The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fajarparantika, 2021-09-18 23:05:39

DARE

FF DARE

Keywords: FF,NSFW,ADULT

ICE CREAM | 1

2 | ICE CREAM

ICE CREAM

Fanboy_PanDeep

ICE CREAM | 3

ICE CREAM
Oleh: Fanboy_PanDeep
Copyright © 2020 by Fanboy_PanDeep

Cetakan I, Oktober 2020
293, 14×21 cm
Editor: Emma

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
All rights reserved

4 | ICE CREAM

ONESHOT: NOMIN

LOVE SICK

ICE CREAM | 117

LOVE SICK

Seminggu yang lalu Jeno mengecek kondisinya karena
sering mengalami sakit di bagian kepalanya yang teramat sakit
dan sungguh menyiksanya. Dan tepat hari ini hasilnya sudah
keluar. Setelah membacanya, Jeno meremas kuat selembaran
kertas itu dan membuangnya sembarangan.

Jeno di diagnosa mempunyai kanker pada otaknya dan
sudah stadiun akhir. Sudah tidak ada lagi harapan baginya
untuk sembuh. Hidupnya tidak akan bertahan lama lagi. Kalau
Jeno beruntung, ia akan bertahan hidup selama sebulan
dengan penyakitnya. Lalu bagaimana Jeno bisa memberitahu
tentang penyakitnya pada orang yang sudah lama mengisi
ruang di hatinya? Jeno tidak akan sanggup memberitahunya.
Dan ia tidak ingin berpisah dengannya.

Jeno pov
“Kak, kenapa melamun terus? Ice creamnya mulai cair.”
Ucap seorang pria manis yang duduk tepat didepanku. Aku tak
tahu kenapa aku bisa tergila-gila kepadanya. Dia bagaikan
oksigen bagiku, yang membuatku tidak bisa hidup tanpanya.
Aku sangat mencintainya.
“Tuh, kan kakak melamun lagi!” Serunya, lalu bibirnya
mengerucut lucu, membuatku bertambah gemas kepadanya.
Mungkin kalau kami sedang tidak di tempat umum, aku sudah
mengecup bibirnya yang sudah sangat memerah dan sedikit
membengkak karena ice creamnya.

118 | ICE CREAM

“Siapa yang melamun? Kakak membelikan ice cream itu
hanya untukmu.” Ucapku seraya mengusak gemas rambutnya.

“Kakak mau Jaemin gendut gara-gara makan ice cream
sebanyak ini?”

Aku lihat dia mengembungkan kedua pipinya, bertanda
kalau ia sedang kesal. Berhentilah bertingkah menggemaskan
seperti ini, Na. Kau membuatku semakin sulit melepaskanmu.
Bagaimana kalau aku sudah tidak ada di sampingmu lagi?
Siapa yang akan menjaga dan menuruti semua keinginanmu?
Jaemin sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Pria manis itu
sebatang kara di dunia ini. Jaemin sudah menjadi yatim piatu
sejak usianya baru menginjak sepuluh tahun, dan kakak
perempuannya meninggal saat ingin menjemput Jaemin di
rumah neneknya. Jaemin di titipkan di panti asuhan ketika
neneknya meninggal. Dan di sanalah aku bertemu dengannya
dan memutuskan untuk membawanya pulang Jaemin
kerumahku karena dia sudah cukup besar kalau tetap tinggal
di panti.

“Kakak sedang sakit, ya? Tidak biasanya kakak melamun
terus seperti ini.” Tanyanya yang membuatku tersadar dari
lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku sebagai balasan.

“Kakak baik-baik saja.” Jawabku sedikit berbohong, atau
memang benar-benar berbohong. Sepertinya Jaemin tidak
puas dengan jawabanku. Tangan mungilnya terulur
menyentuh keningku dengan punggung tangannya. Mungkin
dia sedang mengecek kondisiku.

“Kakak bohong, ya? Kening kakak hangat, wajah kakak
juga pucat. Kakak sedang sakitkan? Kalau kakak sakit, lebih
baik kita kerumah sakit sekarang, Nana tidak mau terjadi
sesuatu pada kakak.” Ucapnya yang membuatku tersenyum
kecil mendengarnya.

Aku bisa melihat dengan jelas rasa takut dan khawatir
dari raut wajahnya. Biasanya dia akan menangis jika aku sakit.
Dan benar saja, sekarang matanya mulai berkaca-kaca, dan tak
lama dari itu cairan bening menetes dari sudut matanya. Aku
mengulurkan tanganku untuk menghapus air matanya yang
sudah membasahi kedua pipinya. “Kakak baik-baik saja, Na.
Kakak hanya sedikit pusing saja.” Ucapku untuk
menenangkannya.

“Bo—bohong hikss... Kemarin juga kakak bilang seperti
itu, tapi kakak pingsan dan harus di rawat selama seminggu

ICE CREAM | 119

hikss.. Se—sebenarnya kakak sakit apa?” Jaemin berucap
sambil menghapus air matanya yang terus menetes dengan
kasar, dan itu membuatku semakin tidak tega
meninggalkannya.

“Hei, jangan menangis, sayang. Kakak hanya pusing
biasa.” Ucapku untuk menenangkannya yang semakin terisak.

“Se—sebenarnya kakak sakit apa?”
“Kakak baik-baik saja, kakak sehat.” Balasku cepat. Maaf
Jaemin, aku belum bisa memberitahumu sekarang.
“Benar?”
Aku menganggukan kepalaku dengan sedikit tersenyum
sebagai balasan. “Sehabis makan ice cream, Nana mau kemana
lagi? Ada yang ingin Nana beli? Katakanlah, nanti kakak
belikan untukmu.”
“Nana takut.”
Aku mengerutkan keningku tidak mengerti. Kenapa dia
takut? Seharusnya dia senang karena aku akan menuruti
keinginannya. “Apa yang Nana takutkan?” Tanyaku.
“Orang tua Nana juga menanyakan hal yang sama
seperti kakak sebelum mereka benar-benar pergi
meninggalkan Nana.” Jawabnya menunduk. Aku yakin, dia
mulai menangis lagi karena aku melihat bahunya bergetar.
Aku mendekat padanya, lalu mengusap punggungnya.
“Nana tidak perlu khawatir. Kakak tidak akan meninggalkan
Nana sendiri.” Mungkin untuk saat ini.
Jaemin mengangkat wajahnya dan menatapku dengan
pandangan senduhnya, lalu ia kembali menghapus air
matanya. “Kalau begitu, jangan pernah berkata seperti itu lagi,
Nana tidak suka.”
“Iya, kakak janji. Cepat habiskan ice creamnya, lalu kita
pulang.”
Author pov
Jeno dan Jaemin sedang berbaring di atas tempat tidur
mereka. Jaemin menyandarkan kepalanya di dada bidang milik
Jeno dengan tangan yang melingkar diatas perutnya. Jaemin
merasakan suhu tubuh Jeno sangat hangat. Pria manis itu
sudah berulang kali menanyakan kondisi Jeno, tapi pria itu
selalu menjawab kalau ia baik-baik saja.
Jaemin sendiri tahu kalau Jeno berbohong, karena ia
sudah mengetahui kalau Jeno sedang sakit. Jaemin tidak
sengaja menemukan selembar kertas hasil kesehatan Jeno

120 | ICE CREAM

kemarin. Jaemin menangis dan sangat terpukul begitu
mengetahui kalau orang yang satu-satunya yang ia miliki
sedang sakit parah dan ada kemungkinan akan
meninggalkannya sendiri untuk selama-lamanya.

Jaemin semakin erat memeluk tubuh Jeno. Kalau bisa di
gantikan, Jaemin ikhlas menggantikan posisi Jeno saat ini. Biar
ia yang merasakan rasa sakitnya meskipun harus mati, Jaemin
tak apa karena ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Berbeda
dengan Jeno yang masih memiliki kedua orang tua yang
lengkap, yang harus dia bahagiakan dan membuat mereka
bangga kepadanya.

“Kak, jangan tinggalkan Jaemin sendiri.” Ucap Jaemin
pelan, ia menggigit bibir bawahnya agar Jeno tidak bisa
mendengar suara isakannya. Jaemin tidak mau terlihat lemah
di depan Jeno yang sedang sakit.

“Kakak tidak akan meninggalkanmu, Na.” Balas Jeno
seraya mengusap kepala Jaemin.

“Kalau begitu sebaiknya kakak menjalani kemotrapi.”
Jeno yang mendengar itu langsung menoleh kearah
Jaemin yang sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-
kaca. Jeno sedikit terkejut tiba-tiba Jaemin bicara seperti itu.
“Kamu bicara apa, Na? Kakak baik-baik saja.”
“Nana sudah tahu, kak. Kakak sedang sakitkan?”
“Kakak baik-baik saja, Na. Kakak sehat.”
“Nana sudah tahu semuanya, kak hikss.. Kakak tidak
perlu berbohong lagi! Berhenti bertingkah seakan kakak baik-
baik saja!” Ucap Jaemin sambil memukul-mukul dada Jeno dan
mulai menangis disana.
Jeno langsung memeluk tubuh Jaemin dengan begitu
eratnya, dan berkali-kali mengecup kening Jaemin. “Maaf, Na.
Maafkan kakak.” Ucapnya. Jeno ikut menangis, tapi tidak
bersuara. Berbeda dengan Jaemin yang memenuhi kamar
mereka dengar suara isakannya.
“Kalau begitu kakak harus menjalani kemotrapi, Nana
tidak mau di tinggal kakak sendiri.”
“Percuma sayang, penyakit kakak sudah parah. Percuma
kakak melawan penyakit ini kalau pada akhirnya kakak harus
meninggalkanmu.”
“BAGAIMANA KAKAK BISA BICARA SEPERTI ITU
KALAU KAKAK SENDIRI BELUM MENCOBANYA!” Teriak

ICE CREAM | 121

Jaemin pada Jeno. “Nana tidak mau sendirian lagi, kak hikss..
I—itu sangat menyeramkan hikss..”

Jeno terdiam, ia juga tidak mau seperti ini. Jeno tidak
ingin sakit, ia masih ingin berada di samping Jaemin dalam
jangka waktu yang lama. Tapi Jeno tidak mampu untuk
melawan takdir yang sudah mengikatnya seperti ini.

