Supervisor :
Author
Fitri Wijarini, S. Pd., M.Pd
Nuraisyah
Nursia, S.Pd., M.Si
E-Magazine
about Mangrove Area
in Sebatik Island Bordering of
Indonesian-Malaysian
Biology Education
Faculty of Teacher Training and Education
University of Borneo Tarakan
PETUNJUK PENGGUNAAN FITUR
E-MAGAZINE
Scan Barcode Untuk
Mengakses E-Magazine
Via Handphone, laptop
dan PC
Untuk melihat semua halaman dan mencari halaman
Untuk menggeser halaman dengan cepat
Untuk memperbesar & memperkecil halaman/ukuran teks
Untuk menonaktifkan sound flip
Untuk mencari halaman tertentu. Ex : hal 8
Untuk membagikan, auto flip, memilih text dan melihat 1
halaman secara full (Fullscreen)
Daftar Isi
Design 01 Kata Pengantar
Nuraisyah
02 Daftar Isi
Penyusun
Nuraisyah Kompetensi Inti, Kompetensi
Editor 03 Dasar, Indikator dan Tujuan
1. Fitri Wijarini, M.Pd Pembelajaran
2. Nursia, M.Si
04 Pengertian Ekosistem
Validator
1. Nurfitriana Sam, M.Pd 05 Komponen Ekosistem
2. Dr Silfia Ilma S.Pd, M.Pd
06 Tipe-tipe Ekosistem
Praktisi Interaksi Antar Komponen di Ekosistem
1. Nursyahida, S.Pd 07
Mangrove
08 Aliran Energi
09 Daur Biogeokimia
E-Magazine ini merupakan
majalah elektronik yang 10 Flora Dan Fauna yang terdapat
mengkaji tentang
di Ekosistem Mangrove
Ekosistem Mangrove di
Pulau Sebatik. 11 Informasi Tambahan
12 Daftar Pustaka
E-Magazine ini di desain
dengan tujuan memotivasi
13 Glossarium
siswa menambah minat
baca dan pengetahuan 14 Biografi Penulis
tentang Ekosistem
Mangrove
Kata pengantar
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah
kepada Rasulullah SAW beserta keluarganya.
E-Magazine ini bertujuan sebagai sumber belajar bagi
peserta didik terutama kelas X SMA/MA.
Dalam penyusunan E-Magazine ini, penulis menyadari
sepenuhnya bahwa E-Magazine ini masih jauh dari
kesempurnaan karena pengalaman dan pengetahuan penulis
yang terbatas. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua
pihak sangat diharapkan demi terciptanya sumber belajar yang
lebih baik lagi untuk masa mendatang.
wassalamualaikum wr.wb
Penulis
Nuraisyah
KOMPETENSI INTI
K.I 1
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
K.I 2
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung
jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun,
responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
K.I 3
Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk memecahkan Masalah
K.I 4
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di
sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan
KOMPETENSI DASAR
3.9
Menganalisis informasi dari berbagai sumber tentang
ekosistem dan semua interaksi yang berlangsung di
dalamnya
I N D I K A T O R
Siswa dapat :
Menjelaskan tentang ekosistem dan komponen yang menyusunnya
Menyebutkan komponen abiotik dan biotik
Menjabarkan tipe-tipe ekosistem
Menganalisis hubungan interaksi yang terjadi dalam sebuah
ekosistem
Menganalisis Aliran energi dan Daur Biogeokimia yang ada pada
ekosistem
T U J U A N P E M B E L A J A R A N
Siswa dapat menjelaskan ekosistem dan komponen penyusunnya
dengan jelas dan benar.
Siswa dapat menyebutkan komponen abiotik dan biotik yang ada
pada ekosistem dengan benar.
Siswa dapat menjabarkan tipe-tipe ekosistem yang ada disekitar
siswa dengan benar.
Siswa dapat menganalisis interaksi yang terjadi dalam sebuah
ekosistem dengan cermat.
Siswa dapat menganalisis aliran energi dan daur biogeokimia
pada ekosistem dengan baik dan benar.
TAHUKAH KALIAN APA ITU EKOSISTEM???
sumber : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung di lokasi penelitian
Ekosistem
Ekosistem dapat diartikan sebagai hubungan atau interaksi timbal balik
antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya dan juga
antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam aktivitas
kehidupannya makhluk hidup selalu berinteraksi dan bergantung pada
lingkungan sekitarnya. Ketergantungan ini berkaitan dengan kebutuhan
akan oksigen, cahaya matahari, air, tanah, cuaca, dan faktor abiotik
lainnya. Komponen abiotik yang berbeda menyebabkan adanya perbedaan
cara adaptasi berbagai jenis makhluk hidup (komponen biotik). Hal ini
menunjukkan adanya keanekragaman ekosistem. (Artanti, 2020)
Keanekaragaman ekosistem merupakan keanekaragaman suatu
komunitas yang terdiri dari hewan, tumbuhan, dan
mikroorganisme di suatu habitat. Keanekaragaman ekosistem
ini terjadi karena adanya keanekaragaman gen dan
keanekaragaman jenis (spesies).contoh keanekargaman
ekosistem : sawah, hutan, pantai. (Artanti, 2020)
Ekosistem juga bisa dimaknai sebagai tatanan
kesatuan utuh dan menyeluruh yang terjadi antara
unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
KOMPONEN EKOSISTEM
Teman-teman, apa aja sih yang termasuk kedalam
komponen ekosistem??
