Galeri Ruang Dini
Tim Galeri
OWNER & FOUNDER RUANG DINI
Dini Triani Haryanti
PENGARAH ARTISTIK
Andy Dewantoro
MANAJER OPERASIONAL
Muthia Fatharani
IN-HOUSE COPYWRITER & EDITOR
Raisha Adistya Pramita
DESAIN & TATA LETAK
Ary Rustandi
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i
Pa mer a n Tu n g g a l
Jumaldi Alfi
Galeri Ruang Dini TRAJECTORY OF Setiap sudut Kota Yogyakarta terasa padat namun hangat sekaligus
EXISTENTIAL MEMORY bersahabat—di mana musisi jalanan dengan riang melagakkan aksinya,
ramainya akhir pekan di pasar seni pada sepanjang pesisir selatan, disusul
A SOLO EXHIBITION OF JUMALDI ALFI para turis yang menyerbu gedung-gedung warisan kolonial sekaligus berebut
waktu untuk berswafoto di samping papan nama jalan, atau pengrajin perak
Prolog yang berjaja untuk sekedar menyambung hidup supaya tak perlu khawatir
menjawab kalimat tanya besok harus makan apa. Kota ini menyimpan
rekaman cerita yang sewaktu-waktu bisa kembali diputar dalam memori
setiap orang yang hidup di dalamnya. Dan di kota ini pula Jumaldi Alfi mulai
menggantungkan mimpinya sebagai seorang perupa, tepatnya saat kali
pertama ia menduduki bangku pendidikan menengah di Sekolah Menengah
Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta.
Selama ini Jumaldi Alfi dikenal sebagai salah satu perupa yang
secara produktif berkarya dalam bidang seni lukis. Berada di SMSR Yogyakarta
mulai menjadikan Alfi sebagai perupa yang giat melakukan eksplorasi seni.
Hasratnya untuk terus memperkaya keahlian dan pengetahuan atas seni
visual tak pernah padam, dan salah satunya adalah dengan mempelajari
seni cetak grafis atau printmaking. Ketertarikan ini ternyata telah lama ia
emban hingga pada akhirnya ia coba untuk mendaftar ke studio seni grafis
di Institut Seni (ISI) Yogyakarta sebagai salah satu jurusan yang ia minati.
Namun, alih-alih berada di studio cetak grafis, ia justru malah diterima di
studio lukis hingga menjadikan lukisan sebagai medium utama Alfi dalam
berkarya selama ini.
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Meski demikian, tawaran residensi seniman bersama The Singapore
Tyler Print Institute (STPI) pada tahun 2010 silam memberikan Alfi kesempatan
untuk kembali meregangkan kreatifitasnya. Tidak hanya di ranah ide, ia juga
dapat mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan teknis dalam seni grafis
dengan memanipulasi kertas sebagai media berkarya. Sebagai seorang
seniman yang lama bergelut dengan lukisan, menjadikan kertas sebagai
materi yang kurang familiar bagi Alfi. Namun, di waktu yang sama, dengan
dihadapkan pada praktik cetak grafis ternyata memberikan tantangan yang
menggairahkan bagi Alfi untuk mengekspansi impuls kreatifnya. Tawaran
residensi ini membuat Alfi seolah-olah ‘dipertemukan kembali’ dengan
hasrat dan memori masa lalunya untuk mempelajari printmaking. Dan melalui
Pameran Trajectory of Existential Memory, Ruang Dini berkesempatan
untuk memamerkan sepilihan hasil karya cetak grafis yang dihasilkan selama
program residensi seniman di STPI.
Memori atas hasratnya terhadap cetak grafis ternyata memengaruhi
pola Alfi melukis selama ini—yang ia klaim kurang lebih mengadopsi pola
pikir tentang bagaimana cetak grafis diproses. Secara sadar Alfi seolah-
olah menciptakan citraan efek visual yang dihasilkan melalui cetak
grafis seperti citraan layer atau lapisan-lapisan, misalnya. Dalam proses
printmaking sendiri karya yang dihasilkan tidak serta merta langsung
selesai. Terdapat tahapan pelapisan atau layering yang mesti dilewati untuk
menciptakan warna atau tekstur tertentu. Dan dalam praktik melukis, Alfi
menerapkan pola pikir yang serupa dengan pola pikir cetak grafis sehingga
karya yang dihasilkan semacam membentuk nuansa lapisan bertumpuk—
memberikan kesan kabur dan paradoksal pada setiap karyanya.
Selama melakukan residensi, Alfi mengakui bahwa ia
mendapatkan pola kerja baru dan bentuk eksperimentasi lain dalam
berseni. Romantisme individualis yang selama ini melekat pada
identitas pelukis—di mana proses pengerjaan karya dilakukan secara
sendirian; mulai dari mendalami ide, mencari inspirasi, hingga proses
eksekusi, seolah-olah terdekonstruksi selama residensi seniman di
STPI. Dalam menghasilkan karya cetak grafis, pendekatan kerjasama
tim diperlukan dengan melibatkan elemen-elemen lain yang dapat
membantunya selama proses berkarya. Entah itu dari penggunaan
mesin, hingga keterlibatan para pekerja dan pengrajin seperti
pembuat kertas, pengrajin cukil, dan lain sebagainya. Alfi mengakui
bahwa mulanya ia cukup resisten terhadap keberadaan elemen-
elemen eksternal tersebut. Namun setelah melihat pola kerja dan
hasil karya cetak grafis yang dicapai, terdapat semacam pergeseran
cara pandang tentang bagaimana Alfi melihat proses artistik—ia tidak
lagi memandang seni sebagai barang suci yang tidak boleh disentuh
elemen eksternal. “Apabila terdapat ide yang perlu seorang seniman
keluarkan dan ternyata memerlukan alat bantu, bukan menjadi soal”,
ujarnya. Ia beranggapan bahwa residensi yang seniman lakukan di
STPI memberikannya semacam pengalaman eksperimental baru dalam
penciptaan karya-karya kontemporer.
