The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ary Rustandi, 2022-05-29 23:48:14

E-Catalog - SelainSeliyan_2

E-Catalog - SelainSeliyan_2

Galeri Ruang Dini

Tim Galeri

OWNER & FOUNDER RUANG DINI
Dini Triani Haryanti
PENGARAH ARTISTIK
Andy Dewantoro
MANAJER OPERASIONAL
Muthia Fatharani
IN-HOUSE COPYWRITER & EDITOR
Raisha Adistya Pramita
DESAIN & TATA LETAK
Ary Rustandi

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen

Pameran Duet
Anton Ismael & Bastian Hansen

Galeri Ruang Dini SELAIN SELIYAN1

A DUET EXHIBITION BY ANTON ISMAEL & BASTIAN HANSEN

Ditulis oleh: Raisha Adistya Pramita

Selama ini Anton Ismael dikenal sebagai figur yang aktif bergelut
dengan fotografi, pun sama halnya dengan Bastian Hansen. Hampir separuh
hidup keduanya menjadikan fotografi sebagai medium utama dalam menjalankan
karir sebagai seorang profesional, hingga pandemi dua tahun silam kemudian
mendisrupsi segala kegiatan yang mulanya menjadi keseharian. Dengan
berbekal familiaritas akan warna dan tekstur visual dari fotografi, mereka
kemudian dipertemukan dengan media lukis sebagai upaya menghadapi
realitas pandemi yang cukup menekan keadaan mental dan emosional saat itu.
Saat dunia sedang dilanda pandemi, intensitas keduanya dalam mempelajari
seni lukis semakin tinggi. Bagi keduanya, melukis adalah sebuah proses dan
keadaan pandemi menjadi waktu yang tepat baginya untuk melakukan proses
berkarya. Dengan kata lain, melukis menjadi salah satu cara Anton dan Bastian
dalam merespon keadaan yang ada.

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Anton mulai mempelajari dan mengeksplorasi lukisan secara otodidak
sebagai bentuk ekspresi emosi dan ketertarikan personal pada hal-hal di
sekelilingnya, dan dalam konteks pameran Selain Seliyan ini adalah makanan.
Meski Anton memang populer karena karya-karya fotografinya, ia juga dikenal
secara luas sebagai orang yang gemar mengulik hal-hal dari beragam disiplin
seperti halnya memasak dan kali ini, melukis. Anton beranggapan bahwa
memotret tidak sama pentingnya dengan melukis; melukis tidak sama pentingnya
dengan memasak, dan memasak tidak sama pentingnya dengan belajar, juga
apa-apa yang ia lakukan dalam keseharian. Apapun mediumnya, terdapat sebuah
persamaan: yakni cara Anton dalam menyalurkan ekspresi dalam hidupnya.
Memasak menjadi salah satu medium di mana bahan-bahan makanan menjadi
alatnya; sedangkan kanvas adalah medium yang digunakan untuk melukis dalam
upaya mencurahkan ekspresi personalnya. Beragam macam multidisiplin yang
Anton tekuni dan pelajari menjadikannya semacam catatan perjalanan hidupnya,
dan memasak menjadi salah satu kegiatan yang secara produktif ia lakukan.
Sama seperti seorang anak kecil yang baru belajar, ia pun mempelajari masakan
dari mula-mula—mulai dari mengenali bahan-bahan masakan, warna, dan rasa.
Hal ini pun terjadi secara bersamaan dengan bagaimana ia berproses dan
belajar dari medium lukis sehingga keduanya saling beririsan.

