3.1.a.10. Aksi Nyata
Pengambilan Keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran
Demontrasi Kontekstual menjadi awal aksi nyata modul 3.1. Dalam
modul yang mempelajari tentang Pengambilan Keputusan sebagai
Pemimpin Pembelajaran ini, Calon Guru Penggeraknya (CGP)
diminta membuat portofolio aksi nyata. Portofolio yang disusun
menggunakan metode refleksi 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan,
Pembelajaran, dan Perubahan.
Berdasarkan rancangan yang telah dibuat, saya pun melakukan
serangkaian aksi nyata. Aksi nyata tersebut adalah sebagai berikut:
Peristiwa
Pengambilan keputusan menjadi salah satu bagian tak terpisahkan
dari keberadaan SD Negeri 01 Karanganyar. Bukan saja dilakukan oleh
kepala sekolah, melainkan juga warga sekolah lain. Termasuk salah
satunya adalah guru.
Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada guru yang belum memahami
perbedaan antara bujukan moral dengan dilema etika. Selain itu, masih
banyak juga yang belum memahami tentang langkah-langkah tepat
mengambil keputusan. Tidak jarang beberapa keputusan yang diambil
belum tepat. Oleh karena itu, memerlukan upaya untuk meningkatkan
pemahaman warga sekolah terkait pengambilan keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran.
Berangkat dari kondisi tersebut, saya pun berusaha menyusun
langkah-langkah strategis. Langkah-langkah tersebut tertuang
dalam rancangan tindakan aksi nyata.
Pertama,
koordinasi dengan kepala sekolah. Saya melakukan aksi nyata
ini sebagai bentuk tugas dan tanggung jawab bawahan terhadap
atasan. Selain itu juga untuk mendapatkan dukungan dalam
pelaksanaan. Hasil dari aksi nyata tersebut adalah adanya
dukungan dari Kepala Sekolah untuk melaksanakan rangkaian
aksi nyata pengambilan keputusan.
Kedua,
mensosialisasikan dan menyusun rencana aksi. Bagaimanapun
juga penyusunan rencana yang baik adalah langkah awal yang
baik pelaksanaan kegiatan. Hal ini penting untuk menjamin
kegiatan berjalan dengan baik. Hasil aksi nyata ini adalah
tersusunnya rencana aksi pengambilan keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran
Ketiga,
melakukan analisis kasus terkini di sekolah. Langkah ini untuk
menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan. Hal ini
mengingat pemahaman terkait hal ini masih membutuhkan
penguatan secara langsung di sekolah. Hasil dari aksi ini adalah
tersusunnya analisis kasus yang terjadi di sekolah.
Keempat,
menyusun materi sosialisasi. Ini akan saya lakukan untuk
menyiapkan bahan sosialisasi. Materi yang saya buat merupakan
ringkasan materi modul 1.3. Saya akan melakukan beberapa
perubahan terutama pada studi kasus. Studi kasus dalam materi
akan saya sesuaikan dengan kasus nyata yang ada di sekolah.
Tujuannya adalah agar materi lebih dekat dan memberikan
kemudahan kepada sejawat untuk menjalani proses belajarnya.
Hasil aksi ini adalah tersusunnya materi sosialisasi terkait
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Kelima,
melakukan sharing pengetahuan melalui kombinasi daring
dan luring. Sebagai langkah pertama, saya akan melakukan
sosialisasi materi secara daring. Langkah ini saya ambil
dengan memanfaatkan grup WA sekolah seperti yang telah
saya lakukan sebelumnya. Hasil dari langkah ini adalah
adanya pemahaman awal sejawat terkait pengambilan
keputusan berbasis dilema etika.
Setelah itu, saya akan melakukan sharing pengetahuan
secara luring. Saya akan melakukan sharing pengetahuan
di KKG tingkat sekolah. Tujuannya adalah untuk
memudahkan koordinasi dengan sejawat sekaligus
menyesuaikan dengan standar protokol kesehatan.
Hasil aksi nyata ini adalah meningkatnya pemahaman dan
keterampilan sejawat dalam pengambilan keputusan
Keenam,
melakukan pertemuan evaluasi. Saya akan melakukan ini pada
akhir kegiatan. Kegiatan berupa pertemuan dengan menggunakan
lembar evaluasi. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana
penerapan pengambilan keputusan oleh sejawat. Termasuk di
dalamnya adalah kendala yang ada. Hasil kegiatan ini adalah
terpetakannya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga
sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan
keputusan
PERASAAN
Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1. Pengambilan
Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran awalnya
merasa akan mengalami kesulitan. Terutama dalam
membuka komunikasi awal terkait pelaksanaan kegiatan.
Namun, berkat kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana
dengan baik. Saat pelaksanaan perasaan lebih lega dan
tenang..
Hal ini karena kegiatan terlaksana sesuai rencana yaitu
kolaborasi atau bersamaan dengan kegiatan lain sejenis
yang dilaksanakan sejawat untuk efektivitas waktu.
Demikian halnya setelah aksi nyata selesai. Perasaan
bahagia sekaligus tertantang menjaga dan
meningkatkan pemahaman diri dan sejawat terkait
pengambilan keputusan.
PEMBELAJARAN
Banyak pembelajaran baru dalam perubahan yang telah
dilakukan. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri
maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri
sendiri, yaitu bahwa awal baik bagi sebuah perubahan adalah
kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang
menyamakan persepsi dalam menyusun langkah perubahan.
Pembelajaran baik lainnya, yaitu terkait kendala dari rencana
yang telah disusun.
Kendala membuat rencana berubah. Oleh karena itu,
penting adanya menyiapkan strategi alternatif dalam
implementasi aksi nyata. Pembelajaran dari orang lain
terutama terkait dengan pentingnya dukungan dari
sejawat.
PERUBAHAN
Perubahan nyata dalam diri, yaitu adanya tekad
menguatkan kolaborasi sebagai bentuk dukungan dari dan
terhadap sejawat. Hal ini penting kaitannya dengan
implementasi aksi perubahan ke depannya. Selain itu,
rasa optimis yang meningkat terutama terkait kompetensi
diri dalam pengambilan keputusan.
Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan
yang diambil ke depannya terkait peran sebagai
pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya, yaitu
semakin meningkatnya komitmen diri untuk
melakukan perubahan ke arah kebaikan di sekolah.
Demikian aksi nyata modul 3.1. Pengambilan
Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran ini
disusun. Ada harapan hal-hal kecil yang dilakukan
dapat membawa ke perubahan besar yang lebih baik
ke depannya.