The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SELVIA ANDRIWULAN, 2021-11-21 19:40:25

KD. 3.8 "Meganalisis Ciri-ciri Historiografi Tradisional, Kolonial dan Modern"

menganasis ciri-ciri historiografi tradisional

Keywords: Historiaografi Tradisional

HISTORIOGRAFI
SEJARAH

"Menganalisis ciri-ciri Historiografi Tradisional"

_SELVIA ANDRIWULAN_
200210302068

"Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tak menulis, ia akan
hilang dalam masyarakat dan dari

sejarah"



_ Pramoedya Ananta Toer_

Selvia Andriwulan
Mahasiswa Semester 3

Pendidikan Sejarah
Universitas Jember
email : [email protected]
IG : selviandrwln_



Mata Kuliah

Media Pembelajaran Bidang Studi
KD. 3.8 "Menganalisis Ciri-ciri Historiografi
Tradisional, Kolonial, dan Modern"

Dosen Pengampu

Dr. Nurul Umamah, M. Pd.
Rully Putri Nirmala Puji, S. Pd., M. Ed

DAFTAR ISI

Pengertian Historiografi ..........................................................................1
Pengertian Historiografi menurut etminologi (bahasa) ......................1
Pengertian Historiografi menurut terminologi (istilah) .......................1
Teknik-teknik dalam menuliskan tulisan sejarah (Historiografi) ....... 3
Pengertian Historiografi Tradisional ..................................................... 6
Ciri-ciri Historiografi Tradisional .............................................................7
kelebihan dan kekurangan Historiografi Tradisional ..........................7
Evaluasi ..................................................................................................... 8

Donald V. Gawronski mendefiniskan sejarah sebagai the
interpretative study of the recorded fact of bygone human
beings and societies, the purpose of which study is to develop
an understanding of human actions, not only in the past but for
the present as well¹ (studi interpretasi terhadap rekaman fakta
tentang kehidupan manusia dan masyarakat masa lampau dengan
tujuan untuk mengembangkan pemahaman mengenai aktivitas
manusia, tidak hanya yang terjadi pada masa lalu tetapi juga
masa sekarang).

A. Pengertian Historiografi menurut etimologi

(bahasa)
Dalam bahasa Sansekerta, historiografi merupakan gabungan

dua kata yaitu history yang berarti sejarah dan grafi yang

berarti deskripsi atau penulisan. Jadi historiografi berarti

deskripsi (penulisan) sejarah.Dalam bahasa Yunani,

historiografi terdiri atas historia yang artinya penyelidikan

tentang gejala alam fisik, dan grafein yang bermakna sebuah

gambaran, tulisan atau uraian.

B. Pengertian Historiografi menurut termilogi

(istilah)

Beberapa ahli yang memberikan pendapatnya tentang pengertian
historiografi antara lain adalah :
• Louis Gottschalk; historiografi merupakan suatu bentuk
publikasi, baik itu dalam bentuk lisan maupun juga tulisan
mengenai peristiwa kejadian atau kombinasi peristiwa-peristiwa
di masa lampau.

1

Kuntowijoyo; historiografi adalah tahap menuliskan kembali
suatu peristiwa sejarah sebagai sebuah bentuk catatan
sejarah
Abdurrahman : historiografi adalah cara penulisan, pemaparan
atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah
dilakukan, dari penulisan itu akan memberikan gambaran yang
jelas mengenai proses penelitian sejak awal (fase
perencanaan) sampai dengan akhirnya (penarikan kesimpulan).
Helius Sjamsuddin: menjelaskan bahwa setelah sejarawan
memasuki tahap menulis, maka ia harus mengerahkan seluruh
daya pikirannya, bukan saja keterampilan teknis penulisan,
penggunaan kutipan dan catatan, tetapi yang terutama adalah
penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisis, karena pada
akhirnya sejarawan tersebut harus menghasilkan suatu
penulisan utuh yang disebut dengan historiografi.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
historiografi adalah cara untuk merekontruksi suatu gambaran
masa lampau berdasarkan data yang telah diperoleh yang
didahului dengan penelitian . Historiografi adalah sebuah
tahapan terakhir dalam sebuah metodologi penelitian sejarah
yang dilakukan oleh seorang sejarawan. Hasil penelitiannya
menghasilkan sebuah karya sejarah dapat berupa buku, film,
diorama, dan lainnya. Karya sejarah inilah yang disebut
Historiografi.

2

Menulis sejarah (historiografi) bukanlah tugas yang gampang.
Penulisan sejarah tidak bisa lagi sekadar terfokus kepada
tuturan kejadian sejarah berdasarkan fakta. Historiografi saat
ini juga mempersyaratkan sinergi dengan disiplin ilmu lain
seperti arkeologi, sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat,
agama, dan lain-lain sebagai perangkat pembantu.

