The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

RINGKASAN EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF PENYAKIT POTENSIAL KLB

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Surveilans dan Imunisasi Dinkes BKS, 2024-01-20 07:30:52

EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF

RINGKASAN EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF PENYAKIT POTENSIAL KLB

Keywords: PENYAKIT POTENSIAL KLB

RINGKASAN SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DINAS KESEHATAN KABUPATEN BENGKALIS TAHUN 2021 S.D 2022 PENDAHULUAN Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditandai demam 2 – 7 hari disertai dengan manifestasi perdarahan, penurunan trombosit (trombositopenia), adanya hemokonsentrasi yang ditandai kebocoran plasma (peningkatan hemotokrit, asites, efusi pleura, hypoalbuminemia). Dapat disertai gejala-gejala tidak khas seperti nyeri otot dan tulang, ruam kulit atau nyeri belakang bola mata. (Kemenkes R1, 2017). DBD merupakan penyakit endemis di Indonesia. DBD pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1970 selanjutnya penyakit DBD sudah menyebar ke seluruh Indonesia, dengan kejadian yang fluktuatif setiap tahunnya dan cenderung meningkat. Tahun 2022 jumlah kasus DBD mencapai 131.265. 40% penderitanya pada anak-anak (0- 14 Tahun), kematian akibat DBD 1.135 Orang, 73% kematian pada ana-anak (Kemenkes, 2023). Di Indonesia kasus DBD berfluktuasi setiap tahunnya dan cenderung semakin meningkat angka kesakitannya dan sebaran wilayah yang terjangkit semakin luas. Pada tahun 2022 jumlah kasus DBD mencapai 131.265 kasus yang mana sekitar 40% adalah anak-anak usia 0-14 tahun. Sementara jumlah kematiannya mencapai 1.135 kasus dengan 73% terjadi pada anak usia 0-14 tahun. (Kemenkes. 2023). Di Provinsi Riau jumlah penderita DBD terus selalu ada, hingga tahun 2022 tercatat 2.102 kasus. Dengan kematian 14 orang. Di provinsi Riau terdiri dari 12 Kabupaten/Kota dan Kabupaten Bengkalis satu diantara yang juga ditemukan kasus DBD di setiap tahunnya, wilayah Kabupaten ini mencakup daratan bagaian Timur Pulau Sumatra dan wilayah kepulauan yang terpisah dari pulau Sumatra serta terdiri dari dua pulau yakni Pulau Rupat dan Pulau Bengkalis, dengan luas wilayah 6.973,00 km² dan jumlah penduduk


sebanyak 593.397 jiwa Kasus. Di Kabupaten Bengkalis DBD dengan jumlah yang fluktuatif dengan rincian kasus tahun 2018 sebanya 86 kasus tidak ada kematian, pada tahun 2019 sebanyak 1.124 kasus dengan kematian 8 orang, pada tahun 2020 sebanyak 549 kasus dengan kematian 3 orang, tahun 2021 sebnayak 37 kasus tidak ada kematian dan tahun 2022 sebnayak 135 kasus dengan kematian 1 orang. (Dinkes Bengkalis, 2022). Berbagai upaya kegiatan pengendalian DBD yang efektif dan efisien yang dapat menurunkan kator risiko penyakit DBD pada saat ini, kegiatan pokok pengendalian DBD untuk mencapai tujuan pengendalian DBD diantaranya: Surveilans epidemilogi, penemuan dan tatalaksana kasus, pengendalian vector, peningkatan peran serta masyarakat, penyuluhan, penelitian dan survey, pembanguanan sumberdaya, kemitraan dan sistem kewaspadaan dini (SKD) dan penanggulanga KLB. Dengan memperhatikan pola penyakit DBD di Kabupaten Bengkalis yang merupakan daerah endemis, maka pelaksanaan sistem surveilans epidemiologi DBD sebagai upaya pengendalian penyakit DBD penting untuk dilaksanakan. Surveilans merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan pengelolaan data dan informasi kesehatan, agar tersedia data dan informasi secara teratur, berkesinambungan, dan valid sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan dalam upaya kesehatan. Secara garis besar terdapat empat tujuan umum surveilans yaitu untuk membuktikan status bebas penyakit, untuk deteksi dini kejadian penyakit, untuk mengukur penyebaran penyakit, atau untuk menemukan kasus penyakit. Penyelenggaraan surveilans dilakukan melalui kegiatan pengumpulan data, setelah dilakukan pengumpulan data selanjutnya dilakukan kegiatan pengolahan data, data yang telah diolah kemudian dianalisis, dan dari hasil analisis data tersebut kemudian dilakukan desiminasi data. Keempat kegiatan tersebuat merupakan satu kesatuan dari kegiatan surveilans yang tidak terpisahkan untuk menghasilkan informasi yang objektif, terukur, dapat diperbandingkan antar waktu, antar wilayah, dan antar kelompok masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan (Kemenkes RI, 2014). Dengan ini surveilans merupakan salah satu diantara yang memiliki peranan penting dalam penanggulangan kasus DBD. Informasi hasil kegiatan surveilans harus terdokumentasikan dan tersosialisasikan dengan baik. Untuk itu dilakukan analisis sistem