Sumber : Dokumentasi Pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitisn
Jadi teman-teman, komponen ekosistem itu dibagi
menjadi 2, yaitu komponen biotik dan komponen abiotik
Komponen Biotik Komponen Abiotik
Komponen Biotik meliputi seluruh Komponen Abiotik merupakan
makhluk hidup di muka bumi, yaitu komponen fisik dan kimiawi
semua jenis tumbuhan, hewan yang terdapat pada suatu
invertebrata seperti serangga, ekosistem sebagai substrat
siput, lintah, ulat, ubur-ubur, udang berlangsungnya suatu
dan lain sebagainya. dan hewan kehidupan. Komponen Abiotik
vertebrata yang terdiri dari Aves meliputi udara, tanah, air, suhu,
(Burung), Reptil (Ular), Amphibi sinar matahari dan
(Katak), Mamalia (Monyet) dan kelembapan. (Irnaningtyas.
Ikan. (Irnaningtyas. 2013) 2013)
KOMPONEN BIOTIK
1. Plantae (Tumbuhan) 2. E. multifasciata (Kadal)
3. Periothalamus sp (Ikan Gelodok) 4. Uca sp (Kepiting Biola)
5. Callosciurus notatus (Bajing)
sumber : Dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung di lokasi penelitian
KOMPONEN ABIOTIK
1. Cahaya matahari 3. Lumpur
2. Air
Sumber : Dokumentasi Pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
4. Udara 5. Energi 6. Suhu
Sumber : https://www.google.com/search?q=udara Sumber : https://www.google.com/search?q=energi Sumber : https://www.google.com/search?q=suhu&source
7. Tanah 8. Kelembapan
Sumber https://www.google.com/search?q=tanah&tbm Sumber : https://www.google.com/search?q=kelembapan+udara
Tipe-tipe
Ekosistem
EKOSISTEM
TERESTRIAL
Sumber : Dokumentasi pribadi yang diambil oleh peneliti di lokasi penelitian
Ekosistem terestrial (Darat) adalah suatu
tipe ekosistem yang sebagian besar
lingkungan fisiknya berupa daratan.
Ekosistem terestrial memiliki bagian
daerah yang luas dengan habitat dan
komunitas tertentu disebut bioma.
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : ttps://www.google.com/search?q=gurun
1. Gurun
Bioma gurun terdapat di daerah tropik dan berbatasan dengan
padang rumput, terutama ada di belahan bumi bagian utara
misalnya di Negara Afrika Utara (Sahara), Amerika Utara (Great
Basin), Australia (Gibson), dan sebagainya. Salah satu tumbuhan
yang hidup di gurun adalah tanaman kaktus. Sedangkan salah satu
hewan yang hidup di gurun yaitu Burung Unta. Adapun komponen
abiotik yang paling khas terdapat di daerah gurun ini yaitu (a)
suhu, karena iklim di gurun sangat ekstrim sehingga suhu nya dapat
mencapai 45 derajat C. (b) tanah, sangat tandus karena tidak
mampu menyimpan air. (c) Cahaya matahari, satu-satunya energi
yang memberikan kehidupan bagi organisme yang hidup di bumi
ini. Salah satu contohnya adalah fotosintesis yang terjadi pada
tumbuhan. (Dewi, 2009)
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
sumber : https://www.google.com/search?q=padang+rumput
2. Padang Rumput
Ekosistem padang rumput dapat ditemukan disemua wilayah benua
kecuali antartika, tapi secara geografis wilayah persebarannya
banyak diwilayah beriklim tropis antara lain benua Afrika, benua
Amerika bagian selatan dan bagian benua Australia utara. Curah
hujan didaerah ini antara 25-50 cm per tahun serta hujan turun tidak
teratur, tapi ada juga yang mempunyai curah hujan sampai 100 cm
per tahun. Tumbuhan yang hidup di sini kebanyakan rumput yang
pendek misalnya rumput grama (Bouteloua sp) dan rumput kerbau
(Bouteloua dactyloide sp). Hewan yang hidup di daerah ini antara
lain singa, anjing, liar, serigala, gajah, jerapah, kanguru, dan ular.
Adapun komponen abiotik yang khas terdapat pada padang rumput
antara lain (a) suhu, (b) Tanah, tidak mampu menyimpan air dengan
baik dan (c) cahaya matahari, karena dapat memberikan energi bagi
organisme yang hidup. Salah satu contohnya adalah fotosintesis yang
terjadi pada tumbuhan.
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : https://www.google.com/search?q=hutan+basah
3. Hutan Basah
Sesuai dengan namanya hutan ini cukup banyak mendapatkan air,
sehingga memungkinkan masa pertumbuhan yang lebih lama. Hutan
macam ini tersebar di daerah tropic dan subtropik. Di Indonesia dapat di
temukan di Irian bagian timur, hujan di hutan basah turun hampir setiap
hari. Pohon yang hidup di tempat ini mencapai tinggi 40m dengan
cabang-cabang dan daun yang lebat oleh karena itu keadaan di dasar
hutan gelap sebab tertutupi tudung (canopy). Tumbuhan yang hidup di
daerah ini antara lain pohon pinus, Bunga Raflesia, lumut kerak dan lain
sebagainya. Sedangkan Hewan yang hidup di hutan basah adalah kera,
burung, babi hutan, kucing hutan, bajing dan lain lain. Adapun komponen
abiotik yang khas terdapat di hutan basah antara lain (a) kelembapan,
interaksi antara suhu yang tinggi dan curah hujan yang tinggi sepanjang
tahun dapat menghasilkan kondisi kelembapan yang ideal bagi tanaman
hutan hujan untuk meningkatkan produktivitas sehingga kelembapan
yang tinggi menjadi dasar penting untuk keanekaragaman flora hutan
hujan tropis. (Astian Dwi, dkk. 2018)
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : https://www.google.com/search?q=taiga&tbm
4. Taiga
Taiga merupakan bioma yang terdapat di belahan bumi
bagian utara (berbatasan dengan kutub utara) yang
terdapat di negara Rusia dan Kanada. Bioma taiga di
tumbuhi oleh satu spesies tanaman saja. Pertumbuhan
tanamannya selama 3-6 bulan saja, jenis tumbuhannya
yaitu pohon pinus dan cemara. Hewan yang hidup di bioma
ini adalah beruang hutan. Adapun komponen abiotik yang
khas terdapat di daerah ini antara lain suhu, suhu pada
ekosistem taiga sangat rendah saat musim dingin.