“Nana tidak mau terpisah dari kakak. Kakak sudah
berjanji selalu berada di samping Nana. Kalau kakak tidak bisa
sembuh, biar Nana yang ikut kakak.”

Jeno langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak, Nana
harus tetap hidup seperti biasa meskipun sudah tidak ada lagi
kakak disamping Nana. Nana harus janji sama kakak.”

Jaemin menganggukan kepalanya pelan meskipun ia
sendiri tidak yakin dengan itu. Bagaimana Jaemin bisa hidup
tanpa Jeno disisinya? Jaemin sudah cukup menderita di tinggal
keluarganya. Dan kali ini ia akan di tinggal oleh Jeno. Kenapa
takdir begitu tega kepada dirinya?

“Kalau begitu kita harus tidur sekarang. Besok Nana
harus sekolah.” Ucap Jeno.

“Tapi kakak harus janji, jangan tinggalkan Nana sendiri.
Nana takut.”

“Kakak janji.” Balas Jeno sedikit bergetar karena
menahan rasa sakitnya. Kepalanya sudah mulai terasa sakit
lagi. Dengan cepat Jeno memalingkan wajahnya kesamping
untuk mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Jeno tidak
mau Jaemin melihatnya, itu akan membuat Jaemin bertambah
sedih.

Jaemin terjaga sepanjang malam, ia selalu mengecek
kondisi Jeno setiap saat untuk memastikan kalau Jeno masih
berada di sampingnya. Sampai pada akhirnya rasa kantuk
mulai menguasi dirinya. Jaemin memejamkan matanya dan
tertidur didalam dekapan tubuh hangat Jeno.

Jaemin pov
Aku membuka kedua mataku begitu merasakan sesuatu
yang dingin melingkar dipinggangku. Aku meraba benda itu,
dan ternyata itu tangan kak Jeno. Mataku terbuka dengan
sempurna begitu merasakan tangan kak Jeno yang sangat
dingin. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat wajahnya
yang sudah sangat pucat dan membiru.
Aku segera menggoyangkan tubuhnya sekuat mungkin,
tapi tidak ada tanda-tanda kak Jeno akan terbangun.

122 | ICE CREAM

“KAK JENO! BANGUN, KAK hikss..” Aku berteriak sekeras
mungkin tepat di telinganya, berharap kak Jeno akan
membuka matanya dan mengomeliku seperti biasa karena
mengganggu tidurnya. Tapi kak Jeno tetap tidak bergerak
sedikitpun.

“Kak Jeno, ba—bangun kak hikss.. Bu—buka matamu,
kak hikss...” Aku terus memukul-mukul tubuhnya sekuat
mungkin, bahkan menggigit sampai mencubitnya. Tapi kak
Jeno tetap tidak mau membuka matanya. Pada akhirnya aku
meraih tangannya untuk mengecek denyut nadinya. Dan
setelah itu aku tersadar, bahwa pria yang kucintai sudah
meninggalkanku untuk selamanya.

END

ICE CREAM | 123

124 | ICE CREAM

DARE

ICE CREAM | 143

144 | ICE CREAM

PART 1

Jinyoung, Jihoon, Jaemin dan Jeongin sedang duduk
membuat lingkaran di lantai kamar Jinyoung. Mereka
berempat sedang sibuk menulis sesuatu di selembar kertas
mereka masing-masing.

“Udah belom?” Tanya Jaemin yang udah selesai duluan.
Jaemin menggulung kertasnya, terus dia masukin kedalem
toples yang udah di beri tulisan dare.

“Udah!” Saut Jinyoung. Jinyoung ikut masukin kertasnya
yang udah dia tulis ke toples dare dan truth. Gak kaya Jaemin
yang cuma masukin ke toples dare. Gak lama dari Jinyoung,
yang lain juga masukin kertas mereka ke dalem toples.

“Udah semuakan?” Tanya Jaemin cuma buat mastiin aja,
kali aja ada yang ketinggalan. Dan di bales anggukan dari
temen-temenya, yang ngebuat Jaemin langsung nyembunyiin
kedua toples itu di belakang badan nya. Terus ngambil gelas
kaca yang sedari tadi dia simpan di sampingnya. Sebenarnya
mereka berlima ini lagi bermain TOD versi Jaemin. Ntah lah,
apa yang membuat permainan ini berbeda dari yang lain nya.

Jaemin mulai ngocok gelas itu, sampai mengeluarkan
seluruh isinya. Begitu kertas-kertas itu berjatuhan kelantai,
semua teman-teman nya pada berebut mengambil kertas-
kertas itu. Kalo Jaemin sih santai aja.

“Siapa yang dapet truth?” Tanya Jinyoung, tapi
semuanya pada diem. Gak ada yang jawab.

ICE CREAM | 145

Jaemin cekikikan di tempatnya. Gak mungkin ada yang
dapet truth. Toh, Jaemin nulis dare semua. Licik emang.

“Gua dapet dare.” Ucap Jihoon sambil ngasih liat
kertasnya ketemen-temen nya.

“Gua juga.” Timpal Jinyoung. Jinyoung ngelirik Jeongin
yang lagi ngebuka kertasnya pelan-pelan sambil komat-kamit.
“Lu dapet apa, Jeongin?” Tanya nya penasaran.

“Dapet kertas.” Bales Jongin dengan polosnya.
“Gua nanya, lu dapet dare apa truth kutil dajal!” Tuh kan
icemochi Jinyoung.
“Ouh, bilang dong! Jeongin dapet dare.” Balesnya.
“Kalo lu dapet apa, Na?” Tanya Jihoon sambil ngelirik
Jaemin yang sedari tadi senyum-senyum gak jelas.
“Yah, dare juga lah! Kan gua nulis dare semua.” Bales
Jaemin santai. Sebelum di serang sama temen-temen nya,
Jaemin ngambil toples yang isinya dare buatan mereka semua
yang tadi dia sembunyiin di belakang tubuhnya.
“Siapa yang mau ngambil duluan?” Tawar Jaemin sambil
nyodorin toplesnya, tapi semua temen-temennya pada nunjuk
dia.
“Culun lu pada! Besok kesekolah jangan pake celana,
ganti sama rok!” Dumel Jaemin. Mau gak mau Jaemin jadi
orang pertama yang ngambil. Dan dia berharap bukan kertas
punyanya yang dia ambil.
“Ukur penis orang yang lu benci dalam keadaan tidur
dan tegang.” Baca Jaemin. “Yak, kampreto! Gak sekalian aja gua
kulum!” Amuknya. Ternyata darenya lebih parah dari yang dia
tulis. “Siapa yang nulis nih?!” Sambungnya.
“Kan perjanjiannya lu gak boleh tau siapa yang buat.”
Bales Jinyoung.
Jaemin menghela napasnya gak suka, terus nyodorin
toples itu kearah Jinyoung. “Giliran lu, njing!” Ucapnya sewot.
Dia yakin kalo dare yang dia dapet itu yang nulis Jinyoung.
“Biasa aja, dun!” Sewot Jinyoung. Jinyoung ngambil satu
kertas dari toples itu dan membacanya. “Ajak orang yang
terakhir dateng di kelasmu membuat kissmark di leher mu dan
mengajaknya berkencan selama seminggu.” Baca Jinyoung.
“Ihh! Ko begini banget sih darenya?!” Protesnya.
“Gak usah banyak protes! Seharusnya lu tuh bersyukur
cuma dapet begitu doang! Lah gua, sampe ngukur penis orang.”
Saut Jaemin. “Sekarang jiliran lu Hun.” Sambungnya.

146 | ICE CREAM

Sekarang giliran Jihoon. Jihoon udah berdoa semoga gak
dapet yang aneh-aneh. “Berikan blowjob pada kakak kelasmu
yang pertama kali kau lihat keluar dari toilet.” Bacanya. Jihoon
langsung bergidik ngeri ngebayanginnya. “Bisa di ganti gak?”
Tawarnya.

“Bisa!” Bales Jaemin cepet, yang buat Jihoon langsung
senyum ngedengernya. Tapi senyuman itu gak bertahan lama
begitu Jaemin nerusin kalimatnya. “Di ganti sama penis satpam
sekolah. Lu mau?” Katanya yang langsung dapet jitakan dari
Jihoon.

Jeongin ngambil kertasnya sebelum di suruh sama
Jaemin. “Lakukan blowjob saat pelajaran sedang berlangsung
dengan teman sebangku mu.” Bacanya yang ngebuat semua
temen-temennya langsung noleh kearahnya. “Sebenernya
blowjob itu apa?” Tanya nya polos.

“Sepong penisnya sampe ngeluarin pejuh! Gitu aja gak
tau!” Bales Jaemin kesel.

“Sepong? Sepong itu apa?” Tanya Jeongin lagi.
“Tuh kan, kata gua juga jangan ngajak dia! Mending
ngajak Seonho kalo gak Justin.” Bisik Jinyoung ke Jihoon.
“Mereka satu tipe bego!” Bales Jihoon.
Jaemin ngedeketin Jeongin, terus ngerangkul bahunya.
“Sepong itu, lu masukin penisnya kedalem mulut lu, terus jilat
precumnya dan di kocok di dalem mulut lu sampe tuh penis
ngekuarin spermanya! Kalo lu juga gak tau sperma, dia itu
cairan kental berwarna putih yang keluar dari lubang kencing.”
Terangnya tepat di telinga Jeongin
“JAEMIN!” Pekik Jinyoung dan Jihoon, yang ngebuat
Jaemin langsung kabur sebelum di amuk sama mereka berdua.

ICE CREAM | 147

148 | ICE CREAM

PART 2

Jinyoung, Jihoon, Jeongin dan Jaemin lagi nunggu orang
terakhir yang masuk kekelasnya yang bakal jadi targetnya
Jinyoung yang dapet giliran pertama. Jinyoung udah komat
kamit, berharap bukan mamat gembrot yang terakhir masuk
ke kelasnya. Biasanya anak itu emang sering banget terlambat,
dan waktu tinggal lima menit lagi sebelum bel masuk
berdering. Dan si Mamat belom muncul juga dikelasnya.
Jinyoung udah panas dingin ditempatnya.

“Jin, kayanya Mamat yang bakal jadi target lu.” Bisik
Jaemin dengan seringainya meledek Jinyoung. Temen paling
laknat emang si Jaemin mah.