Veyne dalam Writing History (Shihab: 2000: 12) mengatakan
bahwa sukses tidaknya seorang sejarawan dalam tulisannya
berntung pada kepiawaiannya dalam menganalisis dan
menghubungkan data, keahlian menerjemahkan sikap pelaku
sejarah, serta ketajaman intuisinya dalam menelusuri jalan
pikiran, mentalitas, dan kecenderungan kelompok atau bangsa
yang diteliti dan diitulis.

Ketika seorang sejarawan masuk dalam tahap penulisan seja-
rah, sebagai lanjutan dari metode sejarah sebelumnya, maka ada
delapan langkah-langkah penulisan sejarah. Yaitu:
1. merevisi atau memperluas apa yang telah dianggap diketahui
tentang masa lampau.
2. menyajikan jawaban-jawaban baru terhadap pertanyaan-
pertanyaan lama.
3. merevisi pertanyaan-pertanyaan.
4. membuka area-area baru untuk penyelidikan.
5. kemungkinan mengaplikasi metode-metode baru dalam riset dan
analisis.
6. mempergunakan generalisasi baru.
7. memanfaatkan seperangkat bukti-bukti yang tidak
dimanfaatkamn sejarawan lain.
8. menentukan bagaimana mendefenisikan atau merumuskan
pertanyaan-pertanyaan dengan menempatkan karyanya dalam
hubungan konteks kesarjanaan yang telah diselesaikanr oleh
penulis.

3

Sejarawan juga harus pandai membaca enam strategi persuasi
yang mesti dihadapi berhubungan dengan tulisan sejarahnya,
yaitu:
1. penulis sejarah harus menentukan bagaimana caranya
menghadapi tiga jenis pembaca, yakni dirinya sendiri, pembaca-
pembaca langsung seperti dosen pembimbing, penguji dan
sebagainya serta pembaca universal baik di masa kini maupun di
masa mendatang.
2. penulis sejarah harus memutuskan apa yang penting mengenai
karya dan memilih butir-butir yang diterima pembaca mengenai
pentingnya riset tersebut.
3. penulis harus memutuskan menggunakan format naratif atau
analitis, menceritakan kisah atau mengembangkan analisis dan
solusi suatu problem.
4. penulis harus menceritakan struktur karangannya yang
dianggap penting dan membuat sajiannya yang naratif atau
analitis
5. penulis harus menyajikan bahasa dan style yang amat sesuai
dengan pembaca.
6. Terakhir, penulis harus memilih menyajikan aparatus ilmiah
dalam karangannya, apakah dimasukkan dalam footnote atau
lampiran-lampiran, atau detail bibliografi yang dapat dimasukan
dalam kutipannya.

Sejarah selalu merupakan fakta dan interpretasi. Hanya
dengan interpretasilah fakta-fakta jadi terungkap lapis-lapis
maknanya, dan memungkinkan orang untuk memetik kearifan
darinya. Tanpa interpretasi, pembaca sejarah hanya akan
disuguhi fakta-fakta tentang siapa berkata apa dalam kejadian
kapan. Tapi bagaimanakah cara menginterpretasi suatu fakta,
agar ia punya makna? Kartodirdjo (1992: 1-3), mengajukan ilmu-
ilmu sosial sebagai alat bantu yang paling andal dalam studi
sejarah. Sebab, betapapun historiografi Indonesia merupakan
bagian penting dari proyek luhur pembangunan negara-bangsa yang
masih muda dan cermin untuk menegaskan suatu identitas
kebangsaan ("sebab sebuah bangsa tanpa identitas adalah
contradictio in terminis,” katanya),

4

sejarah terlalu penting untuk dijadikan ajang pemuasan hasrat

romantis dan gelora nasionalisme yang, cepat atau lambat, akan

terasa kian jauh dari realitas.

Pendekatan ilmu-ilmu sosial ini mengandung sejumlah ciri.

Pertama, ia bertujuan nasional dan Indonesiasentris dalam

perspektifnya, sebagai lawan dari historiografi kolonial yang

memandang kaum pribumi, Indonesia, atau tempat-tempat yang

kemudian menjadi bagian dari Indonesia sebagai pinggiran dalam

narasi sejarah. Kedua, ia bersifat multi-dimensional dalam arti

bahwa peristiwa-peristiwa sejarah dijelaskan sebagai

hasil/akibat dari saling berpengaruh berbagai faktor sosial,

ekonomi, budaya, politik, agama dan lain-lain. Ketiga, ia

bersifat multidisipliner atau interdisipliner dalam

pendekatannya; teori-teori dari pelbagai disiplin ilmu-ilmu

sosial sengaja diterapkan untuk meneguhkan penjelasan sejarah.