(Nikmatus, F. S, 2021)
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : https://www.google.com/search?q=tundra&tbm
5. Tundra
Bioma tundra terdapat di bagian bumi utara (dalam lingkaran
kutub utara), iklimnya mirip dengan iklim kutub utara dengan
musim panas yang panjang dan terang serta musim dingin yang
panjang dan gelap misalnya di Negara ingkar Artik, Greenland,
Rusia Utara, Kanada, Finlandia, dan Selandia Baru
Di daerah tundra banyak tumbuh tumbuhan lumut, misalnya
lumut daun dan lumut kerak, oleh karena itu sering disebut juga
padang lumut. Tumbuhan ini sangat baik beradaptasi dengan
keadaan dingin, sehingga dapat tumbuh dalam keadaan dingin.
Hewan yang hidup di sini adalah hewan yang berbulu putih dan
tebal sehingga dapat mempertahankan suhu tubuhnya misalnya
beruang kutub, penguin, singa laut, dan rubah. Komponen yang
khas terdapat di daerah ini antara lain (a) suhu, suhu pada
tundra sangat rendah sehingga menyebabkan pertumbuhan
pohon mengalami keterlambatan dan (b) tanah, yang bersifat
permafrost yaitu bagian bawah tanah yang membeku secara
permanen. (Lia Aulia, 2016)
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : https://www.google.com/search?q=hutan+gugur&tbm
6. Hutan Gugur
Ciri khas bioma hutan gugur adalah tumbuhannya sewaktu musim
dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di
Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili. Salah satu
tumbuhan yang hidup di daerah ini yaitu Bunga Sakura. Sedangkan
hewan yang dihidup di daerah ini yaitu babi hutan, harimau dan
rusa. Adapun komponen abiotik yang khas terdapat di daerah ini
antara lain (a) tanah, tanahnya cukup subur karena saat daun
berguguran, daun tersebut tergeletak di lantai hingga mengalami
pembusukkan, lalu nutrisi yang terkandung dalam daun diserap oleh
lapisan tanah (b) suhu, memiliki suhu yang sangat rendah pada saat
musim dingin, yaitu mencapai -30 C dan pada saat musim panas,
yaitu mencapai 30 C (c) cahaya matahari dan kelembapan cukup
tinggi pada saat musim panas sehingga pohon – pohon tumbuh
dengan daun yang lebat dan membentuk tudung, dan cahaya
matahari masih dapat masuk. (Ceresajja, 2016)
CONTOH
EKOSISTEM TERESTRIAL
Sumber : https://www.google.com/search?q=savana&tbm
7. Savana
Savana adalah tipe ekosistem di dataran rendah, atau
dataran tinggi, dimana komunitasnya terdiri dari beberapa
pohon yang tersebar tidak merata dan lapisan bawahnya
didominasi oleh suku rumput-rumputan. Savana terapat di
negara Indonesia, Afrika Selatan hingga Jepang.
Hewan yang hidup di Savana antara lain mamalia besar
seperti banteng, gajah, jerapah, dan herbivora lainnya.
Dengan demikian savana memiliki peran sebagai pool
biodiversity. Komponen abiotik yang khas terdapat didaerah
ini antara lain (a) suhu, suhu udara cenderung panas
sepanjang tahun (b) Air, kemampuan untuk menyerap air yang
baik (c) tanah, kemampuan menyerap air yang baik dapat
membuat tanah yang berada pada ekosistem ini tidak akan
tergenang air. (Ford, 2010)
EKOSISTEM AKUATIK
(AIR)
Sumber : Dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung di Lokasi Penelitian
Akuatik merupakan tipe ekosistem yang sebagian
lingkungan fisiknya didominasi oleh air. Ekosistem
akuatik dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu penetrasi
cahaya matahari, substrat, temperatur dan jumlah
material terlarut.
Ekosistem akuatik dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
ekosistem air tawar (Freshwater) dan ekosistem air
laut (marine). Ekosistem air tawar memiliki
karakter yang berbeda dengan ekosistem air laut
karena komposisi kimia dan fisiknya berbeda
meskipun jenis organisme yang terkandung
didalamnya sama. (Nybakken, 1988)
Contoh Ekosistem Akuatik
1. Ekosistem Air Tawar
sumber : Dokumentasi pibadi oleh peneliti yang diambil langsung di lokasi penelitian
Ekosistem air tawar memiliki ciri-ciri antara lain yakni : (1) Variasi suhu
tidak menyolok, (2) Kurangnya penetrasi cahaya, dan (3) terpengaruhi oleh
iklim dan cuaca. Tumbuhan yang umumnya dijumpai pada ekosistem air
tawar yaitu ganggang .Ekosistem air tawar dapat dikelompokkan menjadi
air tenang dan air mengalir. Adapun komponen Biotik pada ekosistem ini
yakni plankton (fitoplankton dan zooplankton), nekton (ikan dan katak),
neuston ( serangga air, teratai, eceng gondok, dan ganggang) sedangkan
komponen abiotik yang khas pada ekosistem ini yaitu cahaya matahari,
oksigen, dan air. (Nybakken J.W., 1988)
Contoh Ekosistem Akuatik
2. Ekosistem Air Sungai
sumber : Dokumentasi pibadi oleh peneliti yang diambil langsung di lokasi penelitian
Ekosistem air sungai tidak seperti danau yang relatif diam
sedangkan air sungai mengalir, sehingga tidak mendukung
komunitas plankton untuk berdiam diri.
