NUH ‘ALAIHISSALAM DAN RINTISAN PERADABAN PROFETIK KEDUA Muhamad Sayri Universitas PTIQ Jakarta, Indonesia Dr. Aldomi Putra, MA. Universitas PTIQ Jakarta, Indonesia Abstrak: Kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam dan rintisan peradaban profetik kedua adalah narasi yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Islam dan keagamaan monotheistik lainnya. Kisah ini menceritakan peran Nabi Nuh sebagai utusan Allah dalam menyebarkan ajaran tauhid (kepercayaan kepada satu Tuhan) dan kebenaran kepada umat manusia pada zamannya. Rintisan peradaban profetik kedua merujuk pada upaya Nabi Nuh dan keturunannya dalam membangun masyarakat yang taat kepada ajaran Ilahi setelah banjir besar yang diutuskan oleh Allah sebagai hukuman atas ketidaktaatan umat manusia. Dalam perjalanan ini, tiga anak Nuh, yaitu Sam, Ham dan Yafits memiliki peran penting dalam menjalankan misi penyelamatan manusia dan kelangsungan peradaban. Kata Kunci: Nabi Nuh, Rintisan Peradaban Profetik, Banjir Besar Abstrack The story of Prophet Noah (Nabi Nuh ‘alaihissalam) and the inception of the second prophetic civilization is a narrative of profound significance in the traditions of Islam and other monotheistic religions. This story depicts the role of Prophet Noah as a messenger of Allah in spreading the belief in monotheism (faith in one God) and the truth to the people of his time. The inception of the second prophetic civilization refers to the efforts of Prophet Noah and his descendants in building a society obedient to the divine teachings after the great flood, which was sent by Allah as a punishment for the disobedience of humanity. In this journey, three sons of Noah, namely Sam, Ham, and Japheth, played a crucial role in carrying out the mission of rescuing humanity and ensuring the continuity of civilization. Keywords: Prophet Noah, The Initiation of Prophetic Civilization, The Great Flood
Pendahuluan Nabi Nuh merupakan nabi ketiga setelah Adam dan Idris. Beliau adalah generasi kesembilan Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamak bin Mutawasylah bin Idris. Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah pada masa “fatrah” masa kekosongan antara dua nabi, ketika masyarakat mulai lambat laun melupakan ajaran agama nabi sebelumnya. Mereka kembali menyembah berhala dan ingkar kepada Allah. Nabi Nuh berdakwah selama ratusan tahun untuk membebaskan mereka dari kegelapan yang memenuhi mata mereka, mengajarkan mereka syariat-syariat yang Allah turunkan dan mengembalikan mereka pada jalan kebenaran. Akan tetapi hanya sedikit dari mereka yang mau menerima dakwah nabi Nuh. Melihat hal ini, Allah memerintahkan nabi Nuh untuk membuat sebuah perahu yang mampu menampung seluruh pengikutnya. Nabi Nuh pun mengumpulkan para pengikutnya dan membuat perahu sesuai yang di perintahkan. Sampailah masa yang dijanjikan, Allah memerintahkan nabi Nuh dan para pengikutnya untuk menaiki perahu beserta dengan dua pasang segala jenis hewan yang ada di atas muka bumi. Kemudian Allah keluarkan air dari penjuru langit dan bumi dengan dahsyat yang mampu menelan bumi dalam waktu yang singkat. Sampai-sampai gunung yang sangat tinggi pun dilahap oleh air tersebut. Tidak ada tempat untuk mereka berlindung kecuali perahu nabi Nuh. Salah satu anak nabi Nuh yaitu Kan’an ikut tenggelam dalam peristiwa tersebut dikarenakan kesombongan dan kekafirannya kepada Allah. Setelah air surut, Allah memberhentikan perahu nabi Nuh di atas bukit ‘judie’. Maka habis binasalah seluruh kaum nabi Nuh yang ingkar dan kafir kepada Allah. Nabi Nuh memiliki empat orang anak, yaitu Yafit, Sam, Ham, dan Kan’an. Dari tiga anak nabi Nuh yang selamat inilah cikal bakal berkembangnya peradaban Islam sampai sekarang ini. Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan atau library research. Yakni, jenis penelitian yang digunakan dalam penyelesaian makalah menggunakan penelitian tafsir tentang kisah nabi Nuh ‘alaihissalam, teknik pengumpulan dan analisis data ayat Al-Qur’an melalui term nabi Nuh ‘alaihissalam.
