BROKEN Adegan 1 Felicia seorang gadis yang sudah hidup sendiri sejak keluarganya mempunyai masalah. Ia memang meminta kepada orang tuanya untuk tinggal sendiri setelah neneknya sudah tiada. Benar saja Felicia memang sudah tidak tinggal Bersama kedua orang tuanya karna kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusannya masing masing. Di pagi hari yang cerah Felicia sedang berdiri di depan cermin dengan seragam putih abu abu di tubuhnya, bersiap untuk pergi ke sekolah. Sesampainya Felicia di sekolah ia langsung menuju ke kelasnya dan duduk di bangku nya. Asya: “Pagi Cia” Sapa teman sebangkunya. Felicia: “Hmm.” Felicia hanya menanggapinya dengan berdehem, toh ga penting juga kan menanggapinya. Selama jam pelajaran pertama sampai jam istirahat ia hanya tertidur dikelasnya. Sudah menjadi hal yang wajar untuk semua murid di kelasnya. Bahkan guru saja sudah capek untuk memberitahukan bahwa jangan tidur dipelajarannya. Bel selesai istirahat pertama berbunyi Felicia yang baru saja bangun dari tidurnya memutuskan untuk kabur dari pelajaran berikutnya. Dia mulai bersiap untuk pergi meninggalkan kelas namun tangannya ditarik oleh Asya. Asya: “Mau kemana Cia?” Ucap asya yang menarik tangan Felicia. Felicia: “Kepo lu! Lepas!” Jawabnya sambil melepaskan tangannya dari genggaman Asya dengan kasar.
Felicia pergi meninggalkan kelas menuju belakang sekolah tempat biasa ia melaksanakan aksinya untuk kabur dari sekolah yang menurutnya terkutuk itu. Namun belum sempat ia memanjat tembok belakang sekolah, ia ketahuan oleh ketua osis di sekolahnya. Ketos : “Mau kemana lu? Cabut ya?” Tanyanya dari kejauhan. Karena tak ingin menanggapi pertanyaan yang menurutnya tidak penting dari seorang ketos di sekolahnya, Felicia memutuskan untuk segera memanjat tembok untuk kabur dari sekolahnya. Farel: “WOY!! JANGAN CABUT LU!!” Teriaknya dari tembok sekolah. Felicia: “Bacot lu urusin aja diri lu sendiri.” Ucapnya sambil melenggok pergi meninggalkan sekolah. Felicia pergi ke sebuah bar ternama di Jakarta. Saat masuk kedalam club tersebut ia di sambut hangat dengan beberapa bartender di bar tersebut. Salah satunya adalah Genta, salah seorang bartender di club tersebut. Genta: “Ngapain lu disini? Bolos lu ya? Gua bilangin orangtua lu lah anaknya bolos terus.” Ucapnya sambil memasukan beberapa merek dan jenis minuman kedalam shaker. Felicia: “Aduin deh ga akan peduli juga mereka, kan mereka cuma peduli sama keluarga barunya doang. Mending lu buatin gua Dry Martini.” Genta: “Masih terlalu pagi untuk minum Ci” Felicia: “Hari ini lagi suntuk banget mending buatin sekarang.” Genta: “Siap ndoro ayu Felicia.” Tanpa banyak berbicara lagi Genta langsung membuatkan apa yang Felicia suruh.
