The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN
SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA (SPAB)
BAGI PESERTA DIDIK PENYANDANG
DISABILITAS
(SATUAN PENDIDIKAN KHUSUS & REGULER)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by teddy.pawitra, 2023-07-25 02:54:52

JUKNIS SPAB

PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN
SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA (SPAB)
BAGI PESERTA DIDIK PENYANDANG
DISABILITAS
(SATUAN PENDIDIKAN KHUSUS & REGULER)

DIREKTORAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN KHUSUS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2021 PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA (SPAB) BAGI PESERTA DIDIK PENYANDANG DISABILITAS (SATUAN PENDIDIKAN KHUSUS & REGULER)


PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN SMAB SEKOLAH / MADRASAH AMAN DARI BENCANA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN SMAB i SEKOLAH / MADRASAH AMAN DARI BENCANA PB BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PETUNJUK TEKNIS PETUNJUK TEKNIS PENERAPAN SATUAN PENDIDIKAN AMAN BENCANA (SPAB) BAGI PESERTA DIDIK PENYANDANG DISABILITAS (SATUAN PENDIDIKAN KHUSUS & REGULER) DIREKTORAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN KHUSUS DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI , PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI TAHUN 2021


KATA PENGANTAR Ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 33 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) telah menjadi kabar baik bagi satuan pendidikan yang berada di kawasan rawan bencana untuk menyelenggarakan Program SPAB. Tentunya kebijakan tersebut menjadi salah satu sumber kekuatan dalam melakukan Program SPAB secara masif di satuan pendidikan. Hal ini terbukti dari semakin meningkatnya jumlah satuan pendidikan menyelenggaran Program SPAB, khususnya di 10 provinsi dan 12 kabupaten/kota yang telah memiliki peraturan tentang Program SPAB. Sampai dengan tahun 2021, telah tercatat sekitar 30 ribu satuan pendidikan telah melakukan berbagai upaya dalam mengurangi risiko bencana. Tidak hanya itu, satuan pendidikan juga sudah mulai meningkatkan pengetahuan terhadap adaptasi perubahan iklim. Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK) sebagai Ketua 2 Seknas SPAB dan dibantu oleh mitra penggiat Program SPAB telah menyusun kembali petunjuk teknis penerapan Program SPAB bagi satuan pendidikan. Petunjuk teknis ini tentunya sangat diperlukan oleh satuan pendidikan sebagai panduan penting dalam menerapkan Program SPAB. Petunjuk teknis ini diadaptasi dari materi petunjuk teknis Program SPAB yang disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan teknis ini, semoga petunjuk teknis ini dapat memberikan arahan yang jelas bagi satuan pendidikan dalam menerapkan Program SPAB. Jakarta, Desember 2021 Direktur PMPK, Dr. Samto NIP196506201992031002 i


i ii


iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .........................................................i DAFTAR ISI ..................................................................... ii BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................. 1 B. Tujuan ........................................................................ 4 C. Dasar Hukum ............................................................... 5 D. Rujukan Teknis Pelaksanaan Program SPAB....................... 5 E. Lokasi Satuan Pendidikan ............................................... 6 F. Kriteria Satuan Pendidikan ............................................. 6 G. Tahapan Penyelenggaraan .............................................. 6 H. Fasilitator .................................................................... 6 I. Ruang Lingkup Pelaksanaan Di Daerah ............................. 6 J. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan ............................................ 8 BAB 2. PELAKSANAAN A. Workshop persiapan Program SPAB oleh pemangku kepentingan bidang pendidikan dan kebencanaan di daerah ................................................................................. 10 B. Penilaian Mandiri Awal oleh Satuan Pendidikan (Baseline) . 14 C. Pelatihan PRB dan Program SPAB berbasis inklusif Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Sekolah dan Pemerintah Desa ........................................................ 15 D. Pelatihan PRB dan Satuan Pendidikan Aman Bencana untuk Peserta Didik di masa pandemi ..................................... 21 E. Workshop Kajian Risiko Bencana Partisipatif ................... 27 F. Workshop Penyusunan Rencana Aksi dan Pembentukan Tim Siaga Bencana di Satuan Pendidikan .............................. 29 G. Workshop Penyusunan Prosedur Tetap Kedaruratan Bencana dan Pembuatan Media Publikasi satuan pendidikan .......... 32 H. Pembelajaran PRB Peserta Didik .................................... 34 I. Simulasi Kesiapsiagaan di Lingkungan Satuan Pendidikan . 37 J. Penilaian Mandiri Akhir (Endline) ................................... 39 K. Workshop Evaluasi Pelaksanaan dan Rencana Tindak Lanjut ................................................................................. 40 BAB 3. PEMANTAUAN DAN EVALUASI A. Pemantauan ............................................................... 42 B. Evaluasi ..................................................................... 42


iv LAMPIRAN: Lampiran 1. Prosedur Pelatihan Peserta Didik ...................... 43 Lampiran 2. Prosedur Workshop Kajian Risiko Bencana Partisipatif ...................................................................... 45 Lampiran 3. Penilaian Mandiri ............................................ 52 Lampiran 4. Prosedur Workshop Penyusunan Prosedur Tetap Kedaruratan Bencana Satuan pendidikan dan Pembuatan Media Publikasi Sekolah Satuan Pendidikan ...................................52 Lampiran 5. Prosedur Simulasi Kesiapsiagaan Di Lingkungan Satuan Pendidikan .......................................................... 58 Lampiran 6. Baseline/Check-list Awal Kapasitas Satuan pendidikan Untuk Identifikasi Kebutuhan ............................60 Lampiran 7. Formulir Monitoring & Evaluasi Program SPAB ....80


BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara geografis, Indonesia terletak di antara tiga pertemuan lempeng besar, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik yang membuat Indonesia menjadi rentan terhadap perubahan geologis. Hasil pertemuan tiga lempeng ini dihasilkan lempeng tektonik (garis merah) yang merupakan gempa bumi dan deretan gunung api. Terdapat 129 gunung api aktif yang ada di Indonesia, yang saat ini dimonitor oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (ESDM). Untuk lempeng tektonik dimonitor oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang secepatnya akan memberikan informasi mengenai gempa bumi dan tsunami. Kekayaan Indonesia dengan beragam gunung berapi sekaligus dapat menjadi ancaman bencana gunung meletus. Selain itu, terdapat 5.590 daerah aliran sungai (DAS) yang terletak antara Sabang dan Merauke juga telah berkontribusi membantu membentuk Indonesia. Iklim Indonesia sangat dipengaruhi oleh lokasi dan karakteristik geografis yang membentang di 6.400 km antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia memiliki 3 pola iklim dasar: monsunal, khatulistiwa dan sistem iklim lokal. Hal ini telah menyebabkan perbedaan dramatis dalam pola curah hujan di Indonesia. Posisi geografis dan lokasinya yang berada di rangkaian lempeng tektonik: Australasia, Pasifik, Eurasia dan Filipina mengakibatkan pergerakannya dapat menimbulkan bencana gempa bumi atau tanah longsor. Gempa bumi dengan kekuatan tertentu dan di lokasi tertentu dapat diikuti dengan bencana tsunami dan banjir. Gempa bumi yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 telah menyebabkan tsunami yang berdampak luas dan mengakibatkan korban jiwa lebih dari 230.000 di lebih dari 14 negara. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun terakhir (2010-2020) terjadi 13.729 kejadian bencana, yang didominasi oleh banjir dan diikuti oleh tanah longsor, angin kencang, kekeringan dan bencana lain. Namun bencana yang paling banyak memakan korban adalah bencana gempa bumi yang diikuti oleh tsunami (mengakibatkan 174.101 orang meninggal), gempa bumi (15.250 orang meninggal), banjir dan tanah longsor (7.555 orang meninggal) dan bencana lain (28.603 jiwa). Datadata terakhir yang berhasil direkam juga menunjukkan bahwa rata-rata setiap tahun terjadi sepuluh kegiatan gempa bumi yang mengakibatkan kerusakan yang cukup besar di Indonesia. 1


Kondisi yang kompleks dan menantang ini diperumit lagi oleh dampak perubahan iklim. Indonesia adalah negara dengan kerentanan tinggi dan beragam terhadap bahaya serta dampak perubahan iklim. Pengaruh dari perubahan iklim berupa peningkatan cuaca ekstrem akan berdampak pada peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian berbagai bencana, di antaranya banjir yang dapat menyebabkan tanah longsor, kekeringan yang dapat menimbulkan kebakaran hutan, serta kenaikan tinggi muka air laut yang dapat mengakibatkan banjir rob dan abrasi. Perubahan iklim akan terus memberikan dampak yang cukup besar bagi program kemanusiaan dan program pembangunan, dan akan terus memberikan tantangan bagi pengembangan dan penyelenggaraan sektor pendidikan. Selain kehilangan jiwa, juga banyak aset yang mengalami kerusakan akibat bencana, di antaranya gedung-gedung pelayanan publik yang pada akhirnya kerusakan ini akan mengganggu kehidupan keseharian. Di antara gedung pelayanan publik yang ada, bangunan pelayanan dasar seperti gedung sekolah dan gedung yang terkait dengan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, pustu, posyandu adalah fasilitas sosial yang di dalamnya terdapat kumpulan manusia yang perlu diprioritaskan. 2004: Gempa Bumi dan tsunami di Aceh menyebabkan 173,000 Korban Jiwa dan menghancurkan 2000 Sekolah 2006: 2900 Sekolah di Yogyakarta ambruk disebabkan oleh Gempabumi yang menyebabkan 6000 orang meninggal 2009: Gempa bumi di Jawa Barat menyebabkan 79 korban jiwa, 2,091 bagunan sekolah rusak berat, dan 35 sekolah rata dengan tanah. 2009: Gempa Bumi di Sumatera Barat menyebabkan 1,247 bangunan sekolah rusak berat, 919 rusak sedang dan 670 rudak ringan. Gempa bumi ini menyebabkan 1,100 meninggal. 2010: Gempa Bumi dan Tsunami di Mentawai menyebabkan 7 sekolah rusak berat 2013: Gempa bumi di Bener Meriah and Aceh tengah menyebabkan 327 sekolah and 30 madrasah rusak berat. 2013: Erupsi Gn. Sinabung di Sumatera utara menyebabkan 185 sekolah rusak dan beberapa diantaranya harus direlokasi. 2013: Gempa bumi di Lombok Utara menyebabkan 30 sekolah rusak berat 2014: Erupsi Gn. Kelud di Jawa Timur menyebabkan 394 sekolah rusak di Kediri 2020: Pandemi Covid-19 di seluruh dunia yang menyebabkan aktivitas peserta didik khususnya di Indonesia tidak dapat dilakukan secara offline. Kebanyakan dari kejadian bencana tersebut di luar jam sekolah sehingga tidak menimbulkan korban meninggal, kecuali di Padang, Sumatera 2