Pengertian Profetik Secara etimologis istilah profetik berasal dari bahasa inggris prophetic, yang artinya : (1) of or pertaining to a prophet: prophetic inspiration (dari atau berkaitan dengan seorang nabi: inspirasi kenabian); (2) of the nature of or containing prophecy: prophetic writings (dari sifat atau mengandung nubuat/kenabian: tulisan kenabian); (3) having the function or powers of a prophet, as a person (memiliki fungsi atau kekuasaan seorang nabi, sebagai pribadi); (4) predictive; ominous: propheticsigns; prophetic warnings (prediktif, menyenangkan: tanda-tanda kenabian, peringatan kenabian).1 Istilah nabi berasal dari kata naba’, yang berarti warta (news), berita (tidings), cerita (story), dan dongeng (tale). 2 Dalam kosa kata Arab sendiri, menurut Ibnu manzur kata nabi dinisbatkan pada akar kata al-nubuwah, al-nabawat, dan al-nabi, artinya: tanah yang tinggi, jalan. Jamaknya al-anbiya’ artinya: jalan yang dijadikan petunjuk dan seseorang yang dimuliakan karena kemampuannya. 3 Hal ini sejalan dengan pendapat Imam Warasy dan Imam Nafi’ yang menyatakan bahwa kenabian dari kata Arab nabiy’ dan kemudian membentuk kata nubuwah yang berarti kenabian. Di dalam Al-Qur’an kata nabi beserta derivasinya (seperti an-nabiyyun, an-nabiyyin, al-anbiya, an-nubuwwah, disebutkan sebanyak 65 kali.4 Salah satu keterangan tentang term nabi dan rasul dalam al-Qur’an diberikan oleh al- Qur’an surat al-An’am (6): 89, yaitu لَٰۤا ُ رْ بِهَا ٰٓهٰؤ ُ فَاِ ْن َّي ْكف َُّو ةَۚ الْ ِكتٰ َب وَا ْلحُكْمَ وَالُّن ب ُ م ُ ِٕ َك الَّ ذِيَْن اٰتَيْنٰه ى وْا بِهَا بِ ٰكفِرِيَْن ٰۤ ولٰ فَقَ ْد وََّك لْنَا بِهَا قَوْمًا َّل يْسُ ُ ا ِ ء “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahi kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya” Menurut Muqowim, ayat di atas memberikan penjelasan bahwa nabi itu mempunyai tiga kriteria. Pertama, menerima wahyu yang kemudian terhimpun dalam suatu kitab; kedua, membawa hukum atau syari’at sebagai pedoman cara hidup, 1 http://dictionary.reference.com/browse/prophetic. Kata bahasa Inggris prophecy (kata benda) dalam arti “fungsi seorang nabi” muncul di Eropa dari sekitar 1225, dari profecie Prancis Lama (abad ke-12), dan dari prophetia Latin Akhir, Yunani prophetia “karunia menafsirkan kehendak para dewa”, dari prophetes Yunani (lihat nabi). Makna “Yang diucapkan atau ditulis oleh seorang nabi”. Nubuat Kata berasal dari kata kerja Yunani, προφημι (prophemi), yang berarti “untuk mengatakan sebelumnya, nubuatkan”, yang merupakan kombinasi dari kata Yunani, προ dan φημι. Lihat lebih lanjut http://en.wikipedia.org/wiki/Prophecy 2 M. Dawam Rahardjo, 1997, Ensiklopedia Al-Quran, Jakarta: Paramadina, Hal. 302 3 Musa Asy’arie, 1999, Filsafat Islam tentang Kebudayaan, Yogyakarta: Lembaga Studi Islam (LESFI), Hal. 1 4 Moh. Roqib, 2011, Prophetic Education: Kontekstualisasi Filsafat dan Budaya Profetik dalam Pendidikan, Purwokerto: STAIN Press bekerjasama dengan Buku Litera, Hal. 46-47.
karena itu maka teladan nabi dan rasul itu merupakan sumber hukum, dan; ketiga, berkemampuan memprediksi berbagai hal di masa yang akan datang.5 Kisah Singkat Nabi Nuh ‘alaihissalam Nuh adalah nabi ketiga sesudah Adam dan Idris. Beliau merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamak bin Mutawasylah bin Idris. Nabi Nuh menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” masa kekosongan di antara dua nabi di mana biasanya manusia secara berangsur-angsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali syirik serta meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Nabi Nuh diutus kepada kaum yang ingkar terhadap ajaran Allah, mereka sibuk menyembah berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Mereka menganggap berhala tersebut dapat mendatangkan kebaikan menolak bencana. Di tengah kaum yang tersesat tersebut nabi Nuh berdakwah mengajak kepada kebenaran ajaran Allah dengan meninggalkan berhala yang tidak bisa mendatangkan manfaat sedikit pun. Nabi Nuh hanya mendapatkan cemooh dan hinaan atas dakwahnya itu. Siang dan malam nabi Nuh berdakwah tanpa mengenal lelah dan capek. Tidak ada kata mengeluh yang keluar dari mulut nabi Nuh, segala cara dia lakukan untuk menyadarkan umatnya dari kebodohan dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Ternyata itu semua belum mampu menyadarkan mereka semua, hanya sedikit dari mereka yang mulai sadar dan menerima dakwahnya nabi Nuh. Selama 950 tahun nabi Nuh terus berdakwah, mengajak kepada jalan yang terang dan benar. Nabi Nuh mengajarkan syariat-syariat Islam yang diwahyukan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi agar mereka kembali mentauhidkan Allah dan meninggalkan berhala-berhala yang mereka sembah. Nabi Nuh sedih melihat umatnya yang hanya bertambah sedikit di setiap tahunnya. Di dalam kesedihan itu Allah mewahyukan kepadanya untuk membuat sebuah perahu di atas bukit dan memerintahkannya untuk meninggalkan dakwahnya. Setelah menerima perintah Allah, nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya untuk membantunya membuat perahu seperti yang diperintahkan. Tanpa banyak bertanya dan mengeluh pengikut nabi Nuh dengan rajin dan tekun membuat perahu yang diperintahkan siang dan malam. Walaupun nabi Nuh dan pengikutnya membuat 5 Muqowim, 2001, Kenabian dalam Al-Qur’an, Jurnal Dakwah, No. 3 Th. II Juli-Desember 2001, Yogyakarta: Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hal. 116. 113-129