Genta: “Lagi ada masalah apa lu? Tumben banget jam segini udah kesini, biasanya agak siangan ini pagi pagi buta udah disini.” Ucapnya sambil m embuatkan minuman tersebut. Felicia: “Gatau lah pusing gua sama mereka, dah pisah juga masih aja ributin hal yang jelas.” Genta: “Nih minuman mu sudah jadi ndoro.” Sambil menyodorkan minuman yang di pesan Felicia. Felicia: “Iya.” Jawabnya dengan muka kesal. Genta: “Makasih orang mah, apa susahnya sih bilang makasih.” Ucapnya dengan muka seperti anak kecil ngambek. Felicia: “Iya yaudah, sana sana mending balik kerja sono. Ngapain disini sih” Genta: “Yaudah gua kerja dulu lah.” Ucapnya sambil berjalan pergi untuk melayani pelanggan yang lain. Felicia sedang duduk santai di meja yang ia pesan sambil menghisap sepuntung rokok di tangannya. Sedang asik melihat orang orang sedang melepaskan penat namun tiba tiba nama nya di panggil oleh seseorang yang ga lain adalah teman minumnya itu. Gilang Namanya, Gilang adalah cowo kenalan Felicia di bar tersebut. Gilang: “Eh Cia ngapain kesini jam segini? Masih jam sekolah juga, gua aduin ke om herman ya lu” Ucapnya sambil duduk di samping Felicia. Felicia: “Ini orang orang kenapa demen banget ngadu ke bokap gua sih? Padahal mereka peduli juga ngga. Ngadu gih dah ngadu.” Ucap Felicia dengan nada yang agak tinggi. Gilang: “Santai mba santai, saya cuma bercanda doang.” Ucap Gilang sambil cengengesan.
Cuma hanya ada keheningan diantara mereka berdua saat ini. Meraka berdua sedang bergelut dengan pikiran masing masing ditemani dengan minuman dan rokok ditangannya. Gilang: “Udah anjir, gila lu rokok udah setengah bungkus lu abisin, minum udah setengah botol apa ga rusak tuh paru paru sama ginjal lu.” Celetuk gilang sambil mengambil bungkus rokok yang tergeletak di meja bar. Felica: “Sumpah Lang kalo lu cuma mau ceramah tentang Kesehatan gua mending lu pergi sono.” Ucapnya seperti mengusir Gilang dari hadapannya itu. Gilang: “Au lah, percuma juga sebenernya ngebilangin lu kalo lagi kacau kaya gini. Dah lah mau ke kampus dulu gua, lagi ada kelas gua, dosennya killer lagi.” Ucapnya sambil berdiri bersiap untuk pergi dan menjulurkan tangannya untuk salaman. Felicia: “Yaudah, sana.” Ucap Felicia sambil membalas salamannya. Setelah Gilang pergi, Felicia melanjutkan aktivitasnya seperti sebelumnya yaitu hanya melamun sambil menatap sekitar. Pukul sudah menunjukkan jam setelah lima sore. Sudah cukup lama Felicia terdiam di sana namun belom ada niat untuk beranjak pergi. Jam kerja Genta pun sudah berakhir saat ingin beranjak keluar dari tempat kerjanya namun matanya tertuju ke salah seorang yang terduduk diam disalah satu meja. Tanpa basa basi ia jalan menuju orang itu. Genta: “Belom balik juga lu Ci.” Ucapnya berdiri di hadapan Felicia. Felicia: “Mager balik gua, dirumah juga ga ada siapa siapa.” Ucapnya sambil menghisap rokok. Genta: “Makanya baliknya ke rumah, jangan ke apart lu itu. Kalo ke apart ya pasti sendirian lah.” Felicia: “Ke rumah mana nih? Kerumah bokap dan istri barunya itu atau kerumah nyokap?”
Genta hanya terdiam, tidak bisa membalas ucapkan Felicia barusan. Genta: “Dulu lu ga gini dah ci, dulu lu kaya cewe baik baik banget. Mana pernah dulu lu nyentuh rokok kaya gini. Kena asepnya aja ogah. Eh sekarang lu malah ngerokok terus, minum kaya orang banyak masalah.” Uucapnya sambil mencoba memberikan penerangan ke Felicia. Felicia: “Mending lu balik deh kalo cuma mau nyeramahin gua doang, dah selesai juga kan jam kerja lu.” Genta: “Ci gua kenal lu dari lama, lu dulu ga gini.” Felicia: “Ga usah sok kenal lu sama gua, lu ga tau apa apa tentang hidup gua.” Ucapnya dengan nada bicara yang rada tinggi. Felicia: “Ini lu ga mau balik hah? Oke gua yang pergi.” Benar saja Genta dan Felicia memang sudah berkenalan sejak lama, makanya genta berucap seperti itu. Akhirnya tanpa banyak bicara lagi Felicia memutuskan untuk pergi meninggalkan bar. Karna bingung mau pergi kemana akhirnya ia memutuskan untuk balik ke apart nya. Adegan 2 Keesokan harinya Felicia yang malas untuk ke sekolah karna kemarin ia menghabiskan waktu untuk menenangkan dirinya memutuskan untuk tidak sekolah.
