The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Digital Catalog - Ruang Mes 56 - Ruang Dini

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ary Rustandi, 2022-03-11 01:07:47

Digital Catalog - Ruang Mes 56 - Ruang Dini

Digital Catalog - Ruang Mes 56 - Ruang Dini

Galeri Ruang Dini

Tim Galeri

OWNER & FOUNDER RUANG DINI
Dini Triani Haryanti
PENGARAH ARTISTIK
Andy Dewantoro
MANAJER OPERASIONAL
Muthia Fatharani
IN-HOUSE COPYWRITER & EDITOR
Raisha Adistya Pramita
DESAIN & TATA LETAK
Ary Rustandi

Surveying Survacing

Pameran Bersama
RuangMes56

Kurator
Indeks

Seniman
Akiq AW
Danysswara (Gobi)
Riz a Pradito Yuwono ( D i to Yuw ono)
Rangga Purbaya
Woto Wibowo (Wok The Rock)

Galeri Ruang Dini BUNGA RAMPAI I
PENGAWASAN DAN 19 64 - 1971
PENERAWANGAN Menj el a ng s enj a k a l a De m o k ra s i Te rp i m p i n , t ra n s fo rm a s i S e k b e r
Golongan Fungsional menjadi sebuah parpol ikut dibidani oleh
Surveying Survacing seorang “dukun” politik. Perwira militer ini gandrung akan ramalan
J a ya ba ya ya ng m e n u b u a t k a n t a t a n a n s t a b i l b e rn e g a ra . Te ra wa n g a n
politiknya ampuh. Restunya mengamini pohon beringin sebagai
simbol. Lewat sulur-sulurnya, pohon bertuah ini diyakini membawa
semangat mengayomi dan menyatukan. Pohon yang awalnya jadi
salah satu elemen lambang negara, lantas terkooptasi pada satu
kendaraan politik praktis yang menggurita selama lebih dari tiga
dekade setelahnya.

II
2008
Pada pameran besar seni rupa Manifesto pertama di Galeri Nasional
Indonesia, Wok the Rock menghadirkan citra fotografis sebuah pohon
beringin. Pohon pada karya bertajuk The Great Banyan Disorders:
Culture tersebut tampak berdiri kokoh, asri, rindang, sekaligus
angker dan mistis. Sejak peradaban animisme masih mendominasi
keyakinan masyarakat Nusantara, pohon ini lekat dengan sejumlah
asosiasi metafisis serta memiliki posisi penting dalam spiritualitas
ma s ya r a k a t. Poho n b e ri n g i n a d a l a h t e m p a t wa rg a d e s a Tru n y a n
meletakkan jasad kerabat mereka, tempat penduduk gunung api
Nglanggeran mempersembahkan sesajen, dan juga simbol hayat bagi
wa rg a k e ra t o n Yo g y a k a rt a .

Namun, menilik lebih dekat ke sebelah kanan pohon beringin
tersebut, tampak seekor anjing sedang mengangkat satu kaki dan
kencing. Hal yang kebanyakan manusia di Indonesia tidak berpikir

untuk melakukannya.

III
2022
Menantang kesakralan, empat belas tahun kemudian manusia justru
hadir dan melakukan hal serupa pada sang pohon. Wok the Rock
kembali berspekulasi dengan sejumlah “penistaan”. Kali ini pohon
beringin tersebut digambarkan penuh dengan timbunan barang
rongsok, tempat apparat sipil negara mangkir absen untuk berasyik
masyuk, masuk dalam masterplan kontraktor pengembang, dan tempat
pelajar mengakhiri hidup. The Great Banyan Disorders (Series) hadir
menggugat wibawa sang pohon besar.