perahu di atas bukit jauh dari pemukiman akan tetapi mereka tetap mendapatkan hinaan dan ejekan dari kaumnya yang sengaja melewati tempat tersebut. Di tengah pembuatan perahu, kaum nabi Nuh dengan sengaja membuang kotoran mereka di dalam perahu yang sedang dikerjakan. Akan tetapi Allah menghinakan mereka dengan mendatangkan penyakit yang sangat ganas yang tidak bisa diobati kecuali dengan kotoran yang mereka buang di dalam perahu nabi Nuh. Maka berbondong-bondonglah mereka memperebutkan kotoran mereka sendiri sampai terjadi pertikaian. Setelah melewati berbagai rintangan dan cemoohan, selesailah perahu yang nabi Nuh buat bersama dengan pengikutnya. Kemudian turunlah wahyu kepada nabi Nuh “Muatkanlah ke dalamnya (bahtera itu) dari masing-masing (jenis hewan) sepasang-sepasang (jantan dan betina), keluargamu kecuali orang yang telah terkena ketetapan terdahulu (akan ditenggelamkan), dan (muatkan pula) orang yang beriman.” [QS. Hud/11 : 40]. Kemudian tercurahlah dari langit dan memancur dari bumi, air yang deras dan dahsyat. Dan dalam waktu yang cepat telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi daratan yang rendah maupun yang tinggi sampai mencapai puncak bukit-bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air bah yang dahsyat itu kecuali perahu nabi Nuh yang telah terisi penuh dengan para orang mukmin dan pasangan makhluk yang diselamatkan oleh nabi Nuh atas perintah Allah. Dengan iringan “Bismillahi majraha wa mursaha”, belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ganas dan ribut. Di saat dahsyatnya air bah sambil melihat cuaca yang ekstrim yang Allah turunkan, nabi Nuh melihat kaumnya dan orang-orang kafir yang tenggelam, tertujulah mata nabi Nuh pada anaknya Kan’an yang sedang berlari menaiki gunung menghindari air bah yang semakin tinggi. Sebagai seorang ayah nabi Nuh tidak tega melihat anaknya yang ditimpa kesusahan. Tanpa di sadari nabi Nuh memanggil anaknya untuk menaiki kapal yang sama dengan dia. Akan tetapi Kan’an yang dengan kesombongan dan kesesatannya merasa bahwa dia akan selamat jika berhasil menaiki gunung tersebut. Akhirnya Kan’anpun mati dengan kesombongannya itu disebabkan oleh derasnya air bah yang Allah turunkan. Hal tersebut membuat nabi Nuh bersedih dan berdukacita atas kematian putranya yang mati dalam keadaan kafir. Beliaupun memohon kepada Allah untuk putranya “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” Allah berfirman kepada nabi Nuh ““Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah
engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.” Allah menegaskan kepada nabi Nuh untuk tidak bersedih dengan hal yang siasia. Hanya orang-orang yang benar-benar mengikuti risalahmulah yang termasuk ke dalam golonganmu. Adapun mereka yang ingkar dengan risalahmu, mendustakan dakwahmu dan menuruti hawa nafsu yang dituntun iblis mereka bukan golonganmu, mereka akan mendapatkan azan yang sangat pedih dari Allah walaupun mereka bersembunyi di dalam goa-goa. Nabi Nuh segera sadar setelah menerima teguran dari Allah, Ia sangat menyesali kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah memohon ampun dan maghfirahnya. Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya, habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim. Sesuai dengan kehendak dan hukum Allah, surutlah lautan air diserap bumi kemudian bertambatlah kapal Nuh di atas bukit "Judie". Penyebaran Peradaban Ke Tiga Benua Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab sejarah Al-Bidayah wan Nihayah, فإن الله لم يجعل لأحد ممن كان معه من المؤمنين نسلا ولا عقبا سوى نوح عليه السلام ...فكل من على وجه الأرض اليوم من سائر أجناس بني آدم ينسبون إلى أولاد نوح الثلاثة وهم سام وحام ويافث “Allah tidak menjadikan seorangpun yang bersama Nabi Nuh dari orang-orang yang beriman anak dan keturunan kecuali Nuh ‘alaihissalam saja… Semua yang ada di muka bumi sekarang dinisbatkan kepada ketiga anak Nabi Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafidz” [Bidayah wan Nihayah, 1/115, Darul Kutub Ilmiyah, Syamilah]. Nabi Nuh, yang dikenal dalam sejarah sebagai utusan Allah untuk menyelamatkan manusia dari banjir besar, memiliki empat putra yang muncul dalam catatan keagamaan, yaitu Yafits, Sam, Ham, dan Kan’an. Dalam kisah ini, Kan’an memilih untuk pergi ke puncak gunung sebagai upayanya untuk melindungi diri dari banjir dahsyat yang ditakdirkan Allah untuk membasahi bumi. Sayangnya, usaha itu sia-sia, dan dia akhirnya tenggelam bersama dengan orang-orang yang tidak beriman. Namun, tiga putra yang tersisa, yaitu Sam, Ham, dan Yafits, memiliki peran penting dalam perjalanan peradaban manusia. Menurut penjelasan dari Ibnu Katsir, seorang cendekiawan Islam terkemuka, dia mencatat bahwa seluruh manusia yang ada di bumi ini berasal dari ketiga anak Nabi Nuh yang selamat dari banjir dahsyat tersebut. Mereka adalah Sam, Ham, dan Yafits.
