The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by opo neh, 2023-06-07 02:18:40

GURU FASILITATOR DAN KOMUNITATOR

GURU FASILITATOR DAN KOMUNITATOR

1 1 MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN “Guru Profesional sebagai Fasilitator dan Komunikator” Dosen Pengampu : Dr. Susanto, M.Pd. Saddam Hussen, S.Pd.,M.Pd. Dhanar Dwi Hary Jatmiko,S.Pd.,M.Pd. Disusun Oleh : Yogi Ramansyah Putra (220210101054) Deva Novianan Amalia P. (220210101116) Firda Anisa Fadiatus S. (220210101119) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JEMBER 2023


2 2 KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Guru Profesional sebagai Fasilitator dan Komunikator” ini dengan tepat waktu. Makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Kependidikan dengan dosen pengampu Dr. Susanto, M.Pd., Bapak Saddam Hussen, S.Pd.,M.Pd.. Bapak Dhanar Dwi Hary Jatmiko,S.Pd.,M.Pd. Kami mengucapkan terimakasih kepada Dr. Susanto, M.Pd., Bapak Saddam Hussen, S.Pd.,M.Pd., Bapak Dhanar Dwi Hary Jatmiko,S.Pd.,M.Pd. dan semua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas makalah ini. Kami berharap makalah ini dapat memberikan informasi dan materi yang berguna serta dapat menambah pengetahuan pembaca terkait profesi kependidikan khususnya mengenai Guru Profesional sebagai Fasilitator dan Komunikator. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik serta saran sangat kami butuhkan guna menyempurnakan makalah ini. Jember, April 2023 Penulis


3 3 Daftar Isi BAB.1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 4 1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 4 1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 4 1.3 Tujuan............................................................................................................ 4 BAB.2 PEMBAHASAN......................................................................................... 5 2.1 Guru Profesional sebagai Fasilitator .................................................... 5 2.2 Guru Profesional sebagai Komunitator......................................... 9 BAB. 3 PENUTUP ......................................................................................... 14 3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 14 3.2 Saran............................................................................................................ 14 Daftar Pustaka .................................................................................................. 15


4 4 BAB.1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guru merupakan tokoh penting dalam kemajuan pendidikan Indonesia.Seorang guru juga ikut berperan serta dalam usaha membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompeten. Guru merupakan ujung tombak maju mundurnya dunia pendidikan, guru secara langsung terjun dan berperang dalam dunia pendidikan terutama berkaitan dengan pembelajaran sekaligus berinteraksi dengan kemajuan pembelajaran para siswa dalam menyampaikan materi pelajaran. Indonesia sangat membutuhkan guru profesional yang mampu untuk mendidik anak bangsa menjadi penerus bangsa yang memiliki kualitas. Apabila seorang guru tidak punya sikap profesional maka murid yang di didik akan sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan adanya guru yang profesional dan berkualitas maka akan mampu mencetak anak bangsa yang berkualitas pula. Selain seorang guru harus profesional, seorang guru juga mempunyai tugas lain yaitu sebagai fasilitator dan komunikator untuk mendidik, mengajar dan melatih anak didiknya. Seorang guru juga harus mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, dan konsep keilmuan yang berhubungan dengan guru profesional. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud guru sebagai fasilitator? 2. Apa yang dimaksud guru sebagai komunikator? 3. Bagaimana cara menjadi guru profesional yang dapat menjadi fasilitator dan komunikator? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui dan memahami maksud guru sebagai fasilitator. 2. Mengetahui dan memahami maksud guru sebagai kominikator. 3. Mengerti cara menjadi guru profesional yang dapat menjadi fasilitator dan komunikator yang baik.


