The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by novianidelly11, 2022-10-05 03:19:25

RPP PANGKUR delly

RPP PANGKUR delly

RENCANA PELAKSANAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SMK Muhammadiyah 01 Keling
Mata pelajaran : Bahasa Jawa
Materi Pokok : Serat Wulangreh Pupuh Pangkur
Kelas/Semester : X/Gasal
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit/ 2JP

A. Kompetensi Inti (KI)
KI-1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
KI-2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong
royong, kerja sama, toleran, damai), bertanggung-jawab, responsif, dan proaktif
melalui keteladanan, pemberian nasehat, penguatan, pembiasaan, dan
pengkondisian secara berkesinambungan serta menunjukkan sikap sebagai bagian
dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
KI-3 : Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan
faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan
lingkup kerja pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks
pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja,
warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
KI-4 : Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

3.1. Menelaah teks Serat Wedhatama 3.1.1 Menelaah unsur pembangun tembang
pupuh Pangkur. Pangkur (C4)

3.1.2 Membuat pertanyaan yang berhubungan
dengan isi teks Serat Wedhatama pupuh
Pangkur (C5)

3.1.3 Menentukan arti kata-kata sulit pada teks
Serat Wedhatama pupuh Pangkur (C3)

4.1 Menanggapi isi serat wedhatama 4.1.1 Menanggapi isi teks Serat Wedhatama
pupuh pangkur dan menulis syair pupuh Pangkur (P2)
tembang Pangkur dengan bahasa
sendiri, serta menyajikan secara 4.1.2 Menentukan nilai-nilai yang terkandung di
lisan/tulis. dalam Serat Wedhatama pupuh Pangkur
(P4)

4.1.3 Menulis tembang Pangkur dengan bahasa
sendiri (P5)

C. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa (A) mampu menelaah struktur dan kaidah (B) Serat Wedhatama Pupuh
Pangkur setelah menyimak salindia (C) dengan baik (D).
2. Siswa (A) mampu membuat pertanyaan pitutur luhur Serat Wedhatama Pupuh
Pangkur secara lisan maupun tulisan
3. Siswa (A) mampu mengartikan kata-kata sulit (B) yang terdapat dalam Serat
Wulangreh Pupuh Pangkur setelah menyimak salindia (C) dengan baik (D).
4. Siswa (A) mampu menanggapi (B) isi Serat Wedhatama pupuh Pangkur setelah
menyimak salindia (C) dengan baik (D).
5. Siswa (A) mampu menginformasikan (B) nilai-nilai luhur yang terkandung pada
Serat Wedhatama Pupuh Pangkur setelah menyimak salindia (C) dengan baik (D).
6. Siswa (A) mampu membuat (B) syair Serat Wedhatama Pupuh Pangkur (C) sesuai
dengan bahasanya sendiri (D)

D. Pendidikan Karakter
1. Religius
2. Rasa ingin tahu
3. Disiplin
4. Kerja sama
5. Tanggung jawab
6. Kreatif

E. Materi Pembelajaran

1. Faktual :Teks Tembang Pangkur, Serat Wedhatama.

2. Konseptual :Pengertian tembang macapat, jenis tembang macapat, paugeran

tembang macapat.

3. Prosedural :Langkah-langkah menelaah isi teks tembang Pangkur

4. Metakognitif :Mengaitkan ajaran nilai moral yang terkandung didalam Serat

Wedhatama pupuh Pangkur dengan kehidupan jaman sekarang.

F. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
1. Pendekatan : Saintifik berbasis TPACK

2. Model : Problem Based Learning

3. Metode : tanya jawab, diskusi, penugasan

G. KegiatanPembelajaran Deskripsi
Langkah-
langkah

Pembelajaran

Pendahuluan 1. Guru mengkondisikan serta menyiapkan peserta didik
2. Guru melakukan pembukaan dengan salam pembukaan, menanyakan

kabar, berdoa untuk memulai pembelajaran, memeriksa kehadiran
peserta didik sebagai sikap disiplin (Religius, displin).
3. Peserta didik menjawab salam dan pertanyaan dari guru berhubungan
dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya (Disiplin)
4. Guru memberikan apersepsi tentang materi yang akan dipelajari
(menunjukkan gambaran materi serat wulangreh pupuh Pangkur) dan
menyampaikan apa manfaat mempelajari materi tersebut.
5. Guru menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari mulai dari Kompetensi
Dasar, Indikator Pencapaian Kompetensi, tujuan yang akan dicapai,
model dan metode pembelajaran, serta penilaian yang akan digunakan
untuk memotivasi siswa dan bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran.

