masalah yang bisa kau peroleh. Satu masalah pun ia tak sang-
gup menyelesaikannya.
Kini masalah baru muncul, bahkan tanpa ia harus ber-
buat apa pun, tanpa mengetahui apa pun.
–
Ajo Kawir terbangun di pagi hari dan menoleh ke samping.
Seharusnya Iteung berbaring di sini, pikirnya. Dan kemu-
dian ia menyadari sesuatu. Ia menemukan dirinya ngaceng. Ia
langsung duduk, membuka celananya, dan memandang ter-
pesona kepada Si Burung. Seolah tak percaya, ia memegang-
nya, mengelusnya. Si Burung menggeliat, semakin besar dan
mengeras.
“Burung, kau bangun! Kau benar-benar bangun.”
“Ya, Tuan. Senang sekali aku bisa bangun dan sesema
ngat ini.”
“Tolol. Aku tak bisa memberimu apa-apa. Isteriku pergi
dan tak tahu akan ditahan berapa lama kali ini. Ia membunuh
dua polisi.”
“Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau bersabar
menungguku bangun, Tuan. Bolehkah sementara menunggu,
aku tidur lagi?”
2011-2014
243
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya, 1975. Ia menyelesaikan
studi dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta (1999), dengan skripsi yang kemudian terbit
menjadi buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra
Realisme Sosialis (1999). Kumpulan cerita pendeknya meliputi
Corat-coret di Toilet (2000), Gelak Sedih (2005) dan Cinta Tak
Ada Mati (2005). Dua novelnya yang lain Cantik itu Luka
(2002) dan Lelaki Harimau (2004). Ia rutin menulis jurnal di
http://ekakurniawan.com.
Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula
dari satu peristiwa: dua orang polisi memerkosa seorang
perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang
di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur
panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si
burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang
tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha mem-
bangunkannya.
“Eka Kurniawan:
an unconventional writer.”
– Weekender, The Jakarta Post
SASTRA/FIKSI/NOVEL DEWASA
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lt. 5
Jl. Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270
www.gramediapustakautama.com