The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Antologi Cerpen Pengabdian Akbar 1 merupakan kumpulan catatan perjalanan para Laskar Dewantara Batch X GEMAPEDIA 2022/2023 yang merepresentasikan berbagai pengalaman, perasaan, dan pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan Pengabdian Akbar 1.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Resta Naura, 2023-04-13 20:30:10

ANTOLOGI CERPEN PENGABDIAN AKBAR 1 GEMAPEDIA

Antologi Cerpen Pengabdian Akbar 1 merupakan kumpulan catatan perjalanan para Laskar Dewantara Batch X GEMAPEDIA 2022/2023 yang merepresentasikan berbagai pengalaman, perasaan, dan pembelajaran yang diperoleh selama mengikuti rangkaian kegiatan Pengabdian Akbar 1.

Keywords: Antologi,Pengabdian Akbar,GEMAPEDIA,Cerpen

[DOCUMENT TITLE] [Document subtitle] ABSTRACT [Draw your reader in with an engaging abstract. It is typically a short summary of the document. When you’re ready to add your content, just click here and start typing.] admin [Course title]


1 Kata Pengantar Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat-Nya sehingga Antologi Cerpen Pengabdian Akbar 1 ini selesai disusun. Kami, Tim Divisi Redaksi dan Literasi GEMAPEDIA kabinet Arungan Nuraga sangat bersyukur dan berterima kasih atas segala dukungan dari semua pihak dalam proses penyusunan antologi ini. Extraordinary! 44 cerpen dalam buku antalogi ini merupakan karya istimewa para Laskar Dewantara Batch X yang merepresentasikan berbagai pengalaman, perasaan, pembelajaran serta kesan pesan yang diperoleh selama mangikuti kegiatan Pengabdian Akbar 1. Harapan kami, semoga buku Antalogi cerpen ini dapat menjadi motivasi dan pengingat bagi Laskar Dewantara serta khaayak umum agar senantiasa bersemangat dan berpartisipasi aktif dalam menebar ilmu pengetahuan dan kebaikan. Akhir kata, kami menanti kritik dan saran yang membangun guna perbaikan kami kedepannya. Salam Literasi! Malang, April 2023 Divisi Redaksi dan Literasi GEMAPEDIA


2 Daftar Isi Kata Pengantar ..................................................................... 1 Kebahagiaan Menuju Cita, Meraih Mimpi Sejuta Karya 5 Episode Satu ........................................................................ 10 Hujan Kala Itu tak Mematahkan Asa............................... 15 Jejak Garis Waktu.............................................................. 20 Indahnya Ngadas dan Persahabatan................................. 26 Lautan Ilmu Di Atas Awan ................................................ 32 Pintu Baru ........................................................................... 38 Bukan Sabtu Kelabu........................................................... 44 Sabtu yang Baru.................................................................. 50 Memori Negeri di Atas Awan ............................................ 57 Sekolah di Atas Awan......................................................... 64 Arah Langkah ..................................................................... 71 Sang Pendidik...................................................................... 80 Minim Siswa Bukan Penghalang Kebahagiaan ............... 86 Sang Laskar......................................................................... 92 Perempuan Penunggu....................................................... 104 Pengalaman Pertama sebagai Guru................................ 109 Pengabdian Pertamaku .................................................... 115


3 Singa Kecil......................................................................... 121 Semangat Membara, Aksi Tercipta ................................ 129 Cerita di Suatu Sabtu ....................................................... 136 MATA ................................................................................ 141 Empat Waktu .................................................................... 146 Abdiaksa Renjana............................................................. 153 Segelintir Upaya Meraih Asa........................................... 159 CAPER............................................................................... 166 Hangatnya Suaka Pendidikan ......................................... 173 Menjadi Relawan Untuk Sebuah Pengabdian................ 179 Hari Pertama Mengajarku............................................... 185 Usahaku ............................................................................. 192 Kini Kutemukan Makna dari Kalimat Itu ..................... 200 Menjelang Masuk Sekolah............................................... 205 Singkat ............................................................................... 212 Belajar dari Pengalaman.................................................. 217 Guru Pejuang Pendidikan................................................ 222 Setegar Hatimu.................................................................. 228 Kegiatan Mulia.................................................................. 234 Berkesan ............................................................................ 240 Kisah Relawan Muda ....................................................... 249 Pengalaman Pengabdian Pertama Ku ............................ 256


4 Belajar Menjadi Lebih Baik............................................. 265 Dinanti Setiap Sabtu......................................................... 272 Mempercayai Manusia ..................................................... 275 Struggle of The Dreams.................................................... 280


5 “ Kebahagiaan Menuju Cita, Meraih Mimpi Sejuta Karya Oleh : Rinda Pertiwi Mukti Pagi mentari yang terbit dari ufuk timur, hayalku menyambut esok hari yang baru, membawai potensi diri yang ketika aku sejak terbangun dari pagi itu. Bulan November tahun 2022 menjadi bulan paling menyenangkan bagiku, itulah bulan kelahiranku, selain itu, pada bulan tersebut, setiap hari Sabtu dalam jangka waktu 1 bulan aku melakukan pengabdian mengajar di SDN 2 Ngadas tepatnya pada tanggal 12 November 2022. Hari itu, aku terbangun pukul 04.15 WIB untuk bersiap diri untuk mengabdi di tempat tersebut. Setelah bergegas bersiap-siap, aku berpamitan kepada Ibu dan Ayah, kataku “Rinda berangkat dulu ya Bu, Pak”. “Iya, Hati-hati di jalan ya, Nak”. Ujar lbu ku. Tiba saatnya aku sudah di depan gerbang Surabaya untuk berkumpul bersama menuju keberangkatan di Ngadas. Perjalanan yang panjang, suasana yang dingin, tidak mengundurkan tekadku untuk tetap melanjutkan perjalanan


6 menuju ngadas. Pemandangan yang indah, jalan yang berkelok-kelok sangat membuatku lebih bersemangat lagi, karena berbeda dengan yang terletak di Kota Malang. Lalu pada saat diperjalanan, temanku berkata “Rin, ini masih jauh kah?” “Sepertinya iya, karena aku juga pertama kali melakukan perjalanan di Ngadas”, jawabku sambil bertanya-tanya antara iya dan tidak hehe. Setelah melalui perjalanan yang panjang, sekitar 1 jam setengah, tiba lah kami di SDN 2 Ngadas, Pada saat disana aku dan teman-teman disambut dengan adik-adik yang lucu, Bapak dan Ibu guru yang sangat ramah dan terbuka saat kedatangan kami semua. Aku termenung sejenak dengan keadaan sekitar yang sangat indah sekali, bahkan selama ini aku belum pernah melihatnya di tempat lain, dinginnya semilir angin, kabut yang tebal membuat suasana semakin mencekam. Setelah melakukan berbagai persiapan mulai dari menyiapkan media pembelajaran, aku sendiri dan partnerku, Azizah namanya, dia dari jurusan pendidikan matematika, dia adalah salah satu orang baik yang ku kenal selama ini, sudah terlalu banyak untuk didefinisikan hihi. Pada saat awal


