2023 MY READING BOOK DINAS PENDIDIKAN
Arisan keluarga adalah hari yang ditunggu-tunggu Ardi. Saat arisan, para om dan tante datang bersama anak-anak mereka. Ini berarti Ardi bisa bermain bersama sepupu-sepupunya itu. Sepupu adalah saudara senenek atau saudara misan. Awalnya mereka memainkan kartu permainan milik Rio. Ternyata Rio memiliki banyak sekali kartu permainan. “Hobiku memang mengoleksi kartu permainan,” kata Rio. Mulailah yang lain juga menceritakan hobi masing-masing. Lita suka membaca. Buku cerita miliknya sudah puluhan. Bobi si kecil dengan malu-malu menunjukkan kaus kaki warna-warni yang dipakainya. Mengumpulkan kaus kaki adalah kesukaannya. Tara suka menggambar. “Aku selalu membawa krayon dan buku gambar ke mana-mana,” kata Tara sambil menunjukkan gambar yang sedang dibuatnya. Ardi terdiam. Apa, ya, hobinya? Hampir saja Ardi mengira dia tidak punya hobi. Ketika Deri menceritakan pengalaman pertama yang membuatnya suka berenang, Ardi segera ingat. “Aku suka memelihara kura-kura!” serunya. “Di halaman samping ada dua.” Segera saja sepupunya ribut ingin melihat kura-kura Ardi, kecuali Bobi. Bobi takut dengan kura-kura. Tara tidak suka kura-kura, tetapi dia tetap ikut berjalan ke halaman. Suka dan TIDAK SUKA Cerita oleh Dian Kristiani
Tahu-tahu Rio menjerit ketakutan. “Itu! Itu!” teriaknya menunjuk ke arah tanaman. Bahunya berguncang, dia mulai menangis. Setelah dilihat, ternyata yang ditunjuk Rio adalah laba-laba besar yang bersarang di antara pohon mangga dan tanaman. “Laba-laba itu baik, kok,” kata Ardi. “Aku membiarkannya di sana supaya dia menangkap nyamuk-nyamuk yang ada di taman.” Namun, tangisan Rio makin keras dan tak terkendali. Om Danu, ayah Rio, terpaksa menggendong Rio masuk ke rumah. Di dalam rumah Rio mulai tenang walaupun sesekali masih terdengar isaknya. Om Danu kemudian bercerita. “Rio memang sangat takut dengan laba-laba.” “Ah, masa Rio sebesar itu takut dengan laba-laba sekecil itu,” kata Ardi. “Kamu sebesar itu juga takut dengan kecoa kecil,” Mama meledek Ardi. Ardi tertawa. “Wah, iya juga, ya. Tapi, aku kan tidak sampai menangis.” “Aku tidak menangis kalau ada kura-kura atau laba-laba,” ujar Bobi. “Aku hanya takut.” “Tidak apa-apa,” kata Om Danu sambil membelai kepala Bobi. “Itu biasa kok. Orang dewasa juga biasa takut dengan sesuatu. Tapi, ada orang yang sangat takut dengan sesuatu sampai panik dan tidak bisa mengendalikan diri. Ketakutannya berlebihan. Itu disebut fobia. Nah, Rio fobia terhadap laba-laba.”
“Apa fobia bisa dicegah, Om?” tanya Deri. “Setahu Om, tidak bisa Deri. Ada penyebab yang terkadang tidak bisa dijelaskan dan hanya bisa dirasakan oleh penderita fobianya. Namun, bercerita dengan teman atau keluarga bisa membantu. Sebaiknya, berkonsultasi dengan tenaga ahli seperti dokter atau psikolog untuk mendapatkan terapi.” Ardi mengerti sekarang. “Maaf, Rio,” katanya. Hmmm… bagaimana caranya supaya Rio tetap bisa melihat kurakura, ya? Kolam tempat kura-kura memang di dekat sarang laba-laba itu. Oh, Ardi tahu! Dia bisa membawa masuk kura-kuranya.
