overhead pabrik dan biaya tenaga kerja langsung. Ketiga unsur biaya tersebut
sangat berpengaruh pada kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan.
a. Bahan Baku Langsung (Direct Material)
Bahan yang berbentuk fisik serta diidentifikasi dan di proses menjadi
bagian barang jadi, atau dapat dilihat asal usulnya sebagai barang jadi dengan
cara ekonomis dan sederhana.
b. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour)
Bahan baku yang menjadi produk jadi telah dikonversi oleh tenaga
kerja yang melakukan kegiatan tersebut dan bisa digabungkan secara layak ke
produk tertentu dalam proses produksi.
c. Overhead Pabrik (Factory Overhead)
Biaya overhead pabrik merupakan biaya yang tidak bisa dikaitkan
langsung dengan produksi suatu produk maupun jasa. Biaya overhead
merupakan jenis pengeluaran yang pada semua jenis perusahaan. Biaya ini
memiliki peran yang sangat penting pada kelangsungan hidup bisnis maupun
perusahaan.
Apabila perusahaan mempunyai departemen selain produksi, maka
biaya yang terjadi di dalam departemen pembantu akan dikelompokkan dalam
Biaya Overhead Pabrik atau BOP. Umumnya, BOP muncul dari biaya-biaya
untuk tenaga kerja tidak langsung, penggunaan bahan tambahan, pajak,
pengawasan mesin produksi, asuransi, dan juga beragam fasilitas tambahan
dalam proses produksi.
Biaya overhead juga bisa diartikan sebagai biaya yang ada pada
Laporan Laba Rugi perusahaan yang ada di luar aktivitas produksi perusahaan.
Gambaran sederhananya, pembelian persediaan tidak masuk pada biaya
overhead. Sebab, biaya ini berkaitan pada kegiatan produksi perusahaan secara
langsung.
2. KLASIFIKASI BIAYA PRODUKSI
43
Dalam menjalankan proses produksi tentu harus mengetahui apa saja
yang termasuk production cost. Karena biaya tersebut yang akan berpengaruh
dan sebagai pelaporan keuangan perusahaan.
Berikut Merupakan contoh biaya yang digunakan dalam acuan
perhitungan produksi.
• Fixed Cost (Biaya Tetap)
Fixed cost merupakan biaya dengan jumlah tetap serta tidak bergantung
pada produksi yang didapatkan pada periode tertentu. Sebagai contoh, pajak
perusahaan, sewa gedung, biaya administrasi dan sebagainya.
• Variable Cost
Biaya variabel ini besarnya bisa berubah-ubah disesuaikan dengan hasil
produksi. Dalam artian hasil produksi yang semakin besar maka biaya variabel
juga akan semakin besar. Seperti, upah bagi pekerja, biaya bahan baku yang
digunakan sesuai dengan jumlah produksi.
• Total Cost
Pada periode tertentu sebuah perusahaan menghasilkan barang jadi.
Maka total dari biaya tetap dan biaya variabel yang digunakan perusahaan
tersebut dihitung sebagai besarnya production cost, inilah biaya total.
• Average Cost
Adanya production cost per unit yang dihasilkan oleh perusahaan yang
mengasilkan barang produksi dalam jumlah banyak dan average cost ini
dihitung melalui pembagian total biaya dengan jumlah produksi yang
dihasilkan di perusahaan.
• Marginal Cost
Biaya marginal merupakan biaya tambahan yang dibutuhkan dalam
menghasilkan unit barang yang sudah jadi. Marginal cost yang muncul saat
adanya perluasan produksi pada saat akan menambah jumlah barang yang
dihasilkan.
3. PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI
44
Berikut adalah contoh dari cara menghitung production cost. Misalnya
saja perusahaan GG yang memproduksi gasket untuk kendaraan bermotor,
dalam kurun waktu satu bulan bisa memproduksi 5000 produk jadi yang
dipasarkan pada 2 toko besar dan e-commerce secara online.
Pada proses produksi 5.000 produk jadi, maka diperlukan:
• Rp. 80.000.000 untuk pengadaan bahan baku
• Rp. 30.000.000 sebagai gaji karyawan
• Rp. 20.000.000 untuk endorsement
• Rp. 15.000.000 guna launching produk mengundang media
• Rp. 12.000.000 digunakan sebagai bandwith kuota internet
• Rp. 6.000.000 untuk transport produk ke 2 toko besar
• Rp. 10.000.000 packaging produk.
• Rp. 3.000.000 digunakan sebagai pengeluaran gudang
penyimpanan.
Setelah dijumlahkan biaya tersebut maka menghasilkan produksi
sebesar Rp 176.000.000 dan dibagi dengan 5000 unit, hasilnya biaya rata-rata
atau Average Cost untuk satu buah barang adalah Rp 35.200.
Contoh lain, sebuah PT ZZZ perusahaan dalam pengadaan spare-part
sepeda motor. Di awal Maret, PT ZZZ memiliki laporan bisnis sebagai
berikut,
• Persediaan bahan baku mentah Rp. 50.000.000
• Bahan baku setengah jadi, Rp 80.000.000
• Barang jadi yang siap dijual Rp. 110.000.000
• Pembelian persediaan bahan baku, Rp. 700.000.000
• Biaya pengiriman Rp. 10.000.000.
• Biaya pemeliharaan mesin Rp 8.000.000
• Sisa penggunaan bahan baku serta sisa bahan setengah jadi, Rp.
50.000.000
• Sisa bahan baku setengah jadi, Rp. 10.000.000
• Spare-part siap dijual Rp. 25.000.000.
45
Bahan baku digunakan = saldo awal bahan baku + pembelian bahan
baku- saldo akhir bahan baku. 80.000.000 + ( 700.000.000 +10.000.000) –
50.000.000 = 740.000.000
Total production cost = bahan baku digunakan + tenaga kerja langsung
+ overhead produksi. 135.000.000+ 8.000.000 = 143.000.000
Harga pokok produksi = total biaya + saldo awal persediaan – saldo
akhir persediaan. 143.000.000 + 80.000.000 – 10.000.000 = 213.000.000
Harga pokok produksi = HPP + persediaan barang awal – persediaan
barang akhir. 213.000.000 + 110.000.000 – 25.000.000 = 298.000.000
Jadi, harga pokok produksi bulan Maret adalah Rp 298.000.000.
Dengan adanya proses dari perhitungan biaya produksi serta contoh
production cost yang mempengaruhi perhitungan tersebut, maka diambil
kesimpulan bahwa setiap kebutuhan dan unsur yang mempengaruhi produksi
akan menghasilkan biaya.
LATIHAN
Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk menjawab soal latihan ini dengan benar, Anda harus membaca dan
mempelajari Kegiatan Pembelajaran 1 dalam Modul yang meliputi materi:
1. Analisis dan penetapan langkah-langkah optimasi fleksibilitas dan
efisiensi Tata-letak pabrik atau sistem aliran kerja
2. Penerapan Kaidah-kaidah perencanaan manajemen
3. Pengawasan, Perbaikan dan Peningkatan hasil keluaran (output)
Proses Produksi
4. Analisis Lintasan Kritis, Line Of Balance dan Linier Programming
5. Pengaturan dan Koordinasi Hubungan Kerja Antara Bagian
Perencanaan Produksi Dengan Tim Perancang Produk
6. Pengaturan Alur Proses Kerja Untuk Pekerjaan Produksi Dan
Manufaktur
7. Analisis Biaya Proses Produksi dan Manufaktur
Soal Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan
Anda mengerjakan soal latihan berikut ini!
46
1. Sebutkan dan jelaskan jenis dari penataan letak (layout) pabrik.!
2. Yang dimaksud dengan perwncanaan (Planning) dalam unsur
manajemen produksi adalah.?
3. Sebutkan dan jelaskan 4 langkah dalam pengawasan produksi.!
4. Tujuan dari merencanakan suatu proses produksi adalah.?
5. Suasana dan lingkungan kerja yang baik dapat diciptakabn melalui.?
RANGKUMAN
Secara garis besar, tujuan utama dari perencanaan dan pengaturan
tata letak pabrik ini adalah mengatur area kerja dan segala fasilitas produksi
yang paling ekonomis untuk operasi produksi, aman dan nyaman sehingga
menaikkan moral kerja dan performa dari operator. Lebih spesifik lagi suatu
perencanaan dan pengaturan tata letak yang baik akan memberikan
keuntungan dalam sistem produksi. Berdasarkan dari urutan mesin dan
peralatan produksi, tata letak pabrik dibagi menjadi empat jenis, yaitu
Process Layout, Fixed Layout, Product Layout, dan Group Layout.
Manajemen atau yang sering disebut pengelolaan atau tata laksana
adalah merupakan suatu proses dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian. Unsur-unsur yang
terkandung di dalam manajemen ini adalah terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian serta pengendalian.
Pengawasan secara umum dapat didefinisikan sebagai cara suatu
organisasi mewujudkan kinerja yang efektif dan efisien, serta lebih jauh
mendukung terwujudnya visi dan misi organisasi. Pengawasan Produksi
adalah kegiatan untuk mengoordinir aktivitas-aktivitas pengerjaan atau
pengelolaan agar waktu penyelesaian yang telah ditentukan terlebih dahulu
dapat dicapai dengan efektif dan efisien.
Perencanaan produksi adalah kegiatan pra produksi yang
merupakam pra-penentuan persyaratan manufaktur seperti tenaga kerja,
47
bahan, mesin dan proses manufaktur. Perencanaan produksi juga
merupakan penentuan, akuisisi dan pengaturan semua fasilitas yang
diperlukan untuk produksi di masa depan sehingga menggambarkan desain
system produksi.
Hubungan kerja adalah hubungan-hubungan dalam rangka
pelaksanaan kerja antara para pekerja dengan pengusaha dalam suatu
perusahaan yang berlangsung dalam batas-batas perjanjian kerja dan
peraturan kerja yang telah disepakati bersama oleh pekerja dan pengusaha.
Perencanaan tenaga kerja adalah cara menentukan kebijakan karyawan
yang berkaitan dengan stabilitas tenaga kerja, jadwal kerja, dan aturan
kerja.
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang dilakukan pada
proses produksi perusahaan. Biaya tersebut meliputi bahan baku, overhead
pabrik dan biaya tenaga kerja langsung.
EVALUASI
Petunjuk:
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat dari
beberapa alternatif jawaban yang disediakan!