7 mengajar aku dan azizah mengucapkan salam dengan riang gembira dan bertanya kabar dengan adik-adik. “Assalamualaikum Wr. Wrb adik-adik, bagaimana kabarnya hari ini?”. “Waalaikumsalam wr. Wrb, Alhamdulillah, luar biasa, Allahhu Akbar”. Dengan semangat adik-adik yang membara, membuatku lebih semangat lagi karena melihat senyum dan semangat untuk belajar hari ini. Pengalaman hari pertama mengajar di ngadas sangat membuatku terjekut dengan pemandangan yang sangat indah, jalan-jalan ekstrim yang belum pernah aku lewati sebelummnya. Hari demi hari, tiba lah pengabdian ke 2 dimulai lagi, kali ini pengabdian yang ke 2 sedikit berbeda karena cuaca di pagi hari diiringi oleh rintik hujan yang membasahi di selah-selah beberapa daerah di Jawa Timur di Kota Malang, bahkan Kabupaten Malang. Pada saat itu hatiku bimbang karena cuaca yang sangat tidak mendukung dan perjalanan disana yang sangat menegangkan, tapi itu semua tidak mengurungkan semangatku untuk tetap berangkat. Hari itu pun dari rumah aku berangkat dari rumah untuk menju jalan Semarang. Setelah mempersiapkan semuanya, hari itu kami berangkat dengan menggunakan jas hujan masing-


8 masing. Pada saat menuju tengah-tengah perjalanan di Ngadas, ban sepeda mbak Dinda, bocor, itu membuat kami semua sedikit panik dengan cuaca hujan. Akhirnya pada saat itu beberapa Dewantara dan Laskar Dewantara ada yang berangkat terlebih dahulu menuju Sekolah tersebut. Pemandangan yang terlihat sangat indah, suara burung yang berkicauan membuat itu memiliki ciri khas sendiri. Tidak jauh berbeda dengan pengabdian hari pertama, aku dan Azizah disambut dengan adik-adik kelas 1, ada Azmi, Zahdan, Yoga, Khasanah, dan Alifa, merka memanggil kami dengan berteriak “Kak Rinda…” “Kak Azizah…” Lalu kami menjawabnya dengan “Haloo adik-adik” Setelah itu kami melakukan pembelajaran tentang “Cerita Keluargaku”. Hari demi hari, minggu demi minggu,pengabdian ke 3 dan 4 telah dilakukan seperti biasanya, berangkat pagi, berkumpul di belakang Universitas Negeri Malang, berangkat menuju ke Ngadas, melakukan evaluasi setelah pengabdian.


9 Tiba di pengabdian ke 4, hari dimana itu menurutku sangat sedih sekali, karena pada saat itu aku melakukan mengajar sendiri dan itu rasanya sangat berbeda sekali. Tetapi di sisi lain, ada kata pepatah yang mengatakan disaat “ada pertemuan, pasti ada perpisahan”. Dari pengabdian pertama, aku sangat belajar banyak hal dan berbagi pengalaman, hal yang membuat saya kagum, meskipun sekolah mereka terletak sangat jauh dari kota dan banyak orang biasannya menyebutnya “Negeri di Atas Awan” itu tidak membuat semangat adik-adik luntur. Selain itu, aku dapat belajar membangun relasi dengan berbagai jurusan, mengerti cara menghargai waktu, menghadapi adik-adik yang sangat aktif sekali membuatku mengerti bagaimana cara bersabar dan bagaimana kita harus mengerti kondisi mood mereka yang berbeda-beda. Perjalanan yang sangat singkat, namun melekat. Bionarasi : Hai, namaku Rinda Pertiwi Mukti biasanya dipanggil Rinda, Aku dari Departemen Pendidikan Luar Sekolah, Lahir di Kota Malang, tepatnya pada tanggal 2 November 2003, Aku tinggal di Jl. Karya Timur GG 4 No. 58 C. Ini pengalaman pertama ku menulis cerpen hehe


10 “ Episode Satu Oleh : Nurul Azizah November 2022, bulan termanisku di tahun Argentina menjadi juara piala dunia. Bukan karena bulan dimana awal mula aku bisa melihat dunia seisinya, melainkan karena pengalaman dedikasi yang kuimpikan dimulai pada bulan itu. Iya, pengalaman Pengabdian Akbar 2 setelah menjadi anggota Laskar Dewantara Batch X di GEMAPEDIA alias Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan, organisasi eksternal kampusku, UM. Rasa syukur dan senangku tak pernah bisa terhitung saat itu dan sebelum itu, saat dimana sebulan sebelumnya aku bersaing dengan teman semimpiku untuk mencapai posisiku saat ini. Layaknya manusia normal yang hatinya dibolakbalikkan oleh Tuhan, rasa syukurku itu diiringi rasa khawatir akan tanggung jawab baru yang harus diemban dan dijalankan sebagaimana harusnya. Namun, karena kegiatan tersebut merupakan bagian dari minat besarku, aku pun berusaha menjalankannya dengan maksimal. Suka bermain peran dalam ke-voluntripan adalah minat besarku. Di sini petualangan


11 voluntripku dimulai pada seri episode satu, pengabdian akbar satu. Episode satu diawali dengan suatu keberuntungan, yakni ditempatkan di kelas satu SDN 2 Ngadas. Iya keberuntungan, karena sebelumnya aku ditempatkan di kelas lima SDN 3 Padjaran. Meskipun sama-sama di Kabupaten Malang, SDN 2 Ngadas, sekolah seperti negeri di atas awan seakan-akan dapat menjadi tempatku pulang. Setiap Sabtu di November itu kusempatkan dengan hati sangat lapang untuk sekedar belajar dan berbagi kebahagiaan kepada adik-adik ceria kelas satu di sana. Untuk mewujudkan itu semua tentunya aku tidak sendirian. Ada partner aku yang paling baik hati dan budinya. Beruntungnya lagi dia itu sefrekuensi dengan orang receh sepertiku. Rinda namanya. Tidak pernah bertemu atau kenal sebelumnya, tapi secepat menghitung satu dikali seratus aku menganggapnya saudara. Bersama membuat RPP, lagu belajar, hingga media pembelajaran untuk pertemuan pertama hingga keempat di November itu membuat kita semakin dekat. Kamar kos minimalis adalah saksinya. Hingga pada akhirnya aku dan dia bermain peran di momen paling berharga, Sabtu, 19 November 2022. Hujan saat itu rasanya tidak ingin pergi dari subuh hingga jam tujuh pagi. Aku yang tidur hanya tiga log dua puluh


12 tujuh pada malam sebelum hari itu sempat membuatku sedikit malas alibi lelah menjalani hari Sabtu kedua di November itu. Hingga pada akhirnya aku terlambat kurang lebih satu jam untuk berkumpul bersama teman-teman seperjuanganku. Karena hal itu, cukup membuatku merasa bersalah, takut, resah, hingga gelisah. Rasa itu menemaniku dari awal perjalanan menuju sekolah di atas awan itu hingga kegiatan rutinan di akhir, evaluasi bersama. Rintik hujan yang belum juga usai dan cuaca belasan derajat ketika tiba di sana membuatku semakin takut tidak bisa menebus kesalahan itu. Tiga dari lima adik kelas satu yang menyambutku dengan senyum simpul di pintu itu seakan memberiku energi baru. Mereka baru saja belajar membaca dan mengenal tulisan tapi sudah pandai memaknai pentingnya pendidikan. Aku pun semangat untuk saling tukar semangat belajar dengan mereka. Saat itu aku dan Rinda mengajarkan peran dan aktivitas keluarga. Masing-masing dari tiga adik kelas satu yang hadir cukup pandai untuk mengikuti pelajaran itu. Mulai dari menulis, menyebutkan, mengingat, hingga mempresentasikan aktivitas keluarga di depan kelas. Meskipun aku tahu bahwa salah satu pemeran penting dalam keluarga salah satu adik di kelas itu baru saja meninggalkannya. Dia hanya tersenyum polos menanggapi takdirnya dan senantiasa menunjukkan