1Dalam filsafat fenomenologi, kata liyan atau ‘yang Jika Anton pertama kali belajar mengeksplorasi lukisan tak lama sejak
lain’ (the Other dalam bahasa Inggris) digunakan pandemi muncul di tahun 2020, Bastian mulai kembali belajar setelah 20
untuk mengidentifikasi sekaligus membedakan diri tahun tidak bersentuhan dan meninggalkan medium lukis. Bastian mengaku ia
dengan yang lain sebagai pengakuan menjadi ada. memang sudah gemar menggambar dan melukis sedari kecil dan ia memang
Non-konformis; menjadi lain dari formalitas sosial mempelajarinya secara mandiri. Saat ia berada di bangku SMA, ia didorong
atas budaya dominan merupakan gejala dari seliyan oleh mentornya untuk fokus melukis, sehingga pada masa itu ia cukup
(otherness). mendapat pelatihan terkait dasar-dasar melukis. Sayangnya, kendala personal
membuatnya tidak dapat melanjutkan studi ke institusi seni rupa. Bila 20 tahun
lalu apa yang ia dapat dari lukisan cukup membatasinya dalam berkarya (karena
adanya aturan-aturan dari didikan sang mentor), kali ini Bastian benar-benar
bereksperimentasi secara spontan dengan materi non-tradisional yang dapat
ia temukan.

Bastian mengakui bahwa ia menemukan perbedaan energi dari
sejak kali pertama ia menggeluti seni rupa di masa SMA—di mana kali ini ia
menemukan kebebasan sepenuhnya dalam berkarya. Selama proses eksplorasi
dan eksperimentasinya ini, ia seperti menyaksikan langsung bagaimana
setiap material yang digunakan tercampur dan bereaksi antara satu lapisan
dengan lapisan lainnya. Baginya, seni kontemporer yang ia selami ini sangat
membebaskan. Dalam berseni, Bastian pun tidak berupaya untuk menyampaikan
suatu wacana, melainkan menjadikannya sebagai wahana untuk memproses
ekspresi dirinya. Bastian tidak melukis apa yang ingin diciptakan namun
menggambarkan perasaan saat proses melukis sedang berjalan; saat impuls
kreatifnya mulai bereaksi secara spontan. Ia tidak pernah tahu apa yang akan
ia lukis. Kuas serta medium lain yang ia sentuh seolah-olah dirasuki oleh ruh
dan bergerak dengan sendirinya (boleh jadi melalui proses ketidaksengajaan)
sehingga ia menemukan rasa dalam prosesnya. Ia kemudian rekam dan ulangi
setiap proses dan teknik yang kurang lebih serupa untuk menciptakan rasa yang
berbeda.

Dalam hal ini Anton dan Bastian memiliki persamaan yang lebih kurang
serupa: mereka sama-sama melakukan proses eksplorasi dan eksperimentasi
seni rupa dari awal mula.

Keberadaan Anton dan Bastian yang mulai membuat karya hasil proses
eksplorasi dan eksperimentasinya ini boleh jadi masuk ke dalam kategori
fenomena yang pertama kali Jean Dubuffet identifikasikan sebagai Art Brut di
tahun 1940an—kemudian dipopulerkan di tahun 1972 oleh Roger Cardinal
sebagai Outsider Art atau karya-karya yang cukup independen dari sistem seni
rupa. Seniman outsider secara umum dipahami untuk merujuk orang-orang yang
tidak terkekang dari institusi artistik formal—yang terbebas dari budaya dominan
dalam medan seni rupa.

Mulanya istilah Art Brut digunakan untuk mendefinisikan arti seni yang
mencakup karya-karya individu, yang baik dengan sukarela maupun tidak,
menjadi orang di luar masyarakat atau kelompok budaya dominan. Dubuffet juga
mencirikan art brut sebagai produksi seni bagi mereka yang memiliki disabilitas
atau para penyintas gangguan mental, yang saat itu karya-karya mereka tidak
dibagikan atau bahkan disembunyikan dari ruang publik (Lombardi, 2013).
Namun seiring perkembangannya, art brut digambarkan sebagai karya seni
personal yang diciptakan oleh mereka yang belajar secara otodidak; tidak
mendapatkan edukasi seni, yang boleh jadi terisolir atau terbatasi dari formalitas
seni rupa, di mana karya-karya yang diproduksi berada di luar semua realitas
artistik yang diterima oleh medan seni rupa arus utama—atau dengan kata lain,
outsider art.