Dalam membangun gagasan pada seri karya cetak grafis
ini, Alfi masih menerapkan sikap reflektif-diri dengan mencerminkan
pengalaman eksistensial dan spiritual baik pada tingkatan personal
maupun kolektif. Keberadaan literatur, musik rock progresif, dan
fragmentasi kehidupan sehari-hari pun menjadi hal yang dapat
merangsang memori, perasaan, yang kemudian bercampur dengan
imajinasinya sehingga ia dapat menciptakan karya seni. Citraan
elemen visual yang berlapis dalam karyanya dapat merepresentasikan
memori dan bentuk refleksi Alfi atas apa-apa yang ia sempat alami dan
rasakan. Dengan kata lain, bagaimana Alfi mengkonseptualisasikan
idenya boleh jadi didorong oleh memorinya atas pengalaman masa
lalu sekaligus masa kini yang saling bertumpuk satu sama lain.
Pameran Trajectory of Existential Memory
mempersembahkan sepilihan karya cetak grafis Jumaldi Alfi atas hasil
residensinya di STPI pada tahun 2010 silam. Kumpulan karya cetak
grafis ini menjadi bentuk lain atas usaha seniman dalam merefleksikan
eksistensi hidupnya melalui lintasan rekoleksi memori yang ia miliki.
Selamat menikmati.
RUANG DINI
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Galeri Ruang Dini
It is as if we did not know or else continuously forget, that everything of
which we are conscious is an image and image is psyche.
C.G. Jung (as recorded in Theodor Abt, 2005: 15)
Galeri Ruang Dini TRAJECTORY OF EXISTENTIAL MEMORY
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i A Solo Exhibition of Jumaldi Alfi
Raisha Adistya Pramita
Seringkali kita dihadapi pertanyaan: apa yang membentuk kita
menjadi diri kita sekarang ini, dan kumpulan memori yang kita miliki boleh jadi
menjadi jawaban yang setidaknya dapat dimengerti. Selain dari rekam jejak
serta pengalaman-pengalaman fisik yang melewati batas waktu, keberadaan
ingatan menjadi penghubung antara diri kita sekarang dengan beragam
jenis kita dari eksistensi kita di masa lalu. Terkadang memori menyamarkan
dirinya dalam bentuk abstraksi pikiran, perasaan, kepingan gambar, atau
bahkan ia dapat melintasi pikiran dan relatif tidak bermakna; namun bisa
juga membanjiri kesadaran sampai-sampai kita terlempar ke perasaan dan
fenomena masa lalu yang terekam secara jelas. Tanpa adanya memori, relasi
kita dengan orang lain menjadi tak bermakna, juga pengetahuan, selera,
ataupun perasaan, dan seterusnya. Hal ini membuat keberadaan memori
menjadi esensi hakiki kita sebagai manusia. Ia menjadi semacam basis data
atau isi dari diri (self-being), juga hasil pengkodean sebuah pengalaman
(Schacter, 1996: 58).
Memori dengan baik tersimpan dalam otak manusia, yang secara
sadar maupun tidak memengaruhi tindakan manusia demi pencapaian
eksistensinya. Hal ini termanifestasi dalam bentuk citraan atas apa-apa yang
pernah kita alami atau rasakan di masa lalu—dan hal ini pun berlaku bagi
Jumaldi Alfi dalam proses berkaryanya. Sebagai seorang individu kreatif,
Alfi biasa ‘memanggil’ kembali pengalaman hidupnya untuk memetakan arah
atau sekedar mengekspresikan emosi yang tersimpan dalam memorinya. Alfi
mengekspresikan memori dengan menggambarkan citraan perasaan atau
pengalaman yang ia ingat dalam pikirannya. Hal ini mengingatkan penulis
pada bagaimana kelompok eksistensialisme seperti Gabriel Marcel (1951)
yang memandang pengalaman sebagai bentuk refleksi seorang being. Melalui
pengalaman, terdapat kisah-kisah yang berarti bagi Alfi sehingga ia dapat
menjalani eksistensi kehidupannya di masa sekarang maupun ke depan. Dan
rekoleksi kisah inilah yang Marcel juga sebut sebagai memori.
Dalam esai yang ditulis oleh Enin Supriyanto, Alfi: In Layers and In
Prints, Alfi mengatakan bahwa keberadaan memori tidaklah setara dengan
nostalgia. Baginya, nostalgia selalu diasosiasikan dengan energi yang menarik
(bisa jadi menjebak) seseorang ke masa lalu—seolah-olah manusia tidak
memiliki kendali atas apa yang bisa ia lakukan atas masa lalunya. Sedangkan
memori dan rekoleksi yang Alfi miliki memberikan energi untuk mendorong
dirinya di masa sekarang selagi menyambut kemungkinan-kemungkinan di
masa mendatang. Kumpulan memori ini ia akui dapat hadir secara intens. Hal
ini menghatrakan Alfi pada ketegangan antara mencoba untuk mengingat
sekaligus melupakan, antara ketenangan meditatif dengan kesukaran pikiran,
atau antara refleksi emosional dengan goncangan kesadaran rasional, yang
keseluruhannya tersalurkan melalui kekaryaannya. Ambiguitas berlapis dan
tumpang tindih ini pun menjadi norma dalam karya-karya Alfi (Supriyanto,
2011). Dalam obrolan penulis dengan seniman pun, Alfi mengakui bahwa
titik pijakannya dalam berkarya memang masih berangkat dari pengalaman
personal juga spiritualnya. Ia menjadikan proses mengingat ini sebagai
bentuk refleksi diri atas esensi-esensi yang diekstraksi dari memori atas
fenomena serta pengalaman yang dihadapi—termasuk abstraksi spiritualitas
dan eksistensi diri.