IV
2022
Pada Surveying Surfacing, pohon beringin bersanding dengan citra
fotografis lainnya, seperti relief petugas polisi dan arsip hunian tipikal
Perumnas. Konstelasi ini memperluas asosiasi citra pohon beringin
dari sekedar penanda entitas ekologis dan klenik, ke spektrum politik
Indonesia (baca: Orde Baru). Layaknya relief aparat lalu lintas pada
s er i f oto D i D i nd i n g Ko t a A k u Te m u k a n Pa ra A n g g o t a k a ry a A k i q
AW, yang catnya terkelupas, retak, dan ditimpa vegetasi liar, pohon
beringin pada foto Wok juga tidak ditampilkan sebagai sebuah

penanda otoritas negara yang adiluhung.

Kedua karya tersebut tidak diciptakan sama; Di Dinding Kota Aku

Temuk a n Pa r a A n g g o t a a d a l a h s e b u a h d o k u m e n t a s i fo t o g ra fi s ,

sedangkan The Great Banyan Disorders (Series) merupakan

apropriasi spekulatif. Namun demikian, apropriasi dan dokumentasi ini

merekam hal yang sama: memudarnya sebuah era kekuasaan tunggal.

V
194 9 / 19 84
Dalam dongeng dystopia Orwellian, kepatuhan tidak (hanya) didorong
oleh pengawasan langsung melalui telescreen. Kepatuhan juga
dibentuk melalui peringatan berulang-ulang bahwa khalayak dalam
pengawasan. Perangkat peringatan bukanlah berupa sebuah teknologi
transmisi informasi, melainkan secarik kertas dengan sebait kalimat
atau wajah bung besar sebagai penanda otoritas. Di Indonesia,
kepatuhan juga diusahakan lewat emulasi pengawasan oleh polisi
yang terbuat dari beton atau himbauan untuk melaporkan tamu yang
berkunjung lebih dari 1 x 24 jam.

VI
1974
Satu dekade pasca Orde Baru berkuasa dan meletakkan dasar
“stabilitas”, protes mahasiswa berskala besar pertama pecah.
Soeharto sadar bahwa generasi baru telah lahir; generasi yang tidak
disatukan atau berbagi pengalaman yang sama dengan revolusi fisik.
Rezim ini perlu mendefinisikan ulang pembangunan manusianya untuk
Indonesia modern. Pendekatan pembentukan keluarga yang humanis
dan harmonis dipilih untuk menciptakan generasi selanjutnya yang
lebih beradab dan patuh. Dan Soeharto menempatkan dirinya menjadi
sang “kepala keluarga”.

VII
2000 / 1975 / 19 91
Abidin Kusno secara spesifik menggaris bawahi pergantian konsep
pemimpin populis ala “bung”, yang dilekatkan pada ketua Demokrasi
Ter pi mpi n, menj a d i k o n s e p “ b a p a k ” s e b a g a i fi g u r y a n g m e m b i m b i n g
dan mengayomi. Seketika presensi visual otoritas di periode ini
bertambah dengan bertebarannya foto sang presiden yang tersenyum
di billboard dan televisi. Sebagai “kepala keluarga”, Soeharto
mer uj uk pa da ga g a s a n “ Tu t Wu ri H a n d a y a n i ” , d i m a n a a n a k d i b e ri k a n
kesempatan untuk belajar dan mendisiplinkan diri melalui pengalaman,
pema ha ma n, da n u s a h a n y a s e n d i ri . Ya n g p e rl u s e o ra n g o ra n g t u a
lakukan hanyalah melakukan pengawasan dan bimbingan agar anak
tidak membahayakan dirinya atau orang lain. (Kusno, 2000)

VIII
19 8 6
Populisme bung besar dibangun lewat revolusi di jalan-jalan dan
pembangkangan atas hegemoni asing. Bagi Soeharto, konsep tersebut
harus digantikan dengan institusi yang lebih domestik dan beradab:
rumah. Siegel menekankan pangkal gagasan jalanan sebagai sumber
bagi segala yang mengancam dan tidak teratur telah lama dikenal
di Jawa. Ia mempostulatkan, kebalikannya dari rumah, jalanan sering