Ekosistem air sungai banyak mengalami gangguan karena
pembangunan waduk atau bendungan. Waduk dapat
menutup jalan bagi sejumlah ikan yang biasa bergerak dari
hilir ke hulu untuk bertelur. Adapun komponen biotik dalam
ekosistem ini yaitu ikan, amfibi, fitoplankton, zooplankton,
dan tumbuhan yang hidup di air seperti ganggang, lumut
dan eceng gondok. Sedangkan komponen abiotik yang
khapada ekosistem ini antara lain cahaya matahari, udara
atau oksigen, dan suhu (Suryanti, R. Siti, Sumartini, S. 2013).
Contoh Ekosistem Akuatik
3. Ekosistem Air Laut
Sumber : Dokumentasi pibadi oleh peneliti yang diambil langsung di lokasi penelitian
Ekosistem air laut memiliki kadar garam yang tinggi dengan suhu air laut
bervariasi. di daerah tropis, suhu air laut dapat mencapai 25 derajat C dan
suhu bagian permukaan bawah laut memiliki perbedaan yang cukup besar.
Adapun ekosistem yang terdapat dalam ekosistem laut antara lain :
Ekosistem estuari, ekosistem pantai dan ekosistem terumbu karang.
Komponen biotik pada ekosistem ini antara lain ikan, kerang, ganggang,
dan anemon. Sementara unsur abiotik meliputi air, oksigen, cahaya
matahari, garam, pasir, dan batu. (Dahuri, H. R., J. 2004)
Contoh Ekosistem Laut
1. Ekosistem Estuari
Estuari merupakan wilayah diantara laut dan sungai, daerah estuari yang
dekat dengan laut akan terpengaruh oleh pasang-surut air laut sedangkan
estuari yang berhubungan dengan sungai cenderung stabil karena tidak
terpengaruh oleh pasangsurut air laut. Hal ini sesuai dengan pendapat
Odum (1994, dalam Wahyuni, 2016) “Estuari dapat dianggap sebagai zona
transisi antara habitat air tawar dan habitat lautan.”
Di estuari terdapat tanaman mangrove yang dapat mengkonversi zat hara dan
menyimpannya sebagai bahan organik yang akan digunakan kemudian oleh
organisme hewani (Kurniawati, 2014)
Sumber : Dokumentasi pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Ekosistem Mangrove
Ekosistem Mangrove
Sumber : Dokumentasi pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Ekosistem mangrove merupakan sumber daya alam tropis yang
mempunyai manfaat ganda, baik dari aspek sosial, ekonomi,
maupun ekologi. Berbeda dengan hutan daratan, hutan
mangrove memiliki habitat yang lebih spesifik karena adanya
interaksi antara komponen penyusun ekosistem yang kompleks
dan rumit. Komponen penyusun ekosistem tersebut saling
berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang utuh dan tidak
dapat berdiri sendiri. Hutan mangrove termasuk tipe ekosistem
yang tidak terpengaruh oleh iklim, tetapi faktor edafis sangat
dominan dalam pembentukan ekosistem ini (Indriyanto 2006).
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem
peralihan antara darat dan laut yang dikenal
memiliki peran dan fungsi sangat besar.
Apa saja fungsinya??
Mari Kita Simak Bersama..
Fungsi Ekosistem Mangrove
1 Fungsi Ekologis
Secara ekologis mangrove memiliki fungsi yang sangat penting dalam
memainkan peranan sebagai mata rantai makanan di suatu perairan, yang
dapat menunjang kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan moluska.
Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat bagi jenis-jenis ikan,
kepiting dan kerang-kerangan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
2 Fungsi Fisik
Ekosistem mangrove mempunyai peranan sebagai pelindung kawasan
pesisir dari hempasan angin, arus dan ombak dari laut, serta berperan juga
sebagai benteng dari pengaruh banjir dari daratan. Tipe perakaran
beberapa jenis tumbuhan mangrove (pneumatophore) tersebut juga mampu
mengendapkan lumpur, sehingga memungkinkan terjadinya perluasan areal
ekosistem mangrove.
Disamping itu, perakaran jenis tumbuhan mangrove juga mampu berperan
sebagai perangkap sedimen dan sekaligus mengendapkan sedimen, yang
berarti pula dapat melindungi ekosistem padang lamun dan terumbu
karang dari bahaya pelumpuran.
3 Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi yang ada di hutan mangrove yaitu penghasil kebutuhan
rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit. Hamilton
dan Snedaker (1994) dalam Dahuri dkk (2004) mencatat sekitar 58 produk
langsung dan tidak langsung yang dapat diperoleh dari mangrove antara
lain berupa kayu bakar, bahan bangunan, pupuk, bahan baku kertas, bahan
makanan, obatobatan, minuman, peralatan rumah tangga, bahan baku
tekstil dan kulit, madu lilin, dan tempat rekreasi.
