SEJARAH INDONESIA
Peran Tokoh Nasional
Pejuang Integrasi
Bangsa 1945-1965
HALIMATUS SYA'DHYAH
Daftar Isi
Kata Pengantar
KI dan KD
Mind Mapping
Frans Kaisiepo
Silas Papare
Kesimpulan
Evaluasi
Daftar Pustaka
Biografi Penulis
01
Kata Pengantar
Puji Syukur kehadirat Allat swt karena
atas Berkah, Rahmat, dan Hidayah-
Nya sehingga penyusunan e-model
sejarah Indonnesia kelas XII materi
peran tokoh nasional pejuang integrasi
Bangsa 1945-1965. Penyusun berharap
e-modul ini bisa digunakan sebagai
panduan pembelajaran sejarah. Akhir
kata, semoga segala upaya yang
dilakukan dapat bermanfaat untuk
memajukan pendidikan di indonesia,
khususnya dalam bidang sejarah
02
KI dan KD
Kompetensi Inti
3. Memahami, menerapkan, menganalisis
pengetahuan factual, konseptual, procedural
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan procedural pada bidang kajian yang
spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah.
Kompetensi Dasar
3.2 Mengevaluasi peran dan nilai-nilai perjuangan
Tokoh nasional dan daerah dalam
mempertahankan keutuhan Negara dan bangsa
Indonesia pada masa 1945-1964
03
Mind Mapping
Tokoh Nasional
Frans kaisiepo
Silas Papare
04
Frans Kaisiepo
(1921-1979)
A. Biografi Singkat
Frans Kaisiepo berasal dari suku bangsa Biak
Numfor. Masyarakat Biak Numfor adalah salah
satu kelompok penduduk Irian Jaya yang
mendiami Daerah Tingkat II Teluk
Cenderawasih. Wilayahnya meliputi gugusan
pulau-pulau yang terletak di bagian utara Teluk
Cenderawasih, dan gugusan ini dinamai
Kepulauan Biak. Secara astronomis gugusan
kepulauan ini terletak antara 134" 47' sampai 136"
25' Bujur Timur dan 0 ' 35' sampai 1" 20' Lintang
Selatan .
05
FransKaisiepo merupakan seorang tokoh
yang mempopulerkan lagu Indonesia Raya di
Papua saat menjelang Indonesia merdeka. Lahir
pada 10 Oktober 1921 di Biak. Dalam urutan
kelahiran ia adalah anak tertua dari enam
bersaudara yang lahir dari pasangan Albert
Kaisiepo dengan Alberthina Maker. Saudara -
saudaranya yaitu Bertha Kaisiepo, Dorothea
Kaisiepo, Cornelia Kaisiepo, Daniel Kaisiepo,
dan Willem Kaisiepo. Pendidikan formal yang
mula-mula didapat oleh Frans Kaisiepo ialah
Sekolah Desa Klas 3 atau yang disebut
Dorpsschool B atau Volkshool di Wardo.
Sejak awal tahun 1945 Frans Kaisiepo
melanjutkan pendidikannya pada Kursus
Bestuur ( pamong Praja) di Kotanica, yang
sekarang bernama kampung Bestuur,
Kecamatan Sentani , Kabupaten Jayapura,
tepatnya tempat ini terletak antara Abepura dan
Sentani . Pendidikan Pamong Praja ini didirikan
pada tanggal 1 Januari 1945 oleh NICA
(Nederlands Indische Civil Administration ),
pemerintah Penjajah Belanda di Indonesia
sesudah berakhirnya perang
06
Kemudian dalam periode tahun 1952-1954
Frans Kaisiepo kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan pada OSIBA ( Sekolah Pendidikan
Kantor Pamong Praja di Kotabaru ( Abepura )
dan berhasil menamatkan pendidiknya pada
tahun 1954.
B. Peran Frans Kaisiepo
Berbicara tentang berbagai aktivitas dalam
gerak langkah perjuangan, Frans Kaisiepo
agaknya telah melakukan berbagai jalan yang
cukup panjang. Hal ini disebabkan oleh karena
jauh sebelum Republik Indonesia ini ada, Frans
Kaisiepo sudah aktif menunjukkan aktivitasnya
dalam gelanggang perjuangan kebangsaan.