Galeri Ruang Dini dipandang sebagai ruang ketidakpastian, penuh dengan kegilaan dan
segala yang menyeramkan. Pembangunan hunian domestik adalah
Surveying Survacing usaha yang perlu diperluas hingga ke titik terluar perkotaan. Usaha-
usaha ini, lanjut Kusno, hanya bisa terjadi di negara yang warganya
patuh, yang tahu tempatnya, dan tidak tersesat di jalan serta keramaian.
Usaha ini menemukan contohnya pada komunitas “kelas menengah”
yang ruang tinggalnya berfungsi tidak hanya sebagai ruang dominasi
dan eksploitasi, tapi juga proses formatif yang bersinergi bagi tujuan

negara. (ibid)

IX
1976
Tidak ada rangkuman yang lebih bernas tentang pengamatan dan
catatan yang dilakukan oleh Kusno dan Siegel, dibandingkan siaran
ber i ta ya ng ber has i l d i t a n g k a p o l e h Di t o Yu wo n o d a l a m S a ra n a B i n a
Keluarga. Perumnas yang diresmikan Soeharto diluncurkan sebagai
sebuah paket pembangunan tata kota ke wilayah satelit dan sekaligus
pembentukan karakter manusia sesuai dengan agenda pemerintah.

Berita tentang bapak pembangunan coba diingat Dito lewat lapisan-
lapisan arsip foto rumah tanpa presensi manusia. Bukan katalog
pengembang, bukan arsip majalah interior, arsip keluarga ini adalah
catatan bahwa presensi teknologi fotografi makin menjangkau rumah
tangga tanpa perlu adanya kebutuhan mengabadikan momen para

penghuninya.

X
19 9 8
Pemerintahan Orde Baru Indonesia berakhir di penghujung millennium.
Ini adalah masa dimana dot com bubble menyapu pasar bursa di
Amerika dan keterhubungan lintas negara secara lebih mandiri adalah
hal yang niscaya. Pasca reformasi, liberalisasi media, transformasi
budaya visual yang cepat, pergantian sitausi politis dan ranah sosial
memainkan peranan penting. Ini membuat hal-hal terdesentralisasi;
adopsi teknologi non-negara. (Kusuma, 2013)

XI
2 016
Untuk pertama kalinya setelah setengah abad, pemerintah Indonesia
menggelar simposium yang membahas peristiwa 19 65. Simposium ini
digelar oleh kantor Kemenkopolhukam bersama Komnas HAM dan
Dewan Pers. Para penyintas dan pelaku hadir untuk bercerita. Negara
tidak meminta maaf.

Di paruh kedua dekade ini, teknologi AI sudah semakin jamak
dijumpai hingga ke tataran konsumer. Di jagad maya, akun Instagram
pewarna arsip foto monokrom merengguk followers, data scientist
menjadi primadona baru lowongan kerja, inisiatif Foresic Architecture
mengumumkan bekerja dengan “synthetic images”, dan data peserta

B PJ S b o c o r.

XII
2022

Inisiatif menulis ulang sejarah peristiwa 19 65 terus berlangsung
secara mandiri di tengah masyarakat Indonesia. Rangga Purbaya
adalah salah satu pelaku seni dan budaya yang mencoba
mengaplikasikan teknologi neural network untuk memperoleh citraan
portret dari orang-orang yang menjadi tumbal pengambilalihan
kekuasaan. Sebagai sebuah instrumen, teknologi kecerdasan buatan
bergantung pada data yang tersedia untuk diingat oleh sang mesin.
Semakin banyak fragmen informasi terkait sebuah subyek terinput
dan bersirkulasi, maka semakin mudah kecerdasan buatan mengelola
data dan mensintesis informasi olahan baru. Sayangnya, narasi dan
informasi visual pada sisi korban peristiwa 19 65 adalah hal-hal yang
terlalu lama ditabukan untuk dibicarakan, diingat, apalagi dicatat
secara formal. Pada karya Rangga, citraan wajah cukup memang
berjarak dari sifat visual fotografis, namun demikian, karakter facial
masih sangat jelas untuk bisa dikenali dan diingat. Dalam usaha
untuk mendapatkan informasi sintesis terkait peristiwa 19 65, bisa
jadi institusi kecil setingkat keluarga atau kerabat menjadi tempat
terakhir untuk mendulang data. Generasi memang akan berganti dan
lupa adalah ancaman paling laten. Pengolahan data yang dilakukan

oleh Rangga adalah penyegeraan untuk mengawetkan ingatan.