Soal:
1. Ruang lingkup dari tata letak pabrik mencangkup bidang – bidang
sebagai berikut, kecuali …
a. Gudang bahan-baku
b. Produksi
c. Perkantoran
d. Keamanan
e. Perakitan
48
2. Penyusunan layout pabrik yang mengacu berdasarkan tempat dimana
produk yang dikerjakan tetap berada pada tempatnya, dan semua
fasilitas yang diperlukan seperti manusia, mesin atau peralatan dan
bahan bergerak menuju produk, ialah pengaturan pabrik jenis …
a. Process Layout
b. Fixed Layout
c. Product Layout
d. Group Layout
e. Machine Layout
3. Fungsi manajeman untuk menggerakkan orang-orang untuk bekerja
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan adalah …
a. Directing
b. Planning
c. Actuating
d. Organizing
e. Controling
4. Pengawasan produksi yang dilakukan terhadap arus pekerjaan sehingga
dapat menjamin kelancaran proses pengerjaan, merupakan pengawasan
jenis …
a. Flow Control
b. Order Control
c. Pre-Order Control
d. Load Control
e. Block Control
5. Berikut yang merupakan tujuan dari proses perencanaan produksi,
kecuali …
a. Untuk mencapai tingkat/level keuntungan (profit) tertentu.
b. Untuk menguasai pasar tertentu.
c. Untuk mengusahakan supaya perusahaan dapatbekerja pada tingkat
efisiensi tertentu.
49
d. Untuk memngusahakan dan mempertahankan supaya pekerjaan dan
kesempatan kerja yang sudah ada tetap pada tingkatnya dan
berkembang.
e. Untuk membuat harga barang lebih murah
6. Hubungan-hubungan dalam rangka pelaksanaan kerja antara para
pekerja dengan pengusaha dalam suatu perusahaan yang berlangsung
dalam batas-batas perjanjian kerja dan peraturan kerja yang telah
disepakati bersama oleh pekerja dan pengusaha, merupakan pengertian
dari …
a. Produktivitas kerja
b. Kenyamanan kerja
c. Hubungan kerja
d. Ergonomi
e. Rancangan kerja
7. Menetapkan tugas-tugas yang terkandung dalam suatu pekerjaan bagi
seseorang atau sebuah kelompok, merupakan pengertian dari …
a. Produktivitas kerja
b. Kenyamanan kerja
c. Hubungan kerja
d. Ergonomi
e. Rancangan kerja
8. Faktor yang sangat berperan penting bagi kinerja sebuah organisasi
ialah faktor …
a. Ergonomi
b. Produksi
c. Rancangan kerja
d. Kinerja manusia
e. Kinerja kelompok
9. Biaya yang ada pada Laporan Laba Rugi perusahaan yang ada di luar
aktivitas produksi perusahaan atau tidak bisa dikaitkan langsung dengan
produksi suatu produk atau jasa adalah …
50
a. Biaya bahan baku
b. Biaya tenaga kerja
c. Biaya overhead pabrik
d. Biaya produksi
e. Biaya distribusi
10. Berikut merupakan biaya yang digunakan dalam acuan perhitungan
produksi, kecuali …
a. Fixed Cost
b. Overhead Cost
c. Variable Cost
d. Total Cost
e. Marginal Cost
UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Periksalah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat di
bagian akhir Modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar.
Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap MERENCANAKAN PROSES PRODUKSI ATAU
MANUFAKTUR ini.
Rumus:
Tingkat penguasaan = %
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 - 100% = sangat baik
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
melanjutkan mempelajari materi selanjutnya. Tetapi apabila tingkat
penguasaan Anda masih di bawah 80 %, Anda harus mengulanginya, terutama
pada bagian yang belum Anda kuasai.
51
MENGAWASI
II PROGRAM
PENJAMIN MUTU
Pada Bagian ini Akan Mempelajari Tentang Indikator Keberhasilan
A. Pencatatan dan Pengaturan Kinerja Proses Setelah mempelajari pokok bahasan ini,
Produksi atau Manufaktur peserta didik diharapkan mampu:
1. Faktor Pengaruh Kinerja Produksi 1. Memahami tentang pencatatan dan
B. Pelaksanaan Cara/Metode Baru Untuk pengaturan Kinerja Proses Produksi.
Perbaikan Terus-Menerus Terhadap Proses 2. Memahami cara/metode baru untuk
Produksi Manufaktur perbaikan terus-menerus terhadap
C. Penerapan Kaidah Pengendalian Mutu proses produksi manufaktur
1. Manajemen Mutu
2. Pendekatan Manajemen Kualitas dilaksanakan.
3. Kriteria Manajemen Kualitas
4. Jaminan Mutu (Quality Assurance) 3. Memahami dan menerapkan kaidah
pengendalian mutu.
4. Memahami langkah perbaikan untuk
penurunan tingkat kegagalan produksi
D. Melaksanakan Langkah Perbaikan Untuk dan kemacetan sistem produksi.
Penurunan Tingkat Kegagalan Produksi dan 5. Menjelaskan tentang tatalaksana kerja
Kemacetan Sistem Produksi secara khusus.
1. Sejarah Lean Manufacturing 6. Memahami dan kontribusi terhadap
2. Sistem Produksi Lean penilaian kinerja dan keandalan
pemasok.
E. Melaksanakan dan Kontribusi terhadap
tatalaksana kerja secara khusus
F. Melaksanakan dan Kontribusi Terhadap
Penilaian Kinerja
1. Manfaat Penilaian Kinerja
2. Model Sistem Penilaian Kinerja
52
Pengelolaan kualitas atau Manajemen Mutu adalah aspek-aspek dari
fungsi manajemen keseluruhan yang menetapkan dan menjalankan kebijakan
mutu suatu perusahaan/organisasi. Dalam rangka mencukupkan kebutuhan
pelanggan dan ketepatan waktu dengan biaya yang hemat dan ekonomis,
seorang manager harus memasukkan dan mengadakan pelatihan management
kualitas. Hal-hal yang menyangkut kualitas yang di maksud di atas adalah;
produk/pelayanan/proses pelaksanaan, dan proses management proyek itu
sendiri.
Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk
memperbaiki kualitas, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi, dan untuk
menekan jumlah produk yang rusak. Pengawasan kualitas berfungsi untuk
melakukan tindakan korektif dan preventif agar basil produksi perusahaan
dapat memenuhi kebutuhan pemakai produknya. Dengan demikian
pengawasan kualitas perlu dilakukan pada setiap tahap dalam proses produksi
sampai menghasilkan produk akhir.
Oleh karena itu untuk memudahkan dalam memahami pengertian
kualitas, terlebih dahulu dalam bah ini akan diberikan pengertian secara
terpisah antara pengertian pengawasan dengan pengertian kualitas.
AA. PENCATATAN DAN PENGATURAN KINERJA
PROSES PRODUKSI ATAU MANUFAKTUR
Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pada dasarnya pengertian
kinerja dapat dimaknai secara beragam. Beberapa pakar memandangnya
sebagai hasil dari suatu proses penyelesaian pekerjaan, sementara sebagian
yang lain memahaminya sebagai perilaku yang diperlukan untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Kinerja juga dapat digambarkan sebagai tingkat
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,
misi, visi perusahaan yang tertuang dalam perumusan strategi planning suatu
53
perusahaan. Penilaian tersebut tidak terlepas dari proses yang merupakan
kegiatan mengolah masukan menjadi keluaran atau penilaian dalam proses
penyusunan kebijakan/program/kegiatan yang dianggap penting dan
berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan
1. FAKTOR PENGARUH KINERJA PRODUKSI
Kinerja tidak terjadi dengan sendirinya. Dengan kata lain, terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja. Adapun faktor-faktor tersebut
adalah sebagai berikut.
• Faktor individu (personal factors). Faktor individu berkaitan dengan
keahlian, motivasi, komitmen, dll.
• Faktor kepemimpinan (leadership factors). Faktor kepemimpinan
berkaitan dengan kualitas dukungan dan pengarahan yang diberikan
oleh pimpinan, manajer, atau ketua kelompok kerja.
• Faktor sistem (system factors). Faktor sistem berkaitan dengan
sistem/metode kerja yang ada dan fasilitas yang disediakan oleh
organisasi.
• Faktor situasi (contextual/situational factors). Faktor situasi berkaitan
dengan tekanan dan perubahan lingkungan, baik lingkungan internal
maupun eksternal.
Dari uraian yang disampaikan oleh Armstrong, terdapat beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kinerja seorang pegawai. Faktor-faktor ini perlu
mendapat perhatian serius dari pimpinan organisasi jika pegawai diharapkan
dapat memberikan kontribusi yang optimal.
Motivasi kerja dan kemampuan kerja merupakan dimensi yang cukup
penting dalam penentuan kinerja. Motivasi sebagai sebuah dorongan dalam diri
pegawai akan menentukan kinerja yang dihasilkan. Begitu juga dengan
kemampuan kerja pegawai, dimana mampu tidaknya karyawan dalam
melaksanakan tugas akan berpengaruh terhadap kinerja yang dihasilkan.
Semakin tinggi kemampuan yang dimiliki karyawan semakin menentukan
kinerja yang dihasilkan.
54
BB. PELAKSANAAN CARA/METODE BARU UNTUK
PERBAIKAN TERUS-MENERUS TERHADAP
PROSES PRODUKSI MANUFAKTUR
Continuous Improvement adalah usaha atau upaya berkelanjutan yang
dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan maupun
proses. Usaha-usaha tersebut bertujuan untuk mencari dan mendapatkan bentuk
terbaik dari improvement yang dihasilkan. Menciptakan solusi terbaik dari
masalah yang ada, yang hasilnya akan terus bertahan dan berkembang lebih
baik lagi.
Gambar 7. Continuous Improvement PDCA (Sumber: www.reverscore.com)
Dalam Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 versi 2015 klausul 10.3
menyebut Continuous Improvement sebagai Continual Improvement. Siklus
metode 4 langkah yakni PDCA (Plan, Do, Check, Act) dapat diterapkan dalam
menjalankan Continuous Improvement Sistem Manajemen Mutu perusahaan.
55
• Plan
Menetapkan tujuan dari sistem dan proses untuk memberikan hasil yang
diinginkan. Merencanakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana
melakukannya.
• Do
Melaksanakan dan mengontrol apa yang telah direncanakan.
• Check
Melaksanakan dan mengontrol apa yang telah direncanakan.