Perjuangan yang dilakukannya tidaklah berupa
tindakan mengangkat senjata untuk melawan
penjajah, akan tetapi perjuangan yang dilakukan
Frans Kaisiepo adalah usaha mengangkat derajat
bangsanya melalui gerakan gerakan dalam
organisasi kebangsaan.
07
Melihat kenyataan yang demikian, bahwa
setiap adanya usaha untuk menggerakkan aksi
pemberontakan selalu mengalami kegagalan,
maka para kaum penggerak kemudian
membentuk suatu organisasi yang tersusun rapi.
Hal ini disadari bahwa untuk dapat mencapai
suatu tujuan haruslah dapat menghimpun serta
mengerahkan seluruh kekuatan rakyat dan
untuk itu agaknya diperlukan suatu wadah
organisasi politik.
Dalam usaha mencapai Tujuan tersebut
atas bimbingan para pejuang cks Digul , seperti
Haryono dan Suprapto telah berperan
membentuk Komite Indonesia Merdeka ( KIM ) .
Komite Indonesia Merdeka ini dibentuk
berpusat di Melbourne yang didirikan pada
tanggal 29 September 1945 dengan diketahui
oleh Jamaluddin Tamin, sedang anggota
anggotanya antara lain adalah Maskun, Kandur
Maryono dan lain -lain. Berdirinya Badan ini di
samping untuk membela dan mempertahankan
proklaması 1945, Komite Indonesia Merdeka
juga bertugas dalam urusan repatriasi atas
pemulangan orang-orang Indo ke tanah airnya
dan menolak campur tangan Belanda.
08
Sementara itu di Biak, di kampung
halaman Frans Kaisiepo kedatangan Lukas
Rumkorem telah membantu perjuangan
kemerdekaan yang diawali dengan kegiatan
yang antara lain memberikan penerangan -
penerangan kepada rakyat Biak tentang arti
kemerdekaan sehingga mereka sadar dan
semangatnya bangkit untuk bersatu
memperjuangkan kemerdekaan bangsa
Indonesia. Sebagai tindak lanjut , mereka
kemudian mendirikan Partai Indonesia Merdeka
( PIM ) pada tanggal 10 Juli 1946 dengan diketuai
oleh Lukas Rumkorem. wakil ketuanya Corinus
Krey , sedangkan sekretarisnya ialah Petrus
Warikar.
Perlu diingat bahwa salah satu pencetus
gagasan berdirinya Partai Indonesia Merdeka (
PIM) adalah Frans Kaisiepo yang waktu itu ia
menjadi Kepala Distrik Biak Utara di Warsa.
Misi organisasi ini seperti halnya Komite
Indonesia Merdeka yang telah didirikan di
Jayapura juga bertujuan untuk memberi
penerangan tentang arti dan tujuan Indonesia
Merdeka.
09
Sementara itu pada tanggal 15 sampai
dengan tanggal 25 Juli 1946 di Ujung Pandang
(dahulu namanya Makassar) diadakan
Konferensi Malino. Konferensi ini dimaksudkan
untuk mendukung gagasan Van Mook tentang
pembentukan Negara Federal Indonesia. Dalam
konferensi tersebut, Frans Kaisiepo duduk
sebagai wakil dari Irian Barat yang ditunjuk oleh
Pemerintah Kolonial Belanda (PKB) untuk
menghindari Konferensi Malino. Sebelum
keberangkatan ke Konferensi Malino, Frans
Kaisiepo telah diberi akal, terutama fikiran -
fikiran yang mendukung kemerdekaan Republik
Indonesia
Gambar 1. Konferensi Malino
(Sumber: KITLV)
10
Konperensi Malino tanggal 18 Juli 1946,
Frans Kaisiepo mengusulkan gagasan tersebut
dan ini sangat mengejutkan pihak Belanda.
Karena ia mengusulkan agar nama Papua dan
Nederlands Nieuw Guinea yang dipakai selama
ini ditiadakan dan diganti dengan kata atau
IRIAN. Gagasan untuk mengganti nama tersebut
telah di cetuskan oleh Frans kaisiepo, sewaktu
mengikuti Kursus Kilat Bestuur di Kota Nica
Holandia. Ia tidak setuju dengan papan nama
kursus/ sekolah yang bertuliskan " PAPUA
BESTUUR SCHOOL". Karena itu ia menyuruh
saudaranya, Marcus Kaisiepo untuk mengganti
dengan nama " IRIAN BESTUUR SCHOOL ".