surveilans dan disajikan dalam bentuk ringkasan sistem surveilans DBD. Tulisan ini merupakan ringkasan sistem surveilans DBD di Kabupaten Bengkalis Tahun 2021 s.d 2022. Ini ditulis untuk memenuhi tugas pelatihan epidemiologi lapangan level intermediate 2023. Guna untuk memantau penyakit DBD Surveilans atau sistem pencatatan dan pelaporan pemantauan penyakit memiliki peran penting dalam upaya penurunan kasus DBD. Tidak hanya pencatatan dan pelaporannya saja yang menjadi perhatian namun akan menjadi informasi yang akurat dan bermanfaat apabila dilakukan pengolahan dan Analisa data berdasarkan orang, tempat dan waktu dalam bentuk ringkasan surveilans DBD yang berkesinambungan guna keperluan perencanaan, pencegahan dan pemberantarasan penyakit DBD khususnya di Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis. Berdasarkan gambaran permasalahan tersebut bahwasaanya penting mengetahui gambaran terhadap kejadian penyakit DBD maka dengan ini penulis akan membuat ringkasan surveilans penyakit DBD di Kabupaten Bengkalis tahun 2021 s.d 2022. METODE Ringkasan surveilans ini disajikan dalam bentuk deskriptif tentang kejadian DBD di Dinas Kabupaten Bengkalis Tahun 2021 s.d 2022. Data yang dikumpulkan melalui telusur dokumen, informasi terkait dengan data dimaksud diperoleh dari diskusi dengan pemegang program DBD di Dinas Kesehatan dan 19 Puskesmas di Bengkalis. Informasi yang diperoleh diolah dengan menggunakan perangkat komputer dan disajikan dalam bentuk narasi, table dan gambar yang bertujuan untuk melihat gambaran kasus DBD berdasarkan orang, tempat dan waktu. HASIL Sistem surveilans merupakan salah satu rangkaian kegiatan tentang suatu penyakit yang meliputi proses pengumpulan data, pengolahan dan analisis serta penyebaran informasi. Ringkasan sistem surveilans ini menyajikan informasi tentang DBD di Kabupaten Bengkalis tahun 2021 s.d 2022 Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis dengan wilayah kerja 19 (sembilan belas) Puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bengkalis.


Untuk surveilans DBD kejadian penyakit DBD yang wilayah kerja Puskesmas dilaporkan setiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis. Ringkasan sistem surveilans di Kabupaten Bengkalis ini dirinci menurut variabel orang (person), tempat (pleace) dan waktu (time) adalah sebagai berikut: a. Orang (person) a) Jenis Kelamin Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 1. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kab. Bengkalis menurut Jenis Kelamin penderita. Gambar 1 pada tahun 2021 didapatkan hasil bahwa penderita DBD dengan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi jumlahnya dibandingkan penderita yang berjenis kelamin perempuan, Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas 20 (54%) 17 (46%) LAKI-LAKI PEREMPUAN 77 (57%) 58 (43%) LAKI-LAKI PEREMPUAN


Gambar 2. Jumlah kasus DBD Tahun 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kab. Bengkalis menurut Jenis Kelamin penderita. Gambar 2 pada tahun 2022 didapatkan hasil bahwa pebderita DBD dengan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi jumlahnya dibandingkan penderita yang berjenis kelamin perempuan, b) Umur Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 3. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Umur penderita Gambar 3 pada tahun 2021 bahwa penderita penyakit DBD hampir menginfeksi semua kelompok umur namun tidak ditemukan pada kelompok umur <1 tahun. Kasus DBD tertinggi pada kelpmpok usia anak dan remaja terjadi pada kelompok umur 5 s.d 14 tahun pada tahun. Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas 0 4 (11%) 19 (51%) 11 (30%) 3 (8%) 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 < 1 Tahun 1-4 Tahun 5-14 Tahun 15-44 Tahun > 44 Tahun 0 5 (37%) 75 (56%) 43(32%) 12 (10%) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 < 1 Tahun 1-4 Tahun 5-14 Tahun 15-44 Tahun > 44 Tahun