13 bahwa dia bisa seperti teman-teman sekelasnya. Setelah jam istirahat, aku dan Rinda melanjutkan pembelajaran dengan bermain susun kata bersama adik-adik kelas satu. Seperti Sabtu sebelumnya, tingkah dua adik laki-laki semakin lucu. Iya, lucunya mereka itu sama dengan hiperaktif. Sebelumnya aku sangat memakluminya karena mereka masih sangat belia, tapi untuk hari itu benar-benar di luar nalar tingkah nakal mereka. Mulai dari naik meja, enggan mengikuti perintah, hingga merusak dan membuang 'mahkota identitas' yang menjadi id card kelas satu di episode satu kali ini. Apalagi kakak pendamping kita, sebut saja Kak Bisma berhalangan hadir untuk menemani kita di kelas. Waktu pun berjalan hingga hingga menunjukkan pukul sebelas, waktunya mereka pulang. Siang di hari itu aku dan teman-teman seperjuanganku seperti biasa melakukan evaluasi bersama. Tepat di suatu warung makan favoritku, yaitu bakso. Rasa bersalah dan takut kembali menemaniku akan evaluasi hari ini. Siapa sangka bahwa evaluasi tidak seburuk bayanganku. Feedback dari kakak-kakak GEMAPEDIA setelah aku dan Rinda menyampaikan evaluasi pembelajaran saat itu benar-benar membuat rasa bersalah dan takutku menjadi syukur. Sebut saja Mbak Baik. Dia yang membuat aku dan Rinda berkesan akan untaian katanya tentang usaha maksimal kami di kelas.


14 Ditambah dia melihat peningkatan pengajaran dengan variatifnya media pembelajaran oleh kami di kelas. Tak hentihentinya aku ucap syukur dalam hati. Ternyata tidak pernah salah tentang seuntaian kalimat yang pernah aku dengar, bahwa sebagai manusia yang punya Tuhan harus berani menghadapi segala ketakutan. Karena keajaiban selalu ada buat mereka yang senantiasa menebus ketakutan dan kesalahan dengan menebar kebaikan. Bionarasi : Nurul Azizah, mahasiswa bermata empat yang masih bertahan di prodi S1 Pendidikan Matematika, FMIPA UM. Selama ini dosen mengenalnya dengan identitas NIM yang disandangnya, yakni 210311624897. Jika ingin berpetualang bersamanya dapat menghubungi 089620207523, rumahnya masih di Pasuruan sejak 15 November 2002 silam. Saking serunya, cukup sulit menulis petualangan Episode Satu.


15 “ Hujan Kala Itu tak Mematahkan Asa Oleh : Siti Nor Halisa Seorang mahasiswa semester 3 sedang melakukan kegiatan Pengabdian Akbar 2 di organisasinya, yaitu organisasi bernama GEMAPEDIA. “Kring kring, kring kring, kring kring” ,suara alarm yang menandakan harus segera bangun. Sebagai seorang anak kos, melakukan semuanya sendiri adalah suatu keharusan. Bergegas menuju kamar mandi dan memakai baju biru kebanggaan. Tak lupa menyeduh susu hangat supaya perut tidak keroncongan. Pagi ini hujan deras, namun tidak mematahkan semangat untuk pengabdian yang bertempat di SD Negeri Ngadas 1. “Ayo rek sudah jam 5 halooooo”, suara Fifi dengan nada ciri khasnya. Sedang aku masih sibuk bersolek didepan kaca. Jam dinding memang sudah menunjukkan pukul 5, sedangkan pukul setengah enam harus sudah ada di kampus pusat yang jarak tempuhnya kurang lebih 18 kilometer.


16 Hujan yang begitu deras membuat kami merasa ragu untuk berangkat, selain jalanan yang bahaya menuju Ngadas, kami harus membawa media pembelajaran yang harus dibawa. Sampai akhirnya, “Dikarenakan hujan sangat deras, untuk pengabdian akbar kali ini kita tunda kumpulnya sampai pukul enam” kata Mba Ica sebagai penanggungjawab. “Diundur rek, yawis kita duduk-duduk sek ae”, Rani yang awalnya semangat menjadi lesu karena hujannya belum reda. “Yaopo lek dipackingi plastik besar ae mediae ben safety?” “ya ya ngunu kuwi ben ga kudanan”. Mulailah membungkus media pembelajaran menggunakan plastik yang besar. “Teman-teman bisa langsung berkumpul ya karena hujan sudah mulai reda”, chat salah satu anggota grup Laskar Dewantara. “Yo ayoo gass”, ucap Hindun dengan bawaan media yang begitu ribet. Layaknya pembalab, setiap menuju kampus pusat, kami mengendarai motor dengan kecepatan diatas 60 km/jam. Lampu lalu lintas masih berwarna kuning sehingga jalanan mulus tidak ada macet. Hujan yang masih begitu deras terpaksa kami terobos dengan semangat yang membara. Selang 30 menit sampailan kami di gerbang semarang kampus pusat.


17 Seperti biasa setelah anggota kelompok datang semua, doa untuk keselamatan dan kelancaran Pengabdian Akbar 2 di gaungkan. “Yo ayooo GEMAPEDIA????” “Bangga mendidik, mengabdi, dan menginspirasi anak bangsa”, semboyan yang tak lupa setiap akan berangkat pengabdian. Hujan mulai sedikit reda, bergegas menuju SD Negeri 1 Ngadas. Kami menempuhnya selama kurang lebih satu setengah jam. Layaknya negeri dongeng, kami menempuh perjalanan dengan pemandangan sehabis hujan yang elok nan cantik. Kabut putih yang menyelimuti menjadi saksi dan peneman perjalanan waktu itu. Gunung yang gagah dan perkasa juga turut menemani keindahan perjalanan ke SD Ngadas kala itu. Kami sudah tidak sabar melihat senyuman adik-adik yang menunggu kedatangan kami. Waktu demi waktu tidak terasa karena terlena dengan keindahan ciptaan Tuhan yang maha esa, dan sampailah kita di SD Ngadas. Senyum dari kejauhan sudah nampak dari calon-calon orang hebat pemimpin bangsa. Awalnya ada rasa ragu akan ketidakhadiran mereka karena hujan yang begitu lebat. Namun, hal itu terpatahkan karena ternyata masih banyak adik-adik yang semangat mau belajar.