Triiinggg..!
Bel masuk berdering, dan bertepatan dengan itu
seorang murid masuk kedalem kelasnya. Murid itu bukan
Mamat, melainkan Guanlin. Murid tampan yang punya banyak
fans. Jinyoung udah senyum-senyum sendiri ngeliat nya.
“Jangan senyum-senyum dulu, masih ada si Mamat.
Guanlin bukan murid terakhir yang masuk kelas.” Bisik Jaemin
lagi yang ngebuat senyum Jinyoung luntur seketika.
“Jeongin, menurut lu siapa yang bakal jadi targetnya
Jinyoung?” Tanya Jihoon ke Jeongin, temen sebangkunya.
“Mungkin Mamat. Cuma dia yang belom dateng.” Bales
Jeongin. Tumben nyambung.
Guanlin nyamperin bangkunya Minju si sekretaris kelas
yang bangkunya kebetulan di depan Jinyoung dan Jaemin.

ICE CREAM | 149

Guanlin ngeluarin sesuatu dari dalam tasnya yang ternyata
surat. “Nih, dari Mamanya si Mamat. Mamat gak bisa masuk
sekolah, tetangganya hajatan.” Beritahu Guanlin sambil
ngasihin surat itu ke Minju. Setelah ngasihin suratnya, Guanlin
balik kebangkunya. Tapi sebelum balik, Guanlin sempetin
ngelirik sebentar Jinyoung yang lagi menatapnya. Jinyoung
bersorak didalem hatinya karna si Mamat gak masuk sekolah.
Berarti targetnya Guanlin, pangeran sekolahnya. Jinyoung
emang udah lama suka sama Guanlin, tapi malu buat ungkapin
nya. Jinyoung takut kalo Guanlin bakal nolak dia. Karna setiap
murid yang nembak Guanlin pasti berakhir dengan penolakan.
Mungkin Guanlin udah punya pacar.

“Kecewa akh! Masa happy ending begini sih!” Seru
Jaemin kecewa. “Kenapa juga tuh si gembrot segala gak
masuk?! Yang hajatan tetangganya bukan keluarganya!”
Sambungnya kesel.

“Rejeki anak soleh bro...” Bales Jinyoung nyengir.
“Hun, bukan nya Jinyoung anaknya bapak Sehun, ya?”
Bisik Jeongin.
“BOMAT!” Bales Jihoon.
Pas bel istirahat berkumandang dengan merdunya,
Jinyoung langsung nyamperin Guanlin buat ngejalanin
darenya.
“Guanlin.” Panggil Jinyoung malu-malu.
Guanlin yang lagi masukin bukunya kedalem loker
mejanya, langsung nengok kearah Jinyoung yang udah berdiri
di depan mejanya. “Apa?” Sautnya datar.
“Gu—gua mau ngomong sama lu.” Ucap Jinyoung gagap.
Temen temennya lagi nontonin di bangkunya sambil nyemilin
cimolnya Jeongin yang beli tadi pagi.
“Lu mau ngomong apa?” Tanya Guanlin sambil natap
Jinyoung yang kaya orang kebelet.
“Lu mau gak kencan sama gua, seminggu aja?” Ucap
Jinyoung yang udah dugun-dugun, takut kalo Guanlin bakal
nolak dia. Mana kelasnya lagi rame, tapi untungnya lagi pada
sibuk ngerumpi, jadi gak ada yang ngepeduliin dia.
Guanlin senyum ganteng ngedengernya, tapi dimata
Jinyoung kayak orang yang lagi ngejek. “Kenapa senyum? Lu
gak mau?” Tanya Jinyoung. Kalo sampe Guanlin nolak, berarti
dia harus siap-siap dapet hukuman dari Jaemin.
“Kapan?” Tanya Guanlin tiba-tiba.

150 | ICE CREAM

“Apanya?” Tanya balik Jinyoung gak ngerti.
“Kencan.”
“LU MAU KENCAN SAMA GUA?!” Teriak Jinyoung
histeris yang ngebuat semua temen sekelasnya langsung
nengok ke dia gara-gara bacotnya. Jinyoung langsung nutup
mulutnya dan nunduk malu. Meratapi tingkah bodohnya.
Kenapa gua teriak-teriak kaya orang gila njirr?! Gimana kalo
Guanlin ilfeel sama gua? Batin Jinyoung.
Jinyoung mendongak begitu rambutnya ada yang
ngusak, dan pelakunya ternyata si Guanlin yang udah berdiri
didepannya tanpa Jinyoung sadari lagi ngusak rambutnya.
“Manis banget sih lu.” Ucap Guanlin sambil mamerin
senyumnya, yang bikin Jinyoung meleleh ngeliatnya. Tambah
ganteng aja Guanlin kalo senyum. Senyum ya, bukan ketawa.
Guanlin kalo ketawa kaya malih :V
“Lu pikir gua gula!” Bales Jinyoung. “Ngg... Lin” Panggil
Jinyoung begitu dia inget kalo ada yang kelewat.
“Apa?” Sautnya yang masih berdiri didepan Jinyoung.
“Gu-gua boleh minta sesuatu?”
“Lu minta apa?”
“Gua boleh minta tanda?”
“Tanda apa?”
“Eungg... i-itu....” Jinyoung bingung ngomongnya gimana.
Masa baru mau kencan udah minta kissmark? Ntar Guanlin
nganggep dia cowok apaan lagi. Baru ngajak kencan udah
minta gituan. Tapi kalo Jinyoung gak minta, sama aja dia kalah.
“Itu apa? Kalo ngomong yang jelas, Jin. Gua gak ngerti.”
“Gu-gua boleh minta kissmark?”
“APA?!” Pekik Guanlin. “Lu minta apa tadi?” Tanyanya
yang mendadak budek.
“Kissmark.” Ulang Jinyoung.
“Lu serius?”
Jinyoung anggukin kepalanya. “Iya, gua serius.”
Balesnya.
Guanlin menyeringai. “Kalo gitu jangan disini.” Bisik
Guanlin tepat ditelinga Jinyoung. Seterusnya Guanlin langsung
menarik tangan Jinyoung keluar kelas. Temen-temennya yang
ngeliat Jinyoung dibawa kabur, langsung ngikutin dari
belakang.
Guanlin narik Jinyoung kekamar mandi dan masuk
kesalah satu bilik. Guanlin juga gak lupa buat ngunci tuh bilik,

ICE CREAM | 151

entar lagi ena ada yang ngedobrak lagi. Setelah berhasil
mengunci biliknya, Guanlin berbalik menghadap Jinyoung yang
cuma diem aja sambil nunduk.

“Jeongin, lu pasang tulisan toilet rusak dipintu kamar
mandi.” Intruksi Jaemin dan dapet anggukan dari Jeongin.
Jeongin ngambil papan yang bertulis toilet rusak dari pojokan
kamar mandi, terus Jeongin pasang dipintu toilet dan
mengunci pintunya dari dalem. Biar gak ada yang masuk,
setelah itu Jeongin ikut bergabung sama Jaemin dan Jihoon
yang lagi nempelin kupingnya dipintu bilik.

Guanlin mendorong tubuh Jinyoung ketembok toilet dan
menghimpitnya. Tangannya mulai bekerja melepaskan dasi
Jinyoung dan melepaskan kancing seragamnya.

“Lin, lu mau apa?” Tanya Jinyoung begitu Guanlin
sedang berusaha membuka atasannya. Kalo cuma mau bikin
kissmark dilehernya, ngapain pake ngebuka seragamnya
segala? Tapi yang anehnya Jinyoung gak nahan tangan nakal
Guanlin yang udah berhasil melepas seragam kemejanya.

“Kalo cuma dileher, kurang puas sayang...” Bisik Guanlin
dengan nada beratnya. Guanlin mulai mendekat pada
perpotongan leher Jinyoung dan mulai menjilatinya dan
menggigit kecil kulit leher Jinyoung.

“Eungghhh... Lin...” Erang Jinyoung begitu dia ngerasain
geli dan juga perih secara bersamaan dilehernya. Jinyoung
mendongak, membiarkan Guanlin lebih leluasa memberikan
tanda pada lehernya. Tangannya pun mencengkram rambut
Guanlin, menyalurkan rasa nikmatnya.

Tangan kiri Guanlin mengusap perut datar milik
Jinyoung, dan tangan kanannya memainkan puting Jinyoung
yang mengacung.

“Ahhkkk...” Desah Jinyoung begitu Guanlin turun
keputingnya, menggigit dan dihisap kuat oleh Guanlin.
Jinyoung merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan
seumur hidupnya. Dan Jinyoung sangat menikmati permainan
Guanlin pada putingnya yang kini sudah basah karna saliva
Guanlin.

“Si Jinyoung lagi diapain, sih? Ko mendesah gitu.” Tanya
Jihoon penasaran yang masih nguping didepan bilik sama
temen-temennya.

152 | ICE CREAM

“Lagi ngentot bego!” Bales Jaemin enteng. Sedangkan
Jeongin lagi serius nguping, gak ngeladenin si Jaemin sama
Jihoon.

Guanlin menarik kepalanya dari puting Jinyoung dan
mengecup bibir Jinyoung. Guanlin nambah sange ngeliat muka
Jinyoung yang memerah dengan mata sayunya. Dibawah sana
ada sesuatu yang ingin dibebaskan. Guanlin mengambil tangan
kanan Jinyoung, lalu menuntun nya kepenisnya yang sudah
tegang didalam celana seragamnya. “Bantuin gua lemesin penis
gua, Jin.” Ucapnya dengan nada beratnya.

Jinyoung tau apa maksud Guanlin. Tapi apa mereka mau
sejauh itu? Darenya cuma nyuruh dia buat kissmark aja, gak
lebih. Tapi kalo berhenti disini, kasian Guanlin yang udah
tegang, sama kaya dia. Punya Jinyoung dibawah sana juga udah
bangun gara gara permainan Guanlin.

“Kalo lu gak mau, gapapa ko. Gua gak maksa. Lu emang
dari awal cuma minta kissmark aja, tapi gua udah kelewatan.”
Ucapnya saat melihat Jinyoung cuma diam. Guanlin berbalik
dan ingin membuka kunci biliknya, tapi tangannya ditahan
sama Jinyoung.

“Gua mau, Lin.” Ucap Jinyoung setelah meyakinkan
dirinya sendiri. Guanlin tersenyum miring mendengarnya,
ternyata gampang banget mancing Jinyoung. Guanlin juga gak
bakal keluar dalam keadaan tegang kayak gini.