Kegiatan Inti 1. Orientasi siswa pada masalah
a. Peserta didik melihat tayangan salindia dengan cermat dan seksama.
(Rasa ingin tahu), (Saintifik – mengamati)
b. Peserta didik bertanya jawab dengan guru terkait materi piwulang
Serat Wulangreh pupuh Pangkur. (Saintifik – menanya)

2. Mengorganisasi peserta didik
a. Guru membagi peserta didik untuk membuat kelompok terdiri dari 4
orang.
b. Peserta didik secara berkelompok menyimak syair tembang
Pangkur. (Rasa ingin tahu)
c. Peserta didik saling menanya dan bertukar informasi yang
didapatkan dari penayangan tembang Pangkur laras Pelog pathet 9.
(Saintifik–mengumpulkan informasi)
d. Peserta didik berdiskusi untuk menemukan kata-kata sulit yang
terdapat dalam syair pupuh Pangkur. (Kerja sama, bertanggung
jawab)

3. Membimbing penyelidikan
a. Peserta didik mengamati kata-kata sulit yang ditemukan kemudian
diartikan melalui bausastra. (Saintifik - mengasosiasi)
b. Peserta didik menggabungkan makna per kata menjadi sebuah
kalimat yang baik kemudian menuliskan pokok-pokok isi syair
tembang Pangkur.

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
a. Peserta didik menyimpulkan nilai-nilai luhur yang terkandung pada
Serat Wedhatama Pupuh Pangkur
b. Peserta didik membuat syair Serat Wedhatama Pupuh Pangkur sesuai
dengan bahasanya sendiri, satu kelompok satu pada tembang
Pangkur masing-masing 2-3 gatra (Saintifik-menalar) (Disiplin,
kreatif dan tanggung jawab)

5. Menganalisis dan mengevaluasi
a. Peserta didik mengumpulkan hasil pekerjaan
b. Guru mengevaluasi hasil pekerjaan

Penutup 1. Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi yang telah
dipelajari

2. Guru bersama-sama peserta didik melakukan refleksi tentang proses
dan hasil pembelajaran yang telah dicapai. (Kreatif)

3. Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan
yang akan datang

4. Guru bersama peserta didik menutup pembelajaran dengan berdoa.
(Religius)

5. Guru menutup dengan mengucap salam.

H. Media Pembelajaran

1. Media : Salindia, Lembar Kerja.

2. Alat/Bahan : PC/Laptop, LCD, spidol

I. SumberBelajar

Prawiroatmodjo,S. 1985. Bausastra Jawa-Indonesia/S. Prawiroatmodjo Jawa-Indonesia. Jakarta:
Gunung Agung
Gandung Widaryatmo, dkk. Prigel Basa Jawa Kanggo SMA/SMK/MA Kelas X. Jakarta:
Erlangga
Wasana, dkk. Wursita Basa Kanggo SMA/ MA/ SMK Kelas X. Klaten: Sahabat
Tim MGMP Bahasa Jawa. 2021. Modul Bahasa Jawa Kelas X K13. Jepara.
J. Penilaian Proses dan Hasil Belajar

No. Jenis Teknik Instrumen
1 Pengetahuan TesTertulis Uraian
2 Ketrampilan Kinerja Unjuk kerja
3 Sikap Observasi Jurnal Penilaian

K. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
1. Remidial
Apabila peserta didik mendapatkan nilai dibawah KKM (70) maka peserta didik
tersebut diberikan remidi.
2. Pengayaan
Apabila peserta didik mendapatkan nilai sama atau lebih tinggi dari KKM (70) maka
peserta didik diberikan pengayaan.