Keberadaan memori dan pengalaman masa lalu tidak hanya
memengaruhi Alfi dalam mengkonseptualisasikan karyanya, namun juga
dalam konteks pendekatan visual secara praktik. Meskipun karya-karya yang
dipamerkan dalam pameran Trajectory of Existential Memory ini merupakan
hasil dari cetak grafis, ia tetap melibatkan upaya untuk mendokumentasikan
perjalanan estetisnya selama ini—yaitu melalui media lukis. Hal ini ia lakukan
sebagai bentuk catatan pencapaian artistiknya di masa lalu. Apabila ditelaah
lebih dalam, karya-karya Alfi identik dengan citraan lapisan-lapisan dan
beragam elemen visual yang selama ini juga selalu muncul dalam karya
lukisnya. Lapisan-lapisan ini hadir sebagai untaian dari setiap memori,
rekoleksi, sekaligus kenangan yang ia miliki. Dengan kata lain, karya-
karya yang disuguhkan Alfi menjadikannya semacam jejak psikologis atas
pengalaman dan esensi dalam hidupnya, dan hal ini termanifestasi dalam
bentuk citraan yang boleh jadi melampaui batas kesadaran.
Dalam berkarya, Alfi seperti berupaya untuk menghindari kejelasan
bentuk serta tatanan, dan hal ini ada keterkaitannya dengan kesadaran ia
sebagai manusia. Elemen-elemen visual yang muncul memberikan kesan acak
seperti garis-garis, goresan tulisan dan kutipan; juga citraan lain seperti figur
dan bagian tubuh manusia, tengkorak, bebatuan, ataupun kaktus. Mereka
boleh jadi terlahir secara begitu saja dan elemen tulisan yang muncul secara
tekstual, misalnya, bisa saja tidak bermakna. Namun Alfi mengakui bahwa
secara esensial mereka dapat menggambarkan apa yang ia rasakan selama
proses pembuatan karya saat itu. Lebih lanjut, Alfi mengatakan bahwa: dalam
berseni, batasan antara kesadaran dan ketidaksadarannya sangatlah tipis.
Citraan yang ada dalam karyanya boleh jadi tidak diperhitungkan terlebih
dahulu melainkan hadir secara spontan. Dengan kata lain, citraan ini dapat
diargumentasikan sebagai produk dari ketidaksadaran yang tergambar, baik
dalam memori maupun mimpi. Dengan bantuan imajinasi sang seniman,
Alfi dapat menuntaskan citraan dan perasaan yang muncul di alam bawah
sadarnya—yang kemudian ia berhasil hadirkan pada alam fisik.
Hal tersebut membuat citraan elemen-elemen visual yang ia
tuangkan dalam kekaryaannya dapat hadir tanpa pretensi. Seperti pada seri
karya Renewall dan Reborn, misalnya. Berangkat dari latar belakang budaya
dan memori atas pengalaman personalnya, konsep kematian (juga kehidupan)
menjadi hal yang familiar bagi Alfi. Dan hal ini ia simbolisasikan dengan citra
tengkorak pada karyanya. Ia pun mengakui bahwa keberadaan spiritualisme
cukup memengaruhi prosesnya dalam berkarya. Dalam konsepsi spiritual
budaya Timur, kematian bukanlah tanda dari keberakhiran melainkan suatu
permulaan baru—atau merujuk pada terminologi Jerman “Verjungung” yang
berarti the beginning of the end. Mengutip Alfi dalam obrolan penulis dengan
seniman: “Kematian bisa saja meniadakan jasad, namun secara spirit tetap ada,
dan emosinya (dengan kita yang masih hidup) tidak pernah terputus; hanya
alam saja yang berpindah”. Penulis pun mengamini hal ini dan memandang
bahwa kematian bukanlah hal yang bertentangan dari kehidupan; melainkan
bagian integral dari hidup. Setiap evolusi dan transformasi atas molekul dan
atom dalam diri kita semasa hidup, secara langsung memberikan kesadaran
Galeri Ruang Dini sekaligus pemahaman tentang eksistensi siapa kita dan apa-apa yang ada
di sekeliling kita. Dan kesadaran ini terwujud melalui karya Renewall dan
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Reborn yang Alfi asosiasikan sebagai suatu siklus kehidupan.
Dari konsepsi kematian pada Renewall dan Reborn, memori pun
kembali memainkan peranannya dalam membentuk eksistensi seorang
individu. Dalam melihat karya Alfi, penulis merasakan adanya bentuk perayaan
atas absurditas kehidupan dimana kematian merupakan keniscayaan,
menjadikannya takdir akhir dari kehidupan. Namun dengan adanya memori
dan kesadaran, hal ini bukan berarti eksistensi seorang individu akan
berakhir. Seperti yang Alfi sendiri yakin bahwa: jasad seseorang boleh jadi
telah tiada, namun jiwa dan kehidupannya tak akan pernah berakhir—baik
secara spiritual maupun pemikiran. Dan hal ini tidak terlepas dari eksistensi
memori. “Keberadaan jiwa seseorang bisa jadi panjang, tergantung apa yang
kamu lakukan semasa hidup (juga orang-orang yang mengingat pengalaman
hidupmu di masa lalu)”, ujar Alfi. Hal ini menandakan bahwa terlepas dari
kematian, seorang individu tetap bisa bereksistensi melalui hadirnya memori
atau ingatan (Marcel, 2001: 183). Melalui seri karya ini, penulis rasa, Alfi
telah memfungsikan sekaligus memperluas kesadarannya dengan mengingat
dan mencitrakan, sehingga jiwa seorang individu tetap eksis meski raganya
telah tiada.