FLORA & FAUNA
YANG HIDUP
DI EKOSISTEM
MANGROVE
JEMBATAN CINTA
PULAU SEBATIK
1. Spesies Sonneratia alba J Klasifikasi Sonneratia alba J
Kingdom : Plantae
Nama Lokal
Divisi : Magnoliophyta
Pedada, Perepat, Pidada, Bogem,
Kelas : Magnoliopsida
Bidada, Wahat, Putih, Berapak,
Ordo : Myrtales
Bangka, Susup, Kedada, Muntu,
Pupat dan Mange œ mange. Family : Sonneratiaceae
Genus : Sonneratia
(Rignolda Djamaluddin, 2018)
Spesies : Sonneratia alba J
(Sumber : Tim peneliti undana, 2019)
Habitus : pohon/perdu
Daun : tunggal bersilangan
Bangun daun : menyirip
Ujung daun : membundar hingga berlekuk
Pangkal daun : membundar
DAUN
Tepi daun : rata
Bentuk daun : bulat telur terbalik
Permukaan : licin
Pertulangan : menyirip
Bentuk batang : batang berkulit halus,
bulat dan retak/celah searah longitudinal
BATANG Arah Tumbuh Batang : lurus keatas
Warna batang : krem hingga coklat
Bentuk Buah : bulat
Warna buah : hijau
Permukaan buah : halus
BUAH Kelopak : berbentuk cawan menutupi
dasar buah
Tipe biji buah : normal
AKAR Akar napas berbentuk kerucut
Sumber foto : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung dari lokasi penelitian
2. Spesies Rhizophora apiculata BI Klasifikasi Rhizophora apiculata
Nama Lokal Kingdom : Plantae
Bakau minyak, bakau tandok, bakau Divisi : Magnoliophyta
akik, bakau puteh, bakau kacang, Kelas : Magnoliopsida
bakau leutik, akik, bangka minyak, Ordo : Myrtales
donggo akit, jankar, abat, parai, mangi-
Family : Rhizophoraceae
mangi, slengkreng, tinjang, wako.
Genus : Rhizophora
(Rignolda Djamaluddin, 2018)
Spesies : Rhizophora apiculata
(Sumber : Tim peneliti undana, 2019)
Habitus : pohon/perdu
Daun : sederhana & berlawanan
Bangun daun : menyirip
Ujung daun : meruncing
Pangkal daun : meruncing
DAUN
Tepi daun : rata
Bentuk daun : elips menyempit
Permukaan : licin
Pertulangan : menyirip
Bentuk batang : Bulat Tipis
BATANG Arah Tumbuh Batang : lurus keatas
Warna batang : kecoklatan
Bentuk Buah : bulat memanjang
Warna buah : coklat
BUAH Permukaan buah : kasar
Tipe biji buah : berisi satu biji fertil
AKAR Akar tunggang
Sumber foto : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung dari lokasi penelitian
3. Spesies Avicennia alba Blume Klasifikasi Avicennia alba Blume
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Nama Lokal Kelas : Magnoliopsida
Api-Api Putih Ordo : Scrophulariales
Family : Verbenaceae
Genus : Avicennia
(Rignolda Djamaluddin, 2018) Spesies : Avicennia alba Blume
(Sumber : Maghfirah, 2010)
Habitus : pohon/perdu
Daun : tunggal bersilangan
Bangun daun : menyirip
Ujung daun : meruncing
Pangkal daun : membundar
DAUN
Tepi daun : rata
Bentuk daun : elips dan lanset
Permukaan : licin
Pertulangan : menyirip
Bentuk batang : Bulat tebal
BATANG Arah Tumbuh Batang : belukar/menyebar
Warna batang : kecoklatan
Bentuk Buah : kerucut
Warna buah : hijau muda
BUAH
Permukaan buah : kasar
AKAR Akar napas
Sumber foto : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung dari lokasi penelitian
4. Spesies Nypa fruticans Klasifikasi Nypa fruticans
Kingdom : Plantae
Nama Lokal
Divisi : Magnoliophyta
daon, daonan, nipah, bhunjok, lipa,
buyuk, bhunyok, bobo, boboro, palean, Kelas : Liliopsida
palenei, pelene, pulene, puleanu, Ordo : Arecales
pulenu, puleno, pureno, parinan, Family : Arecacaea
parenga
Genus : Nypa
(Rignolda Djamaluddin, 2018)
Spesies : Nypa fruticans
(Sumber : Maghfirah, 2010)
Habitus : semak
Daun : majemuk
Bangun daun : menyirip
Ujung daun : meruncing
Pangkal daun : meruncing
DAUN
Tepi daun : rata
Bentuk daun : lanset
Permukaan : licin dan mengkilat
Pertulangan : menyirip
Sumber foto :https://www.google.com/search?q=akar+nipah&tbm
Bentuk batang : rimpang menjalar
BATANG Arah Tumbuh Batang : belukar/menyebar
Warna batang : kecoklatan
Sumber foto :https://www.google.com/search?q=akar+nipah&tbm
Bentuk Buah : bulat tandan
Warna buah : kecoklatan
BUAH
Permukaan buah : halus
Sumber foto :https://www.google.com/search?q=buah+nipah&tbm
AKAR Akar serabut
Sumber foto :https://www.google.com/search?q=pohon+nipah
FAUNA YANG HIDUP DI MANGROVE
Klasifikasi Periothalamus sp (Ikan Gelodok)
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Family : Gobiidae
Genus : Periothalamus
Spesies : Periothalamus sp
(Sumber : Poore, 2004)
1. Periothalamus sp (Ikan Gelodok)
Warna tubuh krem kecoklatan
Mata menonjol keatas
Sirip ekor membulat
Badan berbentuk bulat memanjang
Terdapat sirip dipunggung
Klasifikasi E. multifasciata (Kadal)
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Reptil
Ordo : Squamata
Family : Scincidae
Genus :Eutropis
Spesies : E. multifasciata
(Sumber : Kuhl, 1820)
2. E. multifasciata (Kadal)
Memiliki 4 kaki
Warna tubuh abu-abu kehitaman
Kelopak mata yang dapat dibuka-ditutup
Lubang telinga luar
Sumber foto : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung dari lokasi
penelitian
FAUNA YANG HIDUP DI MANGROVE
Klasifikasi Uca sp (Kepiting Biola)
Kingdom : Animalia
Divisi : Arthropoda
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Family : Ocypodidae
Genus : Uca
Spesies : Uca sp (Sumber : Poore, 2004)
3. Uca sp (Kepiting Biola)
Warna tubuh bervariasi
Dapat berubah warna
Bentuk capit bervariasi
Ukuran tubuh cenderung kecil
Klasifikasi Callosciurus notatus (Bajing)
Kingdom : Animalia
E. multifasciata (Kadal)
Divisi : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Family : Sciuridae
Genus : Callosciurus
Spesies : Callosciurus notatus
(Sumber : Wagner, 1
855)
4. Callosciurus notatus (Bajing)
Warna tubuh kecoklatan
Memiliki 4 kaki
Tubuh kecil mirip seperti tikus
Memiliki otak relatif besar
Sumber foto : dokumentasi pribadi oleh peneliti yang diambil langsung dari lokasi
penelitian
INFORMASI TAMBAHAN EKOSISTEM MANGROVE DI PULAU
SEBATIK KHUSUSNYA MANGROVE JEMBATAN CINTA
Ekosistem mangrove jembatan cinta ini dijadikan sebagai tempat wisata
atau rekreasi bagi masyarakat. Selain itu, ekosistem mangrove tersebut
juga dapat dijadikan sebagai sumber belajar bagi peserta didik maupun
masyarakat yang berkunjung sehingga dapat mengetahui manfaat dari
ekosistem mangrove itu sendiri. Selain lain itu, penanaman mangrove
juga terus dilakukan di lokasi ini dan masih terawat dengan sangat baik.