Barat pada tahun 2009 di mana banyak siswa yang terluka dan ada yang meninggal. Bangunan sekolah yang tidak tahan bencana sangat rentan dari segi keamanan, bukan saja mengancam jiwa anak-anak, tapi kerusakan atau kehancuran prasarana fisik ini merupakan kehilangan aset ekonomi bagi negara; biaya untuk membangun ulang atau memperbaiki akan memerlukan biaya yang besar sehingga dapat mengganggu keuangan negara dan perekonomian secara umum. Upaya Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam empat tahun terakhir mencakup pendataan secara menyeluruh kondisi sekolah di Indonesia dalam kategori rusak berat, rusak sedang, rusak ringan dan rusak total. Upaya tersebut ditindaklanjuti dengan perbaikan kontsruksi sebagian besar dari sekolah yang terdata. Di saat yang bersamaan sekolah baru akan terus dibangun. Bangunan sekolah yang sebelumnya rusak ringan dalam beberapa tahun dapat menjadi rusak berat. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik bangunan sekolah akan terus berubah. Sangat disayangkan bila dalam pembangunan sekolah unsur-unsur yang menunjang penerapan sekolah aman secara struktural kurang diperhatikan. Dalam hal ini, rehabilitasi, perbaikan dan pembangunan gedung sekolah baru perlu menerapkan prinsip-prinsip sekolah aman. Teknologi “retrofitting” atau ‘perkuatan’ juga dapat diterapkan sehingga bangunan sekolah yang rusak berat tidak selalu harus dihancurkan sebelum diperbaiki tapi dapat langsung diperkuat sehingga dapat meminimalkan biaya. Lebih lanjut, perkuatan gedung sekolah yang disertai dengan peningkatan aksesibilitas fisik bagi warga sekolah yang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas juga mampu berkontribusi pada upaya peningkatan kemampuan evakuasi mandiri semua warga sekolah. Selain itu, pendekatan konstruksi dan perkuatan (retrofit) sekolah yang lebih aman dengan melibatkan masyarakat luas dalam memadukan pengetahuan baru dan keterampilan pencegahan bencana dapat berdampak lebih luas bagi sekolah itu sendiri. Pendekatan sekolah aman dapat menjadi model konstruksi dan peningkatan tingkat keamanan untuk pembangunan rumah penduduk, pusat kesehatan masyarakat, dan bangunan umum lainnya. Sekolah-sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat belajar bagi seluruh masyarakat. Anakanak merupakan peserta didik yang paling cepat menerima suatu pengetahuan. Mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan baru ke dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi keluarga dan masyarakat di lingkungannnya dalam hal perilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan di sekolah. Upaya untuk melindungi warga negaranya terhadap bencana, Pemerintah Indonesia telah memberlakukan Undang-Undang No. 24 3


Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-Undang tersebut secara jelas menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana. Melalui pendidikan diharapkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat diperkenalkan secara lebih dini kepada seluruh peserta didik, guru dan tenaga kependidikan, dengan mengintegrasikan pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah maupun ke dalam kegiatan ekstrakurikular. Selain itu, juga menerapkan prinsip-prinsip sekolah aman dalam program pembangunan sekolah baru atau rehabilitasi bangunan sekolah secara berkesinambungan dan mengikuti perkembangan kemajuan teknologi pembangunan gedung dan disesuaikan dengan kondisi setempat. Menjawab tantangan tersebut, tahun 2019 Kemendikbud telah mengeluarkan peraturan menteri nomor 33 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Tentunya peraturan tersebut dapat menjadi kekuatan baru bagi satuan pendidikan yang berada di wilayah rawan bencana untuk segera melakukan kegiatan penerapan Program SPAB. Tantangan selanjutnya adalah satuan pendidikan dihadapkan dengan pentingnya edukasi tentang adaptasi perubahan iklim. Tentunya hal ini menjadi hal penting untuk dipahami bersama, supaya mulai sejak dini peserta didik mampu melakukan upaya dalam menghadapi dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya. Hal tersebut diperkuat dengan Undang-Undang nomor 16 tahun 2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim, dimana Indonesia telah berkomitmen dalam mendukung adaptasi perubahan iklim. B. Tujuan 1. Membangun budaya siaga, budaya aman dan budaya pengurangan risiko bencana di sekolah, serta membangun ketahanan warga sekolah dalam menghadapi bencana secara terencana, terpadu dan terkoordinasi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dalam rangka memberikan perlindungan kepada peserta didik, guru, tenaga kependidikan dan masyarakat di sekitar sekolah dari ancaman dan dampak bencana; 2. Menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan kebencanaan ke masyarakat luas melalui jalur pendidikan sekolah; 3. Memberikan rekomendasi kepada pihak terkait tentang kondisi struktur bangunan dan aksesibilitas lingkungan satuan pendidikan sebagai upaya pengurangan risiko bencana yang menjangkau semua warga satuan pendidikan (inklusif); 4


4. Mengembangkan Program SPAB bagi anak berkebutuhan khusus serta berbagai satuan Pendidikan yang lain C. Dasar Hukum 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional; 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana; 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah; 4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas; 5. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim; 6. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif; 7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota; 8. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun 2013 tentang Pendidikan Layanan Khusus; 9. Permendikbud nomor 33 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana 10. Peraturan menteri negara Pemberdayaan Perempuan Nomor 8 tahun 2014 tentang Sekolah Ramah Anak 11. Peraturan Kepala BNPB Nomor 13 Tahun 2013 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Penanggulangan Bencana; 12. Surat Edaran Mendikbud nomor 70a tahun 2010 tentang pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di sekolah D. Rujukan Teknis Pelaksanaan Program SPAB 1. Modul tiga pilar Program SPAB 2. Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah dan Bantuan Sosial PRB di Direktorat PMPK 3. Lembar Informasi Program SPAB yang komprehensif; 4. Pedoman Teknis penerapan Program SPAB di satuan pendidikan melalui pengurangan risiko bencana di Direktorat PMPK; 5. Roadmap Program SPAB Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Periode Tahun 2020-2024. 5


E. Lokasi Satuan Pendidikan Lokasi satuan pendidikan berada pada kawasan yang memiliki risiko sedang hingga tinggi kejadian bencana. F. Kriteria Satuan Pendidikan 1. Satuan Pendidikan Umum dan Keagamaan, 2. Satuan Pendidikan Inklusi dan 3. Satuan Pendidikan Luar Biasa G. Tahapan Penyelenggaraan 1. Persiapan 2. Pelatihan dan pembekalan Fasilitator (pendidik satuan pendidikan formal dan non formal, LPMP, Lembaga Swadaya masyarakat, Fasilitator BPBD/lembaga terkait) 3. Pelaksanaan Program SPAB Inklusif di daerah 4. Monitoring dan Evaluasi H. Fasilitator Pelaksanaan implementasi Program SPAB di daerah dibantu oleh fasilitator yang terdiri dari pendidik yang sudah dilatih, LPMP, BPBD, Lembaga Swadaya Masyarakat dan profesional yang memiliki kompetensi di bidang Program SPAB dan fasilitator Program SPAB Nasional yang dibentuk BNPB. Fasilitator adalah Tim yang akan bertugas untuk bekerjasama dengan warga sekolah dalam memfasilitasi perwujudan Program SPAB sesuai sasaran yang ditentukan serta membangun komitmen dan kesepakatan untuk keberlanjutan penerapan Program SPAB. I. Ruang Lingkup Pelaksanaan di daerah No. Aktivitas Waktu Jumlah* Sasaran 1 Workshop Persiapan Penerapan SPAB Stakeholders Pendidikan dan Kebencanaan 1 hari 40 orang Stakeholders Pendidikan dan Kebencanaan 2 Penilaian Mandiri Awal oleh Sekolah (Baseline) 2 hari 20 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan 6


No. Aktivitas Waktu Jumlah* Sasaran Pendidikan, Siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus 3 Pelatihan PRB dan SPAB untuk Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan dan Pemerintah Desa 3 hari 40 orang Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan dan Pemerintah Desa 4 Pelatihan PRB dan SPAB untuk Anak/Siswa 4 hari 30 siswa Seluruh siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus 5 Workshop Kajian Risiko Bencana Partisipatif dan inklusif dengan mempertimbangan kapasitas warga satuan pendidikan berkebutuhan khusus 2 hari 10 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan, peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus 6 Workshop Penyusunan Rencana Aksi dan Pembentukan Tim Siaga Bencana di satuan pendidikan 2 hari 10 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan dan perwakilan peserta didik. 7 Workshop Pembuatan Prosedur Tetap Tanggap Darurat Bencana Satuan Pendidikan, Peta Jalur Evakuasi, Rambu Evakuasi, Titik Kumpul Dan Pembuatan Media Publikasi Satuan Pendidikan 4 hari 15 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan dan perwakilan siswa 8 Simulasi Kesiapsiagaan di lingkungan Satuan Pendidikan 2 hari 40 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan dan seluruh 7