KAMAR NO 18 Cerita oleh: Sylvana Hamaring Toemon. Datuk berjalan tertatih-tatih menuju tangga. Biasanya Datuk berjalan dibantu dengan tongkat. Datuk sudah tidak muda lagi. Kali ini, Rudi yang menjadi tongkatnya. Rudi menuntun Datuk ke arah yang Datuk tunjukkan. Mereka menuju ke sebuah kamar di lantai 2. Semua kamar di rumah Datuk dilengkapi dengan tempat tidur, kasur, meja, dan lemari. Demikian pula dengan kamar yang didatangi Datuk dan Rudi ini. Bedanya kamar ini memiliki lemari yang besar sekali. “Wah, besar sekali lemarinya. Bisa untuk main petak umpet,” kata Rudi dalam hati. “Duh, Datuk capek. Kita duduk sebentar, ya. Setelah itu, baru kita masuk dalam lemari,” ucap Datuk. “Aku tadi berpikir lemari ini besar sekali sampai bisa untuk main petak umpet. Datuk mau main petak umpet, ya? Ha ha ha,” tanggap Rudi sambil tertawa. Runi dan Rudi baru saja pindah ke sebuah rumah tua milik Datuk. Datuk adalah kakek dari Bu Dini, ibu Runi dan Rudi. Rumah ini memiliki 17 kamar. Ada 7 kamar di lantai bawah, dan 10 kamar di lantai atas. Angka 17 mencerminkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Ya, Datuk adalah seorang yang cinta tanah air. “Rudi, sini ikut Datuk. Kamu pasti suka kamar yang ini,” kata Datuk sambil memegang tangan Rudi. “Eh, tapi, aku, kan, sudah punya kamar sendiri,” sanggah Rudi. “Di rumah ini masing-masing boleh memiliki 2 atau 3 kamar,” kata Datuk. “O iya, benar! Di rumah ini, kan, ada 17 kamar,” sahut Rudi sambil tertawa.
Rudi masih tertawa terbahak-bahak ketika Datuk menuju lemari. Datuk berhenti sebentar untuk merogoh kunci di kantongnya. Sebuah anak kunci antik berukuran besar digunakan untuk membuka lemari besar itu. Rudi menghentikan tawanya ketika Datuk membuka kedua pintu lemari itu. Di dalam lemari itu tidak ada raknya. Yang ada adalah tangga menuju ke atas. “Wow!” pekik Rudi kagum. “Tidak semua orang mengetahui tangga ini. Datuk hanya berbagi rahasia pada orang yang dipercaya,” bisik Datuk penuh rahasia. Datuk menekan saklar lampu yang ada di dalam lemari. Setelah itu Datuk menaiki tangga itu sambil berpegangan pada pegangan tangga. Sepertinya tangga ini memang dibuat khusus untuk orang tua seperti Datuk. Pegangan tangga ada di kedua sisinya. “Nah, kita sudah sampai,” seru Datuk dengan riang. Sesampai di lantai atas, Rudi kembali menjadi tongkat bagi Datuk. Datuk menunjuk ke sebuah meja di dekat jendela. Meja tulis itu bentuknya bundar, warnanya kehitaman. Setelah didekati, Rudi baru menyadari kalau meja itu berasal dari batang pohon. Di atas meja itu ada sebuah buku, setumpuk kertas, dan sebuah gelas yang dipenuhi pensil. Ada pemberat kertas berbentuk rumah di atasnya. “Datuk suka ke tempat ini untuk menulis. Datuk mengajakmu karena kamu juga suka menulis,” ujar Datuk sambil duduk di sebuah kursi hitam. “Hmmm… Aku memang suka menulis. Atau lebih tepatnya mengetik di laptop. Aku sudah tidak pernah lagi menulis dengan pensil. Apalagi pensil HB seperti ini. Terlalu tipis,” kata Rudi sambil mengangkat sebuah pensil. “Datuk dulu belajar menulis dengan menggunakan pensil HB. Sejak saat itu Datuk suka menulis dengan pensil HB,” sahut Datuk. “Mengapa Datuk menulis di tempat ini? Bukankah Datuk bisa menulis di kamar lainnya? Atau di perpustakaan? Atau di kamar tidur?” tanya Rudi. “Perpustakaan tempat Datuk membaca. Kamar tidur? Uh, Datuk selalu mengantuk kalau masuk ke kamar itu. Inilah tempat yang paling tepat untuk menulis. Datuk akan menuliskan kisah hidup Datuk. Apakah kamu mau mengetiknya?” tanya Datuk. “Siap, Datuk!” tanggap Rudi.