Gambar 4. Jumlah kasus DBD Tahun 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Umur penderita Gambar 4 pada tahun 2022 dapat dilihat bahwa penderita penyakit DBD hampir menginfeksi semua kelompok umur namun tidak ditemukan pada kelompok umur <1 tahun. Kasus DBD tertinggi pada kelpmpok usia anak dan remaja terjadi pada kelompok umur 5 s.d 14 tahun pada tahun. c) Tingkat Pendidikan Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 5. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Tingkat Pendidikan penderita Gambar 5 tahun 2021 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pederita DBD tertinggi terjadi pada pada kelompok pendidikan Sekolah Dasar (SD), dan penderita DBD terendah pada tingkat pendidikan TK. 0 2 4 6 8 10 12 14 16 BELUM SEKOLAH TK SD SMP SMA PT 4(11%) 2 (5%) 16 (43) 5(14%) 7(19%) 3(8%) 2021 0 10 20 30 40 50 11 (81%) 2(1%) 48(36%) 28(21%) 30(22%) 16(12%) 2022


Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 6. Jumlah kasus DBD Tahun 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Tingkat Pendidikan penderita Gambar 6 tahun 2022 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pederita DBD tertinggi terjadi pada pada kelompok pendidikan Sekolah Dasar (SD), dan penderita DBD terendah pada tingkat pendidikan TK. d) Pekerjaan Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 7. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut jenis Pekerjaan penderita Gambar 7 pada tahun 2021 penderita DBD menurut jenis pekerjaan bahwa sebagian besar DBD menyerang pada kelompok pelajar dan tidak ada kasus pada kelompok pekerjaan sebagai buruh Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 8. Jumlah kasus DBD Tahun 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut jenis Pekerjaan penderita 0 5 10 15 7(20%) 13(35%) 12(32%) 2(5%) 0 1(3%) 2(5%) 0 2021 0 20 40 60 80 20(15%) 80(60%) 12(9%) 8(6%) 6(4%) 4(3%) 4(3%) 1(1%) 2022


Gambar 8 pada tahun 2022 penderita DBD menurut jenis pekerjaan bahwa sebagian besar DBD menyerang pada kelompok pelajar dan terendah pada jenis pekerjaan sebagai buruh. b. Tempat (place) 1. Insiden Rate (IR) dan Case Fartality Rate (CFR) Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 9. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Insiden rate (IR) dan Case Fartality Rate (CFR) Gambar 9 tahun 2021 dilaporkan sebanyak 37 orang penderita DBD dengan Inciden rate tertinggi pada UPT Puskesmas Sadar Jaya 38 per 100.000 penduduk dan beberapa puskesmas yang tidak ada didapatkan kasus DBD yakni UPT Puskesmas Pematang Duku, Pambang Lubuk Muda, Muara Basung, Batu Panjang dan Tanjung Medang. Pada tahun 2021 tidak ada kasus kematian. Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 10. Jumlah kasus DBD Tahun 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut Insiden rate (IR) dan Case Fartality Rate (CFR) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 BENG KALIS MESK OM PEMA TANG DUKU SELA T BARU PAMB ANG SUNG AI PAKNI NG TENG GAYU N LUBU K MUDA SADA R JAYA SEBA NGAR BALAI MAKA M DURI KOTA PEMA TANG PUDU MUAR A BASU NG PING GIR SERAI WAN GI BATU PANJ ANG TELU K LECA H TANJ UNG MEDA NG IR 12 0 0 14 0 19 6 0 38 3 5 3 7 0 12 4 0 10 0 CFR 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 BENG KALIS MESK OM PEMA TANG DUKU SELAT BARU PAMB ANG SUNG AI PAKNI NG TENG GAYU N LUBUK MUDA SADA R JAYA SEBAN GAR BALAI MAKA M DURI KOTA PEMA TANG PUDU MUAR A BASU NG PINGG IR SERAI WANGI BATU PANJA NG TELUK LECAH TANJU NG MEDA NG IR 10 0 0 14 14 28 18 105 17 10 15 31 69 7 22 27 5 0 6 CFR 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 16,7 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0 20 40 60 80 100 120