• Act
Mengambil tindakan untuk meningkatkan kinerja proses
CC. PENERAPAN KAIDAH PENGENDALIAN MUTU
Mutu atau kualitas dalam kerangka ISO 9000 didefinisikan sebagai “ciri
dan karakter menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang mempengaruhi
kemampuan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan tertentu”. Hal ini
berarti bahwa kita harus dapat mengidentifikasikan ciri dan karkter produk
yang berhubungan dengan mutu dan kemudian membuat suatu dasar tolok ukur
dan cara pengendaliannya.
Definisi ini jelas menekankan pada kepuasan pelanggan atau pemakai
produk. Dalam suatu proyek gedung, pelanggan dapat berarti pemberi tugas,
penyewa gedung atau masyarakat pemakai. Misalnya dari segi disain, kepuasan
dapat diukur dari segi estetika, pemenuhan fungsi, keawetan bahan, keamanan,
dan ketepatan waktu. Sedangkan dari segi pelaksanaan, ukurannya adalah pada
kerapihan penyelesaian, integritas (sesuai gambar dan spesifikasi) pelaksanaan,
tepatnya waktu penyerahan dan biaya, serta bebas cacat.
56
Kata kualitas memiliki banyak definisi yang berbeda, bervariasi dari
konvensional sampai yang lebih strategic. Definisi konvensional dari kualitas
biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti
kinerja (performance), keandalan (reliability), kemudahan dalam penggunaan
(easy of use), estetika (esthetics), dan sebagainya. Bagaimanapun cara manajer
dari perusahaan yang sedang berkompetisi dalam pasar global harus
memberikan perhatian serius pada definisi kualitas yang bersifat strategik yaitu
kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan
(meeting the needs of customers).
Ada beberapa elemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yaitu:
• Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
• Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
• Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap
berkualitas saat ini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat
yang lain).
• Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan.
Kualitas merupakan elemen yang penting dalam operasi, ada tiga alasan
kualitas itu penting, yaitu:
a. Reputasi Perusahaan.
Kualitas akan muncul sebagai persepsi tentang produk baru perusahaan,
kebiasaan pekerjanya, dan hubungan pemasoknya.
b. Kehandalan Produk.
Pengadilan terus berusaha menghukum organisasi-organisasi yang
merancang, memproduksi, atau mengedarkan produk atau jasa yang
penggunaannya mengakibatkan kerusakan atau kecelakaan. Contohnya:
Consumer Product Safety Act.
c. Keterlibatan global.
Kualitas adalah suatu perhatian internasional. Produk-produk
perusahaan yang akan bersaing di pasar internasional harus memenuhi
57
ekspetasi akan kualitas, desain, dan harganya secara global. Penerapan
keunggulan kualitas sangat bermanfaat baik bagi pelanggan, institusi, maupun
bagi staf organisasi.
1. MANAJEMEN MUTU
Pengertian sistem mamajemen mutu menurut Stephen (1997;196) ISO
9001:2000 : ISO 9001:2000 is concerned with specifying requirements for a
quality system. A quality system is composed of an organizational structure,
documented ptrocedures, and tools. The goal is to present attributes of the
organization’s structure, procedures and/or tools that must be present in order
to satisfy the requirements of ISO 9001:2000 ” Sistem Manajemen Mutu
menjelaskan bahwa ISO 9001:2000 berhubungan dengan Sistem Manajemen
Mutu. Sistem Manajemen Mutu dibentuk dari struktur organisasi, dokumentasi,
prosedur dan alat-alat yang terdapat di dalam organisasi. Dan tujuannya adalah
untuk memberikan transparansi mengenai struktur organisasi, prosedur, dan
alat-alat organisasi yang kemudian dapat memberi kepuasan kepada konsumen.
Dalam hal ini dari dua pengertian yang telah disebutkan sebelumnya, dapat
dikatakan bahwa sistem manajemen mutu merupakan suatu alat yang
diterapkan dalam suatu organisasi.
Sedangkan menurut Gasperz (2002;10): Sistem Manajemen Mutu
merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan Praktek-praktek standar
untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu
proses dan produk (barang/jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan itu
ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan atau organisasi” Sistem
Manajemen Mutu mendefenisikan bagaimana organisasi menerapkan praktek-
praktek manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan dan pasar.
Manajemen kualitas memiliki arti sebagai tindakan mengawasai semua
kegiatan dan tugas-tugas yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat
keunggulan yang diinginkan. Ini termasuk penentuan kebijakan mutu,
58
menciptakan dan menerapkan perencanaan mutu dan jaminan dan kontrol
kualitas dan peningkatan kualitas.
Kualitas yang diawasi tidak hanya terbatas pada kualitas produk tetapi
juga kualitas perusahaan secara keseluruhan. Mulai dari kualitas karyawan
yang dipekerjakan, bahkan hingga kualitas perusahaan dimata para konsumen.
2. PENDEKATAN MANAJEMEN KUALITAS
Terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan sebelum
melakukan manajemen kualitas ini. Davis menegaskan bahwa kualitas bukan
hanya menekankan pada aspek akhir yaitu produk dan jasa tetapi juga
menyangkut kualitas manusia, kualitas proses dan kualitas lingkungan.
Sangatlah mustahil menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas tanpa
melalui manusia dan produk yang berkualitas. Davis mengidentifikasikan lima
pendekatan perspektif kualitas yang dapat digunakan oleh para praktisi bisnis
yaitu:
a. Transcendental Approach
Kualitas dalam pendekatan ini ialah sesuatu yang dapat dirasakan,
tetapi sulit didefinisikan dan dioperasionalkan maupun diukur.
b. Product-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini ialah suatu karakteristik atau atribut yang
dapat diukur. Perbedaan kualitas mencerminkan adanya perbedaan atribut yang
dimiliki produk secara objektif, tetapi pendekataan ini tidak dapat menjelaskan
perbedaan dalam selera dan preferensi individual.
c. User-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa
kualitas tergantung pada orang yang memandangnya dan produk yang paling
memuaskan preferensi seseorang atau cocok dengan selera “fitnes foe used”
merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.
d. Manufacturing-based Approach
59
Kualitas dalam pendekatan ini adalah bersifat supply-based atau dari
sudut pandang produsen yang mendefinisikan kualitas sebagai sesuatu yang
sesuai dengan pesyaratan “conformance quality” dan prosedur.
Pendekatan ini berfokus pada kesesuaian spesifikasi yang ditetapkan
perusahaan secara internal. Oleh karena itu, yang menentukan kualitas ialah
standar-standar yang ditetapkan perusahaan, dan bukan konsumen yang
menggunakannya.
e. Value-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini ialah memandang kualitas dari segi nilai
dan harga, kualitas didefinisikan sebagai “affordable ascellence”. Oleh karena
itu kualitas dalam pandangan ini bersifat relatif, sehingga produk yang
memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai.
Produk yang paling bernilai ialah produk yang paling tepat beli.
3. KRITERIA MANAJEMEN KUALITAS
Manajemen kualitas dikatakan berhasil jika ada yang dikelolanya telah
memenuhi beberapa kriteria. Pendapat ini dikemukakan oleh Garvin.
Menurutnya kriteria tersebut ialah:
• Peformance “kinerja” yaitu karakteristik pokok dari produk inti.
• Features yaitu karakteristik pelengkap atau tambahan.
• Reliability “kehandalan” yaitu kemungkinan tingkat kegagalan
pemakian.
• Conformance “kesesuaian” yaitu sejauh mana karakteristika desain dan
operasi produk memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan
sebelumnya.
• Durabilty “daya tahan” yaitu mengukur berapa lama suatu umur teknis
maupun umur ekonomis suatu produk.
• Serviceability “pelayanan” yaitu mudah untuk diperbaiki, yang meliputi
kecepatan, kompetensi, kenyaman, fasilitas, dalam pemeliharaan dan
penanganan keluahan yang memuaskan.
60
• Aesthetics “estetika” yaitu menyangkut pola, rasa dan daya tarik
produk.
• Percived Quality yaitu menyangkut Citra atau reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadap produk.
4. JAMINAN MUTU (QUALITY ASSURANCE)
Jaaminan Mutu (Quality Assurance) adalah seluruh tindakan yang
sistematis dan terencana yang diperlukan agar terjadi kepastian dan
kepercayaan terhadap mutu produk/jasa yang diberikan. Aktivitasnya
mencakup kegiatan proses, baik internal maupun eksternal termasuk
merumuskan kebutuhan pelanggan. Maksud dari Quality assurance ini adalah
mengidentifikasi kemajuan dari kualitas. Quality assurance mengevaluasi cost
dari proyek secara keseluruhan secara teratur untuk menetapkan anggaran yang
keluar relevan dan sesuai dengan standar kualitas.
DD. MELAKSANAKAN LANGKAH PERBAIKAN UNTUK
PENURUNAN TINGKAT KEGAGALAN PRODUKSI
DAN KEMACETAN SISTEM PRODUKSI
Dalam melakukan bisnisnya, perusahaan dihadapkan pada berbagai
tantangan. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan sebuah strategi
untuk menjaga stabilitas asset dan biaya perusahaan, agar perusahaan mampu
mempertahankan asset dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Siklus
bisnis yang dihadapi perusahaan terkadang pasang dan surut karena berbagai
faktor internal dan eksternal. Sebagai contoh faktor internal, ada permasalahan
dalam manajemen proses seperti penjadwalan, pengendalian produksi,
pengendalian kualitas dan pengendalian sumber daya manusia. Perusahaan
harus memiliki sistem pengendalian yang cepat dan tepat agar dapat
memuaskan pelanggan.
Lean merupakan metode perampingan atau efesiensi proses, metode
lean digunakan untuk menghilangkan pemborosan yang diakibatkan oleh
61
DOWTIME (Defect, Over Production, Waiting, Transportation, Invetory,
Motion, Excess processing). Lean sebagai suatu strategi yang berguna untuk
menciptakan keunggulan bersaing, lean merupakan suatu filosofi bisnis yang
berlandaskan pada minimasi penggunaan sumber daya (termasuk waktu) dalam
berbagai aktivitas. Lean berfokus pada indetifikasi dan eliminasi aktivitas-
aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah (non-value added activities).
Pada dasarnya konsep lean adalah konsep perampingan atau efesiensi.