XIII
2021
Setahun setelah Covid 19 ditetapkan menjadi pandemi global, vaksin
telah melewati uji klinis dan tersertifikasi untuk diberikan kepada
publ i k . Ta pi buk a n n y a t a n p a p e n o l a k a n . M e n a ri k n y a , p e n o l a k a n a t a s
pemberian vaksin ikut didasarkan pada disinformasi atas adanya
teknologi microchip pelacak yang ditanamkan ke tubuh manusia.
Sebuah teknologi yang sebetulnya cukup umum diaplikasikan ke
hewan, kucing contohnya.

XIV
2022
Melihat After Vaccine karya Gobi, sebetulnya akan sulit untuk
mentertawakan disinformasi yang pernah dipercaya banyak orang.
Foto komponen elektronik yang membekas di balik kulit lengan atas
ter s ebut buk a nl a h s e b u a h a p ro p ri a s i y a n g k o m i k a l . Ta n p a m i c ro ch i p
yang ditanamkan ke dalam tubuh, konsekwensi penanganan pandemi
memang telah jauh melintasi batas privasi. Sistem besar yang dikelola
oleh otoritas negara menguhubungkan banyak informasi personal
dan meregulasinya secara ketat. Sertifikasi vaksin terhubung dengan
nomor kependudukan dan menjadi prasyarat untuk berperjalanan
dan mengakses ruang-ruang publik. Belum lagi aturan untuk selalu
memindai QR code yang artinya merekam keberadaan individu pada
lokasi dan waktu tertentu.

XV
2021
Penanganan pandemi bukanlah yang pertama dalam membuat informasi
individu selalu dalam pantauan. Integrasi data dan kewajiban untuk
terdaftar resmi pada sebuah jaringan formal secara perlahan terus
di i mpl ementa s i k a n o l e h n e g a ra . Ta n p a n o m o r i n d u k k e p e n d u d u k a n
yang sinkron, agak sulit bagi individu untuk membuka rekening atau

Galeri Ruang Dini di i mpl ementa s i k a n o l e h n e g a ra . Ta n p a n o m o r i n d u k k e p e n d u d u k a n
yang sinkron, agak sulit bagi individu untuk membuka rekening atau
mendaftarkan nomor ponsel. Rencana kebijakan paling mutakhir dari
us a ha i ni a da l a h m e wa j i b k a n k e a n g g o t a a n B PJ S b a g i k e p e m i l i k a n
tanah dan properti. Tidak berhenti di antara negara dan khalayak,
sejumlah instrumen legal juga diterbitkan untuk meregulasi swasta

untuk menerapkan integrasi data yang sama kepada konsumennya.

Kepatuhan, pada tahap ini, tidak selalu perlu ditegakkan lewat
tindakan langsung atau peringatan yang berulang-ulang. Sistem yang
diciptakan sebenarnya makin tidak menyisakan banyak ruang untuk
menghindar jika seseorang ingin menjadi bagian dari tatanan sosial.

XVI
2022
Masing-masing dari para seniman di pameran ini tumbuh menyaksikan
periode kekuasaan politik yang berbeda-beda. Mereka memiliki
persepsi dan pengalamannya sendiri atas moda produksi citra; moda
produksi yang pada pameran ini ditempuh secara berbeda-beda untuk
merekam, mengingat, menulis ulang, hingga menandingi otoritas
negara dalam membentuk kepatuhan khalayak. Dalam rentang waktu
enam dekade, pembangunan karakter manusia ini dilakukan lewat
pembangunan infrastruktur, karisma politik electoral, hingga regulasi
teknologi informasi.