Gambar 10 tahun 2022 dilaporkan sebanyak 135 orang penderita DBD terjadi peningkatan kasus hampir 4 kali lipat dari tahun sebelumnya dengan Inciden rate tertinggi pada UPT Puskesmas Lubuk Muda 105 per 100.000 penduduk dengan angka CFR tertinggi pada UPT Puskesmas Sungai Pakning 16,7. Kasus DBD hampir menyebar di setiap UPT Puskesmas yang ada namun ada beberapa puskesmas yang tidak ada didapatkan kasus DBD yakni UPT Puskesmas Pematang Duku, Meskom dan Teluk Lecah. 2. Tempat Tinggal Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 11. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 s.d 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut tempat tinggal penderita Gambar 11 dapat dilihat bahwasannya pada tahun 2021 s.d 2022 penderita DBD lebih banyak menyerang pada daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan dengan total jumlah di perkotaan 124 penderita dibandingkan yang tinggal dipedesaan berjumlah 48 penderita. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 2021 2022 27(73%) 97(72%) 10(27%) 38(28%) KOTA DESA


3. Puskesmas Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 12. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis Menurut Puskesmas Gambar 12 menunjukkan bahwa pada tahun 2021 kasus DBD tertinggi pada UPT Puseksmas Bengkalis, sebnayak 8 kasus dan tidak ditemukan kasus dibeberapa UPT Pusekemas yakitu UPT Puskesmas Muara Basung, Batu Panjang, Lubuk Muda, Pambang, Tanjung Medang dan Pematang Duku. Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 13. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis Menurut Puskesmas 8(22%) 5(14%) 4(11%) 4(11%) 4(11%) 3(8%) 3(8%) 2(6%) 1(3%) 1(3%) 1(3%) 1(3%) 0 0 0 0 0 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 37(27%) 26((18%) 15(10%) 9(7%) 9(7%) 8(6%) 6(4%) 6(4%) 4(3%) 4(3%) 3(2%) 2(2%) 2(2%) 2(2%) 1(1%) 1(1%) 0 0 0 0 5 10 15 20 25 30 35 40


Gambar 13 menunjukkan bahwa pada tahun 2022 kasus DBD tertinggi pada UPT Puseksmas Duri Kota sebnayak 37 kasus dan tidak ditemukan kasus dibeberapa UPT Pusekemas yakitu UPT Puskesmas Meskom, Pambang, Prmatang Duku dan Teluk Lecah. 4. Kecamatan Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 14. Jumlah kasus DBD Tahun 2021 s,d 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis Menurut Kecamatan Gambar 14 dilihat selama tahun 2021 s.d 2022 sebaran kasus DBD merata disetiap Kecamatan dengan penderita terbanyak terdapat pada Kecamatan Mandau dan Kecamatan Siak Kecil dengan penderita paling sedikit pada Kecamatan Rupat, melihat peta sebaran pendderita DBD bahwa penderita DBD banyak menjangkit pada daerah Bengkalis daratan (Kec. Siak Kecil, Kec. Mandau, Kec. Bathin Solapan, Kec. Pinggir, Kec. Talang Muandau, Kec.Bandar Laksamana dan Kec. Bukit Batu) dibandingkan dengan Bengkalis Kepulauan (Kec. Bengkalis, Kec. Bantan, Kec. Rupat dan Kec. Rupat Utara).


c. Waktu (time) 1. Pola Maksimum dan Minimum Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas Gambar 15. Jumlah kasus DBD Tahun 2019 s.d 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut pola Maksimum dan Minumum Gambar 15 dapat dilihat bahwa pola kasus kejadian DBD tahun 2019 s.d 2021 di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis menunjukkan hasil yang fluktuatif dan terjadi kenaiakan kasus pada bulan Juni, Oktober dan November. Sumber data: Laporan Bulanan/Tahunan Puskesmas 7 4 2 6 4 0 0 3 0 1 1 5 137 89 92 54 61 52 156 142 117 147 196 133 7 4 2 6 4 0 0 3 0 1 5 5 0 50 100 150 200 250 JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGUST SEP OKT NOP DES Minimum Maksimum Tahun 2021 7 4 2 6 4 0 0 3 0 1 1 5 137 89 92 54 61 48 27 19 3 1 5 17 3 4 4 4 3 7 11 18 18 22 24 15 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Minimum Maksimum Tahun 2022