Konsep ini diterapkan pada perusahaan manufaktur maupun jasa, karena pada
dasarnya konsep efesiensi akan selalu menjadi suatu target yang ingin dicapai
oleh perusahaan. Lean pada awalnya merupakan terminologi yang digunakan
untuk mendiskripsikan pendekatan yang dilakukan di industri otomotif jepang,
yaitu toyota, untuk membedakanya dengan pendekatan produksi massal yang
ada di barat. Variasi dan ketergantungan merupakan hal yang kadang
terabaikan dalam penerapan lean production. Konsep lean yang dikenalkan
oleh Womack et al (2003) adalah sebuah usaha pembentukan suatu sistem yang
menggunakan input sedikit mungkin untuk menciptakan output yang sama,
sesuai dengan konsep yang disusun oleh Traditional Mass Production System
tetapi memberikan pilihan yang paling banyak kepada pelanggan (Hines et all,
2005). Lean juga dapat diartikan sebagai filosofi untuk optimasi perfomansi
sebuah industri manufaktur (Askin & Goldberg, 2001).
1. SEJARAH LEAN MANUFACTURING
Perusahaan-perusahan jepang setelah masa perang dunia ke-2 berusaha
membangun kembali diri mereka. Masalah-masalah yang mereka hadapi sangat
berbeda, bahkan bertolak belakang dengan apa yang ada di Barat. Pada saat
Barat bergelimang dengan sumber-sumber daya, mereka mengalami
kekurangan sumber daya manusia, material, maupun finansial. Kondisi ini
memaksa mereka untuk mengembangkan praktek-praktek manufaktur baru
yang rendah biaya. Pimpinan-pimpinan perusahaan Jepang terdahulu seperti
Eiji Toyoda, Taiichi Ohno, dan Shingeo Shingo dari Toyota Motor Company,
mengembangkan sebuah sistem produksi yang disiplin dan berfokus pada
62
proses yang sekarang dikenal sebagai “Toyota Production System” atau “Lean
Production”
2. SISTEM PRODUKSI LEAN
APICS Dictionary (2005) mendefinisikan lean adalah suatu filosofi
bisnis yang berlandaskan pada minimasi penggunaan sumber-sumber daya
(termasuk waktu) dalam berbagai aktivitas perusahaan. Dalam istilah kamus
Lean memiliki arti ramping, dimana jika dikaitkan dengan istilah waste yang
ada didalam sebuah perusahaan maka lean disini memiliki arti suatu metode
dimana menghilangkan waste dan meningkatkan nilai tambah (value added)
produk (barang/jasa) agar meningkatkan kepuasan konsumen. Waste adalah
segala aktivitas kerja yang tidak memberikan nilai tambah dalam proses
transformasi input menjadi output sepanjang value stream. Konsep lean disini
memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan rasio antara nilai tambah terhadap
waste secara terus menerus (the value-to-waste ratio), sehingga dengan
menggunakan konsep lean maka diharapkan akan meningkatan tingkat
efisiensi dari aktivitas perusahaan yang menggunakan konsep lean tersebut
Terdapat lima prinsip dasar lean (Gaspersz, 2007) :
• mengidentifikasi nilai porduk (barang/jasa) berdasarkan perspektif
pelanggan.
• mengidentifikasi value stream process mapping (pemetaan proses pada
value stream) untuk setiap produk (barang/jasa)
• menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah.
• mengorganisasikan material, informasi, dan produk itu secara lancar
dan efisien sepanjang proses value stream.
• terus-menerus mencari berbagai teknik dan alat peningkatan
63
EE. MELAKSANAKAN DAN KONTRIBUSI TERHADAP
TATALAKSANA KERJA SECARA KHUSUS
Tatalaksana kerja adalah proses pelaksanaan tugas dan fungsi tiap unit
kerja pada suatu perusahaan sesuai dengan struktur organisasi yang telah
ditetapkan. Tatalaksana Kerja ini akan menguraikan pekerjaan utama, proses
dan output masing-masing unit kerja dan subunit, keterkaitan antarsubunit
dalam unit kerja dan antarunit kerja, keterkaitan antarunit kerja dalam unit
organisasi dan antarunit organisasi, dan keterkaitan antarunit organisasi.
Tatalaksana kerja ini disusun untuk kejelasan tanggungjawab,
pelaksanaan kerja, dan keterkaitan masing-masing unit, subunit, hingga subunit
di lingkungan kerja, dan keterkaitan dengan Unit Organisasi lainnya. Dengan
adanya tatalaksana kerja ini diharapkan tidak ada lagi tumpang tindih ataupun
kekosongan pelaksanaan tugas akibat ketidakjelasan siapa mengerjakan apa,
dan bertanggungjawab terhadap apa, baik di lingkungan kerja maupun dengan
Unit Organisasi lain.
FF. MELAKSANAKAN DAN KONTRIBUSI TERHADAP
PENILAIAN KINERJA
Pengukuran kinerja (Performance Measurement) merupakan siklus dari
sistem manajemen kerja (performance management system) (Suwignjo dan
Vanany, 2003). Menurut bacal (2002), manajemen kinerja merupakan proses
komnikasi yang berlangsung terus-menerus, yang dilaksanakan berdasarkan
kemitraan, antara seorang karyawan dengan penyedia
langsungnya.Implementasi Sistem Pengukuran Kinerja (Performance
Measurement System) dalam organisasi seringkali belum difahami, apa itu
64
performance measure, Performance Measurement dan Performance
Measurement System.
Performance measure didefinisikan sebagai matriks yang mennjukkan
efesiensi dan atau efektifitas dari suatu tindakan. Pengukuran Kinerja
(Performance Measurement) didefinisikan sebagai proses untuk
mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu aktivitas. Sedangkan Sistem
Pengukuran Kinerja (Performance Measurement System) didefinisikan sebagai
sekumpulan matriks yang terstruktur (bukan acak) dan prosedur-prosedur yang
digunakan untuk mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu aktivitas
(Suwignjo dan Vanany, 2003).
1. MANFAAT PENILAIAN KINERJA
Sistem pengukuran kinerja membantu manajer dalam
mengimplementasikan strategi bisnis dengan membandingkan hasil aktual
dengan sasaran strategis. Suatu sistem pengukuran kinerja menyangkut metode
sistematik tertentu dari setting sasaran bisnis bersama-sama dengan laporan
umpan balik periodik yang menyatakan peningkatan sasaran tersebut. Berikut
manfaat sistem pengukuran kinerja (Yuwono, dkk, 2003) :
• Menelusuri kinerja terhadap harapan pelanggan sehingga akan
membawa perusahaan lebih dekat pada pelanggannya dan membuat
seluruh orang dalam organisasi terlibat dalam upaya memberi kepuasan
kepada pelanggan.
• Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan sebagai bagian dari
mata rantai pelanggan dan pemasok internal.
• Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-
upaya pengurangan terhadap pemborosan tersebut (reduction of waste).
• Membuat suatu sasaran strategis yang biasanya masih kabur menjadi
lebih konkret sehingga mempercepat proses pembelajaran organisasi.
• Membangun konsensus untuk melakukan sesuatu perubahan dengan
memberi reward atas perilaku yang diharapkan tersebut. Uraian manfaat
65
pengukuran kinerja tersebut sudah cukup baik, hanya saja
kekurangannya belum mengungkapkan manfaat pengukuran kinerja
terkait dengan aspek non-market yaitu lingkungan dan sosial.
2. MODEL SISTEM PENILAIAN KINERJA
Didalam merancang sistem pengukuran kinerja organisasi dibutuhkan
model yang mampu memotret kinerja secara kesulurahan dari organisasi. Telah
banyak model Sistem Pengukuran Kinerja (SPK) terintegrasi berhasil dibuat
oleh para akademisi dan praktisi (Vanany, dkk., 2003). Model-model Sistem
Pengukuran Kinerja (SPK) tersebut antara lain:
a. Balance Scorecard (BSC)
Sampai saat ini Balance Scorecard adalah model terpopuler untuk
Sistem Pengukuran Kinerja (SPK) baru yang telah dikembangkan.
Kerangka kerja Balance Scorecard menggunakan empat perspektif
(finansial, pelanggan, proses bisnis internal, dan proses belajar &
pertumbuhan) dengan titik awal strategi sebagai dasar perancangan
SPK.
b. Sustainability Balance Scorecard (SBSC)
Model SBSC merupakan perluasan dari model Balance Scorecard
dengan penambahan aspek lingkungan dan sosial. Sustainability
Balance Scorecard (SBSC) memperlihatkan hubungan kausal antara
kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial dari perusahaan
c. Cambridge model
Cambridge model menggunakan product group sebagai dasar untuk
mengidentifikasi KPI dan dari pengelompokan produk tersebut
dilakukan penentuan tujuan bisnis untuk product group.
d. Integrated Performance Measurement System (IPMS)
Model IPMS merupakan model SPK yang bertujuan agar sistem
pengukuran kinerja lebih robust, terintegrasi, efektif dan efesien. Model
66
IPMS menjadikan keinginan stakeholder menjadi titik awal dalam
melakukan perancangan SPK.
e. Integrated Environment Performance Measurenment System (IEPMS)
Integrated Environment Performance Measurenment System (IEPMS)
merupakan model sistem pengukuran kinerja yang berkaitan dengan
lingkungan. IEPMS menggunakan ukuran-ukuran kuantitatif dan
kualitatif yang digunakan secara bersama-sama.
LATIHAN
Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk menjawab soal latihan ini dengan benar, Anda harus membaca dan
mempelajari Kegiatan Pembelajaran 1 dalam Modul yang meliputi materi:
1. Pencatatan dan Pengaturan Kinerja Proses Produksi atau
Manufaktur
2. Pelaksanaan Cara/Metode Baru Untuk Perbaikan Terus-Menerus
Terhadap Proses Produksi Manufaktur
3. Penerapan Kaidah Pengendalian Mutu
4. Melaksanakan Langkah Perbaikan Untuk Penurunan Tingkat
Kegagalan Produksi dan Kemacetan Sistem Produksi
5. Melaksanakan dan Kontribusi Terhadap Tatalaksana Kerja Secara
Khusus
6. Melaksanakan dan Kontribusi Terhadap Penilaian Kinerja
Soal Latihan
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, silakan
Anda mengerjakan soal latihan berikut ini!
1. Sebutkan faktor yang dapat berpengaruh terhadap kinerja produksi.?
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Continuous Improvement dan
sebutkan 4 langkahnya.?
3. Apa yang dimaksud dengan manajemen mutu.?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan tatalaksana kerja.?
5. Jelaskan manfaat dari pengukuran kinerja.?
67
RANGKUMAN
Kinerja merupakan hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pada dasarnya
pengertian kinerja dapat dimaknai secara beragam. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja produksi diantaranya adalah, faktor individu, faktor
kepemimpinan, faktor sistem, dan faktor situasi.
Continuous Improvement adalah usaha atau upaya berkelanjutan
yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk,
pelayanan maupun proses. Usaha-usaha tersebut bertujuan untuk mencari
dan mendapatkan bentuk terbaik dari improvement yang dihasilkan.