ICE CREAM | 153

PART 3

Guanlin berbalik dan kembali menghempit tubuh
Jinyoung kedinding. Guanlin mencium Jinyoung kasar. Lidah
mereka bertemu, dan Jinyoung mengernyit.

Jinyoung mencengkram pundak Guanlin dan mencoba
membalas lumatan nya. Guanlin menggesekan punyanya pada
bagian bawah tubuh Jinyoung dan itu membuat Jinyoung
tersentak. Jinyoung langsung mendorong tubuh Guanlin pelan
hingga pautan mereka terlepas.

“Guan—”
Guanlin tak memberi kesempatan Jinyoung untuk
bicara. Guanlin kembali meraup bibir mungil itu. Jinyoung tak
menolak lagi pula ini keinginannya juga.
Ciuman mereka semakin dalam, dan Jinyoung
merasakan bibirnya basah, dan sedikit menebal. Guanlin
melepaskan ciumannya dan beralih ke leher putih milik
Jinyoung, menjilat dan menyesapnya.
“Ngghhh... Lin..” Desah Jinyoung. Jujur, Jinyoung merasa
geli tapi tidak ingin semua ini berakhir. Jinyoung menjambak
rambut Guanlin dan menyelipkan jari-jari lentiknya di helaian
rambut hitam tersebut.
Guanlin tetap menjilat dan mengigit leher Jinyoung,
seolah jika tak melakukannya dia akan mati. Dan tangannya
dengan terampil membuka ikat pinggang Jinyoung dan
menurunkan resletingnya. Tangan nya masuk kedalam celana
Jinyoung dan meremas-remas penisnya.

154 | ICE CREAM

Guanlin beralih ke nipple Jinyoung yang sudah
menegang. Guanlin memainkan lidahnya di atas puting
Jinyoung, menjilatnya dan sesekali menggigitnya,
menghisapnya seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
Jinyoung bahkan dibuat gila, kakinya sudah lemas. Jika saja
Guanlin tak menyangganya, mungkin saja Jinyoung sudah jatuh
kelantai.

Guanlin menurunkan celana sekaligus dalaman
Jinyoung, menampilkan penis mungil Jinyoung yang sudang
menegang dengan cairan precum di ujungnya. Guanlin lalu
berlutut di depan Jinyoung, melihat jelas kebanggan pria
mungil di depannya. Jinyoung berani bersumpah, kalau dia
sangat malu. Ini baru pertama kalinya ada orang lain yang
melihat penisnya.

Guanlin mulai menjilat kepala penis Jinyoung, dan
menyapu bersih precumnya.

“Akkhhhh....” Jinyoung mendesah begitu merasakan
lidah hangat Guanlin menyelimuti kepala penisnya. Dan
sekarang dia merasakan hangat dan juga basah begitu
penisnya di masukan sepenuhnya kedalam mulut Guanlin.
“Nggghhhh... Akhhh.. Gu—guan!”

“Sstttt! Jangan ngedesah terlalu keras, lu mau satu
sekolah ngedenger?!” Ucap Guanlin setelah mengeluarkan
penis Jinyoung dari mulutnya. Guanlin takut juga kalo nanti
ada yang ngedenger, terus ngelaporin ke BP. Tapi tanpa
Guanlin ketahui, diluar bilik sana ada temen-temennya
Jinyoung yang masih setia nguping dan sudah mengamankan
semuanya.

“Gua bakal main lembut, tapi gak bisa janji juga kalo gua
bakal main kasar. Tubuh lu buat gua candu, padahal baru kali
ini gua ngeliat tubuh polos lu.” Ucap Guanlin, lalu kembali
memasukan penis Jinyoung kedalam mulutnya. Guanlin
memaju-mundurkan kepalanya menghisap kuat penis mungil
itu, yang membuat Jinyoung mati-matian menahan
desahannya. Tapi tetap keluar begitu saja dari dalam
mulutnya.

“Ngghhhh... Guan.. Akhhh...” Desahan tertahan Jinyoung
membuat Guanlin semakin semangat mengoral penisnya.
Sampai pada hisapan terakhir, penis Jinyoung menyemburkan
spermanya di dalam mulut Guanlin, dan langsung di terima
oleh pria tampan itu.

ICE CREAM | 155

Guanlin bangkit, lalu kembali melumat bibir Jinyoung,
berbagi cairan itu pada yang punya. Jinyoung mengeryit begitu
merasakan cairan kental miliknya, tapi dia sangat menyukai
bibir Guanlin. Jinyoung pasrah begitu Guanlin menurunkan
celana nya yang masih tersangkut di kedua pahanya. Guanlin
menendang jauh celana seragam Jinyoung begitu saja, lalu
membuka lebar kedua kaki Jinyoung dalam posisi berdiri.
Guanlin membalikan tubuh Jinyoung dengan sekali hentak, lalu
meludahi dua jarinya dan mengolesinya di bibir anal Jinyoung.
Dengan perlahan, Guanlin memasukan jari tengahnya ke hole
Jinyoung. Tubuh Jinyoung menggelinjang begitu merasakan
benda asing mencoba masuk ke dalam tubuhnya. Jinyoung
menggigit bibir bawahnya. Rasanya aneh dan sakit, tapi dia
mencoba untuk menahannya. Guanlin menambahkan satu
jarinya lagi, jemarinya mulai bergerak keluar masuk di lubang
Jinyoung, hingga menyentuh sesuatu di dalam tubuhnya yang
membuat Jinyoung melenguh. “Akhhhh...” Desahnya.

Guanlin tersenyum senang, lalu semakin bersemangat
menggerakan jari-jarinya didalam lubang Jinyoung.

“Ahhh... Ahhh.. Gu-guanlin, ra-ra akhhh.. Ra-rasanya a-
aneh nghhhh...” Jinyoung mendesah tak karuan. Jinyoung sudah
tak peduli lagi dengan suaranya. Kenikmatan yang Guanlin
berikan membuatnya lupa akan segalanya.

“Ngghhh... Gu-guan, gu-akhhh...” Jinyoung tak bisa
melanjutkan kalimatnya begitu penisnya kembali
menyemburkan spermanya dan mengotori dinding bilik.
Tubuhnya lemas dan Guanlin kembali menyanggah tubuhnya.

“Hei, sayang.” Guanlin membalik tubuh Jinyoung
menghadap kearahnya dan menyingkirkan poni basah
Jinyoung yang menutupi mata sayunya. “Ini belum selesai,
sayang.” Sambungnya, dan kembali membalik tubuh Jinyoung.
Guanlin membuka celananya, lalu mengeluarkan penisnya
yang sudah bangun sedari tadi. Guanlin kembali meludahi
tangannya, lalu mengocok penisnya. “Sshhhh..” Erangnya.
Guanlin mendekatkan tubuhnya ke Jinyoung, lalu membisikan
sesuatu. “Ini bakal sedikit sakit, lu tahan ya.” Guanlin
mengecup pipi Jinyoung, dan Jinyoung hanya mengangguk
lemas.

“Argghhh!!!” Jinyoung memekik kesakitan begitu kepala
penis Guanlin mencoba menerobos masuk kedalam lubangnya
yang belum pernah tersentuh sama sekali. Jemarinya

156 | ICE CREAM

mengepal kuat, menahan sakitnya. “Sa—sakit, Guan hikss...”

Rintihnya mulai menangis.

“Tahan, sayang.” Ucap Guanlin. Dan dengan sekali
hentak Guanlin mendorong pinggulnya hingga penisnya

tertanam seutuhnya di lubang Jinyoung. Guanlin mulai

menggerakan pinggulnya dengan perlahan. “Ngghhhh.. I—ini
sangat nikmat, sayang..” Racaunya. Guanlin menutup erat

matanya. Dia tak menyangka kalo lubang Jinyoung senikmat

ini. Penisnya terasa tercengkram kuat di dalam sana.
“Le—lebih cepat, Guan!” Pinta Jinyoung agar Guanlin

mempercepat gerakannya, begitu seterusnya sampai dinding

rektum Jinyoung menyempit dan penisnya membesar.

“Akkhhh...akhhh.nghhh..” Guanlin menggila
menggoyangkan pinggulnya, menghajar lubang Jinyoung

dengan penis besarnya.

“Kau sangat nikmat, sayang.” Ucap Guanlin. Dan tak
lama kemudian mereka berdua orgasme bersamaan.

Jinyoung lemas begitu pula dengan Guanlin. Guanlin

menarik Jinyoung, dia duduk di atas kloset dan meminta
Jinyoung untuk duduk di atas pangkuan nya. Guanlin kembali

memasukan penisnya yang kembali menegang kedalam lubang

Jinyoung.
“Bergeraklah, Jin.” Pintanya

Dengan tenaga yang tersisa Jinyoung menaik turunkan

pinggulnya. “Ngghhh... akkhhh.....” Jinyoung mendesah dengan

kepala yang mendongak ke atas, merasakan kembali penis
Guanlin di dalam tubuhnya.

Guanlin memejamkan matanya, dan menahan pinggul

Jinyoung, menekan pinggul Jinyoung yang membuat penisnya
semakin masuk kedalam tubuh Jinyoung. “Lu suka sama penis

gua, Jin?” Tanyanya.

Jinyoung menganggukan kepalanya. “Gu—gua suka
sama penis besar lu akhhh..” Balasnya

Desahan mereka mendominasi dalam bilik, bahkan satu

toilet, hingga mereka kembali menyemburkan spermanya

untuk yang kesekian kalinya. Jinyoung ambruk di ke dada
bidang Guanlin. Kepalanya terkulai lemas di atas bahu Guanlin.

“Kayaknya mereka udah selesai.” Ucap Jihoon begitu gak

ngedenger lagi suara desahan dari dalem bilik.
“Sebaiknya kita keluar sekarang, sebelum mereka

keluar.” Kata Jeongin yang tiba-tiba pinter. Mungkin karna

ICE CREAM | 157

habis ngedenger desahan Jinyoung dan Guanlin, otaknya
kembali berjalan.

“Kampret!” Umpat Jaemin sambil nutupin anunya yang
bangun. Ngedenger begituan aja Jaemin udah tegang.

“Na, punya lu bangun.” Seru Jihoon sambil nunjuk anu
Jaemin yang bangun. “Mau gua bantu tidurin?” Godanya.

“Kampret!” Sungut Jaemin dan langsung keluar dari
toilet dan di susul sama Jihoon dan Jeongin dibelakangnya.