“Rudi, bukakan dulu jendela itu. Setelah itu Datuk akan menceritakan sesuatu tentang tempat ini padamu,” kata Datuk. Rudi segera menuju jendela yang dimaksud Datuk. Jendela itu berbentuk segitiga. Bentuknya mengikuti bentuk atap rumah. Rudi dapat membukanya dengan mudah. Sepertinya engsel jendela ini baru saja diminyaki. Angin berhembus sepoi-sepoi dari jendela itu. “Tanah tempat rumah ini berdiri dulunya adalah sebuah bukit. Datuk membelinya ketika masih muda. Datuk membangun sebuah rumah kecil di puncak bukit itu dengan angin sepoi-sepi seperti ini. Saat itu, Datuk belum mampu membeli banyak perabotan. Datuk hanya memiliki sebuah meja yang Datuk buat dari batang pohon. Setelah Datuk berhasil mengumpulkan cukup uang, Datuk membangun rumah yang besar. Bahkan sangat besar. Datuk ingin menolong saudara-saudara yang belum memiliki tempat tinggal. Mereka boleh tinggal di rumah Datuk. Inilah rumah itu,” kata Datuk. Penjelasan panjang lebar itu membuat Datuk terbatuk-batuk. “Datuk, aku ambilkan air minum dulu, ya,” pamit Rudi sambil berlari ke bawah. Rudi kembali ke kamar paling atas itu sambil membawa botol minum. Kamar yang ada di dalam lemari ini Rudi beri nama kamar nomor 18.
Rudi memasuki rumah tua yang dipenuhi kardus-kardus itu. Rumah itu sering didatanginya pada saat liburan. Kali ini, rumah tua itu akan menjadi tempat tinggalnya. Ya, Rudi dan keluarganya akan pindah ke rumah ini. “Letakkan di kamar kedua di sebelah kanan, ya,” terdengar suara Bu Dini, ibu Rudi. Bu Dini memberikan petunjuk kepada para petugas pengangkut barang. Tangannya menunjuk-nunjuk untuk memperjelas perintahnya. “Rudi dan Runi, kalian bisa pilih kamar kalian sendiri,” terdengar suara Pak Heru, ayah Rudi. “Horeeeee!” sorak Rudi dan Runi serempak. Selama ini Rudi selalu sekamar dengan Runi, kakak perempuannya itu. Apartemen tempat tinggal mereka sebelumnya hanya memiliki 2 kamar. Satu kamar untuk orang tua, satu kamar lagi untuk anak-anak. Kamar anakanak yang ditempati Rudi dan Runi dipisahkan oleh 2 meja belajar dan lemari pakaian. “Aku pilih kamar yang menghadap kebun buah,” teriak Runi dengan lantang. PINDAH KE RUMAH TUA Cerita oleh: Sylvana Hamaring Toemon Runi sengaja memilih kamar yang menghadap kebun buah. Runi sangat suka makan buah. Hmmm… Sebenarnya, Runi suka semua jenis makanan. Di halaman samping rumah ini, ada pohon rambutan, mangga, jambu, jeruk, manggis, dan sawo. “Aku pilih kamar yang dekat perpustakaan,” gumam Rudi sambil berjalan pelan menuju kamar pilihannya. Rudi sangat suka membaca. Ruang perpustakaan adalah ruangan favoritnya di rumah tua ini. Rumah tua berlantai 2 ini sangat besar. Ada 17 kamar di rumah ini. Di tempat inilah tinggal seorang pria tua bertubuh kurus yang dikenal sebagai Datuk. Datuk adalah kakek Bu Dini, ibu Rudi dan Runi. Umurnya sudah mendekati 90 tahun. Dialah yang menempati kamar paling depan di rumah besar itu. Selain kamar paling depan, semua tamu yang