Art brut atau outsider art ini bukanlah gaya seni ataupun gerakan,
melainkan sebuah produksi artistik yang terbebas dari gerakan seni lain dan
tercipta dari dirinya sendiri. Karena individu yang berkarya hidup secara mandiri
dan bahkan berada di luar struktur dan batasan sosial dan budaya (Lombardi,
2013: 9) membuat outsider art terbentuk di luar dari tradisi artistik yang diterima
dalam sejarah seni rupa (Demirel, 2015). Individualisme, kemerdekaan total,
kebebasan tak terbatas dan otentisitas murni menjadi suasana yang kurang
lebih ada dalam konsep seni outsider.

Lantas, apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar istilah Art Brut
atau Outsider Art? Apakah ia betul merupakan seni di luar budaya arus utama;

Galeri Ruang Dini terbebas dan tak teredukasi oleh ekspektasi sosial dan formalis? Apakah
ia merupakan seni yang dihasilkan oleh kelompok budaya tertentu? Dan
Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen bagaimana terminologi outsider kemudian berdampak pada bagaimana kita
memandang seni; memandang penciptanya? Apa yang kemudian membedakan
seni outsider dengan mereka yang dibuat oleh seniman-seniman arus utama?
Apakah situasi atau kondisi tertentu saat karya dibuat menjadi penting untuk
mendefinisikan outsider art? Apakah outsider memiliki konotasi positif, atau
malah justru sebaliknya? Juga, apakah label ini membantu atau justru membatasi
kita dalam mengapresiasi karya-karya seniman? Relevankah terminologi ini?
Dan bagaimana kita mengidentifikasi diri kita sebagai individu kreatif; di mana
posisi seniman outsider dalam medan seni rupa?

Pertanyaan-pertanyaan ini nampaknya seringkali muncul ketika
seseorang mencanangkan gagasan tentang art brut atau outsider art. Munculnya
klasifikasi outsider dalam seni bisa saja dikatakan problematis dan menjadi isu
yang kurang lebih sensitif. Konsep outsider art yang dianggap terlepas secara
utuh dari pengaruh sosial dinilai tidak akurat, elitis, sekaligus tidak manusiawi,
juga menekankan gagasan stereotip tentang “seniman sebagai Lain (as the
Other)” yang primitif—sebagai patologis dalam kaitannya dengan orang dari
budaya dominan yang dianggap “normal”. Seolah-olah ia telah mendefinisikan
siapa kita tanpa memberi ruang lebih untuk memahami siapa diri kita sebenarnya
dan membatasi potensi kita ke depan—baik sebagai seniman maupun sebagai
manusia. Mereka ‘yang liyan’ ini seolah-olah diberikan tempat lain dalam medan
seni rupa arus utama. Jika memang benar, sebegitu eksklusif kah medan seni
rupa arus utama sampai perlu menempatkan posisi pencipta karya dalam logika
oposisi biner? Mengapa keberadaan arus utama acap kali mengkategorisasikan
mereka yang bukan berasal dari komunitasnya?

Dalam esai katalognya, Joanna Bosse (2014) mengatakan bahwa
dialektika oposisi di dalam/luar (inside/outside) dianggap berlebihan, terutama
ketika pluralisme dan representasi budaya telah menjamur dalam dinamika
seni rupa kontemporer. Diargumentasikan bahwa khalayak umum tidak akan
memahami latar belakang kisah seniman dan boleh jadi akan menerima karya
yang dipamerkan sebagaimana adanya. Good art is good art no matter where
it comes from. Ia akan menjadi soal hanya ketika apresiator seni menanyakan
tentang sejarah atau latar belakang seniman—apakah dari arus utama atau dari
luar—bahwa kondisi mereka menjadi seorang seniman dapat mempengaruhi
bagaimana mereka mengkontekstualisasikan sebuah karya seni (Bunyan, 2015:
3).