Dalam perspektif ini, ketiga keturunan ini menjadi akar bagi beragam kelompok etnis dan budaya yang berkembang di seluruh dunia. Setiap keturunan memiliki peran penting dalam membawa peradaban, budaya, dan bahasa mereka masingmasing ke berbagai wilayah bumi. Sam, Ham, dan Yafits menjadi leluhur manusia yang membentuk berbagai masyarakat dan budaya yang beragam di seluruh dunia. Kisah Nabi Nuh dan ketiga putranya ini mencerminkan salah satu elemen penting dalam keyakinan agama monotheistik, yaitu keyakinan akan asal-usul manusia yang bersatu dalam satu nenek moyang umum. Meskipun penjelasan ini dapat bervariasi dalam berbagai tradisi agama, ide bahwa keturunan Nabi Nuh memainkan peran penting dalam sejarah peradaban manusia tetap menjadi elemen yang mendasar dalam keyakinan keagamaan dan mitologi. Para ahli sepakat bahwa seluruh keturunan manusia berasal dari ketiga anak Nabi Nuh, sesuai firman Allah, “Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan,” (QS. Ash-Shaffat [37]: 77). Sejarah Perkembangan Masyarakat di Tiga Benua 1. Sam bin Nuh Sam adalah putra tertua Nabi Nuh, memegang peran penting dalam perkembangan peradaban Timur Tengah. Keturunannya dianggap sebagai nenek moyang bangsa Semit, yang mencakup orang-orang Ibrani, Arab, dan berbagai kelompok etnis di wilayah Timur Tengah. Ini adalah keturunan Sam yang mempertahankan tradisi tauhid (kepercayaan kepada satu Tuhan) dan mengembangkan agama Yahudi dan agama-agama Semit lainnya. Ibnu Tabari menyebutkan bahwa istri Sam bernama Shalib binti Batawil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Sam menurunkan Arfaqsyad (Arpakhaxad), Asshur (Assyur), Lud, Elam, dan Aram. Melahirkan keturunan yang menjadi nenek moyang bangsa-bangsa besar di dunia. Sejarawan Islam seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisham selalu memasukkan nama Sem dalam silsilah Nabi Muhammad. ▪ Dari Arpakhsad/Arfaqsyad (Arpakhaxad) bin Sam melahirkan bangsa Ibrani dan Arab, dari garis keturunan Amir bin Syalekh bin Arpakhsad bin Sam. Dari sini pula lahir bangsa Hind dan Sind melalui Yoktan bin Eber bin Saleh bin Arfaqsyad. Dari jalur Yoktan juga melahirkan orang-orang Saba'. Melalui jalur inilah Arfaqsyad melahirkan banyak Nabi seperti Nabi Ibrahim, Daud, Isa hingga Nabi Muhammad.
Adalah Arfakhsyad yang silsilahnya menjadi cikal bakal lahirnya dua suku Arab di masa depan, yaitu suku Qahthan dan suku Adnan, yang akan bertemu dalam silsilah ‘Abir (Eber). Suku Qahthan (Qahthaniyyun) berasal dari keturunan Ya’rub bin Yasyjub bin Qahthan bin Abir bin Syalekh bin Arfakhsyad. Suku ini disebut juga suku Arab Asli (Al-‘Arab Al-‘Aribah). Sedangkan suku Adnan (Adnaniyyun) berasal dari silsilah Ismail (bani Ismail) melalui garis keturunannya yaitu Adnan, suku ini disebut suku Arab pendatang (Al-‘Arab Al-Musta’ribah). ▪ Dari Lud bin Sam oleh Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa Lud menikah dengan putri Yafith, Shakbah dan melahirkan Faris, Jurjan, dan ras yang mendiami wilayah Persia. Kemudian dari Lud lahirlah Tasm dan Imliq (kaum ‘Amaliqah). Imliq kemudian meruntuhkan bangsa Amalek yang kemudian tersebar di wilayah Uman, Hijaz, Syria dan Mesir. Dari keturunan Lud inilah lahir sebuah bangsa perkasa di Syria yang disebut orang Kanaan. Dari Lud juga diturunkan Fir’aun dari Mesir, orang-orang Bahrain dan ‘Uman yang kemudian dikenal sebagai jasim poni. Penduduk Madinah seperti Bani Huff, Sa’d bin Hizzan, Banu Matar dan Banu AlAzraq, Penduduk Najd yaitu Badil dan Rahil, Penduduk Tayma adalah keturunan Lud bin Syam. ▪ Tasm bin Lud tinggal di Yamamah (kota kuno Bahrain). Dari keturunan Lud seperti Tasm, Amalek, Umaym dan Jasim menggunakan dialek Arab, sedangkan dari keturunan Lud lainnya seperti Faris menggunakan dialek Farsi. Artinya dari jalur Faris bin Lud bin Sam bin Nuh, kemudian juga melahirkan bahasa Persia. Bangsa yang pertama kali berbahasa Arab adalah Imliq bin Lud setelah hijrahnya dari Babilonia. ▪ Dari Aram bin Sam diturunkan Uz, Mash, Gether dan Hul. Kemudian Uz menjatuhkan Gether, ‘Ad dan Ubayl. Gether bin Aram mengirim Thamud dan Judays. Mereka berbicara bahasa Arab Mudari. Pada zaman kaum ‘Ad dikenal dengan ‘Ad dari Iram, ketika kaum ‘Ad dihancurkan maka kaum Thamud disebut Iram. Setelah Thamud dihancurkan keturunan Iram yang tersisa disebut Arman atau Aramean. Menurut Ibn Hisham, semua orang Arab adalah keturunan Isma’il bin Ibrahim dan Qahthan (yakni Arfaqshad bin Sam). Jauh sebelumnya di wilayah Arab dulu ada orang Arab yang lebih tua, tetapi mereka semua telah mati. Mereka adalah kaum ‘Aad, kaum Tsamud (keduanya disebutkan dalam Al-Qur’anul-Karim), kaum Jadis, kaum Kaldan dan kaum ‘Imlaq (bangsa ‘Amaliqah), mereka itulah yang disebut bangsa Arab yang punah. suku (Al-‘Arab Al-Baidah).