18 “Kak Halisa haii”, ucap Qalbi ke aku dengan wajah begitu imut. Nampaknya mereka sudah tidak sabar untuk belajar dan bermain bersama kami. Pagi ini ada agenda yang harus terlewat karena hujan dan kedatangan kami yang terlambat. Kegiatan tersebut adalah senam pagi. Namun hal ini tak mematahkan semangat untuk belajar bersama, meskipun waktu yang akan digunakan belajar sangat singkat. Seperti hari-hari sebelumnya, setiap anak pasti memiliki cara masing-masing untuk belajar. Adik-adik disini sangat aktif dan pintar untuk belajar. Ada yang pagi-pagi sudah makan es Pino dan tidak, ada yang waktu belajar dikolong meja, ada yang antusias sekali untuk maju kedepan dan keberanian mereka lain-lain. “Kak kak nanti kita bermain ya” “Kak habis ini boleh nyanyi balonku kak?” “Kak kalau duduk dibawah boleh ya” , pertanyaan dan pernyataan yang sangat bervariasi dari adikadik yang membuat kita harus sabar dalam menjawab semua pertanyaanya. Sebagai seorang mahasiswa kerap kali aku merasa beruntung mendapatkan pendidikan yang lebih baik dari mereka. Semangat juang mereka yang tinggi untuk meraih citacitanya harus mendapat perhatian besar dari para petinggi


19 negara karena akses menuju sekolah serta fasilitas yang jauh dari kata cukup. Aku belajar banyak hal dari kegiatan pengabdian akbar ini, dengan usaha dan rasa sabar akan mendapatkan pengalaman yang indah dan mengajarkan untuk bersyukur. Pendidikan dan sekolah yang layak tetap harus diperjuangkan untuk setiap anak negeri. Besar harapan kami sebagai mahasiswa untuk mengembangkan potensi adik adik disini dengan cita-citanya ang begitu besar. “Okee, alhamdulilah ya lancar kegiatan hari ini, semoga Minggu depan akan tetap dilancarkan dan kemudahan oleh Tuhan yang Maha Esa”, Ucap penanggung jawab kegiatan hari ini dengan rasa bersyukur. Bionarasi : Siti Nor Halisa, NIM 20151601763, Fakultas Ilmu Pendidikan, Departemen KSDP, Prodi PGSD, Tempat tanggal lahir Lumajang, 12 Februari 2003, Alamat Dusun Krajan tengah, Desa Jokarto, Kec. Tempeh, Kab. Lumajang. Pengalaman menulis cerpen bagi saya suatu hal yang asik dan seru karena kita dapat mengekspresikan pengalaman dengan sebuah tulisan.


20 “ Jejak Garis Waktu Oleh : Ilmal Hadi Riham Setyorahmah Pagi itu, bersama gemericik air yang turun, suasana yang begitu berisik tapi menenangkan. Dedaunan basah sesekali menari-nari dibawah rintikan hujan bersama dengan hembusan angin yang seakan mengajaknya berdansa. Embun pagi yang menyejukkan ditambah rayuan selimut yang selalu memberi kehangatan. Hujan mulai reda pertunjukan pun berakhir, sampai momen itu datang. Sebuah pementasan baru dari warga bumi akan segera dimulai. Di Dalam kubus seseorang berbicara dalam hatinya sembari mematikan alarm yang setiap saat ia gunakan. “Halo dunia, mau bermalas-malasan atau bersenang-senang?” gerutu seorang anak yang mencoba bangun dari kasurnya. “Sedikit rasa malas dan selebihnya mencoba untuk bersenangsenang.” sembari mematikan alarm. Sesingkat itulah karya ini dibuat oleh alur tuhan, setapak demi setapak perlahan membuat perubahan. Kembali dalam kehidupan dan mencoba memandang layar


21 smartphonenya. Nah, hari ini dia memulai sebuah percobaan baru, manakala itu berhasil mungkin saja ada kebahagiaan dan semoga saja ya. Waktu terus berjalan hujan masih diambang kata reda. Mencoba untuk bersabar tapi apalah daya hanya sebatas manusia. “Melihat suasana sekitar seolah menandakan, ya ini dia!!. Pertunjukan baru akan segera melintasi garis waktu.” ucapan seorang anak tersebut sembari menaiki sebuah motor. “Semua sudah siap, adakah yang ketinggalan? Ya mungkin saja sarapan. Ah.. itu gampang.” sembari memakai helm dan bergegas berangkat. Melihat suasana pagi yang mulai terbangun dari tidurnya. Aroma khas pedesaan berbalut kota. Tak ada baginya tempat bercerita selain hampaan kesibukan oleh jiwa setiap manusia. Hidupnya sudah merepotkan untuk setiap manusia. Namun, perlahan motornya berhenti dan membeli sesuap nasi. Berjalan perlahan sampailah ketitik lokasi. “Kalian dimana, kok sepi?” sembari membuka smartphonenya. “Hufft... baik aku kesana!!”


22 Bukan ia tak bisa. Bukan ia tak sanggup. Tapi, beberapa hal memang harus diprioritaskan. Tangan saya cuma dua, yang kiri dan kanan. Ia cukup berani sendiri walaupun mengorbankan banyak hal waktu itu. Seperti apapun, kehidupan cukuplah seperti ini. Selalu memberi maaf pada diri sendiri dan berdo’a saja untuk kebaikannya, terlebih lagi pada orang-orang disekitar. “Saya boleh sarapan dulu?” ucap anak tersebut. “Boleh, kok. Selagi nunggu teman-temannya datang.” jawab seseorang sembari melakukan kesibukannya. Kembali lagi menyiratkan bahwa dunia ini sedang beretorika dengan kehidupan, jawaban yang sederhana adalah kepuasan tersendiri. Bukan tidak mau mengerjakan, ada waktu yang harus diluangkan dengan keluarga yang semakin kecil ini. Ya begitulah karangan sederhana dari sang pencipta. Kali ini ia memberi sebuah pintu masuk yang sedikit rumit untuk dijelaskan. Begitulah implementasi kehidupan yang fana, karena fana adalah frasa. “Bismillah, kita berangkat pagi ini, semoga diberikan kemudahan dan kelancaran.” renungan pagi dari seorang pemimpin.


23 Seperti lirik dari lagu tulus, perjalan membawaku. Ya membawaku bersama seorang teman baru. Terucap sekali dalam batin, halo selamat datang semoga menginspirasi. Kala itu sedikit mendung dan perjalanan masih panjang. Rayuan rasa dingin dibalut hangatnya mentari pagi menjadi sajian yang khas di tepi gunung sana. Kemudian, hari mulai menunjukkan dirinya. Sebagai sebuah harapan untuk mengajar dan sebagai acuan dalam berkehidupan sesuai alur tuhan. Sesaat setelah itu, hal baru untuk kedua kalinya terulang. Tidak ada yang istimewa saat perjalan kesana, hanya obrolan ringan sembari sedikit mengungkapkan siapa dirinya. Topik basa basi yang digunakan pecandu backpacker. Kali ini tujuannya mengajar dan memotivasi, bukan sekedar jalan dan menikmati indahnya suasana pedesana dibalut kabut tebal di atas pegunungan. Sedikit bersenang-senang, begitulah kalimat yang sesuai dengan keadaan waktu itu. “Bismillah, yuk bisa!!!” ucap anak tersebut sembari memulai pelajaran. Pelajaran dimulai dengan seorang teman baru. Hal baru lagi memulai awal pagi. Kehidupan di kelas sedikit teratur dan sedikit terasa aneh. Mengalir begitu saja pelajaran pagi ini, tak terasa sudah menjelang berakhir dengan keadaan yang masih


24 sama. Anak bukan nakal tetapi perlu pendampingan, anak bukan bodoh tetapi butuh pengarahan, dan anak yang pendiam sebenarnya dia bisa. Ya serumit itulah menguasai keadaan waktu itu. Akan tetapi, ya masih baru dan kembali dalam segala aspek pembelajaran. “Silahkan diminum dan dimakan, apa yang ada disini!” ucap seorang pengajar. “Iya, terimakasih.” serentak warga bumi yang kelaparan berbicara. Waktu terus berjalan dan perlahan mulai meninggi, waktunya pulang dan berevaluasi diri. Sesampainya di perjalanan dan seberhentinya motor, selalu ada dan akan terus ada cerita. Itulah sebatas kata yang mengisyaratkan waktu pertama kali berjumpa. Selebihnya akan terulang dan sedikit berubah tokohnya. Dengan segala kerumitan dalam belajar selalu ada rasa senang dan sesederhananya sebuah kata pasti ada rasa malas saat mengucapkannya. Begitulah perjalan awal waktu itu, hanya andil dalam sebatas saja, tetapi bersyukur tetap hadir.