Adapun yang mengabaikan pernyataan bahwa outsider art sebagai
sesuatu yang idiosinkratik atau menyimpang. Beberapa justru malah
meromantisir keeksentrikan dari status outsider seorang seniman sekaligus
mengafirmasi kreativitas dan keaslian mereka yang tak terkekang (Cubbs 1994;
Fine 2004:35-40, 56-61). Sebab, bukankah dalam seni kontemporer terdapat
perayaan akan kebebasan dan kemerdekaan berkesenian; meleburkan batasan-
batasan tradisional yang boleh jadi sudah usang? Munculnya terminologi
outsider art memang seolah membangun dualitas antara mana yang berada
di dalam skena seni rupa dengan mereka yang berada di luar, termarjinalkan.
Namun fenomena yang Jean Dubuffet pertama kali canangkan ini memang betul
adanya dan layak untuk diberi perhatian juga dipertanyakan.

Merujuk pada identifikasi tersebut, apa yang disuguhkan Anton dan
Bastian dalam karyanya pun dapat dikatakan cenderung tidak berdasarkan

tradisi komunitas dan estetika kolektif, melainkan bentuk dari keunikan visi
personal sekaligus kemurnian ekspresi yang dimiliki kedua seniman. Anton
memilih untuk melukiskan ketertarikan dan ekspresi personalnya atas makanan—
di mana keberadaan makanan menjadi hal yang sangat signifikan baginya, tidak
hanya soal tampilan melainkan rasa yang dapat dihasilkan. Anton melihat bahwa
rasa dalam masakan dapat dengan baik menyatukan frekuensi dan persepsi
kita sebagai manusia. Dengan melukiskan makanan, Anton dapat menciptakan
sekaligus menemukan esensi dari rasa.

Di sisi lain, eksperimentasi seni yang dilakukan Bastian ditujukkan untuk
mencurahkan hasrat atas apa-apa yang ia rasa setelah sekian lama terlepas dari
dunia seni rupa. Tak jauh berbeda dengan Anton, Bastian pun mengakui bahwa
dalam menciptakan karya, Bastian semacam menghindari kejelasan bentuk
dan membiarkan kanvas ‘berbicara’ kepada seniman. Dengan kata lain, ia tidak
membangun konsepsi dalam kekaryaannya. Makna dari setiap karya yang ia
buat terletak pada proses penciptaan itu sendiri. Bastian bukanlah orang yang
akan berlama-lama menempatkan dirinya pada posisi formulatif—di mana ia
tetap berada di satu tempat dan mengacu pada kaidah tertentu. Sebab baginya,
tujuan ia kembali berseni adalah untuk berproses dan belajar. Sehingga, ketika
ia menempatkan dirinya pada format tertentu, tujuan utamanya ini akan hilang.
Jika ia murni berkarya untuk dirinya sendiri, kenapa pula ia harus membatasi diri
dalam melakukan eksplorasi dan eksperimentasi seni?

Selama berlangsungnya proses penciptaan karya, tidak sedikit
Bastian menggunakan dan memanfaatkan alat-alat atau media yang berada di
sekelilingnya—selama prinsip dari media yang digunakan dapat memunculkan
bentuk sesuai dengan ‘intensi’ dan kepentingan seniman. Dengan menggunakan
mixed media seperti halnya tisu dan kertas, Bastian akui dapat secara efektif
menemani eksperimentasi seninya dengan modal kapital yang boleh jadi tidak
terlalu mahal. Kertas yang ia gunakan pun bukanlah kertas polos saja, melainkan
sudah melalui kertas daur ulang (seperti koran) yang telah melalui proses
pelipatan atau bahkan perobekan yang ia tinggal semalaman. Ia kemudian
menumpuk kertas-kertas yang satu dengan yang lain—dengan daya resap yang
berbeda-beda pula—untuk menciptakan ketebalan tertentu. Dengan tujuan
mula ia berkarya adalah untuk kembali betul-betul menikmati proses kebebasan
juga keliaran berkarya, kerapuhan materi seperti kertas dan tisu menjadi jalan
yang dipilih Bastian. Kehati-hatian dalam proses berkarya, membuat seniman
dapat merekam apa-apa yang dirinya lakukan terhadap karya seni.