Orang-orang Arab Ba’idah, yaitu orang-orang Arab awal yang rincian sejarahnya tidak dapat diketahui dengan sempurna, seperti ‘Aad, Tsamud, Kaldan dan Amaliqah (Amalek). Kaum ‘Aad atau ‘Ad adalah suku Arab kuno yang dipimpin oleh ‘Ad bin Kin’ad, yang hidup pada masa Nabi Hud As. Suku Tsamud juga merupakan suku Arab kuno yang hidup dari tahun 2300 SM hingga 200 SM di Gunung Athlab dan di seluruh Arab Tengah. Kaum Thamud hidup pada zaman Nabi Saleh As. Kuam Kaldan hidup di zaman Nabi Ibrahim As. Sedangkan Amaliqah hidup bersama Nabi Ismail As. Selain ras Arab, dari Aram ini juga melahirkan ras Suryani atau Aram (Suriah). Silsilahnya adalah Suriyan bin Nobet bin Mesh bin Adam bin Yafet. ▪ Dari Ashur (Assyur) bin Sam melahirkan bangsa Asyur (Asyur), Kurdi dan Nabataean (penduduk Babilonia/Babilonia). ▪ Dari sinilah kemudian Elam bin Sam melahirkan ras Iran kuno. Dan menjadi Persia saat berasimilasi dengan keturunan Madai bin Yafet bin Nuh. 2. Ham bin Nuh Ham bin Nuh adalah salah satu tokoh dalam legenda dan mitologi bangsa Arab. Ia terkenal sebagai salah satu pemukim pertama di semenanjung Arab dan dianggap sebagai nenek moyang dari beberapa suku Arab dan orang-orang Ad. Kisah tentang Ham bin Nuh juga terdapat dalam Alkitab, khususnya dalam Kitab Kejadian. Ibnu Tabari menyebutkan bahwa istri Ham bernama Nahlab binti Marib bin Al Darmasil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Ham memiliki 4 orang putra yaitu Kush, Put, Kanaan dan Qibthy atau Misraim. ▪ Dari Kush bin Nuh, Ibnu Tabari menyebutkan istri Kush bernama Qarnabil binti Batawil bin Tiras dan dari keturunannya Abyssinia, Hind dan Sind. Akhirnya menetap di India. Di India mereka membentuk kerajaan-kerajaan kuno di India, di mana sebagian besar raja mereka adalah keturunan Hind bin Kush bin Ham bin Nuh. Ketika Nuh mencapai usia lanjut, dia berdoa agar keturunan Kush menjadi raja, karena keduanya melayani kakeknya di usia tuanya. Kaum Barqah dahulu atau dikenal dengan kaum Zawilah merupakan keturunan dari Hawilah bin Kush bin Ham. ▪ Dari Put bin Nuh, Ibnu Tabari menyebutkan bahwa istri Put bernama Bakht binti Batawil. Put lalu tinggal bersama keturunan Kush, yaitu Hind dan Sind di wilayah India.
▪ Dari Kan’an bin Nuh, Ibnu Tabari menyebutkan istri Kan’an bernama Arsal binti Batawil bin Tiras dan darinya keturunan ras kulit hitam atau negro, Nubia, Fezzan, Zanj dan Zaghawah. ▪ Dari Qibthiy (Mishraim) bin Nuh, Ibnu Tabari menyebutkan bahwa keturunan Mizraim adalah Koptik dan Barbar. Termasuk bangsa Qibty Mesir. 3. Yafits bin Nuh Ibnu Thabari menyebutkan istri Yafith bernama Arbasisah binti Marazil bin Al Darmasil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan darinya Yafith menurunkan 7 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan, yaitu Gomer, Marihu, Wa’il, Yawwan, Tubal, Hawshil dan Thiras sedangkan versi lain menyebutkan Gomer, Magog, Tiras, Javan (Yawan), Meshech, Tubal, dan Madai. Anak perempuan dari Yafith adalah Shabokah. Ketika Nuh menginjak usia lanjut, ia mendoakan agar keturunan Gomer menjadi raja-raja, karena mereka berdua ini melayani kakeknya disaat usianya lanjut. ▪ Gomer (kummer) bin Yafet memiliki anak Turk dari sinilah muncul bangsa Turki. Termasuk di dalam ras mereka adalah Qabjaq, Tatar, dan Khazlajiah yang merupakan bangsa Ghuz (Kushan). Negeri-negeri Al-Shafd yaitu Ghor, Elan, Syarkes, Azkesy, dan Rusia, seluruhnya dari ras Turki. Dari sinilah lahir orang Skitia, Turkik, Armenia, Welsh, Pikt, Irlandia, Jerman. Shaqalibah (orang-orang Slaves/Slavia) dari keturunan Esykanar bin Togarma bin Gomer bin Yafet. ▪ Dari Magog bin Yafet kemudian lahir sebuah bangsa yang kita kenal sebagai Yakjuj Makjuj (Gog Magog) yang masih rahasia hingga sekarang. Ras Cina, termasuk bangsa Cina, Jepang, Korea, Indo- china, Melayu, dan Indonesia (pen) dari keturunan Shin bin Magog bin Yafet. ▪ Titas (Tyras) bin Yafet, Thirasians; tetapi orang Yunani mengubah nama mereka menjadi orang Trache. Keturunan Tiras adalah orang-orang Traisa, Goth, Jute, Teuton. Muhammad ibn Jarir al-Tabari menceritakan bahwa Tiras memiliki seorang putra bernama Batawil, yang memiliki putri bernama Qarnabil, Bakht, dan Arsal menjadi istri Kush, Put, dan Kanaan (ketiga orang ini adalah putranya Ham bin Nuh). ▪ Dari Yunan (Yawan) bin Yafet melahirkan bangsa Yunan dan mereka terpecah menjadi tiga kelompok. Yunan memiliki tiga anak yaitu Lathen, Greeks, dan Kuteim. Orang-orang Lithan adalah keturunan Lathen bin Yunan. Bangsa Greek, keturunan Greeks bin Yunan. Orang-orang Keitim berasal dari keturunan Kuteim bin Yunan dan kepada kelompok inilah kembali hierarki nasab bangsa Romawi.
