin kalian pasti bisa
jangan menyerah, kalau menyerah sementara saja jangan lama
lama, banyak sekali lawanmu di luar sana yang lebih baik
darimu.
Bermimpilah dalam hidup,
jangan hidup dalam mimpi.