No. Aktivitas Waktu Jumlah* Sasaran peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus 9 Penilaian Mandiri Akhir (Endline) 2 hari 20 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan, Warga sekitar Satuan Pendidikan, perwakilan peserta didik 10 Workshop Hasil Evaluasi Pelaksanaan dan Rencana Tindak Lanjut 1 hari 30 orang Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Satuan Pendidikan, BPBD, Dinas Pendidikan/Kandepag, Legislatif, perwakilan peserta didik *Catatan: Jumlah orang yang terlibat kegiatan disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing satuan pendidikan dan jenis ketunaan peserta didik serta menyesuaikan dengan kondisi dan situasi tertentu, seperti pandemi wabah penyakit. J. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Pelaksanaan Program SPAB sesuai dengan tujuannya bersifat multisektor dan membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Prinsip-prinsip pokok Program SPAB mendasari kerjasama lintas sektor guna mengupayakan sinergisitas dalam mewujudkan Program SPAB. Prinsipprinsip pokok tersebut adalah: 1. Berbasis Pengurangan Risiko Bencana Program SPAB ditujukan untuk mengurangi risiko bencana dan memastikan kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran. Dalam hal ini, selain berkontribusi pada pengurangan risiko bencana geologis, misalnya gempa dan tsunami, pelaksanaan kegiatan SPAB juga ditujukan untuk mengurangi risiko bencana yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan dan perubahan iklim misalnya banjir dan longsor, yang frekuensi kejadiannya semakin meningkat. 8


2. Inklusif Penyelenggaran Program SPAB secara aktif melibatkan semua warga satuan pendidikan termasuk penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus guna memastikan tidak ada pihak yang tertinggal dalam situasi bencana. Dalam hal ini, penyelenggara Program SPAB harus memperhatikan perluasan aksesibilitas fisik dan non-fisik untuk memastikan partisipasi aktif warga sekolah penyandang disabilitas. 3. Ramah Anak Pelaksanaan Program SPAB diselenggarakan atas dasar pemenuhan tumbuh kembang dan perlindungan anak serta memperhatikan kemampuan dan partisipasi aktif anak demi kepentingan terbaik anak. 9


BAB 2. PELAKSANAAN Bab ini membahas tentang 11 (sebelas) hal penting dalam pelaksanaan Program SPAB yang komprehensif, antara lain: Workshop persiapan penerapan Program SPAB, penilaian mandiri (baseline) satuan Pendidikan, pelatihan PRB dan SPAB berbasis inklusi, pelatihan PRB dan Program SPAB, untuk Siswa/i di masa pandemik, workshop kajian risiko bencana partisipatif, workshop penyusunan rencana aksi dan pembentukan tim siaga bencana di satuan Pendidikan, workshop penyusunan prosedur tetap kedaruratan bencana dan pembuatan media publikasi satuan pendidikan, pembelajaran PRB peserta didik, simulasi kesiapsiagaan di lingkungan satuan Pendidikan, penilaian mandiri akhir (endline), dan workshop evaluasi pelaksanaan dan rencana tindak lanjut. Dari 11 hal penting tersebut diharapkan dalam pelaksanaanya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu, maksudnya adalah selain dilakukan secara luring (tatap muka) penerapan Program SPAB dapat juga dilakukan dengan virtual meeting (daring). Untuk memahami lebih lanjut materi-materi tersebut maka simaklah dengan baik masingmasing penjelasannya. A. Workshop persiapan penerapan Program SPAB oleh pemangku kepentingan bidang pendidikan dan kebencanaan di daerah 1. TUJUAN a. Menyampaikan pengetahuan tentang kerangka kerja Program Satuan Pendidikan Aman Bencana, termasuk konteks dan dampak perubahan iklim terhadap bencana; b. Menyebarkanluaskan informasi tentang penerapan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dari BNPB dan Kemendikbudristek; c. Mendapatkan komitmen dan dukungan dari pemerintah daerah dan komisi legislatif dalam rangka keberlanjutan program bersumber APBD maupun pihak swasta setempat. 2. CAPAIAN a. Peserta memiliki pengetahuan dan informasi tentang kerangka kerja Program SPAB, modul 3 pilar Program SPAB yang komprehensif, serta penerapan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana; b. Tersebarnya informasi tentang penerapan Program SPAB dari BNPB dan Kemendikbudristek; proses penyamaan persepsi tentang peran dan tugas dari kepala daerah, SKPD kunci, dan badan legislatif daerah dalam mengarusutamakan 10


PRB di sektor pendidikan dengan tujuan untuk membangun budaya satuan pendidikan yang aman dari bencana; c. Terealisasinya komitmen dan dukungan dari pemerintah daerah dan komisi legislatif dalam rangka keberlanjutan program yang bersumber dari APBD maupun pihak swasta setempat. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen notulensi kegiatan; b. Dokumen Laporan Kegiatan dan Rencana Tindak Lanjut Implementasi SPAB; c. Dokumentasi Kegiatan lainnya: (foto dan video kegiatan) d. Dokumen daftar peserta workshop persiapan 4. NARASUMBER Legislatif, dinas pendidikan/kanwil agama, BPBD, dan fasilitator. 5. PESERTA Peserta 40* orang meliputi: a. Bappeda, 2 orang b. Dinas pendidikan setempat, 2 orang c. UPTD pendidikan, 2 orang d. Kepala satuan pendidikan, 1 orang e. Pendidik satuan pendidikan, 3 orang f. Pendidik satuan pendidikan lain, 3 orang g. Kanwil Kemenag, 2 orang h. Dinas PU Cipta Karya, 2 orang i. Dinas sosial, 1 orang j. Dinas kesehatan, 1 orang k. Dinas lingkungan hidup, 1 orang l. BMKG, 2 orang m. Kantor SAR, 1 orang n. PMI, 2 orang o. PRAMUKA, 1 orang p. TNI, 1 orang q. POLRI, 1 orang r. Unsur perwakilan kecamatan, 1 orang s. Tokoh agama, 1 orang t. Tokoh adat, 1 orang u. Unsur Pemerintahan Desa, 2 orang v. Perwakilan dunia usaha, 2 orang w. Media, 5 orang 11


Catatan: *) Komposisi jumlah peserta dan nama institusi/lembaga dapat diubah/dimodifikasi/ disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di daerah 6. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (1 hari) Waktu : __________________ 7. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan workshop adalah pemaparan materi dan diskusi panel 8. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah memperbanyak bahan materi dan TOR kegiatan untuk peserta b. Alat yang diperlukan antara lain: LCD, Laptop/PC, printer, kamera, pointer, metaplan, spidol, flipchart, sound system, dll c. Pembagian peran dalam pemberian materi diantara narasumber dan fasilitator 9. PERSIAPAN a. Audiensi ke kepala daerah, beserta SKPD dan DPRD oleh BPBD dan Fasilitator (dilaksanakan sebelum workshop persiapan); b. Pemetaan stakeholder terkait; c. Pemetaan peserta dan narasumber workshop; d. Penilaian mandiri oleh fasilitator; e. Membuat kerangka acuan kegiatan (TOR); f. Menghubungi dan merekap data peserta dan narasumber; g. Menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan; h. Menyiapkan surat undangan dan urusan administrasi lainnya; i. Pelaksanaan sosialisasi. 10.MASUKAN/REFERENSI a. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana; b. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tetang Pemerintah Daerah; c. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan BangsaBangsa mengenai Perubahan Iklim; d. Peraturan Kepala BNPB No. 4 Tahun 2012 tentang penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana; e. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 23 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan 12


Nasional No.15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota; f. Standar Layanan Pendidikan Minimal di Daerah; g. Lembar Informasi Satuan Pendidikan Aman Bencana yang komprehensif; h. Modul 3 pilar Program SPAB. i. Modul Pengelolaan Banjir Terpadu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat j. Pedoman Teknis Bangunan Tahan Gempa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat 11.AGENDA WAKTU MATERI/KEGIATAN INDIKATOR CAPAIAN Sesi-1 Sambutan dan Pembukaan Acara oleh Kepala Daerah/yang mewakili) Terlaksananya Pembukaan Sesi-2 Diskusi Panel dan Tanya Jawab 1.Dukungan DPRD terhadap implementasi Program SPAB oleh DPRD 2.Kebijakan Dinas Pendidikan/Kanwil Agama dalam implementasi Program SPAB oleh Dinas Pendidikan dan Kandepag 3.Profil Risiko Bencana Daerah dan Kebijakan tindak lanjut implementasi Program SPAB oleh BPBD Moderator : Fasilitator Mengetahui dukungan DPRD Mengetahui Kebijakan Disdik/Kandepag dalam Program SPAB Mengetahui Profil Risiko Bencana Daerah dan Kebijakan tindak lanjut Program SPAB Sesi-3 Diskusi Panel dan Tanya Jawab 4. Kerangka Kerja dan Pembelajaran Program SPAB yang komprehensif oleh fasilitator 5. Tahapan Pelaksanaan Program SPAB oleh fasilitator Moderator: Fasilitator/BPBD Mengetahui kerangka kerja Program SPAB Mengetahui tahapan pelaksanaan Program SPAB Sesi-4 Penutup BPBD Catatan : materi dapat dimodifikasi/ dirubah/ ditambah sesuai kebutuhan di daerah tanpa mengurangi output/capaian kegiatan 13