Apa yang dilakukan Anton dan Bastian ini secara tidak langsung
mengafirmasi bagaimana karya-karya produksi outsider diromantisir. Karya art
brut/outsider yang dinilai menentang seni budaya dalam arti tertentu membuat
seniman mampu menemukan ikonografi dan menghasilkan teknik mereka
sendiri. Kekayaan materi dan ketidakterbatasan teknis membuat apa-apa yang
dikerjakan menjadi cukup distingtif dan memiliki ciri khas tersendiri. Karena
kemerdekaannya dari aturan-aturan formalis, membuat seniman seperti Bastian
dapat memanfaatkan material-material sederhana atau bahkan bahan limbah
pada umumnya yang bisa ia temukan. Pada saat yang sama, keterampilan
dan upaya eksperimentasinya ini dapat menonjolkan kreativitas artistik kedua
seniman.

Hal ini menjadikan karya seni idiosinkratik dan tanpa preseden menjadi
tema yang kemudian muncul dalam proses mereka berkarya. Anton pun
mengakui bahwa ia tidak memiliki ‘panutan’ ataupun referensi dalam berkarya;

Galeri Ruang Dini apa yang ia buat murni dari dirinya sendiri, tidak berlandaskan pada ‘pendahulu-
pendahulu seni rupa. Kebebasan, kelugasan, dan kekebalan pada budaya artistik
Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen konvensional menjadikan karyanya dapat hadir sebagai kritik terhadap sifat seni
kontemporer yang Dubuffet juga nilai sebagai pretensius dan artifisial (Dubuffet,
1988). Adanya produksi artistik sebagaimana halnya yang Anton dan Bastian
lakukan, mengamini gagasan Dubuffet yang cukup mengedepankan karya seni
yang diciptakan oleh orang-orang di luar pendidikan seni formal; di luar yang
diterima oleh kelompok masyarakat tertentu atau para seniman ‘sekolahan’, dan
gerakan seni yang kelompok di dalam arus utama kerap anggap sebagai ‘seni
yang nyata dan esensial’ (Onur, 2018: 57).

Label naif kemudian bisa saja ditanamkan pada seniman-seniman
yang berkarya secara tulus tanpa pretensi seperti halnya Anton dan Bastian.
Kemurnian dan keaslian dalam berkarya menjadi suatu hal yang dominan dalam
produksi artistiknya. Keduanya sama-sama tidak mendapatkan pelatihan seni
dalam konteks akademis dan tidak berada di dalam institusi seni formal. Keduanya
pun mengaku bahwa melukis merupakan sesuatu yang mereka lakukan sebagai
hobi di sela-sela waktu luangnya. Keadaan pandemi yang membatasi mereka
untuk menjalankan karir profesional sebagai seorang fotografer juga figur publik
semakin mendorong keduanya untuk produktif melukis sekaligus bereksperimen
di dalam prosesnya. Kondisi ini secara langsung memberikan kebebasan dan
kemerdekaan dalam mengembangkan otentisitas teknik dan gaya dari karya-
karya yang Anton dan Bastian ciptakan.

Terlebih lagi, berada di pasar seni rupa bukan menjadi motivasi utama
Anton dan Bastian dalam menciptakan karya, melainkan murni berasal dari
hasrat kedua seniman untuk menyalurkan ekspresi personal melalui medium
lukis. Karenanya, mereka tidak mempersoalkan opini atau kritik publik terhadap
apa yang mereka cipta. Seniman yang berada di dalam arus utama (yang boleh
jadi menjadikan berkesenian sebagai karir primernya) memiliki kecenderungan
untuk hendak dikagumi atau diapresiasi atas sifat kekaryaannya. Beberapa
bahkan melakukan pendekatan yang lebih didaktis dan ingin memberi pelajaran
sekaligus menarik perhatian kepada publik (Onur, 2018: 58). Lain halnya dengan
Anton dan Bastian yang dikagumi atau tidak atas karya-karyanya bukan menjadi
soal. Karena tidak menekankan pada formalitas, mereka tidak memproduksi
karya untuk menerima ulasan baik dari publik. They only produce. Tujuan kedua
seniman adalah untuk menghasilkan karya secara impulsif dan tanpa batasan
apa pun. Oleh karenanya, realitas yang mereka hadapi adalah memproduksi
seni secara terus-menerus sebagai jalan untuk dapat mengekspresikan diri.
Mereka mampu ada hanya dengan memproduksi dan mencipta.