▪ Dari Meshech bin Yafet menurunkan Ashban. Suatu koloni dari Ishafan yang menetap di Syria, Mesir, beberapa daerah Afrika Utara yang lain dan Spanyol. ▪ Dari putra Tubal (Khatubal) bin Yafet turut serta bersama rombongan Meshech yang menghuni dataran Afrika Utara sampai ke semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dan kediaman mereka di sebelah Barat ke arah Utara di bagian Utara Laut Rum (Laut Tengah) melahirkan bangsa Leman. Yaitu orang Tabal, Georgia, Italia, Iliria, Liberia dan bangsa Sasque. Bangsa Francs (Perancis) dari putra Tubal bin Yafet. ▪ Dari keturunan Madai bin Yafet melahirkan bangsa Daylam, yaitu orang Madea, yang oleh orang Yunani disebut Medes. Dari sini muncul orang-orang Mitani, Manai, Media, Parsi (Persia-Iran), Indo-Arya, Kurdi. Misteri Teknologi Zaman Nabi Nuh Seorang Profesor asal Turki memaparkan teori yang mengejutkan tentang zaman Nabi Nuh. Dia menilai, kehidupan era di masa nabi tersebut lebih maju dari yang diperkirakan kebanyakan. Bahkan bisa jadi lebih canggih dibandingkan dengan saat ini. Profesor bernama Yavuz Ornek yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Kelautan Universitas Istanbul menyebutkan, bahwa Nabi nuh berkomunikasi dengan putranya saat banjir bah datang dengan menggunakan ponsel. Teori itu disampaikannya saat diundang berbicara di saluran televisi TRT milik negara. Pada saat itu dia dimintai komentar mengenai masalah banjir. Ornek kemudian mendiskusikan bagian dari kisah banjir versi Al Qura’n di mana salah satu putra Nabi Nuh, yang adalah seorang kafir, menolak untuk ikut ke atas kapal Nuh. Dia kemudian memilih untuk mendaki sebuah gunung. Namun saat air bah naik, dia berbicara kepada ayahnya dan bertobat. “Al Quran mengatakan bahwa ombak setinggi gunung, jadi jika Nuh berbicara dengan anaknya, anaknya pasti duduk di puncak gunung lain,” kata Ornek dalam wawancara di televisi. “Al Qur’an mengatakan bahwa mereka berbicara, tapi untuk berbicara di antara dua gunung dengan jarak ratusan kilometer, mereka pasti punya telepon genggam, dan anak Nuh harus naik kendaraan udara untuk sampai ke ayahnya.” Dia menyebut, teori itu dibuatnya berdasarkan pemahamannya tentang cerita yang terkait dengan Al Qur’an. Pasalnya, dia menilai bahwa selama badai, percakapan tidak mungkin terjadi, terlebih dipisahkan antar gunung yang secara jarak berjauhan dan juga diselingi petir.