Menciptakan solusi terbaik dari masalah yang ada, yang hasilnya akan terus
bertahan dan berkembang lebih baik lagi.
Manajemen kualitas memiliki arti sebagai tindakan mengawasai
semua kegiatan dan tugas-tugas yang diperlukan untuk mempertahankan
tingkat keunggulan yang diinginkan. Ini termasuk penentuan kebijakan
mutu, menciptakan dan menerapkan perencanaan mutu dan jaminan dan
kontrol kualitas dan peningkatan kualitas.
Lean adalah suatu filosofi bisnis yang berlandaskan pada minimasi
penggunaan sumber-sumber daya (termasuk waktu) dalam berbagai
aktivitas perusahaan. Dalam istilah kamus Lean memiliki arti ramping,
dimana jika dikaitkan dengan istilah waste yang ada didalam sebuah
perusahaan maka lean disini memiliki arti suatu metode dimana
menghilangkan waste dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk
(barang/jasa) agar meningkatkan kepuasan konsumen.
Tatalaksana kerja adalah proses pelaksanaan tugas dan fungsi tiap
unit kerja pada suatu perusahaan sesuai dengan struktur organisasi yang
telah ditetapkan. Tatalaksana Kerja ini akan menguraikan pekerjaan utama,
proses dan output masing-masing unit kerja dan subunit, keterkaitan
antarsubunit dalam unit kerja dan antarunit kerja, keterkaitan antarunit kerja
dalam unit organisasi dan antarunit organisasi, dan keterkaitan antarunit
68
organisasi.
Pengukuran Kinerja (Performance Measurement) didefinisikan
sebagai proses untuk mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu
aktivitas. Sedangkan Sistem Pengukuran Kinerja (Performance
Measurement System) didefinisikan sebagai sekumpulan matriks yang
terstruktur (bukan acak) dan prosedur-prosedur yang digunakan untuk
mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu aktivitas.
EVALUASI
Petunjuk:
Pilihlah salah satu jawaban yang menurut Anda paling tepat dari
beberapa alternatif jawaban yang disediakan!
Soal:
1. Berikut yang bukan merupakan faktor pengaruh kinerja produksi ialah
…
a. Faktor individu
b. Faktor kepemimpinan
c. Faktor sistem
d. Faktor situasi
e. Faktor konsumen
2. Faktor pengaruh kinerja yang berkaitan dengan tekanan dan perubahan
lingkungan, baik lingkungan internal maupun eksternal, adalah …
a. Faktor individu
b. Faktor kepemimpinan
c. Faktor sistem
d. Faktor situasi
e. Faktor konsumen
69
3. Usaha atau upaya berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan
dan memperbaiki produk, pelayanan maupun proses, merupakan
pengertian dari …
d. Continuous Improvement
e. Continuous replacement
f. Contextual Improvement
g. Contextual replacement
h. Situational improvement
4. Tindakan Pengawasan semua kegiatan dan tugas-tugas yang diperlukan
untuk mempertahankan tingkat keunggulan yang diinginkan adalah
kegiatan …
a. Manajemen tugas
b. Manajemen kualitas
c. Manajemen produksi
d. Manajemen pengawasan
e. Manajemen praktik
5. Kualitas dalam pendekatan yang memandang kualitas dari segi nilai dan
harga dan didefinisikan juga sebagai “affordable ascellence”,
merupakan pendekatan …
a. Transcendental Approach
b. Product-based Approach
c. User-based Approach
d. Manufacturing-based Approach
e. Value-based Approach
6. Manajemen kualitas dikatakan berhasil jika ada yang dikelolanya telah
memenuhi beberapa kriteria, berikut adalah kriteria manajemen
kualitas, kecuali …
a. Performance
b. Features
c. Ascellence
d. Reliability
70
e. Durability
7. Suatu filosofi bisnis yang berlandaskan pada minimasi penggunaan
sumber-sumber daya (termasuk waktu) dalam berbagai aktivitas
perusahaan adalah …
a. APICS
b. DOWNTIME
c. Lean
d. SIGMA
e. Six-SIGMA
8. Proses pelaksanaan tugas dan fungsi tiap unit kerja pada suatu
perusahaan sesuai dengan struktur organisasi yang telah ditetapkan,
merupakan pengertian dari …
a. Proses produksi
b. Proses kerja
c. Proses manufaktue
d. Tatalaksana kerja
e. Penilaian kinerja
9. Proses untuk mengkuantifisir efesiensi dan efektifitas suatu aktivitas
dalam sebuah organisasi, merupakan pengertian dari …
a. Performance Measurement
b. Performance Management System
c. Performance Measurement System
d. Performance Manajemen
e. Performance Efectivity
10. Berikut yang bukan merupakan model dari penilaian kerja yaitu …
a. Balance Scorecard (BSC)
b. Sustainability Balance Scorecard (SBSC)
c. Cambridge Model
d. Sustainability Cambridge Model
e. Integrated Performance Measurement System
71
UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Periksalah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat di bagian
akhir Modul ini. Hitunglah jumlah jawaban Anda yang benar. Kemudian
gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
terhadap MENGAWASI PROGRAM PENJAMIN MUTU ini.
Rumus:
Tingkat penguasaan = %
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
90 - 100% = sangat baik
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
melanjutkan mempelajari materi selanjutnya. Tetapi apabila tingkat
penguasaan Anda masih di bawah 80 %, Anda harus mengulanginya, terutama
pada bagian yang belum Anda kuasai.
72
III MELAKSANAKAN TUGAS
PENGOPERASIAN,
PENGENDALIAN DAN
OPTIMASI PROSES
Pada Bagian ini Akan Mempelajari Tentang Indikator Keberhasilan
A. Melaksanakan dan Prtisipasi Terhadap Setelah mempelajari pokok bahasan ini,
Manajemen Operasional peserta didik diharapkan mampu:
1. Memahami dan berpartisipasi dalam
1. Tujuan Manajemen Operasional
2. Ciri Manajemen Operasional Manajemen Operasional.
3. Fungsi Manajemen Operasional 2. Memahami dan melaksanakan tugas
B. Melaksanakan dan Prtisipasi Terhadap Pengendalian Proses Produksi.
Terhadap Pengendalian Proses Produksi 3. Memahami dan berkontribusi dalam
1. Tujuan Pengendalian Produksi tugas Penilaian Kerja.
2. Fase Pengendalian Produksi 4. Memahami tugas Pemeriksaan Proses
C. Melaksanakan dan Kontribusi terhadap Produksi.
Analisis Penilaian Kerja 5. Memahami dan berkontribusi dalam
1. Tujuan Penilaian Kerja Proses Produksi dan Sistem Produksi.
2. Syarat Efektifitas Penilaian Kerja 6. Memahami dan berkontribusi untuk
3. Manfaat Penilaian Kerja
4. Manfaat Penilaian Kerja tatakerja yang ergonomis dan
5. Metode Penilaian Kerja keselamatan pabrik.
D. Melaksanakan Tugas Pemeriksaaan Proses
Produksi
1. Cara Kerja Inspeksi
2. Tujuan Inspeksi
3. Manfaat inspeksi
4. Jenis-jenis Inspeksi
E. Melaksanakan dan Kontribusi Pada Proses
Manufaktur dan Sistem Produksi
1. Indusri dan Manufaktur
2. Material Dalam Manufaktur
3. Proses Manufaktur
4. Sistem Produksi
F. Melaksnakan dan Kontribusi Terhadap
Tatakerja yang Ergonomis dan Keselamatan
Kerja
1. Ergonomi dan Lingkungan Kerja
73
AA. MELAKSANAKAN DAN PRTISIPASI TERHADAP
MANAJEMEN OPERASIONAL
Ahli manajemen J.Heizer dan B.Render mendefinisikan manajemen
operasional sebagai bentuk pengelolaan menyeluruh dan optimal pada aspek
tenaga kerja, barang-barang (mesin, peralatan, dan bahan mentah), atau faktor
produksi lain yang bisa dijadikan produk barang dan jasa yang lazim
diperdagangkan.
Manajemen operasional bisa juga diartikan sebagai pengelolaan
(perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengoordinasian, dan
pengendalian) semua kegiatan yang berhubungan dengan barang dan jasa
secara langsung.
Pengertian lainnya yakni aplikasi ilmu manajemen untuk mengatur
semua kegiatan produksi agar berjalan efektif dan efisien. Pengertian dari ahli
lainnya yaitu sebuah proses berkesinambungan dan efektif dalama memakai
semua fungsi manajemen untuk mengintegrasikan beragam sumber daya secara
efisien demi terwujudnya tujuan perusahaan.
Dalam manajemen operasional ada struktur kepengurusan yang mesti
dibentuk dan dilaksanakan sesuai fungsi masing-masing. Pimpinan tertinggi
dalam sistem itu adalah manajer operasional.
1. TUJUAN MANAJEMEN OPERASIONAL
Manajemen operasional bertujuan mengatur penggunaan semua sumber
daya yang dimiliki oleh perusahaan (bahan mentah, tenaga kerja, mesin, dan
perlengkapan) sehingga proses produksi berlangsung efektif dan efisien.
Berikut ini lima tujuan detail sistem operasional.
• Meningkatkan efisiensi perusahaan (Efficiency).
• Meningkatkan produktivitas perusahaan (Productivity).
• Mengurangi biaya pengeluaran berbagai kegiatan yang diselenggarakan
oleh perusahaan (Economy).
74
• Meningkatkan kualitas perusahaan (Quality).
• Mengurangi waktu proses produksi suatu perusahaan (Reduced
processing time).
2. CIRI MANAJEMEN OPERASIONAL
Terdapat tiga ciri atau karakteristik manajemen operasional, yaitu :
a. Bertujuan memproduksi barang dan jasa
Ciri pertama adalah bahwa manajemen operasional bertujuan untuk
mengatur secara keseluruhan proses produksi barang dan jasa untuk
menghasilkan pendapatan untuk perusahaan.
b. Mempunyai kegiatan proses transformasi
Proses transformasi adalah segala kegiatan atau kelompok kegiatan
yang mengambil satu atau lebih input, mengubah dan menambah nilai bagi
mereka, dan memberikan output untuk pelanggan atau klien.