B. Penilaian Mandiri Awal oleh Satuan Pendidikan (Baseline) 1. TUJUAN a. Mengidentifikasi bahaya, kerentanan, dan kapasitas respon terhadap bencana serta potensi dampak perubahan iklim di dalam lingkungan dan sekitar satuan pendidikan dan madrasah; b. Mengidentifikasi kondisi struktur dan non struktur satuan pendidikan dan madrasah aman bencana; c. Mengidentifikasi kebutuhan warga satuan pendidikan, termasuk kebutuhan khusus warga satuan pendidikan penyandang disabilitas. 2. CAPAIAN a. Data bahaya, kerentanan, dan kapasitas didalam lingkungan sekitar satuan pendidikan dan madrasah; b. Data kondisi struktur dan non struktur satuan pendidikan aman bencana; c. Data kebutuhan seluruh warga satuan pendidikan; d. Data warga satuan pendidikan yang berkebutuhan khusus; e. Dokumen hasil analisa penilaian mandiri oleh satuan pendidikan f. Rencana penyelenggaraan Program SPAB yang sesuai dengan hasil penilaian mandiri oleh satuan pendidikan 3. ALAT VERIFIKASI a. Kumpulan alat pengumpulan data penilaian mandiri b. Kumpulan data penilaian mandiri c. Hasil penilaian kondisi satuan pendidikan sebelum implementasi kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana; d. Dokumen notulensi; e. Dokumentasi kegiatan. 4. PESERTA Jumlah peserta yang terlibat dalam proses ini 10 siswa termasuk siswa inklusi dan 10 orang (kepala satuan pendidikan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan komite satuan pendidikan). 5. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (2 hari) Waktu : __________________ 6. ALAT, SARANA PENUNJANG DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; 14


b. Alat yang diperlukan antara lain: LCD, Laptop/PC, printer, kamera, metaplan, spidol, flipchart, sound system, dll; c. Tempat dan fasilitas workshop yang mudah diakses oleh semua peserta termasuk peserta dengan disabilitas. 7. PERSIAPAN a. Membuat kerangka acuan kegiatan; b. Identifikasi calon peserta dan narasumber; c. Menghubungi peserta dan narasumber; d. Mempersiapkan tempat; e. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; f. Menyepakati pembagian tugas. 8. AGENDA WAKTU MATERI/KEGIATAN INDIKATOR CAPAIAN Sesi-1 Pengenalan tentang Tools Penilaian (Perka BNPB 4/2012 dan kajian kebutuhan inklusi) oleh Fasilitator (Gunakan Pertanyaan kelompok Washington lihat lampiran) Mengenal tools penilaian mandiri Mampu melakukan penilaian mandiri Sesi-2 Pelaksanaan penilaian oleh peserta Terlaksananya penilaian Terdapat hasil penilaian mandiri yang dapat dijadikan acuan penyelenggaraan Program SPAB yang komprehensif dan inklusif Sesi-3 Kompilasi hasil oleh fasilitator Hasil Penilaian awal (baseline) Formulir baseline dapat dilihat di lampiran 6. C. Pelatihan PRB dan Program SPAB berbasis inklusi Tenaga Pendidik, Tenaga Kependidikan, Komite Sekolah dan Pemerintah Desa 1. TUJUAN a. Menyampaikan pengetahuan konsep bencana dan pengurangan risiko bencana yang inklusif, termasuk pengetahuan mengenai 15


konsep perubahan iklim, pengaruhnya terhadap bencana dan risikonya terhadap sekolah; b. Melatih para tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan komite sekolah untuk pendampingan implementasi Program SPAB yang Inklusif di sekolah; c. Melatih para tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah untuk dapat mempraktikkan prosedur praktis PRB, yang melibatkan seluruh warga sekolah termasuk warga sekolah penyandang disabilitas; d. Mendapatkan dukungan dan keterlibatan dari pemerintah desa/kelurahan, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 2. CAPAIAN a. Tersampaikannya pengetahuan konsep dan pengurangan risiko bencana inklusif, termasuk pengetahuan mengenai dampak perubahan iklim; b. Terlaksanakannya pelatihan pada tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan komite sekolah untuk pendampingan implementasi Program SPAB Inklusif di sekolah; c. Tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah mempraktikkan prinsip dan prosedur praktis PRB dalam penyelenggaraan Program SPAB inklusif. d. Adanya dukungan dan keterlibatan dari pemerintah desa, komite sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen Notulen Kegiatan; b. Input Kegiatan Workshop Kajian Penilaian Risiko Bencana; c. Dokumen Rencana Tindak Lanjut; d. Dokumentasi Kegiatan lainnya. 4. NARSUMBER DAN PESERTA a. NARASUMBER Dinas Pendidikan, BPBD, dan Fasilitator (LSM/Organisasi Penyandang Disabilitas/Pramuka). b. PESERTA Jumlah peserta yang akan terlibat pada kegiatan tersebut sebanyak 40 orang, dengan rincian sebagai berikut: 16


No Instansi Jumlah Keterangan 1 Sekolah 10 orang Kepala Sekolah, Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2 Komite sekolah 5 orang Pengurus 3 Pemerintahan Desa 15 orang Kepala desa, LPMD, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Organisasi Pemuda, Organisasi PRB Desa, PKK, Tenaga kesehatan desa, Babinsa, Kepala Dusun, 4 Masyarakat, perwakilan sekolah lain dan orang tua di lingkungan sekolah termasuk perwakilan perempuan dan penyandang disabilitas 10 orang Jumlah 40 orang 5. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (3 hari) Waktu : __________________ 6. ALAT, SARANA PENUNJANG DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; materi presentasi, media KIE (poster/buku panduan/pamflet, dll) b. Alat yang diperlukan antara lain: LCD, Laptop/PC, printer, kamera, metaplan, spidol, flipchart, sound system, dll; c. Tempat dan fasilitas workshop yang mudah diakses oleh semua peserta termasuk peserta dengan disabilitas; 7. PERSIAPAN a. Membuat kerangka acuan kegiatan; b. Identifikasi calon peserta dan narasumber; c. Menghubungi peserta dan narasumber; d. Mempersiapkan tempat; e. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; f. Menyepakati pembagian tugas. 8. AGENDA a.Agenda Pelatihan Hari 1 17


Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Sambutan dan Pembukaan (BPBD) Pengarusutamaan PRB di Sektor Pendidikan, serta peran sektor dalam mengarusutamakan PRB di sektor pendidikan dan sektor lain yang terkait dengan tujuan untuk membangun Program SPAB (Fasilitator) Terlaksananya pembukaan Mengetahui peran sektor dalam mengarusutamakan PRB di sektor pendidikan dan sektor lain Sesi-2 Konsep program SPAB Inklusif Narasumber : Fasilitator Mengetahui Kebijakan Penerapan Program SPAB yang komprehensif dan inklusif Mengetahui Kerangka Kerja/alur implementasi Program SPAB yang Komprehensif dan inklusif Sesi-3 Pengurangan Risiko Bencana Dasar Narasumber : Fasilitator Mengetahui konsep bencana Mengetahui konsep perubahan iklim dan hubungannya dengan bencana serta risiko perubahan iklim terhadap sekolah khususnya di daerah lokasi sekolah Mengetahui hubungan bencana dengan kelompok berisiko tinggi (anak-anak, disabilitas) Mengetahui langkah-langkah konkrit PRB mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi rekonstruksi Sesi-4 Pesan dan Prosedur Keselamatan Multi – Ancaman Narasumber : Fasilitator Mengetahui pesan keselamatan sebelum, saat dan sesudah bencana (gempa, banjir, erupsi gunung api, tanah longsor, 18


Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian tsunami, angin puting beliung, kebakaran hutan, dll) Mempraktikkan tindakan penyelamatan dari bencana (gempa, banjir, erupsi gunung api, tanah longsor, tsunami, angin puting beliung, kebakaran hutan, dll) b. Agenda Pelatihan Hari 2 Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Sesi 1 Kajian Risiko Bencana Partisipatif dan inklusif Narasumber : Fasilitator Mengetahui dan dapat mengidentifikasi aspek bahaya dan kapasitas di sekolah Hasil pelatihan dapat dipergunakan sebagai input kegiatan workshop penyusunan kajian risiko bencana partisipatif dan inklusif Sesi 2 Kajian Risiko Bencana Partisipatif: Identifikasi warga sekolah menggunakan Washington Group Questions (WGQ) Narasumber : Fasilitator Mengetahui WGQ sebagai alat praktis pendataan Mempraktikkan penggunaan WGQ untuk identifikasi warga sekolah yang memiliki hambatan/kebutuhan khusus Hasil pelatihan dapat dipergunakan sebagai input kegiatan workshop penyusunan kajian risiko bencana partisipatif dan inklusif Sesi-3 Kajian Risiko Bencana Partisipatif: Pemrioritasan Risiko Bencana Hasil pelatihan dapat dipergunakan sebagai input kegiatan workshop penyusunan kajian risiko bencana partisipatif 19


Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Narasumber : Fasilitator Sesi 4 Integrasi Pilar-pilar SPAB dalam penyelenggaraan Program SPAB inklusif Analisis Kontribusi Pemerintah desa dan komite sekolah dalam mendukung penerapan & keberlanjutan Program SPAB inklusif Narasumber : Fasilitator Mengetahui aspek-aspek Pilar 1, 2, 3 dan bagaimana mengupayakan dalam penyelenggaraan Program SPAB inklusif Mengetahui kontribusi Pemerintah desa dan komite sekolah dalam mendukung penerapan dan keberlanjutan Program SPAB inklusif Mengetahui potensi kerjasama sekolah dan desa dalam pelaksanaan Program SPAB inklusif dan berkelanjutan c. Agenda Pelatihan Hari 3 (opsional) Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Teknik Fasilitasi dasar Teknik fasilitasi inklusif (mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan khusus setiap peserta dalam menerima, meneruskan dan mempraktikkan informasi) Narasumber : Fasilitator Meningkatkan kemampuan fasilitasi Meningkatkan kemampuan untuk mengakomodasi ragam kebutuhan dan kemampuan peserta workshop/pelatihan Meningkatkan kemampuan dalam memastikan partisipasi dan kontribusi aktif semua pihak dalam proses fasilitasi. Sesi-2 Integrasi PRB ke mata pelajaran Narasumber : (Tim Pengembang Kurikulum Mengetahui cara integrasi PRB ke mata pelajaran 20


atau Guru) Dinas Pendidikan Sesi-3 Rencana Tindak Lanjut Narasumber : Fasilitator Tersusunnya rencana tindak lanjut D. Pelatihan PRB dan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana untuk Peserta Didik di masa pandemi 1. TUJUAN a. Menyampaikan pengetahuan tentang konsep Program Satuan Pendidikan Aman Bencana; b. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengenali ancaman, kapasitas, kerentanan di satuan pendidikan dan sekitarnya; c. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang bencana dan perubahan iklim; d. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa terkait praktik kesiapsiagaan termasuk prosedur evakuasi yang aman dalam situasi bencana; e. Meningkatkan pengetahuan siswa tentang sebab, dampak, tanda dan tindakan yang harus dilakukan jika terjadi bencana, termasuk pengetahuan mengenai pencegahan Covid-19 ; f. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik tentang Pertolongan Pertama (PP); g. Mendorong partisipasi aktif anak dalam penyelenggaraan kegiatan Program SPAB. 2. METODE FASILITASI a. SDLB/SD/MI/Paket A 1) Fasilitasi diarahkan lebih banyak ke bentuk permainan sambil belajar; 2) Menggunakan istilah-istilah pembelajaran yang sederhana dan mudah dimengerti semua siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus; 3) Menggunakan media pembelajaran edukatif dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan khusus siswa dalam memahami dan mempraktikkan informasi yang diterima (praktik, film, lagu, puisi, drama, maket, ilustrasi gambar, gambar lembar balik, dan panggung boneka). 4) Praktik di kelas dan di luar kelas dengan memperhatikan aksesibilitas bagi peserta didik penyandang disabilitas. b. SMPLB/SMP/MTS/Paket B dan SMALB, SMA/MA/Paket C 1) Metode pembelajaran melalui diskusi kelompok kecil; 2) Metode pembelajaran melalui studi kasus; 21