5 5 BAB.2 PEMBAHASAN 2.1 Guru Profesional sebagai Fasilitator A. Pengertian Fasilitator Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi. Fasilitator bermakna bahwa guru juga harus berfungsi sebagai pemberi fasilitas atau melakukan fasilitasi. Guru menjadi jembatan yang baik di depan para siswanya. Dalam fungsinya, guru lebih banyak melakukan sharing belajar, atau bisa disebut belajar bersama.. Dalam hal ini murid tidak dipandang sebagai semata objek pembelajaran, tetapi murid adalah subjek pembelajaran itu sendiri dan guru sebagai fasilitator yang harus selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya. Guru sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegitan belajar anak didik serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan bagi peserta didik. B. Kriteria Guru sebagai Fasilitator Salah satu fungsi dan tugas guru adalah sebagai seorang fasilitator. Untuk memenuhi kriteria sebagai fasilitator, ada pendapat yang menyebutkan batasan-batasan yang harus dimiliki guru. Menurut E. Mulyasa (2008) ada tujuh sikap yang harus dimiliki guru, seperti yang diidentifikasi Rogers (dalam Knowles, 1984) berikut : 1. Tidak berlebih mempertahankan pendapat dan keyakinannya atau kurang terbuka. 2. Dapat lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya. 3. Mau dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif dan


6 6 kreatif, bahkan yang sulit sekalipun. 4. Lebih meningkatkan perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta didik seperti halnya terhadap bahan pelajaran. 5. Dapat menerima komentar balik (feedback), baik yang bersifat positif maupun negatif, dan menerimanya sebagai pandangan yang konstruktif terhadap diri dan perilakunya. 6. Toleran terhadap kesalahan yang diperbuat peserta didik selama proses pembelajaran. 7. Menghargai prestasi peserta didik, meskipun biasanya mereka sudah tahu prestasi yang dicapainya. Agar dapat memenuhi kriteria-kriteria di atas, guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi, diantaranya sebagai berikut. 1. Menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi lain dengan baik. 2. Menyukai apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi. 3. Memahami pengalaman, kemampuan dan prestasi peserta didik. 4. Menggunakan metode yang bervariasi dalam mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik. 5. Mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi. 6. Mengikuti perkembangan pengetahuan mutakhir. 7. Menyiapkan proses pembelajaran. 8. Mendorong peserta didik untuk memperoleh hasil yang lebih baik. 9. Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan dikembangkan. Kondisi seperti ini menuntut seorang guru untuk senantiasa belajar meningkatkan kemampuan, siap dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar dari peserta didiknya.


7 7 C. Peran Guru Sebagai Fasilitator Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Peran guru sebagai fasilitator membawa konsekuensi terhadap perubahan pola hubungan gurusiswa, yang semula lebih bersifat “top-down” ke hubungan kemitraan. Dalam hubungan yang bersifat “top-down”, guru seringkali diposisikan sebagai “atasan” yang cenderung bersifat otoriter, sarat komando, instruksi bergaya birokrat, bahkan pawang, sebagaimana disinyalir oleh Y.B. Mangunwijaya (Sindhunata, 2001). Sementara, siswa lebih diposisikan sebagai “bawahan” yang harus selalu patuh mengikuti instruksi dan segala sesuatu yang dikehendaki oleh guru. Berbeda dengan pola hubungan “top-down”, hubungan kemitraan antara guru dengan siswa, guru bertindak sebagai pendamping belajar para siswanya dengan suasana belajar yang demokratis dan menyenangkan. Oleh karena itu, agar guru dapat menjalankan perannya sebagai fasilitator, guru dapat memenuhi prinsip-prinsip belajar yang dikembangkan dalam pendidikan kemitraan, yaitu bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila : a. Siswa secara penuh dapat mengambil bagian dalam setiap aktivitas pembelajaran. b. Apa yang dipelajari bermanfaat dan praktis. c. Siswa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan secara penuh pengetahuan dan keterampilannya dalam waktu yang cukup. d. Pembelajaran dapat mempertimbangkan dan disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan daya pikir siswa. e. Terbina saling pengertian, baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.