datang menginap boleh memilih 16 kamar lainnya. Walaupun sudah tua, Datuk masih sehat. Dia suka berjalan-jalan mengelilingi rumahnya yang besar. Sebelum keluarga Pak Heru pindah ke rumah ini, Datuk ditemani oleh Bapak dan Ibu Marno, sepasang suami istri. Mereka lebih akrab disapa dengan nama Pak No dan Bu No. Pak No membantu membersihkan rumah dan merawat tanaman. Bu No membantu memasak dan mengurus pakaian. Sebulan yang lalu, Pak No pindah ke rumahnya sendiri. Rumah mungil Pak No letaknya tidak jauh dari rumah Datuk. Setiap hari, Pak No dan Bu No datang untuk membantu di rumah Datuk. Walaupun Pak No dan Bu No datang setiap hari, Bu Dini tetap khawatir pada kesehatan kakeknya yang sudah tua itu. Bu Dini ingin mengajak kakeknya tinggal bersama.
Mereka harus memilih, mengajak Datuk tinggal di apartemen mereka, atau mereka yang tinggal di rumah Datuk. Akhirnya Bu Dini mengajak keluarganya pindah ke rumah tua itu karena apartemen mereka terlalu sempit. “Cukup untuk hari ini. Kita lanjutkan besok, ya,” seru Bu Dini. Tak terasa, malam pun tiba. Rudi yang kelelahan segera menuju kamarnya. Dia membaringkan diri di tempat tidur. Tak lama kemudian, Rudi dikagetkan oleh jeritan kakaknya. “Aaaaa! Ada orang di luar jendelakuuuu!” jerit Runi. Rudi segera berlari menuju kamar kakaknya. Di lorong, ia bertemu dengan ayah ibunya. Mereka semua terbirit-birit berlari menuju kamar baru Runi. “Ada orang berambut panjang di luar. Hiiii…. Aku takut. Jangan-jangan itu hantu,” kata Runi sambil memeluk bantal. Bu Dini memeluk anaknya yang gemetar ketakutan itu. Runi menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya. Pak Heru segera keluar membawa senter. Rudi melihat ke jendela di kamar kakaknya. Jendela itu terbuka. Tirainya sedikit bergoyang tertiup angin. “Huhuhu… Aku mau pindah kamar aja,” kata Runi di sela isak tangisnya. “Sudahlah, Nak. Jangan menangis lagi, ya. Mungkin kamu melihat bayangan tirai,” hibur Bu Dini. Tangis Runi malah terdengar makin keras. Makin banyak yang memberi perhatian, makin kencang tangisannya. Kalau sudah seperti ini, Rudi diam saja. Dulu, dia pernah mengatai kakaknya ini “anak cengeng”. Jadinya Runi malah menangis sepanjang malam. Padahal mereka menempati kamar yang sama. Rudi pun menyesal dan berjanji dalam hati tidak akan mengatai kakaknya saat sedang menangis. “Runi, Ayah sudah temukan hantu berambut panjangnya. Sini, kenalan dulu,” kata Pak Heru dari balik tirai jendela. Pak Heru memang sering menggoda anaknya yang penakut itu. “Huaaaaa!” jerit Runi makin menjadi-jadi. “Runi, ini Bu No. Maaf, ya, kalau kamu jadi takut. Tadi Ibu melihat jendela ini terbuka dan lampunya menyala. Ibu cuma mau melihat ada siapa di dalamnya,” kata Bu No. “Ha ha ha,” tawa Rudi. Suara tawanya yang semula ditahan itu lama-lama semakin keras. Tak lama kemudian, seisi ruangan itu sudah dipenuhi dengan tawa. Semua orang tertawa, termasuk Runi. Ternyata yang dia kira hantu adalah Bu No.