Pada tanggal 12 Desember 1946 Marthen
Indey, Corrinus Krey dan Nicolas Youwe
mengirim telagram kepada H.J. Van Mook di
Denpasar. Adapun isi telegram itu menyatakan
agar Irian Barat tidak dipisahkan dari wilayah
Republik Indonesia. Dalam kaitan ini Frans
Kaisiepo termasuk orang yang menentang
pembentukan Negara Indonesia Timur ( NIT)
sebab wilayah Irian Barat tidak dimasukkan ke
dalam Negara Indonesia Timur.
11
Pada tanggal 23 Agustus sampai dengan 2
November 1949 dilangsungkan Konperensi Meja
Bundar di Den Haag Negeri Belanda. Delegasi
Indonesia diketahui oleh Drs . Mohammad
Hatta, BFO dipimpin oleh Sultan Hamid
Algadire, Delegasi Belanda diketahui oleh J.H.
Van Maarseveen dan Delegasi UNCI diwakili
oleh Critchley. Sedang Frans Kaisiepo menolok
menjadi Ketua Delegasi Nederlands Nieuw
Guinea ke Konperensi Meja Bundar.
Pada tahun 1961 sewaktu menjabat Kepala
Distrik Mimika, Fak-Fak Frans Kaisiepo
mendirikan partai politik yang bernama Irian
Sebagian Indonesia ( ISI ). Tujuan partai ini
adalah untuk menuntut penyaluan kembali
Nederlands Nieuw Guinea ke dalam Negara
Republik Indonesia Indonesia.
12
Silas Papare (1918-
1978)
A. Biografi Singkat
Lahir pada 18 Desember 1918 di Serui,
Papua. Pada tahun 1935 Silas lulus dari Sekolah
Juru Rawat, kemudian Bekerja sebagai pegawai
pemerintah belanda, beliau sangat kritis
terhadap kolonialisme sehingga Silas sering
berurusan dengan aparat keamanan Belanda.
Pada Pada 1945, ketika mendengar indonesia
telah merdeka, Silas segera keluar dari
pekerjaannya dan mengadakan perlawanan
terhadap Belanda. karena memengaruhi
Batalion Papua untuk memberontak, Silas
Papare dipenjara di Jayapura sebelum akhirnya
dipindah ke Serui.
Saat menjalani masa tahanan di Serui, Silas
berkenalan dengn Dr. Sam Ratulangi, Gubernur
Sulawesi yang juga diasingkan oleh Belanda.
Perkenalan tersebut semakin menambah
keyakinan Silas bahwa Papua harus bebas dan
bergabung dengan Republik Indonesia.
13
B. Peran Silas Papare
Silas Papare (1918-1978) membentuk Komite
Indonesia Merdeka (KIM) hanya sekitar sebulan
setelah Indonesia merdeka. Tujuan KIM yang
dibentuk pada bulan September 1945 ini adalah
untuk menghimpun kekuatan dan mengatur
gerak langkah perjuangan dan membela dan
mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Bulan Desember tahun 1945, Silas Papare
bersama Marthen Indey dianggap
mempengaruhi Batalyon Papua bentukan
sekutu untuk memberontak terhadap Belanda.
Akhirnya Mereka berdua ditangkap Belanda dan
dipenjara di Holandia (Jayapura).
14
Setelah keluar dari penjara, Silas Papare
mendirikan Partai Kemerdekaan Irian Indonesia
(PKII) pada tanggal 29 November 1946. Karena
Belanda tidak senang, ia kemudian ditangkap
kembali dipenjara, kaii ini di Biak. Partai ini
kemudian diundang pemerintah RI ke
Yogyakarta. Silas Papare yang sudah bebas pergi
ke sana dan bersama dengan teman-temannya
membentuk Badan Perjuangan Irian di
Yogyakarta. Sepanjang tahun 1950-an ia
berusaha keras agar Papua menjadi bagian dari
Republik Inodnesia.