Sumber : dokumen pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Contoh Ekosistem Laut
2. Ekosistem Pantai
Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut,
dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus
harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki
adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras.
Sebagai daerah perbatasan antara ekosistem laut dan ekosistem darat
hempasan gelombang dan hembusan angin maka pasir dari pantai
membentuk gundukan ke arah darat.
Pantai Batu Lamampu Pantai Sungai Taiwan (Sute)
Pantai Marina Tanjung Aru Pantai Batu Lamampu
Sumber : Dokumentasi pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Contoh Ekosistem Laut
3. Ekosistem Terumbu Karang
Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang
hermatipik (hermatypic coral). Berbeda dengan batu karang (rock), yang
merupakan benda mati. Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama
oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang batu dan
alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti
jenisjenis moluska, krustasea, ekhinodermata, polikhaeta, porifera, dan tunikata
serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-
jenis plankton dan jenis-jenis nekton.
Sumber : https://www.google.com/search?q=terumbu+karang&tbm
ekosistem
buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem
yang diciptakan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Contoh
ekosistem buatan antara lain
bendungan, agro ekosistem berupa
sawah irigasi, perkebunan sawit,
perkebunan kopi, serta perkebunan
Coklat dan Pisang
CONTOH EKOSISTEM BUATAN
1. Sawah
Sumber : Dokumen Pribadi yang diambil oleh peneliti di lokasi penelitian
Sawah merupakan ekosistem lahan basah buatan yang sangat berguna bagi kehidupan
manusia sebagai penghasil bahan pangan. Sawah juga merupakan ekosistem perairan
tergenang yang mendukung kehidupan berbagai jenis hewan dan tumbuhan air. Jenis-
jenis fauna yang biasa ditemukan dalam ekosistem sawah antara lain reptil, ikan, amfibi,
serangga, unggas dan mamalia. Selain memiliki fungsi dan manfaat sebagai penghasil
bahan pangan (khususnya beras), namun juga memiliki fungsi dan manfaat ekologis dan
sosial budaya. Komponen abiotik yang khas terdapat di sekitar sawah antara lain (a) air,
tanaman padi sangat membutuhkan air khususnya pada saat tumbuh, tanaman harus
selalu tergenang air. (b) cahaya matahari, tumbuhan menggunakan energi matahari
untuk memproduksi gula dan nutrisi lainnya. dan (c) udara, tumbuhan memerlukan
karbon dioksida yang diambil dari udara. (Puspita et al., 2005).
CONTOH EKOSISTEM BUATAN
2. Perkebunan Sawit
Sumber : Dokumen pribadi yang diambil oleh peneliti di lokasi penelitian
Kelapa sawit adalah tumbuhan industri/ perkebunan yang berguna sebagai penghasil minyak
masak, minyak industri, maupun bahan bakar. Pohon Kelapa Sawit terdiri dari dua spesies yaitu
elaeis guineensis dan elaeis oleifera yang digunakan untuk pertanian komersil dalam
pengeluaran minyak kelapa sawit.
Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon, tingginya dapat mencapai 0- 24 meter. Bunga dan
buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil, apabila masak berwarna merah
kehitaman. Daging dan kulit buah kelapa sawit mengandung minyak. Minyak kelapa sawit
digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk
makanan ternak, khususnya sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam.
Komponen abiotik yang khas terdapat di sekitar tanaman sawit yaitu (a) tanah, sawit pada
umumnya membutuhkan lahan yang relatif datar dengan struktur lapisan cukup tebal, tidak
mudah tergenang, dan subur. (b) cahaya matahari, sawit memerlukan lama penyinaran
minimal selama 4-5 jam/hari agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. (Statistik
perkebunan, 2007).
CONTOH EKOSISTEM BUATAN
3. Perkebunan Kakao (Coklat)
Sumber : Dokumen Pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komuditas perkebunan yang
memiliki peranan penting dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di
Indonesia, khususnya di sentra-sentra pengembangan Kakao.
