Prolog Penutur Cerita:
“Dulur-dulur ayo kite katuran rawuh,
katuran rawuh ning Cilegon”
Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh
Perkenalkan nama saya Najwa
Tsurayya dari kelas 5 SD Madani. Saya
disini akan menceritakan kisah “Asal Muasal Gunung Pinang”.
CERITA RAKYAT BANTEN
ASAL MUASAL GUNUNG PINANG
Pada zaman dahulu di pesisir Banten hiduplah seorang nenek dengan anak lelakinya yang
bernama Dampu Awang. Saat itu keadaan mereka sangatlah miskin. Dampu Awang memiliki
cita-cita yang sangat tinggi yaitu menjadi saudagar yang sukses.
Tidak lama kemudian ada seorang saudagar kaya raya yang berlayar menuju Banten
untuk berdagang di sini. Tibalah keinginan Dampu Awang untuk pergi bekerja bersama
saudagar itu. Dampu Awang pun meminta izin kepada sang ibu.
“Bu boleh ya saya minta satu permintaan”
“Apa itu nak, bicaralah.” Jawab sang ibu.
“Aku ingin bekerja bersama saudagar saudagar itu boleh ya Bu namun sang Ibu
langsung melarang anaknya untuk pergi bekerja tidak nak kau tidak boleh ikut pergi bekerja
bersama saudagar itu.
“Loh kenapa Bu?’ Tanya Dampu Awang dengan rasa heran
“Bu…Dengan aku pergi bekerja dengan saudagar itu aku pasti akan hidup enak
bersama ibu.”
“Tidak nak, ibu takut jika kamu nanti sudah jadi seorang saudagar yang kaya raya
kamu pasti akan lupakan ibumu yang miskin di sini nak.”
Dampu Awang terus-menerus merengek meminta izin kepada sang ibu. Akhirnya
sang Ibu pun mengizinkan anaknya walau dengan berat hati.
“Baiklah nak, ibu mengizinkan kamu pergi bekerja bersama saudagar itu Tapi kamu
harus ingat pesan ibu. Kamu jadilah pekerjaan yang rajin dan jujur ya, sering memberi kabar
kepada ibu, dan jaga Si Ketut burung peliharaan ayahmu ini nak.”
“Baik Bu, aku akan turuti semua kemauan ibu.” Kata Dampu Awang
Sebelum berangkat dampuawang dipeluk erat oleh sang ibu. Dan di kapal Dampu
Awang dikenal sebagai seorang pekerja yang sangat rajin.
Beberapa bulan kemudian setelah Dampu Awang bekerja, ia dipanggil oleh tuannya.
“Aampun tuanku… Ada apa memanggil saya?”
1
“Saya lihat semenjak kamu bekerja di sini kamu adalah seorang pekerjayang sangat
rajin. Saya ingin menjodohkan kamu dengan anak saya yang bernama Siti Nurhasanah
Apakah kamu mau?”
Dampu Awang sangatlah senang dan menerima permintaan tuannya.
“Baiklah Tuan Saya menerima permintaan Tuan itu, saya mau menikah dengan putri
Siti Nurhasanah.” Jawab Dampu Awang.
Tidak lama kemudian pernikahan pun dilaksanakan dengan sangat megah dan
meriah. Setelah mereka menikah, Dampu Awang tidak memberikan lagi kabar kepada sang
Ibu dan Teuku Abu Matsyah jatuh sakit dan mempercayakan seluruh hartanya kepada
Dampu Awang.
Beberapa tahun setelah mereka menikah, Dampu Awang pergi berlayar ke Banten
untuk berdagang di sana
Mendengar kabar itu…Ibu Dampu Awang pun sangat senang. Dia melihat anaknya
berdiri dengan gagah di atas kapal yang sangat megah. Di sampingnya berdiri seorang
perempuan yang sangat cantik. Sang Ibu memanggil anak lelakinya itu.
“Dampu Awang… Dampuuu ini ibu nak. Ibu sangat merindukanmu.” Dampu Awang
sangat terkejut melihat ibunya yang sangat miskin itu. Siti Nurhasanah pun berkata,
“Kang… Apakah itu ibumu? Kenapa kau tidak bilang jika kau masih punya ibu?”
Tanya istri Dampu
“Tidak, wanita tua gila itu bukan Ibuku. Ibuku seorang yang kaya raya dan sudah
meninggal dunia. Hei wanita tua gila jangan kau mengaku-ngaku sebagai ibuku ya! Ibuku
seorang yang kaya raya dan sudah meninggal dunia.”
Mendengar perkataan anaknya itu hati sang ibu pun sangat sedih dan tanpa sadar
dia berdoa.
“Ya Allah ya Tuhanku. Jika dia bukan anakku biarkan dia pergi. Tapi jika dia memang
anakku, berikan hukuman yang setimpal kepadanya.”
Tidak lama kemudian geluduk pun datang petir menyambar. Badai pun datang, langit
gelap hujan pun turun deras. Si Ketut burung peliharaannya berkata.
“Cepat, akui wanita itu sebagai ibumu.”
“Tidak, wanita itu bukanlah ibuku.” Jawab Dampu
Hujan pun semakin deras langit semakin gelap gulita badai semakin kencang.
Dampu Awang pun ketakutan dan berbicara.
“Ibu tolong aku Bu…. ini aku Dampu Awang anakmu Bu…”
Namun ibu Dampu Awang tidak lagi menghiraukan Anaknya.
Kapal Dampu Awang yang mewah dan megah itu dipermainkan oleh angin dan
ombak lalu berbalik ke selatan dan menjadi gunung yang bernama gunung Pinang. Gunung
Pinang masih ada dan sampai sekarang terletak di perbatasan antara Kabupaten Serang
dan kota Cilegon. Pesan moral dari cerita saya, hargailah ibumu selagi masih ada. Membuat
ibu kita sedih tidaklah akan membuat kita bahagia.
Terima kasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
2