Gambar 2. Penandatangan Perjanjian New York
(Sumber: Dictio. id)
15
Sepanjang tahun 1950-an ia berusaha keras
agar Papua menjadi bagian dari Republik
Inodnesia. Tahun 1962 ia mewakili Irian Barat
duduk sebagai anggota Delegasi RI dalam
perundingan New York antara Indonesia-
Belnada dalam upaya penyelesaian Papua.
Berdasarkan "New York Agreement" ini, Belanda
Akhirnya setuju untuk mengembalikan Papua
ke Indonesia.
16
Kesimpulan
Dalam mempertahankan keutuhan Negara dan
Bangsa Indonesia pasti didalamnya terlibat jasa
pahlawan Nasional yang ikut berperan dalam
mempertahankan keutuhan Negara dan Bangsa
Indonesia pada masa 1945-1965 antara lain:
1. Frans Kaisiepo
Ikut berperan dalam pendirian Partai Indonesia
Merdeka pada tanggal 10 Juli 1946
Menjadi anggota delegasi Papua dalam
Konferensi Malino di Sulawesi Selatan
Menentang pembentukan Negara Indonesia
Timur (NIT)
Ikut merancang pemberontakan Rakyat Biak
melawan pemerintah Kolonial Belanda tahun
1949
Menjadi ketua delegasi Nederlands Nieuw
Guenia ke Konferensi Meja Bundar (KMB)
Tahun 1961 mendirikan Partai Politik Sebagian
Irian (ISI) untuk menuntut penyatuan
Nederlands Nieuw Guenia ke Negara Republik
Indonesia
17
2. Silas Papare
Membentuk Partai Komite Indonesia merdeka
Tanggal 29 November 1946 membentuk Partai
Kemerdekaan
Irian Indonesia (PKII)
Silas Papare mewakili Irian Barat duduk sebagai
anggota delegasi RI dalam Perundingan New
York antara Indonesia- Belanda
12 Oktober Mendirikan Badan Perjuangan Irian
di Yogyakarta.
18
Evaluasi
1. Bagaimana Peran Frans Kaisiepo dalam
mempertahankan keutuhan Negara dan Bangsa
pada masa 1945-1965?
2. Bagaimana peran Silas Papare dalam
mempertahankan Keutuhan Negara dan Bangsa
Indonesia pada masa 1945-1965?
3. Jelaskan usaha yang dilakukan kaum penggerak
untuk menggerakkan aksi pemberontakan yang
selalu mengalami kegagalan?
4. Jelaskan tujuan diadakannya Konferensi Malino
di Ujung Pandang?
5. Mengapa Frans kaisipeo Mengubah nama
Papua dan Netherlands Nieuw Guinea menjadi
nama IRIAN?
6. Deskripsikan bagaimana kehidupan Frans
Kaisiepo dalam bidang pendidikan?
7. jelaskan tujuan dinbentuknya Komite Indonesi
Merdeka (KIM) pada tanggal 10 Juli 146?
8. Mengapa Silas Papare dan Marthen Indey
ditangkap Belanda dan di Penjara di Holandia
(Jayapura)?
19
Daftar Pustaka
1. Haryono, Pius Suryo dkk. 1996. Pahlawan
Nasional Frans Kaisiepo. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI
2. Junaedi, Didi. 2014. Pahlawan-pahlawan
Indonesia Sepanjang Masa. Yogyakarta:
Indonesia Tera
3. Lumintang, Onnie. 1997. Biografi Pahlawan
Nasional Marthen Indey dan Silas Papare.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI
20
Biografi Penulis
Nama saya Halimatus sya’dhyah. Saya dilahirkan di
Probolinggo, pada tanggal 16 April 2000.
Pendidikan yang saya tempuh dimulai dari SDN
Tanjung Rejo 1 Desa Tanjung Rejo (lulusan tahun
2013), kemudian melanjutkan ke SMPN 2 Tongas
(lulusan tahun 2016) dan SMAN 1 Tongas (Lulusan
tahun 2019). Saat ini saya menempuh pendidikan
SI di Universitas Jember dengan program studi
pendidikan sejarah.
21
E-Modul Pembelajaran
Sejarah Indonesia