Guanlin kembali memakai seragamnya begitu pun
dengan Jinyoung.

“Hikss...”
Guanlin langsung noleh kearah Jinyoung begitu
ngedenger suara isakan. Guanlin kaget ngeliat Jinyoung
nunduk dan menangis, bahunya bergetar hebat.
“Lu kenapa, Jin?” Tanya Guanlin.
“Gu—gua gapapa hikss...” Balasnya masih terisak.
“Kalo lu gapapa, kenapa nangis?” Tanya Guanlin lagi.
“S-status kita belum jelas hikss... Ta-tapi kita u-udah
ngelakuin ini hikss...” Jawab Jinyoung. Jinyoung ngerasa takut
sekarang ini. Hubungan dia dan Guanlin belum jelas. Jinyoung
takut Guanlin bakal ninggalin dia begitu aja setelah mereka
melakukan itu.
Guanlin menarik dagu Jinyoung, hingga wajah Jinyoung
terangkat. Guanlin menghapus air mata Jinyoung dengan ibu
jarinya, lalu menangkup wajah Jinyoung. “Lu pasti takut gua
tinggalin setelah kita ngelakuin ini kan?” Tanya Guanlin dan
dapat anggukan kecil dari Jinyoung. “Lu gak perlu takut, Jin.
Gua gak sebrengsek itu. Gua gak mungkin ninggalin orang yang
gua suka.” Terang Guanlin.
“Ma-maksud lu?”
“Lu tau alesan kenapa gua selalu nolak semua orang
yang nembak gua?” Tanya Guanlin dan dapat gelengan dari
Jinyoung. “Alesannya lu, Jin. Gua udah lama suka sama lu, tapi
lu gak peka sama yang gua lakuin buat lu. Semua usaha gua
cuma lu anggap angin lalu.” Ucap Guanlin.
“Lu tau gua gak peka, kenapa gak langsung nembak
gua?”
“Karna gua gak punya pengalaman nembak orang, gua
biasa ditembak.” Balas Guanlin bangga.
“Terserah lu, Lin!” Bales Jinyoung kesel.

158 | ICE CREAM

Guanlin melepaskan tangkupannya pada wajah
Jinyoung, lalu menggenggam tangan Jinyoung. “Lu mau kan
jadi pacar gua?” Tanya nya.

“Lu masih butuh jawaban setelah penis lu ngebobol
lubang gua?” Bales Jinyoung.

“Gua anggap itu sebagai jawaban iya.” Ucap Guanlin.

ICE CREAM | 159

160 | ICE CREAM

PART 4

“Astaga, lemot banget sih, Jin! Udah mau ngebo nih gua.”
Ucap Jaemin kesel sama temen sebangkunya. Bahkan kelas
mereka udah kosong, tinggal gengnya aja yang lagi nungguin
putri solo (dibaca Jinyoung) yang kayanya susah banget
bergerak.

“Gak usah ngomel-ngomel juga kali sama pacar gua!”
Ucap Guanlin yang lagi nyender di pintu kelas, lalu masuk
kembali kedalam kelasnya dan menghampiri bangku pacar
barunya. “Lu kalo mau pulang, pulang aja. Jinyoung balik sama
gua.” Sambungnya.

“Bilang dong dari tadi! Gua kan gak perlu nungguin dia
kaya gini!” Sungut Jaemin. Sebelum Jaemin keluar dari
kelasnya, dia nyamperin Guanlin dan membisikan sesuatu
pada Guanlin. “Kalo maen sama temen gua, cari tempat yang
bagus. Jangan lupa pake pengaman juga. Bahaya kalo Jinyoung
sampe bunting.” Setelah membisikan itu, Jaemin menepuk
pundak Guanlin lalu keluar dari kelasnya, di ikutin sama Jihoon
dan juga Jeongin dibelakangnya.

“Masih sakit?” Tanya Guanlin begitu temen-temennya
Jinyoung udah pergi.

“Sedikit.” Bales Jinyoung.
“Mau gua gendong sampe parkiran?” Tawar Guanlin.
Jinyoung langsung menggelengkan kepalanya. “Gak
perlu, gua masih bisa jalan ko.” Tolaknya.

ICE CREAM | 161

“Biar gua yang bawa.” Ucap Guanlin dan mengambil tas
milik Jinyoung untuk dia bawa, terus bantuin Jinyoung berdiri.
“Bilang kalo sakit.” Ucapnya lagi dan dapat anggukan dari
Jinyoung. Guanlin menggenggam tangan Jinyoung selama
perjalanan keparkiran. Jinyoung hanya menunduk menutupi
wajahnya yang malu karna digandeng oleh Guanlin, meskipun
sekolah udah sepi.

“Nanti gua bantu obatin lubang lu.” Ucap Guanlin yang
membuat Jinyoung menoleh kearahnya dan langsung
menggelengkan kepalanya.

“Gak perlu, Lin. Gua bisa obatin sendiri.” Tolak Jinyoung.
Bisa bahaya kalo Guanlin ngobatin lubangnya, yang ada nanti
malah semakin sakit. Guanlin pasti bakal ngelakuin hal yang
sama seperti dikamar mandi setelah melihat lubangnya.
Jinyoung gak mau ngelakuin itu lagi, rasanya sakit banget.

“Kenapa? Lu takut gua ngelakuin itu lagi?” Tanya
Guanlin seperti apa yang Jinyoung takutkan. “Lu tenang aja,
gua gak bakal ngelakuin itu.” Sambungnya.

“Gak perlu Lin, gua bisa sendiri.”
“Yaudah kalo lu maunya begitu, padahal niat gua baik.”
Ucap Guanlin.
Sesampainya dipakiran, Guanlin membukakan pintu
mobilnya untuk Jinyoung, lalu masuk kedalam mobilnya. Mobil
Guanlin melaju cepat meninggalkan gedung sekolah.
“Itu bukannya mobil Guanlin ya?!” Pekik Jihoon begitu
dia ngeliat mobil Guanlin melintas di depan nya. Sekarang ini
mereka bertiga lagi nunggu bus dihalte, mereka ketinggalan
bus karna nunggu si Jinyoung tadi. Tapi Jinyoung pulang
duluan sama Guanlin naek mobil pacarnya tanpa rasa bersalah
sedikitpun pada temen-temennya.
“Jeongin juga mau punya pacar kayak Jinyoung.” Celetuk
Jeongin.
“Nanti juga lu dapet pacar setelah ngejalanin dare lu,
sama kayak Jinyoung.” Balas Jihoon.
“Kan targetnya lu, Hun.” Celetuk Jaemin, yang buat
Jeongin sama Jihoon langsung noleh kearahnya.
“Apa maksud lu?” Tanya Jihoon gak ngerti. Apalagi si
Jeongin.
“Lu lupa darenya Jeongin apa? Blowjob teman
sebangkunya. Dan teman sebangku Jeongin itu lu!” Bales
Jaemin.

162 | ICE CREAM

Mata Jihoon terbelalak mendengarnya. Kaget dia. Gak
mungkin Jeongin maenin burungnya, dia juga gak mau. “Gua
harus pindah sebelum waktunya!” Tekatnya.

“Gapapa sih Hun, kan cuma di masukin doang kedalem
mulut.” Ucap Jeongin yang gak ngerti.

“OGAH!”
Guanlin menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang
rumah Jinyoung. Setelah mengucapkan terimakasih, Jinyoung
berniat untuk turun. Tapi tangannya di tahan sama Guanlin.
“Ada apa?” Tanya nya.
“Ntar malem gua jemput jam tujuh.” Ucapnya yang
belum mau ngelepasin tangan Jinyoung.
Jinyoung mengerutkan keningnya. “Mau kemana?”
Tanyanya.
“Bukannya tadi siang lu ngajakin gua kencan?”
“Ouh, iya gua lupa!” Jinyoung menepuk jidatnya. “Jangan
sampe telat ya.” Sambungnya dan dapat anggukan dari
Guanlin, tapi belom mau ngelepas tangan nya. “Lin..” Ucapnya
sambil ngelirik tangannya yang masih di genggam erat oleh
Guanlin.
“Lu gak mau ngasih gua apa gitu sebelum pergi?”
“Ngasih apa?”
Tanpa berkata, Guanlin nunjuk bibirnya sendiri. Guanlin
tau Jinyoung pasti ngerti.
Cup~
Jinyoung mengecup bibir Guanlin. Setelah Guanlin
melepaskan tangan nya, Jinyoung langsung keluar dari mobil
pacarnya.
“Jinyoung, bangun sayang. Ada temanmu diluar.” Luhan
menggoyangkan pelan tubuh anaknya yang terlelap dibalik
selimutnya. Sepulang sekolah tadi, anaknya langsung masuk
kedalam kamarnya dan langsung tidur. Bahkan Jinyoung
belum makan malam. “Hei sayang bangun, teman tampanmu
sudah menunggumu dibawah.” Ucapnya lagi.
“Nngghhh...” Jinyoung mengerang, seraya membuka
matanya secara perlahan, dan langsung mendapati mamanya.
“Mama lagi apa dikamar Jinyoung?” Tanyanya sambil
mengucek matanya, lalu merubah posisinya jadi duduk
“Ada temanmu dibawah, katanya kalian udah janjian
mau keluar malam ini.” Jawab Luhan.

ICE CREAM | 163

Jinyoung langsung menengok jam yang ada diatas
nakasnya. Matanya terbuka dengan sempurna begitu melihat
jamnya yang menunjukan pukul tujuh lewat dua puluh menit.
“Astaga, Jinyoung udah telat Mama!” Pekik Jinyoung histeris,
lalu langsung bangkit dari ranjangnya dan masuk kedalam
kamar mandi yang ada dikamarnya.

Luhan hanya terkekeh dan menggelangkan kepalanya
melihat tingkah anaknya.

164 | ICE CREAM

PART 5

Guanlin gak bisa nahan senyumnya begitu ngeliat
Jinyoung turun dari tangga rumahnya. Guanlin memerhatikan
Jinyoung dari ujung rambut sampe ujung kami. Jinyoung
tambah terlihat manis di matanya. Mungkin aja kalo di
belakang gak ada pawangnya, Guanlin udah nerkam makhluk
manis itu.

“Maaf ya, Lin. Gua ketiduran.” Ucap Jinyoung begitu dia
berdiri di depan Guanlin. Jinyoung menunduk malu begitu
Guanlin terus menatapnya.