Karena penciptaan karya dilandasi rasa penuh dengan sukacita,
orisinalitas, dan otentisitas murni membuat fenomena seni seperti ini dianggap
mentah dan kasar. Hal ini pun disinggung oleh Dubuffet yang menentang
gerakan atau isme-isme dalam seni yang dibentuk oleh institusi akademik
formal. Di mana ia menemukan kesadaran tentang bagaimana realitas soal
apa itu seni menjadi superfisial dan dibakukan oleh budaya dominan, yang
tentunya diciptakan pula oleh segelintir orang di dalamnya. Padahal, menurut
Bahar Celen (2003) seni mentah (raw art) sebenarnya adalah titik awal dan inti
dari sumber seni. Sehingga dalam konteks ini, art brut atau outsider art telah
hadir sepanjang sejarah. Namun kondisi ini tersingkirkan dari waktu ke waktu
ketika seni telah terinstitusionalisasi, dan aturan-aturan mulai muncul untuk
menetapkan isme-isme atau konsep, termasuk ‘estetika’ dan ‘seni’. Baginya,
seni berasal dari batin pencipta secara langsung dan dicurahkan tanpa teknik

apapun, apalagi penyempurnaan estetis atau retouching. Karya seni tercipta
dari keadaan penciptanya yang paling murni—membuat energi yang ada dapat
mengalir secara spontan dari ruh ke materi (Celen, 2003: 56), sebagaimana
Anton dan Bastian melakukan eksplorasi dan eksperimentasi dalam proses
mereka berkarya.

Jika benar demikian, lantas, bagaimana seni melihat mereka yang
memang belajar secara otodidak dan tidak terlatih dalam institusi seni formal
atau budaya seni dominan sebagai bagian yang dianggap signifikan, namun
tidak termarjinalkan oleh sosial secara luas? Bagaimana dengan mereka
yang berkarya karena memang mau memproduksi sebagai upaya penyaluran
ekspresi—membuat apa-apa yang dihasilkan dapat hadir tanpa pretensi?
Apakah mereka masih dapat dikategorikan sebagai seniman outsider atau
seniman liyan? Atau justru ada kondisi-kondisi selain dari seliyan ini?

Pernyataan Celen membuat apa yang disebut sebagai seni luar atau
outsider ini memang sebagai bukan seni orang-orang yang tergabung dalam
komunitas seni arus utama, namun pada waktu yang sama juga bukanlah seni
‘orang-orang yang termarjinalkan’. Dengan kata lain, keunikan dari hasil karya
seni ini bukan terletak pada seniman yang membuatnya melainkan kualitas
artistiknya; di mana terdapat ‘perlindungan’ dari segala jenis konvensi dan
kontaminasi isme-isme seni rupa.

Dengan menampilkan sepilihan karya seni kontemporer dari Anton Ismael
dan Bastian Hansen, Selain Seliyan berupaya merefleksikan kembali gagasan
akan outsider art (atau bahkan apa itu seni), sekaligus mempertanyakan posisi
seniman liyan dalam medan seni rupa arus utama. Dengan mempertanyakan
kembali, barangkali kita dapat menjadikan seni sebagai rumah bagi apa yang
disebut selain dari seliyan ini. Sebab, jika seni adalah ekspresi, lantas untuk apa
pula kita membatasi suara dan pengalaman manusia untuk dibagikan?