Mengetahui Jepara, Juli 2022
Kepala SMK Muhammadiyah 01 Keling Guru Bahasa Jawa

Rahmat Taufiq Isnaini, S. Pd. Delly Noviani, S. Pd.

MATERI AJAR

1. SERAT WULANGREH
Serat piwulang Wulangreh kaanggit dening Paku Buwana IV. Panjenengane

luwih kawentar kanthi asma Sunan Bagus. Ing yuswa kang isih timur / nom yaiku
19 taun, panjenengane wis dadi raja/ratu ing kraton Surakarta Hadiningrat wiwit
taun 1768 nganti tekan 1820 Masehi. Asiling nyerat Paku Buwana IV akeh banget
kayata serat Wulangreh, serat Wulangsunu, serat Wulang Putri lan sapanunggalane.

Ing sajroning serat Wulangreh, akeh ajaran kang ora kanthi langsung utawa
asipat magis bisa dirasakake dening wong kang padha maca serat kasebut. Ajaran
ing serat Wulangreh akeh guna mupangati marang kulawarga lan bebrayan,
upamane ajaran utawa piwulang budi pakerti kang luhung, moral, tindak-tanduk, lan
manembah marang Gusti.

Ing serat Wulangreh uga diandharake pamulang yaiku pamulang tata
paprentahan kang sinergi utawa selaras karo babagan tata tulis, budaya literasi kang
isi piwulang kepriye carane urip ing kulawarga lan masyarakat kanthi tentrem, bisa
urip bebarengan, rukun ora congkrah, tetep ngabekti marang Gusti. Isih akeh maneh
piwulang kang ana ing serat Wulangreh. Kanthi ganep serat Wulangreh bisa
kaandharake kaya ing ngisor iki.
a. Pupuh Dhandhanggula kadadean saka 8 pada
b. Pupuh Kinanthi kadadean saka 16 pada
c. Pupuh Gambuh kadadean saka 17 pada
d. Pupuh Pangkur kadadean saka 17 pada
e. Pupuh Maskumambang kadadean saka 30 pada
f. Pupuh Megatruh kadadean saka 17 pada
g. Pupuh Durma kadadean saka 12 pada
h. Pupuh Wirangrong kadadean saka 27 pada
i. Pupuh Pocung kadadean saka 22 pada
j. Pupuh Mijil kadadean saka 25 pada
k. Pupuh Asmarandana kadadean saka 26 pada
l. Pupuh Sinom kadadean saka 33 pada
m. Pupuh Girisa kadadean saka 25 pada

2. PIWULANG ING SERAT WULANGREH

Piwulang ing serat Wulangreh iku maneka warna. Pustaka kang diserat dening
Sunan Pakubuwana IV arupa tembang. Saben pupuh tembang isi piwulang kang
migunani banget tumraping manungsa. Isi piwulang sajroning serat piwulang
Wulangreh pupuh Pangkur yaiku isine tata krama, mbedakake ala lan becik, sarta
cara ndeleng wateking manungsa. Manungsa kudu duweni karakter kang becik
sajroning urip supaya bisa urip ing tengahing bebrayan kanthi tentrem, ngajeni
marang sapadhaning urip, tansah andhap asor marang sapadha-padha.

3. TEMBANG MACAPAT PANGKUR

Tembang utawa puisi Jawa tradhisional iku lumrahe nggunakake basa kang edi
lan endah, supaya bisa nyenengake kang padha nembang lan kang mirengake. Mula
kanggo nuwuhake rasa endah pangripta tembang macapat lumrahe nggunakake
“rengga basa/ basa rinengga”.

Mula bukane diarani tembang Pangkur, dhek jaman biyen ana punggawa ing
kapandhitan arane Pangkur kaya kasebut ing sajrone serat Purwaukara. Pangkur
ditegesi buntut utawa pungkur sing tegese mburi. Mula saka kuwi, tembang Pangkur
lumrah diwenehi sasmita tut, pungkur, wuntat, mburi lan sapanunggalane.