“Gapapa, ko. Gua yang datengnya kecepetan.” Balas
Guanlin, lalu bangkit dari tempatnya. “Jalan sekarang?”
Tanyanya dan dapet anggukan kecil dari Jinyoung. “Lu duluan
ke depan, gua mau minta ijin dulu sama calon mertua.” Ucap
Guanlin, dan lagi-lagi cuma dapet anggukan dari Jinyoung yang
mukanya udah merah banget.

Setelah berpamitan sama Mamanya, Jinyoung jalan
duluan keluar, ninggalin Guanlin yang mau minta ijin dulu ke
calon mertua katanya.

Setelah nunggu sekitar 10 menit, akhirnya Guanlin
keluar dari rumahnya sambil senyum-senyum gak jelas gitu.

“Dapet ijin dari Mama?” Tanya Jinyoung
Guanlin anggukin kepalanya. “Mama lu minta di bawain
oleh-oleh katanya.” Bales Guanlin, lalu ngebukain pintu
mobilnya buat Jinyoung. Setelah Jinyoung masuk kedalem

ICE CREAM | 165

mobilnya, Guanlin nyusul masuk dan menjalankan mobilnya ke
suatu tempat.

“Lin, lu mau bawa gua kemana?” Tanya Jinyoung sambil
ngelirik Guanlin yang lagi pokus nyetir.

“Gua juga gak tau, lu dadakan sih ngajaknya.” Bales
Guanlin. “Gimana kalo nemenin gua beli sepatu? Sepatu futsal
gua udah jebol.” Sambungnya.

“Nemenin lu beli sepatu?” Ulang Jinyoung. “Apa itu bisa
di sebut kencan?” Gumamnya.

“Abis beli sepatu kita nonton, terus makan. Gimana?”
Tawar Guanlin.

“Bo-boleh.” Bales Jinyoung.
“Sini, gua gandeng tangannya. Bahaya nanti kalo masa
depan gua ilang.” Ucap Guanlin dan langsung meraih tangan
Jinyoung untuk dia genggam. Jinyoung cuma nunduk tanpa
ngucapin apapun. Jinyoung malu kalo Guanlin tau mukanya
yang udah merah sampe ke kupingnya cuma ngedenger
ucapan konyol Guanlin.
Selama mengelilingi satu mall nyari sepatu buat
Guanlin. Guanlin gak mau ngelepas genggamannya pada
tangan mungil Jinyoung. Guanlin gak peduli kalo dari tadi
orang-orang pada ngeliriknya dan berbisik-bisik. Sedangkan
Jinyoung, dia malu di liatin begitu. Mungkin mereka pada iri
sama Jinyoung karna di gandeng sama cowok setampan
Guanlin.
“Gimana menurut lu? Bagusan yang warna putih apa
biru?” Tanya Guanlin sama pacar barunya sambil menimang-
nimang mana yang menurutnya paling bagus dan cocok sama
dia. Guanlin gak mungkin beli keduanya.
“Warna apa aja yang di pake sama lu cocok ko.” Bales
Jinyoung.
“Ko bisa gitu?”
“Kalo orang ganteng pake apa aja cocok. Mau pake baju
sobek-sobek pun gak masalah. Karna yang mereka liat itu
wajah lu, bukan apa yang lu pake.” Terang Jinyoung.
Guanlin senyum ngedengarnya. Terus ngedeketin
Jinyoung, bahkan menghimpitnya. “Apa gua seganteng itu?”
Tanyanya menggoda.
“Si-siapa yang bilang lu ganteng?” Bales Jinyoung.
Jinyoung ngedorong Guanlin ngejauh, dan Guanlin gak
ngelawan.

166 | ICE CREAM

“Tadi lu bilang gua ganteng.” Ucap Guanlin sambil
ngejajal sepatu yang mau dia beli.

“Kapan?” Bales Jinyoung mendadak amnesia.
“Pura-pura lupa gua cium nih!” Ancem Guanlin.
“Itu kan gua bilang orang, bukan berarti lu!”
“Lu pikir gua bukan orang?!”
Setelah membeli sepatu, mereka kembali mengelilingi
mall tanpa tujuan.
“Lu gak mau beli apa gitu?” Tanya Guanlin. “Kalo makan
sekarang, gua masih kenyang.” Sambungnya.
“Astaga, gua lupa!” Pekik Guanlin begitu inget sesuatu
yang penting buat restu hubungannya sama Jinyoung. Guanlin
langsung narik tangan Jinyoung masuk ke toko parfum.
“Lu mau beli parfum?” Tanya Jinyoung
Guanlin anggukin kepalanya. “Tapi bukan buat gua.”
Balesnya.
“Terus?”
“Nanti juga lu tau. Lu bantu gua ya.”
“Buat cewek apa cowok?”
“Cowok.” Bales Guanlin cepet sambil lihat-lihat parfum
yang ada di sana. Tanpa menyadari perubahan mimik wajah
Jinyoung yang berubah murung.
“Jin, coba deh lu li– Jinyoung?” Guanlin gak nemuin
Jinyoung di belakangnya. Guanlin panik seketika, takut kalo
masa depan nya bener-bener ilang. Guanlin keliling toko itu
untuk mencari Jinyoung, tapi dia belom bisa nemuin Jinyoung.
Akhirnya Guanlin keluar dari toko itu. Kali aja Jinyoung kebelet
pipis dan gak sempet bilang. Tapi begitu Guanlin keluar toko,
Guanlin ngeliat Jinyoung yang lagi duduk berdua sama anak
kecil di depan toko. Guanlin langsung nyamperin Jinyoung.
“Kenapa pergi gak bilang-bilang? Lu masih punya
mulutkan?!” Tanya Guanlin tanpa sadar kalo dia udah
ngebentak Jinyoung. Guanlin marah dan juga kesel. Gimana gak
kesel kalo tiba-tiba pacarnya ilang, yang ngebuat dia langsung
panik. Dan ternyata orang yang dia panikin lagi duduk-duduk
santai sama anak kecil.
Jinyoung melirik sekilas Guanlin yang berdiri di
sampingnya, lalu kembali menoleh pada anak kecil yang ada di
sampingnya. “Siapa namanya?” Tanya Jinyoung dengan nada
manisnya, tanpa mengindahkan kedatangan pacarnya yang
mendelik tajam kearahnya dengan kedua tangan yang

ICE CREAM | 167

mengepal erat di bawah sana, menahan rasa kesalnya karna
gak di anggep sama Jinyoung.

“Lulu, Ka.” Bales anak kecil itu yang ternyata bernama
Lulu.

“Lulu?” Ulang Jinyoung. “Kaya nama Mama, gua.”
Gumamnya.

“Woy!!! Masih ada orang disini!” Teriak Guanlin yang
ngebuat Jinyoung dan Lulu tersentak kaget.

“Thiapa dia, Noona?” Tanya Lulu pada Jinyoung.
“Noona?” Ulang Jinyoung gak terima. Sedangkan Guanlin
ngakak dengernya. “Kakak ini cowok!” Ralatnya.
“Terima kasih udah mau bantu jaga anak saya.” Ucap
seorang wanita yang seumuran dengan Mamanya Jinyoung.
Dan wanita itu langsung menggendong Lulu.
“Sama-sama, Lulu sangat manis.” Bales Jinyoung sambil
mencubit pipi gembil Lulu. Setelah itu wanita itu pergi
meninggalkan Jinyoung dan juga Guanlin yang katanya lagi
kencan.
Guanlin menarik tangan Jinyoung, sampe Jinyoung
berdiri dari tempatnya. “Kenapa lu ninggalin gua? Gua kaya
orang gila ngomong sendirian tau gak lu?!” Bentaknya lagi
untuk yang kesekian kalinya.
“Kenapa lu yang marah? Seharusnya gua yang marah
sama lu!” Sungut Jinyoung.
“Lu marah kenapa coba? Gua ngelakuin apa sama lu?”
Tanya Guanlin gak ngerti tiba-tiba Jinyoung marah-marah gak
jelas kayak gini. Dia yang di tinggalin, tapi Jinyoung yang
marah.
“Lu beli parfum buat cowok lu, dan lu ngajak gua? Dan
yang parahnya lagi, lu nyuruh gua yang pilih parfumnya.
Sebenernya lu anggep gua itu apa, hah?! Cuma pemuas napsu
lu doang?”
Guanlin yang ngedenger bukannya merasa bersalah, dia
malah ketawa lepas ngedengernya. “Cowok gua? Gua beli
parfum buat Mama lu, lu lupa Mama lu minta oleh-
oleh?” Jelasnya.
Jinyoung langsung kicep dengernya. Malu banget dia
udah salah paham. Ya kali dia cemburu sama Mamanya sendiri.
“Ma—maap.” Cicit Jinyoung nunduk malu.
“Gua maapin.” Bales Guanlin yang gak mau perpanjang
masalah. Guanlin kembali menggandeng tangan Jinyoung, dan

168 | ICE CREAM

kembali masuk kedalam toko itu, memilih parfum yang pas
untuk Mama Luhan.

Jinyoung memilih satu parfum disana, lalu dia
semprotkan di pergelangan tangannya dan menghirup
aromanya. “Kayaknya ini cocok deh buat Mama. Aromanya
lembut dan gak terlalu mencolok.” Ucapnya. “Coba deh, lu
cium.” Sambungnya sambil ngulurin tangan nya ke Guanlin.

Guanlin meraih tangan Jinyoung, tapi bukan menghirup
aromanya, melainkan mencium tangan Jinyoung.

“Yak! Gua nyuruh lu cium baunya, bukan tangan gua!”
Seru Jinyoung sambil narik tangan nya.

“Gapapa kali cium tangan pacar sendiri.” Bales Guanlin
santai.