Surveying Surfacing adalah bunga rampai catatan usaha untuk
membentuk kepatuhan yang terus menerus digagas setelah yang

sebelumnya menjadi usang.

Indeks

Surveying Survacing



Surveying Survacing Galeri Ruang Dini

AKIQ A.W.

Akiq AW, Yogyakarta based artist and curator, is
a member of MES 56 artists collective and The
Trengginas, a punk rock wannabe band based also
in Yogyakarta. His works mostly talk about the
tactics of everyday life by everyday people. His first
exposed photo series, The Order of Things, was a
story on how people live on their own creativity and
imagination; he took photos of “installation” made
by common people.

His solo exhibitions include “The Order of Things”
(2010) at Mes 56, Yogyakarta and “One Man
Different God” (2011) at The Goods Dept, Jakarta.
With Mes 56, he was part of the exhibition in
Center for Contemporary Photography, Melbourne
- Australia (2013), and Song Eun Art Space, Seoul
- South Korea (2016). His work has been exhibited
in Jogja Biennale 13 (2011), Art Dubai (2012),
38th EVA International Ireland’s Biennale 2018
dan Dak’Art 2018, The Biennale of Contemporary
African Art, Dakar, Senegal, among others. He
was Artistic Director for ‘Kuasa Ingatan’ Archive
Festival Exhibition organized by Indonesian Visual
Art Archive (2017) and Co-Curator of 15th Edition
of Jogja Biennale 2019.

Galeri Ruang Dini

Di Dinding Kota Aku Temukan Para
Anggota: Anggota Detail

Archival Inkjet print on mashed
photographic paper 110 x 130 cm

2019

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Di Dinding Kota Aku Temukan Para
Anggota: Anggota Kiri

Archival Inkjet print on mashed
photographic paper 90 x 110 cm

2019

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Di Dinding Kota Aku Temukan Para
Anggota: Anggota Kanan

Archival Inkjet print on mashed
photographic paper 90 x 110 cm

2019

Surveying Survacing



Surveying Survacing Galeri Ruang Dini

DANYSSWARA

Danysswara a.k.a. Gobi (b. 1996, Jakarta) completed
his Photography studies at the Indonesia Institute
of the Arts Yogyakarta. He is currently involved
in SOKONG!, a collective based in Yogyakarta
producing zines and photobooks.

Gobi is one of the participants of the Panna
Mentorship 2017, and Training of Trainers (ToT)
2020 part of the Permata PhotoJournalist Grant
which is a training program organized by the Panna
Foto Institute. In 2019 he learned about the analog
photographic processes at the Gold Street Studios,
Victoria, Australia.

In late 2021 he created his first solo exhibition
“Selamat Tinggal Privasi” at Ruang MES 56. Now
he works and plays in Yogyakarta as an educator
and program coordinator of Afdruk 56 which is a
darkroom studio in Ruang MES 56.

Galeri Ruang Dini

After Vacine

Photography Print On Photo Paper
40 x 60 cm,
2021

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

No Secret Between Us

Photography Print On Photo Paper
105 x 60 cm,
2021

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Selamat Tinggal Privasi! No.3

Photography Print On Photo Paper
70 x 70 cm,
2021

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Selamat Tinggal Privasi! No.1

Photography Print On Photo Paper
40 x 60 cm,
2021

Surveying Survacing



Surveying Survacing Galeri Ruang Dini

DITO YUWONO

Dito Yuwono (b.1985) works as a visual artist-
curator in Yogyakarta – Indonesia. Dito Yuwono’s
work often addresses social issues and interested
in the narrative of how a space is interwoven with
politics, whether it is a domestic space or a public
sphere through the production of site-specific
work, interventional project, video, photography, and
audio-visual installation.