3) Metode pembelajaran melalui ceramah dan diskusi; 4) Bermain peran; 5) Menggunakan media pembelajaran edukatif dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa dalam memahami dan mempraktikkan informasi yang diterima (praktik, film, lagu, puisi, drama, maket, ilustrasi gambar, lembar balik, dan panggung boneka); 6) Praktik di kelas dan di luar kelas dengan memperhatikan aksesibilitas bagi peserta didik penyandang disabilitas. 3. CAPAIAN a. Tersampaikannya pengetahuan tentang konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana; b. Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan peserta dalam mengenali ancaman, kapasitas, dan kerentanan; c. Meningkatnya pengetahuan siswa mengenai bencana dan perubahan iklim; d. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan siswa terkait kesiapsiagaan termasuk praktik prosedur evakuasi di satuan pendidikan; e. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan siswa tentang sebab, dampak, tanda-tanda dan tindakan yang harus dilakukan jika terjadi bencana termasuk pengetahuan mengenai pencegahan penyebaran Covid-19; f. Tersusun denah satuan pendidikan dengan informasi tentang ancaman, kapasitas, kerentanan dan jalur evakuasi. g. Adanya partisipasi aktif siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dalam penyelenggaran kegiatan SPAB. 4. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen Notulen Kegiatan; b. Denah satuan pendidikan dengan informasi tentang ancaman, kapasitas, kerentanan dan jalur evakuasi (Input Kegiatan Workshop Kajian Penilaian Risiko Bencana); c. Dokumen Rencana Tindak Lanjut; d. Dokumen keterlibatan siswa termasuk peserta didik penyandang disabilitas dalam pelatihan; e. Dokumen praktik simulasi evakuasi oleh siswa; f. Dokumentasi Kegiatan lainnya; 5. PESERTA a. Untuk satuan pendidikan reguler dan Inklusi - Jenjang SD/MI/Paket A : Jumlah peserta sebanyak 15 termasuk perwakilan peserta didik penyandang disabilitas yang berasal dari kelas 3-4-5-6. 22


- Untuk jenjang SMP/MTs/Paket B dan SMA/MA/Paket C: Jumlah peserta sebanyak 15 siswa termasuk perwakilan peserta didik penyandang disabilitas. b. Untuk Satuan Pendidikan Khusus - Jenjang SDLB/Paket A dan SMPLB/Paket B : Jumlah peserta sebanyak 5 orang. - Untuk jenjang SMALB/Paket C: Jumlah peserta sebanyak 8 orang. Catatan : Jumlah laki-laki dan perempuan yang mengikuti kegiatan harus seimbang; Keterlibatan siswa berkebutuhan khusus untuk memastikan kemampuan dan kebutuhan semua siswa terakomodir dalam kegiatan SPAB. Untuk SMPLB/SMP/MTS dan SMA/MA/SMALB untuk mempertimbangkan anak yang aktif di organisasi sekolah (OSIS, MPK, Pramuka, PMR, KIR dll). 6. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (4 hari) Waktu : _________________ 7. PERSIAPAN a. Koordinasi dengan pihak satuan pendidikan terkait jadwal pelaksanaan kegiatan; b. Persiapan tempat; c. Persiapan materi; d. Formulir ijin dari orangtua (jika kegiatan dilakukan di luar lingkungan sekolah, dan/atau dilaksanakan di luar jam sekolah). 8. ALAT, SARANA PENUNJANG DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; b. Alat yang diperlukan antara lain: Film tentang Simulasi Bencana di Sekolah, LCD, Laptop/PC, printer, kamera, metaplan, spidol, flipchart dll. c. Tempat dan fasilitas workshop yang mudah diakses oleh semua peserta termasuk peserta disabilitas; d. Perlengkapan protokol kesehatan: termogun, handsanitizer, masker cadangan, tempat cuci tangan termasuk sabun cuci tangan dan tissu. 9. Referensi atau produk/hasil kegiatan lain apa saja yang diperlukan antara lain: 23


a. Lembar Informasi Program Satuan Pendidikan Aman Bencana yang komprehensif b. Kerangka acuan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana; c. Psikologi Perkembangan Anak d. Roadmap Program Satuan Pendidikan Aman Bencana Kemendikbudristek Periode Tahun 2020-2024; e. Media komunikasi, informasi dan edukasi kebencanaan yang inklusif yang dikembangkan Kemendikbudristek, Seknas SPAB, anggota Konsorsium Pendidikan Bencana dan lembaga lain yang kompeten. 10.AGENDA Sesi Materi/Kegiatan Keterangan Metode Alat dan bahan Hari-1 Sesi-1 - Persiapan - Pengisian consent form - Pengisian absen - Daftar hadir - Consent form perorangan Daftar hadir, consent form Sesi 2 Sambutan dan Pembukaan Penjelasan maksud dan tujuan kegiatan Sesi 3 - Perkenalan - Kesepakatan kelompok - Peserta saling mengenal - Kesepakatan kelompok Permainan/ Curah gagasan Spidol, metaplan, plano, permainan sesuai kebutuhan Coffee break Sesi 4 Pengenalan kebencanaan dan perubahan iklim - Anak mengetahui istilah-istilah bencana dan pentingnya upaya PRB di satuan pendidikan - Anak mengetahui tentang perubahan iklim (sebab, Permainan, penjelasan Spidol, metaplan, plano 24


Sesi Materi/Kegiatan Keterangan Metode Alat dan bahan dampak, termasuk di daerah satuan pendidikan, dan upaya adaptasi dan pencegahannya) Ishoma Sesi 5 Pengenalan kerangka kerja Program SPAB - Anak mengetahui 3 pilar Satuan Pendidikan Aman Bencana dan komponennya - Anak mengetahui upaya upaya mewujudkan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana Penjelasan, bernyanyi, permainan Spidol, metaplan, plano Hari-2 Sesi 1 Review hari I permainan Sesi 2 Mengenal pencegahan penyebaran Covid19 dan praktek CTPS Anak mengetahui upaya penerapan sekolah aman Pemaparan, menonton video Spidol, metaplan, plano Coffe break Sesi 3 Membuat denah sekolah Denah sekolah Praktek kelompok, observasi lingkungan sekitar sekolah Spidol, metaplan, plano Sesi 4 Pemetaan ancaman Peta ancaman Praktek kelompok, observasi lingkungan Spidol, metaplan, plano 25


Sesi Materi/Kegiatan Keterangan Metode Alat dan bahan sekitar sekolah Ishoma Sesi 5 Lanjutan pemetaan ancaman Peta ancaman Praktek kelompok, observasi lingkungan sekitar sekolah Spidol, metaplan, plano Hari-3 Sesi 1 Review hari II Sesi 2 Pemetaan kapasitas dan kerentanan bencana Peta kapasitas, peta evakuasi dan peta kerentanan Praktek kelompok, observasi lingkungan sekitar sekolah Spidol, metaplan, plano Coffe break Sesi 3 Pemetaan aktor Peta aktor Praktik kelompok, Spidol, metaplan, plano Sesi-4 Kesiapsiagaan bencana (mis: banjir, gempa, dll tergantung ancaman di satuan pendidikan) Anak mengetahui sebab, tanda tanda, dampak bencana dan tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi bencana sesuai dengan kemampuan mereka. Praktik simulasi, menonton video, bernyanyi, penjelasan Spidol, metaplan, plano, LCD, Laptop, video Ishoma Sesi 5 Lanjutan kesiapsiagaan Anak mengetahui sebab, tanda tanda, dampak bencana dan tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi bencana sesuai Praktik simulasi, menonton video, bernyanyi, penjelasan Spidol, metaplan, plano, LCD, Laptop, video 26


Sesi Materi/Kegiatan Keterangan Metode Alat dan bahan dengan kemampuan mereka. Hari-4 Sesi 1 Pertolongan Pertama (PP) oleh PMI atau SAR Penjelasan, praktik, bermain peran Sesi 2 Refleksi dan RTL RTL Curah gagasan Spidol, metaplan, plano. Catatan: 1. Untuk satuan pendidikan khusus, rundown acara dan materi bisa disesuaikan 2. Kegiatan anak bisa lebih banyak bermain, bernyanyi dan juga menggambar. Gambar anak diusahakan bisa menjadi bahan untuk media pembelajaran seperti poster dan lainnya. 3. Konten informasi dan penyampaian informasi dalam kegiatan anak hendaknya disesuaikan dengan kemampuan anak dalam memahami dan mempraktikkan informasi yang diterima. Prosedur pelaksanaan pelatihan anak/siswa dapat dilihat pada lampiran 1. E. Workshop Kajian Risiko Bencana Partisipatif 1. TUJUAN Melaksananakan analisis secara sederhana terhadap ancaman bencana, kerentanan, dan kapasitas, serta menentukan peringkat prioritas risiko bencana di sekolah dan dijadikan sebagai referensi dalam perencanaan pembangunan satuan pendidikan aman bencana. 2. CAPAIAN Terlaksananya analisis secara sederhana terhadap ancaman bencana, kerentanan, dan kapasitas, serta menentukan peringkat prioritas risiko bencana di sekolah dan dijadikan sebagai referensi dalam perencanaan pembangunan satuan pendidikan aman bencana. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen Kajian Risiko Bencana Partisipatoris Sekolah b. Peta Risiko Bencana Sekolah (Partisipatoris) c. Dokumentasi Kegiatan lainnya 27