“Guanlin?”
Guanlin dan Jinyoung menoleh kebelakang begitu ada
yang manggil Guanlin. Dan di sana mereka ngeliat ada cewek
cantik dan juga manis dengan pakaian kekurangan bahan yang
memperlihatkan pusar dan paha mulusnya. Cewek cantik itu
nyamperin Guanlin dan langsung ngecup pipi Guanlin tanpa
mengucapkan apapun.
“Kemaren kenapa gak ngejemput gua di bandara?”
Tanya cewek itu dengan nada manjanya. Bahkan tanpa permisi
langsung merangkul lengan Guanlin.
Jinyoung sangat mengenali cewek itu. Dia Wonyoung;
mantan Guanlin. Ntah lah, udah jadi mantan atau masih
pacaran. Jinyoung yang sadar posisinya sebagai obat nyamuk
di sana, langsung menaruh kembali parfum yang tadi dia pilih
ketempatnya semula, terus langsung keluar dari toko itu tanpa
bilang apa-apa sama Guanlin. Jinyoung terus lari, gak peduli
Guanlin mau ngejar dia atau tetap diam sama cewek itu.
Di rasa cukup jauh, Jinyoung menghentikan larinya dan
duduk di kursi panjang yang ada di sana. Jinyoung mulai
menangis dengan napas yang terengah-engah. Padahal dia
cuma ngeliat cewek itu nyium pipi Guanlin, tapi kenapa
rasanya sesakit ini?
“Minum dulu!”
Jinyoung langsung mendongak begitu ngedenger suara
Guanlin. Jinyoung langsung ngapus air matanya begitu ngeliat
Guanlin udah berdiri tepat di depannya sambil nyodorin teh
pucuk kearahnya. Jadi Guanlin dari tadi ngejar dia? Jinyoung
kembali nunduk, dan kembali mengabaikan Guanlin.

ICE CREAM | 169

Guanlin menghela napasnya, lalu duduk di samping
Jinyoung. Guanlin menempelkan sedotannya ke bibir Jinyoung,
dan mau gak mau Jinyoung menyedotnya.

“Jangan nangis, dia bukan siapa-siapa gua lagi.” Ucap
Guanlin menenangkan pacarnya.

Jinyoung menjauhkan sedotannya dari bibirnya, lalu
memberanikan diri menoleh pada Guanlin. “Kalo bukan siapa-
siapa, kenapa dia nyium pipi lu?” Tanyanya.

“Gua juga gak tau.” Bales Guanlin. “Mungkin karna gua
ganteng.” Sambungnya.

“Gua mau pulang!” Rengek Jinyoung.
“Ko pulang sih? Kita belom makan, nonton. Nanti aja
pulangnya.”
“Gua udah gak mood! Pokoknya anterin gua pulang!”
Rengek Jinyoung.
“Jin, jangan ngambek gini dong. Gua sama dia gak ada
apa-apa. Lu seharusnya percaya sama pacar lu!”
“Iya, gua percaya! Tapi gua mau pulang sekarang!”
“Ko lu gini sih? Gua udah belain gak maen sama temen-
temen gua buat kencan sama lu. Tapi lu ngecewain gua kaya
gini! Gua gak suka punya pacar ambekan! Seharusnya lu tuh
inget umur, lu bukan bocah lagi!”
Bibir Jinyoung udah melengkung ke bawah, siap-siap
jebol lagi bendungan air matanya. “Yaudah, kalo lu gak suka
sama sikap gua. Kita putus!” Ucapnya tegas, lalu beranjak dari
sana. Tapi tangan nya di tahan sama Guanlin. Guanlin menarik
tangan Jinyoung, sampe tubuh Jinyoung menabrak tubuhnya.
Guanlin langsung melumat bibir Jinyoung dan menekan
tengkuknya. Guanlin terus melumat dan menghisap bibir
Jinyoung tanpa peduli mereka ada di mana sekarang. Setelah
puas dengan bibir Jinyoung dan membuatnya membengkak,
Guanlin melepaskan nya.
“Maaf, tadi gua kebawa emosi.” Ucap Guanlin. “Jangan
putusin gua, ya.” Sambungnya. Jinyoung hanya diam, lalu
menganggukan kepalanya pelan, yang membuat Guanlin
kembali mengecup bibirnya.
“Sekarang lu mau pulang, apa terusin kencan kita?”
Tanya Guanlin.
“Te-terusin.” Balas Jinyoung pelan. Guanlin
mengangguk, lalu kembali menggandeng tangan Jinyoung dan
kembali ngelanjutin kencan mereka.

170 | ICE CREAM

“Cieeeee, yang semalem abis kencan mah beda
jalannya.” Goda Jaemin begitu Jinyoung sama Guanlin masuk
kedalem kelas.

“Apaan, sih lu!” Sungut Jinyoung, terus duduk di
samping Jaemin.

Jaemin yang emang jail, langsung narik kerah
seragamnya Jinyoung. Matanya membola begitu ngeliat hasil
karya Guanlin yang memenuhi leher Jinyoung. “Gila! Ternyata
Guanlin sangean. Berapa ronde lu semalem di hajar sama dia?”
Tanya Jaemin.

Jinyoung nyingkirin tangan Jaemin dari kerah
seragamannya. “Diem gak lu! Lama-lama gua kuncir mulut lu
kalo gak bisa diem.” Bales Jinyoung.

“Ya maap, ehe!”
“Yeeh, si anying cute girl!” Seru Jihoon di belakangnya.
“Hun, mendingan lu siapin diri mulai sekarang. Hari ini
giliran lu.” Ucap Jaemin yang buat Jihoon langsung kicep.

ICE CREAM | 171

172 | ICE CREAM

PART 6

Tringggggg!!!!!
Bel istirahat udah berdering, semua murid pada seneng
dan mulai keluar dari kelas buat ngisi perut mereka. Berbeda
sama Jihoon yang ngedenger bel istirahat kaya ngedenger
panggilan dari nereka. Badannya udah panas dingin, dia belom
siap ngejalanin darenya.
“Hun, cepet deh bangun sebelum gua ancurin nih
bangku!” Ucap Jaemin yang udah gak sabar ngeliat Jihoon
maenin burung kakak kelasnya.
“Bisa Jeongin duluan gak? Gua gak enak badan nih.”
Ngelesnya. Kali aja dengan berbohong dia bisa bebas, yekan?
“Hun, lu mau berdiri sekarang apa gua cekokin kulit
duren biar penyakit sekaligus nyawa lu ilang sekalian?!”
Ancem Jaemin.
“Yaudah sih Hun, jalanin aja dare lu. Kali aja lu
beruntung kayak gua ngedapetin pacar.” Ucap Jinyoung.
Pada akhirnya Jihoon berdiri dari kursinya dan keluar
kelas bareng temen-temen nya. Jihoon berharap dia dapet
kakel yang ganteng, 11/12 lah sama Guanlin kalo bisa.
“Jinyoung!”
Mereka semua noleh kebelakang begitu nama Jinyoung
di panggil. Dan mereka ngeliat pangeran berkuda putih
Jinyoung berlari kecil nyamperin mereka. Siapa lagi kalo bukan
Guanlin.
“Mau kemana?” Tanya Guanlin.

ICE CREAM | 173

“Toilet! Kenapa? Lu mau ikut?” Itu yang ngejawab
Jaemin dengan nada ketusnya.

“Lu mau ngapain ke toilet rame-rame? Mau demo lu
pada?”

“Mau ngukur burung kakak kelas!” Jawab Jaemin ngasal.
“Yakali mau demo. Demo apa coba di toilet?!” Sambungnya.

“Ya kali aja kalian mau demo biar tuh toilet gak bau
pesing lagi.” Celetuk Guanlin.

“Sakit lu! Kalo lu gak mau bau pesing, lu pipisnya di
ruang BP sana.” Sungut Jaemin.

“Lu yang sakit goblok!” Ucap Jihoon sambil noyor
kepalanya Jaemin.

Guanlin ngelirik Jinyoung. “Lu beneran mau ngukur
burung kakak kelas?” Tanyanya. Ketularan Jeongin gua rasa si
Guanlin :v

“Ya, nggak lah! Ya kali gua ngukur punya orang!” Bales
Jinyoung.

“Emang kakak kelas pada bawa burung ke toilet ya?”
Tanya Jeongin.

“Kontol maksudnya bego!” Kata Jaemin.
“Astaga!” Pekik Guanlin begitu ngedengernya, terus
langsung narik tangan Jinyoung ke sampingnya. “Lu istirahat
sama gua! Bisa tambah error lu maen sama mereka.” Ucapnya,
terus langsung narik Jinyoung dari sana.
“Ehh, itil bagong! Jangan bawa Jinyoung gua, brengsek!”
Seru Jaemin.
“JINYOUNG PUNYA GUA ANJING!” Teriak Guanlin yang
udah lumayan jauh.
“Udah lah, Na. Tanpa Jinyoung juga kita bisa.” Ucap
Jihoon.
“Yaudah atuh, kita ke lantai tiga.” Bales Jaemin.
“Lah, jauh banget anying!” Protes Jihoon.
“Di sana banyak kakel ganteng bego!” Bales Jaemin.
“Kuy lah!” Jihoon langsung semangat.
Mereka bertiga udah pada nangkring di depan toilet
anak kelas tiga. Keliatannya rame, tapi gak ada yang keluar
dari sana. Jeongin yang capek berdiri, langsung jongkok dia
sambil ngemut permennya. Jadi kek anak ilang dia.
“Tuhtuhtuh, ada yang keluar!” Seru Jaemin begitu
ngeliat ada yang mau keluar dari toilet. Alis Jaemin terangkat

174 | ICE CREAM

satu begitu ngeliat siapa yang keluar. “Jeno?” Pekiknya. Jeno itu
musuh Jaemin dari orok. Buat apa coba tuh anak numpang
kencing di toilet anak kelas 3? Mereka itu sekelas, dan toilet
yang ada di deket kelasnya itu gak rusak setau Jaemin. “Ehh,
anoa! Ngapain lu? Ngencing jauh banget.” Kata Jaemin.