Paugeraning tembang iku ana 3 cacahe, yaiku guru wilangan, guru lagu lan guru
gatra. Guru wilangan yaiku cacahe wanda saben gatra (artinya: jumlah suku kata
tiap baris). Guru lagu yaiku tibaning swara ing pungkasaning gatra (artinya: huruf
vokal di akhir kalimat/baris). Guru gatra yaiku cacahe gatra saben pada (artinya:
jumlah baris tiap bait). Tembang macapat kang cacahe anan 11 duweni tandha
utawa ciri dhewe- dhewe. Kaya tembang macapat Pangkur, duweni paugeran
minangka tandhane tembang yaiku gatrane ana 7, kanthi guru wilangan lan guru
lagu 7a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a lan 8i.

Watake tembang Pangkur yaiku gumregah, semangat, nesu, perang. Jumbuh /
cocok kanggo paprangan, padudon, pitutur kang semangat makarya, ngendhaleni
hawa nepsu; asih tresna kang makantar-kantar. Sasmitane tembang Pangkur yaiku
mingkur, munkur, kukur-kukur, yuda kenaka.

Makna filosofis kang kamot sajrone tembang Pangkur yaiku nggambarake
rikalane umure manungsa wis laluyuswa ‘masa lanjut usia, udzur’; lan wancine
ngungkurake hawa napsu lan kadonyan’. Watake sereng ‘semangat’,
prawira‘perwira’, lan wani. Ing mangsa iki tansah mbudidaya kanthi gumregut lan
semangat anggone ngendhaleni hawa napsu angkara murka, napsu kadonyan.
Kebutuhaning urip kang asipatboros ‘glamour’, seneng-seneng, hura- hura /
berfoya- foya wis ditinggalake. Manungsa wiwit sregep ngibadah lan nyedhak
tansah ndhedhepe marang Pangeran. Ing pangajab sawanci- wanci katimbalan Gusti
Kang Mahasuci bisa lancar, selamat; saged mlebet wonten surganipun Pangeran.

Ing ngisor iki andharan babagan titi larase tembang Pangkur. Gatekna ya!
Pangkur Laras Pelog

3 5 5 5 5 5 33
se kar pang kur kang wi nar na
3 5 6 5 3 2 1 1 2 33
le la buh an kang kang go wong nga u rip
5 6 i i i 2 32
a la lan be cik pu ni ku
6 55 5 5 5 5
pra yo ga ka wruh a na
5 5 5 6 3 2 1 1 1 23 3
a dat wa ton pu ni ku di pun ka du lu
6 1 1 1 1 1 11
mi wah ing kang ta ta kra ma
1 2 3 1 2 3 32 1
den ka es thi si yang ra tri

4. PIWULANG ING SERAT WULANGREH PUPUH PANGKUR

Piwulang ing serat Wulangreh iku maneka warna. Saben pupuh tembang,
duweni isi kang migunani kanggo sing gelem maca. Pupuh tembang Pangkur ing
serat Wulangreh kasebut isine bab tatakrama, bab piwulang kanggo mbedakake ala
lan becik, sarta piwulang cara ndeleng wataking manungsa kang mapan ing alam
donya iki.

Isine Pangkur bab tatakrama tamtu cocog banget kanggo para peserta dhidhik sing
lagi golek ngelmu ing sekolah. Manawa bisa diugemi lan ditiru dening para peserta
dhidhik, ajaran utawa piwulang kang ana ing tembang Pangkur kasebut wiwit biyen
nganti saiki isih cocog. Kajaba marang para peserta dhidhik, para kanoman, lan
bebrayan umum uga isih cocog. Filsafat lan ajaran ing sajroning tembang Pangkur
kasebut adi luhung banget kanggone manungsa ing alam donya. Diarani adiluhung
amarga ajaran utawa piwulang sajroning tembang Pangkur kasebut duweni nilai
filsafat sing luhur utawa dhuwur banget. Manawa para peserta dhidhik bisa nglakoni
ajaran lan piwulang sajroning tembang Pangkur kasebut, para peserta dhidhik mesthi
bakal tumata tindak-tanduke, unggah-ungguhe lan solah bawane.