4. METODE a. Diskusi Terfokus b. Curah Pendapat c. Penugasan Kelompok 5. PESERTA 15 orang yang terdiri dari kepala sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, perwakilan komite sekolah, pegawai sekolah lain (satpam/pengelola kantin) dan unsur terkait lainnya yang dibutuhkan dengan jumlah laki-laki yang dan perempuan seimbang atau disesuaikan dengan sumberdaya yang tersedia. 6. LOKASI DAN WAKTU Kabupaten/Kota, lingkungan sekolah, 2 hari; __________ Lokasi Kegiatan : Gedung Sekolah Hari/Tanggal : 7. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; b. Alat yang diperlukan antara lain: kertas karton, metaplan, spidol, flipchart, LCD Proyektor, Stading Benner, dll. 8. PERSIAPAN a. Membuat kerangka acuan kegiatan b. Identifikasi calon peserta dan narasumber c. Menghubungi peserta dan narasumber d. Internalisasi Bagi Narasumber e. Mempersiapkan tempat f. Mempersiapkan administrasi dan keuangan g. Menyepakati pembagian tugas 9. MASUKAN a. Dokumen Input Kegiatan Kajian Penilaian Risiko Bencana dari Kegiatan Pelatihan Guru, Komite sekolah dan pemerintah desa; b. Dokumen Input Kegiatan Kajian Penilaian Risiko Bencana dari Kegiatan Pelatihan Anak; c. Informasi Kejadian Bencana yang pernah dan sering terjadi di satuan pendidikan; d. Sejarah Kejadian Bencana tingkat Desa; e. Kajian Risiko Bencana Tingkat Komunitas Desa (kalau ada). 10.AGENDA a. Agenda Lokakarya Hari-1 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pengantar tentang Kajian Risiko Bencana Partisipatori Sekolah Peserta memahami pengertian dan terminologi risiko bencana Peserta memahami tentang matriks kajian risiko bencana Peserta memahami tentang pengetahuan perubahan iklim (sebab, dampak, upaya adaptasi dan 28


Waktu Kegiatan Indikator Capaian pencegahannya) Sesi-2 Identifikasi Ancaman Teridentifikasinya ancaman bencana dan dampak perubahan iklim di satuan pendidikan Sesi-3 Analisis Ancaman Analisis ancaman berdasarkan indikator umum ancaman bencana berupa matriks ranking ancaman Sesi-4 Analisis Kerentanan Teridentifikasinya kerentanan yang dimiliki sekolah dari aspek manusia, sosial budaya, ekonomi, infrastruktur maupun sisi alam atau lingkungan Sesi-5 Analisis Kapasitas Teridentifikasinya kapasitas satuan pendidikan Catatan : materi dapat dimodifikasi/ dirubah/ ditambah sesuai kebutuhan di daerah tanpa mengurangi output/capaian kegiatan b. Agenda Lokakarya Hari-2 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pembuatan Peta Risiko Bencana Sekolah Tersedianya peta risiko bencana di sekolah Sesi-2 Verifikasi hasil-hasil Analisis dan Peta Risiko Bencana Sekolah Terverifikasinya hasil kajian ancaman, kerentanan dan kapasitas yang telah didiskusikan dan peta risiko bencana sekolah Sesi-3 Rencana Tindak Lanjut Tersusunnya rencana kegiatan lanjutan pasca pelatihan/ workshop Catatan : materi dapat dimodifikasi/ dirubah/ ditambah sesuai kebutuhan di daerah tanpa mengurangi output/capaian kegiatan Prosedur pelaksanaan kajian risiko partisipatif dapat dilihat pada lampiran 2. F. Workshop Penyusunan Rencana Aksi dan Pembentukan Tim Siaga Bencana di Satuan Pendidikan 1. TUJUAN a. Menyusun rencana aksi berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang sebelumnya telah dilakukan dan disepakati prioritasnya; b. Membentuk Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan yang terdiri dari kepala satuan pendidikan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pegawai satuan pendidikan lain (satpam/pengelola kantin satuan pendidikan), perwakilan siswa 29


(mewakili siswa perempuan dan siswa dengan disabilitas), dan perwakilan komite satuan pendidikan serta warga sekitar satuan pendidikan. 2. CAPAIAN a. Tersusunnya rencana aksi berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang sebelumnya telah dilakukan dan disepakati prioritasnya; b. Terbentuknya Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan yang terdiri dari kepala satuan pendidikan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, pegawai satuan pendidikan lain (satpam/pengelola kantin satuan pendidikan), perwakilan siswa termasuk siswa perempuan dan siswa dengan disabilitas, dan perwakilan komite satuan pendidikan. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen Rencana Aksi Satuan pendidikan b. Struktur Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan c. Dokumen tugas dan tanggung jawab Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan d. Dokumentasi Kegiatan. 4. PESERTA 10 orang, adalah kepala satuan pendidikan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pegawai satuan pendidikan lain (satpam/pengelola kantin satuan pendidikan), siswa, dan perwakilan komite satuan pendidikan. 5. LOKASI DAN WAKTU Kabupaten/Kota, lingkungan satuan pendidikan, 2 hari: __________ Lokasi Kegiatan : Gedung Satuan pendidikan Hari/Tanggal : 6. ALAT DAN BAHAN a. Dokumen hasil Kajian Risiko Bencana yang telah digandakan; b. Daftar nama lengkap kepala satuan pendidikan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, siswa yang aktif dalam kegiatan satuan pendidikan; c. Alat yang diperlukan antara lain: laptop, printer, kertas karton, metaplan, spidol, flipchart dll; d. Tempat dan fasilitas workshop yang mudah diakses oleh semua peserta termasuk peserta dengan disabilitas. 7. PERSIAPAN a. Membuat Kerangka Acuan Kegiatan; b. Identifikasi calon peserta dan fasilitator; 30


c. Mempersiapkan tempat kegiatan; d. Mempersiapkan administrasi kegiatan. 8. MASUKAN a. Dokumen Kajian Risiko Bencana Satuan pendidikan; b. Peta Risiko Bencana Satuan pendidikan. 9. AGENDA a. Agenda Lokakarya Hari-1 (Penyusunan Rencana Aksi Satuan pendidikan) Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pengantar tentang Tujuan Kegiatan Sesi-2 Diskusi menggali kebutuhan satuan pendidikan berdasarkan kajian risiko bencana Teridentifikasi upaya/tindakan PB di Satuan pendidikan termasuk pengembangan (lanjutan) penerapan MABS Sesi-3 Diskusi penyusunan skala prioritas rencana aksi satuan pendidikan Teridentifikasi Prioritas Tindakan/Kegiatan Rencana Aksi satuan pendidikan Sesi-4 Merumuskan dan menetapkan rencana aksi satuan Pendidikan Tersusunnya dokumen rencana aksi satuan pendidikan, untuk kemudian disahkan oleh Kepala Satuan pendidikan b. Agenda Lokakarya Hari-2 (Pembentukan Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan) Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pengantar tentang Tujuan Kegiatan Draft Kerangka Acuan Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan Sesi-2 Diskusi syarat dan kriteria calon Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan Diskusi tentang rumusan tugas dan fungsi Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan Teridentifikasinya syarat dan kriteria calon TSBS Tersusunnya tugas dan fungsi Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan (TSBS) Sesi-3 Diskusi Pemilihan dan penetapan TSBS Terbentuknya Tim Siaga Bencana Satuan pendidikan dan disahkan melalui SK Kepala Satuan pendidikan 31


Prosedur penyusunan rencana aksi dan pembentukan tim siaga bencana di satuan pendidikan dapat dilihat pada lampiran 3. G. Workshop Penyusunan Prosedur Tetap Kedaruratan Bencana dan Pembuatan Media Publikasi Satuan Pendidikan 1. TUJUAN a. Menyusun prosedur tetap kedaruratan bencana sekolah berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang sebelumnya telah dilakukan dan disepakati. Protap dilengkapi Peta Jalur Evakuasi, Rambu Evakuasi, Titik Kumpul, dan sistem peringatan dini; b. Membuat dan memasang Peta Jalur Evakuasi, Rambu Evakuasi, dan Titik Kumpul; c. Menyusun media publikasi sekolah untuk mengkomunikasikan hasil-hasilnya. 2. CAPAIAN a. Tersusunnya prosedur tetap kedaruratan bencana sekolah/madrasah berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang sebelumnya telah dilakukan dan disepakati. Protap dilengkapi Peta Jalur Evakuasi, Rambu Evakuasi, Titik Kumpul, dan sistem peringatan dini. b. Terpasangnya Peta Jalur Evakuasi, Rambu Evakuasi, dan Titik Kumpul. c. Tersedianya media publikasi sekolah untuk mengkomunikasikan hasil-hasilnya. 3. ALAT VERIFIKASI Dokumen Rencana Kedaruratan Sekolah, dan Prosedur Tetap Kedaruratan Bencana Sekolah (termasuk evakuasi warga sekolah ke tempat aman) Peta Jalur Evakuasi Foto Rambu Evakuasi dan Titik Kumpul yang sudah terpasang Dokumentasi Kegiatan lainnya 4. METODE a. Diskusi terfokus b. Penugasan Kelompok c. Gotong royong 5. PESERTA 15 orang, adalah kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan pegawai sekolah lain (satpam/pengelola kantin sekolah), perwakilan komite sekolah, dan unsur lainnya yang dibutuhkan, yang melaksanakan kajian risiko bencana partisipatif sekolah. 32