Jeno ngelirik Jaemin. “Bukan urusan lu, cabe!” Balesnya.
“Whoaaa... Mau ngintipin burung kakak kelas lu ya?”
“Lu pikir gua sama kayak lu? Ngapain ngintip punya
orang, kalo punya gua lebih gede!”
“Tai! Kontol peyot aja bangga!”
“Peyot? Gua buka juga langsung lu isep!”
“NAJIS!”
“Tolong kata-katanya di kondisikan, jangan sampe kena
report nih ff. Kasian gua sama Jeongin belom maen.” Kata
Jihoon yang sedari tadi cuma jadi penonton sambil nutup
kupingnya Jeongin.
“BACOT!!!” Jawab Jaemin sama Jeno serempak. Jeno
langsung pergi dari sana. Gatel-gatel dia lama-lama deket sama
Jaemin.
“Ka Jaehyun yang keluar!” Seru Jeongin kenceng, yang
buat Jaehyun langsung noleh kearah mereka, terus jalan lagi
keluar dari toilet.
“Mampus lu! Bisa di penggal tytyd lu sama maungnya.”
Ucap Jaemin sambil ngetawain nasibnya Jihoon.
“Gila, gua gak mau punya masalah sama ka Taeyong. Lu
pada tau kan kalo tuh maung ngamuk kek gimana?” Ucap
Jihoon.
“Ya terus lu mau apa? Di ganti sama burung satpam
sekolah?”
“Ya gak gitu juga!”
“Yaudah, sana! Lu kejar ka Jaehyun. Kalo bisa jangan
sampe ketauan maungnya.”
Jihoon ngegeleng. “Gak mau.”
“Hun, jangan sampe gua kepang jembut lu nih ya!”
“Iya-iya, gua jalan.” Akhirnya Jihoon nyerah juga, dan
mengejar kakak kelasnya itu. Semoga aja maung nya gak ada.

ICE CREAM | 175

176 | ICE CREAM

PART 7

Mereka ngedatengin kelasnya Jaehyun. Mereka ngintip
lewat jendela kelas dan ngeliat si Jaehyun lagi mojok di
pojokan kelas bareng Taeyong. Taeyong kek pasrah gitu
lehernya di cupangin sama Jaehyun, terus tangan Taeyong kek
ngeremes-remes penis Jaehyun yang masih terkurung di dalem
celana seragamnya.

“Lah, ini kelas apa hotel prodeo?” Ucap Jaemin begitu
ngeliatnya.

“Mereka udah kelas 3, jadi bebas.” Bales Jihoon.
“Ya, bebas juga gak sampe ngentot di dalem kelas bego!
Kalo mereka gak punya duit buat nyewa kamar hotel, mereka
bisa ngelakuinnya di semak-semak belakang sekolah!” Ucap
Jaemin.
“Gak di semak-semak juga kali! Mau pada gatel badan
lu.”
“Taudah yang sering maen di semak-semak mah.”
“Maaf, saya tak semissqueen itu.” Jihoon lagi muter
otaknya bagaimana caranya dia bisa ngedapetin Jaehyun tanpa
ketauan sama maungnya. “Gimana caranya ya?” Gumamnya.
Jaemin noleh ke Jihoon. “Mau gua bantu?” Tanyanya.
“Gua punya ide nih.” Sambungnya.
“Apa?”
Jaemin ngedeket, terus ngebisikin sesuatu ke Jihoon.
“Yakin lu berhasil?” Tanya Jihoon yang gak yakin sama
rencananya Jaemin.

ICE CREAM | 177

“Coba aja dulu.” Bales Jaemin.
Sekarang ini, Jaemin cs tanpa Jinyoung lagi ngintip
Jaehyun yang lagi tidur di ruang anak basket. Jangan tanya
Jinyoung kemana. Tadi pas bel pulang berkumandang, Guanlin
langsung bawa Jinyoung pergi. Mungkin sekarang Jinyoung lagi
sibuk ngedesahin nama Guanlin begitu lubangnya di tusuk-
tusuk sama barang berharga milik Guanlin.
“Na, lu ko tau sih kak Jaehyun suka tidur di sini?” Tanya
Jihoon.
“Ya tau lah! Setiap pulang sekolah kak Jaehyun selalu
bawa ka Taeyong kesini.” Jawab Jaemin cepet.
“Ngapain?” Tanya Jeongin.
“Ngentot!” Cetus Jaemin. Males dia kalo bake bahasa
yang ribet, entar yang ada tuh bocah nanya mulu.
“Lu sering ngintip mereka?” Tanya Jihoon.
“Ya iyalah! Gua ngerekam juga, lumayan videonya bisa
di jual ke situs porno.”
“Gila lu, Na! Gimana kalo ketauan?!”
“Bodo amat! Yang penting gua dapet duit!” Bales Jaemin
bodo amat. “Udah sana masuk! Terus oral penisnya, selagi dia
masih tidur.” Ucapnya.
“Gimana kalo tiba-tiba ka Taeyong masuk?!”
“Gak bakal! Hari ini jadwalnya kesalon, makanya dia
pulang duluan.”
“Lu ko tau banget sih, Na?”
“Ka Taeyong nyalon di salon Mama gua! Udah ih, sana
masuk!” Jaemin ngedorong Jihoon masuk, terus ngunci
pintunya dari luar.
Jihoon ngelirik Jaehyun yang lagi tidur celentang, mana
bagian selangkangan nya menonjol gitu lagi. Belom lagi baju
basketnya yang masih basah sama keringetnya. Tambah sexy
aja Jaehyun di mata Jihoon. Dengan was-was Jihoon ngedeketin
Jaehyun, mana detak jantungnya berisik banget kayak orang
lagi dangdutan, kan bahaya kalo sampe kedenger sama
Jaehyun.
Jihoon semakin deket sama Jaehyun, terus tangannya
udah bergerak narik celana basketnya Jaehyun sampe matanya
ngeliat celana dalem Jaehyun yang berwarna hitam. Jihoon
udah panas dingin, takut kalo kakak kelasnya ini bakal bangun.
“Eungghhh...” Jaehyun mengerang dalam tidurnya, terus
tangannya kaya ngusap-ngusap penisnya sendiri. Jihoon yang

178 | ICE CREAM

ngeliatnya kan tambah ngiler, pengen cepet-cepet ngerasain
penis Jaehyun yang kayaknya gede.

Jihoon ngelirik kearah jendela, dan disana ada temen-
temennya yang lagi ngintip. Jihoon kembali menoleh kearah
Jaehyun yang masih terlelap tidur. Kebo banget nih orang.

Jihoon kembali menurunkan celana Jaehyun sebatas
lututnya. Tangan nya gemeteran waktu mau ngebuka celana
dalemnya Jaehyun. Matanya udah ngeliat bulu alus yang
tumbuh diatas penis Jaehyun.

Glekk
Jihoon nelen ludahnya kasar. Tapi pas dia mau ngebuka
celana dalemnya, Jaehyun ngebuka matanya terus langsung
ngerubah posisinya jadi duduk kayak orang kaget gitu ngeliat
Jihoon berdiri dideketnya.
“Ngapain?” Tanya Jaehyun, terus dia ngelirik
kebawahnya dan baru sadar kalo celananya udah melorot. “Lu
mau ngapain anjing?! Lu mau perkosa gua?!” Sungutnya.
“Bu—bukan gitu kak! Gu—gu
“Bukan gimana?! Ini liat, celana gua udah lu turunin
anjing!”
“Jihoon bukan anjing, kak! Jihoon manusia!” Sungut
Jihoon.
“Ya, lu mau ngapain nurunin celana gua?!”
“Ta—tadi gua liat ada serangga masuk kedalem celana
lu.” Alesan macam apa itu anjir?! Geram Jihoon didalem
hatinya.
“Binatang tai!” Seru Jaehyun kesel.
“Tai bukan binatang kak, tai kotoran.” Bales Jihoon.
Kenapa jadi bahas tai?
“Udah sono lu keluar sebelum gua kebiri nih!” Usir
Jaehyun.
“Tapi itu udah keras kak, gak mau gua tolongin apa?
Mumpung lagi gak ada kak Taeyong.” Ucap Jihoon sambil lirik-
lirik nakal penis Jaehyun.
Jaehyun ngelirik penisnya sendiri yang ternyata udah
bangun, terus noleh kearah Jihoon yang matanya gak lepas dari
penisnya.
“Lu mau penis gua?” Tanya Jaehyun. Dalem keadaan
sange begini pacarnya malah gak ada, jadi jangan salahin dia
kalo pake jasa orang lain bukan?
Jihoon anggukin kepalanya. “Mau kak.” Balesnya.

ICE CREAM | 179

Jaehyun ngebuka celana dalemnya sendiri, terus
ngebuka lebar kakinya. “Lu mainin kontol gua, tapi yang cepat!
Gua mau ngejemput pacar gua.” Ucapnya.

“Iya kak!” Bales Jihoon semangat, terus jongkok didepan
penis Jaehyun yang mengacung tinggi didepan mukanya.
Tangannya udah bergerak menggenggam penis kakak kelasnya
itu, dia sedikit ngocok penisnya yang buat Jaehyun mengerang
nikmat.

“Jangan cuma dikocok bego! Dimasukin juga kedalem
mulut lu!” Ucap Jaehyun.

Jihoon yang ngedengernya berasa ketantang, dia
menyapu bersih precum yang ada dilubang kencing Jaehyun
pake lidahnya, terus melahap abis penis Jaehyun meskipun gak
masuk semuanya. Kedua pipi gembilnya udah mengembung,
didalem mulutnya, Jihoon maenin penis Jaehyun pake
lidahnya.

“Bangsat! Lu sering ngoral penis ya?!” Tanya Jaehyun.
Jihoon service penisnya gak kalah lah sama Taeyong yang udah
pro. Jaehyun neken kepalanya Jihoon biar penisnya semakin
masuk kedalem mulutnya, terus gerakin pinggulnya maju
mundur perkosa mulut perawan Jihoon. “Sial!” Umpatnya.

“Mmpphhh.. Mmpphhh..” Jihoon udah gak bisa napas lagi,
dia berusaha ngelepasin tangan Jaehyun dari kepalanya, tapi
Jaehyun terlalu kuat sampe penis Jaehyun menyemburkan
spermanya didalem mulut Jihoon.

“Uhukk.. Uhukkk..” Jihoon langsung batuk-batuk begitu
Jaehyun ngeluarin penisnya yang udah letoy.

“Telen tuh sperma, sayang kalo dibuang.” Ucap Jaehyun,
terus narik dagu Jihoon dan menjilat sisa spermanya disudut
bibir Jihoon.

Tubuh Jihoon tumbang gitu aja dilantai karna saking
lemesnya, yang buat semua temen-temennya langsung masuk
kedalem.

“Woww.. Woww.. Adek-adek manis mau main juga sama
kontol gua?” Tanya Jaehyun begitu Jeongin sama Jaemin masuk
kedalem. “Tapi sayang, kakak Jaehyun mau jemput inces
Taeyong dulu. Nanti aja ya.” Ucapnya, terus ngerapihin
celananya dan keluar dari sana.

“Hun, lu gapapa?”

180 | ICE CREAM


Click to View FlipBook Version