8 8 Pada bagian lain, Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa agar guru dapat mengoptimalkan perannya sebagai fasilitator, maka guru perlu memahami hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber belajar. Dari ungkapan ini, jelas bahwa untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator, guru mutlak perlu menyediakan sumber dan media belajar yang cocok dan beragam dalam setiap kegiatan pembelajaran dan tidak menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar bagi para siswanya. D. Tehnik Fasilitator. Dalam melaksanakan tugas menjadi fasilitator, maka terdapat tiga teknik dasar yang perlu dipelajari. Yaitu : 1. Pencairan Suasana Maksud pencairan suasana adalah agar suasana diskusi kelompok men jadi tenang, nyaman, santai dan tidak tegang, gerah atau beku. Maka fasilitator harus memperlihatkan raut wajah yang ramah dan banyak senyum, serta dalam memberikan contoh atau celetukan yang lucu tetap dalam suasana terkendali. 2. Ceramah Ceramah adalah penyampaian materi kepada peserta kelompok agar pesan dan kesan yang benar dapat dipahami oleh peserta. Untuk memudahkan digunakan alat bantu berupa buku, materi, papan tulis/alat tulis, waktu untuk ceramah disesuaikan dengan banyaknya materi yang akan dibahas. 3. Permainan Permainan adalah cara mudah bagi peserta kelompok untuk mengulang dan mengingat kembali materi yang telah disampaikan agar kita yakin bahwa isi dari materi telah dimengerti sepenuhknya oleh peserta kelompok.


9 9 2.2Guru Profesional sebagai Komunitator A. Pengertian Komunitator Komunikasi dalam bahasa Inggris berasal dari kata commonicatio atau dari kata comunis yang berarti “sama” atau “sama maknanya”. Komunikasi berarti penyampaian informasi, gagasan, pikiran, perasaan, keahlian dari komunikator kepada komunikan untuk mempengaruhi pikiran komunikan dan mendapatkan tanggapan balik sebagai feedback bagi komunikator. Sehingga komunikator dapat mengukur berhasil atau tidaknya pesan yang di sampaikan kepada komunikan. B. Peran Guru sebagai Komunitator Guru berperan sebagai komunikator yaitu mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non-verbal. Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi. Guru sebagai komunikator dituntut mempunyai keterampilan berkomunikasi yang baik agar proses pembelajaran berjalan dengan maksimal dan memberikan kesan yang baik kepada siswa. Di dalam kelas guru menjelaskan, siswa bertanya, menyimak, dan sebaliknya guru mendapatkan informasi dari para siswanya, menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi bersama-sama. Kedua belah pihak (komunikator-komunikan) aktif, dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa atau siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan. Guru merupakan sumber utama dalam menentukan kesuksesan belajar siswa. Paham atau tidaknya siswa tergantung


10 10 bagaimana guru menjelaskan. Menarik atau tidaknya pembelajaran juga tergantung guru dalam mendesain pembelajaran dan mengkondisikan suasana. Di dalam komunikasi pembelajaran, tatap muka seorang guru mempunyai peran yang sangat penting di dalam kelas yaitu peran mengoptimalkan kegiatan belajar. Ada tiga kemampuan yang harus dimiliki guru agar kegiatan belajar dapat terlaksana dengan baik yaitu: 1. Kemampuan merencanakan kegiatan 2. Kemampuan melaksanakan kegiatan, dan 3. Kemampuan mengadakan komunikasi Ketiga kemampuan ini sama pentingnya, karena setiap guru tidak hanya mampu merencanakan sesuai rancangan, tetapi harus terampil melaksanakan kegiatan belajar dan terampil menciptakan iklim yang komunikatif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Kegiatan belajarmengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimiliki, guru harus tahu bagaimana mempersiapkan program pembelajaran dengan baik dan sistematis. C. Tehnik Komunikasi 1. Komunikasi Nonverbal Tubuh dan suara adalah kurir yang membawakan pesan Anda. Dengan menggunakan ekspresi wajah, gerak tubuh,