Jika input adalah bahan baku, maka akan relatif mudah untuk
mengidentifikasi transformasi yang terlibat, seperti ketika susu diubah menjadi
keju dan mentega. Namun jika dimana input adalah informasi atau orang, sifat
transformasi mungkin kurang jelas. Misalnya, rumah sakit mengubah pasien
yang sakit (input) menjadi pasien yang sehat (output).
c. Terdapat suatu mekanisme pengendali sebuah pengoperasian
Ciri terakhir dalam manajemen operasional adalah terdapat suatu
mekanisme dalam mengendalikan pengoperasian pada suatu bisnis. Baik untuk
pengoperasian Langkah-langkah dalam proses operasi dasar harus
diaplikasikan pada semua divisi bisnis, seperti meningkatkan kualitas produk,
mengurangi limbah, dan meningkatkan penjualan.
3. FUNGSI MANAJEMEN OPERASIONAL
Ada empat fungsi manajemen operasional pada bisnis seperti uraian
berikut ini.
a. Perencanaan
75
Tahap ini meliputi semua kegiatan yang diawali dari penentuan barang
atau jasa yang akan diproduksi hingga jadwal untuk pemasaran produk.
Termasuk juga perencanaan penggunaan sumber daya dan fasilitas lainnya
untuk menghasilkan suatu produk. Anda sebagai manajer operasional mesti
mengembangkan program, kebijakan, dan prosedur yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan operasi perusahaan.
b. Pengorganisasian
Anda harus menentukan jumlah dan jenis sumber daya manusia yang
diperlukan untuk menjalankan semua kegiatan. Singkatnya, manajer
operasional membentuk struktur individu, grup, atau divisi dalam sebuah
subsistem operasional demi meraih tujuan perusahaan.
c. Penelaah
Tahap ini meliputi semua kegiatan untuk memperoleh keterangan
tentang setiap kegiatan yang dikerjakan dalam kegiatan operasi dan produksi.
d. Pengawasan
Fungsi pengawasan mencakup semua aktivitas yang bertujuan
mengarahkan dan menjamin agar berbagai kegiatan yang telah dan tengah
dikerjakan sesuai dengan perencanaan.
BB. MELAKSANAKAN DAN PRTISIPASI TERHADAP
TERHADAP PENGENDALIAN PROSES PRODUKSI
Perencanaan dan pengendalian produksi merupakan alat yang tersedia
bagi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan
demikian, sistem produksi tercakup oleh keempat faktor tersebut. yaitu,
kuantitas, kualitas, biaya dan waktu. Perencanaan produksi dimulai dengan
analisis data, yaitu permintaan produk, jadwal pengiriman dan lain-lain.
Penentuan skema pemanfaatan perusahaan seperti mesin, bahan dan
tenaga kerja untuk mendapatkan target dengan cara yang paling ekonomis
berdasarkan informasi yang ada. Setelah rencananya disiapkan, maka
76
pelaksanaan rencana dilakukan sesuai dengan rincian yang diberikan dalam
rencana. Kontrol produksi dilakukan jika ada penyimpangan antara aktual dan
rencana. Tindakan korektif dilakukan untuk mencapai target yang ditetapkan
sesuai rencana dengan menggunakan teknik kontrol.
Perencanaan dan pengendalian produksi dapat didefinisikan sebagai
“arah dan koordinasi sumber daya perusahaan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. “Perencanaan dan pengendalian produksi membantu
mencapai aliran material tanpa terganggu melalui jalur produksi dengan
menyediakan bahan pada waktu yang tepat dan kuantitas yang dibutuhkan.
Skenario tekno-ekonomi sekarang menunjukkan trend penekanan pada
daya saing di bidang manufaktur. Industri harus merampingkan kegiatan
produksi dan mencapai utilisasi sumber daya perusahaan secara maksimal
untuk meningkatkan produktivitas. Perencanaan dan pengendalian produksi
berfungsi sebagai alat untuk mengkoordinasikan kegiatan sistem produksi
dengan sistem perencanaan dan pengendalian secara tepat.
Perencanaan dan pengendalian produksi diperlukan untuk mencapai:
• Pemanfaatan sumber daya perusahaan secara efektif.
• Tujuan produksi terkait kualitas, kuantitas, biaya dan ketepatan waktu
pengiriman.
• Memeperoleh arus produksi tanpa gangguan untuk memenuhi
permintaan beragam pelanggan yang berkualitas terkait jadwal
pengiriman dan terjadwal.
• Membantu perusahaan menyediakan produk berkualitas untuk
pelanggan secara terus-menerus dengan harga bersaing.
Beberapa langkah penting dalam aktivitas pengendalian mencakup: (1)
Memulai produksi; (2) Berkembang; dan (3) Tindakan korektif berdasarkan
umpan balik dan pelaporan kembali ke perencanaan produksi
77
1. TUJUAN PENGENDALIAN PRODUKSI
• Mengorganisir fasilitas produksi seperti mesin, tenaga kerja, dan lain-
lain, untuk mencapai tujuan produksi yang ditetapkan terkait kuantitas,
waktu dan biaya yang berkualitas.
• Penjadwalan sumber daya optimal.
• Berkoordinasi dengan departemen lain yang berkaitan dengan produksi
untuk mencapai arus produksi yang seimbang dan tidak terputus secara
teratur.
• Menyesuaikan diri dengan komitmen pengiriman.
• Perencanaan dan pengendalian material.
• Untuk penyesuaian karena perubahan permintaan dan pesanan
mendadak.
2. FASE PENGENDALIAN PRODUKSI
Fase pengendalian memiliki dua modul utama, yaitu: (1) Pelaporan
kemajuan; dan(2) Tindakan korektif.
a. Pelaporan kemajuan
Data tentang apa yang terjadi dengan pekerjaan dikumpulkan dalam
proses pelaporan untuk membantu membandingkannya dengan tingkat kinerja
saat ini. Berbagai data yang berkaitan dengan penolakan material, variasi
proses, kegagalan peralatan, efisiensi operator, ketidakhadiran operator, umur
alat, dan lain-lain, dikumpulkan dan dianalisis untuk tujuan pelaporan
kemajuan. Data ini digunakan untuk melakukan analisis varians, yang akan
membantu mengidentifikasi area kritis yang perlu mendapat perhatian segera
untuk tindakan perbaikan.
b. Tindakan koreksi
Tindakan korektif terutama terkait ketentuan tentang kejadian tak
terduga seperti menciptakan fleksibilitas jadwal, modifikasi jadwal, modifikasi
kapasitas, membuat atau membeli keputusan, mempercepat pekerjaan,
praperencanaan, dan sebagainya akibat kerusakan mesin, ketidakhadiran tenaga
78
kerja, terlalu banyak penolakan karena kualitas bahan yang buruk dan lainlain
sehingga tidak mungkin untuk mewujudkan jadwal sesuai rencana. Dengan
kondisi itu, lebih baik menjadwal ulang keseluruhan bauran produk sehingga
mendapatkan gambaran yang jelas mengenai situasi tersebut untuk tindakan
yang tepat. Ekspedisi berarti mengambil tindakan jika laporan kemajuan
menunjukkan penyimpangan dari target yang ditetapkan semula. Pra-
perencanaan keseluruhan urusan menjadi penting jika ekspedisi gagal
membawa rencana yang menyimpang ke jalan yang benar.
CC. MELAKSANAKAN DAN KONTRIBUSI TERHADAP
ANALISIS PENILAIAN KERJA
Penilaian Kerja (Performance Appraisal) yaitu suatu kajian mengenai
penilaian yang secara sistem terhadap keadaan kerja pegawai yang dilakukan
dengan formal yang berkaitan dengan standar kerja yang sudah ditetapkan
organisasi. Dengan kata lain, Penilaian Kinerja ini menilai dan mengevaluasi
keterampilan, kemampuan, pencapaian serta pertumbuhan seorang karyawan.
1. TUJUAN PENILAIAN KERJA
Adapun tujuan dari penilaian kinerja karyawan antara lain yaitu:
• Menjalankan peninjauan ulang atas kinerja karyawan di masa lalu.
• Memperoleh data yang sinkron dengan fakta dan sistematis dalam
menentukan nilai suatu pekerjaan.
• Melakukan identifikasi kemampuan organisasi.
• Melakukan analisa kemampuan karyawan secara individual.
• Menyusun sasaran pada masa yang akan datang.
• Melihat prestasi kinerja karyawan secara nyata.
79
• Memperoleh keadilan dalam sistem pemberian upah dan gaji yang
diterapkan pada organisasi.
• Memperoleh data untuk penentuan struktur pemberian upah dan gaji
yang sesuai dengan pemberlakukan secara umum.
• Membantu pihak manajemen dalam menjalankan pengukuran dan
pengawasan yang lebih akurat atas biaya yang dipakai oleh perusahaan.
• Memungkinkan manajemen menjalan negosiasi secara rasional dan
obyektif dengan serikat pekerja ataupun dengan langsung kepada
karyawan.
• Merancang kerangka berpikir dan standar dalam menjalankan
peninjauan yang dilakukan secara berkala pada sistem pemberian upah
dan gaji.
• Mengarahkan pihak manajemen supaya bersikap obyektif dalam
memperlakukan karyawan sesuai dengan prinsip organisasi.
• Menjadi panduan organisasi dalam melakukan promosi, mutasi,
memindahkan dan peningkatan kualita karyawan.
• memperjelas tugas utama, fungsi, wewenang dan tanggung jawab dan
juga satuan kerja pada organisasi. Hal ini apabila dijalankan sesuai
dengan aturan dan berjalan baik akan memberikan manfaat untuk
organisasi khususnya untuk menghindari overlapin pada pemberian
tugas/program/kegiatan dalam organisasi.
• Melakukan minimalisir karyawan mengeluh yang berakibat karyawan
menjadi resign. Dengan adanya penilaian kerja karyawan maka
karyawan akan merasa diperhatikan dan dihargai dalam setiap
kinerjanya.
• Melakukan penyelerasakan penilaian kinerja dengan keberjalanan bisnis
menjadikan pergerakan dalam organisasi khususnya organisasi nirlaba
selalu sesuai dengan tujuan usaha.
• Melakukan identifikasi pelatihan apa yang dibutuhkan oleh karyawan.