Felicia: “Huftt.. gada semangat banget buat sekolah, males sama kehidupan gue juga yang gini gini aja, makin hari makin hampa.” Ucapnya dalam hati diatas Kasur sambil menatap langit langit kamarnya. Pukul menunjukkan tujuh pagi yang seharusnya gerbang sekolah sudah mau ditutup tetapi felicia belum juga kelihatan disekitar sekolah, Asya yang kebingungan pun belum mendapat kabar dari Felicia, karna sebentar lagi jam pelajaran guru killer yang paling tidak bisa melihat siswa ataupun siswinya telat sedikitpun. Asya pun bergegas untuk pergi menuju kelas. Dikelas dengan suasana hening mencekam karna akan ada guru killer tersebut memasuki kelas. Asya: “Duh Felicia kemana sih sama sekali ga ada kabar, apa kata dunia kalo ni guru marah marah karna ada murid alfa di mata pelajaran dia.” Asya pun kebingungan karna Felicia sudah dihubungi berkali kali tetap tidak ada jawaban. Guru tersebut pun memasuki kelas, sebut saja ia bu Sari, kelas yang ramai pun seketika hening Ketika ia memasuki kelas. Bu Sari: “Selamat pagi semua, hari ini detik ini ibu akan mengadakan ulangan mendadak mengingat untuk menambah nilai karna nilai yang masi banyak kosong.” Murid pun sontak bersorak ramai ramai karna tidak setuju dengan adanya ulangan dadakan Murid: “Bu mending tugas aja dari pada harus ulangan dadakan gini.” Kata salah satu murid yang membantah bu Sari, dan murid lain pun setuju dengan usulan salah satu murid tersebut. Bu sari yang tidak terima bantahan pun langsung marah.
Bu Sari: “Ga ada bantahan, kalo ulangan ya ulangan yang guru disini saya, sebelum ulangan saya mau absen satu satu terlebih dahulu.” Asya yang mulai kebingungan karna Felicia belum ada kabar juga jadi ketakutan karna ia tahu bu sari akan marah karna ada murid yang alfa. Bu Sari yang mulai mengabsekan murid pun langsung menyebut kan nama satu persatu dan saat berhanti di nama Felicia tidak ada jawaban. Bu Sari: “Felicia Wijaya? Ga ada yang Namanya felicia disini? Kemana dia?” Semua murid terdiam, Asya yang bingung ingin menjawab apa saat temannya di absen pun ikut terdiam. Bu Sari: “Ketua kelas? Sekertaris? Tidak ada kabar dari Felicia? Kalo tidak ada saya akan alfa kan, dan tindak lanjuti.” Felicia yang ketiduran dan bangun bangun menunjukkan pukul sebelas siang. Felicia menoleh ke arah jam. Felicia: “Huh sial, gua ketiduran lupa ngabarin asya kalo ga masuk sekolah alfa dong gua.” Felicia yang bergegas mencari hp untuk mengabari teman kelasnya itu. Waktu sudah menunjukkan saatnya pulang sekolah, Asya yang kaget bertemu farrel pun bingung karna sepertinya farrel akan menghampirinya, dan ya benar saja farrel menghampirinya dan menanyakan Felicia. Farrel: “Lu asya? Kenalin gua farrel, tadi bu Sari nyuruh gua keruanganya dan nanyain Felicia, katanya dia dapat kabar juga kalo kemarin Felcia cabut sekolah, sekarang ga masuk sekolah tanpa kabar?” Ucap farrel yang sibuk menanya nanya kepada asya yang bingung. Asya yang diam dan bingung harus menjawab apa karna ia takut temannya akan dihukum oleh bu Sari. Farrel: “Kenapa lu diem? Gua nanya woi, kenapa? Takut temen lu dapet surat cinta dari guru yang terkenal killer itu?”