25 Bionarasi : Nama Ilmal Hadi dari angkatan 22 yang baru jadian langsung pengen sibuk aja. Gak banyak berbicara tentang cerpen ini karena saya sadar akan saya buat sesederhana mungkin, terimakasih dan mohon maaf atas segala kekurangannya. Saya beserta rekan redaksi yang bertugas pamit undur diri.


26 “ Indahnya Ngadas dan Persahabatan Oleh : Rahma widya sari Pada pertengahan bulan November aku melaksanakan pengabdian mengajar bertepatan di SDN 2 Ngadas. Setiap hari Sabtu kujalani melaksanakan kegiatan mengajar dengan perjalanan dingin serta pemandangan samping kiri dan kanan dipenuhi dengan pepohonan serta perkebunan yang sangat indah dan membentang. Pada saat itu saya aku berkesempatan mengajar di kelas 5 sampai dengan 4 kali pertemuan. Murid kelas 5 berjumlah 6 peserta didik dengan karakteristik yang berbeda akan tetapi mereka semua sangat ceria dan baik hati. Siswa kelas 5 tersebut, yakni : Anas, Dafa, Alfa, Jannah, Rani dan Ajeng. Akan tetapi siswa yang bernama Alfa tidak pernah masuk dari awal pertemuan sampai akhir dikarenakan ia malas untuk bersekolah dan susah meski sudah diajak temantemannya untuk masuk sekolah. Sampai disekolah, siswa disana harus berbaris untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kelas. Selanjutnya, seusai mereka mencuci tangan bergegas masuk menuju kedalam ruang kelas serta menyiapkan untuk memulai


27 proses pembelajaran. Setelah kami memaparkan materi pembelajaran dilanjutkan dengan memulai permainan agar tidak memunculkan rasa bosan dalam proses pembelajaran berlangsung. Setelah itu, aku dan anak-anak kelas 5 bergegas membentuk lingkaran yang akan bermain permainan ABC 5 DASAR. Disini anak-anak sangat semangat dan ceria sekali dalam bermain dimulai dari menyebutkan nama negara, kota dan benda. Setelah bermain dengan menyebutkan nama-nama tadi anak-anak pun merasa tertantang sehingga mereka meminta untuk menyebutkan nama sayur-sayuran dikarenakan mereka sering sekali menemui sayur-sayuran yang ada disekitar desa Ngadas ini. “kak sekarang ganti menyebutkan nama sayur saja” ucap Annas “iya kak.. ganti sayur saja karena juga kita sering melihat banyak yang ditanam disini serta sering lihat hasil panennya” ucap Dafa “Setujuu kak” ucap Jannah dan Ajeng dengan lantang dan semangat


28 “baik siap kita sekarang bermain dengan menyebutkan nama sayur yang sering kalian lihat di sekitar sini ya” ucapku kepada mereka Selanjutnya kita bermain dengan menyebutkan sayuran apa saja yang telah banyak sekali ditanam serta hasil panen melimpah yang telah mereka lihat seperti kentang, sawi, kubis dan lain sebagainya. Dengan menyebutkan nama sayuran tersebut maka semakin banyak sekali nama sayuran yang mereka ketahui serta termotivasinya siswa untuk menanam sayuran dikarenakan potensi yang dimiliki desa Ngadas sendiri sangat cocok sekali untuk dipakai dalam bidang perkebunan serta banyak sekali masyarakatnya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani sayur-sayuran dengan memiliki hamparan lahan pertanian yang sangat begitu luas sekali. Setelah bermain tersebut anak-anak juga mengajak untuk bermain permainan lainnya yaitu permainan lagu jari, ketika bermain anak-anak sangat begitu antusias dan ceria serta adanya kesepakatan apabila ada yang kalah nanti akan dikenakan hukuman. Setelah bermain dengan suasana yang begitu ceria ada anak yang kalah dan akhirnya mendapatkan hukuman dia ialah Rani. Akan tetapi ketika Rani akan diberi hukuman ia malah menangis dikarenakan merasa di bully.


29 “lah kenapa kok nangis kan tadi udah ada kesepakatan kalo kalah dihukum” ucap Annas kepada Rani “kenapa nangis kan ini bermain saja” ucap Jannah dengan memeluk Rani “udah-udah ini permainan saja kok nggak beneran rani, jadi jangan nangis ya teman-teman lainnya juga bercanda ini permainan saja” ucapku sembari menenangkan Rani “kalo gitu kita harus minta maaf bareng-bareng ya ke rani, karena rani juga salah paham ini bukan bermaksud untuk membully karena hukuman tadi maksudnya cuma bercanda saja” ujarku “iya kami semua minta maaf ya rani ini tadi bercanda saja kok cuma permainan jangan dimasuki ke hati” ucap semua temantemannya kepada rani Dengan mengatakan permintaan maaf tersebut akan mengajarkan kepada anak-anak bahwa meskipun kata “maaf” sudah sering sekali kita ucapkan di saat kita telah melakukan suatu kesalahan, meminta maaf adalah cara terbaik untuk menunjukkan bahwa membuktikan apabila kita telah berbuat salah dan telah belajar dari kesalahan tersebut. Setelah perbincangan saling meminta maaf tersebut selesai, akhirnya


30 menunjukan waktu untuk beristirahat dan anak-anak mengeluarkan bekal bawaannya sendiri untuk dimakan diluar secara bersamaan. “adik-adik sekarang sudah waktunya untuk beristirahat yaa” ucapku kepada mereka “yeyyy istirahat” ucap mereka dengan gembira “ayo makan bekal diluar sana bareng teman-teman lainnya”ucap Annas mengajak semua teman sekelas “iya, ayo makan disana aja bareng-bareng” ucap Jannah sambil menarik tangan rani Setelah waktu istirahat telah selesai dan anak-anak telah kembali memasuki ruang kelas akhirnya kami memulai pembelajaran lagi dan dilanjut dengan adanya kuis serta merefleksi hasil pembelajaran yang telah mereka dapatkan. Setelah kuis dan refleksi telah dilaksanakan kita merapikan serta membersihkan ruang kelas terlebih dahulu agar terlihat bersih dan rapi sebelum meninggalkan ruang kelas. Setelah bersih-bersih selesai dilakukan akhirnya berdoa terlebih dahulu dengan dipimpin oleh ketua kelas dan adik-adik bergegas untuk pulang. Sejak saat itulah aku dan adik-adik mendapat ilmu pengetahuan bermanfaat dan sangat merasa bahagia sekali bisa