Gambar 16. Jumlah kasus DBD Tahun 2020 s.d 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehaan Kab. Bengkalis menurut pola Maksimum dan Minumum Gambar 16 dapat dilihat bahwa pola kasus kejadian DBD tahun 2020 s.d 2022 di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis menunjukkan hasil yang fluktuatif, dan meningkat pada bulan Juli s.d November. PEMBAHASAN a. Orang (person) Pada kelompok jenis kelamin menunjuukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan pernah menjadi kelompok yang terkena kasus DBD, pada tahun 2021 s.d 2022 di Kabupaten Bengkalis berdasarkan jenis kelamin pada laki-laki lebih banyak penderitanya dibandingkan pada perempuan, yaitu pada tahun 2021 laki-laki berjumlah 54% sedangkan perempuan sebanyak 46 % begitu juga pada tahun 2022 laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan yang berjumlah 57% sedangkan perempuan berjumlah 43%. Menurut penelitian Hermawan dalam Rahmasari (2020), hal yang menyebabkan laki-laki lebih rentan terkena infeksi virus dengue adalah karena laki-laki kurang efesiensi dalam memproduksi immunoglobulin dan antibody sebagai sistem pertahanan tubuh dalam melawan infeksi pada perempuan. Penyebaran infeksi DBD tidak terfokus pada jenis kelamin dalam artian semua jenis kelamin memiliki peluang terkena gigitan nyamuk yang membawa virus DBD. Sehingga laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk terkena penyakit DBD, karena laki-laki maupun perempuan rata-rata memiliki tempat beraktifitas yang hampir sama seperti misalnya rumah apabila sedang tidak bekerja. Selai itu nyamuk Aedes sebagai vector penyakit DBD tidak memiliki karakter atau kecendrungan untuk lebih sering mengigit orang berjenis kelamin perempuan atau laki-laki. Namun jika dilihat sistem imum laki-laki dan perempuan Ketika memasuki masa reproduksi mengalami perbedaan hal itu terjadi karena hormon yang muncil pada perempuan adalah hormon Strogen yang dapat mempengaruhi sintesis IgG dan IgA menjadi banyak. Peningkatan produksi IgG dan IgA menjadi banyak, peningkatan IgG dan IgA ini yang menyebabkan perempuan lebih kebal terhadap infeksi virus. Penyakit DBD dapat menyerang baik anak-anak, orang dewasa, dan lansia. Data distribusi kelompok umur menunjukkan bahwa hampir semua kategori umur


memiliki risiko untuk terkena penyakit DBD, namun lebih banyak terjadi pada umur produktif. Tahun 2021 s.d 2022 kecendrungan penderita DBD dialami pada kelompok umur 5-14 tahun dan 15-44 tahun. Pada usia tersebut merupakan kelompok umur yang rentan terinfeksi virus aDBD karena pada umur tersebut memiliki tingkat mobilitas yang tinggi dibandingkan kelompok umur lainnya. Anak-anak merupakan golongan umur yang paling rentan untuk terserang DBD. pada umur (5 -14 tahun) merupakan kelompok umur yang paling banyak terkena DBD. Kepekaan anak-anak terhadap gigitan nyamuk juga masih kurang karena Ketika bermain anak-anak cendrung bergerak aktif sehingga gigitan nyamuk sering terabaikan, kemudian demam pada anak umumnya baru diketahui ketika berinteraksi dengan orang tuanya, sehingga sering kali demam pada anak tidak dapat dideteksi secara dini. Penelitian Novrita dalam Melissa (2019) menjelaskan adanya asosiasi antara umur dengan kejadian DBD karena faktor imunitas. Bahwa setiap gologan umur memiliki tingkat risiko masing-masing dan dapat mempengaruhi terjadinya penularan penyakit dan didaptkan hasil bahwa golongan umur kurang dari 15 tahun memiliki peluang yang lebih besar untuk terkena DBD karena vaktor imun. Respon imun dengan spesifitas dan memori imunologik yang ada pada kelenjar limfe dan sel dendrit belum sempurna, selain itu, fungsi makrofag dan pembentukan antibodi spesifik terhadap antigen tertentu masih minim menyebabkan sekresi sitokin oleh makrofag akibat infeksi virus kurang yang menyebabkan kurangnya produksi interferon (IFN) yang berfungsi menghambat replikasi virus dan mencegah menyebarnya infeksi ke sel yang belum terkena. Hal ini menjadi alasan mengapa rendahnya imun tubuh pada anak dibawah umur. Begitu halnya juga dengan pendidikan bahwa usia 4-15 tahun merupakan usia anak pada pendidikan jenjang Sekolah yang telah disebutkan bahwasannya pada masa anak menjadi seorang pelajar aktifitas anak lebih banyak melakukan aktifitas di luar rumah seperti di sekolah. Dengan jam waktu gigitan nyamuk tersebut yang lebih memungkinkan pelajar lebih berisoko dibandingkan pekerjaan laiinya. Sekolah dapat menjadi tempat yang potensial dalam penyebaran dan penularan penyakit DBD pada anak sekolah, sehingga dapat diprediksikan bahwa