Asya: “Apaansi lu, sakit kali si Felicia lagian gada yang tau juga kan? Kenapa nanya gua?” Farrel: “Lah kocak, lu temennya jelas gua nanya lu, laagian dia ada orang tua kalo pun dia sakit gabisa ngabarin, orang tuanya kan bisa.” Asya: “Tau apa lu tentang orang tua dia? Siapa tau sibuk.” Farrel: “Yauda gua males rebut, kalo lu gamau jawab si Felicia kenapa kasi aja alamat rumahnya biar gua nanya langsung ke orangnya.” Farrel yang sudah mendapat alamat rumahnya Felicia pun segera menuju ke alamat tersebut. Sesampai nya farrel di alamat tersebut farrel bingung karna bukannya rumah yang ia temui, malah sebuah apart. Farrel: “Jangan sampe si asya boongin gua ngasi alamt palsu gini.” Farrel yang masi menduduki motornya masi kebingungan. Beberapa saat kemudian ada cewe yang keluar dari apart tersebut, ia adalah Felicia. Farrel: “Nah tu dia orangnya, ga perlu gua cari cape cape dah ketemu.” Ucapnya dalam hati, dan menuruni motornya, ia langsung menghampiri Felicia. Farrel: “Woi lu kenapa ga masuk sekolah?” Farrel yang tanpa sadar mengaggeti Felicia pun bingung karna Felicia tiba tiba mundur dari tatapan dia. Felicia: “Dih sapa lu? Kaget gua, dateng dateng nanya, kenal gua emangnya?” Farrel: “Kenal lah, lu yang cabut pas sekolah kan? Lu juga yang hari ini ga masuk sekolah tanpa kabar padahal mata pelajaran kelas lu bu Sari.” Felicia pun kaget karna ia tidak tahu siapa cowo yang dibalik helm full face tersebut Felicia: “Minimal helm lu lepas dulu, gimana gua ga kaget dan ga ngenalin lu helm lu aja nutupin muka lu manusia aneh.” Farrel pun kaget dan dalam hati ia ngdumel karna tentu saja ia malu karna lupa melepas helmnya.
Farrel yang membuka helm full face yang ia pakai, tiba tiba angin bertiup kencang menghembus rambut farrel yang membuat ia terlihat keren. Felicia yang melongo karna melihat farrel membuka helm. Farrel: “Kenapa lu liatin gua sampe melongo begitu? Ganteng ya gua?” Ucap farrel sambil terkekeh. Felicia yang geram karna Farrel tiba tiba tengil seperti itu pun reflek mencubit perut cowo itu. Felicia: “Apaan si kepedean banget lu” Farrel yang kesakitan karna dicubit Felicia pun sontak berteriak. Farrel: “Aww.. gila sakit woi lu asal banget cubit cubit gua.” Felicia: “Gausa buang waktu gua, lu kesini mau ngapain?” Farrel: “Sebelumnya kenalin dulu gua Farrel pradipta, cowok keren, rajin, dan pinter terlebih gua ketos jadi siapa sih yang ga kenal gua.” Felicia: “Dih pede abis lu, gua buktinya ga kenal lu.” Felicia yang merasa jijik mendengar perkenalan diri dari farrel. Farrel: “Tujuan gua kesini ga banyak gua Cuma disuruh bu Sari karna lu alfa di mata pelajaran dia dan lu juga kan yang kabur dari sekolah?” Felicia: “Terus? Lu kesini Cuma buat mau tau itu doang? Se penting itu kah?” Farrel: “Lu ngatain gua aneh tapi lu yang aneh sih, tinggal jawab doang.” Felicia: “Gua sakit, puas?” Ucap Felicia yang berbohong, padahal ia emang malas sekolah. Farrel: “Sakit? Ini yang Namanya sakit keluar malem malem? Lagian lu bisa ijin sakit gausa alay sakit sampe gabisa ijin emangnya? Orang tua lu juga ada mereka bisa ijinin lu kan? Biar ga ribet gua kesini karna disuruh bu Sari karna lu alfa.” Felicia: “Udah? Ga penting banget.”