31 bertemu dan bisa belajar dengan adik-adik yang ada di sekolah tersebut. Bionarasi : Rahma widya sari (210141601208) lahir di Malang, 28 Oktober 2003. Sekarang bertempat tinggal di Kabupaten Malang tepatnya di Desa Kidangbang, Kec Wajak. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jurusan pendidikan luar sekolah. Dengan adanya pengabdian ini sangat mendapatkan banyak sekali pengalaman dalam mengajar. Narahubung: [email protected]


32 “ Lautan Ilmu Di Atas Awan Oleh : Nasrunniati Dyahayu Anggi Winarni Pepatah mengatakan tak kenal maka harus berkenalan terlebih dahulu. Perkenalkan namaku Nasrunniati Dyahayu Anggi Winarni panjang ya namanya? teman-teman biasa memanggilku wina saja. Aku adalah mahasiswa semester 3 dari Universitas Negeri Malang jurusan pendidikan IPA. Aku lahir di sebuah kabupaten yang terkenal dengan julukan kota marmer yaitu kota Tulungagung, tepatnya di desa kalidawir desa yang sangat sejuk dan asri. Sejak kecil aku dibesarkan di Tulungagung sampai suatu ketika aku melanjutkan pencarian ilmu hingga ke kota malang Di kampus aku mengikuti sebuah organisasi yaitu Gerakan mahasiswa peduli pendidikan atau biasa disebut GEMAPEDIA, yang merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Akhir tahun ini GEMAPEDIA mengadakan sebuah program mengajar yaitu Pengabdian Akbar 2. Pengabdian ini di khususkan untuk sd di daerah malang, khususnya sekolah yang masih kurang dalam segi fasilitas dan perkembangan peserta didik nya. Ini menjadikan


33 sebuah tantangan baru bagi aku yang sangat menyukai tantangan, karena bagiku tantangan adalah awal untuk memperbarui diri. Kali ini aku ditugaskan di sebuah sd yang sangat jauh dari kota malang yaitu SDN 2 Ngadas sebuah sekolah di kawasan pegunungan bromo, tengger dan semeru. Aku ditemani oleh seorang partner bernama dilla dan seorang LO bernama kak adinda. Pada Pengabdian Akbar 2 ini aku ditugaskan untuk mengajar kelas 3. Sebelum pengabdian ini dimulai aku sempat ragu karena aku belum pernah memiliki pengalaman mengajar di sekolah. Di awal pertemuan aku masih kesulitan ketika mengerjakan RPP karena aku masih belum paham keterkaitan dalam penulisannya dan cara membuat RPP dengan baik dan benar, namun dengan kerja keras serta bantuan dari dilla dan kak adinda aku terus mencoba merancang RPP dengan semaksimal mungkin. Tak hanya itu saja aku dan partner ku juga membuat media pembelajaran sebagai media untuk mengajar ketika kami bertugas, kami mencari ide sekreatif mungkin agar peserta didik tertarik dengan media belajar yang kami buat sehingga mereka akan lebih bersemangat untuk memahami materi. Ketika hari dimana pengabdian telah tiba aku sudah menyiapkan barang-barang yang aku bawa agar tidak ada yang tertinggal. Pada hari Sabtu pagi kami berkumpul di kampus


34 kami pun bersiap-siap dan berdoa untuk kelancaran pengabdian kali ini. Selama di perjalanan aku merasa kedinginan karena jarak daerah yang kami tuju sangat jauh dan udara yang sangat dingin karena berada di kawasan pergunungan. Ketika berada di kawasan gunung aku merasakan suasana tenang, karena pemandangan indah dan pepohonan yang rimbun yang menyejukkan suasanan perjalananku tatkala menuju ke sana. Sesampainya disana kami disambut oleh anak-anak SDN 2 Ngadas dengan antusias sekali, mereka memberikan senyuman hangat kepada kami yang mengisyaratkan bahwa mereka menyambut hangat kedatangan kami. Ketika memasuki ruang kelas aku lumayan terheran karena kondisi kelas yang terbagi antara kelas 2 dan kelas 3 aku berfikir bahwa akan sulit mengkondisikan suara antara kelas lain. Namun aku terus yakin bahwa anak-anak akan mampu mendapatkan sedikit ilmu yang akan aku dan dilla berikan dan melihat adik-adik yang bersemangat membuatku lebih semangat lagi dan aku akan mengusahakan mengajar dengan semaksimal mungkin. Ketika kami masuk ke dalam kelas anak-anak terlihat sudah tidak sabar ingin belajar bersama kami, mereka sangat penasaran dengan media belajar yang kami bawa terdapat satu anak berkata “Kak ayo buruan aku sudah tidak sabar”. Sebelum masuk ke pembelajaran kami mengajak mereka untuk


35 berkenalan terlebih dahulu. Di kelas tempat aku mengajar terdapat 6 siswa-siswi bernama Allif, Aqila, Kharim, Matul, Riyan dan Reza. Mereka sangat lucu dan pintar tak jarang mereka juga menceritakan keseharian mereka di rumah dan mereka mengajak aku dan dilla bermain. Ketika kami memberikan media belajar yang kami buat mereka sangat antusias dan sangat ingin belajar menggunakan media tersebut. Ketika hari semakin siang ternyata kabut disana semakin menebal dan pernah suatu ketika kabut tersebut masuk ke dalam ruang kelas sehingga aktivitas belajar sedikit terganggu. Inilah yang mungkin dikatakan oleh kepala sekolah SDN 2 Ngadas bahwa sekolah ini berada di atas awan karena semakin siang sekolah ini akan tertutup oleh kabut putih. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengganggu aktivitas mengajarku disana karena anak-anak tetap memperhatikan apa yang aku dan dilla ajarkan. Pernah suatu ketika kami mengalami kendala ketika perjalanan kesana. Di suatu pagi hujan mengguyur sangat deras di kota malang sampai ke daerah ngadas namun kami tetap berusaha sampai ke ngadas dengan tepat waktu. Ketika aku tiba di sekolah aku sangat kagum dengan anak-anak disana karena mereka tetap pergi ke sekolah, meskipun hujan yang sangat deras tidak menghalangi mereka untuk belajar dan mereka tetap bersemangat untuk mendapatkan ilmu.


36 Pertemuan terakhir aku merasa sedih karena pada hari itu adalah hari aku mengajar di SDN 2 Ngadas. Melihat adikadik yang sangat antusias dengan pengajaran yang aku berikan membuat aku merasa sedih harus menyudahi kegiatan pengabdian ini. Ketika upacara penutupan selesai kami membawa masuk anak-anak ke dalam kelas dan memberikan hadiah sederhana dan juga sebagai kenang-kenangan untuk mereka. Aku dan dilla berpamitan dan memberikan pesan kepada anak-anak untuk tetap bersemangat dan harus memenuhi cita-cita yang mereka inginkan suatu saat nanti kami juga berpesan meskipun kondisi sekolah yang kurang memadai dan lingkungan yang kurang mendukung mereka harus tetap semangat untuk mendapatkan ilmu. Dari pengalaman ku ini aku belajar bahwa ilmu bisa didapatkan dimana saja meskipun rintangan terus mengikuti jika kita memiliki keyakinan penuh untuk mendapatkan ilmu kita akan melakukan yang terbaik dan tidak akan lengah oleh hal apapun sekalipun ilmu itu berada di atas awan. Bionarasi : Nasrunniati Dyahayu Anggi Winarni manusia banyak mau yang berkuliah di Universitas Negeri Malang Prodi Pendidikan


37 IPA dengan NIM 210151601652. Lahir di Tulungagung 1 Agustus 2002, Tinggal di daerah Kalidawir tepatnya di desa domasan yang rumahnya banyak bunganya. Kalau pengen ngajak healing hubungin 085646139001. Pernah menulis cerpen 2 kali ketika SMA dan untuk Pengabdian Akbar 2 ini.