Atas dasar tersebut pun, kumpulan memori dan pengalaman masa
lalu yang termanifestasi dalam bentuk citraan ini dapat mengekspansi
kesadaran Alfi sebagai seorang seniman untuk mencapai eksistensinya.
Psikoanalis, Carl Jung, pun mengamini hal ini. Ia beranggapan bahwa
keberadaan citra sangatlah penting untuk meningkatkan kesadaran karena
ia memiliki sifat intrinsik bagi kehidupan. Baginya, keberadaan citra dapat
mentransformasi dorongan yang menstimulasi kesadaran (Jung dalam Abt,
2005: 24). Hal ini membuat mimpi, imajinasi, dan visi (termasuk memori)
menjadi sumber utama citraan yang berpotensi memperluas kesadaran dan
pengalaman hidup Alfi sebagai seorang individu. Merujuk pada Carl Jung,
referensi dan pengaruh budaya terhadap kekaryaan Alfi pun menunjukkan
adanya semacam dialog antara ego sadarnya (conscious ego) dengan
arketipe dari ketidaksadaran kolektif—di mana dalam konteks ini, makna
simbolisme citraan tengkorak ‘disepakati’ sebagai reborn atau kelahiran
kembali. Refleksi atas pola-pola arketipe yang ia temukan semasa hidupnya
ini kemudian ia tuangkan secara sadar dalam bentuk citraan elemen simbolis
pada karyanya.
Merefleksikan karya seni Alfi, penulis percaya bahwa dengan
adanya kesadaran dan ingatan, gagasan tentang eksistensi (juga jiwa)
seseorang tidak akan pernah lenyap. Meskipun memori dapat terdistorsi,
esensi dan rasa yang sempat hadir di masa lalu tetap terekam dalam pikiran
dan melekat pada diri manusia. Melalui karya Melting Memories, Alfi pun
beranggapan demikian. Baginya, memori atas masa lalu tidak akan pernah
bisa hilang seberapa keras kita berusaha melupakannya. Kondisi ini secara
langsung membentuk cara kerja dan kualitas seorang being dalam hidupnya
(Strong, 2006: 93-94). Perasaan yang dulu sempat mengepung dapat
kembali muncul sewaktu-waktu, seolah-oleh apa yang terjadi tiga puluh tahun
lalu, misalnya, baru terjadi di hari kemarin. Alfi mengakui bahwa perasaan
kehilangan, ketakutan, serta kesepian masih membekas dan terekam dalam
pikiran, atau bisa pula muncul dalam bentuk mimpi buruk.
Meski begitu, terdapat posibilitas bagi kita untuk mentransformasi
keadaan di masa sekarang dengan berupaya melupakan (Nietzsche, 2007:
35)—atau dengan mengubah (perspektif) atas masa lalu. Dan melalui
bentuk citraan visual, Alfi dapat secara aktif mentransformasi perasaan atas
pengalaman personalnya, meski tidak dapat sepenuhnya melupakan. Proses
meditatif ini membuat Alfi tidak terjebak dalam masa lalu. Memori yang ia miliki
justru malah dapat mendorongnya untuk menerima apa yang telah terjadi dan
terus bertahan, sekaligus menghidupi hidupnya di masa sekarang—seperti
yang ia juga simbolisasikan melalui citraan kaktus sebagai elemen visualnya.
Dalam karya Melting Memories, Alfi memang tidak menggambarkan apa
yang tampak melainkan apa yang secara sadar ia rasakan. Hal ini membuat
karya yang Alfi pamerkan memberi kesan implisit namun mendalam sekaligus
sublim pada waktu yang sama.
Karya-karya Alfi memang banyak menyangkut persoalan atau
suasana tentang kesunyian dan kekosongan. Dalam obrolan penulis dengan
seniman pun, Alfi menyebutkan bahwa kesunyian menjadi perasaan yang
mendorong praktik berkaryanya selama ini. Setelah menelisik lebih jauh,
hadirnya perasaan sunyi yang memenuhinya ini juga ternyata dipengaruhi
oleh masa lalu sang seniman yang tersimpan nyaman di kotak memorinya.
Terlepas dari citraan kolase elemen-elemen yang ada, karya visual Alfi dapat
membuat kita seolah-olah ditarik oleh esensi perasaan sunyi, seperti yang
terlihat pada karya Father and Son dan I Know the Moment Has Arrived.
Sebagai seorang anak yang terikat pada budaya matrilineal
terbesar di dunia yakni Suku Minangkabau, menjadikan keberadaan Ibu
sebagai figur dominan dalam keluarga Alfi. Kondisi ini secara langsung
memengaruhi kesenjangan relasi emosional antara ia sebagai seorang anak
dengan sang ayah. Tumbuh besar di tanah Jawa pun menghadapkan Alfi pada
situasi paradoksal; di mana terdapat distingsi antar pola budaya dominan
di sekelilingnya—yakni figur ayah yang menjadi sentral dalam keluarga—
dengan praktik budaya di rumah tempat ia tumbuh. Hal ini membuat rasa
ingin untuk memiliki kedekatan emosional dengan sang Ayah tak dapat
tercapai karena batasan budaya keluarga yang terbangun. Ikatan emosional
yang hilang dengan figur ayah ini, Alfi citrakan dalam bentuk dua batu yang
berjarak—di mana simbolisme citraan batu merepresentasikan dua jiwa yang
keras hati. Koneksi yang hilang di masa lalunya ini meninggalkan bekas rasa
hampa dan sunyi dalam memori Alfi dan kemudian ia tuangkan pada karya
Father and Son.