Farrel: “Serah lu sih biar orang tua lu di panggil ke sekolah” Felicia: “Dipikir mereka peduli?” Ucap Felicia yang kesal kalo sudah membahas kedua orang tuanya. Farrel: “Yaudah kalo mau lu nyusahin kedua orang tua lu karna tingkah laku lu yang bikin orang tua lu dipanggil kesekolah” Ucap farrel yang rada jengkel. Setelah itu farrel meninggalkan Felicia yang sedang berdiri di depan apart, Felicia yang menatap farrel yang lama kelamaan makin menjauh dari dirinya sambil berfikir tentang omongan farrel yang menyebut orang tuanya akan di panggil ke sekolah. Felicia: “Kalo meraka benar dipanggil ke sekolah apa mereka peduli? Apa mereka akan datang ke sekolah?” Ucapnya dalam hati. Felicia yang pikirannya kacau karna memikirkan keluarga yang tidak peduli dengannya, sekolah yang menurutnya sekarang tidak penting, Felicia pun menangkan pikirannya dengan mabok dan merokok lagi dan lagi. Tentu saja ini bukan diri Felicia yang dulu gadis rajin, pintar, ramah yang selalu ceria menjadi gadis yang tidak tahu arah, bahkan sering kali melukai dirinya sendiri, mabok dan merokok sudah hal biasa baginya. Semakin hari Felicia jadi jarang masuk sekolah, tidak ada kabar, bahkan tidak pernah keliatan di sekitar sekolah, biasanya ia walaupun malas untuk bersekolah ia tetap masuk sekolah untuk sekedar absen. Adegan 3 Sudah mendekati hari ujian sekolah Felicia belum ada kabar, dan belum masuk sekolah, guru guru pun mulai menghubungi Felicia dan Keluarganya. Teman teman nya pun khawatir akan terjadi hal hal aneh kepadanya.
Asya: “Cia kenapa sih lu kalo ada masalah ga pernah cerita, gua jadi bingung gini.” Ucap asya dalam hati. Asya khawatir dengan keadaan Felicia yang tidak ada kabar, terlebih banyak orang yang kenal Felicia yang akhir akhir ini suka mabok. Asya yang meniatkan diri untuk ke tempat Felicia mabok untuk mencari jawaban. Sesampainya Asya di Bar tersebut Asya langsung bertemu dengan seorang cowok yang menyambutnya dengan senang hati. Benar saja ia adalah Genta teman lama Felicia sekaligus Bar tender di tempat tersebut. Genta: “Halo selamat siang, Ada yang bisa saya bantu? Atau mau pesan menu?” Sapa Genta. Asya: “Siang, gua kesini Cuma pengen cari tau sama nanya nanya ajasi, Disini bener tempat Felicia sering mabok? Sebelumnya kenalin dulu gua Asya temen sekolah Felicia” Genta: “Oh Cia, kenapa dia? Bolos sekolah lagi?” Asya: “Iya dia akhir ini ga ada kabar dan ga masuk sekola padahal sebentar lagi bakal ada ujian.” Ucap Asya. Genta: “Oh gitu yauda sini duduk dulu, Cia bener bener sering ya ga masuk sekolahnya? Biasanya dia pulang sekolah emang sering mampir kesini tapi akhir akhir ini dia jarang kesini.” Asya: “Cia ada masalah apa ya? Dia keliatan murung ga ada semangat hidup banget di liat liat, gua takut dia ada masalah tapi dia pendem semua itu sendiri.” Ucap Asya yang khawatir. Genta: “Cia emang punya banyak masalah sya terlebih orang tuanya ga peduliin dia sama sekali, semenjak neneknya meninggal pun dia jadi orang yang ga bener, ga baner dalam artian ya dia suka mabok, ngerokok, ngelukain diri sendiri, hal yang dia gasuka dulu jadi dia lakuin sekarang ini.” Asya: “Kok lu tau semua gitu? Gua temen sekolah, sekelas, sebangku pun aja gatau soal itu.” Genta: “Gua genta temen lama Felicia makanya gua tau dia gimana.” Ucap genta yang lupa memperkenalkan dirinya. Asya: “Oh lu temen lamanya Felicia, Btw makasih ya infonya.”