38 “ Pintu Baru Oleh : Kurnia Sari Rahayu Menjadi bagian dari keluarga besar GEMAPEDIA merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku. Sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan dimana pengabdian menjadi salah satu tujuannya. Bukan pengabdian dalam tempo waktu yang lama memang, namun dapat memetik banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan. Bergabung dengan organisasi ini memang cukup melelahkan dan butuh banyak kesabaran dalam setiap langkahnya. Banyak calon relawan yang memilih mundur karena belum cukup mempersiapkan mental, namun adapula yang justru harus gugur karna dirasa belum mampu memenuhi persyaratan yang ideal. Keputusan yang kuambil dalam memilih organisasi ini sebagai rumah sudah bulat sehingga apapun rintangan yang datang akan kulewati dengan penuh semangat. Sama seperti tugas pertama setelah perekrutanku yaitu “Pengabdian Akbar 2”, dimana kita akan melakukan pengabdian pada sekolahsekolah di daerah terpencil khususnya pada jenjang Sekolah


39 Dasar. Pengabdian tidak dilakukan dalam tempo waktu yang lama, hanya empat kali pertemuan di setiap akhir pekan. Dengan waktu yang singkat kita dituntut untuk melakukan pengabdian dengan maksimal, tapi tentu kami diberikan buku panduan yang bisa kami gunakan dalam melakukan pengabdian dan terdapat pula senior-senior yang siap mengawasi serta memberikan evaluasi terhadap kinerja kami. Ngadas menjadi tempatku melakukan pengabdian ini, terletak di daerah Kabupaten Malang hampir mendekati wilayah Gunung Bromo. Daerah yang memang cukup terpencil apalagi untuk aspek pendidikan. Rumah-rumah warga tepat berada di lereng-lereng bukit yang cukup miring berjejer dengan area perkebunan dan persawahan. Cuaca yang cukup dingin bagi pendatang dari wilayah bawah, kabut yang selalu datang ketika siang cukup mengganggu pemandangan ketika melakukan perjalanan. Alur jalan yang curam dan berliku juga menjadi salah satu tantangan bagi kami ketika datang menuju lokasi. Ditambah dengan kondisi cuaca yang terkadang hujan, cukup menguras emosi dan sempat terpikir untuk menyudahi perjuangan di organisasi ini. Namun ketika telah sampai di lokasi dan bertemu langsung dengan para siswa-siswi seketika perasaan tersebut pun hilang.


40 Senyuman mereka selalu menyambut kedatangan kami dan lambaian tangan mereka selalu menjadi semangat kami untuk datang kembali. Melihat mereka menerima kedatangan kami merupakan suatu kebahagiaan untuk ku. Mendengar mereka memanggil namaku dan bertanya dimana alamat rumahku sungguh membuatku merasa diterima sebagai teman bagi mereka. Aku diberikan kepercayaan untuk mengajar di kelas empat, kelas dengan jumlah siswa paling banyak di SD tersebut. Sedikit miris melihat jumlah peserta didik di kelasku, meski jumlah tersebut digadang paling banyak di SD tersebut namun bagiku kelas dengan jumlah peserta didik yang sekian masih sangat tertinggal dengan SD lainnya. Bahkan untuk ukuran fasilitas sekolah saja, menurutku sekolah ini masih jauh dari kata cukup. Ruang kelas yang harus dibagi menjadi dua dan digunakan secara bersama sangat tidak efektif. Suara dari kelas-kelas sebelah selalu bocor dan mengganggu konsentrasi dari peserta didik. Dengan kondisi yang demikian, kami dituntut profesional dan mampu untuk cepat beradaptasi baik dengan cuaca, tingkah laku peserta didik, dan lingkungan per sekolahan. Setiap akhir pekanku kuhabiskan untuk melakukan pengabdian ini, Sabtu kami datang ke sekolah kemudian sepulang dari sana kami melakukan evaluasi, setelah itu kami


41 lanjutkan untuk membuat rancangan pembelajaran dan media belajar. Karena dari segi fasilitas sekolah ini masih belum dapat dikatakan sempurna maka kami dituntut untuk dapat membuat media pembelajarn yang mendukung kegiatan belajar. Seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa banyak calon peserta dalam organisasi ini harus gugur dikarenakan belum dapat memenuhi persayaratan, salah satu persyaratan yang cukup memberatkan yaitu kami dituntut untuk kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran. Menurutku hal itu memang suatu keharusan karena organisasi ini bergerak di bidang pendidikan dimana pengabdian menjadi kegiatan inti dari organisasi ini maka kreativitas memang sangat dbutuhkan. Maka dari itu selama melakukan pengabdian banyak relawan atau anggota baru yang sedikit kewalahan karena kesulitan beristirahat di akhir pekan. Menurutku menjadi seorang pendidik atau guru merupakan pekerjaan yang sangat tinggi posisi dan drajatnya karena yang akan kami bagikan merupakan ilmu yang sampai kapanpun akan tetap melekat pada pikiran anak didik. Melihat mereka yang tadinya tidak bisa membaca kemudian pelanpelan dapat membaca sudah membuaku bahagia, melihat mereka yang tadinya tidak tahu kemudian berkat informasi yang kuberikan mereka menjadi tahu itupun sudah membuatku


42 bahagia. Melihat mereka ketika disela-sela waktu istirahat bermain, bergurau, dan makan bersama cukup dapat mengukir senyum di wajahku. Dengan melihat mereka melakukan apapun yang mereka inginkan mampu membawaku ke zaman dimana aku berada di posisi mereka, zaman tanpa beban dan menghargai persahabatan tanpa melihat golongan seketika aku mengingat kembali teman-temanku. Aku percaya salah satu diantara mereka nantinya juga akan merasakan apa yang aku rasakan dan bahkan jauh lebih baik. Semua kepenatan, rintangan, dan hambatan sudah pasti ada di setiap perjalanan kehidupan tak terkecuali di lingkup organisasi seperti ini. Namun kembali lagi dengan tujuan awal ketika aku memilih organisasi ini sebagai rumahku, maka ketika aku sudah dipersilakan masuk kedalamnya aku harus bisa merasa nyaman supaya bisa terus tinggal di dalamnya. Aku percaya semua orang memiliki jalannya masing-masing, kita semua memiliki pintu masing-masing yang harus dibuka dan dimasuki, aku sudah membuka satu pintu baru di hidupku dan masih banyak pintu lain lagi yang belum ku coba. Rasa lelah menurutku suatu wajar apalagi untuk membuka pintu besar dan spesial seperti ini, tapi ingat bahwa semua hal pasti akan berlalu dan tanpa kamu sadari kamu pasti sudah dapat melewati fase


43 ini dengan baik cukup bersabar dan hadapi semuanya dengan berani. Bionarasi : Kurnia Sari Rahayu / 210141601240, dari FIP, Departemen Pendidikan Luar Sekolah. Karena sekarang sedang menuntut ilmu di Malang maka sekarang beralamat Sumbersari Gang 6. Nomor yang dapat dihubungi 085714355733. Saya tidak memiliki pengalaman menulis cerpen karena tidak tertarik dalam bidang kepenulisan, tapi kalau dipaksa tidak apa-apa karena saya suka pengalaman atau sesuatu yang baru.