In the past five years, Dito did numerous residencies
as part of his artistic practice at institutions such as
The Northern Territory Center for Contemporary Art
– Australia; Ruangrupa – Indonesia; Jatiwangi Art
Factory – Indonesia; GOLEB & Het Wilde Weten –
The Netherlands; and TIFA Working Studios – India.
His work has been exhibited in Herbert F. Johnson
Museum of Art – United States, Jimei X Arles
International Photo Festival 2017, Cemeti Institute
for Art and Society – Indonesia, ISCP New York –
United States, among others
In 2011, he co-founded LIR—an art institution turns
curator collective, and since 2020, he holds the
position as co-director of Ruang MES 56.

Galeri Ruang Dini

Sarana Bina Keluarga
(Family Building Facilities)

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Sarana Bina Keluarga
(Family Building Facilities)

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Sarana Bina Keluarga
(Family Building Facilities)

Surveying Survacing



Surveying Survacing Galeri Ruang Dini

RANGGA PU R BAYA

Rangga Purbaya is a visual artist interested in
collective memory, narrative, archive, and history
of the 1965 genocide in Indonesia. He adopted
an investigative method of excavating personal
histories, re-mapping memories, and identity in
his artistic approach to reconnect the distances
caused by the tragedy. His work integrates different
mediums, such as photography, text, mix-media,
video installation, and performance.

His solo exhibitions include “Stories Left Untold” at
the Fête de l’Humanité, Paris, France (2016), and
“Letter To The Lost One” at MES 56, Yogyakarta
(2017). In the past five years, he did a residency
at ACC, Gwangju, South Korea (2018) and
numerous exhibition at Jimei X Arles International
Photo Festival, China (2017), Song Eun Art Space,
Seoul (2017), ACC, Gwangju, South Korea (2018
& 2019), Organhaus, Chongqing, China (2018),
Medo Art & Mondial Research EU, Vienna, Austria
(2018), BARRAK Gallery, Okinawa, Japan (2019),
Contemporary Art Museum, Kumamoto, Japan
(2021), and Iwaya Community Art Biennial, Lagos,
Nigeria (2021) among others.

He graduated from the Photography Department,
Indonesian Institute of the Arts. In 2002, he co-
founded Ruang MES 56, and in 2015 became a
member of 1965 Setiap Hari – a transnational
research and relay collective working with social
media in Indonesia.

Galeri Ruang Dini

Kardi 35thn Guru SD Tulungre jo
2 9 - 11 - 19 6 5

Figuring Misfortune (Series)
Digital print on photo paper 40 x 40 cm

2022

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Rukiman 40thn Tani Tulungredjo
2 9 - 11 - 19 6 5

Figuring Misfortune (Series)
Digital print on photo paper 40 x 40 cm

2022

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Subali 48thn Pengairan Tulungre jo
2 9 - 11 - 19 6 5

Figuring Misfortune (Series)
Digital print on photo paper 40 x 40 cm

2022

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

Kardi 35thn Guru SD Tulungre jo
2 9 - 11 - 19 6 5

Figuring Misfortune (Series)
Digital print on photo paper 40 x 40 cm

2022

Surveying Survacing



Surveying Survacing Galeri Ruang Dini

WOK THE ROCK

Wok The Rock is an artist who uses various
disciplines of art, culture and collective management
as a tool for developing creativity and new thinking
with a popular and experimental approach. He is
involved in various arts and cultural initiatives such
as MES 56, Yes No Wave Music, Indonesia Netaudio
Forum, and is currently the co-curator of Nusasonic.
Live and work in Yogyakarta.

Galeri Ruang Dini

The Great Banyan Disorders
Photography print on photo paper

75 x 75 cm
2022

Surveying Survacing



Galeri Ruang Dini

The Great Banyan Disorders
Photography print on photo paper

75 x 75 cm
2022

Surveying Survacing


Click to View FlipBook Version