Genta: “Sama sama, lu mau pesen minum dulu?.” Asya: “Ngga deh makasih gen, gua mau langsung ke apart Felicia untuk cek dia baik baik aja.” Kata asya yang segera beranjak pergi. Genta: “Mau dianter?” Asya: “Gausa ngerepotin aja nanti jadinya, lu kan juga lagi kerja.” Genta: “Okay sya hati hati ya.” Asya yang menjawabnya dengan melambaikan tangan, dan segera pergi dari tempat tersebut. Asya yang menunggu ojek online, dan langsung menuju apart Felicia. Sesampainya Asya di depan apart Felicia ia langsung menuju ke unit yang di tempati oleh Felicia. Sesampainya di depan pintu Asya langsung membunyikan bel unit apart Felicia. Setelah beberapa saat baru pintu itu di bukakan oleh Felicia. Felica: “ ngapain kesini?” tanyanya dengan tangan menyilang. Asya: “hmm anu gua kesini karna...” sebelum menyelesaikan omongannya Felicia sudah memotong omongannya duluan. Felicia: “masuk!” ucapnya dengan nada yang sedikit sinis Asya pun masuk kedalam apartemen Felica. Asya sedikit terkejut dengan apartemen Felicia yang sedikit berantakan tidak seperti kamar seorang gadis pada umumnya. Felicia: “mau ngapain lu kesini? Kalo cuma buat liat liat doang mending balik” ucapnya yang membuarkan lampunan Asya.
Asya: “ jadi gini cia gua kesini tuh pengen liat kondisi lu aja sih, lu ga masuk sekolah berhari hari gua takutnya lu kenapa kenapa doang si” ucap Asya yang mencoba mengasih penjelasan ke Felicia. Felica: “seperti yang lu liat, gua gapapa dan gua sehat walafiat. Jadi kalo lu ga punya kepentingan lain mending balik sana lah” jelas Felicia tegas sambil menyuruhnya untuk pergi dari apartemennya itu. Asya: “terus kalo lu sehat kenapa ga masuk cia?” tanyanya Felicia: “gausah kepo deh lu jadi orang, gaada urusannya juga kan sama lu?” ucap Felicia dengan nada suara yang rada tinggi. Asya: “ada urusannya sama gua. Guru guru tuh selalu nanyain lu ke gua tau ga. Bisa ga si lu sehari aja ga bikin masalah disekolah. Kasian orangtua lu tau ga” ucapnya Felicia: “yaudah sih bilang aja gua sakit ke atau alfain aja udah, ribet amat. Dan untuk orangtua gua, mereka aja ga peduli sama gua, jadi ngapain gua kasian sama dia” ucapnya dengan nada ketus. Asya: “emang gampang banget ya mulut lu itu kalo ngomong. Dan orangtua lu itu sibuk, lu aja ga bisa ngertiin mereka. Lu nya aja yang selalu bilang mereka ga peduli. Mereka tuh peduli sama lu, cuma mereka ga tau cara nya buat nunjukkinnya” ucap Asya Felica: “lu jangan sok tau deh tentang gua, tentang keluarga gua. Lu tuh ga tau apa apa tau ga. Lu tuh cuma orang sok tau yang tiba tiba datang ke hidup gua. Dan daripada lu disini cuma buat ngasih ceramah gua doang lu pergi deh!” ucap Felicia sambil mengusir Asya pergi. Karena Asya merasa percuma juga ngasih tau ke Felicia, ia memutuskan untuk pergi dari apartemen Felicia saat itu juga. Setelah pergi nya Asya dari apartemennya itu Felicia terbayang apa yang dikatakan oleh Asya. Lalu Felicia Flashback ke kehidupannya Ketika masih kecil. Dimana dia yang selalu di titipkan ke neneknya Ketika kedua orang tuanya kerja, namun Ketika hari libur hari hari nya hanya di isi dengan pertengkaran kedua orangtuanya itu saja. Dirinya yang selalu bermain sendiri dan hanya Genta saja dulu yang menemaninya namun sejak Genta lulus sekolah dan harus masuk dunia perkuliahan dan kerja yang membuatnya sudah tidak ada waktu untuk menemaninya. Dan saat orangtuanya memutuskan untuk bercerai