44 “ Bukan Sabtu Kelabu Oleh : Hudan Ezra’alana Praja Hari Sabtu, tanggal 12 November tahun 2022 mungkin untuk kalian tanggal itu terlihat biasa saja. Meski begitu, aku akan menceritakan apa yang aku alami di tanggal itu dan kejadian setelah-setelahnya. Untuk kalian yang bertanya-tanya kenapa aku menuliskan cerita tentang hari Sabtu tadi. Don’t worry guys, akan kuberikan alasannya diakhir cerpen ini. Tentunya kalo kalian ingin langsung locat ke bagian akhir cerpen ini ya tidak apa-apa aku tidak melarang. Tetapi kalo kalian membaca isi dari cerpen yang aku tulis ini, kalian luar biasa. Aku akan mengulang lagi, hari Sabtu tanggal 22 November 2022. Kota malang hari itu pukul 04.30 WIB sudah jelas seperti apa yang kalian bayangkan tentang pagi itu? ya, dingin. Bangun pagi mungkin jadi suatu kebiasaan wajib ketika kalian masih SMA tetapi ketika kalian masuk dunia perkuliahan bangun pagi serasa mustahil. Efek gravitasi kasur kebih kuat ketika kamu berusaha untuk bangun dan mata semakin berat ketika kamu berusaha untuk melek. Separah itu?,


45 aku malu mengakuinya tapi memang separah itu ehehehe. Alarm pagi berbunyi dan aku memaksa diriku untuk bangun tidak peduli semalas apa aku saat itu. Keluar menuju kamar mandi lalu mandi dengan air dingin karena tidak sempat masak air. Kembali dari kamar mandi sambil gemetaran menghadapi kenyataan bahwa aku kedinginan. Aku tidak akan menyebutkan disini kalo setelah mandi aku sholat subuh atau tidak supaya kalian bisa menebak sendiri bagaimana yang aku lakukan kala itu. Keluar dari rumah lalu kupacu motorku ngebut (ngegas brutal). Suasana jalan kota yang sepi memang membuat nyaman tidak seperti waktu siang hari yang ramai macet. Sampai dikampus, nampak sudah ramai orang-orang berkumpul mengenakan PDH warna biru arema. Wajah-wajah yang cukup asing menurutku karena kami semua belum lama saling kenal tetapi ada satu wajah yang nanti akan memberikan pengaruh dalam hidupku. Aku adalah salah satu Laskar Dewantara GEMAPEDIA, organisasi yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat. Aku bangga bisa berada disini, meskipun aku merasa heran kenapa orang sepertiku bisa ikut berada disini. Kami berkumpul dikampus sebelum beragkat serentak ke lokasi pengabdian masing-masing.


46 Tempat pengabdianku ada di SDN 02 Ngadas, sekolah diatas awan yang setiap menjelang siang tertutup kabut. Perjalanan sejam dari kota mengarah ke daerah Tumpang Poncokusumo, Kabupaten Malang. Sampai disana kami disambut oleh anak-anak gunung yang mengenakan baju olahraga warna biru yang nampak senada dengan PDH dikenakan. Entah kenapa dalam hati aku merasa girang kelewat semangat melihat mereka. Kami juga disambut oleh bapak kepala sekolah disana dan para guru, beliau semua ramah dan menerima kami dengan baik. Setelah upacara seremonial pembukaan aku dan partnerku menuju kelas yang kami ajar yaitu kelas 4 dengan total siswa 10 anak terdiri dari tiga lakilaki dan sisanya perempuan. Agak nervous memang awalnya tetapi seiring berjalannya waktu pembelajaran bisa semakin lunak dan anak-anak menjadi lebih akrab dengan kami. Dikelas kami dan anak-anak belajar banyak hal, mulai dari materi dari buku dan materi lainnya. Sesi paling favorit menurutku adalah ketika diadakan ice breaking aku merasa gembira waktu itu. Kami bermain tepuk-tepuk, bernyanyi, menari, dan membuat tebak tebakan. Kelas berakhir pukul 11 tepat, rasanya sangat singkat tetapi tanpa sadar itu sangat menguras energi. Diruang guru kami disuguhi kentang goreng yang merupakan hasil panen warga disana yang enak dan gurih


47 rasanya apalagi diselingi teh panas, benar-benar membuat kenangan. Setelah istirahat sejenak kami pamit untuk kembali ke kota, eitss… tidak langsung pulang loo… masih ada eval yang harus dilakukan untuk perbaikan di pertemuan selanjutnya. Yahh, begitulah keseharian ku setiap hari Sabtu selama empat minggu sejak tanggal 12 November. Memang terkesan biasa dan terkesan biasa-biasa saja sebab, itu karena aku menuliskannya hanya dilembar cerpen yang sangat terbatas. Kata-kata yang kutuliskan disini tidak cukup untuk mewakili semula emosi dan perasaan yang aku alami waktu itu. Semua terasa luar biasa, pengalaman seumur hidup yang mugkin tidak pernah kamu rasakan dimasa lain. Memang lelah rasanya tetapi, semua mendadak hilang ketika melihat raut muka bahagia dari mereka. Terutama makan kentang goreng sambil minum teh panas benar-benar membuat rasa lelah hilang seketika. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian diluar sana yang sudah menempatkanku di Ngadas. Sepertinya orang Malang sepertiku memang cocok dengan daerah gunung. Pertemuan dengan mereka adalah pertemuan yang luar biasa, ibarat lirik lagu yang berbunyi “pertemuan ini adalah kabar”. Kabar baik bahwa aku akan memperoleh suatu yang positif dari Sabtu yang aku jalani. Kebahagiaan yang dirasakan


48 semakin meningkat, hubungan yang dirintis semakin erat, dan sampai pada titik dimana mengucap terima kasih karena sudah saling mengisi. Disini aku merasa dimana aku dirangkul oleh suka bukan luka, dikuatkan oleh rasa bukan air mata, dan bahagia lalu tertawa bukan pura-pura tertawa agar terlihat bahagia. Begitulah yang aku rasakan setiap Sabtu dan akan terus berlanjut hingga kedepannya. Okee cukup quotes gajelasnya sekarang akan kusampaikan alasan mengapa aku memilih tanggal diatas untuk ditulis menjadi cerpen. Karena GEMAPEDIA bagiku adalah titik balik dimana semua pertanyaan dalam diriku ini terjawab. Titik ketika aku berfikir bahwa sarjana pendidikan tapi tidak bisa mengajar. GEMAPEDIA mengajakku untuk melihat dunia luar itu seperti apa, bertemu dengan orang orang luar biasa. Dan yang terakhir aku dapat susu dari orang selain ibuku pertama kali sejak disapih umur 2 tahun, itu luar biasa bukan?. Bergabunglah bersama kami dan rasakan khasiatnya, Insyaallah. Bionarasi : Hudan Ezra’alana Praja anak mama NIM 210151601652. Asal dari Departemen PGSD dulunya KSDP, lahir di Kota Malang,


49 6 Agustus 2003. Tinggal di Perumahan Griya Telaga Permai F7 Wonokoyo, Kedungkandang, Kota Malang. Nomor 087780511613. Menulis cerpen sudah pernah membuat sekitar 5 judul termasuk ini, dan 2 pernah di upload Wattpad.


Click to View FlipBook Version