Kakao merupakan tanaman tahunan yang dapat mulai berbuah pada umur 4 tahun, dan apabila
dikelola secara tepat maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun. Dalam skala
perkebunan penanaman Kakao di Indonesia dimulai pada tahun 1780 di Minahasa selanjutnya pada
tahun 1858 dikembangkan di Ambon serta Seram kepulauan Maluku. Di Jawa penanaman Kakao
berkembang secara pesat pada awal abad 19 sebagai tanaman pengganti kopi yang rusak oleh
serangan penyakit karat daun. Adapun komponen abiotik yang khas antara lain (a) cahaya
matahari, kakao dibutuhkan sinar matahari yang masuk sekitar 60 – 80 % dari cahaya langsung dan
(b) tanah, kakao memerlukan tanah yang subur dengan kedalaman minimum 150 cm. Hal ini karena
akar tunggang tanaman memerlukan ruangan yang luas untuk pertumbuhannya agar akar
tunggang tidak kerdil dan bengkok. (Hasan, 2015)
CONTOH EKOSISTEM BUATAN
4. Perkebunan Pisang)
Sumber : Dokumen Pribadi yang diambil langsung oleh peneliti di lokasi penelitian
Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara
(termasuk Indonesia).
Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga
karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit
pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam
cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah
dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing)
pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia. Secara tradisional, air umbi
batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan
air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun. Unsur Komponen
abiotik yang khas terdapat disekitar pohon pisang antara lain (a) iklim tropis basah, lembab dan
panas mendukung pertumbuhan pisang. (BAPPENAS, 2000)
INTERAKSI ANTAR KOMPONEN DI EKOSISTEM
MANGROVE
Interaksi
Interaksi adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu
dengan yang lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan
jenis organisme yaitu intraspesies dan interspesies. Interaksi
intraspesies adalah hubungan antara organisme yang berasal
dari satu spesies, sedangkan interaksi interspesies adalah
hubungan yang terjadi antara organisme yang berasal dari
spesies yang berbeda. (Fitri, et al 2021)
1. Simbiosis mutualisme yaitu hubungan
antara dua jenis makhluk hidup yang
saling menguntungkan apabila keduanya
berada pada satu tempat. Contoh
(Kepiting Bakau dan Tanaman Mangrove)
2. Simbiosis Komensalisme adalah hubungan
antara dua makhluk hidup,makhluk hidup
yang satu mendapat keuntungan sedang
Secara garis besar
interaksi intraspesies yang lainnya tidak dirugikan. Contoh
dan interspesies dapat (Bangau dan Tanaman Mangrove)
dikelompokkan 3. Simbiosis parasitisme yaitu hubungan yang
menjadi beberapa hanya menguntungkan satu jenis makhluk
bentuk dasar hidup saja, sedangkan jenis lainnya
hubungan,yaitu dirugikan. Contoh (Siput Bakau dan
simbiosis :
Tanaman Mangrove)
4. Netralisme yaitu hubungan antara makhluk
hidup yang tidak saling menguntungkan
dan tidak saling merugikan satu sama lain.
5. Kompetisi adalah bentuk hubungan yang
terjadi akibat adanya keterbatasan sumber
daya alam pada suatu tempat sehingga
menyebabkan persaingan antar organisme
untuk memperebutkan sumber daya
tersebut. Contoh (Rhizophora apiculata dan
Rhizophora mucronata)
A N A L I S I S I N T E R A K S I K O M P O N E N E K O S I S T E M
M A N G R O V E
NO JENIS PENJELASAN
INTERAKSI ORGANISME
Simbiosis Kepiting Kepiting mendapatkan
1.
Mutualisme Bakau dan tempat mencari makan
Tanaman sehingga kotoran yang
Mangrove dihasilkan kepiting
membantu kesuburan
mangrove dan mangrove
mendapatkan keuntungan
karena mangrove dapat
tumbuh dengan baik
Simbiosis Siput Bakau Siput memakan daun
2.
Parasitisme dan mangrove sehingga
Tanaman tumbuhan mangrove tidak
Mangrove dapat tumbuh dengan baik
3. Simbiosis Bangau tong Burung bangau tong-tong
Komensalisme tong dengan menjadikan ranting-ranting
pohon mangrove untuk tempat
mangrove bertengger
4. Kompetisi Mangrove
jenis Mangrove
Rhizopora berkompetisi
apiculata, mendapatkan sinar
Rhizophora
matahari
mucronata,
bruguiera
gymnorriza
ALIRAN ENERGI
Teman-Teman Seberapa Penting kah Aliran Energi itu?
Semua makhluk hidup memerlukan energi untuk melakukan
aktivitas hidupnya. Energi tersebut dapat diperoleh dari makanan.
Proses konsumsi makanan merupakan proses transfer atau
perpindahan energi.
Fungsi ekologis terpenting dari ekosistem mangrove adalah dalam
siklus nutrisi dan aliran energi, dimana mangrove merupakan
penghasil serasah yaitu materi organik yang telah mati dan terdapat
di tanah atau lumpur pada ekosistem mangrove. Serasah memegang
peran penting dan merupakan sumber nutrisi sebagai awal rantai
makanan. Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang terjadi
adalah rantai makanan detritus. (Wibowo yuni, 2017).
Aliran energi dalam ekosistem dapat digambarkan
dengan rantai makanan dan jaring makanan.
Mari kita simak bersamaaa...
Berikut adalah contoh rantai
makanan pada spesies kepiting Uca
Rantai makanan merupakan jalur pemindahan (transfer)
energi dari satu tingkatan trofik ke tingkatan trofik
berikutnya melalui peristiwa makan dan dimakan.