dan menyuruhnya untuk memilih antara tinggal dengan ibunya atau ayahnya itu. Dan di saat neneknya meninggal dan ia seorang diri. Felicia langsung berpikir betapa sepinya hidupnya itu. Ia berpikir bahwa jika ia meninggal pun tidak akan ada yang merasa kehilangannya tidak akan ada yang peduli dengan bagaimana ia meninggal. Apakah ia mengakhir dirinya atau apa karna ia sakit. Keesokan harinya Felicia memutuskan untuk pergi ke sekolah. Bukan karna Asya datang ke apartemennya, hanya saja ia terlalu bosen untuk berdiam diri di apartemennya itu. Sesampainya di sekolah ia hanya tertidur dibangku nya tidak ada niatan untuk belajar. Ia tertidur sampai jam istirahat. Sesampai bel masuk istirahat. Ia memutuskan untuk pergi ke rooftop sekolah hanya untuk berdiam diri mencari udara. Ferrel: “ngapain disini, udah jam pelajaran juga masih aja disini” ucapnya sambil berjalan menghampiri Felicia. Felicia: “ ngapain kek. Lu sendiri ngapain kesini? Katannya anak pinter nan rajin tapi ko bolos ke sini” Ferrel: “gua kesini karna mau lagi mau patroli aja takutnya anak kaya lu pada bolos, terus pas gua kesini kebetulan ketemu lu” ucapnya sambil mencoba menjelaskan Falicia tidak menanggapi penjelasannya dari Farrel ia hanya berdiam tidak ingin tau. Terjadi keheningan selama beberapa menit di atas rooftop tersebut. Farrel yang sudah duduk di samping Felicia pun membuka obrolan. Farrel: “lu ini kenapa sih? Lu ga mau mencoba memperbaikin hidup lu itu? Hidup lu itu masih panjang Cia jangan di sia siain” ucapnya mencoba membuka obrolan dengan Felicia.
Felicia: “lu tuh ga tau apapun tentang gua. Hidup gua udah hancur, gaada lagi yang bisa di perbaikin lagi. Lagian kenapa sih semua orang sibuk aja ngurusin hidup gua” ucapnya dengan kesal Farrel: “ mereka tuh peduli sama lu, jadi stop ngerasa kalo diri lu ga di peduliin sama semua orang” ucapnya dengan nada yang cukup alus Felicia tidak menanggapi pernyataan itu. Ia hanya terdiam sambil memikir apa yang di katakan Farrel. Karena merasa sudah tidak ada lagi yang bisa ia katanya Farrel memutuskan untuk pergi meninggal Felicia sendirian di rooftop, namun Ketika beranjak pergi Felicia mengatakan sesuatu. Felica: “mereka tuh ga bener bener peduli sama gua, mereka tuh cuma pengen tau doang, mereka tuh cuma penasaran doang, toh kalo seandainya gua bunuh diri pun gua rasa mereka ga peduli” ucapnya Felicia: “ lah lah lagia lu ga peduli juga kan. Bye gua mau cabut” ucap Felicia meningggalkan Farrel yang mencoba mencerna kata kata Felica barusan Adegan 4 Felicia memutuskan untuk bolos sekolah dan pergi ke bar yang biasa ia datangin. Felicia disana sudah berjam jam. Karena kepala nya sudah pusing karena alcohol yang ia minum itu, ia memutuskan untuk pulang di apartemennya. Sesampainya apartemennya ia bergegas mandi. Selesainya ia mandi ia hanya diam di depan balkonnya dengan kepala yang berisik dan ia flashback ke masa lalunya. Ntah apa yang Felicia pikirkan saat itu. Karena sudah banyaknya masalah yang ia hadapi ia metuskan untuk bunuh diri dengan melompat dari balkon unit apartemennya itu.
Setahun setelahnya… Di depan makam Felicia terduduk seorang lelaki dengan membawa buket bunga. Farrel. Iya dia yang disana. Semenjak setahun kepergian Felicia ia selalu menyempatkan diri nya untuk berkunjung kesana, ntah untuk menanyakan kabar Felicia di atas sana atau bercerita random bagaimana hidupnya itu. Farrel: “hai. Gimana disana? Enak ya, jadi udah ga punya beban lagi ya? Gua kangun Ci, saat lu bilang gua ga peduli lu meninggal itu salah Ci. Gua peduli sama lu, gua saying sama lu. Gua pengen lu tetep disini terus. Bahagia disana ya ci” ucapnya sambil mengelus batu nisan Felicia. End