Dia lebih lanjut menjelaskan teorinya bahwa teknologi jauh lebih maju 10.000 tahun yang lalu daripada yang disadari kebanyakan orang. Nuh, juga menggunakan teknologi maju untuk membangun sebuah bahtera dari baja yang didukung oleh energi nuklir, menurut Ornek. Ornek juga mengklaim bahwa alih-alih membawa hewan hidup ke atas bahtera, Nuh membawa satu telur jantan dan satu telur betina dari setiap spesies hidup. “Saya seorang ilmuwan, saya berbicara untuk sains,” jelas Ornek. Profesor lainnya, yakni Profesor Efrat Aviv, seorang spesialis di Turki untuk Pusat Studi Strategis Begin-Sadat, dalam kesempatan berbeda, mengomentari hal itu. Dia menyebut Ornek serius dengan teorinya. “Mengatakan sesuatu yang menghina Al Quran, bahkan sebagai sebuah lelucon, bisa merugikan orang ini dalam hidupnya, jadi tidak mungkin dia menyiarkannya, dan ini seperti komentar serius lainnya,” kata Dr. Aviv. “Saya melihat wawancara itu. Dia terdengar sangat meyakinkan dan jelas percaya akan teori-teorinya. Profesor itu menjelaskan secara mendalam dan terperinci, membuat perbedaan dalam teks,” tambahnya. Namun di sisi lain dia mengakui soal adanya penolakan dari banyak pihak atas teori tersebut karena sangat ekstrem menurut standar apapun. “Sebagian besar orang Turki yang bereaksi terhadap media sosial memiliki pendapat yang kuat, kebanyakan menolak teorinya, namun beberapa orang sangat mendukung dan membela dia.” Nabi Nuh bisa membangun kapal yang teramat besar hanya berbekal pengikut yang tidak sampai 100 orang? Pikirkan. Seratus (100) orang itupun ada yang wanita dan anak jadi jumlah pekerja untuk membangun bahtera Nuh teramatlah sedikit. Bahkan pula, para pengikut Nabi Nuh as terdiri dari orang miskin yang lemah dan melarat saja. Nuh juga telah membangun kapalnya dalam jangka waktu yang terbatas (beberapa pendapat mengatakan dalam beberapa minggu saja). Misteri ini benar-benar membingungkan peneliti bahkan ada juga peneliti Barat yang mengklaim bahwa, Bahtera Nuh dibangun oleh makhluk asing. Sebenarnya kita tidak akan heran dengan kemampuan Nuh ketika itu jika kita membayangkan kemajuan manusia sebelum Banjir Besar adalah seperti kemajuan pada masa kini setidaknya. Kita bisa membayangkan yang Nuh membangun bahtera di dalam hangar pesawat yang besar serta peralatan dan mesin-mesin yang canggih dibantu sistem komputasi yang canggih. Jika kita lihat pada kronologi kemajuan manusia, kita dapat melihat logika atau tidak kenyataan ini. Biar kita ambil periode dari lahirnya Nabi Isa menurut kalender
Masehi yaitu 1 Masehi sampai 2009 Masehi. Bagaimana kehidupan manusia di zaman Yesus hidup. Bagaimana kemajuan manusia setelah 2000 tahun setelah kelahiran Nabi Isa? Berapakah jangka Adam manusia pertama hingga peristiwa Banjir Besar di zaman Nuh. Katakanlah sekitar 2000 tahun (ini perkiraan yang sangat minimal mengingat periode dari manusia pertama turun ke Bumi sehingga Banjir Besar bisa memakan waktu ribuan tahun), maka logiklah kemajuan manusia mencapai tingkat terhebat dan maju ketika Banjir Besar. Maka jika berpikir seperti ini, kita tidak akan terkejut dengan kisah-kisah seperti Atlantis dan Lemuria serta Pemerintah Rama yang memiliki pesawat-pesawat terbang seperti UFO. Peperangan juga melibatkan tenaga nuklir seperti efek yang ditemukan di Mohenjo-Daro dan Harappa. Tapi apakah semua kemajuan itu berguna ketika tibanya bencana? Semua kemajuan itu habis tenggelam bersama orang musyrik yang mengingkari perintah Allah setelah hanyut dalam arus kemajuan material dan kecanggihan teknologi yang mengkhayalkan. Manusia ketika itu semakin rakus dengan materi dan berbuat maksiat secara terang-terangan. Tidak heran jika ada pesta telanjang di sana-sini. Pesta-pesta mandi busa acapkali diadakan di festival-festival besar. Konser-konser musik yang mengkhayalkan sering kali diakhiri dengan pesta seks yang menggairahkan di hadapan sembahan-sembahan berhala yang mereka pertuhankan. Dakwah nabi Nuh dikesampingkan bahkan sering keluar di media-media internasional. Mungkin kita merasa lucu dengan skenario yang ditampilkan di sini. Ini karena kita memikirkan Nuh hidup seperti orang gua, bercocok tanam dan menggembala kambing saja. Tidak sama sekali. Lihatlah lukisan-lukisan misteri di dinding kuil Firaun yang menceritakan satu mitos kuno tentang penghasilan tenaga listrik siap dengan lukisan kabel bawah tanah dan filemen listrik. Penemuan baterai kuno di Irak dan cakram padat kuno Dropa (sampai kini tidak diketahui apakah ia berbentuk CD, CD-RW, DVD, DVD-RW atau sebagainya) di China. Dan yang paling menggemparkan adalah penemuan nuklir berusia lebih 2 juta tahun di Oklo, Afrika! Apakah maksud semua ini? Berapa umur Bumi sebenarnya? Berapa umur umat manusia sebenarnya?. Kita tidak bisa menganggarkannya berdasarkan penelitian Barat (buku referensi sejarah di Malaysia banyak merujuk kepada sumber Barat) yang dipengaruhi oleh The Hidden Hand seperti Illuminati dan Freemasonry. Mereka sebenarnya memiliki alasan untuk menyesatkan umat manusia. Segala kenyataan sebenarnya sangat jauh dari apa yang kita bisa bayangkan. Maka setelah Banjir Besar, para pengikut Nabi Nuh pun bertebaranlah di muka bumi sehelai sepinggang setelah meninggalkan kehidupan modern dan canggih