penularan DBD kemungkinan banyak terjadi di sekolah, karena nyamuk Aedes Aegypty yang mempunyai kebiasaan menggigit pada pagi hari jam 09.00 – 10.00 dan sore hari antara jam 16.00-17.00. Pada jam tersebut anak sekolah sedang berada di lingkungan sekolah yang memungkinkan anak-anak tergigit oleh nyamuk Aedes Aegypty betina infeksius. Sehingga pada usia anak dan remaja lebih berisiko terserang DBD karena mereka lebih banyak melakukan aktifitas di luar rumah (Widoyono dalam Hermawan, 2018). Pada data distribusi pekerjan bahwa pekerjaan yang banyak terinfeksi virus DBD dibandingkan pekarjaan yang lainnya yakni sebagai pelajar, sejalan dengan kelompok umur bahwa pada kelompok pelajar memiliki mobilitas yang lebih tinggi selain aktif pada di sekolah dan di luar sekolah. b. Tempat (pleace) Kabupaten Bengkalis merupakan daerah endemin DBD, penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius, hampir di semua wilayah kerja Puskesmas sudah pernah terjangkit penyakit DBD dengan angka kasus terbanyak terjadi pada tahun 2019 (1124 kasus). Sedangkan dilihat dari angka kematian/case fartality rate akibat dari kejadian penyakit DBD yaitu tertinggi pada taghun 2022 yakni sebesar 0,75% dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini menunkukkan angka tersebut masih dibawah dibandingkan dengan target nasional yakni (< 1% ), bahwa dikatakan kematian akibat DBD dikatakan tinggi jika CFR (>1%), angka CFR tersebut merupakan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tertentu, untuk menentukan kegawatan/keganasan penyakit tersebut, meski demikian walaupun masih di bawah angka nasional hal tersebut bukan berarti tidak menjadi masalah namun harus tetap menjadi waspada dan tetap siaga terhadap ancaman yang terjadi akibat suatu penyakit dan menjadi pertimbangan terhadap prioritas program-program kesehatan. Berdasarkan domisili tempat tinggal daerah perkotaan lebih banyak terjangit DBD dibandingkan dengan yang berdomisili di daerah pedesaan, lokasi tempat tinggal perkotaan dimungkinkan dengan keadaan mobilitas penduduk yang tinggi memudahkan penularan dari satu tempat ke tempat yang lainnya dan biasanya