Karya I Know the Moment Has Arrived pun menceritakan kisah
tentang kesunyian yang serupa. Karya ini lagi-lagi seperti membawa Alfi ke
memori masa lalu; saat ia sempat mengalami disorientasi atas realitas di
sekelilingnya. Alfi mengatakan bahwa semasa kecil ia sempat mengalami
pengalaman dekat dengan kematian. Memori atas pengalamannya ini secara
langsung mengubah kesadaran Alfi sebagai seorang individu yang eksis.
Ia seolah-olah dibawa masuk ke dalam domain jiwa dan mental yang lain,
dan dihadapi pada pengalaman di luar ketubuhannya—hingga pada akhirnya
perasaan terlepas dari kehidupan ini menghantarkan Alfi pada medan lain
yang dipenuhi oleh kesunyian. Di balik kesan ingatan gelap dalam I Know the
Moment Has Arrived, Alfi justru kembali merefleksikan eksistensi hidupnya.
Judul karya yang merujuk pada kutipan lagu Coming Back to Life dari band
psychedelic rock kesukaannya, Pink Floyd, ini membentuk pandangan bahwa
Galeri Ruang Dini meskipun memori atas pengalaman yang ia miliki sempat menggoyahkan
kesadaran dan eksistensinya, pada akhirnya ia tetap bertahan dan kembali
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i menghidupi hidupnya.
Nuansa sepi dan sunyi dari masa lalu ini tampaknya juga memengaruhi
Alfi dalam proses berkarya di masa sekarang. Ia mengatakan bahwa tema
kesunyian yang selalu hadir merepresentasikan keadaan emosional yang
memang selama ini ia rasakan, terutama saat proses pembuatan karya
dilakukan. Dalam mengkonsepkan dan mengeksekusi karya, seniman mengakui
bahwa ia perlu berada dalam sunyi—dan membangun semacam percakapan
diam dengan diri sendiri. Perasaan hening, sulit, dan amarah ia salurkan tanpa
henti melalui goresan gambar di tangannya hingga memenuhi kanvas ataupun
kertas sebagai medianya berkarya. Elemen visual yang dituangkan boleh jadi
menggambarkan kekacaubalauan dalam pikiran atas memori-memori masa
lalunya. Namun komposisi ini dapat Alfi padukan dengan suasana sunyi—
juga tenang, sehingga karyanya dapat menyuguhkan kesan akan upaya untuk
mencapai keseimbangan.
Penulis mengakui bahwa serbuan rasa sunyi bukanlah tugas yang
mudah untuk dihadapi seorang individu, dan bisa menjadi emosi kronis bagi
orang kebanyakan. Begitu seorang dilanda kesepian, ia dapat merasakan
kekosongan batin yang sangat dalam; seolah-olah ia didorong untuk memasuki
memori terdalam pada alam bawah sadar—memaksanya untuk terus menggali
emosi paling kasar dan paling terluka dari masa lalunya. Namun melihat
karya Alfi membuat penulis yakin bahwa dengan setidaknya merengkuh rasa
kesepian sambil mengingat kembali memori di masa lalu, kita akan mulai
menyadari bahwa ia hanya hinggap sementara, menjadikannya pengalaman
universal manusia.
Memori boleh jadi melintasi batas waktu, dan apa-apa yang terjadi
di masa lalu merupakan fenomena faktisitas dalam kehidupan manusia—ia
adalah tetap dan tak dapat diubah, layaknya sejarah. Betul adanya bahwa kita
tak lagi bisa kembali ke ruang dan waktu di masa lalu. Namun dengan adanya
memori, kita bisa kembali merasa dan mengingat setiap citraan yang sempat
terlintas dan tersimpan dalam pikiran. Dan, bukankah keberadaan perasaan dan
ingatanlah yang justru menjadikan kita manusia?
Meskipun fragmentasi memori masa lalu memengaruhi cara kerja kita
di masa sekarang, mereka tetap tidak mendefinisikan siapa kita secara otentik.
Waktu dan ruang terus bertransformasi dan sebagai manusia yang dikutuk
untuk bebas, kita diberikan kebebasan pula untuk memilih kemungkinan-
kemungkinan atas bagaimana sejarah kita akan tertulis; termasuk memilih
bagaimana kita mau mendefinisikan diri sebagai refleksi atas apa yang
telah lalu—sebagaimana yang Alfi lakukan dalam mendefinisikan eksistensi
hidupnya yang termanifestasi pada penciptaan karya seni.
Melalui pameran Trajectory of Existential Memory, seri karya-karya
yang Alfi ciptakan menjadi semacam bentuk refleksinya atas realitas personal
dan faktisitas pengalaman masa lalu, di mana memori memainkan peranan
dominan dalam membentuk kesadaran. Carl Jung sempat bilang bahwa: “segala
sesuatu yang terlintas secara sadar adalah citra, dan citra adalah jiwa”. Dan
melalui citraan memori adalah bagaimana Jumaldi Alfi menjiwai dan memaknai
eksistensi hidupnya.
Daftar Pustaka
Abt, Theodor. (2005). Introduction to picture interpretation according to CG Jung. Livin
Human Heritage Publications. Hlm. 15-16.
Marcel, G. (1950). The Mystery of Being: Reflection and Mystery. Vol 1. The Harvill Press.
Marcel, G. (2002). The philosophy of existentialism. Citadel Press.
Nietzsche, Friedrich. (2007). On the Genealogy of Morality. Cambridge: Cambridge
University Press.