6. LOKASI DAN WAKTU Kabupaten/Kota, lingkungan sekolah, 4 hari; __________ Lokasi Kegiatan : Gedung Sekolah Hari/Tanggal : 7. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; b. Alat yang diperlukan antara lain: kamera, laptop, kertas plano, metaplan, spidol, flipchart, dll. 8. PERSIAPAN a. Membuat Kerangka Acuan Kegiatan; b. Menentukan jadwal kegiatan; c. Identifikasi calon peserta dan narasumber; d. Menghubungi peserta dan narasumber; e. Mempersiapkan tempat dan alat bahan; f. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; g. Menyepakati pembagian tugas. 9. MASUKAN a. Peta Sketsa Sekolah (termasuk titik-titik bahaya dan aman); b. Kajian Risiko Bencana Sekolah (termasuk Peta Risiko Bencana Sekolah); c. Dokumen profil sekolah/madrasah, data demografi wilayah. 10.AGENDA a. Agenda Worksop Hari-1 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pengantar : Pemaparan hasil kajian risiko bencana disekolah Penyegaran kembali tentang ancaman, risiko, kerentanan dan kapasitas di sekolah Sesi-2 Pemaparan oleh narasumber: pengertian, fungsi dan bentuk protap Tersampaikan pentingnya protap dan bentuknya Sesi-3 Diskusi Kelompok Terfokus: dibagi 3 kelompok, tema diskusi pihak-pihak yang berperan dalam penanggulangan bencana di sekolah, dan seperti apa perannya. Teridentifikasinya pihakpihak beserta perannya dalam penanggulangan bencana di sekolah Sesi 4 Kesimpulan hari 1 Catatan : materi dapat dimodifikasi/ dirubah/ ditambah sesuai kebutuhan di daerah tanpa mengurangi capaian kegiatan 33


b. Agenda Lokakarya Hari-2 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Review hari 1 Diskusi Kelompok Terfokus: Peserta dibagi 3 kelompok Tersusun dokumen pelengkap Sesi-2 Melanjutkan Diskusi Kelompok Terfokus Tersusun draft awal Protap Sesi-3 Presentasi kelompok Identifikasi Jalur Evakuasi di Peta Sekolah Pengumpulan input atas draft awal protap Draft Peta Evakuasi Sekolah Sesi 4 Pleno Tersusun draft Protap beserta Peta Evakuasi Sekolah c. Agenda Lokakarya Hari-3 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Penyusunan media publikasi Tersusunnya media publikasi Sesi 2 Presentasi dan kesimpulan Hasil Kesimpulan d. Agenda Lokakarya Hari-4 Waktu Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pemasangan peta jalur evakuasi, rambu evakuasi, titik kumpul dan media publikasi sekolah Terpasangnya peta jalur evakuasi, rambu evakuasi, titik kumpul dan media publikasi sekolah Catatan : materi dapat dimodifikasi/ dirubah/ ditambah sesuai kebutuhan di daerah tanpa mengurangi capaian kegiatan H. Pembelajaran PRB Peserta Didik 1. TUJUAN a. Mempraktikkan pembelajaran PRB kepada anak/siswa dalam mata pelajaran b. Mendiseminasikan media KIE mengenai PRB kepada anak/siswa c. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa tentang Pertolongan Pertama (PP); d. Meningkatkan Pengetahuan dan keterampilan siswa dalam perlindungan, penyelamatan diri saat bencana, dan perubahan iklim. 34


2. CAPAIAN a. Tersampaikannya pengetahuan tentang konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana dan perubahan iklim kepada anak; b. Meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan anak dalam PRB dan perubahan iklim; c. Meningkatnya pengetahuan dan keterampilan anak dalam pertolongan, perlindungan, penyelamatan diri saat bencana, dan perubahan iklim. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen Notulen Kegiatan; b. Foto-foto c. Dokumentasi Kegiatan lainnya. 4. METODE FASILITASI a. SDLB/SD/MI/paket A 1) Fasilitasi diarahkan lebih banyak ke bentuk permainan sambil belajar; 2) Menggunakan istilah-istilah pembelajaran yang sederhana dan mudah dimengerti; 3) Menggunakan media pembelajaran yang edukatif (film, lagu, puisi, drama, maket, ilustrasi gambar, lembar balik, dan panggung boneka dan bahan ajar lain yang disususn guru). b. SMP/SMA/MTS/MA 1) Metode pembelajaran melalui FGD; 2) Metode pembelajaran melalui studi kasus; 3) Metode pembelajaran melalui ceramah dan diskusi; 4) Bermain peran; 5) Menggunakan media pembelajaran yang edukatif (film, lagu, puisi, drama, maket, ilustrasi gambar, lembar balik, dan panggung boneka); 6) Lebih banyak praktik di kelas maupun lapangan. 5. NARASUMBER a. Narasumber adalah guru kelas/mata pelajaran masing-masing b. Tenaga ahli (PMI, puskesmas dll) untuk pertolongan pertama c. Fasilitator d. Pengawas 6. PESERTA Siswa/murid 35


7. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (2 hari) Waktu : _________________ 8. PERSIAPAN a. Koordinasi dengan pihak sekolah terkait jadwal pelaksanaan kegiatan; b. Persiapan tempat; c. Persiapan materi; d. Surat ijin atau Inform-consent dari orang-tua (jika dilakukan di luar lingkungan sekolah, dan/atau dilaksanakan di luar jam sekolah). 9. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah perbanyakan dokumen materi; b. Alat yang diperlukan antara lain: Film tentang Simulasi Bencana di Sekolah, LCD, Laptop/PC, printer, kamera, metaplan, spidol, flipchart dll. 10.Referensi atau produk/hasil kegiatan lain apa saja yang diperlukan antara lain: a. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no 33, tahun 2019, tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana b. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.23 Tahun 2013 tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.15 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Dasar di Kabupaten/Kota c. Situs Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan d. Standar Layanan Pendidikan Minimal di Daerah e. Lembar Informasi Sekolah Aman Yang Komprehensif f. Kerangka acuan program penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana(SPABSPAB); g. Psikologi Perkembangan Anak h. Film dan video tentang kebencanaan dan perubahan iklim i. Buku-buku bahan ajar kebencanaan dan perubahan iklim (PUSKUR KEMENDIKBUD, Perangkat untuk Aktivis Iklim Muda/Toolkit for Young Climate Activists, dll) j. Modul dan juknis terkait perubahan iklim untuk anak dan/atau berbasis sekolah/madrasah 36


11.AGENDA Sesi Materi/Kegiatan Keterangan Metode Alat dan bahan Hari-1 - Persiapan materi pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran formal - Media bahan ajar sesuai RPP yang disusun Film Buku Dll Evaluasi proses implementasi pembelajaran PRB Anak, dan perubahan iklim Menemukenali kesulitan/hambat an dalam imlementasi pembelajaran Diskusi dan curah gagasan Flipchart Metaplan Spidol Laptop LCD Hari-2 Sesi 1 Pertolongan Pertama (PP) oleh PMI atau SAR Dilakukan dalam kegiatan ektrakurikuler pramuka, dokter kecil dll Diskusi paktik LCD Peralatan PP Sesi 2 Refleksi dan RTL RTL Curah gagasan Spidol, metaplan, plano. Waktu disesuaikan dengan kegiatan KBM sekolah, khususnya menyangkut jadwal pendidikan informal (estrakurikuler). I. Simulasi Kesiapsiagaan di Lingkungan Satuan Pendidikan 1. TUJUAN Menguji Protap yang telah disusun dan disepakati serta melatih kemampuan tim siaga bencana sekolah yang telah sekolah siapkan. 2. CAPAIAN a. Setiap Warga Sekolah/Madrasah memahami arti peran masing-masing sesuai dengan sebenarnya; b. Warga Sekolah/Madrasah mengetahui proses penyelamatan diri dalam situasi darurat; c. Warga Sekolah memiliki komitmen untuk menjalankan Prosedur Tanggap Darurat Bencana Sekolah yang disusun dan disepakati. d. Tim siaga bencana memahami tugas fungsi dan perannya. 37


3. ALAT VERIFIKASI a. Rencana informasi simulasi; b. Rencana operasional simulasi; c. Dokumentasi terlaksananya kegiatan simulasi. 4. METODE a. Diskusi (during / daring) b. Praktek lapangan c. Virtual meeting 5. PESERTA 100 orang peserta simulasi terdiri dari*: a. Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan: 15 orang; b. Komite sekolah: 5 orang; c. Pemerintah Desa: 5 orang; d. Warga sekitar/ orangtua: 10 orang; e. Siswa: 65 siswa; f. Jumlah peserta laki-laki dan perempuan diusahakan seimbang; g. Komposisi jumlah peserta dapat dirubah/disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan didaerah tanpa mengurangi output/capaian dari kegiatan. Catatan penting: *) jumlah peserta disesuaikan dengan kondisi dan situaasi tertentu 6. LOKASI DAN WAKTU Kabupaten/Kota, lingkungan sekolah, 2 hari; __________ Lokasi Kegiatan : Gedung Sekolah Hari/Tanggal : 7. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah dokumen materi yang diperbanyak b. Alat yang diperlukan antara lain: megaphone, laptop, printer, kertas karton, metaplan, spidol, flipchart dll c. Mempersiapkan alat pendukung simulasi dengan menyesuaikan jenis ancaman yang akan di simulasikan 8. PERSIAPAN a. Membuat Kerangka Acuan Kegiatan; b. Identifikasi calon peserta dan narasumber; c. Menghubungi peserta dan narasumber; d. Mempersiapkan tempat; e. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; f. Menyepakati pembagian tugas. 9. MASUKAN a. Dokumen Input Kegiatan Kajian Penilaian Risiko Bencana dari Kegiatan Pelatihan Guru, Komite sekolah dan pemerintah desa; 38