penyakit menular dimulai dari satu pusat sumber penularan kemudian mengikuti lalu lintas penduduknya. Mobilitas penduduk memiliki pengaruh terhadap risiko infeksi virus dengue. Berdasarkan hasil penelitian Koibur (2021) diperolej hubungan yang signifikan. Selain itu risiko yang diperoleh sebesar 3,2 kali pada penduduk dengan mobilitas padat atau tinggi dibandingkan dengan daerah yang mobilitas penduduknya rendah. Mobilitas penduduk ini dapat dipengaruhi oleh adanya kontak lingkungan secara tidak langsung yang dapat menjadikan infeksi virus dengue lebih mudah terjadi. Pada tahun 2021 s.d 2022 diketahui berdasarkan sebaran kasus DBD terdapat 11 Kecamatan dengan kasus tertinggi yang meliputi sebagian besar daerah Bengkalis daratan yakni Kecamatan Mandau, Bathin Solapan dan Kecamatan Pinggir. Dan tertinggi pada Kecamatan Mandau dimana diketahui bahwa pada wilayah tersebut kepadatan penduduk cederung meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2021 s.d 2022 merupakan wilayah yang dengan jumlah penduduk yang tertinggi di Kabupaten Bengkalis jika di bandingkan dengan kecamatan yang lain/wilayah kerja Puskesmas yang lainnya, karena semakin banyak jumlah penduduk di suatu wilayah akan meningkatkan kemungkinan pajanan DBD pada banyak orang. Jika nyamuk menggigit seorang penderita dalam kondisi viremia maka nyamuk tersebut akan terinfeksi. Virus dengue masuk kedalam tubuh nyamuk akan berkembang biak dalam kurun waktu 8-10 hari dan nyamuk akan menularkan ke orang lain. Selain itu juga daerah tersebut merupakan daerah pusat perdagangan, pusat industri dengan mobilitas penduduk yang padat. Pola maksimum dan minimum suatu penyakit menggambarkan pola penyakit selama beberapa priode waktu. Data pola maksimum dan minimum DBD penyakit diperoleh dari perhitungan kasus DBD terendah dan tertinggi setiap bulan selama 5 tahun terakhir (2018 s.d 2022), kemudian dibuat grafik dan mebandingkan dengan pola DBD tahun 2022. Selain itu pola minimum maksimum kasus DBD digunakan untuk mengetahui pola kejadian kasus/penyakit dan untuk memastikan apakah terjadi peningkatan kasus merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau bukan KL. Berdasarkan Gambar 15 bahwa trend/kecendrungan pola kasus DBD di Kabupaten Bengkalis dari tahun 2018 s.d 2022, menunjukkan kecendrungan


menurun namun terjadi kenaiakn kasus setiap bulan Mei, Juli, Agustus, Oktober dan November. Oleh karena karena itu, pada saat-saat menjelang bulan-bulan tersebut harus waspada agar tidak terjadi outbreakI/Kejadian Luar Biasa (KLB). Berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) DBD dengan pola minimum maksimum, terlihat bahwa jumlah kasus DBD pada tahun 2022 berada dibwah garis maksimum. Dengan demikian kasus DBD di Kabupaten Bengkalis dapat dikatakan dalam kasus aman, namun perlu diwaspadai pada bulan September, Oktober dan November karena cendrung lebih meningkat dari bulan sebelumnya. Meski terlihat trend kenaikan kasus DBD pada bulan-bulan tersebut dari tahun ke tahun selama 5 tahun polanya sama, namun saat ini perlu diwaspadai waktu kapanpun, mengingat saat ini penentuan musim-musim semakin tidak menentu antara musim hujan dan musim kemarau serta polanya semakin tidak beraturan. Berdasarkan priode waktu pada tahun 2022 dapat dilihat kasus DBD meningkat pada bulan Juni s.d November, yakni terjadi peningkatan terus pada setiap bulan tersebut, pada penelitian Purnawinadi dalam Setriawan (2022) penelitian tersebut mengkaji KLB, berdasarkan grafik kurva pandemic memperlihatkan bahwa penularan penyakit DBD meningkat pada bulan Oktober. Jika dilihat dari curah hujan pada bulan tersebut memang measuki musim hujan. Kondisi curah hujan jelas mempengaruhi kehidupan nyamuk, utamanya terkait dengan dapat meningkatkan tempat perindukan. Curah hujan dapat menambah kepadatan nyamuk. Seperti setiap milimeternya dapat menambah kepadatan nyamuk 1 ekor dan juga perubahan iklim dapat memperpanjang masa penularan penyakit yang ditularkan melalui vektor dan mengubah luas geografinya, dengan kemungkinan menyebar ke daerah yang kekebalan populasinya rendah.