1 Crustacea
2
(kepiting Uca)
serasah daun Konsumen I
tercampur dengan
Produsen lumpur yang
mengandung algae,
detritus, jamur, dan
mikroba
3 Kepiting Dewasa
Ikan dewasa
Konsumen II
6 Dekomposer/Pengurai
Burung Pemakan Ikan
4 (Burung Bangau)
Konsumen III
Burung Elang
5
Konsumen IV
Sumber : (Hernandhy Hidayat, 2010)
Berikut adalah Contoh Jaring-jaring
Makanan pada ekosistem Mangrove
Jaring-jaring makanan merupakan bentuk rantai
makanan yang sangat kompleks. Semakin kompleks jaring-
jaring makanan menunjukkan semakin kompleksnya aliran
energi dan aliran makanan.
serasah daun tercampur dengan
lumpur yang mengandung algae,
detritus, jamur, dan mikroba
Produsen
Udang Kecil Kerang-kerangan
Kepiting Uca
konsumen I
Udang Dewasa Kepiting dewasa Ikan Dewasa/Ikan besar
konsumen II konsumen II konsumen II
Burung pemakan ikan dewasa dan kepiting dewasa
(Burung Bangau)
konsumen III
Burung Elang
konsumen puncak/Predator
Dekomposer/Pengurai
Sumber : (Hernandhy Hidayat, 2010)
DAUR BIOGEOKIMIA
Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang
terjadi secara terus menerus, antara komponen biosfer
yang hidup (biotik) dengan tak hidup (abiotik).
Materi berupa unsur-unsur penyusun bahan organik tersebut
didaur-ulang. Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam
komponen biotik melalui udara, tanah, dan air. Daur ulang
materi tersebut melibatkan makhluk hidup dan batuan
(geofisik) sehingga disebut Daur Biogeokimia.
Fungsi Daur Biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang
mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah
terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen
biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan
hidup di bumi dapat terjaga.
Contoh Siklus Daur Biogeokimia pada
Ekosistem Mangrove
1. Siklus Karbon
Siklus karbon adalah pertukaran karbon antara
biosfer, geosfer, hidrosfer dan
atmosfer. Pertukaran karbon ini melalui empat
reservoir karbon utama yaitu
atmosfer, biosfer terrestrial, lautan dan sedimen.
Hutan dan laut adalah tempat alamiah di bumi ini
yang berfungsi untuk menyerap gas CO2. Gas CO2
diserap oleh tumbuhan yang sedang tumbuh dan
disimpan dalam batang kayunya. Di lautan, gas
karbon dioksida yang digunakan oleh fitoplankton
untuk proses fotosintesis, tenggelam ke dasar lautan
bersama kotoran makhluk hidup pemakan fitoplanton
dan predator–predator tingkat tinggi lainnya.
Karbon selalu dapat ditemukan dengan tiga cara
(Stone et al., 2010). Karbon itu dapat:
diserap dari udara sebagai bagian dari karbon
dioksida oleh tumbuhan dan
pohon, lalu digunakan sebagai energi dan
makanan untuk pertumbuhan,
dilepaskan kembali ke udara sebagai bagian
dari CO2 oleh tumbuhan, pohon, binatang dan
manusia melalui pernapasan,
disimpan di dalam batang pohon, badan
binatang, tubuh manusia, serta batuan
dan benda-benda mati lainnya.
Contoh Siklus Daur Biogeokimia
pada Ekosistem Mangrove
2. Siklus Nitrogen
Daur nitrogen adalah pergerakan nitrogen di
alam, baik melalui bagian biotik dan abiotik dari
suatu ekosistem. Dalam atmosfer, nitrogen
berbentuk gas N2 sangatlah melimpah, namun
makhluk hidup tidak dapat langsung
menggunakannya.
Nitrogen memasuki ekosistem melalui 2 jalur alami.
Melalui hujan dan debu nitrogen.
Melalui fiksasi nitrogen, yang dilakukan oleh
mikroba prokariotik dengan kemampuan
mengubah N2 menjadi senyawa yang dapat
digunakan untuk mensintesis senyawa organik
bernitrogen seperti asam amino.
Hasil dari fiksasi nitrogen adalah amonia,
yang di dalam tanah akan berubah
Sumber utama
menjadi amonium setelah mengalami
nitrogen antara lain :
penambahan ion H + (amonifikasi), yang
– atmosfer (80%)
dapat digunakan oleh tanaman.
– tanaman
Beberapa bakteri aerob dapat
– bahan organik
mengoksidasi amonium menjadi nitrat,
tanah
melalui proses yang disebut nitrifikasi.
Nitrat juga dapat digunakan oleh
tanaman. Beberapa bakteri dapat
menggunakan oksigen dari nitrat dan
melepaskan N2 ke udara (denitrifikasi).
Contoh Siklus Daur Biogeokimia
pada Ekosistem Mangrove
3. Siklus Fosfor
Fosfor merupakan salah satu senyawa unsur hara yang
penting karena akan diabsobsi oleh fitoplankton dan
masuk kedalam rantai makanan. Fosfor dalam bentuk
fosfat merupakan mikronutrien yang diperlukan dalam
jumlah kecil namun sangat esensial bagi organisme
akuatik. Kekurangan fosfat juga dapat menghambat
pertumbuhan fitoplankton. Sumber- sumber alami fosfor
diperairan adalah pelapukan batuan mineral dan
dekomposisi bahan organik (Effendi, 2003).
Fosfor tidak ditemukan bebas sebagai elemen, melainkan
dalam bentuk senyawa organik terlarut. Fosfor
membentuk kompleks dengan ion besi dan kalsium pada
kondisi aerob, bersifat larut dan mengendap pada
sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh alga
akuatik. Fosfor yang terdapat dalam air laut umumnya
berasal dari dekomposisi organisme yang sudah mati
(Thaher, 2013).
Fosfor satu-satunya daur zat yang tidak berupa gas,
sehingga daurnya tidak melalui udara. Sebagian besar
fosfor mengalir ke laut dan terikat pada endapan di
perairan atau dasar laut. Begitu sampai di laut hanya
ada dua mekanisme untuk daur ulangnya ke ekosistem
darat, salah satunya melalui burung-burung laut yang
mengambil fosfor melalui rantai makanan laut dan
mengembalikan ke darat melalui kotorannya kemudian
masuk ke rantai makanan.