Kajaba piwulang abb tata krama, tembang Pangkur ingserat Wulangreh uga
ngemot piwulang ala lan becik. Para peserta dhidhik kudu bisa mbedakake bab ala
lan becik. Bab kang apik dilakoni bab kang ala disingkiri. Manawa para peserta
dhidhik bisa nglakoni samubarang kaya sing diandharake ing serat Wulangreh iki,
prasasat para peserta dhidhik duweni nilai karakter kang agung. Ksook baline
manawa para peserta dhidhik padha nerak angger-angger kang ana ing tembang
Pangkur iki, peserta dhidhik bakal rusak mentale, miskin nilai karakter, lan ora
duweni watak berbudi bawa laksana. Tegese para peserta dhidhik seneng nerak
angger-angger kang ana ing urip padinan. Manawa kaya mangkono para peserta
dhidhik prasasat rugi uripe. Yen rugi uripe, ateges uripe ora ana guna mupangate
marang sapdha-padha. Ajaran utawa piwulang ala lan becik kudu diugemi amrih
uripe para pesert dhidhik tumata, kepenak lan tentrem, embuh iku ing lingkungan
sekolah apadene ing lingkungan masyarakat, tundhane duweni nilai karakter luhur
kang akeh guna mupangate.

5. APRESIASI TEKS SERAT PIWULANG WULANGREH PUPUH PANGKUR

Apresiasi sastra iku sejatine minangka tandha menawa sastra iku ditampa ana
dening pamaca. Kasnadi lan Sutejo (2010: 1) ngandharake menawa “apresiasi
sastra merujuk pada sebuah kegiatan mengenali, memahami, mengerti tentang
karya sastra yang digauli secara intens”.

Saka tegese apresiasi kang tinulis ing dhuwur iku bisa didudut menawa
kagiyatan apresiasi iku ora mung maca asil sastra banjur uwis bar ngono wae.
Ngapresiasi tembang iku bisa kalakon menawa sabubare maca tembang, pamaca
banjur nglakoni pakaryan-pakaryan tartamtu amarga oleh pengaruh saka tembang
kang diwaca iku. Kagiyatan apresiasi sing paling gampang iku nalika pamaca wis
bisa mangerti isi saka tembang kang diwaca, ngerti piwulang ana ing tembang lan
bisa njupuk paedahe. Piwulang ana ing tembang bisa kadudut ora kanthi cara
ngawur, ananging ngandelake pamikiran lan rasa kang lantip saka pamaca.

Kagiayatan apresiasi tembang minangka cara kang digunakake kanggo ngakoni
eksistensi tembang ana ing tengah-tengahing masarakat. Tembang minangka salah
sawijining wujud sastra kang adate ngemu pitutur kanggo pamaca. Masyarakat Jawa
kudu bisa ngregani asil budayane dhewe awujud sastra, mligine tembang. Kagiyatan
apresiasi iku basa gampange yaiku kagiyatan ngenal, mudheng, ngrasakake,
ngregani, lan menehi pamrayogi panyaruwe marang tembang kang diwaca.

Saryono (2009: 28) ngandharake menawa “apresiasi sastra sebagai peristiwa
sosial dan momentan lebih banyak bersangkutan dengan jiwa, nurani, budi, rasa,
emosi, dan afeksi”. Kagiyatan apresiasi iku kagiyatan kang mbutuhake kaprigelan
kognitif lan psikomotorik. Kagiyatan kang mbutuhake kaprigelan kognitif yaiku
nalika pamaca ngerti apa kang dikarepake ana ing tembang lan bisa jupuk pitutur
luhur tembang iku. Kagiyatan apresiasi kang mbutuhake kaprigelan psikomotorik
bisa disawang nalika pamaca nglakoni kagiyatan kang jumbuh karo t u g a s sing

diwaca. Urut-urutane apresiasi sastra diandharake dening Endraswara (2002: 11-12)
yaiku (1) nyenengi,
(2) menikmati, (3) nanggepi, lan (4) ngasilake. Urutane apresiasi sastra sing
pungkasan uga bisa ditambah “implikasi”. Apresiasi marang sastra Jawa, mligine
tembang bisa kalaksanan kanthi sampurna menawa pamaca bisa tumindak manut
kaya pitutur sing diwulangake ana ing tembang kasebut.