Keempat, ia dengan ketat tunduk pada metodologi sejarah yang

standar dan ilmiah.

5

Penulisan sejarah tradisional adalah penulisan sejarah yang
dimulai dari zaman Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam
di Indonesia. Penulisan sejarah pada zaman ini berpusat pada
masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa,
bersifat istanasentris, yang mengutamakan keinginan dan
kepentingan raja. Penulisan sejarah di zaman Hindu-Buddha pada
umumnya ditulis diprasastikan dengan tujuan agar generasi
penerus dapat mengetahui peristiwa di zaman kerajaan pada masa
dulu, di mana seorang raja memerintah. Dalam historiografi
tradisional terjalinlah dengan erat unsur-unsur sastra, sebagai
karya imajinatif dan mitologi, sebagai pandangan hidup yang
dikisahkan sebagai uraian peristiwa pada masa lampau, seperti
tercermin dalam babad atau hikayat.

Contoh-contoh historiografi tradisional di antaranya ialah
sejarah Melayu, hikayat raja-raja Pasai, hikayat Aceh, Babad
Tanah Jawi, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Kartasura,
dan masih banyak lagi.

Tujuan penulisan sejarah tradisional untuk menghormati dan
meninggikan kedudukan raja, dan nama raja, serta wibawa raja
supaya raja tetap dihormati, tetap dipatuhi, tetap dijunjung
tinggi. Oleh karena itu, banyak mitos bahwa raja sangat sakti,
raja sebagai penjelmaan/titisan dewa, apa yang dikatakan raja
serba benar sehingga ada ungkapan "sadba pandita ratu datan
kena wowawali" (apa yang diucapkan raja tidakboleh berubah,
sebab raja segalanya). Dalam konsep kepercayaan Hindu, raja
adalah "mandataris dewa" sehingga segala ucapan dan tindakannya
adalah benar. Bersifat regio-sentris (kedaerahan), maka
historiografi tradisional banyak dipengaruhi daerah, misalnya
oleh cerita-cerita gaib atau cerita-cerita dewa di daerah
tersebut. Raja atau pemimpin dianggap mempunyai kekuatan gaib
dan kharisma (bertuah, sakti).

6

Adapun ciri-ciri dari historiografi tradisional adalah
sebagai berikut.
1) Religio sentris, artinya segala sesuatu dipusatkan pada raja
atau keluarga raja (keluarga istana), maka sering juga disebut
istana sentris atau keluarga sentris atau dinasti sentris.
2) Bersifat feodalistis-aristokratis, artinya yang dibicarakan
hanyalah kehidupan kaum bangsawan feodal, tidak ada sifat
kerakyatannya. Historiografi tersebut tidak memuat riwayat
kehidupan rakyat, tidak membicarakan segi-segi sosial dan
ekonomi dari kehidupan rakyat.
3) Religio magis, artinya dihubungkan dengan kepercayaan dan
hal-hal yang gaib.
4) Tidak begitu membedakan hal-hal yang khayal dan yang nyata.

Berdasarkan ciri-ciri diatas terdapat beberapa kelebihan dan
kekurangan dari historiografi tradisional, yaitu:

Kelebihan:
• Penulisan bertujuan untuk meninggikan dan menghormati
kedudukan raja, sehingga raja tetap dihormati, dipatuhi, dan
dijunjung tinggi oleh rakyatnya.
• Raja dianggap sebagai keturunan dewa dan penjelmaan dewa,
sehingga memunculkan anggapan bahwa setiap perkataan raja
adalah benar (sabda), sehingga segala perintah raja ditaati dan
dituruti oleh rakyat.

Kekurangan:
• Dari isi penulisannya, raja dianggap memiliki kekuatan gaib
(sakti).
• Penulisan selalu dihubungkan dengan hal-hal gaib dan
kepercayaan.
• Penulisan hanya membahas tentang kehidupan bangsawan,
sementara kehidupan rakyat sama sekali tidak dibahas.

7

EVALUASI

1. Jelaskan pengertian dari historiogfrafi!
2. Setelah membaca materi di atas, apakah
historiografi tradisional bisa dijadikan sumber

sejarah? Jelaskan pendapatmu!




SELAMAT MENGERJAKAN :)

8

DAFTAR PUSTAKA

Hasnawati, T. Ciri-ciri Hitoriografi Tradisional, Kolonial, dan
Modern.
Irwanto, D., & Alian, S. (2014). Metodologi dan historiografi
sejarah.
Nurhayati. (2016). Penulisan Sejarah (Historiografi)
:Mewujudkan Nilai-Nilai Kearifan Budaya Lokal Menuju
Abad 21. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan.

Program
studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Palembang.

Vol. 1.

9


Click to View FlipBook Version