80
2. SYARAT EFEKTIVITAS PENILAIAN KERJA
Dalam melakukan penilaian atau evaluasi kinerja yang efektif, ada
beberapa syarat dalam efektivitas penilaian kinerja yaitu:
a. Relevance
Ada kaitan yang jelas antara standard tampilan kerja dari suatu tugas
dan tujuan organisasi, dan ada kaitan yang jelas antara elemen tugas dan
dimensi-dimensi yang dinilai dalam lembaran penilaian.
b. Sensitivity
Sistem penilaian yang digunakan dapat membedakan antara pegawai
yang efektif dan pegawai yang tidak efektif.
c. Reliability
Hasil penilaian yang diperoleh menunjukkan konsistensi yang
tinggi.system yang digunakan harus dapat diandallkan, dipercaya bahwa
mengunakan tolok ukur yang objektif, shaheh, akurat, konsisten dan stabil.
d. Acceptability
Jenis dan tingkat perilaku kerja yang dinilai dapat diterima oleh kedua
belah pihak (atasan dan bawahan).
e. Practicality
Mudah dimengerti dan digunakan oleh manajer dan pegawai tidak rumit
dan tidak terbelit-belit.
3. MANFAAT PENILAIAN KERJA
Manfaat dari dilakukannya penilaian kinerja ialah sebagai berikut:
• Memberikan informasi tentang hasil yang diinginkan dari sebuah
pekerjaan.
• Bisa mencegah terdapatnya miskomunikasi berkaitan dengan kualitas
kerja yang diinginkan.
• Menciptakan peningkatan produktivitas karyawan sebab ada feedback
atau umpan balik untuk karyawan yang berprestasi.
• Menghargai setiap kontribusi.
81
• Membuat komunikasi dua arah antara pihak manajer dengan karyawan.
4. PROSES PENILAIAN KERJA
Gambar 8. Proses Penilaian Kerja (Sumber: www.dosenpendidikan.co.id)
Dalam menerapkan penilaian kinerja karyawa mempunyai beberapa
proses yang harus dilakukan. Hal itu disebabkan penilaian kinerja ialah suatu
proses secara terus-menerus dan tidak bersifat temporer, proses tersebut antara
lain sebagai berikut:
a. Analisis Pekerjaan
Proses analisis ini dapat diawali dari analisi jabatan/posisi, dengan
mengetahui posisi seseorang karyawan maka akan lebih mudah menjelaskan
jenis pekerjaannya, tanggung jawab yang dipukul, kondisi kerja dan berbagai
program dan aktivitas yang dilakukan.
82
Analisis pekerjaan ini sangat penting dalam penilaian kinerja karena
merupakan dasar untuk penetapan standar dan evaluasi dan juga dalam
menganalisis pekerjaan sangat diperlukan sistem informasi manajemen yang
baik.
b. Standar Kerja
Penetapan standar kinerja dipakai untuk melakukan komparasi antara
hasil kerja standar dengan standar yang telah ditentukan. Dengan adanya
perbandingan ini maka bisa dilakukan identifikasi apakah kinerja karyawan
telah sesuai dengan target yang diinginkan atau tidak. Dalam hal ini standar
kinerja harus ditulis secara spesifik dan mudah dipahami, realistis dan terukur.
c. Sistem Penilaian Kerja
Pada umumnya terdapat empat sistem atau metode penilaian kinerja
karyawan. Pertama yaitu Behavior Appraisal System atau penilaian kinerja
yang berdasarkan terharap penilaian tingkah laku. Kedua Personel/Performer
Appraisal System atau penilaian kinerja yang berdasarkan terhadap dari ciri dan
sifat invidu karyawan. Ketiga ialah Result Oriented Appraisal System atau
penilaian kinerja dengan dasar hasil kerja. Keempat Contingency Appraisal
System atau penilaian kinerja terhadap dasar kombinasi beberapa unsur, ciri,
sifat, tingkah laku dan hasil kerja. Contoh penilaian kinerja karyawan
sebenarnya mudah ditemukan pada perusahaan yang telah settle secara
manajemen dan masing-masing perusahaan mempunyai metode penilaian
kinerja tersendiri.
5. METODE PENILAIAN KERJA
a. Metode Penilaian Umpan Balik 360-Derajat
Metode penilaian umpan balik 360-derajat adalah metode penilaian
kinerja popular yang melibatkan masukan evaluasi dari banyak level dalam
perusahaan sebagaimana pula dari sumber-sumber eksternal.
Dalam metode ini, orang-orang disekitar karyawan yang dinilai bias
ikut serta memberikakan nilai, antara lain manajer senior, karyawan itu
sendiri,atasan,bawahan, anggota tim. Dan pelanggan internal atau eksternal.
83
b. Metode Skala Penilaian
Metode skala penilaian (rating scales method) adalah metode penilaian
kinerja yang menilai para karyawan berdasarkan factor-faktor yang telah
ditetapkan.
Menggunakan pendekatan ini, para evaluator mencatat penilaian
mereka mengenai kinerja pada sebuah skala.Skala tersebut meliputi beberapa
kategori, biasanya dalam angka 5 sampai 7, yang didefinisikan dengan kata
sifat seperti luar biasa, memenuhi harapan, atau butuh perbaikan.Meskipun
system-sistem seringkali memberikan penilaian keseluruhan, metode ini secara
umum memungkinkan penggunaan lebih dari satu kriteria kinerja.
Untuk dapat menerima nilai luar biasa untuk factor seperti kualitas
kerja. Seseorang harus secara konsisten melampaui tuntutan-tuntutan kerja
yang ditetapkan. Meskipun contoh formulir tersebut kurang dalam hal ini,
semakin rinci definisi mengenai factor-faktor dan tingkat-tingkat, semakin
akurat penilai bias mengevaluasi kinerja karyawan.
c. Metode Insiden Kritis
Metode esai (essay method) adalah metode penilaian kinerja dimana
penilai menulis narasi singkat yang menggambarkan kinerja karyawan.
Metode ini cenderung berfokus pada perilaku ekstrim dalam pekerjaan
karyawan dan bukan kinerja rutin harian.Prnilaian jenis ini sangat bergantung
pada kemampuan menulis dari evaluator.Para atasan dengan ketrampilan
menulis yang sangat baik, jika mau, bisa membuat seseorang karyawan tyang
biasa-biasa saja terdengar seperti seorang berprestasi terbaik. Membandingkan
evaluasi-evaluasi esai bias menjadi sulit karena tidak ada kriteria umum.
Namun, beberapa manajer yakin bahwa metode esai bukan hanya yang paling
sederhana tetapi juga pendekatan yang dapat diterima untuk evaluasi karyawan.
d. Metode Standar Kerja
Metode standard kerja (work standards method) adalah penilaian
kinerja yang membandingkan kinerja setiap karyawan dengan standard yang
telah ditetapkan atau tingkat output yang diharapkan.
84
Standard-standar mencerminkan output normal dari seorang karyawan
rata-rata yang bekerja dengan kecepatan normal. Perusahan-perusahan bisa
menerapkan standard kerja untuk hampir semua jenis pekerjaan., namun
pekerjaan-pekerjaan produksi umumnya mendapat perhatian lebih besar.
Beberapa metode tersedia untuk menentukan standard kerja, termasuk studi
waktu (time study) den pengambilan sampel pekerjaan (work sampling).
Manfaat nyata penggunaan standard sebagai kriteria penilaian adalah
objektifitas. Namun, agar para karyaawan mempersepsikan bahwa standard-
standar tersebut objektif, mereka harus memahami dengan jelas cara standard-
standar tersebut ditetapkan. Manajemen juga harus menjelaskan alas an dari
setiap perubahan pada standard-standar.
e. Metode Peringkat
Metode peringkat (ranking metode) adalah metode penilaian kinerja
dimana penilai menempatkan seluruh karyawan dari sebuah kelompok dalam
urutan kinerja keseluruhan.
Sebagai contoh, karyawan terbaik dalam kelompok diberikan
peringakat tertinggi, dan yang terburuk diberi peringkat terendah.Anda
mengikuti prosedur ini hinggah anda memeringkaat semua karyawan.
Kesulitan timbul ketika semua orang kerja pada tingkat yang sebanding
(sebagaimana dipersepsikan oleh si evaluator).
Perbandingan berpasangan (paired comparison) adalah variasi dari
metode peringkat dimana kinerja tiap karyawan dibandingkan dengan setiap
karyawan lainnya dalam kelompook. Sebuahu kriteria tunggal.Seperti kinerja
keseluruuhan, seringkali menjadi dasar perbandingan tersebut. Karyawan yang
memperoleh angka perbandingan positif terbanyak mendapatkan peringkat
tertinggi.
f. Metode Distribusi Dipaksakan
Metode distribusi dipaksakan (forced distribution method) adalah
metode penilaian kinerja yang mengharuskan penilai untuk mebagi orang-
orang dalam sebuah kelompok kinerja kedalam sejumlah kategori terbatas,
mirip suatu distribusi frekuensi normal
85
System distribusi dipaksakan sudah ada sejak beberapa dekade dan
perusahan-perusahaan seperti General Electric, Microsoft, dan JPMorgan
menggunakannya saat ini.Disebabkan adanya peningkat focus pada bayaran
untuk kinerja (pay for performance), semakin banyak perusahan mulai
menggunakan disribusi dipaksakan. Para pendukung distribusi dipaksakan
yakin bahwa system tersebut memfasilitasi penganggaran dan mencegah para
manajer yang terlalu ragu-ragu untuk menyingkirkan mereka yang berprestasi
buruk. Mereka berpikir bahwa peringkat yang dipaksakan mengharuskan para
manajer bersikap jujur kepada para karyawan mengenai prestasi mereka.
g. Metode Skala Penilaian Berjangkar Keperilakuan
Metode skala penilaian berjangkar keperilakuan (Behaviourally
Anchored Rating Scale/BARS) adalah metode penilaian kinerja yang
mengabungkan unsur-unsur skala penilaian tradisional dengan metode insiden
kritis; berbagai tingkat kinerja ditunjukkan sepanjang sebuah skala dengan
masing-masing dideskripsikan menurut perilaku kerja spesifik seorang
karyawan.
Sistem BARS berbeda dengan skala penilaian karena, alih-alih
menggunakan istilah-istilah seperti tinggi. Menengah, dan rendah pada setiap
poin skala, sistem tersebut menggunakan jangkar-jangkar keperilakuan yang
berhubungan dengan standard yang sedang diukur. Modifikasi ini memperjelas
makna dari setiap poin pada skala serta mengurangi bias dan kesalahan penilai
dengan menjangkar nilai tersebut pada contoh-contoh perilaku spesifik yang
didasarkan pada informasi analisis pekerjaan. Alih-alih memberikan ruang
untuk memasukan angka penilai untuk kategori seperti di atas harapan, metode
BARS memberikan contoh-contoh perilaku tersebut.