mereka ditelan banjir. Mereka kembali menjadi orang gua dan mulai berburu, bercocok tanam dan mengail ikan. Seperti yang direkam di dalam al Qur’an: “Tidakkah mereka perhatikan betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? (Yaitu) generasi yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yang belum pernah Kami lakukan kepada kamu; dan Kami curahkan air hujan yang lebat, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka; lalu Kami binasakan mereka karena dosadosa mereka, selanjutnya Kami munculkan sesudah mereka generasi lain.” Qs.Al-An’am: 6 Di waktu-waktu malam mereka mungkin berkumpul di tepi unggun api sambil mendengar cerita orang-orang tua di kalangan mereka mengenai kehidupan modern dan canggih mereka suatu ketika dahulu seperti menaiki bas dan komuter (kebanyakan pengikut Nabi Nuh adalah miskin) dan ada juga yang pernah menaiki kereta. Mereka juga mungkin menceritakan bangunan-bangunan tinggi dan komputer. Betapa kukuhnya bangunan bahtera Nuh as ini, hinggakan bangunan aslinya masih kokoh hingga sekarang. Gambar 1.1 adalah satu sudut dalam bahtera Nuh, sedangkan gambar 1.2 adalah bahan besi yang diperoleh dari struktur bahtera tersebut. Gambar tersebut diambil setelah kelompok arkeologi dari Turki dan Cina berhasil memasuki bahtera Nuh as yang terdampar di puncak Gunung Ararat di Turki. Gambar 1.1 Gambar 1.2
Kesimpulan Kisah Bahtera Nuh dan tiga anaknya adalah narasi yang memiliki banyak makna dalam berbagai tradisi agama monotheistik, termasuk Islam, Kristen, dan Yahudi. Berikut adalah beberapa hikmah penting yang dapat diambil dari: 1. Keteguhan dan Kepatuhan kepada Allah: Nabi Nuh digambarkan sebagai sosok yang sangat taat kepada Allah. Dia mematuhi perintah Ilahi untuk membangun bahtera dan menyelamatkan hewan dan keluarganya. Kisah ini mengajarkan pentingnya kepatuhan dan keteguhan dalam menjalani ajaran agama. 2. Hukuman atas Keburukan Manusia: Banjir besar dalam kisah ini diutuskan oleh Allah sebagai hukuman atas ketidaktaatan umat manusia pada zamannya. Ini mencerminkan pandangan bahwa Allah adil dan tegas dalam menghadapi perbuatan jahat dan maksiat. 3. Persatuan Manusia: Kisah ini juga menggambarkan persatuan manusia dalam menghadapi bencana besar. Bahtera Nuh menjadi lambang persatuan, di mana orang dari berbagai latar belakang etnis dan sosial bersatu untuk menyelamatkan diri. 4. Nenek Moyang Bersama: Dalam banyak tradisi agama, Nabi Nuh dan ketiga anaknya (Sam, Ham dan Yafits) dianggap sebagai nenek moyang bersama seluruh umat manusia. Ini menekankan konsep persatuan manusia dan akar bersama dalam keyakinan agama. 5. Pesan Harapan dan Keselamatan: Kisah ini juga mengandung pesan harapan dan keselamatan. Bahtera Nuh menjadi simbol harapan dalam menghadapi bencana besar, dan keselamatan akhirnya datang bagi mereka yang tetap setia kepada Allah. 6. Pentingnya Keturunan: Cerita ini menggarisbawahi peran keturunan dalam penyebaran peradaban manusia setelah banjir. Keturunan Nabi Nuh diyakini menjadi akar bagi berbagai kelompok etnis dan budaya di seluruh dunia. 7. Pengajaran Moral dan Spiritual: Kisah Bahtera Nuh dan tiga anaknya mengandung banyak pengajaran moral dan spiritual, termasuk pentingnya beriman, taat kepada Allah, dan bertekad untuk melakukan kebaikan dalam menghadapi cobaan. 8. Kisah Bahtera Nuh dan tiga anaknya adalah salah satu cerita yang penuh makna dalam tradisi agama dan memiliki pesan-pesan yang relevan tentang keimanan, kepatuhan, persatuan, dan harapan. Ini juga menunjukkan bagaimana narasi keagamaan dapat membawa pesan moral dan spiritual yang mendalam kepada umatnya.
Daftar Pustaka Al Qur’an Al Karim Daljoeni, Nathanael, 1987, Geografis Kesejarahan I: Peradaban Dunia, Bandung: Alumni 1987 Barid, Isa dan Umbara, Rangga, Peradaban Manusia Pasca Nuh AS, Depok: 2016 Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008. Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008. Abdul Aziz Usman, Asy-Syarqu al-Adnaa al-Qadiim, hlm 213. Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa', hlm 65. Ats-Tsa’labi, Qishashul Anbiyaa’ (al-Araa’is), hlm 55. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979. Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, AlMaktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008. M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008. Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008. Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999 https://id.quora.com/Jika-semua-umat-manusia-saat-ini-berasal-dari-keturunanNabi-Nuh-AS-setelah-era-banjir-besar-lalu-apakah-pengikut-Nabi-Nuh-AStidak-ada-satupun-yang-diberi-keturunan https://www.faktajabar.co.id/2018/08/14/teknologi-dan-misteri-dari-zaman-nabi-nuhyang-disembunyikan-elite-global/ https://www.kompasiana.com/rendy77777/6442519fa7e0fa34b70b6133/seri-tadabburqur-an-teknologi-komunikasi-zaman-nabi-nuh?page=2&page_images=1 https://www.kaskus.co.id/thread/516a196cdb9248181b000007/misteri-teknologizaman-nabi-nuh