Galeri Ruang Dini Daftar Pustaka

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Bosse, Joanna. (2014). Everyday imagining: new perspectives on Outsider art.
Dalam ulasan Bunyan, Marcus. (2015). The Ian Potter Museum of
Art.

Celen, B. S. (2003). Masumiyetini Kaybetmemis Sanat. Milliyet Sanat, 533,
55–57

Couteau, Jean (2019). Perjalanan Panjang dari Seni Akademis sampai Seni
Marjinal dalam Katalog Pameran Outsider Artpreneur 2019
“Pasung Kapal Lepas”. Ciputra Artpreneur.

Cubbs, Joanne. 1994. Rebels, Mystics, and Outcasts: The Romantic Artist
Outsider. Dalam The Artist Outsider: Creativity and the Boundaries
of Culture. 76-93. Washington, D.C.: Smithsonian Institution Press.

Dapena-Tretter, A. (2017). Jean Dubuffet & Art Brut: The Creation of an Avant-
Garde Identity. Journal of Theatre and Performing Arts, 11.

Dubuffet, Jean. (1988). Asphyxiating Culture and Other Writings. New York:
Four Walls Eight Windows.

Davies, D. (2009). On the very idea of ‘Outsider Art’. The British Journal of
Aesthetics, 49(1), 25-41.

Demirel, T. (2015). Outsider Art. Diakses melalui http://www.outsider-artworld.com.
Culture and Other Writings. New York: Four Walls Eight Windows.

Erman, D. O. (2018). Purest form of creation: Art Brut. New Trends and Issues
Proceedings on Humanities and Social Sciences, 5(6), 134-142.

Fine, Gary Alan. (2004). Self Taught Art and the Culture of Authenticity. Chicago:
University of Chicago Press.

Gengarelly, Tony; Cynthia Barros, Ian Mosher, Tala Rousseau, Emma Snyder,
Ella Suters, Dale Borman Fink, & Gregory Scheckler. (2020). The
Outsider Art Project: Exploring Inclusion, Diversity, Equity and
Access. MCLA.

Lombardi, S., & Peiry, L. (2013). Collection de l’Art Brut, Lausanne. Collection
de l’Art Brut.

Kramer, C. A. (2018). The Aura of Eccentricity: Reflections on Outsider Art
Rhetoric and its Impact on a Critical Discourse. Material Culture
Review/Revue de la culture matérielle, 88, 36-44.

The New Fontana Dictionary of Modern Thought. (1999). The Other, Third
Edition, Hlm. 620.

Trombley, S. (Ed.). (1999). The new Fontana dictionary of modern thought.
HarperCollins.

Wojcik, D. (2008). Outsider Art, Vernacular Traditions, Trauma, and Creativity.
Western Folklore, 67(2/3), 179-198.



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Anton Ismael

Father of all between what’s happening in Kelas
Pagi & the Creative Director in charge behind all
creativity works in Third Eye Space. More than
20 years experience of Photography dedication
& More than 1 Decade dedication in Teaching, we
believe it takes more than just a passion to ever
be in his mind-frame. Anton is somehow one aspect
to discuss with if you’re aim for anything fresh &
different

Galeri Ruang Dini

Pertama kali memasak bukan karena
keinginan, tetapi sebuah kebutuhan.
Kebutuhan untuk bisa hidup dalam rangka
menimba ilmu di Negara seberang. Saat itu
koin 2 dolar tersisa di pertengahan bulan.

“Bro, gue masakin mau?”, pertanyaan itu
gue lontarkan ke teman sekontrakan.

Sebuah pertanyaan yang hasilnya adalah:
saya diberi uang untuk belanja bahan
makanan dan ikut makan bersama mereka.

Saya tidak bisa masak, tapi bumbu instan
beraksi.

Semua selamat, semua aman, semua
bahagia.

Kenyang.

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen

Koin Terakhir
Oil and charcoal on canvas

207,5 x 142,5 cm
2021

Galeri Ruang Dini

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Makanan enak itu apa?