11 11 suara, dan postur secara efektif, Anda dapat menyampaikan pesan kongruen yang memperkuat komunikasi. Pesan yang kongruen adalah pesan yang memiliki perkataan, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan postur yang selaras. Wajah mengatakan hal yang sama dengan perkataan tubuh dan pikiran otak (DePorter dkk., 2010: 167). a. Kontak Mata Kontak mata sering dilakukan untuk membangun dan membina jalinan tingkat tinggi. Pandanglah siswa-siswa Anda, tetapi tidak lebih dari tiga detik untuk setiap orang. Jangan memandang ke atas kepala siswa. Usahakanlah sungguh-sungguh untuk berkomunikasi dengan setiap siswa selama pelajaran dengan menggunakan mata. b. Ekspresi Wajah Wajah adalah alat komunikasi yang kuat. Pesan nonverbal yang disampaikan melalui alis terangkat, sunggingan senyum, dahi berkerut, anggukan kepala, mata melebar, dan mulut terbuka setara dengan ribuan kata. Gunakan wajah Anda dengan kentara untuk menyampaikan pesan . Latihlah senyuman dan gunakanlah bahkan pada saat Anda sedang menyusun pikiran dalam hati ketika di depan kelas. c. Nada Suara Nada, perubahan, dan kualitas pola suara dapat menyatakan kegembiraan, kekecewaan, keraguan, kepastian, dan ketidakpastian serta emosi-emosi lainnya. Volume menangkap indra pendengaran dengan cepat. Suara lirih biasanya menandakan hal penting, misalnya rahasia atau hal kunci. Suara lantang menandakan semangat, komando, dan perhatian. d. Gerak Tubuh Gerakan tangan,lengan,dan tubuh yang alamiah dan terarah akan memberi penekanan pada pesan menandai pernyataa


12 12 kunci, dan menangkap perhatian pelajar kinesetik dengan menyediakan gerakan hidup bagi suara. e. Sosok (Postur). Perasaan dan pikiran muncul dalam postur. 2. Paket Presentasi Efektif a. Penemu Untuk membangkitkan rasa ingin tahu, ketakjuban, kegairahan, dan rasa ingin menemukan, sampaikan isi dengan menggunakan ciri-ciri berikut. 1) Berdirilah dengan ringan. 2) Condongkan tubuh sedikit ke depan. 3) Bergeraklah menyamping di depan kelas. 4) Jaga kesan penemuan dan pesona. 5) Gunakan predikat visual, auditorial, dan kinestetik. 6) Gunakan “mari kita” dan “kita” untuk mencakup keseluruhan. b. Pemimpin Presiden Soekarno dan Kennedy memberi motivasi dan inspirasi, berbicara dari lubuk hati terdalam. Sumber nilai- nilai dan kepercayaan mengalir keluar melalui gerak tubuh, postur, pola bahasa tertentu. Tipe ini disebut tipe pemimpin. Untuk mengilhami dan memotivasi siswa mencapai prestasi lebih tinggi lakukan dengan ciri-ciri berikut. 1) Berdiri tegap, kedua kaki terpisah selebar bahu. 2) Meletakkan satu kaki di depan yang lain. 3) Menghadap sedikitke arah satu sisi pendengar bergiliran. 4) Bernafas penuh. 5) Menjaga kontak mata. 6) Gunakan terutama predikat visual dan kinestetik (DePorter, 2010: 174—175).


13 13 c. Pengarah Paket Pengarah menambahkan semangat dan ketelitian pada pemberian petunjuk. Dalam mode pengarah, siswa dimobilisasi menuju tindakan, segaris, dan jelas mengenai tugas mereka. Gunakan lima unsur ini saat merancang dan menyampaikan petunjuk. 1) 1. Kapan 2) 2. Siapa 3) 3. Arahan 4) 4. Periksa 5) 5. Tindakan


14 14 BAB. 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu mereka membuat rencana guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu dalam diskusi. Sebagai fasilitator, guru berperan memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Sedangkan guru berperan sebagai komunikator yaitu mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non-verbal. Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi. Teknik komunikasi dibedakan menjadi dua yaitu teknik komunikasi nonverbal dan paket presentasi efektif 3.2 Saran Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saran dan pendapat yang mendukung kami harapkan guna menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih


15 15 Daftar Pustaka Sindhunata. 2001. Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Zaman, Yogyakarta : Kanisius Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Proyek P2MPD. 2000. Fasilitator dalam Pendidikan Kemitraan (Materi IV-4-1). Jakarta.


Click to View FlipBook Version