Sartre, Jean-Paul. (1965). Being and Nothingness. New York: Citadel Press
Schacter, D.L. (1996). Searching for memory: The brain, the mind and the past.
New York: Basic Books.
Strong, T. B. (2006). Genealogy, the Will to Power, the Problem of a Past, dalam
Nietzsche’s ‘On the Genealogy of Morals: Critical Essays’. Oxford:
Rowman & Littlefield. Hlm. 93-106.
Supriyanto, Enin. (2011). Alfi: In Layers and In Prints, dalam Jumaldi Alfi:
Melting Memories (exh. cat.). Singapore: Singapore Tyler Print Institute.
Turner, Zeynep Talay. (2019). Nietzsche on memory and active forgetting. The European
Legacy, 24(1), 46-58
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Galeri Ruang Dini
JUMALDI ALFI
(b. 1973, Lintau, Sumatra) is one of the most
dynamic and influential artists on the Indonesian
contemporary art scene today. A painter pur sang,
Alfi came to international attention in the late ‘90s
as one of the founding members of the influential
art group Jendela, whose focus on aesthetic and
material exploration within a more formalist and
personal territory introduced a fresh dynamic into
the world of Indonesian contemporary art.
Alfi is particularly known for his compelling
personal iconography of visual signs, reflecting
existential and spiritual experience on both, an
individual and collective level. In creating his
comprehensive painting series such as Blackboard
Paintings or, more recently, the series of Melting
Memories, Alfi draws on a scope of references
from text to empirical objects of the natural world
to Renaissance paintings and his own memories;
the effect of his work being at once mysterious
and intimate. Alfi lives and works in Yogyakarta,
Indonesia and has exhibited extensively in Indonesia
as well as internationally.
Galeri Ruang Dini
Father and Son #2
Stencil, Collage and Acrylic
on STPI Handmade Paper
127 x 102 cm
2010
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i
Galeri Ruang Dini
Renewall I
Lithography, Etching, Aquatint,
Collage, Stencil and Acrylic
on STPI Handmade Paper
127 x 102 cm
2010
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i
Galeri Ruang Dini
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Renewall V
Lithography, Etching, Aquatint,
Screenprint, Stencil
on STPI Handmade Paper
102 X 127 cm
2010
Renewall III
Lithography, Etching, Aquatint,
and Collage on STPI Handmade Paper
102 X 127 cm
2010
Reborn #01
Lithography, Screen Print, Collo-
graph and Collage
on STPI Handmade Paper
129 x 164 cm
2010
Galeri Ruang Dini Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i
Galeri Ruang Dini
I Know the Moment Has Arrived
Lithography Collagraph, Collage and
Crayon
on STPI Handmade Paper
154 x 111 cm
2010
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i Galeri Ruang Dini
Melting Memories
STPI Handmade Paper
21 x 16 cm
2010
Galeri Ruang Dini Education Artist in Residence, Project Eleven with Victoria College of The Arts (VCA), Melbourne
2018 Artist in Residence, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore
2010 Indonesian Institute of Fine Arts (ISI, Institut Seni Indonesia) Yogyakarta,Indonesia
1999 Indonesian High School of Arts (SMSR), Yogyakarta, Indonesia
1993
Solo Exhibitions
2020 Footnote, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia
Digital Spiritualism, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia
2018 Blackboard Paintings, LATAR, Jakarta, Indonesia 2016
Sanata Dharma University Gallery, Yogyakarta, Indonesia
2014 Myth Sisyphus, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China Melting Memories/Rereading
Landscape, Mooi Indies, ARNDT Gallery, Singapore
2013 Jumaldi Alfi’s, Blackboard Paintings, Primo Marella Gallery, Milan, Italy Re-PLAY #3, Jumaldi Alfi, OFCA
International, Yogyakarta, Indonesia
2012 Asian One, Art Hong Kong with Sin Sin Gallery, Hong Kong, China
2011 Melting Memories #2, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia Nightswimmer, Metis Gallery, Amsterdam,
The Netherlands
Melting Memories, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore
2010 Life/ Art #101: Never Ending Lesson, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Life/ Art #101: Never
Ending Lesson, Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur, Malaysia
2008 Color Guide Series, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia 2006
Alfi, iPreciation Fine Art Gallery, Singapore
2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia
2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia
Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia
2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia
Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
1998 Rekonstruksi, Aikon, Yogyakarta, Indonesia
Group Exhibitions (Selected)
2021 Influx : Inauguration, Ruang Dini, Bandung, Indonesia
Twentyfive, Gajah Gallery, Yogyakarta, Indonesia
KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Art Basel HK,Gajah Gallery Yogya Annual Art #6, Sangkring Art
Space, Yogyakarta Indonesia Verstige, Group Exhibition, Sri Sasanti Syndicate, Yogyakarta, Indonesia Daya
Hidup, Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta, Indonesia
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i 2020 ArtJog 2020 : Resilience, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (Re) Imagining The Image, Gajah
Gallery, Singapore
Roots #1, Bilai Art Space, Yogyakarta, Indonesia
Oppo Virtual Art Jakarta, Facade Gallery, Jakarta, Indonesia
Pameran Amal Covid-19, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja
Pause, Rewind, Forward #1, Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia PRASIDHA 93,Visual Art Exhibition,
Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia
2019 Recent Works, Cult Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia
Mind, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia
80 Nan Ampuh, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia
Bebas, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Representasi 3, Pendopo Art Space,
Yogyakarta, Indonesia Incumbent, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia
Art Jakarta, Rachel Gallery, Jakarta, Indonesia
2018 Art Taipei DangDai, Roh Project, Taiwan
Bakaba #7, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Indonesia Skectches & Drawing, LATAR, Jakarta,
Indonesia
Redraw III, UGAHARI, Edwin’s Gallery, Indonesia September Art Project, Malang, Indonesia
Kiniko Art Project, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia
Art Jakarta, Edwin’s Gallery, Indonesia
Prisoner Of Hope, 100Years Hendra Gunawan, Ciputra Artpreneur, Jakarta, Indonesia PostFEst2018, Taman
Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia
2017 Art Stage Singapore with Nadi and Edwin’s Gallery, Singapore
WRITTEN IN THE SKY with Honold Fine Art, TONYRAKA Art gallery, Bali Alfi, Zakii, Jai, Cult gallery, Kuala
Lumpur, Malaysia
Art Stage Jakarta with Edwin’s and Rachel gallery, Jakarta
CELEBRATING DIVERSITY, LATAR, Jakarta, Indonesia
LINKAGE 20th OHD Museum, Magelang, Indonesia
Seninjong, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia
Suka Pari Suka, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia
Pink Project #3, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia
BAKABA #6, organized by sakato art community, Yogyakarta, Indonesia
2016 Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Chicken Church, Magelang, Indonesia
Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Rumah Wayang Topeng, Ubud, Bali, Indonesia Art Taipei with Edwin’s
gallery, Taipei, China
Follow the White Cube, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia Bazaar Art Jakarta with
Edwin’s gallery, Jakarta, Indonesia
Artists’ Engagement with Art History, YOS Yogyakarta Open Studio, Yogyakarta, Indonesia
Poetical State of Mind. Jumaldi Alfi, Yusra Martunus, Handiwirman Saputra. NAFA galleries, Singapore
South East Asia Triennale Plus, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia
The Sea is Calling, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia
The Fundamentals in Art, Part 1: Figure, ARNDT Gallery, Singapore
At the Still Point, curated by Tony Godfrey, LAF, Yogyakarta, Indonesia
Bakaba #5, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Art Basel Hong Kong
with Nadi Gallery, Hong Kong, China
Redraw II: Discovery, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia
2015 70 Years Republic of Indonesia, curated by Jim Supangkat, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia
Don’t Shoot the Painter, UBS Collection exhibition, Villa Reale, Galleria d’Arte Moderna, Milan, Italy
Six Degrees of Separation, Canna Gallery, Jakarta, Indonesia
Pameran Dies Natalis, ISI Gallery, Yogyakarta, Indonesia
Archive, Yogyakarta Open Studio #3, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia Randang dan Rendang,
Bakaba #4, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia
Medium of Living, Martell 300 Tricentennaire exhibition, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia Art Basel Hong
Kong with ARNDT Gallery, Hong Kong, China
Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore
20+2 Years Anniversary Show, ARNDT Gallery, Singapore
2014 Hospitality, Berlin Open Studio #1, Studio Fendry Ekel, Berlin, Germany
International Relation, Yogyakarta Open Studio #2, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia
Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Sangkring Art Space, Yogyakarta,
Indonesia
Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Gajah Gallery, Singapore and Galeria
Habana, Havana, Cuba
Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore
Pameran Fiesta Kota Tua, Jakarta, Indonesia
Art Basel Hong Kong with Nadi Gallery, Hong Kong, China
Kini. Bakaba #3, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia
Galeri Ruang Dini 2013 Map of Association, Yogyakarta Open Studio #1, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia
Peristiwa Sebuah Kelas, Forum Ceblang Ceblung, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Istanbul Art
Fair with Yavuz Fine Art, Istanbul, Turkey
Pameran Seni Rupa di Rumah Warga, 8th Anniversary Jatiwangi Artfactory, Majalengka, Indonesia
10 Years After, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China
Jiwa Ketok dan Kebangsaan, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia
Non Ekspresi, Surakarta, Indonesia
Kindred By Choice (w. Martin Kippenberger, Fendry Ekel, Andy Warhol, Entang Wiharso and Daniel Richter),
ARNDT Gallery, Singapore ART JOG, Taman Budaya Yogyakarta
Me, Jumaldi Alfi and Heri Dono, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China
Prague Biennale 6, Prague, Czech Republic
Art13, London’s Global Art Fair with Primo Marella Gallery, London, United Kingdom
Indonesian Pavilion, Art Stage Singapore, Singapore
Weight of History. The Collectors Show, Singapore Art Museum, Singapore
2012 The Window of Jendela, OHD Museum, Magelang, Indonesia A Sign of Absence, Edwin’s Gallery, Jakarta,
Indonesia Earthly Evocation, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China