Kagiyatan apresiasi tembang iku wis mesthi diwiwiti kanthi maca lan kenal
karo tembang kang arep diapresiasi. Rasa seneng utawa ora marang tembang iku
mesthine ana nalika tembang diwaca. Menawa tembang sing diwaca kuwi apik, rasa
seneng iku bisa gawe pamaca “menikmati” tembang sing diwaca. “Menikmati” ana
ing kene ana gandheng cenenge karo rasa seneng sing tuwuh saka jroning ati.
Kagiyatan nanggepi t e m b a n g iku bisa kalakon menawa pamaca wis bisa ngerti
pesen kang ana ing sajroning tembang. Pamaca ana ing bagian iki wis bisa
nganalisis pitutur luhur ana ing tembang sarta bisa narik paedah saka kadadean-
kadadean kang ana ing tembang.

Sawise pamaca mangerti pitutur luhur ana ing tembang, pitutur kang ana iku
dipikir nganggo rasane dhewe. Pitutur becik kang wis dirasakake iku banjur
ditrepake ana ing urip padinan. Bab iki minangka wujud implikasi saka kagiyatan
apresiasi tembang. Pitutur kang ana ing tembang ora mung dianggep dolanan,
nanging uga bisa nggeterake ati supaya tumindak becik kaya kang diwulangake.
Sanajan mangkono, implikasi ana ing kagiyatan apresiasi uga bisa kalaksanan nalika
pamaca dadi luwih kreatif amarga oleh ilham saka maca tembang.

Ngapresiasi utawa mbiji alan lan becike Serat Wulangreh bisa diperang dadi
pamilihing tembung kang digunakake ing Serat Wulangreh, mbiji runtuting ukara,
lan mbiji nilai ajaran / piwulang sing ana ing Serat Wulangreh Pupuh Pangkur.
Manawa para peserta dhidhik bisa mbiji lan ngapresiasi kaya ngapa adi luhunge
serat piwulang mau, prasasat para peserta dhidhik bisa nuladha ajaran/piwulang sing
ana ing Serat Wulangreh mau. Ing tembe bisa digunakake lan ditrepake ing sekolah
lan masyarakat.

6. SASMITANE TEMBANG PANGKUR SAJRONING SERAT WULANGREH

Tembang macapat pupuh Pangkur ing serat Wulangreh bisa diandharake kaya
ing ngisor iki, yaiku ana 17 pada/bait. Pada siji lan sijine, isine ana gandheng
cenenge. Dadi anggone negesi ora bisa dipisah-pisah, kanthi ancas supaya para
peserta dhidhik mangerteni tembang Pangkur kasebut kanthi utuh lan bisa njupuk
piwulangan lan nilai karakter kang becik saka tembang Pangkur mau.

Serat Wulangreh Pupuh Pangkur

Cakepan Tegese

Pada 1 Piwulang kang kamot mawa tembang Pangkur,
Sekar Pangkur kang winarna, prayogane kokmangerteni, bab kuwajiban
Lelabuhan kang kanggo wong ngaurip, marang panguripan, bab ala lan apik perlu
Ala lan becik puniku, dimangerteni uga, perlu uga dimangerteni adat
Prayoga kawruhana, lan aturan, awan bengi (saben dinane) aja padha
Adat waton puniku dipunkadulu, nglalekake tata krama.
Miwah ingkang tata krama,
Den kaesthi siyang ratri.