b. Dokumen Input Kegiatan Kajian Penilaian Risiko Bencana dari Kegiatan Pelatihan Anak. Prosedur Simulasi Kesiapsiagaan di lingkungan sekolah dapat dilihat pada lampiran 5. J. Penilaian Mandiri Akhir (Endline) 1. TUJUAN a. Mengidentifikasi kembali kondisi struktur dan non struktur Satuan Pendidikan Aman Bencana setelah melaksanakan tahapan SPAB; b. Mendapatkan gambaran kondisi struktur dan non struktur Satuan Pendidikan setelah melaksanakan tahapan SPAB. 2. CAPAIAN a. Teridentifikasinya kondisi struktur dan non struktur Satuan Pendidikan; b. Gambaran kondisi struktur dan non struktur Satuan Pendidikan 3. ALAT VERIFIKASI a. Hasil penilaian akhir kondisi Satuan Pendidikan setelah implementasi kegiatan SMAB; b. Dokumen Notulen; c. Dokumentasi Kegiatan. 4. PESERTA Jumlah peserta yang terlibat adalah 10 siswa pada hari pertama dan 10 orang (kepala sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan komite sekolah). 5. LOKASI DAN WAKTU a. Kabupaten/Kota, lingkungan sekolah, 2 hari; __________ b. Lokasi Kegiatan : Gedung Sekolah c. Hari/Tanggal : 6. ALAT DAN BAHAN a. Form penilaian mandiri untuk kelompok dewasa dan untuk kelompok anak anak; b. Form penilaian mandiri awal untuk bahan perbandingan c. Alat yang diperlukan antara lain: LCD, Laptop/PC, printer, kamera, metaplan, spidol, flipchart, sound system, dll. d. Tempat dan fasilitas workshop yang mudah diakses oleh semua peserta termasuk peserta dengan disabilitas; 7. PERSIAPAN a. Membuat kerangka acuan kegiatan; 39


b. Identifikasi calon peserta dan narasumber; c. Menghubungi peserta dan narasumber; d. Mempersiapkan tempat; e. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; f. Menyepakati pembagian tugas. 8. AGENDA Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Pelaksanaan penilaian Terlaksanannya Penilaian Sesi-2 Kompilasi hasil Adanya Hasil Penilaian Sesi-3 Analisa Hasil dan rencana tindak lanjut Adanya Rencana Tindak Lanjut K. Workshop Evaluasi Pelaksanaan dan Rencana Tindak Lanjut 1. TUJUAN Mengevaluasi proses dan hasil akhir pelaksanaan SPAB sebagai pembelajaran untuk perbaikan program-program serupa kedepan. 2. CAPAIAN Adanya umpan balik hasil evaluasi proses SPAB sebagai pembelajaran untuk perbaikan program-program serupa kedepan. 3. ALAT VERIFIKASI a. Dokumen notulensi hasil workshop; b. Dokumen Laporan Pelaksanaan Kegiatan dan Rencana Tindak Lanjut Implementasi SPAB; c. Dokumentasi Kegiatan lainnya (foto dan video kegiatan) d. Dokumen daftar peserta workshop akhir 4. NARASUMBER Sekda, Dinas Pendidikan/Kanwil Agama, BPBD, dan Fasilitator. 5. PESERTA 30 orang, meliputi: SKPD kunci, anggota komisi legislatif yang relevan, kepala satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, Komite Sekolah, pemerintah desa, SKPD terkait dan unsur lainnya yang terkait. 6. LOKASI DAN WAKTU Kab/Kota : __________________ Tempat : __________________ Tanggal : __________________ (1 hari) Waktu : _________________ 40


7. METODE PELAKSANAAN Metode pelaksanaan workshop evaluasi adalah pemaparan materi dan hasil kegiatan dan diskusi panel 8. ALAT DAN BAHAN a. Bahan yang diperlukan adalah bahan materi yang diperbanyak; b. Alat yang diperlukan antara lain: laptop, printer, kertas karton, metaplan, spidol, flipchart dan lain-lain. 9. PERSIAPAN a. Membuat Kerangka Acuan Kegiatan; b. Identifikasi calon peserta dan narasumber; c. Menghubungi peserta dan narasumber; d. Mempersiapkan tempat; e. Mempersiapkan administrasi dan keuangan; f. Menyepakati pembagian tugas. 10.AGENDA a. Agenda Lokakarya Waktu Materi/Kegiatan Indikator Capaian Sesi-1 Sambutan dan Pembukaan oleh Sekda Laporan Pelaksanaan Program Penerapan SPAB oleh BPBD Moderator : Fasilitator Peserta mengetahui hasilhasil program SPAB Sesi-2 Presentasi Hasil (Rencana aksi sekolah) Narasumber : Kepala Sekolah dan Fasilitator Sesi-3 Umpan balik (Refleksi, masukan, dan catatan hasil pelaksanaan kegiatan SPAB). Narasumber : Fasilitator Teridentifikasinya pembelajaran, praktikpraktik baik dari pelaksanaan program, serta rekomendasi ke depan Sesi-4 Komitmen dan Rencana Tindak Lanjut (Rencana Advokasi/termasuk kampanye SPAB di daerah) Narasumber: Dinas Pendidikan dan BPBD Rumusan rencana tindak lanjut program SPAB 41


BAB 3. PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam melaksanakan kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana yang inklusif harus dilakukan pemantauan dan evaluasi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kegiatan SPAB. Kegiatan pemantauan dan evaluasi ini dilakukan oleh secara partisipatif oleh pihak satuan Pendidikan yang melaksanakan kegiatan SPAB. A. Pemantauan Kegiatan pemantauan dilakukan secara berkala selama pelaksanaan program. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan perkembangan pelaksanaan Program SPAB dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang: 1. Pelaksanaan kegiatan berdasarkan waktu dan anggaran serta target jumlah peserta setiap kegiatan. 2. Tantangan dan kendala pelaksanaan Berdasarkan kondisi yang ada maka akan menghasilkan rekomendasi yang relevan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan SPAB sehingga bisa sesuai dengan tujuan dan rencana awal. B. Evaluasi Kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir program untuk mendapatkan pembelajaran baik dan negative sehingga bisa menjadi referensi melakukan kegiatan yang sama di tempat lain. Serta Menyusun rencana tindak lanjut agar kegiatan tidak berhenti setelah program selesai. Satuan Pendidikan aman bencana adalah sesuatu yang harus dijaga keberlanjutannya agar peserta didik pada masa tahun ajaran kedepannya juga merasakan manfaatnya dan bisa terlibat aktif. Kegiatan evaluasi dilakukan dalam sebuah workshop di akhir project dengan mekanisme seperti lampiran 6. Pemantauan dan evaluasi kegiatan SPAB pada satuan Pendidikan untuk kepentingan Dinas Pendidikan merujuk pada platform atau referensi yang dikembangkan oleh BNPB bersama pemangku kepentingan yang lainnya, antara lain: 1. Fasilitator Program SPAB yang telah melakukan kegiatan implementasi Program SPAB maka diharapkan untuk mengisi link https://forms.gle/GB6RBwyA8vR7ZfcZ6. 2. Fasilitator Program SPAB mengisi tabel monitoring dan evaluasi (monev) dengan harapan diketahui perkembangan penerapan Program SPAB yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Formulir monev ada di lampiran 7. 42


LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pelatihan Peserta Didik 1. Apa itu Program Satuan Pendidikan Aman Bencana? Mengapa Program Satuan Pendidikan Aman Bencana penting? Bagaimana cara mewujudkan Satuan Pendidikan yang Aman Bencana? Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan untuk mewujudkan Satuan Pendidikan yang Aman Bencana?; 2. Apa itu bencana? mengapa perlu upaya pengurangan risiko bencana di satuan pendidikan? 3. Apa itu perubahan iklim? Apa sebabnya? Bagaimana tandanya? Apa dampaknya? Bagaimana upaya adaptasi dan pencegahannya yang bisa dilakukan satuan pendidikan dan anak anak? Dari mana anak anak bisa belajar mengenai perubahan iklim? 4. Upaya dan tindakan penyelenggaraan penanggulangan bencana terkait bahaya bencana dan potensi risiko bencana yang harus dilakukan?; 5. Apa itu kapasitas? mengapa melakukan kajian kapasitas? Bagaimana melakukan kajian kapasitas?; 6. Apa itu kerentanan? mengapa melakukan kajian kerentanan? Bagaimana melakukan kajian kerentanan?; 7. Pilar 1 – fasilitas sekolah aman: Apakah sekolah berada pada lokasi yang aman dari bencana? Apa saja jenis ancaman bencana yang dimiliki oleh satuan pendidikan?; apakah gedung satuan pendidikan aman dari bencana?; apakah gedung satuan pendidikan aksesibel dan mendukung evakuasi mandiri seluruh warganya termasuk warga sekolah berkebutuhan khusus? 8. Pilar 2 - manajemen bencana di sekolah: Manajemen seperti apa yang harus dimiliki sekolah untuk memastikan warga satuan pendidikan terlindungi dan terselamatkan dari ancaman bencana yang ada? Berikan berbagai contoh kongkrit manajemen satuan pendidikan yang dibutuhkan. Apa dan bagaimana proses yang perlu dilakukan untuk membangun manajemen bencana di satuan pendidikan? Siapa saja yang harus terlibat dalam proses penyusunan tersebut?; mengapa manajemen bencana yang inklusif itu penting? Bagaimana mengupayakan manajemen bencana yang inklusif? 9. Pilar 3 - pendidikan pencegahan dan PRB: Bagaimana pendidikan PRB dan perubahan iklim dapat diintegrasikan ke dalam pelajaran sekolah? Apakah memungkinkan pendidikan PRB dilakukan pada saat pelajaran muatan lokal atau ekstrakurikuler?; bagaimana memastikan semua siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus terlibat aktif dalam pendidikan PRB di sekolah? 10. Melakukan analisis kontribusi pemerintahan desa dan komite sekolah dalam mendukung penerapan dan keberlanjutan SPAB; 43


11. Apa itu wabah penyakit? Bagaimana tandanya? Bagaimana upaya pencegahan penyebarannya? Bagaimana melakukan cuci tangan dengan sabun yang benar 12. Mengenal ancaman di satuan pendidikan, apa tanda tandanya? Apa dampaknya? Apa yang harus dilakukan sebelum, saat kejadian dan setelah kejadian? 13. Mengenal peralatan pertolongan pertama? Bagaimana melakukan pertolongan pertama bagi awam? 44


Click to View FlipBook Version