KESIMPULAN Berdasarkan hasil ringkasan surveilans, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran kasus penyakit DBD di Kabupaten Bengkalis berdasarkan: 1. Orang a. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan jenis kelamin lebih banyak terjadi pada laki-laki dari pada perempuan, b. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan umur lebih banyak terjadi pada kelompok umur 5 s.d 14 tahun, c. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan tingkat pendidikan lebih banyak terjadi pada kelompok pendidikan Sekolah Dasar (SD), d. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan pekerjaan lebih banyak terjadi pada kelompok pelajar. 2. Tempat a. Kasus DBD pada tahun 2021 berdasarkan nilai IR tertinggi terjadi di Puskesmas Sadar jaya (38 x 100.000) dengan nilai CFR 0 dan pada tahun 2022 nilai IR tertinggi di Puseksmas Lubuk Muda (105x100.000) dengan CFR tertinggi di Puskesmas Sungai Pakning (16,7%), b. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan tempat tinggal lebih banyak terjadi pada daerah perkotaan dari pada pedesaan, c. Kasus DBD pada tahun 2021 tertinggi terjadi di Puskesmas Bengkalis dan pada tahun 2022 tertinggi terjadi di Puskesmas Duri Kota, d. Kasus DBD pada tahun 2021 s.d 2022 berdasarkan kecamatan banyak terjadi pada daerah bengkalis daratan (Siak Kecil, Mandau, Bathin Solapan, Pinggir, Talang Muandau dan Bukit Batu) dibandingkan Bengkalis Kepulauan, 3. Waktu a. Kasus DBD pada tahun 2021 terjadi peningkatan dibulan Juni, Oktober dan November dengan puncak kasus tertinggi dibulan November,


b. Kasus DBD pada tahun 2022 terjadi peningkatan dibulan Juli s.d November, dengan puncak kasus tertinggi dibulan November. REKOMENDASI Berdasarkan kesimpulan yang ada, adapaun beberapa yang menjadi rekomendasi yang dapat diberikan sebagai berikut: 1. Orang a. Perlu adanya kesadaran orang tua akan pentingnya kebersihan lingkungan rumah serta tindakan untuk mencegah terjadinya DBD dan memberikan perlindungan kepada anaknya untuk menggunakan lotion anti nyamuk dan mnggunakan pakaian yang panjang saat kesekolah maupun berada di luar rumah. b. Melakukan gotong royong secara rutin di lingkungan sekolah minimal 1 x seminggu ,agar kebersihan tetap terjaga, gerakan menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk serta membuang sampah pada tempatnya dan mengubur barang-barang bekas, menunjuk juru pemantau jentik (jumantik) dari siswa/i. 2. Tempat Masyarakat untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya, menerapkan gaya hidup yang sehat, sering melakukan kegiatan 4M plus secara tepat dan teratur dan diharapkan untuk meningkatkan pemberian abate sebagai salah satu kegiatan PSN dan pencegahan DBD terutama masyarakat yang sumber utama airnya berasar dari air hujan, lebih memperhatikan tempat-tempat penampungan air hujan. 3. Waktu Kesiapsiagaan untuk waspada peningkatan kasus dibulan juni s.d November untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat dan menerapkan 4M plus dan PSN. Membasmi tempat perkembangan-biakan nyamuk. Sehingga dapat mengurangi kejadian DBD dilingkungannya.


4. Kepada tenaga kesehatan dan petugas surveilans DBD di Kabupaten Bengkalis agar dapat melakukan kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD guna mencegah terjadinya penularan dengan melakukan/membuat ringkasan surveilans secara berkesinambungan dan berkelanjutan. REFERENSI CLC. 2023. Kumpulan Materi Kelas Luring Tahap 1. BPPK Ciloto Hermawan, B., 2018. Hubungan Antara Jenis Kelamin dan Usia dengan kejadian Dengue Syok Syndrom pada Anaka di Ponorogo. Jurnal, Surakarta: Universitas Muhamadyah Surakarta. Jefry, Koibur., 2021. Lingkungan Tempat tinggal Sebagai Faktor Risiko Infeksi B=Virus Dengue pada Anak-Anak. Jurnal, Bali, Universitas Udayana Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Data Kasus Terbaru di Indonesia .Jakarta. wabsite Kementrian Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Riskesdas 2018. Jakarta. Litbangkes Kementrian Kesehatan. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Ditjen P2P 2017. Jakarta. Kementrian Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta. Kementrian Kesehatan. Melissa, G. 2019. Faktor Risiko Terjadinya Demam Berdarah Dengue Pada Anak. Jurnal, Manado: Universitas Sam Ratulangi Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis Tahun 2022 Panduan Praktek Lapangan., (2023). Pelatihan Epidemiologi Lapangan Level Intermediate 2023. FETP CLC BPPK Ciloto Sutriyawan A, DKK. 2022. Gambaran Epidemiologi dan Kecendrungan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung, Jurnal. Univ. Muhammadiyah Mataram. Sutriyawan A, DKK. 2022. Analisa Sistem Surveilans Epidemiologi Demam Berdarah Dengue Studi Mixed Metod, Jurnal. Bandung


Click to View FlipBook Version