Pada 2 Aja padha nglalekake, akeh sithik padha
Deduga lawan prayoga, cubriya, amarga iki kabeh ora kena
Myang watara reringa aywa lali, dilalekake, embuh iku nalika isih melek,
Iku parabot satuhu, lungguhan, tangi turu, mlaku, meneng,
Tan kena tininggala, ngomong, nalika turu (kabeh iku aja nganti
Tangi lungguh angadeg tuwin lumaku, nglalekake nalar lan pikiran).
Angucap meneng anendra,
Duga-duga nora lali.

Pada 3 Mangkono iku dadi lelimbangan/bahan
Miwah ing sabarang karya, pertimbangan perkara papat ing prakara gedhe
ing prakara gedhe kalawan cilik, lan cilik aja nganti koklalekake,
papat iku datan kantun, kudu dilakoni saben dinane,
kanggo sadina-dina, awan lan bengi,
lan ing wengi nagara miwah ing dhusun, ing kutha lan ing desa,
kabeh kang padha ambegan, kabeh iku kanggo manungsa kang nduweni
papat iku nora kari. napas/urip.

Pada 4 Upama ana manungsa kang nglalekake
nalar/pikiran, iku ora becik utawa ora patut
Kalamun ana manungsa, anyinggahi ngumpul marang wong akeh kang becik
dugi lawan prayogi, iku wateke tan patut nalare, aja kokcedhaki wong sing ora ngerti
awor lawan wong kathah, adat lan kang mung manut kekarepane
wong digsura ndaludur tan wruh ing dhewe, wong kang kaya
edur, aja sira pedhak-pedhak, mangkono iku bakal nggawa karusakan.
nora wurung niniwasi.

Pada 5 Titikane tindak-tanduk utawa perilaku iku bisa
Mapan wateke manungsa, dideleng lumantar carane mlaku lan lungguh,
pan katemu ing laku lawan tindak-tanduke lan cara ngomonge. Sanajan
linggih, solah muna-muninipun, wong mau ora pinter utawa bodho, duweni
pan dadya panengeran, drajat dhuwur utawa cendhek, sugih lan mlarat.
kang apinter kang bodho miwah
kang luhur,
kang asor lan kang malarat,
tanapi manungsa sugih

Pada 6 Ulama / wong nakal, embuh iku kang wani
Ngulama miwah maksiyat, utawa kang jirih, tukang colong jupuk /
wong kang kendel tanapi wong kang jirih, maling apadene bebotoh, lanang utawa
durjana bobotoh kaum, wadon kabeh nduweni watak lan titikan kang
lanang wadon pan padha, padha.
panitiking manungsa wawatekipun,
apadene wong kang nyata,
ing pangawruh kang wis pasthi.

Pada 7 Iku kabeh bisa katon saka tindak-tanduke, cara
Tinitik ing solah bawa, ngomonge, mlaku, lan lungguhe. Iku
muna-muni ing laku lawan linggih, titikan kang gampang dingerteni lan
iku panengeran agung, dirasakake. Mulane wong kuna utawa wong
winawas ginrahita, biyen arang banget salah menawa mbiji wong
pramilane ing wong kuna-kuna iku, liya.
yen amawas ing sujanma,
datan amindhogaweni.

7. NULIS PANEMU UTAWA NANGGAPI ISINE PIWULANG PUPUH

PANGKUR ING SERAT WULANGREH
Sawise wong mangerteni marang samubarang apa wae lumantar ndeleng utawa

nyawang, ngrungokake, ngrasakake, lan nglakoni mesthi ati lan pikirane ana rasa
seneng (sarujuk) utawa rasa ora seneng (ora sarujuk), bakal menehi pitakonan lan
pamrayoga becike kepriye (saran). Mratelakake apa kang ana sajroning rasa lan
pikiran kang kaya mangkono ikui diarani menehi tanggapan utawa panemu.

Semono uga sawise para peserta dhidhik maca lan mangerteni isine tembang
macapat pupuh Pangkur ing serat Wulangreh anggitane Sri Susuhunan Pakubuwana
IV, mesthi nduwe panemu utawa tanggapan ngenani isine tembang kasebut. Mula,
saiki ayo padha menehi tanggapan isine tembang Pangkur ing serat Wulangreh
kanthi rasa tanggung jawab!


Click to View FlipBook Version