86
DD. MELAKSANAKAN TUGAS PEMERIKSAAAN
PROSES PRODUKSI
Berdasarkan kamus besar indonesia, inspeksi adalah suatu pemeriksaan
yang dilakukan secara seksama, pemeriksaan yang dilakukan secara langsung
terkait peraturan, tugas, dll. Di dalam manajemen pengendalian kualitas.
Inspeksi adalah suatu elemen yang memiliki peranan penting. Inspeksi ini
dibutuhkan agar bisa memastikan kualitas produk yang dihasilkan bisa sesuai
dengan ketentuan dan juga standar, sehingga hasil kepuasan pelanggan bisa
dijaga dengan baik.
Inspeksi juga mampu mengurangi berbagai biaya produksi karena
buruknya kualitas produksi, seperti biaya pengembalian produk dari konsumen,
biaya pembuatan ulang dalam kuantitas yang banyak, dan juga biaya
pembuangan bahan yang sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan yang
berlaku.
Dalam praktek pelaksanaannya di dalam dunia manufakturing, unit
kerja yang berhubungan dengan inspeksi dan juga pengujian ini mempunyai
tanggung jawab dalam menilai setiap kualitas bahan baku yang dikirim oleh
pihak pemasok dan juga barang jadi yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut
agar sesuai dengan karakteristik dan juga standar yang berlaku.
Unit kerja yang diberikan tanggung jawab dalam mendeteksi dan juga
memilah berbagai komponen yang dipasok oleh pihak supplier ataupun produk
setengah jadi dari unit kerja lainnya agar sesuai dengan standar kualitas yang
sudah ditentukan atau biasa disebut dengan incoming quality control (IQC).
Sedangkan unit kerja yang diberikan tanggung jawab untuk melakukan
inspeksi dan pengujian pada produk jadi yang diproduksi oleh perusahaannya
sendiri umumnya akan disebut dengan Outgoing quality control atau OQC.
87
1. CARA KERJA INSPEKSI
Pada dasarnya, inspeksi hanya melakukan pengukuran terkait tingkat
kesesuaian dengan standar dan juga karakteristik produk yang sudah ditentukan
serta memisahkan berbagai produk yang sudah tidak sesuai lagi, serta mencari
akar masalah terkait ketidaksesuaian ini.
Inspeksi menjadi metode yang paling banyak digunakan oleh
perusahaan manufaktur dalam mencapai adanya keseragaman kualitas produk
dan juga standarisasi terkait produknya.
Bila produk yang dihasilkannya sudah tidak sesuai lagi dengan
ketentuan standar dan juga spesifikasi, maka produk tersebut pun nantinya
akan ditolak dan pihak yang bertanggung jawab tersebut harus bisa melakukan
tindakan perbaikan agar kedepannya tidak ditemukan lagi ketidaksesuaian
standar.
2. TUJUAN INSPEKSI
Setidaknya terdapat lima tujuan dilakukannya inspeksi, yaitu:
• Guna mendeteksi dan juga menghilangkan bahan baku yang cacat
sebelum masuk pada proses pengerjaan produk
• Agar bisa mendeteksi produk cacat dan juga produk yang berkualitas
rendah sebelum terkirim ke pelanggan
• Agar bisa memberikan pemberitahuan pada pihak manajemen sebelum
suatu masalah kualitas berubah menjadi lebih serius, sehingga pihak
manajemen bisa mengambil berbagai tindakan yang memang
dibutuhkan
• Guna mencegah adanya keterlambatan pengiriman yang disebabkan
karena masalah kualitas dengan cara mengurangi keluhan dari pihak
pelanggan.
• Guna meningkatkan kualitas dan juga reliabilitas suatu produk
88
3. MANFAAT INSPEKSI
• Membedakan Produk Yang Baik Dan Juga Produk Yang Memang
Cacat
• Agar Bisa Mengetahui Apakah Ada Perubahan Di Dalam Proses
Pembuat Produk.
• Agar Bisa Mengetahui Apakah Suatu Proses Produksi Berada Ataupun
Mendekati Batas Suatu Spesifikasi
• Guna Menilai Suatu Kualitas Produk
• Guna Mengukur Tingkat Ketepatan Alat Ukur Pada Proses Produksi
• Guna Mengukur Tingkat Kemampuan Suatu Proses
4. JENIS-JENIS INSPEKSI
Inspeksi terbagi dalam beberapa jenis, yang diantaranya adalah floor
inspection, centralized inspection, combined inspection, combined inspection,
funcional inspection, first piece inspection, final inspection, dan pilot piece
inspection.
a. Floor Inspection
Floor inspection adalah suatu inspeksi yang dilakukan di dalam proses
pengendalian produksi. Di dalam floor inspection ini, inspektor akan
melakukan pemeriksaan terkait material maupun produk setengah jadi pad
produksi yang dilakukan oleh tenaga manusia ataupun mesin.
Nantinya, pihak inspektor akan melakukan pemeriksaan dari suatu
mesin atau pekerja ke mesin ataupun ke pekerja lainnya. Metode pemeriksaan
ini pun mampu mendeteksi masalah lebih awal sebelum produk tersebut
nantinya diproduksi dalam jumlah yang lebih besar.
b. Centralised Inspection
Jenis inspeksi ini dilakukan pada lokasi tertentu ataupun lebih terpusat
pada tempat yang sudah ditentukan. Seluruh alat dan juga mesin pengujian
nantinya akan ditempatkan pada lokasi yang dikhususkan pada pengujian.
89
Seluruh contoh produk yang nantinya akan dilakukan pengujian pada tempat
khusus untuk dilakukan pengujian
c. Combine Inspection
Sama seperti namanya jenis inspeksi ini merupakan kombinasi atau
gabungan dari floor inspection dan centralised inspection.
d. Functional Inspection
Jenis inspeksi ini lebih fokus pada fungsional produk. Seperti
contohnya pada pemeriksaan fungsi suatu mobil, fungsi inspeksional di dalam
akan memeriksa karakter kecepatan mobil sesuai dengan ketentuan tanpa harus
mengetahui setiap komponen dari pembuatan mobil tersebut.
Pada umumnya, jenis inspeksi ini memang dilakukan setelah suatu
produk sudah jadi.
e. First Piece Inspection
First piece inspection adalah suatu jenis inspection yang dilakukan pada
unit pertama. Unit pertama ini bisa berbentuk pergantian LOT produk, unit
pertama pada pergantian alat kerja atau pada unit pertama dalam pergantian
parameter mesin produksi.
f. Pilot Piece Inspection
Pilot piece inspection adalah suatu inspeksi yang dilakukan pada
produk baru ataupun pada model yang lebih baru.
g. Finel Inspection
Final inspection adalah suatu jenis inspeksi yang dilakukan pada
produk jadi. Jenis final inspection ini akan memeriksa suatu karakteristik
produk secara lebih menyeluruh, baik itu pada fungsinya ataupun tampilannya.
Jenis inspeksi ini dilakukan sebelum suatu produk dikirim ke konsumen.
90
EE. MELAKSANAKAN DAN KONTRIBUSI PADA
PROSES MANUFAKTUR DAN SISTEM PRODUKSI
Manufaktur merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin, yaitu
“manus factus” yang berarti dibuat dengan tangan. Sedangkan kata
manufacture muncul pertama kali pada tahun 1576, dan kata manufacturing
muncul tahun 1683. Jika kita melihat kata “manufaktur”, dalam arti yang
paling luas, adalah proses merubah bahan baku menjadi suatu produk. Proses
pengubahan bahan baku menjadi suatu produk ini meliputi (1) perancangan
produk, (2) pemilihan material, dan (3) tahap-tahap proses dimana produk
tersebut dibuat.
Proses manufaktur adalah mengubah bahan dasar melalui berbagai
proses, permesinan, maupun operasi yang dirancang sedemikian rupa, agar
dihasilkan produk yang dikehendaki. Lebih singkatnya proses manufaktur
adalah proses untuk mengubah bahan dasar (raw materials) menjadi sebuah
produk.
1. INDUSTRI DAN PRODUK MANUFAKTUR
Manufaktur adalah kegiatan komersial penting yang dilakukan oleh
perusahaan yang menjual produk kepada pelanggan. Jenis manufaktur yang
dilakukan oleh perusahaan bergantung pada jenis produk yang dibuatnya. Mari
kita jelajahi hubungan ini dengan memeriksa jenis-jenis industri di bidang
manufaktur dan mengidentifikasi produk yang mereka buat.
Industri terdiri dari perusahaan dan organisasi yang memproduksi atau
memasok barang dan jasa. Industri dapat diklasifikasikan sebagai primer,
sekunder, atau tersier. Industri primer mengolah dan mengeksploitasi sumber
daya alam, seperti pertanian dan pertambangan. Industri sekunder mengambil
output dari industri primer dan mengubahnya menjadi barang konsumsi dan
barang modal. Manufaktur adalah kegiatan utama dalam kategori ini, tetapi
91
konstruksi dan tenaga juga berperan. Industri tersier merupakan jasa sektor
ekonomi. Daftar industri yang termasuk dalam kategori tersebut disajikan pada
Tabel berikut
Tabel Industri tertentu dalam kategori primer, sekunder, dan tersier
Primer Sekunder Tersier
Perkebunan Pakaian Asuransi
Perhutanan Otomotif Bank
Perikanan Kertas Pendidikan
Terbak Produksi makanan Telekominikasi
Pertambangan Bahan bangunan Kesehatan
Minyak bumi Keramik Hotel
Produksi obat Informasi
Komputer Hukum
Elektronik Restoran
Plastik (pembentukan) Transportasi
Karet (pembentukan) Pariwisata
Perabotan Bengkel
Gambar 9. Tabel Industri tertentu dalam kategori primer, sekunder,
dan tersier (Sumber: M. P. Groover, 2020, Fundamentals of Modern
Manufacturing: Materials, Processes, and Systems)
Produk akhir yang dibuat oleh industri manufaktur dapat berupa barang
konsumsi dn barang modal. Barang konsumsi adalah produk yang dibeli
langsung oleh konsumen, seperti mobil, komputer, TV, ban dan raket. Barang
modal merupakan barang yang dibeli oleh perusahaan untuk menghasilkan
barang dan/atau memberikan layanan. Contoh barang modal antara lain
pesawat, peralatan medis, mesin/peralatan, dan bahan konstruksi.
Selain produk akhir, item manufaktur lainnya termasuk bahan,
komponen, dan perlengkapan yang digunakan oleh perusahaan yang membuat
produk akhir. Contohnya lembaran baja, bagian mesin, plastik, cetakan, alat
pemotong dan pelumas. Dengan demikian, industri manufaktur terdiri dari
92