2x2, Eilleen Kaminsky Foundation, New York
Estate, curated by Lucie Fountain, Marianne Boesky Gallery, New York Yogyakarta – 5 Artists From
Indonesia, Marc Straus Gallery, New York Reclaim.doc, Gallery Nasional, Jakarta
Legacy, Esa Sampoerna Art Museum, Surabaya – Indonesia
2011 Documenting Now: Person to Person, UPT Gallery, Yogyakarta - Indonesia Back to the Future, Sangkring
Art Space, Yogyakarta - Indonesia
ARTJOG, Yogya Art Fair, Yogyakarta - Indonesia
Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya - Indonesia
Bayang, the National Gallery of Indonesia, Jakarta
Hong Kong International Art Fair (ART HK 11)”, with Nadi Gallery, Hong Kong Art Stage Singapore 2011,
Gajah Gallery; STPI, Singapore
Art Amsterdam, Metis Gallery, Amsterdam
2010 The Show Must Go On, celebrating the 10th anniversary of Nadi Gallery, the National Gallery of Indonesia,
Jakarta
Unity: The Return to Art, Wendt Gallery, New York
Hong Kong International Art Fair (ART HK 10)”, Nadi Gallery, Hong Kong
Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya - Indonesia
Space and Image, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta
Transfiguration, Jakarta Art District, Jakarta
Masih Ada Gus Dur, Langgeng Gallery, Magelang, Yogyakarta - Indonesia Bakaba, Sakato Art Community,
Jogja National Museum, Yogyakarta - Indonesia
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i 2009 Biennale Jogja X 2009, Sangkring Art Space II, Yogyakarta - Indonesia Kado #2, Nadi Gallery, Jakarta
Two Sides of Solitude: Jumaldi Alfi and Andy Dewantoro, Garis Art Space, Jakarta Diverse – 40 x 40: Andy
Dewantoro, Jumaldi Alfi, Nasirun, Sin Sin Fine Art, Hong Kong
2nd Odyssey, Srisasanti Gallery, Yogyakarta - Indonesia
Reach for the Heart, Sin Sin Fine Art, Hong Kong
Awareness, Indonesian Art Today, Canvas International Art, Amsterdam
The Topology of Flatness, Edwin Gallery, Jakarta
In Rainbow, Esa Sampoerna Art House, Surabaya - Indonesia
Shanghai Art Fair, Nadi Gallery, Shanghai, China
Hong Kong International Art Fair (ART HK 09), Nadi Gallery, Hong Kong
Jendela – A Play of the Ordinary, NUS Museum, Singapore
Friendship Code, Syang Art Space, Magelang - Indonesia
2008 Ruang dan Waktu, V’art Gallery, Yogyakarta - Indonesia
Expose #1 - A Presentation of Indonesian Contemporary Art by Deutsche Bank & Nadi Gallery, Four
Seasons Hotel, Jakarta
Alfi Painting Series & Handiwirman Saputra: Exterior, Inside View—Interior, Outside View, ShContemporary
08, organized by Nadi Gallery, Jakarta Manifesto, the National Gallery, Jakarta
CIGE 2008 (China International Gallery Exposition), Nadi Gallery, Beijing
A Slice Indonesian Contemporary Art, Soka Contemporary Center, Beijing
Indonesian Invasion, Sin Sin Fine Art, Hongkong
Tribes _ Group 3, Sin Sin Fine Art, Hongkong
2007 Shanghai Art Fair, Langgeng Gallery, Shanghai
Cilukba!/Peekaboo!, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur Fetish
Part I, Biasa Gallery, Seminyak, Bali
Indonesia Time, V-Art Gallery, Yogyakarta – Indonesia
IVAA book aid vol. 01/07, Nadi Gallery, Jakarta
Common Grounds, A glimpse of Indonesian contemporary art, Gallery Nasional, Jakarta Contemporary
Indonesian Art Now, Nadi Gallery, Jakarta
2006 ICON: Retrospective, Jogja Gallery, Yogyakarta – Indonesia Tobacco Wedding and Art, Magelang - Indonesia
2005 Oven View, Biasa Gallery, Seminyak, Bali - Indonesia
Beauty and Terror, Loft Gallery, Paris, France
Indonesian Contemporary Art, iPreciation, Singapore
Re-Reading Landschaap, Sakato Group, Nadi Gallery, Jakarta
The Ordinary, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Nadi Gallery, Jakarta Urban Culture, CP. 2nd Biennale,
Museum Bank Indonesia, Jakarta
2004 Multi Sub Culture, Berlin
Wings of Words, Studio Budaya and Langgeng Gallery, Magelang – Indonesia
Behind the Concept, Gaya Fusion Gallery, Bali – Indonesia
ARTSingapore 2004, Sun Jin Gallery, Suntec City, Singapore
Mempertimbangkan Tradisi, Sanggar Sakato, Gallery Nasional, Jakarta
Barcode, 16th FKY (Yogyakarta Arts Festival), Taman Budaya, Yogyakarta - Indonesia Get the Book!!!, Fund
Raising, KKF, Yogyakarta - Indonesia
2003 Read Art Project, Cemeti Art House, Yogyakarta - Indonesia
Read Art Project, UGM Library, Yogyakarta - Indonesia
No Body, MonDecor Gallery, Jakarta
Borobudur, Borobudur International Festival 2003, H. Widayat Museum, Magelang - Indonesia Bazart, 15th
FKY, Benteng Vredeburg Museum, Yogyakarta - Indonesia Membaca Ruang-Ruang, Muara Art House,
Yogyakarta - Indonesia
Exploring Vacuum I, Cemeti Art House, Yogyakarta - Indonesia Drawing, Sanggar Dewata Indonesia,
Yogyakarta - Indonesia Interpellation, CP Open Bienalle, Gallery Nasional, Jakarta 10th Indonesian Art
Awards, ASEAN Building, Jakarta Infatuated, Sun Jin Gallery, Singapore
Passion: Etno Identity, Shanghai; Beijing; Jakarta
Awards Finalist of the 10 th Indonesian Art Awards
2003 The Best Painting Awards, Indonesian Institute of Arts (ISI), Yogyakarta - Indonesia Finalist of the 5 th
1998 Indonesian Art Awards
Galeri Ruang Dini
Tra jec tor y of Ex ist en tia l Mem ory - J uma l di A lf i In conjunction with the exhibition of:
Trajectory of Existential Memory
Jumaldi Alfi
Ruang Dini
8 - 24 Maret 2022
Published by Ruang Dini, 2022
www.galeriruangdini.com
Opening Hours
Tuesday - Sunday 10AM - 5PM
Admission Fee
Free Entry
Organized by
Ruang Dini
Media Partner
Indo Art Now
Bandung Connex
Artcase
Ruang Dini
Jl. Anggrek No.46, Cihapit, Bandung,
Jawa Barat 40114
Tel. +62 81382995424