Indera pengecap saya dipengaruhi oleh
indera lain, dan juga memori saya.

Ayam goreng yang dimasak oleh nenek
saya dengan kayu bakar, aroma asapnya
membangunkan saya dari kasur kapuk yang
sudah tipis dengan bau iler 3 generasi.

Dan juga rasa bir dingin yang sedikit pahit
yang ditawarkan oleh Ibu saya pada saat
saya masih di sekolah dasar.

Enak?

Semula rasanya biasa.

Sekarang mencari memori itu untuk hadir
kembali.

Ya enak…

Kasih ibu sepanjang masa
Acrylic on canvas
120 x 100 cm
2019

Galeri Ruang Dini

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Di saat pandemi, saya belajar masak babi
dan mulai menjualnya.

Saya mempelajari proses ini selama 5
tahun. Dengan segala macam cara, bumbu,
pengolahan.

Ternyata yang paling cocok untuk saya
adalah dengan cara “lama”.

Metode:
Pengasapan. Mungkin saya ingat aroma
asap di dapur nenek saya, tapi emang
katanya dengan proses pemasakan yang
lama (slow cook) ini dapat menghasilkan
rasa umami, selain aroma asap kayu bakar.

Bumbu:
Mustard dan Garam. Ya Cuma itu.

Rasa:
Enak banget… Ya namanya juga babi, ya
enak lah..

Masak Babi
Oil and charcoal on canvas

180,5 x 170 cm
2021

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Bastian Hansen

Founder and head photographer of BHP Studio 1
based in Los Angeles, who re-site back to Jakarta,
Indonesia in 2013.

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

De.construct 1.1
Mixed media on canvas

105 x 75 cm
2021



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

De.construct 1.2
Mixed media on canvas

105 x 75 cm
2021



Galeri Ruang Dini

De.construct 2.1
Mixed media on coldpress 300 gsm

105 x 75 cm
2022

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen



Galeri Ruang Dini

De.construct 2.2
Mixed media on coldpress 300 gsm

105 x 75 cm
2022

Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

De.construct 2.3
Mixed media on bookpaper 90 gsm

105 x 75 cm
2022



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

De.construct 2.4
Mixed media on bookpaper 90 gsm

105 x 75 cm
2022



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

The Settlers 1.1
Mixed media on bookpaper 90 gsm

105 x 75 cm
2021



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

The Settlers 1.2
Mixed media on bookpaper 90 gsm

105 x 75 cm
2021



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

The Settlers 1.3
Mixed media on bookpaper 90 gsm

105 x 75 cm
2021



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Sanguien
Mixed media on canvas

105 x 75 cm
2022



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Prickly 1.1
Mixed media on bookpaper 90 gsm

tba
2022



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Prickly 1.2
Mixed media on bookpaper 90 gsm

tba
2022



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Untitle
Mixed media on canvas

tba
2021



Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen Galeri Ruang Dini

Untitle
Mixed media on canvas

100 x 150 cm
2022



Galeri Ruang Dini Anton Ismael Indonesia

Formal Education:

Forest International School, Australia
SD Vincentius, Jkt, Indonesia
SMP Tarakanita, Magelang, Indonesia
SMA De Britto, Yogyakarta, Indonesia
Royal Melbourne Institute of Technology, Australia

Jobs Title: Managing Director of Third eye Space
Photographer (The Looop Indonesia)
Lecture at Akademi Desain Visi Yogyakarta

Levi’s, Coca cola, Sunfill, Frestea, Dji sam soe, Garuda barongsai, Garuda executive, Garuda frequent flyer,
Bir bintang, Agip, Honda CRV, Honda new city, Mc. Donalds, PT. Loreal Indonesia, Sanex, Vaseline, IM3,
Client List: Heineken, LA Light, GE, Frisian Flag, ANZ, BNI Bank, Benkwat, Plaza Indonesia, etc.





Selain Seliyan | Anton Ismael & Bastian Hansen


Click to View FlipBook Version